Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Personal Scraps’ Category

Update blog setengah serius untuk mengisi waktu… saya agak sibuk akhir-akhir ini, jadi belum sempat menulis panjang-lebar. πŸ˜›

Mengenai kenapa temanya world music, tentunya karena saya orang yang berwawasan multikultur dan menganggap batas negara itu semu. :mrgreen: Tapi itu cerita lain untuk saat ini.

Anyway, here goes. Hope you like it.

 

1. Ali Farka TourΓ© & Toumani DiabatΓ© – Ai Ga Bani

 

 
2. Ricky Martin – Gracias Por Pensar En Mi
 

 
3. Youssou N’ Dour & Axelle Red – La Cour Des Grands
 

 
4. Natacha Atlas ft. Jean-Michel Jarre – C’est la Vie
 

 
5. The Corrs – Buachaill On Eirne
 

 
6. The Corrs – Lough Erin Shore
 

 
7. AnΓΊna – SiΓΊil a RΓΊin
 

 
8. Jean-Michel Jarre – Equinoxe 5
 

 
9. Jean-Michel Jarre – Rendez-vous 98
 

 
10. Chrisye – Kala Cinta Menggoda
 

 
11. Christopher Tin – Baba Yetu (OST Civilization IV)
 

 
12. Taksim Trio – Gozum
 

 
13. Bill Douglas – Windhorse
 

 
14. Luis Delgado ft. Aurora Moreno – El Saludo
 

 
15. Luis Delgado – Gibralfaro
 

 
16. Uttara-kuru – Tsugaru
 

Read Full Post »

That typewriter may be old, but for what it’s worth, my Grandpa never thinks to offload it. I don’t know what to make out of that. About few days in a week he will sit in front of it; typing with so much zeal you can tell from the noise. According to my mother, the machine was from his heyday as a lecturer… I heard he taught chemistry for undergraduates. Or something like that.

Admittedly the typewriter is not in bad condition. Grandpa is meticulous person when it comes to personal stuffs. The typeface is largely uncorroded; he regularly changes the ribbon; there’s no noticeable rust. It’s only… old. And noisy. At least that’s as far as I’m concerned.

The problem is, of course I’m hardly concerned. Seriously now: who cares about typewriters in this computer age? Nowadays we have Microsoft Word and Excel, for crying out loud. But Grandpa politely disagrees. He had been with that typewriter since 1960s, and never thought to leave it. Few days a week he will sit down and produce that unique sound in his house…

TICK-TOCK-TOCKTOCKTOCK. TICK-TOCKTOCK-TICK. TOCK-TOCK.

CTING.

You have the idea.

My parents actually persuaded to buy him electric typewriter, but to no avail. We even tried to teach him benefits of computers—data can be saved into disks, you can delete and insert words—but even then he only had passing interest. He never wanted to part with his old companion. And we, of course, could only shrug it off.

But perhaps interestingly, I once talked about this with my mom. In fact her explanation actually made sense.

“Grandpa never likes computer, does he?”

“Why, perhaps he likes it the old way,” my mother replied. “You know, it’s been with him for decades.”

“But isn’t that old– I mean, it’s noisy and all…”

My mom then told me something—a story from her childhood.

“Back then when I was nine or ten, you know, he bought that typewriter. Office bargain. You see, before that, he couldn’t get all his lecture notes typed by his own. Often times he had to ask the secretary. Other times, he borrowed some colleagues’ typewriter.”

“Almost every night our house was filled with typewriter sound, you know? The usual ‘tick-tock-tick-tock’ thing. At first it was annoying. He liked to work deep into the night. Sometimes up until midnight we could still hear him.”

“But each day after that is good enough for us. He typed, copied and sold his lecture notes to students—we got little more income. He stayed home more often; he put on his new hobby. He sent some short stories to local paper too, you know? But rarely get published I recall. In the end everybody’s happy with that.”

“But why can’t a computer do that? Nowadays people don’t use that thing anymore!”

“One day, maybe you’d understand. There are things like sentimentality and age-old ingrained ideas… things like attachment, so to say. It’s hard to let go, see.” Then she smiled. “Why, isn’t that what people say, ‘Old dog can’t learn new trick?’ Maybe Grandpa is like that!”

***

Nowadays when I look at Grandpa I wonder about things. Why do you like that typewriter so much, Gramps? Why? It’s noisy, it can’t have pictures; and you can’t do backspace! But still, I realized what my mom said. It was something like sentimentality that drives him in. Things like “first typewriter that helped me do things”, “the machine that allowed me free time working all-nights”, et cetera. In the end, it’s not something exactly logical nor exactly nonsensical—rather, it’s combination of both.

Baffling, perhaps. But not outrageously nonsensical.

Still, when I think of it, isn’t that what makes human human? We attach ourselves to things that have (or had) positive values, and try clinging to it—even when we outlive its usefulness. Just like Grandpa cling to his “helpful” typewriter all this time, not interested at all with its modern counterpart…

I wonder if that applies to other things, too.

 

 
(disclaimer: the above story is fiction and largely metaphorical)

Read Full Post »

Kalau boleh jujur, saya adalah orang yang suka jalan-jalan di toko buku. Kadang-kadang disertai membeli, walaupun lebih seringnya tidak (tergantung kondisi keuangan dan ada/tidaknya judul yang menarik). Saya sendiri orangnya jarang belanja dan makan di food court, jadi, kalau sedang berada di mal, hampir pasti berkeliling lapak penjual manuskrip™. πŸ˜› *halah*

Berawal dari kebiasaan di atas, akhirnya saya jadi punya modus operandi kalau sedang di toko buku. Boleh dibilang semacam tips-dan-trik: bagaimana menentukan buku yang cocok, apakah harganya sesuai, dan seterusnya. Tentunya yang saya lakukan ini bukan aturan baku — orang lain mungkin punya trik tersendiri. Meskipun begitu saya menemukan rule of thumb di bawah ini lumayan berguna, jadi tidak ada salahnya kalau dibagikan lewat blog.

Seperti apa metodenya, here goes.

 

#1:
Google review sebelum membeli

 
Adakalanya ketika sedang menyusuri rak, saya melihat buku yang tampaknya bagus. Meskipun begitu pengarangnya tidak terkenal, jadi kualitasnya susah ditebak. Biasanya kalau begini saya mengeluarkan ponsel dan bertanya lewat internet — siapa lagi ahlinya kalau bukan mbah Google? :mrgreen:

 

SE k510i w. google

 

Pencarian tersebut biasanya mengantar ke laman Amazon atau Goodreads buku bersangkutan. Dari sini saya bisa membaca customer review dan melihat argumennya. Reviewer yang baik umumnya menjelaskan dalam poin: apakah suatu buku itu penyampaiannya menarik, datanya up-to-date, dan seterusnya. Jadi saya bisa meraba-raba kualitas buku yang diincar tersebut. Semakin banyak review yang dibaca, semakin bagus.

Bukan berarti review online itu mutlak sih; kadang-kadang ada juga yang underrating atau overrating. Meskipun begitu, paling tidak saya dapat opini tambahan sebelum membeli. πŸ˜›

 

#2:
Kalau lisensinya public domain, pertimbangkan harganya

 
Salah satu jenis lisensi buku adalah public domain. Buku yang masuk grup ini adalah buku yang copyright-nya sudah habis/tidak diperbaharui oleh penulisnya. Oleh karena itu biasanya berupa karya klasik yang penulisnya sudah lama meninggal. Penulis yang terkenal di antaranya Charles Dickens, Dostoyevski, dan Oscar Wilde.

Nah, buku yang copyright-nya sudah habis ini biasanya tersedia gratis di internet. Jadi kalau Anda ketemu buku public domain di toko, jangan lupa pertimbangkan harganya sebelum membeli.

Sebagai ilustrasi, saya pernah ketemu buku Oscar Wilde di rak impor. Bahasa Inggris. Harganya? Rp. 130.000. Sudah tentu saya abaikan. Itu buku copyright-nya sudah basi, berani betul minta duit segitunya. Pastilah mahalnya di cukai impor saja. 😐

Nah, dalam kasus seperti di atas, lebih baik pertimbangkan mengunduh e-book. Bisa dari Wikisource, Project Gutenberg atau Planet PDF. Kalau harga bukunya murah tentunya tidak masalah. Saya sendiri beli Crime and Punishment-nya Dostoyevski seharga Rp. 25.000 (terjemahan Indonesia). Yang penting jangan terlalu mahal saja — salah-salah keuangan yang jebol. πŸ˜›

 

#3:
Usahakan cek berbagai rak; suka ada buku yang salah tempat

 
Ini problem yang universal hampir di semua toko buku. Kadang-kadang ada buku yang klasifikasinya tidak tepat, jadi tidak ketemu oleh calon pembeli. Sebenarnya dapat dimaklumi, sih. Bagaimanapun tidak mungkin petugas toko membaca satu per satu.

Ini saya alami waktu jalan-jalan di rak berlabel “Psikologi”. Isinya buku-buku semacam ‘Bagaimana Memotivasi Diri’, ‘Mencoba Meraih Teman’, dan sebagainya. Anehnya tidak ada textbook formal seperti ‘Pengantar Ilmu Psikologi’. Cari punya cari, ternyata adanya di… bagian “Kesehatan”. πŸ˜†

Lain kali saya menemukan novel historis (fiksi) masuk rak “Sejarah”. Novel historis maksudnya novel berlatar sejarah, misalnya tentang agen rahasia semasa perang dingin (dekade 1960-1990). Nah yang macam ini kan fiksi. Tapi sering bersebelahan dengan materi serius seperti ‘Sejarah Modern Turki’. Jadinya terlihat out-of-place.

Lalu ada juga yang benar-benar ajaib: satu buku, tak ada kawan, raknya nyasar dan tidak nyambung! Tadinya saya bingung kenapa bisa begitu. Belakangan saya dengar bahwa banyak oknum pecinta buku suka berbuat hina. Jadi ada buku tinggal satu, tapi orang ini tak mampu beli. Oleh karena itu dia kacaukan supaya tak diambil orang — ditaruh di rak yang jauh — supaya beberapa hari kemudian bisa dia beli. Benar-benar egois dan menyebalkan! 😈

Walhasil, setiap kali ke toko buku, saya jadi sering mondar-mandir berbagai rak. Sebab lumayan sering ada buku bagus tapi raknya salah tempat.

 

#4:
Kalau beli nonfiksi, perhatikan level bahasan. Apakah pemula, menengah, atau teknis?

 
Biasanya kalau belanja buku, yang saya beli adalah nonfiksi (saya jarang baca novel; entah kenapa kurang tertarik). Temanya sendiri bebas saja. Kadang beli sains populer, meskipun begitu, sering juga materi sosial (saya suka baca sejarah). Nah yang hendak dibahas di sini terkait jenis bacaan tersebut.

Sejauh saya lihat, genre nonfiksi pada umumnya terbagi dalam tiga level: untuk kalangan umum (pemula), untuk kalangan umum yang tertarik mendalami (menengah), dan untuk kalangan teknis (umumnya berupa textbook). Jadi orang yang hendak beli buku nonfiksi sebaiknya paham ke level mana dia hendak masuk.

Nonfiksi level pertama biasanya untuk anak-anak atau young adult. Umumnya banyak ilustrasi, dan — kalau sains populer — tidak banyak main istilah. Nonfiksi level kedua ditujukan pada orang dewasa, sebab isinya lebih serius dan banyak tulisan (buku-buku Richard Dawkins masuk sini). Sedangkan nonfiksi level ketiga adalah yang paling berat. Bahasannya formal dan umumnya bersifat studi. Secara fisik terlihat jumlah halamannya banyak (> 400) dan dilindungi hardcover. Kalau hendak beli yang macam ini, sebaiknya pastikan Anda sudah cukup menguasai topik.

Saya sendiri punya pengalaman buruk terkait level-levelan di atas. Sekali waktu, saya membeli buku kumpulan esai Goenawan Mohamad. Langsung saja saya dihajar istilah-istilah ajaib: poststrukturalisme Adorno, feminisme Kristeva, dan apalah itu sebagainya. Lha saya belum pernah belajar filsafat? Ya sudah, jadilah membacanya ditemani Wikipedia. πŸ˜†

Jadi moral ceritanya adalah, know your level. Jangan sampai beli buku yang akhirnya menyusahkan buat dibaca. πŸ˜›

 

#5:
Buku impor atau terjemahan?

 
Beberapa penyuka buku yang saya kenal, baik IRL maupun di internet, sering beranggapan bahwa kualitas terjemahan Indonesia umumnya jelek. Saya pribadi memandangnya biasa saja. Kadang ada terjemahan yang bagus dan enak dibaca, meskipun begitu, ada juga yang tidak. Soal itu kembali pada skill si translator.

Nah, perdebatan yang muncul kemudian adalah sebagai berikut: lebih baik mana, membeli buku dalam bahasa aslinya atau terjemahan?

Perkara ini tentunya kembali pada si (calon) pembaca. Soalnya begini: kadang-kadang, di samping menuntut kemampuan berbahasa asing, buku impor itu umumnya jauh lebih mahal. Misalnya buku Harry Potter edisi #3. Sejauh saya ingat versi aslinya seharga Rp. 242.000 — sementara terjemahannya sekitar Rp. 80.000. Kalau orangnya lancar Bahasa Inggris dan siap keluar kocek sih OK. Lha kalau tidak? Uang dan kemampuan bahasa Inggris kan tidak semua orang punya. (=3=) *halah*

Terkait itu, saya sendiri kadang tertarik hendak beli buku impor. Sayangnya, berhubung harganya mahal… yah sudahlah. Terpaksa berpuas diri dengan terjemahan (kalau ada). πŸ˜†

*biasa saja sih, lagian bisa download e-book ini*

 

#6:
Apabila hendak beli buku bertema sensitif, pastikan isi dan penulisnya kredibel

 
Kalau Anda sering main ke toko buku bagian SosPol, kemungkinan besar pernah lihat buku-buku bertema “panas”. Ada yang tentang keterlibatan CIA di awal Orde Baru, politik Israel-Palestina, hingga yang konspirasi abis menyebut Freemason dan Bilderberg. Buku-buku ini membahas tema sensitif yang — meminjam istilahnya Dan Brown — “mengguncang iman”.

Pertanyaannya, tentu, apakah yang tertulis di sana dapat dipertanggungjawabkan. Bukan apa-apa — pasalnya, tema yang sensitif berpotensi dipakai penulisnya mengampanyekan misi/opini pribadi. Sementara fakta aslinya terabaikan.

Saya ambil contoh yang saya akrab. Penulis terkenal Harun Yahya membenci Teori Evolusi; di buku-buku dan videonya menjelaskan berapi-api. Akan tetapi dia tidak memberitakan secara berimbang. Di satu sisi mengkritik, tetapi di sisi lain keberhasilan ilmiah teori tersebut tidak disampaikan. Sang penulis mengesani bahwa “Teori Evolusi di ambang keruntuhan” dan sebagainya. Padahal sebenarnya tidak.

Contoh lain, barangkali The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Konon buku ini mengungkap “fakta” rahasia Gereja Katolik. Nah tapi ada masalah: berbagai “fakta” yang diaku Dan Brown itu ternyata banyak dikritik keakuratannya. Walhasil si pengarang dituduh melakukan smear campaign pada agama Katolik. Hal-hal semacam itulah.

 
Jadi bisa Anda lihat problemnya. Buku bertema sensitif itu bisa menyesatkan, sebab belum tentu penulisnya obyektif. Langkah terpenting di sini adalah memastikan bahwa isi buku dan penulisnya kredibel.

Saya sendiri akhirnya jadi sering googling intensif sebelum beli buku jenis ini. Pastikan apakah penulisnya berlatar belakang akademis; pastikan apakah penulisnya netral (lewat berbagai review); lalu pastikan juga bahwa penulisnya tidak mengada-ada (a la Pak Harun dan Pak Brown di atas). Bukan salah saya kalau bersikap hati-hati — sebab kalau tidak, bisa-bisa saya dicekoki propaganda! πŸ‘Ώ

Jadi intinya, waspadalah akan apa yang Anda baca. Waspadalah, waspadalaaaaahh… πŸ‘Ώ

 

***

 

Well, kurang lebih seperti itulah aktivitas saya kalau sedang berburu buku. Tentunya tidak sempurna, sebab disarikannya cuma dari pengalaman pribadi. Meskipun begitu sejauh ini lumayan berguna, sih. πŸ˜› Tulisan ini sendiri dibuat gara-gara saya baru beli buku baru kemarin, jadi apa yang teringat langsung dituangkan.

BTW, kalau ada di antara pembaca yang punya tips dan trik berguna lainnya, monggo dibagikan lewat komentar. πŸ˜€ Will be nice to hear.

Read Full Post »

Kalau boleh menilai diri sendiri, saya bisa dibilang orang yang berjiwa insinyur (walaupun punya keberatan pada kuliahnya, tapi itu cerita lain). Bagaimanapun ini bukan hal yang aneh. Sebagai orang yang sekian tahun belajar di jurusan teknik, sudah pasti ada pengaruh yang meresap. Ini sifatnya psikologis: orang-orang di sekitar saya berpikir secara engineering, maka saya jadi ikut terbawa. Kurang lebih seperti itu.

Beberapa pembaca mungkin kurang akrab dengan dunia yang disebut, jadi ada baiknya saya cerita sedikit dulu.

Di dunia insinyur, tuntutan utamanya adalah “bagaimana agar hidup manusia jadi lebih mudah.” Misalnya insinyur elektro; mereka berupaya memudahkan hidup orang yang terkait listrik (misal: desain pembangkit listrik, pengkabelan, dsb.) Insinyur sipil berupaya memudahkan hidup orang dengan bangun-membangun, dan seterusnya. Kasar-kasarnya: kalau dokter punya job description menyehatkan orang, maka insinyur punya job description membuat orang jadi nyaman.

Nah, upaya “membuat orang nyaman” di atas adalah hal yang rumit. Namanya insinyur sudah tentu bekerja dengan teknologi. Ada yang lewat teknologi listrik, mesin, atau lain sebagainya. Semuanya bekerja menghasilkan penemuan lewat teori dan perhitungan. Teori dan perhitungan bagi insinyur, ibaratnya batu bata untuk tukang bangun rumah: elemen penting yang dipakai untuk membangun. Kalau ada itu, semua jadi gampang. Nah tapi ada masalah.

Biarpun insinyur punya seperangkat hukum fisika dan matematika yang bisa dipakai, pengerjaannya tidak mudah. Banyak hambatan yang membuat teori kita jadi tidak sesuai, harus diperbaiki sedikit — biarpun dasarnya sudah benar. Misalnya seperti berikut.

Dalam ilmu fisika, terdapat aturan yang disebut Hukum Bernoulli. Ini adalah hukum yang mengatur jalannya aliran fluida.

Seorang insinyur diminta untuk meneliti aliran limbah dalam pipa. Langsung saja dia hitung dengan Hukum Bernoulli. Ternyata hasil perhitungannya salah! Padahal matematikanya sudah benar, tapi kenapa begitu?

Penyebabnya: karena Hukum Bernoulli cuma berlaku untuk fluida ideal, semisal air murni. Sementara limbah umumnya campur-baur antara padatan, air, dan gas — jauh sekali dari ideal. Jadi perhitungannya tidak menghasilkan apa-apa.

Saya dan teman-teman suka berkelakar soal ini, dan bilang: “Tuh lihat, di dunia ini tidak ada yang ideal. Teori sebagus apapun pasti meleset — jadi pelajaran kita itu aslinya gak guna.”

Tentunya yang di atas itu cuma bercanda. But you get the point. πŸ˜›

Ini problem yang selalu menghantui para insinyur di bidang manapun. Teori yang sempurna itu tidak ada. Sedikit-banyak pasti ada kompromi. Bisa saja idenya benar, teorinya benar, dan seterusnya — tapi, di dunia nyata, namanya gangguan itu pasti ada. Entah nilainya besar atau kecil. Tidak mungkin ada sistem di lapangan yang 100% sesuai teori. No way!

Ini mirip membandingkan soal fisika yang dikerjakan anak SMA dengan fisika sebetulnya. Di SMA kita disuruh mengerjakan soal, tapi dalam kondisi ideal: tidak ada hambatan udara, tidak ada gesekan, dan sebagainya. Sementara kondisi sebenarnya tidak begitu. Seringnya sih dunia nyata lebih rumit daripada dijelaskan dalam buku.

Teman saya yang anak elektro pernah cerita tentang Arus Eddy yang mengganggu voltmeter. Lain kali, dosen dari jurusan mesin cerita tentang oli: jadi ada oli masuk mesin, mempengaruhi bensin yang aslinya hendak dibakar. Walhasil output energinya berkurang. Hal-hal semacam itulah. Saya sendiri cengar-cengir saja mendengarnya, sebab, di jurusan saya, hal-hal seperti itu juga terjadi.

Ceritanya saya dan beberapa anggota kelompok pernah praktikum dengan pompa. Sesudah mencatat suhu dan tekanan, datanya harus dihitung dan dibandingkan. Tapi kok perbandingannya tidak cocok? Ternyata ada katup yang ngadat, jadi bukaannya tidak sempurna! Akhirnya aliran air yang dihitung jadi meleset. Baru belakangan si asisten bilang ke anak-anak bahwa alatnya rada terganggu. Tapi secara umum tidak apa-apa — jadi angkanya dikompensasi saja dengan kesalahan sekian-sekian.

Praktikannya sendiri cuma bisa angkat bahu. Mau bagaimana lagi? πŸ˜†

***

Jadi, lima atau enam tahun belajar di jurusan teknik mengajari saya satu hal: di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali ide-ide. Teori sebagus apapun, sesempurna apapun, kalau sudah masuk dunia nyata, pasti ada kompromi. Tidak mungkin tidak.

Lalu saya berpikir, jangan-jangan itu juga yang terjadi di ilmu sosial. Bertahun-tahun kita punya teori psikologi, sosiologi, dan ilmu politik, tapi kok kita masih belum paham? Jangan-jangan karena ada banyak elemen yang harus dipertimbangkan di dalamnya, tapi justru terabaikan. Sama halnya dengan kasus arus Eddy dan hukum Bernoulli di atas…

…mungkin. Mungkin lho. Saya kan bukan ahli di bidang itu. :mrgreen:

Pada akhirnya, saya sendiri jadi rada skeptis dengan yang namanya “kesempurnaan” atau “100% ini-itu”. Sebab ya, di dunia ini tidak ada yang 100%. Budaya Indonesia, misalnya, tidak 100% Indonesia (ada banyak pengaruh luar juga). Negara yang 100% free market atau sosialis juga tidak ada — yang ada cuma mendekati salah satunya. Tegangan listrik diukur dengan voltmeter, sebagian arusnya ada yang masuk ke voltmeter (jadi akurasinya tidak 100%), dan seterusnya.

Jadi saya pikir, ah kacau nih kalau orang berani bilang, “Sistem pemerintahan sempurna. Dijamin 100% sukses!” Biasanya yang bilang begitu golongan sayap kanan, tapi itu sebaiknya tak dibahas di sini…

***

Di sisi lain, ada juga tidak enaknya dari “didikan” bersikap realistis di atas. Gara-gara itu saya jadi tidak sabaran kalau berurusan dengan orang yang idealis tapi tidak mengerti lapangan. Ini sifatnya universal: tak peduli yang dibicarakan itu politik, sosial, atau keseharian, kalau itu terjadi, biasanya saya jadi mangkel. Perasaan ini susah dijelaskan.

Misalnya waktu ada gerakan “tolak bayar pajak” gara-gara Gayus Tambunan. Saya dongkol betulan waktu itu. Seriously, do they even think? Coba, apa jadinya administrasi negara, kepercayaan investor, dan sebagainya kalau itu terjadi. Ini mirip dengan ilustrasi Hukum Bernoulli di atas: dikiranya dia paham semua masalah, lalu menerapkan teori dari situ — padahal kenyataannya tidak sesederhana yang disangka. Ha!

Lain kali, saya berdebat panas dengan seorang troll soal Israel-Palestina (saya tidak memihak siapa-siapa di situ; ceritanya panjang). Dia bilang HAMAS itulah yang benar. Saya tanya, situ mengerti tidak sejarah geopolitik Yerusalem? Masalahnya bukan sejak 1948 atau khilafah, melainkan sampai zaman Romawi. Eh dia marah. Saya sendiri bukannya tak berusaha kalem, tapi tetap saja…

Hal-hal semacam itulah. Susahnya terbiasa berpikir realistis adalah, kita jadi tidak sabar melihat orang yang naif. Kesannya kok hidup di awan. Idealisme itu bagus, tapi mbok ya diimbangi dengan asupan realitas.

Jadi ini semacam PR juga buat saya. Mengendalikan marah itu gampang, tapi mengendalikan jengkel… wah, susah sekali. Sebab itu tatarannya dalam hati (bukan perbuatan). Saya masih harus belajar banyak soal itu.

 
Meskipun begitu ada juga dampak positifnya. Gara-gara itu, kalau saya memberi saran, jadinya dipandang sebagai “saran yang bermutu”. Pokoknya sebisa mungkin realistis. Ini berlaku terutama kalau sedang mendengarkan orang curhat — saya sih biasa saja, terserah mereka mau terima atau tidak. Sejauh ini sih mereka selalu mau dengar. πŸ˜›

Saya sendiri bersyukur mendapat didikan cara berpikir realistis selama di kampus. Paling tidak sekian tahun di sana telah mengajari saya untuk bersikap membumi… hal yang ternyata merembes ke berbagai aspek lain dalam hidup. But hey, that’s what education is supposed to be, right? πŸ˜‰

Read Full Post »

20. You wonder what’s so lucrative about engineering contract worth US$ 3000/month. Your reserve players nod in agreement.

19. You start using this catchphrase in daily life: “I want to see more from you!”

18. You note pretty girls few years your junior as “hot prospect for the future”.

17. You can’t grasp the fact that Arsenal fails to win any trophy at all, recently, in the real life. HOLY SHIT LOOK AT THOSE WONDERKIDS, FFFFFUUUUUU–

16. You sneer at motivational training because you think you have mastered it. “Where’s the passion, lads?”

15. You are enraged, ENRAGED, to see Marcelo Lippi ditching young gems like Okaka, Foti, Bertola, and Balotelli for the World Cup.

14. You start doing reverse psychology to fire people up. Last time you do the squad trounced the opponent, so why not.

13. You start substituting the word “happy” with “delighted” in everyday speech.

12. Likewise, you are now “deeply upset by” something when you are down.

11. You wish you have assistant manager feedback to help analyzing life.

10. When you hear the word “sign”, you don’t think of street marks or pamphlets.

9. You think of statement “Men vs Boys” as utter bollocks. Your squad’s average age is 25 and they’re doing well.

8. Mental image of Pep Guardiola playing for West Brom in 2007 doesn’t feel strange.

7. “Money can’t buy you love”. Now you understand what the quote *truly* means.

6. You think of naming your child after key players. Like, maybe “To Madeira”?

5. You staunchly believe that FM player database is infallible.

4. You want England coach to consider players from U-21 and lower divisions – because that’s how you won the World Cup.

3. Do you think “FM Radio” means “Football Manager Radio”? You did? Well, that says something…

2. You often find yourself thinking at 3 or 4 AM, “One more game… just one more game…”

1. You learn your laundry tip from FM addictedness rating – “turning your underwear inside out saves on washing.”

 

Honorable mention:

You have at least few relationship strained, or broken, because of FM.

Read Full Post »

Sejauh yang bisa saya lihat, keluarga saya dari pihak ibu umumnya mempunyai jiwa witty khas Jawa Timuran. Sebenarnya ini bukan hal yang aneh — ibu saya sendiri lahir dan besar di Surabaya, sementara kakek-nenek saya juga asalnya dari situ. Jadi bisa dibilang saya mendapat pengaruh budaya Jawa Timuran dari mereka.

(di sisi lain, ayah saya orang Jawa Tengah; tapi itu takkan kita bahas di sini)

Kalau ada pembaca yang punya kenalan orang Jawa Timur, kemungkinan besar sudah tahu bahwa suku ini punya unggah-ungguh (kesopanan) yang rada unik. Berbeda dengan Jawa Tengah yang tenang, sabar, dan mengutamakan harmoni, orang Jawa Timur relatif lebih vokal menyuarakan isi hati. Adapun mereka punya cara unik untuk melakukannya. Bukan dengan tegas, apalagi bentak — melainkan dengan sindiran dan tertawaan.

Iya, dengan tertawaan. Ada sebuah humor (atau anekdot?) Suroboyoan yang terkenal tentang sopir becak yang ngebut. Kontan, penumpang yang sport jantung protes ke si sopir. Jawaban si sopir?

“Wis murah kok njaluk slamet!”

(id: “Sudah murah kok minta selamat!”)

Well, you got the idea. Kasar-kasarnya, kalau orang Batak marahnya bikin menciut, maka orang JaTim marahnya bikin dongkol. πŸ˜† Ada semacam witticism yang terkandung dalam cara mereka berekspresi, kalau saya boleh menyimpulkan seenaknya.

Nah, ibu saya adalah turunan dari suku yang disebut di atas. Dan sebagaimana bisa ditebak… beliau juga mewarisi semangat yang sama dalam bersikap. Terutama sebagaimana diterapkan pada anak-anaknya.

Dan sebagai anaknya, otomatis saya jadi ‘terdidik’ supaya bisa menanggapi up-to-par. Mau bagaimana lagi? πŸ˜†

Semuanya bermula di satu hari belasan tahun yang lalu…

Ibu saya: So, kemarin aku ketemu ibunya teman kamu pas arisan.

Saya: Oh. Terus?

Ibu: Ibunya cantik lho. Anaknya cakep juga kan? :mrgreen:

Saya: *gobsmacked*

Ibu: (tanpa peduli reaksi saya) Ya iyalah anaknya cantik. Wong ibunya cakep…

Sementara di latar belakang, saya terkapar diam tak mampu bicara. Benar-benar tak mampu berbicara. Sungguh mati tidak melebih-lebihkan, saudara-saudara. Waktu itu saya speechless betulan. (=_=!)

 

onion-thunder

What a speechless reaction may look like

 
Waktu itu saya masih SMP, barangkali sekitar kelas satu. Jadi sejak itu saya mulai belajar mendalami satu hal: the art of witticism. Kalau ibu mau berbuat begitu lagi ke saya, maka paling tidak saya harus bisa menanggapi! (u_u)

Dan demikianlah adanya hingga suatu sore di tahun 2002… ketika beliau iseng mengecek meja belajar saya dan menemukan sebuah foto terselip diantara buku-buku.

Ibu: Eh, siapa ini, ada foto cewek berjilbab pakai seragam SMA…

Saya: GRAAAA~!!! 😈

Ibu: Coba jawab pertanyaan ibu. Itu foto kamu dapat karena dikasih, minta, atau mencuri? (^_^)

Saya: Aku nggak mencuri fotonya kok. Aku cuma mencuri hatinya aja… (=3=)

(*sambil mendengus*)

Kontan, beliau menertawakan saya habis-habisan di tempat. But that’s one good comeback anyway. Kan begitu? πŸ˜†

Tentu, masalah dialog aneh-aneh antara ibu dan saya tidak mesti terkait romance. Ada juga yang temanya relatif netral dan tidak berhubungan dengan itu.

Ibu: Janji adalah hutang. Ingat itu, kamu sudah janji mau melakukan X, harus kamu lakukan.

Saya: Tapi hutang kan bisa diputihkan. Misalnya hutang Tommy pas jaman Pak Harto…

Ibu: Nggak bisa. Pokoknya, nggak bisa. [-(

Saya: Err… eh… kalau begitu, restrukturisasi hutang! πŸ˜€ Kan ada aturan-

Ibu: NGGAK BOLEH!! 😈

Galibnya diskusi ibu dan anak, sudah tentu ujung-ujungnya saya yang berkompromi. Tapi, yah, yang penting kan usahanya. ^^a

Lain kali, saya bilang ke beliau sebagai berikut.

Saya: Dipikir-pikir, sebenarnya tampangku rada mirip ibu. Kalau [adik saya] lebih mirip bapak. (=3=)

Ibu: Ih, mirip-miripin. Aku tuh beda sama kamu. Aku dulu rajin kuliah, pinter, nggak kayak kamu sekarang.

Saya: Eh jangan salah. Sebenarnya aku ini cowok pinter, rajin, dan berkualitas. Hanya saja nggak ada yang sadar. πŸ™‚

Saya: Kalau orang yang tercerahkan, pasti sadar akan kualitas diriku. (u_u)

Ibu: Ada po yang bilang gitu? Kalau ada cewek yang setuju, bawa sini. Biar kenalin sama aku.

Saya: …… πŸ˜„

Lah, ibu. Bukannya aku gak mau bawa, tapi… kalau adanya di seberang pulau atau negeri, gimana ngenalinnya? πŸ˜„ bukan berarti waktu itu lagi ada sih…

 
Meskipun begitu, tak ada yang setegas kalimat beliau tiap kali ditanya tentang hal di bawah ini. Selama belasan tahun jawabannya selalu sama.

Saya: Ibu, aku ini ganteng nggak? πŸ˜€

Ibu: Enggak. Jelek.

Serius, beliau selalu bilang begitu. Bayangkan betapa sesaknya perasaan saya. πŸ˜₯ Tapi, berhubung saya sudah kebal, biasanya saya melanjutkan begini:

Saya: Padahal sendirinya narsis. (=3=) Siapa tuh yang kemaren ngaku2 dirinya pinter, rajin, pandai bergaul…

Ibu: Eh, aku tuh narsis cuma di rumah aja. Kalau sama tetangga atau sejawat, ya, jaga wibawa lah.

Ibu: Orang itu harus tahu cara membawa diri… (u_u)

Saya: Jaim… (=3=)

Ibu: Biarin. (*sambil lanjut dandan di depan cermin*)

***

Kalau boleh jujur, terkadang saya merasa bahwa saya dan ibu itu seperti dua sisi mata uang. Cara berpikirnya beda, pandangan politiknya beda, generasinya juga beda. Tapi sebenarnya toh sama juga. Sama-sama suka ngeyel, jaim, dan — ssst ini rahasia πŸ˜› — sama-sama hobi curcol. Cuma bedanya, saya kalau curcol lewat tulisan. Sementara beliau lewat omongan. πŸ˜†

Walaupun ada juga bedanya soal itu. Saya ini orang yang relatif jujur dalam mengungkapkan perasaan, sementara beliau orangnya no-nonsense. Jadi, tiap kali beliau menelepon malam-malam…

Ibu: So, [adik] lagi di rumah nih. Kamu pulang nggak liburan ini?

Saya: Mmm… lihat nanti dululah. Tergantung kesibukan aja.

Ibu: Kamu kan udah lama nggak pulang. Rindu nggak sama ibu? (^_^)

Saya: Lho ya jelas. Aku RINDUUUUU banget sama ibu. Beneran. Sumpah mati aku kangen sama ibu. 😎 SUER!!!

Ibu: Ceilee… bener?

Saya: BEN-NER BANGET. Sumpah!!

Ibu: Aku gak percaya. Udah ah, segitu aja. Ntar kalau mau pulang bilang-bilang ya.

Saya: Eh serius itu… (=3=)

Ibu: Iya deh, aku percaya. Udah ya, dadah.

(bunyi telepon: *tuuut-tuut-tuuuuut*)

Saya: πŸ˜„

Sepertinya beliau nggak percaya. Ah, ya sudahlah. Yang penting udah dibilangin. πŸ˜†

Read Full Post »

“Surely it is more interesting to argue about what the truth is, than about what some particular thinker, however great, did or did not think.”

~ David Deutsch

 
Kalau boleh jujur, saya sering dongkol setiap ketemu orang — baik di dunia nyata maupun internet — yang setiap kali berbicara membubuhkan atribusi. Maksudnya sedikit-sedikit main quote, begitu, sehingga idenya jadi terkesan ‘wah’. Contoh untuk ini pernah dijelaskan oleh xaliber di posting lawasnya:

Si A: Saya rasa, untuk menyatukan rakyat kita membutuhkan pemimpin yang keras.

Si B: Oh, tentu! Saya juga setuju. Tapi asal tahu saja, teori seperti itu namanya integrasi berdasarkan konflik. Masyarakat bisa terintegrasi karena adanya coercion dari penguasa dan menentukan musuh bersama; teori ini sempat diutarakan oleh Dr. Nasikun pada bukunya yang berjudul Sistem Sosial Indonesia…

Barangkali karena saya pribadi kurang suka gaya bahasa berbelit bumbu jargon, makanya jadi begitu. Seperti yang dibilang Pak Deutsch di atas: yang lebih penting itu idenya, bukan orangnya. Kan begitu? πŸ˜›

Yaa, bukannya saya anti kutipan, sih. Sah-sah saja buat menyampaikan poin, tapi mbok ya jangan berlebihan kalau lagi diskusi. Masa dikit-dikit kutip Plato, Machiavelli, Nietzsche, dkk., dllsb. 😐 Ilmu itu yang penting komunikasi bung, bukan jualan nama!

On related note, sebenarnya tulisan yang kemarin juga bisa dibumbui quote berbagai ilmuwan terkenal: Dawkins, Huxley, Darwin, dst. Pertanyaannya, buat apa? Saya pikir pembaca juga lebih suka lah kalau disampaikan sederhana begitu saja. So there. πŸ˜†

 

Ps:

Sekadar postingan curhat, jangan terlalu dipikirkan. πŸ˜›

Read Full Post »

Older Posts »