Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Trivia’ Category

Update blog setengah serius untuk mengisi waktu… saya agak sibuk akhir-akhir ini, jadi belum sempat menulis panjang-lebar. ๐Ÿ˜›

Mengenai kenapa temanya world music, tentunya karena saya orang yang berwawasan multikultur dan menganggap batas negara itu semu. :mrgreen: Tapi itu cerita lain untuk saat ini.

Anyway, here goes. Hope you like it.

 

1. Ali Farka Tourรฉ & Toumani Diabatรฉ – Ai Ga Bani

 

 
2. Ricky Martin – Gracias Por Pensar En Mi
 

 
3. Youssou N’ Dour & Axelle Red – La Cour Des Grands
 

 
4. Natacha Atlas ft. Jean-Michel Jarre – C’est la Vie
 

 
5. The Corrs – Buachaill On Eirne
 

 
6. The Corrs – Lough Erin Shore
 

 
7. Anรบna – Siรบil a Rรบin
 

 
8. Jean-Michel Jarre – Equinoxe 5
 

 
9. Jean-Michel Jarre – Rendez-vous 98
 

 
10. Chrisye – Kala Cinta Menggoda
 

 
11. Christopher Tin – Baba Yetu (OST Civilization IV)
 

 
12. Taksim Trio – Gozum
 

 
13. Bill Douglas – Windhorse
 

 
14. Luis Delgado ft. Aurora Moreno – El Saludo
 

 
15. Luis Delgado – Gibralfaro
 

 
16. Uttara-kuru – Tsugaru
 

Iklan

Read Full Post »

20. You wonder what’s so lucrative about engineering contract worth US$ 3000/month. Your reserve players nod in agreement.

19. You start using this catchphrase in daily life: “I want to see more from you!”

18. You note pretty girls few years your junior as “hot prospect for the future”.

17. You can’t grasp the fact that Arsenal fails to win any trophy at all, recently, in the real life. HOLY SHIT LOOK AT THOSE WONDERKIDS, FFFFFUUUUUU–

16. You sneer at motivational training because you think you have mastered it. “Where’s the passion, lads?”

15. You are enraged, ENRAGED, to see Marcelo Lippi ditching young gems like Okaka, Foti, Bertola, and Balotelli for the World Cup.

14. You start doing reverse psychology to fire people up. Last time you do the squad trounced the opponent, so why not.

13. You start substituting the word “happy” with “delighted” in everyday speech.

12. Likewise, you are now “deeply upset by” something when you are down.

11. You wish you have assistant manager feedback to help analyzing life.

10. When you hear the word “sign”, you don’t think of street marks or pamphlets.

9. You think of statement “Men vs Boys” as utter bollocks. Your squad’s average age is 25 and they’re doing well.

8. Mental image of Pep Guardiola playing for West Brom in 2007 doesn’t feel strange.

7. “Money can’t buy you love”. Now you understand what the quote *truly* means.

6. You think of naming your child after key players. Like, maybe “To Madeira”?

5. You staunchly believe that FM player database is infallible.

4. You want England coach to consider players from U-21 and lower divisions – because that’s how you won the World Cup.

3. Do you think “FM Radio” means “Football Manager Radio”? You did? Well, that says something…

2. You often find yourself thinking at 3 or 4 AM, “One more game… just one more game…”

1. You learn your laundry tip from FM addictedness rating – “turning your underwear inside out saves on washing.”

 

Honorable mention:

You have at least few relationship strained, or broken, because of FM.

Read Full Post »

Sejauh yang bisa saya lihat, keluarga saya dari pihak ibu umumnya mempunyai jiwa witty khas Jawa Timuran. Sebenarnya ini bukan hal yang aneh — ibu saya sendiri lahir dan besar di Surabaya, sementara kakek-nenek saya juga asalnya dari situ. Jadi bisa dibilang saya mendapat pengaruh budaya Jawa Timuran dari mereka.

(di sisi lain, ayah saya orang Jawa Tengah; tapi itu takkan kita bahas di sini)

Kalau ada pembaca yang punya kenalan orang Jawa Timur, kemungkinan besar sudah tahu bahwa suku ini punya unggah-ungguh (kesopanan) yang rada unik. Berbeda dengan Jawa Tengah yang tenang, sabar, dan mengutamakan harmoni, orang Jawa Timur relatif lebih vokal menyuarakan isi hati. Adapun mereka punya cara unik untuk melakukannya. Bukan dengan tegas, apalagi bentak — melainkan dengan sindiran dan tertawaan.

Iya, dengan tertawaan. Ada sebuah humor (atau anekdot?) Suroboyoan yang terkenal tentang sopir becak yang ngebut. Kontan, penumpang yang sport jantung protes ke si sopir. Jawaban si sopir?

“Wis murah kok njaluk slamet!”

(id: “Sudah murah kok minta selamat!”)

Well, you got the idea. Kasar-kasarnya, kalau orang Batak marahnya bikin menciut, maka orang JaTim marahnya bikin dongkol. ๐Ÿ˜† Ada semacam witticism yang terkandung dalam cara mereka berekspresi, kalau saya boleh menyimpulkan seenaknya.

Nah, ibu saya adalah turunan dari suku yang disebut di atas. Dan sebagaimana bisa ditebak… beliau juga mewarisi semangat yang sama dalam bersikap. Terutama sebagaimana diterapkan pada anak-anaknya.

Dan sebagai anaknya, otomatis saya jadi ‘terdidik’ supaya bisa menanggapi up-to-par. Mau bagaimana lagi? ๐Ÿ˜†

Semuanya bermula di satu hari belasan tahun yang lalu…

Ibu saya: So, kemarin aku ketemu ibunya teman kamu pas arisan.

Saya: Oh. Terus?

Ibu: Ibunya cantik lho. Anaknya cakep juga kan? :mrgreen:

Saya: *gobsmacked*

Ibu: (tanpa peduli reaksi saya) Ya iyalah anaknya cantik. Wong ibunya cakep…

Sementara di latar belakang, saya terkapar diam tak mampu bicara. Benar-benar tak mampu berbicara. Sungguh mati tidak melebih-lebihkan, saudara-saudara. Waktu itu saya speechless betulan. (=_=!)

 

onion-thunder

What a speechless reaction may look like

 
Waktu itu saya masih SMP, barangkali sekitar kelas satu. Jadi sejak itu saya mulai belajar mendalami satu hal: the art of witticism. Kalau ibu mau berbuat begitu lagi ke saya, maka paling tidak saya harus bisa menanggapi! (u_u)

Dan demikianlah adanya hingga suatu sore di tahun 2002… ketika beliau iseng mengecek meja belajar saya dan menemukan sebuah foto terselip diantara buku-buku.

Ibu: Eh, siapa ini, ada foto cewek berjilbab pakai seragam SMA…

Saya: GRAAAA~!!! ๐Ÿ˜ˆ

Ibu: Coba jawab pertanyaan ibu. Itu foto kamu dapat karena dikasih, minta, atau mencuri? (^_^)

Saya: Aku nggak mencuri fotonya kok. Aku cuma mencuri hatinya aja… (=3=)

(*sambil mendengus*)

Kontan, beliau menertawakan saya habis-habisan di tempat. But that’s one good comeback anyway. Kan begitu? ๐Ÿ˜†

Tentu, masalah dialog aneh-aneh antara ibu dan saya tidak mesti terkait romance. Ada juga yang temanya relatif netral dan tidak berhubungan dengan itu.

Ibu: Janji adalah hutang. Ingat itu, kamu sudah janji mau melakukan X, harus kamu lakukan.

Saya: Tapi hutang kan bisa diputihkan. Misalnya hutang Tommy pas jaman Pak Harto…

Ibu: Nggak bisa. Pokoknya, nggak bisa. [-(

Saya: Err… eh… kalau begitu, restrukturisasi hutang! ๐Ÿ˜€ Kan ada aturan-

Ibu: NGGAK BOLEH!! ๐Ÿ˜ˆ

Galibnya diskusi ibu dan anak, sudah tentu ujung-ujungnya saya yang berkompromi. Tapi, yah, yang penting kan usahanya. ^^a

Lain kali, saya bilang ke beliau sebagai berikut.

Saya: Dipikir-pikir, sebenarnya tampangku rada mirip ibu. Kalau [adik saya] lebih mirip bapak. (=3=)

Ibu: Ih, mirip-miripin. Aku tuh beda sama kamu. Aku dulu rajin kuliah, pinter, nggak kayak kamu sekarang.

Saya: Eh jangan salah. Sebenarnya aku ini cowok pinter, rajin, dan berkualitas. Hanya saja nggak ada yang sadar. ๐Ÿ™‚

Saya: Kalau orang yang tercerahkan, pasti sadar akan kualitas diriku. (u_u)

Ibu: Ada po yang bilang gitu? Kalau ada cewek yang setuju, bawa sini. Biar kenalin sama aku.

Saya: …… XD

Lah, ibu. Bukannya aku gak mau bawa, tapi… kalau adanya di seberang pulau atau negeri, gimana ngenalinnya? XD bukan berarti waktu itu lagi ada sih…

 
Meskipun begitu, tak ada yang setegas kalimat beliau tiap kali ditanya tentang hal di bawah ini. Selama belasan tahun jawabannya selalu sama.

Saya: Ibu, aku ini ganteng nggak? ๐Ÿ˜€

Ibu: Enggak. Jelek.

Serius, beliau selalu bilang begitu. Bayangkan betapa sesaknya perasaan saya. ๐Ÿ˜ฅ Tapi, berhubung saya sudah kebal, biasanya saya melanjutkan begini:

Saya: Padahal sendirinya narsis. (=3=) Siapa tuh yang kemaren ngaku2 dirinya pinter, rajin, pandai bergaul…

Ibu: Eh, aku tuh narsis cuma di rumah aja. Kalau sama tetangga atau sejawat, ya, jaga wibawa lah.

Ibu: Orang itu harus tahu cara membawa diri… (u_u)

Saya: Jaim… (=3=)

Ibu: Biarin. (*sambil lanjut dandan di depan cermin*)

***

Kalau boleh jujur, terkadang saya merasa bahwa saya dan ibu itu seperti dua sisi mata uang. Cara berpikirnya beda, pandangan politiknya beda, generasinya juga beda. Tapi sebenarnya toh sama juga. Sama-sama suka ngeyel, jaim, dan — ssst ini rahasia ๐Ÿ˜› — sama-sama hobi curcol. Cuma bedanya, saya kalau curcol lewat tulisan. Sementara beliau lewat omongan. ๐Ÿ˜†

Walaupun ada juga bedanya soal itu. Saya ini orang yang relatif jujur dalam mengungkapkan perasaan, sementara beliau orangnya no-nonsense. Jadi, tiap kali beliau menelepon malam-malam…

Ibu: So, [adik] lagi di rumah nih. Kamu pulang nggak liburan ini?

Saya: Mmm… lihat nanti dululah. Tergantung kesibukan aja.

Ibu: Kamu kan udah lama nggak pulang. Rindu nggak sama ibu? (^_^)

Saya: Lho ya jelas. Aku RINDUUUUU banget sama ibu. Beneran. Sumpah mati aku kangen sama ibu. ๐Ÿ˜Ž SUER!!!

Ibu: Ceilee… bener?

Saya: BEN-NER BANGET. Sumpah!!

Ibu: Aku gak percaya. Udah ah, segitu aja. Ntar kalau mau pulang bilang-bilang ya.

Saya: Eh serius itu… (=3=)

Ibu: Iya deh, aku percaya. Udah ya, dadah.

(bunyi telepon: *tuuut-tuut-tuuuuut*)

Saya: XD

Sepertinya beliau nggak percaya. Ah, ya sudahlah. Yang penting udah dibilangin. ๐Ÿ˜†

Read Full Post »

Kalau boleh jujur, saya bisa dibilang orang yang suka main game lawas. Mulai dari yang old skool punya sampai yang rada modern (baca: generasi 2000-an), asalkan gameplay-nya bagus, biasanya saya suka. ๐Ÿ˜›

Nah, salah satu game yang sedang saya mainkan saat ini adalah Civilization III. Game buatan Infogrames ini pertama kali saya mainkan ketika masih SMA.

 

civ 3 - title screen

 

Judul: Sid Meier’s Civilization III
Genre: Turn-based strategy
Produksi: Infogrames Interactive
Tahun: 2001

 
Dalam game ini, kita diceritakan sebagai pendiri — sekaligus pemimpin — sebuah peradaban. Seluruh perdagangan, diplomasi, dan kemajuan negara menjadi tanggung jawab kita. Selama 5000 tahun kita harus berkompetisi dengan peradaban lain di muka bumi.

 

civ 3 - choose leader
 

Berbeda dengan game-game strategi sezamannya, Civilization III (selanjutnya disebut Civ 3) tidak memakai tampilan grafis 3D. Keseluruhan gameplay-nya berlangsung di atas map 2D isometrik, dengan sprite yang juga 2D.

 

civ 3 - map

 

Saya sendiri lebih suka pendekatan model ini daripada 3D di Civilization IV. Menurut saya penggunaan 3D di game strategi itu buang-buang resource saja — banyak hal yang lebih penting lah daripada visual. Memangnya kita Windows Vista? Tapi itu pendapat pribadi sih. ๐Ÿ˜›

 
The Epic Journey

 
Kalau boleh jujur, aspek yang paling saya suka di Civ 3 adalah perhatiannya tentang what makes great civilizations. Mulai dari penguasaan teknologi, diplomasi, perdagangan, hingga perang dan overpopulation, semua menjadi bagian dari gameplay.

Lebih lagi bukan saja interaksi antarperadaban yang penting; manajemen negara juga berperan besar. Game ini — tanpa ampun — menambahkan konsep-konsep ruwet seperti korupsi, penduduk imigran, kota jajahan, dan citizen contentment. Apabila kita tidak mengatur negara dengan baik, maka masyarakat berpotensi melakukan riot. Atau, lebih buruk lagi, memilih bergabung ke negeri tetangga karena merasa tidak diurus.

Beuh… xP

 

civ 3 - city management
 

Setelah sukses mengatur negara, maka pemain harus berurusan dengan diplomasi. Termasuk di dalam menu diplomasi adalah perdagangan, perjanjian damai, dan — kalau sudah masuk era modern — embargo dan pakta militer.

 

civ 3 - diplo screen
 

Kadang-kadang tindakan kita dalam permainan bisa berujung pada turunnya reputasi di kancah diplomatik. Sebagai gambaran, apabila saya menggunakan bom atom sembarangan, maka pemimpin negara lain akan kecewa dan memandang rendah. Persetujuan pun jadi sulit dicapai. ๐Ÿ˜•

 
Technological Advancements and Beyond

 
Sisi lain yang ditawarkan Civ 3 adalah technology tree. Sebagaimana galibnya di dunia nyata, negara bisa berkembang jika penguasaan teknologinya mumpuni. Sebagai pemimpin negara kita menentukan ke arah mana riset berlangsung — apakah ke arah praktis, mercusuar, atau militer? Kebijaksanaan Anda menentukan nasib negara. ๐Ÿ˜ˆ
 

civ 3 - tech tree

Tech-tree di Civ 3 (klik untuk ukuran besar @ CivFanatics.com)

 
Sebagai contoh, untuk membangun rumah sakit kita membutuhkan teknologi Sanitation. Untuk membangun pasukan kavaleri kita perlu teknologi Gunpowder dan Military Tradition. Adapun untuk memberdayakan ekonomi lewat pasar dan bank, kita harus mempelajari Economics dan Currency; dan lain sebagainya.

Teknologi yang tepat juga bisa membantu kita menemukan bentuk pemerintahan yang lebih efisien. Pertama kali main kita diberi bentuk pemerintahan Despotisme; pemerintahan yang buruk dan banyak korupsi. Meskipun begitu, semakin jauh bermain, kita akan mempelajari bentuk yang lebih sophisticated seperti Republik, Monarki, dan Demokrasi. ๐Ÿ˜€

 
Victory Conditions
 

Sebuah game Civ 3 berakhir jika pemain — atau AI — memenuhi salah satu dari 6 (enam) syarat, yakni:

  1. Conquest — sebuah negara berhasil menaklukkan seluruh lawan secara militer
  2. Domination — sebuah negara menguasai 2/3 tanah di muka bumi
  3. Cultural — sebuah negara memiliki kebudayaan yang superior (ditentukan lewat culture point)
  4. Space Race — sebuah negara berhasil meluncurkan roket pertama ke luar angkasa
  5. Diplomatic Win — apabila kepala negara terpilih menjadi Sekretaris Jendral PBB
  6. Histograph — alias time-out pada tahun 2050, apabila belum ada pemenang

Dengan berbagai kondisi tersebut, game ini jadi bersifat amat terbuka. Negara yang kuat secara militer atau dagang belum tentu keluar sebagai pemenang. Bisa saja ada negara kecil tak berguna yang “menyalip” lewat jalur Space Race atau Diplomatic Win.

 
End Notes and Verdict

 
Game yang sangat kompleks, dengan bumbu politik di sana-sini. Apabila Anda suka berkhayal tentang perjalanan peradaban kuno, ada kemungkinan Anda akan tertarik. Saya tidak yakin apakah penggemar RTS akan suka, tapi setidaknya buat saya ini game yang bagus. ^^

To be noted, though: ini game yang luar biasa kompleks. Saya sendiri harus berulangkali main ke forum terkait untuk mempelajari tips-dan-triknya (ini game pertama yang membuat saya sampai segitunya). But, like people say… selalu ada saat pertama kali lah. ๐Ÿ˜‰

  • Visual: 8/10
  • Music: 8/10
  • Gameplay: 10/10
  • Replayability: 10/10
  •  

  • Personal Rating: 9/10

 

 

——

Ps:

Ya, ya, saya akui bahwa tulisan saya tempo hari terinspirasi oleh game ini. ๐Ÿ˜ˆ

Read Full Post »

Sekali waktu ketika masih sekolah, seorang teman saya ditanya oleh Bapak Guru dari suku mana dia berasal. Saya sendiri waktu itu sedang rada melamun — waktu itu pelajaran sejarah, yang kebetulan saya kurang tertarik. Meskipun begitu saya ingat dia menjawab, “Padang”.

Technically, harusnya dia menjawab “Minang” — tapi itu bisa kita kesampingkan untuk saat ini.

Saya pikir ada yang aneh dengan klaimnya waktu itu. Sejak pertama kali mengenal dia, belasan tahun lalu, saya langsung ngeh bahwa matanya berwarna coklat. Hidungnya rada mancung, dan kulitnya relatif pucat untuk ukuran Asia. Kalaupun ada yang mencerminkan bahwa dia “orang Padang”, maka itu adalah jilbab yang dia pakai sejak SD dan kefasihannya baca Qur’an. Paling tidak itu sejalan dengan semboyan orang Padang yang saya tahu: “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”.

Belakangan saya paham bahwa dia berdarah Indo. Barangkali dia dapat warisan itu sejak zaman penjajahan, makanya dia bisa dengan yakin berkata “Padang” ketika ditanya. Meskipun begitu — at risk of repeating myself — bukan itu yang hendak dibahas di sini.

***

Ada pertanyaan yang mengusik saya tiap kali menatap matanya yang coklat itu. Sebenarnya nenek moyangmu orang mana? Dari negeri yang jauh sampai kemudian tiba di SumBar, dan sekarang kamu di tanah Jawa? Portugis? Belanda? Atau barangkali dia bukan penjajah. Barangkali sekadar petualang Eropa serabutan macam Jean Marais

Bagi saya, dia adalah sosok yang menarik. Bukan karena dia cantik, melainkan karena dia membawa rasa penasaran saya ke tempat yang jauh: kapal-kapal pedagang, penjelajah, berlayar atas perintah bangsawan Eropa. Perjalanan sekian tahun menuju Malaka. Perjalanan membawa genetik Eropa dari tanah asalnya menuju kepulauan di Khatulistiwa…

Selalu ada yang unik setiap kali saya menatap matanya yang coklat itu. Dan setiap kali pula, saya selalu terkagum: betapa jauhnya manusia bisa berjalan, betapa kerasnya manusia bisa berupaya. Dari kincir-kincir angin di Belanda sampai lembah dan ngarai di Sumatra Barat, hingga akhirnya berhenti dan menetap di Pulau Jawa. Selalu ada yang spesial setiap kali saya memikirkannya.

Bayangkan, saya berkata ke diri sendiri. Bayangkan jauhnya.

Saya tahu, kehadiran bangsa Eropa mencapai Nusantara bukannya manis semata. Sebagaimana pelajaran PSPB memberi tahu saya di masa SD: banyak riwayat kelam yang menyertainya. Kolonialisme tidak indah. Meskipun begitu, sebagaimana saya tulis di atas, selalu ada yang spesial setiap kali saya memperhatikan teman yang disebut sebelumnya.

Bahwa di dekat saya ada seorang gadis, beragama Islam, berjilbab, dan relatif fasih membaca Qur’an, sementara nenek moyangnya mungkin petugas Zending missie beragama Protestan — dan bahwa dia lebih merasa sebagai “orang Padang”, alih-alih Belanda atau Portugis — membuat saya tertarik untuk merenung dan menuangkannya di sini dalam bentuk tulisan.

Bayangkan, saya berpikir. Bayangkan jauhnya.

Seandainya zaman penjelajahan tak pernah dimulai, maka dia takkan pernah lahir. Seandainya seorang pangeran Portugis tidak pernah memulai tradisi kelautan Eropa, kapal-kapal dagang VOC mungkin takkan singgah di Nusantara. Seandainya tidak ada kompas… seandainya tidak ada semboyan Gold, Gospel, Glory…

Hari ini, ketika saya sedang mengetikkan tulisan ini, saya kembali teringat padanya. Saya teringat pada matanya yang coklat, kulitnya yang pucat — kerudung yang dipakainya anatopis dengan raut wajahnya yang (sedikit) Eropa. Saya sudah lama tidak bertemu dengannya. Meskipun begitu, setelah melalui refleksi di atas, saya jadi sadar akan satu hal: She was indeed special.

Setiap kali saya menatapnya, saya membayangkan perjalanan yang ditempuh leluhurnya. Ribuan kilometer lewat laut, menantang badai. Mungkin juga sempat berperang/berselisih dengan penduduk lokal. Perjalanan panjang dan jauh. Dan saya bertanya, siapa yang memberinya bentuk mata dan warna kulit seperti itu.

Adakah leluhurnya dulu kelasi di kapal VOC? Atau barangkali bukan VOC. Barangkali dia naik kapal Portugis yang lebih dulu datang? Pertanyaan-pertanyaan macam ini terus berseliweran. Meskipun begitu saya pikir saya takkan pernah tahu.

Saya rasa, dia sendiri juga tidak tahu.

Kalaupun ada yang saya tahu, itu adalah bahwa leluhurnya telah jauh melangkah. Dari tanah yang asing di Eropa sana, terus mengarungi samudra, hingga akhirnya tiba di Sumatra Barat. Barangkali saya harus berterima kasih pada Pangeran Henry dari Portugal — sebab gara-gara dia abad penjelajahan Eropa dimulai, dan saya bisa merenungi perjalanan epic tersebut lewat kehadiran teman saya.

Walaupun, kalau boleh jujur, sebenarnya ada hal lain yang membuat saya berhutang budi pada pangeran tersebut. Tapi itu cerita lain untuk saat ini…

Read Full Post »

Wikipedia entries to read while you watch somebody finish stage 1 in Prehistorik 2

 

 

  • When Olympus did a miserable flying kick to Superstar Ho-Sung Pak, he flew out of ring instead [WMAC Masters]
  • Some people like to do tri- penta- umpteenathlon in front of camera [American Gladiators]
  • J.D. Roth defined ‘fun’ for a generation of schoolkids [Fun House]
  • Whatever will happen today, ask Gary Hobson [Early Edition]
  • A boy got shunted to a terrific parallel world [Spellbinder]
  • Kwai-Chang Caine’s legacy continues in NY [Kung Fu TLC]
  • Sam Beckett alters history… [Quantum Leap]
  • …while Phineas Bogg and Jeffrey follow suit [Voyagers!]
  • The most kickass use of (gothic) letter ‘L’ in TV history [Poltergeist: The Legacy]
  • And I thought college would be all fun [USA High]

 
And yet, there is also eastern hemisphere influence as well.
 

  • To begin with, let’s all say… “MANTRA AJI!!” ๐Ÿ˜Ž [Kamen Rider BLACK]
  • “Tapak Kerinduan yang Memuncak™”. Halah! [Return of the Condor Heroes]
  • An epic love dodecahedron once happened in Tokyo [Tokyo Love Story]
  • Three coolest policemen of 1999 [Tokkei Winspector]
  • Ryo, Rowan, et. al. to save the world [Ronin Warriors]
  • Rekindling the lost art of being gourmand [Mr. Ajikko (aka “Born to Cook”)]
  • Meet the Matsunaga Sisters [Miracle Girls (aka “Magic Girls”)]
  • Younger kids like Captain Tsubasa; olders had Kakeru Daichi [Ganbare, Kickers]
  • Aoyama Gosho’s unsung masterpiece once aired every Thursday [Yaiba]
  • Wherever the heck you ever heard of “Pangeran DanDan” and “Putri Syalala” [Time Quest]

 

Now where have those innocent times gone again? ๐Ÿ˜

 

Note:

No, I don’t count too-famous ones like ‘vigilante black helicopter shooting missiles’ or ‘a blond man who can pwn you with everyday things’.

Read Full Post »

Konon, kebahagiaan itu letaknya di hati. Seseorang tidak mesti kaya dan berkelimpahan untuk bisa bahagia — asalkan bisa mencukupi kebutuhan dan bersyukur, maka itu saja sudah cukup. Yang penting adalah bagaimana memaknai apa yang kita punya sebaik mungkin.

Sebenarnya ini wisdom yang amat populer; beberapa orang mungkin bilang “basi”. Meskipun begitu, mau tidak mau, saya jadi ingat juga gara-gara adegan di bawah ini. ๐Ÿ˜†

 

cat-and-shoe
 

“You can’t always get what you want, but if you try, sometimes you may just get what you need.”

~ Rolling Stones

Have a nice day, Neko-san. ๐Ÿ™‚

 

 
——

Ps:

Belakangan ini saya jadi sering posting gambar/foto. Maunya sih menulis panjang-lebar, tapi apa daya… ๐Ÿ˜ฎ

(baca: mood belum balik sepenuhnya pasca hiatus)

Read Full Post »

Older Posts »