Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘kucing’

Konon, kebahagiaan itu letaknya di hati. Seseorang tidak mesti kaya dan berkelimpahan untuk bisa bahagia — asalkan bisa mencukupi kebutuhan dan bersyukur, maka itu saja sudah cukup. Yang penting adalah bagaimana memaknai apa yang kita punya sebaik mungkin.

Sebenarnya ini wisdom yang amat populer; beberapa orang mungkin bilang “basi”. Meskipun begitu, mau tidak mau, saya jadi ingat juga gara-gara adegan di bawah ini. 😆

 

cat-and-shoe
 

“You can’t always get what you want, but if you try, sometimes you may just get what you need.”

~ Rolling Stones

Have a nice day, Neko-san. 🙂

 

 
——

Ps:

Belakangan ini saya jadi sering posting gambar/foto. Maunya sih menulis panjang-lebar, tapi apa daya… 😮

(baca: mood belum balik sepenuhnya pasca hiatus)

Read Full Post »

Beberapa menit yang lalu, saya baru pulang jalan-jalan dari toko buku. Waktu itu saya sedang melepas sepatu di depan kamar kos (pintu kamar sudah setengah terbuka).

Kemudian datanglah seekor kucing gemuk. Mendadak sontak — tanpa diduga — kucing tersebut nyelonong masuk ke dalam kamar.

Tentunya saya kaget. Apa-apaan ini? Yang punya kamar saja belum masuk, kok dia seenaknya!? 😐

Otomatis, tangan saya langsung bergerak. Ekor kucing pun tertangkap.

Kemudian — tanpa dipikir — saya memutuskan untuk berkomunikasi dengan sang kucing. Refleks saja… dengan bahasa Jepang. *sumpah mati ini benar-benar refleks!* xD

Saya:

“Kore wa omae no tokoro janai. Mou, kiete kudasai.”
(= “Ini bukan tempat kamu. Tolong, pergilah sekarang juga.”)

Si kucing kemudian menoleh ke belakang; menatap ke arah saya.

Saya:

*memindahkan tangan, elus-elus bagian leher*

“Dakara, mou, kiete kudasai. Ne?”
(= “Makanya, pergilah sekarang. Ya?”)

Kucing masih menatap dalam sunyi.

Saya:

“Onegaishimasu.”
(= “Saya mohon.”)

Kemudian terjadi sesuatu yang ajaib: si kucing pergi ke luar, melewati saya dan pintu yang masih terbuka.

Saya melongok ke luar. Si kucing masih ada, melihat ke arah saya.

Lalu saya bilang:

Saya:

“Arigatou gozaimasu.”
(= “Terima kasih banyak.”)

Selesai saya ngomong ini, si kucing garuk-garuk kuping sebentar — setelah itu dia pergi.

Jadi, sekarang saya bingung.

Kucing itu… aslinya bisa bahasa Jepang, ya? ^^;;;;

 

 

——

Tambahan:

 
BTW, ini bukan pertama kalinya terjadi. Beberapa bulan yang lalu saya melihat seekor kucing lain, yang sedang berlari dari arah dapur. Kemudian saya bilang “matte!” (= “tunggu!”).

Eh, dia noleh. Setelah bertatapan agak lama — tidak ada yang mencurigakan — saya bilang: “betsuni” (= “tidak ada apa-apa”).

Dan dia pergi habis saya ngomong itu. Ini membingungkan. xD

Read Full Post »