Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘TI dan Internet’ Category

Update Juni 2014: Sebagian posting telah diset privat.

 

Saya pertama kali menulis blog sekitar bulan Mei 2006, pertama-tama di livejournal, kemudian pindah ke blog WordPress yang sekarang. Waktu itu saya masih kuliah tingkat dua, dan kalau boleh dibilang, menulisnya benar-benar santai: pakai kata ganti gw-lo, banyak membahas keseharian, dan isinya cenderung personal. Hampir tidak ada tulisan panjang-lebar yang serius. Bolehlah dianggap bahwa itu masa-masanya saya masih kroco di dunia blog. Tapi soal itu sebaiknya tak dibahas di sini. :mrgreen:

Nah, yang hendak dibicarakan di sini terkait dengan masa-masa awal ketika baru pindah ke WordPress. Saya mulai menulis di sini sekitar bulan Desember, jadi, kurang lebih sekitar 6 bulan sejak awal ngeblog. Kalau dihitung-hitung: persis sudah empat tahun saya menulis di alamat ini.

Dulu di tahun 2006-07, banyak blogger hebat yang menulis di WordPress, di antaranya Bang Aip, Mas Fertob, Mas Joe, dan Kang Tajib. Sekarang hampir semua punya hosting pribadi. Lalu ada blog Wadehel yang — waktu pertama kali baca — sempat bikin kaget dan rada trauma. Walaupun begitu belakangan saya mulai bisa memahami maksud di balik tulisannya, so that’s fine. πŸ˜›

Lalu saya juga ketemu banyak teman yang luar biasa. Dari yang (waktu itu) masih SMA sampai yang sudah bapak/ibu dan berkeluarga, semuanya menarik dan enak diajak ngobrol. Ada begitu banyak nama sampai-sampai tak bisa disebut satu-persatu. Mulai dari generasinya kgeddoe dan mas Gun; generasi saya sebangsa mbak Hiruta dan Chika; lalu yang lebih muda generasinya xaliber; generasinya mas AmedFaridMansup… sampai yang sudah paruh baya seperti bu Evy dan Kang Tajib di atas. Banyak di antaranya yang sudah berhenti ngeblog atau pindah website. Bagaimanapun itu hal yang wajar. Empat tahun itu waktu yang lama.

Menariknya adalah, selama empat tahun itu, saya bisa dibilang tak pernah ganti-ganti identitas. Sejak dulu ya, kalau orang melihat saya di blogosphere, pasti namanya sora9n. Sejak dulu mayoritas isi blog saya bertema J-stuffs, opini serius, atau ngobrol tentang sains. Dan sejauh saya ingat, blog ini hampir tak pernah ganti tampilan — ganti theme cuma sekali; ganti header dan tampilan sidebar pun demikian. Ibaratnya: kalau Anda pernah berkunjung ke sini dua tahun lalu, lalu baru main ke sini lagi, dijamin panglingnya cuma sedikit. :mrgreen:

Akan tetapi sebagaimana halnya benda di dunia ini, tidak ada yang abadi. Hal-hal di sekitar saya berubah; garis besar pemikiran saya juga berubah. Sementara apa yang ada di blog ini sudah mengkristal pencitraannya: bahwa saya begini-dan-begitu, bahwa blog ini *diasumsikan* isinya begini-dan begitu. Jadi saya berpikir begini. Barangkali sudah waktunya saya mencoba mengakomodasi perubahan itu.

Saya, misalnya, semenjak tahun 2009 sudah tak rajin mengikuti barang-barang Jepang. Saya tidak tahu anime atau dorama terbaru, juga tidak tahu kabar J-music terbaru (walaupun saya masih menulis seri nihongo di blog ini; tapi itu sekadar melanjutkan yang sudah ada saja). Haluan filosofis saya juga berubah: dari yang tadinya religius-liberal (c. 2006) menjadi teis agnostik (c. 2007) hingga sekarang agnostik tanpa embel-embel (sekitar akhir 2007? lupa πŸ˜› ). Semua perubahan itu tercermin di berbagai rangkaian posting di blog ini. Dari masa ke masa garis besar haluan ngeblog saya terus berubah dan, di saat ini, saya telah berjalan begitu jauh — sedemikian hingga ada perbedaan yang visible antara diri saya dulu dan sekarang.

Masalahnya adalah bahwa blog ini menimbulkan ekspektasi pada pembacanya. Kalau orang dengar istilah “blog sora-kun” barangkali yang terlintas adalah: “blog yang suka ngomong jejepangan, teori evolusi, atau coretan keseharian“. Sementara ada banyak hal yang ingin saya eksplorasi di luar itu yang belum tentu cocok dengan audiens.

Jadi saya menetapkan bahwa Garis Besar Haluan Ngeblog (GBHN) saya telah berubah. Saya ingin membicarakan hal lain; saya ingin mengomunikasikan hal-hal berbeda dengan segmen pembaca yang (boleh jadi) juga berbeda. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berhenti ngeblog di sini dan melanjutkan di blog yang baru.

 

ZENOSPHERE

Link dan banner dari blog tersebut

 

Yup, that’s about it. Jadi, setelah empat tahun ngeblog di alamat ini, saya akhirnya memutuskan untuk pindah rumah. Masih di bawah pengawasan bapak kos Oom Matt di WordPress, cuma beda nomor kamarnya sahaja. Silahken dikunjungi atau di-subscribe kalau berkenan. πŸ˜› biarpun isinya sejauh ini baru dua posting

 
Jadi, ada apa di blog baru ini?
 

Rencananya di blog tersebut saya akan lebih banyak merilis tulisan bertema serius; kira-kira seperti terkandung di kategori deeper thoughts. Berhubung pendidikan saya teknik maka temanya akan berkisar antara sains dan engineering — walaupun bukan tak mungkin bakal ada tulisan nyerempet ilmu sosial. Bagaimanapun memang dua bidang itu sering bertabrakan. πŸ˜› (see also: teori evolusi, antropologi)

Rencananya saya juga ingin mencoba gaya menulis baru di sana. Alih-alih membuat tulisan panjang-lebar tapi jarang update seperti di blog ini, saya akan lebih fokus pada posting pendek-tapi-rutin. Sebisa mungkin tidak lebih dari 1000 kata; jikapun lebih, sungguh mati tiada maksud. Mudah-mudahan masih bisa ditoleransi kalau kepanjangan. πŸ˜› Harapannya sih bisa rajin update sambil tetap menjaga mutu.

 
Wrapping it up…
 

Akhirnya saya mengucapkan terima kasih pada pembaca yang sudah menyambangi blog ini selama empat tahun terakhir. Mulai dari yang rajin berkunjung dan berkomentar; yang sekadar membaca tanpa komentar; yang sampai ke blog ini lewat link; sampai yang tersasar ke sini gara-gara google. Semua hits itu telah membantu menyemangati saya selama mengisi tulisan di blog ini.

Sebagai informasi, rata-rata harian kunjungan blog ini sejak tahun 2007 adalah 183, 328, 412, dan 335. Semuanya disumbang oleh kehadiran, diskusi, dan link balik para pembaca.

Oleh karena itu, menutup perjalanan panjang di blog ini: terima kasih banyak untuk semua perhatiannya. Terima kasih banyak, sebanyak kunjungan Anda semua ke blog ini. m_(u_u)_m *plak*

Komentar akan tetap dibuka sampai Tahun Baru 2011, setelah itu akan ditutup untuk seterusnya. Silakan meninggalkan pendapat, kesan-pesan, atau sebagainya — sejauh tidak melanggar rambu-rambu berkomentar, respon anda akan diterima dengan baik.

Akhir kata, terima kasih banyak, dan sampai jumpa. Adios!

 

— SHQM

 

Addendum:
Saya merasa agak terbebani karena — sejauh saya ingat — ada tulisan yang bersifat hutang dan tak pernah dilunasi sampai blog ini tutup. Yang pertama kelanjutan seri nihongo; ada banyak sekali materi yang tak sempat saya tulis. Yang kedua bagian penutup seri mekanika kuantum: semestinya sudah ditamatkan pada awal tahun 2009, akan tetapi sampai sekarang ternyata terbengkalai. Untuk ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. ^:)^

Saya menulis dua bidang tersebut semata dengan semangat Free Culture — saya percaya bahwa ilmu pengetahuan selayaknya disebarkan seluas mungkin tanpa diambil untung. Akan tetapi untuk menulisnya butuh waktu dan energi yang lumayan, dan itu adalah hal yang jarang saya miliki dalam dua tahun terakhir.

Read Full Post »

Catatan: Jadi, ceritanya saya sedang ngobrol dengan geddoe dan mas gentole di post tentang migrasi tempo hari. Ada satu poin menarik yang muncul di situ, dan saya pikir tak ada salahnya diangkat jadi tulisan tersendiri. πŸ˜‰

 

Waktu kecil dulu, saya suka nonton serial Sesame Street. Ada yang ingat serial ini? Dulu sempat tayang sore-sore di RCTI, dan menampilkan sosok-sosok boneka lucu seperti Big Bird, Grover, dan Cookie Monster. πŸ™‚

 

Sesame Street cast crew

Para punggawa Sesame Street generasi baru (2009). Acara ini sudah berjalan selama 40 tahun di negeri asalnya.

[image courtesy of Muppet Wiki]

 

Waktu itu eranya tahun 1990-an. Belum lama sejak TV swasta boleh mengudara di Indonesia — dimulai oleh RCTI, kemudian SCTV, kemudian TPI dan kawan-kawannya. Ini masanya ketika saya usia TK dan SD, jadi bisa dibilang saya tumbuh besar bersama program mereka.

To be fair, though, kadang-kadang saya nonton TVRI juga — soalnya dulu ada Voltron dan ThunderCats di sana. πŸ˜› Tapi bukan itu yang hendak dibahas di sini.

Nah, yang hendak saya bahas di sini terkait dengan “hobi” nonton TV zaman dulu. Ada apa dengan itu, nah, ini ada ceritanya lagi.

 

Nostalgia dulu…

 

Sekitar masa SD, saluran televisi favorit saya adalah RCTI. Banyak film-film bagus ditayangkan di sana: mulai dari Airwolf, MacGyver, hingga yang legendaris seperti Ksatria Baja Hitam. Kalau yang bermuatan edukasi, Sesame Street; yang bergenre kartun, Doraemon. Hampir semua teman saya nonton acara-acara tersebut. Entah itu di sekolah, di rumah, ataupun pas main ke rumah sebelah, yang dibicarakan adalah:

+ “Nonton Airwolf nggak kemarin?”
+ “MacGyver bersambung, hampir kalah sama Morgana.”
+ “Motor Road Sector, jreng-jreng…”

(dan seterusnya)

Kasar-kasarnya, kalau nggak nonton TV, nggak gaul. πŸ˜› Entah produk Jepang atau Amerika, asalkan menarik, maka bakal jadi bahan gosip di kelas. Bagi kami Kotaro Minami sama kerennya dengan MacGyver. Kalau belalang tempur adalah motor super, maka Airwolf adalah helikopter jagoan. Voltron sama kerennya dengan Patlabor…

…dan seterusnya. Kalau ada di antara pembaca yang seumur saya, pastilah paham apa yang dimaksud. :mrgreen:

***

Tentu, yang saya sebutkan di atas itu produk zaman dulu. Generasi kelahiran ’90-an barangkali tidak tahu tentang KBH dan Airwolf. Meskipun begitu mereka punya ikon generasinya sendiri.

Seorang sepupu saya, yang sekarang masih SMA, tumbuh besar bersama Kapten Tsubasa. Anaknya mbak yang kerja di rumah saya, dulu hobi nonton Teletubbies. Jika dulu generasi saya punya idola, maka begitu pula dengan mereka. Entah bentuknya berupa Naruto, Sasuke, Aang, atau Ben 10 — asalkan sosoknya admirable, maka bisa jadi pujaan. Perkara asalnya dari Negeri Paman Sam atau Matahari Terbit… itu urusan belakangan.

Di sini saya ingin menekankan satu hal: anak-anak zaman sekarang tidak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dikelilingi budaya banyak negeri jauh lebih intens daripada kakek-neneknya. Ambillah drama seperti Pendekar Rajawali (Tiongkok), Full House (Korea), hingga One Litre of Tears (Jepang), semua siap mampir di televisi ruang tamu.

 

The Internet Revolution

 

Menariknya, walaupun di satu sisi saya menilai televisi sebagai agen budaya, saya tidak menganggapnya sebagai yang paling dahsyat. Gelar untuk ini jatuh pada media yang baru muncul belakangan, yakni internet. Dengan internet orang bisa berselancar ke tempat-tempat yang jauh — mendalami pikiran yang berbeda, juga budaya yang berbeda.

Barangkali lebih mudah kalau dijelaskan lewat contoh. Selama kisruh Iran kemarin, saya dapat berita dari Twitter dan Fark. Kalau sedang santai saya bisa berkunjung ke blog bu guru Amerika yang tinggal di Turki; kalau tidak, warga Saudi yang rada liberal. Saya bisa membaca jurnal keseharian sopir taksi di Singapura. Ada juga blog berita tentang Jepang, dan lain sebagainya.

Ingin belajar lewat internet? Itu juga bisa. Tinggal buka wikipedia, search google, atau tanya di Yahoo! Answers. E-book bisa diunduh, anime bisa ditonton. Siaran dan iklan mancanegara bisa diakses di YouTube. This being internet, kita bisa saling mengobrol, mengomentari, bahkan menertawakan kejadian di tempat jauh.

Seolah-olah, jarak dilipat saja oleh koneksi HTTP. Menurut saya ini hal yang hebat! πŸ˜€

Tentunya harus diingat bahwa, galibnya kemajuan teknologi, internet juga punya sisi negatif. Ada banyak kasus untuk ini. Toh ini tidak mengubah kenyataan. Sebagaimana sudah disebut, internet adalah jendela penghubung yang luar biasa antara warga dunia.

 

The Culture Salad

 

Bicara soal ini, saya jadi ingat lagi pada diskusi yang kemarin. Mas gentole bercerita di salah satu komentar,

[K]emarin sempat ikut seminar dan beli buku barunya Yudi Latif yang judulnya menyemai kebangsaan atau apa gitu. Debatnya seru. Kebanyakan orang tua sih. Nah di sini menariknya.

Kalo saya baca postnya sora dan juga melihat kecenderungan lambrtz, geddoe dan dnial untuk menjadi nationless dan stateless itu, sepertinya ada gap yang sangat besar antara dua generasi.

 
*) dengan perubahan seperlunya

Saya pikir tidak ada yang aneh dengan itu. Mengapa generasi zaman sekarang kok lebih suka persahabatan lintas batas dan humanisme universal, alih-alih nasionalistik? Well, simply put: itu karena mereka sejak kecil meng-embrace budaya banyak negeri! :mrgreen:

Coba kita kilas balik. Zaman dulu, kakek dan nenek kita harus mengantri untuk bisa nonton gambar idoep. Televisi belum ada. Film yang masuk juga jumlahnya terbatas. Hal yang sama masih berlanjut sampai (barangkali) era Ayah dan Ibu saya. Sekarang? Bukan saja produk Hollywood yang masuk sini, film Jepang, Korea, Taiwan juga ada. πŸ™‚ Belum lagi kalau punya TV kabel atau parabola. Makin lengkaplah pilihannya.

Sementara, zaman sekarang kita punya internet. Saya bisa dapat perkembangan berita di Iran; bisa tahu kabar-kabar terbaru di Jepang. Ingin belajar filsuf Prancis, Jerman, Yunani kuno? Tinggal download e-book. Separah-parahnya toh masih bisa google. Di sini kita lihat: betapa generasi sekarang punya banyak influence dalam membentuk identitas.

Saya tertarik menyebut fenomena ini sebagai culture salad. Dengan merembesnya pengaruh mancanegeri di Indonesia, maka kita jadi makin terbuka. Sekat “nasionalisme” tidak lagi dianggap sakral. Perbedaan kewarganegaraan bukan lagi sesuatu yang “wah”.

Iyalah. Apanya yang “wah” kalau saya bisa main ke blog Bu Mary atau Pak Mingjie sekali langkah. Sama-sama orang biasa, sama-sama blogger. Sama-sama punya keluarga dan kesulitan hidup juga. Lalu saya bertanya: apa bedanya saya dengan mereka? Tidak banyak, sungguh!

 
Saya rasa inilah sebabnya gagasan nasionalisme klasik, yang menjunjung tinggi “mesti Indonesia asli”, mulai kehilangan pamor. Justru sekarang ini zamannya multibudaya dan akulturasi. Komunikasi membuat kita paham bahwa tidak ada yang istimewa amat dari warga negara ini dan itu, budaya ini dan itu.

Kalau saya boleh menilai, negara dan budaya kita di bumi pada dasarnya seperti mosaik. Tak sama tapi serupa. Unik dengan caranya sendiri-sendiri. Sebagaimana dicerminkan generasi saya yang tidak membedakan antara Kotaro Minami, Yo Ko, dan MacGyver, maka begitulah saya memandang dunia.

Saya sendiri kurang tahu bagaimana orang lain, tapi, masa sih cuma saya yang berpikir begitu? :mrgreen:

 

Epilog: “Culture? What Culture?”

 

Jadi, inti dari tulisan ini adalah…

…pertanyaan yang jadi judul di atas. Culture? What culture? πŸ˜† Adakah kultur yang unik di dunia saat ini? Bisakah orang menggolongkan “nasionalisme” berdasarkan kesamaan budaya. Saya rasa, susah! :mrgreen:

Sebagaimana sudah saya uraikan di atas, dunia kita — bukan cuma Indonesia — sekarang sedang memasuki tahap culture salad. Budaya dari macam negeri masuk ke ruang tamu; kita olah dan kita saring. Lalu kita berakulturasi. Perlahan-lahan terbentuk budaya baru yang, kalau boleh disebut, blasteran.

Saya ambil contoh dari tulisan lama saya. Apa yang membuat remaja mesjid tertarik membumbui majalah dinding dengan ilustrasi anime? Kalau dilihat sekilas Jepang dan Islam tidak ada hubungannya, tapi kok jadi begitu? Saya pikir, jawabannya sederhana.

 

akulturasi

 
Dengan mengamati budaya negeri lain, kita mengambil apa yang dirasa bagus, dan mencampurnya dengan milik kita. Dari “bahan dasar” yang berbeda kita meracik culture salad, menghasilkan campuran baru yang unik.

Sama halnya dengan kisah anak-anak zaman internet di atas. Dari budaya yang berbeda, mereka mengambil apa yang dirasa cocok, lalu mengembangkan sintesis. Zaman sekarang tidak aneh jika ada anak yang berlatar keluarga muslim tapi paham Thomas Paine; tidak aneh kalau ada anak yang suka barang-barang Jepang sekaligus The Corrs dan Aerosmith; juga tidak aneh kalau ada yang suka anime sekaligus dengar Led Zeppelin! :mrgreen:

***

Di tulisan kemarin, saya menjelaskan bahwa manusia itu aslinya satu. Dulunya satu, dan sekarang sedang akan menyatu lagi. Waktu itu saya menampilkan Tiger Woods dan Barack Obama sebagai ilustrasi.

 

tiger woodsbarack obama

Dua bapak di atas, biarpun sekilas berkulit hitam, sebenarnya mewarisi genetik banyak ras.
Tiger Woods (kiri): keturunan Thai, Cina, Belanda, Afrika, Indian.
Barack Obama (kanan): keturunan Kenya-Amerika, ibu berdarah Inggris.

 
Sekarang, di akhir tulisan ini, kita sama-sama menyadari: bukan saja ras-ras yang kembali menyatu, budaya pun juga ikut menyatu! 😯 Jika persatuan ras mewujud dalam bentuk anak-anak multiras, maka, di masa kini, persatuan budaya mewujud dalam bentuk culture salad. Perubahan ini digawangi oleh televisi dan internet.

Saya pribadi berpendapat bahwa konstruksi “identitas budaya”, pada akhirnya, akan bernasib sama dengan “identitas ras”. Bakal melebur, hilang batasnya. Menjadi budaya baru yang sifatnya campursari — sebagaimana anak-anak yang multiras menandakan hilangnya batas suku.

Mungkin, hanya mungkin, saat itu kita akhirnya menyadari bahwa manusia “cuma beda di luar saja”. Biar kulitnya berbeda, kewarganegaraannya beda, warisan budayanya beda, tidak ada alasan untuk mengelompokkan manusia. Saya bilang: pergi sajalah jauh-jauh itu “nasionalisme”, “tribalisme”, “rasisme”, dan sebagainya. Karena kita ini sebenarnya sedang saling menyatu: baik secara lokasi, genetik maupun budaya. Lebih baik mencari persamaan daripada perbedaan, kan begitu? πŸ˜€

Akhir kata, saya ingin berpesan: ingatlah bahwa apa yang kita anggap ‘berbeda’ belum tentu aslinya seperti yang diributkan. Sebagaimana sudah dijelaskan, manusia adalah kawanan yang satu. Dulunya satu, kemudian berpencar, dan kini sedang menyatu lagi. Jangan sampai kita justru terjebak dan mengotakkannya secara sembrono. πŸ˜‰

Read Full Post »

Akhirnya balik juga dari hiatus. Yaay.

 

onion

 

Ya, saya tahu, saya melewatkan banyak kejadian penting selama dua bulan terakhir. Sebenarnya semua itu bisa jadi topik yang menarik untuk diblog. Tapi, apa daya — saya sedang tak hendak online (walaupun tanpa direncanakan sebelumnya). Jadi, karena dibuang sayang, biarlah saya rangkum semua itu dalam bentuk kalimat pendek saja.

Dan inilah topik-topik post yang — boleh jadi — akan mewarnai blog ini, seandainya saya tak hiatus…

 
Football
 

Josep Guardiola = Master of Pep Talk (no, really).

Champions League 2009 chant: “SORRY DORRY MAN UNITED. SORRY DORRY MAN UNITED…”

Brasil > Amerika > Italia > Mesir

Miracle on Grass. Do you believe in Miracle? YES!

Real Madrid buang-buang duit di tempat yang salah.

 
Asinine
 

Persyaratan jadi bintang sinetron: (1) berpenampilan menarik, (2) pernah disiksa suami. (I’m looking at you, Manohara)

Demi Garuda di dada, aku menolak stempel 100% Mesir asli!

“Situ pro-rakyat? Kalau iya, lanjutkan. Lebih cepat lebih baik.”

Dan semua orang mendadak bicara UU ITE… (methinks it was meme of yesteryear)

 
Politics and Whatnot
 

Good night, my sista. Marg Bar Dictator!

Fars Fark News > CNN

“Tapi itu tiang pancangnya dipasang di masa jabatan saya!” ~ kata Bu Mega tentang Jembatan Suramadu.

Media massa: Apa itu Neoliberal? Neoliberal adalah… *wharrrrgarbbll*

Nenek moyangku punya Ambalat / Gemar mengarung luas samudra / Menerjang ombak, tiada takut / Menantang badai, sudah biasa~

 
Somewhat Obvious
 

Banyak jendela yang terbuka sepanjang malam di gedung SMA 3 Bandung. (it is said that a ‘Noni Belande’ may appear behind one)

Jalan Ganesa sampai Taman Lalu Lintas (Bandung) bisa ditempuh dengan dua jam jalan kaki, bolak-balik.

Adik saya ternyata nggak ngefans sama CrisRon. (“Pake shortpants gitu? Ihh, enggak banget!”)

Cake Blueberries-nya Amanda Brownies itu enak.

Biasa: tante saya menginap dua minggu di Puncak. Aneh: terdengar suara kursi berderit-derit sepanjang malam. WTF: seorang temannya mendadak terkunci di WC kusam selama 30 menit; pintu terbuka setelah ia memanjatkan doa. [Scary]

 
Personal Interests, Technical Stuffs
 

Apa itu String Theory? String Theory adalah…

Being multirace is (was?) one delicate matter. (Kathleen Tamagawa, Sunny Yamagata)

Banyak orang salah paham tentang Nietzsche. (I’m looking at you, Nietzsche Wannabes and Straw Atheists)

Camus dan Sartre itu serupa tapi tak sama. Ibarat segitiga siku-siku dan samakaki. (*wharrrrgarbl* =_=! )

Hei, ternyata baca textbook psikologi itu asyik. =3

Laughing at Nothing: Humor as a Response to Nihilism, oleh John Marmysz. Buku bagus yang mengupas tentang nihilisme dan (sedikit) eksistensialisme. Rencananya mau saya review tempo hari, tapi, yah sudahlah. Mungkin lain waktu.

*baca ulang daftar*

*kecewa*

Sial, padahal banyak yang bisa jadi postingan bagus. Kelewat dua bulan aja, udah pada basi. (x_x)

*ngomel-ngomel gak jelas*

Tapi ada sisi baiknya. Setidaknya, niat saya untuk mengucapkan SORRY DORRY MAN UNITED di blog ini tercapai…

Read Full Post »

Saya [telah] mencoba layanan microblogging plurk. Sejauh yang saya dengar, plurk merupakan layanan microblogging yang sedang naik daun di seputar blogosp

Saya [rasa] layanan ini cukup menarik, walaupun kenyataannya dia tidak unik. Sejujurnya, saya berpendapat bahwa layanan plurk tak beda jauh dengan twitt

Saya [bilang] sayangnya terdapat satu kelemahan besar dari layanan ini. Pembaca yang sering mengunjungi blog ini harusnya menyadari bahwa tulisan saya um

Saya [bilang] … 😐

Saya [pikir] ini menyebalkan. Lihat, tidak satupun paragraf di atas tertulis sampai selesai. Bahkan setengah kalimat pun terpotong. (nottalking)

Saya [benci] sekali keadaan seperti ini. Saya ini mau menjelaskan keadaan sedetail mungkin! Masa belum selesai ngomong sudah dipotong!? (angry)

Saya [bilang] coba pikir, bagaimana jadinya kalau saya mau liveplurking pertandingan bola.

Saya [bilang] seperti ini: β€œGOL BRILIAN OLEH ANDREI ARSHAVIN!! Dia melewati dua orang pemain Blackburn Rovers! Tembakan melambung dari sudut sempit yang t

Saya [pikir] Anda bisa bayangkan. Masa ide dan kosakata yang mengalir dihambat begitu rupa? (nottalking)

Saya [bilang] ya, walaupun plurk bukan tak ada kelebihannya juga sih. (thinking)

Saya [bilang] setidaknya saya suka kumpulan emoticonnya. Emoticonnya bagus-bagus! (dance) (dance)

Saya [pikir] pada akhirnya ini layanan yang cukup menarik. Hanya saja ada syaratnya: Anda harus bisa merumuskan gagasan Anda dalam bentuk seringkas mung

Saya [bilang] …… (angry)

Saya [bilang] (idiot) (idiot) (angry) (angry)

Saya [telah] memutuskan bahwasanya layanan plurk tidak cocok untuk saya. (u_u)

Saya [merasa] bahwa saya sangat terganggu dengan ketidakmampuan plurk memberikan ruang untuk penjelasan tambahan ini-dan-itu

Saya [bilang] misalnya begini.

Saya [bertanya-tanya] apa jadinya kalau saya menulis: “para fisikawan di LHC telah menemukan jejak partikel boson Higgs!”

Saya [bilang] pembaca pasti bingung. “Boson Higgs itu apa?”

Saya [bilang] tentunya mudah kalau saya menulis di blog, tinggal tambahkan uraian + catatan kaki. Tapi ini kan plurk. (annoyed)

Saya [pikir] ini tantangan besar bagi para pelajar/dosen fisika modern. “Jelaskan apa itu boson Higgs dalam 140 karakter.” (thinking)

Saya [bilang] entah kenapa rasanya seperti pekerjaan dewa. (LOL)

Saya [pikir] oh, sial. Sebenarnya solusinya gampang. (annoyed)

Saya [bilang] http://en.wikipedia.org/wiki/Higgs_boson (idiot) (idiot)

Read Full Post »

Tadi sore, ketika saya sedang menanggapi diskusi di sebuah post yang lagi panas, mas gentole melontarkan ide cemerlang:

Itu katarsis buat dia. Bisa meledak di jalan kalau dikeluarin. Ada ide bikin layanan β€œanger management” untuk para bloger? Anybody?

Saya pikir, ini ide yang brilian! 😯 Jadi, langsung saja saya inkorporasikan ide beliau dalam bentuk tulisan berikut. Silakan dibaca (dan diberi masukan/koreksi jika berkenan). πŸ˜€

Seperti apa?

Read Full Post »

Beberapa di antara pembaca mungkin bertanya, ke mana perginya saya selama dua-tiga minggu terakhir, hingga tak sempat meng-update blog ini, blogwalking, atau menanggapi komentar yang masuk. Saya tak hendak membicarakan penyebab tersebut panjang-lebar di sini. Tetapi, cukuplah jika saya katakan bahwa terdapat beberapa hal — di dunia nyata — yang cukup menyita perhatian untuk diselesaikan.

Well, to tell the truth, it’s personal. Not going to relate it here—so sorry for that. πŸ˜‰

Jadi, untuk pembaca yang menunggu update blog ini selama tiga minggu terakhir (kalau ada), post ini sekaligus berperan sebagai pengumuman. Saya tak yakin kapan akan mulai posting lagi — ada beberapa ide yang sudah jadi draft — tetapi, kapan dirilisnya, akan sangat bergantung pada situasi saya ke depannya.

Saya juga ingin mengingatkan pada pembaca bahwa blog ini bersifat pribadi: di mana saya menulis dengan santai, tanpa kendala, dan tanpa tenggang alias deadline. Beberapa di antara Anda mungkin menunggu kelanjutan post bahasa Jepang, seri QM, atau post baru apapun di blog ini. Bukannya saya tak mau menulis atau memenuhi keinginan Anda. Fact is, saya tidak selalu bisa menulis (dan merilis post) kapanpun saya mau.

Ada kalanya dalam hidup saya merasa butuh istirahat. Dan kalau itu terjadi… saya cuma bisa berharap Anda memaafkan saya atas keterlambatan tersebut. Sebagaimana halnya tempo hari. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. :mrgreen:

***

Anyway, saya tak bisa janji kapan akan mulai menulis lagi di sini. Mengikut kata ahli meteorologi di tipi-tipi™, gempa besar biasanya diikuti oleh gempa susulan yang kecil-kecil. Jadi mari kita lihat apa yang akan terjadi ke depannya… kalau semuanya beres, maka tulisan baru akan muncul dalam beberapa hari ke depan.

Tentunya dengan asumsi saya tidak tewas tertimpa bangunan. Tapi, hei, ini kan cuma analogi. πŸ˜›

’til next time, and thanks for reading.

 

 
——

Ps:

Ada beberapa komentar yang masuk ke blog ini selama masa rehat saya tempo hari. FYI, saya tak akan membalas semuanya; hanya beberapa yang saya anggap penting yang akan saya tanggapi.

 
PPs:

Rupanya WordPress sekarang menyediakan fasilitas nested reply. Saya lebih suka sistem komentar a la message board yang dulu, BTW. 😐

*sambil mematikan fitur ybs*

Read Full Post »

Chatting itu…

Semenjak pertama kali mengenal internet sepuluh tahun yang lalu — saya jadi merasa tua ^^; — ada satu jenis kegiatan, di internet, yang paling jarang saya lakukan. Tentunya zaman segitu kegiatan microblogging dan social networking belum marak, jadi dua itu bisa dikesampingkan dulu[1].

Nah, kegiatan yang jarang saya lakukan itu adalah chatting.

Jadi, sejak zaman mIRC punya cerita, sampai Y!M jadi berita (*halah bahasanya*), saya bisa dibilang orang yang malas chatting. Sebenarnya tidak ada alasan yang khusus amat, sih — saya sendiri bukannya antipati atau apa. Mungkin bisa dibilang selera pribadi saja.

Meskipun begitu, sebaliknya, saya lebih suka berkomunikasi lewat bentuk tulisan panjang (e.g. via e-mail, forum, atau blog). IMO ada semacam keleluasaan tersendiri dalam tiga moda komunikasi tersebut:

  1. Saya bisa menjabarkan ide seluas dan sebaik mungkin tanpa terganggu interupsi
  2. Ini penting, terutama jika Anda sedang berusaha menjelaskan tentang tema yang agak kompleks dan/atau mendalam (misal: teori evolusi atau mekanika kuantum). Tentunya repot jika saya sedang menjelaskan bagian awal, lalu rekan diskusi menanyakan perkara terkait yang sedianya dibahas belakangan. Diskusi pun berpotensi melebar ke mana-mana.

    Jadi, jika Anda menemukan bahwa saya sering berkomentar panjang dan lebar di blog orang (contoh [1], [2]), sebenarnya itu bukan sengaja. Saya hanya sedang berusaha menyampaikan dengan sedetail dan selengkap mungkin. πŸ˜›

    Nah, ini yang sulit diakomodasi oleh media chatting. Jadi, saya pun lebih betah nongkrong di blog atau ikut milis (dulu, sekarang sudah tidak).

  3. Tulisan/komentar yang hendak disampaikan bisa di-proofread, sehingga meminimalkan resiko kesalahpahaman
  4. Saya sering mengalami ini. Ketika hendak merilis komentar atau post di blog, saya melihat bahwa (a) gaya bahasa saya mungkin terlalu kasar, (b) penjelasan saya ada kurangnya, atau (c) ada fallacy yang terkandung di dalamnya. Otomatis, proofreading membantu mendeteksi adanya kesalahan tersebut.

    Sementara, jika sedang chatting, hal ini mustahil dilakukan. Kalau sudah terlanjur salah, ucapan terlalu kasar, atau ada fallacy yang terselip… apa boleh buat. They’ve gone across for good (or bad). 😐

  5. Menjaga Ritme Diskusi
  6. Dalam sepakbola, sebuah tim akan kesulitan jika mudah terbawa tempo permainan lawan. Diskusi (di internet) juga begitu. Anda akan kesulitan melawan troll yang provokatif jika Anda terbawa emosi; demikian juga Anda bisa terintimidasi jika lawan bicara Anda begitu yakin dan menyerang Anda terus-terusan. Jika Anda ingin sukses berhadapan dengan lawan bicara model ini, intinya cuma satu: tetaplah berkepala dingin.

    Tentunya mudah untuk “mendinginkan kepala” jika pertanyaan tersebut dilancarkan di forum, milis, atau blog. Anda bisa beristirahat dulu sambil memikirkan topik. Tetapi, jika debat itu berlangsung di Y!M atau sebangsanya… well, that’ll be hellish. ^^;

    Bagaimanapun, saya bersyukur bahwa diskusi semacam di postingan ini dan ini berlangsung di blog dan bukannya Y!M. Saya selalu punya waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Jawaban bisa dipikir masak-masak, emosi bisa dijaga, dan tanggapan akhir pun lebih memuaskan. πŸ˜›

  7. He? Memangnya kamu chatting dengan tema-tema seperti itu?? 😯
  8. Enggak juga sih. Sebenarnya saya lebih sering chatting yang biasa saja (baca: mendengarkan curhat, ngobrol soal bola, dan lain sebagainya). Tapi ini tidak mengubah preferensi saya: bahwasanya menulis panjang itu lebih asyik daripada chatting. :mrgreen:

    *dilempar sandal*

Jadi, sebenarnya ini masalah preferensi. Terkadang, jika sedang ingin, saya ‘menampakkan diri’ di Y!M. Tetapi, lebih sering daripada tidak, saya justru tidak login ke sana sampai berhari-hari. IM yang masuk pun jadi terabaikan. (untungnya jarang ada yang mengirim) ^^;

Tapi, hei, yang terakhir itu bukan sepenuhnya salah saya. Koneksi GPRS HP saya sering tidak bersahabat, sedemikian hingga saya jarang bisa login dengan sukses. Jadi tentunya ada semacam divine intervention di sini. πŸ˜›

Walaupun tidak banyak bedanya juga sih. Toh saya lebih sering invis…

 

 
——

[1] Dua ini juga termasuk yang tidak saya akrabi. Seperti halnya perkara chatting di atas, sebenarnya bukan karena antipati. Hanya saja, kok saya kurang menemukan asyiknya di mana. ^^;

Read Full Post »

Older Posts »