Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘family’

Satu hal yang menguntungkan jika Anda punya adik perempuan — atau merugikan, tergantung sudut pandang Anda — adalah bahwa Anda tak perlu khawatir tentang niat baiknya memikirkan gebetan sang kakak. Kemungkinan besar, Anda justru mendapat masukan berarti dari sudut pandang sang adik ybs.

Sayangnya, terkadang niat baik tersebut datang tanpa diundang. Lebih sering daripada tidak, hal ini menyebalkan membuat sang kakak jadi sport jantung atau — kalau sedang makan atau minum — mendadak tersedak sambil tergagap, “APAPAPAPA!?!??!”

Ya, kalau adik Anda punya bakat detektif yang aneh hingga nyaris mengerikan, Anda paham maksud saya. Saya sendiri tak pernah bilang siapa persisnya orang yang saya perhatikan, tapi entah bagaimana dia selalu tahu…

*it’s a mystery*

Contoh dialognya kira-kira sebagai berikut. (kejadiannya waktu saya masih SMA)

Dia: Ah, gw tau. Tipe-tipe lo kayaknya anak ekskul X.

Saya: Hmmm… 🙄

Dia: Kayaknya pake jilbab. Enggak pecicilan juga pastinya. 😀

Saya: Enggak tau yaaa… 😆

Saya pikir saya cukup aman sejauh itu. Meskipun begitu, beberapa minggu kemudian…

Dia: Gw TAU siapa yang lo taksir! KETUA EKSKUL X KAN? Ngaku!! 😈

Saya: *kaget*

Saya: Heh, nebak sembarangan. Emang atas dasar apa lo mikir gitu? 😎

Dia: Aheuheuheu… bener kaaaan? yahoo-giggle

Saya: Tanpa bukti, semua itu palsu!! yahoo-silent

Dia: Heuheuheuheuheu… yahoo-giggle yahoo-giggle

Saya: ……

Saya: *menyerah* x(

Jangan tanya saya darimana dia tahu. It’s a mystery. Jeleknya satu sekolah sama saudara sendiri, ya, ini.

Meskipun begitu, ternyata dia cukup baik untuk menyampaikan opininya sebagai berikut.

Dia: Ya, lucu sih. Imut. Anaknya baik, enggak aneh-aneh…

Saya: Ha. Terus?

Dia: Ya gitu dee~ Serius lo mau ama dia?

Saya: Tauk. Belom juga ngapa-ngapain? yahoo-eyebrow

Dia: Ya udah… gw doain. Semoga sukses ya. ^^_cU

Well, OK. Not bad. Setidaknya sudah dapat approval dari dia…

Sayangnya kisah ini belum selesai.

Satu-dua minggu kemudian, dia datang lagi ke saya, dan menyampaikan komplain sebagai berikut.

Dia: Eh, itu si Y kok sekarang jutek sih? Tiap kali gw papasan, bawaannya kusut melulu. :-/

Saya: Mana gw tau. Ada urusan apa, kali…

Dia: Ya, dia kan gebetan lo? Perhatian dong? 😎

Saya: LO KIRA DIA PACAR GW!? 😈

Dia: Kalo sikapnya gitu, gw jadi nggak terima nih. Gimana-gimana, gw sebagai calon ipar… yahoo-silent

Saya: …… *speechless*

BTW, itu bukan cuma satu kali terjadi. Ada juga kasus(-kasus) lain di mana dia menyampaikan saran tanpa diundang. Konsekuensi logis sebenarnya. Tapi ya, itu.

Dan suatu waktu, ketika satu keluarga sedang naik mobil…

Tante: So, dulu kan ada yang bilang “I miss you” sama kamu? Kuliah di mana sekarang? 🙂

(*ini orang yang lain dengan yang ditebak adik saya di atas*)

Saya: *mencoba mengingat-ingat* Di Bandung juga kayaknya. Rasanya di kampus Z…

Tante: Loh? Satu kampus sama adikmu, dong? 😕

*siiiiiiiiiing*

Adik saya: OOOOOH, kakak yang itu… Si N, bukan? 😀 Iya tuh tante, dia orangnya rada…

Mengenai bagaimana berisiknya isi mobil sesudah itu, tak hendak saya jelaskan di sini. Biarlah saya serahkan pada imajinasi pembaca saja. >__>

 

 

——

Catatan:

Semua dialog di atas adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi. Jujur. (=_=)_v

Read Full Post »

Dialog berikut terjadi di depan TV yang sedang menampilkan iklan, suatu hari di tahun 2008.

 

Blogger berinisial S: “Itu orang aneh amat.”

Adiknya yang lebih gaul: “Kenapa?”

Blogger S: “Masa dia makan stroberi pakai kecap.”

Blogger S: “Memangnya enak, gitu?”

Adik gaul: “ITU MAH COKLAT STROBERIIIIII~!!”

 
Didengar dengan lapang dada oleh si blogger yang belum pernah makan makanan ybs.

 

(format penulisan terinspirasi dari sini)

Read Full Post »