Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘nostalgia’

Kalau boleh jujur, saya bisa dibilang orang yang suka main game lawas. Mulai dari yang old skool punya sampai yang rada modern (baca: generasi 2000-an), asalkan gameplay-nya bagus, biasanya saya suka. 😛

Nah, salah satu game yang sedang saya mainkan saat ini adalah Civilization III. Game buatan Infogrames ini pertama kali saya mainkan ketika masih SMA.

 

civ 3 - title screen

 

Judul: Sid Meier’s Civilization III
Genre: Turn-based strategy
Produksi: Infogrames Interactive
Tahun: 2001

 
Dalam game ini, kita diceritakan sebagai pendiri — sekaligus pemimpin — sebuah peradaban. Seluruh perdagangan, diplomasi, dan kemajuan negara menjadi tanggung jawab kita. Selama 5000 tahun kita harus berkompetisi dengan peradaban lain di muka bumi.

 

civ 3 - choose leader
 

Berbeda dengan game-game strategi sezamannya, Civilization III (selanjutnya disebut Civ 3) tidak memakai tampilan grafis 3D. Keseluruhan gameplay-nya berlangsung di atas map 2D isometrik, dengan sprite yang juga 2D.

 

civ 3 - map

 

Saya sendiri lebih suka pendekatan model ini daripada 3D di Civilization IV. Menurut saya penggunaan 3D di game strategi itu buang-buang resource saja — banyak hal yang lebih penting lah daripada visual. Memangnya kita Windows Vista? Tapi itu pendapat pribadi sih. 😛

 
The Epic Journey

 
Kalau boleh jujur, aspek yang paling saya suka di Civ 3 adalah perhatiannya tentang what makes great civilizations. Mulai dari penguasaan teknologi, diplomasi, perdagangan, hingga perang dan overpopulation, semua menjadi bagian dari gameplay.

Lebih lagi bukan saja interaksi antarperadaban yang penting; manajemen negara juga berperan besar. Game ini — tanpa ampun — menambahkan konsep-konsep ruwet seperti korupsi, penduduk imigran, kota jajahan, dan citizen contentment. Apabila kita tidak mengatur negara dengan baik, maka masyarakat berpotensi melakukan riot. Atau, lebih buruk lagi, memilih bergabung ke negeri tetangga karena merasa tidak diurus.

Beuh… xP

 

civ 3 - city management
 

Setelah sukses mengatur negara, maka pemain harus berurusan dengan diplomasi. Termasuk di dalam menu diplomasi adalah perdagangan, perjanjian damai, dan — kalau sudah masuk era modern — embargo dan pakta militer.

 

civ 3 - diplo screen
 

Kadang-kadang tindakan kita dalam permainan bisa berujung pada turunnya reputasi di kancah diplomatik. Sebagai gambaran, apabila saya menggunakan bom atom sembarangan, maka pemimpin negara lain akan kecewa dan memandang rendah. Persetujuan pun jadi sulit dicapai. 😕

 
Technological Advancements and Beyond

 
Sisi lain yang ditawarkan Civ 3 adalah technology tree. Sebagaimana galibnya di dunia nyata, negara bisa berkembang jika penguasaan teknologinya mumpuni. Sebagai pemimpin negara kita menentukan ke arah mana riset berlangsung — apakah ke arah praktis, mercusuar, atau militer? Kebijaksanaan Anda menentukan nasib negara. 😈
 

civ 3 - tech tree

Tech-tree di Civ 3 (klik untuk ukuran besar @ CivFanatics.com)

 
Sebagai contoh, untuk membangun rumah sakit kita membutuhkan teknologi Sanitation. Untuk membangun pasukan kavaleri kita perlu teknologi Gunpowder dan Military Tradition. Adapun untuk memberdayakan ekonomi lewat pasar dan bank, kita harus mempelajari Economics dan Currency; dan lain sebagainya.

Teknologi yang tepat juga bisa membantu kita menemukan bentuk pemerintahan yang lebih efisien. Pertama kali main kita diberi bentuk pemerintahan Despotisme; pemerintahan yang buruk dan banyak korupsi. Meskipun begitu, semakin jauh bermain, kita akan mempelajari bentuk yang lebih sophisticated seperti Republik, Monarki, dan Demokrasi. 😀

 
Victory Conditions
 

Sebuah game Civ 3 berakhir jika pemain — atau AI — memenuhi salah satu dari 6 (enam) syarat, yakni:

  1. Conquest — sebuah negara berhasil menaklukkan seluruh lawan secara militer
  2. Domination — sebuah negara menguasai 2/3 tanah di muka bumi
  3. Cultural — sebuah negara memiliki kebudayaan yang superior (ditentukan lewat culture point)
  4. Space Race — sebuah negara berhasil meluncurkan roket pertama ke luar angkasa
  5. Diplomatic Win — apabila kepala negara terpilih menjadi Sekretaris Jendral PBB
  6. Histograph — alias time-out pada tahun 2050, apabila belum ada pemenang

Dengan berbagai kondisi tersebut, game ini jadi bersifat amat terbuka. Negara yang kuat secara militer atau dagang belum tentu keluar sebagai pemenang. Bisa saja ada negara kecil tak berguna yang “menyalip” lewat jalur Space Race atau Diplomatic Win.

 
End Notes and Verdict

 
Game yang sangat kompleks, dengan bumbu politik di sana-sini. Apabila Anda suka berkhayal tentang perjalanan peradaban kuno, ada kemungkinan Anda akan tertarik. Saya tidak yakin apakah penggemar RTS akan suka, tapi setidaknya buat saya ini game yang bagus. ^^

To be noted, though: ini game yang luar biasa kompleks. Saya sendiri harus berulangkali main ke forum terkait untuk mempelajari tips-dan-triknya (ini game pertama yang membuat saya sampai segitunya). But, like people say… selalu ada saat pertama kali lah. 😉

  • Visual: 8/10
  • Music: 8/10
  • Gameplay: 10/10
  • Replayability: 10/10
  •  

  • Personal Rating: 9/10

 

 

——

Ps:

Ya, ya, saya akui bahwa tulisan saya tempo hari terinspirasi oleh game ini. 😈

Read Full Post »

Wikipedia entries to read while you watch somebody finish stage 1 in Prehistorik 2

 

 

  • When Olympus did a miserable flying kick to Superstar Ho-Sung Pak, he flew out of ring instead [WMAC Masters]
  • Some people like to do tri- penta- umpteenathlon in front of camera [American Gladiators]
  • J.D. Roth defined ‘fun’ for a generation of schoolkids [Fun House]
  • Whatever will happen today, ask Gary Hobson [Early Edition]
  • A boy got shunted to a terrific parallel world [Spellbinder]
  • Kwai-Chang Caine’s legacy continues in NY [Kung Fu TLC]
  • Sam Beckett alters history… [Quantum Leap]
  • …while Phineas Bogg and Jeffrey follow suit [Voyagers!]
  • The most kickass use of (gothic) letter ‘L’ in TV history [Poltergeist: The Legacy]
  • And I thought college would be all fun [USA High]

 
And yet, there is also eastern hemisphere influence as well.
 

 

Now where have those innocent times gone again? 😐

 

Note:

No, I don’t count too-famous ones like ‘vigilante black helicopter shooting missiles’ or ‘a blond man who can pwn you with everyday things’.

Read Full Post »

Pembaca, adakah di antara Anda yang ingat pada screenshot di bawah ini?

 

The Opening Screen

Spellbinder OP screen


 

Saya adalah orang yang suka bernostalgia. Maka, ketika tempo hari saya menemukan bahwa seluruh episode serial ini sudah di-upload ke YouTube, saya benar-benar merasa gembira. Ya, akhirnya — saya bisa nonton Spellbinder lagi setelah belasan tahun!! 😆

Yup, Spellbinder. Film yang sering saya tonton waktu SD ini dulunya diputar di ANTV setiap hari Sabtu pukul empat sore. Saya sendiri menilai bahwa serial ini adalah salah satu yang paling membuat ‘ketagihan’ yang pernah saya tonton. Jalan cerita unik dan suspense yang kuat, membuat saya mempertimbangkannya sebagai all-time favorite… walaupun sudah dua belas tahun berlalu sejak saya pertama kali menontonnya. ^^

***

Kisah dalam serial ini bermula ketika Paul Reynolds, seorang siswa SMA, terlempar ke dunia paralel ketika sedang camping bersama teman-temannya. Peristiwa ini disebabkan oleh keisengannya sendiri: upayanya untuk mempermainkan temannya, Katrina, berujung pada terbukanya gerbang menuju dunia seberang; membuatnya terlempar dan terpaksa tinggal di dunia tersebut selama beberapa waktu.

 

Paul, beginning

The Beginning

 
Situasi mulai rumit ketika Paul menyadari bahwa ia terdampar di dunia yang aneh. Di dunia tersebut, masyarakatnya cenderung agraris dan tertinggal di bidang teknologi. Meskipun demikian, di sisi lain terdapat sekelompok penguasa bernama Spellbinder — mereka adalah sekelompok elite yang disembah oleh rakyat jelata, sekaligus sebagai satu-satunya penguasa teknologi modern di dunia tersebut. Adalah hal yang mengherankan bahwa para Spellbinder memiliki sistem telekomunikasi dan penerbangan ketika, di sisi lain, rakyat kelas bawah justru hidup dengan keterbelakangan.

Konflik dimulai ketika upaya Paul untuk kembali ke dunianya berbenturan dengan keinginan (dan kepentingan) para Spellbinder. Tidak bisa tidak, ia harus berhadapan dengan birokrasi a la dunia medieval — beserta intrik-intrik yang melingkupinya — demi mendapatkan jalan pulang ke dunia tempatnya berasal…

 

The Regent Council

The Regent Council

***

Dirilis tahun 1995, serial ini merupakan produk kerjasama dua negara, yakni Australia dan Polandia. Oleh karena itu, walaupun ceritanya sendiri dikatakan berlangsung di Australia, Anda akan menemukan bahwa beberapa aktor/aktris yang terlibat memiliki nama dan aksen Polandia. Anehnya, seolah terdapat pola bahwa kebanyakan dari mereka berperan sebagai karakter di dunia paralel. ^^;; Boleh jadi hal ini disengaja untuk memberi kesan ‘asing’, terutama bila dibandingkan dengan dunia asal Paul — yang notabene adalah Australia di tahun 1995.

 

Paul & Riana

Paul & Riana


 

Serial ini mempunyai kekuatan utama di bagian plot, di mana setiap episode (pada umumnya) diakhiri dengan cliffhanger. Perang kepentingan antara para Spellbinder di istana, disertai dengan upaya mereka mempelajari teknologi MacGyvering yang dimiliki oleh Paul, sukses membuat saya bertahan menonton serial ini.

Di samping itu, seberapa seringnya sih Anda melihat bangsa kerajaan-antik yang dulunya maju, lalu mengalami nuclear annihilation, lantas kemudian mensakralkan teknologi kuno tersebut? :mrgreen: Bahkan ada pesawat tenaga koil dan power suit peninggalan nenek moyang. W00t! 😯

 

The Spellbinder Aircraft

The Spellbinder Aircraft


 

Tak pelak lagi, serial ini sukses menarik perhatian saya. Serial ini mempunyai orisinalitas yang jarang dimiliki produk zaman sekarang: bagi saya, dunia Spellbinder — dengan teknologi, tingkah laku, dan organisasi mereka yang ‘ajaib’ — adalah cerminan dunia antah-berantah yang menghibur. Para karakternya sendiri bisa dibilang cukup memorable. Untuk karakter-karakter yang mengatur jalannya cerita seperti Paul, Riana, Ashka, maupun Correon, bolehlah saya beri acungan jempol untuk ciri khasnya masing-masing. well, saya harus mengakui bahwa saya memandang tinggi karakter Paul yang ganteng, punya survival skills, sekaligus jago fisika…

***

Singkatnya, saya sukses bernostalgia dengan serial yang dulunya pernah saya tonton dengan rajin ini. Saya ingat bahwa dulu saya rutin menonton serial ini, kemudian penayangannya sempat berhenti sementara waktu. Meskipun begitu, akhirnya serial ini kembali mengudara di ANTV setelahnya. Berapa lama menghilangnya, entahlah. Yang jelas saya kemudian sempat menonton episode terakhirnya.

Kalau dipikir-pikir, waktu itu saya kelas 4 SD. Jadi, sudah genap dua belas tahun sejak saya pertama kali menontonnya. ^^

Dua belas tahun. Lama juga. 😕

Mendadak, saya kok jadi merasa tua… ^^;

*batuk-batuk* x(

Read Full Post »


Catatan:

Mohon maaf buat para fakir benwit. m_(_ _)_m

 

Akhirnya saya bisa juga mendapat akses kencang ke YouTube, setelah biasanya harus tergantung pada koneksi GPRS via HP dan internet kampus yang broadband-tapi-banyak-blockingnya. ^^ Dan yang saya lakukan adalah…

…mengenang kembali masa kejayaan Dennis Bergkamp. 😀 Mantan pemain Arsenal ini adalah satu — diantara tiga — pemain yang membuat saya jatuh hati pada Arsenal tahun 1998, bersama dengan Marc Overmars dan Tony Adams.

Seperti apa aksinya, silakan ditonton di bawah ini. ^^

 

 

Dan, sebagai bonus: sebuah assist kelas dunia ketika berhadapan dengan Juventus di Liga Champions 2001/2002.

 

 

Bagusnya, beliau sudah pensiun dari timnas Belanda saat ini. Seandainya belum? Boleh jadi penampilan Oranje bakal lebih ganas lagi di Euro 2008. 😛

 
Indeed, one of the best second-strikers the world has ever seen. 🙂

Read Full Post »