Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Curhat’ Category

“Surely it is more interesting to argue about what the truth is, than about what some particular thinker, however great, did or did not think.”

~ David Deutsch

 
Kalau boleh jujur, saya sering dongkol setiap ketemu orang — baik di dunia nyata maupun internet — yang setiap kali berbicara membubuhkan atribusi. Maksudnya sedikit-sedikit main quote, begitu, sehingga idenya jadi terkesan ‘wah’. Contoh untuk ini pernah dijelaskan oleh xaliber di posting lawasnya:

Si A: Saya rasa, untuk menyatukan rakyat kita membutuhkan pemimpin yang keras.

Si B: Oh, tentu! Saya juga setuju. Tapi asal tahu saja, teori seperti itu namanya integrasi berdasarkan konflik. Masyarakat bisa terintegrasi karena adanya coercion dari penguasa dan menentukan musuh bersama; teori ini sempat diutarakan oleh Dr. Nasikun pada bukunya yang berjudul Sistem Sosial Indonesiaโ€ฆ

Barangkali karena saya pribadi kurang suka gaya bahasa berbelit bumbu jargon, makanya jadi begitu. Seperti yang dibilang Pak Deutsch di atas: yang lebih penting itu idenya, bukan orangnya. Kan begitu? ๐Ÿ˜›

Yaa, bukannya saya anti kutipan, sih. Sah-sah saja buat menyampaikan poin, tapi mbok ya jangan berlebihan kalau lagi diskusi. Masa dikit-dikit kutip Plato, Machiavelli, Nietzsche, dkk., dllsb. ๐Ÿ˜ Ilmu itu yang penting komunikasi bung, bukan jualan nama!

On related note, sebenarnya tulisan yang kemarin juga bisa dibumbui quote berbagai ilmuwan terkenal: Dawkins, Huxley, Darwin, dst. Pertanyaannya, buat apa? Saya pikir pembaca juga lebih suka lah kalau disampaikan sederhana begitu saja. So there. ๐Ÿ˜†

 

Ps:

Sekadar postingan curhat, jangan terlalu dipikirkan. ๐Ÿ˜›

Read Full Post »

Satu hal yang menguntungkan jika Anda punya adik perempuan — atau merugikan, tergantung sudut pandang Anda — adalah bahwa Anda tak perlu khawatir tentang niat baiknya memikirkan gebetan sang kakak. Kemungkinan besar, Anda justru mendapat masukan berarti dari sudut pandang sang adik ybs.

Sayangnya, terkadang niat baik tersebut datang tanpa diundang. Lebih sering daripada tidak, hal ini menyebalkan membuat sang kakak jadi sport jantung atau — kalau sedang makan atau minum — mendadak tersedak sambil tergagap, “APAPAPAPA!?!??!”

Ya, kalau adik Anda punya bakat detektif yang aneh hingga nyaris mengerikan, Anda paham maksud saya. Saya sendiri tak pernah bilang siapa persisnya orang yang saya perhatikan, tapi entah bagaimana dia selalu tahu…

*it’s a mystery*

Contoh dialognya kira-kira sebagai berikut. (kejadiannya waktu saya masih SMA)

Dia: Ah, gw tau. Tipe-tipe lo kayaknya anak ekskul X.

Saya: Hmmm… ๐Ÿ™„

Dia: Kayaknya pake jilbab. Enggak pecicilan juga pastinya. ๐Ÿ˜€

Saya: Enggak tau yaaa… ๐Ÿ˜†

Saya pikir saya cukup aman sejauh itu. Meskipun begitu, beberapa minggu kemudian…

Dia: Gw TAU siapa yang lo taksir! KETUA EKSKUL X KAN? Ngaku!! ๐Ÿ˜ˆ

Saya: *kaget*

Saya: Heh, nebak sembarangan. Emang atas dasar apa lo mikir gitu? ๐Ÿ˜Ž

Dia: Aheuheuheu… bener kaaaan? yahoo-giggle

Saya: Tanpa bukti, semua itu palsu!! yahoo-silent

Dia: Heuheuheuheuheu… yahoo-giggle yahoo-giggle

Saya: ……

Saya: *menyerah* x(

Jangan tanya saya darimana dia tahu. It’s a mystery. Jeleknya satu sekolah sama saudara sendiri, ya, ini.

Meskipun begitu, ternyata dia cukup baik untuk menyampaikan opininya sebagai berikut.

Dia: Ya, lucu sih. Imut. Anaknya baik, enggak aneh-aneh…

Saya: Ha. Terus?

Dia: Ya gitu dee~ Serius lo mau ama dia?

Saya: Tauk. Belom juga ngapa-ngapain? yahoo-eyebrow

Dia: Ya udah… gw doain. Semoga sukses ya. ^^_cU

Well, OK. Not bad. Setidaknya sudah dapat approval dari dia…

Sayangnya kisah ini belum selesai.

Satu-dua minggu kemudian, dia datang lagi ke saya, dan menyampaikan komplain sebagai berikut.

Dia: Eh, itu si Y kok sekarang jutek sih? Tiap kali gw papasan, bawaannya kusut melulu. :-/

Saya: Mana gw tau. Ada urusan apa, kali…

Dia: Ya, dia kan gebetan lo? Perhatian dong? ๐Ÿ˜Ž

Saya: LO KIRA DIA PACAR GW!? ๐Ÿ˜ˆ

Dia: Kalo sikapnya gitu, gw jadi nggak terima nih. Gimana-gimana, gw sebagai calon ipar… yahoo-silent

Saya: …… *speechless*

BTW, itu bukan cuma satu kali terjadi. Ada juga kasus(-kasus) lain di mana dia menyampaikan saran tanpa diundang. Konsekuensi logis sebenarnya. Tapi ya, itu.

Dan suatu waktu, ketika satu keluarga sedang naik mobil…

Tante: So, dulu kan ada yang bilang “I miss you” sama kamu? Kuliah di mana sekarang? ๐Ÿ™‚

(*ini orang yang lain dengan yang ditebak adik saya di atas*)

Saya: *mencoba mengingat-ingat* Di Bandung juga kayaknya. Rasanya di kampus Z…

Tante: Loh? Satu kampus sama adikmu, dong? ๐Ÿ˜•

*siiiiiiiiiing*

Adik saya: OOOOOH, kakak yang itu… Si N, bukan? ๐Ÿ˜€ Iya tuh tante, dia orangnya rada…

Mengenai bagaimana berisiknya isi mobil sesudah itu, tak hendak saya jelaskan di sini. Biarlah saya serahkan pada imajinasi pembaca saja. >__>

 

 

——

Catatan:

Semua dialog di atas adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi. Jujur. (=_=)_v

Read Full Post »

Suatu ketika, Bapak Richard Feynman, seorang fisikawan peraih Nobel, diundang hadir dalam konferensi interdisiplin. Layaknya konferensi interdisiplin, yang hadir di sana adalah para tokoh dari berbagai bidang — di antaranya teologi, filsafat, etika, dan sosiologi.

Nah, beliau diundang sebagai wakil kalangan ilmuwan.

Meskipun begitu, tak berapa lama, Pak Feynman menemukan suatu masalah. Dia tidak mengerti pembicaraan orang-orang di konferensi tersebut! ๐Ÿ˜ฎ

Tentunya ini aneh. Apa mungkin beliau, yang dosen fisika sekaligus ilmuwan terkenal, tidak paham topik konferensi interdisiplin? “Pasti ada yang salah dengan pendekatan saya,” demikian pikir beliau.

Menyadari hal ini, beliau pun berintrospeksi. Sebagaimana diceritakan dalam autobiografinya,[1]

Aku mulai membaca makalah sial itu, dan mataku hampir copot; aku tidak paham sedikit pun! Kupikir itu karena aku belum membaca buku-buku dalam daftar. Aku punya perasaan tak nyaman bahwa aku “tak mampu”. Akhirnya, aku bilang pada diriku sendiri, “Coba aku berhenti di satu bagian, dan kubaca satu kalimat lambat-lambat, supaya aku bisa menggali apa sih artinya.”

Jadi, aku berhenti secara acak—dan membaca kalimat berikutnya dengan hati-hati. Aku tak tahu persisnya tentang apa, tapi kalimat itu kira-kira begini: “Seorang individu dalam suatu komunitas sering menerima informasinya melalui saluran simbolik-visual.”

Aku bolak-balik memikirkannya, dan menerjemahkannya. Tahu apa maksudnya?

“Orang membaca”.

***

Kalau boleh jujur, saya sering bingung tiap kali membaca tulisan — atau ngobrol dengan — orang-orang yang berlatar belakang filsafat. Masalah utamanya satu: mereka cenderung terpaku pada gaya bahasa teknis dan khas-filsafat. Mbulet. Atau, dengan kata lain, begitu rumitnya hingga sulit dimengerti oleh pembaca/pendengar pada umumnya.

Ya, tidak semuanya sih. Setidaknya saya rada nyambung dengan tulisan-tulisan bertema filsafat di blognya mas Fertob dan mas gentole. Mungkin kembali pada bagaimana si penulis bisa menjelaskan idenya. Meskipun begitu, tetap saja yang satu ini sering terjadi: orang berbicara filsafat, saya mendengarkan, dan wuss… mendadak semua jadi kabur.

Saya pernah membaca kumpulan esai Goenawan Mohamad, dan saya jadi bertanya-tanya: apa artinya “poststrukturalisme Adorno” dan “feminisme Kristeva”. Saya tak tahu siapa itu Bertold Brecht, tapi tetap saja beliau menulis panjang-lebar tentangnya. Saya pernah nyasar ke forum internet tentang filsafat — ada bahasan tentang “dekonstruksi Derrida” dan sebagainya — tapi, apa itu “dekonstruksi Derrida”, tidak ada yang menjelaskan. No, nein, nai!

Jalan keluarnya? Sudah tentu bertanya ke wikipedia atau mbah gugel. Mau bagaimana lagi? (-_-)

***

Jadi, sejak itu, saya belajar satu hal. Orang-orang filsafat itu suka sekali memakai istilah teknis dan aneh, yang belum tentu audiensnya paham. Seperti halnya contoh brilian yang disampaikan Pak Feynman di atas: ide sederhana seperti “orang membaca” pun bisa ditulis muter-muter hingga terdengar ajaib!

 

Kultur dan Penerimaan
 

Kemudian saya berpikir, mungkin kultur kita juga turut menyuburkan kebiasaan buruk ini. Orang-orang filsafat itu mungkin terlalu mendapat sanjungan yang berlebihan.

Kalau orang filsafat menyitir Derrida, Heidegger, dan Wittgenstein, orang yang tidak paham memandangnya: “Wah, hebat. Dia paham filsafat. Orang pintar, ini!”

Sementara, kalau orang fisika menyebut “radiasi Hawking” atau “Anomali Efek Zeeman”, orang yang tidak paham memandangnya: “Dia pintar sih, tapi nerd banget. Omongannya fisika tinggi terus.”

Bisa Anda lihat bedanya. Kalau bisa ngomong “Dekonstruksi Derrida”, keren; kalau mengerti “Anomali Efek Zeeman”, nerd. Padahal keduanya sama-sama topik yang obscure dan advanced. Kenapa pula ditanggapi secara berbeda?

 
Speaking of which, ini mengingatkan saya pada sepak-terjang para ilmuwan dalam beberapa dekade terakhir. Menyadari bahwa masyarakat kesulitan mencerna penelitian mutakhir, mereka pun aktif memperkenalkan diri lewat sains populer. Mulai dari Stephen Hawking, Carl Sagan, hingga Richard Dawkins. Mereka ingin pekerjaan mereka bisa dimengerti dan dinikmati orang banyak. So there goes.

Di sisi lain, kalangan filsafat terkesan cuek pada fenomena ini. Alih-alih mencoba memperkenalkan filsafat dengan cara yang lebih akrab, mereka lebih sering menjelaskan begini-dan-begitu versi mereka. Atau mungkin merasa kurang perlu mempopulerkan gagasan mereka. Or something like that.

Singkatnya, ada yang kurang cocok di sini. Filsafat kini terkesan lebih menara gading dibandingkan sains — dalam artian lebih bisa dipandang tinggi, dan dihargai, tanpa harus dimengerti. Lebih mudah mensituasikan pakar MIPA sebagai nerd dibandingkan pakar filsafat sebagai nerd.

Padahal, kalau saya boleh menganalogikan,

Orang yang menjelaskan eksistensialisme — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyitir Nietzsche, Camus, dan Sartre,

KURANG LEBIH SAMA DENGAN

Orang yang menjelaskan Mekanika Kuantum — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyebut Efek Casimir dan Percobaan Ashfar.

Mereka sama-sama menjelaskan suatu gagasan, tapi tidak melakukannya dengan baik. Enggak bakal nyambung.

 

Jadi?
 

Ada sebuah kutipan bijak dari dosen saya, yang disampaikan waktu saya masih duduk di tingkat dua. Bunyinya kira-kira sebagai berikut:

Ada dua cara membuat orang kagum pada Anda.

Pertama: jelaskan suatu topik sampai dia mengerti,

Kedua: jelaskan suatu topik sampai dia tidak mengerti.

Mengenai maknanya… hmm, saya rasa tak perlu dijelaskan lagi. Silakan dihayati sedalam-dalamnya. :mrgreen: *halah*

 

Sebuah Catatan Akhir!
 

Di awal tadi, saya bercerita tentang pengalaman Pak Richard Feynman. Kisah itu belum selesai — masih ada lanjutannya berikut ini.[2]

Pada hari kedua, ahli steno itu mendatangiku dan bilang, “Apa pekerjaan Bapak? Pasti bukan dosen.”

“Lho, saya dosen.”

“Dosen apa?”

“Fisika-IPA.”

“Oh! Pasti itu sebabnya,” katanya.

“Sebab apa?”

Dia bilang, “Begini, saya kan tukang steno, dan saya mengetik semua yang dikatakan di sini. Nah, kalau orang lain yang bicara, aku ketik apa yang mereka katakan, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bilang. Tapi, kalau Bapak yang berdiri dan bertanya, atau mengatakan sesuatu, saya mengerti apa maksud Bapak—apa yang ditanyakan, dan apa yang dikatakan—jadi, saya pikir, Bapak tidak mungkin dosen!”

Well, there you have it. So… meh. ๐Ÿ˜†

 

——

Referensi:

 
[1] Feynman, R.P. 2003. terj. Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika. Bandung: Penerbit Mizan, hlm 313 (dengan perubahan seperlunya)

[2] ibid.

Read Full Post »

Rasanya sekarang saya bisa membayangkan, bagaimana perasaan tiga orang manajer tim Liga Utama Inggris di setiap akhir musim.

Tetapi, lebih dari itu: yang satu ini benar-benar tragis. Saya tahu ini biasa, tapi tetap saja… =_=!

 

fm-2007

 

SIALAAAAAAAANN…!!!!

 

onion

 
Perjuangan hingga detik terakhir. Derby dan Southend sebenarnya tumbang di tangan Liverpool dan Chelsea di pekan 38… tapi ternyata tim saya justru terbantai 1-5 oleh Manchester City. Apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Dua musim di EPL pun berakhir dengan penurunan paksa™.

AAAAARRRRRGGGGHHHH!!!!!! plurk-angry

***

 
Tentu, seperti biasa, selalu ada kebijaksanaan yang bisa diambil dari dunia FM. Dan kebijaksanaan kali ini adalah…

Jangan bekerja dengan para pemain yang nervous wreck menjelang pertandingan penting. Terutama yang bernama Jason Koumas, Nathan Ellington, dan Luke Steele.

SELALU UTAMAKAN orang-orang yang berhati teguh untuk tugas besar…

…dan langsung tendang kiper cadangan bodoh yang bikin perpecahan di minggu ke-37, ketika seluruh tim harusnya berkonsentrasi ke pertandingan. Fuck it.

***

On a side note, setidaknya saya punya penghiburan. Ternyata skill manajemen saya dihargai cukup tinggi di dunia FM. Nggak tahu seberapa akuratnya, tapi sempat bikin GR juga sih. ^^;

stats

GK Coaching – 14
Attacking – 17
Defending – 15
Fitness – 15
Mental – 20
Technical – 19
Tactical – 20
Man Management – 17

Working With Youngster – 10

Which makes me wonder. Kalau memang stats saya sebagus itu, kok ya tim saya terdegradasi… ๐Ÿ˜•

Jadi penasaran. Kira-kira, apa jadinya kalau saya melatih Inter, ya? ๐Ÿ˜ˆ

Read Full Post »

Doh…

Ternyata sudah sebelas hari sejak tulisan paling akhir dirilis di blog ini. Adapun post yang harusnya dirilis hari ini baru seperempat jadi… meskipun begitu, bukan itu yang hendak kita bahas kali ini.

Jadi, ceritanya, dalam seminggu terakhir energi saya terkuras untuk macam-macam hal.

Hei, jangan meremehkan. ๐Ÿ˜ Walaupun saya ini cuma mahasiswa biasa berumur dua dasawarsa yang pacar pun tak punya, saya tidak sekurangkerjaan itu hingga cuma bisa menulis di blog saja. Saya yakin Anda paham bahwa saya orang yang berjiwa produktif. ๐Ÿ˜

*dilempar sandal*

*plaakkk* x(

Ahem. (u_u)

Kembali ke topik. Sebagaimana disinggung sebelumnya, ada beberapa kesibukan yang mewarnai hari-hari saya belakangan ini hingga membuat blog yang Anda baca ini terbengkalai, bahkan postingan QM pun terlupakan. Adapun beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kuliah, PR, dan UTS
  2. Apa itu? Ah, sori. Anggap saja nomor #1 di atas tidak ada. ๐Ÿ˜›

     

  3. Diskusi yang melelahkan di internet soal medan elektromagnet
  4. Actually, I don’t want to talk about it.

     

  5. Kena flu
  6. Mungkin kedengarannya sepele, tapi begitulah adanya. Sejak kembali dari liburan saya terus-menerus diserang pilek. Bahkan tadi malam saya mendapat bonus berupa batuk berkepanjangan. Mungkin karena di Bandung sedang musim hujan. ๐Ÿ˜

     

  7. Nonton anime 25 episode
  8. I.e. Code Geass season 2. Mungkin kapan-kapan saya tulis reviewnya.

     

  9. Baca Tetralogi Buru
  10. Baru selesai 3-4 hari yang lalu. Buku #2 selesai dibaca waktu libur; buku #1, #3, #4 dibaca setelah masuk kuliah. Bacaan yang sarat dan berisi, IMHO. ^^

     

  11. Melanjutkan tulisan QM bagian #4
  12. Yang ini baru seperempat jadi. Tahukah Anda, bahwa para fisikawan kuantum sebenarnya memiliki background filsafatnya sendiri-sendiri?
     
    Heisenberg mengusung idealisme, Bohr seorang positivis, dan Einstein mengedepankan realisme saintifik. Sebenarnya ini topik yang menarik, tapi apa daya kesehatan saya sedang terganggu. Salahkan flu yang hinggap tanpa permisi di atas. (-_-)

***

Yah, begitulah.

Jadi, dengan mata berkunang-kunang dan sedikit batuk (pileknya sudah pergi), saya menuliskan postingan ini. Mudah-mudahan saya bisa cukup sehat lagi dalam waktu dekat.

*sniff*

BTW, jangan-jangan saya jadi rada emosional belakangan ini gara-gara sakit. Tapi masa sih. ๐Ÿ˜†

 

*kembali ke draft*

*kok masih panjang banget ya* x(

*pergi makan*

Read Full Post »

Saya merasa hati saya disobek-sobek ketika membaca dalil-dalil fisika dipakai untuk mengapologikan keyakinan agama…

…dengan tidak semestinya.

Orang-orang awam mungkin akan senang dan merasa makin kukuh imannya. Tetapi, jika Anda paham dengan apa yang dibicarakan, melewati technobabble yang digunakan, maka pilihan Anda cuma dua: kecewa sekali atau marah sekali.

Dan saya mengalami yang pertama.

(ditulis setelah membaca “Pusaran Energi Ka’bah” karya Agus Mustofa)

 

Kutipan dan Tanggapan:

 

Disisi lain, ternyata jutaan orang yang berthawaf mengelilingi Ka’bah juga menghasilkan energi yang besar. Dari mana asalnya? Di dalam ilmu Fisika kita mengenal suatu kaidah yang disebut Kaidah Tangan Kanan.

Kaidah Tangan Kanan mengatakan: “Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan elektromagnetik yang mengarah ke atas.”

Hal ini, dalam Kaidah Tangan Kanan, digambarkan dengan sebuah tangan yang menggenggam empat jari, dengan ibu jari yang tegak ke arah atas. Empat jari yang menggenggam itu itu digambarkan sebagai arah putaran arus listrik, sedangkan ibu jari itu digambarkan sebagai arah medan elektromagnetik.

Kaidah tangan kanan ini telah memberi kemudahan kepada kita dalam memahami misteri Ka’bah. ‘Kebetulan’, orang berthawaf mengelilingi Ka’bah berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Atau dalam kaidah itu mengikuti putaran empat jari tergenggam.

 

~ hal. 112-113
(cetak tebal dari saya)

Ada tiga kesalahan yang ingin saya tunjuk di sini.

Pertama, penulis menyatakan “konduktor dikelilingi oleh arus listrik” (analogi orang berthawaf, Ka’bah sebagai konduktor — lihat kutipan selanjutnya 1, 2).

Ini salah besar. Arus tak bisa mengalir di luar konduktor. Ia hanya bisa mengalir lewat medium penghantar, e.g. kawat logam. Arus listrik tidak bergerak mengelilingi konduktor di udara bebas, sebagaimana ilustrasi orang berthawaf di atas.

Kedua, medan magnet tidak muncul di konduktor, melainkan di sekeliling konduktor berarus. Jika Anda menghantarkan listrik pada kawat, medan magnet akan muncul di sekeliling kawat… BUKAN pada kawat konduktor itu sendiri.

Ketiga, kaidah tangan kanan (right hand grip rule) yang sebenarnya tidak berbunyi seperti di atas. Melainkan:

    Ibu jari Anda melambangkan arah arus, dan empat jari yang menggenggam melambangkan arah medan magnet.

Jika arus mengalir lurus, maka medan magnet yang dihasilkan akan melingkar. Jika arus dibuat melingkar… maka kita harus melakukan perhitungan lebih lanjut. Kita harus menerapkan aturan tangan kanan dengan ibu jari kita mengikuti gerak arus.

Agak rumit bila dijabarkan, tapi bisa dijelaskan dengan ilustrasi sebagai berikut.

 

[medan magnet arus melingkar]

Untuk arus yang berputar berlawanan arah jarum jam, akan terbentuk medan magnet seperti ilustrasi sebelah kanan. Perhatikan bahwa:

1. Bagian tengah kosong (tidak ada konduktor)
2. Arus merambat pada kawat, bukan di udara kosong
3. Medan magnet terbentuk di sekeliling kawat
4. Arah medan magnet tidak hanya ke atas, melainkan melingkar.
Dengan demikian terdapat medan magnet ke arah bawah di sisi luar konduktor. (tidak digambarkan)

Kutipan di atas setengah benar ketika menjelaskan arah medan magnet ke atas, tetapi salah total ketika menjelaskan arus. Sorry, but — first.

 

Masih ada lagi yang lain:

Seperti telah saya katakan, bahwa tubuh manusia ini sebenarnya mengandung listrik dalam jumlah besar yang dibawa oleh miliaran bio-elektron dalam tubuh kita. […] Sehingga ketika ada jutaan orang berthawaf mengelilingi Ka’bah, ini seperti ada sebuah arus listrik yang sangat besar berputar-putar berlawanan dengan arah jarum jam mengitari Ka’bah. Apa yang terjadi?

 
~hal. 113

Per definisi, arus listrik adalah elektron yang bergerak. Apabila terdapat arus, maka akan terbentuk medan magnet di sekitarnya. (perhatikan gambar di atas)

Saya tidak tahu apa itu bio-elektron, kecuali — mungkin — maksudnya adalah elektron yang terdapat dalam sistem fisiologi tubuh manusia. Ini tidak menjawab apa-apa. Elektron dalam tubuh manusia tidak ada bedanya dengan elektron dalam sebongkah bata.

Meskipun begitu, sekilas saya bisa menangkap ide yang beliau usung:

    Kelihatannya, penulis berupaya menjelaskan arus lewat ide “manusia sebagai muatan negatif yang bergerak”.
     
    Dengan demikian gerakan thawaf akan menghasilkan arus berlawanan arah jarum jam.

Sayangnya, ide ini sangat mentah. Tubuh manusia umumnya bermuatan netral. OK, terdapat satu-dua kondisi di mana tubuh manusia bisa bermuatan lebih positif/negatif (penjelasan yang bagus: di sini). Meskipun demikian hal ini sifatnya tidak alami… Anda harus menjalani proses ‘kehilangan’ muatan dulu sebelum jadi tidak netral.

Jika manusia bermuatan bergerak, maka akan timbul medan magnet (berperilaku seperti arus listrik). Tetapi, jika manusia netral bergerak, maka tak akan timbul medan magnet sama sekali. Tidak ada perilaku arus. Ini sama saja dengan memutar-mutar batu bata (muatan netral) menggunakan tali — takkan ada gejala elektromagnet, karena muatan bendanya sendiri nol!

 

Dan lagi:

Di tengahnya, di Ka’bah — khususnya lagi di Hajar Aswad — terjadi medan elektromagnetik yang mengarah ke atas. Kenapa begitu? Karena dalam hal ini Hajar Aswad telah berfungsi sebagai konduktor, seperti dijelaskan oleh Kaidah Tangan Kanan.

 
~ hal. 113
(cetak tebal dari saya)

Perhatikan kembali gambar yang saya cantumkan. Sebenarnya tidak perlu ada konduktor di tengah untuk memunculkan medan magnet.

Jika sebuah arus berputar berlawanan arah jarum jam, maka arah medan magnet — di dalam lingkaran — akan cenderung ke atas. Di titik pusat, terbentuk medan magnet yang benar-benar tegak. Semua terjadi tanpa perlu adanya konduktor di tengah cincin.

 

Dan TERAKHIR… (ini yang membuat saya benar-benar geleng kepala)

Sesungguhnya, setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik. Gelombang itu selalu memancar ketika kita melakukan apa pun. Ketika kita berkata-kata, kita sebenarnya sedang memancarkan gelombang suara yang berasal dari getaran pita suara kita.

Ketika kita berbuat, kita juga sedang memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita. Jika tertangkap mata seseorang, maka mereka dikatakan bisa melihat gerakan atau perbuatan kita. Demikian pula ketika kita sedang berpikir, maka otak kita juga memancarkan gelombang yang bisa dideteksi dengan menggunakan alat perekam aktivitas otak yang disebut EEG (Electric Encephalo Graph). Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi.

 
~ hal. 112
(cetak tebal dari saya)

Maaf, tapi tidak ada ampun di sini. ๐Ÿ˜•

 
Pertama:

Gelombang suara BUKAN gelombang elektromagnetik, melainkan gelombang mekanik. Keduanya memiliki perbedaan properti yang signifikan.

Yang saya lihat, penulis cenderung mencampuradukkan fenomena gelombang dan mewadahkannya dalam satu nama “gelombang elektromagnetik”. Mungkin beliau tidak bermaksud demikian — tetapi, menyebut gelombang suara tepat setelah membicarakan gelombang elektromagnetik, itu berpotensi menyesatkan pembaca yang awam. ๐Ÿ˜

 
Kedua:

Penulis menyatakan “setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik”. Disambung dengan percontohan bahwa kita “memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita”, bahwa kita memancarkan gelombang otak… sebelum akhirnya memungkas penjelasan dengan kalimat: “Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi”.

Seolah-olah, istilah “pemantulan” dan “pemancaran” itu sama dan dapat dipertukarkan! Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Mari kita perhatikan definisi berikut:

  1. Suatu benda yang memancarkan gelombang, menghasilkan gelombang tersebut dari dalam dirinya sendiri. Ia bersifat aktif dan membutuhkan energi internal.
  2. Contoh: Bintang memancarkan cahaya (lewat energi fusi), speaker memancarkan suara (lewat energi listrik), dst.
     

  3. Suatu benda yang memantulkan gelombang bersifat pasif. Ia hanya menunggu datangnya gelombang dari sumber lain, dan tidak membutuhkan energi internal*.
  4. Contoh: Bulan memantulkan cahaya dari matahari ke bumi; dinding memantulkan gelombang suara dari mulut kita, dst.

     

    *) Lebih jauh lagi, sebenarnya benda menyerap sebagian energi gelombang saat pemantulan terjadi. Tapi itu bisa kita abaikan untuk saat ini.

Dengan demikian, gelombang hasil pantulan berbeda dengan gelombang hasil pancaran. Pemantulan cahaya tidak dapat disamakan dengan pemancaran cahaya — apalagi dengan pemancaran energi!

Mempersamakan pemancaran dengan pemantulan, ibaratnya menyatakan bahwa bulan bersinar tanpa bantuan matahari. Ini ngaco.

Saya tidak menyangkal bahwa keduanya — pemancaran dan pemantulan — punya ciri umum yang sama. Mereka sama-sama merambatkan energi gelombang pada pengamat. Tetapi, prinsip dasar yang melandasinya berbeda. Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas.

Meskipun begitu, penulis tampak menganggap bahwa keduanya sama dan dapat dipertukarkan. Entah kenapa. ๐Ÿ™„

 

Sebuah Catatan Akhir

 
Sejauh ini, Anda mungkin bertanya: kenapa saya mau bercapek-capek menulis tentang buku tersebut dan menanggapi poin-poinnya. Sebenarnya sederhana saja: saya kecewa. Terutama sebagai orang yang, kebetulan, mempelajari fisika secara ekstensif di bangku kuliah.

Boleh-boleh saja kalau mau berdakwah dengan mengedepankan penemuan sains. Hanya saja: check your facts first. Dakwah model ini berpotensi terjerumus jadi pseudosains jika penggagasnya tidak berhati-hati.

Kalangan awam yang mencari peneguhan religius mungkin kagum dengan adanya pemaparan so-called “kecocokan ilmiah”. Tetapi, kekaguman itu berlandas pada kesalahkaprahan… sebuah landasan yang sangat rapuh.

Apa jadinya dengan kebanggaan yang dibangun di atas ilusi dan miskonsepsi. Ini hanya akan membuat pemercayanya tampak bodoh. Agama tidak — dan tidak seharusnya — diperkokoh lewat hoax dan pseudosains. Bayangkan seorang penganut yang dengan percaya diri berkata:

“Agama saya menemukan pembenaran lewat gejala alam X. Penjelasannya bla-bla-bla.”

Hanya untuk ditertawakan oleh pendengarnya yang menjawab:

“Hei, penjelasan kamu salah. Gejala alam X itu penyebabnya seperti ini…” :mrgreen:

***

Akhir kata, saya cuma ingin berpesan: jangan campurkan sains secara sembrono untuk kepentingan dakwah. Setidaknya, pastikan bahwa dalil-dalil yang Anda gunakan benar dan masuk akal. Jangan sampai iman/agama yang Anda bela — dan umatnya — justru terlihat bodoh karena berpatokan pada ilmu semu.

Ironis, bukan, jika upaya untuk meneguhkan keyakinan ternyata berlandaskan pada ketidakbenaran.

Sains dan Agama adalah dua sisi yang sering bentrok. Mencampurkan keduanya secara sembrono sangat beresiko… lebih bijak jika kita menimbang jarak antara keduanya sehati-hati mungkin. ๐Ÿ˜‰

 

 

—–

Ps:

Buat mbak Snowie, yah, saya sudah menemukan buku ybs. Ternyata ada di lemari buku orangtua saya. There you have it. ๐Ÿ˜‰

PPs:

BTW, yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir. Atau lebih tepatnya, lulusan Teknik Nuklir UGM.

Can you believe it? ๐Ÿ˜•

Read Full Post »

Hari ini, saya teringat pada salah satu omongan Mas Joe di blognya yang lama.


Salah satu sifat tidak baik khas anak muda adalah โ€œtidak sabaranโ€ ๐Ÿ™‚

 

(link)

*mengamati kejadian beberapa minggu terakhir*

Apa saya ini bertambah muda, ya? Soalnya, rasanya saya dulu lebih sabar dibanding sekarang? :-/

Read Full Post »

Ed. note some links provided are in Indonesian language

 

Looking back in my life, I was ever a person who, in many occasions, despised people who acted high-and-mighty in their belief. I am talking about religion-fundamentalism and such in this case, should you wonder what this post is all about.

Back then, I wouldn’t stay at ease when people tended to, at the lowest degree, differed treatment basing on religion preference. Being Muslim by birth, it was easier for me to find hole and criticize the circumstance I was in. I criticized the idea of muslims being given two weeks holiday for Idul Fitri in Indonesia, while at the other hand we only had one single day allocated for Christmas and Nyepi[1]. I bashed the (said-to-be) conservatism that muslims shouldn’t send any greetings as other religions hold their holy celebrations[2] — while, at the same time, everybody greeted us for Eid Mubarak[3], and so on.

Hearing about the 2002 Bali Bombings only made it worse; and studying the history of Crusades dismayed me beyond what I would have imagined before then. In fact, I dissented quite many things as well — though many of them were directed to the religion’s followers’ attitude, rather than to the fundamental faith about God himself.

At this point you may think that I was against my religion and tend to others’, no? Mind you, perhaps, but that’s not what happened. ๐Ÿ˜‰

In fact, I didn’t like the other religions’ followers’ attitude as well. Of course it would be unfair to generalize, but I’ll go with examples here. Anybody knows coercive missionary action in Indonesia[4]? Israel using Zion sentiment to invade Palestinians’ land? Anybody likes Pat Robertson? And so on, and so on.

Religions, as I looked at it back then, were all miserable. Say it Muslim world, Christendom, Judaism, or else. People hate, people kills, and became stupid altogether.

Who forged data for 6000-year creationisms, huh? Christian fundies. Who spread hoaxes concerning evolution? Harun Yahya, a muslim zealot. Who condemned the scientists accepting Heliocentrism? BOTH. Either it is Syaikh[5] or Pope[6], things are just the same. ๐Ÿ˜Ž

***

For some times, I used to be like that. Seeing the followers’ attitude and quality, I started to lower my expectation towards religion in general. Still, I didn’t let go of my faith — in fact, I just lessen my tendency to follow its rules strictly. Perhaps you can say it as a form of agnostic theism.

And so I continued it that way. Proud of being agnostic, I stood over the gnash-and-claw people have over the sake of God’s name. Laughing at them and their lunacy, whereas they fought in the name of The Loving, Merciful God. I enjoyed contempting them for many things — their rejection of science, their hatred to other religions, etc, etc. When their fallacious argument came out, it only made things funnier (and bitterer) than ever: that the utmostly-intelligent Being was ‘protected’ by a bunch of fools.

 

II. Interlude

Back then, I thought it was fun to win a discussion over a religious zealot. I mean, it was priceless to see them swallowed in the gulf of their logic. They wouldn’t admit it, but they couldn’t deny the argument that they are somehow misled in their belief. It’s like a jester of debunking falsed belief — you can see they’re losing control and spurting the afterlife threat. Such things like that.

Though, there is something more to agnosticism than only that — something that I wouldn’t realize until just recently.

 

III. On Theology

Some months ago, I spent some moment thinking about theological matters. Is there God or not? Is there afterlife? What if it’s not like what people believe? Is choosing religion a kind of lottery? And so on.

However, it would only end with one conclusion — as I have written down in [this post] (in Indonesian). Theology can’t be verified nor falsified. It lacks of experimental standard of observation[7], something which would make any debate concerning its truth meaningless. Anyone can win any debates about religion and theology in general, but they can never say that they hold the absolute truth. Just like everybody in town discussed about Chinese Emperor’s nose — an analogy I used in the post aforementioned — getting the conclusion doesn’t mean that you’re obtaining the real truth.

 

IV. The Shrinking Pride

And that leads to the path of agnosticism. Being unable to know what lies ahead our life, I embraced the concept that is most satisfying, most logical, and most consistent I could define about God and religion. I’m still on the same religion I was in — but I can hardly agree with its zealots’ way of thinking.

I can’t believe that God would punish all the Americans because Bush Jr. tormented Iraq and Afghan with his military invasion. The likes of Michael Moore are there on the US — against the war, and taunting their President. Are they going to be sacrificed for the sake of ‘punishing US’ ?

I can’t believe that heliocentrism is false (who would?). I would be against fundamentalism in any religion; I would never agree with the hatred to kafir harbi per se — but it doesn’t change the fact that I’m only guessing that it’s what God would agree.

I can only guess.

And what is it to be prideful in that? I can bash people’s puny argument about God and religion. I can laugh at the religious-fundamentalists’ fallacious arguments. It’s also fascinating to have them cornered in the use of their logic, and so on, and so on…

…but, in the end, I don’t know anything.

In the end, I don’t even know if what I believe is true.

 
Perhaps for me, there’s no pride in being agnostic. There are mostly agony and irony at the best of it. Agony, that no matter how you search for it you’d never have your doubt confirmed before late — and irony, that even though you succeeded in debunking so many “knowledges” about God and religion, you still don’t know anything about what you’ve just debunked.

 

 

 

—–

Footnotes:

[1] Nyepi, one of sacred days celebrated by Hindu followers. At this day the followers are secluding themselves from routine activities for the means of contemplation.

Additional Note on Christmas Holiday: by this moment, Indonesian government has given about 3-4 days off during Christmas. Though, this isn’t a fixed number; whereas lunar-based holidays (i.e. Chinese New Year and Islam’s holiday) may override on it. Should it occur, some extending until January 1st may be applied to cover all the holidays.

[2] There are some moderate scholars’ opinions dissenting this, mostly arguing that it is alright to do so as long as the sayer doesn’t acknowledge the other’s faith. Frequently conflicts with Christmas’ celebration, due to Islam’s refusal against Trinity and Christ’s deity in Christendom.

[3] Another name to refer the “Idul Fitri”/”Eid-il Fitri” aforementioned

[4] For example, see [this news (in Indonesian)]. Didn’t get any suitable link in English, though. (o_0)

[5] Syaikh Abdul Aziz bin Baz (1911-1999), former Grand Mufti of Saudi Arabia. Often said as the spiritual leader of Salafy/Wahhabi movement. See the link for details about the heliocentrism affair.

[6] Concerning Vatican’s charge upon Galileo Galilei (1564-1642), arguably the first scientist to propose the idea of heliocentric solar system. You know what’s next. ๐Ÿ˜‰

[7] I.e. can’t be proven objectively, due to humans’ inability to observe the theological realm from this world. See [falsifiability].

Read Full Post »

I.

Hari ini, kutatap isi langit
di tengah Ramadhan ketika purnama tepat di zenith
Sambil tertampar oleh tarikh
Yang baru kukhatamkan kemarin hari

Sembilan ratus tahun setelah Clermont[1], aku melayang–
Dalam hina dan kedukaan yang berulang,
Ketika kusadari makna “iman” pernah hilang
Dalam dua abad lingkupan perang

Ah, iman! Berapa abad pernah terjadi perang
Hanya karena penerjemahanmu yang bersilang?
Ah, iman! Berapa banyak darah telah tumpah
Ketika pemahaman akanmu hilang ditelan ruah
teriakan perang dan semangat perang suci?

Kupikir aku menderita, kupikir aku sedih
Ketika dirayapi duka yang lirih
Akan semangat dua umat terpilih
Yang menyisakan luka perih
hingga senjakala ini

 

II.

Berapa banyak jiwa tumbang demi nama ‘iman’?
Ketika Tentara Salib memasuki kota Tuhan
dan mereka-ulang Pembantaian Yoshua
Di tengah tahun seribu-sembilan-sembilan?

Berapa banyak jiwa tumbang demi nama ‘iman’?
Ketika propaganda jihad meluncur dari Selatan,
dari Mesir, terus menuju Kota Kecintaan
Milik tiga agama yang konon berkaitan?

Ah, aku muak!
Ketika Raymund d’Aguiles berceritera
Bahwa kubang darah kafir di selasar
Sudah mencapai lutut bangsawan-ksatria[2]

Aku muak!
Ketika ‘iman’ meninggikan prasangka busuk
Dan membuat kedua kubu saling mengutuk
Serta saling tumpas hingga tak berbentuk
hingga akhir perang yang katanya suci itu

 

III.

Apa arti kota-kota?
Antiokhia, Dorylaeum, Tirus, Acre
Yerusalem, Hittin, Ramlah, Askalon
Dan lainnya.

Ah, cuma kotak-kotak catur
Untuk bidak yang digerakkan “kuasa Tuhan”
Ketika Salib dan Sabit bentrok dan bertempur
Saat masing-masingnya berseru “atas nama iman!”

 
Apa arti raja-raja?

Dari zaman Imaduddin Zangi hingga Nuruddin,
Terus Shalahuddin sampai Baybars Ruknuddin;
Dari Godfrey menuju Baldwin,
Lantas Richard dan Frederick II,
yang lain daripada yang lain?

Ah, kurasa merekalah yang membentuk sejarah
Yerusalem yang sekarang terbelah
dan jadi topik empuk retorika dakwah

 

IV.

Kata orang, perang menyisakan pahlawan
Dengan kemuliaannya masing-masing
Saat menghancurkan benteng dan mengambil tawanan,
Atau ketika beradu-ksatria dengan pedang berdenting

Tapi aku tahu lebih baik
Pahlawan-pahlawan itu bukanlah
mereka yang tiada kalah
Atau yang merenda sejarah
Dengan tahta dan darah

Kuceritakan padamu soal Saladin,
Yang berbesar hati membiarkan tahanan Kristen pergi
Ke kota Tirus dan Acre
di hari masuknya ia ke Yerusalem[3]

Akan kuceritakan padamu soal Frederick,
Yang bertukar diskusi dan hadiah mewah
dengan Sultan Al-Kamil Malik,
Dan bersahabat baik dengannya hingga lama

Dan, ya, akan kuceritakan juga padamu
Tentang Santo Francis dari Assisi
yang datang ke tenda Sultan seorang diri
Untuk menyampaikan beberapa patah kata diskusi
Lantas dilepas pergi oleh Sultan sendiri:
“Doakanlah agar Tuhan menunjuki saya, agama mana yang dipilih-Nya”
Ketika sekalipun Sultan tak memilih agamanya di akhir hari

Kautanya padaku, hal terbaik pada Perang Suci
Inilah jawabanku:
bahwa di tengah perang terkejam sekalipun,
selalu ada oasis berisi kebaikan kalbu

 

V.

Terlempar sekian abad, aku kembali
ke tengah Ramadhan,
Di mana sang rembulan
Masih setia di zenith azali:

Selepas khatamku pada tarikh
yang menyedihkan dan mengharu-biru.
Tentang makna iman dan jiwa yang lirih,
Ketika mereka terkorbankan di masa yang jauh

 

Sembilan ratus tahun setelah Clermont, aku bersedih
Untuk darah yang tumpah atas nama iman,
dan kota-kota yang dijarah pada saat bersamaan–
Ketika agama seolah melegalkan kegilaan

 

 

–Bandung, 25 September 2007
Ditulis seusai membaca sejarah lengkap Perang Salib

 

 

Footnotes:

[1] Konsili Clermont, entry wikipedia [di sini]. Dianggap sebagai awal berlangsungnya Perang Salib, karena pada kesempatan itulah Paus Urban V pertama kali mencanangkan “Pembebasan Yerusalem dari Kaum Muslim”.

[2] Detail penuturannya bisa ditemukan di [link ini].

[3] Kisah ini pernah saya bahas dalam [post tersendiri].

Read Full Post »

Sebetulnya saya sudah capek membahas masalah yang satu ini, yang juga pernah saya bahas di prekuelnya post yang sedang Anda baca ini. Tapi, baiklah. For the sake of few things, saya akan menyempatkan diri menulis beberapa contoh lagi.

Jadi, ada sebuah pertanyaan besar. Benarkah Islam itu agama yang toleran?

Kalau Anda tanya saya, Islam itu ajaran yang toleran. Saya sendiri seorang muslim sejak lahir, dan percaya bahwa kita harus menghargai sesama manusia, tak peduli agamanya. Saya juga tahu bahwa Rasul, semasa hidupnya, rajin menyuapi seorang Yahudi buta yang menghinanya tanpa sadar. Saya tahu riwayat sahabat Umar bin Khaththab, yang pernah dikalahkan di pengadilan Islam karena melanggar hak seorang dhimmi miskin. Saya juga tahu bahwa Rasul tak pernah berkata kotor, lantas mencaci kepercayaan Kristen, Yahudi, ataupun pagan Quraisy tanpa ampun.

Iya, saya tahu kalau ajaran Islam itu (aslinya) mencontohkan toleransi. Kalau masih kurang, saya bisa menambahkan lagi dari hikayat Perang Salib — tentang Sultan Saladin yang tidak membalas pembantaian oleh Tentara Kristen tahun 1099, tentang Sultan Malik-al-Kamil yang bersahabat dengan Raja Kristen Frederick dari Jerman, tentang (lagi-lagi) Sultan Saladin yang mengirim minuman buah ketika Raja Richard dari Inggris terbaring sakit… dan lain sebagainya. Islam itu ajaran yang toleran, kok. Setidaknya ada banyak contoh yang bagus untuk itu.

Tapiii… ada sebuah tapi, saudara-saudara. ๐Ÿ˜›

Tapi.

Tapi.

Masih ada masalah. Walaupun memang ajarannya seperti itu, benarkah semangat itu terwariskan ke umat Muslim di masa kini?

Entah kenapa, saya kok kurang yakin ya. Ketika…

 

  • …tetangga Kristen kita sudah ramah pada kita yang muslim saat Lebaran — sementara, waktu Natal, tak sedikit pun kita peduli?
  • …ada pihak Kristen yang melakukan bakti sosial di daerah bencana, dan kita langsung menuduh mereka “melakukan Kristenisasi”?

  • …banyak aktivis dakwah suka berteriak “Semua Yahudi laknatulah!” sambil melupakan mbak Corrie, Pak Shapiro, dan 16 pilot tempur Israel yang ogah terbang di langit Palestina?
  • …ada sekelompok orang yang hobi mem-bid’ah-kan, mengkafirkan, dan menyesat-nyesatkan pihak lain, padahal ‘lawan’-nya itu masih muslim dan bersyahadat?
  • …beberapa orang yang (konon) muslim justru lebih suka merusak, daripada melakukan dakwah yang persuasif?
  • …agama ini dianggap membolehkan tindakan semacamnya bom Bali dan kawan-kawannya? (ya, saya tahu bahwa mungkin saja Amrozi dkk itu binaan CIA — tapi mereka kan menampilkan diri sebagai fundamentalis muslim)
  • sebuah pemerintah daerah non-syariat menyediakan denda, untuk warga (baik muslim maupun non-muslim) yang berani berjualan makanan di tengah hari bulan Ramadhan?
  • …beberapa dari umat ini suka mengkotak-kotakkan dan pukul rata umat di luar jamaahnya?
  • OK, saya sih berani bilang bahwa agama Islam itu mengajarkan (dan menganjurkan) toleransi antar-dan-intern umat beragama. Tapi, perilaku umatnya? Itu sih urusan lain lagi.

    Lama-lama saya patah arang juga sama umat yang satu ini. ๐Ÿ˜Ž

     

     

    Ps:

    BTW, kalau ada yang bertanya-tanya, saya siap mempertanggungjawabkan isi tulisan ini di Yaumil Akhir kelak :mrgreen: . Saya sih cuma mengungkapkan fakta saja di sini; silakan cek berbagai link-nya untuk cerita lebih lanjut. ๐Ÿ˜‰

    PPs:

    Kelihatannya post ini semakin menguatkan tesisnya Geddoe soal jumlah post terkait agama di blogosphere. Apapun lah. (~_@)”\

    Read Full Post »

    Older Posts »