Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Personal Scraps’ Category

Sedang jalan-jalan di Facebook kemarin siang, saya menemukan sebuah page yang menarik. Isinya sendiri bisa dibilang jejaring sosial banget — tidak jauh beda dengan urusan tag-mengetag pada umumnya. πŸ˜›

Take no more than 15 minutes, and make a list of the 15 books that stick with you, for whatever reason. Then spread the list:

— Post your list here
— Post it on your profile for your friends to see
— Become a fan of this page
— Include a link to http://www.facebook.com/15books in your profile post

Saya pikir, kalau ditulis sebagai notes, tidak semua orang bisa baca — harus daftar FB, add friend, dan seterusnya — sementara saya orangnya tidak mau approve sembarangan. Walhasil, saya pun memutuskan untuk menulisnya di blog saja. :mrgreen:

Seperti apa daftarnya, here goes

    (CATATAN: hampir semua dari buku di bawah ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, meskipun demikian saya merujuk pada versi dalam bahasa aslinya)

 

1. “Demon-Haunted World: Science as A Candle in The Dark”
— Carl Sagan (1995)

 

cover

 

Buku yang berisi kumpulan esai oleh almarhum Carl Sagan. Kalau boleh jujur, Pak Sagan adalah salah satu ilmuwan yang paling saya kagumi: berpengetahuan luas, punya kesadaran sosial, juga piawai mempopulerkan sains di masyarakat umum. Buku ini merangkum berbagai sudut pandang beliau semasa hidupnya (1932-1996).

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

2. “A History of God”
— Karen Armstrong (1993)

 

cover

 
Pertama kali baca buku ini waktu kelas 2 SMA. Pertama-tama kebingungan — meskipun begitu, setelah beberapa waktu, mulai bisa memahami alurnya. πŸ˜› Berkisah tentang evolusi keyakinan manusia sejak zaman pagan hingga era modern. Ini buku yang memperkenalkan saya pada gagasan ber-Tuhan yang esoterik; juga membuka mata bahwa “iman” itu banyak ragamnya.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

3. “Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World”
— Karen Armstrong (1988)

 

cover

 
Buku kedua dari Karen Armstrong di daftar ini, sekaligus juga yang terakhir. Dalam buku ini Bu Armstrong berkisah tentang kronologi Perang Salib dan dampaknya di era modern. Buku ini sempat membuat saya kecewa berat — bukan karena isinya jelek, melainkan karena sukses membuat depresi. Pengantar saya sebelum membaca literatur Perang Salib yang lebih serius (Runciman, Hillenbrand — tidak dibahas di daftar ini).

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

4. “Manusia Multidimensional: Sebuah Renungan Filsafat”
— M. Sastrapratedja (ed.) (1982)

 

cover

 
Buku jadul lungsuran ibu saya, meskipun begitu sepertinya beliau tidak pernah baca. ^^;; Berbentuk kumpulan esai, buku ini mengantar saya pada ide-ide dasar filsafat barat. Pertama kali “mengenal” Nietzsche, Jaspers, dan Camus dari buku ini — walaupun begitu, pembahasannya tentang Popper paling mengena di hati saya. Dus, membuka jalan saya untuk belajar filsafat lebih jauh. I’m eternally grateful to the authors of this book.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

5. “Crime and Punishment”
— Fyodor Dostoyevski (1866)

 

cover

 

Novel penulis Rusia pertama yang saya baca; waktu itu saya hampir lulus SMA. Banyak pesan moral yang saya dapat dari buku ini. Meskipun begitu ada satu poin yang paling berkesan: orang tidak bisa bahagia jika hanya bermodal rasionalitas (Raskolnikov) atau kehangatan hati semata (Sonia). Agar orang bisa bahagia, harus ada keseimbangan di antaranya, dan itu dicontohkan secara apik lewat “jalan” Razumihin dan Dounia.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

6. “Madilog”
— Tan Malaka (1943)

 

cover

 
Saya pertama kali tahu Tan Malaka lewat autobiografi Dari Penjara ke Penjara, jilid II, sekitar tahun 2003-04. Oleh karena itu, saya tahu sedikit tentang Madilog — dan kemudian, ketika ada teman kos yang punya, saya pun meminjam dengan sukses. :mrgreen: Dengan materi ilmu alam, logika, dan filosofi yang dibawanya, buku ini turut membentuk pemikiran saya di awal kuliah. (walaupun efeknya tidak sedahsyat Demon-Haunted World)

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

7. “Anak Semua Bangsa”
— Pramoedya Ananta Toer (1981)

 

cover

 
Bagian kedua dari Tetralogi Buru, sekaligus yang paling berkesan secara pribadi. Humanisme lintas batas yang dicerminkan para tokohnya benar-benar strike di hati saya. Mulai dari Jawa (Minke, Nyai), Tionghoa (Khouw Ah Soe), hingga Eropa (Jean Marais dan keluarga Delacroix), semua sepakat bahwa tidak ada manusia yang suka ditindas. Kisah perjuangan bangsa Filipina dan Cina oleh Khouw Ah Soe jadi pelengkap yang manis.

Novel karya mbah Pram ini sukses mengingatkan saya pada nilai yang berharga: Kemanusiaan itu universal, tidak terkotak-kotak oleh suku dan ras. Mengutip H.G. Wells, “Our true nationality is mankind.”

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

8. “Surely You’re Joking, Mr Feynman!”
— Ralph Leighton & Richard Feynman

 

cover

 

Setelah dari tadi membahas buku serius, maka sekarang waktunya buku yang lebih ceria. πŸ˜€

Surely You’re Joking, Mr Feynman! adalah sebuah (semi-) autobiografi karya Nobelis fisika Richard Feynman. Meskipun begitu, alih-alih membahas rumus dan dunia fisika, buku ini memberi gambaran dari sisi lain: bagaimana keseharian Feynman, rasa penasarannya akan segala hal, dan hobinya mengisengi teman sejawat. Sifat Feynman yang cerdas-tapi-playful adalah sumber inspirasi saya. Malah dulu saya bercita-cita mengikuti jejak beliau jadi ilmuwan! πŸ˜€

Menurut saya, buku ini seolah mencibir stereotip “orang jenius” yang berlaku di masyarakat dan menguburnya dalam-dalam. Listen now, kids: nobody likes a snobby genius! :mrgreen:

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

 

9. “Lets Learn Kanji: An Introduction to Radicals, Components and 250 Very Basic Kanji”
— Y.K. Mitamura et. al. (1997)

 

cover

 

Buku pengantar saya belajar Kanji. Kalau boleh jujur, saya sebenarnya tidak punya patokan khusus belajar Bahasa Jepang — ada banyak buku yang saya baca. Meskipun begitu yang satu ini benar-benar stand out sehingga layak disebut tersendiri. Dengan penjelasan, organisasi, dan trik memorization yang mantap, buku ini layak dimiliki oleh setiap peminat barang-barang Jepang.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

10. “Concepts of Modern Physics”
— Arthur Beiser (1981)

 

cover

 

Pembaca serial mekanika kuantum di blog ini mungkin sudah tahu buku di atas. Buku ini sempat saya cantumkan sebagai salah satu referensi di sana. Ilustratif, mengedepankan konsep, dan (relatif) sedikit bermain rumus, buku ini merupakan pengantar yang bagus menuju dunia fisika modern — di antaranya teori relativitas, mekanika kuantum, dan fisika partikel. Satu-satunya buku kuliah yang suka saya baca jika sedang senggang. πŸ˜›

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

11. “The Blind Watchmaker”
— Richard Dawkins (1986)

 

cover

 
Salah satu pengantar terbaik dalam memahami Teori Evolusi. Dalam buku ini, Dawkins menjelaskan bagaimana keragaman yang kompleks dapat dicapai lewat perubahan yang berkesinambungan (evolusi). Konsep-konsep rumit seperti DNA, mutasi, dan pewarisan dijelaskan lewat analogi yang mudah dicerna. Buku ini adalah salah satu awalan saya dalam mempelajari teori evolusi. (yang satu lagi buku S.J. Gould di nomor 12)

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

 

12. “Structure of Evolutionary Theory”
— Stephen Jay Gould (2002)

 

cover

 
Buku mammoth yang bisa dipakai membunuh cicak kalau dijatuhkan (seriously). Tebalnya 1343 halaman. Meskipun begitu, jika Anda benar-benar tertarik mendalami evolusi, maka buku ini adalah pilihan yang bagus. Sekitar separuhnya — 600-700 halaman — dialokasikan untuk membahas sejarah pemikiran, dan sisanya penjelasan teknis.

Dilengkapi gambar, foto, dan analogi oleh salah satu palaeontolog paling masyhur di dunia. Long story short, buku ini membuat Gould jadi “menara kembar” pemahaman evolusi saya — bersama dengan Richard Dawkins yang disebut sebelumnya. πŸ˜›

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

13. “Adventures in American Literature (Classic Edition)”
— James Early et. al. (ed), various American writers

 

cover

 

Buku ini merupakan kompilasi cerpen dan puisi karya penulis Amerika dari zaman ke zaman, mulai dari era Wild West hingga awal abad 20. Karya penyair legendaris seperti Edgar Allan Poe, Longfellow, dan Nathaniel Hawthorne bisa dibaca di sini. Terdapat juga sketsa biografis dan analisis komposisi berbagai karya tersebut; tambahan yang menarik untuk orang yang latar belakangnya non-sastra seperti saya.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

 

14. “Fantasista”
— Michiteru Kusaba (1999-2006)

 

cover

 
Manga pertama di daftar 15 Books ini. Saya bisa dibilang bukan peminat manga hardcore — saya tidak langganan majalah sebangsa ShonenMagz, jarang download, juga jarang beli di kios. Meskipun begitu Fantasista adalah pengecualian. Ilustrasinya bagus, jalan ceritanya menarik, dan teknik bermain bola yang disajikan tergolong realistis. Tidak ada tendangan maut a la Shoot! atau Captain Tsubasa. Pokoknya, sepakbola as we know it! :mrgreen:

Sayangnya serial ini memiliki ending yang buruk. Kesannya kurang dipoles, begitu, sehingga saya tak bisa memberi nilai sempurna. Oh well.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

15. Q.E.D ~θ¨Όζ˜Žη΅‚δΊ†~
— Motohiro Katou (1997–present)

 

cover

 

Yup, you read it right. Another manga in this list. Tak lain dan tak bukan, manga yang tokoh utamanya sosok jenius lulusan MIT. Siapa lagi kalau bukan So Toma? :mrgreen:

Bagi saya, Q.E.D. adalah salah satu komik favorit sepanjang masa. Komik ini berkisah tentang seorang jenius yang sulit dipahami oleh lingkungan sekitarnya, meskipun begitu, belakangan ia mulai bekerja sebagai detektif paruh waktu. Kasus yang ditangani Toma umumnya berhubungan dengan tema ilmiah seperti matematika, seni, dan sejarah — hal yang membuat komik ini jadi menarik. Malah saya tahu hal-hal obscure seperti Jembatan Konigsberg dan legenda Pygmalion dari komik ini! πŸ˜€ So that’s saying much. Manga ini masih berjalan sampai sekarang, dan di Indonesia diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.

Personal rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

***

Yah, kurang lebih seperti itu daftarnya. Tiga belas buku serius (baca: isinya sebagian besar tulisan) dan dua buah komik. Sebenarnya bukan tak mungkin ada yang terlewat, tapi, hei, yang disuruh kan cuma yang teringat saja. πŸ˜†

BTW, saya tidak mengetag siapapun untuk mengerjakan tugas ini. Silakan kalau ada pembaca yang berminat melaksanakan — tergantung suasana hati sajalah. πŸ˜‰ Walaupun saya penasaran juga sih daftar bukunya lambrtz, geddoe, dan mas gentole seperti apa…

Read Full Post »

Kalau boleh jujur, saya bisa dibilang orang yang suka main game lawas. Mulai dari yang old skool punya sampai yang rada modern (baca: generasi 2000-an), asalkan gameplay-nya bagus, biasanya saya suka. πŸ˜›

Nah, salah satu game yang sedang saya mainkan saat ini adalah Civilization III. Game buatan Infogrames ini pertama kali saya mainkan ketika masih SMA.

 

civ 3 - title screen

 

Judul: Sid Meier’s Civilization III
Genre: Turn-based strategy
Produksi: Infogrames Interactive
Tahun: 2001

 
Dalam game ini, kita diceritakan sebagai pendiri — sekaligus pemimpin — sebuah peradaban. Seluruh perdagangan, diplomasi, dan kemajuan negara menjadi tanggung jawab kita. Selama 5000 tahun kita harus berkompetisi dengan peradaban lain di muka bumi.

 

civ 3 - choose leader
 

Berbeda dengan game-game strategi sezamannya, Civilization III (selanjutnya disebut Civ 3) tidak memakai tampilan grafis 3D. Keseluruhan gameplay-nya berlangsung di atas map 2D isometrik, dengan sprite yang juga 2D.

 

civ 3 - map

 

Saya sendiri lebih suka pendekatan model ini daripada 3D di Civilization IV. Menurut saya penggunaan 3D di game strategi itu buang-buang resource saja — banyak hal yang lebih penting lah daripada visual. Memangnya kita Windows Vista? Tapi itu pendapat pribadi sih. πŸ˜›

 
The Epic Journey

 
Kalau boleh jujur, aspek yang paling saya suka di Civ 3 adalah perhatiannya tentang what makes great civilizations. Mulai dari penguasaan teknologi, diplomasi, perdagangan, hingga perang dan overpopulation, semua menjadi bagian dari gameplay.

Lebih lagi bukan saja interaksi antarperadaban yang penting; manajemen negara juga berperan besar. Game ini — tanpa ampun — menambahkan konsep-konsep ruwet seperti korupsi, penduduk imigran, kota jajahan, dan citizen contentment. Apabila kita tidak mengatur negara dengan baik, maka masyarakat berpotensi melakukan riot. Atau, lebih buruk lagi, memilih bergabung ke negeri tetangga karena merasa tidak diurus.

Beuh… xP

 

civ 3 - city management
 

Setelah sukses mengatur negara, maka pemain harus berurusan dengan diplomasi. Termasuk di dalam menu diplomasi adalah perdagangan, perjanjian damai, dan — kalau sudah masuk era modern — embargo dan pakta militer.

 

civ 3 - diplo screen
 

Kadang-kadang tindakan kita dalam permainan bisa berujung pada turunnya reputasi di kancah diplomatik. Sebagai gambaran, apabila saya menggunakan bom atom sembarangan, maka pemimpin negara lain akan kecewa dan memandang rendah. Persetujuan pun jadi sulit dicapai. πŸ˜•

 
Technological Advancements and Beyond

 
Sisi lain yang ditawarkan Civ 3 adalah technology tree. Sebagaimana galibnya di dunia nyata, negara bisa berkembang jika penguasaan teknologinya mumpuni. Sebagai pemimpin negara kita menentukan ke arah mana riset berlangsung — apakah ke arah praktis, mercusuar, atau militer? Kebijaksanaan Anda menentukan nasib negara. 😈
 

civ 3 - tech tree

Tech-tree di Civ 3 (klik untuk ukuran besar @ CivFanatics.com)

 
Sebagai contoh, untuk membangun rumah sakit kita membutuhkan teknologi Sanitation. Untuk membangun pasukan kavaleri kita perlu teknologi Gunpowder dan Military Tradition. Adapun untuk memberdayakan ekonomi lewat pasar dan bank, kita harus mempelajari Economics dan Currency; dan lain sebagainya.

Teknologi yang tepat juga bisa membantu kita menemukan bentuk pemerintahan yang lebih efisien. Pertama kali main kita diberi bentuk pemerintahan Despotisme; pemerintahan yang buruk dan banyak korupsi. Meskipun begitu, semakin jauh bermain, kita akan mempelajari bentuk yang lebih sophisticated seperti Republik, Monarki, dan Demokrasi. πŸ˜€

 
Victory Conditions
 

Sebuah game Civ 3 berakhir jika pemain — atau AI — memenuhi salah satu dari 6 (enam) syarat, yakni:

  1. Conquest — sebuah negara berhasil menaklukkan seluruh lawan secara militer
  2. Domination — sebuah negara menguasai 2/3 tanah di muka bumi
  3. Cultural — sebuah negara memiliki kebudayaan yang superior (ditentukan lewat culture point)
  4. Space Race — sebuah negara berhasil meluncurkan roket pertama ke luar angkasa
  5. Diplomatic Win — apabila kepala negara terpilih menjadi Sekretaris Jendral PBB
  6. Histograph — alias time-out pada tahun 2050, apabila belum ada pemenang

Dengan berbagai kondisi tersebut, game ini jadi bersifat amat terbuka. Negara yang kuat secara militer atau dagang belum tentu keluar sebagai pemenang. Bisa saja ada negara kecil tak berguna yang “menyalip” lewat jalur Space Race atau Diplomatic Win.

 
End Notes and Verdict

 
Game yang sangat kompleks, dengan bumbu politik di sana-sini. Apabila Anda suka berkhayal tentang perjalanan peradaban kuno, ada kemungkinan Anda akan tertarik. Saya tidak yakin apakah penggemar RTS akan suka, tapi setidaknya buat saya ini game yang bagus. ^^

To be noted, though: ini game yang luar biasa kompleks. Saya sendiri harus berulangkali main ke forum terkait untuk mempelajari tips-dan-triknya (ini game pertama yang membuat saya sampai segitunya). But, like people say… selalu ada saat pertama kali lah. πŸ˜‰

  • Visual: 8/10
  • Music: 8/10
  • Gameplay: 10/10
  • Replayability: 10/10
  •  

  • Personal Rating: 9/10

 

 

——

Ps:

Ya, ya, saya akui bahwa tulisan saya tempo hari terinspirasi oleh game ini. 😈

Read Full Post »

Yang sedang terkapar:

Bang Robin, Mas Theo, Bendtner, Dik Wilshere, Pak Kapten, Mas Gibbs, Clichy, Djourou

 
Yang sering cedera:

Eduardo, Denilson, Diaby, Pak Rov Rosicky

 
Yang sedang tugas negara:

Alex Song dan Eboue

***

 

Jadi begini ceritanya…

Tim yang saya dukung di Liga Inggris, Tim Gudang Peluru asal London, sedang punya masalah. Entah apa penyebabnya saya tidak tahu — yang jelas banyak pemainnya bergelimpangan karena cedera. Sebagaimana bisa dilihat daftarnya di atas, jumlahnya lumayan banyak. πŸ˜•

Sebenarnya ini hal yang biasa. Lha wong tiap tahun Arsenal dilanda cedera, je. Meskipun begitu musim ini ada pengecualian: ada posisi yang tidak tergantikan ketika pemainnya cedera. That is, Bang RvP yang namanya disebut pertama di atas. >_<

 

Mengapa?

 
Karena Arsenal memakai pola 4-3-3 yang rada unik. Kalau boleh diuraikan, skemanya kira-kira seperti berikut:

 

4-3-3 pitch

 

Dalam pola 4-3-3 versi umum, posisi ujung tombak (RvP) biasa diberikan untuk finisher/goal getter murni seperti Samuel Eto’o atau Adebayor. Meskipun begitu, di Arsenal penerapannya rada berbeda: van Persie dimainkan sebagai hibrida antara CF dan SS.

Dengan kata lain: tugasnya adalah membuka ruang, menarik defender lawan, sekaligus (kalau bisa) mencetak gol. Ini tugas yang berat — cuma pemain yang berteknik tinggi, pekerja keras, dan “cerdas” yang bisa melakukannya.

Walhasil ketika beliau cedera, hampir tak ada yang bisa menggantikannya. XD Barangkali yang cocok cuma Arshavin. Itu pun, dia akhir-akhir ini bermain dalam kondisi cedera.

 
Jadi, berhubung sekarang ini sedang transfer window Januari, saya jadi kepikiran siapa yang kira-kira cocok untuk mengisi “lubang” tersebut. Toh Pak Bosnya sendiri sudah bilang hendak beli striker baru. :mrgreen: So here goes…

 

Kandidat IMarouane Chamakh (Bordeaux)

Pemain yang sudah dihubung-hubungkan sejak awal musim ke Emirates. Konon merupakan pilihan utama Pak Wenger sebagai pelapis Van Persie. Skill mencetak gol dan workrate mumpuni.

 
Kandidat IICarlton Cole (West Ham)

Nama yang mencuat setelah diusulkan oleh sebuah editorial di Goal.com. Punya insting mencetak gol dan melepas assist — tapi saya kok kurang yakin kelasnya setara RvP. :-/

 
Kandidat IIIEdin Dzeko (Wolfsburg)

Striker Wolfsburg yang sedang naik daun. Sepertinya tipe striker yang dibutuhkan Arsenal: 26 gol, 10 assist dalam 32 pertandingan. Kekurangan: harganya (mungkin) terlalu mahal untuk standar Pak Wenger.

 
Kandidat IVCraig Bellamy (Man. City)

Striker ManCit yang diisukan sedang kisruh dengan manajemen, selepas dipecatnya manajer Mark Hughes. Lebih ke arah powerful daripada teknisi. Rada way off IMHO.

 
Kandidat VLouis Saha (Everton)

…enggak lah. ^^;

 
Kandidat VIKlaas-Jan Huntelaar (AC Milan)

Striker Belanda yang sempat terbuang di Real Madrid, tapi kemudian menemukan bentuk permainan kembali di AC Milan. IMO lebih ke arah finisher daripada kombinasi CF-SS yang dibutuhkan Arsenal saat ini.

 
Lain-lain:

Stevan Jovetic, Alan Dzagoev. Tapi mereka ini statusnya pemain muda, sementara yang dibutuhkan saat ini striker yang sudah matang. Barangkali untuk investasi? We already have Bendtner and Vela, though.

***

 
*menyeruput kopi*

*merenung*

Ah, ya, ini cuma analisis iseng-iseng saja kok. Jangan terlalu diseriusi — toh saya juga bukan ahli bola. πŸ˜† Walaupun saya senang juga kalau Januari ini ada instant hit. Barangkali seperti Arshavin tahun lalu, langsung mencetak empat gol di awal-awal…

*dilempar sandal karena berkhayal*

*bletaaakkk* x(

Read Full Post »

Sekali waktu ketika masih sekolah, seorang teman saya ditanya oleh Bapak Guru dari suku mana dia berasal. Saya sendiri waktu itu sedang rada melamun — waktu itu pelajaran sejarah, yang kebetulan saya kurang tertarik. Meskipun begitu saya ingat dia menjawab, “Padang”.

Technically, harusnya dia menjawab “Minang” — tapi itu bisa kita kesampingkan untuk saat ini.

Saya pikir ada yang aneh dengan klaimnya waktu itu. Sejak pertama kali mengenal dia, belasan tahun lalu, saya langsung ngeh bahwa matanya berwarna coklat. Hidungnya rada mancung, dan kulitnya relatif pucat untuk ukuran Asia. Kalaupun ada yang mencerminkan bahwa dia “orang Padang”, maka itu adalah jilbab yang dia pakai sejak SD dan kefasihannya baca Qur’an. Paling tidak itu sejalan dengan semboyan orang Padang yang saya tahu: “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”.

Belakangan saya paham bahwa dia berdarah Indo. Barangkali dia dapat warisan itu sejak zaman penjajahan, makanya dia bisa dengan yakin berkata “Padang” ketika ditanya. Meskipun begitu — at risk of repeating myself — bukan itu yang hendak dibahas di sini.

***

Ada pertanyaan yang mengusik saya tiap kali menatap matanya yang coklat itu. Sebenarnya nenek moyangmu orang mana? Dari negeri yang jauh sampai kemudian tiba di SumBar, dan sekarang kamu di tanah Jawa? Portugis? Belanda? Atau barangkali dia bukan penjajah. Barangkali sekadar petualang Eropa serabutan macam Jean Marais

Bagi saya, dia adalah sosok yang menarik. Bukan karena dia cantik, melainkan karena dia membawa rasa penasaran saya ke tempat yang jauh: kapal-kapal pedagang, penjelajah, berlayar atas perintah bangsawan Eropa. Perjalanan sekian tahun menuju Malaka. Perjalanan membawa genetik Eropa dari tanah asalnya menuju kepulauan di Khatulistiwa…

Selalu ada yang unik setiap kali saya menatap matanya yang coklat itu. Dan setiap kali pula, saya selalu terkagum: betapa jauhnya manusia bisa berjalan, betapa kerasnya manusia bisa berupaya. Dari kincir-kincir angin di Belanda sampai lembah dan ngarai di Sumatra Barat, hingga akhirnya berhenti dan menetap di Pulau Jawa. Selalu ada yang spesial setiap kali saya memikirkannya.

Bayangkan, saya berkata ke diri sendiri. Bayangkan jauhnya.

Saya tahu, kehadiran bangsa Eropa mencapai Nusantara bukannya manis semata. Sebagaimana pelajaran PSPB memberi tahu saya di masa SD: banyak riwayat kelam yang menyertainya. Kolonialisme tidak indah. Meskipun begitu, sebagaimana saya tulis di atas, selalu ada yang spesial setiap kali saya memperhatikan teman yang disebut sebelumnya.

Bahwa di dekat saya ada seorang gadis, beragama Islam, berjilbab, dan relatif fasih membaca Qur’an, sementara nenek moyangnya mungkin petugas Zending missie beragama Protestan — dan bahwa dia lebih merasa sebagai “orang Padang”, alih-alih Belanda atau Portugis — membuat saya tertarik untuk merenung dan menuangkannya di sini dalam bentuk tulisan.

Bayangkan, saya berpikir. Bayangkan jauhnya.

Seandainya zaman penjelajahan tak pernah dimulai, maka dia takkan pernah lahir. Seandainya seorang pangeran Portugis tidak pernah memulai tradisi kelautan Eropa, kapal-kapal dagang VOC mungkin takkan singgah di Nusantara. Seandainya tidak ada kompas… seandainya tidak ada semboyan Gold, Gospel, Glory…

Hari ini, ketika saya sedang mengetikkan tulisan ini, saya kembali teringat padanya. Saya teringat pada matanya yang coklat, kulitnya yang pucat — kerudung yang dipakainya anatopis dengan raut wajahnya yang (sedikit) Eropa. Saya sudah lama tidak bertemu dengannya. Meskipun begitu, setelah melalui refleksi di atas, saya jadi sadar akan satu hal: She was indeed special.

Setiap kali saya menatapnya, saya membayangkan perjalanan yang ditempuh leluhurnya. Ribuan kilometer lewat laut, menantang badai. Mungkin juga sempat berperang/berselisih dengan penduduk lokal. Perjalanan panjang dan jauh. Dan saya bertanya, siapa yang memberinya bentuk mata dan warna kulit seperti itu.

Adakah leluhurnya dulu kelasi di kapal VOC? Atau barangkali bukan VOC. Barangkali dia naik kapal Portugis yang lebih dulu datang? Pertanyaan-pertanyaan macam ini terus berseliweran. Meskipun begitu saya pikir saya takkan pernah tahu.

Saya rasa, dia sendiri juga tidak tahu.

Kalaupun ada yang saya tahu, itu adalah bahwa leluhurnya telah jauh melangkah. Dari tanah yang asing di Eropa sana, terus mengarungi samudra, hingga akhirnya tiba di Sumatra Barat. Barangkali saya harus berterima kasih pada Pangeran Henry dari Portugal — sebab gara-gara dia abad penjelajahan Eropa dimulai, dan saya bisa merenungi perjalanan epic tersebut lewat kehadiran teman saya.

Walaupun, kalau boleh jujur, sebenarnya ada hal lain yang membuat saya berhutang budi pada pangeran tersebut. Tapi itu cerita lain untuk saat ini…

Read Full Post »

Wikipedia entries to read while you watch somebody finish stage 1 in Prehistorik 2

 

 

  • When Olympus did a miserable flying kick to Superstar Ho-Sung Pak, he flew out of ring instead [WMAC Masters]
  • Some people like to do tri- penta- umpteenathlon in front of camera [American Gladiators]
  • J.D. Roth defined ‘fun’ for a generation of schoolkids [Fun House]
  • Whatever will happen today, ask Gary Hobson [Early Edition]
  • A boy got shunted to a terrific parallel world [Spellbinder]
  • Kwai-Chang Caine’s legacy continues in NY [Kung Fu TLC]
  • Sam Beckett alters history… [Quantum Leap]
  • …while Phineas Bogg and Jeffrey follow suit [Voyagers!]
  • The most kickass use of (gothic) letter ‘L’ in TV history [Poltergeist: The Legacy]
  • And I thought college would be all fun [USA High]

 
And yet, there is also eastern hemisphere influence as well.
 

  • To begin with, let’s all say… “MANTRA AJI!!” 😎 [Kamen Rider BLACK]
  • “Tapak Kerinduan yang Memuncak™”. Halah! [Return of the Condor Heroes]
  • An epic love dodecahedron once happened in Tokyo [Tokyo Love Story]
  • Three coolest policemen of 1999 [Tokkei Winspector]
  • Ryo, Rowan, et. al. to save the world [Ronin Warriors]
  • Rekindling the lost art of being gourmand [Mr. Ajikko (aka “Born to Cook”)]
  • Meet the Matsunaga Sisters [Miracle Girls (aka “Magic Girls”)]
  • Younger kids like Captain Tsubasa; olders had Kakeru Daichi [Ganbare, Kickers]
  • Aoyama Gosho’s unsung masterpiece once aired every Thursday [Yaiba]
  • Wherever the heck you ever heard of “Pangeran DanDan” and “Putri Syalala” [Time Quest]

 

Now where have those innocent times gone again? 😐

 

Note:

No, I don’t count too-famous ones like ‘vigilante black helicopter shooting missiles’ or ‘a blond man who can pwn you with everyday things’.

Read Full Post »

larutan antiskeptik

 

—–

Ps:

Sekadar corat-coret gak jelas, ada ide melintas di tengah malam. Jangan terlalu dipikirkan. :mrgreen:

 
Rada terkait:

Read Full Post »

Bapak Enrico Fermi (1901-1954) adalah ahli fisika yang turut berpartisipasi dalam proyek bom atom di Los Alamos, New Mexico, pada masa Perang Dunia II. Sebagai ilmuwan yang berkecimpung di bidang fisika atom, nama beliau diabadikan lewat nama partikel fermion dan statisik Fermi-Dirac.

 

Enrico Fermi

Enrico Fermi (1901-1954)

 

Biasanya, kalau mendengar istilah “fisika atom”, yang terbayang adalah perhitungan yang rumit, teliti, dan sangat eksak. Meskipun begitu, Fermi adalah sosok yang berbeda dengan bayangan di atas. Alih-alih menyatakan ilmu fisika sebagai hitung-hitungan akurat, Fermi memperkenalkan cara berpikir yang rada nyeleneh: bahwasanya, banyak perhitungan rumit dapat didekati secara kira-kira.

Tunggu sebentar. Kira-kira? Bukankah fisika itu ilmu pasti. Bagaimana mungkin dihitung secara kira-kira? πŸ˜•

Nah, penjelasan untuk ini akan segera kita lihat di bagian selanjutnya. Seperti apa sebenarnya cara berpikir “kira-kira” yang diajukan Fermi? Here goes…

 

Cara Berpikir Fermi:
Sebuah Ilustrasi

 

Untuk mengilustrasikan Cara Berpikir Fermi, paling baik jika dicontohkan lewat pertanyaan sbb.

“Berapakah panjang diameter bola bumi?”

Bola bumi begitu besar, adakah yang pernah mengukurnya? Barangkali hanya ahli geologi saja — itu pun dengan alat-alat canggih. Meskipun begitu, Fermi punya solusi cerdik untuk menjawabnya.

Pertama-tama, kita pikir dulu acuan yang familiar. Saya orang Amerika — kebetulan, saya tahu bahwa jarak antara New York dan Los Angeles sekitar 3000 mil.

New York dan Los Angeles terpisah sejauh tiga zona waktu. Jadi, satu zona waktu adalah sekitar 1000 mil.

Bumi selesai berotasi dalam 24 jam, berarti, terdapat sekitar 24 zona waktu di seluruh bumi.

Alhasil: keliling bola bumi = 24 * 1000 mil = 24000 mil

Sampai di sini, kita mendapatkan nilai “kira-kira” keliling bumi. Meskipun begitu, Fermi masih belum selesai.

Lewat matematika, kita tahu rumus keliling lingkaran:

    K = Ο€ * diameter

Berapa nilai Ο€ ? Saya tidak ingat, tapi anggaplah nilainya sekitar 3.

*) sebenarnya 3.141592, tapi ingat, kita sedang bermain “kira-kira” di sini

 
Masukkan nilai tersebut…

    24000 mil = 3 * diameter
    diameter = 8000 mil

Menurut Fermi, panjang diameter bumi adalah sekitar 8000 mil. Atau, dalam satuan kilometer: 12800 km.

Sebagaimana bisa dilihat, ini hasil kira-kira. Pertanyaannya, benarkah jawaban tersebut?

Anda mungkin tak menduga, tapi, ukuran diameter bumi yang sebenarnya adalah…

 

7926.28 mil

 

atau

 

12756 km

 

Bandingkan dengan hasil kira-kira yang dihitung sebelumnya. Margin kesalahan yang didapat sangat kecil… bahkan 1% pun tak sampai. 😯 Barangkali kalau ada perlombaan mengira-ngira, maka Fermilah jagonya!

BTW, jawaban di atas saya dapat dari tiga sumber terpercaya: Google, Wikipedia, dan Encarta Online. Silakan dicek sendiri kalau tidak percaya. :mrgreen:

 

Kok Bisa!?

 

Biasanya, kalau orang disuruh mengira-ngira, margin kesalahannya cukup besar. Kalau sopir truk ditanya jarak antara Jakarta-Surabaya, barangkali melesetnya sekitar 10-15 km. Sementara Fermi bisa menebak diameter bumi… dengan meleset 44 kilometer saja. Di sini ada perbedaan ketelitian yang besar.

Pastinya kemudian timbul pertanyaan. Apa sih rahasia di balik tebakan Fermi, sedemikian hingga bisa memperkirakan dengan tepat?

Jawabannya terbagi dalam tiga poin, yang akan segera saya jabarkan di bawah ini.

 
Pertama, dan paling utama, Fermi menggunakan pengandaian bertingkat. Dari hal-hal yang sederhana dan umum diketahui, ia membangun asumsi. Siapakah yang menyangka bahwa diameter bumi bisa dihitung bermodal jarak Los Angeles ke New York? Tidak banyak. Tapi, sebagaimana kita lihat bersama, kumpulan fakta sehari-hari saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaan sulit.

Ini seperti kalau kita ditanya berapa banyak bola pingpong bisa masuk kardus. Jika kita tahu berapa *kira-kira* ukuran kardus, dan berapa *kira-kira* ukuran bola pingpong, maka selanjutnya jadi mudah. Tinggal mengembangkan saja dari asumsi tersebut.

 
Kedua, Fermi melakukan kira-kira dengan kisaran yang tepat. Betul, dia memperkirakan jarak antara New York ke Los Angeles sejauh 3000 mil — tapi dia tahu bahwa itu “kira-kira” yang bermutu. Dalam artian, tidak melebih-lebihkan ataupun mengurangkan.

Seandainya Fermi memilih angka “2000 mil”, maka perhitungannya akan meleset jauh. Demikian juga jika ia memilih angka “4000 mil”. Keberhasilan Fermi di sini disumbang oleh kemampuannya menentukan kisaran jarak yang tepat antara New York dan Los Angeles: dengan mengetahui kisaran yang tepat, maka perhitungan kira-kira dapat dilakukan.

 
Dan yang terakhir, ketiga: nilai “kira-kira” yang dipilih akan saling mengompensasikan dalam membentuk hasil akhir. Dalam melakukan pengira-ngiraan, pasti ada yang terlalu besar atau terlalu kecil. Secara kasar, kemungkinannya akan seimbang: 50% nilainya terlalu besar, atau 50% nilainya terlalu kecil.

Seiring dengan makin panjangnya train-of-thought, kecenderungan ini akan tampak secara statistik. Pilihan angka yang terlalu besar akan ditemani oleh pilihan angka yang terlalu kecil. Margin kesalahan akan saling berkompensasi — pada akhirnya, ini akan meminimalkan kesalahan hasil akhir. Demikian penjelasannya.

 

Not Your Average Guess

 

Sebagaimana bisa dilihat, cara berpikir yang dijelaskan di atas sangat runtut dan logis. Biarpun maksudnya memberi jawaban kira-kira, tetapi ia memiliki landasan yang kuat. Hasil yang didapat pun amat dekat dengan kenyataan.

Di sinilah bedanya antara sekadar “menebak” (guess) dan “menebak dengan cerdas” (smart-guess). Metode Fermi di atas termasuk dalam kategori smart-guess: dengan mengandalkan fakta umum sehari-hari, orang bisa menjawab pertanyaan yang (pada awalnya) terkesan sulit.

Yang harus diingat adalah bahwa cara berpikir ini tidak memberi jawaban sempurna, melainkan estimasi. Bagaimanapun pasti ada kurang dan lebihnya. Namanya juga ilmu kira-kira — what do you expect? πŸ˜†

Meskipun demikian, untuk penggunaan sehari-hari, Cara Berpikir Fermi bisa dibilang sangat powerful. Katakanlah, misalnya saya ditanya seperti berikut.

Berapa kilometer jarak Jakarta-Bandung lewat Tol Cipularang?

Maka saya tinggal berpikir: waktu naik bis tempo hari, perjalanan sekitar 2 jam. Kecepatan rata-rata mobil di jalan tol sekitar 70 km/jam. Maka, jawabannya sekitar 140 km.

Sementara pada kenyataannya, panjang jalan tol tersebut adalah 141 km! πŸ˜€

***

BTW, omong-omong tentang smart-guess, ada pengalaman menarik yang dialami dosen saya. Waktu itu beliau belum lama lulus, dan sedang bekerja di sebuah proyek konstruksi.

Suatu ketika, seorang supervisor datang dan bertanya. “Coba kamu lihat struktur ini. Menurut kamu, safety-nya bagaimana?”

Segera dosen saya mengeluarkan kalkulator dan berhitung. Setelah beberapa lama, beliau menjawab, “Berdasarkan perhitungan, harusnya struktur ini cukup aman.”

Kemudian datang seorang insinyur senior. Sang supervisor lalu beralih pada insinyur tersebut.

“Pak, ini sudah hampir jadi. Bagaimana menurut Bapak, apakah sudah safe atau…?”

Si insinyur diam sebentar, mengamati bangunan yang dimaksud. Sejenak kemudian…

“Sepertinya sudah oke. Safe lah.”

Saya tidak tahu apakah si insinyur senior melakukan perhitungan rumit di luar kepala, atau dia sekadar bermain kira-kira seperti dicontohkan di atas. Barangkali dia memang jenius. Atau mungkin, perhitungan sebenarnya tidak serumit yang dikesankan dosen saya.

Meskipun begitu, entah kenapa, saya merasa bahwa jawabannya adalah yang kedua…

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »