Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘sosial’

Catatan: Jadi, ceritanya saya sedang ngobrol dengan geddoe dan mas gentole di post tentang migrasi tempo hari. Ada satu poin menarik yang muncul di situ, dan saya pikir tak ada salahnya diangkat jadi tulisan tersendiri. 😉

 

Waktu kecil dulu, saya suka nonton serial Sesame Street. Ada yang ingat serial ini? Dulu sempat tayang sore-sore di RCTI, dan menampilkan sosok-sosok boneka lucu seperti Big Bird, Grover, dan Cookie Monster. 🙂

 

Sesame Street cast crew

Para punggawa Sesame Street generasi baru (2009). Acara ini sudah berjalan selama 40 tahun di negeri asalnya.

[image courtesy of Muppet Wiki]

 

Waktu itu eranya tahun 1990-an. Belum lama sejak TV swasta boleh mengudara di Indonesia — dimulai oleh RCTI, kemudian SCTV, kemudian TPI dan kawan-kawannya. Ini masanya ketika saya usia TK dan SD, jadi bisa dibilang saya tumbuh besar bersama program mereka.

To be fair, though, kadang-kadang saya nonton TVRI juga — soalnya dulu ada Voltron dan ThunderCats di sana. 😛 Tapi bukan itu yang hendak dibahas di sini.

Nah, yang hendak saya bahas di sini terkait dengan “hobi” nonton TV zaman dulu. Ada apa dengan itu, nah, ini ada ceritanya lagi.

 

Nostalgia dulu…

 

Sekitar masa SD, saluran televisi favorit saya adalah RCTI. Banyak film-film bagus ditayangkan di sana: mulai dari Airwolf, MacGyver, hingga yang legendaris seperti Ksatria Baja Hitam. Kalau yang bermuatan edukasi, Sesame Street; yang bergenre kartun, Doraemon. Hampir semua teman saya nonton acara-acara tersebut. Entah itu di sekolah, di rumah, ataupun pas main ke rumah sebelah, yang dibicarakan adalah:

+ “Nonton Airwolf nggak kemarin?”
+ “MacGyver bersambung, hampir kalah sama Morgana.”
+ “Motor Road Sector, jreng-jreng…”

(dan seterusnya)

Kasar-kasarnya, kalau nggak nonton TV, nggak gaul. 😛 Entah produk Jepang atau Amerika, asalkan menarik, maka bakal jadi bahan gosip di kelas. Bagi kami Kotaro Minami sama kerennya dengan MacGyver. Kalau belalang tempur adalah motor super, maka Airwolf adalah helikopter jagoan. Voltron sama kerennya dengan Patlabor…

…dan seterusnya. Kalau ada di antara pembaca yang seumur saya, pastilah paham apa yang dimaksud. :mrgreen:

***

Tentu, yang saya sebutkan di atas itu produk zaman dulu. Generasi kelahiran ’90-an barangkali tidak tahu tentang KBH dan Airwolf. Meskipun begitu mereka punya ikon generasinya sendiri.

Seorang sepupu saya, yang sekarang masih SMA, tumbuh besar bersama Kapten Tsubasa. Anaknya mbak yang kerja di rumah saya, dulu hobi nonton Teletubbies. Jika dulu generasi saya punya idola, maka begitu pula dengan mereka. Entah bentuknya berupa Naruto, Sasuke, Aang, atau Ben 10 — asalkan sosoknya admirable, maka bisa jadi pujaan. Perkara asalnya dari Negeri Paman Sam atau Matahari Terbit… itu urusan belakangan.

Di sini saya ingin menekankan satu hal: anak-anak zaman sekarang tidak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dikelilingi budaya banyak negeri jauh lebih intens daripada kakek-neneknya. Ambillah drama seperti Pendekar Rajawali (Tiongkok), Full House (Korea), hingga One Litre of Tears (Jepang), semua siap mampir di televisi ruang tamu.

 

The Internet Revolution

 

Menariknya, walaupun di satu sisi saya menilai televisi sebagai agen budaya, saya tidak menganggapnya sebagai yang paling dahsyat. Gelar untuk ini jatuh pada media yang baru muncul belakangan, yakni internet. Dengan internet orang bisa berselancar ke tempat-tempat yang jauh — mendalami pikiran yang berbeda, juga budaya yang berbeda.

Barangkali lebih mudah kalau dijelaskan lewat contoh. Selama kisruh Iran kemarin, saya dapat berita dari Twitter dan Fark. Kalau sedang santai saya bisa berkunjung ke blog bu guru Amerika yang tinggal di Turki; kalau tidak, warga Saudi yang rada liberal. Saya bisa membaca jurnal keseharian sopir taksi di Singapura. Ada juga blog berita tentang Jepang, dan lain sebagainya.

Ingin belajar lewat internet? Itu juga bisa. Tinggal buka wikipedia, search google, atau tanya di Yahoo! Answers. E-book bisa diunduh, anime bisa ditonton. Siaran dan iklan mancanegara bisa diakses di YouTube. This being internet, kita bisa saling mengobrol, mengomentari, bahkan menertawakan kejadian di tempat jauh.

Seolah-olah, jarak dilipat saja oleh koneksi HTTP. Menurut saya ini hal yang hebat! 😀

Tentunya harus diingat bahwa, galibnya kemajuan teknologi, internet juga punya sisi negatif. Ada banyak kasus untuk ini. Toh ini tidak mengubah kenyataan. Sebagaimana sudah disebut, internet adalah jendela penghubung yang luar biasa antara warga dunia.

 

The Culture Salad

 

Bicara soal ini, saya jadi ingat lagi pada diskusi yang kemarin. Mas gentole bercerita di salah satu komentar,

[K]emarin sempat ikut seminar dan beli buku barunya Yudi Latif yang judulnya menyemai kebangsaan atau apa gitu. Debatnya seru. Kebanyakan orang tua sih. Nah di sini menariknya.

Kalo saya baca postnya sora dan juga melihat kecenderungan lambrtz, geddoe dan dnial untuk menjadi nationless dan stateless itu, sepertinya ada gap yang sangat besar antara dua generasi.

 
*) dengan perubahan seperlunya

Saya pikir tidak ada yang aneh dengan itu. Mengapa generasi zaman sekarang kok lebih suka persahabatan lintas batas dan humanisme universal, alih-alih nasionalistik? Well, simply put: itu karena mereka sejak kecil meng-embrace budaya banyak negeri! :mrgreen:

Coba kita kilas balik. Zaman dulu, kakek dan nenek kita harus mengantri untuk bisa nonton gambar idoep. Televisi belum ada. Film yang masuk juga jumlahnya terbatas. Hal yang sama masih berlanjut sampai (barangkali) era Ayah dan Ibu saya. Sekarang? Bukan saja produk Hollywood yang masuk sini, film Jepang, Korea, Taiwan juga ada. 🙂 Belum lagi kalau punya TV kabel atau parabola. Makin lengkaplah pilihannya.

Sementara, zaman sekarang kita punya internet. Saya bisa dapat perkembangan berita di Iran; bisa tahu kabar-kabar terbaru di Jepang. Ingin belajar filsuf Prancis, Jerman, Yunani kuno? Tinggal download e-book. Separah-parahnya toh masih bisa google. Di sini kita lihat: betapa generasi sekarang punya banyak influence dalam membentuk identitas.

Saya tertarik menyebut fenomena ini sebagai culture salad. Dengan merembesnya pengaruh mancanegeri di Indonesia, maka kita jadi makin terbuka. Sekat “nasionalisme” tidak lagi dianggap sakral. Perbedaan kewarganegaraan bukan lagi sesuatu yang “wah”.

Iyalah. Apanya yang “wah” kalau saya bisa main ke blog Bu Mary atau Pak Mingjie sekali langkah. Sama-sama orang biasa, sama-sama blogger. Sama-sama punya keluarga dan kesulitan hidup juga. Lalu saya bertanya: apa bedanya saya dengan mereka? Tidak banyak, sungguh!

 
Saya rasa inilah sebabnya gagasan nasionalisme klasik, yang menjunjung tinggi “mesti Indonesia asli”, mulai kehilangan pamor. Justru sekarang ini zamannya multibudaya dan akulturasi. Komunikasi membuat kita paham bahwa tidak ada yang istimewa amat dari warga negara ini dan itu, budaya ini dan itu.

Kalau saya boleh menilai, negara dan budaya kita di bumi pada dasarnya seperti mosaik. Tak sama tapi serupa. Unik dengan caranya sendiri-sendiri. Sebagaimana dicerminkan generasi saya yang tidak membedakan antara Kotaro Minami, Yo Ko, dan MacGyver, maka begitulah saya memandang dunia.

Saya sendiri kurang tahu bagaimana orang lain, tapi, masa sih cuma saya yang berpikir begitu? :mrgreen:

 

Epilog: “Culture? What Culture?”

 

Jadi, inti dari tulisan ini adalah…

…pertanyaan yang jadi judul di atas. Culture? What culture? 😆 Adakah kultur yang unik di dunia saat ini? Bisakah orang menggolongkan “nasionalisme” berdasarkan kesamaan budaya. Saya rasa, susah! :mrgreen:

Sebagaimana sudah saya uraikan di atas, dunia kita — bukan cuma Indonesia — sekarang sedang memasuki tahap culture salad. Budaya dari macam negeri masuk ke ruang tamu; kita olah dan kita saring. Lalu kita berakulturasi. Perlahan-lahan terbentuk budaya baru yang, kalau boleh disebut, blasteran.

Saya ambil contoh dari tulisan lama saya. Apa yang membuat remaja mesjid tertarik membumbui majalah dinding dengan ilustrasi anime? Kalau dilihat sekilas Jepang dan Islam tidak ada hubungannya, tapi kok jadi begitu? Saya pikir, jawabannya sederhana.

 

akulturasi

 
Dengan mengamati budaya negeri lain, kita mengambil apa yang dirasa bagus, dan mencampurnya dengan milik kita. Dari “bahan dasar” yang berbeda kita meracik culture salad, menghasilkan campuran baru yang unik.

Sama halnya dengan kisah anak-anak zaman internet di atas. Dari budaya yang berbeda, mereka mengambil apa yang dirasa cocok, lalu mengembangkan sintesis. Zaman sekarang tidak aneh jika ada anak yang berlatar keluarga muslim tapi paham Thomas Paine; tidak aneh kalau ada anak yang suka barang-barang Jepang sekaligus The Corrs dan Aerosmith; juga tidak aneh kalau ada yang suka anime sekaligus dengar Led Zeppelin! :mrgreen:

***

Di tulisan kemarin, saya menjelaskan bahwa manusia itu aslinya satu. Dulunya satu, dan sekarang sedang akan menyatu lagi. Waktu itu saya menampilkan Tiger Woods dan Barack Obama sebagai ilustrasi.

 

tiger woodsbarack obama

Dua bapak di atas, biarpun sekilas berkulit hitam, sebenarnya mewarisi genetik banyak ras.
Tiger Woods (kiri): keturunan Thai, Cina, Belanda, Afrika, Indian.
Barack Obama (kanan): keturunan Kenya-Amerika, ibu berdarah Inggris.

 
Sekarang, di akhir tulisan ini, kita sama-sama menyadari: bukan saja ras-ras yang kembali menyatu, budaya pun juga ikut menyatu! 😯 Jika persatuan ras mewujud dalam bentuk anak-anak multiras, maka, di masa kini, persatuan budaya mewujud dalam bentuk culture salad. Perubahan ini digawangi oleh televisi dan internet.

Saya pribadi berpendapat bahwa konstruksi “identitas budaya”, pada akhirnya, akan bernasib sama dengan “identitas ras”. Bakal melebur, hilang batasnya. Menjadi budaya baru yang sifatnya campursari — sebagaimana anak-anak yang multiras menandakan hilangnya batas suku.

Mungkin, hanya mungkin, saat itu kita akhirnya menyadari bahwa manusia “cuma beda di luar saja”. Biar kulitnya berbeda, kewarganegaraannya beda, warisan budayanya beda, tidak ada alasan untuk mengelompokkan manusia. Saya bilang: pergi sajalah jauh-jauh itu “nasionalisme”, “tribalisme”, “rasisme”, dan sebagainya. Karena kita ini sebenarnya sedang saling menyatu: baik secara lokasi, genetik maupun budaya. Lebih baik mencari persamaan daripada perbedaan, kan begitu? 😀

Akhir kata, saya ingin berpesan: ingatlah bahwa apa yang kita anggap ‘berbeda’ belum tentu aslinya seperti yang diributkan. Sebagaimana sudah dijelaskan, manusia adalah kawanan yang satu. Dulunya satu, kemudian berpencar, dan kini sedang menyatu lagi. Jangan sampai kita justru terjebak dan mengotakkannya secara sembrono. 😉

Read Full Post »

“Kamu itu orang mana sih?”

“Indonesia.”

“Iya, tapi suku mana?”

 
Kalau boleh jujur, saya sering punya masalah dalam menjawab pertanyaan di atas. Ini bukan karena saya multiras atau sebangsanya — hampir semua orang di sekitar saya akan berkata bahwasanya saya ini “orang Jawa”. Kulit saya sawo matang; rambut saya hitam, dan mata saya juga hitam. Kalau ada penampilan khusus yang membedakan, barangkali hanyalah kacamata yang saya pakai saja. =3=

*ditimpuk*

Oke, yang terakhir itu cuma bercanda. Tapi intinya, Anda boleh tanya ke orang-orang di sekeliling saya. Hampir pasti mereka akan berkata bahwa saya ini keturunan Jawa asli. Temannya tante saya yang berasal dari seberang pulau berkata demikian; guru les Bahasa Inggris waktu SMP berkata demikian; dan tak kurang ayah dan ibu saya juga berkata begitu. Jadi, menurut konsensus, saya ini adalah “orang Jawa”.

Tapiii… ada sebuah tapi, saudara-saudara.

Tapi.

Tapi.

Bahwasanya, saya tak pernah merasa diri sebagai suku yang disebut! 😮

Anda mungkin tak percaya, tapi begitulah adanya. Sebagai pemuda yang — katanya — Jawa, saya bisa dibilang sekadar “Jawa di luar saja”. Saya agak malu mengakui ini, tapi saya lebih piawai berbahasa Inggris daripada Jawa; lebih hapal Hiragana daripada Hanacaraka; juga pernah bertanya-tanya kenapa Gatotkaca tidak ikut membantu Sri Rama menolong Shinta. (*pembaca yang ngerti Mahabharata, silakan ngakak*) Kalau Raden Mas Minke merasa jadi anak mursal karena terpengaruh Eropa dan hilang kejawaannya, barangkali saya lebih parah. Barangkali saya bisa diibaratkan orang yang numpang lahir pada pasangan berdarah Jawa saja. ^^;

Tentunya semua itu ada penyebabnya. Kenapa bisa begitu, nah, ini ada ceritanya lagi.

 

When It Started

 

Sahibul hikayat, saya dilahirkan dalam keluarga “penjelajah” Pulau Jawa. Bukan “penjelajah” dalam artian Dora The Explorer, tentu. Yang saya maksud adalah, orang-orang dalam keluarga saya dilahirkan di tempat-tempat yang berbeda di pulau tersebut.

Ayah saya berasal dari Boyolali, sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Tengah. Sementara, ibu saya tumbuh dan besar di pinggiran kota Surabaya. Mungkin ada di antara pembaca yang menyadari bahwa kultur Jawa Tengah dan Timur, walaupun mirip, sebenarnya memiliki sisi-sisi perbedaan: wayang vs. Srimulat, inggih-inggih vs. sindiran frontal; gaya abdi dalem dilawan humor “orang Madura”. Jadi bisa Anda bayangkan cultural mix-and-match yang terjadi di sini.

Sementara itu, saya lahir di… Jawa Barat. Bagian lain Jawa yang terkenal dengan lalap sambel, iklim dingin, dan penduduk yang (konon katanya) penyabar-kalem dan tak gampang marah.

Tiga tahun kemudian, adik perempuan saya lahir di… DKI Jakarta. Bagian lain Jawa yang akrab dengan kultur Betawi yang blak-blakan, santai, dan “gimana nanti aja”.

Alhasil, jadilah keluarga saya sebagai tempat bertemunya macam-macam budaya. Keluarga ayah saya njawa banget; keluarga ibu saya dengan Jawa Timurannya yang witty; saya melongok keluar melihat kota Jakarta, dan adik saya terpengaruh gaya Betawi yang santai hasil didikan lingkungan (dan Si Doel). Tambah ramai kalau Pakde saya datang dari Klaten, dan tante saya (dari pihak ibu) hadir. Yang satu akan bercerita tentang Pandawa Lima, sementara yang lain tertawa-tawa nonton Srimulat…

you have the idea. Kalau ini disebut sebagai budaya Jawa, saya tak setuju. Rasanya lebih tepat kalau disebut sebagai “budaya campuraduk PULAU Jawa”. Yang kurang barangkali hanya Sunda, sebab keluarga saya cuma berdiam sekitar dua tahun di sana — yakni sekitar waktu saya lahir.

Dan belasan tahun kemudian, ternyata saya kuliah di Bandung. Maka lengkaplah…

 

Tapi Saya Bukan Orang Jawa!

 

Sebagaimana sudah dijelaskan, saya tumbuh dan besar di lingkungan budaya heterogen. Ada budaya Jawa Timuran; ada Jawa Tengah; ada Betawi hasil pengaruh lingkungan. Tambahkan fakta bahwa pembantu rumah tangga saya selama belasan tahun berasal dari keluarga Betawi, dan bahwa Si Doel (waktu itu) sedang jaya-jayanya — saya dan adik saya pun dengan sukses belajar ngobrol gaya Betawi.

Saya tahu, pada dasarnya, saya dan adik saya berdarah Jawa. Tapi apa mau dikata — kalau masing-masing ternyata lebih pandai berkata “Gue kate juga ape…” daripada inggih atau mboten ?

Yang berbau Jawa dari saya barangkali hanya nama saja (adik saya tertolong karena namanya berbau Arab). Dan juga tampang. Tapi, di luar itu, zero.

Mau ajak saya ngobrol tentang wayang? Beuh, nama Pandawa Lima saja saya tak hapal. Mau ngomong Jawa? Saya enggak ngerti. Hal-hal mistik seperti lelaku, weton, dan keris? NO WAY! Sumpah mati tidak melebih-lebihkan, sodara-sodara. Sebagaimana telah diutarakan di atas tadi, saya ini sekadar Jawa karena disangka orang. Padahal kenyataan sebenarnya tidaklah seindah itu. 😥

*halah*

 

Jakarta dan Pandangan yang Berbeda

 

Meskipun begitu, belakangan ini saya berpikir: jangan-jangan, kecenderungan saya untuk tidak mengelompokkan diri dalam suku tertentu aslinya disumbang oleh lingkungan tempat saya tumbuh. Jangan-jangan sebenarnya ada faktor pendorong juga dari luar, di samping “gado-gado budaya” yang disebut sebelumnya.

Kalau Anda pernah tinggal di Jakarta, atau pinggiran Jakarta, pasti tahu bahwa banyak di antara tetangga Anda adalah pendatang. Tetangga depan rumah saya dulu — yang kemudian jadi teman baik untuk waktu yang lama — adalah keturunan Bugis. Tetangga sebelah kiri dan kanan berasal dari Jawa. Agak jauh ke samping ada bapak-ibu asal Manado. Ada juga keluarga dari Padang, dan putri mereka jadi teman sekelas saya di SMP. Keragaman ini baru saya sadari belakangan ketika sudah ABG.

Rasa-rasanya, keragaman ini jualah yang mendorong saya berpikir sebagai berikut.

“Hei, peduli amat kalau saya bukan orang Jawa. Memangnya kesukuan itu penting, yah?” 😆

Kalau saya tak paham serat Arjuna Wiwaha, memangnya teman saya yang orang Bugis bisa? Kalau saya tak mengerti bahasa Jawa, memangnya kenapa. Teman-teman dan guru saya berasal dari berbagai Propinsi. Haruskah saya bicara Kromo Inggil dengan Bapak Siahaan dan Uni Hanifa? Menurut saya, tidak!

Alhasil, sejak itu saya jadi mengabaikan konstruksi sosial bernama “suku budaya”. Menurut saya itu hal yang kurang signifikan. Kita hidup di zaman di mana orang dari mancadaerah berkumpul, bukan lagi dalam kelompok-suku yang homogen. Kalau orang Dayak punya Mandau, orang Jawa punya keris — tapi, saya tak perlu bahasa Jawa untuk ngobrolin senjata daerah. Kan begitu?

Tentu, adakalanya saya ditanya tentang budaya Jawa oleh orang suku lain. Mungkin tentang wayang dan sebagainya. Untuk itu biasanya saya bilang, “Wah, mohon maaf, saya juga kurang tahu. Saya besar di Jakarta soalnya.” Habis perkara. Mungkin saya akan dibilang payah karena pengetahuan “kejawaan” saya kurang. Tapi, hei, saya kan selalu bisa belajar. 😀

 

Pemerhati Segala Bangsa

 

Efek lain yang saya dapat, gara-gara malas mengatributkan diri dengan kesukuan, adalah bahwa saya jadi terfokus pada betapa luasnya kemanusiaan itu. Sejak kecil saya belajar untuk melihat perbedaan; saya tumbuh dan besar di lingkungan yang heterogen. Guru-guru PPKn, biarpun digerutui para murid, selalu dengan rajin menekankan: “Jangan mengungkit SARA. Jangan membedakan teman. Jangan bersikap kedaerahan…” dan seterusnya.

Kalau boleh jujur, saya berhutang besar pada para guru tersebut. Merekalah yang — secara tidak langsung — membentuk saya agar memandang orang tanpa embel-embel stereotip. Saya tak percaya bahwa semua keturunan Tionghoa itu pelit dan culas (the fact that I favor oriental-looking girls does help). Saya tak percaya bahwa orang Jawa adalah yang paling sopan dan unggah-ungguh di Indonesia (saya pernah ketemu orang Jawa brengsek yang berprofesi sebagai penipu). Saya tak percaya orang Batak umumnya galak dan bicara keras (teman baik tante saya amat ramah dan ‘hobi’ mentraktir)… dan lain sebagainya. Di sisi lain saya percaya bahwa cewek Padang itu umumnya cakep-cakep. Agak generalisasi sih, but what can I do?

Alhasil bin walhasil, saya jadi terbiasa memandang orang di atas atribut kesukuan dan ras. Yang mana pada akhirnya…

…membuat saya jadi tidak peduli asal budaya sesuatu hal. Kalau ada sesuatu hal yang catchy, unik, menarik, atau paling tidak memorable, maka saya akan menyukainya. Biarpun asalnya dari seberang pulau atau samudra.

Saya suka masakan Padang, tapi juga suka lalap sambel-daun kemangi khas Sunda. Saya suka sayur asem, tapi benci setengah mati pada sayur lodeh. Saya belajar bahasa Jepang, sambil tertarik pada nama-nama Rusia dan Irlandia. Saya sama kagumnya pada Angkor Wat seperti saya kagum pada Borobudur. Gatotkaca tak jauh beda daripada Hercules dan Achilles; atau Ksatria Siegfried kalau Anda mau contoh dari Jerman.

Saya suka nonton dorama dan anime, dengar musik klasik, pasang lagu Bon Jovi dan Aerosmith — pokoknya, asalkan cocok, anything goes! 😎

 
Dan dengan demikian, saya pun mencoba untuk jadi anak semua bangsa. Saya bukan orang Jawa, bukan pula suku bangsa manapun di muka bumi. Meskipun begitu, saya tertarik mempelajari apa yang saya rasa menarik… sebagaimana sekantong keripik sanjay khas Padang atau teh wasgitel khas Jawa Tengah membuat saya tergiur. 😉

***

Dipikir-pikir, mungkin itu juga sebabnya tidak punya preference “cewek cantik itu seperti apa”. Cinta pertama saya orang Minang; tapi saya juga pernah naksir keturunan Sunda-Jawa dan Palembang. Saya suka tampang setengah-oriental seperti Susan Bachtiar (waktu beliau host Galileo!) — tapi juga tidak merasa tipe Kaukasus seperti Emma Watson itu jelek. Yang saya agak bingung barangkali kenapa banyak orang tergila-gila pada Maria Sharapova. Menurut saya banyak atlet putri lain yang lebih cantik daripada dia. 😕

*dilempar sandal*

*bletaaakkk*

Ahem.

Jadi, saya pikir, pada akhirnya saya tak usah peduli saja pada masalah “saya ini orang mana”. Sebab yang terpenting adalah menjalani hidup, menikmati keragaman budaya mancanegeri (dan daerah) — sambil sebisa mungkin jadi diri sendiri saja. Saya adalah anak semua bangsa yang belajar dari apa yang ada, apa yang bisa diresapi dan dinikmati. End of story.

Paling tidak, saya bisa baca Nibelungenlied sambil minum teh tarik dan makan emping…

Read Full Post »

Dulu, waktu saya masih kecil, ayah saya pernah menyampaikan ucapan yang — kira-kira — intinya sebagai berikut.

“Setiap kali ini-itu, pasti menangis. Jangan jadikan tangisan sebagai senjata.”

Saya tak ingat waktu itu saya sedang apa, atau menangis karena apa. Meskipun begitu, ucapan tersebut sangat membekas di hati saya sampai sekarang. Merajuk itu tidak baik, begitu intinya. Kalau kamu minta pengertian dengan menangis, tapi tanpa alasan yang kuat, itu sama saja dengan manja.

Tentunya ini bukan berarti orang tak boleh menangis sama sekali. Yang tidak boleh adalah menangis untuk meraih simpati orang, lantas mengambil keuntungan darinya.

Saya tahu, kalimat di atas terkesan keras dan terkesan ‘tidak berhati’. Tapi saya juga tahu bahwa itu ada benarnya. Dunia kita adalah dunia yang keras: orang bisa memohon-mohon dengan air mata dan tampang memelas, sementara dalam hatinya mereka sedang mengatur perangkap. Orang-orang macam ini menyedihkan. Mengemis belas kasihan, mengharap dukungan moral ataupun material… tetapi, adakah mereka punya alasan untuk dikasihani?

Belum tentu.

Kalau Anda sering main ke Jakarta (atau kota-kota besar lainnya di Indonesia), Anda mungkin pernah bertemu orang-orang macam ini. Biasanya orang tersebut bilang, “Dik, tolong minta uang pulang kampung. Barusan saya dicopet…” Matanya berkaca-kaca tanda kesedihan. Anda pikir dia tulus? Ha! Main saja ke tempat yang sama esok hari, dan lihat apa dia masih ada di situ. Dicopet kok berulang-ulang. :mrgreen:

Saya beberapa kali mengalami yang seperti ini. Ada dua orang di Bandung yang saya sampai kenal dengan wajahnya. Yang satu berkata bahwa dia sedang menuju Kiara Condong, tapi nyasar di Dago, dan kehabisan uang; yang satu lagi berkata bahwa dia datang dari Garut dan kecopetan. Demi mendapat sesuap nasi™ pengisi malam, ia lalu menjadi tukang parkir ilegal di taman kota…

…menyedihkan? Enggak sama sekali. Lha wong saya ketemu mereka berulang-ulang kok. Yang pertama saya ketemu di Dago tiga kali (!), sementara yang kedua, dua kali di dalam kampus. 😆

Hmmmmmmm.

***

Dari dulu, dan sampai sekarang, saya selalu jengkel pada orang yang jualan air mata. Atau, dalam pengertian yang lebih luas, jual kasihan. Mulai dari calon idola Indonesia yang nggak bisa nyanyi tapi bapaknya tukang becak, sampai tokoh cewek yang nangis-nangis di sinetron gara-gara ketahuan selingkuh. Pertanyaannya, buat apa? Mau dapat apa orang dengan air mata?

Ini sama saja dengan saya nangis-nangis di depan dosen, bercerita tentang semua kesulitan hidup, dengan harapan beliau jatuh simpati dan meluluskan saya dari kuliahnya. Enggak mutu. Limpahan SMS dari seluruh pemirsa Indonesian Idol sekalipun takkan mampu membuat saya lulus kuliah fisika kuantum, kalau saya memang layak dapat E. 😐

Saya pikir ada yang salah dengan kultur “air mata dan belas kasihan” ini. Masalahnya, sebagian kita terlalu mudah jatuh simpati. Simpati itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu. Mulai dari yang pura-pura kesasar, pura-pura kecopetan, hingga pura-pura bisa nyanyi dan ikut kontes idola. Untuk apa simpati itu dimanfaatkan, tujuannya tentu saja bervariasi.

Entah siapa yang salah. Apakah si pelaku yang sengaja mempromosikan kesialannya, atau masyarakat yang terlalu gampang kasihan? Sejujurnya, saya juga tidak tahu.

Meminjam lirik lagu Ebiet G. Ade,

Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langit…

Barangkali di sana ada jawabnya…

Oh well. 😆

Read Full Post »

Ada sebuah scene dari buku pertama serial Harry Potter, yang sampai sekarang masih membekas di pikiran saya. Saat itu Harry baru saja berkenalan dengan Ron Weasley, dan sedang naik kereta dalam perjalanan menuju Hogwarts.

Ron had taken out a lumpy package and unwrapped it. There were four sandwiches inside. He pulled one of them apart and said, “She always forgets I don’t like corned beef.”

“Swap you for one of these,” said Harry, holding up a pasty. “Go on -”

“You don’t want this, it’s all dry,” said Ron. “She hasn’t got much time,” he added quickly, “you know, with five of us.”

“Go on, have a pasty,” said Harry, who had never had anything to share before or, indeed, anyone to share it with. It was a nice feeling, sitting there with Ron, eating their way through all Harry’s pasties, cakes, and candies (the sandwiches lay forgotten).

Syahdan, Harry Potter tidak pernah punya teman selama sebelas tahun pertama hidupnya. Ia selalu dikerjai oleh Geng Dudley; paman dan bibinya bersikap acuh-tak-acuh; apparently the ingredients to create an emo boy. Orang bertanya-tanya kenapa dia tidak tumbuh jadi seorang misantropik. Saya sendiri merasa bahwa, jika saya yang menulis ceritanya, hampir pasti saya akan membuat Harry jadi karakter yang brooding dan membenci dunia… tapi itu cerita lain untuk saat ini.

Pertanyaannya adalah: motif apa yang membuat Harry membeli begitu banyak pastel dan permen di atas Hogwarts Express, lantas mengajaknya bertukar dengan sandwich Ron? Sebagai tanda persahabatan? Mungkin. Atau sekadar simpati setelah melihat rasa inferioritas Ron? Itu juga mungkin. Meskipun begitu, saya merasa bahwa ada suatu pendorong yang tak kalah pentingnya, yang membuat Harry berinsiatif berbagi pastel dengan Ron:

“Go on, have a pasty,” said Harry, who had never had anything to share before or, indeed, anyone to share it with.

Harry bukan saja tak punya sesuatu yang layak dibagi dalam sebelas tahun. Lebih jauh lagi, dia tak punya seorangpun untuk berbagi: materiil atau moral, Keluarga Dursley tak pernah memberinya kesempatan itu.

***

Ilustrasi suguhan J.K. Rowling di atas membuat saya berpikir, bahwasanya manusia mungkin kodratnya adalah ‘makhluk berbagi’. Bukan karena ingin merasa penting — melainkan karena berbagi itu melegakan. Entah itu kebahagiaan, kesedihan, atau sekadar cerita remeh-temeh, orang tak ingin mengalaminya sendiri.

Ketika Anda masih SD, Anda mungkin pernah mendapat nilai ulangan 100, lantas ingin cepat pulang dan menunjukkannya pada orangtua. Ketika Anda berulang tahun, Anda menyusun daftar teman yang ingin Anda ajak makan-makan; ketika Anda menikah, Anda mengundang famili dan relasi; dan lain sebagainya.

Selalu ada yang kita cari untuk menyampaikan isi hati. Orang yang bilang bahwa dia tak butuh berbagi adalah pembohong. Ketika dia bahagia, dia ingin bercerita; ketika dia sedih, maka dia ingin dimengerti. Orang yang tidak punya niat berbagi adalah orang yang kesepian.

 
Another Version of Hedgehog Dilemma
 

Tetapi, apakah saling berbagi itu jaminan kebahagiaan? Sedihnya, tidak selalu begitu.

Analogikan kasusnya seperti ini — saya modifikasi sedikit dari dilema landak-nya Schopenhauer.

Misalnya terdapat bayi landak yang baru lahir di musim dingin. Agar bayi landak tidak mati kedinginan, maka ibu landak harus tidur berdempetan dengannya, memberikan panas tubuh pada si bayi tersebut.

Tetapi landak adalah hewan berduri. Jika si ibu terlalu dekat dengan anaknya, maka sang anak akan menderita tertusuk duri. Sedangkan jika si ibu terlalu jauh, maka sang anak tidak mendapat kehangatan yang dibutuhkan.

Di sini si ibu landak harus berhati-hati. Niatnya berbagi kehangatan boleh jadi justru dipersepsi sebagai serangan/abuse oleh si anak.

Terkadang niat untuk berbagi saja tidak cukup. Ada faktor-faktor lain yang, jika tidak dipertimbangkan dengan baik, justru berpotensi membawa dampak negatif.

Bayangkan seandainya pastel Harry Potter dianggap sebagai penghinaan oleh Ron. Mungkin dia akan berkata, “Saya memang miskin, OK! Kamu tak perlu berbagi seperti itu!” Bayangkan seandainya, ketika Anda bercerita pada teman tentang nilai 100 di ulangan, teman Anda menanggapi, “Iya deh, kamu pintar. Puas?” Dan lain sebagainya.

Menurut saya ini hal yang ironis. Ketika orang hendak berbagi, atau sekadar bercerita tentang hidup, reaksi yang didapat bisa sangat negatif. Padahal niat aslinya mungkin tak seburuk yang disangka.

 
Case for Avoidance
 

Salah satu hal yang disorot oleh analogi landak — baik versi aslinya ataupun modifikasi yang saya paparkan di atas — adalah bahwa bersikap menghindar (avoidant) bisa jadi jalan keluar. Daripada menyakiti atau disakiti, lebih baik untuk bersikap diam dan menghindar.

Schopenhauer mengibaratkan landak sebagai manusia. Setiap kali manusia berinteraksi dengan yang lain, maka mereka berpotensi saling menyakiti. Baik lewat kata-kata maupun perbuatan. Disadari atau tidak disadari. Disengaja atau tak disengaja. Pada akhirnya manusia jadi seperti landak yang dikisahkan: mereka ingin berdekatan, tetapi ketika berdekatan, mereka justru saling tertusuk. Oleh karena itu, daripada saling menusuk, lebih baik jika mereka berjauhan saja.

Tapi apakah ini jalan keluar yang baik?

Saya merasa bahwa masalah sebenarnya lebih mendasar daripada itu. Bersikap avoidant tidak menyelesaikan masalah. Dia sekadar menghindarkan kita dari rasa sakit, tetapi sumber rasa sakit itu masih tetap ada. Selama landak masih punya duri, maka begitulah adanya. Dan selama manusia kesulitan memahami yang lain, maka kemungkinan mereka menyakiti yang lain akan tetap terbuka.

***

Ada kalanya dalam hidup, saya ingin berbagi sesuatu hal pada orang lain. Tetapi saya tidak punya orang yang siap menerimanya.

Ada kalanya dalam hidup, saya mempunyai orang yang siap mendengarkan dan menerima — tetapi saya tidak ingin berbagi dengannya.

Dan ada kalanya dalam hidup, saya berbagi sesuatu hal pada orang yang (saya kira) siap menerimanya — tapi ternyata saya salah. Terkadang rasanya menyakitkan. But then that’s what life is all about.

 
But still, I do harbor this one feeling. To have someone to whom you can confide, and whom you can share many things with, is luxury. Sebagaimana sudah saya tulis sebelumnya, orang yang mengatakan bahwa dia tak hendak berbagi adalah orang yang kesepian. Di saat bahagia kita ingin bercerita; di kala sedih kita ingin dimengerti. Orang-orang yang (sok) emo mungkin bangga dengan kesendiriannya — tetapi saya bertanya, seberapa seringnya mereka merenungi hal itu.

Mungkin Schopenhauer benar. Manusia sebenarnya seperti landak: ingin saling berinteraksi, tapi tanpa sengaja justru saling menyakiti. Bersikap hati-hati mungkin merupakan pilihan terbaik.

Read Full Post »

Suatu ketika, Bapak Richard Feynman, seorang fisikawan peraih Nobel, diundang hadir dalam konferensi interdisiplin. Layaknya konferensi interdisiplin, yang hadir di sana adalah para tokoh dari berbagai bidang — di antaranya teologi, filsafat, etika, dan sosiologi.

Nah, beliau diundang sebagai wakil kalangan ilmuwan.

Meskipun begitu, tak berapa lama, Pak Feynman menemukan suatu masalah. Dia tidak mengerti pembicaraan orang-orang di konferensi tersebut! 😮

Tentunya ini aneh. Apa mungkin beliau, yang dosen fisika sekaligus ilmuwan terkenal, tidak paham topik konferensi interdisiplin? “Pasti ada yang salah dengan pendekatan saya,” demikian pikir beliau.

Menyadari hal ini, beliau pun berintrospeksi. Sebagaimana diceritakan dalam autobiografinya,[1]

Aku mulai membaca makalah sial itu, dan mataku hampir copot; aku tidak paham sedikit pun! Kupikir itu karena aku belum membaca buku-buku dalam daftar. Aku punya perasaan tak nyaman bahwa aku “tak mampu”. Akhirnya, aku bilang pada diriku sendiri, “Coba aku berhenti di satu bagian, dan kubaca satu kalimat lambat-lambat, supaya aku bisa menggali apa sih artinya.”

Jadi, aku berhenti secara acak—dan membaca kalimat berikutnya dengan hati-hati. Aku tak tahu persisnya tentang apa, tapi kalimat itu kira-kira begini: “Seorang individu dalam suatu komunitas sering menerima informasinya melalui saluran simbolik-visual.”

Aku bolak-balik memikirkannya, dan menerjemahkannya. Tahu apa maksudnya?

“Orang membaca”.

***

Kalau boleh jujur, saya sering bingung tiap kali membaca tulisan — atau ngobrol dengan — orang-orang yang berlatar belakang filsafat. Masalah utamanya satu: mereka cenderung terpaku pada gaya bahasa teknis dan khas-filsafat. Mbulet. Atau, dengan kata lain, begitu rumitnya hingga sulit dimengerti oleh pembaca/pendengar pada umumnya.

Ya, tidak semuanya sih. Setidaknya saya rada nyambung dengan tulisan-tulisan bertema filsafat di blognya mas Fertob dan mas gentole. Mungkin kembali pada bagaimana si penulis bisa menjelaskan idenya. Meskipun begitu, tetap saja yang satu ini sering terjadi: orang berbicara filsafat, saya mendengarkan, dan wuss… mendadak semua jadi kabur.

Saya pernah membaca kumpulan esai Goenawan Mohamad, dan saya jadi bertanya-tanya: apa artinya “poststrukturalisme Adorno” dan “feminisme Kristeva”. Saya tak tahu siapa itu Bertold Brecht, tapi tetap saja beliau menulis panjang-lebar tentangnya. Saya pernah nyasar ke forum internet tentang filsafat — ada bahasan tentang “dekonstruksi Derrida” dan sebagainya — tapi, apa itu “dekonstruksi Derrida”, tidak ada yang menjelaskan. No, nein, nai!

Jalan keluarnya? Sudah tentu bertanya ke wikipedia atau mbah gugel. Mau bagaimana lagi? (-_-)

***

Jadi, sejak itu, saya belajar satu hal. Orang-orang filsafat itu suka sekali memakai istilah teknis dan aneh, yang belum tentu audiensnya paham. Seperti halnya contoh brilian yang disampaikan Pak Feynman di atas: ide sederhana seperti “orang membaca” pun bisa ditulis muter-muter hingga terdengar ajaib!

 

Kultur dan Penerimaan
 

Kemudian saya berpikir, mungkin kultur kita juga turut menyuburkan kebiasaan buruk ini. Orang-orang filsafat itu mungkin terlalu mendapat sanjungan yang berlebihan.

Kalau orang filsafat menyitir Derrida, Heidegger, dan Wittgenstein, orang yang tidak paham memandangnya: “Wah, hebat. Dia paham filsafat. Orang pintar, ini!”

Sementara, kalau orang fisika menyebut “radiasi Hawking” atau “Anomali Efek Zeeman”, orang yang tidak paham memandangnya: “Dia pintar sih, tapi nerd banget. Omongannya fisika tinggi terus.”

Bisa Anda lihat bedanya. Kalau bisa ngomong “Dekonstruksi Derrida”, keren; kalau mengerti “Anomali Efek Zeeman”, nerd. Padahal keduanya sama-sama topik yang obscure dan advanced. Kenapa pula ditanggapi secara berbeda?

 
Speaking of which, ini mengingatkan saya pada sepak-terjang para ilmuwan dalam beberapa dekade terakhir. Menyadari bahwa masyarakat kesulitan mencerna penelitian mutakhir, mereka pun aktif memperkenalkan diri lewat sains populer. Mulai dari Stephen Hawking, Carl Sagan, hingga Richard Dawkins. Mereka ingin pekerjaan mereka bisa dimengerti dan dinikmati orang banyak. So there goes.

Di sisi lain, kalangan filsafat terkesan cuek pada fenomena ini. Alih-alih mencoba memperkenalkan filsafat dengan cara yang lebih akrab, mereka lebih sering menjelaskan begini-dan-begitu versi mereka. Atau mungkin merasa kurang perlu mempopulerkan gagasan mereka. Or something like that.

Singkatnya, ada yang kurang cocok di sini. Filsafat kini terkesan lebih menara gading dibandingkan sains — dalam artian lebih bisa dipandang tinggi, dan dihargai, tanpa harus dimengerti. Lebih mudah mensituasikan pakar MIPA sebagai nerd dibandingkan pakar filsafat sebagai nerd.

Padahal, kalau saya boleh menganalogikan,

Orang yang menjelaskan eksistensialisme — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyitir Nietzsche, Camus, dan Sartre,

KURANG LEBIH SAMA DENGAN

Orang yang menjelaskan Mekanika Kuantum — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyebut Efek Casimir dan Percobaan Ashfar.

Mereka sama-sama menjelaskan suatu gagasan, tapi tidak melakukannya dengan baik. Enggak bakal nyambung.

 

Jadi?
 

Ada sebuah kutipan bijak dari dosen saya, yang disampaikan waktu saya masih duduk di tingkat dua. Bunyinya kira-kira sebagai berikut:

Ada dua cara membuat orang kagum pada Anda.

Pertama: jelaskan suatu topik sampai dia mengerti,

Kedua: jelaskan suatu topik sampai dia tidak mengerti.

Mengenai maknanya… hmm, saya rasa tak perlu dijelaskan lagi. Silakan dihayati sedalam-dalamnya. :mrgreen: *halah*

 

Sebuah Catatan Akhir!
 

Di awal tadi, saya bercerita tentang pengalaman Pak Richard Feynman. Kisah itu belum selesai — masih ada lanjutannya berikut ini.[2]

Pada hari kedua, ahli steno itu mendatangiku dan bilang, “Apa pekerjaan Bapak? Pasti bukan dosen.”

“Lho, saya dosen.”

“Dosen apa?”

“Fisika-IPA.”

“Oh! Pasti itu sebabnya,” katanya.

“Sebab apa?”

Dia bilang, “Begini, saya kan tukang steno, dan saya mengetik semua yang dikatakan di sini. Nah, kalau orang lain yang bicara, aku ketik apa yang mereka katakan, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bilang. Tapi, kalau Bapak yang berdiri dan bertanya, atau mengatakan sesuatu, saya mengerti apa maksud Bapak—apa yang ditanyakan, dan apa yang dikatakan—jadi, saya pikir, Bapak tidak mungkin dosen!”

Well, there you have it. So… meh. 😆

 

——

Referensi:

 
[1] Feynman, R.P. 2003. terj. Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika. Bandung: Penerbit Mizan, hlm 313 (dengan perubahan seperlunya)

[2] ibid.

Read Full Post »

Cowok #1: “Sabar, sabar. Orang sabar disayang Tuhan, terlalu sabar nggak kebagian.”

 
Didengar oleh seorang mahasiswa yang terpesona, dan langsung berhenti menyantap nasi gulai, di pinggiran jalan kota Bandung.

Hmmm. Witty remark. =3

Read Full Post »

*rehat dulu dari seri postingan mekanika kuantum*

 

 
Belakangan ini, saya jadi ingat pada sebuah post di blognya Pak Enda.

 
“Tapi ya silahkan saja untuk dicoba”, tambah MEREKA, “kami tidak pernah menghalangi siapapun untuk menyebrang dan hidup di alam maya, kami cuma mengharap agar kamu dapat cerdas dan bisa beradaptasi dengan baik, berperilaku sesuai normal, kebiasaan yang sudah berlaku disini.”

“Kata orang bijak, masuk kandang kambing mengembik masuk kandang harimau mengaum.” MEREKA berperibahasa. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”

[…]

Alam kasar dan ALAM MAYA pun kadang bersinggungan. Kadang-kadang penduduknya bisa ketemu, dan itu biasanya menimbulkan kengerian.

Beginilah jadinya kalau orang tidak siap berhadapan dengan internet. Datang-datang langsung main ad hominem, fallacy, dan trolling. Belum tahu dia kalau ini ranah publik yang punya etika. 😆

Satu lagi:

[…] gw baru saja liat blog teman2 segenggongblogmu yang ternyata semua sama saja dengan engkau, mikir cuma di permukaan dan tidak mencoba untuk ke dasarnya. bagusnya mereka tidak seagresif dirimu. dan gw perhatikan tuhan kalian itu wikipedia yak. bagus sekali, itu memang tuhan yg selalu up to date.

 
[sumber]

Generalisasi apa ini? Mempertuhankan Wikipedia? Saya kan temannya Si Lemon di WordPress Indonesia; otomatis saya juga kena, dong. 😕

Kalau iya… makan tuh referensi. :mrgreen:

 

~can’t help
~but feeling amused 😆

***

Begini, bukannya saya peduli Si Lemon itu siapa, berbuat apa, dan mau diapain. Itu urusan kalian. Permintaan saya cuma satu:

Mbok ya kalau bertingkah di blogosphere itu yang dewasa. Jangan menyerang kepribadian, apalagi generalisasi gak jelas. Ditambah lagi hate-speech-nya sampai merambat ke blog orang lain (here, here). Paling tidak, tunjukkanlah kesan yang relatif baik dan bersahabat. 😐

You’re disrupting the peace here. ‘Nuff said.

 

———

Baca juga:

    The Core Rules of Netiquette
    — Tentang etika di internet

last updated at: Sept 19, 2008. 11:56 am

Read Full Post »