Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘In-depth Coverage’ Category

Pembaca reguler blog ini mungkin sudah tahu bahwa saya sangat suka main-main dengan nama dan etimologi (salah satu contohnya bisa dibaca di tulisan yang ini). Bagi saya, mengamati nama orang bisa dibilang sebagai hobi — setiap kali mendengar nama yang lumayan catchy, biasanya saya akan tergelitik dan mencari akar katanya. Malah, kalau perlu, pergi ke internet dan mencari asal-usul nama tersebut… tapi bukan itu yang hendak kita bahas kali ini.

Nah, salah satu yang sering saya perhatikan adalah nama anak perempuan Indonesia zaman sekarang (baca: kelahiran ’90-an). Ternyata, banyak di antara mereka yang nama depannya berakhiran -ia! ๐Ÿ˜ฎ

Anda mungkin tak begitu yakin, tapi, kalau mau contoh, Anda bisa lihat judul tulisan di atas. Artemia, Alifia, Lavinia, Aurelia — nama-nama yang bisa Anda temukan kalau Anda main ke SD terdekat dan mengecek daftar absennya. Menurut saya ada semacam pola di sini.

Tentunya kecenderungan tersebut bukannya tanpa alasan. Kenapa bisa begitu, nah, ini ada ceritanya lagi.

 

 

Back to The Past:
Nama-nama Feminin dalam Mitologi Romawi-Yunani Kuno

 

Sahibul hikayat, masalah nama ini bermula ribuan tahun lalu, ketika orang-orang Yunani (dan Romawi) sibuk berkisah tentang para dewa. Bahasa Latin dan Yunani sama-sama diturunkan dari rumpun Bahasa Indo-Eropa — rumpun bahasa ini mempunyai kecenderungan menitipkan akhiran -a pada kata benda bersifat feminin.[1]

Bisa ditebak, kebiasaan tersebut kemudian terbawa dalam pemberian nama tokoh-tokoh dalam mitologi mereka. Sedemikian hingga muncullah nama-nama tokoh (wanita) sebagai berikut:


a) Mitologi Romawi

 

Aurora — dewi subuh
Fortuna — dewi keberuntungan
Minerva — dewi kebijaksanaan
Proserpina — penguasa akhirat; pendamping Pluto
Diana — dewi bulan dan perburuan

 

b) Mitologi Yunani*

 

Athena — dewi kebijaksanaan
Hestia — dewi rumah dan perapian
Rhea — ibu dari Zeus, penguasa Olympus
Europa — Putri Kerajaan Phoenicia, kekasih selingkuhan Zeus
Aegina — anak perempuan Asopus (dewa sungai)

 

*) Beberapa nama feminin dalam mitologi Yunani tidak melulu berakhiran dengan -a, semisal: Aphrodite, Selene, Demeter. Meskipun begitu, penyandang nama berakhiran -a hampir pasti perempuan — sangat jarang tokoh laki-laki memiliki nama berakhiran -a.

Dalam hal ini, Romawi lebih konsisten dengan penggunaan nama berakhiran -a untuk wanita. Kebiasaan ini kemudian diturunkan pada nama-nama Eropa modern. (misal: “Alexandra”, “Adriana”, “Francesca”)

Penggunaan nama-nama Latin dan Yunani kemudian menyebar seiring populernya mitologi mereka ke seluruh dunia. Di masa kini, tidak ada yang mengernyitkan dahi kalau mendengar orang Indonesia bernama “Diana”, “Aurora”, atau “Hestia”… atau orang Amerika bernama “Rhea”.

Seolah-olah, orang berlomba memberi nama anak perempuan berbau Eropa dan berakhiran -a! Kalaupun ada yang kurang terkenal, barangkali hanya “Medea” saja. :mrgreen:

*dilempar sandal sama mbak rise*

*bletaaakkk* xP

 

 

Akhiran -a: Bukan Hanya Milik Eropa

 

Sebagaimana sudah disebut di atas, nama yang memiliki akhiran -a umumnya akan terkesan feminin. Ini agak aneh; saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu (barangkali ada penjelasan psikoakustik di baliknya). Satu hal yang jelas, lebih mudah menemukan nama anak perempuan — di berbagai belahan dunia — yang berakhiran -a daripada (misalnya) -o atau -i.[2]

Saya pernah iseng mengamati daftar nama peserta kuliah di kampus. Kelasnya cukup besar, sekitar 100-an orang, dan bersifat lintas angkatan. Apa yang didapat? Ternyata saya menemukan nama-nama seperti “Dita”, “Paramita”, dan “Annisa”. Nama-nama itu jelas bukan nama Yunani, apalagi Romawi — tapi ternyata tunduk juga pada akhiran -a. ๐Ÿ˜•

Yang paling sering jadi korban ‘trend’ ini adalah nama-nama berbau Arab (e.g. “Annisa”, “Rizka”, “Zulaikha”), disusul nama-nama berbau Eropa (“Diana”, “Selena”, dst). Adapun nama-nama lokal Indonesia umumnya lebih banyak melawan arus dengan berakhiran -i, semisal “Miranti”, “Sundari”, atau “Astri”.

Sepertinya ada sesuatu di balik nama berakhiran -a yang membuatnya terkesan feminin. Atau tidak. Tapi, mengingat saya sendiri punya kesukaan pada sebuah nama berakhiran -a (Elesia!) … bukan mustahil kecenderungan di atas memang ada sesuatunya. ^^;

 

 

Genderflip Technique:
[male name] + [-a] / [-ia] = [female name]

 

Hal menarik lain yang saya temukan, sehubungan dengan akhiran -a yang sudah dijelaskan di atas, adalah bahwa tidak sulit mengubah nama laki-laki menjadi nama perempuan. Cukup modifikasi akhiran nama tersebut menjadi -a atau -ia, dan voila — nama perempuan pun didapat.

Orang yang biasa memperhatikan nama Eropa, mungkin akan bilang bahwa saya sedang menyampaikan hal basi. Tapi, tidak — masalahnya bukan itu. Bahwasanya, teknik ini berlaku relatif universal! ๐Ÿ˜€ Bukan saja untuk nama berbau Eropa, melainkan juga nama Semitik (Timur Tengah) dan Slavik (Eropa Timur).

Misalnya contoh-contoh di bawah ini.


a) Eropa Barat (Latin/Yunani)

 

Adrian + [-a] = Adriana
(asal bahasa: Latin. etimologi: Hadria, atau Laut Adriatik)

Aurelius + [-ia] = Aurelia
(asal bahasa: Latin. etimologi: aurum, “emas”)

Alexander + [-a] = Alexandra
(asal bahasa: Yunani. etimologi: alexo + andros, “penguasa”)

Theodoros + [-a] = Theodora
(asal bahasa: Yunani. etimologi: theos + doros, “pemberian Tuhan”)

 

b) Semit (Timur Tengah)

 

Daniel + [-a] = Daniela
(asal bahasa: Hebrew. etimologi: daniyyel, “God is my Judge”)

Darius + [-ia] = Daria
(asal bahasa: Farsi. etimologi: dรขrayavahush, “possessing goodness”)

Rizki + [-a] = Rizka
(asal bahasa: Arab. etimologi: rizq, “rezeki/berkah”)

Amal + [-ia] = Amalia
(asal bahasa: Arab. etimologi: amal, “tindakan/perbuatan positif”)

 

c) Slavik (Eropa Timur)

 

Yevgenii + [-a] = Yevgenia
(asal bahasa: Rusia. etimologi: Yunani eu + genes, “well-born”)

Radomir + [-a] = Radomira
(asal bahasa: Slav. etimologi: rad + mir, “kebahagiaan dan kedamaian”)

Stanislav + [-a] = Stanislava
(asal bahasa: Slav. etimologi: stan + islav, “stand with glory”)

Sebagaimana bisa dilihat, penambahan -a atau -ia pada nama pria, dalam banyak kasus, bisa menghasilkan nama feminin yang relatif catchy. Tak banyak yang tahu bahwa “Aurel” aslinya nama pria[3] — kan begitu? Tapi nyatanya sekarang banyak anak perempuan bernama “Aurelia”. Hanya dengan menambahkan akhiran -ia, nama yang ‘cantik’ pun terbentuk. :mrgreen:

Saya suka sekali main-main dengan penambahan -a dan -ia ini. Kalau misalnya ada pemain bola bernama Andrei Arshavin, maka saya tinggal menambahkan dua huruf ‘a’, dan jadilah…

Andrea Arshavina

Hey, that’s one pretty name. Saya rasa, kalau saya berkeliaran di Facebook pakai nama itu — sembari memasang foto gadis cantik di homepage — akan banyak orang terjebak meng-add saya. Tapi itu cerita lain lagi untuk saat ini. ๐Ÿ™‚

 

 

Akhir Kata…

 

Jadi, kesimpulan yang saya dapat hasil bongkar-bongkar nama orang selama ini adalah: kalau orang ingin menciptakan nama wanita yang catchy — baik itu untuk nama anak, hewan peliharaan, ataupun tokoh cerita — maka yang harus dilakukan adalah bermain-main dengan huruf ‘a’. Entah dengan menambahkan akhiran -ia, atau malah cuma menempel buntut huruf -a saja.

Huruf ‘a’ itu sakti: manfaatkan dengan benar, dan Anda mendapatkan nama feminin yang berpotensi terdengar cantik. Pokoknya, semakin banyak main ‘a’ dan ‘ia’, makin bagus! :mrgreen: Buktinya sudah banyak di atas, dan bisa saya contohkan lagi berikut ini.

 
Kalau Anda lebih suka nama bergaya Barat, ada Aurora, Artemia, Lavinia, Laura, dan Olivia.

Kalau Anda lebih suka nama Arab, ada Aisha, Fadila, Fathia, Zahra, dan Nadia.

Atau, kalau Anda lebih suka nama Eropa Timur: Svetlana, Ludmilla, Lara, Yevgenia, Adriana.

Saya bertanya-tanya, apa mungkin ada “sihir” tertentu di balik bunyi vokal ‘a’ dan ‘ia’. Sepertinya tak ada nama perempuan yang jelek kalau bumbu tersebut dipakai dengan tepat. Bahkan nama yang tadinya sudah bagus seperti “Windri” pun, seolah jadi lebih eksotis kalau disebut “Windria”.

Boleh jadi ada sesuatu dalam psikologi manusia yang membuat nama-nama tersebut terkesan manis. Entah apa. Mungkin bisa jadi bahan yang penelitian yang bagus untuk para linguis dan psikolog. Siapa yang tahu? ๐Ÿ˜‰

***

In all fairness, though, mari kita sama-sama berharap satu hal: agar nama-nama tersebut tidak ditemukan (dan dijadikan judul) oleh para pembuat sinetron Indonesia. Sejujurnya, saya sering miris dengan hal yang satu ini.

Sekarang ini amat jarang ada nama anak perempuan yang belum dijadikan judul sinetron. Mulai dari Fitri, Khanza, Melati untuk Marvel, Cahaya, Intan, Amanda… semua sudah dibuat. Berbagai sinetron tersebut dibuat secara kejar tayang. Dengan akting yang teramat biasa, juga dengan jalan cerita yang begitu saja. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda — tapi, yang jelas, saya akan kecewa sekali kalau nama seperti “Minerva” ternyata ujung-ujungnya jadi gadis menderita obyek siksaan tante galak.

Sebab, for God’s sake: Minerva itu Dewi Kebijaksanaan Romawi, tahu! Mana bisa yang seperti itu disuruh ngepel, dimarahi, dan dibuat menangis demi simpati pemirsa!! ๐Ÿ‘ฟ ๐Ÿ˜ˆ

 

 

——

 
Catatan Kaki

 

[1] ^

Beberapa contohnya bisa dilihat di:
Grammatical gender @ Wikipedia Bahasa Inggris.

Adapun untuk penjelasan yang lebih formal dan bersifat textbook, bisa Anda baca di:
Indo-European Linguistics oleh John Clackson (2007), chapter 4.4., pp.104-111.

(*disclaimer: saya cuma baca e-book-nya, jadi tidak beli dari situs ybs. ๐Ÿ˜› )

 
[2] ^

Pembahasan yang cukup menarik saya temukan di arsip milis LinguistList.org, bertanggal 18 Februari 2000. Salah satu kesimpulan akhirnya adalah, walaupun tidak ada aturan baku tentang akhiran -a pada nama feminin, kecenderungan tersebut memang ada dan valid secara statistik.

Paper terkait yang juga menarik, dirujuk oleh post milis tersebut:

Elizabeth and John: Sound patterns of men’s and women’s names
oleh E.A. Cutler, J.M. McQueen, dan K. Robinson. (1990)

 
[3] ^

Saya sering bingung setiap kali orang menyebut “Aurel” sebagai nama perempuan. Sejauh yang saya tahu, “Aurel” aslinya adalah nama laki-laki — yang mana nama ini disandang oleh beberapa figur sebagai berikut.

Granted, apabila ditambahi akhiran -ia, nama ini menjadi nama perempuan (“Aurelia”). Meskipun begitu, tanpa imbuhan tersebut, “Aurel” adalah nama laki-laki dan umum menjadi nama depan di wilayah Eropa Tengah (e.g. Rumania dan Hungaria).

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian keenam (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Setelah sebelumnya membahas tentang filsafat determinisme dan dunia kuantum, sekarang kita berpaling pada pertanyaan yang menggelayuti dunia sains (dan filsafat pada umumnya). Adakah kehendak bebas?

Di tulisan bagian IV.a, kita menemukan bahwa sifat ketidakpastian kuantum bernilai signifikan, asalkan orde benda — dalam jumlah atom — cukup kecil. Berangkat dari ide ini, beberapa ilmuwan berspekulasi tentang sistem otak dan kesadaran: mungkinkah kehendak bebas manusia dihasilkan lewat kaidah mekanika kuantum? Apakah kesadaran manusia, yang notabene kompleks dan nonlinear, berawal dari sini?

Here goes the story…

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian kelima (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Dalam kaitannya dengan dunia filsafat, penafsiran atas mekanika kuantum (quantum mechanics, QM) sangat diwarnai oleh latar belakang filsafat para ilmuwannya. Inilah sebabnya terdapat begitu banyak interpretasi QM yang masih berlaku hingga saat ini — sebagaimana sudah kita bahas di tulisan bagian tiga.

Di tulisan kali ini, kita akan membahas latar belakang filsafat yang dimiliki oleh para fisikawan kuantum. Di sini saya hadirkan tiga orang fisikawan generasi lama yang sering bersilang pendapat: Niels Bohr dan Werner Heisenberg di satu sisi, dan Albert Einstein di sisi lain. Adapun untuk memberikan pendapat yang lebih modern, saya sempatkan membahas sekilas mengenai David Deutsch.

Sebagai catatan, Deutsch mungkin tidak begitu terkenal dibandingkan tiga orang ‘raksasa’ yang disebut sebelumnya. Meskipun demikian, ia mempunyai pandangan filosofis cukup menarik (akan kita lihat di seksi #4b.5 kelak). Ditambah lagi ia sebenarnya seorang fisikawan besar in-the-making: what’s with the quantum computer and MWI! Jika Anda mengikuti perkembangan fisika modern akhir-akhir ini, maka Anda tahu apa yang saya maksud. ๐Ÿ˜€

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian keempat (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Dalam tiga tulisan sebelumnya, saya berulangkali menyinggung tantangan yang dilemparkan mekanika kuantum (quantum mechanics, QM) pada filsafat determinisme. Tulisan ini adalah bagian khusus yang akan membahas hubungan antara QM dan filsafat determinisme — baik di skala kuantum maupun makro.

Selamat membaca. ๐Ÿ˜‰

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian ketiga (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Di dua tulisan sebelumnya, kita sudah meninjau berbagai gejala alam di skala kuantum. Di bagian ini, kita akan membahas bagaimana gejala-gejala tersebut diinterpretasikan oleh para ilmuwan/ahli fisika.

Perlu dicatat bahwa saya hanya akan memberikan overview sekilas mengenai berbagai interpretasi tersebut (sederhana saja, ruangnya tidak mencukupi ^^; ). Lebih lanjut mengenai interpretasi-interpretasi tersebut, saya sarankan Anda mengeceknya lewat daftar referensi di akhir tulisan.
 
(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian kedua (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Di tulisan yang lalu, kita telah membahas konsep-konsep dasar QM yang bersifat non-intuitif/berlawanan dengan pengalaman sehari-hari. Sekarang, kita akan membahas lebih lanjut dua gejala yang menjadi ‘jantung’ dunia QM, yakni probabilitas dan superposisi kuantum.

Secara umum, hampir semua paradoks/interpretasi non-intuitif di dunia QM disumbang oleh dua hal tersebut (misal: Kucing Schrรถdinger, Wigner’s Friend, Quantum Immortality). Nah, akar dari paradoks inilah yang hendak kita selidiki.

Sebenarnya, bagaimana dua hal ini bekerja?
 
(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian pertama (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

First-off: The Non-intuitive Leap

    Baca juga: Wikipedia – Introduction to Quantum Mechanics

Ada sebuah kutipan yang menarik dari seorang punggawa terhebat Mekanika Kuantum, yakni Pak Niels Bohr.

Those who are not shocked when they first come across quantum theory cannot possibly have understood it.

~ Niels Bohr

Sepintas, kita mungkin mengira bahwa beliau sedang bercanda. Meskipun begitu, sebenarnya pernyataan beliau itu bermakna literal.

Mekanika Kuantum (Quantum Mechanics, selanjutnya saya singkat QM), memang cabang ilmu yang “tidak biasa”. Kasarnya, inilah tempat di mana berbagai asumsi yang kita anut mentah dan jungkirbalik. Sebenarnya ini hal yang wajar, sebab cara kerja alam di skala mikro (i.e. atom, molekul) memang jauh berbeda dengan di skala makro (i.e. dunia yang kita amati).

Ada beberapa hal yang terjadi di dunia kuantum, tetapi tidak begitu terasa/teramati di di skala makro. Beberapa dari topik ini akan saya bahas lebih mendetail di bagian selanjutnya di post ini. Meskipun begitu, yang jelas, saya ingin Anda take for granted bahwa Mekanika Kuantum mungkin berlawanan dengan dugaan dan jalan pikiran Anda. Jangan merasa bodoh jika Anda sulit menerima — sesungguhnya, semua orang mengalaminya.

Well, sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Bohr di atas tadi. Saya pun pernah merasakannya, so cheers. ๐Ÿ˜€

Jadi, mari kita mulai…

 

Overview

 

Fokus utama dari rangkaian tulisan ini adalah membahas konsekuensi filosofis yang diakibatkan oleh QM. Dengan kata lain, saya tak akan berpanjang-lebar membahas semua gejala dan asal-usul QM — waktu dan energi saya tak cukup untuk itu.

Sebagai gantinya, saya hanya akan membahas beberapa prinsip fundamental QM yang bersinggungan dengan konsep filsafat dan dunia makro. Termasuk diantaranya determinisme, positivisme logis, kaitan dengan metafisika, dan lain sebagainya. Inilah yang akan saya lakukan di tulisan bagian pertama ini.

Adapun jika Anda tertarik mempelajari lebih jauh tentang QM dan pernak-perniknya, saya sarankan Anda langsung berangkat ke bagian Referensi di bagian akhir tulisan. Di seksi tersebut saya menyertakan beberapa link (dan bibliografi) yang khusus membahas tungkus-lumus dunia QM. ๐Ÿ˜‰

Kembali ke topik utama. Off we go…
 
(more…)

Read Full Post »

Older Posts »