Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘In-depth Coverage’ Category

Pembaca reguler blog ini mungkin sudah tahu bahwa saya sangat suka main-main dengan nama dan etimologi (salah satu contohnya bisa dibaca di tulisan yang ini). Bagi saya, mengamati nama orang bisa dibilang sebagai hobi — setiap kali mendengar nama yang lumayan catchy, biasanya saya akan tergelitik dan mencari akar katanya. Malah, kalau perlu, pergi ke internet dan mencari asal-usul nama tersebut… tapi bukan itu yang hendak kita bahas kali ini.

Nah, salah satu yang sering saya perhatikan adalah nama anak perempuan Indonesia zaman sekarang (baca: kelahiran ’90-an). Ternyata, banyak di antara mereka yang nama depannya berakhiran -ia! ๐Ÿ˜ฎ

Anda mungkin tak begitu yakin, tapi, kalau mau contoh, Anda bisa lihat judul tulisan di atas. Artemia, Alifia, Lavinia, Aurelia — nama-nama yang bisa Anda temukan kalau Anda main ke SD terdekat dan mengecek daftar absennya. Menurut saya ada semacam pola di sini.

Tentunya kecenderungan tersebut bukannya tanpa alasan. Kenapa bisa begitu, nah, ini ada ceritanya lagi.

 

 

Back to The Past:
Nama-nama Feminin dalam Mitologi Romawi-Yunani Kuno

 

Sahibul hikayat, masalah nama ini bermula ribuan tahun lalu, ketika orang-orang Yunani (dan Romawi) sibuk berkisah tentang para dewa. Bahasa Latin dan Yunani sama-sama diturunkan dari rumpun Bahasa Indo-Eropa — rumpun bahasa ini mempunyai kecenderungan menitipkan akhiran -a pada kata benda bersifat feminin.[1]

Bisa ditebak, kebiasaan tersebut kemudian terbawa dalam pemberian nama tokoh-tokoh dalam mitologi mereka. Sedemikian hingga muncullah nama-nama tokoh (wanita) sebagai berikut:


a) Mitologi Romawi

 

Aurora — dewi subuh
Fortuna — dewi keberuntungan
Minerva — dewi kebijaksanaan
Proserpina — penguasa akhirat; pendamping Pluto
Diana — dewi bulan dan perburuan

 

b) Mitologi Yunani*

 

Athena — dewi kebijaksanaan
Hestia — dewi rumah dan perapian
Rhea — ibu dari Zeus, penguasa Olympus
Europa — Putri Kerajaan Phoenicia, kekasih selingkuhan Zeus
Aegina — anak perempuan Asopus (dewa sungai)

 

*) Beberapa nama feminin dalam mitologi Yunani tidak melulu berakhiran dengan -a, semisal: Aphrodite, Selene, Demeter. Meskipun begitu, penyandang nama berakhiran -a hampir pasti perempuan — sangat jarang tokoh laki-laki memiliki nama berakhiran -a.

Dalam hal ini, Romawi lebih konsisten dengan penggunaan nama berakhiran -a untuk wanita. Kebiasaan ini kemudian diturunkan pada nama-nama Eropa modern. (misal: “Alexandra”, “Adriana”, “Francesca”)

Penggunaan nama-nama Latin dan Yunani kemudian menyebar seiring populernya mitologi mereka ke seluruh dunia. Di masa kini, tidak ada yang mengernyitkan dahi kalau mendengar orang Indonesia bernama “Diana”, “Aurora”, atau “Hestia”… atau orang Amerika bernama “Rhea”.

Seolah-olah, orang berlomba memberi nama anak perempuan berbau Eropa dan berakhiran -a! Kalaupun ada yang kurang terkenal, barangkali hanya “Medea” saja. :mrgreen:

*dilempar sandal sama mbak rise*

*bletaaakkk* xP

 

 

Akhiran -a: Bukan Hanya Milik Eropa

 

Sebagaimana sudah disebut di atas, nama yang memiliki akhiran -a umumnya akan terkesan feminin. Ini agak aneh; saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu (barangkali ada penjelasan psikoakustik di baliknya). Satu hal yang jelas, lebih mudah menemukan nama anak perempuan — di berbagai belahan dunia — yang berakhiran -a daripada (misalnya) -o atau -i.[2]

Saya pernah iseng mengamati daftar nama peserta kuliah di kampus. Kelasnya cukup besar, sekitar 100-an orang, dan bersifat lintas angkatan. Apa yang didapat? Ternyata saya menemukan nama-nama seperti “Dita”, “Paramita”, dan “Annisa”. Nama-nama itu jelas bukan nama Yunani, apalagi Romawi — tapi ternyata tunduk juga pada akhiran -a. ๐Ÿ˜•

Yang paling sering jadi korban ‘trend’ ini adalah nama-nama berbau Arab (e.g. “Annisa”, “Rizka”, “Zulaikha”), disusul nama-nama berbau Eropa (“Diana”, “Selena”, dst). Adapun nama-nama lokal Indonesia umumnya lebih banyak melawan arus dengan berakhiran -i, semisal “Miranti”, “Sundari”, atau “Astri”.

Sepertinya ada sesuatu di balik nama berakhiran -a yang membuatnya terkesan feminin. Atau tidak. Tapi, mengingat saya sendiri punya kesukaan pada sebuah nama berakhiran -a (Elesia!) … bukan mustahil kecenderungan di atas memang ada sesuatunya. ^^;

 

 

Genderflip Technique:
[male name] + [-a] / [-ia] = [female name]

 

Hal menarik lain yang saya temukan, sehubungan dengan akhiran -a yang sudah dijelaskan di atas, adalah bahwa tidak sulit mengubah nama laki-laki menjadi nama perempuan. Cukup modifikasi akhiran nama tersebut menjadi -a atau -ia, dan voila — nama perempuan pun didapat.

Orang yang biasa memperhatikan nama Eropa, mungkin akan bilang bahwa saya sedang menyampaikan hal basi. Tapi, tidak — masalahnya bukan itu. Bahwasanya, teknik ini berlaku relatif universal! ๐Ÿ˜€ Bukan saja untuk nama berbau Eropa, melainkan juga nama Semitik (Timur Tengah) dan Slavik (Eropa Timur).

Misalnya contoh-contoh di bawah ini.


a) Eropa Barat (Latin/Yunani)

 

Adrian + [-a] = Adriana
(asal bahasa: Latin. etimologi: Hadria, atau Laut Adriatik)

Aurelius + [-ia] = Aurelia
(asal bahasa: Latin. etimologi: aurum, “emas”)

Alexander + [-a] = Alexandra
(asal bahasa: Yunani. etimologi: alexo + andros, “penguasa”)

Theodoros + [-a] = Theodora
(asal bahasa: Yunani. etimologi: theos + doros, “pemberian Tuhan”)

 

b) Semit (Timur Tengah)

 

Daniel + [-a] = Daniela
(asal bahasa: Hebrew. etimologi: daniyyel, “God is my Judge”)

Darius + [-ia] = Daria
(asal bahasa: Farsi. etimologi: dรขrayavahush, “possessing goodness”)

Rizki + [-a] = Rizka
(asal bahasa: Arab. etimologi: rizq, “rezeki/berkah”)

Amal + [-ia] = Amalia
(asal bahasa: Arab. etimologi: amal, “tindakan/perbuatan positif”)

 

c) Slavik (Eropa Timur)

 

Yevgenii + [-a] = Yevgenia
(asal bahasa: Rusia. etimologi: Yunani eu + genes, “well-born”)

Radomir + [-a] = Radomira
(asal bahasa: Slav. etimologi: rad + mir, “kebahagiaan dan kedamaian”)

Stanislav + [-a] = Stanislava
(asal bahasa: Slav. etimologi: stan + islav, “stand with glory”)

Sebagaimana bisa dilihat, penambahan -a atau -ia pada nama pria, dalam banyak kasus, bisa menghasilkan nama feminin yang relatif catchy. Tak banyak yang tahu bahwa “Aurel” aslinya nama pria[3] — kan begitu? Tapi nyatanya sekarang banyak anak perempuan bernama “Aurelia”. Hanya dengan menambahkan akhiran -ia, nama yang ‘cantik’ pun terbentuk. :mrgreen:

Saya suka sekali main-main dengan penambahan -a dan -ia ini. Kalau misalnya ada pemain bola bernama Andrei Arshavin, maka saya tinggal menambahkan dua huruf ‘a’, dan jadilah…

Andrea Arshavina

Hey, that’s one pretty name. Saya rasa, kalau saya berkeliaran di Facebook pakai nama itu — sembari memasang foto gadis cantik di homepage — akan banyak orang terjebak meng-add saya. Tapi itu cerita lain lagi untuk saat ini. ๐Ÿ™‚

 

 

Akhir Kata…

 

Jadi, kesimpulan yang saya dapat hasil bongkar-bongkar nama orang selama ini adalah: kalau orang ingin menciptakan nama wanita yang catchy — baik itu untuk nama anak, hewan peliharaan, ataupun tokoh cerita — maka yang harus dilakukan adalah bermain-main dengan huruf ‘a’. Entah dengan menambahkan akhiran -ia, atau malah cuma menempel buntut huruf -a saja.

Huruf ‘a’ itu sakti: manfaatkan dengan benar, dan Anda mendapatkan nama feminin yang berpotensi terdengar cantik. Pokoknya, semakin banyak main ‘a’ dan ‘ia’, makin bagus! :mrgreen: Buktinya sudah banyak di atas, dan bisa saya contohkan lagi berikut ini.

 
Kalau Anda lebih suka nama bergaya Barat, ada Aurora, Artemia, Lavinia, Laura, dan Olivia.

Kalau Anda lebih suka nama Arab, ada Aisha, Fadila, Fathia, Zahra, dan Nadia.

Atau, kalau Anda lebih suka nama Eropa Timur: Svetlana, Ludmilla, Lara, Yevgenia, Adriana.

Saya bertanya-tanya, apa mungkin ada “sihir” tertentu di balik bunyi vokal ‘a’ dan ‘ia’. Sepertinya tak ada nama perempuan yang jelek kalau bumbu tersebut dipakai dengan tepat. Bahkan nama yang tadinya sudah bagus seperti “Windri” pun, seolah jadi lebih eksotis kalau disebut “Windria”.

Boleh jadi ada sesuatu dalam psikologi manusia yang membuat nama-nama tersebut terkesan manis. Entah apa. Mungkin bisa jadi bahan yang penelitian yang bagus untuk para linguis dan psikolog. Siapa yang tahu? ๐Ÿ˜‰

***

In all fairness, though, mari kita sama-sama berharap satu hal: agar nama-nama tersebut tidak ditemukan (dan dijadikan judul) oleh para pembuat sinetron Indonesia. Sejujurnya, saya sering miris dengan hal yang satu ini.

Sekarang ini amat jarang ada nama anak perempuan yang belum dijadikan judul sinetron. Mulai dari Fitri, Khanza, Melati untuk Marvel, Cahaya, Intan, Amanda… semua sudah dibuat. Berbagai sinetron tersebut dibuat secara kejar tayang. Dengan akting yang teramat biasa, juga dengan jalan cerita yang begitu saja. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda — tapi, yang jelas, saya akan kecewa sekali kalau nama seperti “Minerva” ternyata ujung-ujungnya jadi gadis menderita obyek siksaan tante galak.

Sebab, for God’s sake: Minerva itu Dewi Kebijaksanaan Romawi, tahu! Mana bisa yang seperti itu disuruh ngepel, dimarahi, dan dibuat menangis demi simpati pemirsa!! ๐Ÿ‘ฟ ๐Ÿ˜ˆ

 

 

——

 
Catatan Kaki

 

[1] ^

Beberapa contohnya bisa dilihat di:
Grammatical gender @ Wikipedia Bahasa Inggris.

Adapun untuk penjelasan yang lebih formal dan bersifat textbook, bisa Anda baca di:
Indo-European Linguistics oleh John Clackson (2007), chapter 4.4., pp.104-111.

(*disclaimer: saya cuma baca e-book-nya, jadi tidak beli dari situs ybs. ๐Ÿ˜› )

 
[2] ^

Pembahasan yang cukup menarik saya temukan di arsip milis LinguistList.org, bertanggal 18 Februari 2000. Salah satu kesimpulan akhirnya adalah, walaupun tidak ada aturan baku tentang akhiran -a pada nama feminin, kecenderungan tersebut memang ada dan valid secara statistik.

Paper terkait yang juga menarik, dirujuk oleh post milis tersebut:

Elizabeth and John: Sound patterns of men’s and women’s names
oleh E.A. Cutler, J.M. McQueen, dan K. Robinson. (1990)

 
[3] ^

Saya sering bingung setiap kali orang menyebut “Aurel” sebagai nama perempuan. Sejauh yang saya tahu, “Aurel” aslinya adalah nama laki-laki — yang mana nama ini disandang oleh beberapa figur sebagai berikut.

Granted, apabila ditambahi akhiran -ia, nama ini menjadi nama perempuan (“Aurelia”). Meskipun begitu, tanpa imbuhan tersebut, “Aurel” adalah nama laki-laki dan umum menjadi nama depan di wilayah Eropa Tengah (e.g. Rumania dan Hungaria).

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian keenam (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Setelah sebelumnya membahas tentang filsafat determinisme dan dunia kuantum, sekarang kita berpaling pada pertanyaan yang menggelayuti dunia sains (dan filsafat pada umumnya). Adakah kehendak bebas?

Di tulisan bagian IV.a, kita menemukan bahwa sifat ketidakpastian kuantum bernilai signifikan, asalkan orde benda — dalam jumlah atom — cukup kecil. Berangkat dari ide ini, beberapa ilmuwan berspekulasi tentang sistem otak dan kesadaran: mungkinkah kehendak bebas manusia dihasilkan lewat kaidah mekanika kuantum? Apakah kesadaran manusia, yang notabene kompleks dan nonlinear, berawal dari sini?

Here goes the story…

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian kelima (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Dalam kaitannya dengan dunia filsafat, penafsiran atas mekanika kuantum (quantum mechanics, QM) sangat diwarnai oleh latar belakang filsafat para ilmuwannya. Inilah sebabnya terdapat begitu banyak interpretasi QM yang masih berlaku hingga saat ini — sebagaimana sudah kita bahas di tulisan bagian tiga.

Di tulisan kali ini, kita akan membahas latar belakang filsafat yang dimiliki oleh para fisikawan kuantum. Di sini saya hadirkan tiga orang fisikawan generasi lama yang sering bersilang pendapat: Niels Bohr dan Werner Heisenberg di satu sisi, dan Albert Einstein di sisi lain. Adapun untuk memberikan pendapat yang lebih modern, saya sempatkan membahas sekilas mengenai David Deutsch.

Sebagai catatan, Deutsch mungkin tidak begitu terkenal dibandingkan tiga orang ‘raksasa’ yang disebut sebelumnya. Meskipun demikian, ia mempunyai pandangan filosofis cukup menarik (akan kita lihat di seksi #4b.5 kelak). Ditambah lagi ia sebenarnya seorang fisikawan besar in-the-making: what’s with the quantum computer and MWI! Jika Anda mengikuti perkembangan fisika modern akhir-akhir ini, maka Anda tahu apa yang saya maksud. ๐Ÿ˜€

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian keempat (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Dalam tiga tulisan sebelumnya, saya berulangkali menyinggung tantangan yang dilemparkan mekanika kuantum (quantum mechanics, QM) pada filsafat determinisme. Tulisan ini adalah bagian khusus yang akan membahas hubungan antara QM dan filsafat determinisme — baik di skala kuantum maupun makro.

Selamat membaca. ๐Ÿ˜‰

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian ketiga (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Di dua tulisan sebelumnya, kita sudah meninjau berbagai gejala alam di skala kuantum. Di bagian ini, kita akan membahas bagaimana gejala-gejala tersebut diinterpretasikan oleh para ilmuwan/ahli fisika.

Perlu dicatat bahwa saya hanya akan memberikan overview sekilas mengenai berbagai interpretasi tersebut (sederhana saja, ruangnya tidak mencukupi ^^; ). Lebih lanjut mengenai interpretasi-interpretasi tersebut, saya sarankan Anda mengeceknya lewat daftar referensi di akhir tulisan.
 
(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian kedua (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Di tulisan yang lalu, kita telah membahas konsep-konsep dasar QM yang bersifat non-intuitif/berlawanan dengan pengalaman sehari-hari. Sekarang, kita akan membahas lebih lanjut dua gejala yang menjadi ‘jantung’ dunia QM, yakni probabilitas dan superposisi kuantum.

Secara umum, hampir semua paradoks/interpretasi non-intuitif di dunia QM disumbang oleh dua hal tersebut (misal: Kucing Schrรถdinger, Wigner’s Friend, Quantum Immortality). Nah, akar dari paradoks inilah yang hendak kita selidiki.

Sebenarnya, bagaimana dua hal ini bekerja?
 
(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian pertama (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

First-off: The Non-intuitive Leap

    Baca juga: Wikipedia – Introduction to Quantum Mechanics

Ada sebuah kutipan yang menarik dari seorang punggawa terhebat Mekanika Kuantum, yakni Pak Niels Bohr.

Those who are not shocked when they first come across quantum theory cannot possibly have understood it.

~ Niels Bohr

Sepintas, kita mungkin mengira bahwa beliau sedang bercanda. Meskipun begitu, sebenarnya pernyataan beliau itu bermakna literal.

Mekanika Kuantum (Quantum Mechanics, selanjutnya saya singkat QM), memang cabang ilmu yang “tidak biasa”. Kasarnya, inilah tempat di mana berbagai asumsi yang kita anut mentah dan jungkirbalik. Sebenarnya ini hal yang wajar, sebab cara kerja alam di skala mikro (i.e. atom, molekul) memang jauh berbeda dengan di skala makro (i.e. dunia yang kita amati).

Ada beberapa hal yang terjadi di dunia kuantum, tetapi tidak begitu terasa/teramati di di skala makro. Beberapa dari topik ini akan saya bahas lebih mendetail di bagian selanjutnya di post ini. Meskipun begitu, yang jelas, saya ingin Anda take for granted bahwa Mekanika Kuantum mungkin berlawanan dengan dugaan dan jalan pikiran Anda. Jangan merasa bodoh jika Anda sulit menerima — sesungguhnya, semua orang mengalaminya.

Well, sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Bohr di atas tadi. Saya pun pernah merasakannya, so cheers. ๐Ÿ˜€

Jadi, mari kita mulai…

 

Overview

 

Fokus utama dari rangkaian tulisan ini adalah membahas konsekuensi filosofis yang diakibatkan oleh QM. Dengan kata lain, saya tak akan berpanjang-lebar membahas semua gejala dan asal-usul QM — waktu dan energi saya tak cukup untuk itu.

Sebagai gantinya, saya hanya akan membahas beberapa prinsip fundamental QM yang bersinggungan dengan konsep filsafat dan dunia makro. Termasuk diantaranya determinisme, positivisme logis, kaitan dengan metafisika, dan lain sebagainya. Inilah yang akan saya lakukan di tulisan bagian pertama ini.

Adapun jika Anda tertarik mempelajari lebih jauh tentang QM dan pernak-perniknya, saya sarankan Anda langsung berangkat ke bagian Referensi di bagian akhir tulisan. Di seksi tersebut saya menyertakan beberapa link (dan bibliografi) yang khusus membahas tungkus-lumus dunia QM. ๐Ÿ˜‰

Kembali ke topik utama. Off we go…
 
(more…)

Read Full Post »

Ceritanya, tempo hari, saya dan Kopral Geddoe sedang terlibat obrolan santai via Yahoo! Messenger. Dan mendadak, entah bagaimana, tahu-tahu kami membicarakan amalgam dari dua hal yang (aslinya) sama sekali lepas dan tak berhubungan.

Kalau Anda memperhatikan judul di atas, tentunya Anda bisa menangkap bahwa dua hal yang tak berhubungan itu adalah anime-culture dan jilbab.

Apa? Anime-culture dan jilbab?

 

aniveil_para.jpg

Well, something like that… ^^;;

 

Jadi, sejak zaman kuda gigit besi anak SMA naik motor ke sekolah saya bertahun-tahun lalu, ada sebuah kecenderungan menarik yang saya amati. Dan, berhubung saya ini dulunya lumayan aktif di kegiatan ROHIS sekolah, maka kecenderungan ini jadi tampak semakin jelas dalam pengamatan saya. Bahwasanya, barang-barang Jepang (dan budaya manga-anime pada khususnya) tampak sangat berhasil memasuki selera anak-anak yang rajin nongkrong di masjid sekolah.

Bahkan, kalau mau jujur, justru anak-anak yang pola pikirnya cenderung ‘kanan’ ini lebih bisa menerima budaya Jepang, dibandingkan dengan counterpart-nya dari Eropa dan Amerika! ๐Ÿ˜ฏ

Bukanlah hal yang aneh, misalnya, jika Anda menemukan serombongan cewek berjilbab yang ngefans pada Himura Kenshin dan bahkan menetapkan kriteria cowok favorit mereka dari situ. Majalah dinding di masjid sekolah saya dihiasi ilustrasi bergaya manga. Beberapa rekan saya yang ikhwan bahkan rajin menonton Kapten Tsubasa dan InuYasha setiap minggunya — animo yang sangat besar bila dibandingkan dengan penerimaan terhadap barang-barang yang berasal dari Barat™. Anda bisa saja mengadakan kontes popularitas antara Sanosuke Sagara melawan Spider-Man, dan orang-orang lebih memilih Sanosuke… betapapun Spider-Man aslinya merupakan salah satu tokoh komik Amerika paling populer saat ini.

Seperti yang saya singgung sekilas di atas tadi, budaya Jepang tampaknya sedang tumbuh subur di kalangan muda Islam. Atau, setidaknya, di kalangan yang tumbuh di lingkungan bernuansa Islam cukup kental.

 

Seperti apa sebenarnya gejala ini?

 
Waktu itu, Geddoe menyampaikan bahwa ada kecenderungan yang menarik di sebuah forum ‘hijau’ yang ia temukan di internet. Bahwasanya, di forum tersebut terdapat generasi pengguna yang merupakan amalgam antara identitas “Islam” dan “anime-culture”.

Singkatnya,

Anak-anak yang bangga dengan identitas keislaman mereka — ketika, di saat yang sama, menggemari anime dan manga sebagai hiburan tersendiri.

Intinya sendiri cukup jelas. Di satu sisi, anak-anak dari generasi ini merasa bangga sebagai seorang muslim per se. Meskipun demikian, mereka tidak lantas terpaku pada budaya Islam (terutama Islam-Arab) saja — di sisi lain, mereka juga mengakomodasi masukan dari budaya di luar itu. Kebetulan, budaya Jepang-lah yang dirasa cocok untuk mengisi porsi masukan tersebut.

Bahkan, dalam banyak kasus, penetrasi budaya ini menghasilkan amalgam anime-islami sebagaimana yang saya contohkan dengan gambar di atas. Hal inilah yang terjadi ketika sarana dan buletin dakwah ditaburi oleh ilustrasi bergaya manga — atau ketika avatar cewek berjilbab dan cowok berkopiah menjadi pilihan di forum-forum internet. Dengan satu dan lain cara, “anime-culture” dan “Islam” seolah-olah bisa dipersatukan dan mempunyai embodimen tersendiri di lingkungan kita.

Akibat lainnya? Tentu saja jadi tidak sulit untuk menemukan, bahwasanya seorang cewek berjilbab pun bisa membuat list karakter cowok anime kesukaannya. :mrgreen:

*ditimpuk Grace* x(

 

Tentunya gejala semacam ini tidak muncul tiba-tiba. Pasti ada penyebabnya.

 
Hal itulah yang kemudian melintas jadi topik pembicaraan tempo hari. Mengapa barang-barang Jepang, seperti anime dan manga, bisa diterima dan berbaur dengan budaya “Islam” yang ada di Indonesia, sampai-sampai mengalahkan counterpart mereka dari Amerika dan Eropa? ๐Ÿ˜•

Maka, kami (baca: saya dan Geddoe) pun bertukar hipotesis soal ini.

Menurut saya,

Mungkin, karena di bawah sadar sudah terbentuk image bahwa Amerika™, Barat™, dan antek-anteknya™ sudah terstigma negatif, maka generasi ini cenderung menolak hal-hal yang berasosiasi dengan cap tersebut. Dalam kasus ini, Jepang tidak terkesan se-clash-confronting itunya amat terhadap Islam bila dibandingkan dengan Barat. Ini menjadi faktor penarik yang potensial untuk generasi muda Islam yang gerah terhadap budaya Barat™ yang terlalu permisif™ ( ๐Ÿ˜› ) ; lantas menjadi alternatif hiburan yang bisa diterima.

Geddoe sendiri mempunyai pendapat yang rada berbeda:

Setidaknya, ada satu hal yang membuat Islam [sekurangnya di bawah sadar] merasa perlu untuk mem-blend diri mereka dengan budaya pop. Hal yang sama berhasil dilakukan dengan baik oleh sang (supposedly) arch-enemy, Kristen. Ingat Christ Rock, serta penampilan organisasi Gereja di dunia hiburan: Van Helsing, Chrno Crusade, dan lain-lain sebagainya.

Kartu as ini tidak dimiliki Islam. Oleh karena itu, tampaknya terbentuk keinginan agar, entah bagaimana, Islam pun bisa berbaur dan memiliki perwakilan di bidang pop-culture.

Tapi, mengapa Jepang diterima? Bukankah negara ini sendiri cenderung sekuler, sama seperti Eropa dan Amerika? Bahkan dunia hiburan mereka pun juga cenderung permisif — sebagaimana yang bisa kita temukan pada berbagai barang-barang ecchi dan H.

Untuk ini, saya kemudian berpendapat bahwa

Memang benar budaya Jepang mempunyai sisi permisifnya sendiri. Dan mereka memang cenderung menganut liberalisme — tak jauh beda dengan Amerika maupun Eropa pada umumnya.

Tapi, meskipun begitu, ada pengecualian: budaya Jepang, yang diwakili oleh hiburan mereka, memiliki nilai-nilai Timur yang dihargai oleh kita di Indonesia… yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Keutamaan akan sikap sopan; keadaan keluarga yang guyub; hormat pada guru/senior; dan semangat individualisme yang lebih rendah dibandingkan dengan counterpart mereka dari Barat. Inilah yang tercermin di berbagai media, baik itu manga, anime, ataupun dorama.

Di Party of Five dan Friends, Anda menemukan anak-anak yang berusaha mandiri dan jauh dari orangtua — tetapi, di Ichi Rittoru no Namida dan Dragon Zakura, misalnya, Anda menemukan bahwa orangtua dan keluarga adalah hal yang sama pentingnya dengan usaha menjalani hidup dan menjadi dewasa.

Dan, dengan demikian, kita melihat bahwa terdapat faktor pendorong dan penarik yang, dengan satu dan lain cara, membuat budaya Jepang terkesan lebih favorable di mata generasi muda Islam yang dibahas sebelumnya. Tentunya perlu dicatat bahwa semua penjelasan di atas hanyalah hipotesis murni — yang secara brutal dilempar-lempar melintas lautan lewat HTTP port 8080 oleh IM client kami masing-masing ( ๐Ÿ˜› ). Dugaan-dugaan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. ^^

 

As The Dust Settles

 
Tentunya dialog di atas tidaklah bermaksud menyatakan bahwa “budaya Jepang lebih baik daripada budaya Barat”, atau malah meninggi-ninggikan bahwa “anime-culture itu cocok diamalgamkan dengan budaya Islam”. No, that’s not it. Kenyataannya, menurut saya, kecenderungan bahwa sebuah generasi kini memadukan keduanya adalah hal yang cukup menarik untuk dibahas — walaupun secara iseng-iseng — dan saya yakin bahwa rekan chat saya waktu itu pun berpendapat demikian. Bukan begitu, Kopral? :mrgreen:

Hence the chat summary. ๐Ÿ˜‰ Ada pendapat lain?

 

 

—–

Ps:

…dan sekarang saya jadi teringat seorang cewek berjilbab sekelas saya waktu SMA. Waktu itu guru sejarah meminta setiap anak membuat 20 soal pilihan ganda tentang Restorasi Meiji — dan dia mengerjakannya bermodal manga Rurouni Kenshin. Doh. x(

 
PPs:

No, I didn’t develop any serious crush for her. Just in case you’re wondering. ๐Ÿ˜‰

Read Full Post »

Tulisan ini terakhir kali di-update pada tanggal 11 Oktober 2009. Fokus tulisan adalah pada Teori Evolusi generasi awal, i.e. Darwinian — dengan demikian pembahasan mengecualikan sintesis evolusi yang lebih modern. (misal: evolusi molekuler, population genetics, dsb.)

 
Untuk bahasan terkait metodologi ilmiah di balik teori evolusi, silakan klik:
[Sedikit Tentang Metodologi Ilmiah dan Teori Evolusi (lagi)]

 
Untuk post yang membahas kesalahpahaman yang sering terjadi tentang evolusi, klik:
[Beberapa FAQ mengenai Teori Evolusi]

——

 

 
Gara-gara komentarnya Mas Fauzan di post yang menyinggung pseudoscience tempo hari, saya jadi membaca ulang berbagai materi tentang Teori Evolusi dan tulisan Pak Harun Yahya yang ada di komputer saya (semuanya e-book, maklum mahasiswa ๐Ÿ˜› ). Tambah lagi On the Origin of Species, karya Charles Darwin yang jadi e-book suci ‘kitab suci’ teori tersebut, maka lengkaplah jam belajar saya di depan komputer tempo hari. Tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini.

Di komentar tersebut, Mas Fauzan menanyakan hal sebagai berikut:


Apa buktinya kalo Teori Evolusi itu benar? Ato, sebaliknya, apa buktinya kalo Teori Evolusi itu salah? Can you all show me the proof?

Ayo, mas sora, buat artikel yang lebih komprehensif lagi. Kejanggalan apa yang ada pada teori Harun Yahya? Kemusykilan apa pula yang terdapat pada teori Darwin?

Yang manakah pseudoscience sebenarnya? Teori Darwin atau Teori Kreasionisme?

 
Nah, tulisan ini adalah sebagai respon untuk komentar di atas.

Pertama-tama, perlu dicatat bahwa tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan tertarik pada beberapa cabang ilmu sekaligus. Tentunya ini berarti bahwa saya bukan pelajar — apalagi pakar — resmi di bidang Biologi.

Dengan demikian, saya membuka diri pada masukan, koreksi, dan sebagainya jika ada di antara pembaca yang berkompeten. Berbagai respon tersebut bisa disampaikan lewat kolom komentar di bagian bawah post ini. ๐Ÿ˜‰

Jadi, mari kita mulai…

    ed.note

    Untuk menyesuaikan dengan pembahasan, Anda bisa men-download versi e-book dari Origin of Species di URL ini (format PDF).

    Anda juga bisa membaca tanggapan kontra-evolusi yang dilancarkan oleh Harun Yahya di situs beliau. (link dari wedulgembez)

 

***

 


Teori Evolusi, Benar atau Salah?

 
Berikut ini adalah poin pertama dari komentar yang hendak saya bahas.


Apa buktinya kalo Teori Evolusi itu benar? Ato, sebaliknya, apa buktinya kalo Teori Evolusi itu salah? Can you all show me the proof?

Apakah Teori Evolusi itu benar? Atau salah?

Sejauh yang saya tahu, Teori Evolusi tidak pernah dianggap 100% benar. Meskipun begitu, ia juga tak pernah dianggap 100% salah sampai sekarang ini.

Lho, kok bisa?

Kurang lebih begini ceritanya.

Pada awal kelahirannya, Teori Evolusi adalah sebuah philosophical device untuk menjelaskan keragaman spesies, sebagaimana diamati oleh Darwin dalam lima tahun perjalanan di atas kapal H.M.S. Beagle. Dengan demikian, teori ini pada awalnya adalah sebuah hipotesis murni dari Darwin, dalam usahanya mengurai asal-usul spesies di muka bumi.

Mengutip dari kata pengantar Darwin di On The Origin of Species,

After five yearsโ€™ work I allowed myself to speculate on the subject, and drew up some short notes; these I enlarged in 1844 into a sketch of the conclusions, which then seemed to me probable: from that period to the present day I have steadily pursued the same object

Nah, karena sifatnya yang berupa spekulasi, Darwin sendiri merasa bahwa teorinya masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dia menyertakan Bab VI di bukunya, yang diberi subjudul Difficulties on Theory. Ia sendiri mengakui bahwa terdapat kesulitan yang menghambat Teori Evolusi rancangannya dari “menggambarkan keadaan alam yang sebenarnya”.

Saya tidak akan repot-repot menulis semuanya di sini (soalnya panjang, sebaiknya Anda baca sendiri). Meskipun begitu, sebagai gantinya, saya akan menuliskan beberapa contoh keraguan yang menggelayuti Teori Evolusi — terutama, yang muncul di masa-masa awal perkembangannya.

 

    1. Jika memang spesies nenek-moyang berevolusi perlahan-lahan menuju keragaman yang ada sekarang di muka bumi, mengapa spesies peralihan yang ditemukan cenderung meloncat-loncat?

    Darwin mengemukakan ini sebagai kekurangsempurnaan ilmu paleontologi di saat itu, dan mengharapkan ditemukannya missing-link proses evolusi tersebut di masa depan. Meskipun begitu, hingga 140 tahun sesudahnya, ternyata fosil peralihan yang kita dapat masih snapping/tidak benar-benar mulus.

    Salah satu dari sedikit contoh terbaik, yang mewakili gambaran teori evolusi, adalah fosil peralihan kuda — di mana terdapat lima spesies yang menunjukkan perubahan dari Eohippus (kuda primitif) menjadi Equus, kuda modern yang kita kenal sekarang. Adapun kebanyakan spesies lain masih memiliki missing link dalam rantai evolusi mereka (e.g. dari dinosaurus ke Archaeopteryx, menuju burung modern).
     

    2. Mungkinkah evolusi perlahan-lahan mengakibatkan tersusunnya organ-organ sangat-kompleks seperti mata, yang berbeda secara radikal di banyak spesies?

    Darwin menulis di bukunya sendiri soal ini, sebagai berikut:

    “To suppose that the eye, with all its inimitable contrivances for adjusting the focus to different distances, for admitting different amounts of light, and for the correction of spherical and chromatic aberration, could have been formed by natural selection, seems, I freely confess, absurd in the highest possible degree.”

    Meskipun begitu, ia berspekulasi bahwa hal tersebut mungkin terjadi, walaupun dengan kemungkinan berhasil yang sangat kecil. Sebaiknya Anda baca sendiri selengkapnya di Bab VI tersebut.

     
    3. Mungkinkah hasil adaptasi temporer, oleh satu individu terhadap lingkungan, mempengaruhi genetika individu tersebut, sehingga hasil adaptasi itu bisa diwariskan?

    Dalam kasus ini, kita bisa mengasumsikan sebagai berikut. Seorang pria ras mongoloid (e.g. Indonesia, Melayu) yang bekerja di bawah matahari sepanjang tahun akan memiliki kulit yang lebih gelap, bila dibandingkan pria mongoloid pada umumnya. Apakah perubahan ini mencakup perubahan genetis yang diwariskan pada keturunannya?
     

    4. Katakanlah spesies nenek-moyang mulai dari darat. Mereka sudah mulai mengembangkan diri dengan mapan; mengapa harus berevolusi ke bentuk burung untuk tinggal di angkasa?

    Ini adalah pertanyaan yang juga berhubungan dengan kehidupan perairan. Mengapa spesies harus ‘melebarkan teritori’, sedemikian hingga mereka meninggalkan tempat tinggal mereka yang nyaman, dan berevolusi supaya bisa hidup di lingkungan yang jauh berbeda? Bukankah ini meningkatkan resiko kematian spesies itu sendiri?

 
Dan masih ada beberapa pertanyaan lainnya. Lebih lanjut bisa Anda google dengan kata kunci “obstacles on evolution theory”.

 


Ada Beberapa Keraguan, seperti yang Sudah dijelaskan di Atas. Jadi, Kenapa Teori Evolusi Masih Dipertahankan?

 

Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa teori yang mempunyai beberapa ‘titik lemah’ bisa dipertahankan sebagai sebuah konsensus ilmiah. Kenapa bisa begitu?

Tak lain karena teori tersebut telah berhasil menjelaskan banyak hal dengan tepat di dunia biologi. Beberapa di antara ketepatannya bisa dijabarkan sebagai berikut ini:

 

Pertama, teori ini bisa menjelaskan adanya perubahan gradual dari satu spesies yang lebih tua ke spesies yang lebih modern. Misalnya contoh penemuan fosil kuda, dari Eohippus hingga kuda modern (Equus). Contoh lain adalah perbedaan fosil manusia purba dari Meganthropus (yang lebih tua) hingga menuju Homo erectus (lebih muda). Di satu sisi, perubahan itu terkesan snapping dan meloncat-loncat. Meskipun begitu, Teori Evolusi telah memprediksikan fenomena ini: perbedaan tersebut adalah ekses dari proses perubahan berkesinambungan.

Lebih lengkap mengenai fosil peralihan dan pernak-perniknya, bisa dilihat di link-link berikut:

[List of Transitional Fossils]
[Transitional Vertebrate Fossils FAQ]
[Taxonomy, Transitional Forms, and the Fossil Record]
 

Kedua, Teori Evolusi bisa menjelaskan perbedaan minor antar spesies. Misalnya, mengapa paruh burung pemakan biji di Galapagos berbeda satu sama lain? Karena terjadi spesiasi, di mana satu spesies yang sama berkembang ke arah morfologi yang berbeda sebagai efek dari kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan. Begitu pula yang terjadi pada kebanyakan spesies lain — di mana mereka memiliki morfologi yang berbeda tergantung keadaan lingkungan tempat mereka hidup.

Gambarnya bisa dilihat sebagai berikut.

 

 

Ketiga, Teori Evolusi juga berhasil menjelaskan landasan di balik sistem klasifikasi/taksonomi makhluk hidup.

    Update: yang saya maksud adalah taksonomi makhluk hidup berdasarkan kemiripan dalam hal bentuk/homologi dan kekerabatan. Penjelasannya bisa dicek di komentar saya yang ini dan ini.

Adapun salah satu pengelompokannya bisa dicontohkan sebagai berikut.

 

 

Di ordo primata, manusia memiliki kemiripan morfologi dengan gorilla, orangutan, dan simpanse. Penjelasan untuk ini adalah bahwa semua spesies itu merupakan turunan dari nenek moyang yang sama — mereka masih satu keluarga. Berdasarkan prinsip inilah, kita bisa memetakan taksonomi filogenetik, sebagaimana yang dijelaskan di materi biologi SMA kita. ๐Ÿ™‚

 
Adapun yang keempat, Teori Evolusi juga berhasil menjelaskan keberadaan organ-organ minor dan junk DNA yang terdapat dalam tubuh manusia. Misalnya usus buntu dan tulang ekor yang terlalu pendek — organ-organ tersebut diasumsikan sebagai sisa perubahan menuju bentuk manusia yang kita lihat sekarang. Begitu pula dengan junk DNA, sekuens DNA ini tidak memiliki manfaat yang jelas, tetapi justru ditemukan (dan masih diwariskan) dalam struktur genetik manusia modern.

 

***


Tapi, Teori itu Masih Ada Salahnya. Teori Evolusi itu Tidak Sempurna!

 

Tentu saja, memang begitulah adanya. Tapi, siapa bilang ilmu pengetahuan itu langsung sempurna? ๐Ÿ˜€

Semua ilmu pengetahuan itu, pada dasarnya, berlandaskan pada data-data empirik. Kebenarannya tidak lantas mutlak tergantung waktu. Jika di masa depan ditemukan bukti-bukti yang tidak bersesuaian, maka ilmu pengetahuan pun harus mengalami perombakan.

Sejauh ini, teori evolusi telah berhasil menjelaskan beberapa fenomena alam dengan cukup memuaskan, sebagaimana telah dijelaskan dalam poin-poin di atas. Meskipun begitu teori ini belum sempurna. Masih ada beberapa lubang di dalamnya yang belum terjelaskan.

Seandainya kelak di masa depan ada teori mutakhir yang lebih lengkap daripada Teori Evolusi, dan lantas menggantinya, itu tak masalah. Dunia sains toh selalu terbuka pada kemungkinan. Yang penting adalah apakah teori tersebut bisa menjelaskan gejala alam atau tidak, dan di situlah masalahnya. ^^


Jadi?

 

Yah, saya rasa, evolusi adalah sebuah teori yang bisa dipertanggungjawabkan. Tentunya harus diingat bahwa ia tidak sempurna, masih ada ‘lubang’ dan pertanyaan di berbagai tempat. Meskipun begitu teori ini masih kokoh: ia teruji oleh waktu dan perdebatan, setidaknya selama 140 tahun terakhir…

…kecuali, mungkin, ada teori baru yang menggantikannya di masa depan. Tapi itu cerita lain lagi untuk saat ini. ๐Ÿ™‚

 

 

——

Kredit:

Gambar pertama (perbandingan bentuk paruh burung) diambil dari wikipedia, dengan URL di sini

Gambar ordo primata juga diambil dari wikipedia, dengan URL di sini.

Diagram taksonomi di-crop dari gambar yang tersedia di situs ini.

Read Full Post »

Saya jadi ingat, dulu sekali waktu saya SD/SMP, beberapa orang menyatakan bahwa angka ‘9’ itu merupakan angka keberuntungan. ‘Kiu’-nya bagus, katanya (jangan tanya saya apa artinya itu; walaupun saya ingat bahwa hal itu berasal dari budaya Cina ^^;; ). Jadi, intinya, angka ‘9’ itu bisa membawa keberuntungan sendiri… itu katanya, lho.

Meskipun begitu, ini ternyata tidak mutlak berlaku di dunia sepakbola; terutama di klub liga Inggris favorit saya, Arsenal FC. Di klub ini, para pemegang nomor ‘9’ biasanya ketiban peran jadi “ban serep” — atau, paling bagus, tinggal selama beberapa musim saja. Peristiwa ini sendiri saya amati sejak musim 1998/1999, alias musim pertama saya mulai aktif mengikuti perkembangan sepakbola. ^^

Siapa saja mereka? Here goes…


1. Nicolas Anelka

Pemain yang satu ini sempat menjadi pahlawan di lini depan Arsenal, terutama sejak pensiunnya striker legendaris Ian Wright. Memegang nomor 9 pada usia 17 tahun, Anelka terkenal dengan penyelesaiannya yang tenang di depan gawang, terutama ketika berhadapan satu-lawan-satu dengan kiper lawan. Ciri khasnya adalah tendangan pelan menyusur tanah ke arah yang tak terjangkau kiper lawan.

Di akhir musim 1998/1999, pemain asal Prancis ini muncul sebagai top-scorer Tim Gudang Peluru dengan 17 gol; kalah satu gol di bawah Michael Owen dan Jimmy Floyd Hasselbaink. Sayangnya, prestasi ini tidak diiringi dengan akhir yang mulus.

Belakangan, ia diisukan memiliki hubungan yang kisruh dengan dua pemain asal Belanda, Dennis Bergkamp dan Marc Overmars. Anelka sendiri sempat menuduh bahwa kedua pemain tersebut sengaja mengabaikannya dan tidak memberikan pass yang memadai.

Akhirnya, ia pindah ke klub Spanyol Real Madrid pada akhir musim tersebut. Ini terjadi setelah sebelumnya ia terlibat perkara legal mengenai statusnya di Arsenal. Saat itu, pihak Madrid mendekatinya secara pribadi, di bawah kontrak, tanpa memberitahu petinggi Arsenal.

Menjelang bergulirnya musim 2007/2008, ia diisukan akan kembali ke Arsenal, selepas hengkangnya Thierry Henry ke Barcelona. Meskipun begitu, rumor tersebut berakhir ketika Arsenal memutuskan membeli Eduardo Alves da Silva dari klub Eropa Timur, Dinamo Zagreb — dan, dengan demikian, mengakhiri kemungkinan bahwa dirinya akan kembali ke Arsenal.


2. Davor Suker

Selepas kepergian Anelka, Arsenal mencari seorang finisher sebagai penggantinya. Pilihan jatuh pada striker senior asal Kroasia, Davor Suker. Top-scorer Piala Dunia 1998 ini dianggap mampu mendukung lini depan Arsenal bersama dengan Dennis Bergkamp dan Nwankwo Kanu.

Untung tak dapat diraih, harapan ini tidak begitu berhasil terwujud. Suker memang sempat mencetak delapan gol bersama Arsenal musim 1999/2000. Akan tetapi, ia gagal mendekati pencapaian Anelka di posisi top-scorer Liga Inggris musim sebelumnya. Dibandingkan dengan Anelka yang mencetak 17 gol, perolehan Suker masih kurang dari setengahnya.

Sebagai pemain, Suker sempat membawa Arsenal menuju Final Piala UEFA tahun 2000, menghadapi tim asal Turki Galatasaray. Sayangnya, di final yang diakhiri adu penalti itu, ia menjadi salah satu algojo yang gagal, bersama dengan Patrick Vieira. Adu penalti berakhir dengan skor 4-1; dan Piala UEFA pun terbang ke Turki.

Suker akhirnya pindah ke sesama klub asal London di Liga Utama Inggris, West Ham United, pada musim berikutnya.


3. Francis Jeffers

Dibeli dari Everton awal musim 2001/2002, Jeffers tampaknya mewarisi kekurangberuntungan dari pemegang nomor ‘9’ yang sebelumnnya. Ia tidak pernah benar-benar menjadi starter tetap di tim asuhan Arsรจne Wenger.

Postur tubuhnya yang tinggi, didukung dengan usia yang (waktu itu) baru 20 tahun, seolah menunjukkan kemampuannya sebagai calon striker andal — terutama dalam duel udara. Sayangnya, saat itu Thierry Henry mulai menunjukkan kelasnya sebagai penjebol gawang kelas wahid; mengakibatkan jatuhnya posisi utama ke pemain asal Prancis tersebut.

Jeffers kemudian dipinjamkan ke klub lamanya, Everton, selama musim 2003/2004; dan dilego ke Charlton Athletic setelah masa peminjamannya berakhir. Kini ia berstatus resmi sebagai pemain Blackburn Rovers.


4. Jose Antonio Reyes

Tidak ada yang tidak mengesankan di awal kedatangan Reyes di London Utara. Ditransfer dengan harga 10 juta poundsterling dari klub Spanyol Sevilla, bintang muda ini mulai menunjukkan kelasnya pada pertandingan Piala FA tahun 2004. Pada saat itu, ia mencetak dua gol untuk membawa Arsenal menang 2-1 atas klub rival sekota, Chelsea. Salah satunya sendiri adalah sebuah gol indah; berupa sebuah tendangan pisang kaki kiri dari luar kotak penalti.

Meskipun begitu, Reyes tak berapa lama bertahan di Inggris. Ia kesulitan beradaptasi dengan suasana kota London, dan merasa lebih nyaman bermain di Spanyol — walaupun begitu, dia sendiri mengakui bahwa London adalah kota yang menyenangkan dengan fans yang simpatik.

Awal musim 2006-2007, Reyes dipinjamkan ke Real Madrid, dengan catatan Arsenal juga mendapat pinjaman striker Julio Baptista selama satu musim. Satu musim berlalu; dan tampaknya Madrid tertarik untuk memboyong Reyes. Ia diisukan tidak betah di Arsenal, dan akan dipinang oleh Real Madrid.

Selama dua tahun di Arsenal, Reyes telah bermain sebanyak 69 kali dan mencetak 16 gol.


5. Julio Baptista

Inilah pemain yang datang dari Real Madrid, bersamaan dengan dipinjamkannya Jose Antonio Reyes ke klub negeri matador tersebut. Selama di Arsenal, Baptista lebih banyak tampil bersama barisan pemain muda asuhan Wenger — di antaranya Cesc Fabregas, Gael Clichy, dan Mathieu Flamini — terutama pada laga-laga khusus semacam Piala Liga Inggris dan Piala FA.

Sempat terhambat beberapa waktu untuk beradaptasi, Baptista mulai menunjukkan kelasnya ketika Arsenal mengalahkan Liverpool 3-6 di ajang Piala Carling (a.k.a Piala Liga Inggris), bulan Januari 2007. Dalam pertandingan itu, ia mencetak empat gol sekaligus. Selain itu, Baptista juga sempat menjadi pahlawan Arsenal pada pertandingan Piala Liga menghadapi Tottenham Hotspur — di mana pada saat itu ia mencetak dua gol untuk membawa Arsenal menang 2-1.

Sayangnya, di akhir musim, pihak manajemen Arsenal tak tertarik untuk memberinya kontrak permanen. Baptista akhirnya kembali ke Real Madrid, tepat di akhir musim 2006/2007.

***

Dan begitulah kisah beberapa pemegang nomor ‘9’ di Arsenal selama delapan tahun terakhir. Saya sendiri tidak begitu yakin kalau-kalau memang ada ‘kutukan’ di balik nomor kostum tersebut di tim ini; yang jelas, tidak satupun dari mereka yang telah disebutkan membela Arsenal, sebagai pemain inti, hingga di atas dua musim.

Sekarang, nomor ‘9’ di tim Arsenal jatuh ke pemain asal Brasil, Eduardo Alves da Silva (alias Eduardo). Belum banyak yang bisa dikatakan tentang pemain ini, selain bahwa ia ditransfer dengan (dugaan) nilai transfer sekitar 6 hingga 8 juta poundsterling.

Akankah ia berhasil menjadi striker hebat untuk waktu lama di Arsenal nantinya, atau justru mengikuti jejak para pemilik nomor ‘9’ sebelumnya?

Hanya waktu yang akan membuktikannya. ๐Ÿ™‚

~~~~~

Kredit Foto:


Foto Nicolas Anelka diambil dari Situs Resmi Premier League.

Foto Davor Suker diambil dari The Ultimate Soccer Gallery, dan di-crop dari sumber tersebut.

Foto Francis Jeffers diambil dari situs resmi Charlton Athletic.

Foto Jose Antonio Reyes diambil dari Blogeline’s Journal, dengan URL image di sini.

Foto Julio Baptista di-crop dari wallpaper ofisial, dirilis oleh Arsenal.com.

Foto Eduardo Alves da Silva diambil dari entry Wikipedia, minor-retouching oleh saya.

Semua foto telah mengalami resizing untuk menyesuaikan dengan tampilan blog ini.

Read Full Post »