Feeds:
Pos
Komentar

Realisme a la Insinyur

Kalau boleh menilai diri sendiri, saya bisa dibilang orang yang berjiwa insinyur (walaupun punya keberatan pada kuliahnya, tapi itu cerita lain). Bagaimanapun ini bukan hal yang aneh. Sebagai orang yang sekian tahun belajar di jurusan teknik, sudah pasti ada pengaruh yang meresap. Ini sifatnya psikologis: orang-orang di sekitar saya berpikir secara engineering, maka saya jadi ikut terbawa. Kurang lebih seperti itu.

Beberapa pembaca mungkin kurang akrab dengan dunia yang disebut, jadi ada baiknya saya cerita sedikit dulu.

Di dunia insinyur, tuntutan utamanya adalah “bagaimana agar hidup manusia jadi lebih mudah.” Misalnya insinyur elektro; mereka berupaya memudahkan hidup orang yang terkait listrik (misal: desain pembangkit listrik, pengkabelan, dsb.) Insinyur sipil berupaya memudahkan hidup orang dengan bangun-membangun, dan seterusnya. Kasar-kasarnya: kalau dokter punya job description menyehatkan orang, maka insinyur punya job description membuat orang jadi nyaman.

Nah, upaya “membuat orang nyaman” di atas adalah hal yang rumit. Namanya insinyur sudah tentu bekerja dengan teknologi. Ada yang lewat teknologi listrik, mesin, atau lain sebagainya. Semuanya bekerja menghasilkan penemuan lewat teori dan perhitungan. Teori dan perhitungan bagi insinyur, ibaratnya batu bata untuk tukang bangun rumah: elemen penting yang dipakai untuk membangun. Kalau ada itu, semua jadi gampang. Nah tapi ada masalah.

Biarpun insinyur punya seperangkat hukum fisika dan matematika yang bisa dipakai, pengerjaannya tidak mudah. Banyak hambatan yang membuat teori kita jadi tidak sesuai, harus diperbaiki sedikit — biarpun dasarnya sudah benar. Misalnya seperti berikut.

Dalam ilmu fisika, terdapat aturan yang disebut Hukum Bernoulli. Ini adalah hukum yang mengatur jalannya aliran fluida.

Seorang insinyur diminta untuk meneliti aliran limbah dalam pipa. Langsung saja dia hitung dengan Hukum Bernoulli. Ternyata hasil perhitungannya salah! Padahal matematikanya sudah benar, tapi kenapa begitu?

Penyebabnya: karena Hukum Bernoulli cuma berlaku untuk fluida ideal, semisal air murni. Sementara limbah umumnya campur-baur antara padatan, air, dan gas — jauh sekali dari ideal. Jadi perhitungannya tidak menghasilkan apa-apa.

Saya dan teman-teman suka berkelakar soal ini, dan bilang: “Tuh lihat, di dunia ini tidak ada yang ideal. Teori sebagus apapun pasti meleset — jadi pelajaran kita itu aslinya gak guna.”

Tentunya yang di atas itu cuma bercanda. But you get the point. 😛

Ini problem yang selalu menghantui para insinyur di bidang manapun. Teori yang sempurna itu tidak ada. Sedikit-banyak pasti ada kompromi. Bisa saja idenya benar, teorinya benar, dan seterusnya — tapi, di dunia nyata, namanya gangguan itu pasti ada. Entah nilainya besar atau kecil. Tidak mungkin ada sistem di lapangan yang 100% sesuai teori. No way!

Ini mirip membandingkan soal fisika yang dikerjakan anak SMA dengan fisika sebetulnya. Di SMA kita disuruh mengerjakan soal, tapi dalam kondisi ideal: tidak ada hambatan udara, tidak ada gesekan, dan sebagainya. Sementara kondisi sebenarnya tidak begitu. Seringnya sih dunia nyata lebih rumit daripada dijelaskan dalam buku.

Teman saya yang anak elektro pernah cerita tentang Arus Eddy yang mengganggu voltmeter. Lain kali, dosen dari jurusan mesin cerita tentang oli: jadi ada oli masuk mesin, mempengaruhi bensin yang aslinya hendak dibakar. Walhasil output energinya berkurang. Hal-hal semacam itulah. Saya sendiri cengar-cengir saja mendengarnya, sebab, di jurusan saya, hal-hal seperti itu juga terjadi.

Ceritanya saya dan beberapa anggota kelompok pernah praktikum dengan pompa. Sesudah mencatat suhu dan tekanan, datanya harus dihitung dan dibandingkan. Tapi kok perbandingannya tidak cocok? Ternyata ada katup yang ngadat, jadi bukaannya tidak sempurna! Akhirnya aliran air yang dihitung jadi meleset. Baru belakangan si asisten bilang ke anak-anak bahwa alatnya rada terganggu. Tapi secara umum tidak apa-apa — jadi angkanya dikompensasi saja dengan kesalahan sekian-sekian.

Praktikannya sendiri cuma bisa angkat bahu. Mau bagaimana lagi? 😆

***

Jadi, lima atau enam tahun belajar di jurusan teknik mengajari saya satu hal: di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali ide-ide. Teori sebagus apapun, sesempurna apapun, kalau sudah masuk dunia nyata, pasti ada kompromi. Tidak mungkin tidak.

Lalu saya berpikir, jangan-jangan itu juga yang terjadi di ilmu sosial. Bertahun-tahun kita punya teori psikologi, sosiologi, dan ilmu politik, tapi kok kita masih belum paham? Jangan-jangan karena ada banyak elemen yang harus dipertimbangkan di dalamnya, tapi justru terabaikan. Sama halnya dengan kasus arus Eddy dan hukum Bernoulli di atas…

…mungkin. Mungkin lho. Saya kan bukan ahli di bidang itu. :mrgreen:

Pada akhirnya, saya sendiri jadi rada skeptis dengan yang namanya “kesempurnaan” atau “100% ini-itu”. Sebab ya, di dunia ini tidak ada yang 100%. Budaya Indonesia, misalnya, tidak 100% Indonesia (ada banyak pengaruh luar juga). Negara yang 100% free market atau sosialis juga tidak ada — yang ada cuma mendekati salah satunya. Tegangan listrik diukur dengan voltmeter, sebagian arusnya ada yang masuk ke voltmeter (jadi akurasinya tidak 100%), dan seterusnya.

Jadi saya pikir, ah kacau nih kalau orang berani bilang, “Sistem pemerintahan sempurna. Dijamin 100% sukses!” Biasanya yang bilang begitu golongan sayap kanan, tapi itu sebaiknya tak dibahas di sini…

***

Di sisi lain, ada juga tidak enaknya dari “didikan” bersikap realistis di atas. Gara-gara itu saya jadi tidak sabaran kalau berurusan dengan orang yang idealis tapi tidak mengerti lapangan. Ini sifatnya universal: tak peduli yang dibicarakan itu politik, sosial, atau keseharian, kalau itu terjadi, biasanya saya jadi mangkel. Perasaan ini susah dijelaskan.

Misalnya waktu ada gerakan “tolak bayar pajak” gara-gara Gayus Tambunan. Saya dongkol betulan waktu itu. Seriously, do they even think? Coba, apa jadinya administrasi negara, kepercayaan investor, dan sebagainya kalau itu terjadi. Ini mirip dengan ilustrasi Hukum Bernoulli di atas: dikiranya dia paham semua masalah, lalu menerapkan teori dari situ — padahal kenyataannya tidak sesederhana yang disangka. Ha!

Lain kali, saya berdebat panas dengan seorang troll soal Israel-Palestina (saya tidak memihak siapa-siapa di situ; ceritanya panjang). Dia bilang HAMAS itulah yang benar. Saya tanya, situ mengerti tidak sejarah geopolitik Yerusalem? Masalahnya bukan sejak 1948 atau khilafah, melainkan sampai zaman Romawi. Eh dia marah. Saya sendiri bukannya tak berusaha kalem, tapi tetap saja…

Hal-hal semacam itulah. Susahnya terbiasa berpikir realistis adalah, kita jadi tidak sabar melihat orang yang naif. Kesannya kok hidup di awan. Idealisme itu bagus, tapi mbok ya diimbangi dengan asupan realitas.

Jadi ini semacam PR juga buat saya. Mengendalikan marah itu gampang, tapi mengendalikan jengkel… wah, susah sekali. Sebab itu tatarannya dalam hati (bukan perbuatan). Saya masih harus belajar banyak soal itu.

 
Meskipun begitu ada juga dampak positifnya. Gara-gara itu, kalau saya memberi saran, jadinya dipandang sebagai “saran yang bermutu”. Pokoknya sebisa mungkin realistis. Ini berlaku terutama kalau sedang mendengarkan orang curhat — saya sih biasa saja, terserah mereka mau terima atau tidak. Sejauh ini sih mereka selalu mau dengar. 😛

Saya sendiri bersyukur mendapat didikan cara berpikir realistis selama di kampus. Paling tidak sekian tahun di sana telah mengajari saya untuk bersikap membumi… hal yang ternyata merembes ke berbagai aspek lain dalam hidup. But hey, that’s what education is supposed to be, right? 😉

Iklan

20. You wonder what’s so lucrative about engineering contract worth US$ 3000/month. Your reserve players nod in agreement.

19. You start using this catchphrase in daily life: “I want to see more from you!”

18. You note pretty girls few years your junior as “hot prospect for the future”.

17. You can’t grasp the fact that Arsenal fails to win any trophy at all, recently, in the real life. HOLY SHIT LOOK AT THOSE WONDERKIDS, FFFFFUUUUUU–

16. You sneer at motivational training because you think you have mastered it. “Where’s the passion, lads?”

15. You are enraged, ENRAGED, to see Marcelo Lippi ditching young gems like Okaka, Foti, Bertola, and Balotelli for the World Cup.

14. You start doing reverse psychology to fire people up. Last time you do the squad trounced the opponent, so why not.

13. You start substituting the word “happy” with “delighted” in everyday speech.

12. Likewise, you are now “deeply upset by” something when you are down.

11. You wish you have assistant manager feedback to help analyzing life.

10. When you hear the word “sign”, you don’t think of street marks or pamphlets.

9. You think of statement “Men vs Boys” as utter bollocks. Your squad’s average age is 25 and they’re doing well.

8. Mental image of Pep Guardiola playing for West Brom in 2007 doesn’t feel strange.

7. “Money can’t buy you love”. Now you understand what the quote *truly* means.

6. You think of naming your child after key players. Like, maybe “To Madeira”?

5. You staunchly believe that FM player database is infallible.

4. You want England coach to consider players from U-21 and lower divisions – because that’s how you won the World Cup.

3. Do you think “FM Radio” means “Football Manager Radio”? You did? Well, that says something…

2. You often find yourself thinking at 3 or 4 AM, “One more game… just one more game…”

1. You learn your laundry tip from FM addictedness rating – “turning your underwear inside out saves on washing.”

 

Honorable mention:

You have at least few relationship strained, or broken, because of FM.

Catatan:

Berbagai post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman [direktori nihongo]

 

Di tulisan bagian 7a dan 7b, kita sudah bicara tentang infleksi (perubahan bentuk) kata kerja dalam bahasa Jepang. Dalam dua tulisan tersebut yang dibahas adalah bentuk standar masa kini.

Bagaimana dengan bentuk waktu yang lain?

Nah, kali ini kita akan membahas tentang kata kerja bentuk lampau di bahasa Jepang. Sebenarnya saya ingin sekalian membahas bentuk lampau untuk copula dan kata sifat di sini — meskipun begitu, setelah dipikir-pikir, sepertinya lebih baik kalau membahas kata kerja dulu saja. Sekalian agar postingnya lebih fokus dan tidak terlalu panjang, begitu. ^^a

さあ、はじめましょう。。。

[Klik untuk melanjutkan…]

Waktu saya masih kuliah dulu, ada sebuah rutinitas yang berlangsung tiap awal semester. Pada saat itu, perpustakaan akan penuh, para mahasiswa mendatangi seniornya, dan tempat fotokopi dipadati pengunjung. Tentunya bukan karena ujian, sebab — seperti sudah disebut — peristiwa ini kejadiannya di awal semester.

Yang benar, para mahasiswa tersebut (termasuk saya) sedang berlomba-lomba untuk bisa dapat buku teks. Metodenya macam-macam: ada yang berusaha meminjam pada senior; ada juga yang memfotokopi dari perpustakaan. Ada juga yang membeli langsung di toko buku — meskipun begitu, karena harganya mahal, biasanya tak banyak yang melakukan. For whatever reason, kegiatan ‘berburu’ buku teks ini kemudian jadi budaya yang lestari di kampus.

Kalau Anda sudah lama mengikuti blog ini, kemungkinan besar sudah pernah baca uraian saya terkait masalah buku teks di atas. Ada banyak hal yang jadi concern saya tiap kali membahas soal ini: harga yang (terlalu) mahal, keharusan untuk menghargai pengarang, juga kebutuhan akademis. Meskipun begitu kali ini saya ingin membahasnya dari sudut pandang yang lebih filosofis.

***

Ada pertanyaan yang timbul tiap kali saya mengecek harga buku teks untuk kuliah. Kalau hendak digeneralisasi, harga pada umumnya berada pada orde puluhan dolar. Buku biasa, tebalnya tak sampai 1000 halaman. Bagaimana bisa harganya semahal itu?

Ini pertanyaan yang dari dulu mengganggu saya. Kalau boleh jujur, saya sering iseng mengecek daftar harga buku di Amazon dan membanding-bandingkannya. Kita ambil dua pasang contoh sebagai berikut.

The Lord of The Rings (kompilasi)
(1216 hlm) = US$ 13.00
Thermodynamics: An Engineering Approach
(1016 hlm) = US$ 67.87

A History of God (paperback)
(496 hlm) = US$ 11.56
Quantum Mechanics for Scientists and Engineers
(574 hlm) = US$ 70.65

Saya pikir ada yang salah di sini. Buku yang tebalnya mirip harganya bisa berbeda begitu jauh. Kalau yang non-akademis bisa untung dengan harga belasan dolar, bagaimana mungkin yang textbook mesti dihargai 5-6 kali lipat?

Di satu sisi, saya tahu bahwa membuat buku itu tidak mudah — untuk melakukannya perlu resource, waktu, dan energi. Pembuatnya harus dihargai. Meskipun begitu ini tidak menjelaskan keheranan saya mengapa harganya sampai semahal itu. Setiap semester di seluruh dunia, mahasiswa selalu membutuhkan buku baru. Pasar mereka stabil. Saya rasa tidak ada alasan memahalkan buku teks sampai 5-6 kali lipat yang lain.

Bisa dibilang inilah awal mulanya saya merasa kecewa dengan model bisnis yang terkait “jualan ilmu”. Ilmu pengetahuan harusnya tak diambil untung. Saya percaya bahwa semua orang punya hak untuk belajar dan jadi pintar. Bagaimana pula orang diasumsikan hidup zaman sekarang kalau tidak pintar? 😐

Adapun kemajuan umat manusia dipengaruhi oleh keberhasilan sains dan teknologi. Jika buku adalah jendela ilmu, maka kesempatan membaca harus dibuka selebar-lebarnya. Setidaknya begitulah pendapat saya.

 

The Joy of Learning and The Power of Knowledge

 

Waktu saya kecil dulu, orangtua saya sering membelikan buku bertema IPA. Topiknya macam-macam: ada yang tentang tata surya, dinosaurus, hingga fisika dan ilmu bumi. Galibnya buku anak sudah tentu bahasanya sederhana dan dilengkapi banyak gambar. Meskipun begitu justru itu yang membuat pikiran kecil saya jadi terdorong.

Barangkali bisa dibilang di situlah awal mula ketertarikan saya pada bidang sains. Saya ingat salah satu buku yang di dalamnya ada percobaan listrik statis: sisir digosok-gosokkan pada kain, kemudian didekatkan pada serpihan kertas. Kertas itu berloncatan, persis seperti disebut di buku! Saya pikir itu menakjubkan. 🙂 Ilmu fisika menunjukkan bagaimana hal yang tidak disangka bisa terjadi. Saya yang waktu itu masih SD amat terkesan melihatnya.

Sudah belasan tahun berlalu sejak orangtua saya membelikan anak-anaknya berbagai macam buku tersebut. Meskipun begitu pengaruhnya masih terasa sampai sekarang: buku-buku itulah yang membuat kami jadi suka membaca dan belajar. Selalu ada yang baru tiap kali kami membuka buku dan belajar darinya.

Entah itu berupa nama dinosaurus, lapisan kulit bumi, atau sistem tata surya. It’s just fascinating. Kadang-kadang ada eksperimen yang bisa dilakukan sendiri. Semakin banyak membaca, kami jadi semakin paham tentang jalannya alam semesta. Oh, ternyata begini. Oh, ternyata begitu. Oh ternyata bumi itu bulat…

Banyak hal menarik yang bisa didapat lewat membaca buku. Saya pikir semua orang harus mencobanya. Atau paling tidak, harus diberi kesempatan mencoba. Jangan sampai orang tak pernah mengalami hanya gara-gara tak punya kesempatan.

Adapun yang di atas itu baru di bidang IPA. Bagaimana dengan di bidang lain? Geografi, Kita bisa belajar tentang lokasi-lokasi negara dan hasil buminya. Sejarah, kita bisa belajar tentang perjalanan peradaban manusia. Filsafat, kita bisa belajar tentang ide-ide yang membentuk dunia…

…dan seterusnya. Saya rasa Anda paham maksud saya. Ilmu pengetahuan itu menarik. Dengan pengetahuan kita memandang dunia; melebarkan cakrawala. Dan dari situ, siapa yang tahu?

Barangkali kelak muncul calon ilmuwan, dokter, dan insinyur dari situ. Saya suka membayangkan, apa jadinya jika Newton dan Einstein tidak pernah berkenalan dengan matematika. Akankah mereka tetap jadi jenius yang mengubah dunia? Mungkin — tapi jelas bukan sebagai ahli fisika kelas wahid.

Saya pikir ini alasan bagus kenapa kita harus memberikan akses pengetahuan seluas-luasnya ke masyarakat. Boleh jadi saat ini ada calon jenius yang sedang menunggu di desa terpencil di kaki gunung…

***

Di masa SD dulu, saya pernah menonton sebuah serial fiksi ilmiah berjudul Spellbinder (review di [sini]). Ini serial buatan Australia yang dulu tayang di ANTV tahun 1990-an.

Spellbinder bercerita tentang sekelompok bangsawan yang mempunyai teknologi canggih tapi merahasiakannya dari masyarakat. Mereka mempunyai pesawat tenaga koil, komunikasi radio, dan sebagainya — sementara masyarakat sekitarnya hidup bertani di desa. Dengan teknologi itu mereka mengesani pada masyarakat bahwa mereka adalah dewa: bisa terbang, bisa berkomunikasi jarak jauh, dan sebagainya. Mereka tinggal di istana sementara rakyat jelata tinggal di gubuk.

Akan tetapi kisahnya tidak berhenti sampai di situ. Dalam serial tersebut rakyat jelata disuruh bersujud dan membayar upeti pada para bangsawan. Jika tidak, maka mereka akan dihukum dengan kekuatan “sihir” (baca: teknologi).

Di sini saya ingin mengedepankan betapa dahsyatnya kekuatan ilmu. Sheer knowledge means sheer power. Ia bisa jadi pembeda antara yang makmur dan melarat, yang menindas dan tertindas.

Sama halnya dengan ketika di abad pertengahan orang belum mengerti ilmu kimia. Tidak ada pasta gigi, tidak ada sabun, shampoo, dan sebagainya. Sekarang? Boro-boro mandi tak pakai sabun. Gosok gigi cuma sekali sehari saja sering dianggap kurang! :mrgreen:

 

Mengapa Harus Menyebarkan Ilmu?

 

Sebagaimana sudah diuraikan panjang-lebar di atas, saya adalah orang yang sangat mendukung persebaran ilmu pengetahuan seluas-luasnya di masyarakat. Alasan filosofisnya ada tiga:

Pertama, manusia pada hakikatnya makhluk yang berpikir. Semua orang punya hak untuk belajar dan jadi pintar — termasuk di dalamnya adalah hak untuk mendapatkan ilmu seluas-luasnya.

Kedua, ilmu pengetahuan berpotensi jadi sarana perwujudan kesejahteraan masyarakat. Tidak selayaknya masyarakat dihalang-halangi dari ilmu krusial seperti kedokteran, insinyur, dan sebagainya. (I’m looking at you, textbook publishers)

Ketiga, ilmu pengetahuan itu bukan hak milik, melainkan sekadar penemuan. Kalkulus tetap kalkulus tak peduli penemunya Leibniz atau Newton. Seperti yang saya uraikan di posting blog tempo hari, kebenaran itu cuma ada satu. Tidak usahlah diperebutkan jadi milik siapa. 😛

Saya pikir tiga poin di atas cukup jelas. Ketika saya bilang bahwa “ilmu pengetahuan harusnya tak diambil untung”, sebenarnya alasannya seperti di atas. (ada juga beberapa yang tersirat dari paragraf-paragraf sebelumnya, tapi sebaiknya tidak diuraikan lagi di sini)

Oleh karena itulah, saya tidak habis pikir dengan kasus “jualan buku” yang disebut di awal tulisan. Bagaimana bisa buku sains/ilmu pengetahuan dijual sebegitu mahalnya. Mengulang pertanyaan di awal tadi: saya tahu, membuat buku itu tidak mudah. Pembuatnya harus dihargai. Tapi masa sih sampai segitunya? 😐

 

The Case For Free Culture

 

Sebagaimana bisa dilihat, saya cenderung tidak setuju pada harga buku yang terlalu mahal. Alasannya sederhana: buku yang terlalu mahal akan sulit terjangkau. Masyarakat akan semakin terpisah dari ilmu. Pada akhirnya persebaran ilmu jadi terhambat. Sementara ini bertentangan dengan filosofi saya di atas.

Masalahnya, masyarakat umum (termasuk saya) hampir tidak punya kuasa untuk memurahkan harga buku. Semua di tangan pihak penerbit. Lalu bagaimana solusinya?

Sejujurnya, saya bisa dibilang relatif bersimpati pada Free Culture Movement. Perlahan tapi pasti sekelompok orang (sebagian besar akademisi) mulai paham akan problem persebaran ilmu ini. Seiring dengan tumbuh-kembangnya internet mereka mulai menyebarkan ilmu yang mereka miliki — walaupun tentunya tidak sedetail kalau dituangkan lewat buku. The experts have talked back, so to say. Dan saya pikir ini tren yang menggembirakan.

Saya pribadi amat terkesan pada situs-situs yang, kalau boleh dibilang, merupakan “gudang ilmu”. Misalnya Wikipedia, MIT OpenCourseWare, Stanford Encyclopedia of Philosophy. Juga pada para ilmuwan/profesor yang bersedia berbagi ilmu lewat blog: Pak Rovicky, Greg Laden, Yann Klimentidis, Philosophical Disquisitions, Bu Mathildathe list goes on and on. Di tengah-tengah kesibukan mereka masih menyempatkan diri mem-publish blog terkait bidang kerjanya. Sedikit banyak menjembatani pengetahuan mereka ke masyarakat, saya rasa usaha mereka layak dikagumi.

Di sisi lain, masalah textbook belum ter-cover sepenuhnya (walaupun ada upaya ke arah situ). Well, maybe in the future? We shall see…

***

Bagaimanapun, terlepas dari statusnya yang masih baby step, persebaran ilmu lewat internet menunjukkan tren yang positif. Saya pribadi berharap bahwa suatu hari nanti kita akan punya perpustakaan besar di internet, di mana isinya open textbook berkualitas. Kelak jika anak (atau cucu) saya kuliah dan hendak mencari buku, ia bisa browsing dan mengunduhnya secara legal. Tempat di mana ilmu bisa didapat dengan mudah, gratis, dan terstandarisasi secara akademik… I may be daydreaming, though. But to be honest it sounds tempting! :mrgreen:

 

Epilog: Berdiri Di Atas Pundak Raksasa

 

Bicara tentang ini, saya jadi ingat lagi pada kisah yang dialami oleh Bapak Isaac Newton. Suatu ketika beliau pernah ditanya tentang pencapaiannya yang luar biasa. Bagaimana sih, kok bisa menemukan hukum yang hebat?

Ditanya begitu beliau menjawab:

“Jika saya bisa melihat lebih jauh daripada orang lain, itu karena saya berdiri di atas pundak raksasa.”

Sebenarnya ini adalah metafora. Maksud sebenarnya adalah: Newton menemukan hukumnya karena berlandas pada hasil penelitian ilmuwan lain (e.g. astronom Johannes Kepler dan Galileo Galilei). Tanpa hasil kerja mereka belum tentu ia akan sukses.

Sekarang kita bayangkan diri kita sebagai orang kerdil di dunia ilmu. Jelas, kita tidak bisa dibandingkan dengan Newton dan kawan-kawannya. Meskipun begitu orang kerdil sekalipun bisa melihat lebih jauh kalau berdiri di tempat yang tinggi. Contohnya tentu saja gampang.

Misalnya saya; saya tidak lebih jago daripada Newton. Tapi di kuliah saya belajar Fisika Kuantum. Newton tidak pernah belajar Fisika Kuantum. Jadi saya lebih hebat! Kan begitu? :mrgreen:

*dilempar sandal*

*bletaaaakk*

Ahem. Kembali serius. (=3=)

Saya pribadi membayangkan bahwa, kelak, jika proyek open textbook dan free culture berhasil, kita yang kerdil ini bukan saja dapat berdiri di atas bahu raksasa. Saya pikir kita akan berdiri di atas gunung! 😯 ‘Gunung’ ini adalah sebuah perpustakaan besar di mana karya dari kampus-kampus ternama terangkum di dalamnya. Mulai dari MIT, Harvard, Berkeley; Sorbonne, TU Delft, Universitas Munich; dan seterusnya. Boleh jadi sekalian dilengkapi catatan kuliah dari Profesor terkenal. Semua dapat diunduh dengan gratis, bebas dikopi dan diperbanyak.

Saya pikir ini bukan tidak mungkin terjadi. 😕 Agak terlalu mengawang, ya — tapi bukan berarti mustahil.

Sebab, menurut Bapak Robert Goddard:

“It is difficult to say what is impossible, for the dream of yesterday is the hope of today and the reality of tomorrow.”

Jadi, mari kita bermimpi… 😆

*lho kapan bangunnya*

A Tale of Two Scientists

Sekitar tahun 1972, Bapak Stephen Hawking sempat berseteru dengan sesama ilmuwan Jacob Bekenstein. Ini masanya ketika ilmu kosmologi masih amat muda dan belum banyak dipahami orang. Waktu itu Hawking masih berumur 30, dan belum menyempurnakan teori Big Bang — sementara Bekenstein adalah asisten profesor berumur 25 tahun. Pemicu keributannya adalah diskusi mengenai lubang hitam.

 

debate

diskusi yang menyedot perhatian massa™

 

Tentunya menarik kalau kita langsung membahas apa yang membuat kisruh di antara mereka. Meskipun begitu, sebelum sampai ke sana, ada baiknya kita bicara dulu tentang “lubang hitam” yang jadi masalah. 🙂

 

Lubang Hitam. Apa itu Lubang Hitam?

 

Lubang hitam (alias black hole) adalah sebuah obyek kosmologi. Dinamai seperti itu karena ia memiliki gravitasi maha dahsyat — berkas cahaya sekalipun, jika lewat terlalu dekat, akan disedot langsung olehnya.

 

black hole simulation

simulasi komputer penampakan lubang hitam (image courtesy of wikipedia)

 
Nah, gravitasi lubang hitam ini disebabkan oleh massa yang luar biasa besar. Di SMA kita pernah belajar tentang gravitasi Newton: makin besar massa, makin besar gaya tariknya. Lubang hitam juga mengikuti prinsip tersebut (walaupun detailnya agak berbeda). Para ilmuwan memperkirakan bahwa lubang hitam umumnya bermassa antara 3 hingga 10 kali matahari — ini adalah angka yang sangat besar.

Sebagai gambaran, percepatan gravitasi kita sehari-hari (9.8 m/s2) diakibatkan oleh massa bumi sebesar:

 

mbumi = 5.9742 × 1024 kilogram

 

Di sisi lain, massa bumi adalah sekitar sepersejuta dari massa matahari. Massa matahari adalah sebesar:

 

mmatahari = 1.98892 × 1030 kilogram

 

Jadi bisa kita bayangkan dahsyatnya gaya tarik yang dihasilkan lubang hitam. Puluhan juta kali gravitasi di bumi! 😮

***

Singkatnya, bisa dibilang bahwa lubang hitam memiliki gravitasi yang luar biasa. Jika ada benda lewat terlalu dekat, maka benda itu akan jatuh tersedot ke dalamnya. Tak peduli apakah dia punya massa (komet, planet, dsb.) atau tidak bermassa (e.g. berkas cahaya). Semua tunduk pada aturan yang digariskan Relativitas Umum.

Tidak ada yang bisa lolos darinya, tapi… benarkah demikian?

 

Debat Dua Ilmuwan: Hawking vs. Bekenstein

 

Sekarang kita kembali pada dua ilmuwan yang disebut di awal. 😉

Sekitar tahun 1972, para ilmuwan masih meraba-raba tentang fenomena lubang hitam. Waktu itu mayoritas sepakat bahwa lubang hitam tidak bisa dideteksi secara langsung. Sederhana saja: apanya yang dideteksi, wong tidak ada yang keluar. :mrgreen: Jikapun ada sinyal radio dari dalam lubang hitam, dipastikan akan tersedot kembali ke dalamnya.

Anggapan waktu itu adalah bahwa lubang hitam bersifat seperti vacuum cleaner. Benda bisa masuk, tapi tak bisa keluar.

Nah, dengan asumsi di atas, Hawking merumuskan sebuah hukum lubang hitam. Menurut Hawking,

“Tidak mungkin ada lubang hitam yang mengecil. Ukuran lubang hitam cuma bisa tetap atau bertambah besar.”

Bekenstein mendengar rumusan Hawking di atas. Meskipun begitu, ia tidak sekadar mengamini — melainkan membuat teori baru darinya.

“Hukum temuan Hawking menunjukkan paralel dengan termodinamika klasik. Saya mengajukan ide bahwa lubang hitam memiliki entropi. Entropi ini diwakili oleh luas permukaan Hawking.”

Di sinilah perseteruan antara Hawking dan Bekenstein dimulai. Menurut Hawking, Bekenstein telah berbuat ngaco: kalau suatu benda punya entropi, pastilah ada suhu/radiasi yang dipancarkan. Sementara lubang hitam harusnya tidak begitu.

Di sisi lain, Bekenstein kukuh: setiap benda material mempunyai entropi. Kalau lubang hitam menyerap benda material, maka sudah pasti entropinya bertambah. Tidak mungkin lubang hitam menyalahi hukum termodinamika. Berarti Hawking yang salah! 😮

***

Singkat cerita, dua ilmuwan ini kemudian terlibat perang pena. Selama bertahun-tahun Hawking mencoba menjatuhkan argumen Bekenstein. Menarik kalau diperhatikan bahwa, di masa sekarang, kita melihat nama Hawking amat terkenal, sedangkan Bekenstein tidak.

Pembaca mungkin mengira bahwa Hawking menang mudah — tapi ceritanya tak sesederhana itu.

 

The Bittersweet Irony

 

Di tahun 1974, Hawking mengadakan seminar tentang teori lubang hitam temuannya. Dalam seminar ia mengumumkan ide yang kelak jadi pijakan dunia kosmologi: Radiasi Hawking. Teori ini dipuji-puji karena menyatukan mekanika kuantum, relativitas umum, dan termodinamika dalam satu framework.

Banyak yang menilai bahwa ini karya ilmiah terbesar temuan Hawking. Meskipun begitu, tahukah pembaca apa yang ironis?

Teori Radiasi Hawking ternyata memakai ide Bekenstein.

Iya, betul. Orang yang didebat habis-habisan oleh Hawking ternyata justru jadi pilar karya besarnya. Bekenstein benar bahwa lubang hitam mempunyai entropi, tunduk pada termodinamika, dan sebagainya. Dia cuma lupa satu hal:

Benda yang punya entropi harus punya suhu atau memancarkan radiasi

Hawking-lah yang menyempurnakan kecacatan itu. Teori Radiasi Hawking menyatakan bahwa lubang hitam mempunyai entropi, mempunyai suhu, dan memancarkan radiasi. Persis seperti kata Bekenstein. Hanya lebih sempurna.

Bekenstein sial karena dia berada di jalan yang benar tapi tidak menangkap detailnya. Hawking beruntung karena — sembari mendebat Bekenstein — ia melihat kemungkinan baru dan menganalisis detailnya. Barangkali kalau tak ada Bekenstein, Hawking takkan sesukses itu. Siapa yang tahu? 😉

Mengutip Hawking dalam bukunya sendiri, “A Brief History of Time”:

“I must admit that in writing this paper I was motivated partly by irritation with Bekenstein, who, I felt, had misused my discovery of the increase of the area of the event horizon. However, it turned out in the end that he was basically correct, though in a manner he had certainly not expected. […] the more I thought about it, the more it seemed that the approximations really ought to hold.”

Adapun di masa kini kalangan ilmiah mengakui jasa Bekenstein. Teori Radiasi Hawking sering disebut Teori Bekenstein-Hawking untuk menghormatinya. Toh ini tidak mengubah kenyataan. Amatlah ironis bahwa Hawking terpaksa menerima ide Bekenstein yang dia hujat, menyempurnakannya, dan jadi besar karena itu.

 

The One Truth

 

Bicara tentang ini, tahu tidak, saya jadi pada ingat pada apa? Saya jadi ingat pada Shinichi Kudo. 😆

Iya, Shinichi Kudo yang itu. Tokoh detektif SMA di komik Detektif Conan. Ada satu ucapannya yang memorable yang — kalau saya tidak salah ingat — disampaikan di komik nomor 10. Waktu itu ia mendapat tantangan dari sesama detektif Heiji Hattori.

“Dalam penyelidikan, tidak ada menang atau kalah. Sebab kebenaran cuma ada satu.”

Dan memang begitulah adanya. Di atas segala perbedaan pendapat, kebenaran itu berdiri sendiri. Kebenaran cuma ada satu — tidak terpengaruh oleh mereka yang mendebatkannya! 🙂 Contohnya sudah kita lihat lewat ilustrasi dua ilmuwan di atas.

Ketika Hawking mendebat Bekenstein habis-habisan, itu tidak mengubah kenyataan bahwa Bekenstein berkata benar. Justru pada akhirnya Hawking harus menerima “kebenaran” Bekenstein. Adapun dengan berbuat begitu, Hawking membuka babak baru di dunia kosmologi.

Saya tertarik mengamati dua orang ini dalam konteks menang-kalah secara akademis. Siapakah yang menang? Siapakah yang kalah? Susah untuk dipastikan, sebab masing-masing punya kontribusi. Tetapi, sebagaimana diindikasikan lewat kutipan: sesungguhnya tak ada yang menang atau kalah. Perkara seperti pencapaian akademis dan sebagainya itu semu belaka.

Nyatanya Bekenstein dan Hawking sama-sama mengejar kebenaran. Kebenaran yang cuma ada satu. Dan mereka berdua sampai di sana dengan saling bantu… biarpun mungkin tanpa disadari. Di sini kita lihat bahwa kontribusi mereka saling terikat, academic achievements be damned.

***

Jadi, setelah berpanjang-panjang sampai sini, inti cerita di atas adalah…

…apa ya? Sebenarnya cuma mau cerita saja sih. 😆 Saya rasa pembaca bisa menarik pesan moralnya sendiri-sendiri. Bagaimanapun kisah ini sudah menarik kalau dijabarkan begitu saja, jadi yah begitulah. 😛

Saya pribadi terkesan dengan sikap legowo yang ditunjukkan oleh Hawking. Dengan mengakui kebenaran Bekenstein, ia berhasil merumuskan karyatama di dunia ilmiah. Bagaimana jika Hawking berkeras menolak Bekenstein? Boleh jadi dia takkan menemukan Teori Radiasinya tersebut. Kemajuan dunia kosmologi barangkali akan terhambat bertahun-tahun. Tapi bukan itu yang kita bahas di sini.

Often times, there is wisdom inside the humble pie…

 

 

——

Bacaan Lebih Lanjut:

  • A Brief History of Stephen Hawking ~ New Scientist (link)
  • Stephen Hawking: “A Brief History of Time” (1988) (buku)
  • J.P. McEvoy & Oscar Zarate: “Introducing Stephen Hawking” (2005) (buku)

Godspeed, Ramsey

I usually scheduled to update my blog twice-a-week maximum, but this is just… well, extraordinary.

So, word of news is that Aaron Ramsey got Eduardo’d. Yes, you read it right: another February, another similar career-threatening injury. Unfortunately I got to see his foot dangling unnaturally mid-air by 66th minute. Which wasn’t pretty by the way. But that goes without saying.

 

[picapp align=”none” wrap=”false” link=”term=arsenal+stoke&iid=8131731″ src=”a/2/6/9/Sports_News_6c34.jpg?adImageId=10879404&imageId=8131731″ width=”500″ height=”337″ /]

    above: Ramsey was being attended to by players and officials.

    (graphic, disturbing image of the injury can be seen: here)

 
Even the defender, Shawcross looked traumatized by the outcome. I have a bit of sympathy for him, though.

 

[picapp align=”none” wrap=”false” link=”term=arsenal+stoke&iid=8131702″ src=”5/b/6/f/Sports_News_f85f.jpg?adImageId=10879593&imageId=8131702″ width=”380″ height=”441″ /]

 

Gunners went on to win the match 1-3. But in a match that saw Arsenal officially back into title race, it is the kind of injury that marred any joy whatsoever. One wonders if Ramsey will make full recovery, however, example given by Eduardo shows that not all is lost and bleak.

All prayers and thought for him. Godspeed, Aaron. 😦

 

—–

Credit:

All photographs courtesy of PicApp.com

Getting Even With Mom

Sejauh yang bisa saya lihat, keluarga saya dari pihak ibu umumnya mempunyai jiwa witty khas Jawa Timuran. Sebenarnya ini bukan hal yang aneh — ibu saya sendiri lahir dan besar di Surabaya, sementara kakek-nenek saya juga asalnya dari situ. Jadi bisa dibilang saya mendapat pengaruh budaya Jawa Timuran dari mereka.

(di sisi lain, ayah saya orang Jawa Tengah; tapi itu takkan kita bahas di sini)

Kalau ada pembaca yang punya kenalan orang Jawa Timur, kemungkinan besar sudah tahu bahwa suku ini punya unggah-ungguh (kesopanan) yang rada unik. Berbeda dengan Jawa Tengah yang tenang, sabar, dan mengutamakan harmoni, orang Jawa Timur relatif lebih vokal menyuarakan isi hati. Adapun mereka punya cara unik untuk melakukannya. Bukan dengan tegas, apalagi bentak — melainkan dengan sindiran dan tertawaan.

Iya, dengan tertawaan. Ada sebuah humor (atau anekdot?) Suroboyoan yang terkenal tentang sopir becak yang ngebut. Kontan, penumpang yang sport jantung protes ke si sopir. Jawaban si sopir?

“Wis murah kok njaluk slamet!”

(id: “Sudah murah kok minta selamat!”)

Well, you got the idea. Kasar-kasarnya, kalau orang Batak marahnya bikin menciut, maka orang JaTim marahnya bikin dongkol. 😆 Ada semacam witticism yang terkandung dalam cara mereka berekspresi, kalau saya boleh menyimpulkan seenaknya.

Nah, ibu saya adalah turunan dari suku yang disebut di atas. Dan sebagaimana bisa ditebak… beliau juga mewarisi semangat yang sama dalam bersikap. Terutama sebagaimana diterapkan pada anak-anaknya.

Dan sebagai anaknya, otomatis saya jadi ‘terdidik’ supaya bisa menanggapi up-to-par. Mau bagaimana lagi? 😆

Semuanya bermula di satu hari belasan tahun yang lalu…

Ibu saya: So, kemarin aku ketemu ibunya teman kamu pas arisan.

Saya: Oh. Terus?

Ibu: Ibunya cantik lho. Anaknya cakep juga kan? :mrgreen:

Saya: *gobsmacked*

Ibu: (tanpa peduli reaksi saya) Ya iyalah anaknya cantik. Wong ibunya cakep…

Sementara di latar belakang, saya terkapar diam tak mampu bicara. Benar-benar tak mampu berbicara. Sungguh mati tidak melebih-lebihkan, saudara-saudara. Waktu itu saya speechless betulan. (=_=!)

 

onion-thunder

What a speechless reaction may look like

 
Waktu itu saya masih SMP, barangkali sekitar kelas satu. Jadi sejak itu saya mulai belajar mendalami satu hal: the art of witticism. Kalau ibu mau berbuat begitu lagi ke saya, maka paling tidak saya harus bisa menanggapi! (u_u)

Dan demikianlah adanya hingga suatu sore di tahun 2002… ketika beliau iseng mengecek meja belajar saya dan menemukan sebuah foto terselip diantara buku-buku.

Ibu: Eh, siapa ini, ada foto cewek berjilbab pakai seragam SMA…

Saya: GRAAAA~!!! 😈

Ibu: Coba jawab pertanyaan ibu. Itu foto kamu dapat karena dikasih, minta, atau mencuri? (^_^)

Saya: Aku nggak mencuri fotonya kok. Aku cuma mencuri hatinya aja… (=3=)

(*sambil mendengus*)

Kontan, beliau menertawakan saya habis-habisan di tempat. But that’s one good comeback anyway. Kan begitu? 😆

Tentu, masalah dialog aneh-aneh antara ibu dan saya tidak mesti terkait romance. Ada juga yang temanya relatif netral dan tidak berhubungan dengan itu.

Ibu: Janji adalah hutang. Ingat itu, kamu sudah janji mau melakukan X, harus kamu lakukan.

Saya: Tapi hutang kan bisa diputihkan. Misalnya hutang Tommy pas jaman Pak Harto…

Ibu: Nggak bisa. Pokoknya, nggak bisa. [-(

Saya: Err… eh… kalau begitu, restrukturisasi hutang! 😀 Kan ada aturan-

Ibu: NGGAK BOLEH!! 😈

Galibnya diskusi ibu dan anak, sudah tentu ujung-ujungnya saya yang berkompromi. Tapi, yah, yang penting kan usahanya. ^^a

Lain kali, saya bilang ke beliau sebagai berikut.

Saya: Dipikir-pikir, sebenarnya tampangku rada mirip ibu. Kalau [adik saya] lebih mirip bapak. (=3=)

Ibu: Ih, mirip-miripin. Aku tuh beda sama kamu. Aku dulu rajin kuliah, pinter, nggak kayak kamu sekarang.

Saya: Eh jangan salah. Sebenarnya aku ini cowok pinter, rajin, dan berkualitas. Hanya saja nggak ada yang sadar. 🙂

Saya: Kalau orang yang tercerahkan, pasti sadar akan kualitas diriku. (u_u)

Ibu: Ada po yang bilang gitu? Kalau ada cewek yang setuju, bawa sini. Biar kenalin sama aku.

Saya: …… XD

Lah, ibu. Bukannya aku gak mau bawa, tapi… kalau adanya di seberang pulau atau negeri, gimana ngenalinnya? XD bukan berarti waktu itu lagi ada sih…

 
Meskipun begitu, tak ada yang setegas kalimat beliau tiap kali ditanya tentang hal di bawah ini. Selama belasan tahun jawabannya selalu sama.

Saya: Ibu, aku ini ganteng nggak? 😀

Ibu: Enggak. Jelek.

Serius, beliau selalu bilang begitu. Bayangkan betapa sesaknya perasaan saya. 😥 Tapi, berhubung saya sudah kebal, biasanya saya melanjutkan begini:

Saya: Padahal sendirinya narsis. (=3=) Siapa tuh yang kemaren ngaku2 dirinya pinter, rajin, pandai bergaul…

Ibu: Eh, aku tuh narsis cuma di rumah aja. Kalau sama tetangga atau sejawat, ya, jaga wibawa lah.

Ibu: Orang itu harus tahu cara membawa diri… (u_u)

Saya: Jaim… (=3=)

Ibu: Biarin. (*sambil lanjut dandan di depan cermin*)

***

Kalau boleh jujur, terkadang saya merasa bahwa saya dan ibu itu seperti dua sisi mata uang. Cara berpikirnya beda, pandangan politiknya beda, generasinya juga beda. Tapi sebenarnya toh sama juga. Sama-sama suka ngeyel, jaim, dan — ssst ini rahasia 😛 — sama-sama hobi curcol. Cuma bedanya, saya kalau curcol lewat tulisan. Sementara beliau lewat omongan. 😆

Walaupun ada juga bedanya soal itu. Saya ini orang yang relatif jujur dalam mengungkapkan perasaan, sementara beliau orangnya no-nonsense. Jadi, tiap kali beliau menelepon malam-malam…

Ibu: So, [adik] lagi di rumah nih. Kamu pulang nggak liburan ini?

Saya: Mmm… lihat nanti dululah. Tergantung kesibukan aja.

Ibu: Kamu kan udah lama nggak pulang. Rindu nggak sama ibu? (^_^)

Saya: Lho ya jelas. Aku RINDUUUUU banget sama ibu. Beneran. Sumpah mati aku kangen sama ibu. 😎 SUER!!!

Ibu: Ceilee… bener?

Saya: BEN-NER BANGET. Sumpah!!

Ibu: Aku gak percaya. Udah ah, segitu aja. Ntar kalau mau pulang bilang-bilang ya.

Saya: Eh serius itu… (=3=)

Ibu: Iya deh, aku percaya. Udah ya, dadah.

(bunyi telepon: *tuuut-tuut-tuuuuut*)

Saya: XD

Sepertinya beliau nggak percaya. Ah, ya sudahlah. Yang penting udah dibilangin. 😆