Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘fisika’

Sekitar tahun 1972, Bapak Stephen Hawking sempat berseteru dengan sesama ilmuwan Jacob Bekenstein. Ini masanya ketika ilmu kosmologi masih amat muda dan belum banyak dipahami orang. Waktu itu Hawking masih berumur 30, dan belum menyempurnakan teori Big Bang — sementara Bekenstein adalah asisten profesor berumur 25 tahun. Pemicu keributannya adalah diskusi mengenai lubang hitam.

 

debate

diskusi yang menyedot perhatian massa™

 

Tentunya menarik kalau kita langsung membahas apa yang membuat kisruh di antara mereka. Meskipun begitu, sebelum sampai ke sana, ada baiknya kita bicara dulu tentang “lubang hitam” yang jadi masalah. ๐Ÿ™‚

 

Lubang Hitam. Apa itu Lubang Hitam?

 

Lubang hitam (alias black hole) adalah sebuah obyek kosmologi. Dinamai seperti itu karena ia memiliki gravitasi maha dahsyat — berkas cahaya sekalipun, jika lewat terlalu dekat, akan disedot langsung olehnya.

 

black hole simulation

simulasi komputer penampakan lubang hitam (image courtesy of wikipedia)

 
Nah, gravitasi lubang hitam ini disebabkan oleh massa yang luar biasa besar. Di SMA kita pernah belajar tentang gravitasi Newton: makin besar massa, makin besar gaya tariknya. Lubang hitam juga mengikuti prinsip tersebut (walaupun detailnya agak berbeda). Para ilmuwan memperkirakan bahwa lubang hitam umumnya bermassa antara 3 hingga 10 kali matahari — ini adalah angka yang sangat besar.

Sebagai gambaran, percepatan gravitasi kita sehari-hari (9.8 m/s2) diakibatkan oleh massa bumi sebesar:

 

mbumi = 5.9742 ร— 1024 kilogram

 

Di sisi lain, massa bumi adalah sekitar sepersejuta dari massa matahari. Massa matahari adalah sebesar:

 

mmatahari = 1.98892 ร— 1030 kilogram

 

Jadi bisa kita bayangkan dahsyatnya gaya tarik yang dihasilkan lubang hitam. Puluhan juta kali gravitasi di bumi! ๐Ÿ˜ฎ

***

Singkatnya, bisa dibilang bahwa lubang hitam memiliki gravitasi yang luar biasa. Jika ada benda lewat terlalu dekat, maka benda itu akan jatuh tersedot ke dalamnya. Tak peduli apakah dia punya massa (komet, planet, dsb.) atau tidak bermassa (e.g. berkas cahaya). Semua tunduk pada aturan yang digariskan Relativitas Umum.

Tidak ada yang bisa lolos darinya, tapi… benarkah demikian?

 

Debat Dua Ilmuwan: Hawking vs. Bekenstein

 

Sekarang kita kembali pada dua ilmuwan yang disebut di awal. ๐Ÿ˜‰

Sekitar tahun 1972, para ilmuwan masih meraba-raba tentang fenomena lubang hitam. Waktu itu mayoritas sepakat bahwa lubang hitam tidak bisa dideteksi secara langsung. Sederhana saja: apanya yang dideteksi, wong tidak ada yang keluar. :mrgreen: Jikapun ada sinyal radio dari dalam lubang hitam, dipastikan akan tersedot kembali ke dalamnya.

Anggapan waktu itu adalah bahwa lubang hitam bersifat seperti vacuum cleaner. Benda bisa masuk, tapi tak bisa keluar.

Nah, dengan asumsi di atas, Hawking merumuskan sebuah hukum lubang hitam. Menurut Hawking,

“Tidak mungkin ada lubang hitam yang mengecil. Ukuran lubang hitam cuma bisa tetap atau bertambah besar.”

Bekenstein mendengar rumusan Hawking di atas. Meskipun begitu, ia tidak sekadar mengamini — melainkan membuat teori baru darinya.

“Hukum temuan Hawking menunjukkan paralel dengan termodinamika klasik. Saya mengajukan ide bahwa lubang hitam memiliki entropi. Entropi ini diwakili oleh luas permukaan Hawking.”

Di sinilah perseteruan antara Hawking dan Bekenstein dimulai. Menurut Hawking, Bekenstein telah berbuat ngaco: kalau suatu benda punya entropi, pastilah ada suhu/radiasi yang dipancarkan. Sementara lubang hitam harusnya tidak begitu.

Di sisi lain, Bekenstein kukuh: setiap benda material mempunyai entropi. Kalau lubang hitam menyerap benda material, maka sudah pasti entropinya bertambah. Tidak mungkin lubang hitam menyalahi hukum termodinamika. Berarti Hawking yang salah! ๐Ÿ˜ฎ

***

Singkat cerita, dua ilmuwan ini kemudian terlibat perang pena. Selama bertahun-tahun Hawking mencoba menjatuhkan argumen Bekenstein. Menarik kalau diperhatikan bahwa, di masa sekarang, kita melihat nama Hawking amat terkenal, sedangkan Bekenstein tidak.

Pembaca mungkin mengira bahwa Hawking menang mudah — tapi ceritanya tak sesederhana itu.

 

The Bittersweet Irony

 

Di tahun 1974, Hawking mengadakan seminar tentang teori lubang hitam temuannya. Dalam seminar ia mengumumkan ide yang kelak jadi pijakan dunia kosmologi: Radiasi Hawking. Teori ini dipuji-puji karena menyatukan mekanika kuantum, relativitas umum, dan termodinamika dalam satu framework.

Banyak yang menilai bahwa ini karya ilmiah terbesar temuan Hawking. Meskipun begitu, tahukah pembaca apa yang ironis?

Teori Radiasi Hawking ternyata memakai ide Bekenstein.

Iya, betul. Orang yang didebat habis-habisan oleh Hawking ternyata justru jadi pilar karya besarnya. Bekenstein benar bahwa lubang hitam mempunyai entropi, tunduk pada termodinamika, dan sebagainya. Dia cuma lupa satu hal:

Benda yang punya entropi harus punya suhu atau memancarkan radiasi

Hawking-lah yang menyempurnakan kecacatan itu. Teori Radiasi Hawking menyatakan bahwa lubang hitam mempunyai entropi, mempunyai suhu, dan memancarkan radiasi. Persis seperti kata Bekenstein. Hanya lebih sempurna.

Bekenstein sial karena dia berada di jalan yang benar tapi tidak menangkap detailnya. Hawking beruntung karena — sembari mendebat Bekenstein — ia melihat kemungkinan baru dan menganalisis detailnya. Barangkali kalau tak ada Bekenstein, Hawking takkan sesukses itu. Siapa yang tahu? ๐Ÿ˜‰

Mengutip Hawking dalam bukunya sendiri, “A Brief History of Time”:

“I must admit that in writing this paper I was motivated partly by irritation with Bekenstein, who, I felt, had misused my discovery of the increase of the area of the event horizon. However, it turned out in the end that he was basically correct, though in a manner he had certainly not expected. […] the more I thought about it, the more it seemed that the approximations really ought to hold.”

Adapun di masa kini kalangan ilmiah mengakui jasa Bekenstein. Teori Radiasi Hawking sering disebut Teori Bekenstein-Hawking untuk menghormatinya. Toh ini tidak mengubah kenyataan. Amatlah ironis bahwa Hawking terpaksa menerima ide Bekenstein yang dia hujat, menyempurnakannya, dan jadi besar karena itu.

 

The One Truth

 

Bicara tentang ini, tahu tidak, saya jadi pada ingat pada apa? Saya jadi ingat pada Shinichi Kudo. ๐Ÿ˜†

Iya, Shinichi Kudo yang itu. Tokoh detektif SMA di komik Detektif Conan. Ada satu ucapannya yang memorable yang — kalau saya tidak salah ingat — disampaikan di komik nomor 10. Waktu itu ia mendapat tantangan dari sesama detektif Heiji Hattori.

“Dalam penyelidikan, tidak ada menang atau kalah. Sebab kebenaran cuma ada satu.”

Dan memang begitulah adanya. Di atas segala perbedaan pendapat, kebenaran itu berdiri sendiri. Kebenaran cuma ada satu — tidak terpengaruh oleh mereka yang mendebatkannya! ๐Ÿ™‚ Contohnya sudah kita lihat lewat ilustrasi dua ilmuwan di atas.

Ketika Hawking mendebat Bekenstein habis-habisan, itu tidak mengubah kenyataan bahwa Bekenstein berkata benar. Justru pada akhirnya Hawking harus menerima “kebenaran” Bekenstein. Adapun dengan berbuat begitu, Hawking membuka babak baru di dunia kosmologi.

Saya tertarik mengamati dua orang ini dalam konteks menang-kalah secara akademis. Siapakah yang menang? Siapakah yang kalah? Susah untuk dipastikan, sebab masing-masing punya kontribusi. Tetapi, sebagaimana diindikasikan lewat kutipan: sesungguhnya tak ada yang menang atau kalah. Perkara seperti pencapaian akademis dan sebagainya itu semu belaka.

Nyatanya Bekenstein dan Hawking sama-sama mengejar kebenaran. Kebenaran yang cuma ada satu. Dan mereka berdua sampai di sana dengan saling bantu… biarpun mungkin tanpa disadari. Di sini kita lihat bahwa kontribusi mereka saling terikat, academic achievements be damned.

***

Jadi, setelah berpanjang-panjang sampai sini, inti cerita di atas adalah…

…apa ya? Sebenarnya cuma mau cerita saja sih. ๐Ÿ˜† Saya rasa pembaca bisa menarik pesan moralnya sendiri-sendiri. Bagaimanapun kisah ini sudah menarik kalau dijabarkan begitu saja, jadi yah begitulah. ๐Ÿ˜›

Saya pribadi terkesan dengan sikap legowo yang ditunjukkan oleh Hawking. Dengan mengakui kebenaran Bekenstein, ia berhasil merumuskan karyatama di dunia ilmiah. Bagaimana jika Hawking berkeras menolak Bekenstein? Boleh jadi dia takkan menemukan Teori Radiasinya tersebut. Kemajuan dunia kosmologi barangkali akan terhambat bertahun-tahun. Tapi bukan itu yang kita bahas di sini.

Often times, there is wisdom inside the humble pie…

 

 

——

Bacaan Lebih Lanjut:

  • A Brief History of Stephen Hawking ~ New Scientist (link)
  • Stephen Hawking: “A Brief History of Time” (1988) (buku)
  • J.P. McEvoy & Oscar Zarate: “Introducing Stephen Hawking” (2005) (buku)
Iklan

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian keenam (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Setelah sebelumnya membahas tentang filsafat determinisme dan dunia kuantum, sekarang kita berpaling pada pertanyaan yang menggelayuti dunia sains (dan filsafat pada umumnya). Adakah kehendak bebas?

Di tulisan bagian IV.a, kita menemukan bahwa sifat ketidakpastian kuantum bernilai signifikan, asalkan orde benda — dalam jumlah atom — cukup kecil. Berangkat dari ide ini, beberapa ilmuwan berspekulasi tentang sistem otak dan kesadaran: mungkinkah kehendak bebas manusia dihasilkan lewat kaidah mekanika kuantum? Apakah kesadaran manusia, yang notabene kompleks dan nonlinear, berawal dari sini?

Here goes the story…

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian kelima (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Dalam kaitannya dengan dunia filsafat, penafsiran atas mekanika kuantum (quantum mechanics, QM) sangat diwarnai oleh latar belakang filsafat para ilmuwannya. Inilah sebabnya terdapat begitu banyak interpretasi QM yang masih berlaku hingga saat ini — sebagaimana sudah kita bahas di tulisan bagian tiga.

Di tulisan kali ini, kita akan membahas latar belakang filsafat yang dimiliki oleh para fisikawan kuantum. Di sini saya hadirkan tiga orang fisikawan generasi lama yang sering bersilang pendapat: Niels Bohr dan Werner Heisenberg di satu sisi, dan Albert Einstein di sisi lain. Adapun untuk memberikan pendapat yang lebih modern, saya sempatkan membahas sekilas mengenai David Deutsch.

Sebagai catatan, Deutsch mungkin tidak begitu terkenal dibandingkan tiga orang ‘raksasa’ yang disebut sebelumnya. Meskipun demikian, ia mempunyai pandangan filosofis cukup menarik (akan kita lihat di seksi #4b.5 kelak). Ditambah lagi ia sebenarnya seorang fisikawan besar in-the-making: what’s with the quantum computer and MWI! Jika Anda mengikuti perkembangan fisika modern akhir-akhir ini, maka Anda tahu apa yang saya maksud. ๐Ÿ˜€

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian keempat (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Dalam tiga tulisan sebelumnya, saya berulangkali menyinggung tantangan yang dilemparkan mekanika kuantum (quantum mechanics, QM) pada filsafat determinisme. Tulisan ini adalah bagian khusus yang akan membahas hubungan antara QM dan filsafat determinisme — baik di skala kuantum maupun makro.

Selamat membaca. ๐Ÿ˜‰

(more…)

Read Full Post »

Saya merasa hati saya disobek-sobek ketika membaca dalil-dalil fisika dipakai untuk mengapologikan keyakinan agama…

…dengan tidak semestinya.

Orang-orang awam mungkin akan senang dan merasa makin kukuh imannya. Tetapi, jika Anda paham dengan apa yang dibicarakan, melewati technobabble yang digunakan, maka pilihan Anda cuma dua: kecewa sekali atau marah sekali.

Dan saya mengalami yang pertama.

(ditulis setelah membaca “Pusaran Energi Ka’bah” karya Agus Mustofa)

 

Kutipan dan Tanggapan:

 

Disisi lain, ternyata jutaan orang yang berthawaf mengelilingi Ka’bah juga menghasilkan energi yang besar. Dari mana asalnya? Di dalam ilmu Fisika kita mengenal suatu kaidah yang disebut Kaidah Tangan Kanan.

Kaidah Tangan Kanan mengatakan: “Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan elektromagnetik yang mengarah ke atas.”

Hal ini, dalam Kaidah Tangan Kanan, digambarkan dengan sebuah tangan yang menggenggam empat jari, dengan ibu jari yang tegak ke arah atas. Empat jari yang menggenggam itu itu digambarkan sebagai arah putaran arus listrik, sedangkan ibu jari itu digambarkan sebagai arah medan elektromagnetik.

Kaidah tangan kanan ini telah memberi kemudahan kepada kita dalam memahami misteri Ka’bah. ‘Kebetulan’, orang berthawaf mengelilingi Ka’bah berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Atau dalam kaidah itu mengikuti putaran empat jari tergenggam.

 

~ hal. 112-113
(cetak tebal dari saya)

Ada tiga kesalahan yang ingin saya tunjuk di sini.

Pertama, penulis menyatakan “konduktor dikelilingi oleh arus listrik” (analogi orang berthawaf, Ka’bah sebagai konduktor — lihat kutipan selanjutnya 1, 2).

Ini salah besar. Arus tak bisa mengalir di luar konduktor. Ia hanya bisa mengalir lewat medium penghantar, e.g. kawat logam. Arus listrik tidak bergerak mengelilingi konduktor di udara bebas, sebagaimana ilustrasi orang berthawaf di atas.

Kedua, medan magnet tidak muncul di konduktor, melainkan di sekeliling konduktor berarus. Jika Anda menghantarkan listrik pada kawat, medan magnet akan muncul di sekeliling kawat… BUKAN pada kawat konduktor itu sendiri.

Ketiga, kaidah tangan kanan (right hand grip rule) yang sebenarnya tidak berbunyi seperti di atas. Melainkan:

    Ibu jari Anda melambangkan arah arus, dan empat jari yang menggenggam melambangkan arah medan magnet.

Jika arus mengalir lurus, maka medan magnet yang dihasilkan akan melingkar. Jika arus dibuat melingkar… maka kita harus melakukan perhitungan lebih lanjut. Kita harus menerapkan aturan tangan kanan dengan ibu jari kita mengikuti gerak arus.

Agak rumit bila dijabarkan, tapi bisa dijelaskan dengan ilustrasi sebagai berikut.

 

[medan magnet arus melingkar]

Untuk arus yang berputar berlawanan arah jarum jam, akan terbentuk medan magnet seperti ilustrasi sebelah kanan. Perhatikan bahwa:

1. Bagian tengah kosong (tidak ada konduktor)
2. Arus merambat pada kawat, bukan di udara kosong
3. Medan magnet terbentuk di sekeliling kawat
4. Arah medan magnet tidak hanya ke atas, melainkan melingkar.
Dengan demikian terdapat medan magnet ke arah bawah di sisi luar konduktor. (tidak digambarkan)

Kutipan di atas setengah benar ketika menjelaskan arah medan magnet ke atas, tetapi salah total ketika menjelaskan arus. Sorry, but — first.

 

Masih ada lagi yang lain:

Seperti telah saya katakan, bahwa tubuh manusia ini sebenarnya mengandung listrik dalam jumlah besar yang dibawa oleh miliaran bio-elektron dalam tubuh kita. […] Sehingga ketika ada jutaan orang berthawaf mengelilingi Ka’bah, ini seperti ada sebuah arus listrik yang sangat besar berputar-putar berlawanan dengan arah jarum jam mengitari Ka’bah. Apa yang terjadi?

 
~hal. 113

Per definisi, arus listrik adalah elektron yang bergerak. Apabila terdapat arus, maka akan terbentuk medan magnet di sekitarnya. (perhatikan gambar di atas)

Saya tidak tahu apa itu bio-elektron, kecuali — mungkin — maksudnya adalah elektron yang terdapat dalam sistem fisiologi tubuh manusia. Ini tidak menjawab apa-apa. Elektron dalam tubuh manusia tidak ada bedanya dengan elektron dalam sebongkah bata.

Meskipun begitu, sekilas saya bisa menangkap ide yang beliau usung:

    Kelihatannya, penulis berupaya menjelaskan arus lewat ide “manusia sebagai muatan negatif yang bergerak”.
     
    Dengan demikian gerakan thawaf akan menghasilkan arus berlawanan arah jarum jam.

Sayangnya, ide ini sangat mentah. Tubuh manusia umumnya bermuatan netral. OK, terdapat satu-dua kondisi di mana tubuh manusia bisa bermuatan lebih positif/negatif (penjelasan yang bagus: di sini). Meskipun demikian hal ini sifatnya tidak alami… Anda harus menjalani proses ‘kehilangan’ muatan dulu sebelum jadi tidak netral.

Jika manusia bermuatan bergerak, maka akan timbul medan magnet (berperilaku seperti arus listrik). Tetapi, jika manusia netral bergerak, maka tak akan timbul medan magnet sama sekali. Tidak ada perilaku arus. Ini sama saja dengan memutar-mutar batu bata (muatan netral) menggunakan tali — takkan ada gejala elektromagnet, karena muatan bendanya sendiri nol!

 

Dan lagi:

Di tengahnya, di Ka’bah — khususnya lagi di Hajar Aswad — terjadi medan elektromagnetik yang mengarah ke atas. Kenapa begitu? Karena dalam hal ini Hajar Aswad telah berfungsi sebagai konduktor, seperti dijelaskan oleh Kaidah Tangan Kanan.

 
~ hal. 113
(cetak tebal dari saya)

Perhatikan kembali gambar yang saya cantumkan. Sebenarnya tidak perlu ada konduktor di tengah untuk memunculkan medan magnet.

Jika sebuah arus berputar berlawanan arah jarum jam, maka arah medan magnet — di dalam lingkaran — akan cenderung ke atas. Di titik pusat, terbentuk medan magnet yang benar-benar tegak. Semua terjadi tanpa perlu adanya konduktor di tengah cincin.

 

Dan TERAKHIR… (ini yang membuat saya benar-benar geleng kepala)

Sesungguhnya, setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik. Gelombang itu selalu memancar ketika kita melakukan apa pun. Ketika kita berkata-kata, kita sebenarnya sedang memancarkan gelombang suara yang berasal dari getaran pita suara kita.

Ketika kita berbuat, kita juga sedang memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita. Jika tertangkap mata seseorang, maka mereka dikatakan bisa melihat gerakan atau perbuatan kita. Demikian pula ketika kita sedang berpikir, maka otak kita juga memancarkan gelombang yang bisa dideteksi dengan menggunakan alat perekam aktivitas otak yang disebut EEG (Electric Encephalo Graph). Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi.

 
~ hal. 112
(cetak tebal dari saya)

Maaf, tapi tidak ada ampun di sini. ๐Ÿ˜•

 
Pertama:

Gelombang suara BUKAN gelombang elektromagnetik, melainkan gelombang mekanik. Keduanya memiliki perbedaan properti yang signifikan.

Yang saya lihat, penulis cenderung mencampuradukkan fenomena gelombang dan mewadahkannya dalam satu nama “gelombang elektromagnetik”. Mungkin beliau tidak bermaksud demikian — tetapi, menyebut gelombang suara tepat setelah membicarakan gelombang elektromagnetik, itu berpotensi menyesatkan pembaca yang awam. ๐Ÿ˜

 
Kedua:

Penulis menyatakan “setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik”. Disambung dengan percontohan bahwa kita “memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita”, bahwa kita memancarkan gelombang otak… sebelum akhirnya memungkas penjelasan dengan kalimat: “Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi”.

Seolah-olah, istilah “pemantulan” dan “pemancaran” itu sama dan dapat dipertukarkan! Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Mari kita perhatikan definisi berikut:

  1. Suatu benda yang memancarkan gelombang, menghasilkan gelombang tersebut dari dalam dirinya sendiri. Ia bersifat aktif dan membutuhkan energi internal.
  2. Contoh: Bintang memancarkan cahaya (lewat energi fusi), speaker memancarkan suara (lewat energi listrik), dst.
     

  3. Suatu benda yang memantulkan gelombang bersifat pasif. Ia hanya menunggu datangnya gelombang dari sumber lain, dan tidak membutuhkan energi internal*.
  4. Contoh: Bulan memantulkan cahaya dari matahari ke bumi; dinding memantulkan gelombang suara dari mulut kita, dst.

     

    *) Lebih jauh lagi, sebenarnya benda menyerap sebagian energi gelombang saat pemantulan terjadi. Tapi itu bisa kita abaikan untuk saat ini.

Dengan demikian, gelombang hasil pantulan berbeda dengan gelombang hasil pancaran. Pemantulan cahaya tidak dapat disamakan dengan pemancaran cahaya — apalagi dengan pemancaran energi!

Mempersamakan pemancaran dengan pemantulan, ibaratnya menyatakan bahwa bulan bersinar tanpa bantuan matahari. Ini ngaco.

Saya tidak menyangkal bahwa keduanya — pemancaran dan pemantulan — punya ciri umum yang sama. Mereka sama-sama merambatkan energi gelombang pada pengamat. Tetapi, prinsip dasar yang melandasinya berbeda. Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas.

Meskipun begitu, penulis tampak menganggap bahwa keduanya sama dan dapat dipertukarkan. Entah kenapa. ๐Ÿ™„

 

Sebuah Catatan Akhir

 
Sejauh ini, Anda mungkin bertanya: kenapa saya mau bercapek-capek menulis tentang buku tersebut dan menanggapi poin-poinnya. Sebenarnya sederhana saja: saya kecewa. Terutama sebagai orang yang, kebetulan, mempelajari fisika secara ekstensif di bangku kuliah.

Boleh-boleh saja kalau mau berdakwah dengan mengedepankan penemuan sains. Hanya saja: check your facts first. Dakwah model ini berpotensi terjerumus jadi pseudosains jika penggagasnya tidak berhati-hati.

Kalangan awam yang mencari peneguhan religius mungkin kagum dengan adanya pemaparan so-called “kecocokan ilmiah”. Tetapi, kekaguman itu berlandas pada kesalahkaprahan… sebuah landasan yang sangat rapuh.

Apa jadinya dengan kebanggaan yang dibangun di atas ilusi dan miskonsepsi. Ini hanya akan membuat pemercayanya tampak bodoh. Agama tidak — dan tidak seharusnya — diperkokoh lewat hoax dan pseudosains. Bayangkan seorang penganut yang dengan percaya diri berkata:

“Agama saya menemukan pembenaran lewat gejala alam X. Penjelasannya bla-bla-bla.”

Hanya untuk ditertawakan oleh pendengarnya yang menjawab:

“Hei, penjelasan kamu salah. Gejala alam X itu penyebabnya seperti ini…” :mrgreen:

***

Akhir kata, saya cuma ingin berpesan: jangan campurkan sains secara sembrono untuk kepentingan dakwah. Setidaknya, pastikan bahwa dalil-dalil yang Anda gunakan benar dan masuk akal. Jangan sampai iman/agama yang Anda bela — dan umatnya — justru terlihat bodoh karena berpatokan pada ilmu semu.

Ironis, bukan, jika upaya untuk meneguhkan keyakinan ternyata berlandaskan pada ketidakbenaran.

Sains dan Agama adalah dua sisi yang sering bentrok. Mencampurkan keduanya secara sembrono sangat beresiko… lebih bijak jika kita menimbang jarak antara keduanya sehati-hati mungkin. ๐Ÿ˜‰

 

 

—–

Ps:

Buat mbak Snowie, yah, saya sudah menemukan buku ybs. Ternyata ada di lemari buku orangtua saya. There you have it. ๐Ÿ˜‰

PPs:

BTW, yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir. Atau lebih tepatnya, lulusan Teknik Nuklir UGM.

Can you believe it? ๐Ÿ˜•

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian ketiga (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Di dua tulisan sebelumnya, kita sudah meninjau berbagai gejala alam di skala kuantum. Di bagian ini, kita akan membahas bagaimana gejala-gejala tersebut diinterpretasikan oleh para ilmuwan/ahli fisika.

Perlu dicatat bahwa saya hanya akan memberikan overview sekilas mengenai berbagai interpretasi tersebut (sederhana saja, ruangnya tidak mencukupi ^^; ). Lebih lanjut mengenai interpretasi-interpretasi tersebut, saya sarankan Anda mengeceknya lewat daftar referensi di akhir tulisan.
 
(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian kedua (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. ๐Ÿ˜›


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Di tulisan yang lalu, kita telah membahas konsep-konsep dasar QM yang bersifat non-intuitif/berlawanan dengan pengalaman sehari-hari. Sekarang, kita akan membahas lebih lanjut dua gejala yang menjadi ‘jantung’ dunia QM, yakni probabilitas dan superposisi kuantum.

Secara umum, hampir semua paradoks/interpretasi non-intuitif di dunia QM disumbang oleh dua hal tersebut (misal: Kucing Schrรถdinger, Wigner’s Friend, Quantum Immortality). Nah, akar dari paradoks inilah yang hendak kita selidiki.

Sebenarnya, bagaimana dua hal ini bekerja?
 
(more…)

Read Full Post »

Older Posts »