Feeds:
Artikel
Komentar

Posts Tagged ‘unik’

nama yang susah diucapkan

“Memangnya kalau kamu punya anak, nama apa yang bakal kamu kasih? Ciel?”

 

Terkadang, saya kepikiran tentang topik yang satu ini. Ketika orangtua memberikan nama pada anaknya, mungkin ada beberapa hal yang menjadi sumber inspirasi mereka…

…eh, ini bukannya sotoy[1] lho. :mrgreen: Walaupun kenyataannya saya sendiri belum pernah punya anak (pacaran aja males! =_=!) — saya sering melihat contoh kasus bahwa nama-nama anak bisa jadi sangat… apa ya? “Tidak biasa”? Yang jelas, nama-nama ini biasanya cukup menarik. Dan dari mana datangnya nama-nama unik tersebut? Tentunya saya bisa berasumsi bahwa kreativitas dan inspirasi orangtualah yang banyak berperan. 😛

Misalnya, dengan sekali lihat ke kamus nama bayi, saya bisa mendapatkan beberapa nama seperti berikut:

Airiza. Alifia. Alfiazahra. Alma. Amara. Anastasia. Artamevia. Aurora…

Dan itu baru huruf A saja. :mrgreen: Pokoknya, nama-nama yang kesannya unik, antik, dan rada berbau RPG lah. Kalau Anda tanya saya, nama-nama ini punya kesan tersendiri. Entahlah jika itu karena nama-nama tersebut berkesan classy; tapi itu cerita lain untuk saat ini. ^^;;

Adapun saya sendiri cenderung menyukai beberapa nama karakter wanita di serial Final Fantasy. Di antaranya

Lenna/Reina. Terra. Celes. Selphie. Quistis. Aeris.

Dan lain sebagainya. ^^

Nah, tapi ada masalah.

Semakin unik suatu nama, biasanya semakin sedikit orang yang bisa memahami pengejaan nama tersebut. Contohnya? Tentu saja saya harus menyebut sang Bambang ( :mrgreen: ). Walaupun nama aslinya (IMHO) lumayan keren dan unique, banyak orang justru tak paham dan sering salah ketika disuruh mengeja nama beliau.

Sialnya, hal semacam ini sering terjadi. Saya sudah beberapa kali melihatnya — walaupun nama aslinya terdengar ‘wah’, tapi tetap saja orang-orang gagal memahaminya. Alhasil, nama yang tadinya bagus jadi terkesan sia-sia; sungguh disayangkan. 😦

 

Contohnya?
 

Contohnya kira-kira begini.

Seorang teman saya, kelahiran tahun 1986, menyandang nama Cory. Kalau menurut saya, kemungkinan nama ini mengacu pada Bu Corazon Aquino — tokoh wanita yang sedang naik daun ketika teman saya itu dilahirkan.

Sayangnya, malang tak dapat ditolak. Ketika guru bahasa Indonesia mengabsen namanya, terjadi hal berikut:

Ibu Guru:
“Cori?”
(dengan lafal awal “c” dan akhiran “i”)

Dia:
“Bukan bu, nama saya ‘Cory’.”
(dengan lafal awal “k” dan akhiran “y” menggantung)

Ibu Guru:
“Lha, iya. Tapi saya kan guru bahasa Indonesia. Makanya saya baca dengan lafal EYD.” 😎

Saya:

…… ^^;;

 
Kali lain, ada lagi teman saya yang mengalami hal serupa. Sebutlah namanya Rizqo. Sekilas ini nama yang mudah dikenali dan gampang dieja.

Meskipun begitu, tetap saja terjadi hal seperti berikut ini.

Di absen kelas, nama ditulis dengan huruf kapital. Tertera nama RIZQO.

Bapak Guru yang hendak mengabsen adalah seorang bapak dengan logat Batak yang amat kental. Dengan kacamata double-prescription tebal yang selalu nangkring di hidungnya, kelihatannya beliau sangat tergantung pada kacamata baca.

Apa yang terjadi ketika absen?

Bapak Guru:
“…RIJO ?”

(suara menggelegar, dengan logat Batak kental)
(seisi kelas tersenyum menahan tawa)

Dia:
“Anu, Pak. Nama saya Rizqo. Coba lihat di absen, ada huruf ‘Q’ di situ.”

Bapak Guru:
“Oh iya, benar. Saya yang salah.” (u_u)

Keesokan harinya, absen kembali berlangsung.

Bapak Guru:
“Absen nomor 21. RIJO ?”

(seisi kelas meledak dalam tawa)

Sejak saat itu, teman saya tak pernah lagi berusaha meluruskan namanya. ^^;;

***

Tentunya dalam banyak kasus, nama-nama yang unik sangat rentan untuk disalahpahami. Yang paling sering terjadi adalah huruf yang tertukar; misalnya Markus menjadi Marcus, Sophie menjadi Sofi, dan lain sebagainya. Itu baru tulisan.

Ada juga yang namanya menjadi korban gara-gara salah baca. Misalnya Rachel. Orang Indonesia punya beberapa versi pengucapan untuk nama ini.

 

Nama ini, aslinya, dibaca sebagai Rei-chèl (IPA: /ˈreɪtʃəl/ )

Meskipun begitu, beberapa orang membacanya Rachél
(dengan huruf “a” dan “e” tinggi)

Yang lain membacanya Reikèl.
(dengan huruf “k” dan “e” rendah)

Ada juga yang menyebutnya Rahél
(huruf “c”-nya lenyap)

Bahkan, dalam kasus yang langka, saya pernah mendengar bahwa beberapa hurufnya dimutilasi — sehingga ia cukup dipanggil “Acél” saja.
(dengan huruf “a” dan “e” tinggi)

See how different it is! 😯

Tentunya ini bukan berarti pengucapan bagaimana-bagaimana itu bermasalah. Kalau memang orangnya tak keberatan, panggilan seperti apapun toh tak banyak bedanya. Misalnya “RIJO” yang saya sebut di atas — belakangan, teman-temannya sering meledek dia dengan panggilan khas “RIJO” selama bertahun-tahun. Orangnya sendiri tak begitu keberatan, sejauh yang saya tahu. 😛

Meskipun begitu, di sisi lain, ini menunjukkan bahwa nama-nama yang unik biasanya susah untuk dilafalkan (dan dieja) oleh orang Indonesia pada umumnya. Jadi, untuk keperluan yang tidak penting-penting amat[2], saya rasa penggunaan pseudonym ala Kopral Bambang bisa jadi solusi yang efektif. 😉

***

Nah, kemudian, tempo hari. Seseorang yang biasa menyambangi blog saya ini melempar pertanyaan yang saya tulis di awal sekali tadi. Entah bagaimana, waktu itu kami sedang ngobrol soal menikah, punya anak, dan nama orang ketika pertanyaan tersebut muncul.

“Memangnya kalau kamu punya anak, nama apa yang bakal kamu kasih? Ciel?” :mrgreen:

Terlepas dari berbagai compliment saya mengenai karakter yang satu itu, tetap saja ada masalah. Bagaimanapun, saya sendiri memandang “Ciel” sebagai nama yang berpotensi mengalami kerusakan dan dirusakkan oleh orang-orang Indonesia pada umumnya. x(

Nama ini, aslinya dibaca “Siél” (IPA: /sjɛl/ ).

Dalam bahasa Prancis, artinya “langit” (well, sama dengan “Sora”. Didn’t I say that we have many things in common back then? 😛 )

Tapi saya yakin, akan banyak yang membacanya dengan huruf “c”.

Bahkan saya curiga, beberapa orang akan membuang huruf “i”-nya, sehingga mereka akan memanggilnya “Cél” saja.

Jadi? Jelas sekali bahwa nama yang satu ini juga beresiko! 👿

Lantas, bagaimana dong? Tentunya Anda bisa memilih nama ‘biasa’ yang gampang diucapkan dengan benar, atau malah nama ‘unik’ yang cuma sedikit orang yang tahu cara mengucapkannya. Tapi, susahnya, kalau Anda menyandang nama yang unik (dan terkesan ‘wah’ atau malah classy), bukan tak mungkin nama Anda disalah-sebut dan dihancurleburkan oleh orang-orang di sekitar Anda. 😦

Ada saran? ^^;;

 

 

—–

Catatan:

 
[1] Dialek Jakarta dari “sok tahu”. Sebetulnya sih saya tertarik memakai kata ini gara-gara disebutin sama mbak ini waktu nulis komen di post yang lalu. ^^

[2] Hal-hal nggak penting… misalnya kalau Anda mengantri di apotik, atau memesan satu bungkus roti bun panggang yang bisa Anda bawa pulang. Selengkapnya, baca di post Kopral Geddoe yang saya link di atas. 😛

Read Full Post »