Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘TI’

old PC Magazine cover

 

Hasil bongkar-bongkar arsip foto di HP. Gambar diambil bulan September 2007.

Mengenai kenapa majalah di atas belum jadi kertas kiloan, mari kita tanya pada rumput yang bergoyang™. (u_u)

Read Full Post »

Ada hal menarik yang saya catat seiring berkembangnya teknologi informasi di abad ke-21, terutama berkaitan dengan makin lajunya penggunaan internet lewat handphone (HP) dan laptop. Bahwasanya, saat ini teknologi telah benar-benar menghadirkan informasi di sekeliling kita. Begitu banyak informasi yang bisa diambil… dan, untuk melakukannya, Anda cuma perlu “memetik” informasi tersebut dengan tangan Anda.

Kapanpun dan dimanapun, asalkan Anda mempunyai HP yang cukup canggih untuk mengakses internet. Sesungguhnya Anda sedang berada di tengah ladang informasi. ^^

 

SE k510i w. google

“Information in your hands… literally.”

 

 
Meskipun begitu, tak banyak yang menyadari, bahwasanya ini adalah hasil akhir sementara dari suatu kemajuan yang revolusioner. Atau, kalau boleh dibilang: sangat revolusioner. 😕

Mengapa revolusioner? Nah, ini ada ceritanya lagi. Silakan baca sampai habis… :mrgreen:

 

 
First off: The IT Evolution

 
Jadi, sebelum membahas apanya yang luar biasa dari keberadaan Google di layar HP, mari kita bahas hal lain yang kurang menarik. Tentunya kalau Anda membaca judul di atas, Anda bisa menduga bahwa saya hendak membahas sejarah peristiwa yang dimaksud.

Seperti apa sebenarnya gejala ini?

 

1. TI dan Kebutuhan Mendasar

 
Sejak dulu, sebagai manusia, kita membutuhkan informasi yang berkaitan dengan kebutuhan hidup kita. Ini berlangsung sejak zaman non-elektronik: pada abad pertengahan para raja dan adipati berkirim surat untuk kepentingan administrasi; filsuf seperti Descartes dan Newton berkirim surat untuk bertukar ide dengan sejawatnya, dan lain sebagainya. Pada saat itu, tujuan utama komunikasi adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pekerjaan.

Tentunya ini juga termasuk kebutuhan akan romansa surat yang membuluh rindu™ tempo dulu, tapi bukan itu fokus kita untuk kali ini. 😛

Nah, hal ini kemudian berlanjut seiring ditemukannya telegram dan radio. Kita, manusia, mencari informasi yang urgent dan diperlukan lewat media tersebut. Kabar dan komunikasi perang, perdagangan, dan sebagainya dikirim menggunakan telegram dan radio. Bahkan terwujudnya kemerdekaan Indonesia pun tak lepas dari hal ini: Anda mungkin ingat bahwa para pejuang kita sempat mencuri dengar berita kekalahan Jepang lewat radio internasional.

Dalam konteks di atas, TI berperan lebih sebagai pemenuhan akan kebutuhan berita terkait hajat hidup. Di titik ini, manusia cenderung memanfaatkan TI secara “sekadarnya” dan “sebutuhnya”.

 

2. Tingkat Selanjutnya dari Kebutuhan…

 
Tentunya, sebagaimana yang disebutkan dalam hukum ekonomi, manusia cenderung mencari pemenuhan kebutuhan tambahan setelah yang primer terpenuhi. Ini juga terjadi di bidang TI.

Setelah manusia merasa bisa memenuhi kehausan akan informasi yang mendasar (terkait hajat hidup, perang, perdagangan, dsb), TI pun mengalami evolusi. Dari yang tadinya berita sekadarnya, ia kemudian mulai menjangkau area lain: hiburan dan pengetahuan.

Tentunya tak perlu dijelaskan, bahwa kemudian muncul berbagai lagu dan drama radio, disertai juga opera sabun di stasiun televisi. 😀 Ini adalah bentuk evolusi TI di bidang hiburan.

Sedangkan di bidang pengetahuan, kita melihat maraknya film-film dokumenter yang mencakup tema luas. Dari Perang Dunia I sampai II, sampai tentang peradaban Mesir kuno dan perjalanan Steve Irwin mendokumentasikan satwa liar, semuanya tersedia di layar kaca rumah Anda.

 

3. Comes The Internet

 
Nah, semangat untuk menyiarkan informasi/ilmu pengetahuan itu kemudian menemukan wadahnya di bidang internet. Di ranah yang diatur oleh pengguna, dari pengguna, dan untuk pengguna ini, semua orang boleh meng-upload informasi apapun yang dia inginkan. Walaupun tidak selalu bahwa informasi yang di-upload itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan; tapi itu cerita lain untuk saat ini.

Berbeda dengan televisi dan radio yang siarannya ditentukan sang pengelola stasiun, internet adalah hal yang sangat berbeda. Segala informasi tersedia di sini: ensiklopedia, opini, humor, berita, dan bahkan hiburan. Mana yang mau diambil, Andalah yang menentukan.

Jika Anda ingin belajar tentang berbagai hal, tinggal cari situs ensiklopedia semacam mbah Wikipe. Ingin mencari berita tentang film, Anda tinggal pergi ke IMDb. Atau jika Anda ingin mencari tempat di mana terjadi perbenturan dan tukar opini… Anda bisa juga melancong ke berbagai blogosphere.

Ingin literatur dan sastra klasik? Hei, di Wikisource dan Planet PDF pun ada! Tak masalah. 😆

 
Singkatnya, internet membawa aspek pengetahuan/informasi elektronik ke level yang berbeda. Jika Anda dulu harus nongkrong di depan TV (atau radio) sambil menantikan berita dan film dokumenter, maka kini Anda bisa memuaskan keingintahuan Anda lewat internet… sesegeranya.

Mungkin tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Wikipedia, IMDb, blogosphere, serta berbagai situs web yang ada adalah perpustakaan paling besar yang pernah dibangun oleh manusia. Kita tidak lagi miskin informasi: hanya dengan bermodal akses internet secukupnya — GPRS pun tak masalah — kita bisa membaca berbagai koleksi yang ada di perpustakaan tersebut. 🙂

 


Informasi di Tangan Anda – Sebuah Revolusi

 
Di awal tadi, saya menyebut tentang “informasi di tangan Anda”. Sebetulnya, kalimat tersebut bermakna nyaris literal.

Seiring dengan lahirnya perkakas handheld yang dibekali koneksi internet, sesungguhnya kita sedang berada di ladang informasi. Kapanpun, di manapun, Anda selalu punya tempat bertanya jika sedang penasaran akan sesuatu. Anda tak perlu PDA kelas tinggi seperti O2 atau Blackberry untuk ini — sebuah Sony Ericsson k510i, sebagaimana saya tampilkan pada gambar di atas, pun cukup. Ia tak mesti fancy dan berharga mahal, yang penting adalah kemampuannya untuk mengakses internet secara portabel.

Internet sendiri adalah sebuah revolusi. Tetapi, penggabungannya dengan alat-alat handheld adalah revolusi yang lebih besar lagi.

Tunggu sebentar. Memangnya, apa sih yang begitu revolusioner dari akses internet lewat HP? 😕

Sebetulnya, yang revolusioner adalah kesimpulan berikut ini:

Internet via HP, pada dasarnya, mewujudkan fase kehidupan di mana informasi yang berlimpah (“abundant”) dapat diakses hampir dari mana saja di muka bumi (“ubiquitous”) dalam tempo singkat.

Dengan kata lain, di mana pun saya berada, saya selalu terhubung dengan sumber informasi yang reliable. Keberjarakan kita dengan informasi adalah nyaris nol: semuanya bisa diakses sesegeranya.

Ketika saya sedang tak bisa tidur, dan penasaran tentang mitologi Yunani, maka saya bisa meraih HP saya — dan lantas menuju situs terkait seperti Wikipedia atau Encyclopedia Mythica. Jika saya sedang di WC dan ingin mengisi waktu membaca berita bola terbaru, saya bisa langsung mengetik URL mobile Goal.com dan tiba di sana. Di titik ini, informasi menjadi hal yang akrab hingga nyaris mengerikan: ia bisa dijangkau dari ruang-ruang yang paling pribadi sekalipun.

Demikian pula ketika pada suatu waktu saya penasaran siapa mbak yang memancarkan aura Shiki Ryougi[1] di film Underworld. Saya tinggal melakukan googling lewat HP, dan selanjutnya nyasar ke Wikipedia. Bahkan sekalian pergi ke halaman IMDb-nya untuk melihat reaksi orang-orang di seluruh dunia terhadap film yang dimaksud. 😛

Atau ketika sedang naik mobil, saya melihat bahwa banyak taksi kini menempelkan label “tarif bawah” di jendela mereka. Apa sih maksudnya? Saya pun tinggal cetak-cetik keyword google lewat HP saya. Langsung ketemu di blog orang. 😆 Dan lain sebagainya.

 

Pada akhirnya, luasnya wawasan manusia tidak harus terpaku pada hambatan jarak dan waktu. Jika dulu kita harus berdiam di perpustakaan untuk mempelajari hikayat Perang Salib — atau membaca karya Kafka dan Dostoyevski — maka kini semua itu bisa diraih lewat sebuah HP dalam genggaman. Walaupun informasi ini juga bukan tanpa kekurangan.[2]

Meskipun begitu, seperti yang saya tulis sebelumnya, semua ini masihlah hasil sementara. Revolusi masih terus berjalan…

…menuju entah-apa yang akan ditawarkan masa depan kelak.

Isn’t it exciting to imagine? 😀

 

 

—–

Catatan:

 
[1] Shiki Ryougi, i.e. protagonis di serial Kara no Kyoukai. Entah kenapa penampilan Selene di film tersebut — dengan model rambut yang mirip — menghasilkan aura yang sama… xD

…dan ternyata mas ini juga setuju. 😕 Well, mengingat dia itu — ngakunya — fans berat Ryougi, mungkin persangkaan itu ada benarnya. 😆

 
[2] Umumnya, kualitas informasi yang didapat dari internet tidak semendalam dengan bisa yang diberikan oleh buku/teks akademik resmi. Terutama bila menyangkut tema-tema yang mempunyai disiplin ilmu sendiri, e.g. sains dan ilmu sosial — jika Anda ingin bahasan yang mendalam, sebaiknya Anda baca textbook.

*pengalaman pribadi waktu nyari bahan kuliah* ^^;

 
[3] Gambar HP sengaja dipilih Sony Ericsson K510i. Sebetulnya sih, karena itu HP yang sama dengan yang saya miliki — so there you have it. 😛

Read Full Post »

Dulu, waktu saya masih SD, orangtua saya sering sekali memutar lagu-lagu lama ketika berkendaraan. Salah satu dari sekian lagu tersebut adalah lagu berjudul “Teluk Bayur” — yang waktu itu cover version-nya dinyanyikan oleh Rani.

Selamat tinggal Teluk Bayur permai,
Daku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang,
Bekal hidup kelak dihari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta,
Do’akan agarku cepat kembali
Kuharapkan suratmu setiap minggu,
‘kan ku jadikan pembuluh rindu…

 
–Teluk Bayur
(cipt. Zaenal Arifin)

Jadi, berpuluh tahun sebelum saya duduk di depan laptop dan menuliskan postingan yang satu ini, lagu tersebut sudah beroleh ketenaran di kalangan remaja yang satu generasi dengan ayah dan ibu saya. Dan, yang namanya beda generasi antara saya yang waktu itu masih kecil dan imut dengan mereka yang sudah dewasa dan bisa menyetir mobil

…sudah tentu terjadi gap dalam memandang dunia. :mrgreen:

Saya ingat waktu itu TELKOM belum lama menyelesaikan sambungan telepon di kompleks rumah saya. Mungkin baru beberapa bulan sejak telepon di rumah saya berdering untuk pertama kalinya, dan saya bisa ngobrol dengan tetangga tanpa perlu bertatap muka.

Maka saya pun bertanya — dengan kepolosan khas anak SD — pada ibu saya tentang lirik lagu yang disebut sebelumnya.

“Lho, kok kirim-kiriman surat sih? Sekarang kan kita udah bisa nelpon?” 😕

Tentunya ibu saya kemudian menjelaskan dengan detail bahwa “ini lagu lama”, “dulu belum ada telepon”, and there goes all the yadda-yadda… intinya, segala hal yang bisa dijelaskan oleh seorang ibu pada anaknya yang bingung soal kemajuan teknologi. Saya yakin Anda paham apa yang saya maksud. 😆

***

Singkat kata, sejak saat itu, saya jadi sadar bahwa teknologi informasi itu berkembang. Cara berkomunikasi tak lagi terbatas pada media lisan dan surat-menyurat saja. Dunia jadi semakin sempit — perpisahan pun tidak lagi jadi momok yang menakutkan, seperti halnya berdekade-dekade yang lalu.

Jika dulu orang harus menunggu surat setiap minggu untuk membuluh rindu™, maka sekarang kita bisa mengirim e-mail setiap jam dan langsung sampai. Sekarang, orang bahkan bisa ngobrol bertatap muka lewat webcam… tentunya dengan asumsi Anda bukan fakir benwit™. Tapi itu cerita lain untuk saat ini. 😛

 
Lalu?

 
Tentunya, sebagai akibatnya, sekarang saya melihat bahwa kisah cinta masa lalu tidak selamanya cocok dengan keadaan sekarang. Misalnya bagian berpisah dan berkomunikasi lewat surat. Seiring berkembangnya telepon dan internet, orang jadi makin jarang memanfaatkan media tersebut. Bukan tak mungkin surat kertas (dengan amplop dan perangko yang dijilat) akan jadi relik purbakala sahaja™ dalam waktu dekat.

E-mail, Y!M, dan blog pun menjadi pembuluh rindu™ zaman baru.

Lantas, surat kertas akan semakin terpinggirkan. Kuno. Tidak lagi praktis dan relevan dalam menghadapi tuntutan zaman yang serba efisien. Atau, paling tidak, zaman yang mengharapkan segala sesuatunya dilakukan seefisien mungkin.

Tapi kemudian saya tersadar akan suatu hal.

Di masa kini, kita memandang bahwa “surat kertas” itu sangat kuno dan jadul. Obsolete. Tidak praktis, dan juga tidak relevan. Sekarang sih saya tertawa saja kalau mendengar orang dulu “menantikan surat setiap minggu” untuk mendapat kabar dari kekasih, sebab memang kesannya seperti cerita yang jauh dari kenyataan.

Sebagaimana saya sekarang melihat bahwa “pangeran berkuda” hanya ada di dongeng-dongeng (karena pangeran sekarang pada tajir dan punya Ferrari serta jet pribadi), saya pun memandang bahwa surat kertas akan bernasib sama dalam beberapa puluh tahun ke depan.

Tetapi bagaimana dengan berabad-abad ke depan? Atau ribuan tahun lagi, kalau dunia masih belum kiamat dan teknologi informasi terus berkembang. Hampir pasti bahwa sistem komunikasi seperti e-mail dan Y!M pun akan turut menjadi obsolete dan tak digunakan lagi. Sebagaimana halnya surat kertas yang disinggung sebelumnya. 😕

Mungkin, kalau begitu, kisah cinta dan dongeng anak cucu kita tak lagi mengetengahkan surat — dan pengumuman tertulis — sebagai sarana komunikasi! 😯 Boleh jadi, dalam dongeng-dongeng mereka, yang akan muncul adalah epik-epik yang mengetengahkan moda komunikasi elektronik yang kita kenal sekarang!

Contohnya? Mungkin saja seperti berikut ini. 😀

 

  • Pasangan seperti Romeo dan Juliet mungkin dipertemukan untuk pertama kali di blogosphere.
  •  

  • Tokoh utama bertipe-pangeran sedang mencari seorang puteri untuk dijadikan pendamping hidup. Sebuah sayembara pun diumumkan lewat mailing-list.
  •  

  • Sosok ksatria a la Wilfred of Ivanhoe tidak lagi bertarung di lapangan istana di hadapan Prince John — melainkan beradu di lapangan DotA yang di-host oleh server kerajaan (atau milik negara republik, you name it).
  •  

  • Monolog legendaris seperti “To be or not to be” bukan lagi diucapkan secara lisan oleh karakter model Hamlet — melainkan di-post di blog oleh sang karakter dan diberi tag “solilokui”.
  •  

  • …dan lain sebagainya. ^^v
  •  
    Orang bilang, “mimpi hari ini adalah kenyataan di masa depan”. Tapi, entah kenapa — dalam kasus ini — saya lebih suka beranggapan bahwa “kenyataan hari ini (mungkin) adalah dongeng di masa depan”. 😉

    Oh well. 😆

    Read Full Post »