Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Teknologi Informasi’

old PC Magazine cover

 

Hasil bongkar-bongkar arsip foto di HP. Gambar diambil bulan September 2007.

Mengenai kenapa majalah di atas belum jadi kertas kiloan, mari kita tanya pada rumput yang bergoyang™. (u_u)

Read Full Post »

Dulu, waktu saya masih SD, orangtua saya sering sekali memutar lagu-lagu lama ketika berkendaraan. Salah satu dari sekian lagu tersebut adalah lagu berjudul “Teluk Bayur” — yang waktu itu cover version-nya dinyanyikan oleh Rani.

Selamat tinggal Teluk Bayur permai,
Daku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang,
Bekal hidup kelak dihari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta,
Do’akan agarku cepat kembali
Kuharapkan suratmu setiap minggu,
‘kan ku jadikan pembuluh rindu…

 
–Teluk Bayur
(cipt. Zaenal Arifin)

Jadi, berpuluh tahun sebelum saya duduk di depan laptop dan menuliskan postingan yang satu ini, lagu tersebut sudah beroleh ketenaran di kalangan remaja yang satu generasi dengan ayah dan ibu saya. Dan, yang namanya beda generasi antara saya yang waktu itu masih kecil dan imut dengan mereka yang sudah dewasa dan bisa menyetir mobil

…sudah tentu terjadi gap dalam memandang dunia. :mrgreen:

Saya ingat waktu itu TELKOM belum lama menyelesaikan sambungan telepon di kompleks rumah saya. Mungkin baru beberapa bulan sejak telepon di rumah saya berdering untuk pertama kalinya, dan saya bisa ngobrol dengan tetangga tanpa perlu bertatap muka.

Maka saya pun bertanya — dengan kepolosan khas anak SD — pada ibu saya tentang lirik lagu yang disebut sebelumnya.

“Lho, kok kirim-kiriman surat sih? Sekarang kan kita udah bisa nelpon?” 😕

Tentunya ibu saya kemudian menjelaskan dengan detail bahwa “ini lagu lama”, “dulu belum ada telepon”, and there goes all the yadda-yadda… intinya, segala hal yang bisa dijelaskan oleh seorang ibu pada anaknya yang bingung soal kemajuan teknologi. Saya yakin Anda paham apa yang saya maksud. 😆

***

Singkat kata, sejak saat itu, saya jadi sadar bahwa teknologi informasi itu berkembang. Cara berkomunikasi tak lagi terbatas pada media lisan dan surat-menyurat saja. Dunia jadi semakin sempit — perpisahan pun tidak lagi jadi momok yang menakutkan, seperti halnya berdekade-dekade yang lalu.

Jika dulu orang harus menunggu surat setiap minggu untuk membuluh rindu™, maka sekarang kita bisa mengirim e-mail setiap jam dan langsung sampai. Sekarang, orang bahkan bisa ngobrol bertatap muka lewat webcam… tentunya dengan asumsi Anda bukan fakir benwit™. Tapi itu cerita lain untuk saat ini. 😛

 
Lalu?

 
Tentunya, sebagai akibatnya, sekarang saya melihat bahwa kisah cinta masa lalu tidak selamanya cocok dengan keadaan sekarang. Misalnya bagian berpisah dan berkomunikasi lewat surat. Seiring berkembangnya telepon dan internet, orang jadi makin jarang memanfaatkan media tersebut. Bukan tak mungkin surat kertas (dengan amplop dan perangko yang dijilat) akan jadi relik purbakala sahaja™ dalam waktu dekat.

E-mail, Y!M, dan blog pun menjadi pembuluh rindu™ zaman baru.

Lantas, surat kertas akan semakin terpinggirkan. Kuno. Tidak lagi praktis dan relevan dalam menghadapi tuntutan zaman yang serba efisien. Atau, paling tidak, zaman yang mengharapkan segala sesuatunya dilakukan seefisien mungkin.

Tapi kemudian saya tersadar akan suatu hal.

Di masa kini, kita memandang bahwa “surat kertas” itu sangat kuno dan jadul. Obsolete. Tidak praktis, dan juga tidak relevan. Sekarang sih saya tertawa saja kalau mendengar orang dulu “menantikan surat setiap minggu” untuk mendapat kabar dari kekasih, sebab memang kesannya seperti cerita yang jauh dari kenyataan.

Sebagaimana saya sekarang melihat bahwa “pangeran berkuda” hanya ada di dongeng-dongeng (karena pangeran sekarang pada tajir dan punya Ferrari serta jet pribadi), saya pun memandang bahwa surat kertas akan bernasib sama dalam beberapa puluh tahun ke depan.

Tetapi bagaimana dengan berabad-abad ke depan? Atau ribuan tahun lagi, kalau dunia masih belum kiamat dan teknologi informasi terus berkembang. Hampir pasti bahwa sistem komunikasi seperti e-mail dan Y!M pun akan turut menjadi obsolete dan tak digunakan lagi. Sebagaimana halnya surat kertas yang disinggung sebelumnya. 😕

Mungkin, kalau begitu, kisah cinta dan dongeng anak cucu kita tak lagi mengetengahkan surat — dan pengumuman tertulis — sebagai sarana komunikasi! 😯 Boleh jadi, dalam dongeng-dongeng mereka, yang akan muncul adalah epik-epik yang mengetengahkan moda komunikasi elektronik yang kita kenal sekarang!

Contohnya? Mungkin saja seperti berikut ini. 😀

 

  • Pasangan seperti Romeo dan Juliet mungkin dipertemukan untuk pertama kali di blogosphere.
  •  

  • Tokoh utama bertipe-pangeran sedang mencari seorang puteri untuk dijadikan pendamping hidup. Sebuah sayembara pun diumumkan lewat mailing-list.
  •  

  • Sosok ksatria a la Wilfred of Ivanhoe tidak lagi bertarung di lapangan istana di hadapan Prince John — melainkan beradu di lapangan DotA yang di-host oleh server kerajaan (atau milik negara republik, you name it).
  •  

  • Monolog legendaris seperti “To be or not to be” bukan lagi diucapkan secara lisan oleh karakter model Hamlet — melainkan di-post di blog oleh sang karakter dan diberi tag “solilokui”.
  •  

  • …dan lain sebagainya. ^^v
  •  
    Orang bilang, “mimpi hari ini adalah kenyataan di masa depan”. Tapi, entah kenapa — dalam kasus ini — saya lebih suka beranggapan bahwa “kenyataan hari ini (mungkin) adalah dongeng di masa depan”. 😉

    Oh well. 😆

    Read Full Post »