Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘skeptisisme’

Dulu, waktu masih SMP, saya lumayan suka nonton serial TV berbau paranormal. Genrenya macam-macam: mulai dari yang fiksi (The X-Files, Poltergeist); dokumenter (Sightings); hingga yang ‘sekadar terinspirasi’ seperti Psi Factor-nya Dan Aykroyd. Saya sendiri kurang paham kenapa saya suka. Mungkin karena temanya bermain-main dengan misteri, makanya jadi menarik… tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini.

Waktu itu sekitar tahun 1998, dan saya belum lama masuk SMP. Pembaca yang nonton X-Files zaman segitu pasti tahu bahwa acara tersebut mulai pukul 21:30. Kadang-kadang tertunda oleh Liputan Khusus TVRI — kalau itu terjadi, selesainya bisa molor sampai pukul sebelas malam. Jelas bukan jam tidur yang sehat untuk anak semuda itu. Walhasil saya harus bernegosiasi dengan ibu supaya boleh nonton.

Ibu saya, liberal as she ever was, memberi izin: cuma satu kali seminggu[1]. Lampu harus mati, dan tidak boleh berisik. Maka jadilah saya nonton berbagai serial tersebut dalam gelap…

 

Masalahnya…

 
…TV ada di ruang tamu, sementara kamar tidur saya letaknya di lantai dua. Saya baru lulus SD — tapi nekat nonton berbagai acara tersebut sampai jauh malam. Dan kalau boleh jujur… ya, saya takut. 😐

Anda mungkin tak menyangka kalau pernah baca tulisan saya yang ini, tapi begitulah adanya. Waktu SD dulu saya penakut (walaupun setelah masuk SMP jadi agak berani). Bayangkan diri Anda sebagai anak 12 tahun, habis nonton Poltergeist di malam Jumat, dan naik tangga gelap-gelapan ke kamar tidur. Persis itulah pengalaman saya. (=3=)

Adapun rumah saya letaknya dekat kuburan, dan ada pohon besar di dekat situ[2]. Maka lengkaplah…

 

The Other Kind of Darkness

 
Seperti yang sudah saya tulis di atas, dulunya saya ini penakut. Setiap kali membahas paranormal, saya gentar; setiap kali nonton film seram tengah malam, saya terbayang. Meskipun begitu, setelah beberapa lama dan kilas balik, saya akhirnya sadar akan satu hal.

Bukan hantu, penculikan oleh alien, atau lain sebagainya yang saya takuti. Yang membuat saya gentar selama itu cuma satu:

 

GELAP

 

Bukan “gelap” dalam artian lampu mati atau tidak ada cahaya, melainkan “gelap” dalam arti yang lain. Saya gentar karena saya tidak paham apa sesungguhnya yang saya bayangkan.

Ketakutan saya pada alien, UFO, dan hantu bukan karena mereka seram dari sananya — melainkan karena saya tidak paham. Mereka itu apa? Seandainya saya ketemu mereka, apa yang akan terjadi? Apakah mereka jahat atau baik? Saya tidak tahu. Dan oleh karena itu, saya jadi takut.

Sadarkah Anda, kalau orang melihat penampakan hantu, biasanya reaksi mereka adalah:


“Hiiii… apa ituuu….???

Perhatikan pertanyaannya. Perhatikan kengeriannya.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kita — manusia pada umumnya — bukannya takut pada yang gaib. Kita bukannya takut pada hantu, alien, jin genderuwo, dan kawan-kawannya. Kita sekadar takut karena tidak mengerti. Dan karena tidak mengerti, kita cenderung berpikiran yang seram-seram saja.

Seandainya kelak hantu bisa dijelaskan dengan ilmu fisika, masihkah kita akan takut? Saya rasa, tidak! 🙂

 

[komik penguin]

 

Dulu waktu saya SMA, saya sering pulang larut malam lewat gang sepi (ada kegiatan ekstrakurikuler, rumah saya jauh). Kemudian rasa takut menyergap: bagaimana kalau ada perampok? Bagaimana kalau ada tukang palak? Atau — yang rada aneh — bagaimana kalau ada penampakan hantu?

Kalau dipikir sekarang rasanya lucu, tapi sebenarnya, saya bukannya takut pada perampok betulan, tukang palak betulan, atau hantu betulan. Yang saya takuti adalah imajinasi saja. Dan imajinasi itu — yang seram-seram itu — timbul karena saya tidak tahu apa yang menunggu saya di kegelapan gang. 😉

 

Mengapa Kita Takut Gelap?

 
Di sisi lain, ternyata istilah “gelap” dalam makna konotasi berhubungan dengan “gelap” dalam makna denotasi. Bahwasanya dua-duanya sama-sama membuat kita gentar pada ketidakpastian. 😕

Kita sering bertanya, kenapa banyak orang takut gelap? Menurut para ilmuwan hal itu bermula sejak zaman manusia purba dulu[3]. Atau, kalau boleh dibilang, merupakan animal instinct dalam diri kita.

Sewaktu manusia masih hidup berburu, mereka harus keluar-masuk hutan, berhadapan dengan aneka ragam predator. Di sini kemampuan melihat dan mengenali medan menjadi amat penting. Apabila terdapat pemangsa, maka lebih baik menghindar.

Adapun di malam hari penglihatan manusia menjadi lemah, sebab memang matanya tidak didesain untuk itu. Sedangkan banyak hewan buas bersifat nokturnal, semisal harimau, serigala, dan macan tutul.

Walhasil, manusia purba mengembangkan insting untuk bermain aman: “Daripada bahaya, lebih baik kita menghindari tempat gelap. Mana tahu kalau ada harimau atau beruang di situ.”

Insting itulah yang kemudian diturunkan pada kita. Masalahnya ada di kalimat terakhir: Mana tahu kalau ada harimau atau beruang.”

Jika manusia purba khawatir ada pemangsa di hutan yang gelap, maka kita, manusia modern, punya ketakutan yang mirip. Barangkali ada perampok bersembunyi di gang sepi. Barangkali ada pocong hendak menampakkan diri. Atau, kalau meminjam pengalaman Fox Mulder di X-Files: barangkali ada alien yang siap menculik adik saya di malam hari…

 

Science As A Candle In The Dark
 

Lalu, bagaimana caranya supaya kita menangkal rasa takut itu? Jawabannya ternyata sederhana. Karena kita takut pada yang tak pasti, kenapa tidak dipastikan saja biar jelas!? :mrgreen:

Pembaca reguler blog ini mungkin sudah pernah membaca pengalaman ibu saya di post yang dulu. Meskipun begitu, ada baiknya jika saya tampilkan lagi di sini.

Sekitar duapuluh tahun lalu, ibu saya bertugas di sebuah desa terpencil di pulau Jawa. Saat itu belum ada penerangan listrik di sana, dan beliau tinggal sendirian di sebuah rumah bilik.

Suatu malam sehabis hujan, terdengar bunyi “dukk-dukk-dukk” pada pintu.

Karena penasaran, ibu saya pergi ke depan dan membuka pintu. Tidak ada orang sama sekali.

Tentunya beliau kebingungan. Tetapi, ketika melihat ke bawah…

…tampak seekor katak sedang meloncat hendak masuk ke dalam rumah. Beliau pun segera mengusir katak tersebut.

Jika kita berhadapan dengan yang tak pasti, maka itulah saatnya untuk menyelidiki. Kita menerangi kegelapan bukan dengan menghindar, melainkan dengan cahaya. 🙂

Inilah yang disebut oleh Bapak Carl Sagan sebagai “Science as A Candle In The Dark”. Dengan pengetahuan, kita membuka tabir, menyingkirkan hantu-dan-bayangan yang menakuti kita. Yang penting di sini adalah jiwa ilmiah: kalau ada yang aneh, kita selidiki dengan rasa ingin tahu. Bukannya malah diam dan mlungker ketakutan.

Fear doesn’t bring us anywhere, but curiosity does. Jadi, sejauh tidak berbahaya, kenapa mesti takut? 😀

Terkait soal ini, ibu saya selalu bilang tentang pengalaman beliau di atas:

“Kalau nggak dicek, aku ketakutan sepanjang malam. Kalau aku cek, biarpun hantu betulan, takutnya berhenti di situ. Jadi mendingan aku periksa.”

***

Saya pikir sudah saatnya kita mengubah cara pandang bahwa yang kita anggap supranatural, hantu, dan klenik itu menyeramkan. Alih-alih menghindarinya dengan gentar, kita harus memandangnya sebagai hal yang membuat penasaran. Perkara apakah mereka hantu sungguhan atau bukan, itu urusan lain.

Secara bahasa kita sering mempertukarkan antara “gelap” dan “misteri”. Dan memang, keduanya sering membuat ngeri dan takut. Tapi bukan berarti tak bisa diterangi.

Seandainya gang yang gelap diterangi oleh lampu, masihkah kita akan takut? Seandainya — kelak — supranatural dan klenik bisa dijelaskan lewat sains, masihkah kita akan takut? Saya pikir ini kembali pada masing-masing, tapi, kalau kita tidak coba menyalakan lampu, maka kita akan terus ketakutan dalam gelap.

Mengutip kalimat dedikasi Pak Sagan di salah satu bukunya, The Demon-Haunted World:

“I wish you a world: free of demons, and full of light.”

 

 
——

 
Catatan:

 
[1] ^ Belakangan jadi dua, sejak saya nonton Poltergeist. Kalau besoknya libur beliau tidak masalah — saya selalu boleh nonton bola di akhir pekan.

 
[2] ^ Serius tidak melebih-lebihkan. Boleh dikonfirmasi ke rifu atau yud1 kalau tidak percaya.

 
[3] ^ Beberapa referensi:

Iklan

Read Full Post »

Sekian tahun lalu, ketika masih SMP, saya cukup rajin menonton serial Scooby-Doo. Waktu itu serial ini ditayangkan di TPI, beberapa kali seminggu, pada pukul empat sore.

 

the Scooby-Doo cast crew

Scooby dan para anggota Mysteries, Inc. Setiap episode, mereka harus menyelidiki peristiwa aneh yang berbau supernatural.

(image from wikipedia)

 
Pada umumnya, jalan cerita dari setiap episode serial ini dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Terdapat seorang klien yang mengadukan masalah gaib/supernatural.
  2. Kemudian, grup Scooby pun berangkat menuju TKP.
  3. Di TKP, mereka menyaksikan bahwa kejadian gaib yang diceritakan benar adanya
  4. Meskipun begitu, setelah penyelidikan dilakukan, ternyata semua peristiwa gaib tersebut adalah hasil manipulasi tokoh antagonis di balik layar
  5. Si tokoh antagonis terungkap. Ia pun dipaksa mengakui perbuatannya

Bisa dibilang bahwa, alih-alih bertemu hantu sungguhan, Scooby dan kawan-kawan selalu menemukan bahwa peristiwa gaib yang terjadi adalah buatan manusia. Tapi itu bisa kita kesampingkan dulu untuk saat ini.

***

Dulu, waktu menonton serial tersebut, saya memandangnya dangkal saja. “Oh, mereka sedang mengesankan pada anak-anak agar tidak takut pada hantu”; “Oh, mereka sedang menyampaikan pesan agar anak-anak bisa bersikap kritis dan berani”. Tetapi, bertahun-tahun kemudian, saya menemukan pesan yang lebih dalam daripada itu:

 

Skeptisisme

 

Setiap episode Scooby-Doo, sesungguhnya, menyiratkan pesan akan semangat yang satu ini. Alih-alih langsung meyakini “itu benar-benar hantu!” ketika melihat penampakan, Fred dan kawan-kawan selalu bertindak lebih lanjut. Selidiki, kumpulkan bukti, dan analisis. Jangan langsung percaya!

Adapun semangat yang dimiliki Fred dan kawan-kawan dalam menelusuri peristiwa ‘gaib’ yang mereka hadapi bisa dibilang unik. Mulai dari drakula, monster rawa, mumi, hingga tengkorak hidup, semuanya dikejar dengan investigasi yang cukup komikal.

    (Tidak selalu dengan gagah berani, sih, mengingat Scooby dan Shaggy aslinya penakut hingga mesti diiming-iming Scooby Snack agar mau bekerja. 😛 Tapi setidaknya Fred dan Velma cukup pemberani… )

Satu hal yang saya catat secara khusus dari setiap petualangan Scooby-Doo adalah kehati-hatian untuk tidak tertipu. Betapapun nyatanya ‘hantu’ yang mereka lihat, Shaggy dan kawan-kawan selalu berhasil membuktikan bahwa semua itu adalah tipuan belaka. Kunci di sini adalah skeptisisme: amati, selidiki, dan jangan langsung percaya.

Menurut saya, inilah salah satu pesan yang paling mengena sepanjang serial Scooby-Doo. Jika seseorang tidak skeptis, maka dia harus siap untuk tertipu mentah-mentah. 😉

 
Deception Point(s)
 

Bicara soal ini, saya jadi ingat pada kisah nyata yang dialami ibu saya. Kejadiannya kira-kira seperti berikut.

Sekitar duapuluh tahun lalu, ibu saya bertugas di sebuah desa terpencil di pulau Jawa. Saat itu belum ada penerangan listrik di sana, dan beliau tinggal sendirian di sebuah rumah bilik.

Suatu malam sehabis hujan, terdengar bunyi “dukk-dukk-dukk” pada pintu.

Karena penasaran, ibu saya pergi ke depan dan membuka pintu. Tidak ada orang sama sekali.

Tentunya beliau kebingungan. Tetapi, ketika melihat ke bawah…

…tampak seekor katak sedang meloncat hendak masuk ke dalam rumah. Beliau pun segera mengusir katak tersebut. 😆

Apakah kisah ini menyeramkan? :mrgreen:

Saya tidak menyatakan bahwa hantu (atau aktivitas paranormal lainnya) itu tidak ada. Sama sekali tidak. Pada kenyataannya, saya termasuk orang yang membuka diri pada kemungkinan terjadinya gejala paranormal… selalu ada ruang untuk percaya pada konsep-konsep elusif seperti UFO, sisa roh orang yang sudah meninggal, dan lain sebagainya. Tapi masalahnya bukan itu.

Masalahnya adalah betapa mudahnya kita mengatributkan sesuatu pada hantu dan paranormal — ketika, di sisi lain, kenyataannya tidak seperti itu. Sedikit-sedikit menisbahkan pada klaim bombastis, sebagian dari kita lebih suka angkat tangan dan berkata: “Ghostdidit!” atau “ini gejala paranormal!” begitu saja.

Lebih mudah bagi kita untuk membayangkan bunyi “dukk-dukk-dukk” sebagai polah hantu daripada tindakan katak nyasar. Lebih mudah bagi kita menyangka seprei putih tertiup angin sebagai kehadiran tante kunti. Bahkan saya pernah menyaksikan, bagaimana “tuyul” dan “siluman babi ngepet” menjadi dua tersangka utama dalam kasus kehilangan uang mendadak… hingga kemudian terdapat indikasi bahwa seorang tukang renovasi telah mencuri uang tersebut dengan kunci duplikat. Saya yakin Anda paham maksud saya.

Hal-hal yang sekilas tampak ajaib dan mengesankan, boleh jadi sebenarnya hanya “tampak luar” dari rangkaian peristiwa biasa yang masuk akal. Sebagaimana halnya para ‘hantu’ yang ditemui oleh Scooby dan kawan-kawan. 🙂

***

Ngomong-ngomong, ada sebuah kisah menarik yang terjadi pada dekade 1950-an, terkait dengan kebiasaan “ghostdidit!” yang dibahas sebelumnya. Ketika itu, militer Amerika Serikat bekerja sama dengan pemerintah Filipina untuk menanggulangi pasukan pemberontak komunis.[1][2]

Pemberontak Huk, yang terdiri atas pribumi Filipina, mempunyai mitos akan makhluk Asuang — makhluk semacam vampir yang menangkap dan menghisap darah korbannya sampai habis.

Seorang Jendral Amerika, Edward G. Landsdale, mendapat ide cemerlang berikut: “Bagaimana jika kita memanfaatkan vampir Asuang ini sebagai senjata psy-war? Tentunya bisa melemahkan mental lawan.”

Maka, pada saat tentara Huk berpatroli di sebuah bukit, orang paling belakang diculik dari barisan, dan diperlakukan sbb:

  1. Dibunuh,
  2. Lehernya diberi lubang seolah-olah digigit vampir,
  3. Mayatnya digantung terbalik, sedemikian hingga darah mengalir keluar dari lubang tersebut.
  4. Setelah kehabisan darah, mayat tersebut diletakkan kembali di jalur patroli kaum Huk

Pasukan Huk menyadari bahwa anggotanya ada yang hilang. Maka mereka pun menelusuri balik rute patroli. Bisa ditebak, mereka menemukan jasad rekan mereka yang mati kehabisan darah dengan bekas “gigitan vampir”.

Sejak saat itu, beredar gosip bahwa Asuang mendiami bukit tersebut. Pasukan Huk yang kuatir kemudian meninggalkan tempat mereka bermalam…

…yang kemudian langsung di-capture oleh pasukan antikomunis Filipina.

Lihat, betapa dahsyatnya kekuatan mitos! 😯

 
Makanya, jagalah skeptisisme. Jangan termakan mitos, apalagi prasangka. Bukan tak mungkin Anda dikerjai.

Waspadalaaah… Waspadalaaaah…!! 👿

 

—–

Referensi

 
[1] Toward a New Counterinsurgency: Philippines, Laos, and Vietnam
~ Instruments of Statecraft

[2] PsyWar Terror Tactics
~ by Jon Elliston

Read Full Post »