Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Richard Feynman’

Suatu ketika, Bapak Richard Feynman, seorang fisikawan peraih Nobel, diundang hadir dalam konferensi interdisiplin. Layaknya konferensi interdisiplin, yang hadir di sana adalah para tokoh dari berbagai bidang — di antaranya teologi, filsafat, etika, dan sosiologi.

Nah, beliau diundang sebagai wakil kalangan ilmuwan.

Meskipun begitu, tak berapa lama, Pak Feynman menemukan suatu masalah. Dia tidak mengerti pembicaraan orang-orang di konferensi tersebut! 😮

Tentunya ini aneh. Apa mungkin beliau, yang dosen fisika sekaligus ilmuwan terkenal, tidak paham topik konferensi interdisiplin? “Pasti ada yang salah dengan pendekatan saya,” demikian pikir beliau.

Menyadari hal ini, beliau pun berintrospeksi. Sebagaimana diceritakan dalam autobiografinya,[1]

Aku mulai membaca makalah sial itu, dan mataku hampir copot; aku tidak paham sedikit pun! Kupikir itu karena aku belum membaca buku-buku dalam daftar. Aku punya perasaan tak nyaman bahwa aku “tak mampu”. Akhirnya, aku bilang pada diriku sendiri, “Coba aku berhenti di satu bagian, dan kubaca satu kalimat lambat-lambat, supaya aku bisa menggali apa sih artinya.”

Jadi, aku berhenti secara acak—dan membaca kalimat berikutnya dengan hati-hati. Aku tak tahu persisnya tentang apa, tapi kalimat itu kira-kira begini: “Seorang individu dalam suatu komunitas sering menerima informasinya melalui saluran simbolik-visual.”

Aku bolak-balik memikirkannya, dan menerjemahkannya. Tahu apa maksudnya?

“Orang membaca”.

***

Kalau boleh jujur, saya sering bingung tiap kali membaca tulisan — atau ngobrol dengan — orang-orang yang berlatar belakang filsafat. Masalah utamanya satu: mereka cenderung terpaku pada gaya bahasa teknis dan khas-filsafat. Mbulet. Atau, dengan kata lain, begitu rumitnya hingga sulit dimengerti oleh pembaca/pendengar pada umumnya.

Ya, tidak semuanya sih. Setidaknya saya rada nyambung dengan tulisan-tulisan bertema filsafat di blognya mas Fertob dan mas gentole. Mungkin kembali pada bagaimana si penulis bisa menjelaskan idenya. Meskipun begitu, tetap saja yang satu ini sering terjadi: orang berbicara filsafat, saya mendengarkan, dan wuss… mendadak semua jadi kabur.

Saya pernah membaca kumpulan esai Goenawan Mohamad, dan saya jadi bertanya-tanya: apa artinya “poststrukturalisme Adorno” dan “feminisme Kristeva”. Saya tak tahu siapa itu Bertold Brecht, tapi tetap saja beliau menulis panjang-lebar tentangnya. Saya pernah nyasar ke forum internet tentang filsafat — ada bahasan tentang “dekonstruksi Derrida” dan sebagainya — tapi, apa itu “dekonstruksi Derrida”, tidak ada yang menjelaskan. No, nein, nai!

Jalan keluarnya? Sudah tentu bertanya ke wikipedia atau mbah gugel. Mau bagaimana lagi? (-_-)

***

Jadi, sejak itu, saya belajar satu hal. Orang-orang filsafat itu suka sekali memakai istilah teknis dan aneh, yang belum tentu audiensnya paham. Seperti halnya contoh brilian yang disampaikan Pak Feynman di atas: ide sederhana seperti “orang membaca” pun bisa ditulis muter-muter hingga terdengar ajaib!

 

Kultur dan Penerimaan
 

Kemudian saya berpikir, mungkin kultur kita juga turut menyuburkan kebiasaan buruk ini. Orang-orang filsafat itu mungkin terlalu mendapat sanjungan yang berlebihan.

Kalau orang filsafat menyitir Derrida, Heidegger, dan Wittgenstein, orang yang tidak paham memandangnya: “Wah, hebat. Dia paham filsafat. Orang pintar, ini!”

Sementara, kalau orang fisika menyebut “radiasi Hawking” atau “Anomali Efek Zeeman”, orang yang tidak paham memandangnya: “Dia pintar sih, tapi nerd banget. Omongannya fisika tinggi terus.”

Bisa Anda lihat bedanya. Kalau bisa ngomong “Dekonstruksi Derrida”, keren; kalau mengerti “Anomali Efek Zeeman”, nerd. Padahal keduanya sama-sama topik yang obscure dan advanced. Kenapa pula ditanggapi secara berbeda?

 
Speaking of which, ini mengingatkan saya pada sepak-terjang para ilmuwan dalam beberapa dekade terakhir. Menyadari bahwa masyarakat kesulitan mencerna penelitian mutakhir, mereka pun aktif memperkenalkan diri lewat sains populer. Mulai dari Stephen Hawking, Carl Sagan, hingga Richard Dawkins. Mereka ingin pekerjaan mereka bisa dimengerti dan dinikmati orang banyak. So there goes.

Di sisi lain, kalangan filsafat terkesan cuek pada fenomena ini. Alih-alih mencoba memperkenalkan filsafat dengan cara yang lebih akrab, mereka lebih sering menjelaskan begini-dan-begitu versi mereka. Atau mungkin merasa kurang perlu mempopulerkan gagasan mereka. Or something like that.

Singkatnya, ada yang kurang cocok di sini. Filsafat kini terkesan lebih menara gading dibandingkan sains — dalam artian lebih bisa dipandang tinggi, dan dihargai, tanpa harus dimengerti. Lebih mudah mensituasikan pakar MIPA sebagai nerd dibandingkan pakar filsafat sebagai nerd.

Padahal, kalau saya boleh menganalogikan,

Orang yang menjelaskan eksistensialisme — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyitir Nietzsche, Camus, dan Sartre,

KURANG LEBIH SAMA DENGAN

Orang yang menjelaskan Mekanika Kuantum — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyebut Efek Casimir dan Percobaan Ashfar.

Mereka sama-sama menjelaskan suatu gagasan, tapi tidak melakukannya dengan baik. Enggak bakal nyambung.

 

Jadi?
 

Ada sebuah kutipan bijak dari dosen saya, yang disampaikan waktu saya masih duduk di tingkat dua. Bunyinya kira-kira sebagai berikut:

Ada dua cara membuat orang kagum pada Anda.

Pertama: jelaskan suatu topik sampai dia mengerti,

Kedua: jelaskan suatu topik sampai dia tidak mengerti.

Mengenai maknanya… hmm, saya rasa tak perlu dijelaskan lagi. Silakan dihayati sedalam-dalamnya. :mrgreen: *halah*

 

Sebuah Catatan Akhir!
 

Di awal tadi, saya bercerita tentang pengalaman Pak Richard Feynman. Kisah itu belum selesai — masih ada lanjutannya berikut ini.[2]

Pada hari kedua, ahli steno itu mendatangiku dan bilang, “Apa pekerjaan Bapak? Pasti bukan dosen.”

“Lho, saya dosen.”

“Dosen apa?”

“Fisika-IPA.”

“Oh! Pasti itu sebabnya,” katanya.

“Sebab apa?”

Dia bilang, “Begini, saya kan tukang steno, dan saya mengetik semua yang dikatakan di sini. Nah, kalau orang lain yang bicara, aku ketik apa yang mereka katakan, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bilang. Tapi, kalau Bapak yang berdiri dan bertanya, atau mengatakan sesuatu, saya mengerti apa maksud Bapak—apa yang ditanyakan, dan apa yang dikatakan—jadi, saya pikir, Bapak tidak mungkin dosen!”

Well, there you have it. So… meh. 😆

 

——

Referensi:

 
[1] Feynman, R.P. 2003. terj. Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika. Bandung: Penerbit Mizan, hlm 313 (dengan perubahan seperlunya)

[2] ibid.

Read Full Post »