Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘quote’

“Seandainya aku tidak jadi mati, bagaimanakah? Seandainya aku diperkenankan hidup lagi? Tiap-tiap menit tentu menjadi zaman abadi bagiku, seluruh waktu akan menjadi milikku…. O tiap menit akan kujadikan abad, tidak akan kusia-siakan lagi. Menit, menit, ya menit itu akan kuisi sepenuh-penuhnya, supaya tidak percuma lagi, dan tidak akan saya sesali lagi kehampaannya.”

 
~ Fyodor Dostoyevski
(dalam pengantar Crime and Punishment edisi Indonesia oleh Jakob Sumardjo)

 

Syahdan, suatu hari di tahun 1849, Fyodor Dostoyevski hampir kehilangan nyawa. Grup diskusi yang diikutinya, kelompok Petrashevski, digerebek polisi. Mereka dituduh telah menghina Gereja Ortodoks Rusia dan kekuasaan Tsar — pengadilan menetapkan bahwa sebanyak 21 orang mendapat hukuman mati. Dostoyevski termasuk di dalamnya.

Hari berikutnya, para terpidana dikelompokkan tiga-tiga untuk persiapan eksekusi. Dostoyevski mendapat jatah grup kedua yang akan dieksekusi.

Kemudian tibalah saat penentuan. Setelah menyatakan permintaan terakhir, tiga narapidana ditutup matanya dan diikat di tengah lapangan… ketika, tiba-tiba, datang utusan resmi dari Tsar mengumumkan ralat. Bahwasanya hukuman mati untuk kelompok Petrashevski dibatalkan: sebagai gantinya, mereka harus menjalani kerja paksa di Siberia selama beberapa tahun.

Tentunya mental narapidana menjadi goncang, saking mendadaknya peristiwa ini. Walaupun lolos dari maut, dikabarkan terdapat dua orang yang jadi gila selepas peristiwa tersebut.

***

Peristiwa di atas begitu membekas di hati Pak Dostoyevski. Jadi, sejak saat itu, beliau bertekad untuk mengisi hidup dengan sebaik dan sepenuh-penuhnya. Tidak ada lagi waktu yang boleh terbuang. Ia yang tadinya hampir tewas mendapat ‘kesempatan kedua’ untuk hidup… tentunya ini bukan untuk disia-siakan. ๐Ÿ˜€

Tapi seram juga kalau dipikir-pikir. Masa sih, untuk menghilangkan kemalasan saja orang harus diancam hukuman mati? :-/

Hmmmmmmm. ๐Ÿ˜•

 

 

——

Lebih lanjut:

Read Full Post »

Hanya ada satu macam dosa di dunia ini, yaitu mencuri. Dosa-dosa lain adalah turunan darinya.

Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. Kau mencuri seorang suami dari istrinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya. Kalau kau menipu, kau mencuri hak seseorang untuk mendapat kebenaran. Dan kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapat keadilan.

 
~ Baba,
The Kite Runner

 

Terkadang saya bingung, apakah mencuri hati bisa digolongkan kejahatan juga.

Hmmmmmmmm. ๐Ÿ˜•

 

 
Catatan:

Saya tidak sedang jatuh cinta. Sungguh. ๐Ÿ˜Ž

Read Full Post »

Hari ini, saya teringat pada salah satu omongan Mas Joe di blognya yang lama.


Salah satu sifat tidak baik khas anak muda adalah โ€œtidak sabaranโ€ ๐Ÿ™‚

 

(link)

*mengamati kejadian beberapa minggu terakhir*

Apa saya ini bertambah muda, ya? Soalnya, rasanya saya dulu lebih sabar dibanding sekarang? :-/

Read Full Post »

Saya menemukan kutipan berikut ini tadi pagi, ketika sedang iseng membaca buku logika (dan kumpulan adagium) jaman jebot.


“Nec ridere, nec flere, nec laudare, nec condemnare; sed intelligere.”

 
(Jangan tertawa, jangan menangis, jangan memuji, jangan mengecam — lebih baik mengerti dulu.)

 

Lectio, Logica, Adagia
oleh Drs. J. Sukardjo; Penerbit Depdikbud (1983)

 
Kutipan yang mencerahkan, IMO. ^^

 

 
—–

Ps:

Kayaknya saya jadi sering berurusan sama buku antik akhir-akhir ini. Oh well. =3

Read Full Post »