Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Procrastinating’

Catatan:
Ini postingan tidak penting. Anda sudah diperingatkan.

 

Syahdan, di sebuah kantin yang berlokasi di dekat kampus saya, terdapat sebuah hidangan yang istimewa. Hidangan ini begitu ajaib, terutama karena nilai kelangkaannya yang lumayan tinggi… terutama bagi mahasiswa pemalas macam saya. Dan, sebagai akibatnya, saya bisa dibilang sangat jarang menikmati hidangan tersebut.

…sebetulnya sih, saya sedang membicarakan sepiring nasi goreng. 🙄

Bukan, ini bukan tentang rasa; sebab saya sudah pernah merasakan banyak nasi goreng yang lebih enak daripada itu. Demikian juga, ini bukan soal porsinya yang ukuran besar ataupun lain sebangsanya — ketika saya menyebut kata “langka” di atas, sebenarnya saya tak merujuk pada kualitas nasi goreng itu sendiri.

Sebab, faktanya, nasi goreng ini menonjol karena ia memang langka!

Tapi, kenapa bisa langka? Nah, ini ada ceritanya lagi.

***

Ceritanya, kantin yang saya sebutkan di atas memiliki jam buka cukup awal, yaitu sejak pukul setengah tujuh pagi, sebelum akhirnya tutup selepas maghrib. Nah, kantin ini memakai sistem prasmanan — kurang lebih mirip lah dengan sistem di Warung Padang. Jadi pengunjung tinggal datang, ambil nasi, ambil lauk, dan ambil minum (kalau mau) — lantas, kalau sudah selesai, tinggal bawa semuanya ke kasir dan bayar di tempat. Tentunya dengan sistem ini kita boleh mengambil nasi dan lauk sebanyak-banyaknya, asalkan memang sanggup membayar tagihan yang diberikan. ^^

Nah, tapi ada yang ajaib.

Biasanya, kalau Anda makan di tempat prasmanan, makanan yang tersedia akan cepat habis. Wajar, karena ada banyak orang yang mengambil makanan dengan volume relatif besar. Meskipun begitu, makanan yang habis biasanya terus diisi ulang — sehingga jarang terjadi satu jenis hidangan mengalami shortage dan lenyap dari daftar ambil pengunjung.

Sialnya, hal ini tidak terjadi pada sang nasi goreng. Anda bisa mengambil nasi putih, daging empal, paru, sop, atau ayam sampai saat warungnya menjelang tutup. Tapi, nasi goreng?

Jangan harap! 😦

Pada hari berlangsungnya kuliah, kantin buka pukul 6.30 pagi. Meskipun begitu, menurut sumber yang dapat dipercaya, nasi goreng biasanya sudah habis diambili massa pada pukul setengah delapan.

Pada hari libur, keadaannya sedikit membaik. Setidaknya, saya pernah datang ke sana pukul 9.30, dan masih mendapatkan nasi goreng tersebut… walaupun ini kasus langka sih. Saya ingat saya mengamati jam di kantin sambil berpikir,

“Wah, ini rekor.”

ketika saya masih mendapati jumlah nasi goreng cukup banyak untuk, sekurangnya, mengisi tiga piring lagi. Meskipun begitu, ini tetaplah sebuah pengecualian. Umumnya, Anda tak akan mendapatkan nasi goreng tersebut jika Anda baru datang pada pukul sembilan. 😐

Saya sendiri termasuk golongan yang sering gagal mendapatkan nasi goreng. Ini terjadi karena saya kuliah pagi terus sepanjang semester kemarin (empat hari berturut-turut masuk jam 7 😐 ). Ditambah lagi dengan kebiasaan bangun siang di hari libur, maka lengkaplah ketidakmampuan saya untuk mendapatkan sepiring nasi goreng khas kantin yang dimaksud.

Tapiii…. ada sebuah tapi, saudara-saudara.

Tapi.

Tapi.

Dua hari terakhir ini, ternyata saya bisa mendapatkan dua porsi nasi goreng. Setiap pagi, terhitung sejak Jumat kemarin, saya selalu berhasil mendapatkan sepiring nasi goreng langka yang sebenarnya tak hebat-hebat amat itu.

Ya, saya akhirnya BISA BANGUN PAGI DI HARI LIBUR!!!! 😆

SAYA BISA BANGUN PUKUL ENAM PAGI DI HARI LIBUR!!!!

SAYA BISA BANGUN PAGI DI HARI LIBUUUURRRRR…..!!!!

*ahem*

Ya, saya tahu ini berlebihan (u_u). Tapi, mengingat saya biasanya tidur pagi di hari libur, ini jadi terasa luar biasa. Biasanya saya menggambar dengan Photoshop, bikin komikstrip (misalnya yang ini, ini, atau ini), atau melanjutkan pengerjaan doujinshi sampai pukul enam pagi. Beberapa kali, saya bahkan melihat sinar matahari masuk kamar saya ketika saya belum tidur. Meskipun begitu, dua hari terakhir ini tampaknya kehidupan saya jadi rada membaik… sebab saya bisa tidur sebelum tengah malam, di hari libur, dan bangun tepat waktu di pagi hari. ^^

Maka, sebagai imbalannya, saya pun mentraktir diri saya sendiri porsi nasi goreng yang sering gagal saya dapatkan tersebut. Here goes the screenshot:

 

nasi-goreng.jpg

 

Nasi goreng, dengan dua buah rollade dan telur mata sapi sebagai tambahan. Rasanya?

Biasa. Ternyata cuma menang langkanya doang. 🙄

Ah, tapi setidaknya saya bisa mendapatkan nasi goreng yang jarang saya nikmati itu. Sebab, bukankah kata Nasruddin Hoja,

“Nilai dari segala sesuatu ditentukan dari kelangkaannya itu sendiri”

Setidaknya, saya masih berhasil mendapatkan sepiring nasi goreng yang berharga. Setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. 😆

Read Full Post »