Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘membingungkan’

Beberapa menit yang lalu, saya baru pulang jalan-jalan dari toko buku. Waktu itu saya sedang melepas sepatu di depan kamar kos (pintu kamar sudah setengah terbuka).

Kemudian datanglah seekor kucing gemuk. Mendadak sontak — tanpa diduga — kucing tersebut nyelonong masuk ke dalam kamar.

Tentunya saya kaget. Apa-apaan ini? Yang punya kamar saja belum masuk, kok dia seenaknya!? 😐

Otomatis, tangan saya langsung bergerak. Ekor kucing pun tertangkap.

Kemudian — tanpa dipikir — saya memutuskan untuk berkomunikasi dengan sang kucing. Refleks saja… dengan bahasa Jepang. *sumpah mati ini benar-benar refleks!* xD

Saya:

“Kore wa omae no tokoro janai. Mou, kiete kudasai.”
(= “Ini bukan tempat kamu. Tolong, pergilah sekarang juga.”)

Si kucing kemudian menoleh ke belakang; menatap ke arah saya.

Saya:

*memindahkan tangan, elus-elus bagian leher*

“Dakara, mou, kiete kudasai. Ne?”
(= “Makanya, pergilah sekarang. Ya?”)

Kucing masih menatap dalam sunyi.

Saya:

“Onegaishimasu.”
(= “Saya mohon.”)

Kemudian terjadi sesuatu yang ajaib: si kucing pergi ke luar, melewati saya dan pintu yang masih terbuka.

Saya melongok ke luar. Si kucing masih ada, melihat ke arah saya.

Lalu saya bilang:

Saya:

“Arigatou gozaimasu.”
(= “Terima kasih banyak.”)

Selesai saya ngomong ini, si kucing garuk-garuk kuping sebentar — setelah itu dia pergi.

Jadi, sekarang saya bingung.

Kucing itu… aslinya bisa bahasa Jepang, ya? ^^;;;;

 

 

——

Tambahan:

 
BTW, ini bukan pertama kalinya terjadi. Beberapa bulan yang lalu saya melihat seekor kucing lain, yang sedang berlari dari arah dapur. Kemudian saya bilang “matte!” (= “tunggu!”).

Eh, dia noleh. Setelah bertatapan agak lama — tidak ada yang mencurigakan — saya bilang: “betsuni” (= “tidak ada apa-apa”).

Dan dia pergi habis saya ngomong itu. Ini membingungkan. xD

Read Full Post »

“Susah memang kalau menyangkut perasaan.”

~ yud1

 

Biasanya, beberapa waktu sekali, saya berkesempatan jadi pendengar curhat orang-orang yang saya kenal. Saya sendiri OK saja. Bagaimanapun, mendengar kisah dan masalah yang dihadapi orang lain bukan tak ada manfaatnya. Paling tidak saya berkesempatan mengambil hikmah — kalau ada — dari pengalaman yang diceritakan.

Meskipun demikian, ketika saya menggali ingatan lebih dalam, saya menemukan hal yang mengejutkan. Ternyata banyak dari curhat tersebut memiliki tema umum yang sama.

Romance. Hubungan antara pria dan wanita.

Dan, lebih jauh lagi, ada semacam recurring theme yang berlangsung dalam genre curhat tersebut.

Bahwasanya, banyak kasus kaum hawa dikecewakan oleh cowok dense! 😯

Yup, begitulah adanya. Entah kenapa. Dan entah kenapa pula, jadi saya yang dicurhatin soal itu? Bagi saya ini suatu misteri.

Memangnya, apa sih menariknya, naksir cowok cuek-bebek yang nggak pedulian? Itu bukannya makan hati, ya? 😕

Alhasil, saya kemudian jadi tertarik meninjau ulang curhat-curhat tersebut. Berikut ini tiga di antaranya.

(note: nama dan identitas klien curhat dirahasiakan) 😉

 

***

 

Sebutlah namanya mbak A. Mbak ini sempat naksir seorang rekan yang sangat cocok dengan tipe idealnya (tipe idealnya tak usah dijelaskan di sini). Meskipun demikian, si cowok ini punya sebuah kekurangan: cueknya nggak ketulungan.

Alhasil, si mbak ini jadi sering makan hati. Walaupun menurutnya ia sudah lebih dari sekadar teman, ia tak berhasil mendapat kepastian dari sang pria. Tak peduli ia sudah berupaya habis-habisan untuk bisa dekat dan menjaga komunikasi. Reaksi yang diperoleh tetap sama, datar seperti loyang kue bolu.

 
Mbak B, orang yang berbeda, punya kisah yang juga berbeda. Dia punya seorang teman dekat — cowok — yang membuatnya merasa nyambung. Mungkin bisa disebut sebagai soulmate.

Sayangnya, meskipun sudah bertahun-tahun kenal, hubungan mereka tak beranjak lebih dari sekadar teman. Ada kesan bahwa si cowok lebih tertarik pada dunia dan hobinya sendiri. Main game, kuliah, dan sebangsanya seolah lebih menarik daripada mengurus hubungan yang berlandasan pada komitmen™. ( 😛 )

 
Di sisi lain, mbak C lebih beruntung daripada mereka yang disebut sebelumnya. Ia berhasil jadian dengan cowok yang disukai. Sayangnya, sang cowok (kita sebut sebagai “cowok X”) orangnya cenderung tidak peka.

Berulang kali mbak C bercerita ke saya bahwa cowok X ‘hobi’ menyampaikan opini tanpa diolah. Truth hurts, mungkin begitu istilahnya. Curhat ditanggapi dengan “lho, memang kamu yang salah!”; “memang harusnya begitu”; dan lain sebagainya. Ditambah lagi cowok X ini juga sering menanyakan hal-hal yang — menurut mbak C — menyakitkan. “Aku takut kalau aku jatuh cinta sama mbak Y. Bisa-bisa aku tergiring selingkuh…”

Dan lain sebagainya.

***

Tentunya, mendengar curhat di atas, perasaan saya sendiri jadi terbawa-bawa. Di satu sisi saya merasa dongkol pada cowok-cowok menyebalkan tersebut. Di sisi lain, saya juga bingung: kok mau-maunya sih para mbak itu bertahan menyukai cowok yang bersangkutan? Ini apa bukannya parade menyakiti diri sendiri? 😕

Bagaimanapun juga saya harus menanggapi keluhan mereka ini nggak enaknya kalo dengerin orang curhat x(. Jadi, biasanya saya bilang ke mereka yang masih single:

“Lo cuma bergantung sama harapan pribadi. Itu semu. Kalau harapan lo bener, lo beruntung. Tapi, kalau salah, yang paling sakit itu lo sendiri…”

“Saran gw sih, pastiin ke orangnya. Mungkin bakal sakit, tapi itu mendingan. Lebih baik daripada jika harapan lo runtuh dan menimpa diri lo pada akhirnya.”

Walaupun, jika sedang jahat, saya biasanya menanggapi dengan kalimat berikut:

“Halah, apa sih cowok nggak jelas kayak gitu. Tinggalin aja napa?” 😮 :mrgreen:

Tentunya saya juga harus menimbang mood si pendengar sebelum menjawab. Tapi itu cerita lain untuk saat ini™. 😆

 

Di sisi lain, mbak C punya kisah yang berbeda. Beliau cukup sering meminta ‘bantuan’ saya dalam menghadapi pacarnya.

“Sora! Itu kok si X nggak peka banget sih? Bantuin dong!” 😐

“Kemaren tuh, masa si X berbuat begini. Enggak banget kan??” 😈

dsb.

Biasanya sih saya menjawab dengan sadis:

“Yaudah, putusin aja.” =3

Walaupun, jika sedang baik, saya juga bisa memberi jawaban yang menyenangkan. 😆

“Yaah, dia memang begitu, sabar aja lah.” ^^;

“Perubahan itu butuh waktu… dia juga punya proses belajar.”

Jadi, dengan demikian, saya pun menyampaikan tanggapan seperti di atas. Tentunya setelah disesuaikan dengan mood para mbak ybs.

Meskipun begitu, tahukah Anda apa yang aneh? Ternyata masalah ini belum selesai.

***

 

Berikut ini adalah respon yang saya dapat ketika menyampaikan tanggapan-tanggapan di atas pada ketiga mbak tersebut. Dan hasilnya adalah…

Mbak A:

“Iya sih… tapi gimana dong. Dia ini tipe gw banget.”

“Ah, seandainya aja gw gampang jatuh cinta. Mungkin gw nggak akan semenderita ini.” 😦

Mbak B:

“Iya sih. Tapi sementara ini gw belom ketemu orang lain yang bisa seperti dia. Mungkin suatu hari nanti bakal ketemu, tapi entahlah.”

Mbak C:

(+) Yaudah, putusin aja. =3
(-) Nggak mau! 😦
–> FYI, jawaban ini cuma buat bercanda. 😆

 
(+) Yaah, dia memang begitu, sabar aja lah. ^^;
(-) He-eh… emang harus sabar sih ya.
–> yang ini jawaban serius

Jadi, intinya, saya bingung.

Kalau memang menderita sama cowok dense dan tidak peka. Dan juga sudah mengiyakan jawaban yang saya sampaikan. Kok… masih mau sih, bertahan dan menderita menghadapi ketidakjelasan sang cowok? ^^;;;

Sumpah, saya bingung! XD

 

Maka, benarlah perbicaraan dari rekan yang saya kutip di atas. Berhubungan dengan perasaan itu adalah hal yang rumit dan belum tentu logis. Bahkan bisa berpotensi menyusahkan, terutama jika Anda sendiri yang jadi korbannya.

Mungkin karena rasa adalah segalanya. Siapa yang tahu? 😉

 

 

—–

Ps:

Bagian keempat dari seri QM akan dirilis setelah postingan ini. Sorry for the delay. ^^

Read Full Post »