Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Islam’

Saya merasa hati saya disobek-sobek ketika membaca dalil-dalil fisika dipakai untuk mengapologikan keyakinan agama…

…dengan tidak semestinya.

Orang-orang awam mungkin akan senang dan merasa makin kukuh imannya. Tetapi, jika Anda paham dengan apa yang dibicarakan, melewati technobabble yang digunakan, maka pilihan Anda cuma dua: kecewa sekali atau marah sekali.

Dan saya mengalami yang pertama.

(ditulis setelah membaca “Pusaran Energi Ka’bah” karya Agus Mustofa)

 

Kutipan dan Tanggapan:

 

Disisi lain, ternyata jutaan orang yang berthawaf mengelilingi Ka’bah juga menghasilkan energi yang besar. Dari mana asalnya? Di dalam ilmu Fisika kita mengenal suatu kaidah yang disebut Kaidah Tangan Kanan.

Kaidah Tangan Kanan mengatakan: “Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan elektromagnetik yang mengarah ke atas.”

Hal ini, dalam Kaidah Tangan Kanan, digambarkan dengan sebuah tangan yang menggenggam empat jari, dengan ibu jari yang tegak ke arah atas. Empat jari yang menggenggam itu itu digambarkan sebagai arah putaran arus listrik, sedangkan ibu jari itu digambarkan sebagai arah medan elektromagnetik.

Kaidah tangan kanan ini telah memberi kemudahan kepada kita dalam memahami misteri Ka’bah. ‘Kebetulan’, orang berthawaf mengelilingi Ka’bah berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Atau dalam kaidah itu mengikuti putaran empat jari tergenggam.

 

~ hal. 112-113
(cetak tebal dari saya)

Ada tiga kesalahan yang ingin saya tunjuk di sini.

Pertama, penulis menyatakan “konduktor dikelilingi oleh arus listrik” (analogi orang berthawaf, Ka’bah sebagai konduktor — lihat kutipan selanjutnya 1, 2).

Ini salah besar. Arus tak bisa mengalir di luar konduktor. Ia hanya bisa mengalir lewat medium penghantar, e.g. kawat logam. Arus listrik tidak bergerak mengelilingi konduktor di udara bebas, sebagaimana ilustrasi orang berthawaf di atas.

Kedua, medan magnet tidak muncul di konduktor, melainkan di sekeliling konduktor berarus. Jika Anda menghantarkan listrik pada kawat, medan magnet akan muncul di sekeliling kawat… BUKAN pada kawat konduktor itu sendiri.

Ketiga, kaidah tangan kanan (right hand grip rule) yang sebenarnya tidak berbunyi seperti di atas. Melainkan:

    Ibu jari Anda melambangkan arah arus, dan empat jari yang menggenggam melambangkan arah medan magnet.

Jika arus mengalir lurus, maka medan magnet yang dihasilkan akan melingkar. Jika arus dibuat melingkar… maka kita harus melakukan perhitungan lebih lanjut. Kita harus menerapkan aturan tangan kanan dengan ibu jari kita mengikuti gerak arus.

Agak rumit bila dijabarkan, tapi bisa dijelaskan dengan ilustrasi sebagai berikut.

 

[medan magnet arus melingkar]

Untuk arus yang berputar berlawanan arah jarum jam, akan terbentuk medan magnet seperti ilustrasi sebelah kanan. Perhatikan bahwa:

1. Bagian tengah kosong (tidak ada konduktor)
2. Arus merambat pada kawat, bukan di udara kosong
3. Medan magnet terbentuk di sekeliling kawat
4. Arah medan magnet tidak hanya ke atas, melainkan melingkar.
Dengan demikian terdapat medan magnet ke arah bawah di sisi luar konduktor. (tidak digambarkan)

Kutipan di atas setengah benar ketika menjelaskan arah medan magnet ke atas, tetapi salah total ketika menjelaskan arus. Sorry, but — first.

 

Masih ada lagi yang lain:

Seperti telah saya katakan, bahwa tubuh manusia ini sebenarnya mengandung listrik dalam jumlah besar yang dibawa oleh miliaran bio-elektron dalam tubuh kita. […] Sehingga ketika ada jutaan orang berthawaf mengelilingi Ka’bah, ini seperti ada sebuah arus listrik yang sangat besar berputar-putar berlawanan dengan arah jarum jam mengitari Ka’bah. Apa yang terjadi?

 
~hal. 113

Per definisi, arus listrik adalah elektron yang bergerak. Apabila terdapat arus, maka akan terbentuk medan magnet di sekitarnya. (perhatikan gambar di atas)

Saya tidak tahu apa itu bio-elektron, kecuali — mungkin — maksudnya adalah elektron yang terdapat dalam sistem fisiologi tubuh manusia. Ini tidak menjawab apa-apa. Elektron dalam tubuh manusia tidak ada bedanya dengan elektron dalam sebongkah bata.

Meskipun begitu, sekilas saya bisa menangkap ide yang beliau usung:

    Kelihatannya, penulis berupaya menjelaskan arus lewat ide “manusia sebagai muatan negatif yang bergerak”.
     
    Dengan demikian gerakan thawaf akan menghasilkan arus berlawanan arah jarum jam.

Sayangnya, ide ini sangat mentah. Tubuh manusia umumnya bermuatan netral. OK, terdapat satu-dua kondisi di mana tubuh manusia bisa bermuatan lebih positif/negatif (penjelasan yang bagus: di sini). Meskipun demikian hal ini sifatnya tidak alami… Anda harus menjalani proses ‘kehilangan’ muatan dulu sebelum jadi tidak netral.

Jika manusia bermuatan bergerak, maka akan timbul medan magnet (berperilaku seperti arus listrik). Tetapi, jika manusia netral bergerak, maka tak akan timbul medan magnet sama sekali. Tidak ada perilaku arus. Ini sama saja dengan memutar-mutar batu bata (muatan netral) menggunakan tali — takkan ada gejala elektromagnet, karena muatan bendanya sendiri nol!

 

Dan lagi:

Di tengahnya, di Ka’bah — khususnya lagi di Hajar Aswad — terjadi medan elektromagnetik yang mengarah ke atas. Kenapa begitu? Karena dalam hal ini Hajar Aswad telah berfungsi sebagai konduktor, seperti dijelaskan oleh Kaidah Tangan Kanan.

 
~ hal. 113
(cetak tebal dari saya)

Perhatikan kembali gambar yang saya cantumkan. Sebenarnya tidak perlu ada konduktor di tengah untuk memunculkan medan magnet.

Jika sebuah arus berputar berlawanan arah jarum jam, maka arah medan magnet — di dalam lingkaran — akan cenderung ke atas. Di titik pusat, terbentuk medan magnet yang benar-benar tegak. Semua terjadi tanpa perlu adanya konduktor di tengah cincin.

 

Dan TERAKHIR… (ini yang membuat saya benar-benar geleng kepala)

Sesungguhnya, setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik. Gelombang itu selalu memancar ketika kita melakukan apa pun. Ketika kita berkata-kata, kita sebenarnya sedang memancarkan gelombang suara yang berasal dari getaran pita suara kita.

Ketika kita berbuat, kita juga sedang memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita. Jika tertangkap mata seseorang, maka mereka dikatakan bisa melihat gerakan atau perbuatan kita. Demikian pula ketika kita sedang berpikir, maka otak kita juga memancarkan gelombang yang bisa dideteksi dengan menggunakan alat perekam aktivitas otak yang disebut EEG (Electric Encephalo Graph). Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi.

 
~ hal. 112
(cetak tebal dari saya)

Maaf, tapi tidak ada ampun di sini. 😕

 
Pertama:

Gelombang suara BUKAN gelombang elektromagnetik, melainkan gelombang mekanik. Keduanya memiliki perbedaan properti yang signifikan.

Yang saya lihat, penulis cenderung mencampuradukkan fenomena gelombang dan mewadahkannya dalam satu nama “gelombang elektromagnetik”. Mungkin beliau tidak bermaksud demikian — tetapi, menyebut gelombang suara tepat setelah membicarakan gelombang elektromagnetik, itu berpotensi menyesatkan pembaca yang awam. 😐

 
Kedua:

Penulis menyatakan “setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik”. Disambung dengan percontohan bahwa kita “memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita”, bahwa kita memancarkan gelombang otak… sebelum akhirnya memungkas penjelasan dengan kalimat: “Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi”.

Seolah-olah, istilah “pemantulan” dan “pemancaran” itu sama dan dapat dipertukarkan! Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Mari kita perhatikan definisi berikut:

  1. Suatu benda yang memancarkan gelombang, menghasilkan gelombang tersebut dari dalam dirinya sendiri. Ia bersifat aktif dan membutuhkan energi internal.
  2. Contoh: Bintang memancarkan cahaya (lewat energi fusi), speaker memancarkan suara (lewat energi listrik), dst.
     

  3. Suatu benda yang memantulkan gelombang bersifat pasif. Ia hanya menunggu datangnya gelombang dari sumber lain, dan tidak membutuhkan energi internal*.
  4. Contoh: Bulan memantulkan cahaya dari matahari ke bumi; dinding memantulkan gelombang suara dari mulut kita, dst.

     

    *) Lebih jauh lagi, sebenarnya benda menyerap sebagian energi gelombang saat pemantulan terjadi. Tapi itu bisa kita abaikan untuk saat ini.

Dengan demikian, gelombang hasil pantulan berbeda dengan gelombang hasil pancaran. Pemantulan cahaya tidak dapat disamakan dengan pemancaran cahaya — apalagi dengan pemancaran energi!

Mempersamakan pemancaran dengan pemantulan, ibaratnya menyatakan bahwa bulan bersinar tanpa bantuan matahari. Ini ngaco.

Saya tidak menyangkal bahwa keduanya — pemancaran dan pemantulan — punya ciri umum yang sama. Mereka sama-sama merambatkan energi gelombang pada pengamat. Tetapi, prinsip dasar yang melandasinya berbeda. Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas.

Meskipun begitu, penulis tampak menganggap bahwa keduanya sama dan dapat dipertukarkan. Entah kenapa. 🙄

 

Sebuah Catatan Akhir

 
Sejauh ini, Anda mungkin bertanya: kenapa saya mau bercapek-capek menulis tentang buku tersebut dan menanggapi poin-poinnya. Sebenarnya sederhana saja: saya kecewa. Terutama sebagai orang yang, kebetulan, mempelajari fisika secara ekstensif di bangku kuliah.

Boleh-boleh saja kalau mau berdakwah dengan mengedepankan penemuan sains. Hanya saja: check your facts first. Dakwah model ini berpotensi terjerumus jadi pseudosains jika penggagasnya tidak berhati-hati.

Kalangan awam yang mencari peneguhan religius mungkin kagum dengan adanya pemaparan so-called “kecocokan ilmiah”. Tetapi, kekaguman itu berlandas pada kesalahkaprahan… sebuah landasan yang sangat rapuh.

Apa jadinya dengan kebanggaan yang dibangun di atas ilusi dan miskonsepsi. Ini hanya akan membuat pemercayanya tampak bodoh. Agama tidak — dan tidak seharusnya — diperkokoh lewat hoax dan pseudosains. Bayangkan seorang penganut yang dengan percaya diri berkata:

“Agama saya menemukan pembenaran lewat gejala alam X. Penjelasannya bla-bla-bla.”

Hanya untuk ditertawakan oleh pendengarnya yang menjawab:

“Hei, penjelasan kamu salah. Gejala alam X itu penyebabnya seperti ini…” :mrgreen:

***

Akhir kata, saya cuma ingin berpesan: jangan campurkan sains secara sembrono untuk kepentingan dakwah. Setidaknya, pastikan bahwa dalil-dalil yang Anda gunakan benar dan masuk akal. Jangan sampai iman/agama yang Anda bela — dan umatnya — justru terlihat bodoh karena berpatokan pada ilmu semu.

Ironis, bukan, jika upaya untuk meneguhkan keyakinan ternyata berlandaskan pada ketidakbenaran.

Sains dan Agama adalah dua sisi yang sering bentrok. Mencampurkan keduanya secara sembrono sangat beresiko… lebih bijak jika kita menimbang jarak antara keduanya sehati-hati mungkin. 😉

 

 

—–

Ps:

Buat mbak Snowie, yah, saya sudah menemukan buku ybs. Ternyata ada di lemari buku orangtua saya. There you have it. 😉

PPs:

BTW, yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir. Atau lebih tepatnya, lulusan Teknik Nuklir UGM.

Can you believe it? 😕

Read Full Post »

Ceritanya, tempo hari, saya dan Kopral Geddoe sedang terlibat obrolan santai via Yahoo! Messenger. Dan mendadak, entah bagaimana, tahu-tahu kami membicarakan amalgam dari dua hal yang (aslinya) sama sekali lepas dan tak berhubungan.

Kalau Anda memperhatikan judul di atas, tentunya Anda bisa menangkap bahwa dua hal yang tak berhubungan itu adalah anime-culture dan jilbab.

Apa? Anime-culture dan jilbab?

 

aniveil_para.jpg

Well, something like that… ^^;;

 

Jadi, sejak zaman kuda gigit besi anak SMA naik motor ke sekolah saya bertahun-tahun lalu, ada sebuah kecenderungan menarik yang saya amati. Dan, berhubung saya ini dulunya lumayan aktif di kegiatan ROHIS sekolah, maka kecenderungan ini jadi tampak semakin jelas dalam pengamatan saya. Bahwasanya, barang-barang Jepang (dan budaya manga-anime pada khususnya) tampak sangat berhasil memasuki selera anak-anak yang rajin nongkrong di masjid sekolah.

Bahkan, kalau mau jujur, justru anak-anak yang pola pikirnya cenderung ‘kanan’ ini lebih bisa menerima budaya Jepang, dibandingkan dengan counterpart-nya dari Eropa dan Amerika! 😯

Bukanlah hal yang aneh, misalnya, jika Anda menemukan serombongan cewek berjilbab yang ngefans pada Himura Kenshin dan bahkan menetapkan kriteria cowok favorit mereka dari situ. Majalah dinding di masjid sekolah saya dihiasi ilustrasi bergaya manga. Beberapa rekan saya yang ikhwan bahkan rajin menonton Kapten Tsubasa dan InuYasha setiap minggunya — animo yang sangat besar bila dibandingkan dengan penerimaan terhadap barang-barang yang berasal dari Barat™. Anda bisa saja mengadakan kontes popularitas antara Sanosuke Sagara melawan Spider-Man, dan orang-orang lebih memilih Sanosuke… betapapun Spider-Man aslinya merupakan salah satu tokoh komik Amerika paling populer saat ini.

Seperti yang saya singgung sekilas di atas tadi, budaya Jepang tampaknya sedang tumbuh subur di kalangan muda Islam. Atau, setidaknya, di kalangan yang tumbuh di lingkungan bernuansa Islam cukup kental.

 

Seperti apa sebenarnya gejala ini?

 
Waktu itu, Geddoe menyampaikan bahwa ada kecenderungan yang menarik di sebuah forum ‘hijau’ yang ia temukan di internet. Bahwasanya, di forum tersebut terdapat generasi pengguna yang merupakan amalgam antara identitas “Islam” dan “anime-culture”.

Singkatnya,

Anak-anak yang bangga dengan identitas keislaman mereka — ketika, di saat yang sama, menggemari anime dan manga sebagai hiburan tersendiri.

Intinya sendiri cukup jelas. Di satu sisi, anak-anak dari generasi ini merasa bangga sebagai seorang muslim per se. Meskipun demikian, mereka tidak lantas terpaku pada budaya Islam (terutama Islam-Arab) saja — di sisi lain, mereka juga mengakomodasi masukan dari budaya di luar itu. Kebetulan, budaya Jepang-lah yang dirasa cocok untuk mengisi porsi masukan tersebut.

Bahkan, dalam banyak kasus, penetrasi budaya ini menghasilkan amalgam anime-islami sebagaimana yang saya contohkan dengan gambar di atas. Hal inilah yang terjadi ketika sarana dan buletin dakwah ditaburi oleh ilustrasi bergaya manga — atau ketika avatar cewek berjilbab dan cowok berkopiah menjadi pilihan di forum-forum internet. Dengan satu dan lain cara, “anime-culture” dan “Islam” seolah-olah bisa dipersatukan dan mempunyai embodimen tersendiri di lingkungan kita.

Akibat lainnya? Tentu saja jadi tidak sulit untuk menemukan, bahwasanya seorang cewek berjilbab pun bisa membuat list karakter cowok anime kesukaannya. :mrgreen:

*ditimpuk Grace* x(

 

Tentunya gejala semacam ini tidak muncul tiba-tiba. Pasti ada penyebabnya.

 
Hal itulah yang kemudian melintas jadi topik pembicaraan tempo hari. Mengapa barang-barang Jepang, seperti anime dan manga, bisa diterima dan berbaur dengan budaya “Islam” yang ada di Indonesia, sampai-sampai mengalahkan counterpart mereka dari Amerika dan Eropa? 😕

Maka, kami (baca: saya dan Geddoe) pun bertukar hipotesis soal ini.

Menurut saya,

Mungkin, karena di bawah sadar sudah terbentuk image bahwa Amerika™, Barat™, dan antek-anteknya™ sudah terstigma negatif, maka generasi ini cenderung menolak hal-hal yang berasosiasi dengan cap tersebut. Dalam kasus ini, Jepang tidak terkesan se-clash-confronting itunya amat terhadap Islam bila dibandingkan dengan Barat. Ini menjadi faktor penarik yang potensial untuk generasi muda Islam yang gerah terhadap budaya Barat™ yang terlalu permisif™ ( 😛 ) ; lantas menjadi alternatif hiburan yang bisa diterima.

Geddoe sendiri mempunyai pendapat yang rada berbeda:

Setidaknya, ada satu hal yang membuat Islam [sekurangnya di bawah sadar] merasa perlu untuk mem-blend diri mereka dengan budaya pop. Hal yang sama berhasil dilakukan dengan baik oleh sang (supposedly) arch-enemy, Kristen. Ingat Christ Rock, serta penampilan organisasi Gereja di dunia hiburan: Van Helsing, Chrno Crusade, dan lain-lain sebagainya.

Kartu as ini tidak dimiliki Islam. Oleh karena itu, tampaknya terbentuk keinginan agar, entah bagaimana, Islam pun bisa berbaur dan memiliki perwakilan di bidang pop-culture.

Tapi, mengapa Jepang diterima? Bukankah negara ini sendiri cenderung sekuler, sama seperti Eropa dan Amerika? Bahkan dunia hiburan mereka pun juga cenderung permisif — sebagaimana yang bisa kita temukan pada berbagai barang-barang ecchi dan H.

Untuk ini, saya kemudian berpendapat bahwa

Memang benar budaya Jepang mempunyai sisi permisifnya sendiri. Dan mereka memang cenderung menganut liberalisme — tak jauh beda dengan Amerika maupun Eropa pada umumnya.

Tapi, meskipun begitu, ada pengecualian: budaya Jepang, yang diwakili oleh hiburan mereka, memiliki nilai-nilai Timur yang dihargai oleh kita di Indonesia… yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Keutamaan akan sikap sopan; keadaan keluarga yang guyub; hormat pada guru/senior; dan semangat individualisme yang lebih rendah dibandingkan dengan counterpart mereka dari Barat. Inilah yang tercermin di berbagai media, baik itu manga, anime, ataupun dorama.

Di Party of Five dan Friends, Anda menemukan anak-anak yang berusaha mandiri dan jauh dari orangtua — tetapi, di Ichi Rittoru no Namida dan Dragon Zakura, misalnya, Anda menemukan bahwa orangtua dan keluarga adalah hal yang sama pentingnya dengan usaha menjalani hidup dan menjadi dewasa.

Dan, dengan demikian, kita melihat bahwa terdapat faktor pendorong dan penarik yang, dengan satu dan lain cara, membuat budaya Jepang terkesan lebih favorable di mata generasi muda Islam yang dibahas sebelumnya. Tentunya perlu dicatat bahwa semua penjelasan di atas hanyalah hipotesis murni — yang secara brutal dilempar-lempar melintas lautan lewat HTTP port 8080 oleh IM client kami masing-masing ( 😛 ). Dugaan-dugaan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. ^^

 

As The Dust Settles

 
Tentunya dialog di atas tidaklah bermaksud menyatakan bahwa “budaya Jepang lebih baik daripada budaya Barat”, atau malah meninggi-ninggikan bahwa “anime-culture itu cocok diamalgamkan dengan budaya Islam”. No, that’s not it. Kenyataannya, menurut saya, kecenderungan bahwa sebuah generasi kini memadukan keduanya adalah hal yang cukup menarik untuk dibahas — walaupun secara iseng-iseng — dan saya yakin bahwa rekan chat saya waktu itu pun berpendapat demikian. Bukan begitu, Kopral? :mrgreen:

Hence the chat summary. 😉 Ada pendapat lain?

 

 

—–

Ps:

…dan sekarang saya jadi teringat seorang cewek berjilbab sekelas saya waktu SMA. Waktu itu guru sejarah meminta setiap anak membuat 20 soal pilihan ganda tentang Restorasi Meiji — dan dia mengerjakannya bermodal manga Rurouni Kenshin. Doh. x(

 
PPs:

No, I didn’t develop any serious crush for her. Just in case you’re wondering. 😉

Read Full Post »