Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Football Manager 2007’

…mungkin bukanlah mereka yang melatih tim papan atas langganan Liga Champions. Melainkan para pelatih klub divisi satu dan Serie B.

Kesan ini saya dapat setelah menghabiskan waktu liburan dengan main Football Manager 2007. Secara relatif, game ini mengajarkan saya bahwa sepakbola bukan hanya sekadar taktik — melainkan juga termasuk manajemen pemain, staff, dan finansial.

Bahkan, kalau mau main jujur, game yang satu ini sangat susah untuk dimainkan dengan sukses! 😯

Kenapa bisa begitu, coba saya jabarkan berikut ini.

     

  1. Mulai main dengan status “unemployed”
  2. Dengan begini, Anda hanya bisa mendapatkan tim non-divisi utama (atau timnas) yang sedang kosong atau memiliki “kursi panas”. Itu pun Anda harus melamar ke klub/timnas ybs. dulu. Kalau ditolak? Yah, silakan cari tim lain. =_=!

    Tentunya saya juga bisa “merampas” kepelatihan Arsenal dari Pak Arsene Wenger, kalau mau, di FM ini. Tapi saya kan orang yang jujur dan menyukai tantangan™. 😛

     

  3. Kemudian saya memilih sebuah tim yang (rasanya) cukup memadai materi pemainnya
  4. Sayangnya tim ini sedang terbelit masalah finansial. Yang kemudian berlanjut ke poin-poin di berikutnya. x(
     

  5. Maaf, klub terlilit hutang. Kami tak bisa menyediakan transfer budget untuk musim ini
  6. Maka saya pun hanya bisa berburu pemain yang tidak terikat kontrak. Yang usianya pada umumnya berada di bawah 18 tahun atau di atas 30 tahun. Yang mana sebagian skill-nya sudah melorot atau belum matang sama sekali. 😥

     

  7. Berkaitan dengan masalah finansial sebelumnya, tolong perhatikan kebijakan gaji Anda kalau mau menawarkan kontrak
  8. Ada pemain bagus yang ingin saya gaet ke tim saya, dan statusnya free-transfer. Saya pun menyorongkan kontrak padanya.

    Apa lacur, executive board menyatakan bahwa besar gaji maksimal yang boleh diberikan adalah sebesar [sekian] ribu dolar per minggu. Lebih parah lagi kalau total gaji pemain saya sudah melampaui budget (baca: saya terlalu banyak signing tanpa offloading). Maka board akan menegur; lantas membatasi kontrak2 selanjutnya dengan gaji maksimal 245 dolar saja. x(

     

  9. Akhirnya pemain-pemain yang lumayan sudah didapat. Tapi…

    Ternyata kualitas pemain tidak merata. 😦 Pemain yang ada di first team kualitasnya rada njomplang dibandingkan cadangannya. Ditambah lagi jadwal liga yang diikuti 24 tim memaksa saya menjalani pertandingan setiap 3-atau-4 hari sekali.

    BAGAIMANA SAYA BISA ROTASI PEMAIN KALAU BEGINI… T__T

     

  10. Tak mengapa. Dengan taktik yang baik, saya mungkin bisa mencuri angka di setiap pertandingan
  11. Segalanya berjalan lancar sampai menjelang musim dingin. Bulan pertama dan kedua tim saya duduk di zona promosi, bulan ketiga turun ke peringkat enam, dan terakhir… tim saya baru saja mengalami streak kalah dan seri di lima pertandingan beruntun. 😯

    What the hey!? 😈 Tampaknya rotasi pemain menjadi faktor kunci di sini. Doh. x(

     

  12. Staff-nya pun cenderung “biasa”
  13. Berbeda dengan Arsenal yang mempunyai physio dengan poin physioterapy 20, saya harus bekerja dengan physio yang memiliki poin (maksimal) 18. Scout pun hanya ada dua orang, yang dengan poin Judging Player Ability/Potential 16/16 dan 15/11. Adapun coach-nya relatif lumayan, sih. (o_0)”\

     

  14. Reputasi tim agak rendah; beberapa pemain/staff target jadi ogah ditawari kontrak
  15. Terutama kalau target saya berasal dari Liga Premier yang jauh lebih bergengsi; atau dari Divisi Utama negara tetangga; atau langganan timnas kelas A di Eropa. Duh. 😦

     

  16. Ekspektasi board: juara divisi dan promosi!
  17. ……………… XD

     
    *speechless*

    *walaupun bukannya nggak mungkin juga sih* 😛

Yah, kurang lebih begitu. Terkadang saya beruntung mendapat masukan budget sebesar 88 ribu dolar yang bisa dibelanjakan pemain setelah musim berjalan; terkadang saya juga berhasil menggaet pemain bagus dengan free-contract. Tapi kok ya… ^^;;

***

Di awal tadi, saya menulis bahwa pelatih divisi rendahan mungkin sama (atau bahkan lebih) hebat daripada counterpart mereka di divisi utama. Sebenarnya concern-nya begini saja:

Para pelatih divisi utama, pada umumnya, bisa lebih berkonsentrasi pada taktik dan mind-game terhadap sesama manajer lewat media. Biaya transfer pun umumnya tersedia, minimal dalam orde jutaan dolar. Belum lagi kalau melatih tim besar: bukan hanya finansial yang terjamin, melainkan juga terdapat pemain kelas dunia, staf berkualitas, dan cadangan yang (boleh jadi) cukup untuk bermain di tiga-empat kompetisi sekaligus dalam satu musim. 😐

Hal yang sama tidak terjadi kalau Anda menangani tim yang lebih kecil — atau, setidaknya, jika Anda melatih tim papan tengah-bawah di divisi utama.

Mendadak saya jadi iri pada para pelatih tim kelas dunia itu. Dan kemudian saya teringat: bahwa saya pun, ketika main CM 2001, pernah complain karena hanya tersedia biaya transfer 4 juta poundsterling… 😥

*nangis bombay* =((

Read Full Post »