Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘filsafat’

Syahdan, sebelum benua Australia ditemukan, orang Eropa punya pendapat seperti berikut.

Setiap kali saya melihat angsa, selalu berwarna putih.
Angsa di danau berwarna putih,
Angsa di peternakan berwarna putih.

Oleh karena itu, pastilah semua angsa di dunia berwarna putih.

Selama bertahun-tahun mereka terbiasa dengan “doktrin” ini, sebab memang tak ada angsa berwarna lain yang hidup di Eropa. Mulai dari Inggris, Wales, hingga Belanda dan Hungaria, semua angsa yang terlihat selalu berwarna putih. “Rasanya mustahil ada angsa berwarna hitam atau abu-abu,” demikian pikir penduduk Eropa.

Tapi, benarkah begitu?

Menjelang akhir abad ke-18, pendapat “angsa putih” di atas hancur berkeping-keping. Bahwasanya, para ilmuwan menemukan spesies ANGSA BERWARNA HITAM… di benua Australia!!! 😯

 

Cygnus atratus

 
Angsa hitam (latin: Cygnus atratus). Konon, kehadirannya tersembunyi sampai tahun 1780 – yakni ketika ahli biologi Inggris menginjakkan kaki di Australia.

 
[photo (c) Mindaugas Urbonas, via Wikimedia Commons]

 
Kontan, peristiwa ini menampar kesadaran berfilsafat orang-orang Eropa. Bagaimana bisa orang begitu yakin bahwa semua angsa berwarna putih, sementara nyatanya ada angsa berwarna hitam? Pastilah ada yang salah dengan cara berpikir mereka. Tapi apakah yang salah itu?

 

Sekilas Problem Hume
(dan Cara Berpikir Induktif)

 

Bapak David Hume, filsuf Inggris yang meninggal pada tahun 1776, adalah orang pertama yang mengangkat topik ini. Di sela-sela kesibukannya sebagai penulis buku sejarah, ia mengetengahkan sebuah pertanyaan logika yang disebut Problem Hume.

Problem Hume aslinya memiliki deskripsi agak teknis. Meskipun begitu, untuk memudahkan pembahasan, saya akan coba menampilkannya di sini dalam bentuk ilustrasi.

Dua hari lalu, matahari terbit di ufuk timur.
Kemarin, matahari terbit di ufuk timur.
Pagi ini pun, matahari juga terbit di ufuk timur.

Tetapi, apakah matahari pasti terbit di timur juga esok hari?

Hume memiliki keberatan dengan cara berpikir induktif, yakni sebagaimana dijelaskan dalam tiga baris pertama bait di atas. Apabila suatu hal terjadi secara beruntun dan teratur di masa lalu, maka hal tersebut diprakirakan terjadi pula di masa depan. Pertanyaannya: benarkah demikian?

Menurut Hume, belum tentu. Bahwasanya amatan kita hari ini belum tentu mencerminkan kejadian esok hari. Dalam kasus matahari di atas, misalnya, tidak ada kepastian bahwa matahari akan terbit. Orang cuma bisa memprediksi saja lewat pengalaman.

Siapakah yang menjamin bahwa kiamat bukan esok hari? Bagaimana jika rotasi bumi mendadak berhenti, atau jika matahari mendadak hancur berkeping- keping. Menurut Hume, sangat gegabah jika kita meyakini masa depan takkan jauh beda dibandingkan kemarin-kemarin. Yang bisa kita yakini tentang masa depan — berdasarkan pengalaman — hanyalah probabilitasnya saja.

Kalau selama ribuan tahun matahari terus terbit di ufuk timur, sepertinya ia akan terbit di timur juga esok hari. Kalau selama ribuan tahun kita hanya melihat angsa putih saja, sepertinya mustahil ada angsa berwarna hitam. Tetapi bukan tak mungkin suatu hari, di satu hari yang mengejutkan… kita melihat parade angsa hitam atau matahari yang terbit di utara. Pada dasarnya, kita tak pernah tahu. Inilah intisari dari Problem Hume.

***

Kalau Anda suka nonton bola, pasti tahu kejadian baru-baru ini. Timnas Spanyol — yang tidak pernah kalah dalam 35 pertandingan terakhir — ternyata tumbang di kaki ‘anak bawang’ Amerika Serikat. Di sini Problem Hume menunjukkan dirinya. Betapapun dahsyatnya rekor Spanyol dalam 35 pertandingan, itu tidak menjamin mereka takkan kalah di pertandingan ke-36. 🙂

 

Hubungannya dengan Kebenaran

 

Salah satu implikasi yang dihadirkan Problem Hume terkait dengan persepsi kita tentang kebenaran. Hume mengindikasikan bahwa apa yang hari ini kita yakini sebagai “kebenaran” belum tentu berlaku di masa depan.

Contoh yang bagus tentang ini adalah Hukum Newton. Selama dua abad, orang menganggap Hukum Newton sebagai tiang pancang dunia fisika. Ribuan percobaan yang dilakukan sejalan dengan ketentuan dan prediksinya. Para fisikawan waktu itu percaya, rahasia besar fisika telah terungkap — tinggal detail kecil-kecil saja yang tersisa.

Tak kurang dari fisikawan A. A. Michelson berkata,

“Tugas fisika sekarang sekadar menghitung angka desimal keenam saja (dalam perhitungan).”

Masalahnya, semua bisa dijelaskan dengan Newton. Tinggal memasukkan angka-angka yang cocok ke dalam rumus, maka jadilah. Ini pendapat yang dianut hampir semua fisikawan klasik.

Meskipun begitu, di awal abad ke-20, Albert Einstein muncul dengan dua buah karya terkenal. Pertama, Teori Relativitas Khusus di tahun 1905 menumbangkan Hukum Gerak Newton. Kedua, Teori Relativitas Umum di tahun 1919 menumbangkan Hukum Gravitasi Newton. Hanya dalam tempo dua dekade, “kebenaran” yang dianut fisikawan klasik runtuh.

Hukum Newton, yang tadinya diyakini sebagai “kebenaran” dunia fisika, ternyata tidak sempurna. Sebagaimana halnya angsa hitam, teori Einstein sukses menjungkirkan anggapan yang telah mapan.

***

Di sinilah kita belajar bahwa “kebenaran” (dalam tanda kutip) itu bukan Kebenaran hakiki. “Kebenaran” itu hanya asumsi kita belaka. Asumsi-asumsi dibangun dari masa lalu, dipakai untuk memprediksi masa depan. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Problem Hume: no, you can’t. Tidak pernah ada jaminan bahwa hari esok akan sama dengan hari ini, atau bahwa “kebenaran” hari ini akan diterima di masa depan.

Ratusan tahun orang Eropa percaya bahwa semua angsa berwarna putih. Tetapi, cuma dibutuhkan beberapa tahun menapaki Benua Australia untuk menyangkalnya.

Ribuan eksperimen mendukung “kebenaran” Hukum Newton. Keberhasilannya dua abad. Tetapi, cuma dibutuhkan dua buah paper di awal abad 20 untuk meruntuhkannya.

Dan siapakah kita, yang berhak mengklaim bahwa matahari pasti terbit di timur esok hari? Tidak ada. Kita cuma bisa memprediksi berdasarkan dengan pengalaman. Tetapi, benar atau tidaknya, kita takkan tahu sampai esok tiba. 😉

 

Memaknai Kerancuan: Solusi Karl Popper

 

Sampai di sini, mungkin ada di antara pembaca yang hendak mengangkat tangan dan bertanya.

“Bagaimana bisa kita hidup dengan tenang? Dunia ini begitu rancu, tidak ada yang pasti. Bahkan kebenaran yang kita percaya juga tidak pasti!”

Memang ada benarnya. Problem Hume membuat kita harus siap-siap kehilangan pegangan: tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini. Masa depan kita tak pernah pasti. Yang bisa kita hitung barangkali hanya probabilitas (kebolehjadian)-nya saja.

Tetapi, bagaimana supaya kita tak terjebak mengamini “kebenaran” yang salah? Bagaimana supaya kita tak canggung menghadapi dunia yang tak terduga?

Jawaban untuk ini ditemukan oleh filsuf Austria, Karl Popper. Menurut Popper,

Pendapat kita tentang sesuatu hal tak boleh statis, melainkan harus selalu dicocokkan dengan bukti. Apabila pendapat tidak cocok dengan bukti, maka pendapat tersebut harus diperbaiki.

asas falsifikasi

Dunia memang tak terduga, Popper mengakui. Satu-satunya cara untuk menghadapi Problem Hume adalah dengan menerima bahwa prasangka kita bisa salah. Meskipun begitu, kita selalu bisa belajar dari kesalahan. Dengan mempelajari kesalahan, pemahaman kita jadi lebih baik.

Kalau tadinya kita percaya bahwa semua angsa berwarna putih, dan ternyata kita menemukan angsa hitam, maka keyakinan kita harus direvisi. Kalau tadinya kita percaya Hukum Newton sebagai kebenaran, maka, setelah melihat teori Einstein menumbangkan Newton, keyakinan itu juga harus direvisi. Di sini bukti berbicara. Apabila kita memilih keukeuh pada argumen dan menolak bukti, maka kita tak bisa maju.

Singkat kata, Popper menekankan: agar terhindar dari kekeliruan, orang harus membuka diri pada kemungkinan dan belajar dari kesalahan. Orang yang dogmatik, yang tertutup dan menolak bukti, hanya akan jadi tertawaan. Hanya orang yang berpikiran terbuka dan mau belajarlah yang bisa maju.

Demi menghadapi ketidakpastian, kita harus mengakui yang tak terduga. Dan kemudian, belajar dari yang tak terduga itu setiap kali ia menyerang. Demikian pendapat Popper.

 

Epilog: Dunia yang Tak Pasti

 

“Life is like a box of chocolates — you never know what you’re gonna get.”

~ Forrest Gump

 
Kita hidup di dunia yang tak pasti, demikian kata orang. Masalahnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kadang hidup berjalan sesuai perkiraan; lain waktu, kita mendapat kejutan. Hal-hal semacam ini membuat hidup kita jadi berwarna, dan pada dasarnya layak disyukuri. Sebab, siapa pula yang mau menjalani hidup yang sama setiap hari? 😀

Terkadang musibah terjadi, dan kita menangis. Terkadang kita mendapat kejutan manis, dan kita tersenyum. Satu hal yang harus selalu diingat adalah bahwa anything may not last forever. Tidak pernah ada jaminan bahwa hari esok akan sama dengan hari ini. Yang susah adalah kalau kita berasumsi bahwa hari esok akan begini atau begitu, tapi ternyata berbeda. Kita jadi tidak siap.

Quid vesper ferat, incertum est, begitu kata pepatah latin. Apa yang terjadi nanti sore tidak pasti. Oleh karena itu, salah besar jika orang berasumsi terlalu pasti tentang masa depan. Kita harus ingat bahwa selalu ada ruang untuk ketidakpastian — betapapun kecilnya.

Maka benarlah ujaran Karl Popper di atas. Orang tidak selayaknya berasumsi dengan pikiran tertutup, melainkan harus membuka diri pada kemungkinan. Hanya dengan membuka diri pada kemungkinan, kita siap menghadapi dunia; belajar dari kesalahan kita, dan menjadi lebih baik karenanya.

Anda setuju? 😉

 

 

——

Ps:

Michael Owen gabung ke Man-U! Ada yang menduga? plurk_woot

Read Full Post »

Suatu ketika, Bapak Richard Feynman, seorang fisikawan peraih Nobel, diundang hadir dalam konferensi interdisiplin. Layaknya konferensi interdisiplin, yang hadir di sana adalah para tokoh dari berbagai bidang — di antaranya teologi, filsafat, etika, dan sosiologi.

Nah, beliau diundang sebagai wakil kalangan ilmuwan.

Meskipun begitu, tak berapa lama, Pak Feynman menemukan suatu masalah. Dia tidak mengerti pembicaraan orang-orang di konferensi tersebut! 😮

Tentunya ini aneh. Apa mungkin beliau, yang dosen fisika sekaligus ilmuwan terkenal, tidak paham topik konferensi interdisiplin? “Pasti ada yang salah dengan pendekatan saya,” demikian pikir beliau.

Menyadari hal ini, beliau pun berintrospeksi. Sebagaimana diceritakan dalam autobiografinya,[1]

Aku mulai membaca makalah sial itu, dan mataku hampir copot; aku tidak paham sedikit pun! Kupikir itu karena aku belum membaca buku-buku dalam daftar. Aku punya perasaan tak nyaman bahwa aku “tak mampu”. Akhirnya, aku bilang pada diriku sendiri, “Coba aku berhenti di satu bagian, dan kubaca satu kalimat lambat-lambat, supaya aku bisa menggali apa sih artinya.”

Jadi, aku berhenti secara acak—dan membaca kalimat berikutnya dengan hati-hati. Aku tak tahu persisnya tentang apa, tapi kalimat itu kira-kira begini: “Seorang individu dalam suatu komunitas sering menerima informasinya melalui saluran simbolik-visual.”

Aku bolak-balik memikirkannya, dan menerjemahkannya. Tahu apa maksudnya?

“Orang membaca”.

***

Kalau boleh jujur, saya sering bingung tiap kali membaca tulisan — atau ngobrol dengan — orang-orang yang berlatar belakang filsafat. Masalah utamanya satu: mereka cenderung terpaku pada gaya bahasa teknis dan khas-filsafat. Mbulet. Atau, dengan kata lain, begitu rumitnya hingga sulit dimengerti oleh pembaca/pendengar pada umumnya.

Ya, tidak semuanya sih. Setidaknya saya rada nyambung dengan tulisan-tulisan bertema filsafat di blognya mas Fertob dan mas gentole. Mungkin kembali pada bagaimana si penulis bisa menjelaskan idenya. Meskipun begitu, tetap saja yang satu ini sering terjadi: orang berbicara filsafat, saya mendengarkan, dan wuss… mendadak semua jadi kabur.

Saya pernah membaca kumpulan esai Goenawan Mohamad, dan saya jadi bertanya-tanya: apa artinya “poststrukturalisme Adorno” dan “feminisme Kristeva”. Saya tak tahu siapa itu Bertold Brecht, tapi tetap saja beliau menulis panjang-lebar tentangnya. Saya pernah nyasar ke forum internet tentang filsafat — ada bahasan tentang “dekonstruksi Derrida” dan sebagainya — tapi, apa itu “dekonstruksi Derrida”, tidak ada yang menjelaskan. No, nein, nai!

Jalan keluarnya? Sudah tentu bertanya ke wikipedia atau mbah gugel. Mau bagaimana lagi? (-_-)

***

Jadi, sejak itu, saya belajar satu hal. Orang-orang filsafat itu suka sekali memakai istilah teknis dan aneh, yang belum tentu audiensnya paham. Seperti halnya contoh brilian yang disampaikan Pak Feynman di atas: ide sederhana seperti “orang membaca” pun bisa ditulis muter-muter hingga terdengar ajaib!

 

Kultur dan Penerimaan
 

Kemudian saya berpikir, mungkin kultur kita juga turut menyuburkan kebiasaan buruk ini. Orang-orang filsafat itu mungkin terlalu mendapat sanjungan yang berlebihan.

Kalau orang filsafat menyitir Derrida, Heidegger, dan Wittgenstein, orang yang tidak paham memandangnya: “Wah, hebat. Dia paham filsafat. Orang pintar, ini!”

Sementara, kalau orang fisika menyebut “radiasi Hawking” atau “Anomali Efek Zeeman”, orang yang tidak paham memandangnya: “Dia pintar sih, tapi nerd banget. Omongannya fisika tinggi terus.”

Bisa Anda lihat bedanya. Kalau bisa ngomong “Dekonstruksi Derrida”, keren; kalau mengerti “Anomali Efek Zeeman”, nerd. Padahal keduanya sama-sama topik yang obscure dan advanced. Kenapa pula ditanggapi secara berbeda?

 
Speaking of which, ini mengingatkan saya pada sepak-terjang para ilmuwan dalam beberapa dekade terakhir. Menyadari bahwa masyarakat kesulitan mencerna penelitian mutakhir, mereka pun aktif memperkenalkan diri lewat sains populer. Mulai dari Stephen Hawking, Carl Sagan, hingga Richard Dawkins. Mereka ingin pekerjaan mereka bisa dimengerti dan dinikmati orang banyak. So there goes.

Di sisi lain, kalangan filsafat terkesan cuek pada fenomena ini. Alih-alih mencoba memperkenalkan filsafat dengan cara yang lebih akrab, mereka lebih sering menjelaskan begini-dan-begitu versi mereka. Atau mungkin merasa kurang perlu mempopulerkan gagasan mereka. Or something like that.

Singkatnya, ada yang kurang cocok di sini. Filsafat kini terkesan lebih menara gading dibandingkan sains — dalam artian lebih bisa dipandang tinggi, dan dihargai, tanpa harus dimengerti. Lebih mudah mensituasikan pakar MIPA sebagai nerd dibandingkan pakar filsafat sebagai nerd.

Padahal, kalau saya boleh menganalogikan,

Orang yang menjelaskan eksistensialisme — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyitir Nietzsche, Camus, dan Sartre,

KURANG LEBIH SAMA DENGAN

Orang yang menjelaskan Mekanika Kuantum — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyebut Efek Casimir dan Percobaan Ashfar.

Mereka sama-sama menjelaskan suatu gagasan, tapi tidak melakukannya dengan baik. Enggak bakal nyambung.

 

Jadi?
 

Ada sebuah kutipan bijak dari dosen saya, yang disampaikan waktu saya masih duduk di tingkat dua. Bunyinya kira-kira sebagai berikut:

Ada dua cara membuat orang kagum pada Anda.

Pertama: jelaskan suatu topik sampai dia mengerti,

Kedua: jelaskan suatu topik sampai dia tidak mengerti.

Mengenai maknanya… hmm, saya rasa tak perlu dijelaskan lagi. Silakan dihayati sedalam-dalamnya. :mrgreen: *halah*

 

Sebuah Catatan Akhir!
 

Di awal tadi, saya bercerita tentang pengalaman Pak Richard Feynman. Kisah itu belum selesai — masih ada lanjutannya berikut ini.[2]

Pada hari kedua, ahli steno itu mendatangiku dan bilang, “Apa pekerjaan Bapak? Pasti bukan dosen.”

“Lho, saya dosen.”

“Dosen apa?”

“Fisika-IPA.”

“Oh! Pasti itu sebabnya,” katanya.

“Sebab apa?”

Dia bilang, “Begini, saya kan tukang steno, dan saya mengetik semua yang dikatakan di sini. Nah, kalau orang lain yang bicara, aku ketik apa yang mereka katakan, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bilang. Tapi, kalau Bapak yang berdiri dan bertanya, atau mengatakan sesuatu, saya mengerti apa maksud Bapak—apa yang ditanyakan, dan apa yang dikatakan—jadi, saya pikir, Bapak tidak mungkin dosen!”

Well, there you have it. So… meh. 😆

 

——

Referensi:

 
[1] Feynman, R.P. 2003. terj. Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika. Bandung: Penerbit Mizan, hlm 313 (dengan perubahan seperlunya)

[2] ibid.

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian keenam (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. 😛


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Setelah sebelumnya membahas tentang filsafat determinisme dan dunia kuantum, sekarang kita berpaling pada pertanyaan yang menggelayuti dunia sains (dan filsafat pada umumnya). Adakah kehendak bebas?

Di tulisan bagian IV.a, kita menemukan bahwa sifat ketidakpastian kuantum bernilai signifikan, asalkan orde benda — dalam jumlah atom — cukup kecil. Berangkat dari ide ini, beberapa ilmuwan berspekulasi tentang sistem otak dan kesadaran: mungkinkah kehendak bebas manusia dihasilkan lewat kaidah mekanika kuantum? Apakah kesadaran manusia, yang notabene kompleks dan nonlinear, berawal dari sini?

Here goes the story…

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian kelima (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. 😛


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Dalam kaitannya dengan dunia filsafat, penafsiran atas mekanika kuantum (quantum mechanics, QM) sangat diwarnai oleh latar belakang filsafat para ilmuwannya. Inilah sebabnya terdapat begitu banyak interpretasi QM yang masih berlaku hingga saat ini — sebagaimana sudah kita bahas di tulisan bagian tiga.

Di tulisan kali ini, kita akan membahas latar belakang filsafat yang dimiliki oleh para fisikawan kuantum. Di sini saya hadirkan tiga orang fisikawan generasi lama yang sering bersilang pendapat: Niels Bohr dan Werner Heisenberg di satu sisi, dan Albert Einstein di sisi lain. Adapun untuk memberikan pendapat yang lebih modern, saya sempatkan membahas sekilas mengenai David Deutsch.

Sebagai catatan, Deutsch mungkin tidak begitu terkenal dibandingkan tiga orang ‘raksasa’ yang disebut sebelumnya. Meskipun demikian, ia mempunyai pandangan filosofis cukup menarik (akan kita lihat di seksi #4b.5 kelak). Ditambah lagi ia sebenarnya seorang fisikawan besar in-the-making: what’s with the quantum computer and MWI! Jika Anda mengikuti perkembangan fisika modern akhir-akhir ini, maka Anda tahu apa yang saya maksud. 😀

(more…)

Read Full Post »

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian keempat (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. 😛


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Dalam tiga tulisan sebelumnya, saya berulangkali menyinggung tantangan yang dilemparkan mekanika kuantum (quantum mechanics, QM) pada filsafat determinisme. Tulisan ini adalah bagian khusus yang akan membahas hubungan antara QM dan filsafat determinisme — baik di skala kuantum maupun makro.

Selamat membaca. 😉

(more…)

Read Full Post »