Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Balai Pustaka’

Jadi, ceritanya, kali ini saya baru saja mendapatkan sebuah buku tua. Well, mungkin lebih tepat bila saya tambahkan kata lagi — terutama kalau Anda masih ingat post saya tentang Little House on The Prairie beberapa bulan silam. Meskipun begitu, kali ini ada yang berbeda.

Sebab, alih-alih mendapatkan buku bekas lain dari toko loak seperti sebelumnya, kali ini saya justru menemukan buku ini di…

…dalam kardus pindahan rumah tante saya. ^^;;

Yah, begitulah. Bakal panjang kalau diceritakan prosesnya di sini. Meskipun begitu, intinya, saya cukup beruntung bisa turut membongkar muatan pindahan beliau dan menemukan ‘harta karun’ berikut ini di dalamnya. 😉

 

gc-dostoevski-cover

 
Judul: Si Lembut Hati

Penulis: Fyodor Mikhailowits Dostoyevski

Penerbit: PN Balai Pustaka, Jakarta; cetakan III tahun 1964

Tebal: 140 halaman

Sebuah terjemahan Indonesia dari A Gentle Creature karya Fyodor Dostoyevski — dan, dengan demikian, menjadi buku Dostoyevski kedua yang jatuh ke tangan saya. 😀 Adapun buku pertama beliau yang saya baca adalah Crime and Punishment, di mana versi Indonesianya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2001.

Tentunya karena terbitannya sebelum EYD dibakukan, buku yang saya dapat itu masih menggunakan ejaan lama. Huruf ‘c’ ditulis ‘tj’; ‘j’ ditulis ‘dj’, dan lain sebagainya. Untungnya huruf ‘u’ sudah dikenali dan tidak ditulis sebagai ‘oe’ di sana. 😆

Tetapi adanja hal itu hendaklah dipermaklumkan. Djustru edjaan lama chususnja mempunjai merit di sini ; mampulah kiranja membawa saja ke nuansa kuno di noveletnja Dostojewski! 😛

 

About The Story

 
Secara umum, saya bisa bilang bahwa novel ini cukup pendek. Dengan format buku saku dan tebal 140 halaman, buku ini lebih cocok disebut novelet daripada novel. Meskipun begitu, kandungan ceritanya sendiri relatif berat — di mana alur psikologi para tokohnya menjadi poros yang menggerakkan keseluruhan cerita.

Cerita dimulai ketika seorang pemilik rumah gadai ditinggal mati oleh sang istri, yang mengakhiri hidup dengan dengan terjun dari balkon rumah. Peristiwa ini terjadi begitu mendadak, ketika sang suami sedang keluar untuk urusan bisnis.

Dari titik ini cerita kemudian dituturkan dengan gaya flashback. Sang suami yang sedang dilanda kesedihan kemudian memutar ulang ingatannya akan hari-hari yang telah lalu, sambil menuntun pembaca untuk memahami latar cerita yang sedang berlangsung. Bagaimana ia dan istrinya pertama kali bertemu; bagaimana ia memandang istrinya dalam perkawinan dan rumah tangga, dan lain sebagainya. Termasuk diantaranya adalah saat di mana ia berkisah mengenai masa lalunya sebagai opsir tentara; inilah periode di mana terjadi suatu peristiwa yang mengubah cara sang pria dalam memandang dunia.

Hingga pada akhirnya, setelah mengurai semua peristiwa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, ia menemukan dirinya sendiri sedang menunggui jenazah sang istri. Diri seorang pria yang, pada bagian akhir kisah, menyuarakan pertanyaan penuh kebimbangan — akan apa yang hendak diperbuatnya setelah sang istri diantarkan ke liang kubur.

***

Well, that’s for the synopsis. Meskipun begitu, yang menarik perhatian saya adalah penggambaran karakter dan psikologinya yang, bisa dibilang, berkesan gelap dan hampir surreal.

Berlatar di salah satu kota di Rusia abad 19, novel ini banyak berkisah dari sudut pandang si pemilik rumah gadai, dengan segala pemikiran dan emosi yang berkecamuk di benaknya. Karakter yang bermimpi untuk membalas dendam pada “masyarakat” atas suatu hal di masa lalu — sambil, di saat yang sama, berupaya menundukkan istri yang cerdas agar memandang tinggi dan menghormatinya sebagai suami. Mind game seorang pria yang bisa dibilang ‘sakit’ dalam pernikahannya ini memberikan kompleksitas yang menambah bobot dalam keseluruhan cerita.

Di sisi lain, sang istri sebagai counterpart-nya di sini seolah menjadi potret tragis — terutama bila Anda memandangnya dari kacamata abad 20 yang sudah mengenal emansipasi. Seorang wanita terpelajar dengan harga diri tinggi yang menikah dengan sang pria, dan setelah beberapa waktu — BUM — ia justru terbawa mengikuti ritme sang suami. Wanita tangguh yang (pada akhirnya) seolah dipaksa pasrah untuk menjalani hidup yang pematuh; dimana ia harus menghabiskan waktu dengan merajut dan bersenandung parau di dekat jendela.

Ouch. 😐

 
Meskipun begitu, menjelang akhir cerita (lewat satu dan lain twist yang baiknya tak saya sebutkan di sini :mrgreen: ), sang suami akhirnya menemukan bahwa cinta sejatinya ada dalam diri sang istri. Ia menyadari bahwa pada akhirnya, ia bahagia berada di sisi istrinya; dan ia ingin memulai hidup baru. Diberitahukannya pada sang istri bahwa ia sangat mencintainya, dan ia ingin membawanya pergi berlibur. Setelah itu, mulai hidup baru dengannya.

Ia ingin berubah. Meninggalkan pekerjaan gadai yang selama ini berlaba lewat membayar murah barang milik orang, lantas memulai lembaran baru dengan hati yang terbarukan di tempat lain…

…ketika, pada akhirnya, ia pulang dari kantor dan menemukan sang istri telah terjun dari balkon rumah mereka. Bunuh diri sambil memeluk patung Bunda Maria.

***

Kalau Anda tanya saya, ini adalah kisah tentang orang yang dingin dan manipulatif, yang kemudian menyadari “cinta” pada orang yang awalnya ingin dimanipulasinya. Ironisnya — pada akhirnya — dengan tragis ia justru menjadi korban dari perasaan yang telah dia akui.

Kisah sedih yang menarik. Kenapa menarik?

Karena kita tak pernah benar-benar tahu mengapa sang istri mau terjun dari balkon. Setelah suaminya memproklamasikan ulang cintanya kepadanya, ia harusnya bisa memilih untuk hidup bahagia. Tapi mengapa ia justru bunuh diri?

Apakah karena ia merasa malu pada cinta suaminya yang begitu besar, hingga ia merasa tak bisa membalasnya? Apakah karena ia menyimpan perasaan pada rival yang dibenci suaminya? Atau karena… ia justru, secara sadar, ingin menyakiti (dan balas dendam) pada sang suami dengan cara yang paling menyakitkan: yakni dengan sengaja membuatnya kehilangan orang yang paling dicintai?

Yang manapun itu, pembaca tak pernah diberitahu. Sebagaimana sang suami tak berhasil menemukan alasan “mengapa” yang menjadi latar belakang cerita ini. 😉

***

End note…

 
Akhir kata? Ini novel yang berat. Seberapa beratnya, well, silakan dibaca sendiri kalau Anda tertarik. ^^ Meskipun begitu, saya sendiri mencatatnya sebagai novel sureal dengan bumbu psikologi yang diaduk dengan pendekatan rada ‘gelap’.

Menarik, rada menusuk, dan sangat “Eropa” — dan jika Anda membacanya dengan kacamata abad 20, maka Anda mungkin mendapatkan drama tambahan dari kisah rumah tangga ini. Boleh jadi Anda akan lebih bersimpati pada nasib buruk seorang wanita pendebat yang pernah membaca Faust… tapi itu cerita lain untuk saat ini. 🙂

 

 

——

Addendum

 
Berhubung novelet ini sudah masuk ke ranah public domain, maka Anda bisa men-download manuskripnya di link berikut ini.

http://www.kiosek.com/dostoevsky/library/gentlespirit.txt

Terjemahan bahasa Inggris. Enjoy. 🙂

Read Full Post »