Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘TI dan Internet’ Category

google query 1

 

google query 2

***

Ya, saya tahu ini hasil neologisme. Tapi… apa nggak kasihan ya yang punya nama? ^^a

Seorang tante saya sendiri ada yang punya nama ybs. Jadi, Anda bisa bayangkan orangtua saya menyampaikan hal berikut pada anak-anaknya:

“Nanti malam kita ke rumah Tante Kunti ya anak-anak…”

Hmmmmmmm. 😕

Read Full Post »

Sekadar pengumuman… tak perlu dikomentari. Sekaligus juga berperan sebagai update log untuk saya. 😛

Seminggu terakhir ini, saya mengerjakan update untuk tulisan “Beberapa FAQ tentang Evolusi“. Sebanyak delapan pertanyaan baru (beserta tanggapannya) sudah saya post-kan di tulisan ybs.

Saya juga menambahkan kelompok baru di FAQ tersebut, yakni seksi III – Kesalahan Argumen terkait Adaptasi, Mutasi, dan Spesiasi. Sehingga FAQ tersebut kini memiliki pembagian sbb.:

I. Tentang Definisi dan Konsep “Teori”
(3 pertanyaan)

II. Kesalahan Argumen terkait Ancestry
(4 pertanyaan)

III. Kesalahan Argumen terkait Adaptasi, Mutasi, dan Spesiasi
(6 pertanyaan)

IV. Kesalahan Argumen terkait Aspek Filosofis dan Sosial dari Evolusi
(5 pertanyaan)

V. Famous Last Words
(1 pertanyaan)

 

Total: 19 pertanyaan

Topik baru yang ditambahkan:

  • Tentang minimnya fosil peralihan
  • Tentang salah kaprah Teori Lamarck sebagai Teori Darwin
  • Tentang mekanisme evolusi pasca-Darwin
  • Tentang mutasi yang (katanya) tidak pernah menguntungkan
  • Tentang keberlangsungan makroevolusi
  • Tentang pembentukan keragaman secara acak
  • Tentang tidak adanya hewan campuran/setengah spesies A dan B
  • Tentang Manusia Piltdown dan Nebraska
  • Tentunya halaman tersebut masih akan di-update. :mrgreen:

    Saya juga membuka diri pada koreksi dan masukan apabila ada di antara pembaca yang berkompeten. Umpan balik bisa disampaikan lewat komentar di halaman FAQ yang bersangkutan.

    Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

    onion-rei

    Read Full Post »

    old PC Magazine cover

     

    Hasil bongkar-bongkar arsip foto di HP. Gambar diambil bulan September 2007.

    Mengenai kenapa majalah di atas belum jadi kertas kiloan, mari kita tanya pada rumput yang bergoyang™. (u_u)

    Read Full Post »

    Okay, You Win.

    Mas Fertob berkata,

    Dan mohon diperbanyak tulisan tentang Mekanika Kuantum. Maklum, basic saya bukan Fisika. Dulu waktu UMPTN pernah diterima di Teknik Kimia ITB tapi nggak saya ambil, dan malah lari ke Psikologi. 😆

    Saat itu saya menjawab:

    Lima dulu lah. Mungkin kapan2 saya nulis soal fisika lagi, tapi nanti dulu. Ini aja udah mabok. XD

    Tapi. Meskipun begitu.

    Tiga hari yang lalu, ketika sedang mengerjakan tulisan bagian #4, saya menemukan bahwa word count saya sudah mencapai:

     

    3286

     

    …ketika sedang menulis seksi

     

    #4.2

     

    …dengan rencana subbab terakhir bernomor

     

    #4.6

     

    *OMGWTFBBQLOLRUSRSLYDOINTHAT* xD

     

    Maka, saat itu juga saya putuskan: bahwa saya akan memperbanyak jumlah tulisan tentang QM sebagaimana di-request oleh beliau. :mrgreen:

    Yah, begitulah adanya. Saya yakin tidak ada di antara pembaca yang mau membaca tulisan di blog dengan word-count mencapai 8000, dan saya yakin beberapa diantara pembaca juga sudah merasa bahwa tulisan bagian #3 agak terlalu panjang. 😆 Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membagi tulisan QM bab #4 menjadi beberapa post terpisah.

    Bagian 4.1. — QM dan Filsafat Determinisme

    Sudah saya rilis tepat sebelum postingan ini. Silakan dinikmati. 😉

    Bagian 4.2. — Memandang Kenyataan: Filsafat Para Ilmuwan

    Juga sudah saya rilis sebelum postingan ini. Lagi-lagi, silakan dinikmati. 😀

    Sedangkan sisanya, dengan berat hati terpaksa menunggu di harddisk laptop saya. Adapun outline dari keseluruhan bab #4 sudah saya upload dalam bentuk [file .doc] — bisa Anda baca jika berminat.

    (tadinya mau saya upload pakai txt, tapi ternyata nggak boleh. ya sudahlah akhirnya pakai .doc =_=! )

    ***

    Dengan demikian, struktur baru rangkaian tulisan QM adalah seperti berikut ini.

      1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts

      2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi

      3 – Beberapa Interpretasi Mainstream

      4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      — a) QM dan Filsafat Determinisme

      — b) Memandang Kenyataan: Filsafat Para Ilmuwan

      — c) Adakah Kehendak Bebas?

      — d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang

      5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman

    Bisa Anda lihat bahwa seri tulisan QM sekarang diproyeksikan berjumlah delapan (empat bagian + empat subbagian dari tulisan #4). Jadi, untuk Anda yang mengharapkan tulisan QM diperbanyak… well, you accidentally get what you want. Cheers. ^^b

     

     

    ——

    Ps:

    Off the record set. Tahukah Anda? Ternyata dua post yang dirilis sebelumnya memiliki word count sebanyak: 2841 dan 6309 (yang terakhir ini kalau semua halamannya dijumlahkan). Now it gets frightening… ^^;;

    Apa enaknya saya ikut NaNoWriMo aja, ya? 😛

    Read Full Post »

    Doh…

    Ternyata sudah sebelas hari sejak tulisan paling akhir dirilis di blog ini. Adapun post yang harusnya dirilis hari ini baru seperempat jadi… meskipun begitu, bukan itu yang hendak kita bahas kali ini.

    Jadi, ceritanya, dalam seminggu terakhir energi saya terkuras untuk macam-macam hal.

    Hei, jangan meremehkan. 😐 Walaupun saya ini cuma mahasiswa biasa berumur dua dasawarsa yang pacar pun tak punya, saya tidak sekurangkerjaan itu hingga cuma bisa menulis di blog saja. Saya yakin Anda paham bahwa saya orang yang berjiwa produktif. 😐

    *dilempar sandal*

    *plaakkk* x(

    Ahem. (u_u)

    Kembali ke topik. Sebagaimana disinggung sebelumnya, ada beberapa kesibukan yang mewarnai hari-hari saya belakangan ini hingga membuat blog yang Anda baca ini terbengkalai, bahkan postingan QM pun terlupakan. Adapun beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Kuliah, PR, dan UTS
    2. Apa itu? Ah, sori. Anggap saja nomor #1 di atas tidak ada. 😛

       

    3. Diskusi yang melelahkan di internet soal medan elektromagnet
    4. Actually, I don’t want to talk about it.

       

    5. Kena flu
    6. Mungkin kedengarannya sepele, tapi begitulah adanya. Sejak kembali dari liburan saya terus-menerus diserang pilek. Bahkan tadi malam saya mendapat bonus berupa batuk berkepanjangan. Mungkin karena di Bandung sedang musim hujan. 😐

       

    7. Nonton anime 25 episode
    8. I.e. Code Geass season 2. Mungkin kapan-kapan saya tulis reviewnya.

       

    9. Baca Tetralogi Buru
    10. Baru selesai 3-4 hari yang lalu. Buku #2 selesai dibaca waktu libur; buku #1, #3, #4 dibaca setelah masuk kuliah. Bacaan yang sarat dan berisi, IMHO. ^^

       

    11. Melanjutkan tulisan QM bagian #4
    12. Yang ini baru seperempat jadi. Tahukah Anda, bahwa para fisikawan kuantum sebenarnya memiliki background filsafatnya sendiri-sendiri?
       
      Heisenberg mengusung idealisme, Bohr seorang positivis, dan Einstein mengedepankan realisme saintifik. Sebenarnya ini topik yang menarik, tapi apa daya kesehatan saya sedang terganggu. Salahkan flu yang hinggap tanpa permisi di atas. (-_-)

    ***

    Yah, begitulah.

    Jadi, dengan mata berkunang-kunang dan sedikit batuk (pileknya sudah pergi), saya menuliskan postingan ini. Mudah-mudahan saya bisa cukup sehat lagi dalam waktu dekat.

    *sniff*

    BTW, jangan-jangan saya jadi rada emosional belakangan ini gara-gara sakit. Tapi masa sih. 😆

     

    *kembali ke draft*

    *kok masih panjang banget ya* x(

    *pergi makan*

    Read Full Post »

    *rehat dulu dari seri postingan mekanika kuantum*

     

     
    Belakangan ini, saya jadi ingat pada sebuah post di blognya Pak Enda.

     
    “Tapi ya silahkan saja untuk dicoba”, tambah MEREKA, “kami tidak pernah menghalangi siapapun untuk menyebrang dan hidup di alam maya, kami cuma mengharap agar kamu dapat cerdas dan bisa beradaptasi dengan baik, berperilaku sesuai normal, kebiasaan yang sudah berlaku disini.”

    “Kata orang bijak, masuk kandang kambing mengembik masuk kandang harimau mengaum.” MEREKA berperibahasa. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”

    […]

    Alam kasar dan ALAM MAYA pun kadang bersinggungan. Kadang-kadang penduduknya bisa ketemu, dan itu biasanya menimbulkan kengerian.

    Beginilah jadinya kalau orang tidak siap berhadapan dengan internet. Datang-datang langsung main ad hominem, fallacy, dan trolling. Belum tahu dia kalau ini ranah publik yang punya etika. 😆

    Satu lagi:

    […] gw baru saja liat blog teman2 segenggongblogmu yang ternyata semua sama saja dengan engkau, mikir cuma di permukaan dan tidak mencoba untuk ke dasarnya. bagusnya mereka tidak seagresif dirimu. dan gw perhatikan tuhan kalian itu wikipedia yak. bagus sekali, itu memang tuhan yg selalu up to date.

     
    [sumber]

    Generalisasi apa ini? Mempertuhankan Wikipedia? Saya kan temannya Si Lemon di WordPress Indonesia; otomatis saya juga kena, dong. 😕

    Kalau iya… makan tuh referensi. :mrgreen:

     

    ~can’t help
    ~but feeling amused 😆

    ***

    Begini, bukannya saya peduli Si Lemon itu siapa, berbuat apa, dan mau diapain. Itu urusan kalian. Permintaan saya cuma satu:

    Mbok ya kalau bertingkah di blogosphere itu yang dewasa. Jangan menyerang kepribadian, apalagi generalisasi gak jelas. Ditambah lagi hate-speech-nya sampai merambat ke blog orang lain (here, here). Paling tidak, tunjukkanlah kesan yang relatif baik dan bersahabat. 😐

    You’re disrupting the peace here. ‘Nuff said.

     

    ———

    Baca juga:

      The Core Rules of Netiquette
      — Tentang etika di internet

    last updated at: Sept 19, 2008. 11:56 am

    Read Full Post »

    Ada hal menarik yang saya catat seiring berkembangnya teknologi informasi di abad ke-21, terutama berkaitan dengan makin lajunya penggunaan internet lewat handphone (HP) dan laptop. Bahwasanya, saat ini teknologi telah benar-benar menghadirkan informasi di sekeliling kita. Begitu banyak informasi yang bisa diambil… dan, untuk melakukannya, Anda cuma perlu “memetik” informasi tersebut dengan tangan Anda.

    Kapanpun dan dimanapun, asalkan Anda mempunyai HP yang cukup canggih untuk mengakses internet. Sesungguhnya Anda sedang berada di tengah ladang informasi. ^^

     

    SE k510i w. google

    “Information in your hands… literally.”

     

     
    Meskipun begitu, tak banyak yang menyadari, bahwasanya ini adalah hasil akhir sementara dari suatu kemajuan yang revolusioner. Atau, kalau boleh dibilang: sangat revolusioner. 😕

    Mengapa revolusioner? Nah, ini ada ceritanya lagi. Silakan baca sampai habis… :mrgreen:

     

     
    First off: The IT Evolution

     
    Jadi, sebelum membahas apanya yang luar biasa dari keberadaan Google di layar HP, mari kita bahas hal lain yang kurang menarik. Tentunya kalau Anda membaca judul di atas, Anda bisa menduga bahwa saya hendak membahas sejarah peristiwa yang dimaksud.

    Seperti apa sebenarnya gejala ini?

     

    1. TI dan Kebutuhan Mendasar

     
    Sejak dulu, sebagai manusia, kita membutuhkan informasi yang berkaitan dengan kebutuhan hidup kita. Ini berlangsung sejak zaman non-elektronik: pada abad pertengahan para raja dan adipati berkirim surat untuk kepentingan administrasi; filsuf seperti Descartes dan Newton berkirim surat untuk bertukar ide dengan sejawatnya, dan lain sebagainya. Pada saat itu, tujuan utama komunikasi adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pekerjaan.

    Tentunya ini juga termasuk kebutuhan akan romansa surat yang membuluh rindu™ tempo dulu, tapi bukan itu fokus kita untuk kali ini. 😛

    Nah, hal ini kemudian berlanjut seiring ditemukannya telegram dan radio. Kita, manusia, mencari informasi yang urgent dan diperlukan lewat media tersebut. Kabar dan komunikasi perang, perdagangan, dan sebagainya dikirim menggunakan telegram dan radio. Bahkan terwujudnya kemerdekaan Indonesia pun tak lepas dari hal ini: Anda mungkin ingat bahwa para pejuang kita sempat mencuri dengar berita kekalahan Jepang lewat radio internasional.

    Dalam konteks di atas, TI berperan lebih sebagai pemenuhan akan kebutuhan berita terkait hajat hidup. Di titik ini, manusia cenderung memanfaatkan TI secara “sekadarnya” dan “sebutuhnya”.

     

    2. Tingkat Selanjutnya dari Kebutuhan…

     
    Tentunya, sebagaimana yang disebutkan dalam hukum ekonomi, manusia cenderung mencari pemenuhan kebutuhan tambahan setelah yang primer terpenuhi. Ini juga terjadi di bidang TI.

    Setelah manusia merasa bisa memenuhi kehausan akan informasi yang mendasar (terkait hajat hidup, perang, perdagangan, dsb), TI pun mengalami evolusi. Dari yang tadinya berita sekadarnya, ia kemudian mulai menjangkau area lain: hiburan dan pengetahuan.

    Tentunya tak perlu dijelaskan, bahwa kemudian muncul berbagai lagu dan drama radio, disertai juga opera sabun di stasiun televisi. 😀 Ini adalah bentuk evolusi TI di bidang hiburan.

    Sedangkan di bidang pengetahuan, kita melihat maraknya film-film dokumenter yang mencakup tema luas. Dari Perang Dunia I sampai II, sampai tentang peradaban Mesir kuno dan perjalanan Steve Irwin mendokumentasikan satwa liar, semuanya tersedia di layar kaca rumah Anda.

     

    3. Comes The Internet

     
    Nah, semangat untuk menyiarkan informasi/ilmu pengetahuan itu kemudian menemukan wadahnya di bidang internet. Di ranah yang diatur oleh pengguna, dari pengguna, dan untuk pengguna ini, semua orang boleh meng-upload informasi apapun yang dia inginkan. Walaupun tidak selalu bahwa informasi yang di-upload itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan; tapi itu cerita lain untuk saat ini.

    Berbeda dengan televisi dan radio yang siarannya ditentukan sang pengelola stasiun, internet adalah hal yang sangat berbeda. Segala informasi tersedia di sini: ensiklopedia, opini, humor, berita, dan bahkan hiburan. Mana yang mau diambil, Andalah yang menentukan.

    Jika Anda ingin belajar tentang berbagai hal, tinggal cari situs ensiklopedia semacam mbah Wikipe. Ingin mencari berita tentang film, Anda tinggal pergi ke IMDb. Atau jika Anda ingin mencari tempat di mana terjadi perbenturan dan tukar opini… Anda bisa juga melancong ke berbagai blogosphere.

    Ingin literatur dan sastra klasik? Hei, di Wikisource dan Planet PDF pun ada! Tak masalah. 😆

     
    Singkatnya, internet membawa aspek pengetahuan/informasi elektronik ke level yang berbeda. Jika Anda dulu harus nongkrong di depan TV (atau radio) sambil menantikan berita dan film dokumenter, maka kini Anda bisa memuaskan keingintahuan Anda lewat internet… sesegeranya.

    Mungkin tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Wikipedia, IMDb, blogosphere, serta berbagai situs web yang ada adalah perpustakaan paling besar yang pernah dibangun oleh manusia. Kita tidak lagi miskin informasi: hanya dengan bermodal akses internet secukupnya — GPRS pun tak masalah — kita bisa membaca berbagai koleksi yang ada di perpustakaan tersebut. 🙂

     


    Informasi di Tangan Anda – Sebuah Revolusi

     
    Di awal tadi, saya menyebut tentang “informasi di tangan Anda”. Sebetulnya, kalimat tersebut bermakna nyaris literal.

    Seiring dengan lahirnya perkakas handheld yang dibekali koneksi internet, sesungguhnya kita sedang berada di ladang informasi. Kapanpun, di manapun, Anda selalu punya tempat bertanya jika sedang penasaran akan sesuatu. Anda tak perlu PDA kelas tinggi seperti O2 atau Blackberry untuk ini — sebuah Sony Ericsson k510i, sebagaimana saya tampilkan pada gambar di atas, pun cukup. Ia tak mesti fancy dan berharga mahal, yang penting adalah kemampuannya untuk mengakses internet secara portabel.

    Internet sendiri adalah sebuah revolusi. Tetapi, penggabungannya dengan alat-alat handheld adalah revolusi yang lebih besar lagi.

    Tunggu sebentar. Memangnya, apa sih yang begitu revolusioner dari akses internet lewat HP? 😕

    Sebetulnya, yang revolusioner adalah kesimpulan berikut ini:

    Internet via HP, pada dasarnya, mewujudkan fase kehidupan di mana informasi yang berlimpah (“abundant”) dapat diakses hampir dari mana saja di muka bumi (“ubiquitous”) dalam tempo singkat.

    Dengan kata lain, di mana pun saya berada, saya selalu terhubung dengan sumber informasi yang reliable. Keberjarakan kita dengan informasi adalah nyaris nol: semuanya bisa diakses sesegeranya.

    Ketika saya sedang tak bisa tidur, dan penasaran tentang mitologi Yunani, maka saya bisa meraih HP saya — dan lantas menuju situs terkait seperti Wikipedia atau Encyclopedia Mythica. Jika saya sedang di WC dan ingin mengisi waktu membaca berita bola terbaru, saya bisa langsung mengetik URL mobile Goal.com dan tiba di sana. Di titik ini, informasi menjadi hal yang akrab hingga nyaris mengerikan: ia bisa dijangkau dari ruang-ruang yang paling pribadi sekalipun.

    Demikian pula ketika pada suatu waktu saya penasaran siapa mbak yang memancarkan aura Shiki Ryougi[1] di film Underworld. Saya tinggal melakukan googling lewat HP, dan selanjutnya nyasar ke Wikipedia. Bahkan sekalian pergi ke halaman IMDb-nya untuk melihat reaksi orang-orang di seluruh dunia terhadap film yang dimaksud. 😛

    Atau ketika sedang naik mobil, saya melihat bahwa banyak taksi kini menempelkan label “tarif bawah” di jendela mereka. Apa sih maksudnya? Saya pun tinggal cetak-cetik keyword google lewat HP saya. Langsung ketemu di blog orang. 😆 Dan lain sebagainya.

     

    Pada akhirnya, luasnya wawasan manusia tidak harus terpaku pada hambatan jarak dan waktu. Jika dulu kita harus berdiam di perpustakaan untuk mempelajari hikayat Perang Salib — atau membaca karya Kafka dan Dostoyevski — maka kini semua itu bisa diraih lewat sebuah HP dalam genggaman. Walaupun informasi ini juga bukan tanpa kekurangan.[2]

    Meskipun begitu, seperti yang saya tulis sebelumnya, semua ini masihlah hasil sementara. Revolusi masih terus berjalan…

    …menuju entah-apa yang akan ditawarkan masa depan kelak.

    Isn’t it exciting to imagine? 😀

     

     

    —–

    Catatan:

     
    [1] Shiki Ryougi, i.e. protagonis di serial Kara no Kyoukai. Entah kenapa penampilan Selene di film tersebut — dengan model rambut yang mirip — menghasilkan aura yang sama… xD

    …dan ternyata mas ini juga setuju. 😕 Well, mengingat dia itu — ngakunya — fans berat Ryougi, mungkin persangkaan itu ada benarnya. 😆

     
    [2] Umumnya, kualitas informasi yang didapat dari internet tidak semendalam dengan bisa yang diberikan oleh buku/teks akademik resmi. Terutama bila menyangkut tema-tema yang mempunyai disiplin ilmu sendiri, e.g. sains dan ilmu sosial — jika Anda ingin bahasan yang mendalam, sebaiknya Anda baca textbook.

    *pengalaman pribadi waktu nyari bahan kuliah* ^^;

     
    [3] Gambar HP sengaja dipilih Sony Ericsson K510i. Sebetulnya sih, karena itu HP yang sama dengan yang saya miliki — so there you have it. 😛

    Read Full Post »

    « Newer Posts - Older Posts »