Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘TI dan Internet’ Category

Okay, You Win.

Mas Fertob berkata,

Dan mohon diperbanyak tulisan tentang Mekanika Kuantum. Maklum, basic saya bukan Fisika. Dulu waktu UMPTN pernah diterima di Teknik Kimia ITB tapi nggak saya ambil, dan malah lari ke Psikologi. πŸ˜†

Saat itu saya menjawab:

Lima dulu lah. Mungkin kapan2 saya nulis soal fisika lagi, tapi nanti dulu. Ini aja udah mabok. XD

Tapi. Meskipun begitu.

Tiga hari yang lalu, ketika sedang mengerjakan tulisan bagian #4, saya menemukan bahwa word count saya sudah mencapai:

 

3286

 

…ketika sedang menulis seksi

 

#4.2

 

…dengan rencana subbab terakhir bernomor

 

#4.6

 

*OMGWTFBBQLOLRUSRSLYDOINTHAT* xD

 

Maka, saat itu juga saya putuskan: bahwa saya akan memperbanyak jumlah tulisan tentang QM sebagaimana di-request oleh beliau. :mrgreen:

Yah, begitulah adanya. Saya yakin tidak ada di antara pembaca yang mau membaca tulisan di blog dengan word-count mencapai 8000, dan saya yakin beberapa diantara pembaca juga sudah merasa bahwa tulisan bagian #3 agak terlalu panjang. πŸ˜† Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membagi tulisan QM bab #4 menjadi beberapa post terpisah.

Bagian 4.1. — QM dan Filsafat Determinisme

Sudah saya rilis tepat sebelum postingan ini. Silakan dinikmati. πŸ˜‰

Bagian 4.2. — Memandang Kenyataan: Filsafat Para Ilmuwan

Juga sudah saya rilis sebelum postingan ini. Lagi-lagi, silakan dinikmati. πŸ˜€

Sedangkan sisanya, dengan berat hati terpaksa menunggu di harddisk laptop saya. Adapun outline dari keseluruhan bab #4 sudah saya upload dalam bentuk [file .doc] — bisa Anda baca jika berminat.

(tadinya mau saya upload pakai txt, tapi ternyata nggak boleh. ya sudahlah akhirnya pakai .doc =_=! )

***

Dengan demikian, struktur baru rangkaian tulisan QM adalah seperti berikut ini.

    1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts

    2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi

    3 – Beberapa Interpretasi Mainstream

    4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

    — a) QM dan Filsafat Determinisme

    — b) Memandang Kenyataan: Filsafat Para Ilmuwan

    — c) Adakah Kehendak Bebas?

    — d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang

    5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman

Bisa Anda lihat bahwa seri tulisan QM sekarang diproyeksikan berjumlah delapan (empat bagian + empat subbagian dari tulisan #4). Jadi, untuk Anda yang mengharapkan tulisan QM diperbanyak… well, you accidentally get what you want. Cheers. ^^b

 

 

——

Ps:

Off the record set. Tahukah Anda? Ternyata dua post yang dirilis sebelumnya memiliki word count sebanyak: 2841 dan 6309 (yang terakhir ini kalau semua halamannya dijumlahkan). Now it gets frightening… ^^;;

Apa enaknya saya ikut NaNoWriMo aja, ya? πŸ˜›

Read Full Post »

Doh…

Ternyata sudah sebelas hari sejak tulisan paling akhir dirilis di blog ini. Adapun post yang harusnya dirilis hari ini baru seperempat jadi… meskipun begitu, bukan itu yang hendak kita bahas kali ini.

Jadi, ceritanya, dalam seminggu terakhir energi saya terkuras untuk macam-macam hal.

Hei, jangan meremehkan. 😐 Walaupun saya ini cuma mahasiswa biasa berumur dua dasawarsa yang pacar pun tak punya, saya tidak sekurangkerjaan itu hingga cuma bisa menulis di blog saja. Saya yakin Anda paham bahwa saya orang yang berjiwa produktif. 😐

*dilempar sandal*

*plaakkk* x(

Ahem. (u_u)

Kembali ke topik. Sebagaimana disinggung sebelumnya, ada beberapa kesibukan yang mewarnai hari-hari saya belakangan ini hingga membuat blog yang Anda baca ini terbengkalai, bahkan postingan QM pun terlupakan. Adapun beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kuliah, PR, dan UTS
  2. Apa itu? Ah, sori. Anggap saja nomor #1 di atas tidak ada. πŸ˜›

     

  3. Diskusi yang melelahkan di internet soal medan elektromagnet
  4. Actually, I don’t want to talk about it.

     

  5. Kena flu
  6. Mungkin kedengarannya sepele, tapi begitulah adanya. Sejak kembali dari liburan saya terus-menerus diserang pilek. Bahkan tadi malam saya mendapat bonus berupa batuk berkepanjangan. Mungkin karena di Bandung sedang musim hujan. 😐

     

  7. Nonton anime 25 episode
  8. I.e. Code Geass season 2. Mungkin kapan-kapan saya tulis reviewnya.

     

  9. Baca Tetralogi Buru
  10. Baru selesai 3-4 hari yang lalu. Buku #2 selesai dibaca waktu libur; buku #1, #3, #4 dibaca setelah masuk kuliah. Bacaan yang sarat dan berisi, IMHO. ^^

     

  11. Melanjutkan tulisan QM bagian #4
  12. Yang ini baru seperempat jadi. Tahukah Anda, bahwa para fisikawan kuantum sebenarnya memiliki background filsafatnya sendiri-sendiri?
     
    Heisenberg mengusung idealisme, Bohr seorang positivis, dan Einstein mengedepankan realisme saintifik. Sebenarnya ini topik yang menarik, tapi apa daya kesehatan saya sedang terganggu. Salahkan flu yang hinggap tanpa permisi di atas. (-_-)

***

Yah, begitulah.

Jadi, dengan mata berkunang-kunang dan sedikit batuk (pileknya sudah pergi), saya menuliskan postingan ini. Mudah-mudahan saya bisa cukup sehat lagi dalam waktu dekat.

*sniff*

BTW, jangan-jangan saya jadi rada emosional belakangan ini gara-gara sakit. Tapi masa sih. πŸ˜†

 

*kembali ke draft*

*kok masih panjang banget ya* x(

*pergi makan*

Read Full Post »

*rehat dulu dari seri postingan mekanika kuantum*

 

 
Belakangan ini, saya jadi ingat pada sebuah post di blognya Pak Enda.

 
“Tapi ya silahkan saja untuk dicoba”, tambah MEREKA, “kami tidak pernah menghalangi siapapun untuk menyebrang dan hidup di alam maya, kami cuma mengharap agar kamu dapat cerdas dan bisa beradaptasi dengan baik, berperilaku sesuai normal, kebiasaan yang sudah berlaku disini.”

“Kata orang bijak, masuk kandang kambing mengembik masuk kandang harimau mengaum.” MEREKA berperibahasa. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”

[…]

Alam kasar dan ALAM MAYA pun kadang bersinggungan. Kadang-kadang penduduknya bisa ketemu, dan itu biasanya menimbulkan kengerian.

Beginilah jadinya kalau orang tidak siap berhadapan dengan internet. Datang-datang langsung main ad hominem, fallacy, dan trolling. Belum tahu dia kalau ini ranah publik yang punya etika. πŸ˜†

Satu lagi:

[…] gw baru saja liat blog teman2 segenggongblogmu yang ternyata semua sama saja dengan engkau, mikir cuma di permukaan dan tidak mencoba untuk ke dasarnya. bagusnya mereka tidak seagresif dirimu. dan gw perhatikan tuhan kalian itu wikipedia yak. bagus sekali, itu memang tuhan yg selalu up to date.

 
[sumber]

Generalisasi apa ini? Mempertuhankan Wikipedia? Saya kan temannya Si Lemon di WordPress Indonesia; otomatis saya juga kena, dong. πŸ˜•

Kalau iya… makan tuh referensi. :mrgreen:

 

~can’t help
~but feeling amused πŸ˜†

***

Begini, bukannya saya peduli Si Lemon itu siapa, berbuat apa, dan mau diapain. Itu urusan kalian. Permintaan saya cuma satu:

Mbok ya kalau bertingkah di blogosphere itu yang dewasa. Jangan menyerang kepribadian, apalagi generalisasi gak jelas. Ditambah lagi hate-speech-nya sampai merambat ke blog orang lain (here, here). Paling tidak, tunjukkanlah kesan yang relatif baik dan bersahabat. 😐

You’re disrupting the peace here. ‘Nuff said.

 

———

Baca juga:

    The Core Rules of Netiquette
    — Tentang etika di internet

last updated at: Sept 19, 2008. 11:56 am

Read Full Post »

Ada hal menarik yang saya catat seiring berkembangnya teknologi informasi di abad ke-21, terutama berkaitan dengan makin lajunya penggunaan internet lewat handphone (HP) dan laptop. Bahwasanya, saat ini teknologi telah benar-benar menghadirkan informasi di sekeliling kita. Begitu banyak informasi yang bisa diambil… dan, untuk melakukannya, Anda cuma perlu “memetik” informasi tersebut dengan tangan Anda.

Kapanpun dan dimanapun, asalkan Anda mempunyai HP yang cukup canggih untuk mengakses internet. Sesungguhnya Anda sedang berada di tengah ladang informasi. ^^

 

SE k510i w. google

“Information in your hands… literally.”

 

 
Meskipun begitu, tak banyak yang menyadari, bahwasanya ini adalah hasil akhir sementara dari suatu kemajuan yang revolusioner. Atau, kalau boleh dibilang: sangat revolusioner. πŸ˜•

Mengapa revolusioner? Nah, ini ada ceritanya lagi. Silakan baca sampai habis… :mrgreen:

 

 
First off: The IT Evolution

 
Jadi, sebelum membahas apanya yang luar biasa dari keberadaan Google di layar HP, mari kita bahas hal lain yang kurang menarik. Tentunya kalau Anda membaca judul di atas, Anda bisa menduga bahwa saya hendak membahas sejarah peristiwa yang dimaksud.

Seperti apa sebenarnya gejala ini?

 

1. TI dan Kebutuhan Mendasar

 
Sejak dulu, sebagai manusia, kita membutuhkan informasi yang berkaitan dengan kebutuhan hidup kita. Ini berlangsung sejak zaman non-elektronik: pada abad pertengahan para raja dan adipati berkirim surat untuk kepentingan administrasi; filsuf seperti Descartes dan Newton berkirim surat untuk bertukar ide dengan sejawatnya, dan lain sebagainya. Pada saat itu, tujuan utama komunikasi adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pekerjaan.

Tentunya ini juga termasuk kebutuhan akan romansa surat yang membuluh rindu™ tempo dulu, tapi bukan itu fokus kita untuk kali ini. πŸ˜›

Nah, hal ini kemudian berlanjut seiring ditemukannya telegram dan radio. Kita, manusia, mencari informasi yang urgent dan diperlukan lewat media tersebut. Kabar dan komunikasi perang, perdagangan, dan sebagainya dikirim menggunakan telegram dan radio. Bahkan terwujudnya kemerdekaan Indonesia pun tak lepas dari hal ini: Anda mungkin ingat bahwa para pejuang kita sempat mencuri dengar berita kekalahan Jepang lewat radio internasional.

Dalam konteks di atas, TI berperan lebih sebagai pemenuhan akan kebutuhan berita terkait hajat hidup. Di titik ini, manusia cenderung memanfaatkan TI secara “sekadarnya” dan “sebutuhnya”.

 

2. Tingkat Selanjutnya dari Kebutuhan…

 
Tentunya, sebagaimana yang disebutkan dalam hukum ekonomi, manusia cenderung mencari pemenuhan kebutuhan tambahan setelah yang primer terpenuhi. Ini juga terjadi di bidang TI.

Setelah manusia merasa bisa memenuhi kehausan akan informasi yang mendasar (terkait hajat hidup, perang, perdagangan, dsb), TI pun mengalami evolusi. Dari yang tadinya berita sekadarnya, ia kemudian mulai menjangkau area lain: hiburan dan pengetahuan.

Tentunya tak perlu dijelaskan, bahwa kemudian muncul berbagai lagu dan drama radio, disertai juga opera sabun di stasiun televisi. πŸ˜€ Ini adalah bentuk evolusi TI di bidang hiburan.

Sedangkan di bidang pengetahuan, kita melihat maraknya film-film dokumenter yang mencakup tema luas. Dari Perang Dunia I sampai II, sampai tentang peradaban Mesir kuno dan perjalanan Steve Irwin mendokumentasikan satwa liar, semuanya tersedia di layar kaca rumah Anda.

 

3. Comes The Internet

 
Nah, semangat untuk menyiarkan informasi/ilmu pengetahuan itu kemudian menemukan wadahnya di bidang internet. Di ranah yang diatur oleh pengguna, dari pengguna, dan untuk pengguna ini, semua orang boleh meng-upload informasi apapun yang dia inginkan. Walaupun tidak selalu bahwa informasi yang di-upload itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan; tapi itu cerita lain untuk saat ini.

Berbeda dengan televisi dan radio yang siarannya ditentukan sang pengelola stasiun, internet adalah hal yang sangat berbeda. Segala informasi tersedia di sini: ensiklopedia, opini, humor, berita, dan bahkan hiburan. Mana yang mau diambil, Andalah yang menentukan.

Jika Anda ingin belajar tentang berbagai hal, tinggal cari situs ensiklopedia semacam mbah Wikipe. Ingin mencari berita tentang film, Anda tinggal pergi ke IMDb. Atau jika Anda ingin mencari tempat di mana terjadi perbenturan dan tukar opini… Anda bisa juga melancong ke berbagai blogosphere.

Ingin literatur dan sastra klasik? Hei, di Wikisource dan Planet PDF pun ada! Tak masalah. πŸ˜†

 
Singkatnya, internet membawa aspek pengetahuan/informasi elektronik ke level yang berbeda. Jika Anda dulu harus nongkrong di depan TV (atau radio) sambil menantikan berita dan film dokumenter, maka kini Anda bisa memuaskan keingintahuan Anda lewat internet… sesegeranya.

Mungkin tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Wikipedia, IMDb, blogosphere, serta berbagai situs web yang ada adalah perpustakaan paling besar yang pernah dibangun oleh manusia. Kita tidak lagi miskin informasi: hanya dengan bermodal akses internet secukupnya — GPRS pun tak masalah — kita bisa membaca berbagai koleksi yang ada di perpustakaan tersebut. πŸ™‚

 


Informasi di Tangan Anda – Sebuah Revolusi

 
Di awal tadi, saya menyebut tentang “informasi di tangan Anda”. Sebetulnya, kalimat tersebut bermakna nyaris literal.

Seiring dengan lahirnya perkakas handheld yang dibekali koneksi internet, sesungguhnya kita sedang berada di ladang informasi. Kapanpun, di manapun, Anda selalu punya tempat bertanya jika sedang penasaran akan sesuatu. Anda tak perlu PDA kelas tinggi seperti O2 atau Blackberry untuk ini — sebuah Sony Ericsson k510i, sebagaimana saya tampilkan pada gambar di atas, pun cukup. Ia tak mesti fancy dan berharga mahal, yang penting adalah kemampuannya untuk mengakses internet secara portabel.

Internet sendiri adalah sebuah revolusi. Tetapi, penggabungannya dengan alat-alat handheld adalah revolusi yang lebih besar lagi.

Tunggu sebentar. Memangnya, apa sih yang begitu revolusioner dari akses internet lewat HP? πŸ˜•

Sebetulnya, yang revolusioner adalah kesimpulan berikut ini:

Internet via HP, pada dasarnya, mewujudkan fase kehidupan di mana informasi yang berlimpah (“abundant”) dapat diakses hampir dari mana saja di muka bumi (“ubiquitous”) dalam tempo singkat.

Dengan kata lain, di mana pun saya berada, saya selalu terhubung dengan sumber informasi yang reliable. Keberjarakan kita dengan informasi adalah nyaris nol: semuanya bisa diakses sesegeranya.

Ketika saya sedang tak bisa tidur, dan penasaran tentang mitologi Yunani, maka saya bisa meraih HP saya — dan lantas menuju situs terkait seperti Wikipedia atau Encyclopedia Mythica. Jika saya sedang di WC dan ingin mengisi waktu membaca berita bola terbaru, saya bisa langsung mengetik URL mobile Goal.com dan tiba di sana. Di titik ini, informasi menjadi hal yang akrab hingga nyaris mengerikan: ia bisa dijangkau dari ruang-ruang yang paling pribadi sekalipun.

Demikian pula ketika pada suatu waktu saya penasaran siapa mbak yang memancarkan aura Shiki Ryougi[1] di film Underworld. Saya tinggal melakukan googling lewat HP, dan selanjutnya nyasar ke Wikipedia. Bahkan sekalian pergi ke halaman IMDb-nya untuk melihat reaksi orang-orang di seluruh dunia terhadap film yang dimaksud. πŸ˜›

Atau ketika sedang naik mobil, saya melihat bahwa banyak taksi kini menempelkan label “tarif bawah” di jendela mereka. Apa sih maksudnya? Saya pun tinggal cetak-cetik keyword google lewat HP saya. Langsung ketemu di blog orang. πŸ˜† Dan lain sebagainya.

 

Pada akhirnya, luasnya wawasan manusia tidak harus terpaku pada hambatan jarak dan waktu. Jika dulu kita harus berdiam di perpustakaan untuk mempelajari hikayat Perang Salib — atau membaca karya Kafka dan Dostoyevski — maka kini semua itu bisa diraih lewat sebuah HP dalam genggaman. Walaupun informasi ini juga bukan tanpa kekurangan.[2]

Meskipun begitu, seperti yang saya tulis sebelumnya, semua ini masihlah hasil sementara. Revolusi masih terus berjalan…

…menuju entah-apa yang akan ditawarkan masa depan kelak.

Isn’t it exciting to imagine? πŸ˜€

 

 

—–

Catatan:

 
[1] Shiki Ryougi, i.e. protagonis di serial Kara no Kyoukai. Entah kenapa penampilan Selene di film tersebut — dengan model rambut yang mirip — menghasilkan aura yang sama… xD

…dan ternyata mas ini juga setuju. πŸ˜• Well, mengingat dia itu — ngakunya — fans berat Ryougi, mungkin persangkaan itu ada benarnya. πŸ˜†

 
[2] Umumnya, kualitas informasi yang didapat dari internet tidak semendalam dengan bisa yang diberikan oleh buku/teks akademik resmi. Terutama bila menyangkut tema-tema yang mempunyai disiplin ilmu sendiri, e.g. sains dan ilmu sosial — jika Anda ingin bahasan yang mendalam, sebaiknya Anda baca textbook.

*pengalaman pribadi waktu nyari bahan kuliah* ^^;

 
[3] Gambar HP sengaja dipilih Sony Ericsson K510i. Sebetulnya sih, karena itu HP yang sama dengan yang saya miliki — so there you have it. πŸ˜›

Read Full Post »

Going back a few days, the idea of writing this post is triggered by some discussion happening in Geddoe’s recent post, in which he talked about a Shakespearean notion of “good” and “bad”:


β€œNothing is either good or bad, but thinking makes it so.”

While the idea about illusion of “good” or “bad” has been on the spotlight of discussion (attended by me, him, and mas gentole amongst other), the topic then slided on how value on things shall be determined. A topic which, in turn, led to each of us talking about our own idea of valuing “good” and “bad”.

Of course this, like many philosophy-themed discussions in coffee-shops, shall run free in the naturally-vast discourse: human ethics, mankind in general, and possibility of a universal moral conduct, if any. The discussion itself was quite lively (IMO) — however, due to the nature of statement-based reply discussion[1], and attempt of guarding against being OOT ( πŸ˜› ), I feel that some of my idea wasn’t conveyed as well as intended; thus may be confusing to follow in some parts.

So, without further ado, I decided to write down my own view about it in this personal blog, in order to give a big picture of all my previous comments. Here goes…


Note:

For background information: My theological stance is, presently, agnosticism. That said, I don’t consider supernatural-based morality conduct (i.e. religions and holy scripture) as prime components in defining my view on ethics.

Also note that any discourse concerning afterlife, heaven, hell, purgatory, and such is not of any interest — and deemed irrelevant — in this post.

***

 

Part I – Defining Value

 

 
1. On Agnosticism

 

As an agnostic, I have been aware of metaphysical ideas’ being unverifiable, unfalsifiable, and imperceivable — at least, not in this world. Among those ideas are religions, holy scriptures, religious teachings, and even the God himself.

I don’t want to go into lengthy explanation about God-or-not — that’s not my focus this time — and you can read [this post] if you want to understand. What I want to say is that I have casted doubt upon absolute truth in unverifiable claims of God and afterlife.

To rely on unverifiable things’ existence to value things, for me, doesn’t seem favorable. That’s why I narrowed the scope of defining values only into worldly aspect.

One thing to note, however: I am not against God and religion, as you may find out in my posts and comments here and here. How I see God is like seeing Schrodinger’s Cat: it is both possible that He exists or not — something like that. I am not enforcing that anyone must or must not believe in Him; it’s due to personal matter and subjective consideration anyway.

Quoting Asimov,

“I prefer rationalism to atheism. The question of God and other objects-of-faith are outside reason and play no part in rationalism, thus you don’t have to waste your time in either attacking or defending.”

 

……

 

2. On Value

 

Back to the topic. Then, if not for God and religion’s sake, what do we do? How can we define what is “good” and “bad” in this world?

Now, I’m going to describe few keys of importance in this matter.

As I have described in my comments in Geddoe’s post, I take for granted that there is one imperatively good thing to protect in this world. Namely, “happiness” of people.

Quoting from my own comment,

I take for granted that happiness is the most important thing in this life, if afterlife not to be considered. So, maximizing the sum of happiness for everybody, along with my own, is on top priority.

This — as you may have guessed — is a utilitarianistic idea. πŸ˜‰
 
Apparently, I have stated that people’s happiness is imperatively good in itself. Well, assuming we only live once in this world, and not having an afterlife — I will feel damned if I get a miserable one. However the most important thing is not my happiness only: others’ happiness also plays important role.

Or, talking with diagram:

Utilitarianism
|
+— Individual Happiness (i.e. per person)
|
+— Global Happiness (i.e. “the greater good” )

 

……

 

3. On Utilitarianism

 

What’s with utilitarianism? Quoting Wikipedia,

Utilitarianism is the idea that the moral worth of an action is solely determined by its contribution to overall utility, that is, its contribution to happiness or pleasure as summed among all persons.

(link)

That said, everything is conducted in order to make for “the greater good”. If you’re a fan of 24 TV series, I’m sure you’re accustomed to this. CTU agent did suicide mission to prevent nuclear warhead exploding in LA; risking one’s life for the sake of confidential terrorism data, etc., etc. As convincing as its name (“utilitiarianism”; from “utility”), usefulness is the most important thing in focus here.

A dramatic example is shown in season 2 of 24, in which CTU’s #1 agent Jack Bauer elected to fly nuclear bomb out of the city, as the only way to prevent the bomb exploding in the city — with a certain one-way ticket that he will have to explode with the bomb. Luckily then surprise happened, but that’s another story.

At that condition, nobody in CTU would want him to die; he’s the best agent — but there’s no other choice, no other way out. So there he went.

Of course, utilitarianistic move doesn’t always imply that, to win collective and greater good, we must do some personal sacrifice. Rather, it merely conveys the idea that “collective/greater needs are better prioritized over personal/smaller needs”.

 

……

 

4. Individual and Collective Happiness

 

4.1. My “Egocentric” Idea

 

Back then in the discussion in Geddoe’s post, I proposed a seemingly utilitarian idea that, in the end, reveals itself to be a view concerning my needs:

Strange as it may be, but that’s how I think it is. As for your point: is the family planning good? I said: yes. Why?

Because it prevents baby boom, then prevents food shortage, then prevents economics difficulties, and in the end, I don’t need to face food shortage β€” and economic recession β€” at the latter stage of my life. That, is my happiness. ^^

I support nature preservation. Because I don’t want to live in spoiled earth, drink contaminated water, and I want the coffee beans to stay on its highest quality. Therefore, I can continue (or even maintain) this happiness I already have upon living on this earth.

Eventually, everything goes back to my own happiness. I always commented upon this myself, that this is some kind of selfishness. What differs it from hedonism is, I am considering things in the long run. ^^

A bit self-oriented, perhaps. But hey, why are we living on earth if not to have a gulp of happiness in it? πŸ˜›

That is almost paradox. Being selfish in itself, that is to preserve my own happiness — but, as a byproduct, contributes positively to others’ happiness. Now, isn’t it strange? πŸ˜†

To a certain degree, I freely confess that this view is based on economics’ worth of things. However I bring this into topic not without intention: what I want to show is that, to some extent, individual happiness may overlap with the course of collective happiness, i.e. collective “good” I have defined on the beginning of this post.

If I am to prioritize my happiness over collective’s, then I can do many shortcut means to happiness and prosperity. Doing corruption, cheating on trades and bargains, doing evil for my own sake. However, this isn’t good: as I have implied in the next comment,

You may ask: β€œif happiness in life is that important to you, then you don’t need to care for ethics! You can do evil for your prosperity, and live hedonistically.” But no…

If I (and many people) do that, the happiness won’t be sustainable. Economics will fall, peace will be scarce, world fall apart β€” I won’t be able to drink my vanilla coffee and watch football match every weekend.

In my opinion, personal happiness that will do harm to the social system isn’t good. Basically it’s not self-sustaining: my happiness today may lead me to the downfall the next day. Either directly or indirectly: people may bring me to the police, or doing martial law on my greed — or, if they chose to be ignorant, it is the society downfall that will befall me.

Maybe today I (along with few else) can manipulate our taxes for profit — but, in a long run, the collapse of the economy will find its way to us. Just like many employee from Soeharto’s reign feasted upon international debt in 80’s, as their misdeeds now caused the unending-yet monetary crisis in Indonesia.

It is alright to have your personal desire fulfilled. Just don’t forget to care whether it is doing more harm or good in a long run. πŸ˜‰

 

4.2. On Collective “Goodness”

 

I am among people who believe that, if something has no harmful side effects, then doing it en masse wouldn’t be hurting anyone. So, I believe that if everyone has the same idea as I explained in point 4.1., then it wouldn’t result in something disastrous. My bet: it would be even capable of maximizing sustainable happiness for everyone. πŸ˜‰
 
Talk about example. I’m against war because it may lead to the disappearance of peace and wealth already accumulated, which is the source of happiness of many people (me included). What will happen if many people think the same way? You bet…

 

……

 

5. Revisiting My Value: Is it Purely Subjective, or can-be more Objective?

 

Of all things, let’s take another look of our definition this far.

  • Assuming that there is no afterlife, then happiness is the most important focus in this world
  • Well, if you only life once, you wouldn’t want to have it gone miserably…

  • Then, we have to work to maximize our happiness
  • And do it sustainably. Just remember the point 4.1. πŸ˜‰

  • In the macro scope…
  • Apparently, if happiness is our focus, then maximizing it for the biggest sum of it, individually and collectively, is an automatic goal. Hence the utilitarianism.

    Economically talking, this kind of value system is quite reasonable. However, there is one question:

    Happiness is relative. It is due to person, and tends to be subjective.

    How do you define a “collective good”, if the core definition of the goal (i.e. happiness) is still due to subjectivity?

    This is a delicate issue. For example, how do I know if there is a psychopathic general, seated on a high position, in my country’s army hierarchy? He may feel happiness through ethnic cleansing or such. Same goes for possible psychologically-deviant people: they may want to do pedophilic actions — or perhaps craving for cannibalistic feast, e.g. like the legendary Dr. Hannibal Lecter. πŸ˜›
     
    In my opinion, there are three reasonable ways for examining this:

    1. Validate with “greater good”

    2. If this is about to make loss of the current happiness of people in status quo, without better reward at all, then it’s not good. Prohibitable.

       

    3. Is it in harmony with sustainable sources of happiness?

    4. Best illustrated like this: tax corruption is subjectively good, but not for the society’s sustainability; warfare ambition may be subjectively good, but may end up giving miseries to many people (including own’s citizen); and so on.

       

    5. Validate with economical means

    6. Will allowing these desires result in favorable economic trade-off?
       
      For instance, let’s take subjective view that supports genocide. In most cases it will harvest international criticisms and, possibly, reluctance from other countries to do diplomatic activities. At this rate this isn’t a good tradeoff, and shall just be avoided at all.
       
      On lesser extent, but more down-to-earth example: letting go of rapists may end up in society’s insecurity and tension, leads to riot, then halting all activities in it. Bad trade-off in the end. πŸ˜‰

    On personal point of view, I’d like to note that defining “good” is subjective to each person by nature. Nevertheless, there’s a way to make it seem more objective — that is, to consider it on the base of worth-to-worth and consequential results. Comparing the eventual trade-off with the decision made can be of some good measurement; though it doesn’t apply in every case.

     

    ……

     

    Part II – On Universal Moral Conduct

     

     
    6. The Collective Goal

     

    Based on our discourse thus far, you may have guessed how it would sound. Apparently it’s not different from the ideal of utilitarianism per se. That is,

    To maintain the sum of collective and individual “good” (i.e. happiness) in the longest duration possible

    Pay attention to the keyword “duration”. The sustainability, as I have described in part 4, plays important role in this aspect. Simply said, nobody wants to have happiness that ends fast — or, in worse scenario, ends up as a nightmare. πŸ˜‰
     
    When I said about “universal” moral conduct, it is more like these — as digested from the points I have described before.

    Maximize your happiness wisely; Respect others’. Keep your environment in good form for everyone’s benefit. Do not be dangerously selfish, so that you end up ruining everyone’s previously existing happiness.

    One may ask, though:

    Why does it have to be sustainable? If you can live with it all your life, and then the system breaks as soon as you die. It doesn’t cost you anything at all, right?

    Well, actually that’s true. At least for me. If I die first and the system breaks down later, I don’t have to care — I’m lucky to have enjoyed it all my life.

    To this question, I freely confess, the answer is only through altruism. In the system of which we take no interest after leaving, then it’s the possible answer.

    Nevertheless, there’s this interesting quote I saw while reading a linux guru’s interview in local magazine:

    “My mentor told me back then: ‘if you feel that you have learnt much from the open-source gurus and net forums, be grateful for it. That is, by sharing your knowledge to the newbies like you once were.'”

    From old InfoLinux magazine I ever read. Well, perhaps that’s also one good idea… πŸ˜›

     

    ……

     

    7. Side Issues

     
    Back in that discussion, I was mentioning something aside these utilitarianism and ethical things; though are still related in the discourse of ethics. It was about two matters which will be addressed below.

     
    7.1. About Religious Ethics Influence

     

    Despite my being agnostic and doubting the truth about God/religions in common, I still manage to react rather positively towards them. Quoting — once again — from my own comment,

    I do think that metaphysical grounds (in this case, religions) may prove its usefulness β€” I do find some religious teachings fits well to help us developing as mankind. Among them Golden Rule, Christianity’s idea of love and compassion, and Gandhi’s ahimsa. There are also some hadith that (IMO) conduct some good morality… They provided me some leaps of understanding of morality, which in turn helped me in developing those personal values.

    While I see myself as mostly utilitarian person, I do find that some religious teachings possess a usable merit of their own. And, to some degree, many of it would fit to my utilitarian value system scheme.

    I do have admiration for Golden Rule because of its simplicity but, nevertheless, outstanding idea of “don’t do to other what you don’t want to be treated as such”. It fits with the idea of sustainable source of peace — as well as Christianity’s teaching of love and peace.

    Another came from the Koran, which as follows:

    And I will not worship that which ye have been wont to worship, nor will ye worship that which I worship. To you be your Way, and to me mine.

    (109:4-6)

    That, of all things, implies an idea of acknowledging different beliefs and religions between people.

    While I’m merely an agnostic, these messages have their versatility to suit to my contemporary idea of universal value of norm. I don’t necessarily believe in God and/or religions. However, I do think that humanity may inspire from any wisdom they have inherited through their long history. Be it from philosophy, religion, or perhaps anthropology and history as well.

     

    7.2. About System-Efficiency and Contrasting-Happiness Ideas (Re: LGBT and Same-Sex Marriage)

     

    This topic was also mentioned, though slightly. Back then my view was as follows:

    When deciding β€œgood” and β€œbad” of things, I don’t see them per se; rather I try to see the usefulness of it.

    Perhaps I’d better illustrate with example. For instance about morality, I don’t support same-sex marriage. Why? Simple. Marriage is intended to protect children’s rights; they are born penniless and powerless. An ideal marriage not only protect the children’s finance until they’re ready to work by themselves: it also proved acknowledgement to the infants, provide legal status, and β€” in addition β€” assuring inheritance from their parents. There’s a legal certainty about who’s whose father, who must be held responsible financially, etc, etc. This is for different-sex marriage (DSM).

    In same-sex marriage (SSM), there’s no benefit out of it. They don’t have children whose legal and financial needs to be protected. Some ruling may enable them to adopt child, but that’s just making new problem out of nothing! It’ll just become an inefficient system with bulky mechanism. πŸ™‚

    That’s why, I prefer DSM and disregard SSM. In term of usefulness and efficiency, it doesn’t comply with my standard.

    My view on this is, although SSM is all about happiness, I don’t see a need to support them. That is more to the efficiency and usefulness of the rule.

    However, I do support the rights the SSM couple as long as it is about universal human rights. I am against discrimination for them — what I don’t agree is about the legal fuss for an importance that, for me, doesn’t have strong enough foundation. My stance on this is rather on the middle: I ‘m not staunch that it mustn’t happen, just that I don’t feel there’s any benefit out of it.

    That said, any law — or conduct — that gives away too little or no benefit, or inefficient in its manner, isn’t considered “good” by me.

    Another fitting example will be Indonesia’s government SPMB (national college entrance exam) form showing “Warga Keturunan” (i.e. descendant of immigrants) field. While this is reflecting truth and probably useful for statistics, this is — in my opinion — a dilly-dally. Let alone the possibility that those citizens may as well feel offended!

    ***

    Move on to the next case. This one isn’t naturally related with the essence of “efficiency” I just have mentioned; rather it’s about the presence LGBT themselves.

    I personally think that I can’t prevent anyone’s emotional (or hormonal) affection to each other, even if I wanted to. So there goes. Simply said, I’m neutral in this one. My only minor concern is that, if they are going for PDA — just don’t do it near the people intolerable to it. For their own sake. πŸ˜‰

    My note is, if they can be productive, useful, courteous, and mingling positively in society, then it’s categorically alright. So there you have it.

     

    ……

     

    8. Wrapping It All…

     
    So, it comes to an end. I hope that you have been able to get a big picture of my own definition of “good” and “bad”, and some of my contemporary world-view. Of course, like any other means of man-made idea to define ethics, I expect that this is far from perfection. I suppose that there are even loopholes in it, though.

    The intention of writing this post is to inform about how I perceive the world, and how I considered an ethic suitable for my own use (thus also replying some questions I received back then πŸ˜› ). I’ll be more than happy if anyone would tell me what they think; or showing loophole(s); or — by any means — giving feedback that may result in fruitful discussion. πŸ™‚
     
    Thank you for reading. Replies and inquiries can be sent via the comment facility at the bottom of this page.

     

     

     

    ——

    Note:

     
    [1] Statement-based reply discussion, i.e. somebody commented on something, then I reply his/her answer based on the statements/questions he/she uttered. For most cases this provides lively dialogue, but I often find this mechanism hindering for long and vast subjects.

    E.g. when somebody talked about my utilitarianism, I was focused on it, rather than explaining the big picture along with it (i.e. the simultaneous self-and-collective utilitarianism, etc.). The space and formatting was also little compared to a blog post; hence my decision of writing this one. ^^

    Read Full Post »

    Ada sebuah dialog yang sampai sekarang masih saya ingat, yang berasal dari bonus episode serial GARO. Saya sendiri menonton episode tersebut sekitar hampir setahun lalu; sekitar bulan Maret 2007.

    Syahdan, karakter Kaoru Mitsuki mengalami mimpi aneh di mana ia bertemu dengan mendiang ibunya, yang bercerita tentang sang ayah di masa lalu.

    (FYI: ayahnya Kaoru ini bernama Yuuji Mitsuki, beliau bekerja sebagai pelukis dan ilustrator buku anak-anak)

     

    kaoru_gg.jpg

     

    Mrs. Mitsuki:

    “He used to say this: ‘up until now, I was happy just to draw. That’s the reason I keep drawing’

    But one day, his thought changed. A person appeared; someone who felt something for the paintings he made. She said, “it was pretty. How fun! How scary! And so on.”

    Kaoru:

    “That person, she was… you, Mom?”

    Mrs. Mitsuki:

    (smiles)

    “The paintings he created were able to affect someone. There’s someone waiting for the drawings he is creating…

    …He said, having such an important person makes him happy.”

    ***

    Yah, begitulah.

    Yuuji Mitsuki, pada awalnya, sekadar menjalankan apa yang dia suka. Menggambar adalah hal yang membuatnya bahagia — sebagaimana yang disebutkan oleh ibunya Kaoru di atas, itu adalah salah satu alasan mengapa ia terus menjalani hobinya itu.

    Hingga akhirnya dia menyadari bahwa ada orang yang mengamati karya-karyanya. Orang yang menyukai dan menanggapi karya yang dibuatnya. Mengomentari lukisannya. Dan juga, menunggu setiap kali ia menyelesaikan lukisannya. Hal yang pada akhirnya menjadi sumber kebahagiaan dan motivasi dalam berkarya di masa depan.

    But, fun thing is, it doesn’t only apply in painting.

    Hal yang sama juga terjadi dalam bidang tulis-menulis. Seseorang mungkin memulai hanya karena ia suka menulis. Apapun itu — entah itu sekadar tulisan pribadi, atau opini, ataupun cerpen dan fiksi sebangsanya. Ada semacam kebahagiaan jika orang membaca tulisannya, lalu memahami apa yang ingin disampaikan. Lebih lagi jika pembaca menilai bahwa tulisan tersebut menarik. Atau malah menanggapi idenya dan menyumbangkan saran: “Hei, mungkin lebih baik begini. Mungkin lebih baik begitu…” dan lain sebagainya.

    Sebagaimana Pak Yuuji di atas mendapatkan motivasi dari perhatian atas karya-karya beliau, seorang penulis (atau blogger pada versi lebih ringannya) pun berpotensi merasakan hal yang sama lewat atensi pembaca.

    Tentunya ada kemungkinan sebaliknya, yaitu tulisan yang dirilis justru menjadi pemicu debat berkepanjangan dan tidak berujung (evolusi, anyone? :mrgreen: ). Tetapi tak bisa disangkal bahwa atensi pembaca adalah hal yang penting dalam semangat berkarya seorang penulis.

    Dua tahun yang lalu, saya adalah mahasiswa biasa yang senang menulis. Dengan alasan tersebut, saya mendaftarkan diri di sebuah layanan blogging gratis, dan meletakkan post pertama saya di sana. Menyusul setelahnya adalah post-post lain yang arsipnya bisa Anda lihat di sini.

    Sejak saat itu, saya telah menerima banyak respon dan tanggapan — yang, pada gilirannya, telah membuat saya makin bersemangat dalam menulis dan menyampaikan ide-ide saya. Tanggapan-tanggapan yang, boleh jadi, telah memacu diri saya untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik dari sebelumnya… walaupun tanpa saya sadari.

    Dan hari ini, tanggal 29 Mei 2008, pukul 19:45… adalah tepat dua tahun keberadaan saya di blogosphere. πŸ™‚

    I simply have, as always, been motivated by all your support through time. Thank you for everything. ^^V

     
    Terima kasih banyak dari saya untuk semua dari Anda yang telah:

  • Membaca tulisan-tulisan saya. Entah dengan diiringi reaksi positif, negatif, atau malah cuek saja. Pokoknya: thank you for reading. πŸ˜‰
  • Menulis komentar dan melakukan trackback — terima kasih, karena telah membantu saya memahami pemikiran Anda, juga membantu saya memandang topik dari sudut pandang lain. ^^
  • Melanggankan blog saya via feed. Terima kasih sudah menganggap blog saya cukup noteworthy untuk diikuti. πŸ˜›
  • Berkunjung ke blog ini. Terima kasih telah membantu menaikkan hits. πŸ˜›
  • Memasukkan tulisan saya ke del.icio.us.
  • Menyebut saya dengan akhiran -sensei. Sebetulnya saya sendiri nggak terlalu suka disebut demikian — but thanks anyway. ^^;;
  • Bersedia berdiskusi dengan saya di seantero blogosphere. Percayalah, saya belajar banyak dari semua tanggapan yang Anda berikan. πŸ˜‰
  • …dan seterusnya. Mungkin ada yang terlewat, jadi silakan ditambahkan lewat fasilitas komen kalau berminat. ^^
  • Dan akhirnya, terima kasih sudah membaca post ini sampai habis. Sampai jumpa di post berikutnya, dan selamat malam. πŸ™‚

     

     

    —–

    Ps:

    Gak terima komen berisi “makan-makan™!”. Tagihan berpotensi dikirim ke akismet. ^^

     
    PPs:

    Ternyata hari ini bertepatan dengan ultahnya Joe dan Om ManSup. Kebetulan yang aneh…? ^^;

    Read Full Post »

    Catatan:

    Postingan ini sangat tidak serius, tidak mengandung nilai kebenaran yang signifikan, dan mengandung elemen satir serta sarcasm atas kejadian yang berlangsung di sekitar penulisnya. πŸ˜›

     

    Teknik Metafisika™ adalah sebuah jurusan/program studi khusus, di mana program studi ini bernaung di bawah label engineering science. Sebagaimana Teknik Fisika berangkat dari basis keilmuan Fisika dan Teknik Kimia berangkat dari basis keilmuan Kimia, Teknik Metafisika™ pun berlandaskan pada bidang keilmuan yang bernama identik, yakni metafisika.

    Layaknya jurusan teknik yang bernaung di bawah label engineering science, Teknik Metafisika™ memiliki tujuan mengaplikasikan sains untuk penggunaan dalam hidup manusia. Ilmu dasar yang melandasinya (metafisika) mengindikasikan bahwa Teknik Metafisika berupaya mensinergikan antara teknologi modern dengan nuansa/elemen gaib dan supranatural.

    Singkatnya, apabila Teknik Fisika dan Teknik Kimia berupaya memanfaatkan hukum-hukum Fisika-Kimia demi kemajuan manusia, maka Teknik Metafisika pun demikian. Program studi ini mengupayakan agar kaidah-kaidah metafisika dapat bermanfaat bagi kebahagiaan™ dan kemaslahatan™ masyarakat pada umumnya.

     

    Peranan dalam Kehidupan

     
    Dalam rentang beberapa tahun terakhir, Teknik Metafisika telah berperan aktif dalam menjembatani gap antara teknologi dan elemen-elemen supranatural. Sepanjang sejarahnya Teknik Metafisika paling sering beririsan dengan Teknik Informatika dan Telekomunikasi; meskipun begitu bukan tak mungkin bidang ilmu lain turut dilibatkan dalam penerapannya.

    Adapun contoh penerapan Teknik Metafisika dalam kehidupan sehari-hari dapat dijabarkan sebagai berikut.

  • SMS santet: Kasus Layar Merah
     
    Kasus ini sempat menggemparkan bumi nusantara. SMS yang berasal dari nomor 08666xx ditengarai akan menghasilkan layar merah di handphone (HP) Anda jika dibuka; lantas mengakibatkan kematian mendadak bagi yang membacanya.
     
    Ini adalah salah satu terobosan di bidang Teknik Metafisika, di mana sebuah serangan santet dapat dikompres menjadi data biner berukuran 271 kb[1] sebelum dikirim lewat kabel serat optik. Sayangnya tidak semua orang dapat menerima dan membuka SMS santet — karena tidak semua HP dilengkapi dengan decoder yang berfungsi mengolah kembali sinyal santet digital menjadi analog.

  •  

  • REG Ramal – Dapatkan Ramalan via SMS setiap harinya!
     
    Anda mungkin sudah tahu, bahwa iklan promosi ramalan via SMS kini semakin menjamur di televisi. Ini pun termasuk salah satu bidang keahlian dari Program Studi Teknik Metafisika™.
     
    Dengan adanya program AI yang berbasis masukan dan keluaran prana (PIPO = Prana Input Prana Output), maka komputer dapat mengenali pengirim SMS yang masuk, lantas meng-generate ramalan khusus untuk dikirim ke orang yang bersangkutan. Produk ini dinilai cukup berhasil, terutama bila melihat semakin banyaknya iklan SMS “REG RAMAL” yang ditayangkan di televisi akhir-akhir ini. πŸ˜€

  •  

  • Peter Answers (PA)
     
    Di kalangan anak muda Indonesia dan dunia, sempat beredar kabar mengenai Sang Peter yang mampu menjawab segala pertanyaan. Konon, Peter mampu menjawab pertanyaan apapun yang diajukan lewat keyboard si penanya di depan komputer.
     
    Teknik Metafisika, sebagai pionir di bidang ini, telah berpartisipasi dalam membangun sistem tanya-jawab Peter Answers. Ketika Anda mengetikkan input dari keyboard, AI di server PA menerima statistik prana (bersifat unik) dari aura yang Anda miliki. Sebuah AI cerdas kemudian melakukan pembacaan pikiran, pada spektrum aura yang cocok, dan mengekstrak jawaban yang benar dari pikiran si penanya. Data yang didapat kemudian dikonversi ke dalam bentuk string sebelum dikirim kembali ke komputer client sebagai “Peter’s Answer”.

  •  

    Teknik Metafisika di Masa Depan

     
    Sebagaimana layaknya cabang teknologi, Teknik Metafisika pun akan terus berkembang. Beberapa pengembangan yang sedang direncanakan antara lain:

  • Pengiriman Arwah dan Jin lewat Media Elektronik
     
    Anda yang pernah menonton film horor Ring harusnya familiar dengan tokoh Sadako Yamamura. Dengan mengandalkan media kaset video, Sadako mampu mentransformasikan dirinya sebagai arwah gentayangan yang keluar dari kotak TV dan membunuh penontonnya.
     
    Di masa kini hal tersebut tampak mustahil; meskipun demikian para peneliti di Teknik Metafisika kini sedang meneliti kemungkinan tersebut. Pengiriman Sadako atau Enmai Ai lewat media elektronik kini dispekulasikan sebagai langkah maju berikutnya — pasca suksesnya pengiriman SMS santet layar merah yang dibahas sebelumnya. ^^V
  •  

  • Sirkuit Elektronik Tenaga Maya
     
    Spekulasi ini muncul setelah adanya sebuah klaim dari seorang mahasiswa[2] tentang kejadian unik di rumahnya[3], yang juga merangkap kost mahasiswa. Syahdan, terdapat ruangan yang lampunya selalu mati (walaupun bohlamnya sudah diganti berkali-kali). Awalnya diduga bahwa kesalahan terdapat pada rangkaian listrik di kamar tersebut.
     
    Meskipun begitu, pada suatu malam ternyata lampu tersebut sempat menyala selama beberapa detik, di hadapan seorang penghuni rumah yang sedang sendirian, sebelum akhirnya mati kembali. Para peneliti di Teknik Metafisika menghipotesakan sebentuk sirkuit elektronik tenaga maya sebagai penyebabnya — dan sejak saat itu meneliti kemungkinan penerapan sirkuit tersebut sebagai alternatif rangkaian konvensional.
  •  

    Penutup

     
    Berdasarkan uraian yang telah dibahas sebelumnya, maka kita melihat bahwa Teknik Metafisika™ adalah sebuah cabang keilmuan yang sedang berkembang dan sangat berpotensi untuk maju. Terutama sekali apabila digabungkan dengan bidang telekomunikasi dan Internet, di mana Anda bisa dengan mudah memicu terjadinya histeria massa. Lebih baik lagi: Anda bahkan berpotensi memanen keuntungan finansial yang tak sedikit melalui bidang semi-klenik yang satu ini. πŸ˜€

    Sekian, terima kasih. πŸ™‚

     

     

    —–

    Catatan:

     

    [1] Angka ini didapat setelah energi santet dikonversi menjadi data biner dan dikompresi menggunakan format .7z. πŸ˜›

    [2] Kisah tersebut dialami oleh teman saya yang tinggal di daerah Sumur Bandung. Katanya sih kisah nyata. (o_0)”\

    [3] Rumah yang dimaksud adalah sebuah rumah berumur puluhan tahun, di mana (menurut pengakuan teman saya tersebut) seorang neneknya menghembuskan nafas terakhir di sana. Dia sendiri menyatakan bahwa rumah tersebut terkesan ‘tidak biasa’… tapi itu cerita lain untuk saat ini. πŸ˜‰

     

    —–

    Pranala Luar

     
    Sekadar tambahan. Silakan dibaca jika berminat. πŸ˜‰

    (I strongly recommend to read ’em all, though)

    1. The Great Tantra Challenge – Rationalist International
      — Presiden Rationalist International berhadapan dengan Dukun India yang berupaya melakukan santet padanya. Hasilnya?
    2.  

    3. Peter Answers: Evil Spirit or Scary Prank?
      — Rahasia di balik cara kerja Peter Answers
    4.  

    5. Banjarmasin Post – SMS Santet Cuma Iseng
      — Katanya sih, penyebarnya sudah ditangkap. Or so they said. πŸ™„
    6.  

    7. Wikipedia – Charlatan
      — Tentang penipuan berkedok quackery dan kemampuan paranormal
    8.  

    9. Wikipedia – Cold reading
      — Ramalan… atau sekadar trik?

    Read Full Post »

    Dulu, waktu saya masih SD, orangtua saya sering sekali memutar lagu-lagu lama ketika berkendaraan. Salah satu dari sekian lagu tersebut adalah lagu berjudul “Teluk Bayur” — yang waktu itu cover version-nya dinyanyikan oleh Rani.

    Selamat tinggal Teluk Bayur permai,
    Daku pergi jauh ke negeri seberang
    Ku kan mencari ilmu di negeri orang,
    Bekal hidup kelak dihari tua

    Selamat tinggal kasihku yang tercinta,
    Do’akan agarku cepat kembali
    Kuharapkan suratmu setiap minggu,
    ‘kan ku jadikan pembuluh rindu…

     
    –Teluk Bayur
    (cipt. Zaenal Arifin)

    Jadi, berpuluh tahun sebelum saya duduk di depan laptop dan menuliskan postingan yang satu ini, lagu tersebut sudah beroleh ketenaran di kalangan remaja yang satu generasi dengan ayah dan ibu saya. Dan, yang namanya beda generasi antara saya yang waktu itu masih kecil dan imut dengan mereka yang sudah dewasa dan bisa menyetir mobil

    …sudah tentu terjadi gap dalam memandang dunia. :mrgreen:

    Saya ingat waktu itu TELKOM belum lama menyelesaikan sambungan telepon di kompleks rumah saya. Mungkin baru beberapa bulan sejak telepon di rumah saya berdering untuk pertama kalinya, dan saya bisa ngobrol dengan tetangga tanpa perlu bertatap muka.

    Maka saya pun bertanya — dengan kepolosan khas anak SD — pada ibu saya tentang lirik lagu yang disebut sebelumnya.

    “Lho, kok kirim-kiriman surat sih? Sekarang kan kita udah bisa nelpon?” πŸ˜•

    Tentunya ibu saya kemudian menjelaskan dengan detail bahwa “ini lagu lama”, “dulu belum ada telepon”, and there goes all the yadda-yadda… intinya, segala hal yang bisa dijelaskan oleh seorang ibu pada anaknya yang bingung soal kemajuan teknologi. Saya yakin Anda paham apa yang saya maksud. πŸ˜†

    ***

    Singkat kata, sejak saat itu, saya jadi sadar bahwa teknologi informasi itu berkembang. Cara berkomunikasi tak lagi terbatas pada media lisan dan surat-menyurat saja. Dunia jadi semakin sempit — perpisahan pun tidak lagi jadi momok yang menakutkan, seperti halnya berdekade-dekade yang lalu.

    Jika dulu orang harus menunggu surat setiap minggu untuk membuluh rindu™, maka sekarang kita bisa mengirim e-mail setiap jam dan langsung sampai. Sekarang, orang bahkan bisa ngobrol bertatap muka lewat webcam… tentunya dengan asumsi Anda bukan fakir benwit™. Tapi itu cerita lain untuk saat ini. πŸ˜›

     
    Lalu?

     
    Tentunya, sebagai akibatnya, sekarang saya melihat bahwa kisah cinta masa lalu tidak selamanya cocok dengan keadaan sekarang. Misalnya bagian berpisah dan berkomunikasi lewat surat. Seiring berkembangnya telepon dan internet, orang jadi makin jarang memanfaatkan media tersebut. Bukan tak mungkin surat kertas (dengan amplop dan perangko yang dijilat) akan jadi relik purbakala sahaja™ dalam waktu dekat.

    E-mail, Y!M, dan blog pun menjadi pembuluh rindu™ zaman baru.

    Lantas, surat kertas akan semakin terpinggirkan. Kuno. Tidak lagi praktis dan relevan dalam menghadapi tuntutan zaman yang serba efisien. Atau, paling tidak, zaman yang mengharapkan segala sesuatunya dilakukan seefisien mungkin.

    Tapi kemudian saya tersadar akan suatu hal.

    Di masa kini, kita memandang bahwa “surat kertas” itu sangat kuno dan jadul. Obsolete. Tidak praktis, dan juga tidak relevan. Sekarang sih saya tertawa saja kalau mendengar orang dulu “menantikan surat setiap minggu” untuk mendapat kabar dari kekasih, sebab memang kesannya seperti cerita yang jauh dari kenyataan.

    Sebagaimana saya sekarang melihat bahwa “pangeran berkuda” hanya ada di dongeng-dongeng (karena pangeran sekarang pada tajir dan punya Ferrari serta jet pribadi), saya pun memandang bahwa surat kertas akan bernasib sama dalam beberapa puluh tahun ke depan.

    Tetapi bagaimana dengan berabad-abad ke depan? Atau ribuan tahun lagi, kalau dunia masih belum kiamat dan teknologi informasi terus berkembang. Hampir pasti bahwa sistem komunikasi seperti e-mail dan Y!M pun akan turut menjadi obsolete dan tak digunakan lagi. Sebagaimana halnya surat kertas yang disinggung sebelumnya. πŸ˜•

    Mungkin, kalau begitu, kisah cinta dan dongeng anak cucu kita tak lagi mengetengahkan surat — dan pengumuman tertulis — sebagai sarana komunikasi! 😯 Boleh jadi, dalam dongeng-dongeng mereka, yang akan muncul adalah epik-epik yang mengetengahkan moda komunikasi elektronik yang kita kenal sekarang!

    Contohnya? Mungkin saja seperti berikut ini. πŸ˜€

     

  • Pasangan seperti Romeo dan Juliet mungkin dipertemukan untuk pertama kali di blogosphere.
  •  

  • Tokoh utama bertipe-pangeran sedang mencari seorang puteri untuk dijadikan pendamping hidup. Sebuah sayembara pun diumumkan lewat mailing-list.
  •  

  • Sosok ksatria a la Wilfred of Ivanhoe tidak lagi bertarung di lapangan istana di hadapan Prince John — melainkan beradu di lapangan DotA yang di-host oleh server kerajaan (atau milik negara republik, you name it).
  •  

  • Monolog legendaris seperti “To be or not to be” bukan lagi diucapkan secara lisan oleh karakter model Hamlet — melainkan di-post di blog oleh sang karakter dan diberi tag “solilokui”.
  •  

  • …dan lain sebagainya. ^^v
  •  
    Orang bilang, “mimpi hari ini adalah kenyataan di masa depan”. Tapi, entah kenapa — dalam kasus ini — saya lebih suka beranggapan bahwa “kenyataan hari ini (mungkin) adalah dongeng di masa depan”. πŸ˜‰

    Oh well. πŸ˜†

    Read Full Post »

    Beberapa hari yang lalu, saya merilis post tentang keberadaan pasal karet dalam UU ITE yang baru saja disahkan oleh DPR. Sejujurnya, opini saya masih belum berubah sejak saat itu… keberadaan dua pasal tersebut (i.e. 27 (3) dan 28 (2)) berpotensi membelenggu kebebasan berpendapat dan bersuara di dunia maya. Ada terlalu banyak kerancuan yang bisa timbul dari delik “pencemaran nama baik”, “penghinaan”, serta “penyebaran kebencian” — salah-salah, justru terbuka kemungkinan bahwa UU ini disalahgunakan; lantas dipakai untuk menjatuhkan berbagai tulisan dan opini yang beredar di internet.

    [selengkapnya di post yang lalu]

     
    Post itu sendiri mendapatkan cukup banyak tanggapan. Terus terang, berbagai reaksi dari semua rekan netter dan blogger — baik yang berkomentar langsung maupun yang me-link post saya — telah membantu saya dalam memahami sudut pandang lain atas masalah ini. Untuk ini saya sangat berterima kasih… you all have my gratitude. πŸ˜‰

    Meskipun begitu, dari sekian banyak komentar dan link, ada masukan menarik yang saya dapat.

    Tak berapa lama setelah ‘kehebohan’ mengenai UU ITE ini berlangsung, beberapa rekan mewacanakan ide tentang judicial review terhadap UU ITE. Singkatnya, meminta pengujian kembali atas muatan dalam UU baru terhadap UUD 1945 oleh Mahkamah Konstitusi. Apabila ditemukan muatan yang menyimpang dari amanat UUD, maka pasal yang dipermasalahkan dalam UU ITE dapat direvisi kembali.

    Tentu saja, sebagai akibat dari ide tersebut, sekarang timbul pertanyaan penting yang juga menarik. πŸ˜‰

    Perlukah kita melakukan judicial review terhadap UU ITE?
    Jika ya, atau tidak — mengapa?

    Jika Anda tanya saya, maka jawaban saya tegas dan jelas: “Ya, kita perlu melakukannya”.

    Sebab kita punya dua masalah besar di sini. Delik “pencemaran nama baik”, “penghinaan”, dan “penyebaran kebencian berbasis SARA” adalah perkakas ampuh untuk memasung kebebasan berpendapat. Seperti yang sudah saya jelaskan di post yang lalu, adanya pasal 27 (3) dan 28 (2) berpotensi menjatuhkan hampir seluruh forum opini dan kritik sosial di internet… sebagaimana yang akan saya jabarkan dalam poin-poin berikut ini.

    side note:
    Silakan dianggap sebagai kelanjutan dan penekanan dari post yang saya rilis sebelumnya. Selamat membaca.
    πŸ˜‰

     

    1. Tentang Pencemaran Nama Baik dan Penghinaan

     
    Singkat saja: pencemaran nama baik dan penghinaan, dalam berbagai kasus, merupakan klausa yang sangat elastis dan sulit didefinisikan. Sudah ada banyak contoh untuk ini. Kasus blokade WordPress.com di seluruh Turki; niat (mantan) Menkominfo Sofyan Djalil untuk mensomasi Republik Mimpi; dan juga kasus tuntutan Suharto v. Time.

    Masalahnya, apakah benar pihak-pihak yang dituduhkan melakukan penghinaan/pencemaran nama baik?

    Edip Yuksel dan rekan-rekannya merasa sedang mengungkapkan fakta ketika menulis tentang Adnan Oktar; Effendi Ghazali merasa tidak berniat menghina dengan merancang Republik Mimpi; dan para wartawan Time memiliki bukti hasil investigasi mereka ketika menulis tentang kekayaan (alm) Soeharto — mereka bahkan menang dua kali sebelum kalah di tingkat MA! πŸ‘Ώ Lalu yang ingin saya tanyakan: Bagaimana caranya kita bisa menentukan dosis “penghinaan” dan “pencemaran nama baik” dengan tepat!? 😐

    Seperti yang saya tulis di post yang lalu, klausa karet macam di atas berpotensi menjadi sarana membungkam opini lawan — walaupun mungkin niat awalnya tidaklah demikian.

     

    2. Tentang Penghinaan/Penyebaran Kebencian Berbasis SARA

     
    Bagaimana dengan delik “menyebar kebencian berbasis SARA”? Ini juga sama! Tidak ada takaran yang benar-benar tepat — dan disepakati secara bulat — mengenai definisi “tindakan menebar kebencian”. Terutama jika sudah melibatkan SARA, di mana apa yang dipandang “normal” oleh suatu pihak belum tentu dianggap “tak menghina” oleh pihak lain. Kasusnya mirip dengan “pencemaran nama baik” yang dibahas sebelumnya; hanya saja yang dilibatkan di sini adalah elemen-elemen suku, agama, ras, dan antargolongan.

    Saya rasa penjelasan dari Pak Anggara di post beliau bisa jadi ilustrasi yang bagus di sini.

    […] rumusan pasal ini sangat karet, dan siapa yang berpotensi terkena? Saya coba memberikan ilustrasi sederhana dan actual kepada anda sebagai contoh, MUI telah memberikan fatwa sesat kepada kelompok Ahmadiyah yang berakibat terjadinya serangan terhadap keamanan jiwa dan benda dari anggota kelompok Ahmadiyah tersebut. Menurut anda apakah ini termasuk penyebaran kebencian, sebagai dimaksud dalam UU ITE ini? Jika iya, apakah mungkin MUI akan menghadapi proses hukum karena pemberlakukan ketentuan UU ITE ini?

    Bagaimana kalau sebaliknya, kelompok Ahmadiyah memberikan label sesat kepada MUI dan sangat mungkin tidak akan terjadi serangan yang mengancam keamanan jiwa dan harta benda dari Pengurus MUI maupun dari MUInya. Menurut anda apakah ini termasuk penyebaran kebencian, sebagai dimaksud dalam UU ITE ini? Jika iya, apakah mungkin kelompok Ahmadiyah akan menghadapi proses hukum karena pemberlakukan ketentuan UU ITE ini?

    Saya akui agak sulit merumuskan dengan batasan-batasan yang jelas tentang penyebaran kebencian ini dan ini sangat berpotensi menimbulkan diskriminasi hukum dan juga ketidakpastian hukum karena sangat tergantung pada tafsir sepihak.

    Apakah kritik/otokritik perilaku umat beragama di internet bisa dikategorikan menyebar kebencian? Apakah sebuah post di blog yang menyatakan “mengutuk perilaku barbar FPI” termasuk menyebar kebencian berbasis SARA? Apakah forum diskusi freethinking (dan ateisme vs. agama) bisa dianggap sebagai penodaan terhadap agama dan umat beragama pada umumnya?
    You bet. Everything is on your choice. 😐

     

    Jika Anda tanya saya, “penyebaran kebencian berbasis SARA”, sebagaimana “pencemaran nama baik”, adalah klausa yang amat subyektif. Bisa saja Anda dituntut gara-gara tempo hari menulis perbandingan teologis antar agama-agama Abrahamik — hanya gara-gara seorang fundamentalis Islam merasa bahwa perbandingan Anda cenderung mendiskreditkan ajaran agama yang dia anut. Padahal yang Anda lakukan hanyalah telaah berdasarkan ajaran satu dan yang lainnya. Oh well. πŸ™„

    ***

     

    3. Sanksinya?

     
    Pertanyaan bagus. Apabila Anda terkena gugatan atas “pencemaran nama baik” atau “penghinaan/penyebaran kebencian berbasis SARA”, dan kemudian kalah di pengadilan, maka Anda harus siap merogoh kocek dalam-dalam. Denda sebesar satu milyar rupiah dan/atau kurungan enam tahun siap menanti Anda.

    Pasal 45 (1)

    Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

     

    Pasal 45 (2)

    Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

    Satu milyar untuk pasal karet macam di atas. Yeah, right. Life is funny, after all. πŸ˜†

    ***

     

    4. Kesimpulan

     
    Sejujurnya, pendapat saya mengenai UU ITE masih sama dengan sebelumnya. Memang benar bahwa di beberapa bagian UU ITE merupakan langkah awal yang baik: sebagai contoh, UU ini merumuskan peraturan yang melindungi transaksi elektronik dan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) di dunia maya. Meskipun begitu, terdapat beberapa pasal yang sangat objectionable di dalamnya — yang bahkan berpotensi untuk memberangus kebebasan bersuara dan berpendapat di internet.

    Adalah benar bahwa kita tak mengharapkan internet yang dikotori oleh semangat penghinaan dan pencemaran nama baik. Kita pun tidak mengharapkan internet jadi ajang flame berbasis SARA — atau malah ladang pornografi sebagaimana yang dinyatakan berulang-ulang di media massa. Meskipun begitu, dua pasal yang saya singgung sebelumnya jauh terlalu elastis untuk diinterpretasikan! Salah-salah, justru penyalahgunaanlah yang terjadi… tentunya kita tak ingin menjadi Cina kedua (yang menyensor Google) ataupun Turki kedua (yang mengeblok WordPress.com).

    Oleh karena itu, jika ada yang bertanya apakah saya setuju untuk mengajukan judicial review terhadap UU ITE… maka jawaban saya adalah “Ya”. And that’s what it’s all about.

    Now, here goes the one million dollar question:

    Perlukah kita melakukan judicial review terhadap UU ITE?

    Ya atau tidak? Tentunya jawaban untuk ini dikembalikan pada diri Anda masing-masing. πŸ˜‰

     

     

    —–

    Ps:

    Hampir lupa, titipan dari mbak Nenda. ^^ Milis diskusi untuk review UU ITE dan prosedurnya:

    http://groups.google.com/group/id-uuite-review?hl=en

    Subscription address:

    id-uuite-review-subscribe [at] googlegroups [dot] com

    Join if you wish. πŸ˜‰

    Read Full Post »

    Kemarin, setelah empat hari tidak online, saya menemukan post dari Pak Budi Rahardjo tentang rencana pemerintah Indonesia menerapkan blocking untuk konten internet yang berbau pornografi.

    Sempat kaget juga sih waktu membacanya. ^^ Sayangnya di post tersebut Pak Budi tampaknya salah memasang link ke sumber berita (tak sengaja?) — sehingga saya kemudian berinisiatif melakukan googling untuk berita terkait kasus tersebut.

    Dari situ, saya mendapatkan beberapa link berikut:

     

     

    Alkisah, Pemerintah Indonesia baru saja mengesahkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) hari Selasa (25/3) yang lalu. UU yang satu ini digadang-gadang sebagai ujung tombak pemerintah dalam upaya memerangi pornografi dan pornoaksi lewat media internet.

    …tapi, benarkah demikian? Nanti dulu.

    Kebetulan, saya juga mendapat ‘tangkapan’ besar dari forum detikInet — yang memberikan file PDF tersendiri. Konon katanya, inilah rancangan final UU tersebut yang sudah disahkan dan kini menunggu tanda tangan dari presiden. Adapun file tersebut bisa Anda unduh di [sini].

     

    Apa masalahnya?

     
    Di media-media konvensional, hal yang paling ditekankan dari RUU ITE adalah penerapannya dalam meredam aksi pornografi di internet. Bahkan tak kurang Menkominfo Muhammad Nuh menyatakan demikian dalam sambutannya:

    Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh menegaskan rencana pemerintah melakukan pemblokiran situs porno. Hal itu, ujarnya, dilandasi akal sehat yang universal.

    Hal itu dikemukakan Nuh dalam jumpa pers setelah pengesahan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) di Jakarta, Selasa (25/3/2008). Meski menegaskan akan melakukan pemblokiran, Nuh mengakui bahwa definisi porno itu sendiri masih abu-abu. “Makanya yang dilarang dalam UU ITE itu adalah penyebarannya,” ujar Nuh.

    Media mainstream umumnya menyatakan bahwa goal utama UU ITE adalah memblok akses situs porno dari Indonesia. Mengutip Republika Online,

    Menginduk pada UU ITE itulah, pemerintah nanti akan membuat permen sebagai payung hukum untuk memblokade situs-situs porno di jagad maya Tanah Air. Permen itu akan digulirkan begitu RUU ITE telah disahkan menjadi UU, yang diperkirakan pada April mendatang.

    Meskipun begitu, ada hal yang menarik. Jika Anda membaca draft berupa file PDF yang di-upload di detikInet, Anda akan menemukan dua pasal ‘ajaib’ di bawah ini:

    BAB VII
    PERBUATAN YANG DILARANG

    Pasal 27

    (3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

     

    Pasal 28

    (2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk
    menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

    Dengan mengasumsikan copy draf yang saya dapat ini benar, maka ada pertanyaan logis yang muncul:

    Mengapa pasal-pasal karet ini tak pernah diekspos? Mengapa cuma kesan semangat antipornografi saja yang muncul di media? Padahal jelas implikasi dari keberadaan dari dua pasal ini sangat serius!

    “Pencemaran nama baik” adalah klausa yang sangat subyektif dan multitafsir. Hell, saya bisa saja menuntut seorang blogger yang tempo hari mengkritisi tulisan saya dengan ad hominem dengan tuduhan ini. Semua orang yang pernah berdiskusi panas di internet tahu kondisi semacam ini — dan kalau mereka cukup manja, mereka akan bisa menuntut hampir semua lawan debat mereka dengan dalih “penghinaan/pencemaran nama baik”. Sebab, bagaimana pula caranya menentukan dosis “menghina” dengan tepat?

    Bisa-bisa kasus Republik Mimpi berlangsung di ranah internet esok hari, kalau begini. 😐

    Dan kita punya pelajaran lain… kasus Harun Yahya di Turki. Gugatan atas defamatory bisa melayang dengan mudah hanya untuk membungkam lawan bicara Anda, sungguh menyenangkan. Seluruh Turki sudah pernah mengalami blocking ke wordpress.com hanya karena semangat anti-libel-and-defamatory semacam ini. Indonesia harusnya bisa belajar dari kesalahan yang dialami negeri semenanjung tersebut.

    Kenyataan ini jelas berlawanan dengan kebebasan mengeluarkan pendapat dan pers bebas yang kita elu-elukan selepas reformasi… Harusnya pemerintah bisa mensosialisasikan pasal karet ini ke masyarakat sebelum mengesahkannya. Sorry, but — first.

    Kedua, soal “menimbulkan rasa kebencian berdasarkan SARA”. Lagi-lagi ini tak diekspos. Padahal ini juga pasal karet yang bisa mengimbas ke mana-mana. Forum kritik (dan otokritik) terhadap perilaku umat beragama; forum freethinking dan filsafat; diskusi teologi; debat politik; diskusi evolusi vs. kreasi; dan SEMUA yang bisa terkait dengan diskusi sosial-politik pada umumnya. Semuanya kembali pada penalaran relatif dan subyektif akan definisi “menimbulkan kebencian”. This is bringing down the free speech! πŸ‘Ώ

    Secara ideal, dua pasal karet ini bisa menjadi peluru untuk menembak jatuh semua diskusi sosial dan politik di internet. Dan ini termasuk blog Anda… boleh jadi, bulan depan Roy Suryo akan menuntut Anda karena Anda sering mengkritisi pernyataan publik beliau di blog kesayangan. Tapi siapa yang tahu? πŸ™‚

     

    Catatan Tambahan soal UU ITE

     

    Pasal 40 ayat (2)

    Pemerintah melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat
    penyalahgunaan Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik yang mengganggu ketertiban umum, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang‐undangan.

    Sebagaimana Menkominfo menyatakan bahwa blocking konten porno dilakukan untuk mencegah penyebarannya (pasal 27 ayat (1)), dan inisiatif pemerintah untuk “melindungi kepentingan umum” sebagaimana dijelaskan di atas.

    Bukankah itu berarti situs-situs yang ditarget dalam Bab VII bisa dimasukkan dalam daftar blocking? Tentunya ini termasuk situs-situs yang *diduga* melakukan “pencemaran nama baik” dan “menyebar kebencian berdasarkan SARA”, sebagaimana yang disebut oleh pasal karet di atas. πŸ˜•

     

    As The Dust Settles

     
    Sebenarnya, saya tak mempermasalahkan apakah UU ITE ditujukan untuk meminimalkan pornografi ataupun tidak. Bahkan, sejujurnya, saya sendiri memang bukan penikmat barang-barang pornografi pada umumnya.

    Meskipun begitu, adanya dua pasal karet di atas harusnya menjadi perhatian khusus bagi kita semua, terutama yang sering terlibat dalam diskusi dan forum internet. Bukannya justru terbawa euforia dan mempersoalkan pembatasan pornografinya semata… there’s something with deeper meaning than just that.

     

     
    —–

    Update 28/3 – Beberapa post terkait oleh blogger lain soal ini. Selamat membaca. πŸ˜‰

     
    Anggara – Sekali Lagi Soal UU ITE

    Whateverology – Analisis Hukum Sensor di Internet Indonesia

     
    —–

    Update 2/4

    Pembahasan lebih lanjut tentang UU ITE di blog ini:

    Judicial Review untuk UU ITE: Ya atau Tidak?

    Read Full Post »

    « Newer Posts - Older Posts »