Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Photoblog’ Category

Konon, kebahagiaan itu letaknya di hati. Seseorang tidak mesti kaya dan berkelimpahan untuk bisa bahagia — asalkan bisa mencukupi kebutuhan dan bersyukur, maka itu saja sudah cukup. Yang penting adalah bagaimana memaknai apa yang kita punya sebaik mungkin.

Sebenarnya ini wisdom yang amat populer; beberapa orang mungkin bilang “basi”. Meskipun begitu, mau tidak mau, saya jadi ingat juga gara-gara adegan di bawah ini. 😆

 

cat-and-shoe
 

“You can’t always get what you want, but if you try, sometimes you may just get what you need.”

~ Rolling Stones

Have a nice day, Neko-san. 🙂

 

 
——

Ps:

Belakangan ini saya jadi sering posting gambar/foto. Maunya sih menulis panjang-lebar, tapi apa daya… 😮

(baca: mood belum balik sepenuhnya pasca hiatus)

Read Full Post »

Salah satu kegiatan yang saya lakukan selama hiatus tempo hari adalah jalan-jalan di kota Bandung. Bukan dengan naik mobil atau angkot, melainkan dengan berjalan kaki. Saya sendiri pada dasarnya memang suka jalan kaki ke mana-mana, terutama jika cuaca sedang cerah… dan kebetulan, cuaca waktu itu juga sedang cerah. Menurut saya ini tak boleh disia-siakan. Men sana in corpore sano! 😎 Alhasil, daripada bosan mendekam di kamar, saya pun memutuskan untuk pergi jalan-jalan saja.

Kalau sebelumnya saya sudah berjalan hingga daerah Dago selatan, maka kali ini saya mencoba melanjutkan ke arah tersebut. Mulai dari Jalan Ganesa/RS Borromeus, mengikuti rute yang lalu, dan melanjutkan seterusnya dari situ. Seperti apa cerita perjalanannya, here goes…

***

Dalam perjalanan yang lalu, saya sudah mencapai daerah sekitar Plaza Dago.

 

Plaza Dago

 

Bagian selanjutnya adalah jalan lurus hingga menyeberang perempatan R.E. Martadinata dan Juanda. Jalan sedikit lagi dari situ, dan kita sampai di salah satu mal paling terkenal di kota Bandung…

 

BIP - samping

 

…yang, kalau Anda sering jalan-jalan di sekitar Dago, pastilah pernah mendengar namanya diteriakkan oleh para sopir angkot. “Be-I-Pe, Be-I-Pe…” Orang Bandung umum menyebut mal tersebut “BIP” — singkatan dari “Bandung Indah Plaza”.

 
Beberapa puluh meter ke depan, terdapat sebuah toko kue sus yang cukup terkenal, “Soes Merdeka”. Dinamai seperti itu karena letaknya di Jalan Merdeka. Konon toko ini sudah berdiri sejak tahun 1950-an.

 

Soes Merdeka

 

Sekilas tokonya terlihat nyempil dan sederhana. Mungkin rasanya aneh bahwa merek yang lumayan terkenal mempunyai gerai begitu saja. Meskipun begitu, beginilah kota Bandung — perajin kuliner terkenal biasanya memang tidak mencolok. 😆 (contoh lain di antaranya “Kopi Aroma” dan “Yoghurt Odise”)

 
Lepas dari Jalan Merdeka, saya kemudian memutuskan untuk mengikuti trayek angkot Kalapa-Dago, hingga akhirnya ‘terdampar’ di depan sebuah bangunan bergaya Belanda.

 

Kodam III Siliwangi

 

Gedung Markas Kodam III Siliwangi. Bangunan ini terletak di Jalan Aceh. Bangunan warisan kolonial ini terletak di daerah yang rimbun dan sangat hijau…

 

Boulevard - Jl. Aceh

 

…dan memiliki trotoar yang sangat terawat, biarpun lajurnya agak sempit. +1 untuk kemudahan yang diberikan pada pejalan kaki. Yay! (^_^)_v

 

trotoar

 

Meskipun begitu, tujuan akhir saya bukan di sini. Masih ada beberapa puluh meter lagi ke depan.

 
Dan inilah titik akhir yang saya tetapkan hari itu… tak lain dan tak bukan, gedung SMA Negeri 3 dan 5 Bandung. 😀

 

SMA 3 Bandung - far

 

Tak beda dengan markas Kodam III Siliwangi, gedung sekolah ini memiliki arsitektur bergaya Belanda. Bangunan aslinya sangat luas dan memanjang — sedemikian hingga dapat menampung murid dan guru dari dua sekolah.

 

SMA 3 Bandung - side

 
Bangunan sekolah ini punya legenda tentang jendela yang terbuka sepanjang malam. Konon, pada malam-malam tertentu, seorang ‘Noni Belande’ akan menampakkan diri lewat salah satu jendela tersebut. Benar atau tidaknya, masih terbungkus oleh misteri…

Saya sendiri beberapa kali lewat daerah tersebut di malam hari. Bukan jalan kaki, tentu, melainkan dengan naik angkot. Dan memang ada jendela yang terbuka sampai jauh malam… tapi kita takkan bahas lebih lanjut soal itu di sini. 😉

***

Dan, dengan demikian, acara jalan-jalan saya hari itu pun berakhir. Total dua (atau tiga) jam jalan kaki, bolak-balik, dari Jalan Ganesa/RS Borromeus.

Bagusnya kamera HP saya mau diajak bekerjasama. Tangkapan yang kali ini jauh lebih baik daripada waktu jalan-jalan yang sebelumnya… mungkin karena cuacanya juga (kebetulan) sedang bagus. Tapi, yah sudahlah.

Sayang Bandung yang seperti ini cuma ada pagi-pagi atau di hari kerja. Kalau sudah siang di akhir pekan, pastilah jadi penuh dan macet oleh mobil berpelat B… (+_+)

Read Full Post »

old PC Magazine cover

 

Hasil bongkar-bongkar arsip foto di HP. Gambar diambil bulan September 2007.

Mengenai kenapa majalah di atas belum jadi kertas kiloan, mari kita tanya pada rumput yang bergoyang™. (u_u)

Read Full Post »

Catatan:
Ini postingan tidak penting. Anda sudah diperingatkan.

 

Syahdan, di sebuah kantin yang berlokasi di dekat kampus saya, terdapat sebuah hidangan yang istimewa. Hidangan ini begitu ajaib, terutama karena nilai kelangkaannya yang lumayan tinggi… terutama bagi mahasiswa pemalas macam saya. Dan, sebagai akibatnya, saya bisa dibilang sangat jarang menikmati hidangan tersebut.

…sebetulnya sih, saya sedang membicarakan sepiring nasi goreng. 🙄

Bukan, ini bukan tentang rasa; sebab saya sudah pernah merasakan banyak nasi goreng yang lebih enak daripada itu. Demikian juga, ini bukan soal porsinya yang ukuran besar ataupun lain sebangsanya — ketika saya menyebut kata “langka” di atas, sebenarnya saya tak merujuk pada kualitas nasi goreng itu sendiri.

Sebab, faktanya, nasi goreng ini menonjol karena ia memang langka!

Tapi, kenapa bisa langka? Nah, ini ada ceritanya lagi.

***

Ceritanya, kantin yang saya sebutkan di atas memiliki jam buka cukup awal, yaitu sejak pukul setengah tujuh pagi, sebelum akhirnya tutup selepas maghrib. Nah, kantin ini memakai sistem prasmanan — kurang lebih mirip lah dengan sistem di Warung Padang. Jadi pengunjung tinggal datang, ambil nasi, ambil lauk, dan ambil minum (kalau mau) — lantas, kalau sudah selesai, tinggal bawa semuanya ke kasir dan bayar di tempat. Tentunya dengan sistem ini kita boleh mengambil nasi dan lauk sebanyak-banyaknya, asalkan memang sanggup membayar tagihan yang diberikan. ^^

Nah, tapi ada yang ajaib.

Biasanya, kalau Anda makan di tempat prasmanan, makanan yang tersedia akan cepat habis. Wajar, karena ada banyak orang yang mengambil makanan dengan volume relatif besar. Meskipun begitu, makanan yang habis biasanya terus diisi ulang — sehingga jarang terjadi satu jenis hidangan mengalami shortage dan lenyap dari daftar ambil pengunjung.

Sialnya, hal ini tidak terjadi pada sang nasi goreng. Anda bisa mengambil nasi putih, daging empal, paru, sop, atau ayam sampai saat warungnya menjelang tutup. Tapi, nasi goreng?

Jangan harap! 😦

Pada hari berlangsungnya kuliah, kantin buka pukul 6.30 pagi. Meskipun begitu, menurut sumber yang dapat dipercaya, nasi goreng biasanya sudah habis diambili massa pada pukul setengah delapan.

Pada hari libur, keadaannya sedikit membaik. Setidaknya, saya pernah datang ke sana pukul 9.30, dan masih mendapatkan nasi goreng tersebut… walaupun ini kasus langka sih. Saya ingat saya mengamati jam di kantin sambil berpikir,

“Wah, ini rekor.”

ketika saya masih mendapati jumlah nasi goreng cukup banyak untuk, sekurangnya, mengisi tiga piring lagi. Meskipun begitu, ini tetaplah sebuah pengecualian. Umumnya, Anda tak akan mendapatkan nasi goreng tersebut jika Anda baru datang pada pukul sembilan. 😐

Saya sendiri termasuk golongan yang sering gagal mendapatkan nasi goreng. Ini terjadi karena saya kuliah pagi terus sepanjang semester kemarin (empat hari berturut-turut masuk jam 7 😐 ). Ditambah lagi dengan kebiasaan bangun siang di hari libur, maka lengkaplah ketidakmampuan saya untuk mendapatkan sepiring nasi goreng khas kantin yang dimaksud.

Tapiii…. ada sebuah tapi, saudara-saudara.

Tapi.

Tapi.

Dua hari terakhir ini, ternyata saya bisa mendapatkan dua porsi nasi goreng. Setiap pagi, terhitung sejak Jumat kemarin, saya selalu berhasil mendapatkan sepiring nasi goreng langka yang sebenarnya tak hebat-hebat amat itu.

Ya, saya akhirnya BISA BANGUN PAGI DI HARI LIBUR!!!! 😆

SAYA BISA BANGUN PUKUL ENAM PAGI DI HARI LIBUR!!!!

SAYA BISA BANGUN PAGI DI HARI LIBUUUURRRRR…..!!!!

*ahem*

Ya, saya tahu ini berlebihan (u_u). Tapi, mengingat saya biasanya tidur pagi di hari libur, ini jadi terasa luar biasa. Biasanya saya menggambar dengan Photoshop, bikin komikstrip (misalnya yang ini, ini, atau ini), atau melanjutkan pengerjaan doujinshi sampai pukul enam pagi. Beberapa kali, saya bahkan melihat sinar matahari masuk kamar saya ketika saya belum tidur. Meskipun begitu, dua hari terakhir ini tampaknya kehidupan saya jadi rada membaik… sebab saya bisa tidur sebelum tengah malam, di hari libur, dan bangun tepat waktu di pagi hari. ^^

Maka, sebagai imbalannya, saya pun mentraktir diri saya sendiri porsi nasi goreng yang sering gagal saya dapatkan tersebut. Here goes the screenshot:

 

nasi-goreng.jpg

 

Nasi goreng, dengan dua buah rollade dan telur mata sapi sebagai tambahan. Rasanya?

Biasa. Ternyata cuma menang langkanya doang. 🙄

Ah, tapi setidaknya saya bisa mendapatkan nasi goreng yang jarang saya nikmati itu. Sebab, bukankah kata Nasruddin Hoja,

“Nilai dari segala sesuatu ditentukan dari kelangkaannya itu sendiri”

Setidaknya, saya masih berhasil mendapatkan sepiring nasi goreng yang berharga. Setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. 😆

Read Full Post »

Pelatnya Lucu… ^^

Siang tadi jalan-jalan, dan nemu mobil ini diparkir di suatu tempat:

 

 

Pelatnya lucu… ^^;;

-eh, mobilnya juga sih- 😛

Read Full Post »

Larangan yang Aneh…

Ceritanya, pagi ini saya menghadiri sebuah kuliah di jurusan saya. Nah, karena jumlah mahasiswanya yang banyak (soalnya kelasnya digabung), maka kuliah dilaksanakan di sebuah ruang besar.

Ruang yang rada canggih, kalau menurut saya. Soalnya di sana ada speaker gede tergantung; tempat proyektor infokus di dekat langit-langit; dan dinding kayu yang dilengkapi diffuser di ruang tersebut… tapi itu cerita lain lagi untuk saat ini.

Kembali ke topik. Jadi, saya kuliah di sana tadi pagi. Di tengah murungnya suasana dan aura ngantuk (jam 7 gitu lho 😛 ), pandangan saya pun melayang ke sisi jauh ruangan… dan menemukan plang berikut ini di sisi kanan saya.

 

 

Yang sebelah kanan sih saya ngerti maksudnya (“dilarang makan/minum dalam ruangan”). Tapi, yang kiri maksudnya apa ya? 😕

“Buanglah sampah pada tempatnya”, tapi dicoret. Apa artinya boleh nyampah di ruangan itu, ya? 😛

Read Full Post »