Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Nihongo’ Category

Melanjutkan pembahasan sebelumnya di sini.

 
Catatan:

Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman direktori nihongo.

 

6. Partikel “kara”

 
Partikel “kara” memiliki tiga fungsi dalam kalimat bahasa Jepang, dengan pembagian sebagai berikut:

 

(a) menyatakan asal

 
Dalam konteks ini, “kara” dipakai untuk menjelaskan dari mana suatu benda X berasal. Dalam Bahasa Indonesia, penggunaan ini diwakilkan oleh kata “dari”.

Misalnya Anda hendak menjelaskan bahwa Anda baru saja datang dari Jakarta. Dalam bahasa Jepang, Anda bisa menggunakan kalimat sebagai berikut:

[JAP] Watashi wa Jakarta kara kita.
[JAP] 私は Jakarta から来た

-> “Watashi” (私) = “saya”
-> “kita” (来た) = “datang” (bentuk lampau dari “kuru”)

[INA] Saya datang dari Jakarta.

Contoh lain…

[JAP] Kimi kara no PUREZENTO
[JAP]からのプレゼント

-> “kimi” (君) = “kamu”
-> “PUREZENTO” (プレゼント) = “hadiah”

[INA] Hadiah dari kamu

 

(b) menyatakan sejak

 
Well… seperti kata “sejak” dalam bahasa Indonesia. What else? ^^;

[JAP] Nananen mae kara, Taro wa BA de hataraku.
[JAP] 七年前からタロはバーで働く

-> “nananen mae” (七年前) = “tujuh tahun lalu” =
-> “BA” (バー) = “bar” (serapan dari kata Inggris yang sama)
-> “hataraku” (働く) = “bekerja”

[INA] Sejak tujuh tahun lalu, Taro bekerja di bar.

[JAP] Daigaku toki kara, ano futari wa tomodachi desu.
[JAP] 大学ときからあの二人は友達です

-> “daigaku toki” (大学とき) = “saat kuliah” / “waktu kuliah”
-> “ano futari” (あの二人) = “dua orang itu” / “mereka berdua”
-> “tomodachi” (友達) = “teman baik”

[INA1] Sejak kuliah, mereka berdua teman baik.
(literal)

[INA2] Mereka berdua teman baik sejak kuliah.
(bentuk kalimat disempurnakan)

 

(c) menyatakan sebab

 
Untuk penggunaan ini, partikel “kara” memiliki fungsi yang mirip dengan kata “karena” dalam Bahasa Indonesia. Tujuannya adalah menghubungkan dua buah klausa dengan hubungan sebab-akibat.

Contoh:

[JAP] Okane ga aru kara, karaoke he ikimashou!
[JAP] お金があるから、カラオケへ行きましょう!

-> “okane” (お金) = “uang”
-> “aru” (ある) = “ada” / “dimiliki”
-> “ikimashou” (行きましょう) = “ayo pergi”

[INA] Karena kita ada uang, mari pergi karaoke!

[JAP] Jikan ga nai kara, watashi wa KURASU he hashiru.
[JAP] 時間が無いから私はクラスへ走る

-> “jikan” (時間) = “waktu”
-> “nai” (無い) = “tidak ada” / “kehabisan”
-> “KURASU” (クラス) = “kelas”
-> “hashiru” (走る) = berlari”

[INA] Karena kehabisan waktu, saya berlari ke kelas.

***

 
7. Partikel “made”

 
Partikel “made” merupakan kebalikan dari fungsi (b) partikel “kara” yang telah dibahas sebelumnya. Jika “kara” diantaranya berfungsi menyatakan “sejak”, maka partikel “made” memiliki fungsi menyatakan makna “hingga”.

Bersinonim juga dengan kata “sampai” dalam bahasa Indonesia.

Contoh penggunaan:

[JAP] Juunigatsu made, Arima-san wa Yokohama ni imasu.
[JAP] 十二月まで、アリマさんは横浜にいます

-> “juunigatsu” (十二月) = “Desember” / “bulan Desember”
-> “imasu” (います) = “ada” / “berada” (bentuk -masu dari “iru”)

[INA1] Hingga bulan Desember, Tuan Arima berada di Yokohama
(literal)

[INA2] Tuan Arima berada di Yokohama hingga bulan Desember.
(bentuk alternatif)

[JAP] Tokyo made arukidasou!
[JAP] 東京まで歩きだそう!

-> “arukidasou” (歩きだそう) = “ayo berjalan kaki”

[INA] Ayo jalan kaki sampai Tokyo!

Partikel “made” bisa juga digunakan untuk menjelaskan “hingga kondisi tertentu”. Misalnya,

[JAP] Moetsukiru made ore wa ganbaru!
[JAP] 燃え尽きるまで俺 は 頑張る!

-> “moetsukiru” (燃え尽きる) = “kelelahan” / “tak mampu lagi”
-> “ore” (俺) = “saya” (laki-laki, informal)
-> “ganbaru” (頑張る) = “berjuang”

[INA1] Sampai tak mampu lagi, saya akan berjuang!
(literal)

[INA2] Saya akan berjuang sampai tak mampu lagi!
(bentuk alternatif)

[JAP] Asa ga kuru made, boku wa nemurenai.
[JAP] 朝が来るまで、僕は寝むれない

-> “asa” (朝) = “pagi”
-> “kuru” (来る) = “tiba”
-> “boku” (僕) = “saya” (untuk laki-laki)
-> “nemurenai” (寝むれない) = “tak bisa tidur”

[INA] Hingga pagi tiba, saya tak bisa tidur.

***

 

8. Partikel “dake”

 
Dalam bahasa Indonesia, partikel “dake” umum diterjemahkan sebagai kata “hanya”. Dengan demikian, kegunaannya adalah untuk menyatakan ekspresi “tidak lebih dari” benda yang dinyatakan dalam kalimat.

Well, agak sulit jika dijabarkan dalam bentuk kalimat seperti di atas; jadi lebih baik kita langsung beranjak dengan contoh:

[JAP] Sonna koto wa Sensei dake ga wakaru.
[JAP] そんな事先生だけが分かる

-> “sonna koto” (そんな事) = “hal semacam itu”
-> “sensei” (先生) = “guru”
-> “wakaru” (分かる) = “mengerti” / “tahu”

[INA] Hal seperti itu, hanya Pak Guru saja yang mengerti.

Contoh lain…

[JAP] Kokoro wa watashi dake no.
[JAP] 心は私だけ

-> “kokoro” = “hati” = 心

[INA] Hati (ini) hanya milik saya seorang.

[JAP] Daisuki na tabemono wa, AISUKURIIMU dake desu!
[JAP] 大好きな食べ物はアイスクリームだけです!

-> “daisuki na” (大好きな) = “yang paling disukai”
-> “tabemono” (食べ物) = “makanan”
-> “AISUKURIIMU” (アイスクリーム) = “es krim”

[INA] Makanan yang paling saya suka hanya satu, es krim!

***

 

 

Bersambung ke bagian 6… surprisingly, masih tentang partikel. Kapan saya bahas tenses kalo begini? ^^;

Read Full Post »

Melanjutkan tulisan tentang kata ganti orang pertama dan kedua di [sini]

 
Catatan:

Post-post lain yang berkaitan dengan bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman [direktori nihongo]

 

Kata Ganti Orang Ketiga Tunggal

(i.e. “dia”, “orang itu”, dan sebagainya)

 

[latin] “kare”
[kanji]

–> Dipakai untuk menyatakan “dia” yang merujuk pada laki-laki. Kurang lebih sama dengan kata “he” dalam bahasa Inggris.

Catatan: kata ini bisa juga digunakan untuk menyebut kekasih (pria). Meskipun begitu bentuk yang lebih umum untuk fungsi tersebut adalah “kareshi” (彼氏).

 

[latin] “kanojo”
[kanji] 彼女

–> Dipakai untuk menyatakan “dia” yang merujuk pada perempuan; kurang lebih sama dengan kata “she” dalam bahasa Inggris. Sama dengan “kare”, “kanojo” juga bisa dipakai untuk menyebut kekasih (dalam hal ini wanita).

 

[latin] “ano hito”
[kanji] あの人

-> Secara harfiah bermakna “orang itu” (dari kata “ano” (あの, ‘itu’) + hito (人 ‘orang’). Dipakai untuk pembicaraan formal.
 

[latin] “kono hito”
[kanji] この人

-> Secara harfiah bermakna “orang ini” (dari kata “kono” (この, ‘itu’) + hito (人 ‘orang’). Dipakai untuk pembicaraan formal.

 

[latin] “aitsu”
[kanji] 彼奴 ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana あいつ

-> Bentuk informal/kasar dari “ano hito” yang disebut sebelumnya. Berasal dari gabungan kata “ano” (彼, ‘itu’) + “yatsu” (奴, ‘orang’/’seseorang’).

 

[latin] “soitsu”
[kanji] 其奴 ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana そいつ

-> Informal, sama dengan “aitsu”. Gabungan dari kata “sono” (其, ‘itu’) + “yatsu” (奴). Relatif jarang dipakai dibandingkan “aitsu”.

 

[latin] “koitsu”
[kanji] 此奴 ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana こいつ

-> Bentuk informal dari “kono hito”. Gabungan dari kata “kono” (此, ‘ini’) + “yatsu” (奴).

 

 

Kata Ganti untuk Bentuk Jamak

(i.e. “kami”, “mereka”, dan sebagainya)

 

Untuk membentuk kata ganti jamak, aturannya cukup mudah. Kita tinggal dengan menambahkan akhiran -tachi (untuk penggunaan formal) atau -ra (untuk penggunaan informal) pada kata ganti tunggal.

Contoh:

[JAP] “watashi”(私) + “-tachi” (たち) = “watashitachi”(私たち)
[INA] (saya) + (-tachi) = (kami)

[JAP] “kare”(彼) + “-ra” (ら) = “karera” (彼ら)
[INA] (dia) + (-ra) = (mereka)

-> umumnya untuk menyatakan sekelompok laki-laki

 

Meskipun begitu, penggunaan akhiran -ra dan -tachi ini sangat tergantung pada kata ganti yang hendak diimbuhi. Sebagai contoh, kita bisa membentuk jamak dari kata “boku” (僕) menjadi “bokura” (僕ら) serta “bokutachi” (僕たち). Akan tetapi kita tak bisa membentuk kata ganti jamak berupa “kimira” (kimi + ra) atau “watashira” (watashi + ra) — untuk itu kata ganti jamaknya adalah “watashitachi” (私たち) dan “kimitachi” (君たち).

Pembagiannya bisa dilihat dalam tabel berikut:

……………… ……………… ………………
Bentuk Asal -tachi -ra
……………… ……………… ………………
watashi
atashi
watakushi
atakushi
watashitachi
atashitachi
watakushitachi
atakushitachi
……………… ……………… ………………
boku bokutachi bokura
ore oretachi
……………… ……………… ………………
anata
anta
kimi
anatatachi
antatachi
kimitachi
……………… ……………… ………………
omae omaetachi omaera
temae temaera
……………… ……………… ………………
kare karera
kanojo[1]
………… ………… …………
ano hito
kono hito
aitsu
soitsu
koitsu
ano hitotachi
kono hitotachi
aitsutachi
soitsutachi
koitsutachi


aitsura
soitsura
koitsura

 

Keterangan:

[1] “kanojo” biasanya tak disebut dengan jamak; penggunaan untuk ini umumnya di-cover oleh “aitsura”.

 

 

Catatan Tambahan mengenai suffix -tachi

 
Secara umum, -tachi mempunyai kegunaan tambahan, yaitu menyatakan grup yang menyertai seseorang. Di Bahasa Indonesia, kita biasa menyebutnya “dan kawan-kawan”.

Contoh:

[JAP] Yamada-san-tachi wa Tokyo e ikimasu
[INA] Tuan Yamada dan kawan-kawan pergi ke Tokyo

Akhiran -tachi juga dapat digunakan untuk menyatakan keadaan benda yang “banyak” atau “lebih dari satu”. Misal:

[JAP] koibitotachi
[INA] “pasangan kekasih”
–> bisa juga bermakna “pasangan-pasangan kekasih”

[JAP] hitotachi
[INA] “orang-orang” / “banyak orang”

***

Sekian topik tentang kata ganti dan bentuk jamaknya. Tambahan, koreksi, atau pertanyaan bisa disampaikan lewat fasilitas komentar di bagian bawah post ini. 😉

Read Full Post »

Melanjutkan pembahasan sebelumnya di sini.

 
Catatan:

Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman direktori nihongo.

 

4. Partikel “ya” dan “to”
 

Partikel “ya” dan “to” memiliki arti yang mirip, yaitu sama dengan kata sambung “dan” dalam bahasa Indonesia. Fungsinya adalah menyatakan sejumlah benda secara bersamaan.

Meskipun demikian, terdapat suatu perbedaan. Partikel ‘to’ digunakan untuk menyatakan himpunan lengkap. Sedangkan partikel ‘ya’ dipakai untuk menyatakan himpunan sebagian.

Well… kedengarannya memang agak rumit sih. Meskipun begitu, penjelasannya akan lebih mudah jika diterapkan dalam contoh berikut:

 
[JAP] Watashi to Taro wa tomodachi desu.
[JAP]タロは友達です

-> “watashi” (私) = “saya”
-> “tomodachi” (友達) = “sahabat” / “teman dekat”

*) “Taro” di sini adalah nama orang

[INA] Saya dan Taro adalah teman dekat.

Dalam contoh di atas, subyek dibatasi pada “saya” dan “Taro”. Dengan kata lain, hanya “saya” dan “Taro” yang menjadi pokok pembicaraan di sini.

Sedangkan penggunaan partikel ‘ya’ agak sedikit berbeda:

 
[JAP] Shiki ya Arihiko ga KAFETERIA ni iru
[JAP] シキアリヒコはカフェテリアにいる

-> “KAFETERIA” (カフェテリア) = “kantin”/”kafetaria”
-> “iru” (いる) = “ada”/”berada”

*) “Shiki” serta “Arihiko” di sini adalah nama orang

[INA] Shiki dan Arihiko berada di kafetaria

Dalam penggunaan di atas, terlihat bahwa Shiki dan Arihiko sama-sama berada di kafetaria. Meskipun demikian, tidak hanya mereka berdua saja yang ada di kafetaria — melainkan juga terdapat orang-orang lain.

Dapat dikatakan bahwa partikel ‘to’ mewakili complete list. Sedangkan partikel ‘ya’ menyatakan incomplete list.

 

5. Partikel “he”
 

Partikel ‘he’ (atau biasa diucapkan ‘e’) berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan arah.

Misalnya, dalam bahasa Indonesia kita biasa menyatakan:

 
[INA] Saya pergi ke kampus

Dalam bahasa Jepang, kalimat tersebut akan berbunyi sebagai berikut:

 
[JAP] Watashi wa daigaku he iku
[JAP] 私は大学行く

-> “watashi” (私) = “saya”
-> “daigaku” (大学) = “kampus”
-> “iku” (行く) = “pergi”

[INA] Saya pergi ke kampus

Contoh lain…

 
[JAP] Ano otoko wa TOIRETTO he hashiru
[JAP] あの男はトイレット走る

-> “ano otoko” (あの男) = “pria itu”
-> “TOIRETTO” (トイレット) = “toilet”
-> “hashiru” (走る) = “berlari”

[INA] Pria itu berlari ke arah toilet.

Jadi di sini, terlihat bahwa partikel ‘he’ menyatakan arah dari suatu pergerakan/aktivitas. Misalnya “pergi” (iku), “berlari” (hashiru), “berjalan” (aruku), dan lain sebagainya. ^^

***

Sekian dulu untuk sesi kali ini. Pembahasan selanjutnya tentang partikel disambung di bagian 5. 😉

Read Full Post »

Pre-post Note:

Seharusnya post ini sudah saya upload di bagian awal kategori nihongo di blog ini, yaitu setelah post Struktur Dasar Bahasa Jepang (informal) (1). Meskipun begitu, karena satu dan lain hal, maka baru bisa saya post hari ini. ^^;;

Selamat membaca. 😉

 

Tambahan:

Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman direktori nihongo.

 

 

Dalam bahasa Indonesia, kita membagi penggunaan kata ganti untuk menyebut orang lain berdasarkan tingkat kesopanan. Misalnya,

[INA] “Saya”
–> untuk pembicaraan formal

 
[INA] “Aku”
–> untuk suasana yang lebih santai

 
[INA] “Gue”, “Aing”, dan sebagainya
–> untuk pembicaraan antar teman, berkesan kasar
(contoh mengambil dialek Jakarta dan Bandung)

[INA] “Anda”
–> untuk pembicaraan formal

 
[INA] “Kamu”
–> untuk suasana yang lebih santai

 
[INA] “Lo”, “Maneh”, dan sebagainya
–> untuk pembicaraan antar teman, berkesan kasar
(contoh mengambil dialek Jakarta dan Bandung)

 

Dalam bahasa Jepang, prinsip yang sama juga berlaku. Kata ganti yang kita gunakan akan berbeda tergantung pada siapa orang yang kita ajak bicara. Meskipun demikian, kata ganti bahasa Jepang memiliki variasi lebih luas daripada yang kita miliki di Bahasa Indonesia.

Pembagiannya dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

 
Kata Ganti Orang Pertama

(i.e. “saya”, “aku”, dan sebagainya)

 

[JAP] “watashi”
[Kanji]

–> kurang lebih sama dengan “saya” di Bahasa Indonesia. Konotasinya netral; bisa digunakan baik oleh pria maupun wanita.

 
[JAP] “watakushi”
[Kanji] 私 — sama dengan “watashi”

–> kata ganti sangat formal; biasa diucapkan oleh politisi/orang yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat. Beberapa kali digunakan oleh Lacus Clyne dalam pidato politiknya di Gundam SEED Destiny. nyontohin dari anime ajalah xD

 
[JAP] “atashi”
[Kanji] 私 — sama dengan “watashi”

–> kata ganti “saya”, khusus digunakan oleh wanita. Lebih informal daripada “watashi”.

 
[JAP] “atakushi”
[Kanji] 私 — sama dengan “watashi”

–> bentuk lebih formal dari “atashi”; merupakan bentuk feminin dari “watakushi”.

 
[JAP] “boku”
[Kanji]

–> mirip seperti “aku” dalam bahasa Indonesia. Umumnya hanya digunakan oleh pria, walaupun tokoh-tokoh wanita seperti Ayu Tsukimiya dan Hiyori Kusakabe juga memakai kata ini untuk menyebut diri mereka. ^^;;

 
[JAP] “ore”
[Kanji]

–> penggunaannya mirip kata “gue” dalam bahasa gaul Indonesia. HANYA digunakan oleh pria dalam pergaulan; tendensinya lebih kasar daripada “boku” dan cenderung meninggikan diri sendiri.

 
[JAP] “washi”
[Kanji] tidak ada; hanya ditulis dengan hiragana わし

–> yang ini hanya digunakan oleh orang-orang tua. Priest Amon di serial GARO sering menggunakan kata ini ketika berbicara. ^^

 
[JAP] “ware”
[Kanji]

–> artinya sama dengan “saya”. IMO, penggunaannya tak jauh berbeda dibandingkan dengan “watashi”.

 

 

Kata Ganti Orang Kedua

(i.e. “Anda”, “Kamu”, dan sebagainya)

 

[JAP] “anata”
[Kanji] 貴方 ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana あなた

–> bentuk umum untuk menyatakan “Anda”. Bisa juga digunakan untuk kepentingan formal.

 
[JAP] “kimi”
[Kanji]

–> kurang lebih sama dengan kata “kamu” di Bahasa Indonesia. Bisa dipakai untuk berdiskusi dengan teman atau orang yang lebih muda daripada Anda.

 
[JAP] “omae”
[Kanji] お前

–> lebih kasar dibandingkan “kimi”. Umumnya digunakan dalam pergaulan di mana Anda tak merasa perlu menghormati orang-orang di dalamnya. Penggunaannya mirip kata “lu” dalam dialek “gua-elu”. ^^

 
[JAP] “anta”
[Kanji] tidak ada, hanya ditulis dengan hiragana あんた

–> hanya digunakan pada rekan akrab, atau pada orang yang lebih ‘tinggi’ tapi tidak Anda ingin hormati ( 😛 ). Sering dipakai oleh Shirou Kamui ketika berbicara dengan Hinoto-hime dalam serial X.

 
[JAP] “temme”
[Kanji] tidak ada, hanya ditulis dengan hiragana てっめ

–> kata ini digunakan jika Anda sedang ingin merendahkan lawan bicara. Umumnya dipakai di dunia kaum berandal semacamnya Harima Kenji dan Sawamura Seiji. ^^;;

 
[JAP] “kisama”
[Kanji] 貴様

–> kata “kamu” yang sarkastis. Bisa digunakan kalau Anda punya orang yang Anda benci, sedemikian hingga Anda siap berkelahi dengannya saat itu juga. 😛

 
[JAP] “onore”
[Kanji]

–> hanya digunakan untuk mengutuk dan menghina. SANGAT kasar. Pernah diucapkan oleh Horror menara jam di GARO episode 3.

***

 

Derajat Kesopanan?

 
Berhubung kesopanan adalah hal yang sangat menentukan dalam bahasa dan budaya Jepang (di samping situasi di mana diskusi berlangsung), maka berikut ini saya mengurutkan kata ganti di atas berdasarkan nilai kesopanannya. Urutannya kurang lebih sebagai berikut:

 
Untuk Kata Ganti Orang Pertama

  1. watakushi = atakushi
  2. (sangat sopan)

  3. watashi = washi = ware
  4. (sopan, tapi umum juga digunakan dalam keseharian)

  5. atashi = boku
  6. (informal)

  7. ore
  8. (sangat informal)

 

Untuk Kata Ganti Orang Kedua

  1. anata
  2. (sopan, tapi umum juga digunakan dalam keseharian)

  3. kimi
  4. (informal)

  5. anta
  6. (tidak hormat)

  7. omae
  8. (agak kasar)

  9. temme = kisama
  10. (sangat menghina 😛 )

  11. onore
  12. (mengutuk lawan bicara. Jarang digunakan, IMO. 😕 )

***

Yah, kurang lebih seperti itu sih. Penjelasan mengenai kata ganti orang ketiga dan jamak akan disambung di post yang lain. 🙂

 

 

—–

Ps:

Masukan dan pertanyaan bisa disampaikan lewat kolom komentar di bagian bawah post ini.

Read Full Post »

[nihongo-3] Partikel ‘ni’

Bagian sebelumnya:

Struktur Dasar (1) – kalimat aktif sederhana
Struktur Dasar (2) – partikel ‘no’ dan ‘de’

Catatan:

Post ini merupakan kelanjutan langsung dari pembahasan bagian 2. Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman direktori nihongo.

 


3. Partikel ‘ni’

 
Secara umum, partikel ‘ni’ memiliki kegunaan yang luas. Penggolongannya dapat dijabarkan lewat poin sebagai berikut:
 

 
(a) menyatakan situasi di suatu tempat
 

Sekilas, penggunaan partikel ‘ni’ di sini mirip dengan partikel ‘de’ yang telah dibahas sebelumnya. Meskipun begitu, ada perbedaan kecil yang harus diperhatikan:

Partikel ‘ni’ digunakan untuk menjelaskan situasi tempat. Sedangkan partikel ‘de’ berfungsi menjelaskan lokasi berlangsungnya kejadian.

Sehubungan dengan itu, penggunaan partikel ‘ni’ kurang lebih bisa dicontohkan seperti berikut.

 
[JAP] Daigaku ni, RABU ga aru
[JAP] 大学ラブがある

-> “daigaku” (大学) = “kampus”
-> “RABU” (ラブ) = “lab/laboratorium”
-> “aru” (ある) = “ada/terdapat”

[INA] Di kampus, terdapat laboratorium

Perlu diperhatikan bahwa di sini partikel ‘ni’ hanya menjelaskan situasi di suatu tempat. Jika kita hendak menuliskan suatu kejadian dengan keterangan tempat, maka kita harus mengunakan partikel ‘de’.

Contoh perbedaan:

 
[INA] Di sana, saya menunggu.

[JAP1] Asoko ni, watashi ga matteta
—> penggunaan yang SALAH

[JAP2] Asoko de, watashi ga matteta
—> penggunaan yang BENAR

Meskipun begitu, terkadang beberapa lirik lagu (yang kalimatnya terpenggal-penggal) mengesankan seolah kedua partikel ini bisa dipertukarkan. E.g.

 
[JAP1] Kokoro no naka ni

[JAP1] Kokoro no naka de

[INA] Di dalam hati…

Sebenarnya ini agak menipu. Penggunaan partikel di atas tidak menyertakan kalimat lanjutan, yang boleh jadi sifatnya menjelaskan kegiatan (harus menggunakan ‘de’) — atau sekadar menjelaskan situasi (harus menggunakan ‘ni’).

 
(b) menyatakan waktu
 

Partikel ‘ni’ juga bisa digunakan untuk menyatakan waktu berlangsungnya suatu peristiwa. Umumnya digunakan bersama dengan bilangan jam atau penunjuk waktu lainnya.

Contoh:

 
[JAP] Ichiji ni, watashi ga iku
[JAP] 一時私が行く

-> “ichiji” (一時) = “jam satu” / “pukul satu”
-> “watashi” (私) = “saya”
-> “iku” (行く) = “pergi”

[INA] Saat pukul satu, saya pergi

Contoh lain,

 
[JAP] Juunigatsu ni, yuki ga furu
[JAP] 十二月雪が降る

-> “Juunigatsu” (十二月) = “Desember” (literal: “bulan ke-12”)
-> “yuki” (雪) = “salju”
-> “furu” (降る) = “jatuh/turun” (e.g. untuk hujan, salju, dsb)

[INA] Saat Desember, salju turun

 
(c) menjelaskan keadaan subyek
 

Untuk penggunaan ini, partikel ‘ni’ tidak berdiri sendiri, melainkan ditemani oleh partikel ‘wa’. Dengan demikian, polanya akan menjadi “[subyek] ni wa…”

Contoh penerapannya:

 
[JAP] Watashi ni wa, sore de ii
[JAP]にはそれでいい

-> “watashi” (私) = “saya”
-> “sore” (それ) = “itu” / “hal itu”
-> “ii” (いい) = “baik” / “tidak masalah”

[INA] Kalau bagi saya, hal itu tidak masalah

Contoh yang lebih kompleks, bisa juga sebagai berikut:

 
[JAP] Yo no naka ni wa, mahou kishi ga aru
[JAP] 代の中には魔法騎士がある

-> “yo no naka” (代の中) = “dalam dunia ini”
-> “mahou kishi” (魔法騎士) = “ksatria sihir”
-> “aru” = “ada”/”terdapat” = ある

[INA] Di dalam dunia ini, terdapat ksatria sihir

Pada dasarnya, partikel ‘ni’ yang disertai ‘wa’ ini berfungsi menjelaskan keadaan si subyek yang disebut sebelumnya. ^^

 
(d) menjelaskan perlakuan obyek pada subyek
 

Judul di atas agak terlalu teknis; jadi baiknya kita langsung jelaskan dengan contoh saja ^^;;

Misalnya Anda punya teman, yang mengalahkan Anda dalam bermain game. Maka, dalam bahasa Indonesia, hal itu bisa digambarkan sebagai berikut:

[INA] Saya kalah melawan dia

Nah, dalam bahasa Jepang, pernyataan ini bisa diterjemahkan sebagai:

 
[JAP] Watashi wa aitsu ni maketa
[JAP] 私はあいつ負けた

-> “watashi” (私) = “saya”
-> “aitsu” (あいつ) = “orang itu” / “dia” (bentuk informal)
-> “maketa” (負けた) = “kalah” (bentuk lampau dari makeru)

[INA] Saya kalah dari dia

Pada dasarnya, penggunaan partikel ‘ni’ yang ini berfungsi menunjukkan apa yang dilakukan obyek (“dia”) kepada subyek (“saya”).

Contoh lain,

 
[JAP] Kira wa Shinn ni awadateru
[JAP] キラはシン泡立てる

-> “awadateru” (泡立てる) = “memukul” / “menampar”
-> “Kira” (キラ) dan “Shinn” (シン) adalah nama orang

[INA] Kira ditampar oleh Shinn

***

Kurang lebih demikianlah beberapa contoh penggunaan partikel ‘ni’ dalam bahasa Jepang. Penjelasan tentang partikel-partikel lainnya disambung di bagian empat. 😉

 

[bersambung ke bagian 4]

Read Full Post »

Catatan:

Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman direktori nihongo.

 

Sebetulnya, post ini adalah bagian terpisah — dan tidak terkait dengan dua post terdahulu tentang struktur gramatikal bahasa Jepang (yang ditulis di sini dan sini). Meskipun begitu, sehubungan dengan adanya beberapa request soal kalimat greetings, maka akan saya tuliskan beberapa diantaranya di post ini.

(ahem, mudah-mudahan dua mbak itu bisa tenang setelah ini, setelah sebelumnya nagihin greetings terus-terusan. :mrgreen: )

OK, here goes…

 

Note:
Bentuk-bentuk yang diberikan di sini adalah ucapan yang bertendensi sopan pada lawan bicara. Jadi, di sini Anda akan lebih sering menemukan partikel “desu” (bukannya “da”). Ini juga akan diwakili dengan pemberian akhiran -masu pada berbagai kata kerja, berbeda dengan berbagai bentuk dasar yang sudah dicontohkan di dua post sebelumnya. ^^

 


Yang Umum diucapkan di Awal Pembicaraan

 

[JAP] Ohayou / Ohayou gozaimasu
[INA] “selamat pagi”

 
[JAP] Konnichiwa
[INA] “selamat siang”

 
[JAP] Konbanwa
[INA] “selamat malam”

 
[JAP] Yoroshiku onegaishimasu
[INA] “mohon bimbingannya” / “mohon bantuannya”

–> (biasanya diucapkan pada saat berkenalan, atau pada saat akan mengerjakan sesuatu bersama-sama)

 
[JAP] O genki desu ka?
[INA] “Apakah Anda sehat?”

 
[JAP] O kage desu
[INA] “Saya sehat-sehat saja.”
–> (digunakan untuk menjawab “O genki desu ka?”)

 
[JAP] Kyou wa ii o tenki desu ne?
[INA] “Cuaca hari ini bagus, bukan?”

 
[JAP] Youkoso!
[INA] “Selamat datang!”

 
[JAP] Moshi-moshi…
[INA] “Halo…” (berbicara lewat telepon)

 

 

Yang Umum diucapkan Selama Percakapan Berlangsung

 

[JAP] Hai
[INA] “Ya”

–> (untuk menyetujui sesuatu atau menjawab pertanyaan)

 
[JAP] Iie
[INA] “Tidak”

–> (kebalikannya “hai”)

 
[JAP] Arigatou / Arigatou gozaimasu
[INA] “Terima kasih”

–> (gozaimasu di sini dipakai untuk ucapan formal, atau bisa juga menyatakan “terima kasih banyak”)

 
[JAP] Gomen na sai
[INA] “Mohon maaf”

 
[JAP] Sumimasen
[INA] “Permisi”

–> (bisa juga diterapkan untuk minta maaf seperti “gomen na sai”)

 
[JAP] Zannen desu
[INA] “sayang sekali” / “amat disayangkan”

 
[JAP] Omedetou, ne
[INA] “Selamat ya”

–> (untuk beberapa hal yang baru dicapai, e.g. kelulusan, menang lomba, dsb)

 
[JAP] Dame / Dame desu yo
[INA] “jangan” / “sebaiknya jangan”

 
[JAP] Suteki desu ne
[INA] “Bagus ya…” / “indah ya…”

–> (untuk menyatakan sesuatu yang menarik, e.g. ‘hari yang indah’)

 
[JAP] Sugoi! / Sugoi desu yo!
[INA] “Hebat!”

 
[JAP] Sou desu ka
[INA] “Jadi begitu…”

–> (menyatakan pengertian atas suatu masalah)

 

[JAP] Daijoubu desu / Heiki desu
[INA] “(saya) tidak apa-apa” / “(saya) baik-baik saja”

 

 

Jika Anda Kesulitan menangkap Ucapan Lawan Bicara Anda

 

[JAP] Chotto yukkuri itte kudasai.
[INA] “Tolong ucapkan lagi dengan lebih lambat.”

 
[JAP] Mou ichido itte kudasai.
[INA] “Tolong ucapkan sekali lagi.”

 
[JAP] Motto hakkiri itte kudasai.
[INA] “Tolong ucapkan dengan lebih jelas.”

 

 

Untuk Mengakhiri Pembicaraan

 

[JAP] Sayonara
[INA] “Selamat tinggal”

 
[JAP] Mata aimashou
[INA] “Ayo bertemu lagi kapan-kapan”

 
[JAP] Ja, mata / mata ne
[INA] “Sampai jumpa”

 
[JAP] Mata ashita
[INA] “Sampai jumpa besok”

 

 

Beberapa Kalimat yang Tidak Selalu Muncul dalam Dialog, tetapi merupakan Elemen Kebudayaan Jepang

 

[JAP] Irasshaimase!
[INA] “Selamat datang!”

–> (kalimat ini hanya diucapkan oleh petugas toko ketika Anda berkunjung)

 
[JAP] Ittekimasu!
[INA] “Berangkat sekarang!”

–> (kalimat ini diucapkan ketika Anda hendak pergi meninggalkan rumah pada orang yang tetap tinggal di dalam)

 
[JAP] Itterasshai
[INA] “Hati-hati di jalan”

–> (diucapkan ketika seseorang hendak pergi ke luar rumah; umumnya sebagai jawaban untuk “Ittekimasu”)

 
[JAP] Itadakimasu
[INA] [literal] “Terima kasih atas makanannya”

–> (kalimat ini sebenarnya tidak diartikan secara harfiah. Masyarakat Jepang biasanya mengucapkan kalimat ini sebagai ungkapan rasa syukur atas makanan yang dihidangkan)

 
[JAP] Gochisousama deshita
[INA] [literal] “perjamuan/hidangan sudah selesai”

–> (seperti “Itadakimasu”, kalimat ini juga tidak diartikan secara harfiah. Masyarakat Jepang pada umumnya mengucapkan kalimat ini seusai makan)

 
[JAP] Kimochi ii…!
[INA] [literal] “terasa nyaman”

–> (umum diucapkan jika Anda merasakan sesuatu yang nyaman di suatu tempat. E.g. ketika Anda pergi ke gunung dan merasa bahwa udaranya bagus, kalimat ini bisa dipakai untuk mengekspresikannya. ^^ )

 

***

 

Yah, kira-kira segitu sih. Tentunya karena cuma mencakup sebagian, masih banyak yang bisa ditambahi lagi. Paling tidak, beberapa contoh di atas sudah mencakup beberapa kalimat dialog standar dalam Bahasa Jepang.

Ada yang mau menambahkan?

sambil lirik mbak Hiruta 😛

Read Full Post »

Tulisan ini melanjutkan pembahasan tentang kalimat aktif sederhana di sini

 

Catatan:

Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman direktori nihongo.

 

First off…

 
Berbeda dengan bahasa Indonesia, bahasa Jepang tidak menggunakan imbuhan untuk membedakan subyek (S), predikat (P), obyek (O), dan keterangan (K). Dalam bahasa Jepang kita menentukan S, P, O, dan K dari partikel yang terdapat dalam kalimat.

Contoh dari pembahasan sebelumnya:

[JAP] Watashi wa CHOKOREETO wo taberu.

[INA] Oleh saya, coklat dimakan.

Di sini terlihat bahwa untuk subyek partikel penandanya adalah “wa” (atau “ga”); sedangkan untuk obyek penandanya adalah “wo”. Dengan demikian kita dapat membentuk kalimat aktif dasar berpola Subyek-Predikat-Obyek.

Bagaimana dengan keterangan?

Untuk fungsi keterangan, bahasa Jepang menggunakan beberapa partikel tambahan selain yang telah disebutkan. Post ini akan mengupas dua dari berbagai partikel keterangan tersebut — disusul beberapa lainnya di tulisan bagian 3, 4, dan 5.

 
Beberapa Partikel Keterangan yang Umum Dipakai

 
1. Partikel ‘no’ (の)

 
Secara umum, partikel ‘no’ memiliki dua fungsi, yaitu (1) menyatakan kepemilikan dan (2) menerangkan benda yang dimaksud. Contoh penggunaannya adalah seperti berikut:

 
(a) menyatakan kepemilikan
 

[JAP] Watashi no tokei
[JAP]時計

-> “watashi” (私) = “saya”
-> “tokei” (時計) = “jam”

[INA] Jam milik saya

Perhatikan bahwa di sini posisi subyek (“saya”) dan benda (“jam”) bertukar, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Prosesnya sendiri kurang-lebih sama dengan yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Contoh lain…

[JAP] Okaa-san no kimono
[JAP] お母さん着物

-> “okaa-san” (お母さん) = “ibu”
-> “kimono” (着物) = baju tradisional Jepang

[INA] Kimono milik Ibu

 
(b) menerangkan benda yang dimaksud
 

Dalam penggunaan yang ini, partikel ‘no’ bermakna mirip dengan kata “yang” di Bahasa Indonesia. Fungsinya adalah menjelaskan sesuatu benda secara detail.

Contoh:

[JAP] Ano hidari no e ga kirei desu.
[JAP] あの左絵がきれいです。

-> “ano” (あの) = “itu”
-> “hidari” (左) = “kiri/sebelah kiri”
-> “e” (絵) = “lukisan”
-> “kirei” (きれい) = “cantik”

[INA1] Yang sebelah kiri, lukisannya cantik.
(literal)

[INA2] Lukisan yang sebelah kiri itu cantik.
(bentuk disesuaikan)

Contoh lain…

[JAP] Ichiban no eiyuu wa ULTRAMAN desu.
[JAP] 一番英雄は ULTRAMAN です

-> “ichiban” (一番) = “terbaik/terhebat”
-> “eiyuu” (英雄) = “pahlawan”

[INA1] Yang terhebat, pahlawan, adalah ULTRAMAN.
(literal)

[INA2] Pahlawan terhebat adalah ULTRAMAN. (bentuk disesuaikan)

***

Berbagai penggunaan lain dari partikel ini bisa diturunkan dari dua fungsi di atas, walaupun terkadang agak kurang berterima dalam bahasa Indonesia.

E.g.

[JAP] kumo no ue
[JAP]

-> “kumo” (雲) = “awan”
-> “ue” (上) = “atas”

[INA1] Atasnya awan

[INA2] Di atas awan
(bentuk disesuaikan)

……


2. Partikel ‘de’ (で)

 
Seperti halnya partikel ‘no’, partikel ‘de’ mempunyai dua fungsi umum. Yang pertama, menyatakan tempat; dan kedua, menyatakan cara.

 
(a) untuk menyatakan tempat

 
Maknanya kira-kira sama seperti kata “di” dalam Bahasa Indonesia. Penggunaan ini agak mirip dengan partikel ‘ni’ — akan tetapi, untuk saat ini, kita belum akan membahasnya.

Contoh penggunaan:

[JAP] Kissaten de hataraku.
[JAP] 喫茶店働く

-> “Kissaten” (喫茶店) = “kafe”
-> “hataraku” (働く) = “bekerja”

[INA1] Di kafe, (saya) bekerja.

[INA2] Saya bekerja di kafe.
(bentuk disesuaikan)

[JAP] Asoko de matteta.
[JAP] 彼処待ってた

-> “Asoko” (彼処) = “sana”
-> “matteta” (待ってた) = “menunggu” (bentuk lampau)

[INA1] Di sana, (saya) menunggu.

[INA2] Saya menunggu di sana. (disempurnakan)

 
(b) untuk menyatakan cara
 

Anda mungkin pernah menyatakan dalam bahasa Indonesia kalimat semacam ini:

[INA] Saya pergi menggunakan bis.

Dalam bahasa Inggris, kalimat tersebut bisa diterjemahkan sebagai berikut:

[ENG] I’m going by bus.

Bagaimana dalam bahasa Jepang?

Dalam Bahasa Jepang, kita bisa melakukan penerjemahan sebagai berikut:

[INA] Saya pergi menggunakan bis.

-> “saya” = “watashi” = 私
-> “pergi” = “iku” = 行く
-> “bus” = “BASU” = バス

[JAP] Watashi wa BASU de iku
[JAP] 私はバス行く

Perhatikan bahwa di sini kalimat menggunakan pola Subyek-Keterangan-Predikat — sedikit mirip dengan pola Subyek-Obyek-Predikat pada tulisan mengenai kalimat aktif sederhana yang lalu.

Contoh lain,

[JAP] Ano hito wa hitori de ikiru.
[JAP] あの人は一人生きる

-> “Ano hito” (あの人) = “orang itu”
-> “hitori” (一人) = “sendiri/seorang diri”
-> “ikiru = (生きる) “hidup/menjalani hidup”

[INA1] Orang itu sendirian menjalani hidup.

[INA2] Orang itu hidup sendiri. (bentuk disesuaikan)

***

Sebetulnya masih ada beberapa partikel lain yang juga berfungsi membentuk keterangan secara spesifik; meskipun begitu, penjelasan tersebut akan diberikan pada bagian selanjutnya dari tulisan ini. 😉

 

[bersambung ke bagian 3]

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »