Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘J-stuffs’ Category

Melanjutkan pembahasan sebelumnya di sini.

 
Catatan:

Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman direktori nihongo.

 

6. Partikel “kara”

 
Partikel “kara” memiliki tiga fungsi dalam kalimat bahasa Jepang, dengan pembagian sebagai berikut:

 

(a) menyatakan asal

 
Dalam konteks ini, “kara” dipakai untuk menjelaskan dari mana suatu benda X berasal. Dalam Bahasa Indonesia, penggunaan ini diwakilkan oleh kata “dari”.

Misalnya Anda hendak menjelaskan bahwa Anda baru saja datang dari Jakarta. Dalam bahasa Jepang, Anda bisa menggunakan kalimat sebagai berikut:

[JAP] Watashi wa Jakarta kara kita.
[JAP] 私は Jakarta から来た

-> “Watashi” (私) = “saya”
-> “kita” (来た) = “datang” (bentuk lampau dari “kuru”)

[INA] Saya datang dari Jakarta.

Contoh lain…

[JAP] Kimi kara no PUREZENTO
[JAP]からのプレゼント

-> “kimi” (君) = “kamu”
-> “PUREZENTO” (プレゼント) = “hadiah”

[INA] Hadiah dari kamu

 

(b) menyatakan sejak

 
Well… seperti kata “sejak” dalam bahasa Indonesia. What else? ^^;

[JAP] Nananen mae kara, Taro wa BA de hataraku.
[JAP] 七年前からタロはバーで働く

-> “nananen mae” (七年前) = “tujuh tahun lalu” =
-> “BA” (バー) = “bar” (serapan dari kata Inggris yang sama)
-> “hataraku” (働く) = “bekerja”

[INA] Sejak tujuh tahun lalu, Taro bekerja di bar.

[JAP] Daigaku toki kara, ano futari wa tomodachi desu.
[JAP] 大学ときからあの二人は友達です

-> “daigaku toki” (大学とき) = “saat kuliah” / “waktu kuliah”
-> “ano futari” (あの二人) = “dua orang itu” / “mereka berdua”
-> “tomodachi” (友達) = “teman baik”

[INA1] Sejak kuliah, mereka berdua teman baik.
(literal)

[INA2] Mereka berdua teman baik sejak kuliah.
(bentuk kalimat disempurnakan)

 

(c) menyatakan sebab

 
Untuk penggunaan ini, partikel “kara” memiliki fungsi yang mirip dengan kata “karena” dalam Bahasa Indonesia. Tujuannya adalah menghubungkan dua buah klausa dengan hubungan sebab-akibat.

Contoh:

[JAP] Okane ga aru kara, karaoke he ikimashou!
[JAP] お金があるから、カラオケへ行きましょう!

-> “okane” (お金) = “uang”
-> “aru” (ある) = “ada” / “dimiliki”
-> “ikimashou” (行きましょう) = “ayo pergi”

[INA] Karena kita ada uang, mari pergi karaoke!

[JAP] Jikan ga nai kara, watashi wa KURASU he hashiru.
[JAP] 時間が無いから私はクラスへ走る

-> “jikan” (時間) = “waktu”
-> “nai” (無い) = “tidak ada” / “kehabisan”
-> “KURASU” (クラス) = “kelas”
-> “hashiru” (走る) = berlari”

[INA] Karena kehabisan waktu, saya berlari ke kelas.

***

 
7. Partikel “made”

 
Partikel “made” merupakan kebalikan dari fungsi (b) partikel “kara” yang telah dibahas sebelumnya. Jika “kara” diantaranya berfungsi menyatakan “sejak”, maka partikel “made” memiliki fungsi menyatakan makna “hingga”.

Bersinonim juga dengan kata “sampai” dalam bahasa Indonesia.

Contoh penggunaan:

[JAP] Juunigatsu made, Arima-san wa Yokohama ni imasu.
[JAP] 十二月まで、アリマさんは横浜にいます

-> “juunigatsu” (十二月) = “Desember” / “bulan Desember”
-> “imasu” (います) = “ada” / “berada” (bentuk -masu dari “iru”)

[INA1] Hingga bulan Desember, Tuan Arima berada di Yokohama
(literal)

[INA2] Tuan Arima berada di Yokohama hingga bulan Desember.
(bentuk alternatif)

[JAP] Tokyo made arukidasou!
[JAP] 東京まで歩きだそう!

-> “arukidasou” (歩きだそう) = “ayo berjalan kaki”

[INA] Ayo jalan kaki sampai Tokyo!

Partikel “made” bisa juga digunakan untuk menjelaskan “hingga kondisi tertentu”. Misalnya,

[JAP] Moetsukiru made ore wa ganbaru!
[JAP] 燃え尽きるまで俺 は 頑張る!

-> “moetsukiru” (燃え尽きる) = “kelelahan” / “tak mampu lagi”
-> “ore” (俺) = “saya” (laki-laki, informal)
-> “ganbaru” (頑張る) = “berjuang”

[INA1] Sampai tak mampu lagi, saya akan berjuang!
(literal)

[INA2] Saya akan berjuang sampai tak mampu lagi!
(bentuk alternatif)

[JAP] Asa ga kuru made, boku wa nemurenai.
[JAP] 朝が来るまで、僕は寝むれない

-> “asa” (朝) = “pagi”
-> “kuru” (来る) = “tiba”
-> “boku” (僕) = “saya” (untuk laki-laki)
-> “nemurenai” (寝むれない) = “tak bisa tidur”

[INA] Hingga pagi tiba, saya tak bisa tidur.

***

 

8. Partikel “dake”

 
Dalam bahasa Indonesia, partikel “dake” umum diterjemahkan sebagai kata “hanya”. Dengan demikian, kegunaannya adalah untuk menyatakan ekspresi “tidak lebih dari” benda yang dinyatakan dalam kalimat.

Well, agak sulit jika dijabarkan dalam bentuk kalimat seperti di atas; jadi lebih baik kita langsung beranjak dengan contoh:

[JAP] Sonna koto wa Sensei dake ga wakaru.
[JAP] そんな事先生だけが分かる

-> “sonna koto” (そんな事) = “hal semacam itu”
-> “sensei” (先生) = “guru”
-> “wakaru” (分かる) = “mengerti” / “tahu”

[INA] Hal seperti itu, hanya Pak Guru saja yang mengerti.

Contoh lain…

[JAP] Kokoro wa watashi dake no.
[JAP] 心は私だけ

-> “kokoro” = “hati” = 心

[INA] Hati (ini) hanya milik saya seorang.

[JAP] Daisuki na tabemono wa, AISUKURIIMU dake desu!
[JAP] 大好きな食べ物はアイスクリームだけです!

-> “daisuki na” (大好きな) = “yang paling disukai”
-> “tabemono” (食べ物) = “makanan”
-> “AISUKURIIMU” (アイスクリーム) = “es krim”

[INA] Makanan yang paling saya suka hanya satu, es krim!

***

 

 

Bersambung ke bagian 6… surprisingly, masih tentang partikel. Kapan saya bahas tenses kalo begini? ^^;

Read Full Post »

Three cardinal laws in Mikuni Shimokawa hits: (1) easy listening or ballads, (2) nasalish vocal, and (3) simplistic-yet-adequate arrangements of the tracks. And Sayonara mo Ienakatta Natsu, if any, stays mostly true to all of them.

Side note:

In case you don’t know about her and ended up asking “Mikuni Who?”, feel free to check on these references. ^^

[Mikuni Shimokawa’s Wikipedia Entry]
[Mikuni Shimokawa’s Entry on ANN]

Soo, back to the topic. I eventually got my hand to this July 2007 release album, which serves as the singer’s 4th full-album as well. It was about last month, when I eventually got my hands on the tracks… it was 11 tracks in all. To sum it up: it’s your usual Shimokawa-genre with the mixture of pops and ballads in it.

Not everything is fresh-from-oven however, since you’ll find about four tracks ported from her two-previous hits singles (i.e. Minamikaze and Bird). A slight minus in my opinion — though if you never listened to them before, you might find that the compilation is rather well-packed instead.

Well, that’s for the intro. Comes the article…

 

About this Album:

 

Sayonara mo Ienakatta Natsu - Album Cover

 

Artist Mikuni Shimokawa
Genre(s) Easy listening, Ballads, Pop
Number of Tracks 11
Release Date July 4, 2007

 

Tracklist:

01. Futari no KAMERA 3:49
02. Sayonara mo Ienakatta Natsu 4:11
03. Ai-iro no Sora no Shita de 4:35
04. Ubiquitous 3:02
05. Kimi no Negai 4:34
06. My Home 3:57
07. Minamikaze 4:05
08. Bird -album mix- 5:07
09. Mouichido Kimi ni Aitai 5:11
10. Altair 3:07
11. Sayonara no Owari ni 5:32

 

On My Notes…

 
Listeners familiar with Shimokawa’s vocal from her early albums might have noticed that her vocal has gained a little more power in it, most considerably after she released Minamikaze in 2005. Try comparing her Alone (2000) with the eponymous ace-song Minamikaze, and you’d get what I mean. 😉 In my opinion, the same tendency continues in Bird (2006), though, of course, that doesn’t make her a singer-with-powerful-vocal like Maaya Sakamoto or Utada Hikaru. Somehow, I just get the feeling that her vocal got… matured? Or something like that.

Well, that quality is also there in this album. The now-stronger vocal — mainly in track #2, #6, #7, #10 — serves me impression that her way of singing somehow changed: from your usual-20-something anison-specialist into a singer for more serious listening audience. Though slightly, compared to her early hits like the so-ballad Karenai Hana or Alone.

However, despite the vocal development, her style is somewhat reminiscent of the classics we can mention. It’s kind of fun that track #4 Ubiquitous reminds me of All The Way (2003) in its own way; or how track #1 Futari no KAMERA‘s guitar arrangement, in some parts, sounds (subjectively) like her Sore ga Ai, Deshou?. There are also somewhat-experimental musicalities that considerably differ from her classics, like track #3 Ai-iro Sora no Shita de (FYI, it’s folk. For God’s sake: Shimokawa-san sings folk! xD ). Another would be track #10 Altair, which, in my opinion, is a Maaya Sakamoto’s Yuunagi Loop slightly-sounds-alike.

 

On The Tracks…

 

1. Futari no KAMERA (3:49)

A slightly upbeat song with a good reff. Somehow reminds me of Sore ga Ai, Deshou? with its guitar and backing vocal.

2. Sayonara mo Ienakatta Natsu (4:11)

Pop-ballad track which, in my opinion, can fit to be Notting Hill movie’s soundtrack — if only lyricised in English. 😛 An easy-listening track people may want to find in drama scenes.

3. Ai-iro no Sora no Shita de (4:35)

Shimokawa-san’s now-stronger vocal mixed with folk-styled arrangement. Reminds me a bit of The Corrs — though I (personally) don’t see it as very enjoyable.

4. Ubiquitous (3:02)

Cute song with cute arrangement. Catchy with its guitar interlude. Young woman in love? You bet. :mrgreen:

5. Kimi no Negai (4:34)

A port from her earlier Bird single. A light-hearted song that people may want to listen to in the morning.

6. My Home (3:57)

Nicely-arranged song, with the bass and drums adding up well to the vocal. One of my favorites.

7. Minamikaze (4:05)

The ace-song from the 2005 Minamikaze single. An upbeat piece with quite excellent arrangement, though I personally feel that she stretched her voice a tad bit in this one.

8. Bird -album mix- (5:07)

Ported from the 2007 Bird single. A rather good ballad that got remixed for the album version. I still prefer the original version, though. ^^;;

9. Mouichido Kimi ni Aitai (5:11)

The fourth unoriginal song in this album, also from the 2005 Minamikaze single. Slow-serenade type ballad with hopeful sounding lyrics, which somehow reflects an aura of solitude.

10. Altair (3:07)

A typical easy-listening pop track with the usual beats. Slightly sounds comparable to Maaya Sakamoto’s Yuunagi Loop, though it might be just me. 😉

11. Sayonara no Owari ni (5:32)

Slow serenade-type ballad with minimal instrumental arrangement. Has identical impression as the song Tegami from her Bird single album, while the latter has more highs and ups compared to the first.

 

Conclusion

 
Having listened to this album for a while, I’d say that this album is quite a good compilation of pop and easy listening tracks. At least, most of the tracks are leisurely enjoyable. The tracks are good, and still wouldn’t disappoint those who are familiar with the singer’s earlier anison hits as I’ve mentioned above. The only significant minus aspect in this album, however, is that it contains four ported tracks from two previous singles, rather than fresh 11… leaving objections of those who have listened to Bird and Minamikaze before.

…which, unfortunately, is a group of people I belong to. Oh well. 😆

So, the final words: if you’re into easy listening songs, or if you’re a seasoned Mikuni Shimokawa fan, then this album is likely to suit your taste. Even better if you haven’t listened to Minamikaze and Bird at all — I mean it. 😉

 

Personal Rate:

8/10

 
Track Recommendations:

#1, #2, #4, #6, #7, #9, #10

Read Full Post »

Melanjutkan tulisan tentang kata ganti orang pertama dan kedua di [sini]

 
Catatan:

Post-post lain yang berkaitan dengan bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman [direktori nihongo]

 

Kata Ganti Orang Ketiga Tunggal

(i.e. “dia”, “orang itu”, dan sebagainya)

 

[latin] “kare”
[kanji]

–> Dipakai untuk menyatakan “dia” yang merujuk pada laki-laki. Kurang lebih sama dengan kata “he” dalam bahasa Inggris.

Catatan: kata ini bisa juga digunakan untuk menyebut kekasih (pria). Meskipun begitu bentuk yang lebih umum untuk fungsi tersebut adalah “kareshi” (彼氏).

 

[latin] “kanojo”
[kanji] 彼女

–> Dipakai untuk menyatakan “dia” yang merujuk pada perempuan; kurang lebih sama dengan kata “she” dalam bahasa Inggris. Sama dengan “kare”, “kanojo” juga bisa dipakai untuk menyebut kekasih (dalam hal ini wanita).

 

[latin] “ano hito”
[kanji] あの人

-> Secara harfiah bermakna “orang itu” (dari kata “ano” (あの, ‘itu’) + hito (人 ‘orang’). Dipakai untuk pembicaraan formal.
 

[latin] “kono hito”
[kanji] この人

-> Secara harfiah bermakna “orang ini” (dari kata “kono” (この, ‘itu’) + hito (人 ‘orang’). Dipakai untuk pembicaraan formal.

 

[latin] “aitsu”
[kanji] 彼奴 ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana あいつ

-> Bentuk informal/kasar dari “ano hito” yang disebut sebelumnya. Berasal dari gabungan kata “ano” (彼, ‘itu’) + “yatsu” (奴, ‘orang’/’seseorang’).

 

[latin] “soitsu”
[kanji] 其奴 ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana そいつ

-> Informal, sama dengan “aitsu”. Gabungan dari kata “sono” (其, ‘itu’) + “yatsu” (奴). Relatif jarang dipakai dibandingkan “aitsu”.

 

[latin] “koitsu”
[kanji] 此奴 ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana こいつ

-> Bentuk informal dari “kono hito”. Gabungan dari kata “kono” (此, ‘ini’) + “yatsu” (奴).

 

 

Kata Ganti untuk Bentuk Jamak

(i.e. “kami”, “mereka”, dan sebagainya)

 

Untuk membentuk kata ganti jamak, aturannya cukup mudah. Kita tinggal dengan menambahkan akhiran -tachi (untuk penggunaan formal) atau -ra (untuk penggunaan informal) pada kata ganti tunggal.

Contoh:

[JAP] “watashi”(私) + “-tachi” (たち) = “watashitachi”(私たち)
[INA] (saya) + (-tachi) = (kami)

[JAP] “kare”(彼) + “-ra” (ら) = “karera” (彼ら)
[INA] (dia) + (-ra) = (mereka)

-> umumnya untuk menyatakan sekelompok laki-laki

 

Meskipun begitu, penggunaan akhiran -ra dan -tachi ini sangat tergantung pada kata ganti yang hendak diimbuhi. Sebagai contoh, kita bisa membentuk jamak dari kata “boku” (僕) menjadi “bokura” (僕ら) serta “bokutachi” (僕たち). Akan tetapi kita tak bisa membentuk kata ganti jamak berupa “kimira” (kimi + ra) atau “watashira” (watashi + ra) — untuk itu kata ganti jamaknya adalah “watashitachi” (私たち) dan “kimitachi” (君たち).

Pembagiannya bisa dilihat dalam tabel berikut:

……………… ……………… ………………
Bentuk Asal -tachi -ra
……………… ……………… ………………
watashi
atashi
watakushi
atakushi
watashitachi
atashitachi
watakushitachi
atakushitachi
……………… ……………… ………………
boku bokutachi bokura
ore oretachi
……………… ……………… ………………
anata
anta
kimi
anatatachi
antatachi
kimitachi
……………… ……………… ………………
omae omaetachi omaera
temae temaera
……………… ……………… ………………
kare karera
kanojo[1]
………… ………… …………
ano hito
kono hito
aitsu
soitsu
koitsu
ano hitotachi
kono hitotachi
aitsutachi
soitsutachi
koitsutachi


aitsura
soitsura
koitsura

 

Keterangan:

[1] “kanojo” biasanya tak disebut dengan jamak; penggunaan untuk ini umumnya di-cover oleh “aitsura”.

 

 

Catatan Tambahan mengenai suffix -tachi

 
Secara umum, -tachi mempunyai kegunaan tambahan, yaitu menyatakan grup yang menyertai seseorang. Di Bahasa Indonesia, kita biasa menyebutnya “dan kawan-kawan”.

Contoh:

[JAP] Yamada-san-tachi wa Tokyo e ikimasu
[INA] Tuan Yamada dan kawan-kawan pergi ke Tokyo

Akhiran -tachi juga dapat digunakan untuk menyatakan keadaan benda yang “banyak” atau “lebih dari satu”. Misal:

[JAP] koibitotachi
[INA] “pasangan kekasih”
–> bisa juga bermakna “pasangan-pasangan kekasih”

[JAP] hitotachi
[INA] “orang-orang” / “banyak orang”

***

Sekian topik tentang kata ganti dan bentuk jamaknya. Tambahan, koreksi, atau pertanyaan bisa disampaikan lewat fasilitas komentar di bagian bawah post ini. 😉

Read Full Post »

Ceritanya, tempo hari, saya dan Kopral Geddoe sedang terlibat obrolan santai via Yahoo! Messenger. Dan mendadak, entah bagaimana, tahu-tahu kami membicarakan amalgam dari dua hal yang (aslinya) sama sekali lepas dan tak berhubungan.

Kalau Anda memperhatikan judul di atas, tentunya Anda bisa menangkap bahwa dua hal yang tak berhubungan itu adalah anime-culture dan jilbab.

Apa? Anime-culture dan jilbab?

 

aniveil_para.jpg

Well, something like that… ^^;;

 

Jadi, sejak zaman kuda gigit besi anak SMA naik motor ke sekolah saya bertahun-tahun lalu, ada sebuah kecenderungan menarik yang saya amati. Dan, berhubung saya ini dulunya lumayan aktif di kegiatan ROHIS sekolah, maka kecenderungan ini jadi tampak semakin jelas dalam pengamatan saya. Bahwasanya, barang-barang Jepang (dan budaya manga-anime pada khususnya) tampak sangat berhasil memasuki selera anak-anak yang rajin nongkrong di masjid sekolah.

Bahkan, kalau mau jujur, justru anak-anak yang pola pikirnya cenderung ‘kanan’ ini lebih bisa menerima budaya Jepang, dibandingkan dengan counterpart-nya dari Eropa dan Amerika! 😯

Bukanlah hal yang aneh, misalnya, jika Anda menemukan serombongan cewek berjilbab yang ngefans pada Himura Kenshin dan bahkan menetapkan kriteria cowok favorit mereka dari situ. Majalah dinding di masjid sekolah saya dihiasi ilustrasi bergaya manga. Beberapa rekan saya yang ikhwan bahkan rajin menonton Kapten Tsubasa dan InuYasha setiap minggunya — animo yang sangat besar bila dibandingkan dengan penerimaan terhadap barang-barang yang berasal dari Barat™. Anda bisa saja mengadakan kontes popularitas antara Sanosuke Sagara melawan Spider-Man, dan orang-orang lebih memilih Sanosuke… betapapun Spider-Man aslinya merupakan salah satu tokoh komik Amerika paling populer saat ini.

Seperti yang saya singgung sekilas di atas tadi, budaya Jepang tampaknya sedang tumbuh subur di kalangan muda Islam. Atau, setidaknya, di kalangan yang tumbuh di lingkungan bernuansa Islam cukup kental.

 

Seperti apa sebenarnya gejala ini?

 
Waktu itu, Geddoe menyampaikan bahwa ada kecenderungan yang menarik di sebuah forum ‘hijau’ yang ia temukan di internet. Bahwasanya, di forum tersebut terdapat generasi pengguna yang merupakan amalgam antara identitas “Islam” dan “anime-culture”.

Singkatnya,

Anak-anak yang bangga dengan identitas keislaman mereka — ketika, di saat yang sama, menggemari anime dan manga sebagai hiburan tersendiri.

Intinya sendiri cukup jelas. Di satu sisi, anak-anak dari generasi ini merasa bangga sebagai seorang muslim per se. Meskipun demikian, mereka tidak lantas terpaku pada budaya Islam (terutama Islam-Arab) saja — di sisi lain, mereka juga mengakomodasi masukan dari budaya di luar itu. Kebetulan, budaya Jepang-lah yang dirasa cocok untuk mengisi porsi masukan tersebut.

Bahkan, dalam banyak kasus, penetrasi budaya ini menghasilkan amalgam anime-islami sebagaimana yang saya contohkan dengan gambar di atas. Hal inilah yang terjadi ketika sarana dan buletin dakwah ditaburi oleh ilustrasi bergaya manga — atau ketika avatar cewek berjilbab dan cowok berkopiah menjadi pilihan di forum-forum internet. Dengan satu dan lain cara, “anime-culture” dan “Islam” seolah-olah bisa dipersatukan dan mempunyai embodimen tersendiri di lingkungan kita.

Akibat lainnya? Tentu saja jadi tidak sulit untuk menemukan, bahwasanya seorang cewek berjilbab pun bisa membuat list karakter cowok anime kesukaannya. :mrgreen:

*ditimpuk Grace* x(

 

Tentunya gejala semacam ini tidak muncul tiba-tiba. Pasti ada penyebabnya.

 
Hal itulah yang kemudian melintas jadi topik pembicaraan tempo hari. Mengapa barang-barang Jepang, seperti anime dan manga, bisa diterima dan berbaur dengan budaya “Islam” yang ada di Indonesia, sampai-sampai mengalahkan counterpart mereka dari Amerika dan Eropa? 😕

Maka, kami (baca: saya dan Geddoe) pun bertukar hipotesis soal ini.

Menurut saya,

Mungkin, karena di bawah sadar sudah terbentuk image bahwa Amerika™, Barat™, dan antek-anteknya™ sudah terstigma negatif, maka generasi ini cenderung menolak hal-hal yang berasosiasi dengan cap tersebut. Dalam kasus ini, Jepang tidak terkesan se-clash-confronting itunya amat terhadap Islam bila dibandingkan dengan Barat. Ini menjadi faktor penarik yang potensial untuk generasi muda Islam yang gerah terhadap budaya Barat™ yang terlalu permisif™ ( 😛 ) ; lantas menjadi alternatif hiburan yang bisa diterima.

Geddoe sendiri mempunyai pendapat yang rada berbeda:

Setidaknya, ada satu hal yang membuat Islam [sekurangnya di bawah sadar] merasa perlu untuk mem-blend diri mereka dengan budaya pop. Hal yang sama berhasil dilakukan dengan baik oleh sang (supposedly) arch-enemy, Kristen. Ingat Christ Rock, serta penampilan organisasi Gereja di dunia hiburan: Van Helsing, Chrno Crusade, dan lain-lain sebagainya.

Kartu as ini tidak dimiliki Islam. Oleh karena itu, tampaknya terbentuk keinginan agar, entah bagaimana, Islam pun bisa berbaur dan memiliki perwakilan di bidang pop-culture.

Tapi, mengapa Jepang diterima? Bukankah negara ini sendiri cenderung sekuler, sama seperti Eropa dan Amerika? Bahkan dunia hiburan mereka pun juga cenderung permisif — sebagaimana yang bisa kita temukan pada berbagai barang-barang ecchi dan H.

Untuk ini, saya kemudian berpendapat bahwa

Memang benar budaya Jepang mempunyai sisi permisifnya sendiri. Dan mereka memang cenderung menganut liberalisme — tak jauh beda dengan Amerika maupun Eropa pada umumnya.

Tapi, meskipun begitu, ada pengecualian: budaya Jepang, yang diwakili oleh hiburan mereka, memiliki nilai-nilai Timur yang dihargai oleh kita di Indonesia… yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Keutamaan akan sikap sopan; keadaan keluarga yang guyub; hormat pada guru/senior; dan semangat individualisme yang lebih rendah dibandingkan dengan counterpart mereka dari Barat. Inilah yang tercermin di berbagai media, baik itu manga, anime, ataupun dorama.

Di Party of Five dan Friends, Anda menemukan anak-anak yang berusaha mandiri dan jauh dari orangtua — tetapi, di Ichi Rittoru no Namida dan Dragon Zakura, misalnya, Anda menemukan bahwa orangtua dan keluarga adalah hal yang sama pentingnya dengan usaha menjalani hidup dan menjadi dewasa.

Dan, dengan demikian, kita melihat bahwa terdapat faktor pendorong dan penarik yang, dengan satu dan lain cara, membuat budaya Jepang terkesan lebih favorable di mata generasi muda Islam yang dibahas sebelumnya. Tentunya perlu dicatat bahwa semua penjelasan di atas hanyalah hipotesis murni — yang secara brutal dilempar-lempar melintas lautan lewat HTTP port 8080 oleh IM client kami masing-masing ( 😛 ). Dugaan-dugaan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. ^^

 

As The Dust Settles

 
Tentunya dialog di atas tidaklah bermaksud menyatakan bahwa “budaya Jepang lebih baik daripada budaya Barat”, atau malah meninggi-ninggikan bahwa “anime-culture itu cocok diamalgamkan dengan budaya Islam”. No, that’s not it. Kenyataannya, menurut saya, kecenderungan bahwa sebuah generasi kini memadukan keduanya adalah hal yang cukup menarik untuk dibahas — walaupun secara iseng-iseng — dan saya yakin bahwa rekan chat saya waktu itu pun berpendapat demikian. Bukan begitu, Kopral? :mrgreen:

Hence the chat summary. 😉 Ada pendapat lain?

 

 

—–

Ps:

…dan sekarang saya jadi teringat seorang cewek berjilbab sekelas saya waktu SMA. Waktu itu guru sejarah meminta setiap anak membuat 20 soal pilihan ganda tentang Restorasi Meiji — dan dia mengerjakannya bermodal manga Rurouni Kenshin. Doh. x(

 
PPs:

No, I didn’t develop any serious crush for her. Just in case you’re wondering. 😉

Read Full Post »

Melanjutkan pembahasan sebelumnya di sini.

 
Catatan:

Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman direktori nihongo.

 

4. Partikel “ya” dan “to”
 

Partikel “ya” dan “to” memiliki arti yang mirip, yaitu sama dengan kata sambung “dan” dalam bahasa Indonesia. Fungsinya adalah menyatakan sejumlah benda secara bersamaan.

Meskipun demikian, terdapat suatu perbedaan. Partikel ‘to’ digunakan untuk menyatakan himpunan lengkap. Sedangkan partikel ‘ya’ dipakai untuk menyatakan himpunan sebagian.

Well… kedengarannya memang agak rumit sih. Meskipun begitu, penjelasannya akan lebih mudah jika diterapkan dalam contoh berikut:

 
[JAP] Watashi to Taro wa tomodachi desu.
[JAP]タロは友達です

-> “watashi” (私) = “saya”
-> “tomodachi” (友達) = “sahabat” / “teman dekat”

*) “Taro” di sini adalah nama orang

[INA] Saya dan Taro adalah teman dekat.

Dalam contoh di atas, subyek dibatasi pada “saya” dan “Taro”. Dengan kata lain, hanya “saya” dan “Taro” yang menjadi pokok pembicaraan di sini.

Sedangkan penggunaan partikel ‘ya’ agak sedikit berbeda:

 
[JAP] Shiki ya Arihiko ga KAFETERIA ni iru
[JAP] シキアリヒコはカフェテリアにいる

-> “KAFETERIA” (カフェテリア) = “kantin”/”kafetaria”
-> “iru” (いる) = “ada”/”berada”

*) “Shiki” serta “Arihiko” di sini adalah nama orang

[INA] Shiki dan Arihiko berada di kafetaria

Dalam penggunaan di atas, terlihat bahwa Shiki dan Arihiko sama-sama berada di kafetaria. Meskipun demikian, tidak hanya mereka berdua saja yang ada di kafetaria — melainkan juga terdapat orang-orang lain.

Dapat dikatakan bahwa partikel ‘to’ mewakili complete list. Sedangkan partikel ‘ya’ menyatakan incomplete list.

 

5. Partikel “he”
 

Partikel ‘he’ (atau biasa diucapkan ‘e’) berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan arah.

Misalnya, dalam bahasa Indonesia kita biasa menyatakan:

 
[INA] Saya pergi ke kampus

Dalam bahasa Jepang, kalimat tersebut akan berbunyi sebagai berikut:

 
[JAP] Watashi wa daigaku he iku
[JAP] 私は大学行く

-> “watashi” (私) = “saya”
-> “daigaku” (大学) = “kampus”
-> “iku” (行く) = “pergi”

[INA] Saya pergi ke kampus

Contoh lain…

 
[JAP] Ano otoko wa TOIRETTO he hashiru
[JAP] あの男はトイレット走る

-> “ano otoko” (あの男) = “pria itu”
-> “TOIRETTO” (トイレット) = “toilet”
-> “hashiru” (走る) = “berlari”

[INA] Pria itu berlari ke arah toilet.

Jadi di sini, terlihat bahwa partikel ‘he’ menyatakan arah dari suatu pergerakan/aktivitas. Misalnya “pergi” (iku), “berlari” (hashiru), “berjalan” (aruku), dan lain sebagainya. ^^

***

Sekian dulu untuk sesi kali ini. Pembahasan selanjutnya tentang partikel disambung di bagian 5. 😉

Read Full Post »

Jika Anda menyukai drama dengan plot sangat kompleks, yang diiringi oleh nuansa ekonomi dan perbankan yang amat kental, maka serial ini cocok untuk Anda.

Oh, sebentar. Ada yang ketinggalan. Jika Anda menyukai dua elemen di atas, ditambah dengan kisah sebuah dinasti bisnis yang ‘sakit’ dan penuh intrik, maka serial ini benar-benar cocok untuk Anda. Dan jika Anda ternyata punya kesukaan terhadap kisah perjuangan hidup yang getir dan tidak indah seperti halnya saya

…maka serial ini sangat wajib untuk Anda tonton. :mrgreen:

 

karei-naru ichizoku title screen

 

Dengan judul Karei-naru Ichizoku, serial drama ini terdiri atas 10 buah episode dengan durasi rata-rata 40 menit per episodenya. Adapun di negeri asalnya, serial ini ditayangkan selama bulan Januari hingga Maret 2007 yang lalu.

 

The Story (no major spoiler here)

 

Jepang, tahun 1966. Tak lama setelah kekalahan dalam Perang Dunia II, Negeri Matahari Terbit disibukkan oleh usaha pembangunan kembali wilayah mereka. Seiring dengan tingginya permintaan untuk infrastruktur, industri baja naik daun menjadi sektor vital dalam perekonomian — terutama untuk kepentingan sipil dan pengembangan alat-alat berat.

Kisah bergulir dalam kehidupan Teppei Manpyo, yang kebetulan merupakan putra tertua dari klan bisnis Manpyo. Keluarga Manpyo merupakan dinasti yang memiliki sebuah bank secara turun temurun. Meskipun demikian, Teppei tampaknya memiliki pertimbangan lain — ia adalah seorang insinyur metalurgi, dan ia lebih tertarik memimpin perusahaan baja dibandingkan mengelola bank milik keluarga.

 

blast-furnace

 

Meskipun demikian, hubungan antara Teppei dan keluarga Manpyo cenderung tidak harmonis. Ia selalu berseberangan dengan sang ayah; dan kekakuan serta aura dingin keluarga Manpyo tampak membuatnya tidak betah. Adalah beban tersendiri bahwa ia dan istrinya Sanae harus bertahan tinggal di keluarga tersebut untuk waktu yang lama.

Masalah dimulai ketika pemerintah Jepang mencanangkan berlangsungnya restrukturisasi ekonomi, di mana bank-bank kecil akan di-merger dengan bank besar untuk mengimbangi penanaman modal asing yang masuk ke Jepang. Hal ini menimbulkan kepanikan tersendiri di kalangan perbankan, terutama keluarga Manpyo yang berpotensi kehilangan badan usaha mereka.

Dan ketika Teppei sedang membangun proyek besar untuk masa depan pabrik bajanya, ia tidak tahu bahwa sebentar lagi akan terjadi prahara besar: perpecahan di keluarga Manpyo, intrik perbankan yang dilakukan sang ayah, hingga rahasia kelam mengenai sejarah keluarga Manpyo — sejarah yang melibatkan kegetiran mendalam antara dirinya, sang ayah, serta almarhum kakek yang selalu diidolakannya.

***

Diangkat dari sebuah novel berjudul sama, drama Karei-naru Ichizoku (atau sering disingkat Karei) bisa dibilang memiliki kualitas plot sangat mumpuni. Setidaknya, terdapat tiga arc yang saling overlap sepanjang sepuluh episode berlangsungnya serial ini.

Masalah ekonomi dan perjuangan sang ayah (Daisuke Manpyo) dalam mempertahankan banknya saja bisa dibilang ‘cerdas’ dan intriguing. Bayangkan spionase yang melibatkan pegawai Departemen Keuangan; pengaruh politisi kawakan; serta permainan kotor demi menjatuhkan seorang presiden bank. Ini saja, kalau berdiri sendiri, sudah bisa dibilang storyline kelas wahid.

 

daisuke manpyo

 

Begitupun, ini masih belum selesai. Masih ada dua arc lagi. Pertalian anggota keluarga dan rahasia keluarga Manpyo bisa menjadi sebuah arc yang mandiri; dengan segala sejarah dan tingkah laku sang kakek di masa lalu. Dan perjuangan Teppei dan pabrik bajanya, ditambah perseteruannya dengan sang ayah, adalah sebuah grandeur yang, lagi-lagi, cukup tangguh untuk jadi cerita tersendiri.

Hebatnya? Semua itu dirangkai dalam satu storyline yang komplet dan saling berkaitan. Ditambah dengan banyaknya twist yang di luar dugaan yang mewarnai perseteruan Teppei vs. Daisuke, saya tak bisa berkata apa-apa lagi selain…

Just really, really savant storytelling. 😥

 

teppei v. daisuke

 

Di sisi lain, cast untuk serial ini bisa dibilang cukup sesuai dengan karakter yang mereka perankan. Daisuke Manpyo tampil bersinar sebagai ayah (dan suami) yang pernah dikhianati dan kehilangan harga diri. Teppei Manpyo tampil sebagai pengusaha muda idealis yang — seiring kerasnya hidup — perlahan-lahan menjadi grim dan tampak terbebani. Ataru Mima terlihat meyakinkan sebagai tipikal cowok-cool-ambisius berkacamata (walaupun masih kalah keren daripada Mishima-san, 😛 ); sedangkan Ginpei Manpyo tampak sebagai pria yang sejak lama menyerah di bawah tekanan sang ayah yang menjadi kepala keluarga Manpyo.

…dan saya juga harus menyebutkan Sanae Manpyo yang diperankan oleh Kyoko Hasegawa. Entah kenapa saya sangat ngefans sama istrinya Teppei ini: cantik, ramah, elegan, dan setia pada suami di saat-saat paling berat dalam hidup. What more can you ask? 😉

 

 

Adapun soal musik… well, sebenarnya sih musiknya tidak jelek. Hanya saja saya tak terlalu suka insert song yang beberapa kali muncul. Sebuah lagu bahasa Inggris yang judulnya entah-apa; mungkin bukan selera saya saja, sih. ^^;; Scores-nya sendiri bisa dibilang cukup lumayan, walaupun nggak sedahsyat komposisinya One Litre of Tears juga. ^^

Jadi?

Well, seperti yang sudah saya sampaikan, drama ini mempunyai kelebihan di bidang plot dan storyline. Cast-nya sangat mendukung; dan musical scores relatif baik… walaupun tidak luar biasa amat. Jika Anda menyukai cerita dengan plot yang kompleks dan twist yang tidak terduga, maka kemungkinan Anda akan memfavoritkan serial ini. 😉

 

—–
 

Pros:

    Plot bernuansa politik dan perbankan, banyak twist tak terduga
    Multiple story arcs
    Cast memadai

 

Cons:

    Musik agak standar

 

Additional Notes:

    Tingkat kegetiran tinggi. Bukan buat Anda yang suka light-hearted drama
    Istrinya Teppei cakep lho? 😛

 

Personal rate: 9.5/10

 

Read Full Post »

Pre-post Note:

Seharusnya post ini sudah saya upload di bagian awal kategori nihongo di blog ini, yaitu setelah post Struktur Dasar Bahasa Jepang (informal) (1). Meskipun begitu, karena satu dan lain hal, maka baru bisa saya post hari ini. ^^;;

Selamat membaca. 😉

 

Tambahan:

Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman direktori nihongo.

 

 

Dalam bahasa Indonesia, kita membagi penggunaan kata ganti untuk menyebut orang lain berdasarkan tingkat kesopanan. Misalnya,

[INA] “Saya”
–> untuk pembicaraan formal

 
[INA] “Aku”
–> untuk suasana yang lebih santai

 
[INA] “Gue”, “Aing”, dan sebagainya
–> untuk pembicaraan antar teman, berkesan kasar
(contoh mengambil dialek Jakarta dan Bandung)

[INA] “Anda”
–> untuk pembicaraan formal

 
[INA] “Kamu”
–> untuk suasana yang lebih santai

 
[INA] “Lo”, “Maneh”, dan sebagainya
–> untuk pembicaraan antar teman, berkesan kasar
(contoh mengambil dialek Jakarta dan Bandung)

 

Dalam bahasa Jepang, prinsip yang sama juga berlaku. Kata ganti yang kita gunakan akan berbeda tergantung pada siapa orang yang kita ajak bicara. Meskipun demikian, kata ganti bahasa Jepang memiliki variasi lebih luas daripada yang kita miliki di Bahasa Indonesia.

Pembagiannya dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

 
Kata Ganti Orang Pertama

(i.e. “saya”, “aku”, dan sebagainya)

 

[JAP] “watashi”
[Kanji]

–> kurang lebih sama dengan “saya” di Bahasa Indonesia. Konotasinya netral; bisa digunakan baik oleh pria maupun wanita.

 
[JAP] “watakushi”
[Kanji] 私 — sama dengan “watashi”

–> kata ganti sangat formal; biasa diucapkan oleh politisi/orang yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat. Beberapa kali digunakan oleh Lacus Clyne dalam pidato politiknya di Gundam SEED Destiny. nyontohin dari anime ajalah xD

 
[JAP] “atashi”
[Kanji] 私 — sama dengan “watashi”

–> kata ganti “saya”, khusus digunakan oleh wanita. Lebih informal daripada “watashi”.

 
[JAP] “atakushi”
[Kanji] 私 — sama dengan “watashi”

–> bentuk lebih formal dari “atashi”; merupakan bentuk feminin dari “watakushi”.

 
[JAP] “boku”
[Kanji]

–> mirip seperti “aku” dalam bahasa Indonesia. Umumnya hanya digunakan oleh pria, walaupun tokoh-tokoh wanita seperti Ayu Tsukimiya dan Hiyori Kusakabe juga memakai kata ini untuk menyebut diri mereka. ^^;;

 
[JAP] “ore”
[Kanji]

–> penggunaannya mirip kata “gue” dalam bahasa gaul Indonesia. HANYA digunakan oleh pria dalam pergaulan; tendensinya lebih kasar daripada “boku” dan cenderung meninggikan diri sendiri.

 
[JAP] “washi”
[Kanji] tidak ada; hanya ditulis dengan hiragana わし

–> yang ini hanya digunakan oleh orang-orang tua. Priest Amon di serial GARO sering menggunakan kata ini ketika berbicara. ^^

 
[JAP] “ware”
[Kanji]

–> artinya sama dengan “saya”. IMO, penggunaannya tak jauh berbeda dibandingkan dengan “watashi”.

 

 

Kata Ganti Orang Kedua

(i.e. “Anda”, “Kamu”, dan sebagainya)

 

[JAP] “anata”
[Kanji] 貴方 ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana あなた

–> bentuk umum untuk menyatakan “Anda”. Bisa juga digunakan untuk kepentingan formal.

 
[JAP] “kimi”
[Kanji]

–> kurang lebih sama dengan kata “kamu” di Bahasa Indonesia. Bisa dipakai untuk berdiskusi dengan teman atau orang yang lebih muda daripada Anda.

 
[JAP] “omae”
[Kanji] お前

–> lebih kasar dibandingkan “kimi”. Umumnya digunakan dalam pergaulan di mana Anda tak merasa perlu menghormati orang-orang di dalamnya. Penggunaannya mirip kata “lu” dalam dialek “gua-elu”. ^^

 
[JAP] “anta”
[Kanji] tidak ada, hanya ditulis dengan hiragana あんた

–> hanya digunakan pada rekan akrab, atau pada orang yang lebih ‘tinggi’ tapi tidak Anda ingin hormati ( 😛 ). Sering dipakai oleh Shirou Kamui ketika berbicara dengan Hinoto-hime dalam serial X.

 
[JAP] “temme”
[Kanji] tidak ada, hanya ditulis dengan hiragana てっめ

–> kata ini digunakan jika Anda sedang ingin merendahkan lawan bicara. Umumnya dipakai di dunia kaum berandal semacamnya Harima Kenji dan Sawamura Seiji. ^^;;

 
[JAP] “kisama”
[Kanji] 貴様

–> kata “kamu” yang sarkastis. Bisa digunakan kalau Anda punya orang yang Anda benci, sedemikian hingga Anda siap berkelahi dengannya saat itu juga. 😛

 
[JAP] “onore”
[Kanji]

–> hanya digunakan untuk mengutuk dan menghina. SANGAT kasar. Pernah diucapkan oleh Horror menara jam di GARO episode 3.

***

 

Derajat Kesopanan?

 
Berhubung kesopanan adalah hal yang sangat menentukan dalam bahasa dan budaya Jepang (di samping situasi di mana diskusi berlangsung), maka berikut ini saya mengurutkan kata ganti di atas berdasarkan nilai kesopanannya. Urutannya kurang lebih sebagai berikut:

 
Untuk Kata Ganti Orang Pertama

  1. watakushi = atakushi
  2. (sangat sopan)

  3. watashi = washi = ware
  4. (sopan, tapi umum juga digunakan dalam keseharian)

  5. atashi = boku
  6. (informal)

  7. ore
  8. (sangat informal)

 

Untuk Kata Ganti Orang Kedua

  1. anata
  2. (sopan, tapi umum juga digunakan dalam keseharian)

  3. kimi
  4. (informal)

  5. anta
  6. (tidak hormat)

  7. omae
  8. (agak kasar)

  9. temme = kisama
  10. (sangat menghina 😛 )

  11. onore
  12. (mengutuk lawan bicara. Jarang digunakan, IMO. 😕 )

***

Yah, kurang lebih seperti itu sih. Penjelasan mengenai kata ganti orang ketiga dan jamak akan disambung di post yang lain. 🙂

 

 

—–

Ps:

Masukan dan pertanyaan bisa disampaikan lewat kolom komentar di bagian bawah post ini.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »