Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Deeper Thoughts’ Category

Pembaca, pernahkah Anda membayangkan tentang manusia pertama? Sosoknya saya serahkan pada Anda. Jika Anda religius, boleh membayangkan Nabi Adam; jika tidak religius, boleh membayangkannya dalam konteks single origin hypothesis.

Sudah? Sekarang, bayangkan manusia pertama tersebut berkembang biak. Beranak-cucu, hingga punya banyak keturunan. Hingga kemudian terbentuk sebuah keluarga besar “manusia purba”.

Dan kisah ini pun dimulai…

 

I. Migrasi

 

Pertama-tama, mari kita bayangkan keluarga besar yang sudah disebut. Selama ini keluarga besar manusia tinggal di sepetak tanah. Benua Afrika yang subur adalah tempat mereka tinggal — semua kebutuhan terpenuhi di situ. Jika ingin makan daging, mereka berburu; jika tidak, mereka memetik buah dan daun. Kehidupan masih sederhana dan belum ada struktur sosial.

Meskipun begitu, seiring waktu, keluarga besar tersebut mulai membengkak. Anak-beranak, generasi ke generasi, hingga akhirnya jumlahnya jadi besar. Afrika yang tadinya makmur tak lagi cukup menampung mereka. Ibaratnya, makanan hanya untuk 10 orang, tapi populasi sekarang 50 orang. Maka mereka pun memutuskan mencari tanah baru.

Sedikit demi sedikit mereka pun berjalan…

 

out-of-africa

(image courtesy of University of Texas)

 
Keluar dari Afrika. Menuju tempat-tempat baru yang sebelumnya asing — hingga akhirnya mendarat di berbagai pelosok bumi.

 

to the world

(image courtesy of San Diego State University)

 

Sebagian memilih Eropa, sebagian lagi jalan terus sampai Asia. Sebagian lagi menyabung resiko menyeberangi Selat Bering; menjadi nenek moyang bangsa Aztec dan Inca. Adapun sebagian kecil mencoba berperahu melewati Samudra Hindia dan Pasifik.

Dari satu titik di benua Afrika, mereka menyebar mencari tanah-tanah baru. Perjalanan ini berlangsung selama puluhan ribu tahun.

 

II. Adaptasi

 

Syahdan, keluarga besar manusia sekarang tersebar di muka bumi. Ada yang memiliki tanah di Amerika; ada yang di Eropa dan India. Perlahan-lahan mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Yang tinggal di Eropa mendapat cuaca dingin dan sedikit matahari. Tubuh mereka pun beradaptasi: kulit yang tadinya gelap kini menjadi terang. Warna mata berganti menjadi cerah. Lingkungan yang tak bersahabat menuntut kerja keras… menghasilkan badan yang tinggi dan besar.

Yang tinggal di Asia Tengah mendapat lebih banyak matahari, tetapi tanahnya berdebu dan bergurun. Perlahan-lahan mereka mengembangkan bentuk mata sipit dan kulit coklat. Berkembanglah cikal-bakal ras mongol yang sekarang kita kenal.

Yang tinggal dekat khatulistiwa memiliki sinar matahari sepanjang tahun. Cuaca basah dan tanahnya subur. Tidak perlu berburu, apalagi bekerja menaklukkan alam seperti saudaranya di Eropa — maka berkembanglah ras yang badannya kecil-lincah dan berkulit cokelat.

Sedangkan yang tinggal di Afrika tetap dengan ciri-cirinya sejak awal. Berbadan kuat dan besar sebagai pemburu, berkulit gelap menangkal matahari. Mata dan rambut mereka hitam oleh pigmen penangkal ultraviolet. Maka demikianlah ras Afrika yang kita kenal sekarang.

Tentunya ada banyak ras lain yang belum disebut. Meskipun begitu, empat contoh di atas harusnya cukup jelas untuk mengilustrasikan konsep “ras” dan asal-usulnya — saya yakin Anda paham apa yang saya maksud. πŸ˜‰

 

III. Reuni

 

Nah, setelah ribuan tahun terpisah, ras-ras manusia ini kemudian bertemu kembali. Dunia kita ini memang aneh — semua yang tadinya berpencar, kemudian bertemu lagi pada akhirnya. πŸ˜€ Air laut naik jadi air hujan, jatuhnya ke bumi lagi. Biji padi disemai di sawah, akhirnya masuk ke lumbung. Demikian juga umat manusia yang beragam ras di atas.

Berkat kemajuan transportasi, sekarang tidak sulit bagi kita bertemu orang di benua lain. Tinggal naik pesawat atau kapal laut, maka jadilah. Malah bukan saja kita bertemu — kalau mau, menikah dengan orang ras lain pun tidak masalah! πŸ™‚

Inilah yang disebut sebagai gene flow dalam konteks biologi. Orang-orang dengan genetik yang berbeda, dari tempat yang berbeda, bisa bertemu dan berkumpul di satu tempat. Mengutip peribahasa: “Asam di gunung, garam di laut, bertemu di belanga”. Contohnya ada banyak di sekitar kita.

Tidak percaya? Coba saya tanya. Sepanjang hidup Anda di Indonesia, ada berapa banyak kenalan yang berdarah Arab? Tionghoa? Indo? Berani taruhan — pasti lebih dari satu! :mrgreen:

Adapun itu baru di Indonesia. Di Amerika Serikat, negara yang terkenal membuka diri pada imigran, terdapat populasi kulit putih, kulit hitam, Asia, Inuit, dan Hispanik. Jadi mungkin bisa dibilang: umat manusia yang tadinya terkotak-kotak oleh ras, kini sedang merapat kembali dan bersatu dalam belanga.

 

IV. Multiras: Melampaui Batas Suku

 

Sebagaimana sudah disebut, di masa kini ras-ras yang berbeda — hasil adaptasi dan evolusi ribuan tahun — mulai bertemu kembali. Orang-orang dari tempat yang jauh saling berinteraksi; beberapa malah sampai menikah dan berketurunan. Otomatis, ini berarti munculnya satu genre identitas baru: identitas multiras.

Atau, kalau boleh dibilang, anak-anak yang lahir dari perkawinan beda suku. Di Indonesia kita menyebutnya “blasteran”.

Saat ini fenomena multiras adalah hal yang umum. Paman saya, orang Jawa, menikah dengan wanita Batak dan mendapat seorang anak. Teman ngobrol saya waktu kuliah berdarah Arab. Cinta pertama saya gadis Indo-Padang, dan lain sebagainya. Pada akhirnya ini menunjukkan satu hal: identitas kita bukan lagi tunggal dan terkotak. Melainkan campursari antara budaya sini, budaya situ, genetik sini dan genetik situ.

Barangkali lebih mudah jika ditunjukkan lewat nama. Dulu selebriti kita punya nama “Indonesia” seperti Roekiah dan Raden Mochtar. Sekarang kita punya Rianti Cartwright, Indra Bruggman, Farah Quinn. Di Kanada ada David Suzuki; di Prancis ada Patrick Vieira; di Jerman ada Mehmet Scholl. Masih banyak contoh lain yang takkan muat disebut di sini.

Poin saya adalah, pada akhirnya, kita — sebagai manusia — mulai kembali “menyatu” setelah terpisah jarak. Baik itu jarak genetik, jarak budaya, dan jarak sejarah. Kehadiran mereka yang multiras adalah buktinya.

Betapapun di luarnya kita terlihat berbeda, sebenarnya kita datang dari tempat yang sama. Dari padang-padang yang jauh di Afrika, kita mengembara, terpisah, dan akhirnya bercampur lagi. Asia bercampur Eropa, Indian bercampur Eropa, Asia bercampur Afrika… dan lain sebagainya.

Boleh jadi di masa depan umat manusia semuanya ras campursari. Mungkin seperti Tiger Woods dan Obama? Siapa yang tahu? πŸ˜‰

 

tiger woodsbarack obama

Dua bapak di atas, biarpun sekilas berkulit hitam, sebenarnya mewarisi genetik banyak ras.
Tiger Woods (kiri): keturunan Thai, Cina, Belanda, Afrika, Indian.
Barack Obama (kanan): keturunan Kenya-Amerika, ibu berdarah Inggris.

 

V. Unity in Diversity

 

Hari ini, ketika sedang menulis post ini, saya jadi ingat lagi pada pelajaran PPKn yang didapat waktu sekolah. Anak-anak biasanya bosan dengan pelajaran ini — sekadar mengulang hal biasa, tidak penting, dan lain sebagainya. Meskipun begitu ada satu poin yang diajarkan di sana, yang paling saya ingat sampai sekarang:

Jangan membeda-bedakan teman. Jangan berbuat kesukuan. Jangan mengungkit SARA. Ingat Bhinneka Tunggal Ika: biarpun berbeda-beda tetapi satu jua.

Now how true that statement holds! Bukan saja kita berbeda-beda tapi satu, kita memang satu dari sananya. Berasal dari tempat yang sama di Afrika, kita kemudian berpencar — dan sekarang menuju untuk bersatu lagi. Hanya kepicikan dan rasa naif yang membuat kita mengingkarinya.

Sebagaimana sudah kita lihat bersama di atas. Semua bentuk kesukuan dan ras itu pada dasarnya hanya ilusi. Siapapun orangnya, tak peduli dia berdarah Melayu, Cina, Arab, Indian, Eropa, Eskimo — asalkan sesama manusia, maka dia adalah keluarga. And that’s all that matters.

***

Maka benarlah penulis masyhur H. G. Wells berkata, “Our true nationality is mankind.” Beliau bukan ilmuwan, apalagi ahli sejarah. Meninggalnya pun baru abad lalu. Meskipun begitu, saya pikir ucapan beliau mengilustrasikan sejarah panjang manusia dengan tepat.

Atau, kalau saya boleh mengadaptasinya di sini: We were one, are one, and will be one. In the end, our true nationality is mankind.

Anda setuju? πŸ˜‰

Read Full Post »

Selama beberapa tahun terakhir, saya bisa dibilang menjalani hidup yang “tipikal anak kost”. Kamar saya luasnya beberapa meter persegi; di rak ada beberapa buah buku. Baju dan celana panjang menumpuk di salah satu sisi. Tidak ada yang benar-benar luar biasa — kalau ada di antara pembaca yang pernah main ke kamar kos mahasiswa, pasti bisa membayangkan bentuknya seperti apa. :mrgreen:

Nah, yang hendak diceritakan di sini terkait dengan gaya hidup “anak kos” yang disebut di atas.

 

[IMG: instant coffees]

atas: berbagai kotak minuman instan yang ada di kamar saya. dari kiri ke kanan: vanilla latte, kopi 3-in-1, dan sereal bubuk

Sebagai anak kos, saya bisa dibilang akrab dengan minuman sachet. Mulai dari kopi instan, sereal, hingga bandrek dan teh tarik, semuanya pernah jadi persediaan di kamar saya. Yang tidak instan barangkali cuma coklat bubuk — saya suka minum coklat panas — paling tidak, saya masih harus menambahkan gula sendiri. Tapi itu bukan itu yang hendak dibahas di sini. πŸ˜›

Yang hendak saya bahas di sini adalah aspek sosial yang dicerminkan oleh kehadiran produk sachet tersebut. Seperti apa ceritanya, here goes.

 

Nilai Sebuah Kepraktisan

 

Salah satu aspek yang saya suka dari minuman sachet adalah kepraktisannya yang luar biasa. Mau “dipendam” di kamar, dibawa naik gunung, atau diringkas dalam tas untuk dibawa pergi, isinya relatif terjamin. Kasarnya, biar kena hujan dan badai sekalipun enggak bakal rusak. Adapun kalau hendak minum, tinggal tuang air panas—aduk sebentar—dan kemudian jadilah. Tidak ada lagi acara merebus daun teh selama setengah jam atau sebangsanya. Asalkan ada air panas dan pengaduk, maka semua beres.[1]

Di titik ini, minuman sachet memberikan kita kenyamanan yang belum pernah ada sebelumnya: memenuhi kebutuhan dalam waktu cepat. Ingin minum kopi, tinggal aduk. Ingin minum teh tarik, tinggal aduk. Malah yang seperti ini bukan cuma minuman. Kelaparan di tengah malam dan ingin makan mie? Tak usah repot, kan tinggal “hot water, please!”. :mrgreen:

Inilah yang disebut sosiolog George Ritzer sebagai salah satu ciri modernitas. Masyarakat yang modern, menurut Bapak Ritzer, adalah masyarakat yang mengutamakan efisiensi di segala hal. Mulai dari efisiensi waktu, efisiensi organisasi, hingga yang “kelas berat” seperti efisiensi pemerintahan. Dan perkara sepele seperti minum kopi tidak lepas dari pengaruhnya.

Ketika kita lapar, haus, atau sekadar ingin ngopi, maka itu bisa dilakukan dalam waktu cepat. Kita tidak lagi perlu keahlian meracik a la Mbok Jamu atau barista Starbucks. Cukup tuang, tambahkan air panas, dan aduk, maka jadilah. Malah saya ingat waktu jalan-jalan di Circle K tempo hari — di sana ada bubur ayam instan! 😯 Di sini kita lihat betapa dahsyatnya proses “instanisasi” itu berlangsung.

Singkat cerita, di dunia yang bergerak cepat, efisiensi menjadi hal penting. Demikian simpul Bapak Ritzer.

 

Instanisasi dan “McDonaldization”

 

Bicara zaman modern dan instanisasi, tentunya tak bisa tidak menyebut sebuah ikon terkenal. Apa lagi kalau bukan fast-food dan McDonalds? :mrgreen:

Bapak Ritzer, yang idenya saya pinjam untuk uraian di atas, punya pandangan menarik tentang restoran fast-food dan zaman modern. Menurut beliau waralaba tersebut mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat modern, yakni:

 
Efisiensi — makanan dihasilkan dan diantarkan secara cepat. Sejalan dengan keinginan kita untuk memenuhi kebutuhan secepatnya.

Prediktabilitas — kemungkinan munculnya yang tidak terduga, semisal makanan habis atau pegawai kosong, adalah minimal. Sejalan dengan keinginan kita hidup di dunia yang aman, terjamin, dan tidak neko-neko.

Kuantitas mengompensasi kualitas — tidak masalah apabila kualitas masakan sedikit rendah, yang penting produksi terjamin dan harga terjangkau. Sejalan dengan naluri kita memilih barang produksi massal, alih-alih limited edition yang (terlalu) mahal.

Teknologi menggantikan peran manusia — pekerjaan kasar diserahkan pada mesin/unit produksi (bukannya manusia). Sejalan dengan kehidupan modern di mana teknologi membuat hidup semakin nyaman.
 

Empat ciri modernitas ini kemudian disebut sebagai McDonaldization, mengambil nama perusahaan fast-food terbesar dan terkenal saat itu.[2] Menurut Pak Ritzer, McDonaldization adalah ciri khas kehidupan modern. Pengaruhnya amat luas — bukan saja di bidang makanan cepat saji, melainkan juga berbagai aspek lain dalam hidup kita.

 

The Other Side of McDonaldization

 

Di awal tadi, kita membahas tentang minuman sachet dan makanan instan. Pada dasarnya, kehadiran mereka tak lepas dari McDonaldization: produksi massal, modal teknologi, pasokan terjamin. Tambahkan konsep efisiensi yang juga sudah dibahas, maka lengkaplah empat “pilar” tersebut. Adapun ini baru salah satu contohnya — barangkali kalau kita bicara industri modern, hampir tidak ada yang tidak terembesi oleh spirit tersebut.

Kalau saya boleh menilai, jiwa zaman kita yang sekarang adalah jiwa modern ala fast-food. Kita selalu ingin mendapat barang yang cepat-saji, kuantitas berlimpah, dan seterusnya. Kita jadi tergantung pada teknologi. Kalau dilihat sekilas ini adalah hal yang bagus — tapi masalahnya bukan itu.

Masalahnya adalah ketika kita, tanpa sadar, menempatkan manusia sebagai obyek dari McDonaldisasi itu. Manusia ditempatkan dalam production line, “dicetak” sesuai kebutuhan dalam produksi massal. Pada akhirnya masyarakat sosial jadi persis seperti ayam goreng produksi McD: seragam, cepat saji, dan di mana-mana ada.

Anda yang pernah membaca keluhan saya tentang kampus di blog ini barangkali paham apa yang saya maksud. Sebagai orang yang dulunya menjalani kuliah sebagai calon insinyur, saya merasa bahwa kampus itu sekadar fast-track saja dalam menghasilkan lulusan. Sejak tingkat II teman-teman saya terbiasa berkata, “Kerja di Halliburton butuh IPK berapa ya?”, “Ingin ke Caltex,” dan seterusnya. Seolah-olah kampus itu seperti conveyor belt pabrik. Kita masukkan lulusan SMA, pergi ke ujung belt, dan di sana kita dapat insinyur. Tak jauh beda dengan kultur fast-food McD — ayam mentah, cemplung-cemplung, jadi.

Sedihnya, dunia ala fast-food itu tidak terbatas di pendidikan saja. Sekarang kita punya produksi massal idola cilik; kita punya produksi massal sinetron; kita punya produksi massal calon pemain bola di Inggris dan Spanyol sana. Masyarakat sekarang bukan saja sebagai penikmat hasil produksi — masyarakat sekarang adalah masyarakat yang turut menjadi bahan baku. Atau, meminjam ucapan Claudia Serena di komik Fantasista, “tak jauh beda dengan ternak.”

 

Deindividuasi – Hilangnya Sebuah Keunikan

 

Konon, kita hidup di zaman modern. Zaman yang identik dengan gerak cepat dan efisiensi. Perwujudannya diwakili oleh kultur fast-food dan minuman instan: kita ingin semuanya serba cepat. Pada akhirnya semangat ini merembes ke berbagai aspek sosial dalam hidup kita. Bukan saja kita ingin makan dan minum secara cepat, berbuat apapun kita ingin cepat. Lebih cepat, lebih baik.

Lantas, demi efisiensi, kita lari pada produksi massal. Mulai dari alat elektronik hingga botol kecap, semua ada industrinya. Bahkan sekarang kita punya “industri” insinyur, idola cilik, dan pemain bola! Saya pikir, dalam dua ratus tahun, Revolusi Industri telah drastis mengubah jalan hidup kita.

Tidak, saya tidak memasalahkan industri yang telah membuat kita maju sejauh ini. Saya tidak memasalahkan industri yang membuat saya bisa punya handphone, lampu neon, dan laptop. Yang saya masalahkan adalah semangat industri yang tidak bijak ketika bersangkutan dengan manusia. Tanpa sadar kita menerapkan McDonaldisasi di masyarakat — kita ingin menjadi efisien, tapi kita kehilangan jati diri.

Analoginya, kita tidak lagi peduli pada nilai keunikan seorang chef. Kita tidak perlu juru masak hebat di dapur McDonald’s. Resepnya sudah baku, bahan-bahannya sudah baku, kualitasnya juga terstandarisasi. Saya mungkin bisa masak Spaghetti Bolognaise kalau sedang di rumah, tetapi, di dapur McD, hal itu tidak berharga. Saya cuma harus masak makanan yang semua orang bisa: burger, ayam goreng, french friesyou name it.

Demi mengejar efisiensi, kita melebur dalam sistem dan melepas jati diri. Di sini produksi massal mengambil alih.

Semangat produksi massal inilah yang kemudian merasuk ke dalam berbagai aspek, terutama pendidikan. Alih-alih menyukai “manusia yang unik”, kita lebih suka mencemplungkan anak-anak ke dalam wahana produksi: produksi dokter, produksi insinyur, produksi idola cilik, dan lain sebagainya. Saya tidak bilang spesialisasi itu buruk — masalahnya, spesialisasi berlebihan membuat kita kehilangan ruang untuk jadi unik dan mengembangkan diri. Sebagaimana saya klaim di tulisan yang terdahulu,

[M]embuat kreativitas saya menumpul . . . Saya menghabiskan waktu sampai dini hari untuk mengerjakan laporan, tugas, dan sebangsanya yang terkait kuliah saya saja.

Sementara, di luar kelas, saya bisa belajar banyak tentang bahasa Jepang, sastra klasik, teori evolusi, filsafat etika, teknik photoshop, kritik sosial, dan lain sebagainya. Di samping juga menggambar dan bikin komik jika sedang ingin.

Ada banyak waktu dan energi yang harusnya bisa dipakai untuk hal-hal lain β€” tetapi, di sini, saya seolah harus fokus pada target akademik saja.

 

Epilog: Secangkir Kopi di Pagi Hari

 

Pagi ini, seperti biasa, saya minum kopi instan persediaan di kamar saya. Rasanya lumayan enak, tapi generik. Kalau tidak ada bungkusnya barangkali saya tak bisa membedakan: apakah itu Indocafe atau Nescafe 3-in-1? Lha wong dua-duanya sama-sama campuran kopi, gula dan krimer. πŸ˜†

Lalu saya pikir, barangkali itu juga yang sedang terjadi di tengah-tengah kita. Toh kalau berkunjung ke dokter saya juga tidak tahu dokternya lulusan mana. Boleh jadi lulusan UI, UGM, atau malah swasta seperti Trisakti dan UKI. Yang membedakan barangkali cuma kepribadian dan sejarah hidupnya saja[3]. Mungkin begitu juga dengan para insinyur, ilmuwan, dan tokoh-tokoh profesional lainnya di sekitar kita…

To their credit, though, mereka punya kualitas yang bisa diandalkan. Barangkali seperti ayam goreng McD — tidak unik, di mana-mana ada, tapi selalu bisa bikin kenyang. Paling tidak mereka berkontribusi positif di masyarakat. Paling tidak, mereka membantu memenuhi kebutuhan masyarakat…

Sama halnya dengan ketika saya harus begadang dan membeli kopi instan di warung. Sisi positif dari industrialisasi. Setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. πŸ˜‰

 

 

——

 
Catatan:

 
[1] ^ Gara-gara ini, saya sempat pangling waktu pulang liburan dan mendapati ibu saya merebus daun teh. Saking terbiasanya dengan instan, saya jadi lupa pada cara masak yang tradisional. πŸ˜†

 
[2] ^ Sebenarnya ini penamaan yang kontroversial, mengingat penyebutan nama “McDonald’s” berkonotasi pada zaman modern yang ruthless dan kapitalistik. Meskipun begitu harus dicatat bahwa Ritzer memakai istilah ini secara ilustratif — bukan hanya melingkupi McDonald’s tapi juga fast-food chain pada umumnya.

 
[3] ^ Terkait dengan ini, seorang dokter kenalan saya pernah bilang: “Dokter di mana-mana itu sama, sama-sama harus menyelamatkan orang. Nggak ada pasien yang pilih-pilih dokter lulusan UI, UNAIR atau UGM.” πŸ˜†

Read Full Post »

Sekali waktu ketika masih sekolah, seorang teman saya ditanya oleh Bapak Guru dari suku mana dia berasal. Saya sendiri waktu itu sedang rada melamun — waktu itu pelajaran sejarah, yang kebetulan saya kurang tertarik. Meskipun begitu saya ingat dia menjawab, “Padang”.

Technically, harusnya dia menjawab “Minang” — tapi itu bisa kita kesampingkan untuk saat ini.

Saya pikir ada yang aneh dengan klaimnya waktu itu. Sejak pertama kali mengenal dia, belasan tahun lalu, saya langsung ngeh bahwa matanya berwarna coklat. Hidungnya rada mancung, dan kulitnya relatif pucat untuk ukuran Asia. Kalaupun ada yang mencerminkan bahwa dia “orang Padang”, maka itu adalah jilbab yang dia pakai sejak SD dan kefasihannya baca Qur’an. Paling tidak itu sejalan dengan semboyan orang Padang yang saya tahu: “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”.

Belakangan saya paham bahwa dia berdarah Indo. Barangkali dia dapat warisan itu sejak zaman penjajahan, makanya dia bisa dengan yakin berkata “Padang” ketika ditanya. Meskipun begitu — at risk of repeating myself — bukan itu yang hendak dibahas di sini.

***

Ada pertanyaan yang mengusik saya tiap kali menatap matanya yang coklat itu. Sebenarnya nenek moyangmu orang mana? Dari negeri yang jauh sampai kemudian tiba di SumBar, dan sekarang kamu di tanah Jawa? Portugis? Belanda? Atau barangkali dia bukan penjajah. Barangkali sekadar petualang Eropa serabutan macam Jean Marais

Bagi saya, dia adalah sosok yang menarik. Bukan karena dia cantik, melainkan karena dia membawa rasa penasaran saya ke tempat yang jauh: kapal-kapal pedagang, penjelajah, berlayar atas perintah bangsawan Eropa. Perjalanan sekian tahun menuju Malaka. Perjalanan membawa genetik Eropa dari tanah asalnya menuju kepulauan di Khatulistiwa…

Selalu ada yang unik setiap kali saya menatap matanya yang coklat itu. Dan setiap kali pula, saya selalu terkagum: betapa jauhnya manusia bisa berjalan, betapa kerasnya manusia bisa berupaya. Dari kincir-kincir angin di Belanda sampai lembah dan ngarai di Sumatra Barat, hingga akhirnya berhenti dan menetap di Pulau Jawa. Selalu ada yang spesial setiap kali saya memikirkannya.

Bayangkan, saya berkata ke diri sendiri. Bayangkan jauhnya.

Saya tahu, kehadiran bangsa Eropa mencapai Nusantara bukannya manis semata. Sebagaimana pelajaran PSPB memberi tahu saya di masa SD: banyak riwayat kelam yang menyertainya. Kolonialisme tidak indah. Meskipun begitu, sebagaimana saya tulis di atas, selalu ada yang spesial setiap kali saya memperhatikan teman yang disebut sebelumnya.

Bahwa di dekat saya ada seorang gadis, beragama Islam, berjilbab, dan relatif fasih membaca Qur’an, sementara nenek moyangnya mungkin petugas Zending missie beragama Protestan — dan bahwa dia lebih merasa sebagai “orang Padang”, alih-alih Belanda atau Portugis — membuat saya tertarik untuk merenung dan menuangkannya di sini dalam bentuk tulisan.

Bayangkan, saya berpikir. Bayangkan jauhnya.

Seandainya zaman penjelajahan tak pernah dimulai, maka dia takkan pernah lahir. Seandainya seorang pangeran Portugis tidak pernah memulai tradisi kelautan Eropa, kapal-kapal dagang VOC mungkin takkan singgah di Nusantara. Seandainya tidak ada kompas… seandainya tidak ada semboyan Gold, Gospel, Glory…

Hari ini, ketika saya sedang mengetikkan tulisan ini, saya kembali teringat padanya. Saya teringat pada matanya yang coklat, kulitnya yang pucat — kerudung yang dipakainya anatopis dengan raut wajahnya yang (sedikit) Eropa. Saya sudah lama tidak bertemu dengannya. Meskipun begitu, setelah melalui refleksi di atas, saya jadi sadar akan satu hal: She was indeed special.

Setiap kali saya menatapnya, saya membayangkan perjalanan yang ditempuh leluhurnya. Ribuan kilometer lewat laut, menantang badai. Mungkin juga sempat berperang/berselisih dengan penduduk lokal. Perjalanan panjang dan jauh. Dan saya bertanya, siapa yang memberinya bentuk mata dan warna kulit seperti itu.

Adakah leluhurnya dulu kelasi di kapal VOC? Atau barangkali bukan VOC. Barangkali dia naik kapal Portugis yang lebih dulu datang? Pertanyaan-pertanyaan macam ini terus berseliweran. Meskipun begitu saya pikir saya takkan pernah tahu.

Saya rasa, dia sendiri juga tidak tahu.

Kalaupun ada yang saya tahu, itu adalah bahwa leluhurnya telah jauh melangkah. Dari tanah yang asing di Eropa sana, terus mengarungi samudra, hingga akhirnya tiba di Sumatra Barat. Barangkali saya harus berterima kasih pada Pangeran Henry dari Portugal — sebab gara-gara dia abad penjelajahan Eropa dimulai, dan saya bisa merenungi perjalanan epic tersebut lewat kehadiran teman saya.

Walaupun, kalau boleh jujur, sebenarnya ada hal lain yang membuat saya berhutang budi pada pangeran tersebut. Tapi itu cerita lain untuk saat ini…

Read Full Post »

Dulu, waktu masih SMP, saya lumayan suka nonton serial TV berbau paranormal. Genrenya macam-macam: mulai dari yang fiksi (The X-Files, Poltergeist); dokumenter (Sightings); hingga yang ‘sekadar terinspirasi’ seperti Psi Factor-nya Dan Aykroyd. Saya sendiri kurang paham kenapa saya suka. Mungkin karena temanya bermain-main dengan misteri, makanya jadi menarik… tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini.

Waktu itu sekitar tahun 1998, dan saya belum lama masuk SMP. Pembaca yang nonton X-Files zaman segitu pasti tahu bahwa acara tersebut mulai pukul 21:30. Kadang-kadang tertunda oleh Liputan Khusus TVRI — kalau itu terjadi, selesainya bisa molor sampai pukul sebelas malam. Jelas bukan jam tidur yang sehat untuk anak semuda itu. Walhasil saya harus bernegosiasi dengan ibu supaya boleh nonton.

Ibu saya, liberal as she ever was, memberi izin: cuma satu kali seminggu[1]. Lampu harus mati, dan tidak boleh berisik. Maka jadilah saya nonton berbagai serial tersebut dalam gelap…

 

Masalahnya…

 
…TV ada di ruang tamu, sementara kamar tidur saya letaknya di lantai dua. Saya baru lulus SD — tapi nekat nonton berbagai acara tersebut sampai jauh malam. Dan kalau boleh jujur… ya, saya takut. 😐

Anda mungkin tak menyangka kalau pernah baca tulisan saya yang ini, tapi begitulah adanya. Waktu SD dulu saya penakut (walaupun setelah masuk SMP jadi agak berani). Bayangkan diri Anda sebagai anak 12 tahun, habis nonton Poltergeist di malam Jumat, dan naik tangga gelap-gelapan ke kamar tidur. Persis itulah pengalaman saya. (=3=)

Adapun rumah saya letaknya dekat kuburan, dan ada pohon besar di dekat situ[2]. Maka lengkaplah…

 

The Other Kind of Darkness

 
Seperti yang sudah saya tulis di atas, dulunya saya ini penakut. Setiap kali membahas paranormal, saya gentar; setiap kali nonton film seram tengah malam, saya terbayang. Meskipun begitu, setelah beberapa lama dan kilas balik, saya akhirnya sadar akan satu hal.

Bukan hantu, penculikan oleh alien, atau lain sebagainya yang saya takuti. Yang membuat saya gentar selama itu cuma satu:

 

GELAP

 

Bukan “gelap” dalam artian lampu mati atau tidak ada cahaya, melainkan “gelap” dalam arti yang lain. Saya gentar karena saya tidak paham apa sesungguhnya yang saya bayangkan.

Ketakutan saya pada alien, UFO, dan hantu bukan karena mereka seram dari sananya — melainkan karena saya tidak paham. Mereka itu apa? Seandainya saya ketemu mereka, apa yang akan terjadi? Apakah mereka jahat atau baik? Saya tidak tahu. Dan oleh karena itu, saya jadi takut.

Sadarkah Anda, kalau orang melihat penampakan hantu, biasanya reaksi mereka adalah:


“Hiiii… apa ituuu….???

Perhatikan pertanyaannya. Perhatikan kengeriannya.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kita — manusia pada umumnya — bukannya takut pada yang gaib. Kita bukannya takut pada hantu, alien, jin genderuwo, dan kawan-kawannya. Kita sekadar takut karena tidak mengerti. Dan karena tidak mengerti, kita cenderung berpikiran yang seram-seram saja.

Seandainya kelak hantu bisa dijelaskan dengan ilmu fisika, masihkah kita akan takut? Saya rasa, tidak! πŸ™‚

 

[komik penguin]

 

Dulu waktu saya SMA, saya sering pulang larut malam lewat gang sepi (ada kegiatan ekstrakurikuler, rumah saya jauh). Kemudian rasa takut menyergap: bagaimana kalau ada perampok? Bagaimana kalau ada tukang palak? Atau — yang rada aneh — bagaimana kalau ada penampakan hantu?

Kalau dipikir sekarang rasanya lucu, tapi sebenarnya, saya bukannya takut pada perampok betulan, tukang palak betulan, atau hantu betulan. Yang saya takuti adalah imajinasi saja. Dan imajinasi itu — yang seram-seram itu — timbul karena saya tidak tahu apa yang menunggu saya di kegelapan gang. πŸ˜‰

 

Mengapa Kita Takut Gelap?

 
Di sisi lain, ternyata istilah “gelap” dalam makna konotasi berhubungan dengan “gelap” dalam makna denotasi. Bahwasanya dua-duanya sama-sama membuat kita gentar pada ketidakpastian. πŸ˜•

Kita sering bertanya, kenapa banyak orang takut gelap? Menurut para ilmuwan hal itu bermula sejak zaman manusia purba dulu[3]. Atau, kalau boleh dibilang, merupakan animal instinct dalam diri kita.

Sewaktu manusia masih hidup berburu, mereka harus keluar-masuk hutan, berhadapan dengan aneka ragam predator. Di sini kemampuan melihat dan mengenali medan menjadi amat penting. Apabila terdapat pemangsa, maka lebih baik menghindar.

Adapun di malam hari penglihatan manusia menjadi lemah, sebab memang matanya tidak didesain untuk itu. Sedangkan banyak hewan buas bersifat nokturnal, semisal harimau, serigala, dan macan tutul.

Walhasil, manusia purba mengembangkan insting untuk bermain aman: “Daripada bahaya, lebih baik kita menghindari tempat gelap. Mana tahu kalau ada harimau atau beruang di situ.”

Insting itulah yang kemudian diturunkan pada kita. Masalahnya ada di kalimat terakhir: Mana tahu kalau ada harimau atau beruang.”

Jika manusia purba khawatir ada pemangsa di hutan yang gelap, maka kita, manusia modern, punya ketakutan yang mirip. Barangkali ada perampok bersembunyi di gang sepi. Barangkali ada pocong hendak menampakkan diri. Atau, kalau meminjam pengalaman Fox Mulder di X-Files: barangkali ada alien yang siap menculik adik saya di malam hari…

 

Science As A Candle In The Dark
 

Lalu, bagaimana caranya supaya kita menangkal rasa takut itu? Jawabannya ternyata sederhana. Karena kita takut pada yang tak pasti, kenapa tidak dipastikan saja biar jelas!? :mrgreen:

Pembaca reguler blog ini mungkin sudah pernah membaca pengalaman ibu saya di post yang dulu. Meskipun begitu, ada baiknya jika saya tampilkan lagi di sini.

Sekitar duapuluh tahun lalu, ibu saya bertugas di sebuah desa terpencil di pulau Jawa. Saat itu belum ada penerangan listrik di sana, dan beliau tinggal sendirian di sebuah rumah bilik.

Suatu malam sehabis hujan, terdengar bunyi β€œdukk-dukk-dukk” pada pintu.

Karena penasaran, ibu saya pergi ke depan dan membuka pintu. Tidak ada orang sama sekali.

Tentunya beliau kebingungan. Tetapi, ketika melihat ke bawah…

…tampak seekor katak sedang meloncat hendak masuk ke dalam rumah. Beliau pun segera mengusir katak tersebut.

Jika kita berhadapan dengan yang tak pasti, maka itulah saatnya untuk menyelidiki. Kita menerangi kegelapan bukan dengan menghindar, melainkan dengan cahaya. πŸ™‚

Inilah yang disebut oleh Bapak Carl Sagan sebagai “Science as A Candle In The Dark”. Dengan pengetahuan, kita membuka tabir, menyingkirkan hantu-dan-bayangan yang menakuti kita. Yang penting di sini adalah jiwa ilmiah: kalau ada yang aneh, kita selidiki dengan rasa ingin tahu. Bukannya malah diam dan mlungker ketakutan.

Fear doesn’t bring us anywhere, but curiosity does. Jadi, sejauh tidak berbahaya, kenapa mesti takut? πŸ˜€

Terkait soal ini, ibu saya selalu bilang tentang pengalaman beliau di atas:

“Kalau nggak dicek, aku ketakutan sepanjang malam. Kalau aku cek, biarpun hantu betulan, takutnya berhenti di situ. Jadi mendingan aku periksa.”

***

Saya pikir sudah saatnya kita mengubah cara pandang bahwa yang kita anggap supranatural, hantu, dan klenik itu menyeramkan. Alih-alih menghindarinya dengan gentar, kita harus memandangnya sebagai hal yang membuat penasaran. Perkara apakah mereka hantu sungguhan atau bukan, itu urusan lain.

Secara bahasa kita sering mempertukarkan antara “gelap” dan “misteri”. Dan memang, keduanya sering membuat ngeri dan takut. Tapi bukan berarti tak bisa diterangi.

Seandainya gang yang gelap diterangi oleh lampu, masihkah kita akan takut? Seandainya — kelak — supranatural dan klenik bisa dijelaskan lewat sains, masihkah kita akan takut? Saya pikir ini kembali pada masing-masing, tapi, kalau kita tidak coba menyalakan lampu, maka kita akan terus ketakutan dalam gelap.

Mengutip kalimat dedikasi Pak Sagan di salah satu bukunya, The Demon-Haunted World:

“I wish you a world: free of demons, and full of light.”

 

 
——

 
Catatan:

 
[1] ^ Belakangan jadi dua, sejak saya nonton Poltergeist. Kalau besoknya libur beliau tidak masalah — saya selalu boleh nonton bola di akhir pekan.

 
[2] ^ Serius tidak melebih-lebihkan. Boleh dikonfirmasi ke rifu atau yud1 kalau tidak percaya.

 
[3] ^ Beberapa referensi:

Read Full Post »

Bapak Enrico Fermi (1901-1954) adalah ahli fisika yang turut berpartisipasi dalam proyek bom atom di Los Alamos, New Mexico, pada masa Perang Dunia II. Sebagai ilmuwan yang berkecimpung di bidang fisika atom, nama beliau diabadikan lewat nama partikel fermion dan statisik Fermi-Dirac.

 

Enrico Fermi

Enrico Fermi (1901-1954)

 

Biasanya, kalau mendengar istilah “fisika atom”, yang terbayang adalah perhitungan yang rumit, teliti, dan sangat eksak. Meskipun begitu, Fermi adalah sosok yang berbeda dengan bayangan di atas. Alih-alih menyatakan ilmu fisika sebagai hitung-hitungan akurat, Fermi memperkenalkan cara berpikir yang rada nyeleneh: bahwasanya, banyak perhitungan rumit dapat didekati secara kira-kira.

Tunggu sebentar. Kira-kira? Bukankah fisika itu ilmu pasti. Bagaimana mungkin dihitung secara kira-kira? πŸ˜•

Nah, penjelasan untuk ini akan segera kita lihat di bagian selanjutnya. Seperti apa sebenarnya cara berpikir “kira-kira” yang diajukan Fermi? Here goes…

 

Cara Berpikir Fermi:
Sebuah Ilustrasi

 

Untuk mengilustrasikan Cara Berpikir Fermi, paling baik jika dicontohkan lewat pertanyaan sbb.

“Berapakah panjang diameter bola bumi?”

Bola bumi begitu besar, adakah yang pernah mengukurnya? Barangkali hanya ahli geologi saja — itu pun dengan alat-alat canggih. Meskipun begitu, Fermi punya solusi cerdik untuk menjawabnya.

Pertama-tama, kita pikir dulu acuan yang familiar. Saya orang Amerika — kebetulan, saya tahu bahwa jarak antara New York dan Los Angeles sekitar 3000 mil.

New York dan Los Angeles terpisah sejauh tiga zona waktu. Jadi, satu zona waktu adalah sekitar 1000 mil.

Bumi selesai berotasi dalam 24 jam, berarti, terdapat sekitar 24 zona waktu di seluruh bumi.

Alhasil: keliling bola bumi = 24 * 1000 mil = 24000 mil

Sampai di sini, kita mendapatkan nilai “kira-kira” keliling bumi. Meskipun begitu, Fermi masih belum selesai.

Lewat matematika, kita tahu rumus keliling lingkaran:

    K = Ο€ * diameter

Berapa nilai Ο€ ? Saya tidak ingat, tapi anggaplah nilainya sekitar 3.

*) sebenarnya 3.141592, tapi ingat, kita sedang bermain “kira-kira” di sini

 
Masukkan nilai tersebut…

    24000 mil = 3 * diameter
    diameter = 8000 mil

Menurut Fermi, panjang diameter bumi adalah sekitar 8000 mil. Atau, dalam satuan kilometer: 12800 km.

Sebagaimana bisa dilihat, ini hasil kira-kira. Pertanyaannya, benarkah jawaban tersebut?

Anda mungkin tak menduga, tapi, ukuran diameter bumi yang sebenarnya adalah…

 

7926.28 mil

 

atau

 

12756 km

 

Bandingkan dengan hasil kira-kira yang dihitung sebelumnya. Margin kesalahan yang didapat sangat kecil… bahkan 1% pun tak sampai. 😯 Barangkali kalau ada perlombaan mengira-ngira, maka Fermilah jagonya!

BTW, jawaban di atas saya dapat dari tiga sumber terpercaya: Google, Wikipedia, dan Encarta Online. Silakan dicek sendiri kalau tidak percaya. :mrgreen:

 

Kok Bisa!?

 

Biasanya, kalau orang disuruh mengira-ngira, margin kesalahannya cukup besar. Kalau sopir truk ditanya jarak antara Jakarta-Surabaya, barangkali melesetnya sekitar 10-15 km. Sementara Fermi bisa menebak diameter bumi… dengan meleset 44 kilometer saja. Di sini ada perbedaan ketelitian yang besar.

Pastinya kemudian timbul pertanyaan. Apa sih rahasia di balik tebakan Fermi, sedemikian hingga bisa memperkirakan dengan tepat?

Jawabannya terbagi dalam tiga poin, yang akan segera saya jabarkan di bawah ini.

 
Pertama, dan paling utama, Fermi menggunakan pengandaian bertingkat. Dari hal-hal yang sederhana dan umum diketahui, ia membangun asumsi. Siapakah yang menyangka bahwa diameter bumi bisa dihitung bermodal jarak Los Angeles ke New York? Tidak banyak. Tapi, sebagaimana kita lihat bersama, kumpulan fakta sehari-hari saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaan sulit.

Ini seperti kalau kita ditanya berapa banyak bola pingpong bisa masuk kardus. Jika kita tahu berapa *kira-kira* ukuran kardus, dan berapa *kira-kira* ukuran bola pingpong, maka selanjutnya jadi mudah. Tinggal mengembangkan saja dari asumsi tersebut.

 
Kedua, Fermi melakukan kira-kira dengan kisaran yang tepat. Betul, dia memperkirakan jarak antara New York ke Los Angeles sejauh 3000 mil — tapi dia tahu bahwa itu “kira-kira” yang bermutu. Dalam artian, tidak melebih-lebihkan ataupun mengurangkan.

Seandainya Fermi memilih angka “2000 mil”, maka perhitungannya akan meleset jauh. Demikian juga jika ia memilih angka “4000 mil”. Keberhasilan Fermi di sini disumbang oleh kemampuannya menentukan kisaran jarak yang tepat antara New York dan Los Angeles: dengan mengetahui kisaran yang tepat, maka perhitungan kira-kira dapat dilakukan.

 
Dan yang terakhir, ketiga: nilai “kira-kira” yang dipilih akan saling mengompensasikan dalam membentuk hasil akhir. Dalam melakukan pengira-ngiraan, pasti ada yang terlalu besar atau terlalu kecil. Secara kasar, kemungkinannya akan seimbang: 50% nilainya terlalu besar, atau 50% nilainya terlalu kecil.

Seiring dengan makin panjangnya train-of-thought, kecenderungan ini akan tampak secara statistik. Pilihan angka yang terlalu besar akan ditemani oleh pilihan angka yang terlalu kecil. Margin kesalahan akan saling berkompensasi — pada akhirnya, ini akan meminimalkan kesalahan hasil akhir. Demikian penjelasannya.

 

Not Your Average Guess

 

Sebagaimana bisa dilihat, cara berpikir yang dijelaskan di atas sangat runtut dan logis. Biarpun maksudnya memberi jawaban kira-kira, tetapi ia memiliki landasan yang kuat. Hasil yang didapat pun amat dekat dengan kenyataan.

Di sinilah bedanya antara sekadar “menebak” (guess) dan “menebak dengan cerdas” (smart-guess). Metode Fermi di atas termasuk dalam kategori smart-guess: dengan mengandalkan fakta umum sehari-hari, orang bisa menjawab pertanyaan yang (pada awalnya) terkesan sulit.

Yang harus diingat adalah bahwa cara berpikir ini tidak memberi jawaban sempurna, melainkan estimasi. Bagaimanapun pasti ada kurang dan lebihnya. Namanya juga ilmu kira-kira — what do you expect? πŸ˜†

Meskipun demikian, untuk penggunaan sehari-hari, Cara Berpikir Fermi bisa dibilang sangat powerful. Katakanlah, misalnya saya ditanya seperti berikut.

Berapa kilometer jarak Jakarta-Bandung lewat Tol Cipularang?

Maka saya tinggal berpikir: waktu naik bis tempo hari, perjalanan sekitar 2 jam. Kecepatan rata-rata mobil di jalan tol sekitar 70 km/jam. Maka, jawabannya sekitar 140 km.

Sementara pada kenyataannya, panjang jalan tol tersebut adalah 141 km! πŸ˜€

***

BTW, omong-omong tentang smart-guess, ada pengalaman menarik yang dialami dosen saya. Waktu itu beliau belum lama lulus, dan sedang bekerja di sebuah proyek konstruksi.

Suatu ketika, seorang supervisor datang dan bertanya. “Coba kamu lihat struktur ini. Menurut kamu, safety-nya bagaimana?”

Segera dosen saya mengeluarkan kalkulator dan berhitung. Setelah beberapa lama, beliau menjawab, “Berdasarkan perhitungan, harusnya struktur ini cukup aman.”

Kemudian datang seorang insinyur senior. Sang supervisor lalu beralih pada insinyur tersebut.

“Pak, ini sudah hampir jadi. Bagaimana menurut Bapak, apakah sudah safe atau…?”

Si insinyur diam sebentar, mengamati bangunan yang dimaksud. Sejenak kemudian…

“Sepertinya sudah oke. Safe lah.”

Saya tidak tahu apakah si insinyur senior melakukan perhitungan rumit di luar kepala, atau dia sekadar bermain kira-kira seperti dicontohkan di atas. Barangkali dia memang jenius. Atau mungkin, perhitungan sebenarnya tidak serumit yang dikesankan dosen saya.

Meskipun begitu, entah kenapa, saya merasa bahwa jawabannya adalah yang kedua…

Read Full Post »

Syahdan, sebelum benua Australia ditemukan, orang Eropa punya pendapat seperti berikut.

Setiap kali saya melihat angsa, selalu berwarna putih.
Angsa di danau berwarna putih,
Angsa di peternakan berwarna putih.

Oleh karena itu, pastilah semua angsa di dunia berwarna putih.

Selama bertahun-tahun mereka terbiasa dengan “doktrin” ini, sebab memang tak ada angsa berwarna lain yang hidup di Eropa. Mulai dari Inggris, Wales, hingga Belanda dan Hungaria, semua angsa yang terlihat selalu berwarna putih. “Rasanya mustahil ada angsa berwarna hitam atau abu-abu,” demikian pikir penduduk Eropa.

Tapi, benarkah begitu?

Menjelang akhir abad ke-18, pendapat “angsa putih” di atas hancur berkeping-keping. Bahwasanya, para ilmuwan menemukan spesies ANGSA BERWARNA HITAM… di benua Australia!!! 😯

 

Cygnus atratus

 
Angsa hitam (latin: Cygnus atratus). Konon, kehadirannya tersembunyi sampai tahun 1780 – yakni ketika ahli biologi Inggris menginjakkan kaki di Australia.

 
[photo (c) Mindaugas Urbonas, via Wikimedia Commons]

 
Kontan, peristiwa ini menampar kesadaran berfilsafat orang-orang Eropa. Bagaimana bisa orang begitu yakin bahwa semua angsa berwarna putih, sementara nyatanya ada angsa berwarna hitam? Pastilah ada yang salah dengan cara berpikir mereka. Tapi apakah yang salah itu?

 

Sekilas Problem Hume
(dan Cara Berpikir Induktif)

 

Bapak David Hume, filsuf Inggris yang meninggal pada tahun 1776, adalah orang pertama yang mengangkat topik ini. Di sela-sela kesibukannya sebagai penulis buku sejarah, ia mengetengahkan sebuah pertanyaan logika yang disebut Problem Hume.

Problem Hume aslinya memiliki deskripsi agak teknis. Meskipun begitu, untuk memudahkan pembahasan, saya akan coba menampilkannya di sini dalam bentuk ilustrasi.

Dua hari lalu, matahari terbit di ufuk timur.
Kemarin, matahari terbit di ufuk timur.
Pagi ini pun, matahari juga terbit di ufuk timur.

Tetapi, apakah matahari pasti terbit di timur juga esok hari?

Hume memiliki keberatan dengan cara berpikir induktif, yakni sebagaimana dijelaskan dalam tiga baris pertama bait di atas. Apabila suatu hal terjadi secara beruntun dan teratur di masa lalu, maka hal tersebut diprakirakan terjadi pula di masa depan. Pertanyaannya: benarkah demikian?

Menurut Hume, belum tentu. Bahwasanya amatan kita hari ini belum tentu mencerminkan kejadian esok hari. Dalam kasus matahari di atas, misalnya, tidak ada kepastian bahwa matahari akan terbit. Orang cuma bisa memprediksi saja lewat pengalaman.

Siapakah yang menjamin bahwa kiamat bukan esok hari? Bagaimana jika rotasi bumi mendadak berhenti, atau jika matahari mendadak hancur berkeping- keping. Menurut Hume, sangat gegabah jika kita meyakini masa depan takkan jauh beda dibandingkan kemarin-kemarin. Yang bisa kita yakini tentang masa depan — berdasarkan pengalaman — hanyalah probabilitasnya saja.

Kalau selama ribuan tahun matahari terus terbit di ufuk timur, sepertinya ia akan terbit di timur juga esok hari. Kalau selama ribuan tahun kita hanya melihat angsa putih saja, sepertinya mustahil ada angsa berwarna hitam. Tetapi bukan tak mungkin suatu hari, di satu hari yang mengejutkan… kita melihat parade angsa hitam atau matahari yang terbit di utara. Pada dasarnya, kita tak pernah tahu. Inilah intisari dari Problem Hume.

***

Kalau Anda suka nonton bola, pasti tahu kejadian baru-baru ini. Timnas Spanyol — yang tidak pernah kalah dalam 35 pertandingan terakhir — ternyata tumbang di kaki ‘anak bawang’ Amerika Serikat. Di sini Problem Hume menunjukkan dirinya. Betapapun dahsyatnya rekor Spanyol dalam 35 pertandingan, itu tidak menjamin mereka takkan kalah di pertandingan ke-36. πŸ™‚

 

Hubungannya dengan Kebenaran

 

Salah satu implikasi yang dihadirkan Problem Hume terkait dengan persepsi kita tentang kebenaran. Hume mengindikasikan bahwa apa yang hari ini kita yakini sebagai “kebenaran” belum tentu berlaku di masa depan.

Contoh yang bagus tentang ini adalah Hukum Newton. Selama dua abad, orang menganggap Hukum Newton sebagai tiang pancang dunia fisika. Ribuan percobaan yang dilakukan sejalan dengan ketentuan dan prediksinya. Para fisikawan waktu itu percaya, rahasia besar fisika telah terungkap — tinggal detail kecil-kecil saja yang tersisa.

Tak kurang dari fisikawan A. A. Michelson berkata,

“Tugas fisika sekarang sekadar menghitung angka desimal keenam saja (dalam perhitungan).”

Masalahnya, semua bisa dijelaskan dengan Newton. Tinggal memasukkan angka-angka yang cocok ke dalam rumus, maka jadilah. Ini pendapat yang dianut hampir semua fisikawan klasik.

Meskipun begitu, di awal abad ke-20, Albert Einstein muncul dengan dua buah karya terkenal. Pertama, Teori Relativitas Khusus di tahun 1905 menumbangkan Hukum Gerak Newton. Kedua, Teori Relativitas Umum di tahun 1919 menumbangkan Hukum Gravitasi Newton. Hanya dalam tempo dua dekade, “kebenaran” yang dianut fisikawan klasik runtuh.

Hukum Newton, yang tadinya diyakini sebagai “kebenaran” dunia fisika, ternyata tidak sempurna. Sebagaimana halnya angsa hitam, teori Einstein sukses menjungkirkan anggapan yang telah mapan.

***

Di sinilah kita belajar bahwa “kebenaran” (dalam tanda kutip) itu bukan Kebenaran hakiki. “Kebenaran” itu hanya asumsi kita belaka. Asumsi-asumsi dibangun dari masa lalu, dipakai untuk memprediksi masa depan. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Problem Hume: no, you can’t. Tidak pernah ada jaminan bahwa hari esok akan sama dengan hari ini, atau bahwa “kebenaran” hari ini akan diterima di masa depan.

Ratusan tahun orang Eropa percaya bahwa semua angsa berwarna putih. Tetapi, cuma dibutuhkan beberapa tahun menapaki Benua Australia untuk menyangkalnya.

Ribuan eksperimen mendukung “kebenaran” Hukum Newton. Keberhasilannya dua abad. Tetapi, cuma dibutuhkan dua buah paper di awal abad 20 untuk meruntuhkannya.

Dan siapakah kita, yang berhak mengklaim bahwa matahari pasti terbit di timur esok hari? Tidak ada. Kita cuma bisa memprediksi berdasarkan dengan pengalaman. Tetapi, benar atau tidaknya, kita takkan tahu sampai esok tiba. πŸ˜‰

 

Memaknai Kerancuan: Solusi Karl Popper

 

Sampai di sini, mungkin ada di antara pembaca yang hendak mengangkat tangan dan bertanya.

“Bagaimana bisa kita hidup dengan tenang? Dunia ini begitu rancu, tidak ada yang pasti. Bahkan kebenaran yang kita percaya juga tidak pasti!”

Memang ada benarnya. Problem Hume membuat kita harus siap-siap kehilangan pegangan: tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini. Masa depan kita tak pernah pasti. Yang bisa kita hitung barangkali hanya probabilitas (kebolehjadian)-nya saja.

Tetapi, bagaimana supaya kita tak terjebak mengamini “kebenaran” yang salah? Bagaimana supaya kita tak canggung menghadapi dunia yang tak terduga?

Jawaban untuk ini ditemukan oleh filsuf Austria, Karl Popper. Menurut Popper,

Pendapat kita tentang sesuatu hal tak boleh statis, melainkan harus selalu dicocokkan dengan bukti. Apabila pendapat tidak cocok dengan bukti, maka pendapat tersebut harus diperbaiki.

asas falsifikasi

Dunia memang tak terduga, Popper mengakui. Satu-satunya cara untuk menghadapi Problem Hume adalah dengan menerima bahwa prasangka kita bisa salah. Meskipun begitu, kita selalu bisa belajar dari kesalahan. Dengan mempelajari kesalahan, pemahaman kita jadi lebih baik.

Kalau tadinya kita percaya bahwa semua angsa berwarna putih, dan ternyata kita menemukan angsa hitam, maka keyakinan kita harus direvisi. Kalau tadinya kita percaya Hukum Newton sebagai kebenaran, maka, setelah melihat teori Einstein menumbangkan Newton, keyakinan itu juga harus direvisi. Di sini bukti berbicara. Apabila kita memilih keukeuh pada argumen dan menolak bukti, maka kita tak bisa maju.

Singkat kata, Popper menekankan: agar terhindar dari kekeliruan, orang harus membuka diri pada kemungkinan dan belajar dari kesalahan. Orang yang dogmatik, yang tertutup dan menolak bukti, hanya akan jadi tertawaan. Hanya orang yang berpikiran terbuka dan mau belajarlah yang bisa maju.

Demi menghadapi ketidakpastian, kita harus mengakui yang tak terduga. Dan kemudian, belajar dari yang tak terduga itu setiap kali ia menyerang. Demikian pendapat Popper.

 

Epilog: Dunia yang Tak Pasti

 

“Life is like a box of chocolates — you never know what you’re gonna get.”

~ Forrest Gump

 
Kita hidup di dunia yang tak pasti, demikian kata orang. Masalahnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kadang hidup berjalan sesuai perkiraan; lain waktu, kita mendapat kejutan. Hal-hal semacam ini membuat hidup kita jadi berwarna, dan pada dasarnya layak disyukuri. Sebab, siapa pula yang mau menjalani hidup yang sama setiap hari? πŸ˜€

Terkadang musibah terjadi, dan kita menangis. Terkadang kita mendapat kejutan manis, dan kita tersenyum. Satu hal yang harus selalu diingat adalah bahwa anything may not last forever. Tidak pernah ada jaminan bahwa hari esok akan sama dengan hari ini. Yang susah adalah kalau kita berasumsi bahwa hari esok akan begini atau begitu, tapi ternyata berbeda. Kita jadi tidak siap.

Quid vesper ferat, incertum est, begitu kata pepatah latin. Apa yang terjadi nanti sore tidak pasti. Oleh karena itu, salah besar jika orang berasumsi terlalu pasti tentang masa depan. Kita harus ingat bahwa selalu ada ruang untuk ketidakpastian — betapapun kecilnya.

Maka benarlah ujaran Karl Popper di atas. Orang tidak selayaknya berasumsi dengan pikiran tertutup, melainkan harus membuka diri pada kemungkinan. Hanya dengan membuka diri pada kemungkinan, kita siap menghadapi dunia; belajar dari kesalahan kita, dan menjadi lebih baik karenanya.

Anda setuju? πŸ˜‰

 

 

——

Ps:

Michael Owen gabung ke Man-U! Ada yang menduga? plurk_woot

Read Full Post »

Dulu, waktu saya masih kecil, ayah saya pernah menyampaikan ucapan yang — kira-kira — intinya sebagai berikut.

“Setiap kali ini-itu, pasti menangis. Jangan jadikan tangisan sebagai senjata.”

Saya tak ingat waktu itu saya sedang apa, atau menangis karena apa. Meskipun begitu, ucapan tersebut sangat membekas di hati saya sampai sekarang. Merajuk itu tidak baik, begitu intinya. Kalau kamu minta pengertian dengan menangis, tapi tanpa alasan yang kuat, itu sama saja dengan manja.

Tentunya ini bukan berarti orang tak boleh menangis sama sekali. Yang tidak boleh adalah menangis untuk meraih simpati orang, lantas mengambil keuntungan darinya.

Saya tahu, kalimat di atas terkesan keras dan terkesan ‘tidak berhati’. Tapi saya juga tahu bahwa itu ada benarnya. Dunia kita adalah dunia yang keras: orang bisa memohon-mohon dengan air mata dan tampang memelas, sementara dalam hatinya mereka sedang mengatur perangkap. Orang-orang macam ini menyedihkan. Mengemis belas kasihan, mengharap dukungan moral ataupun material… tetapi, adakah mereka punya alasan untuk dikasihani?

Belum tentu.

Kalau Anda sering main ke Jakarta (atau kota-kota besar lainnya di Indonesia), Anda mungkin pernah bertemu orang-orang macam ini. Biasanya orang tersebut bilang, “Dik, tolong minta uang pulang kampung. Barusan saya dicopet…” Matanya berkaca-kaca tanda kesedihan. Anda pikir dia tulus? Ha! Main saja ke tempat yang sama esok hari, dan lihat apa dia masih ada di situ. Dicopet kok berulang-ulang. :mrgreen:

Saya beberapa kali mengalami yang seperti ini. Ada dua orang di Bandung yang saya sampai kenal dengan wajahnya. Yang satu berkata bahwa dia sedang menuju Kiara Condong, tapi nyasar di Dago, dan kehabisan uang; yang satu lagi berkata bahwa dia datang dari Garut dan kecopetan. Demi mendapat sesuap nasi™ pengisi malam, ia lalu menjadi tukang parkir ilegal di taman kota…

…menyedihkan? Enggak sama sekali. Lha wong saya ketemu mereka berulang-ulang kok. Yang pertama saya ketemu di Dago tiga kali (!), sementara yang kedua, dua kali di dalam kampus. πŸ˜†

Hmmmmmmm.

***

Dari dulu, dan sampai sekarang, saya selalu jengkel pada orang yang jualan air mata. Atau, dalam pengertian yang lebih luas, jual kasihan. Mulai dari calon idola Indonesia yang nggak bisa nyanyi tapi bapaknya tukang becak, sampai tokoh cewek yang nangis-nangis di sinetron gara-gara ketahuan selingkuh. Pertanyaannya, buat apa? Mau dapat apa orang dengan air mata?

Ini sama saja dengan saya nangis-nangis di depan dosen, bercerita tentang semua kesulitan hidup, dengan harapan beliau jatuh simpati dan meluluskan saya dari kuliahnya. Enggak mutu. Limpahan SMS dari seluruh pemirsa Indonesian Idol sekalipun takkan mampu membuat saya lulus kuliah fisika kuantum, kalau saya memang layak dapat E. 😐

Saya pikir ada yang salah dengan kultur “air mata dan belas kasihan” ini. Masalahnya, sebagian kita terlalu mudah jatuh simpati. Simpati itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu. Mulai dari yang pura-pura kesasar, pura-pura kecopetan, hingga pura-pura bisa nyanyi dan ikut kontes idola. Untuk apa simpati itu dimanfaatkan, tujuannya tentu saja bervariasi.

Entah siapa yang salah. Apakah si pelaku yang sengaja mempromosikan kesialannya, atau masyarakat yang terlalu gampang kasihan? Sejujurnya, saya juga tidak tahu.

Meminjam lirik lagu Ebiet G. Ade,

Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langit…

Barangkali di sana ada jawabnya…

Oh well. πŸ˜†

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »