Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Books’ Category

Sedang jalan-jalan di Facebook kemarin siang, saya menemukan sebuah page yang menarik. Isinya sendiri bisa dibilang jejaring sosial banget — tidak jauh beda dengan urusan tag-mengetag pada umumnya. πŸ˜›

Take no more than 15 minutes, and make a list of the 15 books that stick with you, for whatever reason. Then spread the list:

— Post your list here
— Post it on your profile for your friends to see
— Become a fan of this page
— Include a link to http://www.facebook.com/15books in your profile post

Saya pikir, kalau ditulis sebagai notes, tidak semua orang bisa baca — harus daftar FB, add friend, dan seterusnya — sementara saya orangnya tidak mau approve sembarangan. Walhasil, saya pun memutuskan untuk menulisnya di blog saja. :mrgreen:

Seperti apa daftarnya, here goes

    (CATATAN: hampir semua dari buku di bawah ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, meskipun demikian saya merujuk pada versi dalam bahasa aslinya)

 

1. “Demon-Haunted World: Science as A Candle in The Dark”
— Carl Sagan (1995)

 

cover

 

Buku yang berisi kumpulan esai oleh almarhum Carl Sagan. Kalau boleh jujur, Pak Sagan adalah salah satu ilmuwan yang paling saya kagumi: berpengetahuan luas, punya kesadaran sosial, juga piawai mempopulerkan sains di masyarakat umum. Buku ini merangkum berbagai sudut pandang beliau semasa hidupnya (1932-1996).

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

2. “A History of God”
— Karen Armstrong (1993)

 

cover

 
Pertama kali baca buku ini waktu kelas 2 SMA. Pertama-tama kebingungan — meskipun begitu, setelah beberapa waktu, mulai bisa memahami alurnya. πŸ˜› Berkisah tentang evolusi keyakinan manusia sejak zaman pagan hingga era modern. Ini buku yang memperkenalkan saya pada gagasan ber-Tuhan yang esoterik; juga membuka mata bahwa “iman” itu banyak ragamnya.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

3. “Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World”
— Karen Armstrong (1988)

 

cover

 
Buku kedua dari Karen Armstrong di daftar ini, sekaligus juga yang terakhir. Dalam buku ini Bu Armstrong berkisah tentang kronologi Perang Salib dan dampaknya di era modern. Buku ini sempat membuat saya kecewa berat — bukan karena isinya jelek, melainkan karena sukses membuat depresi. Pengantar saya sebelum membaca literatur Perang Salib yang lebih serius (Runciman, Hillenbrand — tidak dibahas di daftar ini).

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

4. “Manusia Multidimensional: Sebuah Renungan Filsafat”
— M. Sastrapratedja (ed.) (1982)

 

cover

 
Buku jadul lungsuran ibu saya, meskipun begitu sepertinya beliau tidak pernah baca. ^^;; Berbentuk kumpulan esai, buku ini mengantar saya pada ide-ide dasar filsafat barat. Pertama kali “mengenal” Nietzsche, Jaspers, dan Camus dari buku ini — walaupun begitu, pembahasannya tentang Popper paling mengena di hati saya. Dus, membuka jalan saya untuk belajar filsafat lebih jauh. I’m eternally grateful to the authors of this book.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

5. “Crime and Punishment”
— Fyodor Dostoyevski (1866)

 

cover

 

Novel penulis Rusia pertama yang saya baca; waktu itu saya hampir lulus SMA. Banyak pesan moral yang saya dapat dari buku ini. Meskipun begitu ada satu poin yang paling berkesan: orang tidak bisa bahagia jika hanya bermodal rasionalitas (Raskolnikov) atau kehangatan hati semata (Sonia). Agar orang bisa bahagia, harus ada keseimbangan di antaranya, dan itu dicontohkan secara apik lewat “jalan” Razumihin dan Dounia.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

6. “Madilog”
— Tan Malaka (1943)

 

cover

 
Saya pertama kali tahu Tan Malaka lewat autobiografi Dari Penjara ke Penjara, jilid II, sekitar tahun 2003-04. Oleh karena itu, saya tahu sedikit tentang Madilog — dan kemudian, ketika ada teman kos yang punya, saya pun meminjam dengan sukses. :mrgreen: Dengan materi ilmu alam, logika, dan filosofi yang dibawanya, buku ini turut membentuk pemikiran saya di awal kuliah. (walaupun efeknya tidak sedahsyat Demon-Haunted World)

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

7. “Anak Semua Bangsa”
— Pramoedya Ananta Toer (1981)

 

cover

 
Bagian kedua dari Tetralogi Buru, sekaligus yang paling berkesan secara pribadi. Humanisme lintas batas yang dicerminkan para tokohnya benar-benar strike di hati saya. Mulai dari Jawa (Minke, Nyai), Tionghoa (Khouw Ah Soe), hingga Eropa (Jean Marais dan keluarga Delacroix), semua sepakat bahwa tidak ada manusia yang suka ditindas. Kisah perjuangan bangsa Filipina dan Cina oleh Khouw Ah Soe jadi pelengkap yang manis.

Novel karya mbah Pram ini sukses mengingatkan saya pada nilai yang berharga: Kemanusiaan itu universal, tidak terkotak-kotak oleh suku dan ras. Mengutip H.G. Wells, “Our true nationality is mankind.”

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

8. “Surely You’re Joking, Mr Feynman!”
— Ralph Leighton & Richard Feynman

 

cover

 

Setelah dari tadi membahas buku serius, maka sekarang waktunya buku yang lebih ceria. πŸ˜€

Surely You’re Joking, Mr Feynman! adalah sebuah (semi-) autobiografi karya Nobelis fisika Richard Feynman. Meskipun begitu, alih-alih membahas rumus dan dunia fisika, buku ini memberi gambaran dari sisi lain: bagaimana keseharian Feynman, rasa penasarannya akan segala hal, dan hobinya mengisengi teman sejawat. Sifat Feynman yang cerdas-tapi-playful adalah sumber inspirasi saya. Malah dulu saya bercita-cita mengikuti jejak beliau jadi ilmuwan! πŸ˜€

Menurut saya, buku ini seolah mencibir stereotip “orang jenius” yang berlaku di masyarakat dan menguburnya dalam-dalam. Listen now, kids: nobody likes a snobby genius! :mrgreen:

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

 

9. “Lets Learn Kanji: An Introduction to Radicals, Components and 250 Very Basic Kanji”
— Y.K. Mitamura et. al. (1997)

 

cover

 

Buku pengantar saya belajar Kanji. Kalau boleh jujur, saya sebenarnya tidak punya patokan khusus belajar Bahasa Jepang — ada banyak buku yang saya baca. Meskipun begitu yang satu ini benar-benar stand out sehingga layak disebut tersendiri. Dengan penjelasan, organisasi, dan trik memorization yang mantap, buku ini layak dimiliki oleh setiap peminat barang-barang Jepang.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

10. “Concepts of Modern Physics”
— Arthur Beiser (1981)

 

cover

 

Pembaca serial mekanika kuantum di blog ini mungkin sudah tahu buku di atas. Buku ini sempat saya cantumkan sebagai salah satu referensi di sana. Ilustratif, mengedepankan konsep, dan (relatif) sedikit bermain rumus, buku ini merupakan pengantar yang bagus menuju dunia fisika modern — di antaranya teori relativitas, mekanika kuantum, dan fisika partikel. Satu-satunya buku kuliah yang suka saya baca jika sedang senggang. πŸ˜›

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

11. “The Blind Watchmaker”
— Richard Dawkins (1986)

 

cover

 
Salah satu pengantar terbaik dalam memahami Teori Evolusi. Dalam buku ini, Dawkins menjelaskan bagaimana keragaman yang kompleks dapat dicapai lewat perubahan yang berkesinambungan (evolusi). Konsep-konsep rumit seperti DNA, mutasi, dan pewarisan dijelaskan lewat analogi yang mudah dicerna. Buku ini adalah salah satu awalan saya dalam mempelajari teori evolusi. (yang satu lagi buku S.J. Gould di nomor 12)

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

 

12. “Structure of Evolutionary Theory”
— Stephen Jay Gould (2002)

 

cover

 
Buku mammoth yang bisa dipakai membunuh cicak kalau dijatuhkan (seriously). Tebalnya 1343 halaman. Meskipun begitu, jika Anda benar-benar tertarik mendalami evolusi, maka buku ini adalah pilihan yang bagus. Sekitar separuhnya — 600-700 halaman — dialokasikan untuk membahas sejarah pemikiran, dan sisanya penjelasan teknis.

Dilengkapi gambar, foto, dan analogi oleh salah satu palaeontolog paling masyhur di dunia. Long story short, buku ini membuat Gould jadi “menara kembar” pemahaman evolusi saya — bersama dengan Richard Dawkins yang disebut sebelumnya. πŸ˜›

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

13. “Adventures in American Literature (Classic Edition)”
— James Early et. al. (ed), various American writers

 

cover

 

Buku ini merupakan kompilasi cerpen dan puisi karya penulis Amerika dari zaman ke zaman, mulai dari era Wild West hingga awal abad 20. Karya penyair legendaris seperti Edgar Allan Poe, Longfellow, dan Nathaniel Hawthorne bisa dibaca di sini. Terdapat juga sketsa biografis dan analisis komposisi berbagai karya tersebut; tambahan yang menarik untuk orang yang latar belakangnya non-sastra seperti saya.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

 

14. “Fantasista”
— Michiteru Kusaba (1999-2006)

 

cover

 
Manga pertama di daftar 15 Books ini. Saya bisa dibilang bukan peminat manga hardcore — saya tidak langganan majalah sebangsa ShonenMagz, jarang download, juga jarang beli di kios. Meskipun begitu Fantasista adalah pengecualian. Ilustrasinya bagus, jalan ceritanya menarik, dan teknik bermain bola yang disajikan tergolong realistis. Tidak ada tendangan maut a la Shoot! atau Captain Tsubasa. Pokoknya, sepakbola as we know it! :mrgreen:

Sayangnya serial ini memiliki ending yang buruk. Kesannya kurang dipoles, begitu, sehingga saya tak bisa memberi nilai sempurna. Oh well.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

15. Q.E.D ~θ¨Όζ˜Žη΅‚δΊ†~
— Motohiro Katou (1997–present)

 

cover

 

Yup, you read it right. Another manga in this list. Tak lain dan tak bukan, manga yang tokoh utamanya sosok jenius lulusan MIT. Siapa lagi kalau bukan So Toma? :mrgreen:

Bagi saya, Q.E.D. adalah salah satu komik favorit sepanjang masa. Komik ini berkisah tentang seorang jenius yang sulit dipahami oleh lingkungan sekitarnya, meskipun begitu, belakangan ia mulai bekerja sebagai detektif paruh waktu. Kasus yang ditangani Toma umumnya berhubungan dengan tema ilmiah seperti matematika, seni, dan sejarah — hal yang membuat komik ini jadi menarik. Malah saya tahu hal-hal obscure seperti Jembatan Konigsberg dan legenda Pygmalion dari komik ini! πŸ˜€ So that’s saying much. Manga ini masih berjalan sampai sekarang, dan di Indonesia diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.

Personal rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

***

Yah, kurang lebih seperti itu daftarnya. Tiga belas buku serius (baca: isinya sebagian besar tulisan) dan dua buah komik. Sebenarnya bukan tak mungkin ada yang terlewat, tapi, hei, yang disuruh kan cuma yang teringat saja. πŸ˜†

BTW, saya tidak mengetag siapapun untuk mengerjakan tugas ini. Silakan kalau ada pembaca yang berminat melaksanakan — tergantung suasana hati sajalah. πŸ˜‰ Walaupun saya penasaran juga sih daftar bukunya lambrtz, geddoe, dan mas gentole seperti apa…

Read Full Post »

Buku sains populer yang mengetengahkan ide-ide liar dan eksotis. Jika Anda penggemar fiksi ilmiah, ada kemungkinan Anda akan menyukai buku ini. πŸ˜‰

 

the fabric of reality -cover

 

Judul: The Fabric of Reality

Penulis: David Deutsch

Penerbit: Penguin Books, 1998

Jumlah Halaman: 367

 

David Deutsch, ahli fisika kontemporer asal Inggris, punya analisis yang menarik dalam memandang kenyataan. Dalam buku di atas, ia berupaya mengetengahkan cara baru dalam memandang dunia: yakni dengan memasukkan elemen sains (terutama fisika modern) ke dalam perhitungan. Hasilnya bisa ditebak: buku sains populer dengan bumbu filsafat di sana-sini.

Tentunya karena penulisnya seorang fisikawan, maka elemen yang paling dominan di sini adalah ilmu fisika. Meskipun begitu, Fabric of Reality bukanlah buku fisika. Justru sebaliknya: ia berupaya menjelaskan dunia dengan mengacu pada berbagai pilar sains modern. Di antaranya mekanika kuantum, teori evolusi, epistemologi, dan ilmu komputer.

Berdasarkan empat pilar itulah Deutsch berupaya menganalisis dan menjawab pertanyaan. What is reality like? Seperti apakah kenyataan itu?

 

The Four Strands of Reality

 

Menurut Deutsch, kenyataan yang kita persepsi sehari-hari berdiri di atas empat buah “pilar” yang saling menopang. Sebagaimana sudah disebut, empat pilar ini mewujud dalam empat tonggak sains modern, yakni:

  1. Mekanika Kuantum
    (bidang: Fisika)
  2. Atau lebih tepatnya: Many-worlds interpretation of Quantum Mechanics, temuan Hugh Everett. (selanjutnya disebut MWI)

     

  3. Teori Evolusi Dawkinsian
    (bidang: Biologi)
  4. Sintesis Richard Dawkins tentang replikasi dan meme, sebagaimana dipaparkan dalam buku The Selfish Gene.

     

  5. Church-Turing Hypothesis
    (bidang: Ilmu Komputer)
  6. “There exists an abstract universal computer whose repertoire includes any computation that any physically possible object can perform”

    Prinsip ini ditemukan oleh Alan Turing dan Alonzo Church.

     

  7. Popperian Problem-Solving
    (bidang: Filsafat/Epistemologi)
  8. Alias metodologi ilmiah yang kita kenal sekarang. Pilar ini merupakan hasil pemikiran filsuf Karl Popper.

Dalam rumusan Deutsch, empat pilar di atas saling berkaitan — bekerjasama membangun kenyataan sebagaimana yang kita persepsi. Saya takkan menjelaskan bagaimana prosesnya di sini, sebab bahasannya sangat panjang dan rada teknis (sebaiknya Anda baca sendiri). Meskipun begitu, saya akan sempatkan menyinggung ide ini di bagian selanjutnya.

 

The Radical World-view

 

Satu hal yang harus dicatat dari Deutsch adalah keberaniannya dalam ‘menembus batas’ ilmu fisika yang umum. Orang yang baru pertama kali mendengar nama Deutsch dan membaca buku ini, mungkin menyangka bahwa dia sekadar bongkar-pasang ide sci-fi. Seolah-olah dia lebih suka menyebar ide eksotis daripada menjelaskan kaidah fisika. πŸ˜•

But he isn’t. For God’s sake — he’s for real! XD

Realita yang digadang Deutsch, jika dibaca sekilas, terkesan luar biasa absurd. Meskipun begitu, semua itu memiliki landasan ilmiah (baca: peer-reviewed ideas) yang relatif kokoh.

Untuk menyebut beberapa di antaranya…

  1. Many-worlds Interpretation
  2. Bahwasanya, alam semesta terdiri atas sistem banyak-dunia (multiverse). Terlepas dari sifatnya yang eksotik, MWI adalah salah satu interpretasi QM yang dipertimbangkan serius oleh kalangan akademik.

     

  3. Barbourian Time
  4. Pendapat ini pertama kali dilontarkan oleh fisikawan Julian Barbour. Ide yang digagasnya adalah:

    Waktu itu tidak ada. Yang ada hanyalah rangkaian snapshot yang berkesinambungan.

    Analogi yang cocok mungkin seperti kaset video. Ini ide yang benar-benar radikal, dan — hingga saat ini — cuma dianggap minority report di kalangan fisikawan. πŸ˜•

    (see also: Transactional Interpretation of Quantum Mechanics)

     

  5. Alam semesta kita tidak berdiri sendiri. Melainkan, alam semesta ‘meminjam’ resource alam semesta lain untuk menjalankan Mesin Turing Universal
  6. Ceritanya panjang (dan saya tak yakin bahwa saya mengerti, BTW). =_=!

    Tapi intinya, beliau mengekstrapolasi Hipotesis Church-Turing untuk diterapkan dalam komputer kuantum dan MWI:

    Turing principle
    (for virtual-reality generators rendering each other)

    It is possible to build a virtual-reality generator whose repertoire includes that of every other physically possible virtual-reality generator.

    Bingung? Saya juga. So cheers. πŸ˜›

     

  7. Makhluk berkecerdasan memegang peran penting di alam semesta
  8. Why life (and knowledge) is significant. Ilustrasinya: apa yang terjadi jika teknologi manusia sudah sangat maju di masa depan?

    Mungkin mereka akan menghambat laju perkembangan matahari (supaya tidak sampai jadi bintang merah raksasa dan membakar bumi). Mungkin mereka akan membangun koloni di tatasurya lain. Mungkin mereka akan menyebar benih kehidupan di planet yang jauh…

    Intinya, intelligence counts. Alam semesta yang ditinggali makhluk berkecerdasan takkan sama dengan yang tidak ditinggali oleh mereka. πŸ˜• Alhasil, dalam pandangan Deutsch, evolusi dan epistemologi memegang peran penting.

 
Dan mungkin masih ada yang terlewat. Seperti yang sudah saya tulis di awal, buku ini dipenuhi oleh ide-ide liar dan eksotis. Mungkin tak berlebihan jika saya menyebutnya buku sains — terutama fisika — postmodern. ^^;

 

Kritisisme?

 

Tentu, pandangan yang diajukan Deutsch bukannya bebas dari kelemahan. Saya sendiri menemukan bahwa beberapa idenya cenderung far-fetched — walaupun banyak juga yang masuk akal.

Pertama-tama yang harus ditanyakan adalah MWI. Mengingat ada begitu banyak interpretasi mekanika kuantum yang sejajar saat ini, MWI bukan solusi istimewa. Deutsch sendiri sempat membahas “mengapa harus MWI” di buku ini. Tetapi, orang harus ingat bahwa MWI masihlah sebuah hipotesis. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya.

Kedua, tentang waktu Barbour: ini juga statusnya masih minority report. Walaupun terdapat beberapa indikasi bahwa Barbour mungkin benar (tidak dibahas di sini). Dan yang ketiga: belum ada bukti bahwa ekstrapolasi Deutsch atas Church-Turing benar adanya, sebab MWI sendiri statusnya masih perlu diuji.

Meskipun begitu, terlepas dari tiga hal di atas, saya harus mengakui bahwa ide Deutsch tentang alam semesta bisa dibilang orisinil — kalau tidak disebut menyegarkan. Rasanya seperti dicemplungkan ke dunia SF, hanya saja yang menulis profesor fisika kelas dunia. πŸ˜†

 

Verdict?

 

Buku yang menyegarkan, pandangan yang orisinil, dan banyak insight menarik, terutama di bagian yang membahas epistemologi. Nilai plus lain: buku ini juga mengandung penjelasan saintifik tentang konsep-konsep sci-fi yang familiar (e.g. multiverse dan time-travel).

Meskipun demikian, sebagaimana umumnya bahasan frontier physics, buku ini tidak mengedepankan “fisika untuk semua orang”. Cukup disarankan jika Anda punya sedikit pengetahuan fisika dan menggemari fiksi ilmiah. But still: best read with a pinch of salt. πŸ˜‰

 
Personal Rate: 4 out of 5

 

 
——

Ps:

Sekalian pengumuman tentang seri QM. Jika tak ada hambatan berarti, bagian #4c, #4d, dan #5 akan dirilis sebelum tanggal 20 Februari.

Sorry for the long wait. IRL gets in the way… ^^a

Read Full Post »

Saya merasa hati saya disobek-sobek ketika membaca dalil-dalil fisika dipakai untuk mengapologikan keyakinan agama…

…dengan tidak semestinya.

Orang-orang awam mungkin akan senang dan merasa makin kukuh imannya. Tetapi, jika Anda paham dengan apa yang dibicarakan, melewati technobabble yang digunakan, maka pilihan Anda cuma dua: kecewa sekali atau marah sekali.

Dan saya mengalami yang pertama.

(ditulis setelah membaca “Pusaran Energi Ka’bah” karya Agus Mustofa)

 

Kutipan dan Tanggapan:

 

Disisi lain, ternyata jutaan orang yang berthawaf mengelilingi Ka’bah juga menghasilkan energi yang besar. Dari mana asalnya? Di dalam ilmu Fisika kita mengenal suatu kaidah yang disebut Kaidah Tangan Kanan.

Kaidah Tangan Kanan mengatakan: “Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan elektromagnetik yang mengarah ke atas.”

Hal ini, dalam Kaidah Tangan Kanan, digambarkan dengan sebuah tangan yang menggenggam empat jari, dengan ibu jari yang tegak ke arah atas. Empat jari yang menggenggam itu itu digambarkan sebagai arah putaran arus listrik, sedangkan ibu jari itu digambarkan sebagai arah medan elektromagnetik.

Kaidah tangan kanan ini telah memberi kemudahan kepada kita dalam memahami misteri Ka’bah. ‘Kebetulan’, orang berthawaf mengelilingi Ka’bah berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Atau dalam kaidah itu mengikuti putaran empat jari tergenggam.

 

~ hal. 112-113
(cetak tebal dari saya)

Ada tiga kesalahan yang ingin saya tunjuk di sini.

Pertama, penulis menyatakan “konduktor dikelilingi oleh arus listrik” (analogi orang berthawaf, Ka’bah sebagai konduktor — lihat kutipan selanjutnya 1, 2).

Ini salah besar. Arus tak bisa mengalir di luar konduktor. Ia hanya bisa mengalir lewat medium penghantar, e.g. kawat logam. Arus listrik tidak bergerak mengelilingi konduktor di udara bebas, sebagaimana ilustrasi orang berthawaf di atas.

Kedua, medan magnet tidak muncul di konduktor, melainkan di sekeliling konduktor berarus. Jika Anda menghantarkan listrik pada kawat, medan magnet akan muncul di sekeliling kawat… BUKAN pada kawat konduktor itu sendiri.

Ketiga, kaidah tangan kanan (right hand grip rule) yang sebenarnya tidak berbunyi seperti di atas. Melainkan:

    Ibu jari Anda melambangkan arah arus, dan empat jari yang menggenggam melambangkan arah medan magnet.

Jika arus mengalir lurus, maka medan magnet yang dihasilkan akan melingkar. Jika arus dibuat melingkar… maka kita harus melakukan perhitungan lebih lanjut. Kita harus menerapkan aturan tangan kanan dengan ibu jari kita mengikuti gerak arus.

Agak rumit bila dijabarkan, tapi bisa dijelaskan dengan ilustrasi sebagai berikut.

 

[medan magnet arus melingkar]

Untuk arus yang berputar berlawanan arah jarum jam, akan terbentuk medan magnet seperti ilustrasi sebelah kanan. Perhatikan bahwa:

1. Bagian tengah kosong (tidak ada konduktor)
2. Arus merambat pada kawat, bukan di udara kosong
3. Medan magnet terbentuk di sekeliling kawat
4. Arah medan magnet tidak hanya ke atas, melainkan melingkar.
Dengan demikian terdapat medan magnet ke arah bawah di sisi luar konduktor. (tidak digambarkan)

Kutipan di atas setengah benar ketika menjelaskan arah medan magnet ke atas, tetapi salah total ketika menjelaskan arus. Sorry, but — first.

 

Masih ada lagi yang lain:

Seperti telah saya katakan, bahwa tubuh manusia ini sebenarnya mengandung listrik dalam jumlah besar yang dibawa oleh miliaran bio-elektron dalam tubuh kita. […] Sehingga ketika ada jutaan orang berthawaf mengelilingi Ka’bah, ini seperti ada sebuah arus listrik yang sangat besar berputar-putar berlawanan dengan arah jarum jam mengitari Ka’bah. Apa yang terjadi?

 
~hal. 113

Per definisi, arus listrik adalah elektron yang bergerak. Apabila terdapat arus, maka akan terbentuk medan magnet di sekitarnya. (perhatikan gambar di atas)

Saya tidak tahu apa itu bio-elektron, kecuali — mungkin — maksudnya adalah elektron yang terdapat dalam sistem fisiologi tubuh manusia. Ini tidak menjawab apa-apa. Elektron dalam tubuh manusia tidak ada bedanya dengan elektron dalam sebongkah bata.

Meskipun begitu, sekilas saya bisa menangkap ide yang beliau usung:

    Kelihatannya, penulis berupaya menjelaskan arus lewat ide “manusia sebagai muatan negatif yang bergerak”.
     
    Dengan demikian gerakan thawaf akan menghasilkan arus berlawanan arah jarum jam.

Sayangnya, ide ini sangat mentah. Tubuh manusia umumnya bermuatan netral. OK, terdapat satu-dua kondisi di mana tubuh manusia bisa bermuatan lebih positif/negatif (penjelasan yang bagus: di sini). Meskipun demikian hal ini sifatnya tidak alami… Anda harus menjalani proses ‘kehilangan’ muatan dulu sebelum jadi tidak netral.

Jika manusia bermuatan bergerak, maka akan timbul medan magnet (berperilaku seperti arus listrik). Tetapi, jika manusia netral bergerak, maka tak akan timbul medan magnet sama sekali. Tidak ada perilaku arus. Ini sama saja dengan memutar-mutar batu bata (muatan netral) menggunakan tali — takkan ada gejala elektromagnet, karena muatan bendanya sendiri nol!

 

Dan lagi:

Di tengahnya, di Ka’bah — khususnya lagi di Hajar Aswad — terjadi medan elektromagnetik yang mengarah ke atas. Kenapa begitu? Karena dalam hal ini Hajar Aswad telah berfungsi sebagai konduktor, seperti dijelaskan oleh Kaidah Tangan Kanan.

 
~ hal. 113
(cetak tebal dari saya)

Perhatikan kembali gambar yang saya cantumkan. Sebenarnya tidak perlu ada konduktor di tengah untuk memunculkan medan magnet.

Jika sebuah arus berputar berlawanan arah jarum jam, maka arah medan magnet — di dalam lingkaran — akan cenderung ke atas. Di titik pusat, terbentuk medan magnet yang benar-benar tegak. Semua terjadi tanpa perlu adanya konduktor di tengah cincin.

 

Dan TERAKHIR… (ini yang membuat saya benar-benar geleng kepala)

Sesungguhnya, setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik. Gelombang itu selalu memancar ketika kita melakukan apa pun. Ketika kita berkata-kata, kita sebenarnya sedang memancarkan gelombang suara yang berasal dari getaran pita suara kita.

Ketika kita berbuat, kita juga sedang memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita. Jika tertangkap mata seseorang, maka mereka dikatakan bisa melihat gerakan atau perbuatan kita. Demikian pula ketika kita sedang berpikir, maka otak kita juga memancarkan gelombang yang bisa dideteksi dengan menggunakan alat perekam aktivitas otak yang disebut EEG (Electric Encephalo Graph). Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi.

 
~ hal. 112
(cetak tebal dari saya)

Maaf, tapi tidak ada ampun di sini. πŸ˜•

 
Pertama:

Gelombang suara BUKAN gelombang elektromagnetik, melainkan gelombang mekanik. Keduanya memiliki perbedaan properti yang signifikan.

Yang saya lihat, penulis cenderung mencampuradukkan fenomena gelombang dan mewadahkannya dalam satu nama “gelombang elektromagnetik”. Mungkin beliau tidak bermaksud demikian — tetapi, menyebut gelombang suara tepat setelah membicarakan gelombang elektromagnetik, itu berpotensi menyesatkan pembaca yang awam. 😐

 
Kedua:

Penulis menyatakan “setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik”. Disambung dengan percontohan bahwa kita “memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita”, bahwa kita memancarkan gelombang otak… sebelum akhirnya memungkas penjelasan dengan kalimat: “Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi”.

Seolah-olah, istilah “pemantulan” dan “pemancaran” itu sama dan dapat dipertukarkan! Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Mari kita perhatikan definisi berikut:

  1. Suatu benda yang memancarkan gelombang, menghasilkan gelombang tersebut dari dalam dirinya sendiri. Ia bersifat aktif dan membutuhkan energi internal.
  2. Contoh: Bintang memancarkan cahaya (lewat energi fusi), speaker memancarkan suara (lewat energi listrik), dst.
     

  3. Suatu benda yang memantulkan gelombang bersifat pasif. Ia hanya menunggu datangnya gelombang dari sumber lain, dan tidak membutuhkan energi internal*.
  4. Contoh: Bulan memantulkan cahaya dari matahari ke bumi; dinding memantulkan gelombang suara dari mulut kita, dst.

     

    *) Lebih jauh lagi, sebenarnya benda menyerap sebagian energi gelombang saat pemantulan terjadi. Tapi itu bisa kita abaikan untuk saat ini.

Dengan demikian, gelombang hasil pantulan berbeda dengan gelombang hasil pancaran. Pemantulan cahaya tidak dapat disamakan dengan pemancaran cahaya — apalagi dengan pemancaran energi!

Mempersamakan pemancaran dengan pemantulan, ibaratnya menyatakan bahwa bulan bersinar tanpa bantuan matahari. Ini ngaco.

Saya tidak menyangkal bahwa keduanya — pemancaran dan pemantulan — punya ciri umum yang sama. Mereka sama-sama merambatkan energi gelombang pada pengamat. Tetapi, prinsip dasar yang melandasinya berbeda. Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas.

Meskipun begitu, penulis tampak menganggap bahwa keduanya sama dan dapat dipertukarkan. Entah kenapa. πŸ™„

 

Sebuah Catatan Akhir

 
Sejauh ini, Anda mungkin bertanya: kenapa saya mau bercapek-capek menulis tentang buku tersebut dan menanggapi poin-poinnya. Sebenarnya sederhana saja: saya kecewa. Terutama sebagai orang yang, kebetulan, mempelajari fisika secara ekstensif di bangku kuliah.

Boleh-boleh saja kalau mau berdakwah dengan mengedepankan penemuan sains. Hanya saja: check your facts first. Dakwah model ini berpotensi terjerumus jadi pseudosains jika penggagasnya tidak berhati-hati.

Kalangan awam yang mencari peneguhan religius mungkin kagum dengan adanya pemaparan so-called “kecocokan ilmiah”. Tetapi, kekaguman itu berlandas pada kesalahkaprahan… sebuah landasan yang sangat rapuh.

Apa jadinya dengan kebanggaan yang dibangun di atas ilusi dan miskonsepsi. Ini hanya akan membuat pemercayanya tampak bodoh. Agama tidak — dan tidak seharusnya — diperkokoh lewat hoax dan pseudosains. Bayangkan seorang penganut yang dengan percaya diri berkata:

“Agama saya menemukan pembenaran lewat gejala alam X. Penjelasannya bla-bla-bla.”

Hanya untuk ditertawakan oleh pendengarnya yang menjawab:

“Hei, penjelasan kamu salah. Gejala alam X itu penyebabnya seperti ini…” :mrgreen:

***

Akhir kata, saya cuma ingin berpesan: jangan campurkan sains secara sembrono untuk kepentingan dakwah. Setidaknya, pastikan bahwa dalil-dalil yang Anda gunakan benar dan masuk akal. Jangan sampai iman/agama yang Anda bela — dan umatnya — justru terlihat bodoh karena berpatokan pada ilmu semu.

Ironis, bukan, jika upaya untuk meneguhkan keyakinan ternyata berlandaskan pada ketidakbenaran.

Sains dan Agama adalah dua sisi yang sering bentrok. Mencampurkan keduanya secara sembrono sangat beresiko… lebih bijak jika kita menimbang jarak antara keduanya sehati-hati mungkin. πŸ˜‰

 

 

—–

Ps:

Buat mbak Snowie, yah, saya sudah menemukan buku ybs. Ternyata ada di lemari buku orangtua saya. There you have it. πŸ˜‰

PPs:

BTW, yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir. Atau lebih tepatnya, lulusan Teknik Nuklir UGM.

Can you believe it? πŸ˜•

Read Full Post »

Kuba, 1959. Revolusi baru saja meletus, dan Fidel Castro naik tampuk menjadi pimpinan besar di negeri pulau tersebut. Jargon-jargon komunisme bertebaran, dan euforia menguar pasca jatuhnya mantan presiden Batista — ketika, di saat yang sama, kemiskinan dan kerusuhan merajalela. Gelombang eksodus besar-besaran menuju Amerika Serikat menjadi jalan keluar bagi penduduk yang terhimpit, atau bagi mereka yang berseberang jalan politik dengan sang Jendral.

Apa yang terjadi ketika sebuah keluarga Kuba yang biasa, dengan para anggota keluarga yang juga biasa, mulai terkena imbasnya?

Manis, pedih, menusuk, sekaligus mengharukan dalam satu waktu — jika saya disuruh memilih buku terbaik yang saya baca sepanjang liburan ini, maka novel ini adalah kandidat utamanya. πŸ˜‰

 

Broken Paradise - cover


Judul: Broken Paradise – Surga yang Hancur

Penulis: Cecilia Samartin

Penerbit: OnRead-Books Publisher; cetakan I Maret 2008

Tebal: vi + 360 halaman

 

The Story

 
Nora Garcia adalah seorang anak perempuan biasa, dengan keluarga besar yang juga biasa, di salah satu sudut kota Havana. Berangkat ke sekolah Katolik setiap pagi adalah rutinitasnya, dan berlibur ke pantai pasir putih di Varadero adalah selingannya. Ia punya ayah, ibu, paman dan bibi, serta kakek-nenek yang sayang padanya. Di usia sembilan tahun, keluarganya lengkap dan bahagia.

Begitupun, yang paling akrab dengannya adalah saudari sepupunya, Alicia putri Paman Carlos. Gadis yang — di mata Nora — selalu terlihat “cantik, berani, dan pintar”. Sosok yang sama seringnya antara membuat Nora iri ataupun tertawa bahagia… teman yang menemaninya belajar berenang bersama kakek di pantai, hingga debat tak jelas mengenai cinta pertama… atau, lebih tepatnya, segala hal yang umum dimiliki oleh pasangan teman sejak kecil.

Sayangnya kebahagiaan tak berlangsung lama. Di tahun 1959, Fidel Castro menggulingkan Presiden Batista. Revolusi Kuba dimulai. Ikon-ikon gereja diratakan dengan tanah, dan sekolah Katolik ditutup. Kerusuhan dan penahanan oleh pemerintah semakin marak — dan keluarga Nora memutuskan untuk mengajukan visa untuk emigrasi ke Amerika Serikat. Adapun Alicia, bersama dengan Paman Carlos dan istrinya, memutuskan bertahan di tanah air mereka. Bertahan dengan harapan bahwa kekacauan yang diakibatkan Castro hanyalah sementara.

Dan kisah dua keluarga Kuba yang terpisah pun dimulai: yang satu dengan asal-usul yang tercerabut di tanah harapan, dan yang lainnya morat-marit di negeri asal…

***

 
On My Notes

 
Sejujurnya, ketika pertama kali membaca novel ini, saya langsung terpikat pada gaya bertuturnya yang sangat filmis. Deskripsi kuat, dengan bumbu kehidupan Kuba pra-revolusi yang terasa asing-tapi-dekat, menjadi nilai plus dari kisah yang satu ini. Mungkin kalau di Indonesia, gaya ini bisa dibandingkan dengan karya Andrea Hirata. Ia menyuguhkan ‘pemandangan’ yang detail ketika, di sisi lain, memberikan insight mendalam tentang keadaan sosial para tokohnya.

Hal yang menjadi kekuatan utama novel ini adalah korespondensi antara Nora dan Alicia yang terjalin selama bertahun-tahun, menjelaskan perbandingan antara kehidupan eksil dengan mereka yang bertahan di bawah rezim Castro. Upaya keluarga Garcia bertahan hidup di California, disertai gegar budaya antara kehidupan Katolik mereka dengan Amerika yang liberal, mungkin sudah cukup untuk membangun satu cerita sendiri. Tetapi, surat-surat Alicia berperan lebih besar lagi: ia berkisah tentang sebuah dunia yang ‘sakit’ di tengah benua Amerika sana.

Bagaimana, misalnya, ia harus merayu petugas pembagian makanan untuk mendapat bagian lebih. Bagaimana nama putrinya menghilang dari daftar tunggu rumah sakit hanya karena ia terlihat berdoa di gereja; bagaimana ia terpaksa melacur dengan sipir agar ia bisa menyampaikan surat dan kiriman barang untuk suaminya di penjara; dan lain sebagainya. Deskripsi yang ‘sakit’ dan menyedihkan ini — tak bisa tidak — sangat mengingatkan saya pada kisah Frankie McCourt di Angela’s Ashes.

Sebagaimana Frank McCourt dewasa pernah bertekad[1],

“Aku ingin pergi ke Amerika. Tempat di mana semua orang punya kakus dan bisa makan tiga kali sehari.”

Saya menjadi paham apa yang ada di benak Alicia, ketika berkata pada putrinya yang buta, Lucinda, bahwa ia pun ingin mereka pergi ke Amerika: tempat di mana “orang bisa terus mandi air panas dan punya tiga pasang sepatu”.

Mungkin, kalau saya bisa menyarikan pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya, maka pesan itu adalah sebagai berikut: Menjadi pelarian revolusi di Amerika adalah hal yang berat. Tetapi, menjadi warga Kuba, yang tetap tinggal dan bertahan di bawah rezim yang menekan, adalah perjuangan yang lebih berat lagi.

***

Meskipun begitu, di samping berbagai kelebihan yang saya sebutkan di atas, novel ini sendiri bukannya tanpa kekurangan. Bagian menjelang endingnya terkesan rada over-dramatized[2] — dan ada satu-dua loophole minor yang, untungnya, tidak sampai mengganggu keseluruhan cerita[3]. πŸ˜• Oh well. Saya rasa memang benar bahwa tak ada gading yang tak retak. ^^;

Ada juga kekurangan yang harusnya jadi tanggung jawab editor, bukan penulisnya sendiri. Yakni… banyak salah ketik. 😐 Mungkin karena masih cetakan pertama, sehingga proofreading-nya kurang mendetail… tapi sudahlah. Mengingat bahwa The Da Vinci Code cetakan pertama punya teman saya pun ternyata banyak salah cetaknya, kelihatannya saya tak bisa banyak protes. πŸ˜›

 

Conclusion

 
Sebagai penutup, saya pribadi menilai bahwa buku ini, terlepas dari berbagai kekurangannya, bisa dibilang sebagai karya yang sangat cemerlang. Saya belajar banyak hal tentang Kuba dari buku ini: cara makan mereka, pandangan rasisme terhadap kulit gelap dan campur, serta keadaan masyarakat di negeri pulau tersebut. Setidaknya hingga tahun 1970-an, dekade di mana kisah dalam buku ini akhirnya selesai.

Meskipun begitu, ada satu pelajaran yang paling berkesan yang saya tangkap dari novel ini.

Bahwasanya, orang-orang yang punya niat meninggalkan tanah air mereka — baik yang sudah eksil ataupun yang baru ingin eksil — bukanlah mereka yang dengan senang hati melakukannya. Ada romantisme yang terselip di situ. Dan, dalam novel ini, itu adalah kebahagiaan akan pantai berpasir putih, acara makan malam bersama paman dan bibi, serta makan arroz con pollo seusai berenang — hal-hal biasa yang, pada umumnya, baru terasa nikmat setelah jadi kenangan.

 

 

 

——

Catatan:

[1] Saya membaca kalimat ini pas nonton versi film Angela’s Ashes yang ditayangkan di TV. Saya belum pernah baca bukunya, soalnya — so there you have it. πŸ˜›

 
[2] Spoiler alert: (highlight to see)

IMHO, harusnya Nora dan Lucinda tak perlu sampai harus gagal mendapat kapal ke Jamaika di akhir kisah. Membuat mereka hampir mati terapung, rasanya kok rada terlalu melebih-lebihkan suasana yang sudah haru itu… tapi ini pendapat pribadi sih. ^^;

 
[3] Spoiler alert: (highlight to see)

Misalnya pada waktu sipir Ricardo berbohong bahwa Tony (suami Alicia) masih hidup, ketika (pada kenyataannya) Tony sudah ditembak mati dua tahun sebelumnya. Padahal Alicia dikisahkan selalu bertukar surat dengan Tony lewat sang sipir; harusnya dia sadar kalau tulisan tangan suaminya dipalsukan. Atau jika dia tidak mendapat surat selama dua tahun berturut-turut…

Narasi juga sempat menyebut nama “Manuel”, ketika Nora dan Lucinda hendak kabur bersama Jose Gomez lewat laut. Padahal waktu itu si nelayan belum menyebut nama aslinya.

Read Full Post »

Jadi, ceritanya, kali ini saya baru saja mendapatkan sebuah buku tua. Well, mungkin lebih tepat bila saya tambahkan kata lagi — terutama kalau Anda masih ingat post saya tentang Little House on The Prairie beberapa bulan silam. Meskipun begitu, kali ini ada yang berbeda.

Sebab, alih-alih mendapatkan buku bekas lain dari toko loak seperti sebelumnya, kali ini saya justru menemukan buku ini di…

…dalam kardus pindahan rumah tante saya. ^^;;

Yah, begitulah. Bakal panjang kalau diceritakan prosesnya di sini. Meskipun begitu, intinya, saya cukup beruntung bisa turut membongkar muatan pindahan beliau dan menemukan ‘harta karun’ berikut ini di dalamnya. πŸ˜‰

 

gc-dostoevski-cover

 
Judul: Si Lembut Hati

Penulis: Fyodor Mikhailowits Dostoyevski

Penerbit: PN Balai Pustaka, Jakarta; cetakan III tahun 1964

Tebal: 140 halaman

Sebuah terjemahan Indonesia dari A Gentle Creature karya Fyodor Dostoyevski — dan, dengan demikian, menjadi buku Dostoyevski kedua yang jatuh ke tangan saya. πŸ˜€ Adapun buku pertama beliau yang saya baca adalah Crime and Punishment, di mana versi Indonesianya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2001.

Tentunya karena terbitannya sebelum EYD dibakukan, buku yang saya dapat itu masih menggunakan ejaan lama. Huruf ‘c’ ditulis ‘tj’; ‘j’ ditulis ‘dj’, dan lain sebagainya. Untungnya huruf ‘u’ sudah dikenali dan tidak ditulis sebagai ‘oe’ di sana. πŸ˜†

Tetapi adanja hal itu hendaklah dipermaklumkan. Djustru edjaan lama chususnja mempunjai merit di sini ; mampulah kiranja membawa saja ke nuansa kuno di noveletnja Dostojewski! πŸ˜›

 

About The Story

 
Secara umum, saya bisa bilang bahwa novel ini cukup pendek. Dengan format buku saku dan tebal 140 halaman, buku ini lebih cocok disebut novelet daripada novel. Meskipun begitu, kandungan ceritanya sendiri relatif berat — di mana alur psikologi para tokohnya menjadi poros yang menggerakkan keseluruhan cerita.

Cerita dimulai ketika seorang pemilik rumah gadai ditinggal mati oleh sang istri, yang mengakhiri hidup dengan dengan terjun dari balkon rumah. Peristiwa ini terjadi begitu mendadak, ketika sang suami sedang keluar untuk urusan bisnis.

Dari titik ini cerita kemudian dituturkan dengan gaya flashback. Sang suami yang sedang dilanda kesedihan kemudian memutar ulang ingatannya akan hari-hari yang telah lalu, sambil menuntun pembaca untuk memahami latar cerita yang sedang berlangsung. Bagaimana ia dan istrinya pertama kali bertemu; bagaimana ia memandang istrinya dalam perkawinan dan rumah tangga, dan lain sebagainya. Termasuk diantaranya adalah saat di mana ia berkisah mengenai masa lalunya sebagai opsir tentara; inilah periode di mana terjadi suatu peristiwa yang mengubah cara sang pria dalam memandang dunia.

Hingga pada akhirnya, setelah mengurai semua peristiwa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, ia menemukan dirinya sendiri sedang menunggui jenazah sang istri. Diri seorang pria yang, pada bagian akhir kisah, menyuarakan pertanyaan penuh kebimbangan — akan apa yang hendak diperbuatnya setelah sang istri diantarkan ke liang kubur.

***

Well, that’s for the synopsis. Meskipun begitu, yang menarik perhatian saya adalah penggambaran karakter dan psikologinya yang, bisa dibilang, berkesan gelap dan hampir surreal.

Berlatar di salah satu kota di Rusia abad 19, novel ini banyak berkisah dari sudut pandang si pemilik rumah gadai, dengan segala pemikiran dan emosi yang berkecamuk di benaknya. Karakter yang bermimpi untuk membalas dendam pada “masyarakat” atas suatu hal di masa lalu — sambil, di saat yang sama, berupaya menundukkan istri yang cerdas agar memandang tinggi dan menghormatinya sebagai suami. Mind game seorang pria yang bisa dibilang ‘sakit’ dalam pernikahannya ini memberikan kompleksitas yang menambah bobot dalam keseluruhan cerita.

Di sisi lain, sang istri sebagai counterpart-nya di sini seolah menjadi potret tragis — terutama bila Anda memandangnya dari kacamata abad 20 yang sudah mengenal emansipasi. Seorang wanita terpelajar dengan harga diri tinggi yang menikah dengan sang pria, dan setelah beberapa waktu — BUM — ia justru terbawa mengikuti ritme sang suami. Wanita tangguh yang (pada akhirnya) seolah dipaksa pasrah untuk menjalani hidup yang pematuh; dimana ia harus menghabiskan waktu dengan merajut dan bersenandung parau di dekat jendela.

Ouch. 😐

 
Meskipun begitu, menjelang akhir cerita (lewat satu dan lain twist yang baiknya tak saya sebutkan di sini :mrgreen: ), sang suami akhirnya menemukan bahwa cinta sejatinya ada dalam diri sang istri. Ia menyadari bahwa pada akhirnya, ia bahagia berada di sisi istrinya; dan ia ingin memulai hidup baru. Diberitahukannya pada sang istri bahwa ia sangat mencintainya, dan ia ingin membawanya pergi berlibur. Setelah itu, mulai hidup baru dengannya.

Ia ingin berubah. Meninggalkan pekerjaan gadai yang selama ini berlaba lewat membayar murah barang milik orang, lantas memulai lembaran baru dengan hati yang terbarukan di tempat lain…

…ketika, pada akhirnya, ia pulang dari kantor dan menemukan sang istri telah terjun dari balkon rumah mereka. Bunuh diri sambil memeluk patung Bunda Maria.

***

Kalau Anda tanya saya, ini adalah kisah tentang orang yang dingin dan manipulatif, yang kemudian menyadari “cinta” pada orang yang awalnya ingin dimanipulasinya. Ironisnya — pada akhirnya — dengan tragis ia justru menjadi korban dari perasaan yang telah dia akui.

Kisah sedih yang menarik. Kenapa menarik?

Karena kita tak pernah benar-benar tahu mengapa sang istri mau terjun dari balkon. Setelah suaminya memproklamasikan ulang cintanya kepadanya, ia harusnya bisa memilih untuk hidup bahagia. Tapi mengapa ia justru bunuh diri?

Apakah karena ia merasa malu pada cinta suaminya yang begitu besar, hingga ia merasa tak bisa membalasnya? Apakah karena ia menyimpan perasaan pada rival yang dibenci suaminya? Atau karena… ia justru, secara sadar, ingin menyakiti (dan balas dendam) pada sang suami dengan cara yang paling menyakitkan: yakni dengan sengaja membuatnya kehilangan orang yang paling dicintai?

Yang manapun itu, pembaca tak pernah diberitahu. Sebagaimana sang suami tak berhasil menemukan alasan “mengapa” yang menjadi latar belakang cerita ini. πŸ˜‰

***

End note…

 
Akhir kata? Ini novel yang berat. Seberapa beratnya, well, silakan dibaca sendiri kalau Anda tertarik. ^^ Meskipun begitu, saya sendiri mencatatnya sebagai novel sureal dengan bumbu psikologi yang diaduk dengan pendekatan rada ‘gelap’.

Menarik, rada menusuk, dan sangat “Eropa” — dan jika Anda membacanya dengan kacamata abad 20, maka Anda mungkin mendapatkan drama tambahan dari kisah rumah tangga ini. Boleh jadi Anda akan lebih bersimpati pada nasib buruk seorang wanita pendebat yang pernah membaca Faust… tapi itu cerita lain untuk saat ini. πŸ™‚

 

 

——

Addendum

 
Berhubung novelet ini sudah masuk ke ranah public domain, maka Anda bisa men-download manuskripnya di link berikut ini.

http://www.kiosek.com/dostoevsky/library/gentlespirit.txt

Terjemahan bahasa Inggris. Enjoy. πŸ™‚

Read Full Post »


Awalnya…

 

Kemarin malam itu sebetulnya malam minggu. Waktu yang, konon, merupakan surga dunia buat orang-orang yang punya pacar. Meskipun begitu, kelihatannya saya betul-betul menyempal dari ‘tradisi’ umum tersebut. πŸ˜›

Apa pasal? Jadi, ketika (kebanyakan?) orang pergi ke bioskop, mall, ataupun kafe bersama pasangan terkasih, saya justru ‘terdampar’ di…

…sebuah kios penjual buku bekas.

Yeah, you heard me right. Toko buku loak, saudara-saudara. Tempat yang gelap, berantakan, dan penerangan satu-satunya adalah lampu jalan di sisi kios tersebut. Sendirian, lagi. Sangat tak bisa dibandingkan dengan kafe dan mall yang terkesan elegan, mantap, bonafid, serta haibat dan bermartabat[1] itu… tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini. :mrgreen:

Ah, cut the crap. Intinya, kemarin saya menemukan buku ini dijual di sana:

 

littlehouse_cover.jpg


Judul Asli: Little House on The Prairie
Judul Terjemahan: Rumah Kecil di Padang Rumput
Penulis: Laura Ingalls Wilder
Penerbit: BPK Gunung Mulia, cetakan ketiga tahun 1982

 

Terjemahan Indonesia dari “Little House on The Prairie”, saudara-saudara!! Kisah legendaris yang (konon) rajin dibaca oleh ibu saya, dan saudara-saudara beliau, puluhan tahun sebelum saya lahir. Buku yang ceritanya pernah diadaptasi ke film seri berjudul serupa ini tebalnya sekitar 287 halaman, dan dibandrol di kios tersebut seharga lima ribu rupiah per itemnya. πŸ˜€

Murah? Yup, seperti biasanya[2] ^^;; . Alhasil, buku itu pun segera berpindah tangan menjadi milik saya. Tapi, meskipun begitu, post ini belum selesai. πŸ˜‰

 


Revisiting The Little House (no major spoiler here)

 

Agak berbeda dengan serial televisinya yang pernah ditayangkan di TPI, buku ini mengisahkan keluarga Ingalls sebagai pendatang yang benar-benar baru di wilayah Barat benua Amerika. Bisa dibilang merekalah pembangun pertama di daerah padang rumput yang jadi inti cerita. Jadi, jika di serial TV-nya Anda bisa menemukan Laura kecil yang imut itu pergi ke sekolah dan mempunyai banyak tetangga, maka Anda tak akan mendapatkan elemen itu di buku ini. πŸ˜‰
 

Kisah dalam buku ini bermula ketika keluarga Ingalls hendak pindah dari kediaman asal mereka, di Rimba Besar (“Big Woods”) yang terletak di Wisconsin (Amerika Serikat). Keluarga Ingalls adalah keluarga kecil yang terdiri atas lima orang anggota, dengan Charles Ingalls (“Pa”) bertindak sebagai kepala keluarga. Sebagai istri adalah Caroline Ingalls (“Ma”) — yang juga menjadi ibu dari dua anak perempuan usia SD Mary dan Laura. Adapun anggota termuda di keluarga ini adalah Carrie, yang masih bayi ketika seluruh event dalam cerita “Little House” berlangsung.

Nah, keluarga Ingalls ini berniat melakukan perjalanan ke Barat untuk mencari tempat tinggal baru. Menurut Pa, Rimba Besar sudah terlalu penuh dengan orang; begitu pula jalan-jalan di dalamnya sudah menjadi jalan raya yang sibuk. Pak Charles ini kelihatannya adalah seorang yang sangat mencintai kehidupan alami — sehingga dia begitu merindukan saat-saat ketika ia bisa menemukan rusa (dan hewan-hewan liar lainnya) di sekitar rumahnya.

Dengan alasan demikian, Pak Ingalls kemudian mengajak keluarganya untuk memulai kehidupan baru di tanah yang baru. Ma dan anak-anak tak keberatan dengan ide itu, maka mereka pun berangkatlah.

Setelah perjalanan berbilang minggu dan bulan, mereka akhirnya tiba di sebuah padang rumput (prairie) yang baik untuk ditinggali. Padang rumput yang, di samping memiliki sungai, juga kaya akan hewan buruan untuk menjamin kelangsungan hidup. Alhasil, mereka pun mulai membongkar muatan dan segera membangun rumah di sana.

Seiring berjalannya waktu, keluarga Ingalls menemukan bahwa beberapa pemukim kulit putih lain sudah menetap di sekitar prairie, hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan mereka. Keluarga kecil itu pun mulai menjalin hubungan dengan para tetangga yang jaraknya terpisah beberapa mil. Meskipun begitu, penghuni daerah tersebut tak hanya pemukim kulit putih saja — mereka juga menemukan bahwa sekelompok suku Indian tinggal tak jauh dari prairie; berdekatan dengan rumah para pendatang tersebut.

 


Sebentar. Mana konfliknya?

 

Anda mungkin bertanya, kenapa saya tidak menuliskan konflik yang jadi pokok cerita di bahasan di atas. Sebetulnya, konflik yang mewarnai buku ini tersebar di seluruh bagian cerita[3]. Novel ini sendiri lebih terasa sebagai rekaman kehidupan keluarga Ingalls di prairie dan seluk-beluknya. Termasuk diantaranya hubungan mereka dengan tetangga-tetangga mereka; juga dengan suku Indian yang beberapa kali berseberangan dengan pihak kulit putih.

Meskipun begitu, kalau Anda teliti, ada satu plot besar yang getir di balik novel ini. Dan saya tak mau merusak kebahagiaan Anda yang belum membacanya, dengan menceritakannya habis-habisan di sini. :mrgreen:

 


The Power of Storytelling

 

IMHO, kekuatan novel ini ada pada gaya penulisannya yang sangat deskriptif. Tidak saja piawai dalam menjelaskan keadaan alam sekitar yang ditinggali para tokoh, penulisnya juga sangat detail dalam menjelaskan teknik-teknik pertukangan dan rumah tangga yang tampil dalam ceritanya. Beats me — saya bahkan baru tahu cara membangun rumah kayu dari buku ini. Termasuk teknik membangun kuda-kuda; membuat cerobong asap dengan campuran lumpur-dan-rumput; membuat lantai kayu; dan lain sebagainya. Wow. 😯

Meskipun begitu, novel ini tak lantas tengelam dalam deskripsinya yang hebat itu. Disamping berbagai subplot dan hubungan antarkarakter yang terjalin rapi, novel ini juga dengan cerdas menyampaikan sindiran tajamnya. Terutama terkait dengan hubungan antara kaum kulit putih dan Indian.


“Apakah pemerintah akan menyuruh orang-orang Indian yang ada di sini untuk pergi ke Barat?” tanya Laura.

“Ya,” jawab Pa. “Bila orang-orang kulit putih datang untuk bermukim di suatu tempat, orang-orang Indian harus pindah. Pemerintah akan menyuruh orang-orang Indian ini pindah, entah kapan. Karena itulah kita semua di sini, Laura. Orang-orang kulit putih akan menduduki seluruh daerah ini, dan karena kita datang pertama kali kita memperoleh tanah yang terbaik. Kita tinggal mengambil saja. Kau sudah mengerti?”

“Ya, Pa,” Jawab Laura. Tetapi, kukira dulu daerah ini dinamakan Daerah Indian. Apakah kalau orang-orang Indian disuruh pergi dari sini mereka tidak marah?”

“Sudah Laura, jangan bertanya lagi,” kata Pa tegas. “Kini tidurlah!”

 

–p. 203

Tegas, eh? Tapi itu baru contoh :mrgreen: . Tambahkan juga beberapa dialog yang menyinggung trauma warga kulit putih pasca Pembantaian Minnesota tahun 1862. Kelihatannya kritik sosial adalah elemen yang juga ingin disampaikan oleh penulisnya, walaupun fokus novel ini sendiri tetaplah kehidupan keluarga Ingalls dan pernak-perniknya. πŸ˜‰

Adapun seperti karya klasik pada umumnya, novel ini tak lupa menampilkan beberapa event yang sifatnya menampilkan sisi hangat kemanusiaan. Anda yang pernah membaca karya ini sebelumnya mungkin masih ingat, bagaimana Pak Edwards nekat menyeberang sungai untuk menemui Laura dan Mary di hari Natal — atau bagaimana pandangan Pak Charles bahwa “sebaik-baiknya orang Indian bukanlah orang Indian mati”. Setidaknya ada beberapa pesan moral tersendiri dalam serial ini… walaupun memang jumlahnya nggak banyak-banyak amat, sih. πŸ™„

 


Akhir kata…

 

Jadi, begitulah — saya menghabiskan malam minggu membaca novel yang (katanya) sudah ramai dibaca sejak zaman ibu saya sekolah ini πŸ˜› . IMHO, novel ini bisa dibilang sebagai seri klasik yang lumayan memuaskan. Memang kalau dilihat sekilas, ada beberapa elemen romantisasi yang agak terlalu jauh dari keadaan di masa kini (e.g. hidup di alam, 40 mil dari kota terdekat dengan bercocok tanam dan berburu). Meskipun begitu, bagi saya, novel ini tetap menjadi hiburan tersendiri yang menarik.

Oh well, tentunya penilaian di atas terlepas dari fakta bahwa buku itu sekarang berumur 25 tahun, dan naskahnya pertama kali dirilis tahun 1935. Tapi itu cerita lain untuk saat ini. :mrgreen:

 

 

—–

Footnotes:

[1] Meminjam istilahnya Mas Pramur. πŸ˜›

[2] Harga buku-buku di sana memang miring, IMO. Sebelumnya, saya malah mendapatkan Ivanhoe (karangan Sir Walter Scott) seharga Rp. 15.000. Padahal itu buku impor, dan tebalnya mencapai 600 halaman. (o_0)”\

[3] Kalau Anda pernah nonton dorama 1 LITRE no Namida (a.k.a “One Litre of Tears”), maka konsep penceritaannya mirip seperti itu. Di sana konflik-konfliknya seolah berdiri sendiri — dengan main-arc-nya adalah perjalanan hidup si tokoh utama.

Read Full Post »