Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Blogging’ Category

Catatan:
Post-nya rada panjang. Silakan dianggap sebagai rapel post, karena saya jarang bisa online — dan jarang nge-post — selama seminggu terakhir.
πŸ˜‰

 

 
Dalam perjalanan saya selama (sekitar) 20 bulan nge-blog, terhitung dari blog lama saya, pertanyaan yang satu ini sering mengemuka. Umumnya, pertanyaan tersebut ditanyakan oleh orang-orang yang kenal dekat dengan saya; baik secara pribadi maupun di ranah internet.

Kalau Anda memperhatikan judul post di atas, tentunya Anda bisa menebak isi pertanyaan tersebut. ^^

“Kenapa sih kamu itu mau jadi blogger anonim?”

Well, sebetulnya topik ini sendiri sudah rada basi — mengingat tema serupa sudah pernah dibahas oleh Death Berry di salah satu post-nya sekitar seminggu yang lalu (!). Pun begitu, ada alasan lain yang juga membuat saya kepikiran untuk merilis post ini… tak lain karena saya baru saja membicarakan tema yang mirip dengan seorang teman di kampus.

Waktu itu dia menyampaikan pendapat sebagai berikut.

“Komunikasi dan sosialisasi lewat internet itu mungkin efektif. Tapi, tatap muka itu tetap priceless. Tak tergantikan maknanya.”

Benarkah? (o_0)”\

***

Ada jarak hampir seminggu antara dua kejadian tersebut. Waktu saya pertama kali membaca post-nya DB, entah kenapa saya sangat merasa isinya sangat cocok dan mengena pada orang-orang seperti saya — bahwasanya, saya ini (a) anonim, (b) sering menulis kritik sosial dan satir, serta (c) selalu tak tertarik untuk ikut kopdar.

(tidakkah saya merasa kesepet dengan sempurna? :mrgreen: )

Sebaliknya, ketika saya ngobrol dengan teman saya yang disebut sebelumnya, saya mendapat impresi lain: bahwasanya, menurut dia, komunikasi internet sehebat apapun tak benar-benar bisa menggantikan pertemuan tatap muka per se. Tentunya yang dia maksud adalah dari segi kualitas.

Benang merahnya, keduanya menilai tatap muka sebagai hal yang penting. Dan kalau tatap muka saja dianggap penting, bagaimana pula kalau seseorang hendak menjadi anonim? Jangankan tatap muka, lha nama asli aja nggak pernah diumumin, je. 😦

 

Lebih Jauh tentang Anonimitas

 
Apa itu “anonim”? Konon, dari segi bahasa, Bahasa Indonesia sebenarnya menyerap kata ini dari sebuah kata Inggris, anonymous, yang memiliki varian kata benda berupa anonym. Menurut Wiktionary,

Adjective:
anonymous

1. Wanting a name; not named and determined, as an animal not assigned to any species.
2. Without any name acknowledged, as that of author, contributor, or the like: as, an anonymous pamphlet; an anonymous benefactor; an anonymous subscription.
3. Of unknown name; whose name is withheld: as, an anonymous author.

Noun:
anonym
(plural anonyms)

1. An anonymous person.
2. An assumed or false name; a pseudonym.
3. (zoology) A mere name; a name resting upon no diagnosis or other recognized basis.

Kalau ditarik kesimpulan secara sekilas, maka dapat diterjemahkan bahwa anonymous berarti menyatakan/melakukan suatu hal sebagai “tanpa-nama”. Dengan kata lain, si pelaku/penulis/pembuat karya tidak mencantumkan tanda apapun mengenai dirinya; ia hanya menekankan bahwa “ini adalah sesuatu. Silakan lihat dan pelajari.”

Sebaliknya di sisi lain, kata anonym ternyata tidak hanya mencakup ketanpanamaan, melainkan juga bisa merujuk pada nama pena dan pseudonym. Tentunya ini berlaku untuk banyak bidang yang melibatkan penisbatan karya pada seseorang — misalnya karya seni berupa sastra, lukisan, atau bahkan tulisan biasa seperti kontribusi di koran.

Dengan penjelasan tersebut, maka dapat kita asumsikan bahwa term “blogger anonim” adalah blogger yang tidak menggunakan nama aslinya untuk menyampaikan tulisan/isi postnya. Paling tidak, blogger yang termasuk kategori “anonim” biasanya menggunakan nama pena/nom de plume, sedemikian hingga jatidiri si blogger relatif tersembunyi dari pengetahuan publik.

Adapun secara umum, anonimitas ini biasanya dilakukan berdasarkan keinginan si penulis/pengarang (atau, dalam kasus kita, blogger) — yaitu keengganan untuk mengungkapkan jatidiri kepada publik.

 

Apa Manfaatnya?
 

Dalam banyak kasus, tidak menyebutkan jatidiri ini biasanya dilakukan atas dasar pertimbangan sebab-akibat. Umumnya terdapat berbagai skenario seperti di bawah ini.

Pertama, si penulis (dalam hal ini, blogger) ingin berlindung di balik identitas baru. Dengan adanya identitas baru, tanggung jawab dari identitas dunia nyata bisa diabaikan. Tentunya Anda bisa memaki-maki orang/pihak yang Anda benci di internet, dengan lebih sedikit resiko ketahuan dan digangbang didatangi dan dipukuli ramai-ramai oleh orang yang Anda hina tersebut. Much to cowardice, tindakan macam ini bisa dikategorikan tak terhormat dan tak bertanggungjawab. πŸ™„

Kedua, si penulis tidak memandang penting keberadaan dirinya. Yang terpenting adalah bagaimana karya/ide-idenya bisa tersampaikan kepada masyarakat/pembaca pada umumnya. Contoh untuk ini misalnya pada William Shakespeare. Walaupun sampai sekarang tak jelas benar siapa tokoh asli dramawan jenius ini, semua orang paham bahwa karya-karyanya memang jaminan mutu. Dus, apa yang disampaikan dalam karyanya menjadi sesuatu yang lebih besar daripada orang di balik namanya sendiri.

Ketiga, si penulis tak ingin orang memandang tulisannya tergantung siapa yang menulisnya. Yang ini tentunya cukup jelas. Kalau misalnya Anda seorang pejabat yang pernah diberitakan terkait korupsi, kemungkinan besar Anda akan dicemooh kalau Anda menyuarakan adanya korupsi di departemen tetangga. Kesannya seperti cari teman, begitu. πŸ˜› Dalam kondisi seperti ini, tentunya lebih efektif kalau Anda menyampaikan laporan tersebut tanpa embel-embel apapun. πŸ˜•

Keempat, si penulis menyadari bahwa ia sedang membuat sesuatu yang “berbahaya” dan kontroversial — utamanya jika menentang pihak yang mungkin membahayakan jiwa. Maka akan lebih aman jika hal ini disampaikan dengan tanpa-nama atau dengan nama pena. Misalnya pada kasus Deep Throat di Amerika dulu, di mana nama asli sang sumber terus dirahasiakan hingga kemudian diungkap ke publik pada tahun 2005. Sebetulnya kasus ini agak berbeda, karena di sini nama narasumberlah yang dirahasiakan (bukan penulisnya) — tetapi saya rasa ilustrasi ini bisa cukup menjelaskan.

…dan masih banyak lagi. Silakan ditambahkan sendiri kalau mau. :mrgreen:

 

Saya dan Anonimitas
 

Mungkin sampai di sini Anda lalu bertanya, apa alasan saya untuk menjadi seorang blogger yang -rada- anonim dan menggunakan nama pena atau nama keyboard, whatever that means πŸ˜›. Sebenarnya alasannya sederhana saja, dan bisa diwakilkan lewat pertanyaan berikut.

Memangnya jatidiri saya itu penting, ya? (o_0)”\

Tanpa mengesampingkan berbagai alasan yang saya kemukakan di bagian sebelumnya, pertanyaan di atas itu sebenarnya tidak terjawab. Apapun alasan saya, itu toh tidak membuat jatidiri saya menjadi lebih penting (atau lebih tidak penting) dibandingkan apa yang aslinya ingin saya sampaikan.

Anda boleh saja mengatakan bahwa kualitas argumen seseorang itu ditentukan dari orangnya. Tapi itu lebih sebagai pelarian, karena Anda (mungkin) tak ingin mengakui pendapat orang tersebut, dan serta-merta ogah mendengarkan isinya lebih dulu. Padahal bukan tak mungkin orang tak-terkenal dan tak-hebat menumbangkan pendapat yang telah mapan. πŸ™„

Albert Einstein adalah pekerja jawatan paten, dan ia kemudian menyempurnakan Teori Gravitasi Newton dengan Relativitas Umumnya. Stephen Hawking pun demikian, ia cuma mahasiswa pasca tak-terkenal ketika mendebat Fred Hoyle soal alam semesta mengembang. Pierre Fermat juga sarjana hukum, tapi ia jadi matematikawan terkenal.

Kalau Anda tanya saya, jatidiri mereka (sesungguhnya) tak begitu penting. It’s not on the person; it’s on the brain. Seandainya Einstein adalah pekerja toko roti, dan Fermat menjadi tukang kebun, mereka akan tetap sama besarnya jika bisa menghasilkan ide yang sama.

Ini bukan berarti saya menyetarakan diri dengan para tokoh besar tersebut (I’m not more than a stone compared to them as boulders, if you ask me). Begitupun, itu tak mengubah kenyataan bahwa apa yang ingin saya sampaikan itu (harusnya) lebih penting daripada siapa saya sebenarnya. πŸ˜‰

Meminjam istilahnya DB, tak ada bedanya seandainya saya ini superkomputer jenius — atau malah seekor anjing yang kebetulan bisa mengetik. Semua yang saya tulis harusnya tak berkurang makna kebenarannya (atau kesalahannya) tergantung pada identitas saya.

***

Konon, beberapa orang mengatakan bahwa saya ini blogger anonim… atau, setidaknya, seseorang pernah bilang bahwa saya ini cowok sok misterius™. πŸ˜› Tentu saja alasan utamanya karena saya tak pernah menulis nama asli ataupun tampil di depan publik (baca: kopdar) sejauh ini. Meskipun begitu, percayalah: bahwasanya, saya ini tak semisterius itu kok. ^^

Dulu, saya sudah pernah memberitahu caranya. Kalau Anda menggunakannya dengan tepat, harusnya Anda bisa menemukan banyak data tentang saya.

Ya, Anda bisa tahu saya kuliah di mana sekarang, karena saya sering menyinggungnya di blog ini (walaupun jarang secara eksplisit, sih πŸ™„ ). Anda bahkan bisa tahu saya kuliah di jurusan apa, karena itu juga pernah saya singgung di blog ini. Di kota mana saya tinggal. Bahkan nama asli saya selalu saya sebutkan sepanjang waktu… walaupun mungkin tak banyak diantara Anda yang menyadarinya. :mrgreen:

Apapun metode Anda, silakan gunakan. Lewat jalur admin kampus pun tak masalah. ( :mrgreen: ) Sebenarnya saya ini terbuka saja. Just one thing: if you find me, please don’t tell it to everyone else so freely. It’ll be kinda uncomfortable for me. πŸ˜‰

 

[OOT]
OK, Mungkin Memang Ada Alasan Tersendiri. Tapi tetap saja jadi Anonim itu Beresiko

 

Betul sekali. Ada resiko besar yang menghantui semua orang, apalagi yang hobi bersikap kritis, apabila mereka memilih untuk menjadi anonim… yaitu disalahpahami oleh pembaca/pemirsa/penikmat karya mereka. Semua poin di bawah ini sendiri sudah dibahas secara khusus oleh DB di postnya sebelumnya.

Yang pertama, tentu saja Anda akan dianggap pengecut dan bersembunyi di balik keanoniman Anda. Kekritisan Anda akan dianggap tak bermakna hanya karena Anda tak berani membuka identitas diri Anda. Dengan kata lain, Anda dituduh sedang memanfaatkan keadaan deindividuasi sosial (meminjam istilahnya Om Pyrrho πŸ˜‰ ).

Yang kedua, ada kemungkinan bahwa Anda disalahkenali — atau, dalam beberapa kasus, gender Andalah yang salah disebut. Saya sendiri tak pernah mengalaminya secara pribadi; tapi konon Kopral Geddoe, Mbak Hana, dan Mbak Mas Dek Rozen ( πŸ˜› ) pernah jadi korban. Adapun perlu saya tambahkan bahwa saya sendiri pernah melakukan kesalahan serupa di masa lalu; so there you have it. ^^;;

Adapun yang ketiga, Anda boleh jadi akan difitnah. Misalnya: “Sudah anonim, kontroversial pula. Ini pasti buat naikin traffic dan adsense!”

Padahal boleh jadi alasan Anda untuk anonim jauh lebih mulia daripada semua tuduhan laknat tersebut, sungguh disayangkan. 😦

Jadi, solusinya?

Tentu saja poin kedua (misinformasi) bukanlah masalah yang besar-besar amat. Toh Anda tinggal menyampaikan bahwa lawan bicara Anda salah sebut. Kalau dia memang beritikad baik, tentunya Anda bisa memulihkan nama baik Anda secepatnya. πŸ˜›

Tapi, bagaimana dengan yang pertama (tuduhan) dan yang ketiga (fitnah)? Dua hal tersebut jelas bukan perkara enteng. 😐

…hmm, solusi? Anda pikir ada cara untuk menghindar dari ketidaksukaan orang? πŸ˜†

There’s no escaping it, d00d. Accept it. Banyak yang tak senang pada mereka yang kritis. Jika Anda jadi tukang kritik anonim, Anda mungkin dituduh dan difitnah. Tapi menjadi tukang kritik yang tidak anonim pun tidak lebih baik… tetap saja Anda dihina dan dianggap cari gara-gara. Bahkan seorang antobilang — yang jelas tidak anonim — pernah dibilang sebagai “udah kecil, jelek, tukang kritik pula!” πŸ˜†

Anonim atau tidak, saya rasa tak banyak bedanya. Kalau seseorang itu memang punya kebiasaan untuk bersikap kritis, sudah pasti banyak orang yang tidak suka padanya. Dan kalau orang-orang yang membenci kritikus itu tidak cukup pintar, mereka masih akan punya banyak ide untuk melempar banyak tuduhan lain yang tidak pada tempatnya. πŸ˜‰

 

Kembali ke Topik:
Kalau Memang Begitu, harusnya tak Masalah, dong, jika Saya melakukan Tatap Muka/Kopdar?

 

Euh… bagaimana ya? Walaupun pada kenyataannya saya tak keberatan untuk “ditemukan” oleh orang lain, saya biasanya merasa tak tertarik untuk kegiatan yang satu ini. Saya sendiri juga rada bingung kenapa bisa begitu, tapi begitulah yang sebenarnya terjadi. ^^;;

*ditimpuk sandal* x(

Memang betul bahwasanya, seperti halnya yang disampaikan teman saya di atas tadi, bertemu secara langsung merupakan cara berkomunikasi yang tak tergantikan. Setidaknya, dengan begitu, Anda bisa mengetahui siapa saya sebenarnya — dan mungkin, dengan begitu, Anda dan saya jadi bisa mengenal satu-sama-lain dengan lebih jauh…

but that’s not sufficient reason for me. 😦

I’m just not really fond of the idea; bahwa saya perlu dan harus datang hanya untuk ngobrol dengan orang-orang yang, aslinya, selalu saya ajak ngobrol juga lewat internet. Nilai tambahnya kurang terasa dibandingkan biasanya… tapi tentunya ini subyektif.

Mungkin, kalau suatu hari nanti ada kejadian luar biasa, di mana para blogger harus berkonsolidasi di dunia nyata (misal: pemerintah membredel akses ke wordpress.com seperti di Turki tempo hari dan akan ada aksi massa) — maka saya akan tertarik untuk bergabung. Itu baru kopdar yang benar-benar menantang dan tepat-kebutuhan. ( :mrgreen: ). Atau sebaliknya, ada orang/sekelompok orang yang harus saya temui secara pribadi terkait aktivitas di blogosphere; ini mungkin juga akan termasuk kopdar yang -saya anggap- perlu.

Atau bisa juga sesuatu yang terkait pekerjaan, atau apapun yang lain lagi — yang, intinya, benar-benar membutuhkan kehadiran saya agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai. Kira-kira begitu sih, IMHO. (o_0)”\

Tapi kalau sekadar duduk-duduk, ngobrol ngalor-ngidul, dan kemudian bubar, rasanya kok nilai kebutuhannya jadi agak terlalu plain, ya? Mungkin itu sebabnya saya jadi agak malas untuk melakukan kopdar, alias ketemuan langsung dengan sesama blogger pada umumnya. ^^;;

Begitupun, ini tidak berarti saya tidak menghargai aktivitas ketemuan-langsung pada umumnya. Tentunya itu adalah sarana yang bagus untuk merekatkan komunitas, dan juga bisa menjadi sarana untuk menggalang tindakan blogger di dunia nyata; di samping juga memperkuat silaturahmi antar blogger tersebut. Semua yang di atas itu hanyalah opini saya sebagai seorang manusia yang sangat banyak kurangnya, dan saya yakin akan banyak diantara Anda yang kurang sependapat. So, I’ll keep that as my personal preference. πŸ˜‰

 

Akhir Kata…

 
Jadi? Ah, silakan disimpulkan sendiri. Bahwasanya, saya ini cuma setengah anonim, kok. Saya pun tak berniat mati-matian menyembunyikan jatidiri saya di blogosphere maupun internet pada umumnya. Kalau Anda bisa menemukan saya, ya silakan. Bahkan teman2 sekelas saya yang nyasar ke blog ini umumnya langsung tahu siapa yang ada di balik “sora-kun”; jadi sebenarnya saya ini orangnya cukup gampang ditebak juga. πŸ˜›

Ah, ya, soal kopdar, kelihatannya saya belum tertarik untuk melakukannya dalam waktu dekat ini. Jadi buat yang penasaran sama saya kalau ada, you know what to expect. πŸ˜‰

Read Full Post »

Kemarin, Mas ini menulis komentar di buku tamu saya. Isinya kira-kira seperti berikut ini:


ho ho ho ho ho ….
Sensei, webblogX keren…
Mending semuanya diangkat tema jepang aja, anime, manga, pokoknya about jepun githu….

Sebenarnya sih ini hal yang wajar juga, mengingat saya memang sering menulis soal pernak-pernik negeri Sakura tersebut. Tambahkan soal kategori nihongo dan semua gambar saya, maka semakin terkesan bahwa sebenarnya blog saya ini rada Jepun-minded™… tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini. :mrgreen:

Nah, kembali ke topik.

Sebetulnya niat untuk membuat blog tematis memang pernah terlintas di benak saya. Dulu, waktu saya masih rada baru di WordPress Indonesia, saya sempat berpikir untuk membuat satu blog semacam itu… tapi yang saya pikirkan waktu itu adalah blog yang membahas tentang Photoshop dan pernak-perniknya. Jadi, ide soal blog tematis tentang J-stuffs ini rada baru juga.

Menariknya, walaupun sebetulnya kategori J-stuffs dan nihongo di blog ini bisa dijadikan bahan untuk satu blog tersendiri (!), saya merasa rada tanggung juga untuk merilisnya. Lha, saya ini bukan pengajar Bahasa Jepang yang kompeten, je. Sebagian besar pelajaran saya didapat dari denger lagu, nonton film, dan buka kamus. Demikian juga soal kegandrungan pada anime-manga dan sebangsanya — saya ini bukan maniak Jepang! Salah satu alasan saya menyukai barang-barang Jepang, sebetulnya, lebih karena banyak diantara mereka yang sesuai dengan selera saya. ^^;;

Jadi, sebetulnya saya sendiri nggak maniak J-Stuffs segitunya amat. Sedangkan ilmu bahasa Jepang saya sendiri fondasinya lebih ke arah otodidak. Alhasil, saya lebih sering menulis tentang dua hal tersebut dalam “kapasitas pribadi” dan “suka-suka saya”. πŸ˜‰

***

Nah, prinsip “suka-suka saya” inilah yang akhirnya membuat temanya blog ini jadi sangat lebar. Terkadang saya lagi mau mikir serius, maka jadilah post yang rada ‘ajaib’ dan boleh jadi kontroversial πŸ˜› (remember this and this). Lain kali, saya mau ngomongin bola, dan -bum- muncullah tulisan macam [yang ini] atau [ini].

Kalau lagi mau nggambar, ya saya post gambar buatan saya di blog ini. Bahkan kategori curhat pun ada buat menumpahkan perasaan penulisnya. πŸ˜€

Jadi, hingga saat ditulisnya post ini, sebetulnya blog saya mempunyai rangkaian kategori seperti di bawah ini:

 

[categoryImg]

 

Adapun sebagian besar tulisan bertema sosial kini lebih banyak saya tulis di OMG. Kecuali mungkin kalau ada kasus yang perlu saya tanggapi secara pribadi (e.g. kasus IPDN yang dulu itu), maka akan saya tulis di blog ini. (o_0)”\

Anda masih membaca sampai di sini? (o_0)”\

Sebetulnya, saya kagum kalau kenyataannya memang begitu. Sebab, aslinya, semua yang ingin saya sampaikan bisa Anda lihat dari judul post-nya saja. Anda bahkan tak perlu repot membaca semua paragraf di atas. Karena intinya adalah…


“I write everything that I want. Just check it out!” πŸ˜€

Entah itu soal barang-barang Jepang, soal bola, ataupun post-post yang sifatnya badai otak; kalau mau saya tulis ya saya tulis di blog ini. πŸ˜›

*terdengar suara misuh-misuh*

*ditimpuki sandal* x(

OK, OK, nggak sepenuhnya sia-sia kok. Sesungguhnya, saya menghargai usaha Anda yang telah bersimbah peluh alias keringat, darah dan air mata untuk mencapai bagian akhir post ini. Tapi yang jelas, beginilah gaya saya ngeblog. Just check it out — because random things may appear here. πŸ™‚

 

 

—–

Ps:

Judul post sama kesimpulannya diambil dari tagline blognya cK. ^^

Read Full Post »

Yak, seperti yang bisa dilihat dari judulnya, akhirnya saya kembali ke dunia persilatan blogosphere — setelah sebelumnya naik gunung untuk bertapa selama beberapa hari. Terima kasih buat yang sudah menunggu dan merindukan saya kalau ada πŸ˜› selama duabelas hari terakhir ini. *ditimpuk*

Terima kasih juga buat yang sudah menyempatkan diri melakukan balas dendam ketika saya sedang hiatus, dan juga buat yang sudah menanam ranjau untuk menghadang kepulangan saya. You know who you are. :mrgreen:

Dan saya juga perlu menyampaikan selamat jalan buat Om Mansup, yang telah memutuskan untuk mematikan blognya sewaktu saya sedang rehat tersebut. Tapi mari kita doakan… sebagaimana Superman pernah hidup lagi setelah tewas dihajar Doomsday, mudah-mudahan blog manusiasuper juga akan hidup kembali di kemudian hari. πŸ˜‰

(walaupun itu cuma cerita di komik, sih πŸ™„ )

Ah iya. Berhubung sekarang ini malam menjelang Idul Fitri[1], maka saya juga hendak menyampaikan ucapan “Selamat Idul Fitri”bagi yang merayakannya. πŸ˜‰

 

[kartu lebaran]

 

Kartu buatan sendiri, dengan model Bonta-kun dari serial Full Metal Panic. Mohon maaf kalau desainnya lebih sederhana daripada kartu natal yang dulu itu[2] — soalnya bikinnya sendiri juga sambil nyantai di tengah suasana hiatus. πŸ˜›

***

Well, jadi begitulah. Saya sudah kembali ke blogosphere setelah dua minggu hampir selalu offline. Selamat Lebaran bagi yang merayakan, dan mudah-mudahan bisa menjadi momentum perbaikan diri yang mantaf seperti yang dialami Bonta di atas xD. Rehat dulu sekarang, soalnya beberapa jam lagi Sholat Ied akan berlangsung.

Ato ne, ja~ πŸ˜‰

 

 

Footnotes:

[1] Kalau berpatokan dari sidang itsbat pemerintah, jatuhnya memang hari ini (tanggal 13 Oktober). Meskipun begitu, ada juga yang berpatokan pada pengolahan dari beberapa ormas Islam dan merayakan hari raya tersebut kemarin (tanggal 12 Oktober).

Perbedaan ini diakibatkan oleh adanya perbedaan teknis dalam menentukan awal bulan Hijriah. Untuk penjelasan lebih lanjut, klik [di sini].

[2] Saya harap pembaca yang budiman tidak lantas terburu-buru mempertanyakan keislaman saya karenanya, terima kasih. :mrgreen:

Read Full Post »

Seperti yang bisa ditebak dari judulnya, saya akan menghentikan aktivitas saya di blogosphere hingga waktu yang belum ditentukan. Bukan, ini bukan masalah skripsi — karena saya baru semester tujuh, dan skripsi jurusan saya dimulai di semester delapan :mrgreen: . Bukan juga karena masalah akademik dan sebangsanya; tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini.

Jadi, efektif sejak dirilisnya post ini, saya akan *sangat* tidak aktif di blogosphere. Termasuk bila terjadi perang yang kayak dulu, ataupun lain sebangsanya. Mudah-mudahan pembaca yang budiman dapat memaklumi. :mrgreen:

Hingga waktu yang belum dipastikan tersebut, saya tak akan merilis post baru ataupun menjawab komentar yang masuk di blog ini. Saya juga tak akan menebar komentar di blog rekan-rekan selama masa rehat ini. Begitu juga, saya akan absen menulis di blog keroyokan itu selama beberapa waktu. Tentunya saya juga tak akan aktif menanggapi komentar yang masuk ke tulisan saya (atau yang lain) di sana.

Akhir kata, terima kasih banyak buat semua yang sudah berkunjung, dan juga buat yang sudah menuliskan komentar-komentar yang nyambung dan nggak nyampah di blog ini ( πŸ˜› ). Terima kasih juga buat semua yang berlangganan blog saya lewat feed — atau malah memasukkan post-post saya ke del.icio.us mereka. You’ve all made my days. πŸ˜‰

With all said, then it’s done. Saraba~

 

 

Read Full Post »

Earlier this morning (Aug 20, GMT +7), I logged in to my WordPress dashboard — and, suddenly, found this post announced by Matt on wordpress.com blog. The detail’s out there, though, so I won’t talk much about it — but, bottom line, it was about Turkish officials setting up firewall over whole wordpress.com domain. It is interesting to note that Turkey’s prominent figure of Adnan Oktar (a.k.a Harun Yahya), reportedly, was the one setting up a claim of defamations by some WP bloggers — which then resulted in legal decision by Turkish Judicial Court; thus allowing the forcing of the firewall aforementioned.

Details can be read on the official post on WP.com blog, or on Matt’s personal blog’s entry, though.

 

Even so, putting some details aside, I’d only like to highlight the facts that

(1) Mr. Oktar has been feeling defamed by some WP bloggers;
(2) The Turkish law granted his claim, thus produced decisions as stated by the attorney’s letter as follows:

So we have become obliged to apply to Turkish judicial courts to stop this defamation executed through your services. By the decision of Fatih 2nd Civil Court of First Instance, number 2007/195, access to WordPress.com has been blocked in Turkey.

(3) As a result of (2), connection to WP.com from the particular country has been completely blocked

(4) It is also reported that Mr. Oktar’s attorney asked WP.com to dismiss those blogs responsible in defaming his client. Here’s the excerpt:

WE DEMAND YOU TO REMOVE AND PROHIBIT ANY BLOGS IN YOUR SITE THAT CONTAIN MY CLIENT’S NAME ADNAN OKTAR OR HIS PEN NAME HARUN YAHYA OR VARIOUS COMBINATION OF THESE 4 NAMES.

***

 

Of all things, I must emphasize that I’m NOT going to criticize Turkey’s law, since it’s a sovereign country whose system of law I should respect. In this case, it interests me more to write on how it comes between Mr. Oktar and WP.com.

At least, I have few wonderings need to be answered concerning this incident:

 
(1) Who is Adnan Oktar? I mean, aside of his pen-name Harun Yahya and his works in promoting his kind-of-Creationism, so that he can have the whole country getting blocked to WP.com access?

(2) Does it make sense to disconnect millions people in a country from around-1-million-powered blog hosting, just because few bloggers criticize him? I mean, there are bloggers from many nations hosted in WP.com; and Turkey is only one of those nations. Say that number of the bloggers who criticizes Mr. Oktar can be assumed; how many percent/permile are they from the whole WP.com blogs which gets blocked?

(3) If I don’t mistake it, WP.com has their own Terms of Service which governs kind-of lawsuit that was thought to be probable. In point 15,

[…] Except to the extent applicable law, if any, provides otherwise, this Agreement, any access to or use of the Website will be governed by the laws of the state of California, U.S.A., excluding its conflict of law provisions, and the proper venue for any disputes arising out of or relating to any of the same will be the state and federal courts located in San Francisco County, California. […]

Which, as I see it, states that WP.com doesn’t have to bow to any legal action based on any laws except to that of the state of California, as long as the law is applicable/not stated as otherwise.

Does Turkish Judicial Court decision granted to Mr. Oktar warrant the inapplicability of that condition?

(4) The essence of blog is the freedom-of-speech. Since the case is about defamation, wouldn’t it be more elegant for Mr. Oktar to reply them, from his point-of-view, in his own site? Please note that I’m NOT saying that resolving through the court is a bad choice — I just suggest a more elegant way in my opinion.

(5) And, on top of all; is it alright for Turkish bloggers to keep getting blocked like this? I personally don’t think so, since blogs aren’t always about critics-and-defamations as suggested. There are people who blogs to write on their own about themselves and other things; thus unrelated to the main topic here. 😦

 

Well, at least those are what I wonder from the entire case. Anybody can help me understanding those?

 

 

Ps:

I’d also like to send my sympathy to the Turkish WP.com bloggers who get firewalled. Hope the ban will be lifted soon. 😦

PPs:

Comments are welcome in English and/or Indonesian. (English is preferred, though)

Read Full Post »

« Newer Posts