• Beranda
  • License
  • More About Me…
  • Sitemap

sora-kun.weblog()

//returns stories, pictures, or anything else he’s working at :)

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Mengapa Takut Gelap?
Dunia yang Makin Instan »

Telah Jauh Melangkah

Januari 7, 2010 oleh sora9n

Sekali waktu ketika masih sekolah, seorang teman saya ditanya oleh Bapak Guru dari suku mana dia berasal. Saya sendiri waktu itu sedang rada melamun — waktu itu pelajaran sejarah, yang kebetulan saya kurang tertarik. Meskipun begitu saya ingat dia menjawab, “Padang”.

Technically, harusnya dia menjawab “Minang” — tapi itu bisa kita kesampingkan untuk saat ini.

Saya pikir ada yang aneh dengan klaimnya waktu itu. Sejak pertama kali mengenal dia, belasan tahun lalu, saya langsung ngeh bahwa matanya berwarna coklat. Hidungnya rada mancung, dan kulitnya relatif pucat untuk ukuran Asia. Kalaupun ada yang mencerminkan bahwa dia “orang Padang”, maka itu adalah jilbab yang dia pakai sejak SD dan kefasihannya baca Qur’an. Paling tidak itu sejalan dengan semboyan orang Padang yang saya tahu: “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”.

Belakangan saya paham bahwa dia berdarah Indo. Barangkali dia dapat warisan itu sejak zaman penjajahan, makanya dia bisa dengan yakin berkata “Padang” ketika ditanya. Meskipun begitu — at risk of repeating myself — bukan itu yang hendak dibahas di sini.

***

Ada pertanyaan yang mengusik saya tiap kali menatap matanya yang coklat itu. Sebenarnya nenek moyangmu orang mana? Dari negeri yang jauh sampai kemudian tiba di SumBar, dan sekarang kamu di tanah Jawa? Portugis? Belanda? Atau barangkali dia bukan penjajah. Barangkali sekadar petualang Eropa serabutan macam Jean Marais…

Bagi saya, dia adalah sosok yang menarik. Bukan karena dia cantik, melainkan karena dia membawa rasa penasaran saya ke tempat yang jauh: kapal-kapal pedagang, penjelajah, berlayar atas perintah bangsawan Eropa. Perjalanan sekian tahun menuju Malaka. Perjalanan membawa genetik Eropa dari tanah asalnya menuju kepulauan di Khatulistiwa…

Selalu ada yang unik setiap kali saya menatap matanya yang coklat itu. Dan setiap kali pula, saya selalu terkagum: betapa jauhnya manusia bisa berjalan, betapa kerasnya manusia bisa berupaya. Dari kincir-kincir angin di Belanda sampai lembah dan ngarai di Sumatra Barat, hingga akhirnya berhenti dan menetap di Pulau Jawa. Selalu ada yang spesial setiap kali saya memikirkannya.

Bayangkan, saya berkata ke diri sendiri. Bayangkan jauhnya.

Saya tahu, kehadiran bangsa Eropa mencapai Nusantara bukannya manis semata. Sebagaimana pelajaran PSPB memberi tahu saya di masa SD: banyak riwayat kelam yang menyertainya. Kolonialisme tidak indah. Meskipun begitu, sebagaimana saya tulis di atas, selalu ada yang spesial setiap kali saya memperhatikan teman yang disebut sebelumnya.

Bahwa di dekat saya ada seorang gadis, beragama Islam, berjilbab, dan relatif fasih membaca Qur’an, sementara nenek moyangnya mungkin petugas Zending missie beragama Protestan — dan bahwa dia lebih merasa sebagai “orang Padang”, alih-alih Belanda atau Portugis — membuat saya tertarik untuk merenung dan menuangkannya di sini dalam bentuk tulisan.

Bayangkan, saya berpikir. Bayangkan jauhnya.

Seandainya zaman penjelajahan tak pernah dimulai, maka dia takkan pernah lahir. Seandainya seorang pangeran Portugis tidak pernah memulai tradisi kelautan Eropa, kapal-kapal dagang VOC mungkin takkan singgah di Nusantara. Seandainya tidak ada kompas… seandainya tidak ada semboyan Gold, Gospel, Glory…

Hari ini, ketika saya sedang mengetikkan tulisan ini, saya kembali teringat padanya. Saya teringat pada matanya yang coklat, kulitnya yang pucat — kerudung yang dipakainya anatopis dengan raut wajahnya yang (sedikit) Eropa. Saya sudah lama tidak bertemu dengannya. Meskipun begitu, setelah melalui refleksi di atas, saya jadi sadar akan satu hal: She was indeed special.

Setiap kali saya menatapnya, saya membayangkan perjalanan yang ditempuh leluhurnya. Ribuan kilometer lewat laut, menantang badai. Mungkin juga sempat berperang/berselisih dengan penduduk lokal. Perjalanan panjang dan jauh. Dan saya bertanya, siapa yang memberinya bentuk mata dan warna kulit seperti itu.

Adakah leluhurnya dulu kelasi di kapal VOC? Atau barangkali bukan VOC. Barangkali dia naik kapal Portugis yang lebih dulu datang? Pertanyaan-pertanyaan macam ini terus berseliweran. Meskipun begitu saya pikir saya takkan pernah tahu.

Saya rasa, dia sendiri juga tidak tahu.

Kalaupun ada yang saya tahu, itu adalah bahwa leluhurnya telah jauh melangkah. Dari tanah yang asing di Eropa sana, terus mengarungi samudra, hingga akhirnya tiba di Sumatra Barat. Barangkali saya harus berterima kasih pada Pangeran Henry dari Portugal — sebab gara-gara dia abad penjelajahan Eropa dimulai, dan saya bisa merenungi perjalanan epic tersebut lewat kehadiran teman saya.

Walaupun, kalau boleh jujur, sebenarnya ada hal lain yang membuat saya berhutang budi pada pangeran tersebut. Tapi itu cerita lain untuk saat ini…

Like this:

Suka
Be the first to like this post.

Ditulis dalam Deeper Thoughts, Personal Scraps, Trivia | Bertanda Age of Discovery, Indisch, kolonialisme, Portugis, VOC | 16 Komentar

16 Tanggapan

  1. pada Januari 7, 2010 pada 10:52 pm lambrtz

    Seingat saya memang banyak orang-orang keturunan Eropa di Sumatra, salah satunya keturunan Portugis di Aceh. :D

    Dan beberapa hal lain yang menarik perhatian saya:

    Sekali waktu ketika masih sekolah,

    Berarti sekarang sudah tidak sekolah / sudah lulus? Selamat kalau begitu. :D

    sebenarnya ada hal lain yang membuat saya berhutang budi pada pangeran tersebut.

    Sora memang lihai membuat penasaran, maka ijinkan saya bertanya: apakah itu? :?

    Dan, Sora ga tanya ke temannya gitu, siapa tahu dia tahu sejarah keluarganya. :?


  2. pada Januari 8, 2010 pada 5:41 am [Gm]

    Gombal…

    Hihihihi… it’s a nice story, though :D …

    Tapi itu cerita lain untuk saat ini…

    Jadi penasaran pengen tahu lanjutannya. :P


  3. pada Januari 8, 2010 pada 9:23 am gunawanrudy

    indonesia timur agak ke tengah adalah ladang hibrid yang sebenarnya di indonesia. percamouran 3 ras –mongolid, austromelanesid, kaukasid– sangat terasa di sana…

    …dan saya menggemari cewek-ceweknya. :cool:


  4. pada Januari 8, 2010 pada 11:19 am sora9n

    @ lambrtz

    Berarti sekarang sudah tidak sekolah / sudah lulus? Selamat kalau begitu. :D

    Lho, saya memang sudah lulus sekolah. Ngapain juga saya nongkrongin SMA sampai umur 23? :-?

    /atau SMP
    //atau SD for that matter

    Sora memang lihai membuat penasaran, maka ijinkan saya bertanya: apakah itu? :?

    No comment. :mrgreen:

    Dan, Sora ga tanya ke temannya gitu, siapa tahu dia tahu sejarah keluarganya. :?

    Ya enggaklah. Cuma temen biasa kok nanya-nanya keluarga segitunya. Kesannya intrusif sekali. =_=!

    :::::

    @ [Gm]

    Gombal…

    Ini bukan gombal, ini curhat terselubung! :mrgreen:

    Jadi penasaran pengen tahu lanjutannya. :P

    No comment. :mrgreen:

    *ngopi reply di atas*

    :::::

    @ gunawanrudy

    Yang saya tahu, daerah situ memang ada gradasi antara fitur melayu dan aborigin. Jadi Mongoloid-Austromelanosoid di sana itu given lah. ^^ Kaukasusnya paling2 dari Portugis IMHO.

    Tapi ya saya belum pernah ke sana, jadi ndak bisa menilai ceweknya seperti apa. :mrgreen:

    /belum pernah ke Borneo atau Sulawesi
    //Maluku dst.-nya juga belum pernah (-_-)


  5. pada Januari 8, 2010 pada 1:28 pm tierainrie

    Gyaaah, curhat terselubung di atas terdengar sangat romantis buat ukuran Sora….hahay….
    Wondering, where is that girl now…
    **ditimpuk**


  6. pada Januari 8, 2010 pada 4:32 pm Felicia

    walaupun samar-samar saya mencium bau kekaguman yang ditujukan pada cewe itu, alih-alih pada asal-usulnya :mrgreen:
    *kabur*


  7. pada Januari 8, 2010 pada 5:12 pm Amd

    Ahem… mengenang cinta monyet masa lalu ya? :twisted:

    Jangan lupa juga, seandainya Konstantinopel saat itu tak dikuasai bangsa Arab, penjelajahan samudera juga mungkin tak akan terjadi.


  8. pada Januari 8, 2010 pada 6:39 pm sora9n

    @ tierainrie

    Wondering, where is that girl now…

    Saya tahu kok dia di mana sekarang. Problem is, seperti ditulis di atas, saya udah jarang ketemu. :lol:

    /beda kota

    :::::

    @ Felicia

    Ah, perasaan mbak Feli saja itu. :mrgreen:

    :::::

    @ Amd

    Ahem… mengenang cinta monyet masa lalu ya? :twisted:

    Tidak. Cuma sedang teringat saja kok masbrur… (=3=)/

    Jangan lupa juga, seandainya Konstantinopel saat itu tak dikuasai bangsa Arab, penjelajahan samudera juga mungkin tak akan terjadi.

    Yup, yup. Jangan lupa juga, bahwasanya ilmu kartografi berkembang pesat di masa kejayaan Islam. :P


  9. pada Januari 9, 2010 pada 12:09 am Kgeddoe

    Bah, ini cuma pastiche esai-esai ilmiah dramatis yang dipelintir supaya bisa membawa-bawa wanita yang disebut. :mrgreen:

    BTW, mata cokelat? Cokelat bukannya warna yang biasa? Barangkali cokelat yang seperti amber atau hazel begitu?


  10. pada Januari 9, 2010 pada 7:44 am sora9n

    @ Kgeddoe

    Bah, ini cuma pastiche esai-esai ilmiah dramatis yang dipelintir supaya bisa membawa-bawa wanita yang disebut. :mrgreen:

    Heh, jangan killjoy! :cool: :lol:

    BTW, mata cokelat? Cokelat bukannya warna yang biasa? Barangkali cokelat yang seperti amber atau hazel begitu?

    Maksud saya coklatnya lebih noticeable, gitu. Jadi nggak begitu gelap seperti orang Indonesia pada umumnya.

    Lebih ke arah amber sepertinya. Tapi saya agak lupa juga — sudah lama nggak ketemu ybs, je. :|


  11. pada Januari 9, 2010 pada 10:05 am Gentole

    Nusa Jawa Silang Budaya-nya Denys Lombard. Seri sejarah Asia Tenggaranya Anthony Reid. Atau artikel dan disertasinya A.B. Lapian tentang sejarah maritim nusantara. Nah, itu yang muncul waktu baca post ini. Bagus. Prosa yang enak dibaca. Ngomong2, sapa nama gadis itu? You already give her a face; now, please, give her a name!!


  12. pada Januari 9, 2010 pada 12:27 pm sora9n

    @ Gentole

    Ngomong2, sapa nama gadis itu? You already give her a face; now, please, give her a name!!

    Situ pikir saya bapaknya, ngasih nama seenaknya? :mrgreen: Lagian enggak baguslah nyebut nama asli di blog. Breach of privacy + nyerempet e-stalking ituh. (nottalking)

    /what with Facebook, Friendster, etc
    //so, no


  13. pada Januari 10, 2010 pada 3:18 pm agiek

    skrinsyut temennya dong sora! :P

    ahhh membaca ini saya jadi pingin maenin game Uncharted Waters lagi :)

    Era penjelajahan lah yang membuat saya tertarik ama sejarah..


  14. pada Januari 11, 2010 pada 5:43 pm sora9n

    ^

    skrinsyut

    Hus! Ntar situ naksir lagi :mrgreen:

    ahhh membaca ini saya jadi pingin maenin game Uncharted Waters lagi :)

    Era penjelajahan lah yang membuat saya tertarik ama sejarah..

    Kalau saya terinspirasinya gara-gara Civilization. Jadi terbayang interaksi antarperadaban zaman dulu. :D

    *halah*


  15. pada Januari 17, 2010 pada 9:23 pm Review Game Jadul: Civilization III (2001) « sora-kun.weblog()

    [...] ya, saya akui bahwa tulisan saya tempo hari terinspirasi oleh game [...]


  16. pada Februari 10, 2010 pada 10:47 pm Dari Padang-Padang Jauh di Afrika: Tentang Ras, Multiras, dan Kemanusiaan « sora-kun.weblog()

    [...] Batak dan mendapat seorang anak. Teman ngobrol saya waktu kuliah berdarah Arab. Cinta pertama saya gadis Indo-Padang, dan lain sebagainya. Pada akhirnya ini menunjukkan satu hal: identitas kita bukan lagi tunggal dan [...]



Komentar ditutup.

  • About Me

    sora9n

    NOTICE:
    This blog is now discontinued. The author has moved to new address: [here]

    [guestbook entries]
  • Disclaimer


    This blog is personal property which is publicized. Readers are free to copy, republish, and distribute the content as long as the source is mentioned.

    [more on license page]

  • People visited this blog:

    • 668,017 times
  • My Picture Gallery

    -=-=-=-=-=-=-=-
    .: Gallery's Main Page :.
    -=-=-=-=-=-=-=-

  • Categories

  • Top Posts

    • Beberapa Kalimat Sapaan dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-7] Pengelompokan Kata Kerja dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-1] Kalimat Aktif Sederhana dalam Bahasa Jepang
    • Direktori 'Nihongo' @ sora-kun.weblog()
    • [nihongo-2] Partikel 'no' dan 'de'
  • Recent Posts

    • Akhir Sebuah Perjalanan (alias: Balada Pindah Alamat)
    • Current Playlist 2010.10.01: World Music Edition
    • Kartu Lebaran 1431 H
    • Grandpa’s Old Typewriter
    • [nihongo] Berkenalan dengan Huruf Kanji
  • Archives

  • Metadata for This Site

    • Daftar
    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com

Blog pada WordPress.com.

Tema: MistyLook oleh Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.

Powered by WordPress.com