Sekali waktu ketika masih sekolah, seorang teman saya ditanya oleh Bapak Guru dari suku mana dia berasal. Saya sendiri waktu itu sedang rada melamun — waktu itu pelajaran sejarah, yang kebetulan saya kurang tertarik. Meskipun begitu saya ingat dia menjawab, “Padang”.
Technically, harusnya dia menjawab “Minang” — tapi itu bisa kita kesampingkan untuk saat ini.
Saya pikir ada yang aneh dengan klaimnya waktu itu. Sejak pertama kali mengenal dia, belasan tahun lalu, saya langsung ngeh bahwa matanya berwarna coklat. Hidungnya rada mancung, dan kulitnya relatif pucat untuk ukuran Asia. Kalaupun ada yang mencerminkan bahwa dia “orang Padang”, maka itu adalah jilbab yang dia pakai sejak SD dan kefasihannya baca Qur’an. Paling tidak itu sejalan dengan semboyan orang Padang yang saya tahu: “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”.
Belakangan saya paham bahwa dia berdarah Indo. Barangkali dia dapat warisan itu sejak zaman penjajahan, makanya dia bisa dengan yakin berkata “Padang” ketika ditanya. Meskipun begitu — at risk of repeating myself — bukan itu yang hendak dibahas di sini.
***
Ada pertanyaan yang mengusik saya tiap kali menatap matanya yang coklat itu. Sebenarnya nenek moyangmu orang mana? Dari negeri yang jauh sampai kemudian tiba di SumBar, dan sekarang kamu di tanah Jawa? Portugis? Belanda? Atau barangkali dia bukan penjajah. Barangkali sekadar petualang Eropa serabutan macam Jean Marais…
Bagi saya, dia adalah sosok yang menarik. Bukan karena dia cantik, melainkan karena dia membawa rasa penasaran saya ke tempat yang jauh: kapal-kapal pedagang, penjelajah, berlayar atas perintah bangsawan Eropa. Perjalanan sekian tahun menuju Malaka. Perjalanan membawa genetik Eropa dari tanah asalnya menuju kepulauan di Khatulistiwa…
Selalu ada yang unik setiap kali saya menatap matanya yang coklat itu. Dan setiap kali pula, saya selalu terkagum: betapa jauhnya manusia bisa berjalan, betapa kerasnya manusia bisa berupaya. Dari kincir-kincir angin di Belanda sampai lembah dan ngarai di Sumatra Barat, hingga akhirnya berhenti dan menetap di Pulau Jawa. Selalu ada yang spesial setiap kali saya memikirkannya.
Bayangkan, saya berkata ke diri sendiri. Bayangkan jauhnya.
Saya tahu, kehadiran bangsa Eropa mencapai Nusantara bukannya manis semata. Sebagaimana pelajaran PSPB memberi tahu saya di masa SD: banyak riwayat kelam yang menyertainya. Kolonialisme tidak indah. Meskipun begitu, sebagaimana saya tulis di atas, selalu ada yang spesial setiap kali saya memperhatikan teman yang disebut sebelumnya.
Bahwa di dekat saya ada seorang gadis, beragama Islam, berjilbab, dan relatif fasih membaca Qur’an, sementara nenek moyangnya mungkin petugas Zending missie beragama Protestan — dan bahwa dia lebih merasa sebagai “orang Padang”, alih-alih Belanda atau Portugis — membuat saya tertarik untuk merenung dan menuangkannya di sini dalam bentuk tulisan.
Bayangkan, saya berpikir. Bayangkan jauhnya.
Seandainya zaman penjelajahan tak pernah dimulai, maka dia takkan pernah lahir. Seandainya seorang pangeran Portugis tidak pernah memulai tradisi kelautan Eropa, kapal-kapal dagang VOC mungkin takkan singgah di Nusantara. Seandainya tidak ada kompas… seandainya tidak ada semboyan Gold, Gospel, Glory…
Hari ini, ketika saya sedang mengetikkan tulisan ini, saya kembali teringat padanya. Saya teringat pada matanya yang coklat, kulitnya yang pucat — kerudung yang dipakainya anatopis dengan raut wajahnya yang (sedikit) Eropa. Saya sudah lama tidak bertemu dengannya. Meskipun begitu, setelah melalui refleksi di atas, saya jadi sadar akan satu hal: She was indeed special.
Setiap kali saya menatapnya, saya membayangkan perjalanan yang ditempuh leluhurnya. Ribuan kilometer lewat laut, menantang badai. Mungkin juga sempat berperang/berselisih dengan penduduk lokal. Perjalanan panjang dan jauh. Dan saya bertanya, siapa yang memberinya bentuk mata dan warna kulit seperti itu.
Adakah leluhurnya dulu kelasi di kapal VOC? Atau barangkali bukan VOC. Barangkali dia naik kapal Portugis yang lebih dulu datang? Pertanyaan-pertanyaan macam ini terus berseliweran. Meskipun begitu saya pikir saya takkan pernah tahu.
Saya rasa, dia sendiri juga tidak tahu.
Kalaupun ada yang saya tahu, itu adalah bahwa leluhurnya telah jauh melangkah. Dari tanah yang asing di Eropa sana, terus mengarungi samudra, hingga akhirnya tiba di Sumatra Barat. Barangkali saya harus berterima kasih pada Pangeran Henry dari Portugal — sebab gara-gara dia abad penjelajahan Eropa dimulai, dan saya bisa merenungi perjalanan epic tersebut lewat kehadiran teman saya.
Walaupun, kalau boleh jujur, sebenarnya ada hal lain yang membuat saya berhutang budi pada pangeran tersebut. Tapi itu cerita lain untuk saat ini…
Seingat saya memang banyak orang-orang keturunan Eropa di Sumatra, salah satunya keturunan Portugis di Aceh.
Dan beberapa hal lain yang menarik perhatian saya:
Berarti sekarang sudah tidak sekolah / sudah lulus? Selamat kalau begitu.
Sora memang lihai membuat penasaran, maka ijinkan saya bertanya: apakah itu?
Dan, Sora ga tanya ke temannya gitu, siapa tahu dia tahu sejarah keluarganya.
Gombal…
Hihihihi… it’s a nice story, though
…
Jadi penasaran pengen tahu lanjutannya.
indonesia timur agak ke tengah adalah ladang hibrid yang sebenarnya di indonesia. percamouran 3 ras –mongolid, austromelanesid, kaukasid– sangat terasa di sana…
…dan saya menggemari cewek-ceweknya.
@ lambrtz
Lho, saya memang sudah lulus sekolah. Ngapain juga saya nongkrongin SMA sampai umur 23?
/atau SMP
//atau SD for that matter
No comment.
Ya enggaklah. Cuma temen biasa kok nanya-nanya keluarga segitunya. Kesannya intrusif sekali. =_=!
:::::
@ [Gm]
Ini bukan gombal, ini curhat terselubung!No comment.
*ngopi reply di atas*
:::::
@ gunawanrudy
Yang saya tahu, daerah situ memang ada gradasi antara fitur melayu dan aborigin. Jadi Mongoloid-Austromelanosoid di sana itu given lah. ^^ Kaukasusnya paling2 dari Portugis IMHO.
Tapi ya saya belum pernah ke sana, jadi ndak bisa menilai ceweknya seperti apa.
/belum pernah ke Borneo atau Sulawesi
//Maluku dst.-nya juga belum pernah (-_-)
Gyaaah, curhat terselubung di atas terdengar sangat romantis buat ukuran Sora….hahay….
Wondering, where is that girl now…
**ditimpuk**
walaupun samar-samar saya mencium bau kekaguman yang ditujukan pada cewe itu, alih-alih pada asal-usulnya
*kabur*
Ahem… mengenang cinta monyet masa lalu ya?
Jangan lupa juga, seandainya Konstantinopel saat itu tak dikuasai bangsa Arab, penjelajahan samudera juga mungkin tak akan terjadi.
@ tierainrie
Saya tahu kok dia di mana sekarang. Problem is, seperti ditulis di atas, saya udah jarang ketemu.
/beda kota
:::::
@ Felicia
Ah, perasaan mbak Feli saja itu.
:::::
@ Amd
Tidak.Cuma sedang teringat saja kok masbrur… (=3=)/Yup, yup. Jangan lupa juga, bahwasanya ilmu kartografi berkembang pesat di masa kejayaan Islam.
Bah, ini cuma pastiche esai-esai ilmiah dramatis yang dipelintir supaya bisa membawa-bawa wanita yang disebut.
BTW, mata cokelat? Cokelat bukannya warna yang biasa? Barangkali cokelat yang seperti amber atau hazel begitu?
@ Kgeddoe
Heh, jangan killjoy!
Maksud saya coklatnya lebih noticeable, gitu. Jadi nggak begitu gelap seperti orang Indonesia pada umumnya.
Lebih ke arah amber sepertinya. Tapi saya agak lupa juga — sudah lama nggak ketemu ybs, je.
Nusa Jawa Silang Budaya-nya Denys Lombard. Seri sejarah Asia Tenggaranya Anthony Reid. Atau artikel dan disertasinya A.B. Lapian tentang sejarah maritim nusantara. Nah, itu yang muncul waktu baca post ini. Bagus. Prosa yang enak dibaca. Ngomong2, sapa nama gadis itu? You already give her a face; now, please, give her a name!!
@ Gentole
Situ pikir saya bapaknya, ngasih nama seenaknya?
Lagian enggak baguslah nyebut nama asli di blog. Breach of privacy + nyerempet e-stalking ituh.
/what with Facebook, Friendster, etc
//so, no
skrinsyut temennya dong sora!
ahhh membaca ini saya jadi pingin maenin game Uncharted Waters lagi
Era penjelajahan lah yang membuat saya tertarik ama sejarah..
^
Hus!
Ntar situ naksir lagiKalau saya terinspirasinya gara-gara Civilization. Jadi terbayang interaksi antarperadaban zaman dulu.
*halah*
[...] ya, saya akui bahwa tulisan saya tempo hari terinspirasi oleh game [...]
[...] Batak dan mendapat seorang anak. Teman ngobrol saya waktu kuliah berdarah Arab. Cinta pertama saya gadis Indo-Padang, dan lain sebagainya. Pada akhirnya ini menunjukkan satu hal: identitas kita bukan lagi tunggal dan [...]