Dulu, waktu saya masih kecil, ayah saya pernah menyampaikan ucapan yang — kira-kira — intinya sebagai berikut.
“Setiap kali ini-itu, pasti menangis. Jangan jadikan tangisan sebagai senjata.”
Saya tak ingat waktu itu saya sedang apa, atau menangis karena apa. Meskipun begitu, ucapan tersebut sangat membekas di hati saya sampai sekarang. Merajuk itu tidak baik, begitu intinya. Kalau kamu minta pengertian dengan menangis, tapi tanpa alasan yang kuat, itu sama saja dengan manja.
Tentunya ini bukan berarti orang tak boleh menangis sama sekali. Yang tidak boleh adalah menangis untuk meraih simpati orang, lantas mengambil keuntungan darinya.
Saya tahu, kalimat di atas terkesan keras dan terkesan ‘tidak berhati’. Tapi saya juga tahu bahwa itu ada benarnya. Dunia kita adalah dunia yang keras: orang bisa memohon-mohon dengan air mata dan tampang memelas, sementara dalam hatinya mereka sedang mengatur perangkap. Orang-orang macam ini menyedihkan. Mengemis belas kasihan, mengharap dukungan moral ataupun material… tetapi, adakah mereka punya alasan untuk dikasihani?
Belum tentu.
Kalau Anda sering main ke Jakarta (atau kota-kota besar lainnya di Indonesia), Anda mungkin pernah bertemu orang-orang macam ini. Biasanya orang tersebut bilang, “Dik, tolong minta uang pulang kampung. Barusan saya dicopet…” Matanya berkaca-kaca tanda kesedihan. Anda pikir dia tulus? Ha! Main saja ke tempat yang sama esok hari, dan lihat apa dia masih ada di situ. Dicopet kok berulang-ulang.
Saya beberapa kali mengalami yang seperti ini. Ada dua orang di Bandung yang saya sampai kenal dengan wajahnya. Yang satu berkata bahwa dia sedang menuju Kiara Condong, tapi nyasar di Dago, dan kehabisan uang; yang satu lagi berkata bahwa dia datang dari Garut dan kecopetan. Demi mendapat sesuap nasi™ pengisi malam, ia lalu menjadi tukang parkir ilegal di taman kota…
…menyedihkan? Enggak sama sekali. Lha wong saya ketemu mereka berulang-ulang kok. Yang pertama saya ketemu di Dago tiga kali (!), sementara yang kedua, dua kali di dalam kampus.
Hmmmmmmm.
***
Dari dulu, dan sampai sekarang, saya selalu jengkel pada orang yang jualan air mata. Atau, dalam pengertian yang lebih luas, jual kasihan. Mulai dari calon idola Indonesia yang nggak bisa nyanyi tapi bapaknya tukang becak, sampai tokoh cewek yang nangis-nangis di sinetron gara-gara ketahuan selingkuh. Pertanyaannya, buat apa? Mau dapat apa orang dengan air mata?
Ini sama saja dengan saya nangis-nangis di depan dosen, bercerita tentang semua kesulitan hidup, dengan harapan beliau jatuh simpati dan meluluskan saya dari kuliahnya. Enggak mutu. Limpahan SMS dari seluruh pemirsa Indonesian Idol sekalipun takkan mampu membuat saya lulus kuliah fisika kuantum, kalau saya memang layak dapat E.
Saya pikir ada yang salah dengan kultur “air mata dan belas kasihan” ini. Masalahnya, sebagian kita terlalu mudah jatuh simpati. Simpati itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu. Mulai dari yang pura-pura kesasar, pura-pura kecopetan, hingga pura-pura bisa nyanyi dan ikut kontes idola. Untuk apa simpati itu dimanfaatkan, tujuannya tentu saja bervariasi.
Entah siapa yang salah. Apakah si pelaku yang sengaja mempromosikan kesialannya, atau masyarakat yang terlalu gampang kasihan? Sejujurnya, saya juga tidak tahu.
Meminjam lirik lagu Ebiet G. Ade,
Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langit…
Barangkali di sana ada jawabnya…
Oh well.
Uhuh, gw juga benci orang yang menggunakan air mata buat minta2 kaya gitu.. memanfaatkan empati orang lain demi kepentingannya itu sama dengan penipuan
Serba salah sih,
Kalo beneran kita ga bantu ya kasian,
kalo boongan kita bantu malah mempromosikan gerakan kaya gitu *sigh*
Dunia… dunia…
Dasar manusia tidak berperasaan!!!
appeal to emotion mode offKunjungi blog saya yaklo nangisnya yang ga tulus (emang ada?
) emang bikin jengkel ya, ya kayak yang di acara2 idol gitu
tapi klo nangis itu mengalir dengan sendirinya untuk sedikit (walo sedikit lho ya) menguapkan kesedihan di hati, saya pkir itu ga apa -apa …
merajuk….ga baik..manja…
*zleb*
Ini konsep yang semua orang sudah tahu tanpa diceramahi. Tapi,
Kasus yang ini boleh jadi sama saja; mungkin memang kadang-kadang kita mesti berhati baja (halah).
ada sebuah tapinya, saudara-saudara™pada prakteknya mungkin memang tidak dijalankan. Mirip dengan aesop “jangan menilai buku dari sampulnya” — kalau kata TV Tropes, every hero worth his salt must be physically attractive.Jangan lupa kunjungi blog saya di http://rosenqueencompany.wordpress.com/ ™
Kurasa soalnya terletak pada mental bangsa ini sendiri. Lihat aja acara yg paling disukai di TV, pasti sinetron2 cengeng. Nampaknya memang menumpahkan airmata disini lbh mudah daripada memotivasi utk bekerja keras. Tak heran, org yg ingin mendapat simpati, air mata-lah yang dijadikan senjata.
Kan terbukti ampuh?!
@ Naufal.com
Komentar dihapus. Dilarang nyepam di blog ini.
:::::
@ Eru
Saya sendiri sebenarnya gak masalah kalau mereka memang benar-benar butuh dan jujur. Sayangnya kenyataan tak selalu sama dengan harapan.
Pernah satu kali, saya kasih uang beberapa ribu. Eh tahunya ketemu lagi beberapa hari kemudian. Dasar gemblung.
:::::
@ lambrtz
Halah, itu mah biasa. Pas jaman SMA dulu saya malah dibilang “gak punya hati” sama temen nongkrong. (haha)
/wonder
//apa saya memang sejahat itu ya
///hmmmmm…
Huanjrit! SPAM!
:::::
@ emina
Sebenarnya masalahnya bukan pada “menangis”-nya itu sendiri. Masalahnya kalau “menangis” dan “menderita” itu dimanfaatkan buat menggayung simpati orang. Nah ini yang bikin BT. >__>
Kesannya kok orang udah tulus, tahunya malah dikerjain. Saya rasa semua orang tahu lah perasaan macam ini (IMHO).
:::::
@ Pak Guru
Well… kebetulan lagi banyak melihat insiden semacam itu di sekitar. Alhasil terinspirasi jadi post.
/halah
Huanjrit, udah dua kali. Ini apa bakal jadi meme, ya?
:::::
@ Fanda
Yup, begitulah. Memang benar itu resep yang telah terbukti ampuh. (u_u)
/halah
//tapi beneran, itu
Orang Indonesia itu memang suka sekali dengan drama kok. Makanya acara reality shows dan tayangan rating tinggi itu kebanyakan menarik simpati dengan drama-drama dan airmata.
dan itu kenapa manohara laku keras di pasaranKalau yang di jalanan itu, memang terpikir jadinya untuk mengontrol kapan perlu membuka hati untuk memberi simpati, dan kapan untuk mematikan hati.
Ah, btw, salam kenal
Kalau anda cukup bermuka tembok, saya punya solusi jitu: tangisin balik.
:mrgreen:
saya tidak suka menangis sih dan sebel juga liat orang yang menggunakan air mata untuk mendapatkan semua yang dia inginkan. *eh tapi waktu kecil saya termasuk cengeng*
Banyak sih temen-temen saya yang begitu, dan alhasil saya disebut berhati batu, tidak berperasaan, sadis, kejam, dan banyak lagi yang sejenis.
eh tapi saya lebih suka terlihat jahat daripada bermuka manis, tapi membawa pisau di belakangnya
@ Frea
Blog baru ya, yang sebelumnya diapain?
tapi…tapi…kalo air mata perempuan gimana Sou? katanya itu senjata terdashyat yang dimilikinya buat mengalahkan egoisme pria…eh, numpang komen ya….
Membaca tulisan ini, saya jadi teringat insiden di kantor kemarin. Ada salah satu teman saya yang jatuh dari tangga, terguling-tuling beberapa kali, tapi habis itu bangun lagi sambil cengar-cengir. Tampaknya dia ga mau menunjukkan rasa sakitnya, sampai akhirnya ga kuat dan harus dibawa ke UGD setelah nyaris pingsan.
Ah ya, ini memang agak terlalu sih.. etapi saya salut pada orang-orang yang ga gampang mengumbar air mata untuk menarik simpati orang, padahal dia sendiri sangat butuh pertolongan.
*maap jadi curhat deh*
saya paling ga demen ngeliat ada orang yang ngejadiin tangisan itu senjata.. karena mereka selalu berdalih dan menjadikan tangisan itu pelarian ajah..
huh!
Well… I think using tear as a weapon is an emotional blackmail isn’t it?
@ Frea
Salam… kenal… juga….
*batuk-batuk*
Gak cuma acara TV, IMO. Selera musik juga…
/sambil lihat daftar tangga lagu
//wah, banyak band bergaya melayu!
///cap indon tapinya.
:::::
@ Kamerad Syllachtea
Ah, saya lebih suka solusi jitu a la teman saya.
:::::
@ rukia^^
Bwakakak…
/senasib
:::::
@ aisha
Oh, silakan. Nggak dilarang kok.
Gimana ya… saya beberapa kali lihat perempuan menangis gara-gara kesalahannya sendiri, sih. Jadi… ^^;
Kalau memang menangisnya karena alasan yang ‘normal’ saya sih OK aja. Lha, kalau nangisnya gara2 — misalnya — ketangkep selingkuh sama cowoknya? Mau kasihan kok rasanya gimana…
:::::
@ Sukma
Nah, justru orang macam itu yang lebih layak dapat simpati. Biar keadaannya gawat sekalipun, dia masih berusaha berdiri dengan gagah.
/teringat aya ikeuchi
//say no to wangst!
:::::
@ Billy Koesoemadinata
*mengamini* (u_u)
:::::
@ Asiana
Well… indeed. ^^;
Baca post ini kok pikiran saya tertuju pada salah satu capres yah, yang katanya merasa dikeroyok ituh
*mabok pilpres*
Though crying couldn’t solve problem,but i do realize that crying could make people feel better(at least relax than before cry).
So i prefer cry silently,cry inside of me
gimana caranya yach??:mrgreen:Sora,Rukia…qta bikin gruop YUKS..
*bergaya spt pahlawan bertopeng*
*group manusia berhati batu*
Yang nantinya akan memberantas penyakit masyarakat yang spt sora sebutkan diatas….
hahahaha…
@ generasi patah hati
capres yang ini-kah?
)
Eh, tapi acara-acara idola semacam itu ‘kan memang kontes penyanyi populer di mana persona si kontestan ikut diperhitungkan? Jadi pada hakikatnya (halah) memang bukan ajang menyanyi murni.
Walau memang pemasarannya mengesankan demikian (i.e. kontes menyanyi murni), sih.
airmata? sebenernya emank gak bermutu amat.
meskipun saya ini terkesan cengeng, tapi saya mengakui itu,kok.
apa yah maksudnya ?? ehmmm…(mikir dulu)
lebih baik hadapi saja ketimbang nangis kayak org tolol.
saya juga baru menyadari ketololan saya sejak bulan lalu.
@ Generasi Patah Hati
Itu bukannya capres yang sama dengan yang berkibar sejak Peristiwa 27 Juli?
:::::
@ Getzu
Yee… sapa elu?
:::::
@ rani
Lho? Bukannya Bu Mega yg merasa jiper gara2 SBY-JK saling sindir? ^^;
*baca link*
Ah, saya bakal lebih respek kalau beliau nangis habis nonton Laskar Pelangi atau Garuda di Dadaku. Lha, sinetron aktivis dakwah model gitu, rasanya kok…
/with all due respect though
:::::
@ masgeddoe
Yah, namanya juga “kontes idola”.
:::::
@ vya
Nggak papa, namanya juga belajar. Selalu ada saat pertama kali.
/halah
//etapi beneran lho
@ Getzu
Gomen ne, saya nggak berminat tuh buat grup or apalah, saya lebih suka dengan cara sendiri, so…. sori dori mori stroberi saya ga minat :p
@ Rukia
gak merasa berhati batu,ya?
sebenernya sih gak papa.. ^_^
@ vya
kalo pun saya merasa, bukan berarti saya mau bikin-bikin grup gak penting kek gitu, saya nggak suka. Saya punya cara sendiri untuk menatasi itu.
so ga perlu bikin-bikin grup gak jelas kek gitu deh, apalagi sama orang yang tidak saya kenal. sori dori mori stroberi
Wkakakakak…..kan becanda bro
@sora
*
gw bukan siapa2 koq…only dreamer…
….Takami wo mezashite
Fighting Dreamers Narifuri kamawazu
Fighting Dreamers Shinjiru ga mama ni
Oli Oli Oli Oh! Just go my way!
*kaya opening song Naruto yach …
@rukia
なんでもありません ,
私はあなたの選択を認める
@ rukia^^
ahaha..:shock:
maaf,ya nggak maksud utk mengkritik^_^
jgn diambil hati,yah
kalau diambil juga nggak papa,sih
soalnya ‘kan bukan punyaku.
hehehe….
Maaf, bkan maksudnya menggurui. Cm mau ngsh pndpat aja nih.
Kl kta trlnjur ditipu, ikhlaskan sajalah…(Mgkn bsa jd pnlong kt d akhrt)
Kl ada wktu luang, mgkn brdiskusi dgn mrka tidak ada salahnya. Tanya knpa mrka melakukan ini? Atau kl pnya info pkrjaan mgkn bs sling berbagi.
OOT ya,saya sering ngintip blog anda,dan ikut senang anak Indonesia semuda Anda sudah sedemikian banyak membaca
^
Ah, terima kasih. ^^
[...] hal yang membuatku bangga terhadapnya. Masyarakat Indonesia masih memegang teguh budaya untuk mengasihi yang tertindas . Bangsa Indonesia adalah bangsa yang rajin membantu Negara lain yang kekurangan tenaga kerja dengan [...]