Suatu ketika, Bapak Richard Feynman, seorang fisikawan peraih Nobel, diundang hadir dalam konferensi interdisiplin. Layaknya konferensi interdisiplin, yang hadir di sana adalah para tokoh dari berbagai bidang — di antaranya teologi, filsafat, etika, dan sosiologi.
Nah, beliau diundang sebagai wakil kalangan ilmuwan.
Meskipun begitu, tak berapa lama, Pak Feynman menemukan suatu masalah. Dia tidak mengerti pembicaraan orang-orang di konferensi tersebut!
Tentunya ini aneh. Apa mungkin beliau, yang dosen fisika sekaligus ilmuwan terkenal, tidak paham topik konferensi interdisiplin? “Pasti ada yang salah dengan pendekatan saya,” demikian pikir beliau.
Menyadari hal ini, beliau pun berintrospeksi. Sebagaimana diceritakan dalam autobiografinya,[1]
Aku mulai membaca makalah sial itu, dan mataku hampir copot; aku tidak paham sedikit pun! Kupikir itu karena aku belum membaca buku-buku dalam daftar. Aku punya perasaan tak nyaman bahwa aku “tak mampu”. Akhirnya, aku bilang pada diriku sendiri, “Coba aku berhenti di satu bagian, dan kubaca satu kalimat lambat-lambat, supaya aku bisa menggali apa sih artinya.”
Jadi, aku berhenti secara acak—dan membaca kalimat berikutnya dengan hati-hati. Aku tak tahu persisnya tentang apa, tapi kalimat itu kira-kira begini: “Seorang individu dalam suatu komunitas sering menerima informasinya melalui saluran simbolik-visual.”
Aku bolak-balik memikirkannya, dan menerjemahkannya. Tahu apa maksudnya?
“Orang membaca”.
***
Kalau boleh jujur, saya sering bingung tiap kali membaca tulisan — atau ngobrol dengan — orang-orang yang berlatar belakang filsafat. Masalah utamanya satu: mereka cenderung terpaku pada gaya bahasa teknis dan khas-filsafat. Mbulet. Atau, dengan kata lain, begitu rumitnya hingga sulit dimengerti oleh pembaca/pendengar pada umumnya.
Ya, tidak semuanya sih. Setidaknya saya rada nyambung dengan tulisan-tulisan bertema filsafat di blognya mas Fertob dan mas gentole. Mungkin kembali pada bagaimana si penulis bisa menjelaskan idenya. Meskipun begitu, tetap saja yang satu ini sering terjadi: orang berbicara filsafat, saya mendengarkan, dan wuss… mendadak semua jadi kabur.
Saya pernah membaca kumpulan esai Goenawan Mohamad, dan saya jadi bertanya-tanya: apa artinya “poststrukturalisme Adorno” dan “feminisme Kristeva”. Saya tak tahu siapa itu Bertold Brecht, tapi tetap saja beliau menulis panjang-lebar tentangnya. Saya pernah nyasar ke forum internet tentang filsafat — ada bahasan tentang “dekonstruksi Derrida” dan sebagainya — tapi, apa itu “dekonstruksi Derrida”, tidak ada yang menjelaskan. No, nein, nai!
Jalan keluarnya? Sudah tentu bertanya ke wikipedia atau mbah gugel. Mau bagaimana lagi? (-_-)
***
Jadi, sejak itu, saya belajar satu hal. Orang-orang filsafat itu suka sekali memakai istilah teknis dan aneh, yang belum tentu audiensnya paham. Seperti halnya contoh brilian yang disampaikan Pak Feynman di atas: ide sederhana seperti “orang membaca” pun bisa ditulis muter-muter hingga terdengar ajaib!
Kultur dan Penerimaan
Kemudian saya berpikir, mungkin kultur kita juga turut menyuburkan kebiasaan buruk ini. Orang-orang filsafat itu mungkin terlalu mendapat sanjungan yang berlebihan.
Kalau orang filsafat menyitir Derrida, Heidegger, dan Wittgenstein, orang yang tidak paham memandangnya: “Wah, hebat. Dia paham filsafat. Orang pintar, ini!”
Sementara, kalau orang fisika menyebut “radiasi Hawking” atau “Anomali Efek Zeeman”, orang yang tidak paham memandangnya: “Dia pintar sih, tapi nerd banget. Omongannya fisika tinggi terus.”
Bisa Anda lihat bedanya. Kalau bisa ngomong “Dekonstruksi Derrida”, keren; kalau mengerti “Anomali Efek Zeeman”, nerd. Padahal keduanya sama-sama topik yang obscure dan advanced. Kenapa pula ditanggapi secara berbeda?
Speaking of which, ini mengingatkan saya pada sepak-terjang para ilmuwan dalam beberapa dekade terakhir. Menyadari bahwa masyarakat kesulitan mencerna penelitian mutakhir, mereka pun aktif memperkenalkan diri lewat sains populer. Mulai dari Stephen Hawking, Carl Sagan, hingga Richard Dawkins. Mereka ingin pekerjaan mereka bisa dimengerti dan dinikmati orang banyak. So there goes.
Di sisi lain, kalangan filsafat terkesan cuek pada fenomena ini. Alih-alih mencoba memperkenalkan filsafat dengan cara yang lebih akrab, mereka lebih sering menjelaskan begini-dan-begitu versi mereka. Atau mungkin merasa kurang perlu mempopulerkan gagasan mereka. Or something like that.
Singkatnya, ada yang kurang cocok di sini. Filsafat kini terkesan lebih menara gading dibandingkan sains — dalam artian lebih bisa dipandang tinggi, dan dihargai, tanpa harus dimengerti. Lebih mudah mensituasikan pakar MIPA sebagai nerd dibandingkan pakar filsafat sebagai nerd.
Padahal, kalau saya boleh menganalogikan,
Orang yang menjelaskan eksistensialisme — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyitir Nietzsche, Camus, dan Sartre,
KURANG LEBIH SAMA DENGAN
Orang yang menjelaskan Mekanika Kuantum — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyebut Efek Casimir dan Percobaan Ashfar.
Mereka sama-sama menjelaskan suatu gagasan, tapi tidak melakukannya dengan baik. Enggak bakal nyambung.
Jadi?
Ada sebuah kutipan bijak dari dosen saya, yang disampaikan waktu saya masih duduk di tingkat dua. Bunyinya kira-kira sebagai berikut:
Ada dua cara membuat orang kagum pada Anda.
Pertama: jelaskan suatu topik sampai dia mengerti,
Kedua: jelaskan suatu topik sampai dia tidak mengerti.
Mengenai maknanya… hmm, saya rasa tak perlu dijelaskan lagi. Silakan dihayati sedalam-dalamnya.
*halah*
Sebuah Catatan Akhir!
Di awal tadi, saya bercerita tentang pengalaman Pak Richard Feynman. Kisah itu belum selesai — masih ada lanjutannya berikut ini.[2]
Pada hari kedua, ahli steno itu mendatangiku dan bilang, “Apa pekerjaan Bapak? Pasti bukan dosen.”
“Lho, saya dosen.”
“Dosen apa?”
“Fisika-IPA.”
“Oh! Pasti itu sebabnya,” katanya.
“Sebab apa?”
Dia bilang, “Begini, saya kan tukang steno, dan saya mengetik semua yang dikatakan di sini. Nah, kalau orang lain yang bicara, aku ketik apa yang mereka katakan, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bilang. Tapi, kalau Bapak yang berdiri dan bertanya, atau mengatakan sesuatu, saya mengerti apa maksud Bapak—apa yang ditanyakan, dan apa yang dikatakan—jadi, saya pikir, Bapak tidak mungkin dosen!”
Well, there you have it. So… meh.
——
Referensi:
[1] Feynman, R.P. 2003. terj. Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika. Bandung: Penerbit Mizan, hlm 313 (dengan perubahan seperlunya)
[2] ibid.
Lha kalo ahli Fisika dibilang nerd, terus Computer Scientist dibilang apa? Dork?
^
Mana saya tahu? xP
Soalnya, semua bidang ilmu ada filosofinya, tp nggak semua ada sainsnya, hehe. Di teknik pasti jg ada filsafat ilmu, ya to?
Yg sora contohkan diatas tu filsafatnya ilmu filsafat.., alias filsafat kuadrat
, klo saya bilangnya sih nerd juga.
Klo enstein bilang sih, “anda paham relativitas jika anda bisa menjelaskannya pada nenek anda”…atau kurang lebih begitulah kira – kira.. U_U.
Kalau sudah pakai bahasa sederhana bin mesum dan masih juga orang ga ngerti? ya terima aja bahwa yang menerangkan memang bodoh, sok tahu membahas sesuatu yang dia sendiri ga paham
Mungkin karena tradisi, orang Anglosaxon lebih jelas dan straightforward kalo ngomong dan berusaha menghindar dari jargon agar semua orang mengerti. Masalahnya, filsafat tidak berkembang di sana, melainkan di Eropa Daratan. Orang Jerman dan Perancis doyan sekali jargon. Hampir semua jargon filsafat yang bikin dahi saya berkerut itu berasal dari dua negara itu; dekonstruksi, Dasein, post-strukturalisme, absurditas, kitsch, post-kolonial, the Real, the Symbolic, mmmm…apalagi yah, lupa. Lah, pokoknya itu lah, yang ribet-ribet. Ini sama kayak orang Indonesia yang suka bikin singkatan; sekwildalah, abg-lah, tupoksilah. Makanya pas ada HP/SMS, orang Indonesia kagak kaget; malah jadi lebih kreatif! Kita jajahan Belanda, jadi sepertinya agak condong ke Eropa, apalagi orang Jawa — mereka ini sangat Eropa, suka jargon filsafat. Beda sama orang Sumatera atau Makasar, IMO.
Di Amerika filsafat yah bersifat pragmatis; untuk membahas soal keadilan, demokrasi, persamaan hak, pendidikan, supremasi nalar atas agama, dll [kayaknya tidak ada pembahasan mengenai "Eksistensi"!]. Jadi harus dikomunikasikan dengan baik. Analoginya sama kayak kenapa orang Amerika suka rugby, sementara orang Eropa suka bola. It’s cultural (ideological). Tapi yah tetep ada juga peminat filsafat di Amerika sana pastinyamenulis buku filsafat Eropa/Yunani/Arab/Latin secara populer dan bisa dijual di Gramedia. Ada yang mengaitkan filsafat dengan the Simpsons atau film-film legedaris. Tapi buku-buku semacam itu dianggap oleh para akademik sebagai “dangkal”, “maksa” dan terlalu mensimplifikasikan gagasan filsafat yang sebenarnya “kompleks”. Dan lagi pula, kadang sebuah jargon memang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa kolokial sih.
Mizan sudah banyak nerjemahin buku semacam ini.
Soal fisikawan nerd enggak juga ah; cuma yah seolah-olah detached aja dari kehidupan. Karena memang kita tidak mau tahu soal apa itu quark dll. Orang cuma mau tahu, oh mengapa hidup ini begitu menyebalkan; mengapa orang-orang menderita; mengapa kekerasan terjadi; mengapa saya miskin mereka kaya; and so on. Dan lagipula, filsafat itu lebih tua dari sains, plus orang sudah kadung lebih menghargai kebijaksanaan ketimbang pengetahuan.
WTH is the difference between kebijaksanaan and pengetahuan!!?*ngelus-ngelus jenggot*
BTW, cobalah Zizek.
ups komen panjang
Feyman itu orang anglo-saxon. Yah wajarlah kalau dia merasa bete sama jargon filsafat.
*orang ngerti gak yah saya ngomong apa*
*ngerasa bego*
@lambrtz
I believe the word is geeks. And I proudly part of it.
Like bible said:
The geek shall inherit the earth.
@ahgentole
. Biasa ngomong sm tukang bangunan sih, klo ga clear n simply understandable, bangunan bisa rubuh
.
klo orangnya saya…err
agaknya tidak terlalu begitu amat sangat bisa memahami
Filsafat masih betah di menara gading, HAH!
Orang filsafat di mata orang awam memang terlihat bijak dan keren

untuk membuat orang lain kagum, saya pilih cara pertama saja, kan seneng juga kalau orang lain jadi paham dengan penjelasan saya
kalau cara kedua bikin orang kagum tapi gak guna apa2.
@budityas
Anggap saja saya lagi kumur2.
@ sora9n
Kalau menurut pandangan saya, walau tidak jelas dosisnya, di enterprise filsafat yang besar itu pasti adalah pretensi. Sadar atau tidak sadar.
Saya bilang juga apa, ilmu humaniora itu inferior!
Pasti ada sebagian aspeknya yang seperti Baju Baru Raja.Pak Peter Medawar (yang memang Empirisis Britania, senada dengan filsafat sains modern) bilang kalau filsafat itu seringkali hanya masalah gaya menulis saja, bukan konten. Melihat implikasinya di sekitar, menurut saya filsafat-filsafat ‘menerawang’ (bukan praktikal) itu memang menerima respek yang tidak proporsional.
Pada akhirnya, ini kembali ke paradigma sosial. Kalau yang saya baca, orang-orang humaniora memang lebih memegang kendali. Mereka lebih dipandang sebagai superstar. Walau di sisi lain eksakta lebih diminati sebagai pilihan karir; itu ‘kan pilihan karir realistis. Kalau disuruh pilih, semua ingin jadi rockstar, sosialita, atau emo brooding philosopher saja.
BTW, ada buku C. P. Snow mengenai benturan dua kultur ini; “The Two Cultures.”
@ dnial
Brilian.
* * *
Wah, komentarnya jadi panjang.
BTW, saya terkejut artikel ini tidak menyebutkan Sokal affair.
*siyul-siyul*
@geddoe
I beg to differ. Kalo menurutku sih mereka yang memilih untuk mempelajari ilmu humaniora dan berbicara dalam bahasa penuh jargon itu tidak terlalu perduli dengan bagaimana para saintis melihat mereka. Konflik antara ilmu alam dan humaniora itu terjadi sudah lama, mungkin dari abad ke-19. Dan betul, saat itu para intelektual/sastrawan merasa inferior terhadap temuan para ilmuwan. Snow sendiri menulis pada tahun 1959. Tetapi semakin kesini yah mereka gak perduli. Itu sebabnya John Brockman bilang prediksi Snow salah bahwa akan ada The Third Culture yang merupakan perpaduan antara “men of letters” dengan saintis. Yang ada sekarang yah orang macam Matt Ridley, Leaky dan Dawkins yang berbicara langsung kepada publik dan menjadi “intelektual baru”. Dan memang betul, sekarang majalah apapun dari Newsweek sampai Her World sudah terbiasa mengutip temuan empiris saintis. Kehadiran mereka dianggap sebagai tonggak munculnya “The Third Culture” karena mereka aktif “in rendering visible the deeper meanings of our lives, redefining who and what we are.” Dan apakah para intelektual tradisional model Goenawan Mohamad dan Sidhunata terganggu? Tidak. Mereka sibuk dengan majalah Kalam atau Basis yang mereka miliki. Mereka sibuk dengan berbagai diskusi kebudayaan dan pertunjukan kesenian di Teater Utan Kayu, TIM atau Komunitas Salihara. Mereka gak tahu perkembangan sains? Ya tau, they just don’t care. Saya menduga yang inferior malah saintis; karena masih merasa tidak didengarkan, while in fact, the journalists are probably favoring them now.
Sebenernya saya keder dengan masalah isi/konten ini. Konten itu apa? Omongan gak ada isinya itu apa? Gak koheren? Gak logis? Atau tidak ada hubungannya dengan dunia nyata? Lah, ini kan empirisisme, padahal kepercayaan orang beda-beda. Persoalannya begini, banyak orang (mau) hidup berdasarkan asumsi-asumsi/gagasan yang tidak pernah terbukti secara empiris, yang kosong dari sudut empirisisme, tetapi berisi dari sudut lain. Gagasan tentang “makna hidup” bisa jadi kosong secara empiris; tetapi seseorang harus membahas persoalan itu, bukan? Seberapapun inkonklusifnya babbling para sastrawan seperti Iwan Simatupang atau Milan Kundera. Dan masalah gaya menulis itu penting. Saintis kalo enggak bisa menulis gak ada yang baca dong bukunya kecuali komunitas mereka sendiri?
Seperti yang saya bilang di atas; ini masalah kedekatan atau relevansi sains dalam kehidupan. Emang udah sifat dasar menusia begitu. Saintis harus bisa menjelaskan implikasi dari apa yang mereka “temukan”. Carl Sagan, Sam Harris, Noam Chomsky atau Dawkins berhasil menjadi “public intellectual” menurut saya. Dan bagi saya pribadi, dikotomi ini sudah usang. Saya bisa switch ke mana saja sesuai mood saya. Meksipun saya masih percaya hidup yah hidup, sains yah sains. Keduanya berbeda. Saya lebih suka membaca essay pak GM dan Fareed Zakariya soal Israel ketimbang bapak Richard Dawkins.
HAHAHA komentar lebih panjang!
Hidup men of letters!
*merasa mengulang diskusi yang lama-lama*
have we discussed this?
*sigh*
@ ahgentole
Loh, sabar, Masbro. Salah paham ini. Saya tidak bilang salah satu pihak merasa inferior. Yang benar, saya bilang bahwa cabang ilmu humaniora itu inferior ketimbang sains (pelakunya sendiri sih kepalanya rasanya selalu tegak)…
…dan yaa, kedua, itu juga saya bercanda. ‘Kan cuma referensi ke tulisan saya yang soal “pakaian” tempo hari. Itu juga sudah distrike. Tidak usah terlalu seriuslah.
Isinya tidak masalah. Hanya seringkali gayanya terlalu obskurantis. Menara gading. Resikonya jelas, yaitu konten yang tipis bisa disamarkan melalui jargon-jargon yang mentereng. Contoh nyatanya ada: Sokal affair. Alan Sokal itu menulis omong kosong dengan jargon filsafat yang sengaja dibuat njelimet, dan toh hasilnya dimuat di jurnal filsafat, dikomentari, ditanggapi serius, dan direview positif. Atau mungkin ada hubungannya dengan nadanya di mana Sokal sengaja memuji posmo dan menyudutkan sains? Siapa tahu.
Kembali ke si Medawar, konon orang posmo yang dia temui memang pernah membela diri: katanya, filsafat itu memang “most appropriately expressed in prose that is deliberately unclear“. Saya bilang ini absurd, ya tapi itu opini saja.
Bukan dikotomi (yang memang sudah usang) sih, tapi sisi ekstrim ‘kan selalu ada. Ini masih senada dengan prinsip “pakaian” yang saya yakini itu. Secara umum status sosial ahli-ahli ilmu sosial (oh, coincidence?) memang lebih hip.
Barangkali memang begitu dari sana. Kata James Madison (atau Adams? Franklin? Ah, lupa.) orang itu belajar ilmu alam, politik, dan segala macamnya supaya anak cucu mereka pada akhirnya bisa belajar seni. Barangkali humaniora memang ilmu ultimate, siapa tahu? Entahlah.
We did. Many times.
Kalian berdua itu lho. Wong sama2 menara gadingnya kok debat. Harusnya dbatnya sama saya. Saya ini mewakili awam yg ga ngerti istilah2 kalian berdua
.
Saya sdikit protes dgn penggemar filsafat, masalahnya…, di banyak diskusi, filosof sering menarik aneka bahasan ke bahasa filsafat hingga diskusi terhenti, atau orang non filosof tereliminasi. Bukankah kesimpulan itu akhirnya selalu ada di menara gading yang sukar diraih? Sehebat apapun konklusinya, mayoritas tdk bisa menggapai dan kesimpulan yg cemerlang tetap di awang2. Apakah yg seperti itu bisa memberi banyak manfaat?
@geddoe
Ah, gak bisa, gak bisa! Pokoknya gak bisa! Anda harus minta maaf!
hihihihi…
*
Yeah, I know what you mean lah. Saya juga kesal dengan jargon dan bahasa yang sengaja dibuat susah. Tetapi tidak perlu dijeneralisirlah. Mungkin karena Anda sudah terlalu/terlanjur dekat dengan peradaban/filsafat berbahasa Inggris (pragmatis/positivis). Kasian orang yang belajar cultural studies di Inggris; saya dengar mereka semakin diremehkan; karena “gak ada gunanya” dan yang lebih parah mereka dianggap tidak memberi kontribusi pada pengetahuan “for saying/studying the obvious”. They should go to France or perhaps the US.
@budityas
Saya gak bisa mewakili penggemar fllsafat yah, tetapi menurut saya kalo mau suka filsafat ya kudu tahu sedikit bahasa filsafat karena tidak mungkin semua gagasan filsafat yang njlimet diartikulasikan dalam bahasa sehari-hari. Tidak harus dibuat sukar memang, tetapi setidaknya sebuah konsep tidak perlu dijelaskan berulang-ulang. Masalah “guna” atau “manfaat” bagi orang banyak itu soal lain. Penggemar filsafat sering tidak perduli apakah diskusi soal Tuhan atau kebaikan ada manfaatnya atau tidak bagi rakyat banyak; kalo bukan buat gaya-gayaan, masturbasi intelektual, ya sekedar iseng aja orang berfllsafat. Mereka juga tak perduli bila sebuah diskusi tidak mencapai kesimpulan apa-apa.
@ahgentole
Maksud saya begini..
Misal ada sebuah topik diskusi yg menarik bagi semua orang, ntah filosof atau bukan, tentunya semua ingin terlibat dan ambil bagian. Saat satu dua filosof masuk, alur diskusi yg umum berubah jd bahasan khusus filsafat. Sbenarnya orang tdk harus belajar istilah filsafat jika tdk ada filosof yang menarik suatu topik ke ranah filsafat. Diskusi logis tdk harus filosofis kan?
Mungkin troll dan filosof bertolak belakang, tapi bagi saya yg awam dgn istilah filsafat, kadang saya menganggap troll dan filosof sama saja. Sama2 membawa suatu topik ke ranah diskusi yang tdk saya mengerti.
@budityas
Hooo begitu. Iyah, kalo begitu memang menyebalkan. Berarti bloger
sokfilsuf dan toll sama saja? Hehe, menarik juga ini. Tetapi bukankah Anda selalu bisa mengabaikan mereka? Dan kalo Anda administratornya, masukin aja akismet!Wah, ndak bisa begitu
. Wong troll yg suka membawa diskusi ke liang gelap aja ndapapa, ya sama ndapapanya dgn filsup yg membawanya ke puncak menara. Ndak wajib masuk akismet. Kritik saya yg diatas kurang lebih sama dgn isi post sora, tapi dgn bahasa saya, bahasa kuli.
Jawaban mas ahgentole ternyata bisa simpel juga : abaikan saja, atau masukin akismet
.
Tugas sora ni kayaknya utk menjembatani aneka bhs filsafat ke bhs kampung, bhs kuli macam saya ni biar bisa sdikit ngerti
@budityas
Begini, bung.
Satu, saya bukannya sok filsuf. Kalo bahasa saya enggak jelas itu karena aya inarticulate atau bahasa mudah-tapi-panjang-nya tidak bisa mengutarakan gagasan saya secara baik. Jadi, harap dimaklumi.
Dua, menurut saya batasan bahasa filosofis dan tidak filosofis ini agak kabur dan bersifat relatif. Bahasa Anda menurut saya pasti terkesan “tinggi”, “keren” atau “educated” bagi sebagian orang, terutama kuli bangunan yang tidak sekolah. Anda, misalnya, lebih memilih menggunakan kata “ranah” ketimbang “bidang” atau “wilayah” atau “soal” yang lebih umum. Anda juga menggunakan kalimat “diskusi logis tidak harus filosofis”. Maksudnya apa “logis tapi tidak filosofis”? Menurut saya keberatan Sora9n hanya ditujukan kepada corak filsafat Jerman dan Perancis yang memang sarat jargon (apakah saya harus menjelaskan kepada Anda apa itu jargon?). Kalo sebuah konsep itu jelas dan bisa dipertanggungjawabkan seperti “empirisisme” atau ‘rasionalisme” kenapa gak digunakan saja?
Sora9n ini pun tidak bisa lepas dari bahasa filsafat waktu menjelaskan Mekanika Kuantum. Menurut saya, sekalipun harus ada upaya dari para ahli/bloger untuk membuat persoalan rumit menjadi mudah, khalayak pun harus belajar untuk bisa memahami sebuah persoalan. Tidak bijaklah bila bahasa rumit dijadikan “excuse” untuk malas berinteraksi dengan seseorang dan mengatakan seseorang itu pretensius.
*membaca posting serta beberapa komentar*
…
…
*mencoba meresapi, membayangkan yang topik yang dibicarakan*
…
…
“hmmm….”
…
…
*hening…*
…
…
*kesimpulan: otak saya nga nyampe baca bacaan di atas :p*
Pertama, logis tdk hrs filosofis, bisa dgn logis praktis, tanpa membawa istilah yg dlm kelanjutannya justru hrs dipelajari lagi, atau perlu link wiki utk penjelasannya.
Kedua, konsep yg jelas & bisa dipertanggungjawabkan itu kan dari kaca mata anda, filsuf. Saya kan ga tau. Kenapa hrs istilahnya? Knapa tdk muatannya aja yg disampaikan scr kontekstual dgn bahasan? Ini jd terkait sama yg pertama tadi.
Klo post sora jd terkait corak filsafat, itu kan opini anda. Praktisnya dari sisi saya, orang filsafat itu …, tdk pernah mau lepas dari kompleksitas, seakan jika kekomplekan itu hilang, ada jutaan makna terbuang. Padahal dr sudut pandang saya, beda maknanya tipis dan bisa diabaikan demi penyederhanaan penulisan kata dan pemahaman.
teteup, saya pengen bisa masak
katartikmaap ™
Beuh… baru ditinggal dua hari udah numpuk begini. :-/
Langsung dijawab deh. ^^;
@ BudiTyas (1)
Ndak tahu. Yang jelas, saya bukan orang filsafat.
Yup, itu dia.
Saya sendiri lumayan kagum pada para ilmuwan yang menulis buku sains populer (Dawkins, Hawking, Sagan). Mereka itu bisa menulis bahasan ‘berat’ yang, ibaratnya, anak SMP pun bisa ngerti kalau baca. ^^
:::::
@ Guh
Mungkin kesalahan bukan pada pendengar…
…
…
BTW, masbro curhat?
:::::
@ ahgentole (1)
Benar juga. Boleh jadi memang masalah kultur.
Satu-satunya filsuf yang saya kagumi adalah Karl Popper — karena idenya concise, padat, dan mudah dimengerti (baca: lewat standar saya). Dan ternyata dia warganegara Inggris. ^^;
(*kebetulan?*)
P.s. Popper memang kelahiran Austria, tapi AFAIK tinggalnya lebih banyak di Commonwealth? CMIIW.
Wah, sayang. Padahal saya rasa ini cukup menarik.
BTW, kalau bicara dangkal, sebenarnya ini juga berlangsung di sains populer. Buku Dawkins, konon, banyak dipertanyakan oleh koleganya — karena seolah-olah mengesani “tidak ada masalah lagi dalam evolusi”. (padahal masih ada sedikit perdebatan di sana-sini).
Saya rasa, kalau mau mempopulerkan gagasan, memang itu resikonya. Terlalu leaning ke awam, jadi dangkal; terlalu konsisten ke akademik jadinya susah dimengerti. (o_0)”\
Ada link e-book?
:::::
@ dnial
Ho, benar juga.
Ah, tapi ‘geek’ masih terkesan keren. Soalnya kalau ditanya “siapa computer geek yang terkenal?”, Jawabannya pasti: (1) Bill Gates; (2) Steve Jobs. ^^;
*mengamati dominasi Windows*
*melihat persebaran iPod*
*menyaksikan kultur Mac*
A… APA!!??? TIDAAAAAAAKKKKK….!!!
:::::
@ BudiTyas (3)
Saya curiga, kayaknya kalo bukan arsitek, bapak ini insinyur sipil. ^^;
:::::
@ dana
Saya sendiri kurang tahu sebenarnya seperti apa. Tapi tendensi yang saya tangkap sih seperti itu. ^^;
Saya pribadi nggak bermaksud menghakimi ilmu filsafat seperti apa atau bagaimana. Fair play saja. Cuma, mbok ya kalau menjelaskan itu pakai gaya yang lebih akrab.
:::::
@ Generasi Patah Hati
Masalahnya, tidak semua orang bisa berbuat seperti itu. Menjelaskan itu susah loh. ^^;
Salah satu dosen saya ada yang pinter banget. Tapi kalau dia menjelaskan suatu perkara, anak-anak kesulitan mengerti. Sebab larinya ke matematika terus… (*yang memang keahliannya beliau*)
IMHO sih, kembali pada bagaimana si pembicara menyamakan level dengan audiens. Bisa digolongkan soft skill sepertinya.
:::::
@ Kgeddoe
Saya pikir juga begitu. :-/
Saya pribadi lebih tertarik pada epistemologi dan etika, misalnya, daripada yang mbulet-mbulet (i.e. eksistensialisme-nihilisme dsb). Sebab memang manfaatnya lebih terasa — dan bahasannya lebih bisa dicerna daripada, katakanlah, kumpulan esai GM.
(*with all due respect to GM, though. I like his ideas, but still…*)
Hoo, menarik. Mungkin nanti akan saya cari e-booknya.
SIYAL, LUPA!!!! x(
*tepok jidat*
Ah, tapi biarlah. Contoh “orang membaca”-nya Pak Feynman juga lumayan epic, IMHO.
:::::
@ ahgentole (4)
AFAIK, though, sebenarnya perpaduan filsuf-saintis bukannya tidak ada. Ada sih, cuma ya sedikit. :-/
Kan sempat dibahas di post QM bagian #4b. Fisikawan generasi 1930-an (Bohr, Heisenberg, Einstein, Schrodinger) termasuk ilmuwan model ini. Cuma, ya, makin ke sini breed-nya makin langka.
Hawking, Sagan, dan Dawkins — biarpun cemerlang — nyaris gak peduli filsafat. David Deutsch mungkin OK, tapi, dibandingkan fisikawan 1930′an, masih jauh lah influence-nya. (o_0)”\
Dipikir-pikir, ini mungkin karena masing-masing cenderung berpikir mutually exclusive. Kalau ilmuwan tidak tahu sastra, wajar; kalau sastrawan tidak tahu sains, juga wajar.
BTW, sebenarnya ada alasannya para saintis harus berjuang ‘mengakrabkan’ dunia mereka ke masyarakat. Awal mulanya dari pengembangan bom atom sewaktu WWII. Sesudah Hiroshima dan Nagasaki, ilmuwan jadi merasa bertanggung jawab untuk “menyuluh masyarakat”. Singkatnya: “to enlight them about the foreseeable danger”.
IMHO sains populer berawalnya dari situ. Masyarakat harus diingatkan akan potensi negatif yang dikandung sains: perang nuklir, global warming, etc., etc. Jadi ada semacam tanggung jawab moral juga.
Filsuf/sastrawan ‘kan tidak punya tanggung jawab seperti itu. Kalau masyarakat kurang peduli filsafat, ya, enggak masalah. Paling cuma jadi minder saja.
:::::
@ Kgeddoe (2)
Tapi ingat juga… walaupun seringnya melibatkan filsafat, obskurantisme itu juga bisa merasuk di tempat lain. Orang sains juga terkadang “meracik bumbu” gosip seadanya, dari bidang mereka saja.
In reference: Dihidrogen monoksida; Lactobacillus Protectus™
:::::
@ BudiTyas
Bukan saya.
*kabur*
:::::
@ ahgentole (5)
Mau bagaimana lagi? ^^;
Lagipula, saya rasa ini gejala yang umum. Nggak cuma filsafat saja — matematika murni juga rada dikritik karena pendekatannya yang terlalu ‘mengawang’. Kalau tidak membumi, ya, resikonya diperlakukan seperti itu.
Dosen saya sendiri (insinyur) pernah menyindir perilaku matematikawan di depan kelas, sbb:
Filsafat di humaniora, mungkin setara dengan matematika di bidang eksakta. Keduanya sumber ilmu yang banyak cabang diturunkan darinya. Cuma ya itu.
Orang lebih mudah tertarik ekonomi/sosiologi/psikologi dibandingkan filsafat — dan lebih mudah tertarik fisika/kimia/teknik daripada matematika. Mungkin ada hubungannya juga dengan nilai guna dan kepraktisan…
(CMIIW, though)
:::::
@ BudiTyas (6)
*tersedak kopi*
Ah, soal itu, sudah ada yang mengurusi. Coba main ke blognya Mas Fertob — di sana bahasanya cukup ringan IMHO. Saya sendiri banyak belajar dari beliau.
:::::
@ ahgentole (7)
Yup, begitulah. Sangat sulit menjembatani pemahaman kalau dua pihak (baca: pembicara dan audiens) tidak mau saling berusaha memahami.
Sebagaimana mendidik anak TK agar bisa membaca. Kalau dikit-dikit si anak mengomel “tulisan di buku kegedean, nggak enak dibaca!”, ya, kesalahan bukan di pengajar. Ada kewajiban juga dari si audiens untuk berusaha memahami.
Cuma, dalam kasus filsafat… jujur, saya sering berusaha memahami, tapi kepentok. Saya ya ingin mengerti, tapi kalau terlalu ‘tinggi’ ya susah juga. ^^;
Exception, though: ada satu buku filsafat yang saya senangi sampai sekarang — kumpulan esai terbitan Atmajaya — karena dia bisa menjelaskan dengan baik. Memang tak bisa lepas dari istilah teknis, tapi dia bisa “mengajari” makna istilah2 tsb. sebelum melanjutkan.
Intinya: saya memang harus “mendaki” supaya bisa paham bahasan buku ybs. Tetapi karena penyampaiannya bagus, jadinya saya tak harus “mendaki” tinggi-tinggi amat. Kalau penyampaiannya jelek, mungkin saya sudah menyerah sebelum paham.
:::::
@ Jabizri
…… ^^;;;
:::::
@ BudiTyas (7)
Saya sendiri mengakui, sih. Bahwasanya sulit untuk bicara filsafat, biarpun sedikit, tanpa menginkorporasi ‘bahasa langit’. ^^;
(contoh tulisan sendiri: post QM bag. #4b)
Saya sendiri di tulisan tersebut menyertakan catatan awal: “informasi yang terkait subjek ini”, disambung berbagai link wikipedia. Cuma, tetap saja… lepas dari ‘bahasa langit’ itu susah. Seperti saya bilang di postingan Geddoe: kutukan filsafat, ini!
Tapi bagaimanapun, yang terpenting adalah bagaimana pembicara dan audiens sama-sama berupaya saling memahami. Seperti yang saya bilang sebelumnya di reply ke mas gentole: kalau anak TK malas belajar membaca karena hurufnya kegedean, kesalahan bukan pada pengajar.
Saya sendiri senang saja membaca buku filsafat. Cuma, ya, jangan terlalu kompleks lah. Harus ada penyederhanaan juga. Orang juga bukannya nggak mau berusaha paham kok. IMHO.
:::::
@ frozen
Heh, heh.
*nyiapin akismet*
@budityas
Logika praktis itu maksudnya logika yang menggunakan konsep-konsep sederhana; konsep-konsep yang semua orang tahu? Seperti dalam kalimat “Budi pergi ke pasar”? Lah, kapasitas pengetahuan setiap orang bukannya berbeda-beda? Dan, seperti yang sudah saya bilang, tidak semua persoalan bisa disederhanakan tanpa mereduksi makna. Mau tidak mau, kadang Anda memang harus nyontek Wikipedia. Ada untungnya, pengetahuan/kosakata kita jadi bertambah. Dan kita gak perlu manja lagi untuk minta penjelasan dari setiap istilah “susah” yang digunakan, bukan?
Saya bukan filsuf. Tolong diingat itu.
Masalahnya, menyederhanakan masalah itu tidak selalu menyelesaikan masalah. Sebuah permasalahan yang kompleks memang kadang membutuhkan sebuah penjelasan yang kompleks pula. Filsafat berupaya menjelaskan persoalan yang biasanya kompleks, terutama dalam bidang-bidang seperti kesenian, politik, etika, metafisika (persoalan “ada”) dan teologi. Apakah persoalan itu bisa disederhanakan? Yah, bisa aja, tetapi jadinya reduktif; tidak menyelesaikan masalah. Agama dan legenda sudah melakukan itu. Orang lebih bisa percaya cerita sederhana seperti Tuhan menciptakan alam semesta ketimbang dugaan maha njlimet yang menyebutkan bahwa alam semesta bermula dari sebuah ledakan besar — kapan, mengapa meledak, adakah “waktu” sebelum ledakan?
Jangan dijeneralisasilah. Tidak harus begitu. Banyak kok buku filsafat yang mencoba menyerdehanakan masalah, meskipun upaya mereka jadi bahan tertawaan, baik di kalangan filsuf maupun pembawa awam yang mereka tuju sendiri. Sekali lagi saya katakan, sepertinya yang menjadi keberatan Sora itu model filsafat Perancis/Jerman yang suka menggunakan jargon, yakni istilah yang hanya bisa dimengerti kelompok/komunitas wacana tertentu saja. Misalnya “Dekontruksi Derrida” atau “feminisme Kristeva”. Kalo anda mau belajar, beli aja bukunya Jackues Derrida dan Julia Kristeva. Kalo anda tidak berminat untuk tahu, anda tidak bisa bilang filsuf itu sengaja menulis menggunakan bahasa susah. Meskipun saya tak menafikan ada orang/filsuf yang memang sengaja tampak sok susah. Di Indonesia banyak kok, Ada yang jebolan ITB, ada yang UGM.
Bahasa harus berkembang. Kalo enggak, pemikiran kita gak bakal berkembang. Kosakata kita gak bakalan bertambah. Bahasa Indonesia sudah cukup payah karena tidak membedakan waktu dan jender dalam sebuah kalimat, masak kosakatanya juga tidak boleh bertambah karena orang kebanyakan tidak mau buka Wikipedia/Ensiklopedia?
Eennnggggggg….. Saya bukan filsuf, bukan pula ilmuwan.
Baru sadar kalau pengunjung blog ini penuh dengan orang berotak cemerlang yang debatnya nggak bisa saya mengerti.
*bingung
, belajar lagi aahhh……*
Logika praktis itu bahkan tdk perlu konsep. Cukup logic sense saja tanpa memboyong pemikiran kompleks dalam bentuk istilah.
Tentang penyederhanaan, itu ada krn sebebelumnya dipandang kompleks, atau hanya yang kompleks itu yang dianggap benar. Tidak ada penyederhanaan jika sebelumnya tidak dipandang seperti itu. Jawaban adalah jawaban, bukan penyederhanaan jawaban.
Bahasa memang harus berkembang, dan tidak salah juga jika pemikiran filsafat diistilahkan, terlebih untuk memperkaya dan mempermudah bahasan filsafat itu sendiri. Tapi ya itu tadi, mbok ya penerapannya berasaskan filsafat ilmu, konten kontekstual. Bukan ilmu filsafat, yang memboyong beragam istilah filsafat hanya karena hal yang dibahas termaktub juga dalam bahasan filsafat (bahasan filsafat itu teramat luas, bisa kemana aja). Klo asas kedua ini yg dipakai, ruang publik akan berubah jadi ruang privat telaah filsafat.
Klo sora sengaja masuk ruang privat telaah filsafat lantas nggak ngerti,..ya salah sora sendiri
,..namanya juga forum khusus, ndak boleh protes, hehe
Bagi saya pribadi, filsafat dan kebijaksanaan itu berharga karena kandungannya, bukan orang, pemikiran, atau istilah bentukannya.
@ ahgentole
Yup, yup. =3
Saya sendiri nggak mempermasalahkan substansi argumennya (valid atau invalidnya tentu dicek belakangan). Masalahnya kalau langsung nyerocos dengan jargon, sementara lawan bicaranya belum tentu mengerti. Nah, itu yang bikin gondok.
:::::
@ Ando-kun
Euh… ^^;;;
:::::
@ BudiTyas
IMO sih, ini seperti ‘budaya jargon’ yang sudah disebut mas gentole di atas. Ada orang yang suka ’sok sulit’, ada juga yang berusaha menjelaskan pelan-pelan.
Yang menyebalkan itu kalau ada yang ’sok sulit’ dengan istilah filsafat, padahal argumennya biasa saja. Seperti pernah saya obrolkan di postingnya Geddoe yang lain. For God’s sake — saya pernah ketemu orang, di internet, yang menolak teori evolusi sambil bawa-bawa Derrida. Saya bahkan nggak tahu nyambungnya di mana!! xD
Yaa, tergantung forumnya juga. Kalau judulnya “interdisiplin” seperti kasusnya Pak Feynman di atas, barangtentu nggak bisa main jargon. Kalau memang tempat ngumpulnya orang filsafat/humaniora sih nggak masalah.
[OOT] BTW, saya sering baca “Catatan Pinggir”-nya GM yang dimuat di TEMPO. Anehnya, biarpun itu majalah umum… tetap saja saya sering nggak ngerti. ^^;
Jadi ya… begitu deh.
@sora9n
Itu dia. Klo istilah/jargon mewakili pemikiran kompleks, kesepahaman thd jargonpun kadang masih jadi tanda tanya, belum lagi keterkaitannya dgn bahasan. Tahu nyambungnya di mana itu bisa jadi sangat subyektif, apalagi utk awam.
Ibarat kode program, sebaris kode yg memuat dinamic link library (.dll) akan lebih makan tenaga dan memori komputer dibanding 5 baris kode inline, meski tentu saja lebih simpel pengungkapan dan penulisannya bagi yang tahu. Entah dalam .dll itu ada function/class yg dimaksud atau tidak, tetap saja program jadi berat, dan kalau function/class yg dimaksud tidak ada, ya kasusnya spt sora9n di atas. Komputer bakal bingung untuk mengeksekusinya.
Klo sudah masuk ilmu filsafat, istilah jadi sulit dihindari kan? rasanya istilah sudah sepaket dgn ilmu filsafat itu sendiri. Mungkin benar klo budaya jargon itu filsafat prancis/jerman, namun kenyataannya, justru yg seperti itulah yg lekat dgn filsafat, atau justru sudah jadi identitas/ciri khas filsafat? Seorang filosof bisa berdalih, tapi nampaknya, bukan cuma saya yg berpendapat demikian.
Kalo Capingnya GM sih nampaknya memang kolom khusus meski di majalah umum. Bukan GM yg melayani kebutuhan publik umumnya, tapi publik spesifik yg ingin mengikuti tulisan GM apapun bahasannya. Kalo sora9n masih bingung, berarti sora9n belum masuk kriteria spesifik tadi.
I am lost now. Lakum dinukum waliyadin aja deh.
Caping enak kok dibaca. I always enjoy reading GM’s essays even when I don’t understand them.
[...] juga orang teknik. Pastilah maunya yang praktis-praktis aja. Bukan begitu Mas Sora? Makan harus praktis. Beragama harus praktis. Berteologi harus praktis. Berpolitik harus praktis. [...]
Hehe, idem
Diskusi ga harus nyari kata sepakat kok.
Ups.., saya salah…
ternyata bingung bukan alasan mengeluarkan sora dan mas gentole dari grup spesifik. Justru sebaliknya kali ya. Bicara tentang GM, bingung berarti tertarik, baca, dan belajar hal baru dari situ. Klo ga bingung…bisa berarti ga tertarik, ga baca, jadi ga ada yg bikin bingung. Yg ga bingung pastilah orang awam… atau sesama master selevel GM
@BudiTyas
Nah, bisa jadi begitu.
btw, kirain saya aja yang bingung baca GM
@rani
Can you elaborate? What’s the point of putting Calvin’s quote before commenting on GM? What are you implying?
^
waa…. tdk bermaksud apa2. itu dua topik yg berbeda sebenarnya. baru nyadar kalo dijejerin seolah2 saya menuduh GM “inflating week ideas… dst” maap, maap
@ BudiTyas
Pokoknya, intinya: jangan kebanyakan main jargon lah. Enggak produktif. Apalagi kalau pemirsanya awam. Ya, diskusi jadi nggak jalan.
Jika pun terpaksa pakai jargon, for the sake of brevity, harusnya dijelaskan larinya ke mana dan definisinya seperti apa. Seperti pendefinisian program yang Bapak sebutkan.
Selanjutnya bisa disarikan dari kutipan dosen yang saya sertakan di atas.
Nah, bisa jadi begitu.
*copy-paste reply mas gentole*
*ditimpuk*
:::::
@ Mas Gentole
Weh…
:::::
@ rani
*tepok jidat*
Ah, tingkat pemahaman saya tentang GM setengah-setengah. Kalau lagi nggak pakai ‘bahasa langit’, saya rada mudeng…
…kalau lagi pakai, ya, saya menyerah.
Saya curiga, yang bikin komik itu orang IPA… :-/
~ gut feeling though
~ bener gak ya?
@sora
Bertanya pada geek yang salah. Real geek akan menjawab Linus Tovalds, Richard Stallman atau Donald Knuth.
Atau Larry Page, Sergey Brin.
For me, aku mengagumi ketabahan Raymond Chen dari Microsoft, yang membuat XP jauh lebih stabil dari Vista.
—-
Mungkin ini kenapa orang teknis cenderung lebih ada di menara gading. Pemahaman filsafat lebih intuitif. Filsafat itu soal hidup.
Orang teknis? Who cares why Windows XP more stable than Vista, or how to secure https connection, just make it works. Siapa peduli dengan quarks, atau bosson-higgs. Tapi permainan Derrida dengan bahasa, itu menarik. Romantisme, interesting.
^
Yey, saya kan melihat pandangan umum. Gak semua orang tahu siapa itu Torvalds.
Ini kurang lebih sama dengan anak SMA mengidolakan Einstein; sementara anak kuliah fisika lebih sreg dengan Bohr-Heisenberg.
Huehehe… sebenarnya sains itu juga bisa ‘romantis’ lho. Betulan!
Walaupun, ya, kembali ke sudut pandang si orang ybs sih. Mungkin kapan-kapan saya angkat jadi post. ^^
“Ini kurang lebih sama dengan anak SMA mengidolakan Einstein; sementara anak kuliah fisika lebih sreg dengan Bohr-Heisenberg”
Seperti juga halnya ada yang mengidolakan Roy Suryo, sementara yang lain Onno W Purbo ya bung? :p
kalau diangkat jadi post jangan lupa catatan tentang filsafat bahasa-nya ya
^
Ada gitu, yang mengidolakan RS?
Soal post (kalau jadi) — paling cuma menjelaskan pandangan dari kalangan MIPA aja sih. Saya nggak paham filsafat bahasa. ^^;
Betul, mau bagaimana lagi ?
Saya sendiri, meskipun banyak membaca buku-buku filsafat, masih sering membuka-buka wikipedia dan gugel untuk mencari tahu apa arti dari suatu istilah filsafat yang “aneh”. Tulisan-tulisan GM, bagi saya, enak untuk dibaca, tetapi untuk memahaminya perlu perjuangan yang sangat berat.
Memang tidak seberat orang yang awam filsafat tetapi tetap saja berat.
Kalau mau membaca tulisan filsafat yang sedikit “ringan” dan punya penerapan praktis, saya rekomendasikan buku Karya Lengkap Driyarkara. Beliau membahas filsafat dengan cara yang lumayan enak. Tetapi buku itu tebalnya minta ampun.
Tetapi yang sering diperhatikan [dan juga dipusingkan] oleh orang-orang yang membaca tulisan filsafat adalah tema-tema dan istilah-istilah yang aneh dalam filsafat. Padahal, menurut saya, yang seharusnya dipelajari dari filsafat adalah “menata cara berpikir” kita agar lebih kritis, logis, dan sistematis. Bagi saya, filsafat bukan sekedar konten dan bahasa, tetapi kekritisan, kelogisan, dan kesistematisan seseorang dalam mengungkapkan idenya dalam “model filsafat”.
Sehingga saya tidak selalu berkata “Amen” untuk setiap tulisan filsafat. Bukan karena kontennya atau bahasanya atau temanya, tetapi lebih banyak karena saya punya cara berpikir lain yang berseberangan dengannya.
Gentar terhadap filsafat mungkin sama dengan saya yang gentar terhadap fisika waktu SMA dulu.
Lho, bagaimana dengan logika ? Bukannya sampeyan itu pakarnya fallacy ?
Btw, itulah makanya saya membedakan antara filsafat dengan filosofi. Filosofi Nasi atau Filosofi Kopi beda dengan Filsafat Nasi/Filsafat Kopi. Yang satu menukik ke kehidupan praktis dan segala dinamikanya, sementara yang lain kebanyakan berada di awan-awan.
Ntar dilanjutin lagi…..