Tadi sore, ketika saya sedang menanggapi diskusi di sebuah post yang lagi panas, mas gentole melontarkan ide cemerlang:
Itu katarsis buat dia. Bisa meledak di jalan kalau dikeluarin. Ada ide bikin layanan “anger management” untuk para bloger? Anybody?
Saya pikir, ini ide yang brilian!
Jadi, langsung saja saya inkorporasikan ide beliau dalam bentuk tulisan berikut. Silakan dibaca (dan diberi masukan/koreksi jika berkenan).

(atas: poster motivasi nggak jelas. tak usah diperhatikan.)
1. Kendalikan ego, kedepankan respek
Anda mungkin pernah jengkel ketika berdiskusi dengan seseorang di internet, yang mana orang ini tampak begitu percaya diri. Atau malah bisa dibilang arogan. Seolah-olah dia merasa bahwa dia sangat memahami duduk masalah, dan tidak ragu memamerkannya lewat kata-kata sugestif. Orang pun jadi gentar melihatnya.
Meskipun begitu, ketika diskusi sudah berjalan… terlihatlah bahwa sebenarnya pengetahuannya ‘tidak sehebat itu’. Lawan bicaranya ternyata lebih menguasai materi. Mental pun jadi goyah.
Peristiwa macam itu pernah terjadi di blog ini: [link]. Seorang netter datang dan merasa punya pengetahuan full-fledged. Tetapi, ketika ditanggapi dan dipatahkan argumennya… mulailah dia beraksi seperti macan terluka. Argumen sudah tidak logis lagi. Emosi pun jadi memuncak.
Ini membuat saya bingung pada awalnya, tapi kemudian saya melihat akar masalahnya: ego. Dia datang dan bertanya pada saya mengenai perkara X. Saya jawab. Dia tak terima. Lalu mulailah dia bergaya troll. Bukannya mencari titik temu, justru niatnya adalah menjatuhkan saya. Seolah-olah dia mendapat kepuasan batin apabila lawan bicaranya mengaku bahwa dia benar.
Mengutip ucapan salah seorang peserta diskusi,
“Mungkin saya bias, tapi kesannya Anda tak ingin mencari titik temu, dan bahkan tak ingin membicarakan Gaza, melainkan hanya menyerang pemilik blog. Kalau posisi Anda dan dia sudah serupa, apa yang mau dibicarakan lagi? Kalau sekadar menyerang orangnya walau sudah sepakat, maaf, kesannya terlalu kekanak-kanakan. Apalagi dihiasi dengan serangan-serangan ad hominem.”
Bisa Anda lihat, di sini ego mengakibatkan diskusi jadi tidak lancar.
Tak peduli orang sudah ramai menunjukkan bahwa argumennya salah, bahwa dia tidak mengerti definisi fallacy yang dia ajukan, tetap saja dia memaksa. Diskusi jadi kacau. Dia berupaya menjatuhkan saya, betapapun saya dan dia sudah mendapat titik temu (i.e. “sama-sama mendukung kemanusiaan”).
Akhirnya apa? Emosi meletup.
Kata-kata kasar pun bermunculan. Dan semua ini bermula dari satu hal: ketidakbersediaan untuk mengakui bahwa “saya bisa salah”. Dia lebih suka mengejar, menjatuhkan lawan diskusi, dan berakhir dengan emosional — daripada ngobrol dengan ramah dan mencari kesamaan persepsi.
——
Tips:
Jangan pernah mengedepankan ego dalam diskusi. Itu hanya membuat emosi kedua pihak meletup: Anda merasa terluka, sedangkan lawan bicara merasa terhina. Peluang cakar-cakaran pun terbuka.
Jika Anda tak ingin mendapat ribut, ingatlah bahwa tak ada manusia yang sempurna. Bersikap saling menghargai adalah jalan keluar yang baik.
2. Selalu latih diri Anda untuk mengingat: “Saya cuma manusia biasa. Pandangan saya bisa salah.”
Yang ini merupakan turunan dari poin #1 di atas, tetapi lebih spesifik. Biasanya, kalau sudah memegang pendapat, orang bisa jadi sangat defensif. Terkadang malah sampai menyangkal begitu rupa, biarpun bukti sudah dihadirkan.
Tentu, ini menyebalkan. Siapa sih yang senang, kalau diajak diskusi, tapi pada akhirnya cuma untuk menghadapi kepala batu. Tidak ada, bukan?
Untuk troll yang macam ini, saya biasanya menanggapi sebagai berikut:
Troll: Argumen kamu salah! Sebab… (alasan yang tidak koheren)
Saya: Ah, itu kan kata Anda. Anda bukan Tuhan, tidak mungkin selalu benar.
![]()
Tentunya selanjutnya saya harus menyampaikan pembelaan yang logis. Jika tidak, saya tak ada bedanya dengan dia.
Pada akhirnya orang ini jadi panas. Dia kena batunya: ternyata, saya sama kepala-batunya dengan dia!
Emosi pun meluap. Kalau sudah begini, kemunculan kata-kata “bodoh”, “tolol”, dan “inkonsisten” tinggal menunggu waktu — diskusi pun terancam meledak.
Kenapa ini terjadi? Bisa Anda lihat: sang troll percaya bahwa argumennya pasti benar, taken for granted. Dia tak bisa terima apabila “kebenaran” versinya dikritisi dan dipersalahkan, walaupun cuma sedikit.
Biasanya ini terjadi di forum diskusi yang membahas tema filosofis dan agama, sih. Forum-forum lain biasanya lebih ‘damai’. ^^;
——
Tips:
Selalu tekankan pada diri Anda bahwa pendapat Anda bisa salah. Anda bukan Tuhan, tidak mungkin selalu benar.
3. Pandang kritikan sebagai kesempatan memperbaiki diri — bukannya serangan terhadap diri Anda
Dulu, waktu saya masih cupu di belantara internet (baca: tahun 2006-2007), saya pernah terjebak mengalami hal ini. Setiap kali ada komentar yang bersifat kritikan tajam, reaksi saya langsung deg-degan:
+ “Jangan-jangan uraian saya ada cacatnya!”
+ “Mungkinkah ada poin yang terlewat? Jangan-jangan itu yang diincar.”
+ “Ah, sial. Ini bukan bidang keahlian saya. Bisa jadi beliau memang benar.”
Ini membuat saya merasa tak nyaman. Seolah-olah, hidup saya bergantung pada apakah saya bisa menjawab kritikan yang datang tersebut.
Meskipun begitu, kemudian saya sadar bahwa tindakan itu tidak bijak. Saya ingat, pada suatu pagi, saya bertanya pada diri sendiri sebagai berikut:
Sebenarnya kamu ini ‘mengabdi’ pada apa? Pada kebenaran, atau pada ego pribadi?
Kalau kamu mengejar kebenaran, kritik tak akan menyurutkan kamu. Jika kritik itu salah, maka bisa kamu tangkis — tapi, jika kritik itu benar, maka kamu dapat kesempatan memperbaiki diri.
Sejak saat itu, saya tak lagi deg-degan jika mendapat komentar di postingan ‘panas’ yang rawan troll. v_(^_^)
Beberapa orang merasa, apabila pendapatnya menuai kritik, maka pribadinya sedang diserang. Kemudian timbullah sikap defensif. Ini tidak baik. Sebagaimana sudah saya tuliskan di atas, kritikan itu tidak ada ruginya.
Jika kritikan yang ditujukan pada Anda salah, Anda bisa menyangkalnya (tentunya dengan argumen yang kokoh). Tetapi, jika kritikan tersebut benar dan berbobot… maka itulah kesempatan Anda mengembangkan diri. Anda mendapat ilmu baru. Apa pula yang harus ditakutkan?
——
Tips:
Tergantung cara Anda memandangnya, mendapat kritikan itu sebenarnya win-win solution. Kalau kritikannya tidak bermutu, bisa Anda balas dengan telak sekalian dicela kalau perlu. Adapun jika kritikannya bermutu, maka ilmu Anda bertambah. Peluang mengembangkan diri pun terbuka.
4. Jangan takut meminta maaf jika Anda berbuat salah
Orang yang baik, tak akan mempermalukan Anda jika Anda mengaku salah dan meminta maaf. Demikian juga di forum diskusi.
Jika Anda merasa telah berbuat tak sopan (semisal: membentak-bentak, salah paham omongan lawan bicara, dsb.), maka jangan takut untuk mengakui kesalahan. Justru dari situ lawan bicara akan respek pada kesediaan Anda merendahkan diri. Jangan malah bersikap defensif, lantas menutupi dengan emosi.
To err is human, konon begitu kata Shakespeare. Jadi apa salahnya mengakui kekurangan ini?
Saya beberapa kali menerapkan teknik ini. Ketika saya salah menangkap makna, dan menyerang ide tersebut habis-habisan, kemudian orang tersebut mengingatkan bahwa saya salah tangkap. Tentunya saya harus mengakuinya, dan memohon maaf untuk itu. It’s rather humiliating, but still: way better than not to acknowledge it at all.
Hasilnya? Sejauh ini baik-baik saja tuh.
Percayalah, rekan diskusi itu (pada umumnya) akan berkelakuan baik jika kita juga bersikap baik. Jadi, pastikan Anda tidak bersikap menyebalkan dan menyulut emosi.
——
Tips:
Political correctness adalah hal yang penting. Jangan biarkan ego Anda menghalangi — segerakan meminta maaf apabila dirasa perlu.
5. Diskusi bukan untuk mencari pemenang, melainkan untuk mencari titik temu
Poin ini sebenarnya sangat terkenal, dan sudah sering dibicarakan. Meskipun begitu, tampaknya banyak orang sering lupa. ^^’
Di poin #1, saya sudah menyinggung tentang orang yang begitu bersemangat untuk menjatuhkan lawan debatnya. Bukan karena tidak ketemu persepsi yang sama, melainkan karena ingin memuaskan ego. He was debunking others for the sake of doing it.
Jika Anda ingin berdiskusi, ingat bahwa Anda bukannya hendak berantem. Ini bukan festival menang-menangan — betapapun kerasnya Anda berdebat, kebenaran cuma ada satu. Dan itu tidak ditentukan oleh siapa yang menang.
Esensi dari diskusi adalah bertukar pikiran. Atau, dengan kata lain: saling mencari titik temu dan menyamakan persepsi. Jika Anda ingin mencari siapa yang menang, sebaiknya Anda main bola atau adu WE. Tidak perlu terjun ke forum diskusi dan bikin ribut.
——
Tips:
Ingatlah bahwa kebenaran cuma ada satu. Dia tidak ditentukan oleh siapa yang menang debat, melainkan oleh data dan fakta. Diskusi yang baik adalah yang bertujuan untuk mencari titik temu; bukan saling menjatuhkan.
6. Jangan biarkan diri Anda dikuasai emosi. Anda akan terlihat bodoh.
Bapak Arsene Wenger pernah berkata, bahwasanya setiap orang memiliki ’sisi gelap’-nya sendiri-sendiri. Yang beliau maksud adalah sifat emosional yang meledak-ledak:
“You have to be human. I try not to lose my temper because I know I am an excessive man. In fact, I control my temper so well because I’m afraid of the way I can lose it. [...] I now realise how much damage you can do to people or to yourself with an instant reaction. You can kill somebody in a second by overreacting.”
Begitu pula halnya dalam diskusi. Pada saat Anda terbawa emosi, Anda akan bersikap tak terkendali. Dan, kalau sudah begini, Anda akan jadi gelap mata. Tindakan bodoh pun berlangsung.
Saya pernah melihat contoh kasus semacam ini. Pertama-tama, orangnya berbicara sopan. Meskipun begitu, semakin ke sini, ternyata sikapnya makin seperti troll — menjawab argumen dengan sekenanya, menertawakan “lawan bicaranya yang bodoh”… malah belum lama ini, ada yang sampai membawa-bawa almamater. Menyedihkan sekali melihatnya.
Lantas, apa yang terjadi? Justru saya dan teman-teman jadi menertawakan dia. Biasanya kami membahas ‘kelakuan’ macam ini di balik layar (baca: lewat media Y!M).
+ “Walah, desperate dia.”
![]()
+ “Gyahaha… udah keluar ad hominem, euy!”
+ “Duh, saya kok jadi gimana…” ^^;
See? It doesn’t bring you any respect. Only ridicule.
Pada saatnya Anda terbawa emosi, diskusi akan tidak lancar. Anda mungkin akan berbuat irasional — dan malah justru ditertawakan. Tentunya Anda tidak ingin ini terjadi. Oleh karena itu, pastikan kepala Anda tetap dingin sepanjang diskusi.
——
Tips:
Emosi tidak membawa keuntungan dalam debat. Jangan biarkan Anda dikuasai olehnya. Sebab, jika itu terjadi, Anda akan terlihat konyol.
Anda mungkin tidak menyadarinya ketika marah, tapi percayalah.
7. Jika mood Anda sedang jelek, jangan langsung menanggapi. Endapkan diskusi sementara waktu sampai Anda tenang.
Tips ini eksklusif untuk diskusi di forum atau blog, dan tidak bisa diterapkan untuk diskusi offline atau lewat Y!M. Dan saya punya pengalaman buruk dengannya.
Syahdan, saya sedang punya masalah (di dunia nyata). Di saat yang sama saya sedang terlibat diskusi intens di blogosphere. Tentunya saya tak bisa diam. Dengan ditemani musik keras, saya menjawab komentar orang yang berupaya memojokkan saya.
Hasilnya? Argumen saya tetap lumayan, tapi ada beberapa POIN PENTING YANG TERLEWAT saking emosinya saya mengetik.
Yang mana, poin tsb. akhirnya ‘diserang’ dan dikritisi oleh lawan debat. Lebih buruk lagi: dia justru meledek saya!
“Wuakakaka… katanya diskusi yang tenang? Kok sekarang emosi???”
![]()
Anda tahu, itu menyebalkan. Terutama karena yang ngomong adalah seorang troll — yang notabene berupaya memprovokasi sejak awal. Ritme diskusi pun jadi kacau. x(
Jadi, sebagaimana sudah dijelaskan di poin sebelumnya: pastikan Anda menanggapi dengan kepala dingin. Jangan sampai Anda justru jadi korban kelengahan diri Anda sendiri.
——
Tips:
Orang sering bilang, mood memegang peran penting dalam mengambil keputusan. Ini juga berlaku di ranah diskusi internet. Jika Anda sedang BT, kemungkinan jawaban Anda akan berantakan. Lawan pun lebih mudah membidik kesalahan Anda.
***
Yah, kurang lebih seperti itulah tips-tipsnya. Mungkin sebagian besar troll akan terlalu malas untuk belajar, dan lebih suka jalan terus dengan kebiasaan mereka. Tetapi, setidaknya ada orang yang mengingatkan generasi mendatang.
Jangan sampai budaya trolling hidup lestari dan menembus zaman. Waspadalaaaah… waspadalaaah…!!
Saya kecewa karena tak menemukan slogan-slogan “sahabat Indonesia yang superb” di sini.
^
He? Apa pula itu? :-/
*enggak nyambung*
Yang punya blog inkonsisten™. Pokoknya inkonsisten™, dan saya selalu benar.
Hidup troll!
*dilempar pot*
Namun saya kok selalu malas ya menghadapi troll…rasanya buang waktu banyak
Saya amati kalian-kalian yang sering ngladeni troll, sepertinya sekali terlibat butuh beberapa hari sampai benar-benar lepas dari gaya bicara mereka yang provokatif.
BTW, sora ga pingin toh sekali-sekali ngetroll gitu?
*selesai membaca*
Diskusi memang seperti itu. Saya sering sekali terpeleset. Cuma yang perlu diingat itu adalah, orang-orang yang tindak-tanduknya direkam/dicatat, cenderung dilihat sebagai manusia statik. Maksudnya begini; apabila saya bertindak bodoh di suatu waktu, biarpun saya minta maaf dan “memperbaiki diri”, tulisan yang lama ‘kan masih tersedia. Orang yang membaca bisa saja tidak mengetahui bahwa argumen yang lama itu sudah kadaluwarsa.
Contoh ekstrimnya adalah orang-orang yang membanding-bandingkan kutipan-kutipan tokoh-tokoh untuk menentukan kepercayaan religiusnya (Einstein, dst.) Padahal IMO bisa saja mereka memang flip-flopping.
Ini bisa diterapkan dalam diskusi internet juga: catatan itu bisa mengerikan!
Ahem. Adapun intinya menurut saya ada di sini:
Intinya mungkin ada pada kata-kata trendi Alm. Heath Ledger yang sudah mulai basi; why so serious?
@ lambrtz
Ah, dikau… bisanya menyindir saja. Sekali-sekali berantem dong sama mereka.
Bagaimana ya… main timing juga sih. Kalau satu hari digeber habis, bisa-bisa justru semua jadi emosian. ^^;; (baca: alur diskusi terlalu rapid)
Di samping itu merumuskan tanggapan juga butuh waktu. Kalau nurutin nafsu bantai troll, bisa-bisa satu hari saya nggak sempet makan.
OOT: Yup, umumnya makan waktu berhari-hari. Rekor terlama saya sampai 3 minggu, tahun 2008, ngomongin agnostisisme sama mas gentole + mbak Snowie. xP
Saya tidak memperturutkan nafsu… sebagaimana Bruce Wayne tidak tertarik jadi penjahat dan pembunuh. Sesungguhnya inilah jalan hidup para ksatria. (u_u)
*digeplak*
:::::
@ Abu Geddoe
Benar, masbro. Ini juga saya sayangkan.
Saya dulu sempat menyebar komen ini-itu, yang kalau dilihat sekarang, rasanya kok udah obsolete. Di satu sisi ini menunjukkan bahwa saya berkembang. Tapi ketika dilihat lagi, rasanya kok… ^^;;;
*something like Old Shame IMHO* (_ _)
Butul, butul. =3
Ah, tapi menanggapinya cukup gampang. Bilang saja kalau itu pandangan zaman dulu; sekarang sudah berubah. Arsip diskusi — entah milis, forum, atau blog — itu kan selalu disertai tanggal. ^^
Lha, tanyalah pada para troll itu. Saking seriusnya, sampai-sampai memaksakan bikin sockpuppet. Ada yang ngaku profesor, ada yang ngaku “real geologist”…
* * *
BTW, “sahabat Indonesia yang superb” itu apa? Saya beneran nggak nyambung, ini. ^^;;
ah, ya… maafkan saya. tapi biasanya sih saya cuma mukul kalo duluan dipukul
@ sora9n
Nah itu. Apalagi kalau diserang seorang troll gara-gara tulisan yang sudah lama. Bingung juga.
Mungkin perlu dibuat disclaimer pada layout blog; entri pada kategori tertentu, yang sudah berusia sekian tahun, ada diberi peringatan.
Itu slogan Golden Ways. Gugel gih (tapi kayaknya “super” deh, bukan “superb”.)
@ joesatch yang legendaris
A punch for a punch, and the whole world will be toothless.
Mahatma Gandhi (u_u)
Ah, koreksi. “A punch for a punch”.
//gaPenting
Sepertinya ada artikel di cracked soal ini… But hey, troll don’t read english, rite?
@geddoe
Asline “Eye for an eye” kayaknya…
*ternyata jadi juga dibuat artikelnya*
Saya kok sama ya sam lambrtz, nggak suka nanggepin troll
baik di dunia maya atau pun nyata
coz emosi itu barang berbahaya buat sayabikin migrain saya kumat aja.Sayangnya banyak orang lupa apa itu menghargai
sehingga mengganggap suatu perbedaan itu adalah jalan untuk saling menghancurkan bukan jalan untuk saling menghargai dan melengkapi kekurangan, padahal Tuhan saja menyukai perbedaan
Beneran dibikin postingan. Dulu waktu awal-awal [sebelum bikin akun wordpress] sih saya bisa kepancing emosi. Pernah ampe kesel banget dan ngomongnya ngaco. Udah gitu saya pake nyela segala. Jadilah bumerang. Tetapi makin ke sini enggak mempan lagi dibuat emosi. Doh, seandainya komentar lama bisa dihapus
Mungkin pendekatan kita sama troll harus dirubah; mungkinkah kita terlalu defensif dan jadinya malah ofensif; karena diam-diam malah ingin sekali mempermalukan troll, toh secara teknis troll itu tong kosong nyaring bunyinya. Bagaimana bila kita bersikap lebih persuasif dan personal. Diksinya kita ubah. Kita jadikan dia sebagai orang yang lebih tau dari kita dan kita minta penjelasan, bukan untuk menjatuhkan dia tetapi untuk membuatnya merasa nyaman. Yang saya lihat sih; troll datang untuk menyerang, kemudian merasa diserang dan langsung run amok.
Bagaimana kalo kita tanya: “Wah, Mbak/Mas, saya masih perlu belajar memang, jadi mestinya gimana yah?” Terus aja lontarin pertanyaan; make him/her feel smarter than us.
Tapi yah resikonya; diskusi jadi enggak seru; jadi gak menyenangkan. Kadang troll dibutuhkan; setidaknya untuk menghidupkan suasana. Lagian, [basi]why so serious?[/basi]
2. Selalu latih diri Anda untuk mengingat: “Saya cuma manusia biasa. Pandangan saya bisa salah.”
itu benar sora, tapi kadang para troll ato bigot pola pikirnya adalah bahwa saya memang manusia, dan bisa salah. tapi kitab suci itu kebenarannya mutlak, tak bisa terbantah. karena yang saya ucapkan semua ada di kitab suci, maka semua ucapan saya itu benar adanya. dan bodohlah kalian semua bila tidak mengakui kebenaran ucapan saya yang berlandaskan kitab suci yang maha benar.
kalo ngadepin yg model gini gimana hayo? hehe
gak mungkin kan kita bilang ama mereka, bahwa kitab suci bisa salah?
@agiek
Mmm…”pemahaman Anda salah”?
Terimakasih atas tipsnya. Saya sering kejebak di no 7 itu, dan setelah sadar saya menyesal, tapi apa lacur argumen sudah keluar.
kadang2 ada sih kritikan yg berbobot tapi dibungkus dengan “kata2 mutiara” yg bikin hati pedasss…
disini sih tantangan terberatnya adalah untuk me-milah2 antara kritik dan celaan… lalu menanggapi kritiknya saja… berat euy
ego.. oh.. ego
@sora9n
Super sekali, Mas Sora!
—–
Hehehe, saya jadi ingat sang Profesor “Tehnik Arsitektur Otak Manusia” lulusan ITB
@ joesatch
Tak apa. Balas memukul itu boleh…
…asal memukulnya dengan cerdas, elegan, berwibawa, dan tepat sasaran.
Kalau troll cuma bisa main tonjok, paling tidak, kita balas pakai jurus silat lah… >=)
(lha?)
:::::
@ Abu Geddoe
Begitu juga bisa. Terserah saja sih. (o_0)”\
Saya sendiri belum pernah mengalami (diserang troll model begitu). Tapi kalau terjadi, paling sekadar saya bilang, “Itu pendapat bertahun-tahun lalu. Sekarang sudah berubah.” ^^v
Lah, pantesan. Kemaren saya gugel pake “superb” enggak nemu. ^^!
BTW, ternyata omongannya om Mario Teguh. Baru tahu saya.
Sudah dibetulkan. ^^
:::::
@ dnial
Yup, ada beberapa artikel sejenis soal ini di cracked. Saya sendiri terinspirasi format postingan dari situ.
Troll Indonesia sih iya. Kalau troll US, saya ndak tahu.
:::::
@ Rukia
Lha, kan udah diomongin?
Namanya juga manusia. ^^;
:::::
@ ahgentole
Oh, sebenarnya ini udah pernah. Di postingan Hidayatullah-nya Geddoe, soal evolusi (juga). Waktu itu sama mas “wandy”.
Cari sendiri lah namanya di belantara komen itu
Saya sendiri mau saja bersikap terbuka dan ramah. Cuma terkadang… mereka itu datang-datang langsung main hajar. Malah disertai celaan ini-itu.
Biar gimanapun susah juga stay cool kalau digituin. ^^; Tapi kalau orangnya bisa diajak ramah, saya rasa nggak masalah sih.
Tapi ini berpotensi merendahkan wibawa. Kalau misalnya saya ngomong tentang evolusi, lalu saya bilang:
Ntar malah dianya yang ngelunjak: “Kalau begitu, buat apa kamu bikin postingan!!??”
Susah juga, euy.
[ikutan basi]
Saya juga nggak serius, kok. Sebagaimana bisa Anda lihat, belakangan ini saya selalu menanggapi troll dengan ceria, canda, dan tawa™.
*halah*
[/ikutan basi]
:::::
@ agiek
Yaa, seperti yang saya reply buat masbro di [postingan sono]. Bilang saja bahwa “kitab suci itu mutlak, tapi penafsiran manusia itu relatif dan terbatas”. Sehebat-hebatnya manusia, tidak mungkin bisa memahami firman Tuhan dengan sebaik dan sebenar-benarnya.
(kecuali kalau dia itu nabi)
Gitu aja kok repot.
:::::
@ lambrtz
Yup, itu dia.
Walaupun saya lebih cocok dengan versi yang ini: “Pemahaman Anda bisa salah.
Lagipula Anda bukan Tuhan, tidak mungkin selalu benar™.
”:::::
@ danalingga
Saya juga beberapa kali mengalami, kok. ^^;;
Oh well. Susah memang kalau menyangkut perasaan™.
*ditimpuk*
:::::
@ godless
Yup, ada juga yang seperti itu. Isinya ya bener… tapi penyampaiannya kok ya… ^^;
Pernah lihat yang kayak begitu juga sih. Tapi untungnya bukan saya yang jadi ‘korban’.
saya belajar dari pengalaman orang lain saja:::::
@ Syllachtea
Lha, iya. Saya memang sempat menyindir beliau di atas.
BTW, dulu juga ada yang kayak begitu. Bedanya, ngakunya bukan profesor — melainkan ahli geologi pakar evolusi. Mengenai benar atau tidaknya…
…
…euh, kita tanyakan sajalah pada rumput yang bergoyang.
@sora9n
Kalau tips supaya tidak emosian waktu melawan troll bagaimana, ya?
–
[OOT]
Pak Mario itu agamanya apa, sih? Kok sering memakai ayat Al-Qur’an?
Jangan-jangan ini ulama jenis baru!
[/OOT]
@sora9n
Kalau tips supaya tidak emosian waktu melawan troll bagaimana, ya?
–
[OOT]
Pak Mario itu agamanya apa, sih? Kok sering memakai ayat Al-Qur’an?
Jangan-jangan ini ulama jenis baru!
[/OOT]
[...] Minimal, pastikan kamu sudah mengikuti kaidah berdiskusi. [...]
setuju
..
..
..
*biar ngga dianggep one liner troll
*
betul sekali ^^ sudah sering menyaksikannya sendiri ^^
dan ngomong2 om Arsene, biasanya para troll itu arogannya selevel ama om Jose, meskipun aslinya cuma selevel McLaren
kalo saya sih lebih sering nonton aja kalo di topik panas, kalo dah bosen tinggal pergi aja baca2 topik lain yg lebih damai
mari berdiskusi dengan memperhatikan netika
baru nyadar ide saya disebut ide cemerlang; kok rasanya kayak baca komik jadul yak?
@ Syllachtea
Ingat saja hal-hal sbb:
1) Kalau si troll main ad hominem, itu pertanda dia mulai kalah.
2) Kalau argumennya muter-muter, itu berarti dia mulai desperate.
3) Kalau dia berbuat bodoh, tertawakan saja. Hitung-hitung mengendorkan urat syaraf.
Begitu dee~
Wah, kurang tahu. Tanya ke mbah gugel aja. (o_0)”\
:::::
@ Arm
Bukannya sejenis Phil Brown? Sudah payah, kalah, main fitnah pula. x(
*masih jengkel mengingat ocehan ybs. di Piala FA tempo hari*
:::::
@ ahgentole
Kok jadi komik jadul…? ^^;
tampaknya saya sudah melakukan beberapa opsi yang tertulis di sini sebelum membaca postingan ini…
Anger managemen?
Banyak-banyak makan Ice-Cream rasa Stroberi, Berendam di air es…
@ cK
Emang lo sering berhadapan ama troll, gitu?
*hard to believe*
:::::
@ Snowie
Teknik yang mahal.
saya nggak serius kok bilang itu
Ah troll…
Biasanya dari tulisan pertamapun dah langsung ktahuan.
Drpd capek, klo sy sih mending balik serang duluan aja, dia biasanya dtg sudah lengkap dgn kesimpulan dan penghakiman di kepalanya kok. Ntar justru dianya yg jd sibuk kerja keras nyari ref, link, dll.
Paling ga, kt bisa ngeladenin dia di opini dia sdr dgn lbh santai tanpa resiko ngerusak alur maksud post utama kita.
Klo kejebak alur dia ya repot wong tujuannya bukan diskusi tp menjatuhkan. Dia bahkan rela OOT demi celah yg bisa diserang.
^
Hohoho, ya, memang paling enak kalau bisa ‘mengerjai’ mereka.
Sekalian biar repot nyari referensi, link, dsb.-nya. Soalnya — sejauh amatan saya — kebanyakan cuma modal yakin dan dengkul saja. Sudah gitu maksa, pula. ^^;
Saya sendiri sekarang menanggapi mereka sambil santai. Betul, jangan terlalu diseriusi. Sebab malah bisa merusak alur diskusi ke depannya.
Yup, yup. =3
[...] April, 2009 Kalau tips-tips Sora memang layak untuk diterapkan, terutama ketika menghadapi orang dari kultur dan negara yang [...]
Tips-nya menarik. Cocok untuk diriku yang tiap hari dikritik orang.
Kayaknya tips-nya berlaku umum. Ada nggak, yang khusus untuk dunia blog?
^
Di atas itu sebenarnya ada satu-dua yang khusus untuk dunia blog, sih. Tapi memang sebagian besar cakupannya umum.
Bagaimanapun, diskusi di mana-mana sama saja. Yang berbeda cuma medianya. Ada/tidaknya tips khusus untuk diskusi di blog, saya rasa nggak akan jauh beda dengan poin-poin di atas. ^^
(IMHO, CMIIW)
.
Lhah….
Mosok situh barunyadar sekarang seh ???
Dalam diskusi yang ndak jelas gituh, pada akhir komen biasanya sayah terang-terangan mencantumkan ( sayah out di sinih ).
Tanpa perlu menyudutkan dia, ndak perlu menyerang argumennya, ndak perlu nyebutin alesan kenapa sayah keluar. Juga, ndak perlu merasa kalah argumen.
Yang ngerti keadaan diskusi ituh bermanfaat ato ndak, kita sendiri kan ???
^
Loh, saya nyadarnya udah dari dulu. Cuma baru diformalken™ dalam bentuk post gara2 celetukan mas gentole.