• Beranda
  • License
  • More About Me…
  • Sitemap

sora-kun.weblog()

//returns stories, pictures, or anything else he’s working at :)

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Hasil Corat-coret Minggu Kemarin
akismet »

Sedikit tentang Mekanika Kuantum dan Filosofinya (4c/5)

Februari 19, 2009 oleh sora9n

Catatan Awal:

Artikel ini adalah bagian keenam (dari delapan) tulisan bersambung, dengan tujuan menjelaskan konsekuensi filosofis mekanika kuantum pada pembaca kasual.

 

Daftar tulisan selengkapnya:

    Bagian 1 – Quantum Philosophy: The Menacing Concepts
    Bagian 2 – Paradoks dan Keruntuhan Superposisi
    Bagian 3 – Beberapa Interpretasi Mainstream
    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      a) QM dan Filsafat Determinisme

      b) Memandang Kenyataan: Filsafat Para Ilmuwan

      c) Adakah Kehendak Bebas?

Dalam proses:

    Bagian 4 – Singgungan dengan Dunia Filsafat

      d) Teater Kuantum: Pengamat, Pemain, dan Sudut Pandang (TBA)

    Bagian 5 – Kesimpulan Akhir dan Rangkuman (TBA)

 

BTW, ide penulisannya disumbang oleh Mas Gentole waktu diskusi di post-nya Kopral Geddoe. Well, thanks for the idea. :P


Disclaimer:

Tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan mempelajari mekanika kuantum dan fisika modern di bangku kuliah. Dengan demikian, saya membuka diri kepada pembaca — jika kebetulan ada yang berkompeten — untuk meluruskan seandainya terdapat kesalahan penjelasan dalam rangkaian tulisan ini.

 

 

Overview

 

Setelah sebelumnya membahas tentang filsafat determinisme dan dunia kuantum, sekarang kita berpaling pada pertanyaan yang menggelayuti dunia sains (dan filsafat pada umumnya). Adakah kehendak bebas?

Di tulisan bagian IV.a, kita menemukan bahwa sifat ketidakpastian kuantum bernilai signifikan, asalkan orde benda — dalam jumlah atom — cukup kecil. Berangkat dari ide ini, beberapa ilmuwan berspekulasi tentang sistem otak dan kesadaran: mungkinkah kehendak bebas manusia dihasilkan lewat kaidah mekanika kuantum? Apakah kesadaran manusia, yang notabene kompleks dan nonlinear, berawal dari sini?

Here goes the story…


 

Daftar Isi:

  • 4 Singgungan dengan Dunia Filsafat
  • c) Adakah Kehendak Bebas?
    • 4c.1 Intro: Dua Sudut Pandang
    • 4c.2 Perdebatan Berlanjut: Philosophical Zombie
    • 4c.3 Determinisme dan Kesadaran: Adakah Kehendak Bebas?
    • 4c.4 The Quantum Brain Proposals
      • 4c.4.1 Atas Dasar apa Pendapat ini muncul?
      • 4c.4.2 Working Models?
      • 4c.4.3 Kritisisme
    • 4c.5 Sampingan: Kehendak Bebas dalam Kerangka MWI
    • 4c.6 Kesimpulan untuk Bagian Ini
    • 4c.7 Bacaan Lebih Lanjut

     

  • Referensi

 

……

 

IV

Singgungan dengan Bidang Filsafat

 

(c)

Adakah Kehendak Bebas?

 

 

 
4c.1. Intro: Dua Sudut Pandang

    Lebih lanjut: Physicalism ; Dualism

Abad 19 di Eropa. Seiring dengan berkembangnya gagasan Laplace tentang alam semesta deterministik, orang mulai berspekulasi. Apa jadinya jika atom-atom tubuh manusia dapat dibongkar, lalu disusun ulang persis seperti aslinya? Akankah “manusia” bentukan ini juga mempunyai ‘jiwa’ dan ‘pikiran’ ?

Pendapat ini berakar dari salah satu pandangan filsafat bernama physicalism (fisikalisme). Pandangan ini berpendapat bahwa segala sesuatu di alam semesta dapat dijelaskan sebagai kumpulan gejala fisika — sedemikian hingga semuanya dapat direduksi menjadi materi semata. Dapatkah “jiwa” terbentuk hanya dari susun-rangkai atom? Atau tidak?

Inilah yang kemudian menghasilkan sebuah pertanyaan krusial. Bahwasanya,

Asumsikan tubuh manusia bisa disusun-rangkai atom-per-atom, lengkap dengan semua mekanisme biologisnya.

Akankah makhluk ini jadi mampu berpikir, lantas memiliki kesadaran?

Pendapat para filsuf terbagi dua kubu di sini, yakni dualisme dan fisikalisme yang sudah disebut sebelumnya.

  1. Kaum Dualis percaya bahwa terdapat entitas ‘jiwa’ yang terpisah dari badan kasar. Mereka memandang bahwa pikiran manusia — yang secara imperatif mengandung kehendak bebas — tak bisa dipetakan hanya bermodal materi, hukum fisika, dan matematika.
  2.  

  3. Kaum Fisikalis/Materialis percaya bahwa pikiran, imajinasi manusia hanyalah produk dari bekerjanya sistem otak. Apabila otak hancur, maka hilanglah kesadaran. Alhasil mereka memandang “materi” dan “jiwa” sebagai satu kesatuan.

Salah satu argumen yang disodorkan kaum dualis adalah sebagai berikut. Bahwasanya, manusia memiliki kehendak bebas — mereka bisa memilih apa yang hendak mereka lakukan. Sebagai contoh: jika saya dikejar oleh rombongan geng motor, apa yang akan saya lakukan? Mungkin saya akan lari (supaya tidak dipukuli). Atau mungkin saya akan melawan mereka (demi harga diri). Di sini terlihat bahwa manusia punya kemampuan untuk memilih.

Di mata kaum dualis, yang mengatur “pilihan mana” itu adalah jiwa. Sesuatu yang bebas, tak bisa ditakar (atau diimitasi) oleh sistem fisika apapun.

 
Di sisi lain, kaum fisikalis juga punya argumen sendiri: bagaimana jika sesungguhnya saya pasti akan memilih kabur (atau melawan). Hanya saja saya tidak sadar bahwa saya sedang “diatur” oleh sistem tubuh sendiri.

Mungkin karena darah sudah dibanjiri adrenalin, saya jadi terpacu untuk melawan. Mungkin kalau otak saya terlambat beberapa saat melepas neuron, saya jadi memilih kabur. Atau mungkin: karena otak saya melepas serotonin terlalu banyak, saya jadi bersemangat dan merasa bisa menang melawan geng motor tersebut.

Inilah pandangan kaum fisikalis. Bahwasanya, manusia dan pilihannya “ditentukan” oleh macam-ragam aktivitas fisika/kimia dalam tubuh. Dengan kata lain: “kehendak bebas” dan “jiwa” bukanlah kebebasan sebenarnya, melainkan tunduk dan diatur oleh materi.

 

 
4c.2. Perdebatan Berlanjut: Philosophical Zombie

    Lebih lanjut: Philosophical Zombie

Salah satu argumen yang dikemukakan kaum dualis, untuk menyerang kaum fisikalis, adalah sebagai berikut:

Misalnya tubuh manusia benar bisa dibangun dari susun rangkai atom-per-atom, lengkap dengan semua sistem biologisnya.

Tentunya, karena sistem syarafnya lengkap, maka ia juga bisa menerima rangsangan (misal: berupa sentuhan, temperatur, dan lain sebagainya).

Tetapi, apakah “manusia” ini:

1. Bisa merasakan sensasi?
2. Mempunyai kesadaran diri?
3. Bisa mensintesis logika dan pilihan?

Ini adalah konsepsi yang cukup mendetail. Untuk memudahkan pembahasan, “manusia” hasil susun-rangkai atom selanjutnya kita sebut “zombie”.

Para dualis menantang dengan argumen sebagai berikut, sehubungan dengan poin-poin 1, 2, 3 di atas:

  • Jika zombie bereaksi ketika diberi rangsangan, ada kemungkinan dia sekadar bereaksi TANPA merasakan sensasi.
    (analogi: mainan robot yang berbunyi jika disentuh)
  • Manusia bereaksi sekaligus merasakan sensasi (sakit/nyaman/temperatur/dsb). Oleh karena itu, zombie tipe ini tidak bisa dibilang menyerupai manusia. (see also: qualia)

  • Jika zombie bisa berperilaku seperti manusia, belum tentu ia mempunyai kesadaran diri.
    (analogi: robot ASIMO yang makin mirip dengan manusia)
  • Manusia bisa mendefinisikan sifat ke-”aku”-an sebagai identitas diri. Jika zombie tidak memiliki rasa ke-”aku”-an, maka ia tak bisa digolongkan sebagai duplikat manusia.

  • Jika memang zombie hendak dianggap sebagai manusia, maka ia harus mempunyai sistem pilihan, kehendak, dan logika.
  • Ciri khas manusia adalah kemampuan berlogika dan menganalisis, serta menetapkan pilihan. Jika zombie hendak dijadikan duplikat manusia, maka ia harus mampu menduplikasi kemampuan tersebut.

    Tiga hal di atas adalah properti unik kesadaran manusia. Properti yang, jika dikompositkan, bisa dibilang membentuk suatu entitas yang bernama “jiwa”. Problem inilah yang kemudian dilemparkan pada para proponen fisikalisme.

    Apakah manusia sebenarnya hanya produk susun-rangkai atom, atau ada sesuatu yang “lebih” yang di luar itu?

     

     
    4c.3. Determinisme dan Kesadaran: Adakah Kehendak Bebas?

     

    Pada masa pra-kuantum, pendapat yang beredar di kalangan fisikalis/materialis adalah sebagai berikut:

    Hukum alam bersifat deterministik, tunduk pada kaidah fisika dan matematika.

    Tubuh manusia adalah obyek fisis.

    Maka, jika “manusia” bisa dinyatakan sebagai obyek fisis semata, tidak ada yang namanya kehendak bebas. Sebab semua komponen kehidupannya diatur oleh hukum-hukum fisika dan matematika.

    Sebagaimana bisa dilihat, ide ini sama sekali menafikan konsep “jiwa”. Seolah-olah manusia ditentukan oleh aktivitas atom, yang pada gilirannya membentuk sistem saraf, hormon, dan sebagainya. Jika determinisme ini dianggap berlaku, maka tidak ada ruang untuk kehendak bebas. Orang mungkin cuma *merasa* bisa memilih — sementara, di balik pintu, pilihan mereka tak lebih dari rangkaian mekanis sebab-akibat.

    Di sisi lain, sebagian ilmuwan mulai melihat pada berkembangnya cabang ilmu yang, sebagaimana dibahas di tulisan yang lalu, telah berhasil menggoyang filsafat determinisme. Tentunya tak perlu diperkenalkan lagi. And there goes… the Quantum Mechanics (QM) as we know it. ;)

     

     
    4c.4. The Quantum Brain Proposals

      Lebih lanjut: Quantum Mind theories

    Banyak ilmuwan, dan filsuf pada umumnya, merasa gentar pada prospek matinya kehendak bebas. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika berkembangnya mekanika kuantum disambut sebagai pendekatan alternatif.

    Melihat kecenderungan QM yang quasi-deterministik, para ilmuwan berandai-andai. Mungkinkah QM berperan di balik munculnya kehendak bebas? Kehendak bebas tidak murni random, melainkan tergantung pada berbagai constraint (e.g. kepribadian, pengalaman dsb.). Kelihatannya cukup paralel dengan sifat QM yang — walaupun acak — tetapi memiliki ketaatan pada rambu-rambu probabilitas. :-?

     

    4c.4.1. Atas Dasar apa Pendapat ini muncul?

     

    Argumen pertama, dan paling utama dari diinkorporasinya QM dalam perkara kesadaran, adalah sifatnya yang nondeterministik. Sebagaimana sudah dijelaskan: ini merupakan boost yang membuka peluang bahwa kehendak bebas mungkin masih ada di dunia sains.

    Atau, setidaknya, tidak semudah itu tenggelam oleh naturalisme deterministik. Tapi itu cerita lain untuk saat ini. :P

    Argumen kedua yang juga menguatkan adalah sebagai berikut: bahwasanya, sistem otak dan sinaptik berukuran mikroskopik. Dengan demikian, pendekatan QM (atau kimia kuantum untuk molekul) jadi terkesan viable. Sebagaimana sudah kita bahas di tulisan bagian IV.a: perilaku kuantum benda bersifat signifikan pada orde mikroskopik. Otomatis ini membuka peluang bahwa sistem otak bisa dipetakan secara kuantum. Mungkin sistem otak tidak sedeterministik yang dibayangkan kaum fisikalis. Siapa tahu?

    Adapun argumen ketiga bersifat sedikit teknis, tapi akan kita singgung sekilas di sini. Bahwasanya, ada kemungkinan sistem otak memanfaatkan prinsip komputer kuantum dalam membangun kesadaran.

    Ide ini dijelaskan oleh fisikawan Roger Penrose. Menurut Penrose, terdapat sebuah hambatan yang membuat sistem logika manusia mustahil dipetakan dengan cara klasik (non-kuantum) — yakni Teorema Ketidaklengkapan Gödel.

    Apa itu Teorema Ketidaklengkapan Gödel? Saya hanya akan menyinggung idenya sesingkat dan semampat mungkin:

    Sebuah teori (atau kumpulan teori) matematika tidak mungkin lengkap dan konsisten. Jika ia lengkap, maka ia tidak konsisten. Tetapi, jika ia konsisten, maka ia tidak lengkap.

    Sekilas agak membingungkan, tetapi penjelasan di bawah ini harusnya cukup membantu.

    Misalnya terdapat sebuah mesin canggih yang mengklaim: “saya bisa membuktikan kebenaran pernyataan apapun yang Anda input.”

    Kemudian, Gödel datang ke mesin tersebut, dan menginput pernyataan G: “pernyataan ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya”.

    Maka di sini terbentuk paradoks. Mesin akan mengklaim bahwa “saya bisa membuktikan bahwa pernyataan ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya”.

     
    Kalimat di atas menunjukkan bahwa mesin yang diasumsikan bisa membuktikan pernyataan apapun (baca: bersifat lengkap) tidak bersifat konsisten.

    Tetapi, mesin tersebut akan konsisten selama Gödel tidak menginput pernyataan G.

    Dengan demikian, jika mesin konsisten, maka pembuktiannya tidak lengkap. (dia tidak menghitung G)

    Tetapi, jika ia lengkap, maka pastilah dia tidak konsisten. (karena dia harus menyertakan G)

    Menurut Penrose, teorema ketidaklengkapan Gödel tidak berlaku pada logika manusia. Mengapa? Karena kita paham bahwa mesin Godel berbuat kesalahan. Jika kita diberi pernyataan “G tidak bisa dibuktikan”, maka kita tahu: tak ada gunanya mengklaim “saya bisa membuktikan bahwa G benar”. Kita tahu bahwa pernyataan seperti diucapkan mesin di atas adalah absurd.

    Alhasil, manusia terhindar dari melakukan inkonsistensi sebagaimana dilakukan oleh sang mesin di atas. Penrose berpendapat: ada sesuatu dalam jalan pikiran manusia yang bersifat beyond mathematical logic.

    ***

    Berdasarkan logika di atas, Penrose mengeluarkan ide kontroversial: logika manusia tak bisa dipetakan dengan algoritma konvensional, melainkan harus memanfaatkan prinsip komputasi kuantum (komputer kuantum memakai sistem logika yang berbeda dibandingkan komputer biasa — link). Intriguing as it may seem, ide ini kemudian mendapat tanggapan pro dan kontra, terutama dari kalangan matematikawan.

    Mengenai bagaimana pro-kontra tersebut, kita takkan bahas di sini. Tetapi cukuplah untuk dikatakan: bahwa upaya ‘melangkahi’ Gödel di atas membawa Penrose pada pembahasan sistem otak berbasis kuantum. Gagasan Penrose kemudian diinkorporasi oleh ahli neurobiologi Stuart Hameroff — mereka kemudian bersama-sama mengembangkan model Orch-OR untuk menjelaskan kesadaran.

     

    4c.4.2. Working Models?

     

    Hingga sejauh ini, terdapat (sekurangnya) dua model sistem neurologi berbasis kuantum yang cukup komprehensif. Meskipun begitu, perlu dicatat bahwa model-model ini masih bersifat pionir; tidak satupun di antara mereka yang diakui sebagai mainstream di bidang neurologi. :-?

    Dua model tersebut adalah:

      a) Model Orch-OR

      Digawangi oleh Robert Penrose dan Stuart Hameroff,
       

      b) Quantum Brain Dynamics

      Pertama kali digagas oleh fisikawan Jepang Hiromi Umezawa dan Herbert Frohlich pada dekade 1960-an.

    Kedua model tersebut menetapkan: terdapat kondisi di mana sejumlah elektron dalam neuron bersifat sebagai kondensat Bose-Einstein. Sekadar informasi, kondensat Bose-Einstein adalah suatu fasa di mana energi sangat rendah, dan benda mulai menunjukkan perilaku kuantum.

    Menariknya — atau kontroversialnya, tergantung sudut pandang Anda — adalah bahwa kondensat Bose-Einstein tidak bisa terbentuk jika bukan pada suhu mendekati nol mutlak (sekitar -273 derajat Celsius). Pertanyaannya: adakah tempat yang memungkinkan kondisi ini di dalam sistem otak?

    Tak pelak, hal ini kemudian memicu kritik terhadap dua model tersebut… di samping juga beberapa hal lain. Ini akan segera kita bahas di seksi berikutnya.

     

    4c.4.3. Kritisisme

     

    Galibnya ide frontier science yang cukup radikal, pendekatan sistem otak berbasis kuantum tak lepas dari kritikan. Para kritikus — umumnya dari kalangan sains; walaupun ada juga yang berbasis filsafat — melemparkan pertanyaan sebagai berikut pada model quantum mind yang kita bahas.

    Kritikan pertama datang dari kalangan sains. Max Tegmark, fisikawan dari kampus MIT, melontarkan keberatan sebagai berikut:[1]

    Kita tidak bisa mengharapkan gejala kuantum berlangsung secara signifikan dalam sistem otak. Temperatur terlalu tinggi, dan dengan demikian superposisi jadi runtuh dengan sangat cepat.

    Berdasarkan perhitungan, superposisi runtuh sekitar waktu 10-13 detik. Neuron bekerja pada orde waktu 10-3 detik. Di sini terlihat bahwa efek kuantum relatif bisa diabaikan — karena superposisi sudah runtuh jauh sebelum neuron bekerja.

    Kritikan kedua, dari kalangan neurobiologi, adalah sebagai berikut:[2]

    Pada kenyataannya, pertukaran sinyal neuron melibatkan ion-ion positif dan negatif semisal: Na+, K+, Ca++. Di sini terbuka kemungkinan bahwa indeterminisme kuantum bisa beraksi.

    Dan pada kenyataannya (lagi), benar bahwa sejumlah aktivitas molekuler berperilaku secara stokastik. (stokastik = semi-random, dapat dipetakan menggunakan statistik)

    Meskipun begitu keacakan ini bisa dipetakan dengan model chaos theory*. Tidak mesti bergantung pada gejala kuantum untuk menjelaskan peristiwa tersebut.

     

    *) Chaos: keadaan di mana suatu peristiwa terlihat acak, tapi sebenarnya penjumlahan dari elemen-elemen deterministik. Umum diilustrasikan, “kepakan sayap kupu-kupu di Afrika mengakibatkan angin topan di Amerika”.

    Sedang kritikan ketiga, dari kalangan filsuf dan psikologi:[3]

    Kita asumsikan otak kita disusun oleh gejala kuantum. Pertanyaannya, bagaimana efek kuantum ini berperan menjelaskan rasa, sensasi, kesadaran, dan ke-”aku”-an?

    Dalam banyak kasus, model kuantum tidak lebih baik daripada model klasik. Masih sama-sama meraba bagaimana hukum alam membentuk “manusia”, bukan sekadar “zombie”.

    ***

    Sebagaimana bisa dilihat, masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Di bagian #4c.2 di atas kita sekilas menyinggung philosphical zombie. Proposal model kuantum untuk otak baru menyentuh problem ketiga: sistem pilihan, kehendak, dan logika. Itu pun, masih dengan catatan. Sedang dua problem sisanya masih belum terjamah.

    Meskipun begitu, saya harus memberi catatan penting: kritisisme di atas TIDAK BERARTI model kuantum untuk sistem otak tidak layak diteliti lebih lanjut. Yang lebih tepat adalah, bahwasanya model kesadaran berbasis kuantum tidak/belum menunjukkan merit yang signifikan dibandingkan pendekatan tradisional.

    Hingga saat ini, perkara kesadaran dan kehendak bebas masihlah tanda tanya besar. Ketidakmampuan model kuantum menggambarkan kesadaran, adalah sama dengan bagaimana model tradisional juga belum berhasil. Mengutip David Chalmers,[4]

    Nevertheless, quantum theories of consciousness suffer from the same difficulties as neural or computational theories. Quantum phenomena have some remarkable functional properties, such as nondeterminism and nonlocality. It is natural to speculate that these properties may play some role in the explanation of cognitive functions, such as random choice and the integration of information, and this hypothesis cannot be ruled out a priori. But when it comes to the explanation of experience, quantum processes are in the same boat as any other. The question of why these processes should give rise to experience is entirely unanswered.

     

     
    4c.5. Sampingan: Kehendak Bebas dalam Kerangka MWI

      Lebih lanjut: many-worlds interpretation ; modal realism

    Ada sebuah interpretasi mekanika kuantum, yang — bisa dibilang — selalu memberikan sudut pandang baru dalam memandang persoalan. Tak lain dan tak bukan, interpretasi ini adalah many-worlds interpretation (MWI).

    Di bagian akhir tulisan yang lalu, kita membahas tentang bagaimana MWI menjelaskan alam semesta deterministik. Bahwasanya segala sesuatu yang bisa terjadi pasti akan terjadi — hanya saja berlangsungnya di dunia paralel yang tak bisa kita amati.

     

    MWI -schrodCat

    Untuk menyegarkan (lagi), saya tampilkan kembali diagram kucing Schrödinger untuk MWI. :D

     

    Sekarang, sekaitan dengan kehendak bebas. Timbul sebuah pertanyaan yang menarik:

    Jika MWI benar, maka akan terdapat banyak “saya” yang tersebar di berbagai dunia.

    Setiap kopi “saya” pastilah memiliki kondisi yang berbeda-beda (karena mewakili tiap kemungkinan yang berbeda).

    Pertanyaannya: kalau begitu, apa gunanya kehendak bebas? Sebab, apapun yang hendak saya pilih, pastilah terdapat counterpart-nya di semesta lain! :shock:

    Ini bisa dibilang sebagai suatu paradoks. Jika dipandang dari satu dunia saja, Anda punya kehendak bebas. Tetapi, jika dipandang secara keseluruhan, maka sebenarnya tidak ada gunanya Anda memilih. :-?

    Misalnya dalam ilustrasi saya dikejar geng motor, yang saya tulis di awal sekali.

    Saya memutuskan untuk lari. Keputusan ini adalah kehendak saya, karena… (alasan tertentu)

    Tetapi, di dunia tetangga, akan terdapat diri saya yang lain, yang berkeputusan:

    Saya memutuskan untuk berkelahi melawan mereka. Keputusan ini adalah kehendak saya, karena… (alasan tertentu)

    Bingung? ‘Menyeramkan’ ? You bet! :mrgreen:

    ***

    Singkat kata, apabila MWI benar, maka kita akan mendapat hak bernama “kehendak bebas”. Meskipun demikian, “kehendak bebas” itu sendiri sifatnya more than meets the eye. Setiap kali Anda membuat satu pilihan, maka terdapat pula “Anda” yang lain yang membuat pilihan berbeda. Kehendak bebas ada jika dilihat dari satu dunia saja — tetapi, jika dilihat secara keseluruhan, sebenarnya tak ada bedanya.

    Jika saya jadi orang baik di sini, mungkin ada saya yang jadi penjahat di dunia lain. Atau tidak. Yang jelas, selama saya masih di dunia ini, saya bisa memilih. Hanya saja akan selalu ada “saya yang lain”, yang mengambil keputusan berbeda, di semesta yang lain.

     
    And to add the dose of absurdity…
     

    Misalnya surga dan neraka benar-benar ada. Katakanlah demikian (walaupun mungkin Anda percaya pada reinkarnasi, atau Anda tak percaya pada afterlife).

    Lantas ada satu milyar kopi “saya” di berbagai dunia paralel.

    Ternyata 50% dari saya menjadi orang baik, maka sejumlah 50% kopi saya masuk surga. (setengah milyar diri saya masuk surga)

    Sedangkan sisanya menjadi orang jahat — jadi sejumlah 50% kopi saya masuk neraka. (setengah milyar diri saya masuk neraka)

    …

    …

    Well, silakan dipikirkan. I’ll leave it at that, so cheers. ;)

     

     
    4c.6. Kesimpulan untuk Bagian Ini

     

    Sejauh ini, kita sudah membahas bagaimana indeterminisme kuantum mungkin berperan dalam menghadirkan kehendak bebas. Kesimpulan yang bisa ditarik adalah sebagai berikut:

    1. Di bidang filsafat, terdapat dua jenis pandangan dalam menilai hakikat jiwa, yakni dualisme dan fisikalisme/materialisme
    2.  

    3. Dualisme mempercayai bahwa “jiwa” adalah entitas independen yang bersifat metafisik. Sedangkan fisikalisme percaya bahwa “jiwa” dan “fisik” adalah satu kesatuan, di mana “fisik” memegang kendali seutuhnya.
    4.  

    5. Beberapa ilmuwan mem-propose ide bahwa otak membangun kesadaran dengan memanfaatkan gejala kuantum. Staple di sini adalah sifat indeterministik yang dimiliki oleh QM, sekaligus — pada model Orch-OR — asumsi bahwa kesadaran manusia adalah sesuatu yang bersifat beyond mathematical logic. (tetapi bisa ditangani oleh komputasi kuantum)
    6.  

    7. Terdapat beberapa model quantum mind yang sudah dikembangkan. Meskipun demikian, model-model ini sifatnya masih relatif mentah.
    8.  

    9. Model quantum mind yang sudah diajukan belum mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting mengenai kesadaran dan kehendak. Di titik ini, bisa dibilang bahwa quantum mind tidak/belum memiliki merit signifikan dibandingkan pendekatan tradisional.
    10.  

    11. Terdapat juga model kehendak bebas yang diusung oleh MWI. Meskipun demikian ide ini cenderung spekulatif, mengingat nature MWI yang (hingga kini) masih bersifat hipotesis.

    Dan, dengan demikian, berakhirlah penjelasan di tulisan bagian IV.c ini. Seperti biasa, tanggapan dan koreksi dari pembaca — jika ada yang berkompeten, baik di bidang fisika maupun filsafat — sangat diharapkan. :)

    Terima kasih atas perhatiannya, dan sampai jumpa. :D

     

    4c.7. Bacaan Lebih Lanjut

     

    Seperti biasa, daftar bacaan untuk bagian ini saya letakkan di halaman khusus tersendiri. Silakan diklik jika berminat. ;)

     

    Referensi:

     

    [1] Seife, Charles. 2000. “Cold Numbers Unmake the Quantum Mind”. Science Magazine, Vol. 287. no. 5454, p. 791.

    [2] Weber, M. (2004), “Indeterminism in Neurobiology: Some Good and Some Bad News” (format .doc)

    [3] Chalmers, David J. (1995) Facing Up to the Problem of Consciousness. Journal of Consciousness Studies 2(3):200-19.

    [4] ibid.

    About these ads

    Like this:

    Suka Memuat...

    Ditulis dalam Deeper Thoughts, In-depth Coverage | Dengan kaitkata filsafat, fisika, fisika modern, free-will, ilmu alam, mekanika kuantum, quantum mind, sains | 30 Komentar

    30 Tanggapan

    1. pada Februari 19, 2009 pada 4:30 pm sora9n

      Tulisan bagian #4d dan #5 menyusul sekitar akhir pekan ini. Mohon maaf untuk yang sudah menunggu lama (kalau ada). ^^!


    2. pada Februari 19, 2009 pada 8:06 pm Lelouch Lamperouge

      yah, minat kita memang beda. dan seperti biasa, postingan yang satu ini juga terlalu tinggi buat saya, sehingga nyangkut lagi di langit-langit ruan pemikiran saya yang hanya 3 x 3 x 3 meter…

      Dan biarpun digambarkan secara sederhana, teori Erwin Schrodinger yang berambut keriting soal kucing itu tetap tidak bisa saya pahami. ah, ngomong2 soal Bose, saya jadi lupa teori apa yang beliau kemukakan. masih seputar mekanika kuantum juga?

      eh, Bose ini yang Satyendra Bose itu kah? yang tinggi besar itu Bose bukan sih…


    3. pada Februari 19, 2009 pada 9:10 pm BudiTyas

      Aku save dulu ah biar irit durasi…, komentarnya ntar abis baca, hehe…


    4. pada Februari 19, 2009 pada 11:22 pm p4ndu_454kura®

      Astaga, rentang antara 4c dan 4d-nya cukup lama juga.
      *penunggu serial mk*

      Ah, ndak masalah. Itung-itung refreshing setelah maen ke post-nya Geddoe. :mrgreen:


    5. pada Februari 20, 2009 pada 12:09 am Ando-kun

      Hahaha…. persamaan schrodinger dijabarkan dengan kucing mati. Benar2 menarik dan penuh imajinasi.
      Jadi ngembayangin analogi kucing mati yang lain kalau persamaan schrodinger digabung sama ketidakpastian Heissenberg dan distribusi statistik paket energi-nya Fermi-Dirac.

      *Koq jadi teringat pada salah seorang dari 3 dewa mabuk fisika Tjia May-On :mrgreen: *


    6. pada Februari 20, 2009 pada 1:41 am Ando-kun

      Satu lagi,
      Kalau berdasarkan teori Filsafat Quantum, ada kemungkinan saya di “dunia dimensi lain” yang masih hidup disurga karena Adam dan Hawa dimensi mereka nggak makan buah khuldi.

      *Jadi iri sama diriku di dimensi lain :mrgreen: balik nonton Kamen Rider Decade*


    7. pada Februari 20, 2009 pada 5:49 am p4ndu_454kura®

      Ralat: Antara 4b dan 4c. Semalam udah ngantuk waktu ngomen. :P


    8. pada Februari 20, 2009 pada 7:11 am Rukia

      *fast read*
      *file -> Save Page As*

      *Berlalu* :mrgreen:


    9. pada Februari 20, 2009 pada 10:57 am Ando-kun

      Waduh, komentar gue terjerat Aki si Memet lagi deh. :cry:


    10. pada Februari 20, 2009 pada 4:50 pm sora9n

      @ Lelouch

      Dan biarpun digambarkan secara sederhana, teori Erwin Schrodinger yang berambut keriting soal kucing itu tetap tidak bisa saya pahami.

      Sudah baca tulisan bagian 2, belum? Di sana saya khusus membahas soal Kucing Schrodinger. :P

      Tanpa matematika. Suer! :mrgreen:

      ah, ngomong2 soal Bose, saya jadi lupa teori apa yang beliau kemukakan. masih seputar mekanika kuantum juga?

      Yup, masih seputar QM. Ada dua sumbangannya yang cukup terkenal: statistik Bose-Einstein dan kondensat Bose-Einstein (yang terakhir ini sempat disinggung di atas).

      BTW, nama partikel “boson” juga diturunkannya dari nama beliau.

      eh, Bose ini yang Satyendra Bose itu kah? yang tinggi besar itu Bose bukan sih…

      …heh? Masnya tahu Satyendra Bose? :shock:

      Betul, Bose yang itu. Yang orang India. Saya nggak tahu apakah orangnya tinggi-besar, tapi betul namanya Satyendra Bose. ^^

      BTW, tahu dari mana? Pernah belajar fisika modern? :)

      :::::

      @ BudiTyas

      Silahken™. :P

      :::::

      @ p4ndu_454kura

      Astaga, rentang antara 4b dan 4c-nya cukup lama juga.

      [alasan standar]

      Well… biasalah. Sibuk ini-itu di dunia nyata. ^^;;

       
      [alasan yang lebih jujur]

      Sebenarnya tadinya saya santai-santai nulisnya. Eh, mendadak ditanyain mas gentole lewat YM. Alhasil, sejak saat itu jadi ngebut. :lol:

      *ditendang*

      Ah, ndak masalah. Itung-itung refreshing setelah maen ke post-nya Geddoe. :mrgreen:

      Postingan yang Hidayatullah.com? :-? :mrgreen:

      :::::

      @ Ando-kun (1, 2)

      Hahaha…. persamaan schrodinger dijabarkan dengan kucing mati. Benar2 menarik dan penuh imajinasi.

      Yup, begitulah. Solusi dan penjelasannya bisa dibilang ‘ajaib’. ^^;

      BTW, mengenai kucing Schrodinger, bahasan utamanya di tulisan bagian 2. Monggo dibaca kalau tertarik. :P

      Jadi ngembayangin analogi kucing mati yang lain kalau persamaan schrodinger digabung sama ketidakpastian Heissenberg dan distribusi statistik paket energi-nya Fermi-Dirac.

      Weitss… Technobabble detected! :mrgreen:

      BTW, kok tahu statistik Fermi-Dirac? Mantan mahasiswa fisika kah? ^^

      Kalau berdasarkan teori Filsafat Quantum, ada kemungkinan saya di “dunia dimensi lain” yang masih hidup disurga karena Adam dan Hawa dimensi mereka nggak makan buah khuldi.

      Lah… emangnya kalau Adam dan Hawa tetap tinggal di surga, situ bakal lahir? Enggak kali… :-?

      Secara situ pendosa, gitu loh. :mrgreen:

      *dihajar*

      *balik nonton Kamen Rider Decade*

      Bagus, gitu? *belum nonton*

      BTW, saya dengar Gackt nyanyi opening theme-nya. Apa benar? :P

      :::::

      @ p4ndu_454kura (2)

      Ralat telah diterima dan diakui. Saudara dipersilakan pulang kembali. :cool:

      :::::

      @ Rukia

      Heh, jangan nyampah… :cool:

      *nyiapin akismet*

      :::::

      @ Ando-kun (3)

      Sudah dibebaskan. :P

      BTW, namanya Aki Ismet. Walaupun seseorang tertentu menyebutnya Aki Slamet…


    11. pada Februari 20, 2009 pada 8:17 pm Lelouch Lamperouge

      wah, maaf. saya lupa. yang tinggi besar itu Niels Bohr, bukan Bose… :mrgreen:

      belajar fisika modern? pernah kok. saya dulu sempat tertarik dengan fisika modern, teori big-bang sampai lubang cacing *yang membuat saya girang dan penasaran setengah mati*, Stephen Hawking yang mengidap Arteo-Laterral Scheloris (kalau tidak salah) hingga memajang foto2 ilmuwan klasik macam Sir Galileo-Galilei, Isaac Newton, Albert Einstein hingga Stephen Hawking.

      tapi itu semuanya cerita lama, sebelum saya murtad dari fisika… :p


    12. pada Februari 20, 2009 pada 8:19 pm Lelouch Lamperouge

      … setelah murtad dari fisika modern, saya kini mendalami soal anime dan manga saja… :lol:


    13. pada Februari 20, 2009 pada 10:01 pm Ando-kun

      BTW, kok tahu statistik Fermi-Dirac? Mantan mahasiswa fisika kah? ^^

      Kalau kenal sama ajarannya Tjia May-On berarti…………….
      Lagian, emangnya cuma mahasiswa fisika yang pake statistik fermi-Dirac dan Maxwell-Boltzman??? :lol: :lol: enigma… :roll:

      Bagus, gitu? *belum nonton*

      BTW, saya dengar Gackt nyanyi opening theme-nya. Apa benar?

      Emang yg nyanyi opening song nya Gackt. Bagus apa nggak nggak tau. baru nonton 4 seri awal. Cerita ttg 10 Kamen Rider yg hidup di 10 dunia dimensi berbeda. Nggak usah dihubungin sama filsafat quantumnya kucing schrodinger, soalnya bakalan error.


    14. pada Februari 21, 2009 pada 2:26 am Ando-kun

      Here’s one of the real TechnoBabble:
      “Alchemy; the science of understanding the structure of matter, breaking it down, then reconstructing it as something else. It can even make gold from lead. But alchemy is a science, so it must follow the natural laws: To create, something of equal value must be lost. This is the principle of Equivalent Exchange.”
      :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

      *Gak usah dibilang deh, pasti udah pada tau dari mana*


    15. pada Februari 21, 2009 pada 11:30 am J Algar

      Stephen Hawking yang mengidap Arteo-Laterral Scheloris (kalau tidak salah)

      Kalau gak salah sih, Amyotropic lateral schlerosis
      *maaf Sora, agak OOT*


    16. pada Februari 21, 2009 pada 1:30 pm BudiTyas

      Dalam pandangan saya, MWI adalah konsep yang menghasilkan pandangan semu hasil intepretasi hukum fisika atau hukum alam kita saja. Dalam arti, hukum fisika yang kita miliki berlaku untuk dunia kita, bukan dunia yang lain, ‘world’ yang lain bisa jadi punya hukum/aturan/persamaan yang berbeda. Jadi MWI dan pandangan kita tentang ‘world’ yang lain sama sekali tidak berpijak pada hukum yang berlaku di dunia lain tersebut. Karena saya punya keyakinan bahwa hukum dunia yang lain itu tidak sama dengan hukum alam di sini, maka MWI saya anggap sekedar cermin pemantul dunia semu hasil analisa hukum alam kita saja.

      Sumber pendapat saya tentunya adalah keyakinan spt yang diterangkan oleh kitab suci saya yang menyebutkan bahwa dunia ada 7 dan tiap dunia memiliki hukumnya tersendiri. Mungkin saja memang tiap dunia terkoneksi, dan bisa jadi jika faktor itu dikemukakan, teori quantum dengan probabilitasnya bisa saja gugur jika acuan itu sebenarnya ada, cuma tidak mampu kita temukan karena terkait ‘suatu elemen/hal’ di dunia yg lain.

      Tentang jiwa dan kesadaran, saya berpendapat bahwa analoginya lebih tepat dengan hardware-software dimana software adalah jiwa kita sedang hardware adalah otak kita. Tidak bisa keduanya dipisahkan untuk jalannya komputer. Teori quantum, analisa kerja otak, dll hanya merujuk pada cara kerja otak atau hardware kita, belum ke softwarenya. Kembali ke keyakinan, yang lebih berharga dari keduanya adalah jiwa/softwarenya karena utk manusia, software atau jiwa itu tumbuh seiring waktu. Hardware bisa tua dan rusak, tapi siapa bilang Tuhan tidak mampu menyalin ‘software kita’ ke CD blank Istimewa untuk kemudian diinstal di Komputer cap Sorga?

      *Halah…malah ceramah*

      Udah ah, dah kebanyakan, ntar saingan ma postingan sora panjangnya,..hehehe..


    17. pada Februari 22, 2009 pada 10:47 am Lelouch Lamperouge

      @ J Algar : wah, berarti saya yang salah… ;)


    18. pada Februari 22, 2009 pada 11:19 am sora9n

      @ Lelouch

      Weleh… :mrgreen:

      [kesambet]

      Bertobatlah sebelum terlambat! Kembalilah ke jalan yang benar™ lagi lurus™. Sesungguhnya kemurtadan™ itu adalah dosa besar… :evil:

      [/kesambet]

      :::::

      @ BudiTyas

      Mengenai MWI, memang masih banyak pro-kontranya Pak. Lebih lagi kalau dibandingkan dengan pemahaman religius — sejauh yang saya tahu, bisa dibilang nggak ada yang nyambung. ^^;

      Nggak cuma surga-neraka saja. Konsep reinkarnasi juga bakal bubrah kalau MWI benar. :P

      Jadi bisa dibilang kontroversinya berlipat-lipat. Di bidang sains masih dikritik; di bidang filsafat/religi juga bikin ribut. :lol:

      Tentang jiwa dan kesadaran, saya berpendapat bahwa analoginya lebih tepat dengan hardware-software dimana software adalah jiwa kita sedang hardware adalah otak kita.

      Yup, ini pandangan filsafat dualisme. Di samping elemen fisik juga terdapat elemen metafisik, yakni “jiwa”. Atau software kalau meminjam istilah di atas. :)

      :::::

      @ J Algar

      Ah, nggak papa. Terima kasih masukannya. ^^


    19. pada Februari 22, 2009 pada 5:30 pm sora9n

      @ Ando-kun

      Euh, sori, komennya terjaring akismet. Baru saja saya patroli ke sana, eh, ternyata ada. Baru dilepasin deh. :P

      *untung saya lagi rajin* =3=

      Lagian, emangnya cuma mahasiswa fisika yang pake statistik fermi-Dirac dan Maxwell-Boltzman??? :lol: :lol: enigma… :roll:

      Yaaa… itu kan kesan pertama. Istilah “Fermi-Dirac” kan baunya fisika sekali. :P

      BTW, FYI, saya juga bukan mahasiswa fisika, loh. Aslinya engineering ini. :mrgreen:

      Nggak usah dihubungin sama filsafat quantumnya kucing schrodinger, soalnya bakalan error.

      Apa? Kamen Rider Schrodinger? Saya juga tak tertarik. :twisted:


    20. pada Februari 22, 2009 pada 8:08 pm Ando-kun

      @sora
      Tau koq. dari awal udah ditulis kalau situ engineering bukan mahasiswa fisika.

      ***** khan :twisted: :twisted:


    21. pada Februari 23, 2009 pada 6:51 pm sora9n

      ^

      …kalimat disensor. :mrgreen:

      Halah, situ juga tahunya gara-gara saya tuls di blog, kan. Kalau saya diem-diem aja, pastilah sampai sekarang enggak bakal tahu. :cool:

      *huh* *huh* [-(


    22. pada Februari 23, 2009 pada 6:51 pm secondprince

      Argumen kedua yang juga menguatkan adalah sebagai berikut: bahwasanya, sistem otak dan sinaptik berukuran mikroskopik. Dengan demikian, pendekatan QM (atau kimia kuantum untuk molekul) jadi terkesan viable. Sebagaimana sudah kita bahas di tulisan bagian IV.a: perilaku kuantum benda bersifat signifikan pada orde mikroskopik. Otomatis ini membuka peluang bahwa sistem otak bisa dipetakan secara kuantum.

      Maaf, saya agak kurang sreg dengan yang ini. Sistem otak dan sinaptik memang bersifat mikroskopik tetapi tidak bisa langsung dikatakan bahwa itu viable dengan QM. Sejauh yang saya pahami, sistem otak dan sinaptik melibatkan berbagai neurotransmitter yang merupakan senyawa kimia tertentu seperti dopamin, serotonin, asetilkolin, GABA, endorfin, enkefalin dan sebagainya. Sedangkan mikroskopik yang viable dalam QM itu kan dalam skala subatom atau partikel elementer seperti elektron, positron, boson, meson, foton, lepton dan sebagainyalah.(saya juga kurang tahu). Jika dibandingkan level mikroskopiknya jauh beda, partikel subatomik sangat-sangat jauh lebih kecil dari senyawa-senyawa neurotransmitter dalam sistem otak. Hmm bagaimana Sora?


    23. pada Februari 23, 2009 pada 7:47 pm sora9n

      ^

      Sejauh yang saya pahami, sistem otak dan sinaptik melibatkan berbagai neurotransmitter yang merupakan senyawa kimia tertentu seperti dopamin, serotonin, asetilkolin, GABA, endorfin, enkefalin dan sebagainya. Sedangkan mikroskopik yang viable dalam QM itu kan dalam skala subatom atau partikel elementer seperti elektron, positron, boson, meson, foton, lepton dan sebagainya

      Yup, itu dia. Ini salah satu alasan pendekatan sistem otak berbasis kuantum banyak diprotes. Persis seperti yang masbro sebut, ukuran elemennya terlalu besar. Ditambah lagi kondisi lingkungannya tidak suitable untuk proses kuantum.

      Model Penrose menyiasati ini dengan menyatakan aktivitas kuantum hanya terjadi di mikrotubulus (diameternya sekitar 25 nm, jadi cukup dekat ke wilayah kerja QM). Tetapi ide ini pun masih dikritik.

      (lihat juga: referensi [1] dan [2] yang saya sertakan)

       
      Saya pribadi agak kurang sreg dengan pendekatan quantum mind pada umumnya. Kesannya rada far-fetched — dari tiga argumen di atas, yang saya cukup setuju cuma argumen ketiga (Teorema Ketidaklengkapan Godel). Itu pun masih banyak ilmuwan yang kontra. ^^;

      Tetapi, kenapa saya angkat dalam bentuk tulisan, itu karena (IMHO) nilai filosofisnya cukup besar. Biasanya orang berbicara fisikalisme/materialisme, pasti berpikirnya determinisme. Dan bicara determinisme, maka jadi sulit merumuskan kehendak bebas dan kesadaran. Nah, QM memberikan alternatif dari pandangan macam ini.

      * * *

      BTW, gagasan quantum mind memang masih eksploratif. Lubangnya juga banyak. Jika bisa lolos dari komplain soal ukuran molekul pun, dia masih harus menjawab soal kondensat Bose-Einstein (sudah disinggung di atas).

      Jadi, ya, jangan berharap terlalu banyak lah. :lol:


    24. pada Februari 23, 2009 pada 8:53 pm joesatch yang legendaris

      Di sisi lain, kaum fisikalis juga punya argumen sendiri: bagaimana jika sesungguhnya saya pasti akan memilih kabur (atau melawan). Hanya saja saya tidak sadar bahwa saya sedang “diatur” oleh sistem tubuh sendiri.

      lha…mirip tulisan saya yang kemarin dulu itu :D


    25. pada Februari 24, 2009 pada 11:27 pm ahgentole

      *masih menunggu perkembangan diskusi*


    26. pada Maret 2, 2009 pada 6:27 pm Snowie

      *nungguin hasil akhirnya aja deh :P *

      ~ nyinpen pendapat sendiri buat diri sendiri dulu :mrgreen:


    27. pada April 13, 2009 pada 4:52 pm Suluh

      Gimana dengan pandangan pribadi mas sora sendiri? Ide, Keyakinan, atau yang lainnya….


    28. pada April 15, 2009 pada 8:43 pm sora9n

      ^

      Hmm… saya sendiri sebenarnya open saja. Entah apakah jiwa itu ada atau tidak, IMHO dua-duanya cukup mungkin untuk terjadi. Malah — kalau boleh jujur nih — saya justru suka mengikuti perkembangan dunia paranormal. :lol:

      (note: bukan tentang UFO lho ya. yang saya maksud paranormal di sini sebangsanya parapsikologi, reinkarnasi, dsb.)

      AFAIK jumlah kasus/laporan yang mendukung dualisme tidak sedikit. Ada banyak laporan yang mensugestikan kebenaran NDE (Near Death Experience) dan reinkarnasi… hanya saja klaim macam ini ada dua kekurangannya. (1) bersifat anekdotal, dan (2) tidak bisa direplikasi. Jadinya, ya, kurang mengikuti metodologi ilmiah. :|

       
      Di sisi lain ada juga riset alternatif yang cukup menarik, e.g. riset reinkarnasi dan Global Consciousness Project. Menurut saya ini larinya ke arah dualisme. Sebab parapsikologi erat kaitannya dengan keberadaan “jiwa”.

      Jadi untuk sementara ini… saya terbuka sajalah. :P


    29. pada April 16, 2009 pada 12:27 am lambrtz

      Tunggu. Kenapa

      bukan tentang UFO lho ya

      ? Ada dendam pribadi apa dengan UFO? :?


    30. pada April 16, 2009 pada 1:42 am sora9n

      ^

      UFO itu aroma gaibnya kurang. Sama dengan sasquatch atau chupacabra… (saya juga kurang tertarik) =3=

      Kalau soal hantu dan reinkarnasi, nah, itu baru seru. :mrgreen:

      ~personal preference
      ~maybe :P



    Komentar ditutup.

    • About Me

      sora9n

      NOTICE:
      This blog is now discontinued. The author has moved to new address: [here]

      [guestbook entries]
    • Disclaimer


      This blog is personal property which is publicized. Readers are free to copy, republish, and distribute the content as long as the source is mentioned.

      [more on license page]

    • People visited this blog:

      • 835,755 times
    • My Picture Gallery

      -=-=-=-=-=-=-=-
      .: Gallery's Main Page :.
      -=-=-=-=-=-=-=-

    • Categories

    • Top Posts

      • Beberapa Kalimat Sapaan dalam Bahasa Jepang
      • Mengenal Huruf Kana (1) - Hiragana
      • Artemia, Alifia, Lavinia, Aurelia...
      • Sedikit Tentang Metodologi Ilmiah, dan Teori Evolusi (lagi)
      • [nihongo-2] Partikel 'no' dan 'de'
    • Recent Posts

      • Akhir Sebuah Perjalanan (alias: Balada Pindah Alamat)
      • Current Playlist 2010.10.01: World Music Edition
      • Kartu Lebaran 1431 H
      • Grandpa’s Old Typewriter
      • [nihongo] Berkenalan dengan Huruf Kanji
    • Archives

    • Metadata for This Site

      • Daftar
      • Masuk
      • RSS Entri
      • RSS Komentar
      • WordPress.com

    Blog pada WordPress.com.

    Tema: MistyLook oleh WPThemes.


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 110 pengikut lainnya.

    Powered by WordPress.com
    %d bloggers like this: