Ilustrasi di bawah ini saya dengar tadi malam, ketika sedang ngobrol ngalor-ngidul dengan mas ini. Penjelasannya kira-kira sebagai berikut:
Misalnya kamu diberi uang oleh ibu kamu untuk membayar kos. Berhubung biayanya dihitung tahunan, maka ibu sengaja memberikan uang tersebut beberapa bulan sebelum deadline. (alasan: supaya uang tersebut terpisah/tidak tercampur dengan tetek-bengek rumah tangga)
Meskipun demikian, tanpa sepengetahuan ibu, kamu memutuskan untuk mendepositokan uang tersebut di rekening bank. Sedemikian hingga kamu mendapat bunga dari simpanan tersebut.
Ketika tiba masa pembayaran kos, kamu menarik uang sejumlah yang awalnya diberikan oleh ibu, dan membayarnya ke pemilik kos. Adapun bunganya kamu diamkan di rekening.
Jadi, uang kos yang dititipkan ibu kamu bungakan di bank tanpa sepengetahuan beliau. Hasil bunga tersebut kemudian kamu jadikan milik pribadi.
Pertanyaannya: apakah tindakan tersebut etis?
Ini adalah kasus yang menarik. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan di sini:
- Terdapat tindakan memanfaatkan kepercayaan orang yang tidak tahu dananya dimanfaatkan untuk keuntungan saya pribadi.
- Meskipun begitu, tidak ada pihak yang dirugikan. Ibu tidak rugi karena uangnya tidak diselewengkan. Pemilik kos mendapat jatah tahunannya. Saya pun tidak mendapat rugi/hutang apa-apa.
- Saya mendapat keuntungan pribadi, berupa bunga deposito, dari rangkaian peristiwa ini. Dengan menimbang (1) dan (2): etiskah jika saya menjadikan bunga deposito tersebut milik pribadi?
Perlu dicatat bahwa pembahasan ini tidak berkaitan dengan hukum. Murni etika.
Saya sendiri rada bingung ketika melakukan pendekatan semi-utilitarian yang umum saya pakai. Secara materi, tidak ada pihak yang rugi. Mengganggu sustainable source of happiness? Tidak juga. Keuntungan jangka pendek dan jangka panjang? Baik-baik saja, tuh?
Tapi tetap saja rasanya ada yang mengganjal. Rasanya aneh jika saya mengambil keuntungan pribadi dari orang/pihak yang bersifat clueless.
Kalau menurut yud1, mungkin ada kaitannya dengan tanggung jawab moral. Ada kesan tidak baik jika kita memanfaatkan kepercayaan orang dan menjadikannya unwitting pawn begitu saja.
Menurut Anda?
Lah, kalo sudah diberikan bukannya terserah mau diapakan, asal tujuan utama membayar kos ga ditinggalkan?
Atau biar ga clueless bilang dulu sama ibu Sora kali ya
Kalau alasannya sama juga spt ibu ya ndapapa to? Biar nggak hilang, biar nggak campur sama tetek bengek lain. Pada dasarnya tujuannya sama saja. Klo ibu memberikan dana lebih awal, pada dasarnya dia percaya bahwa uang itu lebih ‘aman’ pada kita dibanding jika dibawa ibu sendiri. Klo kita ndak bisa dipercaya, so pasti ibu ngirimnya mepet, atau malah dibikin telat sekalian.
Segala harta yang kumiliki adalah milik orang tuaku.
Semua harta yang dimiliki orang tuaku belum tentu milikku.
catatan: kalimat diatas dengan anggapan “aku” kaya harta, untuk kondisi sebaliknya silahkan dibalik juga.
menurut saya sih enggak masalah, asalkan kita ngasih tau ibunda.
Sebagai orang yang berlatar belakang psikologi, saya cuma bisa bilang… tergantung. Tergantung nilai-nilai yang dimiliki orangtua si anak itu. Ada orangtua yang mungkin akan senang dengan kecerdikan si anak dalam mencari uang tambahan secara halal dan mudah. Ada juga yang mungkin merasa marah atau kecewa karena anaknya tidak memberitahukan (bahkan menyembunyikan) keberadaan deposito uang kos itu.
Sora sendiri bagaimana, misalnya, kalau anaknya melakukan hal semacam itu tanpa sepengetahuan sora?
Saya pribadi sih, rasanya lebih baik diberitahukan (atau mengusulkan sejak awal kalau uang itu lebih baik didepositokan saja). Keterbukaan dan keterusterangan dalam hubungan antarpribadi (apalagi soal orangtua-anak) bagi saya hampir selalu merupakan sesuatu yang positif. Kalau bunga itu diminta lagi, ya risiko, toh memang itu bunga dari duit mereka juga kan.
Btw, bagaimana kalau kasusnya begini: Bos pemilik perusahaan yang menitipkan uang ke anda (karyawannya) untuk membayar sewa gedung di akhir tahun, lalu anda mendepositokannya? Atau… heck, anda ‘meminjam’ uang perusahaan yang nganggur tanpa sepengetahuan bos, mendepositokannya, mengambil bunganya, dan mengembalikan dana awalnya ke tempat semula? Agak beda sih ‘rasanya’, tapi kayaknya secara prinsip serupa.
Jadi, ‘kan ada tiga entitas di sini;
i) Si Mahasiswa
ii) Ibu
iii) Pemilik Tempat Kos
Coba kita teliti untung/rugi masing-masing pihak:
i) Si Mahasiswa
Untung: Bunga dari dana yang dipermasalahkan.
Rugi: -
ii) Ibu
Untung: a) Tidak ada; b) Uang, bila bunga yang didapat dianggap sebagai milik bersama; c) Uang, bila bunga yang didapat dianggap meringankan kewajiban mengirimkan uang saku/kebutuhan lainnya; d) Uang + kepuasan batin, bila tindakan anak dianggap sebagai trik finansial yang bagus.
Rugi: Kehilangan informasi, sebab merasa berhak tahu.
iii) Pemilik Tempat Kos
Untung: Mendapatkan uang yang dijanjikan.
Rugi: -
Mahasiswa, di skenario ini, adalah satu-satunya yang meraup untung, dan Ibu adalah satu-satunya yang potensial mengalami kerugian.
Kalau “tidak adil” bisa diartikan sebagai keadaan di mana tidak ada kerugian, maka jadinya tergantung; dan tergantungnya IMO ada pada perspektif pihak yang memiliki potensi rugi. Di sini cuma ada si Ibu:
*) Apa Ibu si Mahasiswa merasa berhak mengetahui kegiatan finansial yang dilakukan anaknya tersebut?
*) Apa Ibu si Mahasiswa merasa bahwa uang yang ia kirim mesti digunakan sebagaimana mestinya, tidak lebih dan tidak kurang?
*) Apa Ibu si Mahasiswa merasa bahwa apabila uangnya “diinvestasikan” seperti itu, ia sudah dirampok?
*) Dst.
Dan mengingat bahwa tulang punggung argumentasinya adalah bahwa si Ibu “tidak tahu”, kesimpulannya: Bilang aja apa susahnya?
Dan bukankah mengambil untung adalah jual-beli 101?Tergantung untuk apa uang tersebut digunakan nantinya. Kalau untuk hal-hal negatif, ya mungkin baru dapat dikatakan bahwa hal tersebut kurang etis.
Dan..
Kalau memang penggunaan uang tersebut tidak merugikan siapapun, sebagaimana tertulis pada poin kedua, ya mungkin tidak terlalu menjadi masalah.
sangat etis, masalahnya ibu sengaja menyisihkan uang itu dari awal agar tidak tercampur dengan urusan rumah tangga lainnya. adapun jika uang itu sudah diberikan namun tidak didepositokan ke bank akan banyak masalah yang dihadapi sang anak, misalnya ada diskon besar2an action figure, ato apapun yang bisa mengoda iman sang anak, Namun karena uang tersebut sudah berada dideposito yang berarti uang itu tak bisa ditarik sampai jangka waktu yang sudah ditentukan maka masalah godaan tersebut bisa dilewati. bunga dari deposito hanya menjadi efek samping yang tak terlalu signifikan, adapun ketika sang anak mendepositokan uang tersebut jelas sang ibu akan setuju, mengapa? karena sang ibu akan terhindar dari kasus harus memberi uang lagi akibat dari sang anak mungkin memakai uang tersebut diatas untuk hal lain.
Kalo masalah mendepositokan uang kos sih etis-etis aja, nggak ada masalah, demi keamanan juga kan. Tapi, kalo masalah menjadikan bunga deposito sebagai milik pribadi kok rasanya kurang etis ya, apa nggak sebaiknya bilang ke ibu dulu. Walaupun ibu kebanyakan setuju aja kalo bunga deposito menjadi milik pribadi si mahasiswa, tapi ya itu lebih baik memberitahukan perihal bunga deposito itu ke ibu.
Hm, tujuan si anak mendepositkan uang itu ke bank dan bukannya membayar uang kost langsung itu kenapa dulu?
Saya sih selama ini beranggapan kalu sudah di berikan, ya sudah terserah si anak mau diapain, selama tujuan asalnya diberikan uang itu dilakukan. Tapi tetep aja sih, IMO, harus bilang ke si ibu dulu kalau uang itu mau diapa-apakan sebelum tujuan awalnya dilakukan, masalahnya kan diberi amanah sama si ibu, dan sampai sebelum amanah itu terlaksanakan, sang ibu masih punya hak untuk tau tentang keberadaan uang tsb..
Dan masalah ngambil bunga itu jadi milik pribadi, buat saya pun tetap harus bilang ke sang ibu tentang bunga itu, mau diapakan sesudahnya..(walaupun IMO, si ibu pun kayanya bakal setuju saja).
Menurut saya, ibu punya hak atas sebagian bunga yang ada di bank. Serahkan saja 1/3, atau kalau anda baik hati, 1/2 nya, dan anda bisa lupakan kegelisahan soal etis tak etis ini. Anggap saja usaha, anda yang menjalankan dan ibu yang modali, jadi ibu berhak atas sebagian keuntungan.
Emang ngekos diplanet mana, kok bunganya dari duit kos aja bisa semenggelisahkan itu?
Kalo antar ortu dan anak sih kayanya ga terlalu masalah.
Dari komen2 yang saya liat, semuanya membicarakan keuntungan dan kecerdikan si anak.
Gimana kalo kasusnya antar bos dan bawahan, pasti akan banyak yang bilang tidak etis. Mungkin…
Soalnya kalo dengan ibu sendiri kita sudah tau sikap dan reaksinya seperti apa kalo kita beritahukan belakangan.
Kalo ibu senang ya kita lanjutkan.
Kalo ibu tidak senang, ya kita minta maaf dan berhenti melakukan.
Tapi kalo bos yang marah, repot tuh mengembalikan kepercayaannya. Menurut saya sih begitu.
Jadi jika dengan ortu gapapa, tapi kalo dengan bos jangan.
Ya… mungkin secara alam bawah sadar saya lebih takut kepada bos dibanding ortu saya. Ga tau juga deh hanya tau psikologi dasar.
huhuhu…
- -
3 ~~~
@ lambrtz
Ndak, bukan begitu. Ceritanya, si ibu *menitipkan* uang pada si anak, supaya disampaikan pada pemilik kos. Jadi peran anak di sini sebagai perantara.
Walaupun, ya, asalkan uang kosnya dibayar, tidak ada kerugian di pihak ibu. Tapi etiskah jika si “perantara” mengais untung — tanpa bilang-bilang — dari titipan si ibu. Nah ini yang jadi pertanyaan.
:::::
@ BudiTyas
Bukan, alasannya berbeda. Ceritanya, si anak sengaja mendepositokan uang titipan supaya dia bisa mendapat bunga. Niatnya di sini benar-benar buat cari untung.
Jadi dia memang mengincar bunga itu dari awal, bukannya mengejar keamanan di bank.
:::::
@ yusahrizal
Bagaimana kalau cuma setengah kaya?
:::::
@ Catshade
Saya sih nggak keberatan, asal dikasih tahu. Nah, ini yang rasanya aneh.
Sebenarnya saya nggak rugi secara materi, tapi ada perasaan bahwa kepemilikan saya dipakai tanpa izin. Lebih lagi: ada yang mengeruk keuntungan pribadi dari situ. Rasanya kok gimana ya… ^^;
(mungkin ini yang disebut kerugian immaterial? CMIIW)
Yup, betul. Tetapi pertanyaannya di sini: etiskah jika kita mengambil bunga bank tanpa memberitahukan pada si ibu selaku pemilik modal?
Ini kayaknya lebih berat (IMO). Sebab yang dipakai adalah uang perusahaan, yang notabene hasil perbisnisan. Sedang hasil perbisnisan itu didapatnya lewat properti perusahaan. Jadi sama saja dengan memanfaatkan properti perusahaan untuk kepentingan pribadi… :-/
(which is categorized taboo to some extent)
Kalau hubungan ibu dan anak ‘kan nggak sematerialistis itu. Kadar toleransinya lebih besar.
:::::
@ Abu Geddoe
Well, right. But the question is: etiskah jika si ibu tidak diberitahu?
Itu dia masalahnya. Secara pragmatis tidak ada yang rugi — tapi rasanya kok ada yang mengganjal.
Ndak, kasusnya beda. Ini seperti kalau kita beli software.
Misalnya kita beli lisensi Windows XP Home Edition. ‘Kan nggak boleh dipakai untuk kantor/usaha/enterprise?
Bisa saja kita ‘memaksimalkan’ keuntungan XP Home dengan menginstall di kantor. Microsoft nggak rugi. Tapi lisensinya nggak membolehkan… dan ini bisa jadi perkara hukum, sebab ada hitam di atas putihnya.
:::::
@ Haris Suryanegara
Wah, pandangan mas ini benar-benar utilitarian.
:::::
@ stash
Nay, nay… masalahnya bukan itu. ^^;;
Asumsinya, si anak sengaja mendepositokan supaya bisa mendapat bunga. Jadi motifnya di sini murni cari untung (bukannya untuk keamanan dan sebagainya).
Nah, terus pertanyaanya: etiskah jika si anak mengejar bunga, dari *titipan* si ibu, tanpa bilang-bilang? Ini yang jadi masalah.
Masalahnya bukan apakah bunga depositonya besar atau kecil. Masalahnya: apakah bunga tersebut didapat dengan cara yang etis?
Apalagi diniatkan mengejarnya dari awal.
Itu kalau si ibu diberitahu. Kasusnya kan si anak nggak bilang-bilang.
:::::
@ Rukia | grace
Nah, itu. Memang sebaiknya disampaikan pada si ibu.
Tapi diberitahu atau tidak, sebenarnya nggak ada yang rugi materi. Lha, semua orang mendapat haknya, kok? ^^;;
:::::
@ Guh
Ya, kalau dipandang dari sudut pandang bisnis, enaknya memang begitu.
Tapi itu berarti si ibu juga tahu soal dana tersebut, bukan?
Yang membingungkan adalah bagaimana jika kita diem-diem aja, tapi tetap mengambil bunga deposito. Kelihatannya tak ada yang rugi, tapi rasanya kok gimanaaaa gitu. ^^;;
Saya asalnya dari Planet Serpo, sekarang lagi ngekos di BumiHehehe, ini cuma ilustrasi aja kok. Jadi bukan saya yang jadi tokohnya…:::::
@ nasibhungkhus
Yup, itu dia. Seperti yang dibilang mas Catshade, ‘rasa’-nya rada berbeda. ^^;
Di sisi lain, hubungan bos-karyawan juga tak seluwes hubungan ibu-anak. Kalau ibu-anak OK lah, bisa lebih toleransi dan kekeluargaan. Sedang bos-karyawan hubungannya murni bisnis. Kepercayaan yang hilang tak bisa dikembalikan semudah itu.
Tapi, bos atau ibu, tetap saja ada yang mengganjal. Rasanya kok gimanaaa gitu, mendapat untung dari duit mereka, sementara orangnya nggak tahu.
Kalo asumsi nya dia sengaja mengambil keuntungan dr bunga itu, buat saya kurang etis kalau dia ga bilang ke si ibu sebagai pemilik modal..
soalnya kan si ibu memberi uang itu tujuan awalnya memang bukan untuk di depositkan demi mendapatkan keuntungan..tapi untuk bayar kost..
walaupun gada yang rugi, tetap saja buat saya sampai uang itu bener-bener sampai di tujuan awalnya (bayar kost), si ibu masih berhak tahu kondisi uangnya bagaimana..
Ini casenya keluarga ya,…bukan kerjaan.
Kalo saya jd ibu, saya senang klo anak saya sudah punya inisiatif spt itu. Tandanya udah kreatif, udah cukup dewasa. Mandiri dlm berpikir dan mengambil keputusan. Makin dewasa, “tanya mama” atau “beritahu mama” nya makin berkurang. Berani bertindak, berani bertanggung jawab.
Ekstrimnya, waktu kita kecil, kita nanya mama dulu, pakaian tertentu boleh buat maen bola atau tidak. Klo udah gedhe kan nggak perlu konfirmasi dulu, krn udah tahu resiko & tanggung jawabnya (meski duit bajunya dari mama juga).
Klo kt bikin keputusan buat deposito, kt ngerasa udah cukup dewasa blom utk yakin & berani mempertanggung jawabkan tindakan kita sama ortu? Klo blom cukup yakin ya bilang mama dulu aja deh…:-)
@sora
kalo mo ambil untung dari bunga deposito kok rasanya agak mustahil^^;, kita asumsikan kost pertahun 12 juta, Ibu memberi uang 3 bulan sebelum jatuh tempo, Bunga di bank B#A saat ini 7.5%/3bln. Maka 15.000.000X7.5%=900.000:12X3=225.000
Wew itu menurut gw lebih ke definisi “melakukan sesuai perintah”, bukannya “tidak merugikan pihak lain”. Ibu memerintahkan supaya uang kos dibayar, tetapi tidak minta uangnya dibungakan.
Si ibu sebenarnya berhak mendapat seluruh bunganya. Dengan tidak mendapat bunga, Ibu mengalami kerugian potensial dari modal yang dia miliki. Sebelum uang kos dibayarkan, uang itu tetap menjadi hak milik si ibu dengan status dititipkan kepada si anak. Apapun yang terjadi dengan uang itu (bertambah atau berkurang), anak harus lapor.
We live in a capitalism era, suka tidak suka.
2.5% dari deposito adalah bagian milik kaum dhuafa
wekz…ini sih perkara subhat
Utilitarian?
Ah, sebenarnya saya tidak bermaksud seperti itu. Kan pembahasan ini menjurus ke arah etika, ya komen saya di atas itu menyoal etika, kok.
Hm..mungkin cara saya menyampaikannya yang masih kurang pas.
Sederhana sepertinya :
1. Kalau asyik2 aja ya sudah, nggak ada masalah.
2. Kalau ada yang mengganjal berarti ada yang salah.
*dilempar duit kos2an*
Jadi gini, apa si ibu rugi, ya dan tidak. Secara riil sang ibu tidak rugi, tapi ada yang namanya potensial loss dari sang ibu berupa bunga deposito. Jadi si ibu ini mengalami potensial loss. Kesimpulannya, si ibu rugi hanya tidak tahu kalau dia rugi.
Lain lagi kalau perintahnya, “Ini duit buat mbayar kos, terserah mau diapain asal jangan minta lagi.”
Kalau gitu sih nggak ada masalah etika.
weleh weleh rame juga yak disini, seru, pertempuran kata yang asik, gak salah kalo blogger bandung emang yoi yoi abisss.. salam dari jogja sekitar 8 jam arah timur
tabiek
senoaji
Diam2 memanfaatkan uang milik orang lain tanpa merugikan si pemilik uang? Gak etis, IMO
Ongkos perantara?
*lihat komen Catshade*
Seringkali dalam suatu dilema etis seperti ini saya hampir selalu melihat adanya suatu “prinsip hierarki” atau “prinsip-prinsip yang saling bersaing” dalam menentukan apakah suatu tindakan/situasi dikatakan etis atau tidak. Ada beberapa penilaian-penilaian yang ada pertimbangan-pertimbangan yang menurut pandangan subyektif mendapat prioritas utama sebagai suatu nilai yang pertama dan utama.
Kebanyakan prinsip-prinsip etika [juga aliran-aliran yang ada di dalam etika] memiliki prinsip hierarki nilai yang saling bersaing. Mungkin apa yang saya tulis [disini] sangat jelas menjelaskan prinsip-prinsip prioritas yang saling bersaing itu.
Tapi jawaban Catshade yang menjelaskan “hubungan antar pribadi’ dalam suatu pertimbangan etis sepertinya jadi jawaban memuaskan atas kasus ini. Mungkin pertimbangan etis tidak hanya sekedar prinsip-prinsip/nilai-nilai yang saling bersaing mendapatkan prioritas utama tapi juga bagaimana hubungan antar pribadi yang terlibat dalam dilema etis itu juga dipertimbangkan.
Sial, kok saya jadi teringat ke gender dan etika. Laki-laki kebanyakan memakai “prinsip hierarki” dalam pertimbangan etis, sementara perempuan sering memakai hubungan antar pribadi dalam pertimbangan etisnya.
Kesimpulan lain :
berarti Catshade itu CEWEK ya ?
salah ketik… sori dori mori…
yang ditebalin seharusnya diganti “dan”.
thanks…
Ah, itu hanya stereotip gender saja.
@ grace
Saya sendiri memandangnya seperti itu juga (i.e. kurang etis jika tidak memberi tahu si “pemilik modal”). Tapi mengenai “kenapa”-nya, nah ini yang saya rada bingung. ^^;
:::::
@ BudiTyas
Hmm, mungkin memang baiknya dikembalikan pada si orangtua. Kalau beliau nggak keberatan, ya, mungkin nggak masalah juga…
:::::
@ stash
Lha, kan udah saya tulis: masalah utamanya bukan seberapa besar untung yang didapat. Melainkan, apakah keuntungan tersebut didapat secara etis.
BTW, Rp. 225.000 itu lumayan lho. Bisa buat makan bertiga di Pronto.
:::::
@ hariadhi
Yup, ada “kerugian potensial” jika si ibu tak diberitahu (dan tidak dibagi bunganya juga).
Tapi, menariknya: jika si anak tidak punya ide untuk mendepositokan duit kos, maka “kerugian potensial” itu takkan pernah ada. Bunga itu bisa ada atas prakarsa si anak.
Jadi, sebenarnya ini agak aneh. Dibilang 50% ibu 50% anak bisa; tapi dibilang 100% anak juga bisa (i.e. atas prakarsanya mendepositokan uang ybs.) ^^;;
Yup, yup. =3
:::::
@ setanmipaselatan
Ya akhi, janganlah berbicara jika tidak ada ilmunya™. Sesungguhnya diam adalah hikmah™. (u_u)
*mengorek kenangan lama*
*dipentung* x(
:::::
@ Haris Suryanegara
Lha? Utilitarianisme bukannya termasuk bahasan etika juga? (o_0)”\
Setahu saya dia termasuk salah satu pendekatan di bidang ybs:
:::::
@ dnial
Hmm, benar juga. Jadi intinya, bagaimanapun si ibu akan rugi jika si anak telah mendepositokan uang tersebut.
*mikir*
Lha, iya. Tapi kasusnya di sini kan lebih ke arah “menitipkan”.
:::::
@ senoaji
Salam juga.
:::::
@ jensen99
Saya pikir juga begitu. ^^;
Wah, benar juga. Ini bisa dipertimbangkan sebagai jalan keluar.
:::::
@ goldfriend
Jadi kalau “suka-sama-suka”, nggak masalah dong?
jadi ingat kasus perkosaan
Mungkin ada hubungannya dengan “logika pria” dan “emosi wanita”? (o_0)”\
(CMIIW)
Dulunya saya sangka iya. Malah sempat saya panggil “mbak”. Eh, tahunya Pak Erander malah manggil pakai “Bu”… XD*mengetik dengan bahu terguncang2 di depan laptop*
:::::
@ Catshade
Tapi banyak yang tertipu, lho? ^^;;