Jika ada satu hal yang saya pelajari, dari jalannya Operation Cast Lead sejauh ini, maka itu adalah banyaknya fallacy yang bertaburan dalam pembelaan kedua belah pihak dan pendukungnya.
Oh well.
Saya pribadi tidak mendukung siapa-siapa, sebab saya bisa dibilang antipati membahas “Tanah Suci” yang diperebutkan (blame the history of Crusades for this). Bagi saya, kekeraskepalaan kedua pihak adalah sekadar perulangan dari yang sudah-sudah. Yang berbeda cuma aktornya. Jika dulu yang ribut kaum Sarasin dan Frank, maka yang sekarang bermasalah adalah Arab-Palestina dan Yahudi.
Dan tiap kali pula, isu yang sama selalu mengemuka: kedua pihak yang bertikai selalu seperti air dan minyak. Kalau baru diaduk, bercampur; ditunggu lama, berpisah lagi. Seolah-olah “Tanah Suci” tidak bisa ditinggali bersama dalam damai.
Which is hardly surprising. Kalau pasukan Raymund d’Aguiles bisa membantai 70.000 penduduk sipil di Aqsha hanya karena ogah hidup bersama, apa susahnya membayangkan HAMAS dan Israel bertukar roket di tahun baru. Benarlah kata pepatah lama, bahwasanya tiada hal yang baru di kolong langit.
Jadi, alih-alih ikut mengutuk atau bersimpati pada salah satu dari kedua pihak, lebih baik jika saya mengamati berbagai argumen fallacious yang bertebaran — dari kedua pihak — dan mencatatnya. Hitung-hitung menyibukkan diri, sekaligus (mudah-mudahan) bisa jadi pembelajaran untuk kita di masa depan.
Off we go…
- ed. note
Simpati saya untuk masyarakat sipil yang jadi korban. Jika dua gajah bertarung di padang rumput, janganlah peduli pada gajahnya saja. Kasihan pelanduk yang terjepit, rumput yang tumpas, dan pohon yang tercerabut di sekitarnya.
Cheers.
Contoh Fallacy #1: Pembelaan Pro-Palestina
1.1. Appeal to Motive
“Dubes Israel menulis tanggapan untuk demonstran di Indonesia. Tapi, karena yang membuat diplomat Israel, barang tentu isinya dibuat-buat membela Israel.”
Fallacy: Berita yang disampaikan oleh orang yang berkepentingan mungkin bias, tapi itu tidak mutlak membuat beritanya jadi salah/tidak layak didengar.
Ibaratnya jaksa bertanya pada keluarga terdakwa di pengadilan. Hanya karena saksi punya kepentingan (sebagai anggota keluarga), bukan berarti kesaksiannya harus ditolak.
1.2. Groupthink
“Sebagai muslim kita wajib mendukung HAMAS dan Palestina, sebab kita dan mereka saudara seiman.”
Fallacy: Mentang-mentang satu kelompok/suku/agama bukan berarti harus dibela begitu saja. Saddam Hussein juga beragama Islam, tapi dia diktator yang pernah merestui genocide suku Kurdi dengan gas beracun.
1.3. Poisoning The Well, sekaligus
1.4. Hasty Generalization
“Kaum Yahudi itu semuanya jahat. Mereka selalu berkonspirasi menjatuhkan kepentingan Islam.”
Fallacy: Menyebar prasangka. Padahal kenyataannya ada perorangan (dan pergerakan) Yahudi anti-Zionis yang mendukung Palestina.
Contoh: Rabbis for Human Rights, Not in Our Name, dan sisanya bisa Anda google sendiri.
Contoh Fallacy #2: Pembelaan Pro-Israel
2.1. Ignoratio Elenchi (a.k.a. Red Herring)
“Memang terdapat korban yang cukup banyak dalam operasi ini. Tetapi jumlah ini relatif kecil dibandingkan dengan wilayah konflik lain, misalnya Kosovo dan Afghanistan.”
(link pernyataan diplomat Israel, tetapi sudah dihapus. Meskipun begitu salinannya bisa Anda baca di google cache)
Fallacy: Mengalihkan dari isu sebenarnya. Betapapun banyaknya jumlah korban di Kosovo atau Afghanistan tidak mengubah kenyataan bahwa death toll selama operasi Cast Lead bisa dibilang besar.
2.2. Appeal to Pity
“Bertahun-tahun roket HAMAS ditembakkan ke kota-kota Israel. Maka layak bagi Israel untuk menuntut balas.”
Fallacy: Mengutamakan kesan tertindas. Seperti halnya wong cilik yang merasa boleh berbuat anarkis karena kebutuhannya tidak terpenuhi, pernyataan ini tidak lebih dari mengemis dispensasi lewat rasa kasihan.
Jatuhnya warga sipil tetaplah pelanggaran HAM, biarpun yang melakukannya mengklaim sebagai “korban”.
“Jatuhnya korban sipil Palestina memang menyedihkan. Tetapi orang juga harus ingat bahwa roket-roket HAMAS sudah banyak membunuh pemukim Israel.”
Fallacy: Kesalahan tetaplah kesalahan, biarpun orang lain juga melakukannya. Ini sama saja dengan orang yang berbuat korupsi, lalu mengatakan “Ah, biar saja! Banyak kok yang melakukan!”
2.4. Argumentum ad Antiquitatem [UPDATED]
“Sejak ribuan tahun yang lalu, tanah Palestina diberikan oleh Tuhan pada bangsa Israel. Kepercayaan ini sudah melekat bertahun-tahun, bahkan dicatat dalam kitab suci. Jadi tentulah sekarang Israel berhak atas tanah Palestina.”
Fallacy: Sesuatu yang memiliki akar tradisi dan kesejarahan yang kuat dan mendalam tidak otomatis bisa dijadikan pegangan. Di samping itu, fallacy di sini juga terjadi karena “menimbang suatu perkara masa kini dengan standar masa lalu”.
Jika tradisi menjadi pertimbangan utama, maka sama saja dengan menyatakan Belanda berhak melanjutkan kekuasaan selama berabad-abad di Indonesia (ingat: wilayah kita dulunya kerajaan-kerajaan kecil yang dipersatukan di bawah label “Hindia Belanda”). Kenyataannya tidak begitu. Selain tradisi dan sejarah, kita juga harus mempertimbangkan hal-hal lain seperti sosial, politik, kemanusiaan, dan sebagainya.
***
Yah, kurang lebih begitulah contoh-contohnya.
Jadi, mari kita bersama-sama menonton jalannya perang yang aneh ini. Sebab yang terpengaruh bukan hanya Israel dan HAMAS saja — melainkan juga para pendukung mereka di berbagai belahan dunia. Bahkan sampai dibuatkan komik-komiknya segala.
Saya sendiri cukup tergelitik melihat banyaknya sentimen berwujud fallacy, yang sudah dijelaskan di atas, oleh orang-orang di sekitar saya. Yang Pro-Palestina punya dalih; yang pro-Israel pun demikian. Hanya saja, terkadang dalih-dalih tersebut terkesan begitu bad-crafted… sedemikian hingga saya tak tahu harus geleng-geleng atau tertawa miris mendengarnya. ^^;
Oh well.
BTW, kalau dipikir-pikir, sebenarnya post ini cocok dimasukkan ke deplog-nya Geddoe.
Tapi biarlah, sudah terlanjur. ^^;
Sepertinya lebih mudah mengenali argumen yang fallacious daripada membangun argumen bersih dari fallacy.
Memang ini perang yang aneh… Hamas vs Israel yang jadi korban anak2 Gaza.
…susah memang, kalau soal perasaan.™
~btw, (selain karena etnis Arab)
~kenapa juga ‘Palestina’ dianggap sama dengan ‘Islam’ ya?
Tertawa tersedu-sedu?
Iya ya, padahal gak semuanya Islam
Kapan ya mereka berhenti berperang
Kasian yang jadi korbannya, mereka semua menggunakan warga sipil sebagai tameng
Hmm…setelah dibaca berulang kali, saya jadi berpikir, alasan apa yang seharusnya diajukan untuk membela entah Israel maupun Palestina tanpa terkena fallacy?
Kalau menganggap Israel adalah penjajah dan juga membunuh civilians, bisa dianggap valid untuk jadi Pro-Palestina?
Yang saya bingung adalah gimana caranya jadi Pro-Israel, karena AFAIK, tapi CMIIW, mentok-mentoknya alasan ada di sejarah dan kitab suci. Argumentum ad Antiquitatem?
Fallacy pro Palestina: 3
Fallacy pro Israel: 4
Tetap masih lebih banyak Israel, jadi Israel yang salah! Negara zionis itu memang biadab! Dasar wataknya orang Yahudi dari dulu begitu! Makanya kita sebagai saudara seiman harus mendukung Palestina!
JIHAAAD!!!
dimana-mana klo perang rakyat sipil yg jd korban
mungkin emang sampe kiamat sulit utk mendamaikan israel ama palestina.
jalan keluarnya israel kudu dibuatin negara sendiri yg jauh2 ama palestina kali ^^
*kecewa yang dibahas cuma 7 biji*
*diusir*
.
***D’ooh, lama banget sayah ndak maen sinih…..***
Sayah kok setuju sama pendapat situh. Saking
setujunyasepemikiran, sayah sampe ndak mau mbikin post soal Palestina – Israel inih.Kemelut inih udah ada semenjak sayah ( juga situh ) belom lahir. jadi untuk apa mesti ikut ribut ???
Peperangan mereka sama anehnya dengan Mogadishu, Congo, dan beberapa belahan dunia laen.
Untuk serangan Israel saat inih, sayah cuman berkomentar bahwa, inih cuman upaya Israel “mengurangi” jumlah manusia Palestina sampe dengan “batas ideal” nya.
Kalo “batas ideal” yang diinginkan udah tercapai, maka Israel akan menghentikan serangannya.
Ndak percaya ???
Liat ajah….
Lumayanlah.
*diusir juga*
Dik sora, apa motif anda memuat tulisan seperti ini?
Selamat, anda telah meraih traffic! 8)
How to make better argument then?
This.
Fallacy pro Palestina: 3
Fallacy pro Israel: 4
Tetap masih lebih banyak Israel, jadi Israel lebih layak dibela! Hamas itu memang biadab! Mereka gak mau nerima cuma Fatah yang diakui Israel! Makanya Hamas harus terus ditekan tuk cepat menyerah supaya rakyat Gaza selamat!
SERANGGG!!!
@ dnial (1)
Mau gimana lagi? ^^;
:::::
@ yud1
Heh, heh…
Kalau dari sejarahnya sih, CMIIW, itu karena sejarah Palestina lebih banyak di bawah kekuasaan Islam sejak Islam muncul. Rinciannya: sejak zaman Umar bin Khaththab (637-1099 M), disela Tentara Salib I (1099-1187 M), dan tahun 1187 di-capture oleh Saladin. Setelah itu tetap dalam kekuasaan Islam sampai abad 20 (pemerintahan Mamluk, Ottoman, Mesir).
Jadi, sepanjang 15 abad eksistensi Islam di muka bumi, 12 abad-nya sempat menguasai Palestina. Mungkin asal stereotipnya dari situ. ^^;
:::::
@ lambrtz (1)
“Huhuhuhu… ahihihi… ahahaha…”
Begitu?
*ditimpuk*
:::::
@ Rukia
Coba mbak ini cari tahu tentang sejarah panjang Perang Salib, kalau bisa dari buku yang berbahasa Indonesia. Dijamin perasaan tersebut akan berlipat ganda.
:::::
@ lambrtz (2)
Sebenarnya, dari semua pro dan kontra tentang Israel-Palestina, masalah yang dikritik dunia internasional cuma satu: kemanusiaan. Ini yang orang sering lupa.
Kedua pihak punya masalah kemanusiaan. Israel merasa punya tanah, HAMAS merasa punya. Mereka berdua sama-sama punya korban sipil. Nggak ada guna mengalihkan isu ke solidaritas umat, genosida di Kosovo, dan sebagainya — sebab masalah utamanya bukan itu.
Jadi, kalau mau bikin pembelaan yang bersih dari fallacy, buatlah yang membidik tema kemanusiaan. Gampang toh?
Bisa saja. Syaratnya, premis “Israel adalah penjajah dan membunuh civilians” itu harus kokoh. Kalau premisnya nggak kokoh (e.g. berlandaskan prasangka, tidak sesuai fakta, dsb.), maka itu sama saja dengan fallacy.
Makanya saya malas membahas “Tanah Suci”.
Dari zaman perang Salib sampai sekarang, alasan untuk menduduki Palestina (dan Yerusalem) lebih sering berdasar pada kitab suci. Sementara yang berebut biasanya kaum-kaum yang berbeda agama (Islam, Kristen, Yahudi).
Ini nggak membantu apa-apa. Selama premisnya nggak disetujui semua pihak, maka nggak akan ada titik temu. Ibaratnya saya mengatakan pada orang Kristen:
Gak bakal nyambung. Masalahnya definisi kita tentang “yang suci” itu berbeda.
:::::
@ Amed
Hei, itu di atas perbandingannya 4:4. Baca lagi yang benar!
Memang benar Anda ini sudah dibutakan oleh hawa nafsu™. (u_u)
Janganlah berbicara jika tidak ada ilmunya, sesungguhnya diam adalah hikmah™.
:::::
@ toim
Saya pikir juga begitu. Masalahnya, mereka itu nggak mau dipisahin. ^^;
:::::
@ K. geddoe (1)
Delapan, kali. Hasty Generalization sama Poisoning the Well kan digabung di #1.3. ^^;
BTW, tertarik menambahkan?
:::::
@ Mbelgedez™
Dan berapakah nilai batas ideal itu?
Nol?
:::::
@ gentole | Catshade
*tabur garam*
:::::
@ dnial (2)
Seperti yang saya bilang ke mas lambrtz, masalah utama di sini adalah kemanusiaan. Nggak usahlah dibawa-bawa ke area lain.
Israel dan HAMAS sejauh ini lebih mementingkan “bagaimana menjustifikasi kekerasan”, bukannya “bagaimana menghentikan kekerasan”. Upaya justifikasi itu yang akhirnya berbuah fallacy. Mau dibandingin sama Kosovo kek, dijadikan bahan solidaritas kek, atau lain sebagainya, itu tak mengubah kenyataan bahwa masalah utamanya tetap berlangsung.
Jadi, kalau mau membuat argumen yang lebih baik, orang harus fokus pada masalah utamanya. Kemanusiaan. Seluruh dunia memprotes soal korban sipil, tapi kedua pihak justru menjustifikasi tindakan masing-masing. Topik utama pun terlupakan.
Bukankah ini yang namanya fallacy?
:::::
@ K. geddoe (2)
Huss, pitnah™ itu!
@ jensen99
Hei, rasio yang sebenarnya itu 4:4!
Fallacy Pro-Palestina yang bagian #1.3 ada dua, yakni hasty generalization dan poisoning the well. Baca lagi yang benar!
*digebuk*
sip, kita coba lepaskan atribut agama dan kita pake isu kemanusiaan…
pas juga tuh dikasih contoh spserti keadaan negara Indonesia pas jaman penjajahan…
1. Kalau anda hidup di masa penjajahan belanda saat itu, relakah anda duduk bersama belanda (yg secara de facto adalah pendatang dan menjajah) berunding untuk membagi rata dengan belanda daerah dimana anda dan nenek moyang anda lahir? (artinya : memberikan daerah anda kepada belanda)
2. Kira-kira apa ya alasan para pendahulu kita (yang belakangan kita sebut sebagai pahlawan) membela mati2an tanah airnya?
3. Hamas menang dalam pemilu, tp apa reaksi israel dan negara barat (yg ktanya paling terdepan dalam hal penegakan demokrasi)? mereka menolak kemenangan pemilu hamas. blokade, boikot dan embargo malah yang diterima rakyat palestina(siapa hamas dan kenapa sampai memengkan pemilu? baca ulasan Terry lacey berikut http://gatra.com/artikel.php?id=121931 )
So, atas dasar kemanusiaan(pun) seharusnya orang masih merasa manusia kemungkinan besar berpihak kepada palestina
Salam
Berarti sama fallacy-nya juga dengan menyatakan Republik Indonesia itu harga mati dari Sabang sampai Merauke karena selebar itulah Hindia Belanda dulu.
Sial, padahal saya mau nulis juga dari sudut pandang fallacy, eh…. sudah diembat duluan.
*dasar internet lemot di papua*
Kayaknya yang Antiquitatem itu nggak terlalu pas dengan contohnya deh….
Atau mungkin pemilihan katanya dan arahnya yang membuatnya jadi tidak kelihatan sebagai fallacy. Kata-kata “mendiami wilayah Palestina” dan “berhak kembali kesana” apa nggak mengesankan bahwa itu bukan tradisi yang terjadi selama berabad-abad ?
Ada “sesuatu” yang hilang antara ke dua premis itu yang membuat faktor kesejarahan dan tradisi yang dijadikan kebenaran nggak terlalu kelihatan.
@ Agustian
Saya kok nangkapnya contoh Sora adalah kalau Belanda datang lagi dan mengklaim wilayah Indonesia sekarang karena pernah mendudukinya; & bukan mencontohkan Indonesia di jaman penjajahan?
CMIIW
@ Agustian
Mohon maaf, tapi, mengenai keberpihakan pada Palestina (HAMAS) atau Israel, saya tak peduli. Silakan kalau mau memutuskan membela yang mana — yang penting logikanya benar.
Salam juga.
:::::
@ jensen99
Tentu saja. Itu fallacy, bukan? Masa menimbang perkara masa kini semata dengan berkaca pada masa lalu?
Sebenarnya yang saya maksud memang begitu. Tapi kelihatannya contoh soal ad antiquitatem bakal di-update (menyusul masukan dari mas Fertob). ^^;
:::::
@ goldfriend
Benar juga. Kalau dipikir-pikir, itu kesannya seperti tradisi yang ‘meloncat’, jadi tidak benar-benar ad antiquitatem. Saya pikirkan dulu untuk update-nya…
^
Soal ad antiquitatem sudah saya update. Ilustrasi tentang sejarah Belanda di Indonesia juga saya perbaiki sedikit — jadi, yang tadinya mengacu pada teks sebelumnya, sekarang sudah tak berlaku lagi. Silakan merujuk ke teks yang baru.
Kenapa kita tidak dukung israel? ayo kenapa?
http://yahudindonesia.wordpress.com/
Memang saddam husein dan bangsa palestina sama2 tertindas ya ..
Lebih ekstrim lagi, kalau kita mengklaim bahwa Malaysia dan Singapura sampai Thailand ditambah Papua Nugini adalah wilayah kita karena kerajaan Majapahit membentang sampai sana.
@ jahudindonesia
Kok nanya saya. Memangnya saya peduli? :-/
[/badass]
:::::
@ Herianto
Kalau argumennya memang karena “Israel menindas” sih nggak masalah.
Masalahnya kalau orang menggebu mendukung Palestina hanya karena sentimen “sesama muslim”. Ini yang berpotensi jadi solidaritas buta.
Saya sendiri OK saja kalau argumen mendukung Palestina dengan alasan kemanusiaan. Tetapi ‘kan banyak yang kampanye dengan “karena saudara kita sesama muslim…!”
Intinya sih, jangan sampai jadi semacam “right or wrong my country, right or wrong my religion”. Nggak beda dengan perang SARA kalau begitu.
:::::
@ dnial
Bagaimana kalau begini:
*digeplak* xP
@dnial
Kerajaan Majapahit bukannya kerajaan Jawa? Jadi yang berhak secara menguasai seluruhnya orang Jawa donk, bukan Sunda, Melayu, dll.
Pantesan orang Jawa merajalela di bumi Indonesia ini
@jahudiindonesia
nyubi yah mas? lg promosi yah mas. saya baca tulisan situ koq seakan-akan tulisan (pendukung) yahudi lokal indon yang putus asa nggak punya duit buat tinggal ditanah suci sekaligus nggak punya kemampuan berbahasa hebrew…
@sora….(aoi????)
Pengikut teori “manusia turunan kera” lebih berhak mengklaim bumi ini, karena ancestor mereka lebih umuran dari sejarah nabi adam
Satu lagi, contohnya kurang banyak tuh!! Harusnya 10:10 termasuk kemunafikan negara barat yang sok demokratis tp nggak mau mengakui kemenangan pemilu hamas malah mendukung penuh sistem kerajaan saudi.
@ jahudiindonesia
Saya dukung kok! Jauh sebelum kamu ngeblog.
Kalo yang punya blog ini sih emang netral, dan mungkin hanya bakal pro Israel kalo mereka pake Gundam.
@ dnial
Orang jawa nginjek sini jaman Hayam Wuruk? Hoax!!
@ Sora
Agak sedikit “mengezutkan” juga bahwa selogis apapun pola pikir dalam hal lain, ternyata dalam hal tertentu bisa antipati. Apa logika mati dalam urusan Palestina? Sepertinya urusan di sana itu tidak lebih rumit dari Teori Evolusi, jika saja bukan kitab suci dicatut sebagai pembenaran hak milik
Ya. Ini perulangan, seperti perulangan evolusi vs kreasi. Bedanya dulu yang ribut cuma pendeta (mewakili kalangan agama langit) vs ilmuwan (mewakili agama pengetahuan), di abad 20-21 yang ribut sudah lebih majemuk. Mirip, seperti cermin, dengan kasus di Palestina itu.
Aneh, dalam kasus Palestina yang selalu ditekankan sebagai “persamaan” adalah bertukar roket itu. Pertukaran roket itu cuma satu scene kecil dalam adegan perseteruan yang lebih besar, Sora. Fakta Israel memprovokasi berkali-kali dalam wilayah Palestina seolah dilupakan atau termaafkan cuma karena “pertukaran roket” yang mana Hamas melakukannya sebagai pembalasan. Ini masuk dosa besar fallacy yang mana, dengan menyamakan pertukaran roket lalu sepertinya kedua pihak sama salahnya?
Idem. Saya juga bersimpati pada masyarakat sipil yang jadi korban. Apa itu Palestina atau Yahudi.
Now, apa tanggapan Sora terhadap warga Israel yang gembira menonton pembantaian di Gaza ? Mereka sipil, tapi memberi dukungan moral dan bergembira atas bom-bom yang jatuh. Mereka benar karena selama ini bisa beralasan “diroket”? Lalu yang di Palestina tidak benar karena “meroket”?
Itu berita dari tulisan muslim tapi… tentu tidak bisa ditolak mentah2 bukan?
*lirik fallacy Appeal To Motive*
Menyamakan HAMAS dengan Saddam Hussein?
Apa itu bukan penarikan kesimpulan yang prematur?
Ya memang, mendukung HAMAS seharusnya tidak karena alasan yang agama saja.
BTW, saya melihat dukungan berdasar agama ini tidak melulu salah. Jika agama cuma urusan ritual, agama seperti itu mesti dibuang ke tempat sampah. Motif agama ini karena ada tindakan yang juga berbau agama. Mulai dari klaim “tanah perjanjian yang diiming-imingkan si Tuhan” sampai urusan melarang shalat di mesjid Aqsa. Apa-apaan itu?
“HAMAS itu semua teroris, karena mereka tidak menerima Israel. Mereka selalu keras kepala demi kepentingan Islam”.
Now, contoh diatas itu juga mewakili dosa fallacy berikutnya yang sering digunakan. Melupakan fakta bahwa Hamas, meski dicap teroris, sudah patuh secara demokratis ikut pemilu, sah, menang dan didukung warga Palestina.
Semoga nyonya Hillary dan Barrack
OzawaObama membaca fallacy ini. Tzipi Livni juga cuek berkata jatuhnya korban adalah wajarFallacy berikutnya saya setuju. Benar…. itu tidak bisa jadi alasan. But the last one:
Ini dia!
Saya selalu terbentur dengan alasan yang satu ini. Ada beragam agama dan kitab di bumi, tapi satu kitab dijadikan pembenaran utk sekeping tanah. Lalu… lalu… yang beragama lain tidak boleh pakai kitab suci dan diserukan, “Ini bukan masalah agama!”
Sangat adil sekali
Ah untuk ini, seperti setiap kasus dimana muslim jadi terdakwa, saya memilih menuruti imbauan yang biasa dipakai, “Lihatlah dari kacamata agnostik, atheis, pluralisme… etc”. Pokoknya yang Tuhan dan Kitab disimpan di laci atau jika perlu di buang ke toilet. Itu yang saya inginkan. Sehingga, klaim dengan the so-called God, tidak bisa dijadikan ukuran.
Bukan saja karena menimbang perkara ini dengan masa lalu, tapi juga disebabkan bagaiman penganut agama menjadikan kitab selalu jadi rujukan segala zaman. Dan itu tidak akan ada titik temu, apalagi utk sejarah.
…. aduhai tag-nya jadi kaco….
he..he..yasud, bicara ttg kemanusiaan aja…..sesuai yg disaranin yg empunya nih blog (so, yg kl yg mpunya bilang gak peduli, tetep aja kok berpihak, palng tdk ke kemanusiaan nya itu sendiri..IMHO)
israel datang dan menjajah penduduk setempat,
kalo dibilang palestina belon ada pada saat awal dijajah, endonesah jg belon ada tuh pas saat dijajah…
penduduk setempat melawan dengan berbagai aksinya..wajar toh, dijajah gitu lho….. ember ada yg mau?
terlepas apapun alasan mereka menjajah, mo londo atopun israel….yg jelas yg dijajah tertindas…
sbnarnya bangsa endonesa berhutang lho ma rakyat palestina, gak percaya?liat aja di blog koe…
ini diaminkan oleh bung Hatta dll…
salam perdamaian
dek sora, kalo artikel ini masuk fallacy nomer berapa ya?
*maap ga sempet ngecek, lagi sibuk nge-facebook*
@ yusahrizal
Betul juga.
Untungnya mereka nggak sefanatik itu, sehingga yang menolak teori tsb. pun masih boleh tinggal di bumi.
Lha, saya juga maunya sebanyak mungkin… tapi ruang dan waktunya kan terbatas. ^^;
Kalau dibikin 10:10, bakal sepanjang apa postingan ini?
:::::
@ jensen99
*terpana*
Sebentar, ini menarik. Saya terbayang bahwa nama unitnya IDF-X01 Ezekiel Gundam.
*ditabok*
@ alex©
Tag-nya sudah dibetulkan.
Tapi, sebelum menanggapi komen, ada dua hal yang perlu ditekankan dulu:
Pertama, walaupun saya antipati pada konfliknya, masalah kemanusiaan tetap jadi concern saya. Indiferensi saya pada konflik Palestina-Israel bukan berarti saya tidak peduli pada korban sipil yang jatuh — melainkan sekadar penolakan untuk mendukung salah satu pihak.
Kedua, bicara konflik kemanusiaan, selalu ada upaya misinformasi dan disinformasi. Apa yang disampaikan pada media, dan dicatat sejarah, belum tentu sesuai dengan fakta lapangan. Who are we to judge based on such news? Dengan pertimbangan tersebut, maka bersikap netral adalah pendekatan yang viable untuk saya.
(analogi: tetangga saya dan istrinya bertengkar, sementara saya menilai dari gosip RT-RW. truthiness in question)
Sekarang waktunya menanggapi…
Bukannya logika mati. Alasannya cuma satu: malas.
Sejak dulu, dan hingga sekarang, orang-orang yang berebut tanah Palestina tak belajar dari sejarah. Sudah berapa abad berlalu sejak 1095? Sembilan lewat. Dan selama itu juga, pihak yang bertikai mencibir “yang lain” tidak layak tinggal di tanah suci. Jangan kira di zaman Saladin tak ada prasangka rasis — biarpun dia sultan yang terkenal bijak, masyarakatnya tidak otomatis jadi sama bijaknya.
(referensi: “Perang Salib: Sudut Pandang Islam” oleh Carole Hillenbrand)
Berulangkali pecah perang, puluhan ribu tewas di satu kota, dan mereka tidak kunjung mau belajar dari situ. Rasisme dan sentimen agama selalu meletup. Itu yang memicu antipati saya pada setiap bahasan “Tanah Suci”.
Kurang lebih seperti ucapan Nyai Ontosoroh: “Manusia dari dulu sama saja. Yang berbeda cuma alatnya.” (-_-)
Perkara Kreasi-Evolusi tidak rumit jika orang mau berpikiran terbuka dan *bersedia* mencari solusi kompromi, semisal theistic evolution. Empat dari lima penggagas modern evolutionary synthesis adalah teis/mistik: Fischer, Wright, Haldane, Dobzhansky. Hanya Ernst Mayr yang berhaluan ateis.
Perkara Israel-Palestina tidak rumit jika orang berpikiran terbuka dan *bersedia* mencari solusi kompromi, semisal two-state solution atau salah satunya mengalah. Kata *bersedia* itu yang penting.
Duh, itu kan pars prototo. Jangan diambil face value, dong. ^^;
Seperti yang sudah saya indikasikan di post dan komen-komen, ada satu topik yang sering terabaikan: kemanusiaan. Di sini kedua pihak punya salahnya masing-masing.
Israel memaksakan datang ke Palestina, dan bersikap hostile pada suku Arab (see also: “Hebron Journal” by Art Gish). HAMAS menanggapi dengan bom bunuh diri dan roket di sarana publik; menewaskan rakyat sipil.
— (skor antikemanusiaan: Israel 1 – 1 HAMAS) –
Israel beralasan dengan basis kitab suci yang tidak disepakati kedua pihak (masyarakat Palestina mayoritas muslim). HAMAS mengklaim bahwa memerangi Israel adalah kehendak Allah, bahkan menyitir hadis “Yahudi akan dihabisi dalam perang akhir zaman”. (see also: Piagam HAMAS)
– (skor antikemanusiaan: Israel 2 – 2 HAMAS) –
Israel memutuskan perang dengan HAMAS, HAMAS menyanggupi. Rakyat sipil tidak terevakuasi; mereka pun jadi korban.
– (skor antikemanusiaan: Israel 3 – 3 HAMAS) –
Dan masih bisa ditambahkan lagi.
* * *
Lalu ada pertanyaan: ini salahnya di mana?
Salahnya adalah, ketika seluruh dunia memprotes dengan alasan kemanusiaan, kedua belah pihak justru menjustifikasi kekerasan yang mereka lakukan. Ini red herring. Ditanya tentang korban sipil, larinya malah berkata “ini masalah IPOLEKSOSBUDHANKAM“, ditambah sejarah, ditambah kitab suci segala.
Tapi mereka tetap tidak memuaskan komplain kemanusiaan dari seluruh dunia. Itu yang namanya red herring. Fallacy pengalihan perhatian.
Nggak kaget. Lha wong saya udah baca Hebron Journal, kok. Rasisme kayak begitu sih memang sudah tahunan.
Soal appeal to motive, tentu bisa terjadi kalau orang melihat bahwa penyampainya media Islam. Tapi itu bukan alasan yang bagus untuk men-dismiss begitu saja.
Lha… bukan begitu. Maksud saya adalah, mendukung HAMAS semata karena mereka Islam sama saja dengan mendukung Saddam Hussein semata karena dia Islam. Padahal belum tentu “Orang Islam” yang dibela itu baik.
Saya sendiri tidak bilang bahwa HAMAS itu comparable dengan Saddam. Tetapi, kalau berangkatnya dari “sesama muslim” begitu saja, ada kemungkinan orang terbawa solidaritas buta. Padahal keadaan di lapangan juga harus dipertimbangkan.
Tentu saja. Tapi itu tidak membuat generalisasi “Yahudi = jahat” jadi benar.
Kalau generalisasi “Yahudi = jahat” jadi justifiable hanya karena sentimen “HAMAS = teroris”, dunia bakal kacau. Mau dibawa ke mana kemanusiaan kita?
(side note: ini mengingatkan saya pada ucapan Gandhi, “an eye for an eye makes the whole world blind”)
Seperti reply saya untuk mas lambrtz sebelumnya. Ini nggak beda dengan kalau saya berdakwah pada orang Kristen sebagai berikut:
Nggak nyambung. Lha wong definisi “suci” saja belum sepakat, kok dipaksa.
Yup, yup. =3
Mau gimana lagi?
@ Hamzah
Begitulah.
Kalau masnya teliti baca tulisan di atas, juga komentar-komentar saya, akan terlihat bahwa saya sebenarnya concern pada masalah kemanusiaan di sana. Tapi, soal memihak siapa antara Israel dan HAMAS… wah, mohon maaf.
Alasannya sudah saya jelaskan di reply untuk mas alex© di atas. Mereka sebenarnya bisa belajar dari sejarah, tapi tidak mau. Itu sebabnya saya tak respek pada mereka.
Dan, sebagaimana sudah saya jelaskan pula di reply tersebut: kedua pihak sama-sama punya ‘dosa’ kemanusiaan. Nggak ada yang benar-benar bersih. So sorry, I’m not going to side. Biarlah saya serahkan pada kebijaksanaan kedua pihak saja.
Salam perdamaian juga.
:::::
@ rani
*baca link*
………
Satu kalimat aja lah: logikanya loncat. (-_-)
Lagipula di US, paguyuban pelajar Yahudi itu nggak aneh. Sama saja dengan “Lingkar Mahasiswa Sunda”, “Unit Mahasiswa Padang”, dan lain sebagainya di Indonesia. Heck, there are even plenty of them.
Mau Alpha Epsilon Pi, Zeta Beta Tau, Sigma Alpha Mu, semuanya ya paguyuban mahasiswa. Dan AFAIK mahasiswa Yahudi di US memang dihimbau untuk mengikut grup semacam itu — jadi gak otomatis berhubungan dengan “mendanai Israel”.
(or so I read in this book)
*ngomel-ngomel* =_=!
GUNDAM? usul menarik. Yang dibawah ini fallacy versi kesekian.
Isu yang beredar:
Zionis Israel membangun terowongan bawah tanah modern dengan maksud misterius. Pihak Palestina menduga tujuannya adalah merubuhkan sebuah masjid.
Kenyataan yang terjadi:
Zionis Israel sedang membangun kota modern bawah tanah yang bernama Neo-Jerusalem3 sekaligus mengembangkan proyek robot organik yang diberi nama proyek AZAZEL.
Sudah 2 versi robot organik AZAZEL yang dibuat yaitu AZAZEL unit 00 dan AZAZEL unit 01. Karena pilot AZA-00 sudah direkrut, masih ada lowongan buat pilot AZA-01. Kabarnya pihak mosad sedang mencari seorang anak lelaki bernama shinji buat menjadi pilot (diramalkan dalam kitab talmud yang terjemahkan sebebas-bebasnya oleh perkumpulan rabbi zionis).
Sayang engkau bernama sora, andaikan shinji….ini blog bakalan terbengkalai
Zankoku na tenshi no you ni
Shounen yo shinwa ni nare……………………………….
(Bagaikan malaikat yang bengis, sang pemuda menjadi legenda…………………)
^
Yang jadi pilotnya AZA-00 sama 02 cantik nggak? Kalau iya, saya mau jadi pilotnya 01.
Konon katanya pilot 02 blasteran Jepang-Jerman*digebukin* xP
Yang 00 buat saya! Pokoknya™ buat saya!!!!
Pilot AZA-00 nggak tau tuh siapa namanya.
Tapi pilot AZA-02 udah ada dan betulan blasteran (hanya saja blasteran Jepang-Perancis)
Rumor mengatakan namanya Maria Ozawa….wakaakakak
NB. Kalo situ ganti profesi jd pilot, ini blog mau dikemanain??
*Dipecut sama Maria…. kimochi ii….*
lambrtz jadi pilot AZA-03 saja…
Aza? Aza aza fighting?
@ yusahrizal | lambrtz | Catshade
Hai orang-orang yang berteman, berhentilah kamu menggosip unit Azazelion™ milik Israel. Sesungguhnya kamu terjebak dalam kesesatan yang nyata™, yakni fallacy wishful thinking. (u_u)
*ditembak misil*
:::::
@ gentole
Nggyh…
dadi orang aza-aza fighting…@ sora9n
Ah, terimakasih. Memang sialan itu rokok kemarin ditangan… bikin lupa nutup tag
*carikambinghitam.com*
Saya setuju pada masalah kemanusiaannya. Sejauh ini pun, masalah kemanusiaan masih mendominasi pikiran saya pada perang di Gaza ini, meski… sebagai muslim bukannya saya tak tergelitik dengan hal-hal berbau agama yang terjadi di sana. Mulai dari mesjid yang dibom dengan tuduhan sebagai gudang senjata, muslim dilarang shalat di Masjidil Aqsa, sampai kuburan pun diroket oleh artileri Israel. Itu terasa bau agamanya bagi saya.
Mana buktinya bahwa mesjid itu gudang senjata? Apa urusannya orang dilarang shalat? Ah… lagi2 justifikasi politik dan militer yang keluar, bukan?
*jadi ingat komen seseorang di blog Geddoe…*
Lha… itu sebabnya saya bertanya juga, dalam kasus seperti Teori Evolusi: sevalid apa kita utk berkesimpulan bahwa semestinya teori itu benar?
FYI, saya bukan penentang teori itu, tapi saya tidak pernah suka dengan kefanatikan dalam bentuk apapun, apakah sains atau agama
Nah, dalam hal sejarah dan politik juga demikian. Meski media dan informasi akan selalu bias, setidaknya dengan apa yang dikonsumsi kita bisa melihat yang mana yang lebih mendekati fakta. Sejumlah fakta yang dieliminasi yang terlihat oleh saya, dalam hal “Hei, muslim dan kristen, ini bukan perang agama!” adalah kenyataan bahwa eksistensi negara Israel dan pencaplokan mereka didasarkan pada klaim sekeping tanah perjanjian dengan sosok anonymous bernama Tuhan. Lalu… lalu… jika dengan basis agama muslim dan kristen (bahkan yahudi yang anti zionis) di Palestina melawan, dengan asumsi bahwa zionisme adalah agama tersendiri, apakah itu menjadi salah? Banyak hal yang bisa didefinisikan agama, termasuk itu tadi: sains, teknologi, filsafat atau sebentuk zionisme itu pula.
Sejujurnya saya di posisi mendukung Hamas, meski saya tak suka dengan 3 korban sipil di pihak Israel.
Saya sungguh tak bisa netral disaat angka-angka sendiri bicara bahwa hampir 1000 tewas di Gaza dengan 1/3nya anak-anak, sementara di Israel 13 tewas dengan 10 diantaranya serdadu a.k.a kombatan.
Bersikap netral utk tidak memihak, tidak masalah. Toh saya senang bahwa masih ada sisi kemanusiaan yang bisa dipihaki
Meski jika melihat sisi kemanusiaannya dalam kasus ini justru Palestina lebih berhak utk dibelaAnaloginya kurang tepat, lho. Karena ada opsi utk melihat sendiri pertengkaran tersebut di depan mata atau dari sumber terdekat. Ini sama seperti saya cuma percaya atau tidak percaya dengan suatu teori cuma karena membaca di buku. Ada riset sekecil apapun yang (semestinya) bisa dilakukan. Tapi ya itu… tak perlu ada paksaan
Saya juga nyaris tidak peduli, seperti komen saya di blog Geddoe, pada Israel-Palestina ini jika bukan karena kemanusiaan yang babak-belur dihajar di sana. Dan malas… juga…
Malas, karena justifikasi utk bertahan karena panduan agama pasti akan selalu berhadapan dengan isu-isu yang menuntut agar agama jangan dibawa-bawa, sementara fakta bahwa ada sentimen agama dari satu pihak utk menekan pihak lain, dihilangkan disulap menjadi label-label demokrasi, terorisme, etc… etc…
Ada beda antara mencibir dan mengusir.
Sepanjang yang saya tahu, warga Palestina – apakah muslim atau nasrani – tidak pernah mengusir warga yahudi sebelumnya.
Ya, ya… saya juga tahu itu. Maimonides sendiri yang hidup di era yang sama juga, sebijak apapun ia sebagai filsuf, sedikit rasis. Tapi ada satu hal yang membuat rasisme saat itu cuma jadi urusan seupil: adanya entitas yang membuat warganya merasa Palestina milik bersama. Tanpa negara, apalagi the so-called Knesset.
Ya, berulangkali. Dan aksi seperti ini juga terjadi setiap Israel mau Pemilu raya. Sebuah kebetulan?
Masalah antipati…. sebaiknya jangan terlalu antipati, Sora. Setidaknya lihatlah pada kemanusiaannya, apakah itu pada Israel, Palestina, Darfur atau Burma
Nyai Ontosoroh semestinya juga mengikuti tumbuh-padamnya radikalisme yang tidak melulu monopoli Islam saja. Dan juga perseteruan hal-hal lain antara sains dan agama. Sejarah selalu berulang…
Ah… ini saya suka. Terimakasih.
Wah, saya tidak paham apa itu pars prototo. Tapi yang saya lihat bukankah ada fenomena demikian? Jadi, kalo seorang Mohammad Toha di Bandung Selatan berjibaku meledakkan daerah kolonial Belanda, maka ia sama jahatnya dengan Belanda yang mengebom kawasan Bandung lain di zaman perang, misalnya?
Benar, kemanusiaan. Tapi dan tapi… reaksi itu timbulnya darimana mesti dipertimbangkan. Aksi dari Israel yang datang dan mencaplok itu menimbulkan resistensi, apa lalu Hamas salah?
Takaran brutalitasnya apa sama, Sora?
Are you sure? Angka-angka statistik saja bicara bahwa ada yang “lebih berat” pelanggaran kemanusiaannya. Oke, Hamas seret ke Mahkamah Internasional, tapi Israel juga mesti diseret
Again: Aksi pertama menjadi sebab. Saya sudah liat Piagam HAMAS sejak lama. Dan AFAIK, Yahudi yang mereka maksud adalah Yahudi Zionis, bukan Yahudi pada umumnya.
Lho? Pembelaan diri itu, mau disanggupi atau tidak, adalah opsi bagi Hamas ketika kawasannya dimana ia memenangkan pemilu dengan sah diserang dgn brutal. Bagaimana akan terevakuasi, jika hak utk menentukan bisa dievakuasi atau tidak ada di tangan Israel? Apa itu jadi kesalahan HAMAS?
Lihatlah berita tentang berondongan Israel pada bantuan kemanusiaan atau bagaimana mereka mencegat kapal bantuan yang masuk, Sora. Skor mestinya 5-3
Sisanya saya tanggapi nanti. Barusan mati lampu ini. Maklum… Perusahaan Lilin Negara di sudut Aceh
*save as*
sora….bisa rikuwes ?
benernya sudah banyak contoh2 ttg falasi. dan posting ini sangat to the poin dan mudah dimengerti
dan akan lbh komlit lg utk pelajaran berdiskusi, jika sora mau menyertakan contoh2 kalimat/argumen yg benar/bukan falasi.
tolong bgt yaaaaa….^^
tengkiuuuhhh…..
@ alex©
Saya pribadi memandang itu sebagai capitalization isu agama dalam perang.
Sekaligus juga untuk provokasi pihak Arab-Palestina… (malah kalau beruntung sekalian provokasi Liga Arab
)
Mengapa, sebab dengan mengulik isu keagamaan, lebih mudah untuk membentuk angry mob. Dan yang namanya angry mob itu mudah sekali untuk dimanipulasi.
Contoh gampangnya: HAMAS, diprovokasi, tembak roket + bom bunuh diri ke penduduk sipil. Israel pun mendapat legitimasi “jadi korban”.
IMHO, itu salah satu manfaat yang didapat dari memainkan isu agama. Orang jadi lebih gelap mata dan tidak rasional, dan dari situ diharapkan berbuat tindakan yang — pada gilirannya — bisa dieksploitasi oleh Israel.
(CMIIW, though)
Ini mengingatkan saya pada WMD-nya Bush di Irak.
Soal itu, saya no comment lah. ^^;;
Walaupun saya juga mau menambahkan, bahwasanya Renaisans dan Golden Age Islam itu tidak muncul out of war…
Untuk ilmu alam, kasusnya agak beda. Orang selalu bisa menganalisis dan mereplikasi hasil penelitian orang lain. Alhasil, ketergantungan pada jejak-rekam sejarah dan misinformasi jadi lebih rendah. (o_0)”\
Misalnya orang Amerika bisa melakukan percobaan lalat buah untuk membuktikan spesiasi. Orang Indonesia yang penasaran juga bisa; dia tidak perlu tergantung pada informasi dan pendapat mainstream.
Alfred Wallace sendiri merumuskan kaidah evolusi hampir bersamaan dengan Darwin. Hasil penelitiannya mengantarkan pada petunjuk evolusi juga… padahal Darwin di Galapagos, dia meneliti di Halmahera. Hanya saja Darwin lebih terkenal karena bukunya selesai duluan.
Jadi, dalam ilmu alam orang bisa mencapai “kebenaran” dengan caranya sendiri. Tidak mesti bergantung pada catatan/informasi yang sudah ada. Nah, ini bedanya dengan tinjauan sejarah dan sosial-politik.
Betul. Tapi ingat: dalam perang, Psy-War bisa jadi sangat elaboratif. Dan terkadang, “bukti”-nya bisa begitu meyakinkan… salah satunya pernah saya singgung di tulisan yang ini.
Ada banyak contoh misinformasi, disinformasi, dan penggiringan opini yang pernah berlangsung dalam sejarah. Beberapa malah benar-benar dahsyat — bisa dicek di link-link sbb.
http://www.psywarrior.com/DeceptionH.html
http://www.iwar.org.uk/psyops/
Silakan dihayati…
Enggak salah.
Salahnya adalah jika perlawanan dengan agama itu bukannya menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru.
Kira-kira begini: Israel datang dan mengusir berdasarkan military superiority. Kemudian HAMAS menanggapi dengan berpaling pada semangat Islam militan. Lantas ditinggikanlah simbolisasi “HAMAS = Islam”. Otomatis dunia Islam jadi terbawa. Liga Arab, termasuk Iran yang punya nuklir, jadi rikuh jika tidak mendukung HAMAS. Apalagi lawannya Yahudi, yang notabene dikisahkan sebagai kaum yang licik dalam Qur’an.
Di sisi lain, Israel juga bangga dengan atribut ke-Yahudi-annya. Dengan sentimen ini mereka menggerakkan para taipan Yahudi, yang menjadi tulang punggung ekonomi US, untuk melakukan lobi ke pemerintahnya. US pun jadi sekutu Israel.
Apa akibatnya? Karena yang dibawa adalah sentimen agama, maka perseteruan ini bukan lagi sekadar HAMAS vs. Israel. Palestina-Israel kini menjadi perang yang tidak saja melibatkan suku Arab dan Yahudi… melainkan juga negara pemilik nuklir (Iran), masyarakat dunia Islam, dan sebuah negara adikuasa bernama Amerika Serikat. Bahkan karena ada nama “Islam” Osama Bin Laden ikut nyemplung. Baru kemarin kita dengar dia menyuarakan jihad terhadap Israel.
Yang bikin lebih gawat, Amerika, Iran, dan Israel itu punya nuklir. Ditambah Al-Qaeda itu kelompok ekstremis. Jadi… yah, bisa dibayangkan sendiri, lah.
* * *
Saya pribadi tidak menyalahkan jika orang memakai sentimen agama untuk membela diri. Sah-sah saja — jika digunakan dengan baik, ia bisa membantu mencapai tujuan. Mahatma Gandhi sudah membuktikan ini.
TETAPI, jika tidak hati-hati, justru akibat buruklah yang menanti! Agama itu pengaruhnya luas, dan appeal to emotion-nya besar sekali. Jika Israel tidak memakai sentimen ke-Yahudi-an, dan HAMAS tidak menaikkan pride ke-Islam-an, masalah tidak akan serumit ini. Yahudi Amerika bisa lepas tangan, dan dunia Islam (termasuk Iran dan Indonesia) tidak perlu terlibat.
Kekhawatiran akan intervensi USA (atau nuklir Iran) bisa direduksi. Osama Bin Laden pun jadi tak punya alasan untuk menyerukan jihad kontra Israel. This is what to get, had the religion issue never taken place.
Isu agama ini membuat perkara yang tadinya kecil menjadi berskala global. Belum lagi efek sampingnya, yakni jadi berpotensi memupuk semangat ekstremisme di masa depan.
Saya tahu itu. Tetapi, memihak HAMAS, yang tangannya juga berlumuran darah, belum tentu lebih baik daripada memihak Israel. Mengapa?
Israel memanen korban sebanyak 1000+ orang karena mereka bermodal senjata dan alat militer tangguh. Taapiii…
Bagaimana jika keadaannya dibalik? Apakah kalau HAMAS punya militer tangguh, mereka takkan bersikap sama sadisnya? Apakah HAMAS bisa bersikap baik dengan pesawat jet, misil, dan lobi negara adidaya di tangan?
Ya, HAMAS/Palestina layak disimpati karena kehilangan banyak nyawa. Tapi ingat: bahwasanya mereka selalu mengincar penduduk sipil Israel. Dengan modal gerilya saja sudah begitu; bagaimana kalau punya mesin perang?
Ini yang orang sering lupa. Bahwa Israel membabi-buta dengan mesin perangnya, saya setuju. Tapi HAMAS belum tentu lebih baik… mereka juga ‘hobi’ mengincar rakyat sipil. Belum tentu mereka tak sekejam itu kalau punya pesawat pembom.
IMO, mental mereka sama saja. Yang berbeda cuma alatnya.
IMHO, justru harusnya orang selalu berpihak pada kemanusiaan. Lepas dari embel-embel agama, negara dan sebangsanya.
Jika kemanusiaan diletakkan di bawah kepentingan agama dan negara, itu pertanda buruk. Rasisme di atas kemanusiaan = Hitler, agama di atas kemanusiaan = Perang Salib, dan negara di atas kemanusiaan = penjajahan.
Tentu. Tapi jangan lupa bahwa jika HAMAS memiliki pesawat dan roket Israel, belum tentu mereka bisa lebih beradab.
Benar. Tetapi, poin saya di situ adalah bahwa sifat menolak tersebut selalu ada, bertahan dari zaman ke zaman. Kasarannya, older than dirt lah.
Umat-umat yang pernah tinggal di Palestina tidak koeksis dengan tulus. Ada suatu perasaan saling menolak yang terus berlangsung… seolah-olah “sudah takdirnya” seperti itu.
Seperti yang saya tulis di post, seperti air dan minyak. Disatukan dalam wadah sih bisa, tetapi ada semacam gap yang tak terjembatani di situ. Yang terjadi di masa kini, perasaan tidak mau bersatu itu jadi begitu kuat — hingga mewujud dalam yang namanya “perang”.
Nah, ini.
Ini yang sekarang tidak ada. Di zaman Perang Salib dulu, orang tak keberatan dipimpin raja/sultan beda agama. Sebab bagi mereka yang penting adalah “tanah” itu sendiri. Mau “pemiliknya” raja atau sultan, relatif bisa dikebelakangkan.
Tetapi yang sekarang ini kan inginnya membentuk negara dan pemerintahan masing-masing. ^^;
Lha, kan saya kasih link? ^^a
Itu maksudnya gaya bahasa “menyatakan seluruhnya dengan sebagian”. Kalau saya bilang “bertukar roket”, itu maksudnya menjelaskan perselisihan Palestina-Israel dalam satu contoh. Bukan berarti seluruh konfliknya berpusar di situ saja.
Jadi, kalau membawa-bawa M. Toha, ibaratnya saya mengilustrasikan perjuangan beliau sebagai “perjuangan Bangsa Indonesia”.
Soal aksi-reaksi sudah saya bahas di atas tadi, menyoal sentimen agama yang merembet jadi global.
Sebenarnya aksi-reaksi itu sendiri tak masalah. Masalahnya adalah jika reaksi yang diberikan tidak tepat, sehingga justru mempersulit masalah yang sudah ada. (IMHO, CMIIW)
Sekarang soal skor antikemanusiaan:
Secara magnitude, Israel lebih besar. Tetapi, secara definisi, dua-duanya sama-sama menyerang rakyat sipil.
Jadi sebenarnya skor itu bisa diartikan “sama-sama mengakibatkan jatuhnya korban sipil” (i.e. kalangan yang tidak terlibat dan bertanggungjawab dalam perang).
Walaupun aksi menjadi penyebab reaksi, keduanya sama-sama mengetengahkan sentimen agama untuk menyerang yang lain. Padahal pihak yang satunya lagi tidak sepakat.
Jadi, tambah 1-1 untuk sama-sama memunculkan sentimen agama yang tidak pada tempatnya.
OK, evakuasi memang di tangan Israel. Tapi ingat: HAMAS bukannya tak berkepentingan. Justru mereka mendapat untung dari situ.
HAMAS memanfaatkan penduduk sipil sebagai human shield. Mereka membaur di tengah masyarakat, bahkan memancing-mancing dengan menyerang Israel dari daerah padat. IMHO ini ‘dosa’ mereka yang paling besar.
Link:
http://www.worldnetdaily.com/index.php?pageId=57867
http://newsblaze.com/story/20081229092838zzzz.nb/topstory.html
http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6162494.stm
Jika HAMAS memang mengutamakan sipil, mereka harusnya — paling tidak — bisa mengenakan seragam militer atau penanda lain. Mereka tidak gagah dengan lari ke tengah masyarakat dan menembak dari rumah penduduk… seolah sengaja mengorbankan sipil agar dunia mengutuk Israel.
Israel bersalah karena memulai dan tidak memudahkan evakuasi, ya — tapi HAMAS juga bersalah dengan meng-exploit kehadiran sipil. Sama-sama merendahkan keselamatan civilians, 1-1 lagi di sini.
5-3, betul?
Dan itu menunjukkan bahwa — di samping Israel — tangan HAMAS pun berlumuran darah. Sori, tapi mereka tidak ‘bersih’. Two wrongs don’t make a right.
Benar, memang bahwa secara intensitas Israel lebih banyak melakukan pelanggaran HAM. Tetapi, orang tidak boleh lupa bahwa HAMAS juga tidak se-”suci” itu. Biarpun mereka kehilangan lebih banyak.
Dalam logika, ada yang namanya The Lesser of Two Evils. Jika saya berpegang pada kemanusiaan dalam konflik ini, haruskah saya membela HAMAS?
For me, the answer is NO.
Saya takkan membela HAMAS, sebab mereka punya dosa di sini. Menjadikan rakyat sipil human shield, melempar roket ke kota sipil, meledakkan bom bunuh diri. Of course this is lesser evil than what Israel do. But still evil nonetheless.
Saya membenci Israel, dan saya membenci HAMAS. Saya lebih benci Israel daripada HAMAS, tapi jangan harap saya akan mendukung HAMAS.
Mungkin agak membingungkan, tapi kira-kira begitulah adanya. Mudah-mudahan cukup jelas yah. ^^;
Bukannya “Perusahaan Lilin Nyala” ?
Sebab walaupun udah bayar lilin masih nyala aja tuh@ restlessangel
Oh, postingan soal argumen non-fallacy? (o_0)”\
Hmm, mungkin kapan-kapan saya buat. Lihat-lihat dulu aja sih. ^^a
soal score saya setuju sama 5-3, bukan 5-0, 0-3, atau 3-3, setidaknya 4-3
gak perlu mengandaikan apa-apa karena kenyataannya, hamas gak superior, dan israel yang superior, dalam sepakbola ada yang namanya fair play, jangan mentang-mentang ada yang cedera bola dimainkan terus, minimal bola dikeluarkan, untuk memberi waktu tim medis memberi pertolongan.
berusaha seobyektif mungkin pun tidak harus membuat kita jadi netral mutlak kan? bahkan keberpihakan bisa berangkat dari obyektifitas
@ Sora
Oke, lanjut!
* * *
Ini benar, dua pihak memiliki kesalahan yang sama dalam hal justifikasi. Tapi, tapi…
Sekelompok orang datang ke satu daerah. Lalu didirikannya satu desa pada tahun 1948. Batas-batasnya itu sudah ada saat itu. Etapi… hingga tahun 1967, dengan seenaknya desa itu diperluas, hingga lebih besar. Dengan klaim-klaim historis
ala KODAM memancak tanah adat. Kampung-kampung lain dibuldoser, orang kampung diusir.Lalu perlawanan timbul, dengan kata, dengan batu, dengan senjata. Etapi lagi, dunia marah: lawanlah dengan elegan, dengan demokratis.
Berdiri PLO, berdiri Fatah, berdiri Hamas. PLO dan Fatah lalu impoten, cuma “harus puas” dengan dikembalikannya Jenin, Gaza dan Jericho. Adil? Tidak. Karena berpatok pada batasan sah 1948, hal itu tidak adil. Hamas lalu melawan, dituntut lagi utk sujud pada demokrasi. Oke, mereka ikut agama demokrasi. Ikut pemilu. Dan menang. Dengan persentase suara yang menunjukkan kemana rakyat Palestina memihak.
Etapi lagi (dan lagi), dalih dicari: disebut teroris, disebut fundamentalis, cuma karena mereka tidak mengakui desa bernama Israel itu di daerah pendudukan. Mereka tidak boleh bawa agama yang menganjurkan untuk melawan atas setiap hak yang dirampas, tapietapi desa Israel itu bisa memasukkan dasar2 klaim agama ke konstitusi desa.
Adil? Sekali lagi: Tidak.
Lalu dan lalu, kekerasan mereka disamakan dengan kekerasan desa Israel tersebut. Disederhanakan dengan begitu saja, sementara angka-angka bicara lebih banyak korban jatuh di Desa Palestina. Mereka jadi sederajat dosanya dunia akhirat. Asumsi-asumsi hukum dan demokrasi yang di kasus lain diharuskan menimbang mana yang lebih mudharat mana yang tidak, dikebiri begitu saja. Konvensi-konvensi kota Jenewa tentang perang, cuma berpihak pada sebelah saja.
Adil? Sekali lagi: Tidak.
Dunia yang mana yang komplain, ini yang menjadi pertanyaan menarik. Bagaimana bisa patuh pada dunia yang didominasi statemen jelas, misal, dari seorang Obama bahwa:
Jika dunia yang dimaksud adalah yg menurut definisi dari pemerintahan diatas itu, maka satu-satunya saat bisa netral adalah saat mendengar Netral main musik
Intinya adalah utk mengingatkan: bahwa rasisme dan fundamentalism itu bukan melulu monopoli Islam, cuma karena HAMAS beratribut Islam. Berapa banyak media dan orang yang mau peduli pada fakta bahwa ada warga sipil yang juga jadi milisi di Israel, yang memberi support moral dan materi? Lalu… jika dari muslim ada dukungan serupa dengan semena-semana diserukan, “Halo! Jangan karena sesama muslimlah!” ??
Good. Saya senang bahwa judgement yang biasa saya temui karena media Islam bicara tidak ada di sini
Setuju. Bukan semata-mata karena Islam.
Tapi yang saya was-waskan adalah asumsi yang timbul dari pernyataan tersebut seakan HAMAS melakukan genoside pula. Kasusnya beda: Saddam melakukan genoside saat berkuasa, dalam hal Israel-Palestina, dengan pembantaian bertahun-tahun terhadap sipil, terpampang siapa yang melakukan genoside (tanpa harus melupakan sipil yang jatuh di pihak Israel, tentu).
Tentu tidak
Kan sudah diberi combantrin…Mari tanyakan pada Mahkamah Internasional atau Badan HAM PBB, atau Worldstatesmen yang memasukkan HAMAS ke daftar teroris utk pembenaran
Hukum Qisas?
Hukum didirikan utk dipatuhi. Hukum Qisas bagi saya adil dan memiliki efek agar individu/institusi berpikir sebelum melakukan tindakan merusak. Ini sama seperti golden rules: “Jangan lakukan pada orang sesuatu yang kau tidak ingin orang lain perbuat padamu”
Err… OOT: Saya baru mengerti kenapa Miss Hiruta emoh dgn =3 ini
Mirip phallus, memang
Tidak harus bagaimana. Postingan fallacy ini juga bagus utk mengajak berpikir rasional. Ini membantu saya lho meluruskan pola pikir kerabat saat nonton debat Israel-Palestina di TvOne. Ada sejumlah alasan yang ngawur memang (baik dari Insist atau JIL)
Kapitalisasi isu, ya?
Jika Liga Arab tidak boleh diprovokasi dengan isu agama (karena kemanusiaan juga tetap membuat mereka diam), lalu bagaimana dengan negara yang jelas2 berpihak pada satu pihak? Apakah dengan alasan demokrasi mereka boleh berpihak, tapi demokrasi dalam definisi muslim, jadi haram berpihak?
Ini benar
Mungkin karena “anger is a gift”-nya Malcolm-X jadi pilihan saat dengan cara “damai” hak-hak yang terampas tak dikembalikan?
Hukumannya jadi berlipat-lipat ya? Fundamentalis, lalu jadi radikal, jadi jadi teroris, lalu sah dibumi hanguskan
Menarik. Provokasi awal yang mengulik sentimen agama pun jadi terlupa
Jelas sasaran saya kesana
Dan lihatlah kemana lagi dunia di bawa PBB akan berpihak. Farrah Aidit bisa dihakimi, Milosevic bisa dilibas, tapi… Livni, Bush, Rice, dan bahkan mungkin Obama, akan tetap aman sambil nyanyi I Will Survive ala Cake
Ah ah…. empirisme?
Apa analisa serupa tidak bisa dilakukan pada rekam-jejak sejarah utk memvalidasi catatan sejarah tanpa keterikatan pada manuskrip2 suci?
Jangan lupa: ilmu alam masih memiliki ketergantungan denga rekam-jejak sejarah, meski (harus diakui) lebih bisa bicara dengan angka-angka
Sama itu. Setiap orang yang penasaran juga bisa melongok sendiri ke tanah perjanjian itu, melakukan riset dan mencatat angka-angka dari kriminalitas dari institusi2 yang bertempur selama bertahun-tahun.
Tapi masalahnya adalah: ada fenomena dimana arus informasi yang berpihak ke Palestina, apalagi dari dunia muslim, itu dipelintir. Sama seperti Harun Yahya memelintir informasi yang diterima dari kalangan evolusionist. Pola yang sama itu dipakai.
Saya sudah pernah belajar evolusi. Saya tahu itu
Intinya: Ada kesimpulan yang sama yang mereka ambil bukan?
Bergantung tidak, tapi menjadi rujukan meski temporer, mesti ada selalu. Tidak ada ilmu pengetahuan yang konstan ditemukan dan berdiri sendiri begitu saja. Sains sekalipun
Psy-war itu bukannya juga seperti polanya HY yang mengancam dengan neraka, ayat-ayat, utk membenarkan klaimnnya? Dan itu bisa dipatahkan bukan?
Sudah. Saya punya sampel lebih banyak dalam bentuk catatan. Sudah dipelajari lama jenis2 itu utk di kajian politik
Menarik
*catet*
[OOT]
Sora betul2 percaya bahwa Iran punya nuklir? Nuklir dalam bau-bau definisi “senjata”? Apa itu tidak menunjukkan gejala sudah termanipulasi berita yang menyudutkan juga?
[/OOT]
Simbolisasi itu, jika disepakati utk dihapus, adalah pertanyaan yang sama: Maukah Israel menghapus bintang David dari benderanya?
Like I said earlier: Mereka meletakkan bintang David di bendera, yang saya tidak yakin itu cuma karena petunjuk dukun Gypsi belaka
Ya. Dan baru semalam saya membaca newsticker betapa Obama mengulang lagu lama: Al Qaeda adalah ancaman bagi keamanan Amerika Serikat.
Kulit baru tapi retorika lawas
Al-Qaeda ekstrimis
I wanna say this to Obama: What you reap is what you sow, sir.
Al-Qaeda itu api kecil binaan mereka, lalu mereka kelabakan saat api itu membesar, dan dengan itu semua yang berbau Al-Qaed (termasuk agamanya) bisa disembur sesuka hati. Dunia yang sangat-sangat adil
Semestinya…. semestinya….
Tapi juga karena agamalah: dengan cinta kasih-nya Isa Kristus dan menegakkan hak seperti yang didirikan Muhammad, maka agama juga tak bisa jadi urusan personal melulu. Dunia terlalu luas utk disempitkan cuma dalam urusan politik belaka
Boleh jadi
Bukankah isu agama pula yang membuat perseteruan darwinis dengan fans boy HY jadi global? Keduanya memiliki klaim yang “penting” bagi eksistensi manusia
Dan, ya… dua-duanya memiliki ekstrimismenya sendiri-sendiri.
Ah… saya jadi ingat rencana FBI memperbesar jaringannya dengan alasan ekstrimis-teroris itu. Mereka agaknya paham apa yang akan mereka tuai dari kebijakan negara mereka
1st
saya tidak mengharuskan siapapun memihak HAMAS. Tidak. Itu opsi.
Jika saya memihak HAMAS, adalah karena itu opsi perlawanan yang tersisa.
Apa tidak ada yang lebih baik dari HAMAS?
*iklan mode ON*
Yang lebih baik dari HAMAS?
Yang jual mahal banyak!
*iklan mode OFF*
Kenapa HAMAS jadi pilihan di Palestina, yang mereka buktikan dengan memenangkan pemilu? Karena rakyat di sana melihat Fatah impoten. Belum lagi rasa sakit hati karena pemimpinnya korup, dan bermegah sejak zaman Arafat masih hidup.
Silakan cek gaya hidup Madame Suha, istri beliau, yang keluar-masuk butik di Paris
2nd
Sora menarik asumsi dari sesuatu yang belum terjadi, lalu jump to conclusion dengan “mengandaikan” bahwa jikalau-andaikata-umpama-dan-misalkan HAMAS punya senjata canggih maka mereka akan melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu itu masuk fallacy yang mana, please tell me
Again…. itu pengandaian utk masa depan yang belum pasti. Sama seperti pengandaian yang berpijak pada hoax konspirasi zionis internasional
Bisa jadi. Tapi bukankah yg kita bicarakan adalah sejarah hari ini? Sejarah esok akan lain ceritanya.
Amen to that… Amen to that…
Biar saya tambah: Zionisme diatas kemanusiaan = Israel + Gaza
Itu kan pengandaian utk masa depan? Apa bukan sikap yang sama paranoidnya dengan sikap muslim yang fobia pada Yahudi?
Itu akan selalu ada, Sora. Saya sendiri jengkel dengan opini picik di Aceh, misalnya, bahwa orang Jawa itu bangsa penjajah sejak jaman Majapahit. Sama jengkelnya dengan asumsi bahwa Aceh adalah bangsa ganja semua, atau Batak adalah bangsa para preman
Sudah dijelaskan diatas.
Ya
Oh.. oke.. oke..
Lalu, dalam permisalan M. Toha, bisakah kita benar2 lepas dari sentimen sebagai WNI? Jika tidak, maka M. Toha dan perlawanan Bung Tomo itu sama jahatnya dengan perlawanan HAMAS atau gerilyawan Maois di Nepal
Apa itu tidak terlalu menyederhanakan masalah?
Bolehlah disepakati ini
Untung? Bisa jadi…
Now, that’s funny
Itu bukannya asumsi yang dibangun utk menyudutkan HAMAS, dan membenarkan Livni yang berkata, “Jatuhnya korban di Gaza adalah wajar” ?? Hell! Itu tidak bisa seenaknya jadi pembenaran bahwa Israel ngebom dengan enak lalu berkata, “Salah target!”.
Sora… HAMAS itu punya seragam militernya sendiri. Israel sendiri mengaku tahu gedung2 mereka dimana. Tapi lihat korban yang jatuh, yang dibom, dengan alasan the so-called milisi HAMAS, adalah kawasan sipil. Ini sama macam justifikasi utk mengelak dari pembantaian sipil+milisi di Somalia yang saya keluhkan di sini
Exploit kehadiran sipil? Sevalid itukah? Bagaimana bisa dievakuasi jika jalur Gaza diblokade? Bagaimana HAMAS akan bisa mengizinkan rakyat Palestina keluar jika moncong senjata Israel di perbatasan? :O
Ya. 1 untuk menyerang bantuan kemanusiaan, 1 lagi untuk melawan keinginan masyarakat Internasional.
Alright, two wrongs don’t make a right.
Jadi, seperti yang sudah-sudah, jika HAMAS diseret ke MI, sperti kata saya, apakah Israel bisa diseret pula dan – biar sederajat-seharkat – dilabel NEGARA TERORIS?
Tidak harus. Dan bukan HAMAS yang saya tekankan, meski saya mendukung mereka, tapi rakyat Palestina. Seperti membela AKKBB versus FPI, ada sisi yang memang harus dipertimbangkan, ditakar. Saya tidak mendukung AKKBB, bahkan berbenturan, tapi tindak pemukulan saat itu membuat saya berpihak kepada mereka saat dibabak-belurkan oleh FPI.
Now, could anyone do the same thing?
Saya terima pendapat ini
Tidak, tidak… saya tidak mengharap Sora mendukung HAMAS. Apa yang menarik dari dunia yang homogen?
Cukup jelas. Saya senang bisa dapat tambahan catatan ini
Heh! Subversif! Menghina badan milik negara!
Terberkatilah penemu lilin sedunia
Wuidih…. kayanya kebanyakan link itu, jadi masuk akisimemet
*towel2 Sora*
pertanyaannya: apa yang tidak falasi selalu lebih benar mutlak dari yang falasi? tolong dijawab dengan jujur
Sesungguhnya kebenaran yang mutlak itu hanya milik Allah semata…
*contoh jawaban yang ‘benar’ tapi falasi?
*
minyak bakal naek lagi kah?
postingannya bagus banget.
ga memihak.
sip2..
Harusnya kita membela rakyat, bukan HAMAS bukan Israel. Kita terus menekan pada kedua belah pihak agar sebisa mungkin rakyat sipil tidak usah dilibatkan dalam perang ini. Tapi tampaknya HAMAS tidak akan berani, setidaknya sebelum mereka mempunyai senjata yang seimbang dengan Israel.
Apa perlu dibuat seimbang saja ya, lalu diadu deh tuh berdua.
ah ini kampanye logika positifisme ini….tidak baik bagi perkembangan imajinasi anak. orang harus bisa berpikir ngawur untuk bisa mengapresiasi buku-buku sastra.
*ditimpukbukufisika*
[...] penjelajahan iseng ke karikatur yang dimuat Amed hingga ke diskusi terakhir di blognya Sora, saya masih merasakan aroma ketidak-adilan dalam kasus pembantaian di Gaza dengan justifikasi [...]
@ spidolhitam
Seperti yang sudah saya tulis dalam reply untuk mas alex, satu-satunya yang saya pihaki di sini adalah kemanusiaan. Bukan HAMAS, apalagi Israel.
De facto, saya lebih benci pada Israel daripada HAMAS. Itu karena mereka semena-mena memanfaatkan kekuatan militer dan menindas rakyat. Tetapi itu tidak membuat saya jadi pendukung HAMAS — sebab HAMAS belum tentu bisa lebih baik kalau di posisi Israel.
Jika HAMAS punya pesawat pembom B-2, apakah mereka takkan terbang ke — katakanlah — Tel Aviv dan membom rumah penduduk sipil? Padahal selama ini mereka sudah rajin dengan roket dan suicide bombing.
Ini yang orang sering lupa. Kejahatan Israel lebih besar karena mereka punya mesin perang, sementara HAMAS tidak. Padahal mentalitas mereka tidak jauh beda.
alex©
Sudah dibebaskaaan…
*lanjut…*
Memang tidak adil. Saya setuju. Tetapi selalu ada batas antara menyerang “sipil” dan menyerang “negara”. Jika orang membenci negara, yang dia serang adalah perangkatnya, bukan penduduknya.
Di sisi lain, betul bahwa pemukim Yahudi tidak simpatik pada penduduk Arab. Tetapi, bagaimanapun, mereka dilindungi oleh status kesipilan mereka. HAMAS tak mendapat apa-apa dengan menyerang mereka — selain stigmatisasi “teroris” dan potensi international backlash.
Tak masalah jika mereka menyerang gedung pemerintah Israel, tentara Israel, atau polisi dan sebagainya. Tetapi serangan di tempat publik tetap tidak tepat sasaran.
Setidaknya dunia Islam, sebagian UE, dan Jepang sudah menyatakan sikap kontra Israel. At least you can call it ‘complaint’.
Soal Obama, saya masih wait and see. Sebab saya bisa menduga alasan di balik diamnya itu…
Selama dia belum dilantik, tak ada gunanya berbicara, menyatakan sikap, atau mengungkap rencana kepada publik. Baik itu pro-Palestina ataupun Israel. Mengapa, sebab jika pilihannya itu fall out of interest dengan petinggi Pentagon dan Gedung Putih, dia justru menanam perpecahan dengan (calon) anak buahnya sendiri. Dia sekadar berhati-hati, IMO.
Walaupun memang sih, kalau melihat pernyataannya yang dulu-dulu, dia lebih cenderung ke Israel…
Jangan sepesimis itu, lah. US memang adikuasa, tetapi bukan berarti seluruh dunia berkata “kami dengar dan kami taat” pada mereka.
Waktu mereka menginvasi Irak, mereka cuma dapat dukungan sebagian UE (terutama Inggris). Prancis dan Rusia menolak. Walaupun bukan dengan dalih kemanusiaan, tapi menunjukkan mereka tak mesti disetir US.
Sedang di kasus Gaza kali ini Inggris sudah menyatakan protes. Sebagian besar UE mengutuk. Lebih lagi Jepang yang biasanya nggak ikut campur ikut menyatakan sikap. Dibandingkan yang dulu-dulu, US sekarang takkan semudah itu berlenggang kangkung, jika keukeuh mendukung Israel.
Yup, begitulah. Bukankah sudah saya sebutkan bahwa Kristen dan Islam semasa Perang Salib pun memiliki semangat tersebut. Dan sekarang Yahudi ikut nyemplung dengan dalih “Tanah yang Dijanjikan Tuhan”.
Itu mereka (para media) yang salah arah.
Kalau sesama muslim memberikan bantuan karena simpati kemanusiaan, itu bukan bandwagon. Bandwagon adalah jika orang berpendapat “right or wrong is my group”.
Bantuan kemanusiaan tetap bantuan kemanusiaan, biarpun yang memberikannya sesama muslim. Menyatakan bahwa orang yang tulus membantu sebagai “tidak tulus karena seagama” adalah bulverisme — itu juga tergolong fallacy.
Muslimin di Palestina berhak mendapat bantuan kemanusiaan, sama halnya dengan korban bom Mumbai dan terorisme IRA di Irlandia. Bukan karena mereka “Islam” — tetapi karena mereka menderita dan diperlakukan semena-mena.
Wah, masbro ini meremehkan saya. Lalu buat apa itu saya tuliskan daftar fallacy di atas? Hah? Hah??
Tidak, saya tidak bermaksud demikian. Jadi tenang saja.
Tentu, tapi kan ada batasnya. Separah-parahnya hukum Qisas cuma pakai cambuk.
Kalau nuklir dibalas nuklir, nah itu ceritanya lain… >__>
Lho… itu sebenarnya personifikasi dari avatar saya. Bahwasanya, tanda “=” itu jadi mata, dan angka “3″-nya jadi mulut…
Daftar muka avatar yang lebih lengkap bisa dilihat di [sini].
Soal Liga Arab, saya no comment.
Lagian mereka juga dodol, sih. Udah tau wilayahnya lagi panas-dingin, malah asyik beli klub bola. Malah kemaren nawar Kaka 100 juta pound. >__>
*gendeng*BTT, soal agama, seperti yang sudah saya bilang. Sentimen agama itu senjata hebat. Kalau dipakainya tepat, dia cespleng — tapi, kalau gak hati-hati justru bikin ruwet. Saya sendiri tak melarang kalau sentimen agama mau dikobarkan, sebab itu termasuk strategi menggalang dukungan juga.
Kalau punya mesin waktu sih bisa.
IMO, belajar sejarah itu (umumnya) berdasarkan catatan orang-orang dulu. Nah, catatan ini berpotensi bias. Ditambah lagi, bukan tak mungkin ada catatan sejarah yang pernah ada, tapi terlupakan/dihancurkan/dibakar.
Di dunia sains ada ungkapan begini: “one evidence can lead to many interpretations”. Ini juga berlaku di sains sosial semacam sejarah dan sospol. “Bukti-bukti” sejarah tahun 1965 bisa ditafsirkan macam-macam — mulai dari murni PKI, kudeta Soeharto, hingga campur tangan CIA.
Nah, ini. Makanya saya sekarang cenderung nggak favor ke media konvensional.
Saya pribadi lebih suka mendengar laporan langsung dari kedua pihak (kalau bisa), baru dari situ menimbangnya. Biarpun ada bias, setidaknya kita bisa mencoba menyeimbangkan/menyaring mana yang bisa kita ambil.
Mungkin perandaiannya seperti mengikuti Ramattan sekaligus nonton CNN.
“Punya nuklir” di sini, maksudnya, mereka sudah bisa membudidayakan uranium. Biarpun — menurut klaimnya — dipakai untuk perdamaian, itu tetap sebuah potensi besar. They are *able* to make nuclear warheads.
Jadi yang penting di sini adalah “budidaya uranium”. Yang membatasi Iran dari memproduksi senjata nuklir adalah garis yang sangat tipis, yakni *kesediaan*.
Preman dengan pistol ditakuti karena dia *bisa* menembak. Walaupun saat ini berkata “takkan menembak”, dia tetap punya kemampuan untuk itu. Yang membatasi cuma kesediaan.
Saya tidak bilang harus dihapus, sih, sebab agama termasuk elemen identitas yang diakui. Sebagaimana Turki punya lambang bulan-bintang di benderanya. Yang ingin saya tekankan adalah, bahwasanya memakai sentimen agama tanpa hati-hati itu pengaruhnya besar. Apalagi di dunia internasional.
Agama menggenggam manusia melampaui batas negara dan ras. Senjata besar. Kalau orang tak hati-hati, perkaranya tentu akan repot sekali.
Ya, saya sudah dengar yang ini. Allegedly, mereka itu binaan CIA saat perang Afghanistan vs. Rusia yang kemudian dicampakkan. Dan kemudian jadi barisan orang yang keterusan dengan “Islam”-nya…
Saya sih setuju saja. Syaratnya, ya, jangan sampai jadi bikin kacau.
Contoh-contoh kerumitan yang dibawa sentimen agama sudah disebutkan di atas: Perang Salib, Gaza, ekstremisme. Kalau sekadar mengadopsi nilai Islam, seperti Turki atau PKS, saya sih tak masalah.
Kalau HAMAS menang pemilu, tentunya itu berarti rakyat menginginkan mereka. Tapi itu kan rumah tangga mereka. Saya bukan warga Palestina, je.
Saya menginterpolasi dari fakta-fakta berikut:
1. Israel dan HAMAS sama-sama memiliki kebencian rasial
2. Keduanya sama-sama ‘hobi’ menyerang rakyat sipil
3. Israel memiliki mesin perang tangguh, maka terjadilah… (yang sering kita lihat di TV)
4. Jika HAMAS memiliki mesin perang tangguh, maka… (?)
Jadi sebenarnya ini sifatnya prediksi. Kalau disuruh membuktikan, tentu saja saya tidak/belum bisa. Sama halnya dengan saya tak bisa disuruh membuktikan bahwa matahari akan terbit esok hari.
Nah, ini sekadar wacana. Kalau orang ingin saya mendukung HAMAS, maka saya akan bertanya: “Apa yang membuat Anda yakin bahwa prediksi saya takkan terjadi?”
Betul. Perkara masa depan sendiri aslinya di luar bahasan filsafat/logika. Apa yang terjadi besok tidak dapat diketahui dengan pasti. (i.e. Problem Hume)
Tetapi bukan berarti kita tak bisa menduga…
Bwakakak…
IMO sih, sebenarnya sentimen “Indonesia” itu adalah kulit luar saja. Di dalamnya adalah semangat kemanusiaan: perasaan senasib, sepenanggungan, dan menolak untuk dijajah.
Orang-orang yang disatukan oleh semangat tersebut bergabung dalam suatu gerakan kemerdekaan, suatu negara bernama “Indonesia”. Jadi sebenarnya, deep inside, ini adalah perjuangan berbasis kemanusiaan.
Intinya bukan sentimen apa yang dikedepankan, melainkan apa yang ada “di bawahnya”. Sah-sah saja berjuang di bawah label “Indonesia” atau “Islam”. Tetapi ingat landasan yang paling penting, yakni kemanusiaan. “Indonesia” dan “Islam” hanya sekadar things in common, perekat perjuangan, bukan inti perjuangan itu sendiri. ^^
Mungkin juga. Saya sekadar mencacah per definisi saja, sih. (o_0)”\
Saya kurang tahu, tapi, jika benar begitu, itu jadi keuntungan dua arah.
Israel bisa berdalih menghajar pemukiman sipil (baca: melampiaskan sentimen anti-Arab), sementara HAMAS bisa menghambat laju penyerangan Israel dengan human shield. Sekaligus, jika Israel tetap berkeras, justru HAMAS diuntungkan karena seolah jadi “korban” di mata internasional.
Lho? Aneh, yang saya dengar sebagian mereka berpakaian preman di kota Gaza.
Alhasil bisa menyelip melakukan rapat di gedung netral, e.g. rumah sakit dan sekolah.
Saya lupa sumber beritanya di mana, sih. Soal seragam militer HAMAS saya stand corrected. (o_0)”\
Sevalid apanya saya tidak tahu. Kan saya sudah bilang, berita perang itu banyak psywar-nya.
Kalau masbro ada berita tangan-pertama yang terjamin, saya bersedia baca. Sedang yang saya dapat bunyinya seperti itu.
Kembali ke topik. Dengan asumsi bahwa berita yang saya dapat benar — I’m open to correction — maka HAMAS juga punya masalah. Okelah, Israel paling bersalah dengan menyulitkan evakuasi. Tetapi menyelip ke tengah masyarakat dan menembak dari dalam rumah juga bukan tindakan ksatria, lho.
IMO sih, harusnya Israel dulu yang diseret ke MI. Setelah itu baru HAMAS — dengan catatan meringankan bahwa mereka melakukan aksi bela diri. Ini tidak membuat HAMAS jadi bersih, tapi setidaknya meringankan.
Israel punya kesalahan kemanusiaan lebih banyak; mereka yang harusnya diurus duluan. HAMAS sendiri bukannya bersih — tapi ada dua pertimbangan yang bisa meringankan. Pertama: justifikasi aksi-reaksi, dan yang kedua: magnitude kekerasan relatif kecil dibandingkan Israel.
(CMIIW, though)
Yup, itu dia. Yang penting di sini adalah rakyatnya. Ini bukan perkara ideologi, melainkan kemanusiaan.
Sebagaimana sudah ditulis di post: jika dua gajah bertarung, yang kasihan bukan cuma mereka. Melainkan juga pohon yang tercerabut, dan pelanduk yang terjepit.
Let’s hope so…
Hus, itu mah biasa.
Dosen saya malah lebih edan lagi, pas ngajar di kelas:
@ det
Begini…
Fallacy itu adalah tidak taat pada logika. Dengan kata lain, ketika orang mencoba mencari jawaban, logikanya loncat/tidak runtut.
Lalu ada pertanyaan: apakah jika logikanya tidak benar, maka jawabannya pasti salah?
Belum tentu. Bisa saja jawabannya benar. TAPI… ada tapinya. Kemungkinan jawabannya salah lebih besar.
Misalnya begini:
Jika logikanya benar, orang akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Bagaimana jika logikanya tidak benar? Bukankah mungkin saja dapat jawaban yang benar (yakni 130 km) ?
Ya, mungkin. Tetapi, kemungkinan dapat jawaban salah tetap lebih besar.
Misalnya dalam kasus jalan tol di atas. Alih-alih mengukur sendiri, Anda bisa menjawab sbb:
Jadi begitu. Bukan berarti jika logika tidak benar, maka jawabannya tidak benar. MELAINKAN, logika yang benar membantu kita meminimalisir kesalahan.
* * *
Nah, fallacy itu adalah kesalahan logika. Bisa saja orang mendapat jawaban yang benar lewat fallacy. Tetapi apakah jawabannya bisa dipertanggungjawabkan? Belum tentu.
Kalau di kelas, guru matematika sering berkata: “jawabannya benar, tapi caranya salah”. Kasusnya kira-kira seperti itu.
:::::
@ Catshade
Weleh…
:::::
@ tan
Tergantung stabilitas Timur Tengah, IMO. Kalau negara minyak seperti Iran sampai terbawa-bawa, ya, ada kemungkinan suplai minyak dunia macet. Bukan mustahil harganya naik lagi. (o_0)”\
:::::
@ nana
Ah, terima kasih. ^^
:::::
@ dana
THIS. (u_u)
Kalo seimbangnya cuma senapan dilawan senapan sih masih mending. Lha, kalau seimbangnya nuklir dilawan nuklir, mau jadi gimana? xD
:::::
@ gentole
Hei, ilmu logika itu penting. Cerita dan sastra yang enggak logis juga nggak bisa dinikmati…
@sora9n
Nuklirpun tak apa-apalah, biar semua sama-sama hancur. Bisa jadi memang itu sudah karma kita umat manusia.
*putus asa*
Biar, biarlah itu terjadi.
Biar semakin cepat Armageddon kemari.
Biar semua urusan selesai.
Ku tak peduli.
*nihilis mode off*
*
*sempat-sempatnya bikin sajak a-a-a-a
[...] sesama muslim, kenapa tidak teriakan dengan lantang demi persaudaraan sesama umat manusia saja?!!! Ah, ya dalam hal ini saya sangat sejalan dengan pemikiran bung sora , nice posting bro. Kenapa musti persaudaraan sesama muslim? Hem… memanfaatkan agama untuk mencari dukungan kah? [...]
Sora
*kelar baca*
Sip… sip… Sudah dibaca. Untuk penjelasan di komen terakhirnya ini, boleh tak terdaftar dalam opini yang “mengecewakan” macam komplain terakhir saya di blog
Serius, cukup bijak ini, jika melihat pada jenis beberapa postingan yang kentara sih fobia pada Islamnya daripada logika normal
*mereduksisentimenagama*
*lihat dialog bung sora dengan buya alex*
ini harus masuk Metro Today’s Dialogue!
@ dana | lambrtz
Kok jadi pesimis begini…? ^^;
Tenanglah masbro, satu kali kita pernah hampir perang nuklir (insiden Teluk Babi 1961). Toh waktu itu orang bisa berkepala dingin; malapetaka pun dapat terhindar.
Jangan meremehkan manusia segitunya, lah.
:::::
@ alex©
Terima kasih.
:::::
@ frozen
Ah, media itu… terkadang menggelembungkan reputasi yang tidak besar. ^^;
*teringat Roy Suryo dan Joko Suprapto*
Lagipula aslinya banyak opini (dan orang-orang) hebat di internet. Cuma jarang terekspos saja.
Ralat: Nama dia Bukan Saladin, nama dia Shalahuddin Al Ayyub
Panggil dia dengan nama dia, jangan panggil dia dengan nama yang diberikan orang yang tak bisa melafalkan namanya.
@ buchin
Tentu. Tetapi, “Saladin” atau “Shalahuddin”, orang tetap memandangnya sebagai seorang Sultan besar Islam.
BTW, speaking of which, nama asli Shalahuddin adalah “Yusuf”.
“Yusuf” adalah pengucapan Arab dari bahasa Hebrew “Yosef”. Begitu juga nama-nama nabi lain dalam Islam, semisal Nuh (Noah), Daud (David), Sulaiman (Solomon), dsb.
Jadi, sekadar memberi tahu: kalau Anda keberatan dengan “nama yang diberikan oleh orang yang tak bisa melafalkan namanya”, hampir semua nama Arab yang kita kenal memanggul ‘kesalahan’ itu juga.
* * *
Tapi apalah arti sebuah nama. Yang penting orangnya, bukan? Disebut “Saladin” atau “Shalahuddin”, orang tetap mengingat beliau dengan takzim. So, cheers.
Wah, kalo ngomongin masalah nama sih kayaknya yang paling netral itu nabi pertama yah. Lidah siapapun mau pake bahasa hebrew, arab, jawa, linggis, dll, nama adam tetap aja dipanggil adam.
“Panggillah dia dengan nama Susilo Bambang Yudhoyono, jangan disingkat singkat jadi SBY karena mulut kalian terlalu malas untuk bicara sedikit panjang!”
@ yusahrizal
Adam? Tapi kalau di Italia (rumahnya Vatikan), namanya Adamo.
@Geddoe
Adamo? Antonio Adamo? Bwahahaha….. lol
@ K. geddoe | yusahrizal
Kalau di Jepang, jadinya malah ADAMU.
[/nggakPenting]
Wajib militer di Israel kan, Sou? Guyonannya setiap WN Israel itu tentara dengan masa cuti 11 bulan/tahun.

Jadi konon katanya buat musuh2 Israel, semua orang Israel itu militer dan bisa (dijustifikasi) dijadikan target serangan.
Ini diluar masalah kalo roket Qassam Hamas itu cuma artileri medan^
Kalau itu saya kurang tahu. Tapi, kalau sudah benci, tentunya militer atau sipil jadi tampak sama.
*halah*
[...] tentang pemboikotan produk-produk yahudi yang diduga ikut andil dalam memperkuat Israel, sampai ke pernyataan-pernyataan fallacy yang berkaitan dengan krisis ini. Sebenarnya perang yang terjadi di Gaza sudah diprediksi [...]
Pak Sora, poisoning the well termasuk fallacy ndak sih?
Setahu saya poisoning the well kan intinya menyebar prasangka/kecurigaan/pendapat pribadi pada lawan bicara sedangkan sebabnya fallacy adalah ketidak tepatan bahasa atau relevansi (membuat premis dari proporsi yang salah atau mengambil kesimpulan dari premis yang salah) .
Salam kenal dan terima kasih dari saya.
^
Salam kenal juga.
Poisoning the well termasuk dalam fallacies of relevance– ada penjelasannya di halaman wikipedia yang saya link. Intinya, dia berupaya mendiskreditkan pendapat lawan bicara/pihak yang kontra dengannya sejak awal.
Disebut juga preemptive ad hominem.
Contoh:
Apapun yang disampaikan oleh si Anggota DPR, orang akan ‘terkontaminasi’ prasangka bahwa (1) dia pasti membela diri, dan (2) ucapannya layak dicurigai.
Alhasil, penjelasan lawan bicara jadi dianggap tidak benar/tidak terlalu diperhatikan kebenarannya. Karena prasangka audiens sudah terbentuk bahwa “dia pasti salah”.
* * *
Begitu juga dalam kasus “Yahudi itu jahat” yang saya sebutkan di atas. Karena sejak awal dicekoki prasangka “Yahudi itu jahat”, orang jadi cenderung menolak/memandang rendah pembelaan yang pro-Israel.
Kurang lebih begitu. ^^
Gitu ya Pak…. *salin ke notepad henfon*
*siyal, opera mini ga bisa dibuat ngopas, mana henfon saya ndak ada JSR-75-nya*
Ehm, nampaknya sudah gencatan senjata yah disitu? Atau ini masih mau dilanjutkan lagi?
*nyalakan komputer, lanjutin main Age of Empires 2*
^
Yup, sudah gencatan senjata. Mudah-mudahan bisa bertahan untuk waktu yang cukup lama.
BTW, jangan dipanggil “Pak”, dong. Umur saya baru 22 nih. ^^;
^
In the Internet, 22 is like, really old.
@sora9n
Guru saya malah ada yang lebih muda dari anda
nice posting
@ K. geddoe
Meh, and I wonder how they called this (late) oldest blogger on earth.
“Granny” is sure an understatement.
:::::
@ syllachtea
Kayaknya guru les… atau guru SMP. Betul?
gak wibawa amat kalau guru SMA lebih muda daripada saya
:::::
@ tomiarjunanto
Thank you.
kalo kita belajar sejarah ,,, kita akan sadar bahwa yang menjd pokok maslahX adalh israel yang serakah dan egois, dahulunya israel tak punya apa2,, namun setelah mndapt dukungan dari LBB saat itu, israel mulai mencaplok ngara2 arab, termasuk palestina,, yang sampai hari ini mash d ingnkannya,… tetap saya dukung palestina,,, nanti ketik peradbn islam bangkit,, israel akan btul2 hilang d dunia,, itu semua tlah tertuls d lauful mahfudz, hanya persoalan perjuanagn dan waktu sobat….
oh my…
*nyembunyiin KTP*
Hmm…
*penasaran ingin baca komennya, tapi waktu tak memadai*
Maaf kalau komen saya nyampah. ^^; Tapi, yang argumentum ad antiquitatem pernah saya temui juga lho. Bunyinya kalau tidak salah tak jauh beda, kira-kira seperti, “tanah Palestina sudah ratusan tahun berada di kekuasaan Muslim, dan tanah ini adalah milik umat Islam. Karena itu tidak sepantasnya membiarkan Yahudi mendapatkannya sejengkal saja.”
…atau semacamnya. Agak lupa saya, tapi empasisnya di kuasa Muslim dan Yahudi itu.
@ sora9n
This is a pitiful attempt to mask one’s denial with arguments. (u_u)
The fact that Robert Pershing Wadlow was 272 centimetres tall does not render the 193 centimeters Marco Materazzi a midget.
You, sir, are quite old.
@ karim
Ah, itu kan katanya sumber Islam. Kalau katanya sumber Yahudi, justru orang Islam yang mengambil “tanah terjanji” ketika pemiliknya sedang terusir.
:::::
@ rani
Mana? Kok nggak ada KTP-nya??
*digebuk*
:::::
@ Xaliber von Reginhild
AFAIK sih, memang banyak fallacy yang sama-sama dipakai kedua belah pihak. Ad antiquitatem itu sendiri salah satu contohnya. ^^;
Two wrongs make a right juga sering dipakai simpatisan pro-HAMAS (“Israel yang mulai duluan!”). Malah yang saya dengar, hasty generalization dan poisoning the well juga ramai dipakai warga Yahudi-Israel terhadap kaum Arab-Palestina.
:::::
@ Abu Geddoe
Well, no. Point is, they’re having unhealthy dose of exaggeration. It’s like somebody says “Theo Walcott is tall footballer!”. To which I’d reply, “Well. How do you mention Edwin van der Sar, then?”
But an even deeper question is: “What, Theo Walcott is tall footballer? Is there any short footballer out there?”
So you see that it’s tipping the median!
Our statistics is ruined! Fuzzy logic is under threat!!
*cough*cough*
And that’s what happens when one claims “22 is old”. It’s like saying “Walcott is tall footballer”. Some people place their cutoff a bit too low… ^^;;
*) With all due respect to Theo Walcott. (u_u)
I’m glad that this world has six groups of age…
1. young
2. quite old
3. old
4. very old
5. very very old
6. rly srsly old
Of course when the statistic span is 0 to 120 years, 22 is considered ‘quite old’. There’s nothing wrong with that IMO…
@ sora9n
*ran out of arguments*
*resorting to ad hominem attacks*
Dare you mocking a good man that is Theo Walcott!
The good sir is young, nineteen years of age; unlike you, and yet had managed to reach the top of success!
He believed in himself! Look at you, what do you believe in!? What do you believe in!?™
I myself am younger than Mr. Walcott by a couple of months. (u_u)@ sora9n
OOT dah. Ga usah diterusin deh. :mrgeen:
falasi itu bikinan siapa sih? dan apa alasannya kok sampe dibela mati2an begini?
saya kok membayangkan penganut falasi ndak percaya tuhan karena ndak bisa dilogika
apa benar?
kalo iya, kok seperti mendewakan pikiran logika sendiri
@det:
Setahu saya, ilmu logika bukanlah ideologi, paham -isme, atau aliran kepercayaan yang membuat orang yang mempelajarinya jadi ‘penganut’ atau ‘pemuja’ akal. Orang bisa saja berpegang pada prinsip logika sembari tetap percaya pada Tuhan, toh bagi mereka Dia-lah yang menciptakan akal, pikiran, dan logika yang termaktub dalam otak mereka.
Menurut orang2 ini, justru orang yang berargumen dengan fallacious-lah yang tidak mau menghargai anugerah dan kelebihan yang sudah diberikan Tuhan kepada manusia.
[...] benar kata Sora di satu komentarnya yang mengutip Nyai Ontosoroh di Bumi Manusia-nya Pram : “Manusia dari dulu sama saja. Yang [...]
@ Abu Geddoe
Gut, gut.
:::::
@ det
Waduh, Anda ini… paham nggak bedanya “logika” dengan “fallacy” ?
Dengan Anda bilang bahwa orang “membela falasi”, itu sama saja dengan bilang “membela kesalahan berlogika”. Lha, statemen ini apa bisa dipertanggungjawabkan? :-/
Salah.
Begini, sebaiknya Anda baca-baca dulu tentang ilmu logika sebelum melanjutkan diskusi. Nih saya kasih beberapa link wikipedia:
Testability
Falsification
Empiricism
Logic
Inference
Ide-ide tentang Tuhan dsb.-nya tidak memenuhi kaidah testability. Sehingga dengan demikian ranahnya berada di luar logika empiris…
Kalau dijelaskan bakal panjang, jadi sebaiknya Anda baca link-link ybs. dulu.
:::::
@ Catshade
Nah, ini. Masalahnya orang-orang yang -rada- konservatif sering alergi pada memanfaatkan akal budi. Dibilang “mendewakan akal” lah… “menuju kesesatan” lah…
Just so they know, no golden age was reached without logic and philosophy. Even Islam’s golden age and Europe’s renaissance have their own scholars…
kampret!
saya ketinggalan ribut-ribut di sini
posting menarik.. saya harap anda juga bisa memberi pencerahan pada saya tentang ini:
“palestina saat ini menjadi SATU-SATUNYA bangsa yang masih berjuang melawan aneksasi (selama 60-an tahun). gimana pendapat anda, perlukah didukung?”
“atas dasar apa israel menyerobot rumah dan tanah bangsa palestina? apa itu memberi hak untuk menyingkirkan dan memenjarakan penduduk palestina dalam “penjara” terbesar di dunia itu?”
thanks.. u talk like the smart one, i wish u are.
@ dust
atas dasar kitab sucinya, barangkali. itu kan tanah perjanjian
Ingatlah kata-kata pertama Setsuna F. Seiei:
“Kono sekai ni Kami nan te inai!”
sora-kun, terjemahin tuh buat para hadirin…
Ha.. saya malah suka kalo sudah tentang Perang Salib..
*teringat Kingdom of Heaven, Assassin’s Creed dan Stronghold Crusader*
Salahkan saja Tuhan yang menjanjikan tanah itu. Wong menjanjikan kok gak sekalian ngasih surat tanah biar sah.
Atau… memang Dia maunya gitu yah? Biar manusia pada perang, jadi Dia jadi punya tontonan dari atas langit sana.
Jerusalem belongs to no one, and everyone ~ Assassin’s Creed
telat gw.
@ setanmipaselatan (1)
Weleh…
:::::
@ dust
Seperti yang sudah saya tulis di komentar-komentar saya di atas…
Palestina-Israel adalah kasus yang rumit. Bukan saja skupnya tentang kemanusiaan, melainkan juga politik, ideologi, sejarah, dan bahkan juga agama. Kedua pihak punya justifikasinya sendiri.
Anda bilang Palestina berjuang melawan aneksasi, OK. Tapi ingat: di sisi lain, Israel juga merasa bahwa tanah mereka yang dianeksasi.
Pendapat Israel: mereka awalnya memiliki Tanah Terjanji di Palestina. Meskipun begitu kemudian mereka tergusur secara paksa (oleh pasukan Romawi). Romawi terus berkuasa di tanah tersebut, dan menamainya “Palestina”. Berabad-abad kemudian, penguasa Romawi berhadapan dengan tentara Islam, dan memutuskan untuk melepaskan Palestina pada Khalifah Umar.
(istilah “tanah wakaf” bermula dari sini)
Pendapat Arab-Palestina: Tanah Palestina didapat secara legal, dan sah, ketika Khalifah Umar bin Khattab memperolehnya sebagai wakaf. Hilangnya hak Israel atas tanah tersebut dapat digolongkan sebagai akibat perang — di mana pemenang secara militer berhak memiliki tanah taklukan.
(Tentang hilangnya tanah lewat perang: bandingkan dengan Conquistador Spanyol meraih tanah hak milik Aztec di abad pertengahan. Hingga berabad-abad keturunan Spanyol diaku pemilik sah tanah tersebut)
* * *
Jadi, jika Anda ingin membahas “siapa menganeksasi siapa”, sebaiknya pelajari dulu dua pendapat di atas. Dan itu baru ditinjau dari politik/sejarah saja.
Hmm, begini. IMHO pandangan Anda sejak awal agak bias ke Palestina. Padahal masalahnya tidak sesederhana itu.
Seperti yang sudah saya tulis, “siapa menyerobot siapa” itu masih diperdebatkan. Kalau semua orang sepakat “Israel menyerobot Palestina” atau sebaliknya, masalahnya takkan serunyam ini.
Soal “memenjarakan” dan pelanggaran kemanusiaan lainnya: tahukah Anda bahwa HAMAS juga punya dosa? Silakan baca komentar-komentar saya di atas. Meledakkan bom bunuh diri di ruang publik; melempar misil ke kota netral; kabur ke keramaian ketika dikejar tentara Israel. Mereka membaur dengan sipil untuk men-distract serangan Israel.
FYI, saya tidak membela HAMAS maupun Israel di sini. Dua-duanya sama-sama punya dosa. (detail: baca komentar-komentar saya untuk mas alex di atas)
Walaupun secara intensitas Israel masih lebih ganas, itu tidak mengubah kenyataan bahwa HAMAS tidak menomorsatukan kemanusiaan. Sorry, two wrongs don’t make a right.
:::::
@ setanmipaselatan (2)
Itu juga termasuk.
:::::
@ Ando
Entah ya. Saya agnostik soal itu.
*males nerjemahin*
:::::
@ Nazieb
Kalau saya, lebih suka omongannya mas alex di blognya mas dana:
:::::
@ irene
Katanya sih, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
*halah*
Kembali mengutip kata2 Setsuna F. Seiei:
Senso ga okoreba hito wa sinu, 戦争が起これば人は死ぬ
Hanashiteiru aida ni hito wa sinu, 話している間に人は死ぬ
panjang lebar ngobrol disini, panjang lebar debat disini, ketika perang berlangsung orang2 pada mati. Meninggalkan kita yang sibuk lempar kata sembunyi wajah disini.
sora: “Anda bilang Palestina berjuang melawan aneksasi, OK. Tapi ingat: di sisi lain, Israel juga merasa bahwa tanah mereka yang dianeksasi.”
israel, hehe.. ini mengingatkan saya pada guyonan temen amrik: “seorang anak mencuri donat, lalu ketika ditangkap, dia bikin BON yang berbunyi: donat ini sudah dijanjikan pada saya kemarin.”
PERTAMA, soal ‘ISRAEL MERASA’ dianeksasi, anda perlu liat gerakan NETURAI KARTA, pimpinan para rabbi yahudi, mereka menolak ANEKSASI itu sebagai bentuk ibadah menuju tanah perjanjian.
ini fakta keras, bahwa telah rujukan teks talmud sial ‘tanah perjanjian’ itu bukan alasan valid untuk MENCAPLOK wilayah palestina (p.s palestina bukan milik muslim aja tapi juga ada kristen dan yahudi di sana, jauh sebelum israel nongol).
KEDUA, sekali lagi, sebelum ada israel, yerusalem dan gaza adalah tempat damai tiga umat beragama (warisan tata pemerintahan saladin), muslim, kristiani, dan YAHUDI hidup bedampingan.
jadi, kalaupun ingin kembali ke tanah perjanjian? kenapa harus mengusiri umat islam dan kristen palestine? mengapa harus mendirikan NEGARA israel jika hanya
KETIGA, jika ANEKSASI itu anda amini, maka dengan analogi yang sama, TIDAK ADA YANG SALAH dari tindakan para dayak sampit MENGUSIR dan membunuhi kaum madura.
alasannya: tanah itu warisan nenek moyang mereka (dayak)..
***
SORA: “Soal “memenjarakan” dan pelanggaran kemanusiaan lainnya: tahukah Anda bahwa HAMAS juga punya dosa?”
dosa hamas dengan membunuh kurang dari 5 orang sipil (gara-gara roket), tidak memberi hak israel membunuh 1.000 orang palestina. bunuh penjahatnya, jangan orang tak bersalah.
BTW, apa yang hamas lakukan mirip dengan para pejuang gerilya kita zaman kolonial. mereka hidup, berbaur, dan membangun kekuatan di tengah rakyat, sementara belanda menyerang kampung dan rumah.
anda juga perlu ingat: cause & effect. bayangkan anda sekeluarga dipenjara di kandang kambing oleh tamu anda, sedangkan rumah dan sofa anda ditempati tamu tersebut.
anda hanya bisa sabar, berharap ada tetangga yang mau menolong. lama menunggu, anda mulai resah, anak-anak kelaparan, lalu mulai muncul amarah.
anda mulai frustasi, dan berusaha menyuarakan kepedihan dan perlawanan anda dengan membuat batu dari tanah liat di sekitar kandang.
anda melemparnya, lalu mengenai muka tamu tersebut. tamu itu lalu marah, menghujani anda dan anak-anak anda batu-batu kerakal, darah bercucuran.
alasan dia: mempertahankan diri. lalu polisi bernama OBAMBI datang dan berkata: “tamu ini berhak membela diri. tidak ada demokrasi yang bisa menerima lemparan tanah liat seperti itu.”
***
konflik dah berkelindan selama 60 tahun. tak cukup pemahaman soal falasi untuk menganalisa ini. saran saya: find the cause in the very beginning. setelah itu, silahkan pilih: peduli or cuek.
*gelar tikar*
*rebus kacang*
YOU ARE EITHER WITH US, OR AGAINST US!
Mr. Sora, we don’t recognise fence-sitting, you zionist.
Perang Enam Hari? Yom Kippur?
@dust
karena para pejuang menang lawan belanda, jepang dan sekutu berdirilah negara Indonesia. Hal yang sama dengan Israel, Zionis menang perang lawan negara2 arab disekitar, berdirilah negara zionis Israel.
Apakah belanda salah jaman dulu mengobrak abrik rumah penduduk dan membakarnya demi mencari ekstrimis (pejuang dalam bahasa indonesia)? Ya mereka salah, penyebabnya karena Indonesia menang di meja perundingan sehingga negara Indonesia merdeka. Coba waktu berunding kalah dan belanda terus menjajah, tidak ada yg namanya pejuang, yang ada hanya ekstrimis. Kalau Israel menang, Hamas tetap jadi teroris. tapi kalau Hamas menang, Israel adalah penjajah dan Hamas menjadi pejuang kemerdekaan.
Terserah anda mau pake kaca mata mana.
Ah, mempermainkan nama OBAMA menjadi OBAMBI, hehehehe.. cukup kreatif dan menarik. Jadi inget Bambi, si kijang lucu berkulit hitam (Bambi kijang negro bukan???)
@Geddoe
Pinjam kacangnya… lumayan buat memperkeruh suasana.
*melempar kacang ke arah dust dan sora sambil sembunyi dibelakang Geddoe*
@Catshade
Bukan. Itu perang smurf.
Para smurf berhasil mengsmurf daerah itu sehingga para smurf layak mengsmurf wilayah yang non-smurf sehingga terjadi smurfisasi.
NB
repeated:
Kembali mengutip kata2 Setsuna F. Seiei:
Senso ga okoreba hito wa sinu, 戦争が起これば人は死ぬ
Hanashiteiru aida ni hito wa sinu, 話している間に人は死ぬ
panjang lebar ngobrol disini, panjang lebar debat disini, ketika perang berlangsung orang2 pada mati. Meninggalkan kita yang sibuk lempar kata sembunyi wajah disini.
戦い!お前の信じる神のために!
tatakai! Omae no sinjiru Kami no tameni!
Bertarunglah! Demi Tuhan yang engkau percaya!
Polisi bernama OBAMBI itu pernah tinggal di tempat masyarakat pedagang kambing terbesar di dunia berada. Sayang dia agak lupa tentang bagaimana kira-kira masyarakat tersebut berjualan kambing. That’s why dia bilang pada HILLZILLA, coba kita kirim perwakilan kesana, kita dengar keluhan mereka dalam berjualan kambing. Jadi dalam minggu pertama OBAMBI sudah mengirim seorang pedagang yang sukses berdagang fish n’chips di Irlandia antara Protestan dan Katolik yang sudah bersaing sejak ratusan tahun. Untuk mencoba mencari solusi bagi para pedagang kambing.
@Sora dan Dust
Lah, ternyata ada yang seru di sini. Nimbrung ah.
Masalahnya satu; keberpihakan. Apakah logika bisa berpihak? Saya teringat iklan Koran Jakarta di Jalan Gatsu: Kebenaran tidak perlu memihak, katanya. Iklan ini, menurut saya, merupakan kritik kepada koran-koran seperti Kompas (korannya romo-romo pembela wong cilik), Tempo (korannya intelektual kampus pembela HAM pemburu koruptor), Republika (korannya Muslim menengah) dan The Jakarta Post (koran yang membela demokrasi, pluralisme dll). Koran Jakarta berpendapat “kebenaran” bisa berdiri dan berbicara sendiri tanpa harus dikonfirmasi oleh keputusan etis dalam kolom editorial. Btw, Koran Jakarta itu kalo enggak salah milik Tommy Winata, yang pernah bermasalah dengan Koran Tempo. Saya tidak membela siapa-siapa di sini; yang jelas ada masalah; fakta yang disajikan koran nasional hampir tidak pernah dilepaskan dari penilaian etis. Lihat saja berita Gaza, hampir semua koran berpihak pada penderitaan bangsa Palestina. Pemerintah kita juga begitu. Secara politis kita memang menganggap Israel penjajah yang menurut pembukaan UU 45 “harus dihapuskan dari muka bumi” (eh bener gak nih redaksinya?).
Masalah Israel-Palestina ini benar-benar sebuah persoalan dalam praktik jurnalisme. Wartawan Majalah Time di Gaza, misalnya, mengakui bahwa “imparsialitas” dalam peliputan perang adalah ilusi. Pengamat media Sirikit Syah di harian The Jakarta Post malah menulis “it’s okay to take side” ketika melaporkan berita di Gaza.
Ada banyak hal di dunia ini yang tidak ada kaitannya dengan logika dan masalah sesat-pikir yang Sora prihatinkan. Saya sih kayaknya masih seperti dulu: Keputusan etis itu bersifat imperatif dan tidak memerlukan alasan logis. Saya tidak menafikan masalah fallacy yang Anda underline, tetapi memang ada beberapa hal dari kasus peperangan di gaza yang tidak memerlukan studi mendaalam untuk mengatakan “ya” dan “tidak”. Saya yakin Anda pro-kemanusiaan (tidak seperti Geddoe yang tidak percaya kemanusiaan
), hanya saja mungkin ada kendala sedikit dalam hal retorika. Dalam kehidupan sehari-hari, retorika sering lebih penting dan lebih berguna dari logika.
Yah, kudu cabut. Nanti ditrusin de kalo sempat.
@ gentole
BTW kalau di stasiun televisi Malaysia, title card (apa sih istilahnya) buat seri berita Gaza itu “Kekejaman Israel”.
@ Ando-kun (1)
Yang penting bukan lempar kata dan sembunyi wajahnya, masbro. Melainkan kebijaksanaan (dan apa yang bisa diambil) dari diskusi tersebut.
Sementara orang-orang sipil di tahun 1940-an berbicara tentang kekejian Hitler, jutaan orang jatuh tewas. Tapi orang-orang tersebut memperoleh kebijaksanaan: bahwasanya tindakan Hitler itu amoral, jahat, abominable. Kebijaksanaan itu yang kemudian diwariskan pada anak-cucu mereka.
And that’s why fascism has — categorically — no lifeline by now. “Lempar kata” orang-orang di Inggris, Amerika, dan lain-lain itu yang mendidik dunia agar meninggalkan fasisme. Meme perdamaian masa kini dibangun dari situ.
Jadi… apa salahnya berdiskusi tentang perang?
@ dust
Hehehe… mengingat saya juga sudah menyebut Rabbis for Human Rights dan Not in Our Name di postingan asli… Anda kira saya tidak tahu soal itu?
Ras/agama Yahudi TIDAK SAMA DENGAN Israel, Bung. Ingat itu. Kebijakan negara belum tentu diamini oleh rakyatnya. Orang Amerika juga ada yang menolak perang terorisme G.W. Bush.
Yang berkeputusan dengan aneksasi adalah pemerintah Israel (yang notabene Zionis garis keras). Suka atau tidak, sebagian besar rakyat Israel (dan pemerintahnya) lebih favor pada pandangan “memerangi Arab Palestina”. RHR, NION, dan sebangsanya bisa dibilang minority report.
Kan sudah saya tulis: bahwasanya itu (rujukan talmud) bukan argumen yang valid. Namanya argumentum ad antiquitatem. ^^
Seriously, you need to re-read all my posts and comments up there. Saya tidak bilang Israel layak dibela. Tapi, saya juga tidak segitunya percaya bahwa HAMAS benar-benar ‘bersih’. Ditambah lagi konflik ini benar-benar convoluted oleh berbagai isu: di samping IPOLEKSOSBUDHANKAM, juga ada sejarah. Belum lagi perkara agama.
But I’m not going to judge. That’s their fight, not mine.
Aha… sayangnya “sebelum ada Israel” itu nggak cuma zaman Saladin. Ada sebelum dan sesudahnya juga.
Sultan yang hobi perang bukannya nggak ada. Coba google nama “Baybars”, dari dinasti Mamluk. Dia berkuasa setelah Ayyubiyah. Mentalnya mirip HAMAS zaman sekarang: ingin mengusir Kaum Frank dari tanah mediterania.
Lagipula, “damai” yang Anda bilang itu belum menghitung prasangka rasis yang ada di masyarakat. Itu pun, masih mengabaikan kota-kota sekitar yang langganan perang: semisal Acre, Ashkelon, dan Tirus.
(ref: “Perang Salib: Sudut Pandang Islam” oleh Carole Hillenbrand)
Eeeh, tunggu sebentar. Anda ini BACA SEMUA tulisan saya di atas, tidak!?
Enak saja bilang saya pro-aneksasi Israel. Baca dulu semuanya! Jelas-jelas saya katakan di salah satu komentar:
THAT.
Kesalahan besar Anda, Bung, adalah menimbang bahwa “jika saya tidak pro-HAMAS, maka saya pro-Israel”. Salah. Itu namanya false dilemma. Sama halnya dengan omongan G.W. Bush: “either you’re with us or with the enemy”.
Saya tidak membela siapapun di sini. This is THEIR war, not mine. Satu-satunya yang saya pihaki di sini adalah kemanusiaan — dan itu pun tidak cukup untuk membuat saya bersimpati pada HAMAS.
That’s what I said. That’s WHY I never support them at the first place.
Tetap saja: two wrongs don’t make a right. Belanda tidak berhak menyerang kampung, sama halnya dengan gerilyawan tak boleh menyerbu rumah Nyai dan Noni. Israel tidak berhak membunuh suku Arab, sama halnya dengan HAMAS tak boleh membunuh penduduk sipil Israel.
TAPI. Satu hal yang saya pandang sebagai kepengecutan HAMAS adalah: setelah membaur dengan masyarakat begitu rupa, dan korban sipil berjatuhan, mereka kemudian memanfaatkannya untuk propaganda “kaum tertindas”. Mereka menarik simpati dari tindakan tersebut. Shameless.
Lagipula, IMO, HAMAS tak bisa disamakan dengan gerilyawan kelas kampung. Mereka organisasi resmi dengan lobi kelas tinggi (dunia Arab, masyarakat muslim dunia). Konflik mereka disiarkan luas, bisa dipakai untuk menggoyang simpati internasional. Mereka bukan pihak “tanpa nama” — tak bisa disamakan begitu saja dengan gerilyawan kita zaman kolonial.
Saya jawab dalam dua bagian:
Pertama: Analogi Anda kurang cocok. Yang ditimpuki dengan batu tanah liat adalah orang-orang yang mencaplok rumah Anda, bukan orang tak berdosa.
HAMAS tidak menyerang agresor Israel saja: mereka menyerang penduduk sipil Israel dengan roket dan bom bunuh diri. Kalau mereka cuma menyerang aparat Israel, OK — tapi nyatanya mereka juga menyerang rakyat sipil.
Kedua:
Cause and effect? Itu orang sering bilang. Betul! Tapi ingat kata Gandhi:
Orang Palestina mati, dibalas bunuh orang Israel. Alasannya: “Biar saja, karena kami ditindas!” Kemanusiaan apa itu?
Ketertindasan tidak boleh membuat orang jadi immoral. Israel salah? Ya, benar. Saya setuju. Tetapi cara HAMAS membalas juga salah — mereka sok mengedepankan sentimen tertindas, dan seolah jadi boleh berbuat apa saja dari situ. Itu yang saya tak setuju.
BTW, argumen Anda ini sudah saya bahas di atas: two wrongs make a right. Dan appeal to pity juga.
Ini membuktikan bahwa Anda tidak membaca semua tulisan dan komentar saya. Saya sudah menjelaskan bahwa Palestina-Israel adalah permasalahan lintas topik: IPOLEKSOSBUDHANKAM, sejarah, agama, dan sebagainya. Dan tulisan tentang fallacy ini bukan untuk justifikasi salah satu pihak. Noooooo, you’re wrong.
Tulisan ini adalah hasil ketidakrespekan saya pada konflik tersebut. Mengapa? Alasannya bisa Anda telusuri dari komen-komen saya di atas.
Lagipula, kalau saya pro-Israel, barangtentu takkan saya tulis fallacy yang dilakukan Israel. Kalau saya pro-HAMAS, barangtentu tak saya tulis fallacy yang dilakukan HAMAS. Tapi nyatanya? Dua-duanya saya kritik.
Satu-satunya yang saya pihaki di sini adalah kemanusiaan. Dan bagi saya, Israel maupun HAMAS sama-sama punya ‘dosa’-nya sendiri.
* * *
Satu lagi:
Ah, Anda ini meremehkan. Baca dulu sejarah Perang Salib, dan setelah itu Palestina/Yerusalem masa pra-Islam. Dua ribu tahun lebih daerah ini jadi pusat pertikaian. Kaum Yahudi diusir oleh Romawi sudah sejak sebelum Masehi.
60 tahun yang Anda bilang itu cuma jejaknya di masa modern saja.
@ Abu Geddoe (1)
Hus, masbro. Nggak semua orang paham gaya Poe!
:::::
@ Catshade
Sebenarnya itu agak beda, tapi kok rasanya paralel ya?
:::::
@ Ando-kun (2, 3)
Satu lagi soal “kacamata”…
Kalau seandainya HAMAS punya pesawat pembom B-2, apa mereka nggak akan mengebom kota sipil Israel, yah?
Israel memang salah dengan memulai, tapi cara HAMAS menanggapi juga jelek. Mental mereka pada dasarnya nggak jauh beda: sama-sama ‘hobi’ menyerang warga sipil dan bukan tentara/aparat pemerintah sebangsanya.
(IMO, CMIIW)
Ini… kalimat yang saya resapi maknanya, usai membaca tarikh Perang Salib. (u_u)
:::::
@ oddworld
Sayangnya, ya, itu, tinggalnya cuma beberapa tahun. Jadi beliau belum sempat mengenal kepribadian para pedagang kambing dalam-dalam…
:::::
@ gentole
Hmm, menarik tuh. Saya juga beberapa kali dengar slogan “kebenaran tidak memihak” itu. Tapi secara praktis itu hal yang sulit (IMHO). Lha, pemilik suratkabar juga manusia? Pastilah dia punya moral attachment dalam memberi pemberitaan.
IMHO sih, sebenarnya take side itu sendiri tak masalah. Asalkan landasan dan alur logikanya benar.
Kalau take side-nya berdasarkan sentimen keagamaan, atau dari kabar sepotong-sepotong, nah, ini yang take side-nya perlu dipertanyakan.
Masalahnya banyak orang berkoar-koar tentang Palestina-Israel, tapi pengetahuan sejarah dan sospolnya minim sekali. Mungkin cuma sedikit yang tahu kasus pengusiran Yahudi oleh Romawi yang dulu sekali. Atau soal mekanisme “tanah wakaf” yang jadi andalan Piagam HAMAS. Padahal itu tema yang krusial.
:::::
@ Abu Geddoe (2)
*ngakak*
Bung Sora, anda mengklaim anda memihak kemanusiaan. Berarti anda harus memihak Hamas karena Israel bukan manusia!!!
Tahukah anda bahwa kaum Yahudi itu lebih rendah dari manusia! Heh! Heh! Lihat saja aksi binatang mereka terhadap warga Palestina.
Anda harus mendukung Hamas!!! Harus itu!!!
*kembali ngoding*
^
Hus! Nggak semua orang tahu gaya berkomentar Poe. Hati-hati kalau ngomong!
* * *
Tapi, BTW, ada lho yang berpikir kayak begitu. Menyedihkan. Padahal kontribusi kaum Yahudi/keturunan Yahudi pada kemanusiaan aslinya lumayan banyak. ^^;
[List of Jewish scientists and philosophers, by country]
Di suatu masa, saya diundang untuk memberi pembekalan untuk calon anggota sebuah organisasi mahasiswa ekstra-kampus yang berangkat ikut latihan pengkaderan. Materi yang saya bawakan adalah bahaya teori konspirasi sebagai sebuah fallacy, dan bagaimana mendisiplinkan diri menggunakan argumen yg bersih dari sesat nalar.
(
.
Setelah saya selesai, pembicara kedua kemudian datang. Dalam diskusi kedua ini para peserta tampak bisik-bisik dan cengar-cengir saat pembicara kedua itu membawakan materinya: bahaya konspirasi Yahudi, bahaya konspirasi sel-sel agama anu, bahaya sisa-sisa komunis dan bahaya agen-agen PSI di kalangan mahasiswa!!!
Jadi teringat kata-kata Saji Crossroad (terjemahan bebas):
” Awalnya aku pikir nggak ada hubungannya denganku, peduli amat. Sampai akhirnya ada bis yang meledak didepan mataku, orang banyak yang mati. tiba-tiba aku tersadar, その関係ないは無い (artiin nih, susah ngartiinnya)”
Artinya kalau sora ada di palestina dan melihat didepan mata pembantaian secara langsung dimana ratusan hingga ribuan anak kehilangan orang tua juga sebaliknya, pola pikir sora akan berubah. sekarang sih, karena jauh dan cuma liat lewat media mungkin saja bisa bilang,”Saya tidak membela siapapun di sini. This is THEIR war, not mine.” Begitu khan???
(disambung sendiri karena kata2 sora belum selesai)
….yang ternyata lebih tertarik untuk belajar bagaimana untuk menjadi Hitler baru yang lebih elegan dan terhormat. misalnya dengan gaya preemtive attack, atau menyerang orang lain karena “membela kebenaran”. Hitler memang goblok menyerang negara lain sehingga dibenci orang sedunia.
Dengan kebijaksanaan itu anak keturunannya berusaha untuk menjadi Hitler yang jauh lebih smart, menguasai dunia, membantai orang lain, membenarkan yang salah dengan cara simpatik.
Kalau misalnya cerita Gundam 00 benar terjadi, setelah 300 tahun pun kebijaksanaan yang diwariskan hanya dimanfaatkan anak cucu buat membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.
NB. Lagi nonton Gundam season 1 utk ketiga kalinya, sambil nunggu season 2 berlanjut.
Koq terjadi sinkronisasi antara Gundam 00 dengan postingan orang2 kurang kerjaan disini (termasuk gue)?
@ semua yang ribut-ribut
Isn’t it enough to condemn Israel, without having to support cowards like HAMAS?
@ si rudi
Weleh…
:::::
@ Ando-kun
Lalu kalau melihat, kenapa? Jadi harus berpihak, begitu?
Jawabannya: tidak.
Arthur Gish — anggota Christian Peacemaker Team — menghabiskan waktu bertahun-tahun di Hebron, melihat langsung kekejaman Israel. Belum lagi perlakuan pemukim yang melecehkan suku Arab-Palestina. Apakah dia jadi memihak militansi HAMAS karenanya? Tidak.
Dia melihat tank Israel hendak menghancurkan pasar, dan dia dengan lantang berteriak Baruch Hashem Adonai! (“Terpujilah Nama Tuhan!”) di depan tank tersebut. Setelah semua itu, apa dia berkukuh bahwa “This has become my war”? Sekali lagi, tidak. Beliau justru menekankan dirinya sebagai “sahabat kemanusiaan” di Hebron.
Perang tidak jadi lebih baik jika makin banyak orang ikut campur. Saya bukan orang Palestina, bukan pula orang Israel. Mengapa saya harus berperang? Adakah alasan yang kuat? Hence, that’s not my war.
Tapi satu hal sudah jelas: saya membenci baik Israel maupun HAMAS. Keduanya sama-sama merendahkan nilai kemanusiaan untuk sebuah argumen bernama “negara”. Sikap saya sama dengan yang dikatakan Geddoe: “Isn’t it enough to condemn Israel, without having to support cowards like HAMAS?”
~ Joseph Rotblat
Ah, Anda terlalu pesimis. Saya curiga, jangan-jangan Anda ini rada nihilis. Betul?
Apapun, saya sarankan: jangan terlalu meremehkan manusia. Zaman kita punya orang seperti G.W. Bush — tapi jangan lupa bahwa kita juga punya Gandhi, Bunda Theresa, dan Paus John Paul II. Mereka yang besar atas nama kemanusiaan. Kita pernah punya Hitler, tapi jangan lupa bahwa kita punya Russell–Einstein Manifesto. Jangan lupa bahwa kita punya mereka yang meredakan Insiden Teluk Babi 1961.
Siapa yang meminta maaf pada Galileo setelah ratusan tahun? Siapa yang mengajari dunia dengan perjuangan non-kekerasan? Siapa yang mencegah perang nuklir meletus? Siapa yang minta maaf pada Charles Darwin karena menuduh ajarannya bersemangat ateistik? Orang-orang itu yang mewarnai zaman kita. Bukan cuma GWB, Ehud Barak, dan Ariel Sharon.
That is what humanity can do. Orang yang jahat selalu ada — tapi bukan berarti kebijaksanaan manusia jadi nihil. Manusia selalu bisa berubah dan belajar.
Ah, 00 kan belum tamat.
Coba masbro nonton Gundam SEED atau Wing, di sana semangat pasifisme-nya relatif kental.
BTW, sekali lagi saya bilang: jangan remehkan kemampuan manusia untuk belajar. Dua ratus tahun lalu kita masih mengakui perbudakan, dan sekarang tidak. Seratus tahun lalu wanita Jawa dipingit tinggal di rumah, dan sekarang mereka boleh jadi ilmuwan. Tiga ratus tahun lagi, siapa yang tahu?
And that’s what one should remember when he’s talking about zeitgeist.
:::::
@ Abu Geddoe
Quoted for truth.
@ sora9n
BTW, zeitgeist juga proses menjadi “lebih baik”-nya dilihat lewat zeitgeist itu sendiri, lho.
@sora1
Bisa dibilang saya memihak rakyat Palestina (bukan Hamas, bukan pula Fatah).
Apakah pendapat saya berubah jika melihat langsung ditempat kejadian? Who knows, cause I know that human can be change in one second or less depends on situation. and I am just an ordinary human.
@sora2
Nihilis???? hehehe… saya lebih suka kata kosongisme atau hampaisme.
Jika ada kejahatan maka akan muncul kebaikan, jika kebaikan bersinar maka kejahatan akan datang dengan kegelapannya. Semua orang pasti tahu kalau terang tak akan disebut terang kalau tidak ada gelap (walaupun ada yang berdalih gelap adalah situasi tanpa cahaya).
Dengan semakin tingginya kebijakan, kebejatan juga kan tumbuh menyaingi kebajikan hingga kiamat.
@sora3
)
Gundam Wing dan Seed? (mencoba mengingat kembali masa lalu)………..
Perasaan itu serial masa depannya mengawang-awang nggak jelas (hihihi…… bukan anno domini sih, jadinya anggap aja khayalan
BTW. Perbudakan fisik mungkin hilang, tapi tetap saja perbudakan masih ada dgn berganti wajah jadi perbudakan ekonomi dan politik.
Jaman berubah bung! karena itu kebejatan juga turut berubah agar tetap survive.
(sambil membayangkan 300 tahun kedepan pria dijajah wanita, pria dipingit nggak boleh keluar rumah)
Sejarah selalu berulang… walau dgn wajah baru
Melihat Sora vs Ando seperti melihat Expanding Universe vs Big Crunch, eksponensial positif (atau polinomial positif) vs sinusoidal.
@ Abu Geddoe
Waduh, penjelasannya bakal panjang. Sebenarnya saya punya rencana menulisnya di postingan tersendiri… jadi yang di sini gist-nya saja ya. ^^;
Sebenarnya, soal zeitgeist, ada pendekatan yang cukup unik. Konsepnya diturunkan dari rumusan open society-nya Karl Popper.
Menurut Popper, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berkembang seiring waktu. Mereka belajar dari kesalahan, dan menjadi lebih baik kedepannya. Kasarnya: there’s no best but better state.
Popper menolak konsep utopia, sebab resikonya sangat besar. Beliau lebih memilih “perbaikan gradual”. (tidak saya bahas lebih lanjut di sini — lebih baik saya tulis post lengkap secepatnya)
Nah, konsepsi zeitgeist a la Popper agak beda dengan zeitgeist yang biasa. Dia punya tiga strand:
Pendekatan ini sangat mirip dengan metodologi ilmiah dan evolusionisme.
Kalau zeitgeist biasa, arus perubahannya tergantung kehendak masyarakat. Tapi, dengan pendekatan Popper, aturannya lebih kompleks: ada yang namanya “belajar dari kesalahan” (i.e. poin 2). Jadi kehendak masyarakat bukan faktor utama.
Alhasil, zeitgeist bukan hanya dinilai dari zeitgeist, tapi juga dari pembelajaran. Lebih lanjutnya… saya simpan dulu untuk saat ini. Sori, soalnya ruang terbatas.
*sembah-sembah* m_(-_-)_m
duh, utang posting banyak banget. tulisan QM belum selesai pula…:::::
@ Ando-kun
Lha, iya. Saya juga. Makanya saya sama-sama nggak suka dua pihak yang bertikai di sono (i.e. HAMAS dan Israel). Soal Fatah saya no comment, soalnya wilayah abu-abu.
Lha, “nihil” kan artinya “kosong” alias “hampa” ? ^^;;
Setidaknya, zaman sekarang, orang sudah tidak menolerir kolonialisme dan perbudakan fisik. Itu termasuk kemajuan juga — walaupun, berapa banyak majunya, tentu relatif di mata setiap orang.
Tapi semangat pasifisme-nya bagus. Nontonlah.
Padahal sendirinya cuma baca manga Gundam Wing, tapi enggak nontonSeleksi alam? Evolusi, anyone?
*ditimpuk*
Hmm, kapan-kapan bahas soal ini, ah. Nyambung sama topik yang diomongin Geddoe, soalnya. =3
Tapi manusia kan bisa belajar. Setidaknya, itu layak disyukuri… ^^a
:::::
@ lambrtz
Itu namanya saling melengkapi.
*ditimpuk*
sora, anda menyatakan dosa hamas tak menjadi alasan kita membela palestina.
padahal, pertanyaan yang disodorkan adalah: “perlukah mendukung palestina?”
inilah logika awal anda yang imho KELIRU dari sisi silogisme, dipamerkan
sejak awal menulis posting (dari sisi judul –> Studi kasus Palestina-Israel),
hingga kesimpulan (Sebab yang terpengaruh bukan hanya Israel dan HAMAS saja,—
melainkan juga para pendukung mereka di berbagai belahan dunia).
lho studi kasusnya israel VS palestina kok bisa jadi israel VS hamas?? apa
menurut anda para pendukung palestina di seluruh dunia itu pasti juga
pendukung HAMAS? oh, come on.. falasi apa ini? (coba anda jelaskan..).
BUKTINYA, ketika saya tes dengan 2 pertanyaan soal PALESTINA, anda berdalih
dengan mencontohkan kesalahan HAMAS: “hamas juga punya dosa, blablabla..”
dan bukannya ‘kesalahan PALESTINA.”
once again, plz answer this q: “atas dasar apa israel menyerobot rumah dan
tanah bangsa palestina? apa itu memberi hak untuk menyingkirkan dan
memenjarakan penduduk palestina dalam “penjara” terbesar di dunia itu?”
kali ini, tolong jawab tanpa seret-seret HAMAS dan memamerkan falasi
TWO WRONGS DON”T MAKE blabla.. jawab aja, apa teks soal tanah perjanjian
itu (yang membuat israel menyerobot palestina) memberi hak bagi mereka
memenjara (memblokade) penduduk palestina?
saya tunggu..
***
saya tahu anda tak mendukung palestina or israel, saya pun tak pernah
menuduh anda dukung israel. silahkan cek di semua posting saya. yang
pernah saya katakan adalah: “jika ANEKSASI itu anda amini, blabla…”
tahu artinya ‘jika’ ato ‘IF’? apakah ini sebuah pernyataan afirmatif?
tidak. jadi, apakah saya MEMASTIKAN bahwa anda pro-aneksasi? tidak.
apakah saya sedang menuduh? TIDAK. saya sedang mengecek sikap anda.
jadi, tolong anda cabut tuduhan anda bahwa saya menuduh anda PRO-
ANEKSASI israel, dan cabut tuduhan anda bahwa saya memamerkan FALSE
DILEMMA.
lalu, jawablah dengan lugas: “bolehkah dayak mengusir dan membunuhi
madura di sampit, dengan modal basis logika israel pada palestina?”
OK?? saya tunggu..
***
sora: “Pertama: Analogi Anda kurang cocok. Yang ditimpuki dengan batu tanah liat adalah orang-orang yang mencaplok rumah Anda, bukan orang tak berdosa. HAMAS tidak menyerang agresor Israel saja: mereka menyerang penduduk sipil Israel dengan roket dan bom bunuh diri. Kalau mereka cuma menyerang aparat Israel, OK — tapi nyatanya mereka juga menyerang rakyat sipil.”
oh, iya yah. OK, saya sempurnakan. baca ya: “bayangkan anda sekeluarga
dipenjara di kandang kambing oleh tamu anda, sedangkan rumah dan sofa
anda ditempati tamu tersebut bersama anak istrinya. anda hanya bisa
sabar, berharap ada tetangga yang mau menolong. lama menunggu, anda
mulai resah, anak-anak kelaparan, lalu mulai muncul amarah. anda mulai
frustasi, dan berusaha menyuarakan kepedihan dan perlawanan anda dengan
membuat batu dari tanah liat di sekitar kandang. anda melemparnya, lalu
mengenai muka ISTRI dari tamu tersebut, yang seenaknya didatangkan
untuk hidup di dalam rumah anda. lalu tamu itu marah, menghujani anda
dan anak-anak anda batu-batu kerakal, darah bercucuran.”
dah pas kan?
anda terlalu bodoh untuk membuat batu dari tanah liat berpresisi tinggi
sama seperti hamas (maklum, si polisi obambi justru membantu si tamu
perebut rumah anda itu dengan batu krakal berfosfor.) akibatnya, batu
anda itu tidak mengenai sang tamu, melainkan mengenai istri si tamu,
yang kemudian membuat si tamu meradang dan membalasnya dengan kerakal
berfosfor pada anda dan anak-anak anda, bahkan pada petugas RT yang
berusaha menolong anak-anak anda.
alasan si tamu merebut rumah anda: ini dulu rumah nenek moyang kami,
yang dijanjikan pada kami dalam serat darmokuntul.
udah pas sekarang??
***
lalu, pertanyaan saya pertama: “palestina saat ini menjadi SATU-
SATUNYA bangsa yang masih berjuang melawan aneksasi (selama 60-an
tahun). gimana pendapat anda, perlukah didukung?”
anda tak berani menjawab tegas, namun ngeles dengan menyodorkan
dua pendapat yang dipakai pihak israel dan palestina. anda bilang:
“pendapat israel mereka awalnya memiliki Tanah Terjanji di Palestina.
Meskipun begitu kemudian mereka tergusur secara paksa (oleh pasukan
Romawi). Romawi terus berkuasa di tanah tersebut, dan menamainya
“Palestina”.”
sebentar.. anda bilang argumen macam ini (soal tanah terjanji)
merupakan BENTUK FALASI. lalu ngapain anda membawakannya pada saya??
anda ini benar-benar pamer CONTRADICTIO IN TERMINIS.
lalu, pada 1930-1940, adakah larangan bagi yahudi untuk hidup di
yerusalem?? TAK ADA. warga yahudi sudah ada yang hidup di palestina
puluhan tahun, sama seperti warga islam dan kristen.
jadi, ngapain harus bikin zionisme untuk mendirikan negara israel
dengan mengusiri arab palestina (islam dan kristen) dari wilayah
suci tiga agama itu? memangnya pindah dan bermukim di sana DENGAN
cara damai tidak bisa?
dari sisi ini, JELAS israel harus dihapus dari peta muka bumi,
kembalikan dia menjadi sebuah negara damai milik tiga umat
beragama. tak ada hamas, tak ada fatah, tak ada likud, dll.
BTW, sora bilang: “HAMAS tak bisa disamakan dengan gerilyawan kelas
kampung. Mereka bukan pihak “tanpa nama” — tak bisa disamakan begitu
saja dengan gerilyawan kita zaman kolonial.”
ngawur banget anda ini. emangnya gerilyawan kita dulu itu gak punya
nama? hey, nama mereka adalah BKR, TKR, lalu jadi TNI. agen pelobi
mereka adalah sukarno, hatta, dll. sebelum itu, mereka juga sudah
muncul dengan nama SI dan PKI. sneevliet, tokoh komintern kelas
wahid se-Asia jadi pemimpinnya.
jadi gerilyawan kita tak bisa disamakan? think again..
***
SORA: “60 tahun yang Anda bilang itu cuma jejaknya di masa modern
saja.”
lha terus gimana?? anda mau kita membahas pembenaran aneksasi israel
itu berdasarkan sejarah 1.000 SM? weleh.. weleh.. bukannya itu malah
bentuk argumentum ad antiquitatem. gimana sih?
lha kalo ngomong kaya gitu, boleh dong orang china di indonesia diusir
karena ini adalah tanah warisan bangsa pribumi (jawa, sunda, dll).
gitu??? sic.. ga harus paham teori falasi untuk jawab: TIDAK!
makanya, saya heran dengan omongan ini: “karena para pejuang menang
lawan belanda, jepang dan sekutu berdirilah negara Indonesia. Hal yang
sama dengan Israel, Zionis menang perang lawan negara2 arab disekitar,
berdirilah negara zionis Israel.”
sangat bodoh. “kapan kita pernah menang perang lawan belanda?” yang
ada adalah kita merebut kemerdekaan melalui perundingan, bukan dari
bambu runcing dan sten gun.
lha kalo israel berhak menduduki wilayah yerusalem karena menang perang
lawan arab, maka boleh dong indonesia nyerang singapore lalu menduduki?
begitu?? mana PBB ass hole itu?
satu lagi, sora. inkonsistensi anda memuakkan.
u sounds so smart, write as a smart ass, but
u think like those jerks u criticize (pamer
falasi, salah satunya argumentum ad antiqui..
whatever..)
sungguh, sebuah kontradiksi yang memerihkan.
*gelar permadani*
*bakar BBQ*
Idem!
Kelamaan mendekam di penjara wisata-jalan2-kuliner-makan2-backpacking membuat saya jadi lupa blog.
^
*pasang kipas dan AC*
*gotong sekrat minuman dingin*
*numpang di permadaninya Abu Geddoe*
@dust
Mata anda kelilipan yah nggak baca kata2 “Indonesia menang di meja perundingan “?
Sungguh BODOH anda kalau menganggap kata “pejuang” hanya untuk orang yg bawa bedil dan bambu runcing. Anda pikir Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka itu bukan pejuang karena tidak bawa perabotan tempur? Pena mereka jauh lebih sakti dari pada bambu runcing.
Lebih TOLOL lagi kalau “kemenangan diplomasi” tidak anda anggap sebagai “kemenangan”, gak usah ganti pake kata merebut kemerdakaan cuma karena beda kalimat doang.
(balik menunding mengacung jari)
Mungkin Hamas lebih suka “merebut kemerdekaan” lewat cara lempar roket.
Nyerang Singapur? Boleh saja koq, kalau Indonesia berani menghadapi keroyokan Singapur, Malaysia, Australia, New Zwland, Inggris dan kambrat Commonwealth-nya.
Hayo, berani nggak? berani nggak? berani nggak?
(tangan berkacak pinggang sambil tersenyum sedih mengingat nasib buruk China kalah dikeroyok hingga terpaksa menyerahkan Macau dan Hongkong pada negara pengeroyoknya)
@Geddoe
Huah… seru dan saru
ikutan gelar tikar sambil ngipas-ngipasin kedua belah pihak.
(Geddoe meleng, keratan BBQ hilang)
Eh. Satu hal yang bisa saya tarik dari argumennya dust; memang agak overgeneralisasi juga kalau kita menganggap ‘Israel’ dan ‘Palestina’ sebagai sebuah entitas yang tunggal dan posisinya kekal sepanjang zaman. Ada banyak faksi di sana, dan posisi mereka pun berubah-ubah seiring waktu.
Israel di bawah Yitzhak Rabin tentu berbeda dengan Israel di masa Ariel Sharon. PLO juga dulu mengambil jalan keras, lalu akhirnya jadi lebih diplomatis sehingga dicap sellout oleh faksi2 ekstrim seperti Hamas. Dan dengan pemerintahan Palestina yang retak seperti sekarang, sulit menyebut siapa yang menjadi yang berhak menyandang status otoritas resmi Palestina.
Dan sekedar menambahkan dua sen saya: Kedua pihak harus mau berkompromi dan ‘rela melepaskan sesuatu’ kalau mau perang ini berakhir dengan damai. That’s the way of politics and diplomacy. Mencoba memplot masa depan berdasar masa lalu (pra-1967, pra-1948, pra-1920an, dan yang lebih kuno lagi) selama ini terbukti tidak pernah berhasil. Both sides have to accept the present reality of the opposing side’s conditions.
Entah Cina sejak awal sengaja atau tidak, akhirnya mereka malah untung besar kan setelah HK dan Macau dikembalikan dengan penuh kemakmuran.
…sayang kita ‘cuma’ dijajah Belanda.
Let’s read what a palestinian think about all this mess
http://www.huffingtonpost.com/daoud-kuttab/keeping-civilians-away-fr_b_162482.html
Di lain pihak bagaimana kalau kita mulai bicara tentang Darfur, it has cost 100.000 human life ,some moslem life if it matters. Where is the protest ?
@oddworld:
Di Darfur itu ada Yahudinya nggak?
@Catshade
Yang pasti walaupun di Darfur nggak kayak arab kering minyak, tapi kabarnya tambang intan nya bejibun. Amerika nggak bakalan mau ngelewatin kesempatan ini koq.
@ dust
Sebelum menanggapi…
Saya kopikan dulu garis besar stance saya. Ini sudah saya tulis dalam salah satu komentar di atas.
Lalu, menjawab komentar Anda:
Saya tanya kalau begitu: adakah kalimat saya yang menyatakan “tidak perlu mendukung rakyat Palestina” ? Dari semua tulisan di atas?
Tidak. Saya selalu menyebut “tidak mendukung HAMAS”, tapi tidak pernah “tidak mendukung Palestina”.
Ada yang selip di sini. Anda menyimpulkan bahwa “saya tidak mendukung HAMAS” maka “saya tidak mendukung Palestina”. Saya tidak pernah bilang begitu. Sudah berulangkali saya tulis: yang saya pihaki adalah kemanusiaan. Kalau Anda bertanya sejak awal pada saya: “apakah Anda berpihak pada rakyat Palestina?” Maka jawabannya adalah “Ya”.
Tapi bukan dengan cara HAMAS. Perjuangan mereka salah dari awal. Dengan menyakiti rakyat sipil sebagai “balas dendam”, mereka membuat keadaan jadi lebih rumit.
Saya jawab dalam dua bagian (lagi):
Pertama: Soal “Palestina-Israel” menjadi “HAMAS-Israel”.
Itu bukan fallacy. Namanya pars prototo… di pelajaran bahasa Indonesia SMP juga sudah ada. Intinya “menyebut sebagian mewakili keseluruhan”.
Dalam kasus ini, saya pick HAMAS sebagai contoh dalam diskusi. Kenapa? Karena mereka adalah faksi terbesar di Palestina. Mayoritas. Bahkan sempat menang pemilu.
Alhasil, cukup legitimate jika saya mem-pars prototo-kan HAMAS sebagai “Palestina”.
Tentu, ini agak overgeneralisasi. Saya mengakuinya. Tapi, mengingat perjuangan mereka yang diliput besar-besaran, kemenangan pemilu mereka, dan dukungan rakyat… tentunya wajar jika menisbatkan “Perjuangan Palestina” pada mereka. Bukan begitu?
Kedua: Pertanyaan “menurut anda para pendukung palestina di seluruh dunia itu pasti juga pendukung HAMAS?”
Aha… Anda salah paham.
Mari tinjau ulang kalimat saya:
Bandingkan dengan:
Apakah itu berarti pendukung timnas Inggris, di seluruh dunia, membela Arsenal? Ya enggak. Lha wong tim lain juga banyak.
Kembali ke topik: Apakah kalimat saya berarti “pendukung Palestina di seluruh dunia pasti pendukung HAMAS?” Ya enggak. Ada yang pro-Fatah, PLO, atau malah pro dengan alasan kemanusiaan semata. Seperti sudah saya bilang, penyebutan HAMAS di situ adalah pars prototo saja.
Tidak.
Bung, kalau Anda mengikuti saran saya, dan BACA semua komentar dan tanggapan saya, terutama untuk mas alex di atas… pertanyaan ini nggak bakal Anda keluarkan.
Sudah jelas dari awal saya bilang: satu-satunya yang saya pihaki di sini adalah kemanusiaan. Lain tidak. Anda terjebak dalam pikiran, bahwa karena saya mengkritik HAMAS, maka saya tidak pro-Palestina. Salah. Saya pro pada perjuangan rakyat Palestina, tapi tidak pada HAMAS. Cara mereka salah dari awal.
Mohon maaf, kemarin saya bacanya sambil agak lieur. Kelihatannya ada salah tangkap di sisi saya.
Saya tarik kembali kalau begitu. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Seperti sudah saya utarakan berkali-kali: jawabannya “tidak” dan “tidak”. Kenapa? Karena alasan kemanusiaan. Selanjutnya, saya rasa bisa Anda elaborasi sendiri.
Dengan asumsi si “istri pendatang” itu sipil Israel? Oke… kelihatannya cukup tepat.
Cuma, ada satu hal yang Anda harus perhatikan. Tindakan melempar batu tanah liat itu tidak membawa keuntungan apa-apa. Dengan melempar batu tanah liat, Anda membuka kesempatan si pencaplok rumah untuk berdalih: “lihat, keluarga saya ditimpuk! saya jadi korban!”
Pada akhirnya, justru dia seolah “mendapat angin” untuk membalas. Dengan *merasa* jadi korban, dia merasa berhak melempari Anda dengan batu berfosfor dan sebagainya. Masalah Anda jadi berlipat: bukan saja dipaksa menginap di kandang kambing, kini pun Anda dilempari kerikil dan fosfor.
Saya tidak hendak menilai apakah tindakan melempar tanah liat itu benar atau salah. Tetapi, kalau dipandang dari segi untung-rugi, begitulah jadinya.
Saya tidak memihak si pencaplok rumah, sebab kesalahan utama pada mereka. Saya bersimpati pada keluarga yang digusur ke kandang kambing — tapi, seperti halnya dengan HAMAS, cara perjuangan mereka tidak menyelesaikan persoalan.
Saya tekankan dulu…
Saya bukannya tidak berani menjawab tegas. Masalahnya: saya memang tidak punya stance mendukung siapapun. Kasus Israel-Palestina ini begitu rumit dan convoluted sedemikian hingga saya tak tertarik mengurusinya. Ditambah lagi mental para “pemain”-nya yang tak pernah belajar dari masa lalu. Singkat kata: saya memang tak mendukung siapapun. Kecuali rakyat dan korban kemanusiaan, tentu.
Saya memberi Anda argumen kedua pihak, untuk Anda pertimbangkan sendiri yang mana yang harus Anda dukung. Arab punya argumen, Yahudi punya argumen. Saya tak peduli. That’s their problem, not mine.
Baca lagi tanggapan saya di atas. Saya memberikannya untuk Anda pertimbangkan: “ini lho, argumen kedua belah pihak”. Bukan berarti saya mengamininya.
Ibaratnya guru matematika memberi soal pilihan ganda. Pasti ada yang benar dan ada yang salah. Apakah guru matematika jadi CONTRADICTIO IN TERMINIS? Jelas tidak. Lha wong dia cuma memaparkan.
Soal apakah Israel berhak menduduki Palestina atau tidak, seperti yang sudah saya tekankan dari awal, bukan urusan saya. Satu-satunya concern saya adalah kemanusiaan. Bagaimana penyelesaian konflik Palestina-Israel… biarlah mereka sendiri yang mengurusnya.
Anda ini benar-benar lupa pelajaran Bahasa Indonesia, atau bagaimana? Tadi pars prototo nggak ingat, sekarang ini.
Itu namanya kiasan, bung. Tentu BKR, TKR, dan TNI punya “nama”, tapi bukan “nama” dalam sense seperti HAMAS. TKR dan kawan-kawan tidak dipandang Belanda seperti HAMAS dipandang Israel. TKR tak punya nama di dunia internasional. In that sense, they’re different.
BTW, Anda ini tidak konsisten. Tadinya ngomong gerilyawan, kok mendadak jadi bawa-bawa PKI. Kalau PKI, ya, punya akses ke Komintern. SI punya massa Islam. Tapi yang saya tangkap, kita ini sedang membicarakan gerilyawan masa pra-Pergerakan Nasional.
(CMIIW)
Oh tidak… Anda salah.
Esensi dari ad antiquitatem adalah: “karena tradisi, maka benar”. Misalnya:
Yang di atas ITU yang namanya argumentum ad antiquitatem.
Kalau menimbang perkara sejarah dengan obyektif, dan menarik kesimpulan darinya, itu bukan ad antiquitatem. Yang saya sarankan adalah: pelajari sejarah secara menyeluruh. Pertimbangkan semua aspek, dan tarik kesimpulan dari situ. Yang saya lihat Anda cuma terpaku pada “60 tahun terakhir” saja.
Jadi, bukannya saya mengamini ad antiquitatem. Coba dipikir lagi.
Kalau Anda tak mengerti fallacy, jawabannya “tidak”. Tapi, kalau Anda mengerti fallacy, jawabannya juga “tidak”.
Jadi, ilmu logika dan pendapat Anda sejalan. Bukan begitu?
Bagian mana yang inkonsisten? Coba dirundingkan lagi; mungkin kita sekadar mispersepsi saja.
@ Abu Geddoe | GM | baja hitam
Duh, jangan nyampah dong… ^^;;
:::::
@ Ando-kun (1)
Yang ini nggak usah saya tanggapin ya, soalnya isinya buat orang lain.
:::::
@ Catshade (1)
Tapi, IMHO, orang harus ingat bahwa HAMAS punya dukungan rakyat yang besar. Dan lagi mereka menang pemilu. Nama di dunia internasional juga lebih berkibar dibanding, katakanlah, Fatah. (kalau PLO, sejak Yasser Arafat meninggal jadi kurang terdengar
)
Memang agak generalisasi dengan menyatakan bahwa “Perjuangan Palestina” identik dengan “Perjuangan HAMAS”. Tapi saham terbesar perjuangan Palestina, suka atau tidak, di tahun 2008-2009 ini adanya di tangan HAMAS. (o_0)”\
Yup, yup. =3
:::::
@ oddworld
Wah, makasih link-nya. ^^
*segera meluncur*
Chechnya dan Kosovo juga jarang kedengeran, tuh. Kenapa ya?
:::::
@ Catshade (2)
Hus, dilarang menyinggung SARA!
:::::
@ Ando-kun (2)
Mungkin tinggal tunggu waktu?
[/sarcasm]
Iklan apaan tuh? lagi2 bandwagon fallacy, mentang2 Arsenal mania. Pelor the gunners udah habis, gudang mesiunya lagi direparasi.
Lagian kalau mau mengikuti isu terbaru, lawan Arsenal tuh serigala Italia, AS Roma. Arsenal bakalan kewalahan karena nggak punya peluru perak, bakalan dicabik-cabik werewolf dari kota Roma.
@Sora
Memangnya Chechnya dan Kosovo ada duitnya gitu?
Ada duit ada bantuan donk (mengikuti prinsip demokrasi kapitalis gaya USA sewaktu membantu Kuwait)
@Catshade
Sayang Belanda nggak mau bangun Casino diseluruh penjuru Indonesia kayak Macau yang makmur sbg kota judi
Kasino Warkop mau??
*Api makin berkobar, “bantuin ngipasin dooonngggg!”*
@dust
Waduh. Sabar, Mas. Coba lebih tenang diskusinya.
*dejavu*
Tapi, mas, asli, selama setahun saya berseliweran di blogosfer, saya berani bilang Mas Sora ini termasuk blogger yang selain ensiklopedik alur berpikirnya pun lurus bin istiqomah. Orangnya setia sama logika. Ini komentar saya saja. Saya tidak bermaksud membuat Anda mengamini pendapat lawan diskusi Anda.
Nah, izinkan saya berpendapat lagi.
Saya kira persoalannya terletak pada kehendak banyak orang, termasuk pemerintah Israel dan pembela Hamas, untuk menjustifikasi kekerasan/kejahatan yang dilakukan kedua belah pihak. Kejahatan adalah kejahatan apapun dalilnya. Logika tidak bisa dijadikan alasan untuk “menjadikan benar” sebuah perbuatan yang secara etis dianggap salah atau benar. Apabila standarnya logika, maka tidak ada kejahatan tanpa “alasan”. Dengan kata lain, apabila semua kejahatan dicobajelaskan “alasannya”, maka tidak ada orang yang bersalah dan layak dihukum di muka bumi ini kecuali Allah, mungkin, atau gerak alam semesta. Israel punya seribu alasan untuk bersikap agresif dan mengklaim tanah Palestina milik mereka, dan bangsa Palestina (terutama Hamas) juga tidak kalah merasa berhak untuk menggunakan kekerasan dan berpikir bahwa pemerintahan Israel harus dilenyapkan. Lingkaran setan ini tidak ada ujungnya!
Kutukan yang dilontarkan dunia terhadap Israel dan Hamas atas kematian korban sipil itu murni disandarkan pada akal sehat atau nilai-nilai yang berlaku umum pada zaman ini (jiwa zaman berbasis humanisme modern dan kitab suci). Pemihakan Sora terhadap kemanusiaan pun saya kira tidak lepas dari penilaian etis yang dia anut, yang bisa jadi tidak melulu terkait dengan logika, tetapi lebih kepada rasa kemanusiaan yang dia miliki [meskipun saya mengerti Mas Sora mengaku sebagai seorang utilitarian/pragmatis].
Jadi, inti pendapat saya adalah, apa yang benar secara logis itu tidak selalu terkait dengan apa yang benar secara etis. Logika itu bebas nilai, ia tidak memiliki tujuan apa-apa kecuali kesimpulan yang dilandasi oleh premis yang kokoh. Keberpihakan itu dilandasi oleh penilaian etis, bukan pemikiran logis. Dalam konteks etika atau sistem nilai itulah keberpihakan bisa diperbincangkan. Dan saya kira kita kudu sadar, keberpihakan — apapun landasannya, apakah itu sentimen kelompok atau penilaian subyektif — akan selalu bersifat “fallacious” dan bisa membuat alur berpikir kita bengkok. Apabila Mas Dust merasa perlu memihak Palestina atau Hamas karena Anda seorang Muslim say so, Anda tidak perlu mencari justifikasi logis kemana-mana, karena yang pro-Israel juga bisa memberikan sejuta alasan yang menurut mereka “logis”. Dalam kasus Israel-Palestina, yang secara historis, politis dan teologis, saya akui maha njlimet, debatnya virtually tidak berujung pangkal.
Saya sih berpandangan bahwa setiap manusia layak dihormati. Jadi, apabila saya ditanya saya berpijak pada Israel atau Palestina dalam konflik di Timur Tengah, saya bisa bilang saya berpihak pada keduanya, karena keduanya manusia. Sementara itu, juga berdasarkan sistem nilai yang saya anut, saya pun tegas berpendapat bahwa kejahatan di Timur Tengah kudu dihentikan, siapapun pelakunya, dan apapun motif dan alasannya! Yahudi atau Arab-Muslim, jelata atau pejabat, tidak pandang bulu!
Postinganku………
Postinganku hilang………..
ada yang main makian…
hahahaha! seru-seru….
@ dust
teruskan, brother. nanti kalo sora sudah menyerah, berarti sudah waktunya saya ambil bagian menggantikannya
selalu ada level yang harus sampeyan selesaikan sebelum berhadapan dengan final-boss, kan?
@ Abu Geddoe
alkhamdulillah…saya bawa tiker dan pop-corn sendiri
*nggaglak pop-corn*
@ Ando-kun
Sori, komentarnya terjaring akismet. Baru sempat saya lepaskan. ^^;
Itu kan cuma contoh. Kalau saya tulis Persib Bandung, Anda bisa apa? Hayo… Hayo…
BTW, Arsenal baru produksi peluru baru, lho. Banyak banget. Jago-jago, lagi.
Namanya Vela, Wilshere, Bendtner, dan DenilsonMana bisa? Meriamnya kan terbuat dari logam!
[/gakJelas]
:::::
@ gentole
*langsung ngakak* =))
Benar, saya jadi ingat sama diskusi yang dulu. Dan waktu menanggapi mas “wandy” di blognya Geddoe juga.
Orang gampang menuduh lawan bicaranya “inkonsisten”, padahal boleh jadi dia yang salah paham. Rasanya, bertahun-tahun ngomongin theistic evolution dan agnostisisme, saya jadi terbiasa sama yang begini. ^^;
[/curhat]
Yup, itu dia. Yang saya lihat, mas dust di atas cenderung ingin menjustifikasi tindakan rakyat Palestina “melempar batu tanah liat” (koreksi jika salah). Ini yang dari awal ingin saya kritisi.
Mau pakai analogi “Belanda-gerilyawan” atau “rumah dan kandang kambing”, balas dendam tidak menyelesaikan masalah.
Eh… sebenarnya saya bukannya murni utilitarian/pragmatis, melainkan semi-utilitarian. ^^;; Tapi yah, dibahasnya lain waktu saja. Soalnya ntar jadi OOT.
BTW, kalau dipandang secara utilitarian, sebenarnya banyak ruginya kalau orang tidak berpihak pada kemanusiaan. Pertama, seperti masbro bilang: lingkaran setan. Kedua, banyak orang menderita/tidak bahagia. Dan ketiga — seperti yang saya bilang ke mas alex — ini berpotensi jadi perang besar. Sebab yang dibawa adalah sentimen agama, yang notabene pengaruhnya sangat luas.
Tapi dia berfungsi membimbing. Sistem etika yang bagaimanapun, sulit dipertanggungjawabkan kalau tidak bersifat logis dan koheren.
Yup, seperti isi komentar saya untuk mas det.
:::::
@ joesatch yang legendaris
Tapi seringnya sih, bos nggak lebih jago berantem daripada centengnya. Beneran lho.
Lha, kalo iya, ngapain dia punya bodyguard?BTW sebenarnya yang diributkan itu apa? Kalau saya baca-baca, rasanya baik Sora maupun Dust mengecam Israel dan HAMAS, dan “berpihak kepada kemanusiaan”.
Naif sekali Anda ini.
^
Yang saya tangkap: Beliau (mas dust) mengira saya tidak pro-rakyat Palestina, karena mengkritisi teknik perjuangan mereka. Misalnya di ilustrasi “penjara kandang kambing” yang beliau ketengahkan. Terlihat bahwa beliau ingin menjustifikasi tindakan rakyat Palestina “melempar batu tanah liat” karena mereka diperlakukan semena-mena.
Which is HAMAS-like. Sehingga beliau memandang saya tidak pro perjuangan Palestina. Padahal yang saya kritik adalah caranya.
Seolah beliau ingin menunjukkan rakyat Palestina berhak melempar batu, karena diperlakukan tidak adil. Amarah dan frustrasi menumpuk. I beg to differ. Seperti reply saya untuk mas Gentole: kekerasan yang tidak pada tempatnya tidak menyelesaikan masalah.
* * *
BTW, ini mengingatkan saya pada dialog di berbagai drama perang dan anime. “Kalau kamu balas menyakiti mereka seperti itu — apa bedanya kamu dengan mereka?”
Ah, itu kan di tipi-tipi™.
Jangan lupa ada pula dialog dalam drama dan anime, keinginan dan harapan untuk menghancurkan musuh pula yang menyebabkan orang2 punya harapan untuk hidup
Daripada hidup terhina, lebih baik mati mulia, atau lebih baik mati sbg singa daripada hidup seperti anjing (atau banyak variasi motto yang artinya sama)
Terbiasa untuk inkonsisten atau terbiasa menuduh lawan bicara “inkonsisten”??
@ Ando-kun
Jadi ingat tempo hari dapat link (dari blognya mas Jensen): “Can the Jewish People Survive Without an Enemy?”
Deja vu… ^^;
Terbiasa dituduh inkonsisten.
Weleh, aku malah teringat sama film Dark Knight, deja vu sama kata2 The Joker.
“Kill you? I don’t want to kill you! What would I do without you?”
Kalau Batman mati, kayaknya the joker bakalan bunuh diri. Hidup tanpa musuh sepadan bagaikan hidup tiada arti.
dear penonton,
saya akan serang argumen sora dari the very basic.
silakan gelaran kasur, minum coke, komentar, whateva..
tapi saya hanya komentari posting yang bermutu milik sora
dan paling gak mutu (milik.. siapapun itu)
SORA bawa analogi: “tetangga saya dan istrinya
bertengkar, sementara saya menilai dari gosip RT-RW”
apakah analogi itu tepat untuk kasus palestina VS israel?
tidak. analogi sora itu tepat untuk hamas VS fatah (konflik internal dalam sebuah negara). OK??
lalu apa analogi yang lebih tepat untuk israel? ya yang
sudah saya kasih di atas tentang tamu yang ngusir dan
memenjara pemilik rumah ke kandang kambing.
betul bukan, sora?? bisa anda definisikan kesalahan
analogi anda ini termasuk di falasi mana?? :p
***
SORA: “adakah kalimat saya yang menyatakan “tidak perlu
mendukung rakyat Palestina”? Dari semua tulisan di atas?
Tidak. Saya selalu menyebut “tidak mendukung HAMAS”,
tapi tidak pernah “tidak mendukung Palestina”.”
nah.. sekarang (terutama bagi pemuja sora) silahkan
anda liat bukti inkonsistensi pujaan anda ini. cek
di posting SORA.
he said (kalo nggak dia edit): “Saya pribadi tidak
mendukung siapa-siapa,”
see?? apa artinya itu? apakah itu berarti dia mendukung
rakyat palestina (seperti yang disinggung di judul, tapi
pembahasannya malah berulang kali menohok palestina
sebagai hamas an sich??)
denotatively, TIDAK. sora tidak mendukung siapapun (TAK
MENDUKUNG palestina, pun TIDAK mendukung israel). lalu,
kenapa sekarang tiba-tiba dia jadi tidak ‘tak mendukung
rakyat palestina’?
retorika sora canggih. tapi as usual, justru menempatkan
kaum teoritis macam dia ke titik INKONSISTENSI seperti
ini: “saya memihak kemanusiaan, jadi saya tak memihak
palestina maupun israel. di bagian mana saya bilang tak
memihak rakyat palestina? enak aja. saya memihak rakyat
palestina, tahu?”
ibaratnya begini: “sora tak mendukung primata nor reptil.
sora tak mendukung gorila. tapi, sora mendukung primata.
lalu, bolehkah sora memaparkan kejelekan gorila saja
ketika merepresentasikan kelebihan primata versus reptil?
inilah bahaya overgeneralisasi dalam posting ini. sora tak
mendukung gorila (hamas). OK! tapi, sora mendukung primata (rakyat palestina). dan rakyat palestina (primata)
inilah yang merupakan bagian dari kelompok yang sedang
kita fit & proper test versus reptil (israel).
lalu, kenapa sora hanya memakai hamas sebagai
representasi dari palestina? apakah rakyat palestina suka
ngirim roket? realitas fatah dan PLO dikemanain?
yup, mereka berbeda, tapi dalam satu entitas. the entity
(yang berisi hamas, fatah, dan PLO) adalah: mereka
semua bagian dari bangsa palestina, YANG DIUSIR dan
kemudian DIBLOKADE di jalur gaza.
fakta mendasar inilah yang DIKESAMPINGKAN SORA. dia
asyik bicara apa yang ada di permukaan laut, tapi tak mau
tahu ada apa di dasarnya.
lalu, kenapa dia mengritik saya yang memandang konflik
ini dalam ruas SETENGAH ABAD (awal kehadiran zionisme yang merusak perdamaian tiga agama di yerusalem
(palestina)?
sedangkan, dia sendiri menilai palestina dalam konteks
pemahaman yang hanya beberapa tahun terakhir (when
hamas rules).
inkonsistensi LAGI, bukan??
***
jika sora bermaksud bilang gini: “Saya pro pada
perjuangan rakyat Palestina, tapi tidak pada HAMAS. Cara
mereka salah dari awal.”
maka, tolong sora ubah judul posting itu. ini kali, konflik
bukan antara palestina dan israel an sich, bung..
melainkan hamas dan israel. itulah salah satu alasan
mengapa mesir terkesan membiarkan.
sora says: “Tindakan melempar batu tanah liat itu tidak
membawa keuntungan apa-apa. Dengan melempar batu
tanah liat, Anda membuka kesempatan si pencaplok rumah
untuk berdalih: “lihat, keluarga saya ditimpuk! saya jadi
korban!”
betul.. anda betul.. tindakan hamas itu merugikan
palestina. namun, realitas perjuangan damai melalui
PLO-nya yasser arafat pun tak lebih menguntungkan,
selain terus menyempitnya wilayah palestina.
sebagai orang yang di luar palestina, solusi saya adalah:
hapus negara israel (pangkal dan bibit persoalan konflik)
yang mengusir warga arab di sana. kembalikan negara itu
sebagai negara yang damai untuk tiga umat, dan seluruh
manusia.
bangun pemukiman yahudi, sama seperti membangun
KEMBALI pemukiman milik warga arab palestina yang
terusir di gaza. the rest, let the al conflict politic begins..
tak perlu ada bom, tak perlu ada korban jiwa.
***
sora: “Baca lagi tanggapan saya di atas. Saya
memberikannya untuk Anda pertimbangkan: “ini lho,
argumen kedua belah pihak”. Bukan berarti saya
mengamininya.”
hey, man. jika menurut anda argumen itu sudah salah dari
sisi falasi, mengapa anda sodorkan pada saya. U KNOW it’s
FUCKIN WORNG!
analogi posisi anda saat ini bukanlah guru matematika
yang memberi pilihan ganda (berisi satu opsi benar, opsi
lain salah) dalam konteks TEORI or.. let’s say.. UTOPIS.
analogi yang tepat adalah dokter: “silahkan anda pilih KB
dengan vasektomi atau kondom”. tak mungkin dokter
bilang: “anda mo pilih mana? rumit nih. mereka bilang
vasektomi bisa dipilih, tapi jajan ke PSK juga bisa jadi
solusi andal mengendalikan kelahiran”
yuuuukk.. lagi-lagi INKONSISTENSI kesahihan berpikir a la
sora terulang.
***
SORA: “TKR dan kawan-kawan tidak dipandang Belanda
seperti HAMAS dipandang Israel. TKR tak punya nama di
dunia internasional.”
hohoho.. coba baca sejarah. kenapa serangan umum 1
maret dilancarkan ketika tim perunding masih ada di
indon?? sultan jogja berpikir: tudingan bahwa TNI sudah
tidak ada lagi, seperti dilancarkan belanda, harus dihapus!
artinya apa? TNI dipandang sebagai manifestasi dari
pejuang bersenjata RI, yang masih ada, masih membela
NKRI. ada koordinasi antara kepala negara (presiden
sukarno) dengan pasukannya di lapangan.
ya, ini bukan soal falasi sih, tapi pemahaman sejarah..
kalau sora ga jeli, saya mafhum.. buktinya, dia ga ngerti
kalo massa PKI-lah yang memberontak pada 1927,
merekalah yang bergerilya kala itu mengebom fasilitas
milik penjajah.
eh, jangan-jangan sora mo bilang: “atas nama
kemanusiaan, saya tak memihak TNI or massa PKI yang
ngebom fasilitas umum milik belanda macam rel kereta.”
sora juga ga ngerti bahwa PRA pergerakan nasional
ditutup dengan wafatnya Sisingamangaraja sekira 1913.
jadi, kalo ngomong gerilyawan macam TNI (sebelumnya
bernama BKR or TKR), termasuk juga PKI, maka kita bicara
soal PERGERAKAN NASIONAL.
paham, sora?
***
sora: “Esensi dari ad antiquitatem adalah: “karena tradisi,
maka benar”
OK, u’re good in defining it. i’m along with u. tapi ketika
anda kritik saya terpaku 60 tahun terakhir, gimana dengan
kasus anda yang memandang konteks PALESTINA sebagai
bangsa pelempar roket seperti terlihat dalam beberapa
tahun terakhir?
saya tidak bilang bahwa saya benar karena hanya menarik
garis konflik dalam hitungan 60 tahun. konflik ini bukan
persoalan “BERAPA LAMA garis sejarah ditarik”, tapi…
sejak kapan ada bangsa palestina yang terusir dan
melawan israel (sebagai entitas sebaliknya; pengusir)
seperti sekarang?
di situ persoalannya. zionisme, yang terlahir karena falasi
argumentum ad antiqutatem menghancurkan kedamaian
yerusalem, kedamaian yang telah tercipta dan diterima
semua pihak (jews, moslem, and christian).
JIKA anda bilang israel boleh mengusir palestina seperti
pada 1948, maka tentu saja dayak punya pembenaran
untuk usir madura, dan kita boleh usir etnis tiong hoa.
tapi, tentu saja tidak demikian, bukan? jika tidak, maka
negara israel harus dihapus.
***
oh, ya.. buat yang merasa ga tolol, saya punya kuis:
“kapan angkatan perang kita di zaman pergerakan
nasional pernah memukul mundur tentara belanda?”.
hihihi.. kita meraih kemerdekaan berkat perundingan
para kaum diplomat, bukan lewat aksi militer memukul
mundur pasukan belanda. aksi-aksi militer kita yang
terjadi secara seporadis ga efektif mengusir belanda
bukan?
plz, deh..
makanya saya masih heran dengan omongan ini: “karena
para pejuang menang lawan belanda, jepang dan sekutu
berdirilah negara Indonesia. Hal yang sama dengan
Israel, Zionis menang perang lawan negara2 arab
disekitar, berdirilah negara zionis Israel.”
sangat bodoh. “kapan kita pernah menang perang lawan
belanda, macam israel menang perang lawan koalisi arab
dengan mengerahkan ratusan tank? yang ada adalah kita
merah kemerdekaan melalui meja perundingan, bukan dari
kekuatan militer.”
kenapa? karena kekuatan militer kita emang kelas sten
gun dan bambu runcing. sukarno cs tahu kita ga mungkin
bisa mengusir belanda dengan kekuatan militer, makanya
dipakailah meja perundingan.
alias.. SEJARAH nation-building kita TIDAK SAMA dengan
ISRAEL. hehehe.. yang tolol pasti ga menyadari ini.
*trenyuh..*
Hehehe…. kayaknya komentar saya yang paling nggak mutu. Maklumlah, jabatannya aja tukang kipas-kipas alias level paling butut.
maju terus, pantang mundur
ketik terus, jangan tidur
*bikin kemah sekalian bikin api unggun (bakalan begadang nih)*
dust menulis:
saya menulis:
Masa anda nggak ngerti perumpamaan saya berdasarkan siapa yang menang adalah yang menuliskan standar sejarah, bukan perumpamaan berdirinya negara.
Masa saya harus menjelaskan satu-persatu dgn noraknya demi otak anda yang lamban mengerti?
Saya curiga, kalau anda bukan pandir pastilah si keras kepala tukang asal ngomong.
lebih terenyuh, atau lebih tepatnya kaget. ternyata masih ada orang yang lebih tolol dari pada saya yang aiqiu jongkok kayak tukang kipas-kipas ini
saya punya quiz buat yang nganggap lebih pintar dari saya yang tolol ini:
“Apakah anda benar2 mengerti tulisan saya?????”
Lao Tze berkata, “Kebijaksanaan dan idiot beda tipis laksana ujung pedang yang tajam”
*ternyata ungkapan Lao Tze melewati batas waktu dan masa*
Quiz buat orang pinter:
なぜ馬鹿の言葉は馬の漢字を使っているの?
Naze baka no kotoba ha uma no kanji wo tsukatteiru no?
*lirik semua komen*
Yah makin seru, tapi saya gak bisa nonton ne

mo ujian grafika komputer ma jaringan nirkabel
tar abiz ujian balik lagi deh
*ditimpuk karena OOT*
*kaburrr… ujian dah mulai*
@ dust
Mas/Mbak Dust,
Pertama, saya kok tidak mengerti sebenarnya apa yang hendak diperdebatkan. Rasanya pandangan Anda dan pandangan Mas Sora tak jauh berbeda. Mungkin saya bias, tapi kesannya Anda tak ingin mencari titik temu, dan bahkan tak ingin membicarakan Gaza, melainkan hanya menyerang pemilik blog. Kalau posisi Anda dan dia sudah serupa, apa yang mau dibicarakan lagi? Kalau sekadar menyerang orangnya walau sudah sepakat, maaf, kesannya terlalu kekanak-kanakan. Apalagi dihiasi dengan serangan-serangan ad hominem.
Kedua, menyentil saja; Anda sedikit-sedikit pakai analogi. Gorila lah, reptil lah, kandang kambing lah, kerakal lah, batu berfosfor lah
; entah berapa lusin yang Anda sudah bawa. Ini buat saya lucu, sebab penggunaan analogi sangat tak dianjurkan dalam diskusi. Menurut kerabat saya yang orang Hukum, disclaimer “jangan pakai analogi” itu bahkan diulang-ulang di level akademis sampai membuat muak. Lha ini malah diobral.
Salam.
Eh, saya bukannya menyatakan kalau cara diskusi saya sudah mengikuti segala kaidah dengan sempurna, lho.
Saya juga pakai analogi di sana-sini, tapi itu jangan dijadikan teladan lah.
@ dust
Sejujurnya, saya kok merasa, argumen Anda makin ke sini makin berantakan. Tujuan bukan lagi mencari titik temu, melainkan — yang saya lihat — untuk menjatuhkan posisi saya. Anda sudah bukan lagi orang yang berdebat dengan kepala, melainkan dengan emosi. Bahkan terkadang disertai ad hominem.
Janganlah begitu. Orang berdiskusi supaya tambah paham dan tambah cerdas; bukannya untuk mencari siapa yang menang dan kalah.
Sekarang akan saya tanggapi argumen-argumen Anda (beserta kesalahannya):
You miss the point. Analogi saya dan Anda memproyeksikan dua hal yang berbeda. Dengan analogi “kandang kambing”, Anda mengetengahkan “rakyat Palestina” sebagai bahasan. Dengan analogi “tetangga”, saya mengetengahkan “kesulitan meraih unbiased information“. Di situ salahnya Anda.
Analogi itu bagaikan proyeksi. Kalau sudut pandangnya diubah, isinya juga bakal berubah. Ini menunjukkan bahwa Anda sendiri belum paham dengan konsep di balik penggunaan analogi…
Lagi-lagi Anda sok tahu. Sedikit-sedikit menantang “bisa Anda tunjukkan ini falasi mana?” tapi konsepnya tidak paham. Fallacy juga Anda belum mengerti.
Analogi bukan fallacy. Dia adalah proyeksi untuk menjelaskan suatu ide. Yang salah itu kalau orang terlalu berpatokan pada analogi, dan melupakan perkara aslinya.
Sebagaimana Anda terlalu terpaku pada “kandang kambing” dan melupakan aslinya. Analogi tidak pernah bisa sempurna — pasti ada bedanya dibanding aslinya. Dan itu sangat tergantung pada aspek mana yang mau diketengahkan.
Di sini, Anda menunjukkan ketidakmengertian Anda. Sorry, but this is where you fall apart.
Definisi saya:
Anda berulangkali mencampuradukkan tiga pihak itu. Sudah saya bilang, saya berpihak pada kemanusiaan. Semua yang manusia saya bela, kecuali yang merendahkan nilai kemanusiaan. Yakni pemerintah Palestina (HAMAS) dan Israel.
Sudah jelas sekarang?
Memalukan sekali Anda ini. Sudah ngotot, salah paham, gak ngerti pula.
Penjelasan saya tentang Pars Prototo nggak dibaca…
Sedih ah. Anda gak niat diskusi. Sudah saya jelaskan di komen sebelumnya.
Harusnya Anda malu, karena menyerang pendapat sedemikian rupa, tapi justru mengabaikan tanggapan saya. Benar-benar tipikal troll.
Bukti bahwa Anda tidak membaca semua komentar saya di halaman ini.
Di komentar-komentar lain, saya sudah menjelaskan sejak zaman Perang Salib. Bisa Anda temukan saya menyebut Saladin, Baybars, ditambah zaman Umar dan Romawi kuno. Semua itu melengkapi argumen saya tentang “Palestina vs. Israel”.
Tapi apa? Anda nggak baca. Menyedihkan. Malah menuduh saya cuma mengacu pada masa kekuasaan HAMAS saja.
Sekali lagi: shame on you, sir. Anda tidak menunjukkan kualitas debat di sini.
Saya paham yang bagian itu. Tetapi itu tidak mengubah kenyataan: HAMAS adalah pemegang saham perjuangan Palestina terbesar saat ini. Mereka menang pemilu, dan — umumnya — diaku sebagai otoritas resmi di sana.
Benar bahwa HAMAS bukan Palestina per se, tapi itu tidak membuat pars prototo saya jadi salah. Mereka adalah biggest chunk dalam perjuangan Palestina 2 tahun terakhir.
Soal kemanusiaannya, saya sepakat. Bangun pemukiman Arab, sebagaimana pemukiman Yahudi juga dikembangkan.
Tetapi, soal politiknya (i.e. “hapus negara Israel”), saya nggak komentar dulu. Politiknya ruwet. Dan usaha ini membutuhkan pemimpin Israel maupun Palestina yang mau saling terbuka dan merendahkan diri.
Which, in my opinion, is nigh-impossible for this time…
Habis, Anda terkesan bias ke Palestina. Kalau ada orang yang terkesan bias, barangtentu harus disodorkan argumen kedua belah pihak. Bukan begitu?
Lagipula, sebenarnya argumen Yahudi/Israel tidak selemah yang Anda sangka. (walaupun saya tak setuju pada sentimen agama yang dipakai) Ada penjelasan yang bagus di komentar berikut, diskusinya di blog Abu Geddoe.
[link]
Kalau mau dianalogikan dengan Islam: ibaratnya ada orang menduduki dan menghancurkan Masjidil Haram. Waktu itu Bait Suci (identitas keagamaan Yahudi) dibakar oleh Romawi. Mereka terjebak pada tiga pilihan: apakah hendak menyerah, bunuh diri, atau berdiaspora. Sebagian besar memilih berdiaspora, dan kemudian membangun visi apokaliptik dari situ.
(lebih lanjut di link tsb.)
You missed the point. Seperti yang sudah saya bilang: setiap analogi adalah sekadar proyeksi. Dia menekankan satu (atau beberapa) poin, tapi melepaskan poin lain.
Nah, poin saya adalah: saya ini cuma memaparkan argumen dua pihak. Seperti halnya guru matematika memaparkan multijawaban. Apakah guru matematika (dan saya) jadi CONTRADICTIO IN TERMINIS? Jelas tidak.
Ingat, analogi itu cuma proyeksi. Pelajari intinya, jangan justru terpaku pada ‘sampingan’-nya.
Oh tidak… Anda salah.
Kalau dokter, dia bilang begini: “Mau kondom atau vasektomi, nggak masalah. Dua-duanya efektif, kok.”
Sementara kasus “Palestina atau Israel”, tidak. Anda timbang argumen dua pihak. Jika pilih Palestina, berarti Israel Anda salahkan; Jika pilih Israel, berarti Palestina Anda salahkan. Hasil akhirnya juga berbeda: pemerintahan Palestina pastinya berbeda daripada pemerintahan Israel.
Gak bisa dibandingkan dengan vasektomi dan kondom. Vasektomi dan kondom sama-sama mencegah kelahiran. Sementara pemerintahan yang Anda setuju (Israel atau Palestina) berpotensi membawa dunia ke arah yang berbeda.
Ah, itu kan kata Anda.
Tetap saja mereka gak bisa disamakan dengan HAMAS. Koordinasi mereka nggak bergaung sampai, katakanlah, region Asia Tenggara. HAMAS beda. Bukan saja menggenggam simpati Liga Arab, semua dunia Islam — termasuk Afrika dan Indonesia — juga paham posisi mereka.
Anda nggak membuktikan apa-apa dengan menuduh pemahaman sejarah saya minim, atau sebangsanya. Kenyataan tetap kenyataan: Pengaruh HAMAS di internasional lebih besar daripada pengaruh TKR dan TNI di dunia internasional jaman dulu.
Sekali lagi, ini menunjukkan ketidakmengertian Anda atas argumen yang saya ajukan. Sorry, but this only shows more of your incredulity.
Dengan pendekatan yang sama: saya juga tidak bilang bahwa saya benar karena menarik garis sejarah sampai 2000 tahun. Tetapi, sejak kapan ada bangsa Yahudi yang terusir dari tanah (dan esensi agama) mereka gara-gara diserbu Romawi?
Ini yang orang sering lupa. Masalah Yahudi yang terusir 2000 tahun lalu, hampir sama kritisnya dengan — analogi dunia Islam — jika ada pasukan menduduki Masjidil Haram dan membakar Ka’bah. Bukan saja tanah terinvasi; simbol agama juga direbut dan dihancurkan.
Masalah zionisme bukan sekadar ad antiquitatem pada kitab suci, melainkan juga identitas keagamaan yang tercerabut. Ada politik dan sejarah juga. Makanya kasus ini jadi begitu rumit.
Ad antiquitatem memang berperan besar di sini (bisa dibilang justru yang paling besar). Tetapi, ada juga variabel lain yang berperan.
Analogi “pendudukan Masjidil Haram” saya rasa cukup bisa memberi gambaran. Yahudi memandang Haekal dan Bait Suci, kurang lebih sama dengan bagaimana kita memandang Masjidil Haram dan Ka’bah.
Tapi orang juga harus ingat: bagaimana dengan kepemilikan mereka 2000 tahun lalu? Mereka juga terusir dengan tidak adil, lho?
Romawi mengusir mereka seperti Spanyol mengusir Aztec. Terlepas dari “pemberian Tuhan” atau bukan, dulu mereka hidup nyaman di situ. Kemudian terjadilah penyerangan Bait Suci dan Haekal, yang pada akhirnya membuat mereka terpaksa hijrah/berdiaspora.
Di sisi ini mereka bisa dinilai sebagai “hendak meraih yang dulu mereka dapati dengan halal”. Mengecualikan sentimen agama, diusir secara kasar lewat militer tetaplah suatu perampasan.
Bukan berarti saya membela Israel dan Negara Israel, lho. Saya sekadar menyampaikan bagaimana dari sudut pandang mereka.
@ Ando-kun
もしかして。。。 アメリカ人 の “donkey” は日本人の馬ですか?
Moshikashite… amerikajin no “donkey” wa nihonjin no “uma” desu ka?
(日本語の喩えが分かりませんだけど。。。)
(nihongo no tatoe ga wakarimasen dakedo…)
:::::
@ Rukia
Selamat menjalani ujian kalau begitu.
:::::
@ Abu Geddoe
Wah, terima kasih sudah bantu menanggapi. ^^
Nah, ini. Sebagaimana sudah saya sampaikan juga: analogi itu sekadar proyeksi. Dia berfungsi mengedepankan salah satu (atau beberapa) poin buat dipahami, dan mengorbankan yang lain. Tidak mungkin persis sama dibanding kenyataan yang sebenarnya.
Dan juga: satu kasus bisa dianalogikan berbeda-beda, tergantung poin apa yang mau diketengahkan. Analogi bagus untuk membantu penjelasan. Tapi kalau justru terpaku padanya… nah, ini berpotensi bikin ribet. ^^v
@空君
答えは違う
馬鹿
馬=ウマ=間抜け
鹿=シカ=利口
しっているだろう、あの馬は鹿になりたい。間抜けだからなかなかできるけど馬鹿にさせる。
ダストのやつは本当の馬鹿野郎じゃないだろうか?
sitteriru darou, ano uma ha shika ni naritai. manuke dakara nakanaka dekiru kedo baka ni saseru.
Anda ini bagaimana sih? Kalimat yang sudah saya siapkan koq anda pakai? Dasar plagiator!!!!!
*nggak tega melihat sesama idiot dibantai sama orang bodoh
*
^
Sudah, sudah… jadi orang harus sabar… ^^;
Apa!? Bagaimana mungkin! Apakah itu artinya…
…telepati benar ada?
*halah*
@ ando:
kenapa ada falasi red herring? yang saya persoalkan
adalah kalimat anda ini: “karena para pejuang menang
lawan belanda, jepang dan sekutu berdirilah negara
Indonesia. Hal yang sama dengan Israel, Zionis
menang perang lawan negara2 arab di sekitar,
berdirilah negara zionis Israel.”
lihat di bagian: “HAL YANG SAMA DENGAN ISRAEL..”
lalu, kenapa sekarang anda mengubah basis posisi
dengan menyodorkan paragraf soal belanda mengobrak-
abrik rumah penduduk? saya kan gak mempersoalkan
itu? hehehe..
yang lebih parah: kapan indonesia menang perang lawan
belanda seperti israel? kalo menang berunding (dengan
dibantu KTN), emang iya.
Oke, jika maksud anda adalah “pemenang berhak mengubah
standar sejarah”, maka dengan analogi sama, semua
negara yang kuat berhak menindas yang lemah.
tanggapan saya tetap: “halo, mana PBB asshole itu???”
sora mati-matian membela kemanusiaan, tapi seorang kawan
nya di sini teriak-teriak soal: pemenang berhak mengambil
hak yang lemah.
hebat.. hebat..
***
@ abugeddoe
yang saya kritik adalah INKONSISTENSI SORA. perdebatan
muncul karena dia merasa dia tidak inkonsisten.
yup, anda bias. baca paragraf saya di atas. saya justru
usul sebuah solusi untuk konflik ini. silahkan cek..
saya melakukan ad hominem? apa saya menghina-hina sora
untuk meruntuhkan argumen dia? tidak. yang saya lakukan
adalah menjawab permintaan DIA.
permintaan apa? nih baca: “Bagian mana yang inkonsisten?
anda mempermasalahkan analogi saya. namun, argumen yang
anda pake ternyata sebuah falasi: “Menurut kerabat saya
yang orang Hukum.”
wuakakakaka.. kaya gini ini namanya falasi apa, sora??
yang menyeret otoritas tak jelas untuk memaksakan sebuah
pembenaran? ad verecundium??
IRONIS LAGI, kritik itu dikemukakan oleh anda, seseorang
yang juga gemar beranalogi. menjijikan deh, bro..
***
@ sora
u said: “Dengan analogi “tetangga”, saya mengetengahkan
“kesulitan meraih unbiased information“. Di situ salahnya
Anda.”
analogi yang saya bawa (soal tamu merampas rumah dan
memenjarakan pemilik rumah) juga bisa dipakai mengetengah
kan kesulitan meraih unbiased information. betul???
bedanya, analogi saya dengan tepat meletakkan petanda di
balik realitas sesuai dengan penanda yang saya pakai,
termasuk hubungan penanda yang ada dalam analogi tersebut.
sebailknya, anda menempatkan posisi hamas dan israel dalam
penanda yang tidak tepat, yakni ‘suami-istri’, untuk
merepresentasikan petanda hamas-israel. yang tentu saja tak
menerjang hubungan relasi antar petanda (antara israel dan
hamas) tersebut.
israel dan hamas adalah 2 pihak dengan entitas negara
terpisah, tidak seperti ayah-ibu yang ada di bawah satu
entitas keluarga.
penjelasan proporsionalitas tanda yang kita pakai adalah:
keluarga –> negara
suami-istri –> (hamas-fatah) OR (likud-buruh)
tak tepat jika: suami-istri –> (hamas-likud) or
(hamas-israel).
ini membuktikan anda melupakan perkara atau realitas asli
yang sedang anda analogikan. anda seenaknya mempertukarkan
hubungan dua realitas yang sedang anda analogikan,
sehingga hubungan logika keduanya menjadi rancu.
sorry, anda sedang menunjukkan buruknya kemampuan anda
memaknai hubungan interelasi antar penanda. karena itu,
analogi anda asal tubruk.
***
sora: “anda berulangkali mencampuradukkan tiga pihak itu.
Sudah saya bilang, saya berpihak pada kemanusiaan. Semua
yang manusia saya bela, kecuali yang merendahkan nilai
kemanusiaan. Yakni pemerintah Palestina (HAMAS) dan Israel.”
anda bilang HAMAS = otoritas palestina? what the heck..
otoritas palestina itu PLO, bos! hamas dan fatah saat ini
duduk di pemerintahan sama. fatah dapat kursi presiden,
hamas dapat kursi PM.
artinya apa? SANGAT gegabah melakukan overgeneralisasi
dengan menyebut dosa HAMAS guna menjelaskan posisi bangsa
palestina. sama tak adilnya menyebut dosa golkar ketika
anda menyodorkan fakta tentang indonesia dan membandingkan
nya dengan malaysia.
atas nama pars prototo, anda merasa berhak menyebut hamas
mewakili bangsa Palestina. meski mereka faksi terbesar di
Palestina, tapi kita sedang membandingkan konflik dua
bangsa (israel-palestina) yang tak hanya bisa dibaca dari
aksi salah satu faksi saja.
sama seperti kita tak bisa menilai AS hanya dari kelakuan
bush dan partai republiknya kemarin itu. betul???
pars prototo anda merupakan bentuk kekerasan diskursif
guna menghindari realitas utama di konflik ini. realitas
apa itu? yakni diusirnya bangsa palestina (dalam konteks
umum, bukan yang dipars prototo-kan), atas dasar falasi
ad antiquietem.
the entity called PALESTINA i’m talking about is: mereka
semua YANG DIUSIR dan kemudian DIBLOKADE di jalur gaza
(termasuk di dalamnya hamas, fatah, rakyat, dan PLO).
on the otherside, u want to limit ur valuation on that
entity (PALESTINA) based on HAMAS only. karena itu, mohon
pertimbangkan pendapat saya (yang tak anda tanggapi):
“fakta mendasar inilah yang DIKESAMPINGKAN SORA. dia
asyik bicara apa yang ada di permukaan laut, tapi tak
mau tahu ada apa di dasarnya.”
***
anda boleh menjustifikasi israel dengan analogi
penghancuran ka’bah. OK, fine. namun, musuh mereka
adalah romawi. itu otomatis tak memberi mereka alasan
mengusir umat islam dan kristen palestina.
terutama, MENGINGAT.. tak ada larangan bagi warga yahudi
kala itu (1940-an) untuk hidup di yerusalem secara damai,
dan kembali ke wilayah itu secara damai.
lalu, mengapa harus ada NEGARA ISRAEL??
***
man, for me u are doctor. u supposed to give us a cure
(NOT a poison berupa FALASI). okelah jika anda jadi guru
math, apakah anda boleh memberi jawaban salah pada murid?
hehehe.. posisi anda sekarang tidak sedang memberi saya
tes, bukan? kita sedang berdiskusi, bertukar pemahaman.
dan anda tentunya memberi saya pemahaman, or insight yang
benar bukan?
lalu, kenapa yang anda sodorkan pada saya malah falasi
soal tanah terjanji?? yang anda sendiri tahu betul bahwa
itu tak tepat untuk memperkuat basis dasar zionisme??
that’s what i call INKONSISTEN, dan bahkan CONTRADICTIO
in TERMINIS. sorry, that’s the reality…
***
sora: “Gak bisa dibandingkan dengan vasektomi dan kondom.
Vasektomi dan kondom sama-sama mencegah kelahiran.
Sementara pemerintahan yang Anda setuju (Israel atau
Palestina) berpotensi membawa dunia ke arah yang berbeda.”
ah.. u missed my point.. analogi itu bukan fallacy. Dia
adalah proyeksi untuk menjelaskan suatu ide. Yang salah
itu kalau orang terlalu berpatokan pada analogi, dan
melupakan perkara aslinya.
(hihihi… gimana jika saya jawab anda kaya gitu?? emang
enak sih, menciptakan definisi menurut ukuran sendiri.)
OK, back to the point. sekarang lihat jawaban anda:
“Palestina-Israel adalah kasus yang rumit. Bukan saja
skupnya tentang kemanusiaan, melainkan juga politik,
ideologi, sejarah, dan bahkan juga agama.
ini TEPAT dengan analogi yang saya sodorkan: “anda mo
pilih mana? rumit nih. mereka bilang vasektomi bisa
dipilih, tapi jajan ke PSK juga bisa jadi solusi andal
mengendalikan kelahiran”
anda tak memberi saya saran, melainkan opsi (falasi)
dalam diskusi ini.
***
sora:” mereka gak bisa disamakan dengan HAMAS. Koordinasi
mereka nggak bergaung sampai, katakanlah, region Asia
Tenggara. HAMAS beda. Bukan saja menggenggam simpati Liga
Arab, semua dunia Islam — termasuk Afrika dan Indonesia —
juga memahami posisi mereka.”
hohoho.. jangan terpaku pada sampingannya mas.. :p analogi
TNI itu saya berikan bukan untuk MENYAMAKAN TNI sesama-sama
nya dengan hamas, namun menunjukkan posisi mereka dalam
peta konflik indon kala itu sama seperti ‘posisi hamas DI
PETA konflik palestina’.
baca lagi paragraf saya: “BTW, APA YANG HAMAS lakukan mirip
dengan para pejuang gerilya kita zaman kolonial. mereka hidup,
berbaur, dan membangun kekuatan di tengah rakyat, sementara
belanda menyerang kampung dan rumah.”
pemahaman sejarah anda jelas MINIM, karena menuduh gerakan
PKI itu bukan bagian dari masa PRA pergerakan nasional.
ni omongan anda: “BTW, Anda ini tidak konsisten. Tadinya
ngomong gerilyawan, kok mendadak jadi bawa-bawa PKI. Kalau
PKI, ya, punya akses ke Komintern. SI punya massa Islam.
Tapi yang saya tangkap, kita ini sedang membicarakan
gerilyawan masa pra-Pergerakan Nasional.”
huahahahha.. mas sora yang merasa pintar sejarah, TNI
adalah gerakan PASCA pergerakan nasional, bukannya PRA,
demikian juga PKI dan SI yang bergerak ketika kesadaran
NASIONALISME muncul.
itulah kesalahan anda. PKI dan TNI adalah pergerakan
PASCA pergerakan nasional, dan bukannya PRA seperti
anda kira.
makanya saya bilang, masa PRA pergerakan nasional usai
ketika SISINGAMANGARAJA koit pad 1913. dialah pemimpin
pergerakan kedaerahan yang terakhir. setelah itu abis..
uh, God.. this parts shows more of your incredulity.
***
BTW, nice to discuss with u.. my suggestion still the
same: jangan overgeneralisasi hamas menjadi palestina.
@ Ando-kun
ah, seperti Dewa Perang Pulau Timur dan Rajawali Langit dari komik Super Fighter
@ dust
saya ndak ikut2an memuja, lho. lha saya kan turunnya belakangan nanti
dan kalo melihat peta diskusinyanya sekarang, sepertinya saya ndak perlu turun-tangan buat menari-nari di keyboard lebih banyak lagi. toh inti dari postingan di atas ini sudah nggak diperdebatkan lagi, kan? hanya melulu soal falasi, analogi, dan (mungkin, kalo ada) inkonsistensi yang semakin menjauhi tema sentral dari postingan di atas
jadinya, pertanyaan saya sederhana: apa sebenarnya tujuan dari pembicaraan sampeyan?
waduh…sepertinya saya telat ngetik. pertanyaan saya sudah terjawab
@dust
seperti yang saya duga, anda orang yang suka memotong-motong ayat. Baiklah saya terpaksa menerangkan pada anda sedikit panjang. Coba anda baca sekali lagi kalimat yang saya tulis dibawah ini (perhatikan, ini semua satu paragraf!! Kalau beda paragraf saya terbiasa tekan enter 2 kali sebagai jarak paragraf)
Saya sudah mengatakan sebelumnya bahwa apa yang saya tulis diatas adalah untuk menyatakan siapa yang menang, itulah yang membuat sejarah. Indonesia menang (mau perang pake bedil atau perang pake mulut atau pake pena, kalau menang tak usah diributkan sampai sekecil itu. kita bukan anak kecil.
kecuali anda ternyata emang anak kecil) lawan belanda dan jepang berarti Indonesia berhak membuat sejarah menyebut belanda dan jepang sebagai penjajah dan Teuku Umar hingga Pattimura disebut sebagai pejuang dan pahlawan. …. (bukan paragraf baru, tetap nyambung)Begitu pula dengan Israel. Karena dia menang (anda benar2 tukang ngurusin tetek bengek beginian kayak ayam ngais2 sampah) lawan negara arab sekitar dan menduduki palestina, otomatis israel yang membuat standar sejarah di palestina. Para pejuang arab tentu saja di cap teroris dan ekstrimis. Lain halnya kalau israel kalah, selain diusir dari tanah arab (ini perkiraan saja), tentu cap yahudi sebagai tukang serobot tanah orang palestina yang gagal jauh lebih membahana.
Kalau anda baca sampai habis dan “bisa” menyimpulkan tulisan pendek saya, anda tentu mengerti bahwa indonesiapun pernah menang perang lawan belanda (tempur pakai senjata).
contoh:
1. Serangan umum 1 maret 1949.
Kalau anda baca buku sejarah indonesia maupun PSPB, anda akan menemukan bahwa indonesia merebut yogyakarta selama 6 jam.
Betulkah indonesia menang di pertempuran itu? walahualam, saya sendiri belum lahir. Tapi karena Indonesia merdeka, tentu versi sejarah yang “diakui kebenarannya” adalah pasukan indonesia menang perang melawan pasukan belanda. Terlepas dari sejarah versi belanda yang mungkin berbeda (saya pernah baca sedikit kalau pasukan belanda mundur hanya untuk konsolidasi kekuatan sebelum berbalik kembali menguasai yogya), apakah versi belanda akan dipakai secara umum? toh mereka kalah setelah kemerdekaan indonesia diakui dunia internasional.
2. Operasi Trikora.
Indonesia tidak benar2 menang perang pada pertempuran kali ini, karena belanda sudah melempar handuk putih sebelum memulai pertempuran besar-besaran. Tapi tahukah anda mengapa belanda bersedia maju berunding untuk membahas masalah kepemilikan irian barat (saya pakai nama pada saat kejadian)? Karena tanpa maju berundingpun belanda sudah tahu akan kalah telak jika dipaksakan bertarung di meda pertempuran. Kalau kita melihat betapa menakutkannya armada perang indonesia ditahun 1960-an hasil pembelian dari Uni Sovyet, wajar saja belanda akan sangat terpaksa maju berunding. Daripada kalah dibantai habis-habisan, tentu lebih mending kalah dgn sedikit rugi di meja perundingan.
Apakah saya bermaksud menyamakan nation building antara indonesia dengan israel sama? Kalau anda baca sampai habis keseluruhannya, anda pasti mengerti jawabannya tidak
kecuali anda lebih idiot dari saya yg aiqiu jongkok iniNB. Lain kali kalau mau baca tulisan orang tolong beli buku “petunjuk cara membaca yang baik dan benar” lalu ikuti isinya. Baca dari awal sampai akhir, pikirkan isi dan makna keseluruhannya, setelah didapatkan hasilnya baru disimpulkan keseluruhannya. Soalnya tulisan tidak bermutu dari saya justru anda tanggapi dengan mutu yang lebih parah dari tulisan anak TK nyari2 musuh.
*capek juga nulis panjang2 hanya untuk menjelaskan hal yang tidak bermutu demi orang yang lambat mikir*
@joesacth
Waduh, itu komik jaman dulu yah? sori nggak baca, mungkin dulu masih kecil, nggak boleh baca komik yg banyak adegan kekerasannya
NB.
Mau tau cara motong kalimat paling dramatis? Coba aja baca syahadat pertama: Tiada Tuhan selain ALLAH.
Kalau potong 2 kata pertama tanpa 2 kata terakhir, otomatis syahadat jadi pernyataan atheis dong
Halo???? sejak kapan saya jadi kawan sora? ketemu aja cuma di net doank. Mengenai “pemenang berhak mengambil hak yang lemah” itulah kenyataan dilapangan perang modern jaman sekarang.
Kalau anda tanya saja setuju atau tidak, terus terang saja akan saya jawab tidak! Apakah saya pernah menulis bahwa tulisan diatas adalah pendapat saya pribadi? sekali lagi saya terpaksa bilang kalau otak anda terlalu lambat mikir, tidak baca sampai akhir yah? disitu ada kata-kata “Terserah anda mau pake kaca mata mana.”
Jelas2 yang saya kemukakan adalah pendapat yang ada dilapangan, bukan pendapat pribadi.
Makanya minum hemaviton bung, supaya otak nggak lemot.
Kalau saya tanya balik pada anda apakah kenyataan dilapangan, dalam perang ada yang namanya belas kasih secara umum???????
Halo… halo…. apa anda buta tuli? belum pernah nonton dan baca berita???? Teori dan kenyataan dilapang perang kebanyakan beda 180 derajat bung!!!!
Apakah setelah USA menang perang di iraq tidak akan mengambil minyaknya? Apakah belanda menang perang lawan orang jawa, tanah rakyat jawa yang kalah perang tidak diambil dan disuruh tanam paksa?
terpaksa pinjam kalimat sora, “naif sekali anda ini”.
Iya, anda memang orang hebat. Mikir pake dengkul, otak dipakai buat dorong gerobak. sangat jarang orang seperti anda ini…… menyedihkan
Yang ini jauh lebih menyedihkan lagi, sama aja dengan ngomong ayam tolot jadi tolot ayam.
Mau main analogi lagi???? capek deh…
(sekali lagi saya cuma mencoba menjelaskan pada anda, ini bukan pendapat pribadi saya)
Oke deh, Anggap saja perang itu seperti main poker.
“Pemenang berhak mengubah standar sejarah”
Anda menang dengan kartu paling bagus, anda berhak memperlakukan hak milik lawan anda yang dipertaruhkan diatas meja. Anda mau ambil semua dengan tega keq, mau anda berbaik hati bagi2kan kembali keq, anda menang koq!
Tapi…. apakah karena duit anda yang lebih banyak hasil menang diatas meja bisa membuat anda memaksa kehendak mengambil barang lawan anda yang tidak dipertaruhkan????
Toh anda lebih kuat karena punya uang banyak, lawan main poker anda lemah dan bokek cuma punya sedikit duit buat pulang ongkos angkot.
selama dalam konteks diatas meja judi, anda berhak memperlakukan barang2 yang dipertaruhkan diatas meja, tapi tidak untuk yg tidak dipertaruhkan.
Udah ah, capek analogi melulu…
Yang pasti kalau anda menganggap pemenang yang menentukan standar sejarah beranalog dengan orang kuat berhak menindas yang lemah, terus terang saja pola pikir anda sangat ingin menyusahkan hal yang mudah.
NB. tidak usah menyerang saya dgn analogi main poker, bisa2 saya ajak anda main poker beneran di las vegas nantinya.
hhhhhh….. lucu sekali mas/mbak dust ini. saya hitung2 mau bahas satu, buntutnya jadi bercabang. Apakah ini inkonsisten? biar saja dust ribut sama sora ngomongin masalah korsletan inkorsletan itu.
1. awalnya mau debat sama saya cuma masalah indonesia menang perang pake bedil atau perundingan.
2. Gak tau napa, tiba-tiba saya dituduh menyamakan nation building indonesia sama dengan israel.
3. mungkin setelah baca ulang dengan agak malu (entah mau ngaku nggak) baru sadar kalau yang saya bicarakan adalah pihak yg menang menentukan standarisasi sejarah, lalu bilang kalau hal itu analog dengan yang kuat diperbolehkan menindas yang lemah. yang menentukan analog itu khan bukan saya? saya sendiri tidak setuju kalau dua hal itu analog.
4. kemudian sekonyong-konyong menuduh saya berteriak-teriak: pemenang boleh mengambil hak yg lemah. Lha, yang bikin analog kuat menindas yg lemah itu siapa yah????
5. Bingung saya
Is it just me…or someone up there was planting subtle chewbacca defenses in his/her arguments?
Oh, dan apakah ada yang bisa memberi saya contoh untuk ini: Fallacy Fallacy?
IMHO, alasan dust bahwa ada gerilyawan Indonesia pra kemerdekaan yang diakui internasional itu tidak melulunya salah. Coba dilihatlah arsip-arsip nasional tentang perundingan2 atau saat ada Komisi Tiga Negara di Indonesia. AFAIK, mereka diakui. Misal status Samadikun sebagai Gubernur Militer daerah Malang dulu
Jika tidak, tentu tak ada desakan agar ada demobilisasi sampai penentuan batas enclave (daerah kantung) seperti pasukan Siliwangi dulu
@ dust
Mas… saya juga pro-Hamas, dalam artian saya melihat mereka sebagai opsi perlawanan yang tersisa, sementara Fatah (di mata saya) terlalu lunak dan kooperatif.
Perkara Hamas dituduh mengorbankan sipil, ada komentar yang menarik dari artikel non-kombatan di sini bahwa:
Ini yang saya tidak sukai jika Hamas disalahkan. Posisi kita bisa jadi sama, tapi…. saya tdk merasa perlu mendesak siapa saja utk berpihak pada Hamas. Karena dari sisi kemanusian saja (utk kasus Gaza itu) memihak Palestina pun sudah cukup.
*jadingomenlagi*
@catshade
mendingan princess lea deh.
chewbacca? huik, saya benci makhluk berbulu lebat, bikin alergi bersin
Fallacy Fallacy on the wall, who’s the cleverest of them all
@Alex.
Berkaitan dengan sikap saya yang berpihak terhadap rakyat palestina, sikap saya terhadap HAMAS berbeda dgn sora. Memang saya tidak mendukung HAMAS, tapi saya juga sulit menuduh HAMAS berlindung dibalik perisai penduduk. Seberapa luas sih jalur gaza itu? Untuk bergerilya saja lumayan sulit dengan luas daerah tak seberapa itu, sehingga tentu saja konsep perang di jalur gaza berbeda dgn perang Afganistan (Taliban) vs USA yang notabene daerahnya bisa dipakai untuk perang gerilya.
Sampai sekarang sikap saja terhadap HAMAS masih 50:50. Tidak membela dan juga tidak menyalahkan.
@ dust
Mas dust…
Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, dan sampai sekarang belum berubah: ada banyak miskonsepsi yang terkandung dalam argumen Anda. Anda ini keras kepala, sok tahu fallacy tapi maksa, ditambah lagi doyan ngeles. Ini nggak membawa diskusi ke mana-mana, sebab Anda tidak membuka diri untuk perbaikan.
Begini saja. Berhubung saya sudah capek menjelaskan posisi saya — yang tidak kunjung Anda mengerti — saya tak akan menanggapi pertanyaan Anda lebih lanjut. Semua yang penting sudah saya tulis. Soal siapa di antara kita yang lebih taat logika, lebih konsisten, dan lebih cerdas berdiskusi, biarlah pembaca saja yang menilai.
As well, ini akan jadi respon final saya untuk Anda… kecuali di kemudian hari saya berubah pikiran. Kali ini saya hanya akan menanggapi cacat argumen yang bertebaran di komentar terbaru Anda saja.
Anda nggak ad hominem? Pikir lagi, bung.
Anda berulangkali mencela bahwa saya “inkonsisten”. Mengatakan dengan nada sinis bahwasanya “pengetahuan sejarah saya kurang”. Mengatakan saya sekadar criticizing jerk bergaya smartass. Mungkin masih ada lagi yang bergaya serangan tidak langsung.
Masih berani bilang Anda tidak ad hominem? Gullible!
Kalau Anda mau tahu… ad verecundiam itu memiliki dua jenis keabsahan. Pertama sebagai logika formal, dan kedua sebagai logika informal.
Sebagai logika formal, dia adalah fallacy (i.e. salah secara silogistik). Tetapi, dalam kasus logika informal, dia tidak termasuk fallacy. Syaratnya adalah: dia ditemani oleh premis bahwa “orang/ahli yang ditanya bersifat kompeten”.
Baca wikipedia lagi deh:
Lagi-lagi Anda sok tahu dan menantang “bisa beri tahu ini fallacy apa?” Tapi konsepnya tetap saja tidak mengerti. Payah ah.
“Satu entitas keluarga” itu kan kata Anda. Kalau saya bilang “keluarga” sebagai “himpunan negara di timur tengah”, bagaimana?
Ayah dan Ibu di bawah satu entitas keluarga, tak bisa disamakan negara? Pikir lagi. Mereka dua individu yang punya kemerdekaan berpikir, tinggal di dalam sebuah rumah. Sama halnya seperti dua negara yang hidup berdampingan di satu region (i.e. timur tengah). Masing-masing punya kehendak bebas dan keinginan sendiri.
Salahnya Anda Bung, adalah terlalu cepat meloncat pada kesimpulan. Terlalu terpaku pada analogi bikinan Anda sendiri. Dan, yang paling parah: tidak mau menginterpolasi penyampaian saya, lebih dari sekadar face value…
Ah, itu kan kata Anda. Anda kan bukan Tuhan, tidak mungkin selalu benar.
Terus, yang masuk koran itu siapa? Yang ‘mengundang’ Israel bikin perang itu siapa? Yang menang pemilu dan punya dukungan rakyat siapa?
Sebagaimana sudah saya akui: benar bahwa cenderung overgeneralisasi, dengan menyatakan HAMAS sebagai wakil Palestina. Tapi, orang harus ingat: saham terbesar perjuangan Palestina dalam dua-tiga tahun terakhir adanya di HAMAS. Dan merekalah yang paling ‘dikenal’ dunia sebagai perwakilan negara Palestina.
Masa sih. Saya kok tidak merasa begitu.
Di satu sisi saya mengkritik HAMAS, tapi di sisi lain bersimpati pada rakyat Palestina. Saya melakukan pars prototo Palestina -> HAMAS, tetapi tidak lupa menyebut jatuhnya korban sipil. Malah berulangkali saya mengkritik Israel atas tindakan mereka, sebagaimana bisa Anda baca di komentar jauuuh di atas.
Apa iya saya mengalihkan perhatian dengan pars prototo? Saya kok kurang yakin.
* * *
BTW, soal ad antiquitatem. Anda kurang mengikuti penjelasan saya tentang bentrok Yahudi-Romawi dan Haikal Sulaiman. Faktor yang berperan di situ bukan cuma itu saja… ada juga soal kepemilikan halal dan identitas agama yang dihancurkan.
Kalau Anda tanya saya, tidak selayaknya rakyat Palestina diusir-usir begitu rupa. Tetapi, apakah semudah itu juga menyatakan Israel tidak berhak mendapatkan tanah? Kalau iya, persoalan ini nggak akan begini rumit.
Saya sih cuma mempertimbangkan apa yang dimaui rakyat Palestina. Karena pada waktu pemilu mereka memilih HAMAS, maka barang tentu sedikitnya mereka bersimpati pada HAMAS. Walaupun jelas tidak semuanya.
Kalau mayoritas rakyatnya saja bicara “kami bersimpati pada HAMAS”, mau bagaimana lagi?
Tapi, OK, saya akan ikuti saran Anda. Akan saya coba pelajari lebih dalam lagi tentang ini. Terima kasih masukannya.
Soal mengapa ada negara Israel? Karena, suka atau tidak, tanah tak bisa dimiliki zonder stempel “negara”. Itu keadaan dunia kita sekarang. Kaum Yahudi memiliki ikatan emosional yang kuat dengan “Tanah Terjanji”. Sebagaimana umat Islam akan merebut kembali jika Makkah diduduki negara Kristen, itulah yang sekarang berkecamuk di hati mereka.
Lalu ada pertanyaan… mengapa harus agresi? Kan bisa hidup berdampingan, siapapun “tuan tanah”-nya? Tanyalah pada pemerintah Israel, yang notabene zionis garis keras.
Bukankah Anda juga tahu bahwa ada sekelompok rabi dan pemukim Yahudi yang kontra pendudukan?
Saya tahu Anda tak setuju dengan kekerasan, sebagaimana halnya saya. Tetapi yang berperan di sini adalah PEMERINTAH kedua negara. (i.e. Israel dan Palestina)
Yang saya berikan pada Anda bukan justifikasi. Bukan pula dukungan untuk salah satu pihak. Yang saya berikan pada Anda adalah: bagaimana sekiranya jalan pikiran kedua belah pihak.
Saya tidak memberi Anda fallacy dengan niat meracuni. Yang benar: saya memberikan pandangan pro-Israel dan Palestina. Ternyata pandangan Israel mengandung fallacy. Ya, bagaimana lagi?
Yang saya lakukan adalah memberi sudut pandang. Jika sudut pandang itu mengandung fallacy, maka saya tak bisa berbuat apa-apa. Lha, tujuan saya cuma memaparkan, kok.
Jadi di sini toh masalahnya…
Oke, Bung. Saya paham sekarang. Ternyata Anda mengira saya tidak konsisten karena memberikan masukan yang tidak saya amini (baca: saya anggap sebagai fallacy). Betul?
Anda salah paham. Seperti yang sudah saya bilang: saya sekadar membagi sudut pandang. Sudut pandang Israel saya bagikan. Sudut pandang Palestina saya bagikan. Saya serahkan apa adanya.
Bagaimana jika terkandung fallacy di dalamnya? That’s the way they are. Jika sudut pandang itu mengandung fallacy, apa boleh buat? Sebab saya pribadi berkeinginan memaparkan, menyampaikan sudut pandang saja. Tidak lebih.
Mudah-mudahan cukup jelas yah.
Pertanyaan 1: Kok jadi PSK? Tadinya kan “vasektomi vs. kondom”?
Pertanyaan 2: Analogi Anda cocoknya di mana?
Pertanyaan 3: Yang bilang saya memberi saran siapa? Saya ini sekadar memaparkan sudut pandang kedua pihak. Kalau Anda perhatikan, saya tak pernah bermaksud “mempengaruhi” orang agar mendukung siapapun, selain kemanusiaan.
Oh tidak… Anda salah. Enak saja bilang saya tak bisa membedakan pra- dan pasca-Pergerakan Nasional. Dari awal juga, saya sudah bilang bahwa PKI itu produk pasca-Pergerakan Nasional.
Mau bukti? Behold! Proof of your gullibility.
Yang pertama kali Anda omongkan itu kan ini:
Terus saya tanggapi:
Eeeh, mendadak sontak, Anda membalas sambil bawa2 PKI:
Jadi saya yang tadinya berpikir soal masa Nyai dan Noni, gerilyawan sebelum masa abad 20, mendadak Anda bantingkan ke pasca-pergerakan nasional.
Anda ini maksudnya apa? Kok tidak konsisten?
Lantas saya tanyakan:
Justru saya dari awal mempertanyakan: kenapa PKI Anda bawa-bawa, sementara saya kira topiknya pra-Pergerakan Nasional. Sekarang, siapa yang salah? Hah? Hah??
Chewbacca defense, ini. Nggak mutu.
Baca lagi kalimat saya:
Justru saya heran karena Anda mendadak bawa-bawa PKI, sedang yang di pikiran saya itu PRA-PERGERAKAN NASIONAL…
Ini menunjukkan kesalahmengertian Anda sendiri. Anda yang mulai kok jadi saya yang kena.
Anda tidak menanggapi komentar saya tentang “Nyai dan Noni”. Otomatis saya berasumsi. Ee lha kok ya jadi Anda bilang saya tidak tahu membedakan pra- dan pasca-pergerakan nasional.
Jadi, mohon maaf — akan saya gunakan kalimat Anda untuk membalas tulisan Anda. Uh, God.. this parts shows more of your incredulity.
Jelas yah.
* * *
BTW, untuk sidang pembaca. Ada yang mau bantu mengklarifikasi?
Jadi kalimat saya itu menunjukkan “PKI dan TNI itu pra-Pergerakan Nasional”, atau tidak? Penjelasan saya ada salahnya, tidak?
Dan saya juga punya saran: jangan terlalu gampang menilai orang tidak konsisten. Pelajari dulu jalan pikirannya selengkapnya, baru berkomentar. Lah, itu di atas menunjukkan Anda salah paham pikiran saya. Epik sekali.
Jadi, mari kita sama-sama belajar dari diskusi ini. OK?
@ all
Diskusi saya dengan mas dust saya cukupkan sampai di sini. Saya sudah menyampaikan apa yang saya rasa penting mengenai pendirian saya. Jadi, mulai sekarang, saya akan jadi penonton saja. (kecuali kalau mendadak saya berubah pikiran
)
Kalau masih ada yang ingin melanjutkan diskusi di post ini, saya persilakan. Tapi ingat rambu-rambu diskusi yang sudah dijelaskan di halaman license:
Sekian, terima kasih. Have a nice debate if you wish.
bagus. kalo ada apa-apa lagi berarti giliran saya…tentunya kalo mas/mbak dust sudah puas dengan anda, masdab
III. Restrictions:
Though, you are not allowed to:
[2]
Create comment(s) which is insulting, uncourteous, contempting other party without proper evidence, and/or irrelevant to the topic.
@sora
it just a bad habbit.
I always keep insult myself as IQ squat
Sorry, I promise will never insult myself in here. Let’s we pray for me
Udah selesai toh, kalau gitu saya terpaksa bongkar kemah, memadamkan api unggun dan permisi pulang.
Sampai jumpa dipostingan berikutnya, MERDEKA! (Si Unyil)
*Otsukaresama desu*
@ dust
Pertanyaan saya belum dijawab nih, jadi Anda diskusi soal Gaza atau soal Sora?
Astaga, Anda mengerti ad hominem itu apa tidak sih? Kok jawabannya polos sekali? Anda menghiasi argumen dengan kata-kata “sangat bodoh”, “memuakkan”, dan segala kosa kata sekolah menengah yang tak relevan dengan diskusi lalu pasang muka imut; “saya melakukan ad hominem?”
Saya asumsikan Anda sudah dewasa dan sudah memiliki KTP. Jangan bertingkah seperti itu dong.
Anda ini lagi-lagi sok tahu dan menantang. Jadinya ‘kan mempermalukan diri sendiri. Nih saya bacakan;
“There is no fallacy involved in simply arguing that the assertion made by an authority is true, in contrast to claiming that the authority is infallible in principle and can hence be exempted from criticism”
*geleng-geleng*
Sebenarnya ini ada istilahnya juga; namanya tu quoque. Tapi saya malas ah, dikasih tahu juga nanti tidak dibaca.
* * *
BTW, Anda kelihatannya hobi juga menulis. Panjang euy. Kenapa tidak buat weblog sendiri?
@Geddoe
Ada satu hal yang dengan jujur dikemukakan dust dengan blak-blakan dan benar adanya, “tulisan saya nggak mutu”. Maklumlah kerjaan tukang kipas-kipas (kalau disinetron jaman dulu diperlihatkan oleh pemeran figuran, ngipasin raja dan ratu kerajaan melayu di singgasana, hehehe sori deh kalau analogi lagi).
Tukang kipas-kipas memang dekat (posisinya) dgn pusat pemerintahan hingga banyak tahu isu politik terkini, tapi levelnya sangat jauh dibawah ,hingga kalau ngomong kebanyakan bisa2 dipenggal
..ooppsss, sori deh sora, I insult myself again…..
webblog sih ada koq, hanya saja lebih membahas film2 yang jarang direview orang lain. Hobi nongton sih.
Toh film juga ekspresi pendapat lewat seni kan.
http://yusahrizal.wordpress.com/
Waduh komentarku terjaring Aki Memet lagi nih.
Was I acting like our fellow Dust here back then? I am stubborn and easily fed up with bad discussion, but this is just way out of line. Tapi ada hikmahnya lah di sini. Selain kudu taat sama aturan berbahasa dan berlogika, dialog yang baik itu juga membutuhkan mutual respect. This respect helps you understand the arguments of your
opponentsdialog partners. This respect ensures that reason is working comfortably.@ Ando-kun
Komennya sudah dilepaskan.
*balik lagi ke pinggir lapangan, mengamati*
@ Ando-kun
Lha kalo blog Anda mah saya juga udah baca.
BTW kok nelangsa sekali? Dan lagi yang dilarang sama empunya blog kayaknya cuma menginsult orang lain, deh. “Create comment(s) which is insulting, uncourteous, contempting other party without proper evidence, and/or irrelevant to the topic.“.
@sora
Itu Aki si Memet diajarin yg bener donk! Jangan main hakim sendiri. btw, saya nggak terima difitnah sbg “kawan” sora. Bagaimana pendapat anda?
@Geddoe
Lha koq nanyain blog lagi kalo udah baca???
Maybe dual personality
Yang satu ngipasin di kanan dan yang satu ngipasin di kiri.
“Hallelujah, jangaaannnn!”
“Dasar lemah kau Allelujah! Biar aku yang mengerjakan.”
“Tapi…. tapi…..”
“Sudah! Kau tidur saja! Allelujah Haptism memang tak berguna!”…… Buukkkkk!!!
“Zzzzzzz…..zzzzzzz…..”
*Kemah sudah selesai dikemas, cek api unggun sudah padam. Bye-bye…. Sayonara. Mata ato de*
Geddoe itu bukannya nanyain blog-nya mas/mbak dust?
…
Atau…jangan2, mas/mbak dust ini adalah
sockpuppetalter-egonya Ando-kun?@Catshade
Oopss salah liat, maklum meleng.
………………………Hehehe, Jangan samakan gue dengan debu.
Sorry, udah mau berangkat nih angkotnya. Dadahhh.
………………………Bye baby, move to next posting (boring mode: on)
@ all
Anu… tolong diskusinya dijaga. Jangan banyak nge-junk, apalagi OOT. Kalau nggak bisa menjaga diri ntar saya bersihin lho.
(serius ini; saya udah pernah ngirim 9 komen ke akismet sekali jalan gara-gara OOT)
:::::
@ Ando-kun
Emang gimana ngajarinnya? Lha wong dia terotomatisasi, kok.
Saya juga nggak terima dituduh temennya tukang kipas-kipas. Ih, amit-amit. Enggak banget. [-(
*digebuk*
:::::
@ Catshade
Benar juga! Bukankah mereka berdua munculnya hampir bersamaan. Ini pasti ada hubungannya!
[/halah]
berikut ini pledoi saya (untuk terakhir kali juga). alah..
***
sora: “Masih berani bilang Anda tidak ad hominem? Gullible!”
saya mengejek dan menyentil anda, ya benar. itu terjadi. tapi
apa sentilan itu saya gunakan sebagai alasan atau pointer
untuk menunjukkan buruknya argumen anda? tidak.
ngomong soal ejek-ejekan dalam diskusi, itu wajar terjadi,
asal tidak dipake sebagai klausul mematahkan argumen, misal:
“kamu salah menilai blablabla karena kamu orang bodoh..”
coba liat contoh wikipedia:
“Paula says the umpire made the correct call, but this can’t
be true, because Paula wasn’t even watching the game.”
hmm.. saya ga pernah bikin pernyataan bernada gituan bukan?
soal upaya menunjukkan inkonsistensi saya, saya hanya taat
pada alur diskusi. anda sendiri yang meminta menunjukkan
contoh inkonsistensi anda.
OK, saya emang nyindir anda sebagai smartass. jika anda
anggap itu sebagai ad hominem, maka seharusnya pernyataan
ini juga didefinisikan sebagai falasi ad hominem juga:
1. Anda ini keras kepala, sok tahu fallacy tapi maksa, ditambah lagi doyan ngeles.
2. Anda gak niat diskusi.
3. Anda tidak menunjukkan kualitas debat di sini.
4. Benar-benar tipikal troll.
5. Memalukan sekali Anda ini. Sudah ngotot, salah paham, gak ngerti pula.
6. Sorry, but this only shows more of your incredulity.
mocking itu kan bumbu diskusi. liat aja debat capres AS
yang juga kadang melontarkan ejekan-ejekan politis. bukan
sebagai ad hominem, tapi biar renyah dan menarik pemirsa.
***
sora: “Sebagai logika formal, dia adalah fallacy (i.e. salah
secara silogistik). Tetapi, dalam kasus logika informal, dia
tidak termasuk fallacy. Syaratnya adalah: dia ditemani oleh
premis bahwa “orang/ahli yang ditanya bersifat kompeten”.
thanks for the link. i’ve read it. ini bagian lain dari info
di wikipedia: “Nevertheless, experts can still be mistaken
and their expertise does not always guarantee that their
arguments are valid. In some cases, the appeal to authority
plays on the Western culture’s respect for credentials.
For example, suppose a complex nutritional system and diet
guide is endorsed or ghostwritten and CREDITED TO a qualified
doctor.”
credit to ‘otoritas tak jelas’ untuk mengukuhkan suatu fakta
adalah bentuk lain dari appeal to authority. contohnya, saya
juga bisa ngemeng gini: “menurut sodaraku yang psikolog,
analogi itu cara termudah menjelaskan sesuatu yang sulit,
kepada orang-orang berotak lemah,”
see??
sora: ““Satu entitas keluarga” itu kan kata Anda. Kalau saya
bilang “keluarga” sebagai “himpunan negara di timur tengah”,
bagaimana?”
nah, pernyataan anda itu SEKALI LAGI menunjukkan buruknya
kemampuan memaknai hubungan interelasi antar penanda, dan
menyajikannya ke dalam representasi analogi yang berimbang.
anda melupakan realitas asli yang sedang dianalogikan, lalu
seenaknya mempertukarkan hubungan interelasi dua realitas
menjadi dua penanda yang berhubungan interelasi jauh berbeda
DARI REALITAS yang coba diwakili.
sora, ‘himpunan negara timteng’ dalam analogi lebih tepat
bisa direpresentasikan sebagai ‘RT’, bukannya keluarga.
‘suami-istri’ tentunya lebih tepat dimaknai sebagai ‘dua
entitas berbeda dalam satu unit yang memiliki visi kelompok
sama (meski misi dan pembagian kerja kadang berbeda)’.
israel dan hamas, bukan di posisi ini. tapi, jika pada ujung
nya anda bilang: “Ah, itu kan kata Anda. Anda kan bukan
Tuhan, tidak mungkin selalu benar.”
maka, tak ada yang bisa didiskusikan lagi. u hear what u want
to hear.. ini memberi saya alasan berhenti sampai di sini. dan
ini membuat saya makin prihatin mengingat justru anda yang
menuduh saya; “tak niat berdiskusi.” *sigh*
***
Pertanyaan 1: Kok jadi PSK? Tadinya kan “vasektomi vs. kondom”?
tolong dimaknai komprehen: analogi yang tepat (UNTUK POSISI ANDA
SEHARUSNYA) adalah dokter (YANG BILANG): “silahkan anda pilih
KB dengan vasektomi atau kondom”. tak mungkin (DAN POSISI ANDA
SEHARUSNYA TAK DI SINI) dokter bilang: “anda mo pilih mana?
rumit nih. mereka bilang vasektomi bisa dipilih, tapi jajan ke
PSK juga bisa jadi solusi andal mengendalikan kelahiran”
tapi sudahlah.. apapun penjelasan saya tak penting, bukan??
sora: “Dari awal juga, saya sudah bilang bahwa PKI itu produk
pasca-Pergerakan Nasional.”
dan dari awal juga, saya tak mengatakan bahwa gerilyawan yang
saya sodorkan adalah gerilyawan PRA-pergerakan nasional, melain
kan gerilyawan PASCA-pergerakan kemerdekaan. lalu, kenapa anda
mempersoalkan TNI, TKR, dll yang saya sodorkan?
anda pikir, di zaman kolonilialisme. mereka itu tak bergerilya
melainkan sudah punya pos-pos dan markas resmi gitu??? come on..
kalo anda salah tangkap, okelah.. tapi jangan anda eksploitasi
kesalahan anda sendiri (ketika menangkap maksud lawan bicara),
dengan seenaknya menuduh.
kalo mata anda liyer, jangan bilang lawan diskusi memfitnah
dan melakukan false dilemma. kalo anda salah mengerti, jangan
bilang lawan diskusi melakukan chewbacca defense hanya karena
berusaha memberi pemahaman pada anda (dan sedikit sindiran
yang–sayangnya–saya lontarkan karena mengira anda bener-
bener gak ngerti).
anyhow, saya minta maaf karena salah mengira, hingga sindiran
itu membuat anda terluka. oh, itu kata saya? saya bukan Tuhan
ya? okelah. whatever…
***
@ ando
here is what u said: “karena para pejuang menang lawan belanda,
jepang dan sekutu berdirilah negara Indonesia.”
FYI, indo berdiri karena MENCURI KESEMPATAN di tengah vacuum
of power. perundingan lawan belanda adalah wujud perjuangan
memertahankan (BUKAN MEREBUT) kedaulatan.
karena itu, SALAH jika: “Hal yang sama dengan Israel, Zionis
menang perang lawan negara2 arab disekitar, berdirilah negara
zionis Israel.”
alasan:
1. israel tak memperjuangkan kedaulatan, namun merebut wilayah
orang. dia tak di posisi indo, melainkan di posisi belanda.
2. tentara indo tak pernah berhasil mengusir belanda dari
wilayah indo. mengusik, emang iya (seperti anda contohkan).
tapi, ga perlu ngarang teori bahwa belanda sebenarnya takut
dan kalah teknologi persenjataan di irian.
STILL, kita mempertahankan kedaulatan INDONESIA (bukan irian
barat thok) berkat meja perundingan, bukan bedil dan senapan.
jika poin anda adalah: “pemenang yang berhak membuat sejarah”,
dan bukannya: “yang kuat boleh menganeksasi yang lemah untuk
membangun negara baru”, maka anda salah.
anda justru membenarkan itu, dengan membuat pernyataan ini:
“Nyerang Singapur? Boleh saja koq, kalau Indonesia berani
menghadapi keroyokan Singapur, Malaysia, Australia, New
Zwland, Inggris dan kambrat Commonwealth-nya.”
see? ur INITIAL point is: “yang kuat, silahkan nyerang yang
lemah. kalo indonesia merasa kuat nyerang singapur, BOLEH
SAJA.. persoalannya satu: berani nggak? berani nggak?”
BTW, thanks atas masukan anda untuk membeli buku petunjuk
cara membaca yang baik dan benar. thanks juga atas ledekan
anda. hehe.. namun, izinkan saya juga memberi anda masukan:
1. “berevolusi dulu lah sebelum berdiskusi.”
2. “konsistensi anda dalam berargumen bagus. pertahankan.”
*i’m jokin, for the 2nd sentence. i really am..*
***
oh, come on.. we’re discussing, right?? no heartfeeling y?
everybody?? kalian benar-benar seru dan rame! (ini serius).
Well, this explains everything…
@dust
ini komen saya terakhir. Selain saya sudah malas nulis hal yg sama berulang-ulang (debat kusir??? 8) ), saya lg konsen buat hal lain. Kalau cuma sekedar nulis beberapa kata buat ngipas-ngipasin sih no problem.
Sambil baca komentar saya ini, coba baca2 lg tulisan para orang pintar minum jamu tolak angin diatas. Memang benar seperti kata anda: “bagi orang Indonesia” perundingan melawan belanda memang usaha mempertahankan kemerdekaan.
Tapi…….
Apakah bagi dunia Internasional (dalam artian pengakuan banyak negara) telah mengakui Indonesia merdeka pada saat perundingan? Contoh saja, sewaktu perundingan Linggarjati, bisa anda sebutkan berapa banyak negara yang telah mengakui Indonesia? Sebagai perbandingan anda boleh cari negara yang mengakui Indonesia sebagai negara merdeka setelah perundingan di meja bundar. Setelah itu baru anda boleh ngomong “mempertahankan”.
Kalau anda orang belanda, apakah pada tgl 17 agustus tahun 45 itu Indonesia sudah merdeka? Saya nggak ngerti apa itu ad hominem ataupun populum, tapi anda tidak bisa mengatakan bahwa Indonesia menggunakan arena perundingan sebagai alat untuk “mepertahankan kemerdekaan” hanya karena anda orang Indonesia dan belajar PSPB d Indonesia ataupun karena anda tinggal di Indonesia dan mendengar pendapat umum orang2 disekitar anda, yg juga belajar PSPB di sekolahan.
Saya ulangi lagi kalimat saya diatas.
“Terserah anda mau pake kaca mata mana. ”
Sekali lagi saya katakan (saya capek mengulang-ulang, karena itu ini komentar saya terakhir), anda sendiri yg menganggap kata2 yg saya tulis mengatakan A, padahal maksud saya B.
Lalu anda mengejar2 saya dengan pertanyaan mengapa A, mengapa A, mengapa A, bukannya bertanya mengapa B. Saya kira karena pertanyaan anda lahir karena hasil pemikiran anda sendiri, silahkan jawab sendiri.
1. Ini balik lagi ke adu komentar sama sora diatas. Saya malas mengulanginya lagi siapa yg duluan tinggal di Palestina, siapa yg duluan aneksasi tanah.
Nanti hasilnya jg anda simpulkan saja sendiri, Israel berada diposisi Belanda sbg penggusur atau dipihak Indonesia yg merasa memiliki tanah.
2. Anda bertanya sebelumnya apakah tentara Indonesia pernah menang lawan Belanda bukan? Koq sekarang malah ngomong berhasil mengusir Belanda? Mengusir belanda itu sudah pasti menang perang, tapi menang perang belum berarti mengusir belanda. Anda tanya timur dan saya tunjuk arah timur, koq anda justru nyasar menuju ke tenggara.
Terserah anda deh kalau bagi anda itu hal yg sama, saya tidak berhak memaksa anda. Toh saya bukan ahli bahasa.
Soal ngarang teori militer Indonesia ditakuti belanda,
Ini sedikit data peralatan tempur yg baru dibeli Indonesia dari Uni Sovyet utk persiapan operasi Trikora (pembayaran jangka panjang dgn bunga rendah):
41 Helicopter MI-4, 9 Helicopter MI-6, 30 jet fighter MiG-15, 49 jet fighter MiG-17, 10 jet fighter MiG-19 ,20 jet supersonic MiG-21, 12 Whiskey class submarine, more than 50 corvet and 1 Sverdlov class cruiser, 22 bomber aircraft Ilyushin Il-28, 14 long-range bomber aircraft TU-16 with antishipping missile AS-1 Kennel.
Daftar diatas belum termasuk persenjataan yg sudah ada serta kapal/pesawat angkut berat, dll.
Jangankan belanda yang jaraknya jauh (ingat akomodasi dan logistik utk persiapan perang), australia yg relatif lebih dekat dgn Indonesia aja nggak bakalan berani cari gara2.
Terserah anda kalau mau bilang saya ngarang belanda takut sama militer Indonesia (tentu saja pada tahun 1960-an). Tapi menurut anda apakah belanda bakalan berani berjudi dengan lihat kondisi militer Indonesia seperti diatas?
Soal kalimat Indonesia berhak nyerang singapur kalau berani, itu saya tarik karena maksud saya disitu hanya sekedar bercanda.
Walaupun…………….
Tidak menutup kemungkinan Indonesia kalau punya kekuatan besar bakalan nyerang tetangganya. Apalagi kalau lihat negara2 yg punya kekuatan militer dimasa lalu menyerang tetangganya, mau dgn alasan memperluas wilayah, membela diri tapi kemudian keterusan merebut wilayah orang, membangun peradaban buat orang “barbar” atau malah membalas dendam. (Yunani, Romawi, Makedonia, Dinasti2 China, Mongol, hingga yg agak modern seperti Jepang, Jerman, dan Amerika).
Toh waktu tahun 1960-an Indonesia berani koq nyerang Malaysia (plus singapur tentunya) karena kekuatan militernya nggak kepake penuh buat operasi Trikora.
Apakah dgn mengemukakan fakta demikian, saya mendukung si kuat menindas si lemah? TIDAK, tapi sekali lagi teori dan praktek kebanyakan tidak sejalan jika menyangkut perang.
Ma kasih atas usulannya, sayangnya ada yg mau saya betulkan:
).
1. Saya berevolusi setiap hari dgn berbagai macam kegiatan, termasuk dgn cara berdiskusi. Tanpa ada diskusipun saya berevolusi dgn cara lain. Saya bukan orang yg hanya mau berevolusi sebelumnya hanya demi berdiskusi (mungkin anda sendiri? ini hanya tebakan lho
2. Saya berdiskusi hanya untuk mencari kebenaran, bukan menang-menangan. Sayangnya anda lebih banyak salah mengartikan pendapat saya, dan mempertanyakan pendapat saya “berdasarkan opini anda” terhadap pendapat saya….. Kadang saya bingung dgn anda.
Konsistensi? Konsistensi yg berbentuk apa nih?
NB.
Yang Geddoe bilang itu benar. Anda nulis panjang2 kenapa nggak bikin di webblog sendiri?
Tumben kata-kata tulisan anda mulai lebih sopan, sepertinya anda mempersiapkan berevolusi terlebih dahulu sebelum diskusi yah.
*I do serious about the last sentence*
Israel-Palestina akan terus konflik selama konflik itu masih menguntungkan faksi-faksi yang terlibat.
.
Sudah 3-4 kali saya dapat orderan cetakan menyangkut demo anti-Israel :-” Duit panassss
Atrikel menarik dari blog tetangga ttng Israel
http://trulyislam.blogspot.com/2009/01/sejarah-israel-yahudi-dan-zionis.html
halo sora, apa kabar… sorry, tadi ada yang ngingetin tentang diskusi kita, jadi gw mampir lagi. dan, mau nitip pertanyaan satuuuuu aja buat ANDO KUN. di mana sih sumber referensi ilmiah dia ketika menyebut ini:
Ini sedikit data peralatan tempur yg baru dibeli Indonesia dari Uni Sovyet utk persiapan operasi Trikora (pembayaran jangka panjang dgn bunga rendah): 41 Helicopter MI-4, 9 Helicopter MI-6, 30 jet fighter MiG-15, 49 jet fighter MiG-17, 10 jet fighter MiG-19 ,20 jet supersonic MiG-21, 12 Whiskey class submarine, more than 50 corvet and 1 Sverdlov class cruiser, 22 bomber aircraft Ilyushin Il-28, 14 long-range bomber aircraft TU-16 with antishipping missile AS-1 Kennel. Daftar diatas belum termasuk persenjataan yg sudah ada serta kapal/pesawat angkut berat, dll. Jangankan belanda yang jaraknya jauh (ingat akomodasi dan logistik utk persiapan perang), australia yg relatif lebih dekat dgn Indonesia aja nggak bakalan berani cari gara2.
lalu, trikora itu kan terjadi pada 1962, jauh amiiit dari perang kemerdekaan (1930-1950). maksa banget sih ngarang-ngarang teori bahwa kemerdekaan RI dicapai berkat perang fisik??
tanyakenapa??
@dust
Halo… halo… anda nanya masalah perang atau merdeka sih? katanya nanyain kapan tentara Indonesia menang perang lawan belanda? Lain kali kalau nanya inget2 pertanyaannya supaya kalau dijawab nggak bingung mencerna jawaban dari pertanyaan sendiri. Bikin tembolok dulu gih buat mencerna
Sekali lagi baca pertanyaan anda sendiri diatas!
*Lagi males meleng, asyik baca ulasan sora ttg the fabric of reality*
@sora
posting saya diatas dimasukin ke junk aja. udah males debat.
Bukunya Deutsch kayaknya menarik. Ntar dicari deh setelah kelar baca yg ada ditangan.
@dust
okeh dust. Anda menang. Silahkan merayakannya.
*Balik baca bukunya Jared Diamond. “The Rise and Fall of the Third Chimpanzee”*
sora, sebaiknya aspirasi ando kun difasilitasi.
toh, beliau tak menjawab pertanyaan saya soal:
referensi ILMIAH.
siapapun yang merasa punya cerita tentara indo
memenangkan perang lawan belanda, di trikora
sekalipun, mohon posting di sini.
*membayangkan armada indonesia itu menggempur
pasukan belanda, sampe bule itu kocar-kacir
dan kabur dari wilayah indonesia. sayangnya:
itu cuma FIKSI. atau, mungkin itu teori ilmiah,
yang dikasi label; MISSING LINK*
@dust
EGP
@dust
EGP
何でも答えられちゃうけどお前の考えてることがしつこいだから、全部の答えは無駄になちゃうんだ。きっ様、ほんまの立派なな男だたら、自分自身に答えてくれ。俺の時間が大事何だから、きっ様の馬鹿者に質疑応答は興味がない。
お前の言葉はほんまに馬鹿ばかしい。
@ dust
Apa maksudnya ini? Aspirasi difasilitasi?
Saya di sini memang jadi fasiltator diskusi (setelah memutuskan untuk jadi penonton tempo hari). Kalau orang mau berdiskusi, silakan saja: yang penting ramah, sopan, dan bermutu.
BTW, kalau bisa, tolong kembali ke topik utama (i.e. Palestina/Israel dan fallacy) kalau mau lanjut. Jangan malah ngalor-ngidul ngomongin sejarah NKRI – jadinya OOT, ini.
Anu, bukannya saya bukannya mau tu quoque… tapi mbok ya Anda itu ngaca.
Di blog ini maupun di tempat Geddoe, Anda juga sering mengabaikan omongan lawan diskusi. Ditambah lagi: malas membaca komentar2 lama. Padahal sudah disuruh berkali-kali. Ini apa bukan “pengabaian” juga?
Kalau saya disuruh mengurus komentar macam ini dengan tegas, jujur, komen2 Anda bakal banyak yang masuk akismet.
No offense.
:::::
@ Ando-kun
Lho, situ kan udah bilang:
Ngapain nanggepin lagi?
@ sora9n
Missing link-nya mannnaaaaa~
^
Hei! Kamu ngoceh soal missing link. Pasti habis ini bakal ngomong fosil peralihan, kan!?
Pasti kamu belum pernah baca FAQ. Ngaku kamu! NGAKU!!
sora,
saya tak ada soal dengan posting anda. baca lagi
posting awal saya di atas. saya minta anda kasih
pencerahan. tapi, apa yang saya dapat? FALASI.
ramai anda menjelaskan falasi, anda memakai juga
tuh barang busuk untuk orang-yang-sering-dituduh
-ga-paham-falasi yang minta dicerahkan.
namun, ketika terbongkar anda memilih ngeles by
saying: “Seperti yang sudah saya bilang: saya
sekadar membagi sudut pandang. Sudut pandang
Israel saya bagikan. Sudut pandang Palestina
saya bagikan. Saya serahkan apa adanya.
Bagaimana jika terkandung fallacy di dalamnya?
That’s the way they are. Jika sudut pandang itu
mengandung fallacy, apa boleh buat? Sebab saya
pribadi berkeinginan memaparkan, menyampaikan
sudut pandang saja. Tidak lebih.”
bandingkan dengan pertanyaan awal saya soal
aneksasi: “saya harap anda juga bisa MEMBERI
PENCERAHAN pada saya tentang ini: “palestina
saat ini menjadi SATU-SATUNYA bangsa yang masih
berjuang melawan aneksasi (selama 60-an tahun).
gimana pendapat anda, perlukah didukung?”
pendapat anda adalah: mendukung kemanusiaan.
ooo… *(gak) nyambung banget yak??
(kalo menurut anda, komen awal saya itu gak
nyambung dengan posting, bilang aja zuzur.
ga usah anda repot tanggepin, dan saya repot
membenarkan konstruksi berpikir anda dalam
beranalogi.
***
soal ‘missing link’ itu ga saya tanggepi, dari
pada menyukseskan niat anda untuk OOT bahas
teori darwin VS kreasionis, which is I dont
give a darn shit..
tapi, mungkin anda bisa kembalikan ke alur
yang bener: bisa ditunjukkan referensi ilmiah
tentang persenjataan indon itu? kalo nggak.
bilang aja, ENGGAK.
saya kan cuma minta bantuan.. kalo mau, ya
udah, kalo enggak ya diem aja (ga usah bikin
tulisan bahasa asing) or ngejek saya.. otre?
oh ya, maksudnya ‘aspirasi ando difasilitasi’
adalah: buang saja komen beliau, seperti yang
beliau mintakan pada anda. sederhana kok..
BTW, thanks atas masukannya.. i’ll consider,
mungkin kita berdua masih suka abai dalam
berdiskusi. yang jelas, kalo saya salah, saya
pasti ngaku, mengoreksi dan minta maaf. ga
perlu ngeles dengan pamer (teori) falasi.
@sora
gomen ne sora. nakama jyanai kedo koko ni mata gomi sutechatta. ore no gomi sutetemo ii yo.
All my last short comments was just for fun to make that okama write more and more and more and wasting time to write some craps, but i forget that i use your blog for this silly thing.
Ima kyuu ni oboeterun da.
Sumanai na.
*謝る*
Umm…
Sumimasen..
Kog jadi panas gni yah keadaannya
Ini kan cuma comment aja, mohon jangan disalah artikan
(Sok tau permasalahan)
Well, buat saia.. moga2 pulau Jepang bisa jejer ma Indonesia biar bisa blajar ma jalan2
(Comment from Bakamono)
Sori klo OOT.. ^^
@ dust | Ando-kun
Sori, kemarin saya nggak sempat online, jadi baru sempat menanggapi hari ini. Langsung saja ya…
@ dust
Begini, coba kita telusuri lagi…
Pertama kali datang, Anda menanyakan: “apa yang memberi hak Israel mencaplok tanah Palestina?”
Saya lihat Anda cenderung terpaku pada Palestina, maka saya paparkan pada Anda: sudut pandang dari kedua belah pihak, baik Israel maupun Palestina. Itu saja.
Kalau itu tidak Anda terima sebagai “pencerahan”, ya apa boleh buat. Sebab saya hanya ingin perspektif Anda jadi lebih berimbang.
Soal “buang komen” atau tidak, itu kembali pada keputusan saya. Yang jelas saya akan memberi peringatan sebelum bertindak.
BTW: saya sudah berikan peringatan pada Mas Ando di bawah ini. Bisa Anda baca kalau tertarik.
Mas, saran saya: jangan cepat menilai orang “pamer”, “inkonsisten”, dan lain sebagainya begitu saja. Jangan cepat termakan prasangka — justru yang macam itu bikin diskusi tambah panas.
Jadi, coba kita sama-sama berusaha kalem dan berkepala dingin. Paling tidak bisa membantu menghasilkan diskusi yang lebih fruitful untuk ke depannya.
Salam.
:::::
@ Ando-kun
Masbro, saya harus memberi catatan khusus…
1. Kita ini niatnya berdiskusi, yakni untuk mencari titik terang. Jadi, ke depannya, tolong jangan pakai bahasa yang tak dimengerti pembaca. Inggris masih boleh, tapi Jepang out of question lah.
2. Saya paham masbro merasa gondok karena isi komen mas dust, tapi mbok ya jangan sekadar flaming. Di samping nggak mencerahkan, juga makan bandwidth kalau orang buka halaman ini.
(FYI: jumlah komen sudah mencapai 203, ukuran halaman 158 kb, dan saya harus menunggu 5 menitan loading pakai HP)
Kurang lebih begitu. Ini juga berlaku buat mas dust: kalau ada flame atau junk comment lagi, akan langsung saya kirim ke akismet.
Daijoubu da. Tada, mou shinaide kudasai.
* * *
Terakhir, pengumuman untuk semua:
Lima diskusi terakhir dust dengan Ando (i.e. 1 dari dust dan 4 komen dari Ando) saya kirim ke akismet, sebab sudah semakin melenceng dari diskusi.
Untuk komentator lain ke depannya (kalau ada), HARAP MENGACU pada empat poin di bawah ini:
Saya tak mau blog ini diwarnai junk, flame dan cakar-cakaran yang bikin panas. Diskusi harus dengan — sebisa mungkin — sopan, cerdas, dan saling menghormati.
Sekian, terima kasih.
@ Senbonzakura
Anu… kalau bisa, hati-hati masuk ke daerah postingan ‘panas’ seperti ini. Resiko ributnya gede lho. ^^;
*dan ini bukan satu-satunya ‘daerah panas’ di blog ini*
[...] macam itu pernah terjadi di blog ini: [link]. Seorang netter datang dan merasa punya pengetahuan full-fledged. Tetapi, ketika ditanggapi dan [...]
[...] Suatu kali saya pernah bertanya pada sora.kun soal wilayah Indonesia berdasarkan alasan historis: Berarti sama fallacy-nya (argumentum ad antiquitatem) juga dengan menyatakan Republik Indonesia itu harga mati dari Sabang sampai Merauke karena selebar itulah Hindia Belanda dulu. (?) [...]
Tentang red herring, kok nampaknya logikanya cukup valid ya. Ditambah lagi dengan kasus lain sbg pembanding. Saya tidak melihat itu mengalihkan pembicaraan, tp sekedar memberikan pembanding saja untuk memperkuat statemen “relatif sedikit” itu tadi.
Sora justru mengatakan death toll nya bisa dibilang besar dgn tdk memberi alasan kenapa bisa dibilang besar, sedang yg dipermasalahkan adalah relatif besar- relatif kecil tadi.
Kayaknya justru lebih dekat ke two wrongs make a right dimana israel menunjukkan korban yg lebih besar agar korban yg diakibatkannya dimaklumi.
^
Sejauh yang saya tahu, sebuah pernyataan disebut red herring apabila dia bertujuan mengalihkan pembicaraan dari topik utama. Jadi poin utamanya adalah: ini niatnya memperkaya pembicaraan, atau mau sidetracking?
Dalam kasus di atas, sah-sah saja kalau menyebut korban Kosovo dsb.-nya sebagai informasi selingan/pembanding (seperti yang bapak sebut). Tetapi dikhawatirkan setelah menyebut “Kosovo”, orang jadi terbawa berargumentasi:
Yang mana kemudian si Pro-Israel menyampaikan pembelaan: “Perbandingan dengan Kosovo itu valid! Lihat, penjelasannya begini…”
Akhirnya, ya, tema diskusi bergeser. ^^;
Ini mirip dengan kasus pemukulan FPI-Aliansi Kebangsaan tahun lalu. Sebenarnya inti masalahnya kekerasan FPI, tapi jadinya bergeser membicarakan Ahmadiyah. Segala argumen yang jadinya mengesampingkan dari diskusi utama, itu yang disebut red herring. Kurang lebih begitu.
Soal kemiripan dengan fallacy lain, itu bukan hal yang aneh. Red herring memang — bisa dibilang — ‘nenek moyang’-nya semua fallacy. ^^;
Mengutip Aristoteles: “Semua kesalahan logika pada pada dasarnya adalah ignoratio elenchi (alias red herring), sebab dia berusaha mengalihkan pembicaraan dari tema yang sebenarnya.”
Jadi bukan tak mungkin ada red herring terdengar mirip fallacy X atau fallacy Y. Rule of thumb-nya memang sangat longgar: apabila argumennya terkesan melarikan masalah dan nggak nyambung, maka dia bisa digolongkan sebagai red herring.
Yup, two wrong make a rightpun bisa digolongkan red herring. Anda benar.