• Beranda
  • License
  • More About Me…
  • Sitemap

sora-kun.weblog()

//returns stories, pictures, or anything else he’s working at :)

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Chatting itu…
Wisdom of The Day »

Contoh Fallacy di Sekitar Kita: Studi Kasus Palestina-Israel

Januari 13, 2009 oleh sora9n

Jika ada satu hal yang saya pelajari, dari jalannya Operation Cast Lead sejauh ini, maka itu adalah banyaknya fallacy yang bertaburan dalam pembelaan kedua belah pihak dan pendukungnya.

Oh well.

Saya pribadi tidak mendukung siapa-siapa, sebab saya bisa dibilang antipati membahas “Tanah Suci” yang diperebutkan (blame the history of Crusades for this). Bagi saya, kekeraskepalaan kedua pihak adalah sekadar perulangan dari yang sudah-sudah. Yang berbeda cuma aktornya. Jika dulu yang ribut kaum Sarasin dan Frank, maka yang sekarang bermasalah adalah Arab-Palestina dan Yahudi.

Dan tiap kali pula, isu yang sama selalu mengemuka: kedua pihak yang bertikai selalu seperti air dan minyak. Kalau baru diaduk, bercampur; ditunggu lama, berpisah lagi. Seolah-olah “Tanah Suci” tidak bisa ditinggali bersama dalam damai. :roll:

Which is hardly surprising. Kalau pasukan Raymund d’Aguiles bisa membantai 70.000 penduduk sipil di Aqsha hanya karena ogah hidup bersama, apa susahnya membayangkan HAMAS dan Israel bertukar roket di tahun baru. Benarlah kata pepatah lama, bahwasanya tiada hal yang baru di kolong langit. :lol:

 
Jadi, alih-alih ikut mengutuk atau bersimpati pada salah satu dari kedua pihak, lebih baik jika saya mengamati berbagai argumen fallacious yang bertebaran — dari kedua pihak — dan mencatatnya. Hitung-hitung menyibukkan diri, sekaligus (mudah-mudahan) bisa jadi pembelajaran untuk kita di masa depan. ;)

Off we go…

    ed. note

    Simpati saya untuk masyarakat sipil yang jadi korban. Jika dua gajah bertarung di padang rumput, janganlah peduli pada gajahnya saja. Kasihan pelanduk yang terjepit, rumput yang tumpas, dan pohon yang tercerabut di sekitarnya.

    Cheers. ;)

 

Contoh Fallacy #1: Pembelaan Pro-Palestina

 

1.1. Appeal to Motive

 

“Dubes Israel menulis tanggapan untuk demonstran di Indonesia. Tapi, karena yang membuat diplomat Israel, barang tentu isinya dibuat-buat membela Israel.”

Fallacy: Berita yang disampaikan oleh orang yang berkepentingan mungkin bias, tapi itu tidak mutlak membuat beritanya jadi salah/tidak layak didengar.

Ibaratnya jaksa bertanya pada keluarga terdakwa di pengadilan. Hanya karena saksi punya kepentingan (sebagai anggota keluarga), bukan berarti kesaksiannya harus ditolak.

 

1.2. Groupthink

 

“Sebagai muslim kita wajib mendukung HAMAS dan Palestina, sebab kita dan mereka saudara seiman.”

Fallacy: Mentang-mentang satu kelompok/suku/agama bukan berarti harus dibela begitu saja. Saddam Hussein juga beragama Islam, tapi dia diktator yang pernah merestui genocide suku Kurdi dengan gas beracun.

 

1.3. Poisoning The Well, sekaligus
1.4. Hasty Generalization

 

“Kaum Yahudi itu semuanya jahat. Mereka selalu berkonspirasi menjatuhkan kepentingan Islam.”

Fallacy: Menyebar prasangka. Padahal kenyataannya ada perorangan (dan pergerakan) Yahudi anti-Zionis yang mendukung Palestina.

Contoh: Rabbis for Human Rights, Not in Our Name, dan sisanya bisa Anda google sendiri.

 

Contoh Fallacy #2: Pembelaan Pro-Israel

 

2.1. Ignoratio Elenchi (a.k.a. Red Herring)

 

“Memang terdapat korban yang cukup banyak dalam operasi ini. Tetapi jumlah ini relatif kecil dibandingkan dengan wilayah konflik lain, misalnya Kosovo dan Afghanistan.”

(link pernyataan diplomat Israel, tetapi sudah dihapus. Meskipun begitu salinannya bisa Anda baca di google cache)

Fallacy: Mengalihkan dari isu sebenarnya. Betapapun banyaknya jumlah korban di Kosovo atau Afghanistan tidak mengubah kenyataan bahwa death toll selama operasi Cast Lead bisa dibilang besar.

 

2.2. Appeal to Pity
 

“Bertahun-tahun roket HAMAS ditembakkan ke kota-kota Israel. Maka layak bagi Israel untuk menuntut balas.”

Fallacy: Mengutamakan kesan tertindas. Seperti halnya wong cilik yang merasa boleh berbuat anarkis karena kebutuhannya tidak terpenuhi, pernyataan ini tidak lebih dari mengemis dispensasi lewat rasa kasihan. :-?

Jatuhnya warga sipil tetaplah pelanggaran HAM, biarpun yang melakukannya mengklaim sebagai “korban”.

 

2.3. Two Wrongs make a Right

 

“Jatuhnya korban sipil Palestina memang menyedihkan. Tetapi orang juga harus ingat bahwa roket-roket HAMAS sudah banyak membunuh pemukim Israel.”

Fallacy: Kesalahan tetaplah kesalahan, biarpun orang lain juga melakukannya. Ini sama saja dengan orang yang berbuat korupsi, lalu mengatakan “Ah, biar saja! Banyak kok yang melakukan!”

 

2.4. Argumentum ad Antiquitatem [UPDATED]

 

“Sejak ribuan tahun yang lalu, tanah Palestina diberikan oleh Tuhan pada bangsa Israel. Kepercayaan ini sudah melekat bertahun-tahun, bahkan dicatat dalam kitab suci. Jadi tentulah sekarang Israel berhak atas tanah Palestina.”

Fallacy: Sesuatu yang memiliki akar tradisi dan kesejarahan yang kuat dan mendalam tidak otomatis bisa dijadikan pegangan. Di samping itu, fallacy di sini juga terjadi karena “menimbang suatu perkara masa kini dengan standar masa lalu”.

Jika tradisi menjadi pertimbangan utama, maka sama saja dengan menyatakan Belanda berhak melanjutkan kekuasaan selama berabad-abad di Indonesia (ingat: wilayah kita dulunya kerajaan-kerajaan kecil yang dipersatukan di bawah label “Hindia Belanda”). Kenyataannya tidak begitu. Selain tradisi dan sejarah, kita juga harus mempertimbangkan hal-hal lain seperti sosial, politik, kemanusiaan, dan sebagainya.

 

***

 

Yah, kurang lebih begitulah contoh-contohnya. :mrgreen:

Jadi, mari kita bersama-sama menonton jalannya perang yang aneh ini. Sebab yang terpengaruh bukan hanya Israel dan HAMAS saja — melainkan juga para pendukung mereka di berbagai belahan dunia. Bahkan sampai dibuatkan komik-komiknya segala. :P

Saya sendiri cukup tergelitik melihat banyaknya sentimen berwujud fallacy, yang sudah dijelaskan di atas, oleh orang-orang di sekitar saya. Yang Pro-Palestina punya dalih; yang pro-Israel pun demikian. Hanya saja, terkadang dalih-dalih tersebut terkesan begitu bad-crafted… sedemikian hingga saya tak tahu harus geleng-geleng atau tertawa miris mendengarnya. ^^;

Oh well.

Like this:

Suka
Be the first to like this post.

Ditulis dalam Current Events, Deeper Thoughts | Bertanda fallacy, Israel, Operation Cast Lead, Palestina | 207 Komentar

207 Tanggapan

  1. pada Januari 13, 2009 pada 4:03 am sora9n

    BTW, kalau dipikir-pikir, sebenarnya post ini cocok dimasukkan ke deplog-nya Geddoe. :-? Tapi biarlah, sudah terlanjur. ^^;


  2. pada Januari 13, 2009 pada 7:09 am dnial

    Sepertinya lebih mudah mengenali argumen yang fallacious daripada membangun argumen bersih dari fallacy.

    Memang ini perang yang aneh… Hamas vs Israel yang jadi korban anak2 Gaza.


  3. pada Januari 13, 2009 pada 8:34 am yud1

    [...] Hanya saja, terkadang dalih-dalih tersebut terkesan begitu bad-crafted… sedemikian hingga saya tak tahu harus geleng-geleng atau tertawa miris mendengarnya. ^^;

    …susah memang, kalau soal perasaan.™ :cool:
    :mrgreen:

    ~btw, (selain karena etnis Arab)
    ~kenapa juga ‘Palestina’ dianggap sama dengan ‘Islam’ ya?


  4. pada Januari 13, 2009 pada 9:26 am lambrtz

    sedemikian hingga saya tak tahu harus geleng-geleng atau tertawa miris mendengarnya. ^^;

    Tertawa tersedu-sedu? :P


  5. pada Januari 13, 2009 pada 9:33 am Rukia

    ~kenapa juga ‘Palestina’ dianggap sama dengan ‘Islam’ ya?

    Iya ya, padahal gak semuanya Islam :sad:

    Kapan ya mereka berhenti berperang :???:
    Kasian yang jadi korbannya, mereka semua menggunakan warga sipil sebagai tameng :sad:


  6. pada Januari 13, 2009 pada 9:36 am lambrtz

    Hmm…setelah dibaca berulang kali, saya jadi berpikir, alasan apa yang seharusnya diajukan untuk membela entah Israel maupun Palestina tanpa terkena fallacy?

    Kalau menganggap Israel adalah penjajah dan juga membunuh civilians, bisa dianggap valid untuk jadi Pro-Palestina?

    Yang saya bingung adalah gimana caranya jadi Pro-Israel, karena AFAIK, tapi CMIIW, mentok-mentoknya alasan ada di sejarah dan kitab suci. Argumentum ad Antiquitatem?


  7. pada Januari 13, 2009 pada 10:09 am Amed

    Fallacy pro Palestina: 3
    Fallacy pro Israel: 4

    Tetap masih lebih banyak Israel, jadi Israel yang salah! Negara zionis itu memang biadab! Dasar wataknya orang Yahudi dari dulu begitu! Makanya kita sebagai saudara seiman harus mendukung Palestina!

    JIHAAAD!!!


  8. pada Januari 13, 2009 pada 10:38 am toim

    dimana-mana klo perang rakyat sipil yg jd korban :(
    mungkin emang sampe kiamat sulit utk mendamaikan israel ama palestina.
    jalan keluarnya israel kudu dibuatin negara sendiri yg jauh2 ama palestina kali ^^


  9. pada Januari 13, 2009 pada 11:32 am K. geddoe

    *kecewa yang dibahas cuma 7 biji* :(

    *diusir*


  10. pada Januari 13, 2009 pada 12:21 pm Mbelgedez™

    .
    ***D’ooh, lama banget sayah ndak maen sinih…..***

    Sayah kok setuju sama pendapat situh. Saking setujunya sepemikiran, sayah sampe ndak mau mbikin post soal Palestina – Israel inih.

    Kemelut inih udah ada semenjak sayah ( juga situh ) belom lahir. jadi untuk apa mesti ikut ribut ???

    Peperangan mereka sama anehnya dengan Mogadishu, Congo, dan beberapa belahan dunia laen.

    Untuk serangan Israel saat inih, sayah cuman berkomentar bahwa, inih cuman upaya Israel “mengurangi” jumlah manusia Palestina sampe dengan “batas ideal” nya.

    Kalo “batas ideal” yang diinginkan udah tercapai, maka Israel akan menghentikan serangannya.

    Ndak percaya ???

    Liat ajah…. ;)


  11. pada Januari 13, 2009 pada 12:30 pm gentole

    Lumayanlah.

    *diusir juga*


  12. pada Januari 13, 2009 pada 12:51 pm Catshade

    Dik sora, apa motif anda memuat tulisan seperti ini? :roll:

    Selamat, anda telah meraih traffic! 8)


  13. pada Januari 13, 2009 pada 1:53 pm dnial

    How to make better argument then?


  14. pada Januari 13, 2009 pada 4:06 pm K. geddoe

    Selamat, anda telah meraih traffic! 8)

    This. :lol:


  15. pada Januari 13, 2009 pada 4:46 pm jensen99

    Fallacy pro Palestina: 3
    Fallacy pro Israel: 4

    Tetap masih lebih banyak Israel, jadi Israel lebih layak dibela! Hamas itu memang biadab! Mereka gak mau nerima cuma Fatah yang diakui Israel! Makanya Hamas harus terus ditekan tuk cepat menyerah supaya rakyat Gaza selamat!

    SERANGGG!!!


  16. pada Januari 13, 2009 pada 5:36 pm sora9n

    @ dnial (1)

    Sepertinya lebih mudah mengenali argumen yang fallacious daripada membangun argumen bersih dari fallacy.

    Mau gimana lagi? ^^;

    :::::

    @ yud1

    …susah memang, kalau soal perasaan.™ :cool:

    Heh, heh… :mrgreen:

    ~btw, (selain karena etnis Arab)
    ~kenapa juga ‘Palestina’ dianggap sama dengan ‘Islam’ ya?

    Kalau dari sejarahnya sih, CMIIW, itu karena sejarah Palestina lebih banyak di bawah kekuasaan Islam sejak Islam muncul. Rinciannya: sejak zaman Umar bin Khaththab (637-1099 M), disela Tentara Salib I (1099-1187 M), dan tahun 1187 di-capture oleh Saladin. Setelah itu tetap dalam kekuasaan Islam sampai abad 20 (pemerintahan Mamluk, Ottoman, Mesir).

    Jadi, sepanjang 15 abad eksistensi Islam di muka bumi, 12 abad-nya sempat menguasai Palestina. Mungkin asal stereotipnya dari situ. ^^;

    :::::

    @ lambrtz (1)

    Tertawa tersedu-sedu? :P

    “Huhuhuhu… ahihihi… ahahaha…”

    Begitu? :-?

    *ditimpuk*

    :::::

    @ Rukia

    Coba mbak ini cari tahu tentang sejarah panjang Perang Salib, kalau bisa dari buku yang berbahasa Indonesia. Dijamin perasaan tersebut akan berlipat ganda. :mrgreen:

    :::::

    @ lambrtz (2)

    Hmm…setelah dibaca berulang kali, saya jadi berpikir, alasan apa yang seharusnya diajukan untuk membela entah Israel maupun Palestina tanpa terkena fallacy?

    Sebenarnya, dari semua pro dan kontra tentang Israel-Palestina, masalah yang dikritik dunia internasional cuma satu: kemanusiaan. Ini yang orang sering lupa.

    Kedua pihak punya masalah kemanusiaan. Israel merasa punya tanah, HAMAS merasa punya. Mereka berdua sama-sama punya korban sipil. Nggak ada guna mengalihkan isu ke solidaritas umat, genosida di Kosovo, dan sebagainya — sebab masalah utamanya bukan itu.

    Jadi, kalau mau bikin pembelaan yang bersih dari fallacy, buatlah yang membidik tema kemanusiaan. Gampang toh? :lol:

    Kalau menganggap Israel adalah penjajah dan juga membunuh civilians, bisa dianggap valid untuk jadi Pro-Palestina?

    Bisa saja. Syaratnya, premis “Israel adalah penjajah dan membunuh civilians” itu harus kokoh. Kalau premisnya nggak kokoh (e.g. berlandaskan prasangka, tidak sesuai fakta, dsb.), maka itu sama saja dengan fallacy. ;)

    Yang saya bingung adalah gimana caranya jadi Pro-Israel, karena AFAIK, tapi CMIIW, mentok-mentoknya alasan ada di sejarah dan kitab suci. Argumentum ad Antiquitatem?

    Makanya saya malas membahas “Tanah Suci”. :lol:

    Dari zaman perang Salib sampai sekarang, alasan untuk menduduki Palestina (dan Yerusalem) lebih sering berdasar pada kitab suci. Sementara yang berebut biasanya kaum-kaum yang berbeda agama (Islam, Kristen, Yahudi).

    Ini nggak membantu apa-apa. Selama premisnya nggak disetujui semua pihak, maka nggak akan ada titik temu. Ibaratnya saya mengatakan pada orang Kristen:

    “Ajaran Islam itu benar! Buktinya bisa Anda lihat di Al-Qur’an.”

    Gak bakal nyambung. Masalahnya definisi kita tentang “yang suci” itu berbeda. :-?

    :::::

    @ Amed

    Hei, itu di atas perbandingannya 4:4. Baca lagi yang benar! :evil:

    Pro-Palestina: Appeal to Motive, Bandwagon, Poisoning the Well, Hasty Generalization

    Pro-Israel: Red Herring, Appeal to Pity, Two Wrongs make a Right, Ad antiquitatem

    Memang benar Anda ini sudah dibutakan oleh hawa nafsu™. (u_u)

    Janganlah berbicara jika tidak ada ilmunya, sesungguhnya diam adalah hikmah™. :mrgreen:

    :::::

    @ toim

    Saya pikir juga begitu. Masalahnya, mereka itu nggak mau dipisahin. ^^;

    :::::

    @ K. geddoe (1)

    *kecewa yang dibahas cuma 7 biji* :(

    Delapan, kali. Hasty Generalization sama Poisoning the Well kan digabung di #1.3. ^^;

    BTW, tertarik menambahkan? :P

    :::::

    @ Mbelgedez™

    Dan berapakah nilai batas ideal itu? :P

    Nol? :mrgreen:

    :::::

    @ gentole | Catshade

    *tabur garam* :|

    :::::

    @ dnial (2)

    Seperti yang saya bilang ke mas lambrtz, masalah utama di sini adalah kemanusiaan. Nggak usahlah dibawa-bawa ke area lain. :mrgreen:

    Israel dan HAMAS sejauh ini lebih mementingkan “bagaimana menjustifikasi kekerasan”, bukannya “bagaimana menghentikan kekerasan”. Upaya justifikasi itu yang akhirnya berbuah fallacy. Mau dibandingin sama Kosovo kek, dijadikan bahan solidaritas kek, atau lain sebagainya, itu tak mengubah kenyataan bahwa masalah utamanya tetap berlangsung.

    Jadi, kalau mau membuat argumen yang lebih baik, orang harus fokus pada masalah utamanya. Kemanusiaan. Seluruh dunia memprotes soal korban sipil, tapi kedua pihak justru menjustifikasi tindakan masing-masing. Topik utama pun terlupakan.

    Bukankah ini yang namanya fallacy? :D

    :::::

    @ K. geddoe (2)

    This. :lol:

    Huss, pitnah™ itu! :cool: :mrgreen:


  17. pada Januari 13, 2009 pada 5:40 pm sora9n

    @ jensen99

    Hei, rasio yang sebenarnya itu 4:4! :twisted:

    Fallacy Pro-Palestina yang bagian #1.3 ada dua, yakni hasty generalization dan poisoning the well. Baca lagi yang benar! :mrgreen:

    *digebuk*


  18. pada Januari 13, 2009 pada 7:10 pm Agustian

    sip, kita coba lepaskan atribut agama dan kita pake isu kemanusiaan…
    pas juga tuh dikasih contoh spserti keadaan negara Indonesia pas jaman penjajahan…
    1. Kalau anda hidup di masa penjajahan belanda saat itu, relakah anda duduk bersama belanda (yg secara de facto adalah pendatang dan menjajah) berunding untuk membagi rata dengan belanda daerah dimana anda dan nenek moyang anda lahir? (artinya : memberikan daerah anda kepada belanda)

    2. Kira-kira apa ya alasan para pendahulu kita (yang belakangan kita sebut sebagai pahlawan) membela mati2an tanah airnya?

    3. Hamas menang dalam pemilu, tp apa reaksi israel dan negara barat (yg ktanya paling terdepan dalam hal penegakan demokrasi)? mereka menolak kemenangan pemilu hamas. blokade, boikot dan embargo malah yang diterima rakyat palestina(siapa hamas dan kenapa sampai memengkan pemilu? baca ulasan Terry lacey berikut http://gatra.com/artikel.php?id=121931 )

    So, atas dasar kemanusiaan(pun) seharusnya orang masih merasa manusia kemungkinan besar berpihak kepada palestina

    Salam


  19. pada Januari 13, 2009 pada 8:51 pm jensen99

    Jika kesejarahan menjadi faktor utama, maka sama saja dengan menyatakan Belanda berhak atas wilayah RI yang sekarang

    Berarti sama fallacy-nya juga dengan menyatakan Republik Indonesia itu harga mati dari Sabang sampai Merauke karena selebar itulah Hindia Belanda dulu. :cool:


  20. pada Januari 13, 2009 pada 9:12 pm goldfriend

    Sial, padahal saya mau nulis juga dari sudut pandang fallacy, eh…. sudah diembat duluan. :|

    *dasar internet lemot di papua* :?

    Kayaknya yang Antiquitatem itu nggak terlalu pas dengan contohnya deh…. :| Atau mungkin pemilihan katanya dan arahnya yang membuatnya jadi tidak kelihatan sebagai fallacy. Kata-kata “mendiami wilayah Palestina” dan “berhak kembali kesana” apa nggak mengesankan bahwa itu bukan tradisi yang terjadi selama berabad-abad ?

    Ada “sesuatu” yang hilang antara ke dua premis itu yang membuat faktor kesejarahan dan tradisi yang dijadikan kebenaran nggak terlalu kelihatan.


  21. pada Januari 13, 2009 pada 9:26 pm jensen99

    @ Agustian

    pas juga tuh dikasih contoh spserti keadaan negara Indonesia pas jaman penjajahan…

    Saya kok nangkapnya contoh Sora adalah kalau Belanda datang lagi dan mengklaim wilayah Indonesia sekarang karena pernah mendudukinya; & bukan mencontohkan Indonesia di jaman penjajahan? :? CMIIW


  22. pada Januari 13, 2009 pada 10:17 pm sora9n

    @ Agustian

    Mohon maaf, tapi, mengenai keberpihakan pada Palestina (HAMAS) atau Israel, saya tak peduli. Silakan kalau mau memutuskan membela yang mana — yang penting logikanya benar. :)

    Salam juga.

    :::::

    @ jensen99

    Berarti sama fallacy-nya juga dengan menyatakan Republik Indonesia itu harga mati dari Sabang sampai Merauke karena selebar itulah Hindia Belanda dulu. :cool:

    Tentu saja. Itu fallacy, bukan? Masa menimbang perkara masa kini semata dengan berkaca pada masa lalu? :P

    Saya kok nangkapnya contoh Sora adalah kalau Belanda datang lagi dan mengklaim wilayah Indonesia sekarang karena pernah mendudukinya; & bukan mencontohkan Indonesia di jaman penjajahan? :?

    Sebenarnya yang saya maksud memang begitu. Tapi kelihatannya contoh soal ad antiquitatem bakal di-update (menyusul masukan dari mas Fertob). ^^;

    :::::

    @ goldfriend

    Benar juga. Kalau dipikir-pikir, itu kesannya seperti tradisi yang ‘meloncat’, jadi tidak benar-benar ad antiquitatem. Saya pikirkan dulu untuk update-nya… :-?


  23. pada Januari 13, 2009 pada 10:39 pm sora9n

    ^

    Soal ad antiquitatem sudah saya update. Ilustrasi tentang sejarah Belanda di Indonesia juga saya perbaiki sedikit — jadi, yang tadinya mengacu pada teks sebelumnya, sekarang sudah tak berlaku lagi. Silakan merujuk ke teks yang baru. :)


  24. pada Januari 14, 2009 pada 12:41 am jahudindonesia

    Kenapa kita tidak dukung israel? ayo kenapa?

    http://yahudindonesia.wordpress.com/


  25. pada Januari 14, 2009 pada 5:18 am Herianto

    Memang saddam husein dan bangsa palestina sama2 tertindas ya .. ;-)


  26. pada Januari 14, 2009 pada 7:01 am dnial

    Jika tradisi menjadi pertimbangan utama, maka sama saja dengan menyatakan Belanda berhak melanjutkan kekuasaan selama berabad-abad di Indonesia (ingat: wilayah kita dulunya kerajaan-kerajaan kecil yang dipersatukan di bawah label “Hindia Belanda”).

    Lebih ekstrim lagi, kalau kita mengklaim bahwa Malaysia dan Singapura sampai Thailand ditambah Papua Nugini adalah wilayah kita karena kerajaan Majapahit membentang sampai sana.
    :cool:


  27. pada Januari 14, 2009 pada 9:08 am sora9n

    @ jahudindonesia

    ayo kenapa?

    Kok nanya saya. Memangnya saya peduli? :-/

    [/badass]

    :::::

    @ Herianto

    Kalau argumennya memang karena “Israel menindas” sih nggak masalah. :) Masalahnya kalau orang menggebu mendukung Palestina hanya karena sentimen “sesama muslim”. Ini yang berpotensi jadi solidaritas buta. ;)

    Saya sendiri OK saja kalau argumen mendukung Palestina dengan alasan kemanusiaan. Tetapi ‘kan banyak yang kampanye dengan “karena saudara kita sesama muslim…!”

    Intinya sih, jangan sampai jadi semacam “right or wrong my country, right or wrong my religion”. Nggak beda dengan perang SARA kalau begitu. :)

    :::::

    @ dnial

    Bagaimana kalau begini:

    “Puluhan ribu tahun yang lalu Tuhan memberikan planet Bumi pada nabi kami, nabi Adam. Kepercayaan ini sudah berlangsung begitu lama — bahkan tercatat dalam kitab suci.

    “Oleh karena itu, umat agama kami berhak untuk menguasai seluruh planet Bumi.” :cool:

    *digeplak* xP


  28. pada Januari 14, 2009 pada 9:39 am yusahrizal

    @dnial
    Kerajaan Majapahit bukannya kerajaan Jawa? Jadi yang berhak secara menguasai seluruhnya orang Jawa donk, bukan Sunda, Melayu, dll.

    Pantesan orang Jawa merajalela di bumi Indonesia ini :D

    @jahudiindonesia
    nyubi yah mas? lg promosi yah mas. saya baca tulisan situ koq seakan-akan tulisan (pendukung) yahudi lokal indon yang putus asa nggak punya duit buat tinggal ditanah suci sekaligus nggak punya kemampuan berbahasa hebrew… :P

    @sora….(aoi????)
    Pengikut teori “manusia turunan kera” lebih berhak mengklaim bumi ini, karena ancestor mereka lebih umuran dari sejarah nabi adam :mrgreen:

    Satu lagi, contohnya kurang banyak tuh!! Harusnya 10:10 termasuk kemunafikan negara barat yang sok demokratis tp nggak mau mengakui kemenangan pemilu hamas malah mendukung penuh sistem kerajaan saudi.


  29. pada Januari 14, 2009 pada 9:58 am jensen99

    @ jahudiindonesia

    Kenapa kita tidak dukung israel?

    Saya dukung kok! Jauh sebelum kamu ngeblog. :cool:
    Kalo yang punya blog ini sih emang netral, dan mungkin hanya bakal pro Israel kalo mereka pake Gundam. :mrgreen:

    @ dnial

    [...] Papua Nugini adalah wilayah kita karena kerajaan Majapahit membentang sampai sana.

    Orang jawa nginjek sini jaman Hayam Wuruk? Hoax!! :lol:


  30. pada Januari 14, 2009 pada 11:53 am alex©

    @ Sora

    Saya pribadi tidak mendukung siapa-siapa, sebab saya bisa dibilang antipati membahas “Tanah Suci” yang diperebutkan (blame the history of Crusades for this).

    :lol:

    Agak sedikit “mengezutkan” juga bahwa selogis apapun pola pikir dalam hal lain, ternyata dalam hal tertentu bisa antipati. Apa logika mati dalam urusan Palestina? Sepertinya urusan di sana itu tidak lebih rumit dari Teori Evolusi, jika saja bukan kitab suci dicatut sebagai pembenaran hak milik :mrgreen:

    Bagi saya, kekeraskepalaan kedua pihak adalah sekadar perulangan dari yang sudah-sudah. Yang berbeda cuma aktornya. Jika dulu yang ribut kaum Sarasin dan Frank, maka yang sekarang bermasalah adalah Arab-Palestina dan Yahudi.

    Ya. Ini perulangan, seperti perulangan evolusi vs kreasi. Bedanya dulu yang ribut cuma pendeta (mewakili kalangan agama langit) vs ilmuwan (mewakili agama pengetahuan), di abad 20-21 yang ribut sudah lebih majemuk. Mirip, seperti cermin, dengan kasus di Palestina itu.

    Which is hardly surprising. Kalau pasukan Raymund d’Aguiles bisa membantai 70.000 penduduk sipil di Aqsha hanya karena ogah hidup bersama, apa susahnya membayangkan HAMAS dan Israel bertukar roket di tahun baru. Benarlah kata pepatah lama, bahwasanya tiada hal yang baru di kolong langit. :lol:

    Aneh, dalam kasus Palestina yang selalu ditekankan sebagai “persamaan” adalah bertukar roket itu. Pertukaran roket itu cuma satu scene kecil dalam adegan perseteruan yang lebih besar, Sora. Fakta Israel memprovokasi berkali-kali dalam wilayah Palestina seolah dilupakan atau termaafkan cuma karena “pertukaran roket” yang mana Hamas melakukannya sebagai pembalasan. Ini masuk dosa besar fallacy yang mana, dengan menyamakan pertukaran roket lalu sepertinya kedua pihak sama salahnya? :?

    ed. note

    Simpati saya untuk masyarakat sipil yang jadi korban. Jika dua gajah bertarung di padang rumput, janganlah peduli pada gajahnya saja. Kasihan pelanduk yang terjepit, rumput yang tumpas, dan pohon yang tercerabut di sekitarnya.

    Idem. Saya juga bersimpati pada masyarakat sipil yang jadi korban. Apa itu Palestina atau Yahudi.

    1.1. Appeal to Motive

    Fallacy: Berita yang disampaikan oleh orang yang berkepentingan mungkin bias, tapi itu tidak mutlak membuat beritanya jadi salah/tidak layak didengar.

    Now, apa tanggapan Sora terhadap warga Israel yang gembira menonton pembantaian di Gaza ? Mereka sipil, tapi memberi dukungan moral dan bergembira atas bom-bom yang jatuh. Mereka benar karena selama ini bisa beralasan “diroket”? Lalu yang di Palestina tidak benar karena “meroket”?

    Itu berita dari tulisan muslim tapi… tentu tidak bisa ditolak mentah2 bukan? :P

    *lirik fallacy Appeal To Motive* :roll:

    1.2. Bandwagon Fallacy

    “Sebagai muslim kita wajib mendukung HAMAS dan Palestina, sebab kita dan mereka saudara seiman.”

    Fallacy: Mentang-mentang satu kelompok/suku/agama bukan berarti harus dibela begitu saja. Saddam Hussein juga beragama Islam, tapi dia diktator yang pernah merestui genocide suku Kurdi dengan gas beracun.

    Menyamakan HAMAS dengan Saddam Hussein? :shock:
    Apa itu bukan penarikan kesimpulan yang prematur?

    Ya memang, mendukung HAMAS seharusnya tidak karena alasan yang agama saja.

    BTW, saya melihat dukungan berdasar agama ini tidak melulu salah. Jika agama cuma urusan ritual, agama seperti itu mesti dibuang ke tempat sampah. Motif agama ini karena ada tindakan yang juga berbau agama. Mulai dari klaim “tanah perjanjian yang diiming-imingkan si Tuhan” sampai urusan melarang shalat di mesjid Aqsa. Apa-apaan itu?

    1.3. Poisoning The Well, sekaligus Hasty Generalization

    “Kaum Yahudi itu semuanya jahat. Mereka selalu berkonspirasi menjatuhkan kepentingan Islam.”

    Fallacy: Menyebar prasangka. Padahal kenyataannya ada perorangan (dan pergerakan) Yahudi anti-Zionis yang mendukung Palestina.

    “HAMAS itu semua teroris, karena mereka tidak menerima Israel. Mereka selalu keras kepala demi kepentingan Islam”.

    Now, contoh diatas itu juga mewakili dosa fallacy berikutnya yang sering digunakan. Melupakan fakta bahwa Hamas, meski dicap teroris, sudah patuh secara demokratis ikut pemilu, sah, menang dan didukung warga Palestina.

    Contoh Fallacy #2: Pembelaan Pro-Israel

    2.1. Ignoratio Elenchi (a.k.a. Red Herring)

    “Memang terdapat korban yang cukup banyak dalam operasi ini. Tetapi jumlah ini relatif kecil dibandingkan dengan wilayah konflik lain, misalnya Kosovo dan Afghanistan.”

    Fallacy: Mengalihkan dari isu sebenarnya. Betapapun banyaknya jumlah korban di Kosovo atau Afghanistan tidak mengubah kenyataan bahwa death toll selama operasi Cast Lead bisa dibilang besar.

    Semoga nyonya Hillary dan Barrack Ozawa Obama membaca fallacy ini. Tzipi Livni juga cuek berkata jatuhnya korban adalah wajar :lol:

    Fallacy berikutnya saya setuju. Benar…. itu tidak bisa jadi alasan. But the last one:

    2.4. Argumentum ad Antiquitatem [UPDATED]

    “Sejak ribuan tahun yang lalu, tanah Palestina diberikan oleh Tuhan pada bangsa Israel. Kepercayaan ini sudah melekat bertahun-tahun, bahkan dicatat dalam kitab suci. Jadi tentulah sekarang Israel berhak atas tanah Palestina.”

    Fallacy: Sesuatu yang memiliki akar tradisi dan kesejarahan yang kuat dan mendalam tidak otomatis bisa dijadikan pegangan. Di samping itu, fallacy di sini juga terjadi karena “menimbang suatu perkara masa kini dengan standar masa lalu”.

    Ini dia! :lol:

    Saya selalu terbentur dengan alasan yang satu ini. Ada beragam agama dan kitab di bumi, tapi satu kitab dijadikan pembenaran utk sekeping tanah. Lalu… lalu… yang beragama lain tidak boleh pakai kitab suci dan diserukan, “Ini bukan masalah agama!”

    Sangat adil sekali :lol:

    Ah untuk ini, seperti setiap kasus dimana muslim jadi terdakwa, saya memilih menuruti imbauan yang biasa dipakai, “Lihatlah dari kacamata agnostik, atheis, pluralisme… etc”. Pokoknya yang Tuhan dan Kitab disimpan di laci atau jika perlu di buang ke toilet. Itu yang saya inginkan. Sehingga, klaim dengan the so-called God, tidak bisa dijadikan ukuran.

    Bukan saja karena menimbang perkara ini dengan masa lalu, tapi juga disebabkan bagaiman penganut agama menjadikan kitab selalu jadi rujukan segala zaman. Dan itu tidak akan ada titik temu, apalagi utk sejarah.

    Hanya saja, terkadang dalih-dalih tersebut terkesan begitu bad-crafted… sedemikian hingga saya tak tahu harus geleng-geleng atau tertawa miris mendengarnya. ^^;

    :mrgreen:


  31. pada Januari 14, 2009 pada 11:54 am alex©

    …. aduhai tag-nya jadi kaco…. :roll:


  32. pada Januari 14, 2009 pada 2:30 pm Hamzah

    he..he..yasud, bicara ttg kemanusiaan aja…..sesuai yg disaranin yg empunya nih blog (so, yg kl yg mpunya bilang gak peduli, tetep aja kok berpihak, palng tdk ke kemanusiaan nya itu sendiri..IMHO)

    israel datang dan menjajah penduduk setempat,
    kalo dibilang palestina belon ada pada saat awal dijajah, endonesah jg belon ada tuh pas saat dijajah…
    penduduk setempat melawan dengan berbagai aksinya..wajar toh, dijajah gitu lho….. ember ada yg mau?

    terlepas apapun alasan mereka menjajah, mo londo atopun israel….yg jelas yg dijajah tertindas…

    sbnarnya bangsa endonesa berhutang lho ma rakyat palestina, gak percaya?liat aja di blog koe…
    ini diaminkan oleh bung Hatta dll…

    salam perdamaian


  33. pada Januari 14, 2009 pada 2:39 pm rani

    dek sora, kalo artikel ini masuk fallacy nomer berapa ya?

    *maap ga sempet ngecek, lagi sibuk nge-facebook*


  34. pada Januari 14, 2009 pada 8:16 pm sora9n

    @ yusahrizal

    Pengikut teori “manusia turunan kera” lebih berhak mengklaim bumi ini, karena ancestor mereka lebih umuran dari sejarah nabi adam :mrgreen:

    Betul juga. :P Untungnya mereka nggak sefanatik itu, sehingga yang menolak teori tsb. pun masih boleh tinggal di bumi. :mrgreen:

    Satu lagi, contohnya kurang banyak tuh!! Harusnya 10:10…

    Lha, saya juga maunya sebanyak mungkin… tapi ruang dan waktunya kan terbatas. ^^;

    Kalau dibikin 10:10, bakal sepanjang apa postingan ini? :mrgreen:

    :::::

    @ jensen99

    Kalo yang punya blog ini sih emang netral, dan mungkin hanya bakal pro Israel kalo mereka pake Gundam. :mrgreen:

    *terpana* :shock:

    Sebentar, ini menarik. Saya terbayang bahwa nama unitnya IDF-X01 Ezekiel Gundam. :-?

    *ditabok*


  35. pada Januari 14, 2009 pada 8:17 pm sora9n

    @ alex©

    Tag-nya sudah dibetulkan. :)

    Tapi, sebelum menanggapi komen, ada dua hal yang perlu ditekankan dulu:

     
    Pertama, walaupun saya antipati pada konfliknya, masalah kemanusiaan tetap jadi concern saya. Indiferensi saya pada konflik Palestina-Israel bukan berarti saya tidak peduli pada korban sipil yang jatuh — melainkan sekadar penolakan untuk mendukung salah satu pihak.

    Kedua, bicara konflik kemanusiaan, selalu ada upaya misinformasi dan disinformasi. Apa yang disampaikan pada media, dan dicatat sejarah, belum tentu sesuai dengan fakta lapangan. Who are we to judge based on such news? Dengan pertimbangan tersebut, maka bersikap netral adalah pendekatan yang viable untuk saya.

    (analogi: tetangga saya dan istrinya bertengkar, sementara saya menilai dari gosip RT-RW. truthiness in question)

     

    Sekarang waktunya menanggapi…

    Agak sedikit “mengezutkan” juga bahwa selogis apapun pola pikir dalam hal lain, ternyata dalam hal tertentu bisa antipati. Apa logika mati dalam urusan Palestina?

    Bukannya logika mati. Alasannya cuma satu: malas.

    Sejak dulu, dan hingga sekarang, orang-orang yang berebut tanah Palestina tak belajar dari sejarah. Sudah berapa abad berlalu sejak 1095? Sembilan lewat. Dan selama itu juga, pihak yang bertikai mencibir “yang lain” tidak layak tinggal di tanah suci. Jangan kira di zaman Saladin tak ada prasangka rasis — biarpun dia sultan yang terkenal bijak, masyarakatnya tidak otomatis jadi sama bijaknya. :-? (referensi: “Perang Salib: Sudut Pandang Islam” oleh Carole Hillenbrand)

    Berulangkali pecah perang, puluhan ribu tewas di satu kota, dan mereka tidak kunjung mau belajar dari situ. Rasisme dan sentimen agama selalu meletup. Itu yang memicu antipati saya pada setiap bahasan “Tanah Suci”.

    Kurang lebih seperti ucapan Nyai Ontosoroh: “Manusia dari dulu sama saja. Yang berbeda cuma alatnya.” (-_-)

    Sepertinya urusan di sana itu tidak lebih rumit dari Teori Evolusi, jika saja bukan kitab suci dicatut sebagai pembenaran hak milik :mrgreen:

    Perkara Kreasi-Evolusi tidak rumit jika orang mau berpikiran terbuka dan *bersedia* mencari solusi kompromi, semisal theistic evolution. Empat dari lima penggagas modern evolutionary synthesis adalah teis/mistik: Fischer, Wright, Haldane, Dobzhansky. Hanya Ernst Mayr yang berhaluan ateis.

    Perkara Israel-Palestina tidak rumit jika orang berpikiran terbuka dan *bersedia* mencari solusi kompromi, semisal two-state solution atau salah satunya mengalah. Kata *bersedia* itu yang penting. ;)

    Aneh, dalam kasus Palestina yang selalu ditekankan sebagai “persamaan” adalah bertukar roket itu.

    Duh, itu kan pars prototo. Jangan diambil face value, dong. ^^;

    Fakta Israel memprovokasi berkali-kali dalam wilayah Palestina seolah dilupakan atau termaafkan cuma karena “pertukaran roket” yang mana Hamas melakukannya sebagai pembalasan. Ini masuk dosa besar fallacy yang mana, dengan menyamakan pertukaran roket lalu sepertinya kedua pihak sama salahnya? :?

    Seperti yang sudah saya indikasikan di post dan komen-komen, ada satu topik yang sering terabaikan: kemanusiaan. Di sini kedua pihak punya salahnya masing-masing.

    Israel memaksakan datang ke Palestina, dan bersikap hostile pada suku Arab (see also: “Hebron Journal” by Art Gish). HAMAS menanggapi dengan bom bunuh diri dan roket di sarana publik; menewaskan rakyat sipil.

     
    — (skor antikemanusiaan: Israel 1 – 1 HAMAS) –
     

    Israel beralasan dengan basis kitab suci yang tidak disepakati kedua pihak (masyarakat Palestina mayoritas muslim). HAMAS mengklaim bahwa memerangi Israel adalah kehendak Allah, bahkan menyitir hadis “Yahudi akan dihabisi dalam perang akhir zaman”. (see also: Piagam HAMAS)

     
    – (skor antikemanusiaan: Israel 2 – 2 HAMAS) –
     

    Israel memutuskan perang dengan HAMAS, HAMAS menyanggupi. Rakyat sipil tidak terevakuasi; mereka pun jadi korban.

     
    – (skor antikemanusiaan: Israel 3 – 3 HAMAS) –
     

    Dan masih bisa ditambahkan lagi.

    * * *

    Lalu ada pertanyaan: ini salahnya di mana?

    Salahnya adalah, ketika seluruh dunia memprotes dengan alasan kemanusiaan, kedua belah pihak justru menjustifikasi kekerasan yang mereka lakukan. Ini red herring. Ditanya tentang korban sipil, larinya malah berkata “ini masalah IPOLEKSOSBUDHANKAM“, ditambah sejarah, ditambah kitab suci segala.

    Tapi mereka tetap tidak memuaskan komplain kemanusiaan dari seluruh dunia. Itu yang namanya red herring. Fallacy pengalihan perhatian. :)

    Now, apa tanggapan Sora terhadap warga Israel yang gembira menonton pembantaian di Gaza ?

    Nggak kaget. Lha wong saya udah baca Hebron Journal, kok. Rasisme kayak begitu sih memang sudah tahunan. :lol:

    Soal appeal to motive, tentu bisa terjadi kalau orang melihat bahwa penyampainya media Islam. Tapi itu bukan alasan yang bagus untuk men-dismiss begitu saja. :)

    Menyamakan HAMAS dengan Saddam Hussein? :shock:
    Apa itu bukan penarikan kesimpulan yang prematur?

    Lha… bukan begitu. Maksud saya adalah, mendukung HAMAS semata karena mereka Islam sama saja dengan mendukung Saddam Hussein semata karena dia Islam. Padahal belum tentu “Orang Islam” yang dibela itu baik.

    Saya sendiri tidak bilang bahwa HAMAS itu comparable dengan Saddam. Tetapi, kalau berangkatnya dari “sesama muslim” begitu saja, ada kemungkinan orang terbawa solidaritas buta. Padahal keadaan di lapangan juga harus dipertimbangkan. :)

    “HAMAS itu semua teroris, karena mereka tidak menerima Israel. Mereka selalu keras kepala demi kepentingan Islam”.

    Now, contoh diatas itu juga mewakili dosa fallacy berikutnya yang sering digunakan. Melupakan fakta bahwa Hamas, meski dicap teroris, sudah patuh secara demokratis ikut pemilu, sah, menang dan didukung warga Palestina.

    Tentu saja. Tapi itu tidak membuat generalisasi “Yahudi = jahat” jadi benar. :mrgreen:

    Kalau generalisasi “Yahudi = jahat” jadi justifiable hanya karena sentimen “HAMAS = teroris”, dunia bakal kacau. Mau dibawa ke mana kemanusiaan kita? :lol:

    (side note: ini mengingatkan saya pada ucapan Gandhi, “an eye for an eye makes the whole world blind”)

    Saya selalu terbentur dengan alasan yang satu ini. Ada beragam agama dan kitab di bumi, tapi satu kitab dijadikan pembenaran utk sekeping tanah. Lalu… lalu… yang beragama lain tidak boleh pakai kitab suci dan diserukan, “Ini bukan masalah agama!”

    Sangat adil sekali :lol:

    Seperti reply saya untuk mas lambrtz sebelumnya. Ini nggak beda dengan kalau saya berdakwah pada orang Kristen sebagai berikut:

    “Ajaran Islam itu benar! Buktinya bisa Anda lihat di Al-Qur’an.”

    Nggak nyambung. Lha wong definisi “suci” saja belum sepakat, kok dipaksa. :lol:

    [...] Sehingga, klaim dengan the so-called God, tidak bisa dijadikan ukuran.

    Bukan saja karena menimbang perkara ini dengan masa lalu, tapi juga disebabkan bagaiman penganut agama menjadikan kitab selalu jadi rujukan segala zaman. Dan itu tidak akan ada titik temu, apalagi utk sejarah

    Yup, yup. =3

    Hanya saja, terkadang dalih-dalih tersebut terkesan begitu bad-crafted… sedemikian hingga saya tak tahu harus geleng-geleng atau tertawa miris mendengarnya. ^^;

    :mrgreen:

    Mau gimana lagi? :lol:


  36. pada Januari 14, 2009 pada 8:24 pm sora9n

    @ Hamzah

    he..he..yasud, bicara ttg kemanusiaan aja…..sesuai yg disaranin yg empunya nih blog (so, yg kl yg mpunya bilang gak peduli, tetep aja kok berpihak, palng tdk ke kemanusiaan nya itu sendiri..IMHO)

    Begitulah. :) Kalau masnya teliti baca tulisan di atas, juga komentar-komentar saya, akan terlihat bahwa saya sebenarnya concern pada masalah kemanusiaan di sana. Tapi, soal memihak siapa antara Israel dan HAMAS… wah, mohon maaf.

    Alasannya sudah saya jelaskan di reply untuk mas alex© di atas. Mereka sebenarnya bisa belajar dari sejarah, tapi tidak mau. Itu sebabnya saya tak respek pada mereka.

    Dan, sebagaimana sudah saya jelaskan pula di reply tersebut: kedua pihak sama-sama punya ‘dosa’ kemanusiaan. Nggak ada yang benar-benar bersih. So sorry, I’m not going to side. Biarlah saya serahkan pada kebijaksanaan kedua pihak saja. ;)

    Salam perdamaian juga.

    :::::

    @ rani

    *baca link*

    ……… :-?

     

    Satu kalimat aja lah: logikanya loncat. (-_-)

    Lagipula di US, paguyuban pelajar Yahudi itu nggak aneh. Sama saja dengan “Lingkar Mahasiswa Sunda”, “Unit Mahasiswa Padang”, dan lain sebagainya di Indonesia. Heck, there are even plenty of them. :|

    Mau Alpha Epsilon Pi, Zeta Beta Tau, Sigma Alpha Mu, semuanya ya paguyuban mahasiswa. Dan AFAIK mahasiswa Yahudi di US memang dihimbau untuk mengikut grup semacam itu — jadi gak otomatis berhubungan dengan “mendanai Israel”. :roll:

    (or so I read in this book)

    *ngomel-ngomel* =_=!


  37. pada Januari 14, 2009 pada 10:14 pm yusahrizal

    GUNDAM? usul menarik. Yang dibawah ini fallacy versi kesekian.

    Isu yang beredar:
    Zionis Israel membangun terowongan bawah tanah modern dengan maksud misterius. Pihak Palestina menduga tujuannya adalah merubuhkan sebuah masjid.

    Kenyataan yang terjadi:
    Zionis Israel sedang membangun kota modern bawah tanah yang bernama Neo-Jerusalem3 sekaligus mengembangkan proyek robot organik yang diberi nama proyek AZAZEL.
    Sudah 2 versi robot organik AZAZEL yang dibuat yaitu AZAZEL unit 00 dan AZAZEL unit 01. Karena pilot AZA-00 sudah direkrut, masih ada lowongan buat pilot AZA-01. Kabarnya pihak mosad sedang mencari seorang anak lelaki bernama shinji buat menjadi pilot (diramalkan dalam kitab talmud yang terjemahkan sebebas-bebasnya oleh perkumpulan rabbi zionis).
    Sayang engkau bernama sora, andaikan shinji….ini blog bakalan terbengkalai :P

    Zankoku na tenshi no you ni
    Shounen yo shinwa ni nare……………………………….

    (Bagaikan malaikat yang bengis, sang pemuda menjadi legenda…………………)


  38. pada Januari 14, 2009 pada 10:24 pm sora9n

    ^

    Yang jadi pilotnya AZA-00 sama 02 cantik nggak? Kalau iya, saya mau jadi pilotnya 01. :P

    Konon katanya pilot 02 blasteran Jepang-Jerman

    *digebukin* xP


  39. pada Januari 14, 2009 pada 10:43 pm lambrtz

    Yang 00 buat saya! Pokoknya™ buat saya!!!! :twisted:


  40. pada Januari 14, 2009 pada 10:46 pm yusahrizal

    Pilot AZA-00 nggak tau tuh siapa namanya.
    Tapi pilot AZA-02 udah ada dan betulan blasteran (hanya saja blasteran Jepang-Perancis)

    Rumor mengatakan namanya Maria Ozawa….wakaakakak

    NB. Kalo situ ganti profesi jd pilot, ini blog mau dikemanain??

    *Dipecut sama Maria…. kimochi ii….*


  41. pada Januari 14, 2009 pada 11:12 pm Catshade

    lambrtz jadi pilot AZA-03 saja… :lol:


  42. pada Januari 14, 2009 pada 11:25 pm gentole

    Aza? Aza aza fighting?
    :mrgreen:


  43. pada Januari 15, 2009 pada 12:46 am sora9n

    @ yusahrizal | lambrtz | Catshade

    Hai orang-orang yang berteman, berhentilah kamu menggosip unit Azazelion™ milik Israel. Sesungguhnya kamu terjebak dalam kesesatan yang nyata™, yakni fallacy wishful thinking. (u_u)

    *ditembak misil*

    :::::

    @ gentole

    Aza? Aza aza fighting?

    Nggyh… :P

    dadi orang aza-aza fighting…


  44. pada Januari 15, 2009 pada 6:01 pm alex©

    @ sora9n

    Tag-nya sudah dibetulkan. :)

    Ah, terimakasih. Memang sialan itu rokok kemarin ditangan… bikin lupa nutup tag

    *carikambinghitam.com*

    Tapi, sebelum menanggapi komen, ada dua hal yang perlu ditekankan dulu:

    Pertama, walaupun saya antipati pada konfliknya, masalah kemanusiaan tetap jadi concern saya. Indiferensi saya pada konflik Palestina-Israel bukan berarti saya tidak peduli pada korban sipil yang jatuh — melainkan sekadar penolakan untuk mendukung salah satu pihak.

    Saya setuju pada masalah kemanusiaannya. Sejauh ini pun, masalah kemanusiaan masih mendominasi pikiran saya pada perang di Gaza ini, meski… sebagai muslim bukannya saya tak tergelitik dengan hal-hal berbau agama yang terjadi di sana. Mulai dari mesjid yang dibom dengan tuduhan sebagai gudang senjata, muslim dilarang shalat di Masjidil Aqsa, sampai kuburan pun diroket oleh artileri Israel. Itu terasa bau agamanya bagi saya.

    Mana buktinya bahwa mesjid itu gudang senjata? Apa urusannya orang dilarang shalat? Ah… lagi2 justifikasi politik dan militer yang keluar, bukan? :?

    *jadi ingat komen seseorang di blog Geddoe…*

    Kedua, bicara konflik kemanusiaan, selalu ada upaya misinformasi dan disinformasi. Apa yang disampaikan pada media, dan dicatat sejarah, belum tentu sesuai dengan fakta lapangan. Who are we to judge based on such news?

    Lha… itu sebabnya saya bertanya juga, dalam kasus seperti Teori Evolusi: sevalid apa kita utk berkesimpulan bahwa semestinya teori itu benar?

    FYI, saya bukan penentang teori itu, tapi saya tidak pernah suka dengan kefanatikan dalam bentuk apapun, apakah sains atau agama ;)

    Nah, dalam hal sejarah dan politik juga demikian. Meski media dan informasi akan selalu bias, setidaknya dengan apa yang dikonsumsi kita bisa melihat yang mana yang lebih mendekati fakta. Sejumlah fakta yang dieliminasi yang terlihat oleh saya, dalam hal “Hei, muslim dan kristen, ini bukan perang agama!” adalah kenyataan bahwa eksistensi negara Israel dan pencaplokan mereka didasarkan pada klaim sekeping tanah perjanjian dengan sosok anonymous bernama Tuhan. Lalu… lalu… jika dengan basis agama muslim dan kristen (bahkan yahudi yang anti zionis) di Palestina melawan, dengan asumsi bahwa zionisme adalah agama tersendiri, apakah itu menjadi salah? Banyak hal yang bisa didefinisikan agama, termasuk itu tadi: sains, teknologi, filsafat atau sebentuk zionisme itu pula.

    Dengan pertimbangan tersebut, maka bersikap netral adalah pendekatan yang viable untuk saya.

    Sejujurnya saya di posisi mendukung Hamas, meski saya tak suka dengan 3 korban sipil di pihak Israel.

    Saya sungguh tak bisa netral disaat angka-angka sendiri bicara bahwa hampir 1000 tewas di Gaza dengan 1/3nya anak-anak, sementara di Israel 13 tewas dengan 10 diantaranya serdadu a.k.a kombatan.

    Bersikap netral utk tidak memihak, tidak masalah. Toh saya senang bahwa masih ada sisi kemanusiaan yang bisa dipihaki ;)

    Meski jika melihat sisi kemanusiaannya dalam kasus ini justru Palestina lebih berhak utk dibela

    (analogi: tetangga saya dan istrinya bertengkar, sementara saya menilai dari gosip RT-RW. truthiness in question)

    Analoginya kurang tepat, lho. Karena ada opsi utk melihat sendiri pertengkaran tersebut di depan mata atau dari sumber terdekat. Ini sama seperti saya cuma percaya atau tidak percaya dengan suatu teori cuma karena membaca di buku. Ada riset sekecil apapun yang (semestinya) bisa dilakukan. Tapi ya itu… tak perlu ada paksaan :)

    Bukannya logika mati. Alasannya cuma satu: malas.

    :lol:

    Saya juga nyaris tidak peduli, seperti komen saya di blog Geddoe, pada Israel-Palestina ini jika bukan karena kemanusiaan yang babak-belur dihajar di sana. Dan malas… juga…

    Malas, karena justifikasi utk bertahan karena panduan agama pasti akan selalu berhadapan dengan isu-isu yang menuntut agar agama jangan dibawa-bawa, sementara fakta bahwa ada sentimen agama dari satu pihak utk menekan pihak lain, dihilangkan disulap menjadi label-label demokrasi, terorisme, etc… etc…

    Sejak dulu, dan hingga sekarang, orang-orang yang berebut tanah Palestina tak belajar dari sejarah. Sudah berapa abad berlalu sejak 1095? Sembilan lewat. Dan selama itu juga, pihak yang bertikai mencibir “yang lain” tidak layak tinggal di tanah suci.

    Ada beda antara mencibir dan mengusir.

    Sepanjang yang saya tahu, warga Palestina – apakah muslim atau nasrani – tidak pernah mengusir warga yahudi sebelumnya.

    Jangan kira di zaman Saladin tak ada prasangka rasis — biarpun dia sultan yang terkenal bijak, masyarakatnya tidak otomatis jadi sama bijaknya. :-? (referensi: “Perang Salib: Sudut Pandang Islam” oleh Carole Hillenbrand)

    :lol:
    Ya, ya… saya juga tahu itu. Maimonides sendiri yang hidup di era yang sama juga, sebijak apapun ia sebagai filsuf, sedikit rasis. Tapi ada satu hal yang membuat rasisme saat itu cuma jadi urusan seupil: adanya entitas yang membuat warganya merasa Palestina milik bersama. Tanpa negara, apalagi the so-called Knesset.

    Berulangkali pecah perang, puluhan ribu tewas di satu kota, dan mereka tidak kunjung mau belajar dari situ. Rasisme dan sentimen agama selalu meletup. Itu yang memicu antipati saya pada setiap bahasan “Tanah Suci”.

    Ya, berulangkali. Dan aksi seperti ini juga terjadi setiap Israel mau Pemilu raya. Sebuah kebetulan? :D

    Masalah antipati…. sebaiknya jangan terlalu antipati, Sora. Setidaknya lihatlah pada kemanusiaannya, apakah itu pada Israel, Palestina, Darfur atau Burma :)

    Kurang lebih seperti ucapan Nyai Ontosoroh: “Manusia dari dulu sama saja. Yang berbeda cuma alatnya.” (-_-)

    Nyai Ontosoroh semestinya juga mengikuti tumbuh-padamnya radikalisme yang tidak melulu monopoli Islam saja. Dan juga perseteruan hal-hal lain antara sains dan agama. Sejarah selalu berulang… :D

    Perkara Kreasi-Evolusi tidak rumit jika orang mau berpikiran terbuka dan *bersedia* mencari solusi kompromi, semisal theistic evolution. Empat dari lima penggagas modern evolutionary synthesis adalah teis/mistik: Fischer, Wright, Haldane, Dobzhansky. Hanya Ernst Mayr yang berhaluan ateis.

    Perkara Israel-Palestina tidak rumit jika orang berpikiran terbuka dan *bersedia* mencari solusi kompromi, semisal two-state solution atau salah satunya mengalah. Kata *bersedia* itu yang penting. ;)

    Ah… ini saya suka. Terimakasih.

    Duh, itu kan pars prototo. Jangan diambil face value, dong. ^^;

    Wah, saya tidak paham apa itu pars prototo. Tapi yang saya lihat bukankah ada fenomena demikian? Jadi, kalo seorang Mohammad Toha di Bandung Selatan berjibaku meledakkan daerah kolonial Belanda, maka ia sama jahatnya dengan Belanda yang mengebom kawasan Bandung lain di zaman perang, misalnya? :D

    Seperti yang sudah saya indikasikan di post dan komen-komen, ada satu topik yang sering terabaikan: kemanusiaan. Di sini kedua pihak punya salahnya masing-masing.

    Benar, kemanusiaan. Tapi dan tapi… reaksi itu timbulnya darimana mesti dipertimbangkan. Aksi dari Israel yang datang dan mencaplok itu menimbulkan resistensi, apa lalu Hamas salah?

    Israel memaksakan datang ke Palestina, dan bersikap hostile pada suku Arab (see also: “Hebron Journal” by Art Gish). HAMAS menanggapi dengan bom bunuh diri dan roket di sarana publik; menewaskan rakyat sipil.

    Takaran brutalitasnya apa sama, Sora?

    — (skor antikemanusiaan: Israel 1 – 1 HAMAS) –

    Are you sure? Angka-angka statistik saja bicara bahwa ada yang “lebih berat” pelanggaran kemanusiaannya. Oke, Hamas seret ke Mahkamah Internasional, tapi Israel juga mesti diseret :)

    Israel beralasan dengan basis kitab suci yang tidak disepakati kedua pihak (masyarakat Palestina mayoritas muslim). HAMAS mengklaim bahwa memerangi Israel adalah kehendak Allah, bahkan menyitir hadis “Yahudi akan dihabisi dalam perang akhir zaman”. (see also: Piagam HAMAS)

    – (skor antikemanusiaan: Israel 2 – 2 HAMAS) –

    Again: Aksi pertama menjadi sebab. Saya sudah liat Piagam HAMAS sejak lama. Dan AFAIK, Yahudi yang mereka maksud adalah Yahudi Zionis, bukan Yahudi pada umumnya.

    Israel memutuskan perang dengan HAMAS, HAMAS menyanggupi. Rakyat sipil tidak terevakuasi; mereka pun jadi korban.

    Lho? Pembelaan diri itu, mau disanggupi atau tidak, adalah opsi bagi Hamas ketika kawasannya dimana ia memenangkan pemilu dengan sah diserang dgn brutal. Bagaimana akan terevakuasi, jika hak utk menentukan bisa dievakuasi atau tidak ada di tangan Israel? Apa itu jadi kesalahan HAMAS?

    – (skor antikemanusiaan: Israel 3 – 3 HAMAS) –

    Lihatlah berita tentang berondongan Israel pada bantuan kemanusiaan atau bagaimana mereka mencegat kapal bantuan yang masuk, Sora. Skor mestinya 5-3 :)

    Sisanya saya tanggapi nanti. Barusan mati lampu ini. Maklum… Perusahaan Lilin Negara di sudut Aceh :mrgreen:


  45. pada Januari 16, 2009 pada 3:43 am restlessangel

    *save as*

    sora….bisa rikuwes ?
    benernya sudah banyak contoh2 ttg falasi. dan posting ini sangat to the poin dan mudah dimengerti

    dan akan lbh komlit lg utk pelajaran berdiskusi, jika sora mau menyertakan contoh2 kalimat/argumen yg benar/bukan falasi.

    tolong bgt yaaaaa….^^

    tengkiuuuhhh…..


  46. pada Januari 16, 2009 pada 8:12 am sora9n

    @ alex©

    Saya setuju pada masalah kemanusiaannya. Sejauh ini pun, masalah kemanusiaan masih mendominasi pikiran saya pada perang di Gaza ini, meski・sebagai muslim bukannya saya tak tergelitik dengan hal-hal berbau agama yang terjadi di sana. Mulai dari mesjid yang dibom dengan tuduhan sebagai gudang senjata, muslim dilarang shalat di Masjidil Aqsa, sampai kuburan pun diroket oleh artileri Israel. Itu terasa bau agamanya bagi saya.

    Saya pribadi memandang itu sebagai capitalization isu agama dalam perang. :-? Sekaligus juga untuk provokasi pihak Arab-Palestina… (malah kalau beruntung sekalian provokasi Liga Arab :roll: )

    Mengapa, sebab dengan mengulik isu keagamaan, lebih mudah untuk membentuk angry mob. Dan yang namanya angry mob itu mudah sekali untuk dimanipulasi.

    Contoh gampangnya: HAMAS, diprovokasi, tembak roket + bom bunuh diri ke penduduk sipil. Israel pun mendapat legitimasi “jadi korban”.

    IMHO, itu salah satu manfaat yang didapat dari memainkan isu agama. Orang jadi lebih gelap mata dan tidak rasional, dan dari situ diharapkan berbuat tindakan yang — pada gilirannya — bisa dieksploitasi oleh Israel. :lol:

    (CMIIW, though)

    Mana buktinya bahwa mesjid itu gudang senjata? Apa urusannya orang dilarang shalat? Ah・lagi2 justifikasi politik dan militer yang keluar, bukan? :?

    Ini mengingatkan saya pada WMD-nya Bush di Irak. :? :mrgreen:

    *jadi ingat komen seseorang di blog Geddoe・

    Soal itu, saya no comment lah. ^^;;

    Walaupun saya juga mau menambahkan, bahwasanya Renaisans dan Golden Age Islam itu tidak muncul out of war…

    Lha itu sebabnya saya bertanya juga, dalam kasus seperti Teori Evolusi: sevalid apa kita utk berkesimpulan bahwa semestinya teori itu benar?

    Untuk ilmu alam, kasusnya agak beda. Orang selalu bisa menganalisis dan mereplikasi hasil penelitian orang lain. Alhasil, ketergantungan pada jejak-rekam sejarah dan misinformasi jadi lebih rendah. (o_0)”\

    Misalnya orang Amerika bisa melakukan percobaan lalat buah untuk membuktikan spesiasi. Orang Indonesia yang penasaran juga bisa; dia tidak perlu tergantung pada informasi dan pendapat mainstream.

    Alfred Wallace sendiri merumuskan kaidah evolusi hampir bersamaan dengan Darwin. Hasil penelitiannya mengantarkan pada petunjuk evolusi juga… padahal Darwin di Galapagos, dia meneliti di Halmahera. Hanya saja Darwin lebih terkenal karena bukunya selesai duluan. :P

    Jadi, dalam ilmu alam orang bisa mencapai “kebenaran” dengan caranya sendiri. Tidak mesti bergantung pada catatan/informasi yang sudah ada. Nah, ini bedanya dengan tinjauan sejarah dan sosial-politik.

    Nah, dalam hal sejarah dan politik juga demikian. Meski media dan informasi akan selalu bias, setidaknya dengan apa yang dikonsumsi kita bisa melihat yang mana yang lebih mendekati fakta.

    Betul. Tapi ingat: dalam perang, Psy-War bisa jadi sangat elaboratif. Dan terkadang, “bukti”-nya bisa begitu meyakinkan… salah satunya pernah saya singgung di tulisan yang ini.

    Ada banyak contoh misinformasi, disinformasi, dan penggiringan opini yang pernah berlangsung dalam sejarah. Beberapa malah benar-benar dahsyat — bisa dicek di link-link sbb.

    http://www.psywarrior.com/DeceptionH.html
    http://www.iwar.org.uk/psyops/

    Silakan dihayati… :mrgreen:

    Sejumlah fakta yang dieliminasi yang terlihat oleh saya, dalam hal “Hei, muslim dan kristen, ini bukan perang agama!” adalah kenyataan bahwa eksistensi negara Israel dan pencaplokan mereka didasarkan pada klaim sekeping tanah perjanjian dengan sosok anonymous bernama Tuhan. Lalu… lalu… jika dengan basis agama muslim dan kristen (bahkan yahudi yang anti zionis) di Palestina melawan, dengan asumsi bahwa zionisme adalah agama tersendiri, apakah itu menjadi salah?

    Enggak salah. :) Salahnya adalah jika perlawanan dengan agama itu bukannya menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru.

    Kira-kira begini: Israel datang dan mengusir berdasarkan military superiority. Kemudian HAMAS menanggapi dengan berpaling pada semangat Islam militan. Lantas ditinggikanlah simbolisasi “HAMAS = Islam”. Otomatis dunia Islam jadi terbawa. Liga Arab, termasuk Iran yang punya nuklir, jadi rikuh jika tidak mendukung HAMAS. Apalagi lawannya Yahudi, yang notabene dikisahkan sebagai kaum yang licik dalam Qur’an.

    Di sisi lain, Israel juga bangga dengan atribut ke-Yahudi-annya. Dengan sentimen ini mereka menggerakkan para taipan Yahudi, yang menjadi tulang punggung ekonomi US, untuk melakukan lobi ke pemerintahnya. US pun jadi sekutu Israel.

    Apa akibatnya? Karena yang dibawa adalah sentimen agama, maka perseteruan ini bukan lagi sekadar HAMAS vs. Israel. Palestina-Israel kini menjadi perang yang tidak saja melibatkan suku Arab dan Yahudi… melainkan juga negara pemilik nuklir (Iran), masyarakat dunia Islam, dan sebuah negara adikuasa bernama Amerika Serikat. Bahkan karena ada nama “Islam” Osama Bin Laden ikut nyemplung. Baru kemarin kita dengar dia menyuarakan jihad terhadap Israel.

    Yang bikin lebih gawat, Amerika, Iran, dan Israel itu punya nuklir. Ditambah Al-Qaeda itu kelompok ekstremis. Jadi… yah, bisa dibayangkan sendiri, lah. :mrgreen:

    * * *

    Saya pribadi tidak menyalahkan jika orang memakai sentimen agama untuk membela diri. Sah-sah saja — jika digunakan dengan baik, ia bisa membantu mencapai tujuan. Mahatma Gandhi sudah membuktikan ini.

    TETAPI, jika tidak hati-hati, justru akibat buruklah yang menanti! Agama itu pengaruhnya luas, dan appeal to emotion-nya besar sekali. Jika Israel tidak memakai sentimen ke-Yahudi-an, dan HAMAS tidak menaikkan pride ke-Islam-an, masalah tidak akan serumit ini. Yahudi Amerika bisa lepas tangan, dan dunia Islam (termasuk Iran dan Indonesia) tidak perlu terlibat.

    Kekhawatiran akan intervensi USA (atau nuklir Iran) bisa direduksi. Osama Bin Laden pun jadi tak punya alasan untuk menyerukan jihad kontra Israel. This is what to get, had the religion issue never taken place.

    Isu agama ini membuat perkara yang tadinya kecil menjadi berskala global. Belum lagi efek sampingnya, yakni jadi berpotensi memupuk semangat ekstremisme di masa depan. :o

    Saya sungguh tak bisa netral disaat angka-angka sendiri bicara bahwa hampir 1000 tewas di Gaza dengan 1/3nya anak-anak, sementara di Israel 13 tewas dengan 10 diantaranya serdadu a.k.a kombatan.

    Saya tahu itu. Tetapi, memihak HAMAS, yang tangannya juga berlumuran darah, belum tentu lebih baik daripada memihak Israel. Mengapa?

    Israel memanen korban sebanyak 1000+ orang karena mereka bermodal senjata dan alat militer tangguh. Taapiii…

    Bagaimana jika keadaannya dibalik? Apakah kalau HAMAS punya militer tangguh, mereka takkan bersikap sama sadisnya? Apakah HAMAS bisa bersikap baik dengan pesawat jet, misil, dan lobi negara adidaya di tangan?

    Ya, HAMAS/Palestina layak disimpati karena kehilangan banyak nyawa. Tapi ingat: bahwasanya mereka selalu mengincar penduduk sipil Israel. Dengan modal gerilya saja sudah begitu; bagaimana kalau punya mesin perang? :roll:

    Ini yang orang sering lupa. Bahwa Israel membabi-buta dengan mesin perangnya, saya setuju. Tapi HAMAS belum tentu lebih baik… mereka juga ‘hobi’ mengincar rakyat sipil. Belum tentu mereka tak sekejam itu kalau punya pesawat pembom.

    IMO, mental mereka sama saja. Yang berbeda cuma alatnya.

    Bersikap netral utk tidak memihak, tidak masalah. Toh saya senang bahwa masih ada sisi kemanusiaan yang bisa dipihaki ;)

    IMHO, justru harusnya orang selalu berpihak pada kemanusiaan. Lepas dari embel-embel agama, negara dan sebangsanya.

    Jika kemanusiaan diletakkan di bawah kepentingan agama dan negara, itu pertanda buruk. Rasisme di atas kemanusiaan = Hitler, agama di atas kemanusiaan = Perang Salib, dan negara di atas kemanusiaan = penjajahan. ;)

    Meski jika melihat sisi kemanusiaannya dalam kasus ini justru Palestina lebih berhak utk dibela

    Tentu. Tapi jangan lupa bahwa jika HAMAS memiliki pesawat dan roket Israel, belum tentu mereka bisa lebih beradab. :)

    Ada beda antara mencibir dan mengusir.

    Sepanjang yang saya tahu, warga Palestina – apakah muslim atau nasrani – tidak pernah mengusir warga yahudi sebelumnya.

    Benar. Tetapi, poin saya di situ adalah bahwa sifat menolak tersebut selalu ada, bertahan dari zaman ke zaman. Kasarannya, older than dirt lah.

    Umat-umat yang pernah tinggal di Palestina tidak koeksis dengan tulus. Ada suatu perasaan saling menolak yang terus berlangsung… seolah-olah “sudah takdirnya” seperti itu.

    Seperti yang saya tulis di post, seperti air dan minyak. Disatukan dalam wadah sih bisa, tetapi ada semacam gap yang tak terjembatani di situ. Yang terjadi di masa kini, perasaan tidak mau bersatu itu jadi begitu kuat — hingga mewujud dalam yang namanya “perang”. :-?

    Tapi ada satu hal yang membuat rasisme saat itu cuma jadi urusan seupil: adanya entitas yang membuat warganya merasa Palestina milik bersama.

    Nah, ini. :mrgreen:

    Ini yang sekarang tidak ada. Di zaman Perang Salib dulu, orang tak keberatan dipimpin raja/sultan beda agama. Sebab bagi mereka yang penting adalah “tanah” itu sendiri. Mau “pemiliknya” raja atau sultan, relatif bisa dikebelakangkan.

    Tetapi yang sekarang ini kan inginnya membentuk negara dan pemerintahan masing-masing. ^^;

    Wah, saya tidak paham apa itu pars prototo.

    Lha, kan saya kasih link? ^^a

    Itu maksudnya gaya bahasa “menyatakan seluruhnya dengan sebagian”. Kalau saya bilang “bertukar roket”, itu maksudnya menjelaskan perselisihan Palestina-Israel dalam satu contoh. Bukan berarti seluruh konfliknya berpusar di situ saja. :)

    Jadi, kalau membawa-bawa M. Toha, ibaratnya saya mengilustrasikan perjuangan beliau sebagai “perjuangan Bangsa Indonesia”. :P

    Benar, kemanusiaan. Tapi dan tapi… reaksi itu timbulnya darimana mesti dipertimbangkan. Aksi dari Israel yang datang dan mencaplok itu menimbulkan resistensi, apa lalu Hamas salah?

    Soal aksi-reaksi sudah saya bahas di atas tadi, menyoal sentimen agama yang merembet jadi global.

    Sebenarnya aksi-reaksi itu sendiri tak masalah. Masalahnya adalah jika reaksi yang diberikan tidak tepat, sehingga justru mempersulit masalah yang sudah ada. (IMHO, CMIIW)

     
    Sekarang soal skor antikemanusiaan:

    Takaran brutalitasnya apa sama, Sora?

    Secara magnitude, Israel lebih besar. Tetapi, secara definisi, dua-duanya sama-sama menyerang rakyat sipil.

    Jadi sebenarnya skor itu bisa diartikan “sama-sama mengakibatkan jatuhnya korban sipil” (i.e. kalangan yang tidak terlibat dan bertanggungjawab dalam perang).

    Again: Aksi pertama menjadi sebab. Saya sudah liat Piagam HAMAS sejak lama. Dan AFAIK, Yahudi yang mereka maksud adalah Yahudi Zionis, bukan Yahudi pada umumnya.

    Walaupun aksi menjadi penyebab reaksi, keduanya sama-sama mengetengahkan sentimen agama untuk menyerang yang lain. Padahal pihak yang satunya lagi tidak sepakat.

    Jadi, tambah 1-1 untuk sama-sama memunculkan sentimen agama yang tidak pada tempatnya. ;)

    Lho? Pembelaan diri itu, mau disanggupi atau tidak, adalah opsi bagi Hamas ketika kawasannya dimana ia memenangkan pemilu dengan sah diserang dgn brutal. Bagaimana akan terevakuasi, jika hak utk menentukan bisa dievakuasi atau tidak ada di tangan Israel? Apa itu jadi kesalahan HAMAS?

    OK, evakuasi memang di tangan Israel. Tapi ingat: HAMAS bukannya tak berkepentingan. Justru mereka mendapat untung dari situ.

    HAMAS memanfaatkan penduduk sipil sebagai human shield. Mereka membaur di tengah masyarakat, bahkan memancing-mancing dengan menyerang Israel dari daerah padat. IMHO ini ‘dosa’ mereka yang paling besar.

    Link:

    http://www.worldnetdaily.com/index.php?pageId=57867
    http://newsblaze.com/story/20081229092838zzzz.nb/topstory.html
    http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6162494.stm

    Jika HAMAS memang mengutamakan sipil, mereka harusnya — paling tidak — bisa mengenakan seragam militer atau penanda lain. Mereka tidak gagah dengan lari ke tengah masyarakat dan menembak dari rumah penduduk… seolah sengaja mengorbankan sipil agar dunia mengutuk Israel. :|

    Israel bersalah karena memulai dan tidak memudahkan evakuasi, ya — tapi HAMAS juga bersalah dengan meng-exploit kehadiran sipil. Sama-sama merendahkan keselamatan civilians, 1-1 lagi di sini. ;)

    Lihatlah berita tentang berondongan Israel pada bantuan kemanusiaan atau bagaimana mereka mencegat kapal bantuan yang masuk, Sora. Skor mestinya 5-3 :)

    5-3, betul? :)

    Dan itu menunjukkan bahwa — di samping Israel — tangan HAMAS pun berlumuran darah. Sori, tapi mereka tidak ‘bersih’. Two wrongs don’t make a right. :mrgreen:

    Benar, memang bahwa secara intensitas Israel lebih banyak melakukan pelanggaran HAM. Tetapi, orang tidak boleh lupa bahwa HAMAS juga tidak se-”suci” itu. Biarpun mereka kehilangan lebih banyak.

    Dalam logika, ada yang namanya The Lesser of Two Evils. Jika saya berpegang pada kemanusiaan dalam konflik ini, haruskah saya membela HAMAS?

    For me, the answer is NO. :) Saya takkan membela HAMAS, sebab mereka punya dosa di sini. Menjadikan rakyat sipil human shield, melempar roket ke kota sipil, meledakkan bom bunuh diri. Of course this is lesser evil than what Israel do. But still evil nonetheless.

    Saya membenci Israel, dan saya membenci HAMAS. Saya lebih benci Israel daripada HAMAS, tapi jangan harap saya akan mendukung HAMAS. :)

     
    Mungkin agak membingungkan, tapi kira-kira begitulah adanya. Mudah-mudahan cukup jelas yah. ^^;

    Sisanya saya tanggapi nanti. Barusan mati lampu ini. Maklum… Perusahaan Lilin Negara di sudut Aceh :mrgreen:

    Bukannya “Perusahaan Lilin Nyala” ? :mrgreen:

    Sebab walaupun udah bayar lilin masih nyala aja tuh


  47. pada Januari 16, 2009 pada 8:14 am sora9n

    @ restlessangel

    Oh, postingan soal argumen non-fallacy? (o_0)”\

    Hmm, mungkin kapan-kapan saya buat. Lihat-lihat dulu aja sih. ^^a


  48. pada Januari 16, 2009 pada 10:38 am spidolhitam

    soal score saya setuju sama 5-3, bukan 5-0, 0-3, atau 3-3, setidaknya 4-3

    gak perlu mengandaikan apa-apa karena kenyataannya, hamas gak superior, dan israel yang superior, dalam sepakbola ada yang namanya fair play, jangan mentang-mentang ada yang cedera bola dimainkan terus, minimal bola dikeluarkan, untuk memberi waktu tim medis memberi pertolongan.

    berusaha seobyektif mungkin pun tidak harus membuat kita jadi netral mutlak kan? bahkan keberpihakan bisa berangkat dari obyektifitas


  49. pada Januari 16, 2009 pada 11:45 am alex©

    @ Sora

    Oke, lanjut! :mrgreen:

    * * *

    Lalu ada pertanyaan: ini salahnya di mana?

    Salahnya adalah, ketika seluruh dunia memprotes dengan alasan kemanusiaan, kedua belah pihak justru menjustifikasi kekerasan yang mereka lakukan. Ini red herring. Ditanya tentang korban sipil, larinya malah berkata “ini masalah IPOLEKSOSBUDHANKAM“, ditambah sejarah, ditambah kitab suci segala.

    Ini benar, dua pihak memiliki kesalahan yang sama dalam hal justifikasi. Tapi, tapi…

    Sekelompok orang datang ke satu daerah. Lalu didirikannya satu desa pada tahun 1948. Batas-batasnya itu sudah ada saat itu. Etapi… hingga tahun 1967, dengan seenaknya desa itu diperluas, hingga lebih besar. Dengan klaim-klaim historis ala KODAM memancak tanah adat. Kampung-kampung lain dibuldoser, orang kampung diusir.

    Lalu perlawanan timbul, dengan kata, dengan batu, dengan senjata. Etapi lagi, dunia marah: lawanlah dengan elegan, dengan demokratis.

    Berdiri PLO, berdiri Fatah, berdiri Hamas. PLO dan Fatah lalu impoten, cuma “harus puas” dengan dikembalikannya Jenin, Gaza dan Jericho. Adil? Tidak. Karena berpatok pada batasan sah 1948, hal itu tidak adil. Hamas lalu melawan, dituntut lagi utk sujud pada demokrasi. Oke, mereka ikut agama demokrasi. Ikut pemilu. Dan menang. Dengan persentase suara yang menunjukkan kemana rakyat Palestina memihak.

    Etapi lagi (dan lagi), dalih dicari: disebut teroris, disebut fundamentalis, cuma karena mereka tidak mengakui desa bernama Israel itu di daerah pendudukan. Mereka tidak boleh bawa agama yang menganjurkan untuk melawan atas setiap hak yang dirampas, tapietapi desa Israel itu bisa memasukkan dasar2 klaim agama ke konstitusi desa.
    Adil? Sekali lagi: Tidak.

    Lalu dan lalu, kekerasan mereka disamakan dengan kekerasan desa Israel tersebut. Disederhanakan dengan begitu saja, sementara angka-angka bicara lebih banyak korban jatuh di Desa Palestina. Mereka jadi sederajat dosanya dunia akhirat. Asumsi-asumsi hukum dan demokrasi yang di kasus lain diharuskan menimbang mana yang lebih mudharat mana yang tidak, dikebiri begitu saja. Konvensi-konvensi kota Jenewa tentang perang, cuma berpihak pada sebelah saja.

    Adil? Sekali lagi: Tidak.

    Tapi mereka tetap tidak memuaskan komplain kemanusiaan dari seluruh dunia. Itu yang namanya red herring. Fallacy pengalihan perhatian. :)

    Dunia yang mana yang komplain, ini yang menjadi pertanyaan menarik. Bagaimana bisa patuh pada dunia yang didominasi statemen jelas, misal, dari seorang Obama bahwa:


    “I want you to know that today I’ll be speaking from my heart, and as a true friend of Israel. And I know that when I visit with AIPAC, I am among friends. Good friends. Friends who share my strong commitment to make sure that the bond between the United States and Israel is unbreakable today, tomorrow and forever.”

    Jika dunia yang dimaksud adalah yg menurut definisi dari pemerintahan diatas itu, maka satu-satunya saat bisa netral adalah saat mendengar Netral main musik :lol:

    Nggak kaget. Lha wong saya udah baca Hebron Journal, kok. Rasisme kayak begitu sih memang sudah tahunan. :lol:

    Intinya adalah utk mengingatkan: bahwa rasisme dan fundamentalism itu bukan melulu monopoli Islam, cuma karena HAMAS beratribut Islam. Berapa banyak media dan orang yang mau peduli pada fakta bahwa ada warga sipil yang juga jadi milisi di Israel, yang memberi support moral dan materi? Lalu… jika dari muslim ada dukungan serupa dengan semena-semana diserukan, “Halo! Jangan karena sesama muslimlah!” ?? :D

    Soal appeal to motive, tentu bisa terjadi kalau orang melihat bahwa penyampainya media Islam. Tapi itu bukan alasan yang bagus untuk men-dismiss begitu saja. :)

    Good. Saya senang bahwa judgement yang biasa saya temui karena media Islam bicara tidak ada di sini :)

    Lha… bukan begitu. Maksud saya adalah, mendukung HAMAS semata karena mereka Islam sama saja dengan mendukung Saddam Hussein semata karena dia Islam. Padahal belum tentu “Orang Islam” yang dibela itu baik.

    Setuju. Bukan semata-mata karena Islam.

    Saya sendiri tidak bilang bahwa HAMAS itu comparable dengan Saddam. Tetapi, kalau berangkatnya dari “sesama muslim” begitu saja, ada kemungkinan orang terbawa solidaritas buta. Padahal keadaan di lapangan juga harus dipertimbangkan. :)

    Tapi yang saya was-waskan adalah asumsi yang timbul dari pernyataan tersebut seakan HAMAS melakukan genoside pula. Kasusnya beda: Saddam melakukan genoside saat berkuasa, dalam hal Israel-Palestina, dengan pembantaian bertahun-tahun terhadap sipil, terpampang siapa yang melakukan genoside (tanpa harus melupakan sipil yang jatuh di pihak Israel, tentu).

    Tentu saja. Tapi itu tidak membuat generalisasi “Yahudi = jahat” jadi benar. :mrgreen:

    Tentu tidak Kan sudah diberi combantrin… :)

    Kalau generalisasi “Yahudi = jahat” jadi justifiable hanya karena sentimen “HAMAS = teroris”, dunia bakal kacau. Mau dibawa ke mana kemanusiaan kita? :lol:

    Mari tanyakan pada Mahkamah Internasional atau Badan HAM PBB, atau Worldstatesmen yang memasukkan HAMAS ke daftar teroris utk pembenaran :)

    (side note: ini mengingatkan saya pada ucapan Gandhi, “an eye for an eye makes the whole world blind”)

    Hukum Qisas?

    Hukum didirikan utk dipatuhi. Hukum Qisas bagi saya adil dan memiliki efek agar individu/institusi berpikir sebelum melakukan tindakan merusak. Ini sama seperti golden rules: “Jangan lakukan pada orang sesuatu yang kau tidak ingin orang lain perbuat padamu”

    Yup, yup. =3

    Err… OOT: Saya baru mengerti kenapa Miss Hiruta emoh dgn =3 ini :lol:

    Mirip phallus, memang :P

    Mau gimana lagi? :lol:

    Tidak harus bagaimana. Postingan fallacy ini juga bagus utk mengajak berpikir rasional. Ini membantu saya lho meluruskan pola pikir kerabat saat nonton debat Israel-Palestina di TvOne. Ada sejumlah alasan yang ngawur memang (baik dari Insist atau JIL) :|

    Saya pribadi memandang itu sebagai capitalization isu agama dalam perang. :-? Sekaligus juga untuk provokasi pihak Arab-Palestina… (malah kalau beruntung sekalian provokasi Liga Arab :roll: )

    Kapitalisasi isu, ya? :?

    Jika Liga Arab tidak boleh diprovokasi dengan isu agama (karena kemanusiaan juga tetap membuat mereka diam), lalu bagaimana dengan negara yang jelas2 berpihak pada satu pihak? Apakah dengan alasan demokrasi mereka boleh berpihak, tapi demokrasi dalam definisi muslim, jadi haram berpihak?

    Mengapa, sebab dengan mengulik isu keagamaan, lebih mudah untuk membentuk angry mob. Dan yang namanya angry mob itu mudah sekali untuk dimanipulasi.

    Ini benar :D

    Mungkin karena “anger is a gift”-nya Malcolm-X jadi pilihan saat dengan cara “damai” hak-hak yang terampas tak dikembalikan? :P

    Contoh gampangnya: HAMAS, diprovokasi, tembak roket + bom bunuh diri ke penduduk sipil. Israel pun mendapat legitimasi “jadi korban”.

    IMHO, itu salah satu manfaat yang didapat dari memainkan isu agama. Orang jadi lebih gelap mata dan tidak rasional, dan dari situ diharapkan berbuat tindakan yang — pada gilirannya — bisa dieksploitasi oleh Israel. :lol:

    :lol:

    Hukumannya jadi berlipat-lipat ya? Fundamentalis, lalu jadi radikal, jadi jadi teroris, lalu sah dibumi hanguskan :lol:

    Menarik. Provokasi awal yang mengulik sentimen agama pun jadi terlupa :D

    Ini mengingatkan saya pada WMD-nya Bush di Irak. :? :mrgreen:

    Jelas sasaran saya kesana :lol:

    Dan lihatlah kemana lagi dunia di bawa PBB akan berpihak. Farrah Aidit bisa dihakimi, Milosevic bisa dilibas, tapi… Livni, Bush, Rice, dan bahkan mungkin Obama, akan tetap aman sambil nyanyi I Will Survive ala Cake :lol:

    Untuk ilmu alam, kasusnya agak beda. Orang selalu bisa menganalisis dan mereplikasi hasil penelitian orang lain. Alhasil, ketergantungan pada jejak-rekam sejarah dan misinformasi jadi lebih rendah. (o_0)”\

    Ah ah…. empirisme?

    Apa analisa serupa tidak bisa dilakukan pada rekam-jejak sejarah utk memvalidasi catatan sejarah tanpa keterikatan pada manuskrip2 suci? :D

    Jangan lupa: ilmu alam masih memiliki ketergantungan denga rekam-jejak sejarah, meski (harus diakui) lebih bisa bicara dengan angka-angka :)

    Misalnya orang Amerika bisa melakukan percobaan lalat buah untuk membuktikan spesiasi. Orang Indonesia yang penasaran juga bisa; dia tidak perlu tergantung pada informasi dan pendapat mainstream.

    Sama itu. Setiap orang yang penasaran juga bisa melongok sendiri ke tanah perjanjian itu, melakukan riset dan mencatat angka-angka dari kriminalitas dari institusi2 yang bertempur selama bertahun-tahun.

    Tapi masalahnya adalah: ada fenomena dimana arus informasi yang berpihak ke Palestina, apalagi dari dunia muslim, itu dipelintir. Sama seperti Harun Yahya memelintir informasi yang diterima dari kalangan evolusionist. Pola yang sama itu dipakai.

    Alfred Wallace sendiri merumuskan kaidah evolusi hampir bersamaan dengan Darwin. Hasil penelitiannya mengantarkan pada petunjuk evolusi juga… padahal Darwin di Galapagos, dia meneliti di Halmahera. Hanya saja Darwin lebih terkenal karena bukunya selesai duluan. :P

    Saya sudah pernah belajar evolusi. Saya tahu itu :)

    Intinya: Ada kesimpulan yang sama yang mereka ambil bukan? :)

    Jadi, dalam ilmu alam orang bisa mencapai “kebenaran” dengan caranya sendiri. Tidak mesti bergantung pada catatan/informasi yang sudah ada. Nah, ini bedanya dengan tinjauan sejarah dan sosial-politik.

    :lol:

    Bergantung tidak, tapi menjadi rujukan meski temporer, mesti ada selalu. Tidak ada ilmu pengetahuan yang konstan ditemukan dan berdiri sendiri begitu saja. Sains sekalipun :)

    Betul. Tapi ingat: dalam perang, Psy-War bisa jadi sangat elaboratif. Dan terkadang, “bukti”-nya bisa begitu meyakinkan… salah satunya pernah saya singgung di tulisan yang ini.

    Psy-war itu bukannya juga seperti polanya HY yang mengancam dengan neraka, ayat-ayat, utk membenarkan klaimnnya? Dan itu bisa dipatahkan bukan? :?

    Ada banyak contoh misinformasi, disinformasi, dan penggiringan opini yang pernah berlangsung dalam sejarah. Beberapa malah benar-benar dahsyat — bisa dicek di link-link sbb.

    http://www.psywarrior.com/DeceptionH.html
    http://www.iwar.org.uk/psyops/

    Silakan dihayati… :mrgreen:

    Sudah. Saya punya sampel lebih banyak dalam bentuk catatan. Sudah dipelajari lama jenis2 itu utk di kajian politik :)

    Enggak salah. :) Salahnya adalah jika perlawanan dengan agama itu bukannya menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru.

    Menarik ;)

    *catet*

    Kira-kira begini: Israel datang dan mengusir berdasarkan military superiority. Kemudian HAMAS menanggapi dengan berpaling pada semangat Islam militan. Lantas ditinggikanlah simbolisasi “HAMAS = Islam”. Otomatis dunia Islam jadi terbawa. Liga Arab, termasuk Iran yang punya nuklir, jadi rikuh jika tidak mendukung HAMAS. Apalagi lawannya Yahudi, yang notabene dikisahkan sebagai kaum yang licik dalam Qur’an.

    [OOT]

    Sora betul2 percaya bahwa Iran punya nuklir? Nuklir dalam bau-bau definisi “senjata”? Apa itu tidak menunjukkan gejala sudah termanipulasi berita yang menyudutkan juga? :)

    [/OOT]

    Simbolisasi itu, jika disepakati utk dihapus, adalah pertanyaan yang sama: Maukah Israel menghapus bintang David dari benderanya? :?

    Di sisi lain, Israel juga bangga dengan atribut ke-Yahudi-annya. Dengan sentimen ini mereka menggerakkan para taipan Yahudi, yang menjadi tulang punggung ekonomi US, untuk melakukan lobi ke pemerintahnya. US pun jadi sekutu Israel.

    :lol:

    Like I said earlier: Mereka meletakkan bintang David di bendera, yang saya tidak yakin itu cuma karena petunjuk dukun Gypsi belaka :lol:

    Bahkan karena ada nama “Islam” Osama Bin Laden ikut nyemplung. Baru kemarin kita dengar dia menyuarakan jihad terhadap Israel.

    Ya. Dan baru semalam saya membaca newsticker betapa Obama mengulang lagu lama: Al Qaeda adalah ancaman bagi keamanan Amerika Serikat.

    Kulit baru tapi retorika lawas :mrgreen:

    Yang bikin lebih gawat, Amerika, Iran, dan Israel itu punya nuklir. Ditambah Al-Qaeda itu kelompok ekstremis. Jadi… yah, bisa dibayangkan sendiri, lah. :mrgreen:

    Al-Qaeda ekstrimis :lol:

    I wanna say this to Obama: What you reap is what you sow, sir.

    Al-Qaeda itu api kecil binaan mereka, lalu mereka kelabakan saat api itu membesar, dan dengan itu semua yang berbau Al-Qaed (termasuk agamanya) bisa disembur sesuka hati. Dunia yang sangat-sangat adil :lol:

    Saya pribadi tidak menyalahkan jika orang memakai sentimen agama untuk membela diri. Sah-sah saja — jika digunakan dengan baik, ia bisa membantu mencapai tujuan. Mahatma Gandhi sudah membuktikan ini.

    TETAPI, jika tidak hati-hati, justru akibat buruklah yang menanti! Agama itu pengaruhnya luas, dan appeal to emotion-nya besar sekali. Jika Israel tidak memakai sentimen ke-Yahudi-an, dan HAMAS tidak menaikkan pride ke-Islam-an, masalah tidak akan serumit ini. Yahudi Amerika bisa lepas tangan, dan dunia Islam (termasuk Iran dan Indonesia) tidak perlu terlibat.

    Semestinya…. semestinya….

    Tapi juga karena agamalah: dengan cinta kasih-nya Isa Kristus dan menegakkan hak seperti yang didirikan Muhammad, maka agama juga tak bisa jadi urusan personal melulu. Dunia terlalu luas utk disempitkan cuma dalam urusan politik belaka :)

    Kekhawatiran akan intervensi USA (atau nuklir Iran) bisa direduksi. Osama Bin Laden pun jadi tak punya alasan untuk menyerukan jihad kontra Israel. This is what to get, had the religion issue never taken place.

    Boleh jadi :)

    Isu agama ini membuat perkara yang tadinya kecil menjadi berskala global. Belum lagi efek sampingnya, yakni jadi berpotensi memupuk semangat ekstremisme di masa depan. :o

    Bukankah isu agama pula yang membuat perseteruan darwinis dengan fans boy HY jadi global? Keduanya memiliki klaim yang “penting” bagi eksistensi manusia :D Dan, ya… dua-duanya memiliki ekstrimismenya sendiri-sendiri.

    Ah… saya jadi ingat rencana FBI memperbesar jaringannya dengan alasan ekstrimis-teroris itu. Mereka agaknya paham apa yang akan mereka tuai dari kebijakan negara mereka :mrgreen:

    Saya tahu itu. Tetapi, memihak HAMAS, yang tangannya juga berlumuran darah, belum tentu lebih baik daripada memihak Israel. Mengapa?

    Israel memanen korban sebanyak 1000+ orang karena mereka bermodal senjata dan alat militer tangguh. Taapiii…

    Bagaimana jika keadaannya dibalik? Apakah kalau HAMAS punya militer tangguh, mereka takkan bersikap sama sadisnya? Apakah HAMAS bisa bersikap baik dengan pesawat jet, misil, dan lobi negara adidaya di tangan?

    1st

    saya tidak mengharuskan siapapun memihak HAMAS. Tidak. Itu opsi.

    Jika saya memihak HAMAS, adalah karena itu opsi perlawanan yang tersisa.

    Apa tidak ada yang lebih baik dari HAMAS?

    *iklan mode ON*

    Yang lebih baik dari HAMAS?

    Yang jual mahal banyak!

    *iklan mode OFF* :P

    Kenapa HAMAS jadi pilihan di Palestina, yang mereka buktikan dengan memenangkan pemilu? Karena rakyat di sana melihat Fatah impoten. Belum lagi rasa sakit hati karena pemimpinnya korup, dan bermegah sejak zaman Arafat masih hidup.

    Silakan cek gaya hidup Madame Suha, istri beliau, yang keluar-masuk butik di Paris :)

    2nd

    Sora menarik asumsi dari sesuatu yang belum terjadi, lalu jump to conclusion dengan “mengandaikan” bahwa jikalau-andaikata-umpama-dan-misalkan HAMAS punya senjata canggih maka mereka akan melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu itu masuk fallacy yang mana, please tell me :)

    Ya, HAMAS/Palestina layak disimpati karena kehilangan banyak nyawa. Tapi ingat: bahwasanya mereka selalu mengincar penduduk sipil Israel. Dengan modal gerilya saja sudah begitu; bagaimana kalau punya mesin perang? :roll:

    Again…. itu pengandaian utk masa depan yang belum pasti. Sama seperti pengandaian yang berpijak pada hoax konspirasi zionis internasional :)

    IMO, mental mereka sama saja. Yang berbeda cuma alatnya.

    Bisa jadi. Tapi bukankah yg kita bicarakan adalah sejarah hari ini? Sejarah esok akan lain ceritanya.

    IMHO, justru harusnya orang selalu berpihak pada kemanusiaan. Lepas dari embel-embel agama, negara dan sebangsanya.

    Amen to that… Amen to that…

    Jika kemanusiaan diletakkan di bawah kepentingan agama dan negara, itu pertanda buruk. Rasisme di atas kemanusiaan = Hitler, agama di atas kemanusiaan = Perang Salib, dan negara di atas kemanusiaan = penjajahan. ;)

    Biar saya tambah: Zionisme diatas kemanusiaan = Israel + Gaza :)

    Tentu. Tapi jangan lupa bahwa jika HAMAS memiliki pesawat dan roket Israel, belum tentu mereka bisa lebih beradab. :)

    :lol:

    Itu kan pengandaian utk masa depan? Apa bukan sikap yang sama paranoidnya dengan sikap muslim yang fobia pada Yahudi? :D

    Benar. Tetapi, poin saya di situ adalah bahwa sifat menolak tersebut selalu ada, bertahan dari zaman ke zaman. Kasarannya, older than dirt lah.

    Itu akan selalu ada, Sora. Saya sendiri jengkel dengan opini picik di Aceh, misalnya, bahwa orang Jawa itu bangsa penjajah sejak jaman Majapahit. Sama jengkelnya dengan asumsi bahwa Aceh adalah bangsa ganja semua, atau Batak adalah bangsa para preman :)

    Umat-umat yang pernah tinggal di Palestina tidak koeksis dengan tulus. Ada suatu perasaan saling menolak yang terus berlangsung… seolah-olah “sudah takdirnya” seperti itu.

    Sudah dijelaskan diatas.

    Nah, ini. :mrgreen:

    Ini yang sekarang tidak ada. Di zaman Perang Salib dulu, orang tak keberatan dipimpin raja/sultan beda agama. Sebab bagi mereka yang penting adalah “tanah” itu sendiri. Mau “pemiliknya” raja atau sultan, relatif bisa dikebelakangkan.

    Tetapi yang sekarang ini kan inginnya membentuk negara dan pemerintahan masing-masing. ^^;

    Ya :?

    Itu maksudnya gaya bahasa “menyatakan seluruhnya dengan sebagian”. Kalau saya bilang “bertukar roket”, itu maksudnya menjelaskan perselisihan Palestina-Israel dalam satu contoh. Bukan berarti seluruh konfliknya berpusar di situ saja. :)

    Jadi, kalau membawa-bawa M. Toha, ibaratnya saya mengilustrasikan perjuangan beliau sebagai “perjuangan Bangsa Indonesia”. :P

    Oh.. oke.. oke..

    Lalu, dalam permisalan M. Toha, bisakah kita benar2 lepas dari sentimen sebagai WNI? Jika tidak, maka M. Toha dan perlawanan Bung Tomo itu sama jahatnya dengan perlawanan HAMAS atau gerilyawan Maois di Nepal :P

    Sekarang soal skor antikemanusiaan:

    Takaran brutalitasnya apa sama, Sora?

    Secara magnitude, Israel lebih besar. Tetapi, secara definisi, dua-duanya sama-sama menyerang rakyat sipil.

    Jadi sebenarnya skor itu bisa diartikan “sama-sama mengakibatkan jatuhnya korban sipil” (i.e. kalangan yang tidak terlibat dan bertanggungjawab dalam perang).

    Apa itu tidak terlalu menyederhanakan masalah? :?

    Jadi, tambah 1-1 untuk sama-sama memunculkan sentimen agama yang tidak pada tempatnya. ;)

    Bolehlah disepakati ini :lol:

    OK, evakuasi memang di tangan Israel. Tapi ingat: HAMAS bukannya tak berkepentingan. Justru mereka mendapat untung dari situ.

    Untung? Bisa jadi… :?

    HAMAS memanfaatkan penduduk sipil sebagai human shield. Mereka membaur di tengah masyarakat, bahkan memancing-mancing dengan menyerang Israel dari daerah padat. IMHO ini ‘dosa’ mereka yang paling besar.

    Link:

    http://www.worldnetdaily.com/index.php?pageId=57867
    http://newsblaze.com/story/20081229092838zzzz.nb/topstory.html
    http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6162494.stm

    Now, that’s funny :lol:

    Itu bukannya asumsi yang dibangun utk menyudutkan HAMAS, dan membenarkan Livni yang berkata, “Jatuhnya korban di Gaza adalah wajar” ?? Hell! Itu tidak bisa seenaknya jadi pembenaran bahwa Israel ngebom dengan enak lalu berkata, “Salah target!”.

    Jika HAMAS memang mengutamakan sipil, mereka harusnya — paling tidak — bisa mengenakan seragam militer atau penanda lain. Mereka tidak gagah dengan lari ke tengah masyarakat dan menembak dari rumah penduduk… seolah sengaja mengorbankan sipil agar dunia mengutuk Israel. :|

    Sora… HAMAS itu punya seragam militernya sendiri. Israel sendiri mengaku tahu gedung2 mereka dimana. Tapi lihat korban yang jatuh, yang dibom, dengan alasan the so-called milisi HAMAS, adalah kawasan sipil. Ini sama macam justifikasi utk mengelak dari pembantaian sipil+milisi di Somalia yang saya keluhkan di sini

    Israel bersalah karena memulai dan tidak memudahkan evakuasi, ya — tapi HAMAS juga bersalah dengan meng-exploit kehadiran sipil. Sama-sama merendahkan keselamatan civilians, 1-1 lagi di sini. ;)

    Exploit kehadiran sipil? Sevalid itukah? Bagaimana bisa dievakuasi jika jalur Gaza diblokade? Bagaimana HAMAS akan bisa mengizinkan rakyat Palestina keluar jika moncong senjata Israel di perbatasan? :O

    5-3, betul? :)

    Ya. 1 untuk menyerang bantuan kemanusiaan, 1 lagi untuk melawan keinginan masyarakat Internasional.

    Dan itu menunjukkan bahwa — di samping Israel — tangan HAMAS pun berlumuran darah. Sori, tapi mereka tidak ‘bersih’. Two wrongs don’t make a right. :mrgreen:

    Alright, two wrongs don’t make a right.

    Jadi, seperti yang sudah-sudah, jika HAMAS diseret ke MI, sperti kata saya, apakah Israel bisa diseret pula dan – biar sederajat-seharkat – dilabel NEGARA TERORIS? :mrgreen:

    Dalam logika, ada yang namanya The Lesser of Two Evils. Jika saya berpegang pada kemanusiaan dalam konflik ini, haruskah saya membela HAMAS?

    Tidak harus. Dan bukan HAMAS yang saya tekankan, meski saya mendukung mereka, tapi rakyat Palestina. Seperti membela AKKBB versus FPI, ada sisi yang memang harus dipertimbangkan, ditakar. Saya tidak mendukung AKKBB, bahkan berbenturan, tapi tindak pemukulan saat itu membuat saya berpihak kepada mereka saat dibabak-belurkan oleh FPI.

    Now, could anyone do the same thing? :)

    Of course this is lesser evil than what Israel do. But still evil nonetheless.

    Saya terima pendapat ini :)

    Saya membenci Israel, dan saya membenci HAMAS. Saya lebih benci Israel daripada HAMAS, tapi jangan harap saya akan mendukung HAMAS. :)

    Tidak, tidak… saya tidak mengharap Sora mendukung HAMAS. Apa yang menarik dari dunia yang homogen? :mrgreen:

    Mungkin agak membingungkan, tapi kira-kira begitulah adanya. Mudah-mudahan cukup jelas yah. ^^;

    Cukup jelas. Saya senang bisa dapat tambahan catatan ini ;)

    Bukannya “Perusahaan Lilin Nyala” ? :mrgreen:

    Sebab walaupun udah bayar lilin masih nyala aja tuh

    Heh! Subversif! Menghina badan milik negara! :mad:
    Terberkatilah penemu lilin sedunia :P


  50. pada Januari 16, 2009 pada 11:52 am alex©

    Wuidih…. kayanya kebanyakan link itu, jadi masuk akisimemet :mrgreen:

    *towel2 Sora* :P


  51. pada Januari 16, 2009 pada 1:13 pm det

    pertanyaannya: apa yang tidak falasi selalu lebih benar mutlak dari yang falasi? tolong dijawab dengan jujur


  52. pada Januari 16, 2009 pada 2:36 pm Catshade

    pertanyaannya: apa yang tidak falasi selalu lebih benar mutlak dari yang falasi? tolong dijawab dengan jujur

    Sesungguhnya kebenaran yang mutlak itu hanya milik Allah semata… :roll:

    *contoh jawaban yang ‘benar’ tapi falasi? :P *


  53. pada Januari 16, 2009 pada 3:15 pm tan

    minyak bakal naek lagi kah?


  54. pada Januari 16, 2009 pada 3:42 pm nana

    postingannya bagus banget.
    ga memihak.

    sip2..


  55. pada Januari 16, 2009 pada 10:38 pm dana

    Harusnya kita membela rakyat, bukan HAMAS bukan Israel. Kita terus menekan pada kedua belah pihak agar sebisa mungkin rakyat sipil tidak usah dilibatkan dalam perang ini. Tapi tampaknya HAMAS tidak akan berani, setidaknya sebelum mereka mempunyai senjata yang seimbang dengan Israel.

    Apa perlu dibuat seimbang saja ya, lalu diadu deh tuh berdua. :lol:


  56. pada Januari 16, 2009 pada 10:47 pm gentole

    ah ini kampanye logika positifisme ini….tidak baik bagi perkembangan imajinasi anak. orang harus bisa berpikir ngawur untuk bisa mengapresiasi buku-buku sastra.

    *ditimpukbukufisika*


  57. pada Januari 16, 2009 pada 11:54 pm Gaza Karpov: The End Of Tetralogy « The TintaMerah

    [...] penjelajahan iseng ke karikatur yang dimuat Amed hingga ke diskusi terakhir di blognya Sora,  saya masih merasakan aroma ketidak-adilan dalam kasus pembantaian di Gaza dengan justifikasi [...]


  58. pada Januari 17, 2009 pada 1:08 am sora9n

    @ spidolhitam

    Seperti yang sudah saya tulis dalam reply untuk mas alex, satu-satunya yang saya pihaki di sini adalah kemanusiaan. Bukan HAMAS, apalagi Israel. :)

    De facto, saya lebih benci pada Israel daripada HAMAS. Itu karena mereka semena-mena memanfaatkan kekuatan militer dan menindas rakyat. Tetapi itu tidak membuat saya jadi pendukung HAMAS — sebab HAMAS belum tentu bisa lebih baik kalau di posisi Israel.

    Jika HAMAS punya pesawat pembom B-2, apakah mereka takkan terbang ke — katakanlah — Tel Aviv dan membom rumah penduduk sipil? Padahal selama ini mereka sudah rajin dengan roket dan suicide bombing.

    Ini yang orang sering lupa. Kejahatan Israel lebih besar karena mereka punya mesin perang, sementara HAMAS tidak. Padahal mentalitas mereka tidak jauh beda. :roll:


  59. pada Januari 17, 2009 pada 1:09 am sora9n

    alex©

    Sudah dibebaskaaan… :o :mrgreen:

    *lanjut…*

    Ini benar, dua pihak memiliki kesalahan yang sama dalam hal justifikasi. Tapi, tapi…

    Sekelompok orang datang ke satu daerah. Lalu didirikannya satu desa pada tahun 1948. Batas-batasnya itu sudah ada saat itu. Etapi… hingga tahun 1967, dengan seenaknya desa itu diperluas, hingga lebih besar. Dengan klaim-klaim historis ala KODAM memancak tanah adat. Kampung-kampung lain dibuldoser, orang kampung diusir.

    [...]

    Lalu dan lalu, kekerasan mereka disamakan dengan kekerasan desa Israel tersebut. Disederhanakan dengan begitu saja, sementara angka-angka bicara lebih banyak korban jatuh di Desa Palestina. Mereka jadi sederajat dosanya dunia akhirat. Asumsi-asumsi hukum dan demokrasi yang di kasus lain diharuskan menimbang mana yang lebih mudharat mana yang tidak, dikebiri begitu saja. Konvensi-konvensi kota Jenewa tentang perang, cuma berpihak pada sebelah saja.

    Adil? Sekali lagi: Tidak.

    Memang tidak adil. Saya setuju. Tetapi selalu ada batas antara menyerang “sipil” dan menyerang “negara”. Jika orang membenci negara, yang dia serang adalah perangkatnya, bukan penduduknya.

    Di sisi lain, betul bahwa pemukim Yahudi tidak simpatik pada penduduk Arab. Tetapi, bagaimanapun, mereka dilindungi oleh status kesipilan mereka. HAMAS tak mendapat apa-apa dengan menyerang mereka — selain stigmatisasi “teroris” dan potensi international backlash.

    Tak masalah jika mereka menyerang gedung pemerintah Israel, tentara Israel, atau polisi dan sebagainya. Tetapi serangan di tempat publik tetap tidak tepat sasaran.

    Dunia yang mana yang komplain, ini yang menjadi pertanyaan menarik.

    Setidaknya dunia Islam, sebagian UE, dan Jepang sudah menyatakan sikap kontra Israel. At least you can call it ‘complaint’. ;)

    Soal Obama, saya masih wait and see. Sebab saya bisa menduga alasan di balik diamnya itu…

    Selama dia belum dilantik, tak ada gunanya berbicara, menyatakan sikap, atau mengungkap rencana kepada publik. Baik itu pro-Palestina ataupun Israel. Mengapa, sebab jika pilihannya itu fall out of interest dengan petinggi Pentagon dan Gedung Putih, dia justru menanam perpecahan dengan (calon) anak buahnya sendiri. Dia sekadar berhati-hati, IMO. :-?

    Walaupun memang sih, kalau melihat pernyataannya yang dulu-dulu, dia lebih cenderung ke Israel… :o

    Jika dunia yang dimaksud adalah yg menurut definisi dari pemerintahan diatas itu, maka satu-satunya saat bisa netral adalah saat mendengar Netral main musik :lol:

    Jangan sepesimis itu, lah. US memang adikuasa, tetapi bukan berarti seluruh dunia berkata “kami dengar dan kami taat” pada mereka. :mrgreen:

    Waktu mereka menginvasi Irak, mereka cuma dapat dukungan sebagian UE (terutama Inggris). Prancis dan Rusia menolak. Walaupun bukan dengan dalih kemanusiaan, tapi menunjukkan mereka tak mesti disetir US.

    Sedang di kasus Gaza kali ini Inggris sudah menyatakan protes. Sebagian besar UE mengutuk. Lebih lagi Jepang yang biasanya nggak ikut campur ikut menyatakan sikap. Dibandingkan yang dulu-dulu, US sekarang takkan semudah itu berlenggang kangkung, jika keukeuh mendukung Israel. ;)

    Intinya adalah utk mengingatkan: bahwa rasisme dan fundamentalism itu bukan melulu monopoli Islam, cuma karena HAMAS beratribut Islam.

    Yup, begitulah. Bukankah sudah saya sebutkan bahwa Kristen dan Islam semasa Perang Salib pun memiliki semangat tersebut. Dan sekarang Yahudi ikut nyemplung dengan dalih “Tanah yang Dijanjikan Tuhan”. :)

    Berapa banyak media dan orang yang mau peduli pada fakta bahwa ada warga sipil yang juga jadi milisi di Israel, yang memberi support moral dan materi? Lalu… jika dari muslim ada dukungan serupa dengan semena-semana diserukan, “Halo! Jangan karena sesama muslimlah!” ?? :D

    Itu mereka (para media) yang salah arah. :o

    Kalau sesama muslim memberikan bantuan karena simpati kemanusiaan, itu bukan bandwagon. Bandwagon adalah jika orang berpendapat “right or wrong is my group”.

    Bantuan kemanusiaan tetap bantuan kemanusiaan, biarpun yang memberikannya sesama muslim. Menyatakan bahwa orang yang tulus membantu sebagai “tidak tulus karena seagama” adalah bulverisme — itu juga tergolong fallacy. :roll:

    Muslimin di Palestina berhak mendapat bantuan kemanusiaan, sama halnya dengan korban bom Mumbai dan terorisme IRA di Irlandia. Bukan karena mereka “Islam” — tetapi karena mereka menderita dan diperlakukan semena-mena.

    Good. Saya senang bahwa judgement yang biasa saya temui karena media Islam bicara tidak ada di sini :)

    Wah, masbro ini meremehkan saya. Lalu buat apa itu saya tuliskan daftar fallacy di atas? Hah? Hah?? :mrgreen:

    Tapi yang saya was-waskan adalah asumsi yang timbul dari pernyataan tersebut seakan HAMAS melakukan genoside pula.

    Tidak, saya tidak bermaksud demikian. Jadi tenang saja. :P

    Hukum Qisas?

    Hukum didirikan utk dipatuhi. Hukum Qisas bagi saya adil dan memiliki efek agar individu/institusi berpikir sebelum melakukan tindakan merusak. Ini sama seperti golden rules: “Jangan lakukan pada orang sesuatu yang kau tidak ingin orang lain perbuat padamu”

    Tentu, tapi kan ada batasnya. Separah-parahnya hukum Qisas cuma pakai cambuk.

    Kalau nuklir dibalas nuklir, nah itu ceritanya lain… >__>

    Err… OOT: Saya baru mengerti kenapa Miss Hiruta emoh dgn =3 ini :lol:

    Lho… itu sebenarnya personifikasi dari avatar saya. Bahwasanya, tanda “=” itu jadi mata, dan angka “3″-nya jadi mulut… :mrgreen: :lol:

    Daftar muka avatar yang lebih lengkap bisa dilihat di [sini]. :P

    Jika Liga Arab tidak boleh diprovokasi dengan isu agama (karena kemanusiaan juga tetap membuat mereka diam), lalu bagaimana dengan negara yang jelas2 berpihak pada satu pihak? Apakah dengan alasan demokrasi mereka boleh berpihak, tapi demokrasi dalam definisi muslim, jadi haram berpihak?

    Soal Liga Arab, saya no comment. :mrgreen: Lagian mereka juga dodol, sih. Udah tau wilayahnya lagi panas-dingin, malah asyik beli klub bola. Malah kemaren nawar Kaka 100 juta pound. >__>

    *gendeng*

    BTT, soal agama, seperti yang sudah saya bilang. Sentimen agama itu senjata hebat. Kalau dipakainya tepat, dia cespleng — tapi, kalau gak hati-hati justru bikin ruwet. Saya sendiri tak melarang kalau sentimen agama mau dikobarkan, sebab itu termasuk strategi menggalang dukungan juga.

    Ah ah…. empirisme?

    Apa analisa serupa tidak bisa dilakukan pada rekam-jejak sejarah utk memvalidasi catatan sejarah tanpa keterikatan pada manuskrip2 suci? :D

    Kalau punya mesin waktu sih bisa. :mrgreen:

    IMO, belajar sejarah itu (umumnya) berdasarkan catatan orang-orang dulu. Nah, catatan ini berpotensi bias. Ditambah lagi, bukan tak mungkin ada catatan sejarah yang pernah ada, tapi terlupakan/dihancurkan/dibakar.

    Di dunia sains ada ungkapan begini: “one evidence can lead to many interpretations”. Ini juga berlaku di sains sosial semacam sejarah dan sospol. “Bukti-bukti” sejarah tahun 1965 bisa ditafsirkan macam-macam — mulai dari murni PKI, kudeta Soeharto, hingga campur tangan CIA. :)

    Tapi masalahnya adalah: ada fenomena dimana arus informasi yang berpihak ke Palestina, apalagi dari dunia muslim, itu dipelintir. Sama seperti Harun Yahya memelintir informasi yang diterima dari kalangan evolusionist. Pola yang sama itu dipakai.

    Nah, ini. Makanya saya sekarang cenderung nggak favor ke media konvensional. :-?

    Saya pribadi lebih suka mendengar laporan langsung dari kedua pihak (kalau bisa), baru dari situ menimbangnya. Biarpun ada bias, setidaknya kita bisa mencoba menyeimbangkan/menyaring mana yang bisa kita ambil.

    Mungkin perandaiannya seperti mengikuti Ramattan sekaligus nonton CNN. :lol:

    Sora betul2 percaya bahwa Iran punya nuklir? Nuklir dalam bau-bau definisi “senjata”? Apa itu tidak menunjukkan gejala sudah termanipulasi berita yang menyudutkan juga? :)

    “Punya nuklir” di sini, maksudnya, mereka sudah bisa membudidayakan uranium. Biarpun — menurut klaimnya — dipakai untuk perdamaian, itu tetap sebuah potensi besar. They are *able* to make nuclear warheads.

    Jadi yang penting di sini adalah “budidaya uranium”. Yang membatasi Iran dari memproduksi senjata nuklir adalah garis yang sangat tipis, yakni *kesediaan*. ;)

    Preman dengan pistol ditakuti karena dia *bisa* menembak. Walaupun saat ini berkata “takkan menembak”, dia tetap punya kemampuan untuk itu. Yang membatasi cuma kesediaan.

    Simbolisasi itu, jika disepakati utk dihapus, adalah pertanyaan yang sama: Maukah Israel menghapus bintang David dari benderanya? :?

    Saya tidak bilang harus dihapus, sih, sebab agama termasuk elemen identitas yang diakui. Sebagaimana Turki punya lambang bulan-bintang di benderanya. Yang ingin saya tekankan adalah, bahwasanya memakai sentimen agama tanpa hati-hati itu pengaruhnya besar. Apalagi di dunia internasional.

    Agama menggenggam manusia melampaui batas negara dan ras. Senjata besar. Kalau orang tak hati-hati, perkaranya tentu akan repot sekali. :D

    Al-Qaeda itu api kecil binaan mereka, lalu mereka kelabakan saat api itu membesar, dan dengan itu semua yang berbau Al-Qaed (termasuk agamanya) bisa disembur sesuka hati.

    Ya, saya sudah dengar yang ini. Allegedly, mereka itu binaan CIA saat perang Afghanistan vs. Rusia yang kemudian dicampakkan. Dan kemudian jadi barisan orang yang keterusan dengan “Islam”-nya… :lol:

    Semestinya…. semestinya….

    Tapi juga karena agamalah: dengan cinta kasih-nya Isa Kristus dan menegakkan hak seperti yang didirikan Muhammad, maka agama juga tak bisa jadi urusan personal melulu. Dunia terlalu luas utk disempitkan cuma dalam urusan politik belaka :)

    Saya sih setuju saja. Syaratnya, ya, jangan sampai jadi bikin kacau. :mrgreen:

    Contoh-contoh kerumitan yang dibawa sentimen agama sudah disebutkan di atas: Perang Salib, Gaza, ekstremisme. Kalau sekadar mengadopsi nilai Islam, seperti Turki atau PKS, saya sih tak masalah. :P

    1st

    Kenapa HAMAS jadi pilihan di Palestina, yang mereka buktikan dengan memenangkan pemilu? Karena rakyat di sana melihat Fatah impoten. Belum lagi rasa sakit hati karena pemimpinnya korup, dan bermegah sejak zaman Arafat masih hidup.

    Silakan cek gaya hidup Madame Suha, istri beliau, yang keluar-masuk butik di Paris :)

    Kalau HAMAS menang pemilu, tentunya itu berarti rakyat menginginkan mereka. Tapi itu kan rumah tangga mereka. Saya bukan warga Palestina, je. :P

    2nd

    Sora menarik asumsi dari sesuatu yang belum terjadi, lalu jump to conclusion dengan “mengandaikan” bahwa jikalau-andaikata-umpama-dan-misalkan HAMAS punya senjata canggih maka mereka akan melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu itu masuk fallacy yang mana, please tell me :)

    Saya menginterpolasi dari fakta-fakta berikut:

    1. Israel dan HAMAS sama-sama memiliki kebencian rasial
    2. Keduanya sama-sama ‘hobi’ menyerang rakyat sipil

    3. Israel memiliki mesin perang tangguh, maka terjadilah… (yang sering kita lihat di TV)

    4. Jika HAMAS memiliki mesin perang tangguh, maka… (?)

     
    Jadi sebenarnya ini sifatnya prediksi. Kalau disuruh membuktikan, tentu saja saya tidak/belum bisa. Sama halnya dengan saya tak bisa disuruh membuktikan bahwa matahari akan terbit esok hari. :D

    Nah, ini sekadar wacana. Kalau orang ingin saya mendukung HAMAS, maka saya akan bertanya: “Apa yang membuat Anda yakin bahwa prediksi saya takkan terjadi?” :)

    Bisa jadi. Tapi bukankah yg kita bicarakan adalah sejarah hari ini? Sejarah esok akan lain ceritanya.

    Betul. Perkara masa depan sendiri aslinya di luar bahasan filsafat/logika. Apa yang terjadi besok tidak dapat diketahui dengan pasti. (i.e. Problem Hume)

    Tetapi bukan berarti kita tak bisa menduga… ;)

    Biar saya tambah: Zionisme diatas kemanusiaan = Israel + Gaza :)

    Bwakakak… :lol:

    Lalu, dalam permisalan M. Toha, bisakah kita benar2 lepas dari sentimen sebagai WNI? Jika tidak, maka M. Toha dan perlawanan Bung Tomo itu sama jahatnya dengan perlawanan HAMAS atau gerilyawan Maois di Nepal :P

    IMO sih, sebenarnya sentimen “Indonesia” itu adalah kulit luar saja. Di dalamnya adalah semangat kemanusiaan: perasaan senasib, sepenanggungan, dan menolak untuk dijajah.

    Orang-orang yang disatukan oleh semangat tersebut bergabung dalam suatu gerakan kemerdekaan, suatu negara bernama “Indonesia”. Jadi sebenarnya, deep inside, ini adalah perjuangan berbasis kemanusiaan. ;)

    Intinya bukan sentimen apa yang dikedepankan, melainkan apa yang ada “di bawahnya”. Sah-sah saja berjuang di bawah label “Indonesia” atau “Islam”. Tetapi ingat landasan yang paling penting, yakni kemanusiaan. “Indonesia” dan “Islam” hanya sekadar things in common, perekat perjuangan, bukan inti perjuangan itu sendiri. ^^

    Apa itu tidak terlalu menyederhanakan masalah? :?

    Mungkin juga. Saya sekadar mencacah per definisi saja, sih. (o_0)”\

    Itu bukannya asumsi yang dibangun utk menyudutkan HAMAS, dan membenarkan Livni yang berkata, “Jatuhnya korban di Gaza adalah wajar” ?? Hell! Itu tidak bisa seenaknya jadi pembenaran bahwa Israel ngebom dengan enak lalu berkata, “Salah target!”.

    Saya kurang tahu, tapi, jika benar begitu, itu jadi keuntungan dua arah.

    Israel bisa berdalih menghajar pemukiman sipil (baca: melampiaskan sentimen anti-Arab), sementara HAMAS bisa menghambat laju penyerangan Israel dengan human shield. Sekaligus, jika Israel tetap berkeras, justru HAMAS diuntungkan karena seolah jadi “korban” di mata internasional. :-?

    Sora… HAMAS itu punya seragam militernya sendiri. Israel sendiri mengaku tahu gedung2 mereka dimana. Tapi lihat korban yang jatuh, yang dibom, dengan alasan the so-called milisi HAMAS, adalah kawasan sipil. Ini sama macam justifikasi utk mengelak dari pembantaian sipil+milisi di Somalia yang saya keluhkan di sini

    Lho? Aneh, yang saya dengar sebagian mereka berpakaian preman di kota Gaza. :-? Alhasil bisa menyelip melakukan rapat di gedung netral, e.g. rumah sakit dan sekolah.

    Saya lupa sumber beritanya di mana, sih. Soal seragam militer HAMAS saya stand corrected. (o_0)”\

    Exploit kehadiran sipil? Sevalid itukah? Bagaimana bisa dievakuasi jika jalur Gaza diblokade? Bagaimana HAMAS akan bisa mengizinkan rakyat Palestina keluar jika moncong senjata Israel di perbatasan? :O

    Sevalid apanya saya tidak tahu. Kan saya sudah bilang, berita perang itu banyak psywar-nya. :) Kalau masbro ada berita tangan-pertama yang terjamin, saya bersedia baca. Sedang yang saya dapat bunyinya seperti itu.

    Kembali ke topik. Dengan asumsi bahwa berita yang saya dapat benar — I’m open to correction — maka HAMAS juga punya masalah. Okelah, Israel paling bersalah dengan menyulitkan evakuasi. Tetapi menyelip ke tengah masyarakat dan menembak dari dalam rumah juga bukan tindakan ksatria, lho. :-?

    Jadi, seperti yang sudah-sudah, jika HAMAS diseret ke MI, sperti kata saya, apakah Israel bisa diseret pula dan – biar sederajat-seharkat – dilabel NEGARA TERORIS? :mrgreen:

    IMO sih, harusnya Israel dulu yang diseret ke MI. Setelah itu baru HAMAS — dengan catatan meringankan bahwa mereka melakukan aksi bela diri. Ini tidak membuat HAMAS jadi bersih, tapi setidaknya meringankan.

    Israel punya kesalahan kemanusiaan lebih banyak; mereka yang harusnya diurus duluan. HAMAS sendiri bukannya bersih — tapi ada dua pertimbangan yang bisa meringankan. Pertama: justifikasi aksi-reaksi, dan yang kedua: magnitude kekerasan relatif kecil dibandingkan Israel.

    (CMIIW, though)

    Tidak harus. Dan bukan HAMAS yang saya tekankan, meski saya mendukung mereka, tapi rakyat Palestina.

    Yup, itu dia. Yang penting di sini adalah rakyatnya. Ini bukan perkara ideologi, melainkan kemanusiaan.

    Sebagaimana sudah ditulis di post: jika dua gajah bertarung, yang kasihan bukan cuma mereka. Melainkan juga pohon yang tercerabut, dan pelanduk yang terjepit. ;)

    Now, could anyone do the same thing? :)

    Let’s hope so…

    Heh! Subversif! Menghina badan milik negara! :mad:

    Hus, itu mah biasa. :cool: Dosen saya malah lebih edan lagi, pas ngajar di kelas:

    “Di rumah, saya langganan PDAM. PDAM itu ‘Perusahaan Daerah Angin Melulu’.

    “Kemaren saya buka, angin… besoknya lagi saya buka, angin…”

    :mrgreen: :lol:


  60. pada Januari 17, 2009 pada 1:14 am sora9n

    @ det

    pertanyaannya: apa yang tidak falasi selalu lebih benar mutlak dari yang falasi?

    Begini…

    Fallacy itu adalah tidak taat pada logika. Dengan kata lain, ketika orang mencoba mencari jawaban, logikanya loncat/tidak runtut.

    Lalu ada pertanyaan: apakah jika logikanya tidak benar, maka jawabannya pasti salah?

    Belum tentu. Bisa saja jawabannya benar. TAPI… ada tapinya. Kemungkinan jawabannya salah lebih besar. :)

    Misalnya begini:

    Berapa kilometerkah jarak Bandung–Jakarta lewat tol Cipularang?

    Jika logikanya benar, orang akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Siapkan mobil

    2. Catat nilai kilometer awal di speedometer

    3. Berangkat dari Bandung, masuk ke jalan tol ybs.

    4. Sesampainya di Jakarta, cek nilai kilometer.

    5. Kurangi jarak kilometer akhir dengan kilometer awal — itulah nilai jarak yang dicari.

     
    (Jawaban: jarak aslinya sekitar 130 km)

    Bagaimana jika logikanya tidak benar? Bukankah mungkin saja dapat jawaban yang benar (yakni 130 km) ?

    Ya, mungkin. Tetapi, kemungkinan dapat jawaban salah tetap lebih besar. :)

    Misalnya dalam kasus jalan tol di atas. Alih-alih mengukur sendiri, Anda bisa menjawab sbb:

    “Ngapain repot-repot? Saya bisa bertanya ke teman saya, kok.”

    –> Teman Anda belum tentu 100% benar. Bisa jadi dia lupa, atau malah tidak tahu. Kalau dia memang tahu, Anda beruntung dapat jawaban yang benar: 130 km.

     
    “Saya bisa melihat papan tanda kilometer.”

    –> Benar, jika papan tersebut ditandai setelah petugas Jasa Raharja melakukan pengukuran. Tapi Anda tidak tahu jika papan tersebut asal dipancangkan saja.

     
    “Saya bisa merasa-rasa dari perjalanan naik bis, kurang lebih jaraknya sekian km.”

    –> Seberapa validnya perasaan Anda? Boleh jadi melesetnya banyak. Kalau Anda jago, Anda dapat 130 km — tapi, kalau tidak, bisa jadi Anda mengira jaraknya 100 km saja. :mrgreen:

    Jadi begitu. Bukan berarti jika logika tidak benar, maka jawabannya tidak benar. MELAINKAN, logika yang benar membantu kita meminimalisir kesalahan. :)

    * * *

    Nah, fallacy itu adalah kesalahan logika. Bisa saja orang mendapat jawaban yang benar lewat fallacy. Tetapi apakah jawabannya bisa dipertanggungjawabkan? Belum tentu.

    Kalau di kelas, guru matematika sering berkata: “jawabannya benar, tapi caranya salah”. Kasusnya kira-kira seperti itu. ;)

    :::::

    @ Catshade

    Weleh… :mrgreen:

    :::::

    @ tan

    Tergantung stabilitas Timur Tengah, IMO. Kalau negara minyak seperti Iran sampai terbawa-bawa, ya, ada kemungkinan suplai minyak dunia macet. Bukan mustahil harganya naik lagi. (o_0)”\

    :::::

    @ nana

    Ah, terima kasih. ^^

    :::::

    @ dana

    Harusnya kita membela rakyat, bukan HAMAS bukan Israel. Kita terus menekan pada kedua belah pihak agar sebisa mungkin rakyat sipil tidak usah dilibatkan dalam perang ini.

    THIS. (u_u)

    Apa perlu dibuat seimbang saja ya, lalu diadu deh tuh berdua. :lol:

    Kalo seimbangnya cuma senapan dilawan senapan sih masih mending. Lha, kalau seimbangnya nuklir dilawan nuklir, mau jadi gimana? xD

    :::::

    @ gentole

    Hei, ilmu logika itu penting. Cerita dan sastra yang enggak logis juga nggak bisa dinikmati… :o :mrgreen:


  61. pada Januari 17, 2009 pada 2:13 am dana

    @sora9n

    Kalo seimbangnya cuma senapan dilawan senapan sih masih mending. Lha, kalau seimbangnya nuklir dilawan nuklir, mau jadi gimana? xD

    Nuklirpun tak apa-apalah, biar semua sama-sama hancur. Bisa jadi memang itu sudah karma kita umat manusia.

    *putus asa*


  62. pada Januari 17, 2009 pada 3:16 am lambrtz

    Lha, kalau seimbangnya nuklir dilawan nuklir, mau jadi gimana?

    Biar, biarlah itu terjadi.
    Biar semakin cepat Armageddon kemari.
    Biar semua urusan selesai.
    Ku tak peduli.

    *nihilis mode off*
    *sempat-sempatnya bikin sajak a-a-a-a :mrgreen: *


  63. pada Januari 17, 2009 pada 9:57 am Saya Telah Menghina Allah « Sebuah Perjalanan

    [...] sesama muslim, kenapa tidak teriakan dengan lantang demi persaudaraan sesama umat manusia saja?!!! Ah, ya dalam hal ini saya sangat sejalan dengan pemikiran bung sora , nice posting bro. Kenapa musti persaudaraan sesama muslim? Hem… memanfaatkan agama untuk mencari dukungan kah? [...]


  64. pada Januari 17, 2009 pada 2:18 pm alex©

    Sora

    *kelar baca*

    Sip… sip… Sudah dibaca. Untuk penjelasan di komen terakhirnya ini, boleh tak terdaftar dalam opini yang “mengecewakan” macam komplain terakhir saya di blog :D

    Serius, cukup bijak ini, jika melihat pada jenis beberapa postingan yang kentara sih fobia pada Islamnya daripada logika normal :?

    *mereduksisentimenagama*


  65. pada Januari 18, 2009 pada 12:15 am frozen

    *lihat dialog bung sora dengan buya alex* :shock:

    ini harus masuk Metro Today’s Dialogue!


  66. pada Januari 18, 2009 pada 7:59 am sora9n

    @ dana | lambrtz

    Kok jadi pesimis begini…? ^^;

    Tenanglah masbro, satu kali kita pernah hampir perang nuklir (insiden Teluk Babi 1961). Toh waktu itu orang bisa berkepala dingin; malapetaka pun dapat terhindar.

    Jangan meremehkan manusia segitunya, lah. :P

    :::::

    @ alex©

    Terima kasih. :mrgreen:

    :::::

    @ frozen

    Ah, media itu… terkadang menggelembungkan reputasi yang tidak besar. ^^;

    *teringat Roy Suryo dan Joko Suprapto*

    Lagipula aslinya banyak opini (dan orang-orang) hebat di internet. Cuma jarang terekspos saja. ;)


  67. pada Januari 18, 2009 pada 9:07 am buchin

    Ralat: Nama dia Bukan Saladin, nama dia Shalahuddin Al Ayyub

    Panggil dia dengan nama dia, jangan panggil dia dengan nama yang diberikan orang yang tak bisa melafalkan namanya.


  68. pada Januari 18, 2009 pada 10:59 am sora9n

    @ buchin

    Tentu. Tetapi, “Saladin” atau “Shalahuddin”, orang tetap memandangnya sebagai seorang Sultan besar Islam. :)

    BTW, speaking of which, nama asli Shalahuddin adalah “Yusuf”.

    “Yusuf” adalah pengucapan Arab dari bahasa Hebrew “Yosef”. Begitu juga nama-nama nabi lain dalam Islam, semisal Nuh (Noah), Daud (David), Sulaiman (Solomon), dsb.

    Jadi, sekadar memberi tahu: kalau Anda keberatan dengan “nama yang diberikan oleh orang yang tak bisa melafalkan namanya”, hampir semua nama Arab yang kita kenal memanggul ‘kesalahan’ itu juga. :lol:

    * * *

    Tapi apalah arti sebuah nama. Yang penting orangnya, bukan? Disebut “Saladin” atau “Shalahuddin”, orang tetap mengingat beliau dengan takzim. So, cheers. ;)


  69. pada Januari 18, 2009 pada 1:37 pm yusahrizal

    Wah, kalo ngomongin masalah nama sih kayaknya yang paling netral itu nabi pertama yah. Lidah siapapun mau pake bahasa hebrew, arab, jawa, linggis, dll, nama adam tetap aja dipanggil adam.

    “Panggillah dia dengan nama Susilo Bambang Yudhoyono, jangan disingkat singkat jadi SBY karena mulut kalian terlalu malas untuk bicara sedikit panjang!”


  70. pada Januari 18, 2009 pada 2:03 pm K. geddoe

    @ yusahrizal

    Adam? Tapi kalau di Italia (rumahnya Vatikan), namanya Adamo. :P


  71. pada Januari 18, 2009 pada 2:17 pm yusahrizal

    @Geddoe
    Adamo? Antonio Adamo? Bwahahaha….. lol


  72. pada Januari 18, 2009 pada 4:28 pm sora9n

    @ K. geddoe | yusahrizal

    Kalau di Jepang, jadinya malah ADAMU. :P

    [/nggakPenting]


  73. pada Januari 18, 2009 pada 7:02 pm jensen99

    Di sisi lain, betul bahwa pemukim Yahudi tidak simpatik pada penduduk Arab. Tetapi, bagaimanapun, mereka dilindungi oleh status kesipilan mereka. HAMAS tak mendapat apa-apa dengan menyerang mereka — selain stigmatisasi “teroris” dan potensi international backlash.

    Wajib militer di Israel kan, Sou? Guyonannya setiap WN Israel itu tentara dengan masa cuti 11 bulan/tahun. :mrgreen:
    Jadi konon katanya buat musuh2 Israel, semua orang Israel itu militer dan bisa (dijustifikasi) dijadikan target serangan. ;)
    Ini diluar masalah kalo roket Qassam Hamas itu cuma artileri medan


  74. pada Januari 18, 2009 pada 9:55 pm sora9n

    ^

    Kalau itu saya kurang tahu. Tapi, kalau sudah benci, tentunya militer atau sipil jadi tampak sama. :P

    *halah*


  75. pada Januari 19, 2009 pada 1:01 pm War is perang…. « kuchiki99.weblog()

    [...] tentang pemboikotan produk-produk yahudi yang diduga ikut andil dalam memperkuat Israel, sampai ke pernyataan-pernyataan fallacy yang berkaitan dengan krisis ini. Sebenarnya perang yang terjadi di Gaza sudah diprediksi [...]


  76. pada Januari 19, 2009 pada 2:12 pm syllatchea

    Pak Sora, poisoning the well termasuk fallacy ndak sih?

    Setahu saya poisoning the well kan intinya menyebar prasangka/kecurigaan/pendapat pribadi pada lawan bicara sedangkan sebabnya fallacy adalah ketidak tepatan bahasa atau relevansi (membuat premis dari proporsi yang salah atau mengambil kesimpulan dari premis yang salah) .

    Salam kenal dan terima kasih dari saya.


  77. pada Januari 19, 2009 pada 3:34 pm sora9n

    ^

    Salam kenal juga. :)

    Poisoning the well termasuk dalam fallacies of relevance– ada penjelasannya di halaman wikipedia yang saya link. Intinya, dia berupaya mendiskreditkan pendapat lawan bicara/pihak yang kontra dengannya sejak awal.

    Disebut juga preemptive ad hominem.

    Contoh:

    *di awal pembicaraan*

    Pembicara A: “Semua anggota DPR suka berbuat korupsi.”

    Anggota DPR: “Tidak benar. Kemarin anggota partai saya mengembalikan fasilitas negara ke BURT.”

    Apapun yang disampaikan oleh si Anggota DPR, orang akan ‘terkontaminasi’ prasangka bahwa (1) dia pasti membela diri, dan (2) ucapannya layak dicurigai.

    Alhasil, penjelasan lawan bicara jadi dianggap tidak benar/tidak terlalu diperhatikan kebenarannya. Karena prasangka audiens sudah terbentuk bahwa “dia pasti salah”. ;)

    * * *

    Begitu juga dalam kasus “Yahudi itu jahat” yang saya sebutkan di atas. Karena sejak awal dicekoki prasangka “Yahudi itu jahat”, orang jadi cenderung menolak/memandang rendah pembelaan yang pro-Israel.

    Kurang lebih begitu. ^^


  78. pada Januari 19, 2009 pada 6:27 pm syllatchea

    Gitu ya Pak…. *salin ke notepad henfon*

    *siyal, opera mini ga bisa dibuat ngopas, mana henfon saya ndak ada JSR-75-nya*

    Ehm, nampaknya sudah gencatan senjata yah disitu? Atau ini masih mau dilanjutkan lagi?

    *nyalakan komputer, lanjutin main Age of Empires 2*


  79. pada Januari 20, 2009 pada 12:11 am sora9n

    ^

    Yup, sudah gencatan senjata. Mudah-mudahan bisa bertahan untuk waktu yang cukup lama. :)

    BTW, jangan dipanggil “Pak”, dong. Umur saya baru 22 nih. ^^;


  80. pada Januari 20, 2009 pada 12:26 am K. geddoe

    ^

    In the Internet, 22 is like, really old. :?


  81. pada Januari 20, 2009 pada 8:13 am syllatchea

    @sora9n

    Guru saya malah ada yang lebih muda dari anda :D


  82. pada Januari 20, 2009 pada 10:16 am tomyarjunanto

    nice posting :mrgreen:


  83. pada Januari 21, 2009 pada 9:01 am sora9n

    @ K. geddoe

    Meh, and I wonder how they called this (late) oldest blogger on earth.

    “Granny” is sure an understatement. :mrgreen:

    :::::

    @ syllachtea

    Kayaknya guru les… atau guru SMP. Betul? :P

    gak wibawa amat kalau guru SMA lebih muda daripada saya :-?

    :::::

    @ tomiarjunanto

    Thank you. :mrgreen:


  84. pada Januari 21, 2009 pada 11:15 am karim

    kalo kita belajar sejarah ,,, kita akan sadar bahwa yang menjd pokok maslahX adalh israel yang serakah dan egois, dahulunya israel tak punya apa2,, namun setelah mndapt dukungan dari LBB saat itu, israel mulai mencaplok ngara2 arab, termasuk palestina,, yang sampai hari ini mash d ingnkannya,… tetap saya dukung palestina,,, nanti ketik peradbn islam bangkit,, israel akan btul2 hilang d dunia,, itu semua tlah tertuls d lauful mahfudz, hanya persoalan perjuanagn dan waktu sobat….


  85. pada Januari 21, 2009 pada 1:40 pm rani

    In the Internet, 22 is like, really old.

    oh my…

    *nyembunyiin KTP*


  86. pada Januari 22, 2009 pada 1:38 am Xaliber von Reginhild

    Hmm… :? *penasaran ingin baca komennya, tapi waktu tak memadai*

    Maaf kalau komen saya nyampah. ^^; Tapi, yang argumentum ad antiquitatem pernah saya temui juga lho. Bunyinya kalau tidak salah tak jauh beda, kira-kira seperti, “tanah Palestina sudah ratusan tahun berada di kekuasaan Muslim, dan tanah ini adalah milik umat Islam. Karena itu tidak sepantasnya membiarkan Yahudi mendapatkannya sejengkal saja.”

    …atau semacamnya. Agak lupa saya, tapi empasisnya di kuasa Muslim dan Yahudi itu.


  87. pada Januari 22, 2009 pada 4:03 am Abu Geddoe

    @ sora9n

    Meh, and I wonder how they called this (late) oldest blogger on earth.

    “Granny” is sure an understatement. :mrgreen:

    This is a pitiful attempt to mask one’s denial with arguments. (u_u)

    The fact that Robert Pershing Wadlow was 272 centimetres tall does not render the 193 centimeters Marco Materazzi a midget.

    You, sir, are quite old. :roll:


  88. pada Januari 22, 2009 pada 3:00 pm sora9n

    @ karim

    Ah, itu kan katanya sumber Islam. Kalau katanya sumber Yahudi, justru orang Islam yang mengambil “tanah terjanji” ketika pemiliknya sedang terusir. :lol:

    :::::

    @ rani

    Mana? Kok nggak ada KTP-nya?? :-?

    *digebuk*

    :::::

    @ Xaliber von Reginhild

    AFAIK sih, memang banyak fallacy yang sama-sama dipakai kedua belah pihak. Ad antiquitatem itu sendiri salah satu contohnya. ^^;

    Two wrongs make a right juga sering dipakai simpatisan pro-HAMAS (“Israel yang mulai duluan!”). Malah yang saya dengar, hasty generalization dan poisoning the well juga ramai dipakai warga Yahudi-Israel terhadap kaum Arab-Palestina. :-?

    :::::

    @ Abu Geddoe

    The fact that Robert Pershing Wadlow was 272 centimetres tall does not render the 193 centimeters Marco Materazzi a midget.

    Well, no. Point is, they’re having unhealthy dose of exaggeration. It’s like somebody says “Theo Walcott is tall footballer!”. To which I’d reply, “Well. How do you mention Edwin van der Sar, then?” :-?

    But an even deeper question is: “What, Theo Walcott is tall footballer? Is there any short footballer out there?”

    So you see that it’s tipping the median! :shock: Our statistics is ruined! Fuzzy logic is under threat!! :o

     
    *cough*cough*

    And that’s what happens when one claims “22 is old”. It’s like saying “Walcott is tall footballer”. Some people place their cutoff a bit too low… ^^;;

     
    *) With all due respect to Theo Walcott. (u_u)

    You, sir, are quite old. :roll:

    I’m glad that this world has six groups of age…

    1. young
    2. quite old
    3. old
    4. very old
    5. very very old
    6. rly srsly old

    Of course when the statistic span is 0 to 120 years, 22 is considered ‘quite old’. There’s nothing wrong with that IMO… :-? :mrgreen:


  89. pada Januari 22, 2009 pada 8:55 pm Abu Geddoe

    @ sora9n

    *ran out of arguments*

    *resorting to ad hominem attacks*

    Dare you mocking a good man that is Theo Walcott! :evil: The good sir is young, nineteen years of age; unlike you, and yet had managed to reach the top of success! :evil:

    He believed in himself! Look at you, what do you believe in!? What do you believe in!?™ :evil:

    I myself am younger than Mr. Walcott by a couple of months. (u_u)


  90. pada Januari 22, 2009 pada 8:57 pm Abu Geddoe

    @ sora9n

    OOT dah. Ga usah diterusin deh. :mrgeen:


  91. pada Januari 22, 2009 pada 9:11 pm det

    falasi itu bikinan siapa sih? dan apa alasannya kok sampe dibela mati2an begini?

    saya kok membayangkan penganut falasi ndak percaya tuhan karena ndak bisa dilogika

    apa benar?

    kalo iya, kok seperti mendewakan pikiran logika sendiri
    :mrgreen:


  92. pada Januari 22, 2009 pada 11:36 pm Catshade

    @det:

    Setahu saya, ilmu logika bukanlah ideologi, paham -isme, atau aliran kepercayaan yang membuat orang yang mempelajarinya jadi ‘penganut’ atau ‘pemuja’ akal. Orang bisa saja berpegang pada prinsip logika sembari tetap percaya pada Tuhan, toh bagi mereka Dia-lah yang menciptakan akal, pikiran, dan logika yang termaktub dalam otak mereka.

    Menurut orang2 ini, justru orang yang berargumen dengan fallacious-lah yang tidak mau menghargai anugerah dan kelebihan yang sudah diberikan Tuhan kepada manusia.


  93. pada Januari 23, 2009 pada 10:55 am Adat « The TintaMerah

    [...] benar kata Sora di satu komentarnya yang mengutip Nyai Ontosoroh di Bumi Manusia-nya Pram : “Manusia dari dulu sama saja. Yang [...]


  94. pada Januari 23, 2009 pada 10:14 pm sora9n

    @ Abu Geddoe

    Gut, gut. :P

    :::::

    @ det

    Waduh, Anda ini… paham nggak bedanya “logika” dengan “fallacy” ? :-?

    Dengan Anda bilang bahwa orang “membela falasi”, itu sama saja dengan bilang “membela kesalahan berlogika”. Lha, statemen ini apa bisa dipertanggungjawabkan? :-/

    saya kok membayangkan penganut falasi ndak percaya tuhan karena ndak bisa dilogika

    apa benar?

    Salah. :lol:

    Begini, sebaiknya Anda baca-baca dulu tentang ilmu logika sebelum melanjutkan diskusi. Nih saya kasih beberapa link wikipedia:

    Testability
    Falsification
    Empiricism

    Logic
    Inference

     
    Ide-ide tentang Tuhan dsb.-nya tidak memenuhi kaidah testability. Sehingga dengan demikian ranahnya berada di luar logika empiris…

    Kalau dijelaskan bakal panjang, jadi sebaiknya Anda baca link-link ybs. dulu. ;)

    :::::

    @ Catshade

    Setahu saya, ilmu logika bukanlah ideologi, paham -isme, atau aliran kepercayaan yang membuat orang yang mempelajarinya jadi ‘penganut’ atau ‘pemuja’ akal. Orang bisa saja berpegang pada prinsip logika sembari tetap percaya pada Tuhan, toh bagi mereka Dia-lah yang menciptakan akal, pikiran, dan logika yang termaktub dalam otak mereka.

    Nah, ini. Masalahnya orang-orang yang -rada- konservatif sering alergi pada memanfaatkan akal budi. Dibilang “mendewakan akal” lah… “menuju kesesatan” lah… :o

    Just so they know, no golden age was reached without logic and philosophy. Even Islam’s golden age and Europe’s renaissance have their own scholars… ;)


  95. pada Januari 26, 2009 pada 4:29 pm setanmipaselatan

    kampret!
    saya ketinggalan ribut-ribut di sini :evil:


  96. pada Januari 28, 2009 pada 10:09 pm dust

    posting menarik.. saya harap anda juga bisa memberi pencerahan pada saya tentang ini:

    “palestina saat ini menjadi SATU-SATUNYA bangsa yang masih berjuang melawan aneksasi (selama 60-an tahun). gimana pendapat anda, perlukah didukung?”

    “atas dasar apa israel menyerobot rumah dan tanah bangsa palestina? apa itu memberi hak untuk menyingkirkan dan memenjarakan penduduk palestina dalam “penjara” terbesar di dunia itu?”

    thanks.. u talk like the smart one, i wish u are. :)


  97. pada Januari 28, 2009 pada 10:55 pm setanmipaselatan

    @ dust

    “atas dasar apa israel menyerobot rumah dan tanah bangsa palestina? apa itu memberi hak untuk menyingkirkan dan memenjarakan penduduk palestina dalam “penjara” terbesar di dunia itu?”

    atas dasar kitab sucinya, barangkali. itu kan tanah perjanjian :mrgreen:


  98. pada Januari 29, 2009 pada 12:13 am Ando

    Ingatlah kata-kata pertama Setsuna F. Seiei:

    “Kono sekai ni Kami nan te inai!”

    sora-kun, terjemahin tuh buat para hadirin… :P


  99. pada Januari 29, 2009 pada 12:08 pm Nazieb

    Ha.. saya malah suka kalo sudah tentang Perang Salib..

    *teringat Kingdom of Heaven, Assassin’s Creed dan Stronghold Crusader* :lol:

    Salahkan saja Tuhan yang menjanjikan tanah itu. Wong menjanjikan kok gak sekalian ngasih surat tanah biar sah. :lol: Atau… memang Dia maunya gitu yah? Biar manusia pada perang, jadi Dia jadi punya tontonan dari atas langit sana. :P

    Jerusalem belongs to no one, and everyone ~ Assassin’s Creed


  100. pada Januari 29, 2009 pada 4:20 pm Irene

    telat gw.


  101. pada Januari 29, 2009 pada 6:27 pm sora9n

    @ setanmipaselatan (1)

    Weleh… :mrgreen:

    :::::

    @ dust

    “palestina saat ini menjadi SATU-SATUNYA bangsa yang masih berjuang melawan aneksasi (selama 60-an tahun). gimana pendapat anda, perlukah didukung?”

    Seperti yang sudah saya tulis di komentar-komentar saya di atas…

    Palestina-Israel adalah kasus yang rumit. Bukan saja skupnya tentang kemanusiaan, melainkan juga politik, ideologi, sejarah, dan bahkan juga agama. Kedua pihak punya justifikasinya sendiri.

    Anda bilang Palestina berjuang melawan aneksasi, OK. Tapi ingat: di sisi lain, Israel juga merasa bahwa tanah mereka yang dianeksasi.

     
    Pendapat Israel: mereka awalnya memiliki Tanah Terjanji di Palestina. Meskipun begitu kemudian mereka tergusur secara paksa (oleh pasukan Romawi). Romawi terus berkuasa di tanah tersebut, dan menamainya “Palestina”. Berabad-abad kemudian, penguasa Romawi berhadapan dengan tentara Islam, dan memutuskan untuk melepaskan Palestina pada Khalifah Umar.

    (istilah “tanah wakaf” bermula dari sini)

     
    Pendapat Arab-Palestina: Tanah Palestina didapat secara legal, dan sah, ketika Khalifah Umar bin Khattab memperolehnya sebagai wakaf. Hilangnya hak Israel atas tanah tersebut dapat digolongkan sebagai akibat perang — di mana pemenang secara militer berhak memiliki tanah taklukan.

    (Tentang hilangnya tanah lewat perang: bandingkan dengan Conquistador Spanyol meraih tanah hak milik Aztec di abad pertengahan. Hingga berabad-abad keturunan Spanyol diaku pemilik sah tanah tersebut)

    * * *

    Jadi, jika Anda ingin membahas “siapa menganeksasi siapa”, sebaiknya pelajari dulu dua pendapat di atas. Dan itu baru ditinjau dari politik/sejarah saja. ;)

    “atas dasar apa israel menyerobot rumah dan tanah bangsa palestina? apa itu memberi hak untuk menyingkirkan dan memenjarakan penduduk palestina dalam “penjara” terbesar di dunia itu?”

    Hmm, begini. IMHO pandangan Anda sejak awal agak bias ke Palestina. Padahal masalahnya tidak sesederhana itu.

    Seperti yang sudah saya tulis, “siapa menyerobot siapa” itu masih diperdebatkan. Kalau semua orang sepakat “Israel menyerobot Palestina” atau sebaliknya, masalahnya takkan serunyam ini. :o

    Soal “memenjarakan” dan pelanggaran kemanusiaan lainnya: tahukah Anda bahwa HAMAS juga punya dosa? Silakan baca komentar-komentar saya di atas. Meledakkan bom bunuh diri di ruang publik; melempar misil ke kota netral; kabur ke keramaian ketika dikejar tentara Israel. Mereka membaur dengan sipil untuk men-distract serangan Israel.

     
    FYI, saya tidak membela HAMAS maupun Israel di sini. Dua-duanya sama-sama punya dosa. (detail: baca komentar-komentar saya untuk mas alex di atas)

    Walaupun secara intensitas Israel masih lebih ganas, itu tidak mengubah kenyataan bahwa HAMAS tidak menomorsatukan kemanusiaan. Sorry, two wrongs don’t make a right. ;)

    :::::

    @ setanmipaselatan (2)

    Itu juga termasuk. :P

    :::::

    @ Ando

    Entah ya. Saya agnostik soal itu. :lol:

    *males nerjemahin*

    :::::

    @ Nazieb

    Kalau saya, lebih suka omongannya mas alex di blognya mas dana:

    Tuhan itu (apakah namanya Allah atau Yahweh) semalam ada turun tidak, untuk komplain tidak?

    Saya mengharapkan Tuhan turun, biar bisa saya tanyakan padanya: Bikin janji kok plin-plan sih? Lain kali kalo bikin deal itu ya mesti hitam di atas putih, pakai materai kalo perlu, jangan awak ini yang bertikai pulak di muka bumi cuma gara2 konon Dikau berjanji sekeping tanah :|

    :mrgreen:

    :::::

    @ irene

    Katanya sih, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. :P

    *halah*


  102. pada Januari 29, 2009 pada 10:22 pm Ando-kun

    Kembali mengutip kata2 Setsuna F. Seiei:

    Senso ga okoreba hito wa sinu, 戦争が起これば人は死ぬ
    Hanashiteiru aida ni hito wa sinu, 話している間に人は死ぬ

    panjang lebar ngobrol disini, panjang lebar debat disini, ketika perang berlangsung orang2 pada mati. Meninggalkan kita yang sibuk lempar kata sembunyi wajah disini.


  103. pada Januari 29, 2009 pada 11:05 pm dust

    sora: “Anda bilang Palestina berjuang melawan aneksasi, OK. Tapi ingat: di sisi lain, Israel juga merasa bahwa tanah mereka yang dianeksasi.”

    israel, hehe.. ini mengingatkan saya pada guyonan temen amrik: “seorang anak mencuri donat, lalu ketika ditangkap, dia bikin BON yang berbunyi: donat ini sudah dijanjikan pada saya kemarin.”

    PERTAMA, soal ‘ISRAEL MERASA’ dianeksasi, anda perlu liat gerakan NETURAI KARTA, pimpinan para rabbi yahudi, mereka menolak ANEKSASI itu sebagai bentuk ibadah menuju tanah perjanjian.

    ini fakta keras, bahwa telah rujukan teks talmud sial ‘tanah perjanjian’ itu bukan alasan valid untuk MENCAPLOK wilayah palestina (p.s palestina bukan milik muslim aja tapi juga ada kristen dan yahudi di sana, jauh sebelum israel nongol).

    KEDUA, sekali lagi, sebelum ada israel, yerusalem dan gaza adalah tempat damai tiga umat beragama (warisan tata pemerintahan saladin), muslim, kristiani, dan YAHUDI hidup bedampingan.

    jadi, kalaupun ingin kembali ke tanah perjanjian? kenapa harus mengusiri umat islam dan kristen palestine? mengapa harus mendirikan NEGARA israel jika hanya

    KETIGA, jika ANEKSASI itu anda amini, maka dengan analogi yang sama, TIDAK ADA YANG SALAH dari tindakan para dayak sampit MENGUSIR dan membunuhi kaum madura.

    alasannya: tanah itu warisan nenek moyang mereka (dayak)..

    ***

    SORA: “Soal “memenjarakan” dan pelanggaran kemanusiaan lainnya: tahukah Anda bahwa HAMAS juga punya dosa?”

    dosa hamas dengan membunuh kurang dari 5 orang sipil (gara-gara roket), tidak memberi hak israel membunuh 1.000 orang palestina. bunuh penjahatnya, jangan orang tak bersalah.

    BTW, apa yang hamas lakukan mirip dengan para pejuang gerilya kita zaman kolonial. mereka hidup, berbaur, dan membangun kekuatan di tengah rakyat, sementara belanda menyerang kampung dan rumah.

    anda juga perlu ingat: cause & effect. bayangkan anda sekeluarga dipenjara di kandang kambing oleh tamu anda, sedangkan rumah dan sofa anda ditempati tamu tersebut.

    anda hanya bisa sabar, berharap ada tetangga yang mau menolong. lama menunggu, anda mulai resah, anak-anak kelaparan, lalu mulai muncul amarah.

    anda mulai frustasi, dan berusaha menyuarakan kepedihan dan perlawanan anda dengan membuat batu dari tanah liat di sekitar kandang.

    anda melemparnya, lalu mengenai muka tamu tersebut. tamu itu lalu marah, menghujani anda dan anak-anak anda batu-batu kerakal, darah bercucuran.

    alasan dia: mempertahankan diri. lalu polisi bernama OBAMBI datang dan berkata: “tamu ini berhak membela diri. tidak ada demokrasi yang bisa menerima lemparan tanah liat seperti itu.”

    ***

    konflik dah berkelindan selama 60 tahun. tak cukup pemahaman soal falasi untuk menganalisa ini. saran saya: find the cause in the very beginning. setelah itu, silahkan pilih: peduli or cuek.


  104. pada Januari 29, 2009 pada 11:21 pm Abu Geddoe

    *gelar tikar*

    *rebus kacang*

    YOU ARE EITHER WITH US, OR AGAINST US! :twisted:

    Mr. Sora, we don’t recognise fence-sitting, you zionist. :evil:


  105. pada Januari 29, 2009 pada 11:54 pm Catshade

    Hilangnya hak Israel atas tanah tersebut dapat digolongkan sebagai akibat perang — di mana pemenang secara militer berhak memiliki tanah taklukan.

    Perang Enam Hari? Yom Kippur? :lol:


  106. pada Januari 30, 2009 pada 12:20 am Ando-kun

    @dust
    karena para pejuang menang lawan belanda, jepang dan sekutu berdirilah negara Indonesia. Hal yang sama dengan Israel, Zionis menang perang lawan negara2 arab disekitar, berdirilah negara zionis Israel.
    Apakah belanda salah jaman dulu mengobrak abrik rumah penduduk dan membakarnya demi mencari ekstrimis (pejuang dalam bahasa indonesia)? Ya mereka salah, penyebabnya karena Indonesia menang di meja perundingan sehingga negara Indonesia merdeka. Coba waktu berunding kalah dan belanda terus menjajah, tidak ada yg namanya pejuang, yang ada hanya ekstrimis. Kalau Israel menang, Hamas tetap jadi teroris. tapi kalau Hamas menang, Israel adalah penjajah dan Hamas menjadi pejuang kemerdekaan.
    Terserah anda mau pake kaca mata mana.

    Ah, mempermainkan nama OBAMA menjadi OBAMBI, hehehehe.. cukup kreatif dan menarik. Jadi inget Bambi, si kijang lucu berkulit hitam (Bambi kijang negro bukan???)

    @Geddoe
    Pinjam kacangnya… lumayan buat memperkeruh suasana.
    *melempar kacang ke arah dust dan sora sambil sembunyi dibelakang Geddoe*

    @Catshade
    Bukan. Itu perang smurf.
    Para smurf berhasil mengsmurf daerah itu sehingga para smurf layak mengsmurf wilayah yang non-smurf sehingga terjadi smurfisasi.

    NB
    repeated:

    Kembali mengutip kata2 Setsuna F. Seiei:

    Senso ga okoreba hito wa sinu, 戦争が起これば人は死ぬ
    Hanashiteiru aida ni hito wa sinu, 話している間に人は死ぬ

    panjang lebar ngobrol disini, panjang lebar debat disini, ketika perang berlangsung orang2 pada mati. Meninggalkan kita yang sibuk lempar kata sembunyi wajah disini.


  107. pada Januari 30, 2009 pada 1:13 am Ando-kun

    戦い!お前の信じる神のために!
    tatakai! Omae no sinjiru Kami no tameni!

    Bertarunglah! Demi Tuhan yang engkau percaya!


  108. pada Januari 30, 2009 pada 11:03 am oddworld

    Polisi bernama OBAMBI itu pernah tinggal di tempat masyarakat pedagang kambing terbesar di dunia berada. Sayang dia agak lupa tentang bagaimana kira-kira masyarakat tersebut berjualan kambing. That’s why dia bilang pada HILLZILLA, coba kita kirim perwakilan kesana, kita dengar keluhan mereka dalam berjualan kambing. Jadi dalam minggu pertama OBAMBI sudah mengirim seorang pedagang yang sukses berdagang fish n’chips di Irlandia antara Protestan dan Katolik yang sudah bersaing sejak ratusan tahun. Untuk mencoba mencari solusi bagi para pedagang kambing.


  109. pada Januari 30, 2009 pada 11:53 am gentole

    @Sora dan Dust

    Lah, ternyata ada yang seru di sini. Nimbrung ah.

    Masalahnya satu; keberpihakan. Apakah logika bisa berpihak? Saya teringat iklan Koran Jakarta di Jalan Gatsu: Kebenaran tidak perlu memihak, katanya. Iklan ini, menurut saya, merupakan kritik kepada koran-koran seperti Kompas (korannya romo-romo pembela wong cilik), Tempo (korannya intelektual kampus pembela HAM pemburu koruptor), Republika (korannya Muslim menengah) dan The Jakarta Post (koran yang membela demokrasi, pluralisme dll). Koran Jakarta berpendapat “kebenaran” bisa berdiri dan berbicara sendiri tanpa harus dikonfirmasi oleh keputusan etis dalam kolom editorial. Btw, Koran Jakarta itu kalo enggak salah milik Tommy Winata, yang pernah bermasalah dengan Koran Tempo. Saya tidak membela siapa-siapa di sini; yang jelas ada masalah; fakta yang disajikan koran nasional hampir tidak pernah dilepaskan dari penilaian etis. Lihat saja berita Gaza, hampir semua koran berpihak pada penderitaan bangsa Palestina. Pemerintah kita juga begitu. Secara politis kita memang menganggap Israel penjajah yang menurut pembukaan UU 45 “harus dihapuskan dari muka bumi” (eh bener gak nih redaksinya?).

    Masalah Israel-Palestina ini benar-benar sebuah persoalan dalam praktik jurnalisme. Wartawan Majalah Time di Gaza, misalnya, mengakui bahwa “imparsialitas” dalam peliputan perang adalah ilusi. Pengamat media Sirikit Syah di harian The Jakarta Post malah menulis “it’s okay to take side” ketika melaporkan berita di Gaza.

    Ada banyak hal di dunia ini yang tidak ada kaitannya dengan logika dan masalah sesat-pikir yang Sora prihatinkan. Saya sih kayaknya masih seperti dulu: Keputusan etis itu bersifat imperatif dan tidak memerlukan alasan logis. Saya tidak menafikan masalah fallacy yang Anda underline, tetapi memang ada beberapa hal dari kasus peperangan di gaza yang tidak memerlukan studi mendaalam untuk mengatakan “ya” dan “tidak”. Saya yakin Anda pro-kemanusiaan (tidak seperti Geddoe yang tidak percaya kemanusiaan :mrgreen: ), hanya saja mungkin ada kendala sedikit dalam hal retorika. Dalam kehidupan sehari-hari, retorika sering lebih penting dan lebih berguna dari logika.

    Yah, kudu cabut. Nanti ditrusin de kalo sempat.


  110. pada Januari 30, 2009 pada 1:17 pm Abu Geddoe

    @ gentole

    BTW kalau di stasiun televisi Malaysia, title card (apa sih istilahnya) buat seri berita Gaza itu “Kekejaman Israel”. :mrgreen:


  111. pada Januari 30, 2009 pada 1:30 pm sora9n

    @ Ando-kun (1)

    panjang lebar ngobrol disini, panjang lebar debat disini, ketika perang berlangsung orang2 pada mati. Meninggalkan kita yang sibuk lempar kata sembunyi wajah disini.

    Yang penting bukan lempar kata dan sembunyi wajahnya, masbro. Melainkan kebijaksanaan (dan apa yang bisa diambil) dari diskusi tersebut. :)

    Sementara orang-orang sipil di tahun 1940-an berbicara tentang kekejian Hitler, jutaan orang jatuh tewas. Tapi orang-orang tersebut memperoleh kebijaksanaan: bahwasanya tindakan Hitler itu amoral, jahat, abominable. Kebijaksanaan itu yang kemudian diwariskan pada anak-cucu mereka.

    And that’s why fascism has — categorically — no lifeline by now. “Lempar kata” orang-orang di Inggris, Amerika, dan lain-lain itu yang mendidik dunia agar meninggalkan fasisme. Meme perdamaian masa kini dibangun dari situ.

     
    Jadi… apa salahnya berdiskusi tentang perang? :mrgreen:


  112. pada Januari 30, 2009 pada 1:31 pm sora9n

    @ dust

    PERTAMA, soal ‘ISRAEL MERASA’ dianeksasi, anda perlu liat gerakan NETURAI KARTA, pimpinan para rabbi yahudi, mereka menolak ANEKSASI itu sebagai bentuk ibadah menuju tanah perjanjian.

    Hehehe… mengingat saya juga sudah menyebut Rabbis for Human Rights dan Not in Our Name di postingan asli… Anda kira saya tidak tahu soal itu? :lol:

    Ras/agama Yahudi TIDAK SAMA DENGAN Israel, Bung. Ingat itu. Kebijakan negara belum tentu diamini oleh rakyatnya. Orang Amerika juga ada yang menolak perang terorisme G.W. Bush.

    Yang berkeputusan dengan aneksasi adalah pemerintah Israel (yang notabene Zionis garis keras). Suka atau tidak, sebagian besar rakyat Israel (dan pemerintahnya) lebih favor pada pandangan “memerangi Arab Palestina”. RHR, NION, dan sebangsanya bisa dibilang minority report.

    ini fakta keras, bahwa telah rujukan teks talmud sial ‘tanah perjanjian’ itu bukan alasan valid untuk MENCAPLOK wilayah palestina (p.s palestina bukan milik muslim aja tapi juga ada kristen dan yahudi di sana, jauh sebelum israel nongol).

    Kan sudah saya tulis: bahwasanya itu (rujukan talmud) bukan argumen yang valid. Namanya argumentum ad antiquitatem. ^^

    Seriously, you need to re-read all my posts and comments up there. Saya tidak bilang Israel layak dibela. Tapi, saya juga tidak segitunya percaya bahwa HAMAS benar-benar ‘bersih’. Ditambah lagi konflik ini benar-benar convoluted oleh berbagai isu: di samping IPOLEKSOSBUDHANKAM, juga ada sejarah. Belum lagi perkara agama.

    But I’m not going to judge. That’s their fight, not mine.

    KEDUA, sekali lagi, sebelum ada israel, yerusalem dan gaza adalah tempat damai tiga umat beragama (warisan tata pemerintahan saladin), muslim, kristiani, dan YAHUDI hidup bedampingan.

    Aha… sayangnya “sebelum ada Israel” itu nggak cuma zaman Saladin. Ada sebelum dan sesudahnya juga. :lol:

    Sultan yang hobi perang bukannya nggak ada. Coba google nama “Baybars”, dari dinasti Mamluk. Dia berkuasa setelah Ayyubiyah. Mentalnya mirip HAMAS zaman sekarang: ingin mengusir Kaum Frank dari tanah mediterania.

    Lagipula, “damai” yang Anda bilang itu belum menghitung prasangka rasis yang ada di masyarakat. Itu pun, masih mengabaikan kota-kota sekitar yang langganan perang: semisal Acre, Ashkelon, dan Tirus. :roll:

    (ref: “Perang Salib: Sudut Pandang Islam” oleh Carole Hillenbrand)

    KETIGA, jika ANEKSASI itu anda amini, maka dengan analogi yang sama, TIDAK ADA YANG SALAH dari tindakan para dayak sampit MENGUSIR dan membunuhi kaum madura.

    Eeeh, tunggu sebentar. Anda ini BACA SEMUA tulisan saya di atas, tidak!? :twisted:

    Enak saja bilang saya pro-aneksasi Israel. Baca dulu semuanya! Jelas-jelas saya katakan di salah satu komentar:

    Benar, memang bahwa secara intensitas Israel lebih banyak melakukan pelanggaran HAM. Tetapi, orang tidak boleh lupa bahwa HAMAS juga tidak se-”suci” itu. Biarpun mereka kehilangan lebih banyak.

    Dalam logika, ada yang namanya The Lesser of Two Evils. Jika saya berpegang pada kemanusiaan dalam konflik ini, haruskah saya membela HAMAS?

    For me, the answer is NO. :) Saya takkan membela HAMAS, sebab mereka punya dosa di sini. Menjadikan rakyat sipil human shield, melempar roket ke kota sipil, meledakkan bom bunuh diri. Of course this is lesser evil than what Israel do. But still evil nonetheless.

    Saya membenci Israel, dan saya membenci HAMAS. Saya lebih benci Israel daripada HAMAS, tapi jangan harap saya akan mendukung HAMAS. :)

    THAT. :cool:

    Kesalahan besar Anda, Bung, adalah menimbang bahwa “jika saya tidak pro-HAMAS, maka saya pro-Israel”. Salah. Itu namanya false dilemma. Sama halnya dengan omongan G.W. Bush: “either you’re with us or with the enemy”.

    Saya tidak membela siapapun di sini. This is THEIR war, not mine. Satu-satunya yang saya pihaki di sini adalah kemanusiaan — dan itu pun tidak cukup untuk membuat saya bersimpati pada HAMAS.

    dosa hamas dengan membunuh kurang dari 5 orang sipil (gara-gara roket), tidak memberi hak israel membunuh 1.000 orang palestina. bunuh penjahatnya, jangan orang tak bersalah.

    That’s what I said. That’s WHY I never support them at the first place.

    BTW, apa yang hamas lakukan mirip dengan para pejuang gerilya kita zaman kolonial. mereka hidup, berbaur, dan membangun kekuatan di tengah rakyat, sementara belanda menyerang kampung dan rumah.

    Tetap saja: two wrongs don’t make a right. Belanda tidak berhak menyerang kampung, sama halnya dengan gerilyawan tak boleh menyerbu rumah Nyai dan Noni. Israel tidak berhak membunuh suku Arab, sama halnya dengan HAMAS tak boleh membunuh penduduk sipil Israel.

    TAPI. Satu hal yang saya pandang sebagai kepengecutan HAMAS adalah: setelah membaur dengan masyarakat begitu rupa, dan korban sipil berjatuhan, mereka kemudian memanfaatkannya untuk propaganda “kaum tertindas”. Mereka menarik simpati dari tindakan tersebut. Shameless.

    Lagipula, IMO, HAMAS tak bisa disamakan dengan gerilyawan kelas kampung. Mereka organisasi resmi dengan lobi kelas tinggi (dunia Arab, masyarakat muslim dunia). Konflik mereka disiarkan luas, bisa dipakai untuk menggoyang simpati internasional. Mereka bukan pihak “tanpa nama” — tak bisa disamakan begitu saja dengan gerilyawan kita zaman kolonial.

    anda juga perlu ingat: cause & effect. bayangkan anda sekeluarga dipenjara di kandang kambing oleh tamu anda, sedangkan rumah dan sofa anda ditempati tamu tersebut.

    anda hanya bisa sabar, berharap ada tetangga yang mau menolong. lama menunggu, anda mulai resah, anak-anak kelaparan, lalu mulai muncul amarah.

    anda mulai frustasi, dan berusaha menyuarakan kepedihan dan perlawanan anda dengan membuat batu dari tanah liat di sekitar kandang.

    anda melemparnya, lalu mengenai muka tamu tersebut. tamu itu lalu marah, menghujani anda dan anak-anak anda batu-batu kerakal, darah bercucuran.

    Saya jawab dalam dua bagian:

    Pertama: Analogi Anda kurang cocok. Yang ditimpuki dengan batu tanah liat adalah orang-orang yang mencaplok rumah Anda, bukan orang tak berdosa.

    HAMAS tidak menyerang agresor Israel saja: mereka menyerang penduduk sipil Israel dengan roket dan bom bunuh diri. Kalau mereka cuma menyerang aparat Israel, OK — tapi nyatanya mereka juga menyerang rakyat sipil.

     
    Kedua:

    Cause and effect? Itu orang sering bilang. Betul! Tapi ingat kata Gandhi:

    “An eye for an eye will make the whole world blind”

    Orang Palestina mati, dibalas bunuh orang Israel. Alasannya: “Biar saja, karena kami ditindas!” Kemanusiaan apa itu?

    Ketertindasan tidak boleh membuat orang jadi immoral. Israel salah? Ya, benar. Saya setuju. Tetapi cara HAMAS membalas juga salah — mereka sok mengedepankan sentimen tertindas, dan seolah jadi boleh berbuat apa saja dari situ. Itu yang saya tak setuju.

    BTW, argumen Anda ini sudah saya bahas di atas: two wrongs make a right. Dan appeal to pity juga. ;)

    konflik dah berkelindan selama 60 tahun. tak cukup pemahaman soal falasi untuk menganalisa ini. saran saya: find the cause in the very beginning. setelah itu, silahkan pilih: peduli or cuek.

    Ini membuktikan bahwa Anda tidak membaca semua tulisan dan komentar saya. Saya sudah menjelaskan bahwa Palestina-Israel adalah permasalahan lintas topik: IPOLEKSOSBUDHANKAM, sejarah, agama, dan sebagainya. Dan tulisan tentang fallacy ini bukan untuk justifikasi salah satu pihak. Noooooo, you’re wrong. :lol:

    Tulisan ini adalah hasil ketidakrespekan saya pada konflik tersebut. Mengapa? Alasannya bisa Anda telusuri dari komen-komen saya di atas.

    Lagipula, kalau saya pro-Israel, barangtentu takkan saya tulis fallacy yang dilakukan Israel. Kalau saya pro-HAMAS, barangtentu tak saya tulis fallacy yang dilakukan HAMAS. Tapi nyatanya? Dua-duanya saya kritik. :mrgreen:

    Satu-satunya yang saya pihaki di sini adalah kemanusiaan. Dan bagi saya, Israel maupun HAMAS sama-sama punya ‘dosa’-nya sendiri.

    * * *

    Satu lagi:

    konflik dah berkelindan selama 60 tahun

    Ah, Anda ini meremehkan. Baca dulu sejarah Perang Salib, dan setelah itu Palestina/Yerusalem masa pra-Islam. Dua ribu tahun lebih daerah ini jadi pusat pertikaian. Kaum Yahudi diusir oleh Romawi sudah sejak sebelum Masehi.

    60 tahun yang Anda bilang itu cuma jejaknya di masa modern saja. :lol:


  113. pada Januari 30, 2009 pada 1:35 pm sora9n

    @ Abu Geddoe (1)

    Hus, masbro. Nggak semua orang paham gaya Poe! :mrgreen:

    :::::

    @ Catshade

    Perang Enam Hari? Yom Kippur? :lol:

    Sebenarnya itu agak beda, tapi kok rasanya paralel ya? :P

    :::::

    @ Ando-kun (2, 3)

    Kalau Israel menang, Hamas tetap jadi teroris. tapi kalau Hamas menang, Israel adalah penjajah dan Hamas menjadi pejuang kemerdekaan.
    Terserah anda mau pake kaca mata mana.

    Satu lagi soal “kacamata”…

    Kalau seandainya HAMAS punya pesawat pembom B-2, apa mereka nggak akan mengebom kota sipil Israel, yah? :-?

    Israel memang salah dengan memulai, tapi cara HAMAS menanggapi juga jelek. Mental mereka pada dasarnya nggak jauh beda: sama-sama ‘hobi’ menyerang warga sipil dan bukan tentara/aparat pemerintah sebangsanya.

    (IMO, CMIIW)

    戦い!お前の信じる神のために!
    tatakai! Omae no sinjiru Kami no tameni!

    Bertarunglah! Demi Tuhan yang engkau percaya!

    Ini… kalimat yang saya resapi maknanya, usai membaca tarikh Perang Salib. (u_u) :P

    :::::

    @ oddworld

    Polisi bernama OBAMBI itu pernah tinggal di tempat masyarakat pedagang kambing terbesar di dunia berada. Sayang dia agak lupa tentang bagaimana kira-kira masyarakat tersebut berjualan kambing.

    Sayangnya, ya, itu, tinggalnya cuma beberapa tahun. Jadi beliau belum sempat mengenal kepribadian para pedagang kambing dalam-dalam… :P

    :::::

    @ gentole

    Hmm, menarik tuh. Saya juga beberapa kali dengar slogan “kebenaran tidak memihak” itu. Tapi secara praktis itu hal yang sulit (IMHO). Lha, pemilik suratkabar juga manusia? Pastilah dia punya moral attachment dalam memberi pemberitaan. :o

    Masalah Israel-Palestina ini benar-benar sebuah persoalan dalam praktik jurnalisme. Wartawan Majalah Time di Gaza, misalnya, mengakui bahwa “imparsialitas” dalam peliputan perang adalah ilusi. Pengamat media Sirikit Syah di harian The Jakarta Post malah menulis “it’s okay to take side” ketika melaporkan berita di Gaza.

    IMHO sih, sebenarnya take side itu sendiri tak masalah. Asalkan landasan dan alur logikanya benar.

    Kalau take side-nya berdasarkan sentimen keagamaan, atau dari kabar sepotong-sepotong, nah, ini yang take side-nya perlu dipertanyakan.

    Masalahnya banyak orang berkoar-koar tentang Palestina-Israel, tapi pengetahuan sejarah dan sospolnya minim sekali. Mungkin cuma sedikit yang tahu kasus pengusiran Yahudi oleh Romawi yang dulu sekali. Atau soal mekanisme “tanah wakaf” yang jadi andalan Piagam HAMAS. Padahal itu tema yang krusial. :|

    :::::

    @ Abu Geddoe (2)

    *ngakak* :lol:


  114. pada Januari 30, 2009 pada 3:12 pm dnial

    Bung Sora, anda mengklaim anda memihak kemanusiaan. Berarti anda harus memihak Hamas karena Israel bukan manusia!!!

    Tahukah anda bahwa kaum Yahudi itu lebih rendah dari manusia! Heh! Heh! Lihat saja aksi binatang mereka terhadap warga Palestina.

    Anda harus mendukung Hamas!!! Harus itu!!!

    *kembali ngoding*


  115. pada Januari 30, 2009 pada 3:35 pm sora9n

    ^

    Hus! Nggak semua orang tahu gaya berkomentar Poe. Hati-hati kalau ngomong! :P

    * * *

    Tapi, BTW, ada lho yang berpikir kayak begitu. Menyedihkan. Padahal kontribusi kaum Yahudi/keturunan Yahudi pada kemanusiaan aslinya lumayan banyak. ^^;

    [List of Jewish scientists and philosophers, by country]


  116. pada Januari 30, 2009 pada 4:40 pm si rudi

    Di suatu masa, saya diundang untuk memberi pembekalan untuk calon anggota sebuah organisasi mahasiswa ekstra-kampus yang berangkat ikut latihan pengkaderan. Materi yang saya bawakan adalah bahaya teori konspirasi sebagai sebuah fallacy, dan bagaimana mendisiplinkan diri menggunakan argumen yg bersih dari sesat nalar.
    .
    Setelah saya selesai, pembicara kedua kemudian datang. Dalam diskusi kedua ini para peserta tampak bisik-bisik dan cengar-cengir saat pembicara kedua itu membawakan materinya: bahaya konspirasi Yahudi, bahaya konspirasi sel-sel agama anu, bahaya sisa-sisa komunis dan bahaya agen-agen PSI di kalangan mahasiswa!!! :( (


  117. pada Januari 30, 2009 pada 4:44 pm Ando-kun

    Saya tidak membela siapapun di sini. This is THEIR war, not mine. Satu-satunya yang saya pihaki di sini adalah kemanusiaan — dan itu pun tidak cukup untuk membuat saya bersimpati pada HAMAS.

    Jadi teringat kata-kata Saji Crossroad (terjemahan bebas):
    ” Awalnya aku pikir nggak ada hubungannya denganku, peduli amat. Sampai akhirnya ada bis yang meledak didepan mataku, orang banyak yang mati. tiba-tiba aku tersadar, その関係ないは無い (artiin nih, susah ngartiinnya)”

    Artinya kalau sora ada di palestina dan melihat didepan mata pembantaian secara langsung dimana ratusan hingga ribuan anak kehilangan orang tua juga sebaliknya, pola pikir sora akan berubah. sekarang sih, karena jauh dan cuma liat lewat media mungkin saja bisa bilang,”Saya tidak membela siapapun di sini. This is THEIR war, not mine.” Begitu khan???


  118. pada Januari 30, 2009 pada 4:55 pm Ando-kun

    Sementara orang-orang sipil di tahun 1940-an berbicara tentang kekejian Hitler, jutaan orang jatuh tewas. Tapi orang-orang tersebut memperoleh kebijaksanaan: bahwasanya tindakan Hitler itu amoral, jahat, abominable. Kebijaksanaan itu yang kemudian diwariskan pada anak-cucu mereka……

    (disambung sendiri karena kata2 sora belum selesai)

    ….yang ternyata lebih tertarik untuk belajar bagaimana untuk menjadi Hitler baru yang lebih elegan dan terhormat. misalnya dengan gaya preemtive attack, atau menyerang orang lain karena “membela kebenaran”. Hitler memang goblok menyerang negara lain sehingga dibenci orang sedunia.
    Dengan kebijaksanaan itu anak keturunannya berusaha untuk menjadi Hitler yang jauh lebih smart, menguasai dunia, membantai orang lain, membenarkan yang salah dengan cara simpatik.

    Kalau misalnya cerita Gundam 00 benar terjadi, setelah 300 tahun pun kebijaksanaan yang diwariskan hanya dimanfaatkan anak cucu buat membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

    NB. Lagi nonton Gundam season 1 utk ketiga kalinya, sambil nunggu season 2 berlanjut.
    Koq terjadi sinkronisasi antara Gundam 00 dengan postingan orang2 kurang kerjaan disini (termasuk gue)?


  119. pada Januari 30, 2009 pada 5:22 pm Abu Geddoe

    @ semua yang ribut-ribut

    Isn’t it enough to condemn Israel, without having to support cowards like HAMAS? :?


  120. pada Januari 30, 2009 pada 6:54 pm sora9n

    @ si rudi

    Setelah saya selesai, pembicara kedua kemudian datang. Dalam diskusi kedua ini para peserta tampak bisik-bisik dan cengar-cengir saat pembicara kedua itu membawakan materinya: bahaya konspirasi Yahudi, bahaya konspirasi sel-sel agama anu, bahaya sisa-sisa komunis dan bahaya agen-agen PSI di kalangan mahasiswa!!! :( (

    Weleh… :lol:

    :::::

    @ Ando-kun

    Artinya kalau sora ada di palestina dan melihat didepan mata pembantaian secara langsung dimana ratusan hingga ribuan anak kehilangan orang tua juga sebaliknya, pola pikir sora akan berubah. sekarang sih, karena jauh dan cuma liat lewat media mungkin saja bisa bilang,”Saya tidak membela siapapun di sini. This is THEIR war, not mine.” Begitu khan???

    Lalu kalau melihat, kenapa? Jadi harus berpihak, begitu? :)

    Jawabannya: tidak.

    Arthur Gish — anggota Christian Peacemaker Team — menghabiskan waktu bertahun-tahun di Hebron, melihat langsung kekejaman Israel. Belum lagi perlakuan pemukim yang melecehkan suku Arab-Palestina. Apakah dia jadi memihak militansi HAMAS karenanya? Tidak.

    Dia melihat tank Israel hendak menghancurkan pasar, dan dia dengan lantang berteriak Baruch Hashem Adonai! (“Terpujilah Nama Tuhan!”) di depan tank tersebut. Setelah semua itu, apa dia berkukuh bahwa “This has become my war”? Sekali lagi, tidak. Beliau justru menekankan dirinya sebagai “sahabat kemanusiaan” di Hebron.

    Perang tidak jadi lebih baik jika makin banyak orang ikut campur. Saya bukan orang Palestina, bukan pula orang Israel. Mengapa saya harus berperang? Adakah alasan yang kuat? Hence, that’s not my war.

    Tapi satu hal sudah jelas: saya membenci baik Israel maupun HAMAS. Keduanya sama-sama merendahkan nilai kemanusiaan untuk sebuah argumen bernama “negara”. Sikap saya sama dengan yang dikatakan Geddoe: “Isn’t it enough to condemn Israel, without having to support cowards like HAMAS?”

    “Remember your humanity, and forget the rest.”

    ~ Joseph Rotblat

     

    ….yang ternyata lebih tertarik untuk belajar bagaimana untuk menjadi Hitler baru yang lebih elegan dan terhormat. misalnya dengan gaya preemtive attack, atau menyerang orang lain karena “membela kebenaran”.

    Ah, Anda terlalu pesimis. Saya curiga, jangan-jangan Anda ini rada nihilis. Betul? ;)

    Apapun, saya sarankan: jangan terlalu meremehkan manusia. Zaman kita punya orang seperti G.W. Bush — tapi jangan lupa bahwa kita juga punya Gandhi, Bunda Theresa, dan Paus John Paul II. Mereka yang besar atas nama kemanusiaan. Kita pernah punya Hitler, tapi jangan lupa bahwa kita punya Russell–Einstein Manifesto. Jangan lupa bahwa kita punya mereka yang meredakan Insiden Teluk Babi 1961.

    Siapa yang meminta maaf pada Galileo setelah ratusan tahun? Siapa yang mengajari dunia dengan perjuangan non-kekerasan? Siapa yang mencegah perang nuklir meletus? Siapa yang minta maaf pada Charles Darwin karena menuduh ajarannya bersemangat ateistik? Orang-orang itu yang mewarnai zaman kita. Bukan cuma GWB, Ehud Barak, dan Ariel Sharon.

    That is what humanity can do. Orang yang jahat selalu ada — tapi bukan berarti kebijaksanaan manusia jadi nihil. Manusia selalu bisa berubah dan belajar. ;)

    Kalau misalnya cerita Gundam 00 benar terjadi, setelah 300 tahun pun kebijaksanaan yang diwariskan hanya dimanfaatkan anak cucu buat membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

    Ah, 00 kan belum tamat. :mrgreen: Coba masbro nonton Gundam SEED atau Wing, di sana semangat pasifisme-nya relatif kental. :)

    BTW, sekali lagi saya bilang: jangan remehkan kemampuan manusia untuk belajar. Dua ratus tahun lalu kita masih mengakui perbudakan, dan sekarang tidak. Seratus tahun lalu wanita Jawa dipingit tinggal di rumah, dan sekarang mereka boleh jadi ilmuwan. Tiga ratus tahun lagi, siapa yang tahu?

    And that’s what one should remember when he’s talking about zeitgeist.

    :::::

    @ Abu Geddoe

    Isn’t it enough to condemn Israel, without having to support cowards like HAMAS? :?

    Quoted for truth. :mrgreen:


  121. pada Januari 30, 2009 pada 7:20 pm Abu Geddoe

    @ sora9n

    BTW, zeitgeist juga proses menjadi “lebih baik”-nya dilihat lewat zeitgeist itu sendiri, lho. :?


  122. pada Januari 30, 2009 pada 8:05 pm Ando-kun

    @sora1
    Bisa dibilang saya memihak rakyat Palestina (bukan Hamas, bukan pula Fatah).
    Apakah pendapat saya berubah jika melihat langsung ditempat kejadian? Who knows, cause I know that human can be change in one second or less depends on situation. and I am just an ordinary human.

    @sora2
    Nihilis???? hehehe… saya lebih suka kata kosongisme atau hampaisme.
    Jika ada kejahatan maka akan muncul kebaikan, jika kebaikan bersinar maka kejahatan akan datang dengan kegelapannya. Semua orang pasti tahu kalau terang tak akan disebut terang kalau tidak ada gelap (walaupun ada yang berdalih gelap adalah situasi tanpa cahaya).
    Dengan semakin tingginya kebijakan, kebejatan juga kan tumbuh menyaingi kebajikan hingga kiamat.

    @sora3
    Gundam Wing dan Seed? (mencoba mengingat kembali masa lalu)………..
    Perasaan itu serial masa depannya mengawang-awang nggak jelas (hihihi…… bukan anno domini sih, jadinya anggap aja khayalan :mrgreen: )

    BTW. Perbudakan fisik mungkin hilang, tapi tetap saja perbudakan masih ada dgn berganti wajah jadi perbudakan ekonomi dan politik.
    Jaman berubah bung! karena itu kebejatan juga turut berubah agar tetap survive.

    (sambil membayangkan 300 tahun kedepan pria dijajah wanita, pria dipingit nggak boleh keluar rumah)

    Sejarah selalu berulang… walau dgn wajah baru :cry:


  123. pada Januari 30, 2009 pada 8:25 pm lambrtz

    Melihat Sora vs Ando seperti melihat Expanding Universe vs Big Crunch, eksponensial positif (atau polinomial positif) vs sinusoidal. :mrgreen:


  124. pada Januari 30, 2009 pada 8:30 pm sora9n

    @ Abu Geddoe

    BTW, zeitgeist juga proses menjadi “lebih baik”-nya dilihat lewat zeitgeist itu sendiri, lho. :?

    Waduh, penjelasannya bakal panjang. Sebenarnya saya punya rencana menulisnya di postingan tersendiri… jadi yang di sini gist-nya saja ya. ^^;

    Sebenarnya, soal zeitgeist, ada pendekatan yang cukup unik. Konsepnya diturunkan dari rumusan open society-nya Karl Popper.

    Menurut Popper, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berkembang seiring waktu. Mereka belajar dari kesalahan, dan menjadi lebih baik kedepannya. Kasarnya: there’s no best but better state.

    Popper menolak konsep utopia, sebab resikonya sangat besar. Beliau lebih memilih “perbaikan gradual”. (tidak saya bahas lebih lanjut di sini — lebih baik saya tulis post lengkap secepatnya)

    Nah, konsepsi zeitgeist a la Popper agak beda dengan zeitgeist yang biasa. Dia punya tiga strand:

    1) Masyarakat berkembang dengan menghilangkan kesulitan di masa kini, menuju keadaan yang “lebih bebas masalah”.

    2) Masyarakat belajar dari kesalahan, yakni konsepsi yang sudah terbukti gagal akan di-discard.

    3) Masyarakat tidak bisa menjadi sempurna, melainkan hanya bisa berkembang jadi lebih baik. Lagi-lagi: “there’s no best but better state”.

    Pendekatan ini sangat mirip dengan metodologi ilmiah dan evolusionisme. :D

    Kalau zeitgeist biasa, arus perubahannya tergantung kehendak masyarakat. Tapi, dengan pendekatan Popper, aturannya lebih kompleks: ada yang namanya “belajar dari kesalahan” (i.e. poin 2). Jadi kehendak masyarakat bukan faktor utama.

    Alhasil, zeitgeist bukan hanya dinilai dari zeitgeist, tapi juga dari pembelajaran. Lebih lanjutnya… saya simpan dulu untuk saat ini. Sori, soalnya ruang terbatas.

    *sembah-sembah* m_(-_-)_m

    duh, utang posting banyak banget. tulisan QM belum selesai pula…

    :::::

    @ Ando-kun

    Bisa dibilang saya memihak rakyat Palestina (bukan Hamas, bukan pula Fatah).

    Lha, iya. Saya juga. Makanya saya sama-sama nggak suka dua pihak yang bertikai di sono (i.e. HAMAS dan Israel). Soal Fatah saya no comment, soalnya wilayah abu-abu. ;)

    Nihilis???? hehehe… saya lebih suka kata kosongisme atau hampaisme.

    Lha, “nihil” kan artinya “kosong” alias “hampa” ? ^^;;

    Dengan semakin tingginya kebijakan, kebejatan juga kan tumbuh menyaingi kebajikan hingga kiamat.

    Setidaknya, zaman sekarang, orang sudah tidak menolerir kolonialisme dan perbudakan fisik. Itu termasuk kemajuan juga — walaupun, berapa banyak majunya, tentu relatif di mata setiap orang.

    Gundam Wing dan Seed? (mencoba mengingat kembali masa lalu)………..
    Perasaan itu serial masa depannya mengawang-awang nggak jelas (hihihi…… bukan anno domini sih, jadinya anggap aja khayalan :mrgreen: )

    Tapi semangat pasifisme-nya bagus. Nontonlah. :mrgreen:

    Padahal sendirinya cuma baca manga Gundam Wing, tapi enggak nonton

    BTW. Perbudakan fisik mungkin hilang, tapi tetap saja perbudakan masih ada dgn berganti wajah jadi perbudakan ekonomi dan politik.
    Jaman berubah bung! karena itu kebejatan juga turut berubah agar tetap survive.

    Seleksi alam? Evolusi, anyone? :mrgreen:

    *ditimpuk*

    Hmm, kapan-kapan bahas soal ini, ah. Nyambung sama topik yang diomongin Geddoe, soalnya. =3

    Sejarah selalu berulang… walau dgn wajah baru :cry:

    Tapi manusia kan bisa belajar. Setidaknya, itu layak disyukuri… ^^a

    :::::

    @ lambrtz

    seperti melihat Expanding Universe vs Big Crunch

    Itu namanya saling melengkapi. ;)

    *ditimpuk*


  125. pada Januari 30, 2009 pada 9:35 pm dust

    sora, anda menyatakan dosa hamas tak menjadi alasan kita membela palestina.
    padahal, pertanyaan yang disodorkan adalah: “perlukah mendukung palestina?”

    inilah logika awal anda yang imho KELIRU dari sisi silogisme, dipamerkan
    sejak awal menulis posting (dari sisi judul –> Studi kasus Palestina-Israel),
    hingga kesimpulan (Sebab yang terpengaruh bukan hanya Israel dan HAMAS saja,—
    melainkan juga para pendukung mereka di berbagai belahan dunia).

    lho studi kasusnya israel VS palestina kok bisa jadi israel VS hamas?? apa
    menurut anda para pendukung palestina di seluruh dunia itu pasti juga
    pendukung HAMAS? oh, come on.. falasi apa ini? (coba anda jelaskan..). :D

    BUKTINYA, ketika saya tes dengan 2 pertanyaan soal PALESTINA, anda berdalih
    dengan mencontohkan kesalahan HAMAS: “hamas juga punya dosa, blablabla..”
    dan bukannya ‘kesalahan PALESTINA.”

    once again, plz answer this q: “atas dasar apa israel menyerobot rumah dan
    tanah bangsa palestina? apa itu memberi hak untuk menyingkirkan dan
    memenjarakan penduduk palestina dalam “penjara” terbesar di dunia itu?”

    kali ini, tolong jawab tanpa seret-seret HAMAS dan memamerkan falasi
    TWO WRONGS DON”T MAKE blabla.. jawab aja, apa teks soal tanah perjanjian
    itu (yang membuat israel menyerobot palestina) memberi hak bagi mereka
    memenjara (memblokade) penduduk palestina?

    saya tunggu..

    ***

    saya tahu anda tak mendukung palestina or israel, saya pun tak pernah
    menuduh anda dukung israel. silahkan cek di semua posting saya. yang
    pernah saya katakan adalah: “jika ANEKSASI itu anda amini, blabla…”

    tahu artinya ‘jika’ ato ‘IF’? apakah ini sebuah pernyataan afirmatif?
    tidak. jadi, apakah saya MEMASTIKAN bahwa anda pro-aneksasi? tidak.
    apakah saya sedang menuduh? TIDAK. saya sedang mengecek sikap anda.

    jadi, tolong anda cabut tuduhan anda bahwa saya menuduh anda PRO-
    ANEKSASI israel, dan cabut tuduhan anda bahwa saya memamerkan FALSE
    DILEMMA.

    lalu, jawablah dengan lugas: “bolehkah dayak mengusir dan membunuhi
    madura di sampit, dengan modal basis logika israel pada palestina?”

    OK?? saya tunggu..

    ***

    sora: “Pertama: Analogi Anda kurang cocok. Yang ditimpuki dengan batu tanah liat adalah orang-orang yang mencaplok rumah Anda, bukan orang tak berdosa. HAMAS tidak menyerang agresor Israel saja: mereka menyerang penduduk sipil Israel dengan roket dan bom bunuh diri. Kalau mereka cuma menyerang aparat Israel, OK — tapi nyatanya mereka juga menyerang rakyat sipil.”

    oh, iya yah. OK, saya sempurnakan. baca ya: “bayangkan anda sekeluarga
    dipenjara di kandang kambing oleh tamu anda, sedangkan rumah dan sofa
    anda ditempati tamu tersebut bersama anak istrinya. anda hanya bisa
    sabar, berharap ada tetangga yang mau menolong. lama menunggu, anda
    mulai resah, anak-anak kelaparan, lalu mulai muncul amarah. anda mulai
    frustasi, dan berusaha menyuarakan kepedihan dan perlawanan anda dengan
    membuat batu dari tanah liat di sekitar kandang. anda melemparnya, lalu
    mengenai muka ISTRI dari tamu tersebut, yang seenaknya didatangkan
    untuk hidup di dalam rumah anda. lalu tamu itu marah, menghujani anda
    dan anak-anak anda batu-batu kerakal, darah bercucuran.”

    dah pas kan?

    anda terlalu bodoh untuk membuat batu dari tanah liat berpresisi tinggi
    sama seperti hamas (maklum, si polisi obambi justru membantu si tamu
    perebut rumah anda itu dengan batu krakal berfosfor.) akibatnya, batu
    anda itu tidak mengenai sang tamu, melainkan mengenai istri si tamu,
    yang kemudian membuat si tamu meradang dan membalasnya dengan kerakal
    berfosfor pada anda dan anak-anak anda, bahkan pada petugas RT yang
    berusaha menolong anak-anak anda.

    alasan si tamu merebut rumah anda: ini dulu rumah nenek moyang kami,
    yang dijanjikan pada kami dalam serat darmokuntul.

    udah pas sekarang??

    ***

    lalu, pertanyaan saya pertama: “palestina saat ini menjadi SATU-
    SATUNYA bangsa yang masih berjuang melawan aneksasi (selama 60-an
    tahun). gimana pendapat anda, perlukah didukung?”

    anda tak berani menjawab tegas, namun ngeles dengan menyodorkan
    dua pendapat yang dipakai pihak israel dan palestina. anda bilang:
    “pendapat israel mereka awalnya memiliki Tanah Terjanji di Palestina.
    Meskipun begitu kemudian mereka tergusur secara paksa (oleh pasukan
    Romawi). Romawi terus berkuasa di tanah tersebut, dan menamainya
    “Palestina”.”

    sebentar.. anda bilang argumen macam ini (soal tanah terjanji)
    merupakan BENTUK FALASI. lalu ngapain anda membawakannya pada saya??
    anda ini benar-benar pamer CONTRADICTIO IN TERMINIS.

    lalu, pada 1930-1940, adakah larangan bagi yahudi untuk hidup di
    yerusalem?? TAK ADA. warga yahudi sudah ada yang hidup di palestina
    puluhan tahun, sama seperti warga islam dan kristen.

    jadi, ngapain harus bikin zionisme untuk mendirikan negara israel
    dengan mengusiri arab palestina (islam dan kristen) dari wilayah
    suci tiga agama itu? memangnya pindah dan bermukim di sana DENGAN
    cara damai tidak bisa?

    dari sisi ini, JELAS israel harus dihapus dari peta muka bumi,
    kembalikan dia menjadi sebuah negara damai milik tiga umat
    beragama. tak ada hamas, tak ada fatah, tak ada likud, dll.

    BTW, sora bilang: “HAMAS tak bisa disamakan dengan gerilyawan kelas
    kampung. Mereka bukan pihak “tanpa nama” — tak bisa disamakan begitu
    saja dengan gerilyawan kita zaman kolonial.”

    ngawur banget anda ini. emangnya gerilyawan kita dulu itu gak punya
    nama? hey, nama mereka adalah BKR, TKR, lalu jadi TNI. agen pelobi
    mereka adalah sukarno, hatta, dll. sebelum itu, mereka juga sudah
    muncul dengan nama SI dan PKI. sneevliet, tokoh komintern kelas
    wahid se-Asia jadi pemimpinnya.

    jadi gerilyawan kita tak bisa disamakan? think again..

    ***

    SORA: “60 tahun yang Anda bilang itu cuma jejaknya di masa modern
    saja.”

    lha terus gimana?? anda mau kita membahas pembenaran aneksasi israel
    itu berdasarkan sejarah 1.000 SM? weleh.. weleh.. bukannya itu malah
    bentuk argumentum ad antiquitatem. gimana sih? :D

    lha kalo ngomong kaya gitu, boleh dong orang china di indonesia diusir
    karena ini adalah tanah warisan bangsa pribumi (jawa, sunda, dll).
    gitu??? sic.. ga harus paham teori falasi untuk jawab: TIDAK!

    makanya, saya heran dengan omongan ini: “karena para pejuang menang
    lawan belanda, jepang dan sekutu berdirilah negara Indonesia. Hal yang
    sama dengan Israel, Zionis menang perang lawan negara2 arab disekitar,
    berdirilah negara zionis Israel.”

    sangat bodoh. “kapan kita pernah menang perang lawan belanda?” yang
    ada adalah kita merebut kemerdekaan melalui perundingan, bukan dari
    bambu runcing dan sten gun.

    lha kalo israel berhak menduduki wilayah yerusalem karena menang perang
    lawan arab, maka boleh dong indonesia nyerang singapore lalu menduduki?
    begitu?? mana PBB ass hole itu?


  126. pada Januari 30, 2009 pada 9:44 pm dust

    satu lagi, sora. inkonsistensi anda memuakkan.

    u sounds so smart, write as a smart ass, but
    u think like those jerks u criticize (pamer
    falasi, salah satunya argumentum ad antiqui..
    whatever..)

    sungguh, sebuah kontradiksi yang memerihkan.


  127. pada Januari 30, 2009 pada 10:03 pm Abu Geddoe

    8O

    *gelar permadani*

    *bakar BBQ*


  128. pada Januari 30, 2009 pada 10:15 pm GM

    kampret!
    saya ketinggalan ribut-ribut di sini :evil:

    Idem! :evil:

    Kelamaan mendekam di penjara wisata-jalan2-kuliner-makan2-backpacking membuat saya jadi lupa blog. :evil:


  129. pada Januari 30, 2009 pada 10:16 pm baja hitam

    ^ :shock:
    *pasang kipas dan AC*

    *gotong sekrat minuman dingin*

    *numpang di permadaninya Abu Geddoe*


  130. pada Januari 30, 2009 pada 11:27 pm Ando-kun

    @dust
    Mata anda kelilipan yah nggak baca kata2 “Indonesia menang di meja perundingan “?

    Sungguh BODOH anda kalau menganggap kata “pejuang” hanya untuk orang yg bawa bedil dan bambu runcing. Anda pikir Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka itu bukan pejuang karena tidak bawa perabotan tempur? Pena mereka jauh lebih sakti dari pada bambu runcing.

    Lebih TOLOL lagi kalau “kemenangan diplomasi” tidak anda anggap sebagai “kemenangan”, gak usah ganti pake kata merebut kemerdakaan cuma karena beda kalimat doang.
    (balik menunding mengacung jari)

    Mungkin Hamas lebih suka “merebut kemerdekaan” lewat cara lempar roket.

    Nyerang Singapur? Boleh saja koq, kalau Indonesia berani menghadapi keroyokan Singapur, Malaysia, Australia, New Zwland, Inggris dan kambrat Commonwealth-nya.
    Hayo, berani nggak? berani nggak? berani nggak?

    (tangan berkacak pinggang sambil tersenyum sedih mengingat nasib buruk China kalah dikeroyok hingga terpaksa menyerahkan Macau dan Hongkong pada negara pengeroyoknya)

    @Geddoe

    Huah… seru dan saru
    ikutan gelar tikar sambil ngipas-ngipasin kedua belah pihak.
    (Geddoe meleng, keratan BBQ hilang)


  131. pada Januari 31, 2009 pada 3:05 am Catshade

    Eh. Satu hal yang bisa saya tarik dari argumennya dust; memang agak overgeneralisasi juga kalau kita menganggap ‘Israel’ dan ‘Palestina’ sebagai sebuah entitas yang tunggal dan posisinya kekal sepanjang zaman. Ada banyak faksi di sana, dan posisi mereka pun berubah-ubah seiring waktu.

    Israel di bawah Yitzhak Rabin tentu berbeda dengan Israel di masa Ariel Sharon. PLO juga dulu mengambil jalan keras, lalu akhirnya jadi lebih diplomatis sehingga dicap sellout oleh faksi2 ekstrim seperti Hamas. Dan dengan pemerintahan Palestina yang retak seperti sekarang, sulit menyebut siapa yang menjadi yang berhak menyandang status otoritas resmi Palestina.

    Dan sekedar menambahkan dua sen saya: Kedua pihak harus mau berkompromi dan ‘rela melepaskan sesuatu’ kalau mau perang ini berakhir dengan damai. That’s the way of politics and diplomacy. Mencoba memplot masa depan berdasar masa lalu (pra-1967, pra-1948, pra-1920an, dan yang lebih kuno lagi) selama ini terbukti tidak pernah berhasil. Both sides have to accept the present reality of the opposing side’s conditions.

    (tangan berkacak pinggang sambil tersenyum sedih mengingat nasib buruk China kalah dikeroyok hingga terpaksa menyerahkan Macau dan Hongkong pada negara pengeroyoknya)

    Entah Cina sejak awal sengaja atau tidak, akhirnya mereka malah untung besar kan setelah HK dan Macau dikembalikan dengan penuh kemakmuran. :lol: …sayang kita ‘cuma’ dijajah Belanda. :?


  132. pada Januari 31, 2009 pada 8:09 am oddworld

    Let’s read what a palestinian think about all this mess
    http://www.huffingtonpost.com/daoud-kuttab/keeping-civilians-away-fr_b_162482.html


  133. pada Januari 31, 2009 pada 8:13 am oddworld

    Di lain pihak bagaimana kalau kita mulai bicara tentang Darfur, it has cost 100.000 human life ,some moslem life if it matters. Where is the protest ?


  134. pada Januari 31, 2009 pada 12:21 pm Catshade

    @oddworld:

    Di Darfur itu ada Yahudinya nggak? :roll:


  135. pada Januari 31, 2009 pada 1:36 pm Ando-kun

    @Catshade
    Yang pasti walaupun di Darfur nggak kayak arab kering minyak, tapi kabarnya tambang intan nya bejibun. Amerika nggak bakalan mau ngelewatin kesempatan ini koq.


  136. pada Januari 31, 2009 pada 3:51 pm sora9n

    @ dust

    Sebelum menanggapi…

    Saya kopikan dulu garis besar stance saya. Ini sudah saya tulis dalam salah satu komentar di atas.

    Pertama, walaupun saya antipati pada konfliknya, masalah kemanusiaan tetap jadi concern saya. Indiferensi saya pada konflik Palestina-Israel bukan berarti saya tidak peduli pada korban sipil yang jatuh — melainkan sekadar penolakan untuk mendukung salah satu pihak.

    Kedua, bicara konflik kemanusiaan, selalu ada upaya misinformasi dan disinformasi. Apa yang disampaikan pada media, dan dicatat sejarah, belum tentu sesuai dengan fakta lapangan. Who are we to judge based on such news? Dengan pertimbangan tersebut, maka bersikap netral adalah pendekatan yang viable untuk saya.

    (analogi: tetangga saya dan istrinya bertengkar, sementara saya menilai dari gosip RT-RW. truthiness in question)

    Lalu, menjawab komentar Anda:

    sora, anda menyatakan dosa hamas tak menjadi alasan kita membela palestina.
    padahal, pertanyaan yang disodorkan adalah: “perlukah mendukung palestina?”

    Saya tanya kalau begitu: adakah kalimat saya yang menyatakan “tidak perlu mendukung rakyat Palestina” ? Dari semua tulisan di atas?

    Tidak. Saya selalu menyebut “tidak mendukung HAMAS”, tapi tidak pernah “tidak mendukung Palestina”. ;)

    Ada yang selip di sini. Anda menyimpulkan bahwa “saya tidak mendukung HAMAS” maka “saya tidak mendukung Palestina”. Saya tidak pernah bilang begitu. Sudah berulangkali saya tulis: yang saya pihaki adalah kemanusiaan. Kalau Anda bertanya sejak awal pada saya: “apakah Anda berpihak pada rakyat Palestina?” Maka jawabannya adalah “Ya”.

    Tapi bukan dengan cara HAMAS. Perjuangan mereka salah dari awal. Dengan menyakiti rakyat sipil sebagai “balas dendam”, mereka membuat keadaan jadi lebih rumit.

    inilah logika awal anda yang imho KELIRU dari sisi silogisme, dipamerkan
    sejak awal menulis posting (dari sisi judul –> Studi kasus Palestina-Israel),
    hingga kesimpulan (Sebab yang terpengaruh bukan hanya Israel dan HAMAS saja,—
    melainkan juga para pendukung mereka di berbagai belahan dunia).

    lho studi kasusnya israel VS palestina kok bisa jadi israel VS hamas?? apa
    menurut anda para pendukung palestina di seluruh dunia itu pasti juga
    pendukung HAMAS? oh, come on.. falasi apa ini? (coba anda jelaskan..). :D

    Saya jawab dalam dua bagian (lagi):

     
    Pertama: Soal “Palestina-Israel” menjadi “HAMAS-Israel”.

    Itu bukan fallacy. Namanya pars prototo… di pelajaran bahasa Indonesia SMP juga sudah ada. Intinya “menyebut sebagian mewakili keseluruhan”.

    Dalam kasus ini, saya pick HAMAS sebagai contoh dalam diskusi. Kenapa? Karena mereka adalah faksi terbesar di Palestina. Mayoritas. Bahkan sempat menang pemilu. :mrgreen: Alhasil, cukup legitimate jika saya mem-pars prototo-kan HAMAS sebagai “Palestina”.

    Tentu, ini agak overgeneralisasi. Saya mengakuinya. Tapi, mengingat perjuangan mereka yang diliput besar-besaran, kemenangan pemilu mereka, dan dukungan rakyat… tentunya wajar jika menisbatkan “Perjuangan Palestina” pada mereka. Bukan begitu? ;)

     
    Kedua: Pertanyaan “menurut anda para pendukung palestina di seluruh dunia itu pasti juga pendukung HAMAS?”

    Aha… Anda salah paham. :lol:

    Mari tinjau ulang kalimat saya:

    Judul: Studi Kasus Palestina-Israel

    Jadi, mari kita bersama-sama menonton jalannya perang yang aneh ini. Sebab yang terpengaruh bukan hanya Israel dan HAMAS saja — melainkan juga para pendukung mereka di berbagai belahan dunia.

    Bandingkan dengan:

    Judul: Studi Kasus Inggris-Italia

    Jadi, mari kita bersama-sama menonton jalannya pertandingan Liga Champions minggu ini. Sebab yang terpengaruh bukan hanya Arsenal dan AC Milan saja — melainkan juga para pendukung mereka di berbagai belahan dunia.

    Apakah itu berarti pendukung timnas Inggris, di seluruh dunia, membela Arsenal? Ya enggak. Lha wong tim lain juga banyak. :mrgreen:

    Kembali ke topik: Apakah kalimat saya berarti “pendukung Palestina di seluruh dunia pasti pendukung HAMAS?” Ya enggak. Ada yang pro-Fatah, PLO, atau malah pro dengan alasan kemanusiaan semata. Seperti sudah saya bilang, penyebutan HAMAS di situ adalah pars prototo saja. :)

    kali ini, tolong jawab tanpa seret-seret HAMAS dan memamerkan falasi
    TWO WRONGS DON”T MAKE blabla.. jawab aja, apa teks soal tanah perjanjian
    itu (yang membuat israel menyerobot palestina) memberi hak bagi mereka
    memenjara (memblokade) penduduk palestina?

    Tidak. :)

    Bung, kalau Anda mengikuti saran saya, dan BACA semua komentar dan tanggapan saya, terutama untuk mas alex di atas… pertanyaan ini nggak bakal Anda keluarkan. :lol:

    Sudah jelas dari awal saya bilang: satu-satunya yang saya pihaki di sini adalah kemanusiaan. Lain tidak. Anda terjebak dalam pikiran, bahwa karena saya mengkritik HAMAS, maka saya tidak pro-Palestina. Salah. Saya pro pada perjuangan rakyat Palestina, tapi tidak pada HAMAS. Cara mereka salah dari awal.

    jadi, tolong anda cabut tuduhan anda bahwa saya menuduh anda PRO-
    ANEKSASI israel, dan cabut tuduhan anda bahwa saya memamerkan FALSE
    DILEMMA.

    Mohon maaf, kemarin saya bacanya sambil agak lieur. Kelihatannya ada salah tangkap di sisi saya. :-?

    Saya tarik kembali kalau begitu. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

    lalu, jawablah dengan lugas: “bolehkah dayak mengusir dan membunuhi
    madura di sampit, dengan modal basis logika israel pada palestina?”

    Seperti sudah saya utarakan berkali-kali: jawabannya “tidak” dan “tidak”. Kenapa? Karena alasan kemanusiaan. Selanjutnya, saya rasa bisa Anda elaborasi sendiri.

    oh, iya yah. OK, saya sempurnakan. baca ya:

    [...]

    udah pas sekarang??

    Dengan asumsi si “istri pendatang” itu sipil Israel? Oke… kelihatannya cukup tepat.

    Cuma, ada satu hal yang Anda harus perhatikan. Tindakan melempar batu tanah liat itu tidak membawa keuntungan apa-apa. Dengan melempar batu tanah liat, Anda membuka kesempatan si pencaplok rumah untuk berdalih: “lihat, keluarga saya ditimpuk! saya jadi korban!”

    Pada akhirnya, justru dia seolah “mendapat angin” untuk membalas. Dengan *merasa* jadi korban, dia merasa berhak melempari Anda dengan batu berfosfor dan sebagainya. Masalah Anda jadi berlipat: bukan saja dipaksa menginap di kandang kambing, kini pun Anda dilempari kerikil dan fosfor.

    Saya tidak hendak menilai apakah tindakan melempar tanah liat itu benar atau salah. Tetapi, kalau dipandang dari segi untung-rugi, begitulah jadinya.

    Saya tidak memihak si pencaplok rumah, sebab kesalahan utama pada mereka. Saya bersimpati pada keluarga yang digusur ke kandang kambing — tapi, seperti halnya dengan HAMAS, cara perjuangan mereka tidak menyelesaikan persoalan.

    lalu, pertanyaan saya pertama: “palestina saat ini menjadi SATU-
    SATUNYA bangsa yang masih berjuang melawan aneksasi (selama 60-an
    tahun). gimana pendapat anda, perlukah didukung?”

    anda tak berani menjawab tegas, namun ngeles dengan menyodorkan
    dua pendapat yang dipakai pihak israel dan palestina. anda bilang:
    “pendapat israel mereka awalnya memiliki Tanah Terjanji di Palestina.
    Meskipun begitu kemudian mereka tergusur secara paksa (oleh pasukan
    Romawi). Romawi terus berkuasa di tanah tersebut, dan menamainya
    “Palestina”.”

    Saya tekankan dulu…

    Saya bukannya tidak berani menjawab tegas. Masalahnya: saya memang tidak punya stance mendukung siapapun. Kasus Israel-Palestina ini begitu rumit dan convoluted sedemikian hingga saya tak tertarik mengurusinya. Ditambah lagi mental para “pemain”-nya yang tak pernah belajar dari masa lalu. Singkat kata: saya memang tak mendukung siapapun. Kecuali rakyat dan korban kemanusiaan, tentu.

    Saya memberi Anda argumen kedua pihak, untuk Anda pertimbangkan sendiri yang mana yang harus Anda dukung. Arab punya argumen, Yahudi punya argumen. Saya tak peduli. That’s their problem, not mine.

    sebentar.. anda bilang argumen macam ini (soal tanah terjanji)
    merupakan BENTUK FALASI. lalu ngapain anda membawakannya pada saya??
    anda ini benar-benar pamer CONTRADICTIO IN TERMINIS.

    Baca lagi tanggapan saya di atas. Saya memberikannya untuk Anda pertimbangkan: “ini lho, argumen kedua belah pihak”. Bukan berarti saya mengamininya. :lol:

    Ibaratnya guru matematika memberi soal pilihan ganda. Pasti ada yang benar dan ada yang salah. Apakah guru matematika jadi CONTRADICTIO IN TERMINIS? Jelas tidak. Lha wong dia cuma memaparkan. :lol:

    Soal apakah Israel berhak menduduki Palestina atau tidak, seperti yang sudah saya tekankan dari awal, bukan urusan saya. Satu-satunya concern saya adalah kemanusiaan. Bagaimana penyelesaian konflik Palestina-Israel… biarlah mereka sendiri yang mengurusnya. :)

    ngawur banget anda ini. emangnya gerilyawan kita dulu itu gak punya
    nama?
    hey, nama mereka adalah BKR, TKR, lalu jadi TNI. agen pelobi
    mereka adalah sukarno, hatta, dll. sebelum itu, mereka juga sudah
    muncul dengan nama SI dan PKI. sneevliet, tokoh komintern kelas
    wahid se-Asia jadi pemimpinnya.

    jadi gerilyawan kita tak bisa disamakan? think again..

    Anda ini benar-benar lupa pelajaran Bahasa Indonesia, atau bagaimana? Tadi pars prototo nggak ingat, sekarang ini. :lol:

    Itu namanya kiasan, bung. Tentu BKR, TKR, dan TNI punya “nama”, tapi bukan “nama” dalam sense seperti HAMAS. TKR dan kawan-kawan tidak dipandang Belanda seperti HAMAS dipandang Israel. TKR tak punya nama di dunia internasional. In that sense, they’re different.

    BTW, Anda ini tidak konsisten. Tadinya ngomong gerilyawan, kok mendadak jadi bawa-bawa PKI. Kalau PKI, ya, punya akses ke Komintern. SI punya massa Islam. Tapi yang saya tangkap, kita ini sedang membicarakan gerilyawan masa pra-Pergerakan Nasional. :-?

    (CMIIW)

    lha terus gimana?? anda mau kita membahas pembenaran aneksasi israel
    itu berdasarkan sejarah 1.000 SM? weleh.. weleh.. bukannya itu malah
    bentuk argumentum ad antiquitatem. gimana sih? :D

    Oh tidak… Anda salah. :lol:

    Esensi dari ad antiquitatem adalah: “karena tradisi, maka benar”. Misalnya:

    “Karena Vatikan sudah bertahan dua milenium, pastilah Katolik ajaran yang benar. Sudah teruji oleh waktu.”

    “Tuhan memberikan Tanah Terjanji pada kaum Yahudi. Ini tercatat dalam kitab suci selama ribuan tahun, jadi tak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.”

    Yang di atas ITU yang namanya argumentum ad antiquitatem. :mrgreen:

    Kalau menimbang perkara sejarah dengan obyektif, dan menarik kesimpulan darinya, itu bukan ad antiquitatem. Yang saya sarankan adalah: pelajari sejarah secara menyeluruh. Pertimbangkan semua aspek, dan tarik kesimpulan dari situ. Yang saya lihat Anda cuma terpaku pada “60 tahun terakhir” saja.

    Jadi, bukannya saya mengamini ad antiquitatem. Coba dipikir lagi. ;)

    lha kalo ngomong kaya gitu, boleh dong orang china di indonesia diusir
    karena ini adalah tanah warisan bangsa pribumi (jawa, sunda, dll).
    gitu??? sic.. ga harus paham teori falasi untuk jawab: TIDAK!

    Kalau Anda tak mengerti fallacy, jawabannya “tidak”. Tapi, kalau Anda mengerti fallacy, jawabannya juga “tidak”. :)

    Jadi, ilmu logika dan pendapat Anda sejalan. Bukan begitu? :D

    satu lagi, sora. inkonsistensi anda memuakkan.

    Bagian mana yang inkonsisten? Coba dirundingkan lagi; mungkin kita sekadar mispersepsi saja. :)


  137. pada Januari 31, 2009 pada 3:53 pm sora9n

    @ Abu Geddoe | GM | baja hitam

    Duh, jangan nyampah dong… ^^;;

    :::::

    @ Ando-kun (1)

    Yang ini nggak usah saya tanggapin ya, soalnya isinya buat orang lain. :P

    :::::

    @ Catshade (1)

    Dan dengan pemerintahan Palestina yang retak seperti sekarang, sulit menyebut siapa yang menjadi yang berhak menyandang status otoritas resmi Palestina.

    Tapi, IMHO, orang harus ingat bahwa HAMAS punya dukungan rakyat yang besar. Dan lagi mereka menang pemilu. Nama di dunia internasional juga lebih berkibar dibanding, katakanlah, Fatah. (kalau PLO, sejak Yasser Arafat meninggal jadi kurang terdengar :-? )

    Memang agak generalisasi dengan menyatakan bahwa “Perjuangan Palestina” identik dengan “Perjuangan HAMAS”. Tapi saham terbesar perjuangan Palestina, suka atau tidak, di tahun 2008-2009 ini adanya di tangan HAMAS. (o_0)”\

    Dan sekedar menambahkan dua sen saya: Kedua pihak harus mau berkompromi dan ‘rela melepaskan sesuatu’ kalau mau perang ini berakhir dengan damai. That’s the way of politics and diplomacy. Mencoba memplot masa depan berdasar masa lalu (pra-1967, pra-1948, pra-1920an, dan yang lebih kuno lagi) selama ini terbukti tidak pernah berhasil. Both sides have to accept the present reality of the opposing side’s conditions.

    Yup, yup. =3

    :::::

    @ oddworld

    Wah, makasih link-nya. ^^

    *segera meluncur*

    Di lain pihak bagaimana kalau kita mulai bicara tentang Darfur, it has cost 100.000 human life ,some moslem life if it matters. Where is the protest ?

    Chechnya dan Kosovo juga jarang kedengeran, tuh. Kenapa ya? :-?

    :::::

    @ Catshade (2)

    Hus, dilarang menyinggung SARA! :mrgreen:

    :::::

    @ Ando-kun (2)

    Mungkin tinggal tunggu waktu? :P

    [/sarcasm]


  138. pada Januari 31, 2009 pada 4:45 pm Ando-kun

    Jadi, mari kita bersama-sama menonton jalannya pertandingan Liga Champions minggu ini. Sebab yang terpengaruh bukan hanya Arsenal dan AC Milan saja — melainkan juga para pendukung mereka di berbagai belahan dunia.

    Iklan apaan tuh? lagi2 bandwagon fallacy, mentang2 Arsenal mania. Pelor the gunners udah habis, gudang mesiunya lagi direparasi.

    Lagian kalau mau mengikuti isu terbaru, lawan Arsenal tuh serigala Italia, AS Roma. Arsenal bakalan kewalahan karena nggak punya peluru perak, bakalan dicabik-cabik werewolf dari kota Roma.

    @Sora
    Memangnya Chechnya dan Kosovo ada duitnya gitu?
    Ada duit ada bantuan donk (mengikuti prinsip demokrasi kapitalis gaya USA sewaktu membantu Kuwait)

    @Catshade

    HK dan Macau dikembalikan dengan penuh kemakmuran. :lol: …sayang kita ‘cuma’ dijajah Belanda. :?

    Sayang Belanda nggak mau bangun Casino diseluruh penjuru Indonesia kayak Macau yang makmur sbg kota judi :lol:
    Kasino Warkop mau?? :P

    *Api makin berkobar, “bantuin ngipasin dooonngggg!”*


  139. pada Februari 1, 2009 pada 12:24 am gentole

    @dust

    satu lagi, sora. inkonsistensi anda memuakkan.

    Waduh. Sabar, Mas. Coba lebih tenang diskusinya.

    *dejavu*

    Tapi, mas, asli, selama setahun saya berseliweran di blogosfer, saya berani bilang Mas Sora ini termasuk blogger yang selain ensiklopedik alur berpikirnya pun lurus bin istiqomah. Orangnya setia sama logika. Ini komentar saya saja. Saya tidak bermaksud membuat Anda mengamini pendapat lawan diskusi Anda.

    Nah, izinkan saya berpendapat lagi. :mrgreen:

    Saya kira persoalannya terletak pada kehendak banyak orang, termasuk pemerintah Israel dan pembela Hamas, untuk menjustifikasi kekerasan/kejahatan yang dilakukan kedua belah pihak. Kejahatan adalah kejahatan apapun dalilnya. Logika tidak bisa dijadikan alasan untuk “menjadikan benar” sebuah perbuatan yang secara etis dianggap salah atau benar. Apabila standarnya logika, maka tidak ada kejahatan tanpa “alasan”. Dengan kata lain, apabila semua kejahatan dicobajelaskan “alasannya”, maka tidak ada orang yang bersalah dan layak dihukum di muka bumi ini kecuali Allah, mungkin, atau gerak alam semesta. Israel punya seribu alasan untuk bersikap agresif dan mengklaim tanah Palestina milik mereka, dan bangsa Palestina (terutama Hamas) juga tidak kalah merasa berhak untuk menggunakan kekerasan dan berpikir bahwa pemerintahan Israel harus dilenyapkan. Lingkaran setan ini tidak ada ujungnya!

    Kutukan yang dilontarkan dunia terhadap Israel dan Hamas atas kematian korban sipil itu murni disandarkan pada akal sehat atau nilai-nilai yang berlaku umum pada zaman ini (jiwa zaman berbasis humanisme modern dan kitab suci). Pemihakan Sora terhadap kemanusiaan pun saya kira tidak lepas dari penilaian etis yang dia anut, yang bisa jadi tidak melulu terkait dengan logika, tetapi lebih kepada rasa kemanusiaan yang dia miliki [meskipun saya mengerti Mas Sora mengaku sebagai seorang utilitarian/pragmatis].

    Jadi, inti pendapat saya adalah, apa yang benar secara logis itu tidak selalu terkait dengan apa yang benar secara etis. Logika itu bebas nilai, ia tidak memiliki tujuan apa-apa kecuali kesimpulan yang dilandasi oleh premis yang kokoh. Keberpihakan itu dilandasi oleh penilaian etis, bukan pemikiran logis. Dalam konteks etika atau sistem nilai itulah keberpihakan bisa diperbincangkan. Dan saya kira kita kudu sadar, keberpihakan — apapun landasannya, apakah itu sentimen kelompok atau penilaian subyektif — akan selalu bersifat “fallacious” dan bisa membuat alur berpikir kita bengkok. Apabila Mas Dust merasa perlu memihak Palestina atau Hamas karena Anda seorang Muslim say so, Anda tidak perlu mencari justifikasi logis kemana-mana, karena yang pro-Israel juga bisa memberikan sejuta alasan yang menurut mereka “logis”. Dalam kasus Israel-Palestina, yang secara historis, politis dan teologis, saya akui maha njlimet, debatnya virtually tidak berujung pangkal.

    Saya sih berpandangan bahwa setiap manusia layak dihormati. Jadi, apabila saya ditanya saya berpijak pada Israel atau Palestina dalam konflik di Timur Tengah, saya bisa bilang saya berpihak pada keduanya, karena keduanya manusia. Sementara itu, juga berdasarkan sistem nilai yang saya anut, saya pun tegas berpendapat bahwa kejahatan di Timur Tengah kudu dihentikan, siapapun pelakunya, dan apapun motif dan alasannya! Yahudi atau Arab-Muslim, jelata atau pejabat, tidak pandang bulu!


  140. pada Februari 1, 2009 pada 2:00 am Ando-kun

    Postinganku……… :cry:
    Postinganku hilang……….. :cry:


  141. pada Februari 1, 2009 pada 12:00 pm joesatch yang legendaris

    ada yang main makian…
    hahahaha! seru-seru….

    @ dust

    teruskan, brother. nanti kalo sora sudah menyerah, berarti sudah waktunya saya ambil bagian menggantikannya :D

    selalu ada level yang harus sampeyan selesaikan sebelum berhadapan dengan final-boss, kan? :mrgreen:

    @ Abu Geddoe

    alkhamdulillah…saya bawa tiker dan pop-corn sendiri
    *nggaglak pop-corn*


  142. pada Februari 1, 2009 pada 2:42 pm sora9n

    @ Ando-kun

    Sori, komentarnya terjaring akismet. Baru sempat saya lepaskan. ^^;

    Iklan apaan tuh? lagi2 bandwagon fallacy, mentang2 Arsenal mania. Pelor the gunners udah habis, gudang mesiunya lagi direparasi.

    Itu kan cuma contoh. Kalau saya tulis Persib Bandung, Anda bisa apa? Hayo… Hayo… :cool:

    BTW, Arsenal baru produksi peluru baru, lho. Banyak banget. Jago-jago, lagi. :mrgreen: Namanya Vela, Wilshere, Bendtner, dan Denilson

    Lagian kalau mau mengikuti isu terbaru, lawan Arsenal tuh serigala Italia, AS Roma. Arsenal bakalan kewalahan karena nggak punya peluru perak, bakalan dicabik-cabik werewolf dari kota Roma.

    Mana bisa? Meriamnya kan terbuat dari logam! :twisted:

    [/gakJelas]

    :::::

    @ gentole

    Waduh. Sabar, Mas. Coba lebih tenang diskusinya.

    *dejavu*

    *langsung ngakak* =))

    Benar, saya jadi ingat sama diskusi yang dulu. Dan waktu menanggapi mas “wandy” di blognya Geddoe juga.

    Orang gampang menuduh lawan bicaranya “inkonsisten”, padahal boleh jadi dia yang salah paham. Rasanya, bertahun-tahun ngomongin theistic evolution dan agnostisisme, saya jadi terbiasa sama yang begini. ^^;

    [/curhat]

    Israel punya seribu alasan untuk bersikap agresif dan mengklaim tanah Palestina milik mereka, dan bangsa Palestina (terutama Hamas) juga tidak kalah merasa berhak untuk menggunakan kekerasan dan berpikir bahwa pemerintahan Israel harus dilenyapkan. Lingkaran setan ini tidak ada ujungnya!

    Yup, itu dia. Yang saya lihat, mas dust di atas cenderung ingin menjustifikasi tindakan rakyat Palestina “melempar batu tanah liat” (koreksi jika salah). Ini yang dari awal ingin saya kritisi.

    Mau pakai analogi “Belanda-gerilyawan” atau “rumah dan kandang kambing”, balas dendam tidak menyelesaikan masalah.

    Pemihakan Sora terhadap kemanusiaan pun saya kira tidak lepas dari penilaian etis yang dia anut, yang bisa jadi tidak melulu terkait dengan logika, tetapi lebih kepada rasa kemanusiaan yang dia miliki [meskipun saya mengerti Mas Sora mengaku sebagai seorang utilitarian/pragmatis].

    Eh… sebenarnya saya bukannya murni utilitarian/pragmatis, melainkan semi-utilitarian. ^^;; Tapi yah, dibahasnya lain waktu saja. Soalnya ntar jadi OOT. :P

    BTW, kalau dipandang secara utilitarian, sebenarnya banyak ruginya kalau orang tidak berpihak pada kemanusiaan. Pertama, seperti masbro bilang: lingkaran setan. Kedua, banyak orang menderita/tidak bahagia. Dan ketiga — seperti yang saya bilang ke mas alex — ini berpotensi jadi perang besar. Sebab yang dibawa adalah sentimen agama, yang notabene pengaruhnya sangat luas.

    Jadi, inti pendapat saya adalah, apa yang benar secara logis itu tidak selalu terkait dengan apa yang benar secara etis.

    Tapi dia berfungsi membimbing. Sistem etika yang bagaimanapun, sulit dipertanggungjawabkan kalau tidak bersifat logis dan koheren. ;)

    Logika itu bebas nilai, ia tidak memiliki tujuan apa-apa kecuali kesimpulan yang dilandasi oleh premis yang kokoh.

    Yup, seperti isi komentar saya untuk mas det.

    :::::

    @ joesatch yang legendaris

    teruskan, brother. nanti kalo sora sudah menyerah, berarti sudah waktunya saya ambil bagian menggantikannya :D

    selalu ada level yang harus sampeyan selesaikan sebelum berhadapan dengan final-boss, kan? :mrgreen:

    Tapi seringnya sih, bos nggak lebih jago berantem daripada centengnya. Beneran lho. :-?

    Lha, kalo iya, ngapain dia punya bodyguard?


  143. pada Februari 1, 2009 pada 3:06 pm Abu Geddoe

    BTW sebenarnya yang diributkan itu apa? Kalau saya baca-baca, rasanya baik Sora maupun Dust mengecam Israel dan HAMAS, dan “berpihak kepada kemanusiaan”. :?

    Tapi seringnya sih, bos nggak lebih jago berantem daripada centengnya. Beneran lho. :?

    Lha, kalo iya, ngapain dia punya bodyguard?

    Naif sekali Anda ini. :lol:


  144. pada Februari 1, 2009 pada 3:46 pm sora9n

    ^

    BTW sebenarnya yang diributkan itu apa? Kalau saya baca-baca, rasanya baik Sora maupun Dust mengecam Israel dan HAMAS, dan “berpihak kepada kemanusiaan”. :?

    Yang saya tangkap: Beliau (mas dust) mengira saya tidak pro-rakyat Palestina, karena mengkritisi teknik perjuangan mereka. Misalnya di ilustrasi “penjara kandang kambing” yang beliau ketengahkan. Terlihat bahwa beliau ingin menjustifikasi tindakan rakyat Palestina “melempar batu tanah liat” karena mereka diperlakukan semena-mena.

    Which is HAMAS-like. Sehingga beliau memandang saya tidak pro perjuangan Palestina. Padahal yang saya kritik adalah caranya.

    Seolah beliau ingin menunjukkan rakyat Palestina berhak melempar batu, karena diperlakukan tidak adil. Amarah dan frustrasi menumpuk. I beg to differ. Seperti reply saya untuk mas Gentole: kekerasan yang tidak pada tempatnya tidak menyelesaikan masalah. ;)

    * * *

    BTW, ini mengingatkan saya pada dialog di berbagai drama perang dan anime. “Kalau kamu balas menyakiti mereka seperti itu — apa bedanya kamu dengan mereka?” :P

    Naif sekali Anda ini. :lol:

    Ah, itu kan di tipi-tipi™. :mrgreen:


  145. pada Februari 1, 2009 pada 10:34 pm Ando-kun

    BTW, ini mengingatkan saya pada dialog di berbagai drama perang dan anime. “Kalau kamu balas menyakiti mereka seperti itu — apa bedanya kamu dengan mereka?” :P

    Jangan lupa ada pula dialog dalam drama dan anime, keinginan dan harapan untuk menghancurkan musuh pula yang menyebabkan orang2 punya harapan untuk hidup :mrgreen:
    Daripada hidup terhina, lebih baik mati mulia, atau lebih baik mati sbg singa daripada hidup seperti anjing (atau banyak variasi motto yang artinya sama)

    Orang gampang menuduh lawan bicaranya “inkonsisten”, padahal boleh jadi dia yang salah paham. Rasanya, bertahun-tahun ngomongin theistic evolution dan agnostisisme, saya jadi terbiasa sama yang begini. ^^

    Terbiasa untuk inkonsisten atau terbiasa menuduh lawan bicara “inkonsisten”?? :P


  146. pada Februari 2, 2009 pada 5:13 pm sora9n

    @ Ando-kun

    Jangan lupa ada pula dialog dalam drama dan anime, keinginan dan harapan untuk menghancurkan musuh pula yang menyebabkan orang2 punya harapan untuk hidup :mrgreen:

    Jadi ingat tempo hari dapat link (dari blognya mas Jensen): “Can the Jewish People Survive Without an Enemy?”

    Deja vu… ^^;

    Terbiasa untuk inkonsisten atau terbiasa menuduh lawan bicara “inkonsisten”?? :P

    Terbiasa dituduh inkonsisten. :mrgreen:


  147. pada Februari 2, 2009 pada 9:32 pm Ando-kun

    Jadi ingat tempo hari dapat link (dari blognya mas Jensen): “Can the Jewish People Survive Without an Enemy?”

    Weleh, aku malah teringat sama film Dark Knight, deja vu sama kata2 The Joker.

    “Kill you? I don’t want to kill you! What would I do without you?”

    Kalau Batman mati, kayaknya the joker bakalan bunuh diri. Hidup tanpa musuh sepadan bagaikan hidup tiada arti.


  148. pada Februari 2, 2009 pada 10:28 pm dust

    dear penonton,

    saya akan serang argumen sora dari the very basic.
    silakan gelaran kasur, minum coke, komentar, whateva..
    tapi saya hanya komentari posting yang bermutu milik sora
    dan paling gak mutu (milik.. siapapun itu) :D

    SORA bawa analogi: “tetangga saya dan istrinya
    bertengkar, sementara saya menilai dari gosip RT-RW”

    apakah analogi itu tepat untuk kasus palestina VS israel?
    tidak. analogi sora itu tepat untuk hamas VS fatah (konflik internal dalam sebuah negara). OK??

    lalu apa analogi yang lebih tepat untuk israel? ya yang
    sudah saya kasih di atas tentang tamu yang ngusir dan
    memenjara pemilik rumah ke kandang kambing.

    betul bukan, sora?? bisa anda definisikan kesalahan
    analogi anda ini termasuk di falasi mana?? :p

    ***

    SORA: “adakah kalimat saya yang menyatakan “tidak perlu
    mendukung rakyat Palestina”? Dari semua tulisan di atas?
    Tidak. Saya selalu menyebut “tidak mendukung HAMAS”,
    tapi tidak pernah “tidak mendukung Palestina”.”

    nah.. sekarang (terutama bagi pemuja sora) silahkan
    anda liat bukti inkonsistensi pujaan anda ini. cek
    di posting SORA.

    he said (kalo nggak dia edit): “Saya pribadi tidak
    mendukung siapa-siapa,”

    see?? apa artinya itu? apakah itu berarti dia mendukung
    rakyat palestina (seperti yang disinggung di judul, tapi
    pembahasannya malah berulang kali menohok palestina
    sebagai hamas an sich??)

    denotatively, TIDAK. sora tidak mendukung siapapun (TAK
    MENDUKUNG palestina, pun TIDAK mendukung israel). lalu,
    kenapa sekarang tiba-tiba dia jadi tidak ‘tak mendukung
    rakyat palestina’?

    retorika sora canggih. tapi as usual, justru menempatkan
    kaum teoritis macam dia ke titik INKONSISTENSI seperti
    ini: “saya memihak kemanusiaan, jadi saya tak memihak
    palestina maupun israel. di bagian mana saya bilang tak
    memihak rakyat palestina? enak aja. saya memihak rakyat
    palestina, tahu?”

    ibaratnya begini: “sora tak mendukung primata nor reptil.
    sora tak mendukung gorila. tapi, sora mendukung primata.
    lalu, bolehkah sora memaparkan kejelekan gorila saja
    ketika merepresentasikan kelebihan primata versus reptil?

    inilah bahaya overgeneralisasi dalam posting ini. sora tak
    mendukung gorila (hamas). OK! tapi, sora mendukung primata (rakyat palestina). dan rakyat palestina (primata)
    inilah yang merupakan bagian dari kelompok yang sedang
    kita fit & proper test versus reptil (israel).

    lalu, kenapa sora hanya memakai hamas sebagai
    representasi dari palestina? apakah rakyat palestina suka
    ngirim roket? realitas fatah dan PLO dikemanain?

    yup, mereka berbeda, tapi dalam satu entitas. the entity
    (yang berisi hamas, fatah, dan PLO) adalah: mereka
    semua bagian dari bangsa palestina, YANG DIUSIR dan
    kemudian DIBLOKADE di jalur gaza.

    fakta mendasar inilah yang DIKESAMPINGKAN SORA. dia
    asyik bicara apa yang ada di permukaan laut, tapi tak mau
    tahu ada apa di dasarnya.

    lalu, kenapa dia mengritik saya yang memandang konflik
    ini dalam ruas SETENGAH ABAD (awal kehadiran zionisme yang merusak perdamaian tiga agama di yerusalem
    (palestina)?

    sedangkan, dia sendiri menilai palestina dalam konteks
    pemahaman yang hanya beberapa tahun terakhir (when
    hamas rules).

    inkonsistensi LAGI, bukan??

    ***

    jika sora bermaksud bilang gini: “Saya pro pada
    perjuangan rakyat Palestina, tapi tidak pada HAMAS. Cara
    mereka salah dari awal.”

    maka, tolong sora ubah judul posting itu. ini kali, konflik
    bukan antara palestina dan israel an sich, bung..
    melainkan hamas dan israel. itulah salah satu alasan
    mengapa mesir terkesan membiarkan.

    sora says: “Tindakan melempar batu tanah liat itu tidak
    membawa keuntungan apa-apa. Dengan melempar batu
    tanah liat, Anda membuka kesempatan si pencaplok rumah
    untuk berdalih: “lihat, keluarga saya ditimpuk! saya jadi
    korban!”

    betul.. anda betul.. tindakan hamas itu merugikan
    palestina. namun, realitas perjuangan damai melalui
    PLO-nya yasser arafat pun tak lebih menguntungkan,
    selain terus menyempitnya wilayah palestina.

    sebagai orang yang di luar palestina, solusi saya adalah:
    hapus negara israel (pangkal dan bibit persoalan konflik)
    yang mengusir warga arab di sana. kembalikan negara itu
    sebagai negara yang damai untuk tiga umat, dan seluruh
    manusia.

    bangun pemukiman yahudi, sama seperti membangun
    KEMBALI pemukiman milik warga arab palestina yang
    terusir di gaza. the rest, let the al conflict politic begins..
    tak perlu ada bom, tak perlu ada korban jiwa.

    ***

    sora: “Baca lagi tanggapan saya di atas. Saya
    memberikannya untuk Anda pertimbangkan: “ini lho,
    argumen kedua belah pihak”. Bukan berarti saya
    mengamininya.”

    hey, man. jika menurut anda argumen itu sudah salah dari
    sisi falasi, mengapa anda sodorkan pada saya. U KNOW it’s
    FUCKIN WORNG!

    analogi posisi anda saat ini bukanlah guru matematika
    yang memberi pilihan ganda (berisi satu opsi benar, opsi
    lain salah) dalam konteks TEORI or.. let’s say.. UTOPIS.

    analogi yang tepat adalah dokter: “silahkan anda pilih KB
    dengan vasektomi atau kondom”. tak mungkin dokter
    bilang: “anda mo pilih mana? rumit nih. mereka bilang
    vasektomi bisa dipilih, tapi jajan ke PSK juga bisa jadi
    solusi andal mengendalikan kelahiran”

    yuuuukk.. lagi-lagi INKONSISTENSI kesahihan berpikir a la
    sora terulang.

    ***

    SORA: “TKR dan kawan-kawan tidak dipandang Belanda
    seperti HAMAS dipandang Israel. TKR tak punya nama di
    dunia internasional.”

    hohoho.. coba baca sejarah. kenapa serangan umum 1
    maret dilancarkan ketika tim perunding masih ada di
    indon?? sultan jogja berpikir: tudingan bahwa TNI sudah
    tidak ada lagi, seperti dilancarkan belanda, harus dihapus!

    artinya apa? TNI dipandang sebagai manifestasi dari
    pejuang bersenjata RI, yang masih ada, masih membela
    NKRI. ada koordinasi antara kepala negara (presiden
    sukarno) dengan pasukannya di lapangan.

    ya, ini bukan soal falasi sih, tapi pemahaman sejarah..
    kalau sora ga jeli, saya mafhum.. buktinya, dia ga ngerti
    kalo massa PKI-lah yang memberontak pada 1927,
    merekalah yang bergerilya kala itu mengebom fasilitas
    milik penjajah.

    eh, jangan-jangan sora mo bilang: “atas nama
    kemanusiaan, saya tak memihak TNI or massa PKI yang
    ngebom fasilitas umum milik belanda macam rel kereta.” :)

    sora juga ga ngerti bahwa PRA pergerakan nasional
    ditutup dengan wafatnya Sisingamangaraja sekira 1913.
    jadi, kalo ngomong gerilyawan macam TNI (sebelumnya
    bernama BKR or TKR), termasuk juga PKI, maka kita bicara
    soal PERGERAKAN NASIONAL.

    paham, sora?

    ***

    sora: “Esensi dari ad antiquitatem adalah: “karena tradisi,
    maka benar”

    OK, u’re good in defining it. i’m along with u. tapi ketika
    anda kritik saya terpaku 60 tahun terakhir, gimana dengan
    kasus anda yang memandang konteks PALESTINA sebagai
    bangsa pelempar roket seperti terlihat dalam beberapa
    tahun terakhir?

    saya tidak bilang bahwa saya benar karena hanya menarik
    garis konflik dalam hitungan 60 tahun. konflik ini bukan
    persoalan “BERAPA LAMA garis sejarah ditarik”, tapi…

    sejak kapan ada bangsa palestina yang terusir dan
    melawan israel (sebagai entitas sebaliknya; pengusir)
    seperti sekarang?

    di situ persoalannya. zionisme, yang terlahir karena falasi
    argumentum ad antiqutatem menghancurkan kedamaian
    yerusalem, kedamaian yang telah tercipta dan diterima
    semua pihak (jews, moslem, and christian).

    JIKA anda bilang israel boleh mengusir palestina seperti
    pada 1948, maka tentu saja dayak punya pembenaran
    untuk usir madura, dan kita boleh usir etnis tiong hoa.

    tapi, tentu saja tidak demikian, bukan? jika tidak, maka
    negara israel harus dihapus.

    ***

    oh, ya.. buat yang merasa ga tolol, saya punya kuis:
    “kapan angkatan perang kita di zaman pergerakan
    nasional pernah memukul mundur tentara belanda?”.

    hihihi.. kita meraih kemerdekaan berkat perundingan
    para kaum diplomat, bukan lewat aksi militer memukul
    mundur pasukan belanda. aksi-aksi militer kita yang
    terjadi secara seporadis ga efektif mengusir belanda
    bukan?

    plz, deh..

    makanya saya masih heran dengan omongan ini: “karena
    para pejuang menang lawan belanda, jepang dan sekutu
    berdirilah negara Indonesia. Hal yang sama dengan
    Israel, Zionis menang perang lawan negara2 arab
    disekitar, berdirilah negara zionis Israel.”

    sangat bodoh. “kapan kita pernah menang perang lawan
    belanda, macam israel menang perang lawan koalisi arab
    dengan mengerahkan ratusan tank? yang ada adalah kita
    merah kemerdekaan melalui meja perundingan, bukan dari
    kekuatan militer.”

    kenapa? karena kekuatan militer kita emang kelas sten
    gun dan bambu runcing. sukarno cs tahu kita ga mungkin
    bisa mengusir belanda dengan kekuatan militer, makanya
    dipakailah meja perundingan.

    alias.. SEJARAH nation-building kita TIDAK SAMA dengan
    ISRAEL. hehehe.. yang tolol pasti ga menyadari ini.
    *trenyuh..*


  149. pada Februari 2, 2009 pada 11:42 pm Ando-kun

    Hehehe…. kayaknya komentar saya yang paling nggak mutu. Maklumlah, jabatannya aja tukang kipas-kipas alias level paling butut.

    maju terus, pantang mundur
    ketik terus, jangan tidur :mrgreen:

    *bikin kemah sekalian bikin api unggun (bakalan begadang nih)*


  150. pada Februari 3, 2009 pada 12:13 am Ando-kun

    dust menulis:

    makanya, saya heran dengan omongan ini: “karena para pejuang menang lawan belanda, jepang dan sekutu berdirilah negara Indonesia. Hal yang sama dengan Israel, Zionis menang perang lawan negara2 arab disekitar, berdirilah negara zionis Israel.”

    sangat bodoh. “kapan kita pernah menang perang lawan belanda?” yang ada adalah kita merebut kemerdekaan melalui perundingan, bukan dari bambu runcing dan sten gun.

    saya menulis:

    Apakah belanda salah jaman dulu mengobrak abrik rumah penduduk dan membakarnya demi mencari ekstrimis (pejuang dalam bahasa indonesia)? Ya mereka salah, penyebabnya karena Indonesia menang di meja perundingan sehingga negara Indonesia merdeka. Coba waktu berunding kalah dan belanda terus menjajah, tidak ada yg namanya pejuang, yang ada hanya ekstrimis.

    Masa anda nggak ngerti perumpamaan saya berdasarkan siapa yang menang adalah yang menuliskan standar sejarah, bukan perumpamaan berdirinya negara.
    Masa saya harus menjelaskan satu-persatu dgn noraknya demi otak anda yang lamban mengerti?

    Saya curiga, kalau anda bukan pandir pastilah si keras kepala tukang asal ngomong.

    lebih terenyuh, atau lebih tepatnya kaget. ternyata masih ada orang yang lebih tolol dari pada saya yang aiqiu jongkok kayak tukang kipas-kipas ini

    saya punya quiz buat yang nganggap lebih pintar dari saya yang tolol ini:
    “Apakah anda benar2 mengerti tulisan saya?????”

    Lao Tze berkata, “Kebijaksanaan dan idiot beda tipis laksana ujung pedang yang tajam”
    *ternyata ungkapan Lao Tze melewati batas waktu dan masa*


  151. pada Februari 3, 2009 pada 12:21 am Ando-kun

    Quiz buat orang pinter:
    なぜ馬鹿の言葉は馬の漢字を使っているの?
    Naze baka no kotoba ha uma no kanji wo tsukatteiru no?


  152. pada Februari 3, 2009 pada 9:16 am Rukia buru-buru

    *lirik semua komen*

    Yah makin seru, tapi saya gak bisa nonton ne :sad:
    mo ujian grafika komputer ma jaringan nirkabel :sad:
    tar abiz ujian balik lagi deh ;)

    *ditimpuk karena OOT*
    *kaburrr… ujian dah mulai*


  153. pada Februari 3, 2009 pada 12:03 pm Abu Geddoe

    @ dust

    Mas/Mbak Dust,

    Pertama, saya kok tidak mengerti sebenarnya apa yang hendak diperdebatkan. Rasanya pandangan Anda dan pandangan Mas Sora tak jauh berbeda. Mungkin saya bias, tapi kesannya Anda tak ingin mencari titik temu, dan bahkan tak ingin membicarakan Gaza, melainkan hanya menyerang pemilik blog. Kalau posisi Anda dan dia sudah serupa, apa yang mau dibicarakan lagi? Kalau sekadar menyerang orangnya walau sudah sepakat, maaf, kesannya terlalu kekanak-kanakan. Apalagi dihiasi dengan serangan-serangan ad hominem.

    Kedua, menyentil saja; Anda sedikit-sedikit pakai analogi. Gorila lah, reptil lah, kandang kambing lah, kerakal lah, batu berfosfor lah :lol: ; entah berapa lusin yang Anda sudah bawa. Ini buat saya lucu, sebab penggunaan analogi sangat tak dianjurkan dalam diskusi. Menurut kerabat saya yang orang Hukum, disclaimer “jangan pakai analogi” itu bahkan diulang-ulang di level akademis sampai membuat muak. Lha ini malah diobral.

    Salam.


  154. pada Februari 3, 2009 pada 12:20 pm Abu Geddoe

    Eh, saya bukannya menyatakan kalau cara diskusi saya sudah mengikuti segala kaidah dengan sempurna, lho. :P Saya juga pakai analogi di sana-sini, tapi itu jangan dijadikan teladan lah.


  155. pada Februari 3, 2009 pada 6:40 pm sora9n

    @ dust

    Sejujurnya, saya kok merasa, argumen Anda makin ke sini makin berantakan. Tujuan bukan lagi mencari titik temu, melainkan — yang saya lihat — untuk menjatuhkan posisi saya. Anda sudah bukan lagi orang yang berdebat dengan kepala, melainkan dengan emosi. Bahkan terkadang disertai ad hominem.

    Janganlah begitu. Orang berdiskusi supaya tambah paham dan tambah cerdas; bukannya untuk mencari siapa yang menang dan kalah. :D

    Sekarang akan saya tanggapi argumen-argumen Anda (beserta kesalahannya):

    apakah analogi itu tepat untuk kasus palestina VS israel?
    tidak. analogi sora itu tepat untuk hamas VS fatah (konflik internal dalam sebuah negara). OK??

    You miss the point. Analogi saya dan Anda memproyeksikan dua hal yang berbeda. Dengan analogi “kandang kambing”, Anda mengetengahkan “rakyat Palestina” sebagai bahasan. Dengan analogi “tetangga”, saya mengetengahkan “kesulitan meraih unbiased information“. Di situ salahnya Anda. ;)

    Analogi itu bagaikan proyeksi. Kalau sudut pandangnya diubah, isinya juga bakal berubah. Ini menunjukkan bahwa Anda sendiri belum paham dengan konsep di balik penggunaan analogi…

    betul bukan, sora?? bisa anda definisikan kesalahan
    analogi anda ini termasuk di falasi mana?? :p

    Lagi-lagi Anda sok tahu. Sedikit-sedikit menantang “bisa Anda tunjukkan ini falasi mana?” tapi konsepnya tidak paham. Fallacy juga Anda belum mengerti.

    Analogi bukan fallacy. Dia adalah proyeksi untuk menjelaskan suatu ide. Yang salah itu kalau orang terlalu berpatokan pada analogi, dan melupakan perkara aslinya.

    Sebagaimana Anda terlalu terpaku pada “kandang kambing” dan melupakan aslinya. Analogi tidak pernah bisa sempurna — pasti ada bedanya dibanding aslinya. Dan itu sangat tergantung pada aspek mana yang mau diketengahkan. :D

    anda liat bukti inkonsistensi pujaan anda ini. cek
    di posting SORA.

    he said (kalo nggak dia edit): “Saya pribadi tidak
    mendukung siapa-siapa,”

    see?? apa artinya itu? apakah itu berarti dia mendukung
    rakyat palestina (seperti yang disinggung di judul, tapi
    pembahasannya malah berulang kali menohok palestina
    sebagai hamas an sich??)

    denotatively, TIDAK. sora tidak mendukung siapapun (TAK
    MENDUKUNG palestina, pun TIDAK mendukung israel). lalu,
    kenapa sekarang tiba-tiba dia jadi tidak ‘tak mendukung
    rakyat palestina’?

    Di sini, Anda menunjukkan ketidakmengertian Anda. Sorry, but this is where you fall apart.

    Definisi saya:

    HAMAS => Otoritas Palestina (tidak saya dukung)
    Israel => Pemerintah Israel (tidak saya dukung)

    Kemanusiaan => Meliputi rakyat Palestina, Yahudi, sipil pada umumnya (saya dukung)

    Ergo: saya mendukung rakyat Palestina dan Yahudi, tetapi tidak mendukung otoritas Palestina (HAMAS) dan Israel.

    Anda berulangkali mencampuradukkan tiga pihak itu. Sudah saya bilang, saya berpihak pada kemanusiaan. Semua yang manusia saya bela, kecuali yang merendahkan nilai kemanusiaan. Yakni pemerintah Palestina (HAMAS) dan Israel.

    Sudah jelas sekarang? :mrgreen:

    Memalukan sekali Anda ini. Sudah ngotot, salah paham, gak ngerti pula. :P

    lalu, kenapa sora hanya memakai hamas sebagai
    representasi dari palestina? apakah rakyat palestina suka
    ngirim roket? realitas fatah dan PLO dikemanain?

    Penjelasan saya tentang Pars Prototo nggak dibaca…

    Sedih ah. Anda gak niat diskusi. Sudah saya jelaskan di komen sebelumnya.

    Harusnya Anda malu, karena menyerang pendapat sedemikian rupa, tapi justru mengabaikan tanggapan saya. Benar-benar tipikal troll.

    lalu, kenapa dia mengritik saya yang memandang konflik
    ini dalam ruas SETENGAH ABAD (awal kehadiran zionisme yang merusak perdamaian tiga agama di yerusalem
    (palestina)?

    sedangkan, dia sendiri menilai palestina dalam konteks
    pemahaman yang hanya beberapa tahun terakhir (when
    hamas rules).

    inkonsistensi LAGI, bukan??

    Bukti bahwa Anda tidak membaca semua komentar saya di halaman ini.

    Di komentar-komentar lain, saya sudah menjelaskan sejak zaman Perang Salib. Bisa Anda temukan saya menyebut Saladin, Baybars, ditambah zaman Umar dan Romawi kuno. Semua itu melengkapi argumen saya tentang “Palestina vs. Israel”.

    Tapi apa? Anda nggak baca. Menyedihkan. Malah menuduh saya cuma mengacu pada masa kekuasaan HAMAS saja. :lol:

    Sekali lagi: shame on you, sir. Anda tidak menunjukkan kualitas debat di sini. :lol:

    jika sora bermaksud bilang gini: “Saya pro pada
    perjuangan rakyat Palestina, tapi tidak pada HAMAS. Cara
    mereka salah dari awal.”

    maka, tolong sora ubah judul posting itu. ini kali, konflik
    bukan antara palestina dan israel an sich, bung..
    melainkan hamas dan israel. itulah salah satu alasan
    mengapa mesir terkesan membiarkan.

    Saya paham yang bagian itu. Tetapi itu tidak mengubah kenyataan: HAMAS adalah pemegang saham perjuangan Palestina terbesar saat ini. Mereka menang pemilu, dan — umumnya — diaku sebagai otoritas resmi di sana.

    Benar bahwa HAMAS bukan Palestina per se, tapi itu tidak membuat pars prototo saya jadi salah. Mereka adalah biggest chunk dalam perjuangan Palestina 2 tahun terakhir. ;)

    betul.. anda betul.. tindakan hamas itu merugikan
    palestina. namun, realitas perjuangan damai melalui
    PLO-nya yasser arafat pun tak lebih menguntungkan,
    selain terus menyempitnya wilayah palestina.

    sebagai orang yang di luar palestina, solusi saya adalah:
    hapus negara israel (pangkal dan bibit persoalan konflik)
    yang mengusir warga arab di sana. kembalikan negara itu
    sebagai negara yang damai untuk tiga umat, dan seluruh
    manusia.

    bangun pemukiman yahudi, sama seperti membangun
    KEMBALI pemukiman milik warga arab palestina yang
    terusir di gaza. the rest, let the al conflict politic begins..
    tak perlu ada bom, tak perlu ada korban jiwa.

    Soal kemanusiaannya, saya sepakat. Bangun pemukiman Arab, sebagaimana pemukiman Yahudi juga dikembangkan.

    Tetapi, soal politiknya (i.e. “hapus negara Israel”), saya nggak komentar dulu. Politiknya ruwet. Dan usaha ini membutuhkan pemimpin Israel maupun Palestina yang mau saling terbuka dan merendahkan diri.

    Which, in my opinion, is nigh-impossible for this time…

    hey, man. jika menurut anda argumen itu sudah salah dari
    sisi falasi, mengapa anda sodorkan pada saya. U KNOW it’s
    FUCKIN WORNG!

    Habis, Anda terkesan bias ke Palestina. Kalau ada orang yang terkesan bias, barangtentu harus disodorkan argumen kedua belah pihak. Bukan begitu? :)

    Lagipula, sebenarnya argumen Yahudi/Israel tidak selemah yang Anda sangka. (walaupun saya tak setuju pada sentimen agama yang dipakai) Ada penjelasan yang bagus di komentar berikut, diskusinya di blog Abu Geddoe.

    [link]

    Kalau mau dianalogikan dengan Islam: ibaratnya ada orang menduduki dan menghancurkan Masjidil Haram. Waktu itu Bait Suci (identitas keagamaan Yahudi) dibakar oleh Romawi. Mereka terjebak pada tiga pilihan: apakah hendak menyerah, bunuh diri, atau berdiaspora. Sebagian besar memilih berdiaspora, dan kemudian membangun visi apokaliptik dari situ.

    (lebih lanjut di link tsb.)

    analogi posisi anda saat ini bukanlah guru matematika
    yang memberi pilihan ganda (berisi satu opsi benar, opsi
    lain salah) dalam konteks TEORI or.. let’s say.. UTOPIS.

    You missed the point. Seperti yang sudah saya bilang: setiap analogi adalah sekadar proyeksi. Dia menekankan satu (atau beberapa) poin, tapi melepaskan poin lain.

    Nah, poin saya adalah: saya ini cuma memaparkan argumen dua pihak. Seperti halnya guru matematika memaparkan multijawaban. Apakah guru matematika (dan saya) jadi CONTRADICTIO IN TERMINIS? Jelas tidak. :mrgreen:

    Ingat, analogi itu cuma proyeksi. Pelajari intinya, jangan justru terpaku pada ‘sampingan’-nya.

    analogi yang tepat adalah dokter: “silahkan anda pilih KB
    dengan vasektomi atau kondom”. tak mungkin dokter
    bilang: “anda mo pilih mana? rumit nih. mereka bilang
    vasektomi bisa dipilih, tapi jajan ke PSK juga bisa jadi
    solusi andal mengendalikan kelahiran”

    Oh tidak… Anda salah. :lol:

    Kalau dokter, dia bilang begini: “Mau kondom atau vasektomi, nggak masalah. Dua-duanya efektif, kok.”

    Sementara kasus “Palestina atau Israel”, tidak. Anda timbang argumen dua pihak. Jika pilih Palestina, berarti Israel Anda salahkan; Jika pilih Israel, berarti Palestina Anda salahkan. Hasil akhirnya juga berbeda: pemerintahan Palestina pastinya berbeda daripada pemerintahan Israel.

    Gak bisa dibandingkan dengan vasektomi dan kondom. Vasektomi dan kondom sama-sama mencegah kelahiran. Sementara pemerintahan yang Anda setuju (Israel atau Palestina) berpotensi membawa dunia ke arah yang berbeda.

    yuuuukk.. lagi-lagi INKONSISTENSI kesahihan berpikir a la
    sora terulang.

    Ah, itu kan kata Anda. :lol:

    hohoho.. coba baca sejarah. kenapa serangan umum 1
    maret dilancarkan ketika tim perunding masih ada di
    indon?? sultan jogja berpikir: tudingan bahwa TNI sudah
    tidak ada lagi, seperti dilancarkan belanda, harus dihapus!

    artinya apa? TNI dipandang sebagai manifestasi dari
    pejuang bersenjata RI, yang masih ada, masih membela
    NKRI. ada koordinasi antara kepala negara (presiden
    sukarno) dengan pasukannya di lapangan.

    ya, ini bukan soal falasi sih, tapi pemahaman sejarah..
    kalau sora ga jeli, saya mafhum.. buktinya, dia ga ngerti
    kalo massa PKI-lah yang memberontak pada 1927,
    merekalah yang bergerilya kala itu mengebom fasilitas
    milik penjajah.

    Tetap saja mereka gak bisa disamakan dengan HAMAS. Koordinasi mereka nggak bergaung sampai, katakanlah, region Asia Tenggara. HAMAS beda. Bukan saja menggenggam simpati Liga Arab, semua dunia Islam — termasuk Afrika dan Indonesia — juga paham posisi mereka.

    Anda nggak membuktikan apa-apa dengan menuduh pemahaman sejarah saya minim, atau sebangsanya. Kenyataan tetap kenyataan: Pengaruh HAMAS di internasional lebih besar daripada pengaruh TKR dan TNI di dunia internasional jaman dulu. ;)

    Sekali lagi, ini menunjukkan ketidakmengertian Anda atas argumen yang saya ajukan. Sorry, but this only shows more of your incredulity. ;)

    saya tidak bilang bahwa saya benar karena hanya menarik
    garis konflik dalam hitungan 60 tahun. konflik ini bukan
    persoalan “BERAPA LAMA garis sejarah ditarik”, tapi…

    sejak kapan ada bangsa palestina yang terusir dan
    melawan israel (sebagai entitas sebaliknya; pengusir)
    seperti sekarang?

    Dengan pendekatan yang sama: saya juga tidak bilang bahwa saya benar karena menarik garis sejarah sampai 2000 tahun. Tetapi, sejak kapan ada bangsa Yahudi yang terusir dari tanah (dan esensi agama) mereka gara-gara diserbu Romawi?

    Ini yang orang sering lupa. Masalah Yahudi yang terusir 2000 tahun lalu, hampir sama kritisnya dengan — analogi dunia Islam — jika ada pasukan menduduki Masjidil Haram dan membakar Ka’bah. Bukan saja tanah terinvasi; simbol agama juga direbut dan dihancurkan.

    Masalah zionisme bukan sekadar ad antiquitatem pada kitab suci, melainkan juga identitas keagamaan yang tercerabut. Ada politik dan sejarah juga. Makanya kasus ini jadi begitu rumit.

    di situ persoalannya. zionisme, yang terlahir karena falasi
    argumentum ad antiqutatem menghancurkan kedamaian
    yerusalem, kedamaian yang telah tercipta dan diterima
    semua pihak (jews, moslem, and christian).

    Ad antiquitatem memang berperan besar di sini (bisa dibilang justru yang paling besar). Tetapi, ada juga variabel lain yang berperan.

    Analogi “pendudukan Masjidil Haram” saya rasa cukup bisa memberi gambaran. Yahudi memandang Haekal dan Bait Suci, kurang lebih sama dengan bagaimana kita memandang Masjidil Haram dan Ka’bah.

    JIKA anda bilang israel boleh mengusir palestina seperti
    pada 1948, maka tentu saja dayak punya pembenaran
    untuk usir madura, dan kita boleh usir etnis tiong hoa.

    tapi, tentu saja tidak demikian, bukan? jika tidak, maka
    negara israel harus dihapus.

    Tapi orang juga harus ingat: bagaimana dengan kepemilikan mereka 2000 tahun lalu? Mereka juga terusir dengan tidak adil, lho?

    Romawi mengusir mereka seperti Spanyol mengusir Aztec. Terlepas dari “pemberian Tuhan” atau bukan, dulu mereka hidup nyaman di situ. Kemudian terjadilah penyerangan Bait Suci dan Haekal, yang pada akhirnya membuat mereka terpaksa hijrah/berdiaspora.

    Di sisi ini mereka bisa dinilai sebagai “hendak meraih yang dulu mereka dapati dengan halal”. Mengecualikan sentimen agama, diusir secara kasar lewat militer tetaplah suatu perampasan.

    Bukan berarti saya membela Israel dan Negara Israel, lho. Saya sekadar menyampaikan bagaimana dari sudut pandang mereka. ;)


  156. pada Februari 3, 2009 pada 7:12 pm sora9n

    @ Ando-kun

    Quiz buat orang pinter:
    なぜ馬鹿の言葉は馬の漢字を使っているの?
    Naze baka no kotoba ha uma no kanji wo tsukatteiru no?

    もしかして。。。 アメリカ人 の “donkey” は日本人の馬ですか?

    Moshikashite… amerikajin no “donkey” wa nihonjin no “uma” desu ka? :P

    (日本語の喩えが分かりませんだけど。。。)

    (nihongo no tatoe ga wakarimasen dakedo…) :lol:

    :::::

    @ Rukia

    Selamat menjalani ujian kalau begitu. :P

    :::::

    @ Abu Geddoe

    Wah, terima kasih sudah bantu menanggapi. ^^

    Kedua, menyentil saja; Anda sedikit-sedikit pakai analogi. Gorila lah, reptil lah, kandang kambing lah, kerakal lah, batu berfosfor lah :lol: ; entah berapa lusin yang Anda sudah bawa. Ini buat saya lucu, sebab penggunaan analogi sangat tak dianjurkan dalam diskusi. Menurut kerabat saya yang orang Hukum, disclaimer “jangan pakai analogi” itu bahkan diulang-ulang di level akademis sampai membuat muak. Lha ini malah diobral.

    Nah, ini. Sebagaimana sudah saya sampaikan juga: analogi itu sekadar proyeksi. Dia berfungsi mengedepankan salah satu (atau beberapa) poin buat dipahami, dan mengorbankan yang lain. Tidak mungkin persis sama dibanding kenyataan yang sebenarnya.

    Dan juga: satu kasus bisa dianalogikan berbeda-beda, tergantung poin apa yang mau diketengahkan. Analogi bagus untuk membantu penjelasan. Tapi kalau justru terpaku padanya… nah, ini berpotensi bikin ribet. ^^v


  157. pada Februari 3, 2009 pada 7:50 pm Ando-kun

    @空君
    答えは違う
    馬鹿
    馬=ウマ=間抜け
    鹿=シカ=利口
    しっているだろう、あの馬は鹿になりたい。間抜けだからなかなかできるけど馬鹿にさせる。
    ダストのやつは本当の馬鹿野郎じゃないだろうか?

    sitteriru darou, ano uma ha shika ni naritai. manuke dakara nakanaka dekiru kedo baka ni saseru.

    Memalukan sekali Anda ini. Sudah ngotot, salah paham, gak ngerti pula.
    Bukti bahwa Anda tidak membaca semua komentar saya di halaman ini.
    Sekali lagi, ini menunjukkan ketidakmengertian Anda atas argumen yang saya ajukan. Sorry, but this only shows more of your incredulity.

    Anda ini bagaimana sih? Kalimat yang sudah saya siapkan koq anda pakai? Dasar plagiator!!!!!

    *nggak tega melihat sesama idiot dibantai sama orang bodoh :P *


  158. pada Februari 3, 2009 pada 9:00 pm sora9n

    ^

    Sudah, sudah… jadi orang harus sabar… ^^;

    Anda ini bagaimana sih? Kalimat yang sudah saya siapkan koq anda pakai? Dasar plagiator!!!!!

    Apa!? Bagaimana mungkin! Apakah itu artinya…

    …telepati benar ada? :-?

    *halah*


  159. pada Februari 3, 2009 pada 11:00 pm dust

    @ ando:

    kenapa ada falasi red herring? yang saya persoalkan
    adalah kalimat anda ini: “karena para pejuang menang
    lawan belanda, jepang dan sekutu berdirilah negara
    Indonesia. Hal yang sama dengan Israel, Zionis
    menang perang lawan negara2 arab di sekitar,
    berdirilah negara zionis Israel.”

    lihat di bagian: “HAL YANG SAMA DENGAN ISRAEL..”

    lalu, kenapa sekarang anda mengubah basis posisi
    dengan menyodorkan paragraf soal belanda mengobrak-
    abrik rumah penduduk? saya kan gak mempersoalkan
    itu? hehehe..

    yang lebih parah: kapan indonesia menang perang lawan
    belanda seperti israel? kalo menang berunding (dengan
    dibantu KTN), emang iya.

    Oke, jika maksud anda adalah “pemenang berhak mengubah
    standar sejarah”, maka dengan analogi sama, semua
    negara yang kuat berhak menindas yang lemah.

    tanggapan saya tetap: “halo, mana PBB asshole itu???”

    sora mati-matian membela kemanusiaan, tapi seorang kawan
    nya di sini teriak-teriak soal: pemenang berhak mengambil
    hak yang lemah.

    hebat.. hebat..

    ***

    @ abugeddoe

    yang saya kritik adalah INKONSISTENSI SORA. perdebatan
    muncul karena dia merasa dia tidak inkonsisten.

    yup, anda bias. baca paragraf saya di atas. saya justru
    usul sebuah solusi untuk konflik ini. silahkan cek..

    saya melakukan ad hominem? apa saya menghina-hina sora
    untuk meruntuhkan argumen dia? tidak. yang saya lakukan
    adalah menjawab permintaan DIA.

    permintaan apa? nih baca: “Bagian mana yang inkonsisten?

    anda mempermasalahkan analogi saya. namun, argumen yang
    anda pake ternyata sebuah falasi: “Menurut kerabat saya
    yang orang Hukum.”

    wuakakakaka.. kaya gini ini namanya falasi apa, sora??
    yang menyeret otoritas tak jelas untuk memaksakan sebuah
    pembenaran? ad verecundium?? :D

    IRONIS LAGI, kritik itu dikemukakan oleh anda, seseorang
    yang juga gemar beranalogi. menjijikan deh, bro.. :D

    ***

    @ sora

    u said: “Dengan analogi “tetangga”, saya mengetengahkan
    “kesulitan meraih unbiased information“. Di situ salahnya
    Anda.”

    analogi yang saya bawa (soal tamu merampas rumah dan
    memenjarakan pemilik rumah) juga bisa dipakai mengetengah
    kan kesulitan meraih unbiased information. betul???

    bedanya, analogi saya dengan tepat meletakkan petanda di
    balik realitas sesuai dengan penanda yang saya pakai,
    termasuk hubungan penanda yang ada dalam analogi tersebut.

    sebailknya, anda menempatkan posisi hamas dan israel dalam
    penanda yang tidak tepat, yakni ‘suami-istri’, untuk
    merepresentasikan petanda hamas-israel. yang tentu saja tak
    menerjang hubungan relasi antar petanda (antara israel dan
    hamas) tersebut.

    israel dan hamas adalah 2 pihak dengan entitas negara
    terpisah, tidak seperti ayah-ibu yang ada di bawah satu
    entitas keluarga.

    penjelasan proporsionalitas tanda yang kita pakai adalah:
    keluarga –> negara
    suami-istri –> (hamas-fatah) OR (likud-buruh)

    tak tepat jika: suami-istri –> (hamas-likud) or
    (hamas-israel).

    ini membuktikan anda melupakan perkara atau realitas asli
    yang sedang anda analogikan. anda seenaknya mempertukarkan
    hubungan dua realitas yang sedang anda analogikan,
    sehingga hubungan logika keduanya menjadi rancu.

    sorry, anda sedang menunjukkan buruknya kemampuan anda
    memaknai hubungan interelasi antar penanda. karena itu,
    analogi anda asal tubruk.

    ***

    sora: “anda berulangkali mencampuradukkan tiga pihak itu.
    Sudah saya bilang, saya berpihak pada kemanusiaan. Semua
    yang manusia saya bela, kecuali yang merendahkan nilai
    kemanusiaan. Yakni pemerintah Palestina (HAMAS) dan Israel.”

    anda bilang HAMAS = otoritas palestina? what the heck..
    otoritas palestina itu PLO, bos! hamas dan fatah saat ini
    duduk di pemerintahan sama. fatah dapat kursi presiden,
    hamas dapat kursi PM.

    artinya apa? SANGAT gegabah melakukan overgeneralisasi
    dengan menyebut dosa HAMAS guna menjelaskan posisi bangsa
    palestina. sama tak adilnya menyebut dosa golkar ketika
    anda menyodorkan fakta tentang indonesia dan membandingkan
    nya dengan malaysia.

    atas nama pars prototo, anda merasa berhak menyebut hamas
    mewakili bangsa Palestina. meski mereka faksi terbesar di
    Palestina, tapi kita sedang membandingkan konflik dua
    bangsa (israel-palestina) yang tak hanya bisa dibaca dari
    aksi salah satu faksi saja.

    sama seperti kita tak bisa menilai AS hanya dari kelakuan
    bush dan partai republiknya kemarin itu. betul???

    pars prototo anda merupakan bentuk kekerasan diskursif
    guna menghindari realitas utama di konflik ini. realitas
    apa itu? yakni diusirnya bangsa palestina (dalam konteks
    umum, bukan yang dipars prototo-kan), atas dasar falasi
    ad antiquietem.

    the entity called PALESTINA i’m talking about is: mereka
    semua YANG DIUSIR dan kemudian DIBLOKADE di jalur gaza
    (termasuk di dalamnya hamas, fatah, rakyat, dan PLO).

    on the otherside, u want to limit ur valuation on that
    entity (PALESTINA) based on HAMAS only. karena itu, mohon
    pertimbangkan pendapat saya (yang tak anda tanggapi):

    “fakta mendasar inilah yang DIKESAMPINGKAN SORA. dia
    asyik bicara apa yang ada di permukaan laut, tapi tak
    mau tahu ada apa di dasarnya.”

    ***

    anda boleh menjustifikasi israel dengan analogi
    penghancuran ka’bah. OK, fine. namun, musuh mereka
    adalah romawi. itu otomatis tak memberi mereka alasan
    mengusir umat islam dan kristen palestina.

    terutama, MENGINGAT.. tak ada larangan bagi warga yahudi
    kala itu (1940-an) untuk hidup di yerusalem secara damai,
    dan kembali ke wilayah itu secara damai.

    lalu, mengapa harus ada NEGARA ISRAEL??

    ***

    man, for me u are doctor. u supposed to give us a cure
    (NOT a poison berupa FALASI). okelah jika anda jadi guru
    math, apakah anda boleh memberi jawaban salah pada murid?

    hehehe.. posisi anda sekarang tidak sedang memberi saya
    tes, bukan? kita sedang berdiskusi, bertukar pemahaman.
    dan anda tentunya memberi saya pemahaman, or insight yang
    benar bukan?

    lalu, kenapa yang anda sodorkan pada saya malah falasi
    soal tanah terjanji?? yang anda sendiri tahu betul bahwa
    itu tak tepat untuk memperkuat basis dasar zionisme??

    that’s what i call INKONSISTEN, dan bahkan CONTRADICTIO
    in TERMINIS. sorry, that’s the reality… ;)

    ***

    sora: “Gak bisa dibandingkan dengan vasektomi dan kondom.
    Vasektomi dan kondom sama-sama mencegah kelahiran.
    Sementara pemerintahan yang Anda setuju (Israel atau
    Palestina) berpotensi membawa dunia ke arah yang berbeda.”

    ah.. u missed my point.. analogi itu bukan fallacy. Dia
    adalah proyeksi untuk menjelaskan suatu ide. Yang salah
    itu kalau orang terlalu berpatokan pada analogi, dan
    melupakan perkara aslinya.

    (hihihi… gimana jika saya jawab anda kaya gitu?? emang
    enak sih, menciptakan definisi menurut ukuran sendiri.)

    OK, back to the point. sekarang lihat jawaban anda:
    “Palestina-Israel adalah kasus yang rumit. Bukan saja
    skupnya tentang kemanusiaan, melainkan juga politik,
    ideologi, sejarah, dan bahkan juga agama.

    ini TEPAT dengan analogi yang saya sodorkan: “anda mo
    pilih mana? rumit nih. mereka bilang vasektomi bisa
    dipilih, tapi jajan ke PSK juga bisa jadi solusi andal
    mengendalikan kelahiran”

    anda tak memberi saya saran, melainkan opsi (falasi)
    dalam diskusi ini.

    ***

    sora:” mereka gak bisa disamakan dengan HAMAS. Koordinasi
    mereka nggak bergaung sampai, katakanlah, region Asia
    Tenggara. HAMAS beda. Bukan saja menggenggam simpati Liga
    Arab, semua dunia Islam — termasuk Afrika dan Indonesia —
    juga memahami posisi mereka.”

    hohoho.. jangan terpaku pada sampingannya mas.. :p analogi
    TNI itu saya berikan bukan untuk MENYAMAKAN TNI sesama-sama
    nya dengan hamas, namun menunjukkan posisi mereka dalam
    peta konflik indon kala itu sama seperti ‘posisi hamas DI
    PETA konflik palestina’.

    baca lagi paragraf saya: “BTW, APA YANG HAMAS lakukan mirip
    dengan para pejuang gerilya kita zaman kolonial. mereka hidup,
    berbaur, dan membangun kekuatan di tengah rakyat, sementara
    belanda menyerang kampung dan rumah.”

    pemahaman sejarah anda jelas MINIM, karena menuduh gerakan
    PKI itu bukan bagian dari masa PRA pergerakan nasional.

    ni omongan anda: “BTW, Anda ini tidak konsisten. Tadinya
    ngomong gerilyawan, kok mendadak jadi bawa-bawa PKI. Kalau
    PKI, ya, punya akses ke Komintern. SI punya massa Islam.
    Tapi yang saya tangkap, kita ini sedang membicarakan
    gerilyawan masa pra-Pergerakan Nasional.”

    huahahahha.. mas sora yang merasa pintar sejarah, TNI
    adalah gerakan PASCA pergerakan nasional, bukannya PRA,
    demikian juga PKI dan SI yang bergerak ketika kesadaran
    NASIONALISME muncul.

    itulah kesalahan anda. PKI dan TNI adalah pergerakan
    PASCA pergerakan nasional, dan bukannya PRA seperti
    anda kira.

    makanya saya bilang, masa PRA pergerakan nasional usai
    ketika SISINGAMANGARAJA koit pad 1913. dialah pemimpin
    pergerakan kedaerahan yang terakhir. setelah itu abis..

    uh, God.. this parts shows more of your incredulity. ;)

    ***

    BTW, nice to discuss with u.. my suggestion still the
    same: jangan overgeneralisasi hamas menjadi palestina.


  160. pada Februari 3, 2009 pada 11:03 pm joesatch yang legendaris

    @ Ando-kun

    Weleh, aku malah teringat sama film Dark Knight, deja vu sama kata2 The Joker.

    “Kill you? I don’t want to kill you! What would I do without you?”

    Kalau Batman mati, kayaknya the joker bakalan bunuh diri. Hidup tanpa musuh sepadan bagaikan hidup tiada arti.

    ah, seperti Dewa Perang Pulau Timur dan Rajawali Langit dari komik Super Fighter :D

    @ dust

    saya ndak ikut2an memuja, lho. lha saya kan turunnya belakangan nanti :twisted:

    dan kalo melihat peta diskusinyanya sekarang, sepertinya saya ndak perlu turun-tangan buat menari-nari di keyboard lebih banyak lagi. toh inti dari postingan di atas ini sudah nggak diperdebatkan lagi, kan? hanya melulu soal falasi, analogi, dan (mungkin, kalo ada) inkonsistensi yang semakin menjauhi tema sentral dari postingan di atas :mrgreen:

    jadinya, pertanyaan saya sederhana: apa sebenarnya tujuan dari pembicaraan sampeyan?


  161. pada Februari 3, 2009 pada 11:04 pm joesatch yang legendaris

    waduh…sepertinya saya telat ngetik. pertanyaan saya sudah terjawab :lol:


  162. pada Februari 4, 2009 pada 12:22 am Ando-kun

    @dust
    seperti yang saya duga, anda orang yang suka memotong-motong ayat. Baiklah saya terpaksa menerangkan pada anda sedikit panjang. Coba anda baca sekali lagi kalimat yang saya tulis dibawah ini (perhatikan, ini semua satu paragraf!! Kalau beda paragraf saya terbiasa tekan enter 2 kali sebagai jarak paragraf)

    karena para pejuang menang lawan belanda, jepang dan sekutu berdirilah negara Indonesia. Hal yang sama dengan Israel, Zionis menang perang lawan negara2 arab disekitar, berdirilah negara zionis Israel. Apakah belanda salah jaman dulu mengobrak abrik rumah penduduk dan membakarnya demi mencari ekstrimis (pejuang dalam bahasa indonesia)? Ya mereka salah, penyebabnya karena Indonesia menang di meja perundingan sehingga negara Indonesia merdeka. Coba waktu berunding kalah dan belanda terus menjajah, tidak ada yg namanya pejuang, yang ada hanya ekstrimis. Kalau Israel menang, Hamas tetap jadi teroris. tapi kalau Hamas menang, Israel adalah penjajah dan Hamas menjadi pejuang kemerdekaan.
    Terserah anda mau pake kaca mata mana.

    Saya sudah mengatakan sebelumnya bahwa apa yang saya tulis diatas adalah untuk menyatakan siapa yang menang, itulah yang membuat sejarah. Indonesia menang (mau perang pake bedil atau perang pake mulut atau pake pena, kalau menang tak usah diributkan sampai sekecil itu. kita bukan anak kecil. kecuali anda ternyata emang anak kecil) lawan belanda dan jepang berarti Indonesia berhak membuat sejarah menyebut belanda dan jepang sebagai penjajah dan Teuku Umar hingga Pattimura disebut sebagai pejuang dan pahlawan. …. (bukan paragraf baru, tetap nyambung)
    Begitu pula dengan Israel. Karena dia menang (anda benar2 tukang ngurusin tetek bengek beginian kayak ayam ngais2 sampah) lawan negara arab sekitar dan menduduki palestina, otomatis israel yang membuat standar sejarah di palestina. Para pejuang arab tentu saja di cap teroris dan ekstrimis. Lain halnya kalau israel kalah, selain diusir dari tanah arab (ini perkiraan saja), tentu cap yahudi sebagai tukang serobot tanah orang palestina yang gagal jauh lebih membahana.

    Kalau anda baca sampai habis dan “bisa” menyimpulkan tulisan pendek saya, anda tentu mengerti bahwa indonesiapun pernah menang perang lawan belanda (tempur pakai senjata).
    contoh:

    1. Serangan umum 1 maret 1949.
    Kalau anda baca buku sejarah indonesia maupun PSPB, anda akan menemukan bahwa indonesia merebut yogyakarta selama 6 jam.
    Betulkah indonesia menang di pertempuran itu? walahualam, saya sendiri belum lahir. Tapi karena Indonesia merdeka, tentu versi sejarah yang “diakui kebenarannya” adalah pasukan indonesia menang perang melawan pasukan belanda. Terlepas dari sejarah versi belanda yang mungkin berbeda (saya pernah baca sedikit kalau pasukan belanda mundur hanya untuk konsolidasi kekuatan sebelum berbalik kembali menguasai yogya), apakah versi belanda akan dipakai secara umum? toh mereka kalah setelah kemerdekaan indonesia diakui dunia internasional.

    2. Operasi Trikora.
    Indonesia tidak benar2 menang perang pada pertempuran kali ini, karena belanda sudah melempar handuk putih sebelum memulai pertempuran besar-besaran. Tapi tahukah anda mengapa belanda bersedia maju berunding untuk membahas masalah kepemilikan irian barat (saya pakai nama pada saat kejadian)? Karena tanpa maju berundingpun belanda sudah tahu akan kalah telak jika dipaksakan bertarung di meda pertempuran. Kalau kita melihat betapa menakutkannya armada perang indonesia ditahun 1960-an hasil pembelian dari Uni Sovyet, wajar saja belanda akan sangat terpaksa maju berunding. Daripada kalah dibantai habis-habisan, tentu lebih mending kalah dgn sedikit rugi di meja perundingan.

    Apakah saya bermaksud menyamakan nation building antara indonesia dengan israel sama? Kalau anda baca sampai habis keseluruhannya, anda pasti mengerti jawabannya tidak kecuali anda lebih idiot dari saya yg aiqiu jongkok ini

    NB. Lain kali kalau mau baca tulisan orang tolong beli buku “petunjuk cara membaca yang baik dan benar” lalu ikuti isinya. Baca dari awal sampai akhir, pikirkan isi dan makna keseluruhannya, setelah didapatkan hasilnya baru disimpulkan keseluruhannya. Soalnya tulisan tidak bermutu dari saya justru anda tanggapi dengan mutu yang lebih parah dari tulisan anak TK nyari2 musuh.

    *capek juga nulis panjang2 hanya untuk menjelaskan hal yang tidak bermutu demi orang yang lambat mikir*

    @joesacth
    Waduh, itu komik jaman dulu yah? sori nggak baca, mungkin dulu masih kecil, nggak boleh baca komik yg banyak adegan kekerasannya :mrgreen:

    NB.
    Mau tau cara motong kalimat paling dramatis? Coba aja baca syahadat pertama: Tiada Tuhan selain ALLAH.
    Kalau potong 2 kata pertama tanpa 2 kata terakhir, otomatis syahadat jadi pernyataan atheis dong :D


  163. pada Februari 4, 2009 pada 12:45 am Ando-kun

    sora mati-matian membela kemanusiaan, tapi seorang kawannya di sini teriak-teriak soal: pemenang berhak mengambil hak yang lemah.

    hebat.. hebat..

    Halo???? sejak kapan saya jadi kawan sora? ketemu aja cuma di net doank. Mengenai “pemenang berhak mengambil hak yang lemah” itulah kenyataan dilapangan perang modern jaman sekarang.

    Kalau anda tanya saja setuju atau tidak, terus terang saja akan saya jawab tidak! Apakah saya pernah menulis bahwa tulisan diatas adalah pendapat saya pribadi? sekali lagi saya terpaksa bilang kalau otak anda terlalu lambat mikir, tidak baca sampai akhir yah? disitu ada kata-kata “Terserah anda mau pake kaca mata mana.”
    Jelas2 yang saya kemukakan adalah pendapat yang ada dilapangan, bukan pendapat pribadi.
    Makanya minum hemaviton bung, supaya otak nggak lemot.

    Kalau saya tanya balik pada anda apakah kenyataan dilapangan, dalam perang ada yang namanya belas kasih secara umum???????

    Halo… halo…. apa anda buta tuli? belum pernah nonton dan baca berita???? Teori dan kenyataan dilapang perang kebanyakan beda 180 derajat bung!!!!

    Apakah setelah USA menang perang di iraq tidak akan mengambil minyaknya? Apakah belanda menang perang lawan orang jawa, tanah rakyat jawa yang kalah perang tidak diambil dan disuruh tanam paksa?

    terpaksa pinjam kalimat sora, “naif sekali anda ini”.

    Iya, anda memang orang hebat. Mikir pake dengkul, otak dipakai buat dorong gerobak. sangat jarang orang seperti anda ini…… menyedihkan :cry:


  164. pada Februari 4, 2009 pada 1:03 am Ando-kun

    Oke, jika maksud anda adalah “pemenang berhak mengubah standar sejarah”, maka dengan analogi sama, semua negara yang kuat berhak menindas yang lemah.

    Yang ini jauh lebih menyedihkan lagi, sama aja dengan ngomong ayam tolot jadi tolot ayam.
    Mau main analogi lagi???? capek deh…
    (sekali lagi saya cuma mencoba menjelaskan pada anda, ini bukan pendapat pribadi saya)

    Oke deh, Anggap saja perang itu seperti main poker.

    “Pemenang berhak mengubah standar sejarah”
    Anda menang dengan kartu paling bagus, anda berhak memperlakukan hak milik lawan anda yang dipertaruhkan diatas meja. Anda mau ambil semua dengan tega keq, mau anda berbaik hati bagi2kan kembali keq, anda menang koq!

    Tapi…. apakah karena duit anda yang lebih banyak hasil menang diatas meja bisa membuat anda memaksa kehendak mengambil barang lawan anda yang tidak dipertaruhkan????
    Toh anda lebih kuat karena punya uang banyak, lawan main poker anda lemah dan bokek cuma punya sedikit duit buat pulang ongkos angkot.

    selama dalam konteks diatas meja judi, anda berhak memperlakukan barang2 yang dipertaruhkan diatas meja, tapi tidak untuk yg tidak dipertaruhkan.

    Udah ah, capek analogi melulu…
    Yang pasti kalau anda menganggap pemenang yang menentukan standar sejarah beranalog dengan orang kuat berhak menindas yang lemah, terus terang saja pola pikir anda sangat ingin menyusahkan hal yang mudah.

    NB. tidak usah menyerang saya dgn analogi main poker, bisa2 saya ajak anda main poker beneran di las vegas nantinya.


  165. pada Februari 4, 2009 pada 1:27 am Ando-kun

    hhhhhh….. lucu sekali mas/mbak dust ini. saya hitung2 mau bahas satu, buntutnya jadi bercabang. Apakah ini inkonsisten? biar saja dust ribut sama sora ngomongin masalah korsletan inkorsletan itu.

    1. awalnya mau debat sama saya cuma masalah indonesia menang perang pake bedil atau perundingan.

    2. Gak tau napa, tiba-tiba saya dituduh menyamakan nation building indonesia sama dengan israel.

    3. mungkin setelah baca ulang dengan agak malu (entah mau ngaku nggak) baru sadar kalau yang saya bicarakan adalah pihak yg menang menentukan standarisasi sejarah, lalu bilang kalau hal itu analog dengan yang kuat diperbolehkan menindas yang lemah. yang menentukan analog itu khan bukan saya? saya sendiri tidak setuju kalau dua hal itu analog.

    4. kemudian sekonyong-konyong menuduh saya berteriak-teriak: pemenang boleh mengambil hak yg lemah. Lha, yang bikin analog kuat menindas yg lemah itu siapa yah????

    5. Bingung saya :-? :-? :-?


  166. pada Februari 4, 2009 pada 2:40 am Catshade

    Is it just me…or someone up there was planting subtle chewbacca defenses in his/her arguments? :roll:

    Oh, dan apakah ada yang bisa memberi saya contoh untuk ini: Fallacy Fallacy? :mrgreen:


  167. pada Februari 4, 2009 pada 2:16 pm Buya Alex©

    IMHO, alasan dust bahwa ada gerilyawan Indonesia pra kemerdekaan yang diakui internasional itu tidak melulunya salah. Coba dilihatlah arsip-arsip nasional tentang perundingan2 atau saat ada Komisi Tiga Negara di Indonesia. AFAIK, mereka diakui. Misal status Samadikun sebagai Gubernur Militer daerah Malang dulu :)

    Jika tidak, tentu tak ada desakan agar ada demobilisasi sampai penentuan batas enclave (daerah kantung) seperti pasukan Siliwangi dulu :?

    @ dust

    Mas… saya juga pro-Hamas, dalam artian saya melihat mereka sebagai opsi perlawanan yang tersisa, sementara Fatah (di mata saya) terlalu lunak dan kooperatif.

    Perkara Hamas dituduh mengorbankan sipil, ada komentar yang menarik dari artikel non-kombatan di sini bahwa:


    The underlying assumption here is that Palestinians’ human rights depend on the actions of their leaders. This is false. Palestinians do not have to earn the human rights inalienable to every person on Earth. Human rights are non-negotiable. Likewise, Israelis do not have to earn their human rights. Israeli state terror notwithstanding, it
    would be criminal to bombard the entire population of Israel (in which, as in Gaza, fighters live alongside their families in civilian areas) for the crimes of its government.

    Ini yang saya tidak sukai jika Hamas disalahkan. Posisi kita bisa jadi sama, tapi…. saya tdk merasa perlu mendesak siapa saja utk berpihak pada Hamas. Karena dari sisi kemanusian saja (utk kasus Gaza itu) memihak Palestina pun sudah cukup.

    *jadingomenlagi* :mrgreen:


  168. pada Februari 4, 2009 pada 4:42 pm Ando-kun

    @catshade
    chewbacca? huik, saya benci makhluk berbulu lebat, bikin alergi bersin :D mendingan princess lea deh.

    Fallacy Fallacy on the wall, who’s the cleverest of them all :mrgreen:

    @Alex.
    Berkaitan dengan sikap saya yang berpihak terhadap rakyat palestina, sikap saya terhadap HAMAS berbeda dgn sora. Memang saya tidak mendukung HAMAS, tapi saya juga sulit menuduh HAMAS berlindung dibalik perisai penduduk. Seberapa luas sih jalur gaza itu? Untuk bergerilya saja lumayan sulit dengan luas daerah tak seberapa itu, sehingga tentu saja konsep perang di jalur gaza berbeda dgn perang Afganistan (Taliban) vs USA yang notabene daerahnya bisa dipakai untuk perang gerilya.
    Sampai sekarang sikap saja terhadap HAMAS masih 50:50. Tidak membela dan juga tidak menyalahkan.


  169. pada Februari 4, 2009 pada 5:00 pm sora9n

    @ dust

    Mas dust…

    Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, dan sampai sekarang belum berubah: ada banyak miskonsepsi yang terkandung dalam argumen Anda. Anda ini keras kepala, sok tahu fallacy tapi maksa, ditambah lagi doyan ngeles. Ini nggak membawa diskusi ke mana-mana, sebab Anda tidak membuka diri untuk perbaikan.

    Begini saja. Berhubung saya sudah capek menjelaskan posisi saya — yang tidak kunjung Anda mengerti — saya tak akan menanggapi pertanyaan Anda lebih lanjut. Semua yang penting sudah saya tulis. Soal siapa di antara kita yang lebih taat logika, lebih konsisten, dan lebih cerdas berdiskusi, biarlah pembaca saja yang menilai. :)

    As well, ini akan jadi respon final saya untuk Anda… kecuali di kemudian hari saya berubah pikiran. Kali ini saya hanya akan menanggapi cacat argumen yang bertebaran di komentar terbaru Anda saja. ;)

    saya melakukan ad hominem? apa saya menghina-hina sora
    untuk meruntuhkan argumen dia? tidak. yang saya lakukan
    adalah menjawab permintaan DIA.

    Anda nggak ad hominem? Pikir lagi, bung. :lol:

    Anda berulangkali mencela bahwa saya “inkonsisten”. Mengatakan dengan nada sinis bahwasanya “pengetahuan sejarah saya kurang”. Mengatakan saya sekadar criticizing jerk bergaya smartass. Mungkin masih ada lagi yang bergaya serangan tidak langsung.

    Masih berani bilang Anda tidak ad hominem? Gullible! :mrgreen:

    wuakakakaka.. kaya gini ini namanya falasi apa, sora??
    yang menyeret otoritas tak jelas untuk memaksakan sebuah
    pembenaran? ad verecundium?? :D

    Kalau Anda mau tahu… ad verecundiam itu memiliki dua jenis keabsahan. Pertama sebagai logika formal, dan kedua sebagai logika informal.

    Sebagai logika formal, dia adalah fallacy (i.e. salah secara silogistik). Tetapi, dalam kasus logika informal, dia tidak termasuk fallacy. Syaratnya adalah: dia ditemani oleh premis bahwa “orang/ahli yang ditanya bersifat kompeten”.

    Baca wikipedia lagi deh:

    On the other hand, arguments from authority are an important part of informal logic. Since we cannot have detailed knowledge of a great many topics, we must often rely on the judgments of those who do. There is no fallacy involved in simply arguing that the assertion made by an authority is true, in contrast to claiming that the authority is infallible in principle and can hence be exempted from criticism: It can be true, the truth can merely not be proven, or made probable by attributing it to the authority, and the assumption that the assertion was true might be subject to criticism and turn out to have actually been wrong.

    Lagi-lagi Anda sok tahu dan menantang “bisa beri tahu ini fallacy apa?” Tapi konsepnya tetap saja tidak mengerti. Payah ah. :lol:

    sebailknya, anda menempatkan posisi hamas dan israel dalam
    penanda yang tidak tepat, yakni ’suami-istri’, untuk
    merepresentasikan petanda hamas-israel. yang tentu saja tak
    menerjang hubungan relasi antar petanda (antara israel dan
    hamas) tersebut.

    israel dan hamas adalah 2 pihak dengan entitas negara
    terpisah, tidak seperti ayah-ibu yang ada di bawah satu
    entitas keluarga.

    “Satu entitas keluarga” itu kan kata Anda. Kalau saya bilang “keluarga” sebagai “himpunan negara di timur tengah”, bagaimana? :mrgreen:

    Ayah dan Ibu di bawah satu entitas keluarga, tak bisa disamakan negara? Pikir lagi. Mereka dua individu yang punya kemerdekaan berpikir, tinggal di dalam sebuah rumah. Sama halnya seperti dua negara yang hidup berdampingan di satu region (i.e. timur tengah). Masing-masing punya kehendak bebas dan keinginan sendiri.

    Salahnya Anda Bung, adalah terlalu cepat meloncat pada kesimpulan. Terlalu terpaku pada analogi bikinan Anda sendiri. Dan, yang paling parah: tidak mau menginterpolasi penyampaian saya, lebih dari sekadar face value…

    sorry, anda sedang menunjukkan buruknya kemampuan anda
    memaknai hubungan interelasi antar penanda. karena itu,
    analogi anda asal tubruk.

    Ah, itu kan kata Anda. Anda kan bukan Tuhan, tidak mungkin selalu benar. :lol:

    atas nama pars prototo, anda merasa berhak menyebut hamas
    mewakili bangsa Palestina. meski mereka faksi terbesar di
    Palestina, tapi kita sedang membandingkan konflik dua
    bangsa (israel-palestina) yang tak hanya bisa dibaca dari
    aksi salah satu faksi saja.

    Terus, yang masuk koran itu siapa? Yang ‘mengundang’ Israel bikin perang itu siapa? Yang menang pemilu dan punya dukungan rakyat siapa? :mrgreen:

    Sebagaimana sudah saya akui: benar bahwa cenderung overgeneralisasi, dengan menyatakan HAMAS sebagai wakil Palestina. Tapi, orang harus ingat: saham terbesar perjuangan Palestina dalam dua-tiga tahun terakhir adanya di HAMAS. Dan merekalah yang paling ‘dikenal’ dunia sebagai perwakilan negara Palestina.

    pars prototo anda merupakan bentuk kekerasan diskursif
    guna menghindari realitas utama di konflik ini. realitas
    apa itu? yakni diusirnya bangsa palestina (dalam konteks
    umum, bukan yang dipars prototo-kan), atas dasar falasi
    ad antiquietem.

    Masa sih. Saya kok tidak merasa begitu. :)

    Di satu sisi saya mengkritik HAMAS, tapi di sisi lain bersimpati pada rakyat Palestina. Saya melakukan pars prototo Palestina -> HAMAS, tetapi tidak lupa menyebut jatuhnya korban sipil. Malah berulangkali saya mengkritik Israel atas tindakan mereka, sebagaimana bisa Anda baca di komentar jauuuh di atas.

    Apa iya saya mengalihkan perhatian dengan pars prototo? Saya kok kurang yakin. :lol:

    * * *

    BTW, soal ad antiquitatem. Anda kurang mengikuti penjelasan saya tentang bentrok Yahudi-Romawi dan Haikal Sulaiman. Faktor yang berperan di situ bukan cuma itu saja… ada juga soal kepemilikan halal dan identitas agama yang dihancurkan.

    Kalau Anda tanya saya, tidak selayaknya rakyat Palestina diusir-usir begitu rupa. Tetapi, apakah semudah itu juga menyatakan Israel tidak berhak mendapatkan tanah? Kalau iya, persoalan ini nggak akan begini rumit. :lol:

    on the otherside, u want to limit ur valuation on that
    entity (PALESTINA) based on HAMAS only. karena itu, mohon
    pertimbangkan pendapat saya (yang tak anda tanggapi):

    “fakta mendasar inilah yang DIKESAMPINGKAN SORA. dia
    asyik bicara apa yang ada di permukaan laut, tapi tak
    mau tahu ada apa di dasarnya.”

    Saya sih cuma mempertimbangkan apa yang dimaui rakyat Palestina. Karena pada waktu pemilu mereka memilih HAMAS, maka barang tentu sedikitnya mereka bersimpati pada HAMAS. Walaupun jelas tidak semuanya.

    Kalau mayoritas rakyatnya saja bicara “kami bersimpati pada HAMAS”, mau bagaimana lagi? :P

    Tapi, OK, saya akan ikuti saran Anda. Akan saya coba pelajari lebih dalam lagi tentang ini. Terima kasih masukannya. :)

    anda boleh menjustifikasi israel dengan analogi
    penghancuran ka’bah. OK, fine. namun, musuh mereka
    adalah romawi. itu otomatis tak memberi mereka alasan
    mengusir umat islam dan kristen palestina.

    terutama, MENGINGAT.. tak ada larangan bagi warga yahudi
    kala itu (1940-an) untuk hidup di yerusalem secara damai,
    dan kembali ke wilayah itu secara damai.

    lalu, mengapa harus ada NEGARA ISRAEL??

    Soal mengapa ada negara Israel? Karena, suka atau tidak, tanah tak bisa dimiliki zonder stempel “negara”. Itu keadaan dunia kita sekarang. Kaum Yahudi memiliki ikatan emosional yang kuat dengan “Tanah Terjanji”. Sebagaimana umat Islam akan merebut kembali jika Makkah diduduki negara Kristen, itulah yang sekarang berkecamuk di hati mereka.

    Lalu ada pertanyaan… mengapa harus agresi? Kan bisa hidup berdampingan, siapapun “tuan tanah”-nya? Tanyalah pada pemerintah Israel, yang notabene zionis garis keras.

    Bukankah Anda juga tahu bahwa ada sekelompok rabi dan pemukim Yahudi yang kontra pendudukan? ;) Saya tahu Anda tak setuju dengan kekerasan, sebagaimana halnya saya. Tetapi yang berperan di sini adalah PEMERINTAH kedua negara. (i.e. Israel dan Palestina)

    hehehe.. posisi anda sekarang tidak sedang memberi saya
    tes, bukan? kita sedang berdiskusi, bertukar pemahaman.
    dan anda tentunya memberi saya pemahaman, or insight yang
    benar bukan?

    lalu, kenapa yang anda sodorkan pada saya malah falasi
    soal tanah terjanji?? yang anda sendiri tahu betul bahwa
    itu tak tepat untuk memperkuat basis dasar zionisme??

    Yang saya berikan pada Anda bukan justifikasi. Bukan pula dukungan untuk salah satu pihak. Yang saya berikan pada Anda adalah: bagaimana sekiranya jalan pikiran kedua belah pihak.

    Saya tidak memberi Anda fallacy dengan niat meracuni. Yang benar: saya memberikan pandangan pro-Israel dan Palestina. Ternyata pandangan Israel mengandung fallacy. Ya, bagaimana lagi? :lol:

    Yang saya lakukan adalah memberi sudut pandang. Jika sudut pandang itu mengandung fallacy, maka saya tak bisa berbuat apa-apa. Lha, tujuan saya cuma memaparkan, kok. ;)

    that’s what i call INKONSISTEN, dan bahkan CONTRADICTIO
    in TERMINIS. sorry, that’s the reality… ;)

    Jadi di sini toh masalahnya… :lol:

    Oke, Bung. Saya paham sekarang. Ternyata Anda mengira saya tidak konsisten karena memberikan masukan yang tidak saya amini (baca: saya anggap sebagai fallacy). Betul?

    Anda salah paham. Seperti yang sudah saya bilang: saya sekadar membagi sudut pandang. Sudut pandang Israel saya bagikan. Sudut pandang Palestina saya bagikan. Saya serahkan apa adanya.

    Bagaimana jika terkandung fallacy di dalamnya? That’s the way they are. Jika sudut pandang itu mengandung fallacy, apa boleh buat? Sebab saya pribadi berkeinginan memaparkan, menyampaikan sudut pandang saja. Tidak lebih.

    Mudah-mudahan cukup jelas yah. ;)

    OK, back to the point. sekarang lihat jawaban anda:
    “Palestina-Israel adalah kasus yang rumit. Bukan saja
    skupnya tentang kemanusiaan, melainkan juga politik,
    ideologi, sejarah, dan bahkan juga agama.

    ini TEPAT dengan analogi yang saya sodorkan: “anda mo
    pilih mana? rumit nih. mereka bilang vasektomi bisa
    dipilih, tapi jajan ke PSK juga bisa jadi solusi andal
    mengendalikan kelahiran”

    anda tak memberi saya saran, melainkan opsi (falasi)
    dalam diskusi ini.

    Pertanyaan 1: Kok jadi PSK? Tadinya kan “vasektomi vs. kondom”?

    Pertanyaan 2: Analogi Anda cocoknya di mana?

    Pertanyaan 3: Yang bilang saya memberi saran siapa? Saya ini sekadar memaparkan sudut pandang kedua pihak. Kalau Anda perhatikan, saya tak pernah bermaksud “mempengaruhi” orang agar mendukung siapapun, selain kemanusiaan. :)

    ni omongan anda: “BTW, Anda ini tidak konsisten. Tadinya
    ngomong gerilyawan, kok mendadak jadi bawa-bawa PKI. Kalau
    PKI, ya, punya akses ke Komintern. SI punya massa Islam.
    Tapi yang saya tangkap, kita ini sedang membicarakan
    gerilyawan masa pra-Pergerakan Nasional.”

    huahahahha.. mas sora yang merasa pintar sejarah, TNI
    adalah gerakan PASCA pergerakan nasional, bukannya PRA,
    demikian juga PKI dan SI yang bergerak ketika kesadaran
    NASIONALISME muncul.

    Oh tidak… Anda salah. Enak saja bilang saya tak bisa membedakan pra- dan pasca-Pergerakan Nasional. Dari awal juga, saya sudah bilang bahwa PKI itu produk pasca-Pergerakan Nasional. :mrgreen:

    Mau bukti? Behold! Proof of your gullibility.

    Yang pertama kali Anda omongkan itu kan ini:

    “BTW, APA YANG HAMAS lakukan mirip
    dengan para pejuang gerilya kita zaman kolonial. mereka hidup,
    berbaur, dan membangun kekuatan di tengah rakyat, sementara
    belanda menyerang kampung dan rumah.”

    Terus saya tanggapi:

    Belanda tidak berhak menyerang kampung, sama halnya dengan gerilyawan tak boleh menyerbu rumah Nyai dan Noni. Israel tidak berhak membunuh suku Arab, sama halnya dengan HAMAS tak boleh membunuh penduduk sipil Israel.

    Eeeh, mendadak sontak, Anda membalas sambil bawa2 PKI:

    ngawur banget anda ini. emangnya gerilyawan kita dulu itu gak punya
    nama? hey, nama mereka adalah BKR, TKR, lalu jadi TNI. agen pelobi
    mereka adalah sukarno, hatta, dll. sebelum itu, mereka juga sudah
    muncul dengan nama SI dan PKI. sneevliet, tokoh komintern kelas
    wahid se-Asia jadi pemimpinnya.

    Jadi saya yang tadinya berpikir soal masa Nyai dan Noni, gerilyawan sebelum masa abad 20, mendadak Anda bantingkan ke pasca-pergerakan nasional.

    Anda ini maksudnya apa? Kok tidak konsisten? :o

    Lantas saya tanyakan:

    Tadinya ngomong gerilyawan, kok mendadak jadi bawa-bawa PKI. Kalau PKI, ya, punya akses ke Komintern. SI punya massa Islam. Tapi yang saya tangkap, kita ini sedang membicarakan gerilyawan masa pra-Pergerakan Nasional. :-?

    Justru saya dari awal mempertanyakan: kenapa PKI Anda bawa-bawa, sementara saya kira topiknya pra-Pergerakan Nasional. Sekarang, siapa yang salah? Hah? Hah?? :mrgreen:

    Chewbacca defense, ini. Nggak mutu. :|

    itulah kesalahan anda. PKI dan TNI adalah pergerakan
    PASCA pergerakan nasional, dan bukannya PRA seperti
    anda kira.

    Baca lagi kalimat saya:

    “BTW, Anda ini tidak konsisten. Tadinya ngomong gerilyawan, kok mendadak jadi bawa-bawa PKI. Kalau PKI, ya, punya akses ke Komintern. SI punya massa Islam. Tapi yang saya tangkap, kita ini sedang membicarakan gerilyawan masa pra-Pergerakan Nasional.”

    Justru saya heran karena Anda mendadak bawa-bawa PKI, sedang yang di pikiran saya itu PRA-PERGERAKAN NASIONAL…

    Ini menunjukkan kesalahmengertian Anda sendiri. Anda yang mulai kok jadi saya yang kena. :lol:

    Anda tidak menanggapi komentar saya tentang “Nyai dan Noni”. Otomatis saya berasumsi. Ee lha kok ya jadi Anda bilang saya tidak tahu membedakan pra- dan pasca-pergerakan nasional.

    Jadi, mohon maaf — akan saya gunakan kalimat Anda untuk membalas tulisan Anda. Uh, God.. this parts shows more of your incredulity. ;)

    Jelas yah. :mrgreen:

    * * *

    BTW, untuk sidang pembaca. Ada yang mau bantu mengklarifikasi?

    Jadi kalimat saya itu menunjukkan “PKI dan TNI itu pra-Pergerakan Nasional”, atau tidak? Penjelasan saya ada salahnya, tidak? ;)

    BTW, nice to discuss with u.. my suggestion still the
    same: jangan overgeneralisasi hamas menjadi palestina.

    Dan saya juga punya saran: jangan terlalu gampang menilai orang tidak konsisten. Pelajari dulu jalan pikirannya selengkapnya, baru berkomentar. Lah, itu di atas menunjukkan Anda salah paham pikiran saya. Epik sekali. :lol:

    Jadi, mari kita sama-sama belajar dari diskusi ini. OK? ;)


  170. pada Februari 4, 2009 pada 5:13 pm sora9n

    @ all

    Diskusi saya dengan mas dust saya cukupkan sampai di sini. Saya sudah menyampaikan apa yang saya rasa penting mengenai pendirian saya. Jadi, mulai sekarang, saya akan jadi penonton saja. (kecuali kalau mendadak saya berubah pikiran :P )

    Kalau masih ada yang ingin melanjutkan diskusi di post ini, saya persilakan. Tapi ingat rambu-rambu diskusi yang sudah dijelaskan di halaman license:

    III. Restrictions:

    Though, you are not allowed to:

    [2]
    Create comment(s) which is insulting, uncourteous, contempting other party without proper evidence, and/or irrelevant to the topic. No spam, ad hominem, flames, etc. Please keep the discussion clean. :)

    Sekian, terima kasih. Have a nice debate if you wish. ;)


  171. pada Februari 4, 2009 pada 7:23 pm joesatch yang legendaris

    bagus. kalo ada apa-apa lagi berarti giliran saya…tentunya kalo mas/mbak dust sudah puas dengan anda, masdab :lol:


  172. pada Februari 4, 2009 pada 8:03 pm Ando-kun

    III. Restrictions:

    Though, you are not allowed to:

    [2]
    Create comment(s) which is insulting, uncourteous, contempting other party without proper evidence, and/or irrelevant to the topic.

    @sora
    I always keep insult myself as IQ squat :mrgreen: it just a bad habbit.
    Sorry, I promise will never insult myself in here. Let’s we pray for me :D

    Udah selesai toh, kalau gitu saya terpaksa bongkar kemah, memadamkan api unggun dan permisi pulang.

    Sampai jumpa dipostingan berikutnya, MERDEKA! (Si Unyil)

    *Otsukaresama desu*


  173. pada Februari 5, 2009 pada 12:54 am Abu Geddoe

    @ dust

    Pertanyaan saya belum dijawab nih, jadi Anda diskusi soal Gaza atau soal Sora? :mrgreen:

    saya melakukan ad hominem? apa saya menghina-hina sora untuk meruntuhkan argumen dia? tidak. yang saya lakukan adalah menjawab permintaan DIA.

    Astaga, Anda mengerti ad hominem itu apa tidak sih? Kok jawabannya polos sekali? Anda menghiasi argumen dengan kata-kata “sangat bodoh”, “memuakkan”, dan segala kosa kata sekolah menengah yang tak relevan dengan diskusi lalu pasang muka imut; “saya melakukan ad hominem?” :lol:

    Saya asumsikan Anda sudah dewasa dan sudah memiliki KTP. Jangan bertingkah seperti itu dong.

    wuakakakaka.. kaya gini ini namanya falasi apa, sora?? yang menyeret otoritas tak jelas untuk memaksakan sebuah pembenaran? ad verecundium??

    Anda ini lagi-lagi sok tahu dan menantang. Jadinya ‘kan mempermalukan diri sendiri. Nih saya bacakan;

    “There is no fallacy involved in simply arguing that the assertion made by an authority is true, in contrast to claiming that the authority is infallible in principle and can hence be exempted from criticism”

    *geleng-geleng*

    IRONIS LAGI, kritik itu dikemukakan oleh anda, seseorang yang juga gemar beranalogi.

    Sebenarnya ini ada istilahnya juga; namanya tu quoque. Tapi saya malas ah, dikasih tahu juga nanti tidak dibaca. :)

    * * *

    BTW, Anda kelihatannya hobi juga menulis. Panjang euy. Kenapa tidak buat weblog sendiri?


  174. pada Februari 5, 2009 pada 8:32 am Ando-kun

    @Geddoe
    Ada satu hal yang dengan jujur dikemukakan dust dengan blak-blakan dan benar adanya, “tulisan saya nggak mutu”. Maklumlah kerjaan tukang kipas-kipas (kalau disinetron jaman dulu diperlihatkan oleh pemeran figuran, ngipasin raja dan ratu kerajaan melayu di singgasana, hehehe sori deh kalau analogi lagi).
    Tukang kipas-kipas memang dekat (posisinya) dgn pusat pemerintahan hingga banyak tahu isu politik terkini, tapi levelnya sangat jauh dibawah ,hingga kalau ngomong kebanyakan bisa2 dipenggal :cry:
    ..ooppsss, sori deh sora, I insult myself again…..

    webblog sih ada koq, hanya saja lebih membahas film2 yang jarang direview orang lain. Hobi nongton sih.
    Toh film juga ekspresi pendapat lewat seni kan.

    http://yusahrizal.wordpress.com/


  175. pada Februari 5, 2009 pada 8:35 am Ando-kun

    Waduh komentarku terjaring Aki Memet lagi nih. :cry:


  176. pada Februari 5, 2009 pada 8:49 am gentole

    Was I acting like our fellow Dust here back then? I am stubborn and easily fed up with bad discussion, but this is just way out of line. Tapi ada hikmahnya lah di sini. Selain kudu taat sama aturan berbahasa dan berlogika, dialog yang baik itu juga membutuhkan mutual respect. This respect helps you understand the arguments of your opponents dialog partners. This respect ensures that reason is working comfortably.


  177. pada Februari 5, 2009 pada 6:53 pm sora9n

    @ Ando-kun

    Komennya sudah dilepaskan. :)

    *balik lagi ke pinggir lapangan, mengamati*


  178. pada Februari 5, 2009 pada 7:15 pm Abu Geddoe

    @ Ando-kun

    Lha kalo blog Anda mah saya juga udah baca.

    BTW kok nelangsa sekali? Dan lagi yang dilarang sama empunya blog kayaknya cuma menginsult orang lain, deh. “Create comment(s) which is insulting, uncourteous, contempting other party without proper evidence, and/or irrelevant to the topic.“. :mrgreen:


  179. pada Februari 5, 2009 pada 8:22 pm Ando-kun

    @sora
    Itu Aki si Memet diajarin yg bener donk! Jangan main hakim sendiri. btw, saya nggak terima difitnah sbg “kawan” sora. Bagaimana pendapat anda? :P

    @Geddoe
    Lha koq nanyain blog lagi kalo udah baca???

    Maybe dual personality :mrgreen: Yang satu ngipasin di kanan dan yang satu ngipasin di kiri.

    “Hallelujah, jangaaannnn!”
    “Dasar lemah kau Allelujah! Biar aku yang mengerjakan.”
    “Tapi…. tapi…..”
    “Sudah! Kau tidur saja! Allelujah Haptism memang tak berguna!”…… Buukkkkk!!!
    “Zzzzzzz…..zzzzzzz…..”

    *Kemah sudah selesai dikemas, cek api unggun sudah padam. Bye-bye…. Sayonara. Mata ato de*


  180. pada Februari 6, 2009 pada 12:00 am Catshade

    Geddoe itu bukannya nanyain blog-nya mas/mbak dust? :?

    …

    Atau…jangan2, mas/mbak dust ini adalah sockpuppet alter-egonya Ando-kun? 8O


  181. pada Februari 6, 2009 pada 12:37 am Ando-kun

    @Catshade
    Oopss salah liat, maklum meleng.
    ………………………Hehehe, Jangan samakan gue dengan debu.
    Sorry, udah mau berangkat nih angkotnya. Dadahhh.
    ………………………Bye baby, move to next posting (boring mode: on)


  182. pada Februari 6, 2009 pada 9:02 pm sora9n

    @ all

    Anu… tolong diskusinya dijaga. Jangan banyak nge-junk, apalagi OOT. Kalau nggak bisa menjaga diri ntar saya bersihin lho. ;)

    (serius ini; saya udah pernah ngirim 9 komen ke akismet sekali jalan gara-gara OOT)

    :::::

    @ Ando-kun

    Itu Aki si Memet diajarin yg bener donk! Jangan main hakim sendiri.

    Emang gimana ngajarinnya? Lha wong dia terotomatisasi, kok. :P

    btw, saya nggak terima difitnah sbg “kawan” sora. Bagaimana pendapat anda? :P

    Saya juga nggak terima dituduh temennya tukang kipas-kipas. Ih, amit-amit. Enggak banget. [-(

    *digebuk*

    :::::

    @ Catshade

    Atau…jangan2, mas/mbak dust ini adalah sockpuppet alter-egonya Ando-kun? 8O

    Benar juga! Bukankah mereka berdua munculnya hampir bersamaan. Ini pasti ada hubungannya! :shock: :twisted:

    [/halah]


  183. pada Februari 7, 2009 pada 12:04 am dust

    berikut ini pledoi saya (untuk terakhir kali juga). alah.. :)

    ***

    sora: “Masih berani bilang Anda tidak ad hominem? Gullible!”

    saya mengejek dan menyentil anda, ya benar. itu terjadi. tapi
    apa sentilan itu saya gunakan sebagai alasan atau pointer
    untuk menunjukkan buruknya argumen anda? tidak.

    ngomong soal ejek-ejekan dalam diskusi, itu wajar terjadi,
    asal tidak dipake sebagai klausul mematahkan argumen, misal:
    “kamu salah menilai blablabla karena kamu orang bodoh..”

    coba liat contoh wikipedia:
    “Paula says the umpire made the correct call, but this can’t
    be true, because Paula wasn’t even watching the game.”

    hmm.. saya ga pernah bikin pernyataan bernada gituan bukan?
    soal upaya menunjukkan inkonsistensi saya, saya hanya taat
    pada alur diskusi. anda sendiri yang meminta menunjukkan
    contoh inkonsistensi anda.

    OK, saya emang nyindir anda sebagai smartass. jika anda
    anggap itu sebagai ad hominem, maka seharusnya pernyataan
    ini juga didefinisikan sebagai falasi ad hominem juga:

    1. Anda ini keras kepala, sok tahu fallacy tapi maksa, ditambah lagi doyan ngeles.
    2. Anda gak niat diskusi.
    3. Anda tidak menunjukkan kualitas debat di sini.
    4. Benar-benar tipikal troll.
    5. Memalukan sekali Anda ini. Sudah ngotot, salah paham, gak ngerti pula.
    6. Sorry, but this only shows more of your incredulity. ;)

    mocking itu kan bumbu diskusi. liat aja debat capres AS
    yang juga kadang melontarkan ejekan-ejekan politis. bukan
    sebagai ad hominem, tapi biar renyah dan menarik pemirsa.

    ***

    sora: “Sebagai logika formal, dia adalah fallacy (i.e. salah
    secara silogistik). Tetapi, dalam kasus logika informal, dia
    tidak termasuk fallacy. Syaratnya adalah: dia ditemani oleh
    premis bahwa “orang/ahli yang ditanya bersifat kompeten”.

    thanks for the link. i’ve read it. ini bagian lain dari info
    di wikipedia: “Nevertheless, experts can still be mistaken
    and their expertise does not always guarantee that their
    arguments are valid. In some cases, the appeal to authority
    plays on the Western culture’s respect for credentials.
    For example, suppose a complex nutritional system and diet
    guide is endorsed or ghostwritten and CREDITED TO a qualified
    doctor.”

    credit to ‘otoritas tak jelas’ untuk mengukuhkan suatu fakta
    adalah bentuk lain dari appeal to authority. contohnya, saya
    juga bisa ngemeng gini: “menurut sodaraku yang psikolog,
    analogi itu cara termudah menjelaskan sesuatu yang sulit,
    kepada orang-orang berotak lemah,”

    see?? :)

    sora: ““Satu entitas keluarga” itu kan kata Anda. Kalau saya
    bilang “keluarga” sebagai “himpunan negara di timur tengah”,
    bagaimana?”

    nah, pernyataan anda itu SEKALI LAGI menunjukkan buruknya
    kemampuan memaknai hubungan interelasi antar penanda, dan
    menyajikannya ke dalam representasi analogi yang berimbang.

    anda melupakan realitas asli yang sedang dianalogikan, lalu
    seenaknya mempertukarkan hubungan interelasi dua realitas
    menjadi dua penanda yang berhubungan interelasi jauh berbeda
    DARI REALITAS yang coba diwakili.

    sora, ‘himpunan negara timteng’ dalam analogi lebih tepat
    bisa direpresentasikan sebagai ‘RT’, bukannya keluarga.
    ‘suami-istri’ tentunya lebih tepat dimaknai sebagai ‘dua
    entitas berbeda dalam satu unit yang memiliki visi kelompok
    sama (meski misi dan pembagian kerja kadang berbeda)’.

    israel dan hamas, bukan di posisi ini. tapi, jika pada ujung
    nya anda bilang: “Ah, itu kan kata Anda. Anda kan bukan
    Tuhan, tidak mungkin selalu benar.”

    maka, tak ada yang bisa didiskusikan lagi. u hear what u want
    to hear.. ini memberi saya alasan berhenti sampai di sini. dan
    ini membuat saya makin prihatin mengingat justru anda yang
    menuduh saya; “tak niat berdiskusi.” *sigh*

    ***

    Pertanyaan 1: Kok jadi PSK? Tadinya kan “vasektomi vs. kondom”?

    tolong dimaknai komprehen: analogi yang tepat (UNTUK POSISI ANDA
    SEHARUSNYA) adalah dokter (YANG BILANG): “silahkan anda pilih
    KB dengan vasektomi atau kondom”. tak mungkin (DAN POSISI ANDA
    SEHARUSNYA TAK DI SINI) dokter bilang: “anda mo pilih mana?
    rumit nih. mereka bilang vasektomi bisa dipilih, tapi jajan ke
    PSK juga bisa jadi solusi andal mengendalikan kelahiran”

    tapi sudahlah.. apapun penjelasan saya tak penting, bukan??

    sora: “Dari awal juga, saya sudah bilang bahwa PKI itu produk
    pasca-Pergerakan Nasional.”

    dan dari awal juga, saya tak mengatakan bahwa gerilyawan yang
    saya sodorkan adalah gerilyawan PRA-pergerakan nasional, melain
    kan gerilyawan PASCA-pergerakan kemerdekaan. lalu, kenapa anda
    mempersoalkan TNI, TKR, dll yang saya sodorkan?

    anda pikir, di zaman kolonilialisme. mereka itu tak bergerilya
    melainkan sudah punya pos-pos dan markas resmi gitu??? come on..
    kalo anda salah tangkap, okelah.. tapi jangan anda eksploitasi
    kesalahan anda sendiri (ketika menangkap maksud lawan bicara),
    dengan seenaknya menuduh.

    kalo mata anda liyer, jangan bilang lawan diskusi memfitnah
    dan melakukan false dilemma. kalo anda salah mengerti, jangan
    bilang lawan diskusi melakukan chewbacca defense hanya karena
    berusaha memberi pemahaman pada anda (dan sedikit sindiran
    yang–sayangnya–saya lontarkan karena mengira anda bener-
    bener gak ngerti).

    anyhow, saya minta maaf karena salah mengira, hingga sindiran
    itu membuat anda terluka. oh, itu kata saya? saya bukan Tuhan
    ya? okelah. whatever…

    ***

    @ ando

    here is what u said: “karena para pejuang menang lawan belanda,
    jepang dan sekutu berdirilah negara Indonesia.”

    FYI, indo berdiri karena MENCURI KESEMPATAN di tengah vacuum
    of power. perundingan lawan belanda adalah wujud perjuangan
    memertahankan (BUKAN MEREBUT) kedaulatan.

    karena itu, SALAH jika: “Hal yang sama dengan Israel, Zionis
    menang perang lawan negara2 arab disekitar, berdirilah negara
    zionis Israel.”

    alasan:
    1. israel tak memperjuangkan kedaulatan, namun merebut wilayah
    orang. dia tak di posisi indo, melainkan di posisi belanda.

    2. tentara indo tak pernah berhasil mengusir belanda dari
    wilayah indo. mengusik, emang iya (seperti anda contohkan).
    tapi, ga perlu ngarang teori bahwa belanda sebenarnya takut
    dan kalah teknologi persenjataan di irian.

    STILL, kita mempertahankan kedaulatan INDONESIA (bukan irian
    barat thok) berkat meja perundingan, bukan bedil dan senapan.

    jika poin anda adalah: “pemenang yang berhak membuat sejarah”,
    dan bukannya: “yang kuat boleh menganeksasi yang lemah untuk
    membangun negara baru”, maka anda salah.

    anda justru membenarkan itu, dengan membuat pernyataan ini:
    “Nyerang Singapur? Boleh saja koq, kalau Indonesia berani
    menghadapi keroyokan Singapur, Malaysia, Australia, New
    Zwland, Inggris dan kambrat Commonwealth-nya.”

    see? ur INITIAL point is: “yang kuat, silahkan nyerang yang
    lemah. kalo indonesia merasa kuat nyerang singapur, BOLEH
    SAJA.. persoalannya satu: berani nggak? berani nggak?”

    BTW, thanks atas masukan anda untuk membeli buku petunjuk
    cara membaca yang baik dan benar. thanks juga atas ledekan
    anda. hehe.. namun, izinkan saya juga memberi anda masukan:

    1. “berevolusi dulu lah sebelum berdiskusi.”
    2. “konsistensi anda dalam berargumen bagus. pertahankan.”

    *i’m jokin, for the 2nd sentence. i really am..* :D

    ***

    oh, come on.. we’re discussing, right?? no heartfeeling y?
    everybody?? kalian benar-benar seru dan rame! (ini serius).


  184. pada Februari 7, 2009 pada 1:37 am Catshade

    mocking itu kan bumbu diskusi. liat aja debat capres AS
    yang juga kadang melontarkan ejekan-ejekan politis. bukan
    sebagai ad hominem, tapi biar renyah dan menarik pemirsa.

    Well, this explains everything… :roll:


  185. pada Februari 7, 2009 pada 2:23 am Ando-kun

    @dust
    ini komen saya terakhir. Selain saya sudah malas nulis hal yg sama berulang-ulang (debat kusir??? 8) ), saya lg konsen buat hal lain. Kalau cuma sekedar nulis beberapa kata buat ngipas-ngipasin sih no problem.

    FYI, indo berdiri karena MENCURI KESEMPATAN di tengah vacuum of power. perundingan lawan belanda adalah wujud perjuangan memertahankan (BUKAN MEREBUT) kedaulatan

    Sambil baca komentar saya ini, coba baca2 lg tulisan para orang pintar minum jamu tolak angin diatas. Memang benar seperti kata anda: “bagi orang Indonesia” perundingan melawan belanda memang usaha mempertahankan kemerdekaan.
    Tapi…….

    Apakah bagi dunia Internasional (dalam artian pengakuan banyak negara) telah mengakui Indonesia merdeka pada saat perundingan? Contoh saja, sewaktu perundingan Linggarjati, bisa anda sebutkan berapa banyak negara yang telah mengakui Indonesia? Sebagai perbandingan anda boleh cari negara yang mengakui Indonesia sebagai negara merdeka setelah perundingan di meja bundar. Setelah itu baru anda boleh ngomong “mempertahankan”.

    Kalau anda orang belanda, apakah pada tgl 17 agustus tahun 45 itu Indonesia sudah merdeka? Saya nggak ngerti apa itu ad hominem ataupun populum, tapi anda tidak bisa mengatakan bahwa Indonesia menggunakan arena perundingan sebagai alat untuk “mepertahankan kemerdekaan” hanya karena anda orang Indonesia dan belajar PSPB d Indonesia ataupun karena anda tinggal di Indonesia dan mendengar pendapat umum orang2 disekitar anda, yg juga belajar PSPB di sekolahan.

    Saya ulangi lagi kalimat saya diatas.
    “Terserah anda mau pake kaca mata mana. ”

    Sekali lagi saya katakan (saya capek mengulang-ulang, karena itu ini komentar saya terakhir), anda sendiri yg menganggap kata2 yg saya tulis mengatakan A, padahal maksud saya B.
    Lalu anda mengejar2 saya dengan pertanyaan mengapa A, mengapa A, mengapa A, bukannya bertanya mengapa B. Saya kira karena pertanyaan anda lahir karena hasil pemikiran anda sendiri, silahkan jawab sendiri.

    1. Ini balik lagi ke adu komentar sama sora diatas. Saya malas mengulanginya lagi siapa yg duluan tinggal di Palestina, siapa yg duluan aneksasi tanah.
    Nanti hasilnya jg anda simpulkan saja sendiri, Israel berada diposisi Belanda sbg penggusur atau dipihak Indonesia yg merasa memiliki tanah.

    2. Anda bertanya sebelumnya apakah tentara Indonesia pernah menang lawan Belanda bukan? Koq sekarang malah ngomong berhasil mengusir Belanda? Mengusir belanda itu sudah pasti menang perang, tapi menang perang belum berarti mengusir belanda. Anda tanya timur dan saya tunjuk arah timur, koq anda justru nyasar menuju ke tenggara.
    Terserah anda deh kalau bagi anda itu hal yg sama, saya tidak berhak memaksa anda. Toh saya bukan ahli bahasa.

    Soal ngarang teori militer Indonesia ditakuti belanda,
    Ini sedikit data peralatan tempur yg baru dibeli Indonesia dari Uni Sovyet utk persiapan operasi Trikora (pembayaran jangka panjang dgn bunga rendah):

    41 Helicopter MI-4, 9 Helicopter MI-6, 30 jet fighter MiG-15, 49 jet fighter MiG-17, 10 jet fighter MiG-19 ,20 jet supersonic MiG-21, 12 Whiskey class submarine, more than 50 corvet and 1 Sverdlov class cruiser, 22 bomber aircraft Ilyushin Il-28, 14 long-range bomber aircraft TU-16 with antishipping missile AS-1 Kennel.
    Daftar diatas belum termasuk persenjataan yg sudah ada serta kapal/pesawat angkut berat, dll.

    Jangankan belanda yang jaraknya jauh (ingat akomodasi dan logistik utk persiapan perang), australia yg relatif lebih dekat dgn Indonesia aja nggak bakalan berani cari gara2.
    Terserah anda kalau mau bilang saya ngarang belanda takut sama militer Indonesia (tentu saja pada tahun 1960-an). Tapi menurut anda apakah belanda bakalan berani berjudi dengan lihat kondisi militer Indonesia seperti diatas?

    Soal kalimat Indonesia berhak nyerang singapur kalau berani, itu saya tarik karena maksud saya disitu hanya sekedar bercanda.
    Walaupun…………….
    Tidak menutup kemungkinan Indonesia kalau punya kekuatan besar bakalan nyerang tetangganya. Apalagi kalau lihat negara2 yg punya kekuatan militer dimasa lalu menyerang tetangganya, mau dgn alasan memperluas wilayah, membela diri tapi kemudian keterusan merebut wilayah orang, membangun peradaban buat orang “barbar” atau malah membalas dendam. (Yunani, Romawi, Makedonia, Dinasti2 China, Mongol, hingga yg agak modern seperti Jepang, Jerman, dan Amerika).
    Toh waktu tahun 1960-an Indonesia berani koq nyerang Malaysia (plus singapur tentunya) karena kekuatan militernya nggak kepake penuh buat operasi Trikora.
    Apakah dgn mengemukakan fakta demikian, saya mendukung si kuat menindas si lemah? TIDAK, tapi sekali lagi teori dan praktek kebanyakan tidak sejalan jika menyangkut perang.

    Ma kasih atas usulannya, sayangnya ada yg mau saya betulkan:
    1. Saya berevolusi setiap hari dgn berbagai macam kegiatan, termasuk dgn cara berdiskusi. Tanpa ada diskusipun saya berevolusi dgn cara lain. Saya bukan orang yg hanya mau berevolusi sebelumnya hanya demi berdiskusi (mungkin anda sendiri? ini hanya tebakan lho :mrgreen: ).

    2. Saya berdiskusi hanya untuk mencari kebenaran, bukan menang-menangan. Sayangnya anda lebih banyak salah mengartikan pendapat saya, dan mempertanyakan pendapat saya “berdasarkan opini anda” terhadap pendapat saya….. Kadang saya bingung dgn anda.

    Konsistensi? Konsistensi yg berbentuk apa nih?

    NB.
    Yang Geddoe bilang itu benar. Anda nulis panjang2 kenapa nggak bikin di webblog sendiri?
    Tumben kata-kata tulisan anda mulai lebih sopan, sepertinya anda mempersiapkan berevolusi terlebih dahulu sebelum diskusi yah. :D

    *I do serious about the last sentence*


  186. pada Februari 8, 2009 pada 1:15 pm si rudi

    Israel-Palestina akan terus konflik selama konflik itu masih menguntungkan faksi-faksi yang terlibat.
    .
    Sudah 3-4 kali saya dapat orderan cetakan menyangkut demo anti-Israel :-” Duit panassss


  187. pada Februari 11, 2009 pada 11:05 am Andi

    Atrikel menarik dari blog tetangga ttng Israel

    http://trulyislam.blogspot.com/2009/01/sejarah-israel-yahudi-dan-zionis.html


  188. pada Februari 12, 2009 pada 10:42 pm dust

    halo sora, apa kabar… sorry, tadi ada yang ngingetin tentang diskusi kita, jadi gw mampir lagi. dan, mau nitip pertanyaan satuuuuu aja buat ANDO KUN. di mana sih sumber referensi ilmiah dia ketika menyebut ini:

    Ini sedikit data peralatan tempur yg baru dibeli Indonesia dari Uni Sovyet utk persiapan operasi Trikora (pembayaran jangka panjang dgn bunga rendah): 41 Helicopter MI-4, 9 Helicopter MI-6, 30 jet fighter MiG-15, 49 jet fighter MiG-17, 10 jet fighter MiG-19 ,20 jet supersonic MiG-21, 12 Whiskey class submarine, more than 50 corvet and 1 Sverdlov class cruiser, 22 bomber aircraft Ilyushin Il-28, 14 long-range bomber aircraft TU-16 with antishipping missile AS-1 Kennel. Daftar diatas belum termasuk persenjataan yg sudah ada serta kapal/pesawat angkut berat, dll. Jangankan belanda yang jaraknya jauh (ingat akomodasi dan logistik utk persiapan perang), australia yg relatif lebih dekat dgn Indonesia aja nggak bakalan berani cari gara2.

    lalu, trikora itu kan terjadi pada 1962, jauh amiiit dari perang kemerdekaan (1930-1950). maksa banget sih ngarang-ngarang teori bahwa kemerdekaan RI dicapai berkat perang fisik??

    tanyakenapa?? :)


  189. pada Februari 12, 2009 pada 10:59 pm Ando-kun

    @dust
    Halo… halo… anda nanya masalah perang atau merdeka sih? katanya nanyain kapan tentara Indonesia menang perang lawan belanda? Lain kali kalau nanya inget2 pertanyaannya supaya kalau dijawab nggak bingung mencerna jawaban dari pertanyaan sendiri. Bikin tembolok dulu gih buat mencerna

    Sekali lagi baca pertanyaan anda sendiri diatas!

    *Lagi males meleng, asyik baca ulasan sora ttg the fabric of reality*


  190. pada Februari 12, 2009 pada 11:08 pm Ando-kun

    @sora
    posting saya diatas dimasukin ke junk aja. udah males debat.
    Bukunya Deutsch kayaknya menarik. Ntar dicari deh setelah kelar baca yg ada ditangan.

    @dust
    okeh dust. Anda menang. Silahkan merayakannya.

    *Balik baca bukunya Jared Diamond. “The Rise and Fall of the Third Chimpanzee”*


  191. pada Februari 15, 2009 pada 7:50 pm dust

    sora, sebaiknya aspirasi ando kun difasilitasi.
    toh, beliau tak menjawab pertanyaan saya soal:
    referensi ILMIAH.

    siapapun yang merasa punya cerita tentara indo
    memenangkan perang lawan belanda, di trikora
    sekalipun, mohon posting di sini.

    *membayangkan armada indonesia itu menggempur
    pasukan belanda, sampe bule itu kocar-kacir
    dan kabur dari wilayah indonesia. sayangnya:
    itu cuma FIKSI. atau, mungkin itu teori ilmiah,
    yang dikasi label; MISSING LINK*


  192. pada Februari 15, 2009 pada 8:23 pm Ando-kun

    @dust
    EGP


  193. pada Februari 15, 2009 pada 8:51 pm Ando-kun

    @dust
    EGP

    何でも答えられちゃうけどお前の考えてることがしつこいだから、全部の答えは無駄になちゃうんだ。きっ様、ほんまの立派なな男だたら、自分自身に答えてくれ。俺の時間が大事何だから、きっ様の馬鹿者に質疑応答は興味がない。
    お前の言葉はほんまに馬鹿ばかしい。


  194. pada Februari 16, 2009 pada 6:52 am sora9n

    @ dust

    sora, sebaiknya aspirasi ando kun difasilitasi.

    Apa maksudnya ini? Aspirasi difasilitasi? :-?

    Saya di sini memang jadi fasiltator diskusi (setelah memutuskan untuk jadi penonton tempo hari). Kalau orang mau berdiskusi, silakan saja: yang penting ramah, sopan, dan bermutu.

    BTW, kalau bisa, tolong kembali ke topik utama (i.e. Palestina/Israel dan fallacy) kalau mau lanjut. Jangan malah ngalor-ngidul ngomongin sejarah NKRI – jadinya OOT, ini.

    toh, beliau tak menjawab pertanyaan saya soal:
    referensi ILMIAH.

    Anu, bukannya saya bukannya mau tu quoque… tapi mbok ya Anda itu ngaca. :lol:

    Di blog ini maupun di tempat Geddoe, Anda juga sering mengabaikan omongan lawan diskusi. Ditambah lagi: malas membaca komentar2 lama. Padahal sudah disuruh berkali-kali. Ini apa bukan “pengabaian” juga?

    Kalau saya disuruh mengurus komentar macam ini dengan tegas, jujur, komen2 Anda bakal banyak yang masuk akismet. :lol: No offense.

    :::::

    @ Ando-kun

    Lho, situ kan udah bilang:

    okeh dust. Anda menang. Silahkan merayakannya.

    Ngapain nanggepin lagi? :mrgreen:


  195. pada Februari 16, 2009 pada 10:05 am Abu Geddoe

    @ sora9n

    Missing link-nya mannnaaaaa~ :o


  196. pada Februari 16, 2009 pada 7:08 pm sora9n

    ^

    Hei! Kamu ngoceh soal missing link. Pasti habis ini bakal ngomong fosil peralihan, kan!? :mrgreen:

    Pasti kamu belum pernah baca FAQ. Ngaku kamu! NGAKU!! :mrgreen:


  197. pada Februari 16, 2009 pada 8:17 pm dust

    sora,

    saya tak ada soal dengan posting anda. baca lagi
    posting awal saya di atas. saya minta anda kasih
    pencerahan. tapi, apa yang saya dapat? FALASI.

    ramai anda menjelaskan falasi, anda memakai juga
    tuh barang busuk untuk orang-yang-sering-dituduh
    -ga-paham-falasi yang minta dicerahkan.

    namun, ketika terbongkar anda memilih ngeles by
    saying: “Seperti yang sudah saya bilang: saya
    sekadar membagi sudut pandang. Sudut pandang
    Israel saya bagikan. Sudut pandang Palestina
    saya bagikan. Saya serahkan apa adanya.
    Bagaimana jika terkandung fallacy di dalamnya?
    That’s the way they are. Jika sudut pandang itu
    mengandung fallacy, apa boleh buat? Sebab saya
    pribadi berkeinginan memaparkan, menyampaikan
    sudut pandang saja. Tidak lebih.”

    bandingkan dengan pertanyaan awal saya soal
    aneksasi: “saya harap anda juga bisa MEMBERI
    PENCERAHAN pada saya tentang ini: “palestina
    saat ini menjadi SATU-SATUNYA bangsa yang masih
    berjuang melawan aneksasi (selama 60-an tahun).
    gimana pendapat anda, perlukah didukung?”

    pendapat anda adalah: mendukung kemanusiaan.
    ooo… *(gak) nyambung banget yak?? :D

    (kalo menurut anda, komen awal saya itu gak
    nyambung dengan posting, bilang aja zuzur.
    ga usah anda repot tanggepin, dan saya repot
    membenarkan konstruksi berpikir anda dalam
    beranalogi.

    ***

    soal ‘missing link’ itu ga saya tanggepi, dari
    pada menyukseskan niat anda untuk OOT bahas
    teori darwin VS kreasionis, which is I dont
    give a darn shit.. ;)

    tapi, mungkin anda bisa kembalikan ke alur
    yang bener: bisa ditunjukkan referensi ilmiah
    tentang persenjataan indon itu? kalo nggak.
    bilang aja, ENGGAK.

    saya kan cuma minta bantuan.. kalo mau, ya
    udah, kalo enggak ya diem aja (ga usah bikin
    tulisan bahasa asing) or ngejek saya.. otre?

    oh ya, maksudnya ‘aspirasi ando difasilitasi’
    adalah: buang saja komen beliau, seperti yang
    beliau mintakan pada anda. sederhana kok..

    BTW, thanks atas masukannya.. i’ll consider,
    mungkin kita berdua masih suka abai dalam
    berdiskusi. yang jelas, kalo saya salah, saya
    pasti ngaku, mengoreksi dan minta maaf. ga
    perlu ngeles dengan pamer (teori) falasi.


  198. pada Februari 17, 2009 pada 9:52 pm Ando-kun

    @sora
    gomen ne sora. nakama jyanai kedo koko ni mata gomi sutechatta. ore no gomi sutetemo ii yo.
    All my last short comments was just for fun to make that okama write more and more and more and wasting time to write some craps, but i forget that i use your blog for this silly thing.
    Ima kyuu ni oboeterun da.
    Sumanai na.

    *謝る*


  199. pada Februari 18, 2009 pada 12:35 am Senbonzakura

    Umm…
    Sumimasen..
    Kog jadi panas gni yah keadaannya :P
    Ini kan cuma comment aja, mohon jangan disalah artikan
    (Sok tau permasalahan) :P

    Well, buat saia.. moga2 pulau Jepang bisa jejer ma Indonesia biar bisa blajar ma jalan2 :P
    (Comment from Bakamono) :P

    Sori klo OOT.. ^^


  200. pada Februari 18, 2009 pada 1:32 pm sora9n

    @ dust | Ando-kun

    Sori, kemarin saya nggak sempat online, jadi baru sempat menanggapi hari ini. Langsung saja ya…

     
    @ dust

    saya tak ada soal dengan posting anda. baca lagi
    posting awal saya di atas. saya minta anda kasih
    pencerahan. tapi, apa yang saya dapat? FALASI.

    Begini, coba kita telusuri lagi…

    Pertama kali datang, Anda menanyakan: “apa yang memberi hak Israel mencaplok tanah Palestina?”

    Saya lihat Anda cenderung terpaku pada Palestina, maka saya paparkan pada Anda: sudut pandang dari kedua belah pihak, baik Israel maupun Palestina. Itu saja.

    Kalau itu tidak Anda terima sebagai “pencerahan”, ya apa boleh buat. Sebab saya hanya ingin perspektif Anda jadi lebih berimbang.

    oh ya, maksudnya ‘aspirasi ando difasilitasi’
    adalah: buang saja komen beliau, seperti yang
    beliau mintakan pada anda. sederhana kok..

    Soal “buang komen” atau tidak, itu kembali pada keputusan saya. Yang jelas saya akan memberi peringatan sebelum bertindak.

    BTW: saya sudah berikan peringatan pada Mas Ando di bawah ini. Bisa Anda baca kalau tertarik.

    BTW, thanks atas masukannya.. i’ll consider,
    mungkin kita berdua masih suka abai dalam
    berdiskusi. yang jelas, kalo saya salah, saya
    pasti ngaku, mengoreksi dan minta maaf. ga
    perlu ngeles dengan pamer (teori) falasi.

    Mas, saran saya: jangan cepat menilai orang “pamer”, “inkonsisten”, dan lain sebagainya begitu saja. Jangan cepat termakan prasangka — justru yang macam itu bikin diskusi tambah panas.

    Jadi, coba kita sama-sama berusaha kalem dan berkepala dingin. Paling tidak bisa membantu menghasilkan diskusi yang lebih fruitful untuk ke depannya.

    Salam. :)

    :::::

    @ Ando-kun

    Masbro, saya harus memberi catatan khusus…

     
    1. Kita ini niatnya berdiskusi, yakni untuk mencari titik terang. Jadi, ke depannya, tolong jangan pakai bahasa yang tak dimengerti pembaca. Inggris masih boleh, tapi Jepang out of question lah.

    2. Saya paham masbro merasa gondok karena isi komen mas dust, tapi mbok ya jangan sekadar flaming. Di samping nggak mencerahkan, juga makan bandwidth kalau orang buka halaman ini.

    (FYI: jumlah komen sudah mencapai 203, ukuran halaman 158 kb, dan saya harus menunggu 5 menitan loading pakai HP)
     

    Kurang lebih begitu. Ini juga berlaku buat mas dust: kalau ada flame atau junk comment lagi, akan langsung saya kirim ke akismet.

    gomen ne sora. nakama jyanai kedo koko ni mata gomi sutechatta. ore no gomi sutetemo ii yo.

    Daijoubu da. Tada, mou shinaide kudasai. ;)

    * * *

    Terakhir, pengumuman untuk semua:

    Lima diskusi terakhir dust dengan Ando (i.e. 1 dari dust dan 4 komen dari Ando) saya kirim ke akismet, sebab sudah semakin melenceng dari diskusi.

    Untuk komentator lain ke depannya (kalau ada), HARAP MENGACU pada empat poin di bawah ini:

    1. Sanggup memelihara kepribadian
    2. Sanggup menjaga kualitas argumen
    3. Sanggup menjaga sopan santun
    4. Sanggup menguasai diri

    Saya tak mau blog ini diwarnai junk, flame dan cakar-cakaran yang bikin panas. Diskusi harus dengan — sebisa mungkin — sopan, cerdas, dan saling menghormati.

    Sekian, terima kasih.


  201. pada Februari 18, 2009 pada 1:57 pm sora9n

    @ Senbonzakura

    Anu… kalau bisa, hati-hati masuk ke daerah postingan ‘panas’ seperti ini. Resiko ributnya gede lho. ^^;

    *dan ini bukan satu-satunya ‘daerah panas’ di blog ini* :P


  202. pada Maret 24, 2009 pada 12:03 am 7 Tips Berdiskusi dengan Anger Management (untuk diterapkan di Blogosphere) « sora-kun.weblog()

    [...] macam itu pernah terjadi di blog ini: [link]. Seorang netter datang dan merasa punya pengetahuan full-fledged. Tetapi, ketika ditanggapi dan [...]


  203. pada April 22, 2009 pada 10:37 am OPM di Y!M « JenSen99’s Weblog

    [...] Suatu kali saya pernah bertanya pada sora.kun soal wilayah Indonesia berdasarkan alasan historis: Berarti sama fallacy-nya (argumentum ad antiquitatem) juga dengan menyatakan Republik Indonesia itu harga mati dari Sabang sampai Merauke karena selebar itulah Hindia Belanda dulu. (?) [...]


  204. pada April 22, 2009 pada 12:32 pm BudiTyas

    Tentang red herring, kok nampaknya logikanya cukup valid ya. Ditambah lagi dengan kasus lain sbg pembanding. Saya tidak melihat itu mengalihkan pembicaraan, tp sekedar memberikan pembanding saja untuk memperkuat statemen “relatif sedikit” itu tadi.

    Sora justru mengatakan death toll nya bisa dibilang besar dgn tdk memberi alasan kenapa bisa dibilang besar, sedang yg dipermasalahkan adalah relatif besar- relatif kecil tadi.


  205. pada April 22, 2009 pada 12:49 pm BudiTyas

    Kayaknya justru lebih dekat ke two wrongs make a right dimana israel menunjukkan korban yg lebih besar agar korban yg diakibatkannya dimaklumi.


  206. pada April 25, 2009 pada 4:14 pm sora9n

    ^

    Tentang red herring, kok nampaknya logikanya cukup valid ya. Ditambah lagi dengan kasus lain sbg pembanding. Saya tidak melihat itu mengalihkan pembicaraan, tp sekedar memberikan pembanding saja untuk memperkuat statemen “relatif sedikit” itu tadi.

    Sejauh yang saya tahu, sebuah pernyataan disebut red herring apabila dia bertujuan mengalihkan pembicaraan dari topik utama. Jadi poin utamanya adalah: ini niatnya memperkaya pembicaraan, atau mau sidetracking? ;)

    Dalam kasus di atas, sah-sah saja kalau menyebut korban Kosovo dsb.-nya sebagai informasi selingan/pembanding (seperti yang bapak sebut). Tetapi dikhawatirkan setelah menyebut “Kosovo”, orang jadi terbawa berargumentasi:

    (+) Tapi Kosovo kan blablabla. Tak bisa disamakan dengan Israel.

    (+) Masalahnya, di Kosovo itu…

    dst.

    Yang mana kemudian si Pro-Israel menyampaikan pembelaan: “Perbandingan dengan Kosovo itu valid! Lihat, penjelasannya begini…”

    Akhirnya, ya, tema diskusi bergeser. ^^;

    Ini mirip dengan kasus pemukulan FPI-Aliansi Kebangsaan tahun lalu. Sebenarnya inti masalahnya kekerasan FPI, tapi jadinya bergeser membicarakan Ahmadiyah. Segala argumen yang jadinya mengesampingkan dari diskusi utama, itu yang disebut red herring. Kurang lebih begitu. :)

    Kayaknya justru lebih dekat ke two wrongs make a right dimana israel menunjukkan korban yg lebih besar agar korban yg diakibatkannya dimaklumi.

    Soal kemiripan dengan fallacy lain, itu bukan hal yang aneh. Red herring memang — bisa dibilang — ‘nenek moyang’-nya semua fallacy. ^^;

    Mengutip Aristoteles: “Semua kesalahan logika pada pada dasarnya adalah ignoratio elenchi (alias red herring), sebab dia berusaha mengalihkan pembicaraan dari tema yang sebenarnya.”

    Jadi bukan tak mungkin ada red herring terdengar mirip fallacy X atau fallacy Y. Rule of thumb-nya memang sangat longgar: apabila argumennya terkesan melarikan masalah dan nggak nyambung, maka dia bisa digolongkan sebagai red herring. :)


  207. pada April 26, 2009 pada 2:41 am BudiTyas

    Yup, two wrong make a rightpun bisa digolongkan red herring. Anda benar.



Komentar ditutup.

  • About Me

    sora9n

    NOTICE:
    This blog is now discontinued. The author has moved to new address: [here]

    [guestbook entries]
  • Disclaimer


    This blog is personal property which is publicized. Readers are free to copy, republish, and distribute the content as long as the source is mentioned.

    [more on license page]

  • People visited this blog:

    • 668,017 times
  • My Picture Gallery

    -=-=-=-=-=-=-=-
    .: Gallery's Main Page :.
    -=-=-=-=-=-=-=-

  • Categories

  • Top Posts

    • Beberapa Kalimat Sapaan dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-7] Pengelompokan Kata Kerja dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-1] Kalimat Aktif Sederhana dalam Bahasa Jepang
    • Direktori 'Nihongo' @ sora-kun.weblog()
    • [nihongo-2] Partikel 'no' dan 'de'
  • Recent Posts

    • Akhir Sebuah Perjalanan (alias: Balada Pindah Alamat)
    • Current Playlist 2010.10.01: World Music Edition
    • Kartu Lebaran 1431 H
    • Grandpa’s Old Typewriter
    • [nihongo] Berkenalan dengan Huruf Kanji
  • Archives

  • Metadata for This Site

    • Daftar
    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com

Blog pada WordPress.com.

Tema: MistyLook oleh Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.

Powered by WordPress.com