Saya merasa hati saya disobek-sobek ketika membaca dalil-dalil fisika dipakai untuk mengapologikan keyakinan agama…
…dengan tidak semestinya.
Orang-orang awam mungkin akan senang dan merasa makin kukuh imannya. Tetapi, jika Anda paham dengan apa yang dibicarakan, melewati technobabble yang digunakan, maka pilihan Anda cuma dua: kecewa sekali atau marah sekali.
Dan saya mengalami yang pertama.
(ditulis setelah membaca “Pusaran Energi Ka’bah” karya Agus Mustofa)
Kutipan dan Tanggapan:
Disisi lain, ternyata jutaan orang yang berthawaf mengelilingi Ka’bah juga menghasilkan energi yang besar. Dari mana asalnya? Di dalam ilmu Fisika kita mengenal suatu kaidah yang disebut Kaidah Tangan Kanan.
Kaidah Tangan Kanan mengatakan: “Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan elektromagnetik yang mengarah ke atas.”
Hal ini, dalam Kaidah Tangan Kanan, digambarkan dengan sebuah tangan yang menggenggam empat jari, dengan ibu jari yang tegak ke arah atas. Empat jari yang menggenggam itu itu digambarkan sebagai arah putaran arus listrik, sedangkan ibu jari itu digambarkan sebagai arah medan elektromagnetik.
Kaidah tangan kanan ini telah memberi kemudahan kepada kita dalam memahami misteri Ka’bah. ‘Kebetulan’, orang berthawaf mengelilingi Ka’bah berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Atau dalam kaidah itu mengikuti putaran empat jari tergenggam.
~ hal. 112-113
(cetak tebal dari saya)
Ada tiga kesalahan yang ingin saya tunjuk di sini.
Pertama, penulis menyatakan “konduktor dikelilingi oleh arus listrik” (analogi orang berthawaf, Ka’bah sebagai konduktor — lihat kutipan selanjutnya 1, 2).
Ini salah besar. Arus tak bisa mengalir di luar konduktor. Ia hanya bisa mengalir lewat medium penghantar, e.g. kawat logam. Arus listrik tidak bergerak mengelilingi konduktor di udara bebas, sebagaimana ilustrasi orang berthawaf di atas.
Kedua, medan magnet tidak muncul di konduktor, melainkan di sekeliling konduktor berarus. Jika Anda menghantarkan listrik pada kawat, medan magnet akan muncul di sekeliling kawat… BUKAN pada kawat konduktor itu sendiri.
Ketiga, kaidah tangan kanan (right hand grip rule) yang sebenarnya tidak berbunyi seperti di atas. Melainkan:
- Ibu jari Anda melambangkan arah arus, dan empat jari yang menggenggam melambangkan arah medan magnet.
Jika arus mengalir lurus, maka medan magnet yang dihasilkan akan melingkar. Jika arus dibuat melingkar… maka kita harus melakukan perhitungan lebih lanjut. Kita harus menerapkan aturan tangan kanan dengan ibu jari kita mengikuti gerak arus.
Agak rumit bila dijabarkan, tapi bisa dijelaskan dengan ilustrasi sebagai berikut.
![[medan magnet arus melingkar]](http://sora9n.files.wordpress.com/2008/10/em-ktk.jpg?w=500)
Untuk arus yang berputar berlawanan arah jarum jam, akan terbentuk medan magnet seperti ilustrasi sebelah kanan. Perhatikan bahwa:
1. Bagian tengah kosong (tidak ada konduktor)
2. Arus merambat pada kawat, bukan di udara kosong
3. Medan magnet terbentuk di sekeliling kawat
4. Arah medan magnet tidak hanya ke atas, melainkan melingkar.
Dengan demikian terdapat medan magnet ke arah bawah di sisi luar konduktor. (tidak digambarkan)
Kutipan di atas setengah benar ketika menjelaskan arah medan magnet ke atas, tetapi salah total ketika menjelaskan arus. Sorry, but — first.
Seperti telah saya katakan, bahwa tubuh manusia ini sebenarnya mengandung listrik dalam jumlah besar yang dibawa oleh miliaran bio-elektron dalam tubuh kita. [...] Sehingga ketika ada jutaan orang berthawaf mengelilingi Ka’bah, ini seperti ada sebuah arus listrik yang sangat besar berputar-putar berlawanan dengan arah jarum jam mengitari Ka’bah. Apa yang terjadi?
~hal. 113
Per definisi, arus listrik adalah elektron yang bergerak. Apabila terdapat arus, maka akan terbentuk medan magnet di sekitarnya. (perhatikan gambar di atas)
Saya tidak tahu apa itu bio-elektron, kecuali — mungkin — maksudnya adalah elektron yang terdapat dalam sistem fisiologi tubuh manusia. Ini tidak menjawab apa-apa. Elektron dalam tubuh manusia tidak ada bedanya dengan elektron dalam sebongkah bata.
Meskipun begitu, sekilas saya bisa menangkap ide yang beliau usung:
-
Kelihatannya, penulis berupaya menjelaskan arus lewat ide “manusia sebagai muatan negatif yang bergerak”.
Dengan demikian gerakan thawaf akan menghasilkan arus berlawanan arah jarum jam.
Sayangnya, ide ini sangat mentah. Tubuh manusia umumnya bermuatan netral. OK, terdapat satu-dua kondisi di mana tubuh manusia bisa bermuatan lebih positif/negatif (penjelasan yang bagus: di sini). Meskipun demikian hal ini sifatnya tidak alami… Anda harus menjalani proses ‘kehilangan’ muatan dulu sebelum jadi tidak netral.
Jika manusia bermuatan bergerak, maka akan timbul medan magnet (berperilaku seperti arus listrik). Tetapi, jika manusia netral bergerak, maka tak akan timbul medan magnet sama sekali. Tidak ada perilaku arus. Ini sama saja dengan memutar-mutar batu bata (muatan netral) menggunakan tali — takkan ada gejala elektromagnet, karena muatan bendanya sendiri nol!
Di tengahnya, di Ka’bah — khususnya lagi di Hajar Aswad — terjadi medan elektromagnetik yang mengarah ke atas. Kenapa begitu? Karena dalam hal ini Hajar Aswad telah berfungsi sebagai konduktor, seperti dijelaskan oleh Kaidah Tangan Kanan.
~ hal. 113
(cetak tebal dari saya)
Perhatikan kembali gambar yang saya cantumkan. Sebenarnya tidak perlu ada konduktor di tengah untuk memunculkan medan magnet.
Jika sebuah arus berputar berlawanan arah jarum jam, maka arah medan magnet — di dalam lingkaran — akan cenderung ke atas. Di titik pusat, terbentuk medan magnet yang benar-benar tegak. Semua terjadi tanpa perlu adanya konduktor di tengah cincin.
Dan TERAKHIR… (ini yang membuat saya benar-benar geleng kepala)
Sesungguhnya, setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik. Gelombang itu selalu memancar ketika kita melakukan apa pun. Ketika kita berkata-kata, kita sebenarnya sedang memancarkan gelombang suara yang berasal dari getaran pita suara kita.
Ketika kita berbuat, kita juga sedang memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita. Jika tertangkap mata seseorang, maka mereka dikatakan bisa melihat gerakan atau perbuatan kita. Demikian pula ketika kita sedang berpikir, maka otak kita juga memancarkan gelombang yang bisa dideteksi dengan menggunakan alat perekam aktivitas otak yang disebut EEG (Electric Encephalo Graph). Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi.
~ hal. 112
(cetak tebal dari saya)
Maaf, tapi tidak ada ampun di sini.
Pertama:
Gelombang suara BUKAN gelombang elektromagnetik, melainkan gelombang mekanik. Keduanya memiliki perbedaan properti yang signifikan.
Yang saya lihat, penulis cenderung mencampuradukkan fenomena gelombang dan mewadahkannya dalam satu nama “gelombang elektromagnetik”. Mungkin beliau tidak bermaksud demikian — tetapi, menyebut gelombang suara tepat setelah membicarakan gelombang elektromagnetik, itu berpotensi menyesatkan pembaca yang awam.
Kedua:
Penulis menyatakan “setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik”. Disambung dengan percontohan bahwa kita “memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita”, bahwa kita memancarkan gelombang otak… sebelum akhirnya memungkas penjelasan dengan kalimat: “Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi”.
Seolah-olah, istilah “pemantulan” dan “pemancaran” itu sama dan dapat dipertukarkan! Padahal kenyataannya tidaklah demikian.
Mari kita perhatikan definisi berikut:
- Suatu benda yang memancarkan gelombang, menghasilkan gelombang tersebut dari dalam dirinya sendiri. Ia bersifat aktif dan membutuhkan energi internal.
- Suatu benda yang memantulkan gelombang bersifat pasif. Ia hanya menunggu datangnya gelombang dari sumber lain, dan tidak membutuhkan energi internal*.
Contoh: Bintang memancarkan cahaya (lewat energi fusi), speaker memancarkan suara (lewat energi listrik), dst.
Contoh: Bulan memantulkan cahaya dari matahari ke bumi; dinding memantulkan gelombang suara dari mulut kita, dst.
*) Lebih jauh lagi, sebenarnya benda menyerap sebagian energi gelombang saat pemantulan terjadi. Tapi itu bisa kita abaikan untuk saat ini.
Dengan demikian, gelombang hasil pantulan berbeda dengan gelombang hasil pancaran. Pemantulan cahaya tidak dapat disamakan dengan pemancaran cahaya — apalagi dengan pemancaran energi!
Mempersamakan pemancaran dengan pemantulan, ibaratnya menyatakan bahwa bulan bersinar tanpa bantuan matahari. Ini ngaco.
Saya tidak menyangkal bahwa keduanya — pemancaran dan pemantulan — punya ciri umum yang sama. Mereka sama-sama merambatkan energi gelombang pada pengamat. Tetapi, prinsip dasar yang melandasinya berbeda. Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas.
Meskipun begitu, penulis tampak menganggap bahwa keduanya sama dan dapat dipertukarkan. Entah kenapa.
Sebuah Catatan Akhir
Sejauh ini, Anda mungkin bertanya: kenapa saya mau bercapek-capek menulis tentang buku tersebut dan menanggapi poin-poinnya. Sebenarnya sederhana saja: saya kecewa. Terutama sebagai orang yang, kebetulan, mempelajari fisika secara ekstensif di bangku kuliah.
Boleh-boleh saja kalau mau berdakwah dengan mengedepankan penemuan sains. Hanya saja: check your facts first. Dakwah model ini berpotensi terjerumus jadi pseudosains jika penggagasnya tidak berhati-hati.
Kalangan awam yang mencari peneguhan religius mungkin kagum dengan adanya pemaparan so-called “kecocokan ilmiah”. Tetapi, kekaguman itu berlandas pada kesalahkaprahan… sebuah landasan yang sangat rapuh.
Apa jadinya dengan kebanggaan yang dibangun di atas ilusi dan miskonsepsi. Ini hanya akan membuat pemercayanya tampak bodoh. Agama tidak — dan tidak seharusnya — diperkokoh lewat hoax dan pseudosains. Bayangkan seorang penganut yang dengan percaya diri berkata:
“Agama saya menemukan pembenaran lewat gejala alam X. Penjelasannya bla-bla-bla.”
Hanya untuk ditertawakan oleh pendengarnya yang menjawab:
“Hei, penjelasan kamu salah. Gejala alam X itu penyebabnya seperti ini…”
![]()
***
Akhir kata, saya cuma ingin berpesan: jangan campurkan sains secara sembrono untuk kepentingan dakwah. Setidaknya, pastikan bahwa dalil-dalil yang Anda gunakan benar dan masuk akal. Jangan sampai iman/agama yang Anda bela — dan umatnya — justru terlihat bodoh karena berpatokan pada ilmu semu.
Ironis, bukan, jika upaya untuk meneguhkan keyakinan ternyata berlandaskan pada ketidakbenaran.
Sains dan Agama adalah dua sisi yang sering bentrok. Mencampurkan keduanya secara sembrono sangat beresiko… lebih bijak jika kita menimbang jarak antara keduanya sehati-hati mungkin.
—–
Ps:
Buat mbak Snowie, yah, saya sudah menemukan buku ybs. Ternyata ada di lemari buku orangtua saya. There you have it.
PPs:
BTW, yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir. Atau lebih tepatnya, lulusan Teknik Nuklir UGM.
Can you believe it?
“I maintain there is much more wonder in science than in pseudoscience. And in addition, to whatever measure this term has any meaning, science has the additional virtue, and it is not an inconsiderable one, of being true.”
~ Carl Sagan
*speed reading dulu*
Mungkin sekarang anda bisa berempati pada kebingungan Dawkins ketika melihat kolega-koleganya yang, meski cerdas dan jiwa ilmiahnya tak diragukan, tetap mengimani Tuhan dan agamanya.
^
Sebetulnya bukan itu. Kebingungan saya yang sebenarnya adalah…
That.
Ah, saya menyesal tidak menyukai fisika dan matematika waktu sekolah dulu. Merasa menjadi korban sistem pendidikan yang salah. Atau memang sudah nasib. Apa mau dikata. Lucu juga uraiannya, meski berkerut membacanya. Mbak Snowie mana nih?
Dulu di kaskus ada orang yang memposting sesuatu (lupa tentang apa, kalau bukan agama ya aliran kepercayaan, hal-hal semacam itu) dengan cara yang demikian juga, dan kemudian ada yang posting menjabarkan kesalahan-kesalahannya…ya mau ga mau agak mesem waktu mbaca
BTW,
Maksudnya ekstensif?
Waduh……
@ gentole
IMHO, fisika itu lebih asyik jika didekati tanpa matematika. Sebab mainnya di logika + imajinasi (bukannya rumus).
Kalau disuruh ngitung, ya, mabok. Medan magnet di atas itu sebenarnya matematikanya rada… mengerikan. x(
*beneran*
Tungguin aja lah. ^^;;
:::::
@ lambrtz
Mau gimana lagi?
Ya… lebih jauh (dan mendalam) dibandingkan kebanyakan orang. Rata-rata kan cuma sampai fisika SMA.
*saya ini mahasiswa teknik lho*
Tenang, masbro. Satu almamater bukan berarti harus sekualitas, bukan. ^^;;
Ibaratnya membandingkan Pak Rovicky dengan Roy Suryo. Sama-sama alumni UGM pun, bedanya bagai langit dan bumi!
[/jadiMerasaNggakEnakNih]
Mmm…maksud saya, bukannya intensif?
Seingat saya ekstensif = meluas, melebar, misalnya bercocok tanam secara ekstensif berarti meluaskan lahan dengan membabat hutan.
CMIIW
(malah OOT)
Heleh…
Saya mah peduli amat sang penulis lulusan mana.
Tadi cuma bercanda kok
Aaaargh, B.Eng di dalam saya tersiksa baca kutipan dari buku itu. Mungkin kalau saya punya hati untuk baca buku itu (penguin forbid!) perang berisik di vakum angkasa bakal terasa believable.
Sebenernya mudah aja ngetes klaim right hand rule Ka’bah. Buat current transducer di sana, kumpulin data, lihat apa kata data.
Kalau soal aktivitas manusia memancarkan energi, kuranglebih betul, tapi argumennya beda. Aktivitas menghasilkan panas (dengan satu atau lain cara), yg diradiasi ke luar, radiasi panas itu juga gelombang elektromagnet. Tetep aja: WHAT’S THE POINT.
Mungkin sebagian besar ilmuwan gak akan senang (itu juga kalau mereka punya waktu untuk peduli) kalau hasil jerih payah mereka seumur hidup, atau bahkan hasil yang dibayar pakai hidup dipakai cuma untuk tepuk dada satu atau lain kelompok
@ lambrtz
Dari wiktionary sih,
Contoh kalimat:
“His knowledge in literature is extensive.”
“He has wide range of knowledge in literature.”
Kurang lebih begitu. AFAIK, CMIIW. (o_0)”\
@ ryy_
Jangankan yang udah B. Eng. Saya — selaku mahasiswa yang masih aktif — juga merasakan hal yang sama.
Di bab-bab lainnya beliau menghubungkan itu dengan energi positif, gelombang elektromagnetik, dan keterkabulan doa…
…
…no. Actually, you don’t want to know about it.
Agreed…
Hmmm…
Jadi waktu tadi komentar, yang ada di benak saya tentang “secara ekstensif” adalah Sora mendapatkan ilmu misalnya dengan menaruh banyak buku di luar kampus, terus dibaca (terlihat kurang kerjaan, tapi ini yang saya pikirkan tadi, dan makanya tadi bingung
). Sedangkan kalau “intensif” misalnya menambah waktu untuk membaca buku dan mengorbankan jadwal badminton (cuma misal).
Sepertinya objek yang kita pandang berbeda: saya cenderung ke cara pencapaian ilmu, dan Sora cenderung ke karakteristik ilmu yang sudah dimiliki itu sendiri. Benarkah begitu?
Duh maaf jadi OOT…
Lagipula keputusan akhir tetap di tangan Sora sih
Damn! Kemaren Geddoe meremukkan kekaguman saya pada Harun Yahya menjadi kepingan menyakitkan.. Sekarang Sora melemparkan sebuah dinamit logika ke hati saya yang mulai memuja…
Tapi.. tapi… Tulisan ini juga belum tentu fakta kebenaran kan So? Jadi pada dasarnya saya berkesimpulan untuk tidak mudah menelan bulat apa kata orang lain…
Lalu apa gunanya interaksi sosial saya selama ini?
ARRGGGHHH….. Ga fokus, pegangan saya satu demi satu diluluh lantakkan kebenaran baru…
*sholat taubat*
Hmm… saya jadi teringat Harun Yahya, entah kenapa.
Kalau nggak salah saya sempat dapat materi soal “Tangan Kanan” itu pas SMP juga… tapi lupa apakah itu “tangan kanan” yang disini apa bukan. Ada hubungannya sama tangan-tangan juga kalo ndak salah. ^^;
Saya lebih suka materi tata surya sih…Yang saya agak khawatir, kalau buku yang seperti ini dibaca oleh orang yang ahli dan kebetulan agama lain. Kan bukan ngga mungkin — seperti halnya disini — jadi mengait-ngaitkan pengetahuan sains dengan agama, seperti, “Islam ternyata sainsnya kayak gini nih?”
@ lambrtz
Kok jadi gini… ^^;;
Intinya sih,
Nah, begitu.
Tapi sudahlah, tak usah dibahas lagi. OOT nih. ^^;
:::::
@ ManusiaSuper
Sebenarnya masbro, kalau berhadapan dengan sains dicampur keyakinan, kunci untuk menghadapinya cuma satu. JANGAN LANGSUNG PERCAYA.
Kenapa, sebab dua ini bidang yang keahliannya berdiri sendiri. Teolog hebat belum tentu ilmuwan hebat. Ilmuwan hebat pun belum tentu ahli agama. Di sini, upaya menghubungkan keduanya rawan diwarnai kesalahpahaman.
Ini sifatnya universal. Semua keyakinan berpotensi mengalami. Ilmuwan Kristen zaman Galileo; pseudosains Islam modern; Quantum Mysticism. Upaya menggabungkan sains dan agama butuh ilmuwan hebat sekaligus teolog hebat… orang-orang macam ini sangat langka.
Kalau di dunia biologi, ada Teilhard de Chardin dan Theodosius Dobzhansky. Di dunia fisika ada Georges Lemaitre dan Abdus Salam. Mereka ini relatif berkualitas dalam menghubungkan sains dan Ketuhanan. Sebab mereka memang religius sekaligus ilmuwan.
Masalahnya, apakah para penulis buku agama kita levelnya seperti mereka? Apakah juru dakwah kita sepandai itu di bidang ilmu alam. Ini yang jadi persoalan.
Jadi, jika ada klaim “perpaduan agama dan sains”, sebaiknya ditanggapi dengan hati-hati. Lebih bagus kalau bisa di-confirm pada para ahlinya saat itu juga — e.g. ilmuwan/dosen/mahasiswa untuk sisi sains, dan teolog/pemuka agama untuk sisi agamanya.
Ya, itu intinya skeptisisme. Kan sudah saya tulis di atas.
Kok jadi interaksi sosial…? ^^;;
*kita kan lagi ngomongin sains*
……
……that’s why I hate pseudoscience.
Dia menghancurkan hati begitu banyak orang yang percaya padanya. Orang-orang yang tulus — dan berprasangka baik — berupaya mencari kebenaran, tapi apa yang didapat? Ilusi. Fakta palsu.
Mereka ini orang-orang biasa yang, ketika menyadari keadaan sebenarnya, hanya bisa terguncang secara batin. Bayangkan bagaimana rasanya.
I, with all my strength, detest pseudoscience for this one reason. I really do.
@ Xaliber von Reginhild
Nggak heran juga sih. Beliau memang dedengkot pseudosains Islam modern. Udah kayak fenomena tersendiri gitu. ^^;;
*inget aja publikasinya kayak apa*
Kalau belajar listrik/elektronika, ada kemungkinan iya. Soalnya ini prinsip yang relatif dasar. (o_0)”\
Bisa juga maksudnya aturan tangan kanan yang satu lagi, yang pakai tiga jari (F, B, I). Anak SMA saya dulu menyebutnya “aturan gaya Lorentz”.
Apa boleh buat… yang namanya loncat kesimpulan/generalisasi pasti ada. Apalagi kalau contohnya marak. Ditambah lagi kalau orangnya nggak akrab dengan Islam? Habislah sudah. (-_-)
Indonesia itu negara mayoritas muslim. Bagaimanapun, nggak akan susah menemukan publikasi pseudosains yang mengusung so-called “Sains Islam”.
* * *
Tapi, sebagaimana yang saya singgung di komen sebelum ini, pseudosaintisme BUKAN cuma milik satu agama. Semua keyakinan berpotensi terjangkit olehnya.
Masalahnya, orang cenderung “senang” mencocok-cocokkan keyakinan dengan ilmu pengetahuan. Padahal pencocok-cocokan itu sendiri belum tentu benar.
Argumen-argumen HY aslinya daur ulang dari kreasionisme Kristen. Quantum Mysticism berusaha menggabungkan sains dengan New Age. Pseudoscience Islam… ya seperti di atas itulah.
Banyak contohnya.
Bahkan kepercayaan Timur (Hindu, Buddha, Jainisme) juga pernah dicampuraduk dengan fisika kuantum. Tapi itu cerita lain untuk saat ini.
Jujur saja, saya agak-agak gimana gitu kalau sains dipakai buat dakwah dan dikatakan jadi “bukti kebesaran”. Kesan saya hal-hal tersebut terlalu dipaksakan.
Astaga…
Seharusnya mahasiswa science atau engineering yang sudah makan kuliah Fisika Dasar sudah mengerti konsep dasar elektromagnetik itu…
*bercermin*
*Ah… saya dapat jelek pas Fisika Dasar x(*
Ah, saya sudah menduga akhirnya bakal seperti ini. Klaimnya memang terlalu bombastis. Dan malah sedikit berbau new age, ya? Aliran energi dan sebagainya; termasuk yang pusaran ke atas itu.
BTW, apa soal Ka’bah dan kemiripannya dengan atom juga disinggung? Biasanya itu staple-nya.
Hahaha, kata-katanya persis dengan waktu Richard Dawkins menanggapi hate mail seorang doktor. “Can you believe it?”
Dan kayaknya ini bakal menyusahkan buat Masbro. Sebab potensinya adalah bakal muncul komentar seperti;
aH,,,yAnG nUlis iNi aPaAn siCh……..cUMa mAhAsIsWa khAn,,
aGus MusToFa iTu sArjaNa nuCleAr l0h, yaN9 dR UGM la9i……
pl9 cM iRi aJ,,
Semoga saya salah.
Jadi, singkatnya perasaan saya mungkin mirip dengan Masbro lah. Gemas.
*menunggu ybs*
gimana dengan ‘The Bible, The Qur’an and Science’, karya Dr. Maurice Bucaille, katanya dokter dari Perancis. Apa itu juga termasuk pseudoscience?
Bacanya sih dulu waktu masih esde.
@Sora
Ya sudahlah, ga perlu dilanjutkan lagi yang itu
Sekali lagi maaf jadi OOT.
OK…BTT…
Sekedar sharing.
Dari kecil saya sudah diwanti-wanti Bapak saya untuk tidak mencampur keduanya.
Misalnya dalam agama diajarkan penciptaan yang cuma 7 hari itu, sedangkan dalam ilmu pengetahuan lewat Big Bang dan proses yang mengikutinya.
Karena sudah tercetak seperti ini, melihat paham yang berpendapat bahwa bumi diciptakan 4004 SM pun saya cuma menganggap itu cerita fiksi saja ^^
Kalau saya lahir sekitar 600 tahun lalu, ketika gereja masih kaku-kakunya, mungkin bisa dianggap sesat
Sebenarnya saya masih penasaran.
Kenapa sih mereka-mereka ini (HY, pengarang buku itu, dll) harus/perlu/ingin menjelaskan agama dengan menghubungkannya dengan sains (walaupun jadinya pseudosains)?
Apakah dengan cara ini akan lebih efektif?
Apakah mereka berharap dengan cara ini umat akan lebih yakin pada agamanya
Atau inovasi dakwah?
Atau sok tahu?
Dan mengapa mereka tidak melakukan eksperimen (seperti yang dikatan ryy_) secara langsung untuk melakukannya?
Saya ndak ikut-ikutan lo…hehehe..
Maksudnya, kalau cuma sekedar tahu, ini buat saya menyenangkan, sama halnya dengan teori konspirasi. Tapi ini TIDAK untuk dipercayai.
Jadi bisa dikatakan tidak hate, malah love, tapi tidak believe.
Hehehe
@Xaliber von Reginhild
Kalau sampai orang-orang berpendapat demikian, ironis juga ya. Pada jaman keemasannya (+/- 1000 AD), Islam terkenal akan ilmu pengetahuannya. Banyak ilmuwan Islam jaman itu yang sangat terkenal, dan berpengaruh sampai saat ini. Al Khwarizmi, Avicenna…
@ardianto
*jlebb…*
Aaaa….Medan Elektromagnetik dapet C…tertusuk 2 kali di postingan ini….
*joke* –> *just in case…*
Ehm…
Jalan-jalan ah…
@ om4gus
Setahu saya buku itu juga legendaris sebagai pseudosains, sebab sepertinya banyak menggunakan metode yang non sequitur dan pareidolia. CMIIW. Tidak ada bedanya dengan cerita “tiga lapis es” di Kekristenan fundamentalis.
Tapi tentunya ini hanya pendapat saja.
BTW, OurBeacon.com? Anda baca interpretasi alternatif? Saya menaruh respek dengan ajaran yang seperti itu.
Saya dulunya suka membaca artikel dan buku yang termasuk aneh dan menarik, termasuk menyangkut agama yang sering dicampur teori konspirasi dan pseudoscience seperti itu. Alien, Dajjal, Iluminati, dll. Sekarang sih udah bosen.
Mungkin mas bisa memberikan panduan yang bisa berlaku umum untuk menguji kebenaran tulisan seperti itu?
Yang bisa dipakai oleh orang awam tapi sering penasaran dengan hal aneh seperti saya. Biar ngga terlalu paranoid.
Btw, yang banyak jadi Top Post di infogue.com malah hal tidak masuk akal seperti itu lho…
Yah, itulah..
Mungkin dengan niat agar orang Islam lebih yakin bahwa agamanya ternyata memang benar, bahwa alam memang berjalan dengan hukum Tuhan, sang penulis membikin karya tersebut.
Tapi kok ya, bagi saya, yang ndak punya background fisika sama sekali, kelihatan sekali maksanya. Masak hanya karena sama-sama berputar, orang thawaf disamakan dengan atom?
Kalo soal buku yang isinya tentang perpaduan sains dan agama, saya paling seneng Angels and Demons-nya Dan Brown..
[lambrtz]
Menurut saya sih, untuk mempropaganda sang umat, agar lebih yakin terhadap keyakinan agamanya. Atau narsisme. Menimbulkan paham bahwa agama yang dianutnya hebat, sudah membuktikan sebelum sains membuktikannya…
Ya, itu pendapat saya sih…
Belum ambil Medan…
*menakutkan*
@ Nazieb
Angel and Demon? Toss!
Fisika tentang listrik dan elektromagnet? Salah satu materi yang paling saya sukai di pelajaran Fisika SMP. Dan memang iya, kaidah tangan kanan dan ‘tangan-tangan’ lainnya emang dipelajari di SMP kelas IX. Termasuk juga gaya Lorentz .:D
Err, ga kebalik? Apa ingatan saya yang kebalik?
Yah, setidaknya sudah dijelaskan diatas. Tapi jika ka’bah disebut konduktor, maka bukankah arusnya yang keatas? CMIIW. Memang tidak ada hubungannya, tapi dengan adanya penggambaran Ka’bah, biasanya langsung berpendapat bahwa arah arusnya keatas, dan kalau membicarakan tentang arah arus melingkar, saya langsung membayangkan bahwa posisi kepala Ka’bah berubah.
Penulis buku tsb hanya ingin menyamakan fenomena alam dengan agama, tapi karena keterusan, akhirnya salah kaprah. Atau memang teori ini memang tidak ada sangkut pautnya?
Bagaimana kalau penulis menuliskan arus keatas dan medan magnet mengarah berlawanan dengan jarum jam? Apa mungkin bisa nyambung? Apa mungkin lebih cocok? Kalau memang arus adalah satu aliran listrik, lebih cocok dengan membuat suatu koneksi antara manusia dengan Allah, dan medan magnet adalah manusianya? Kan banyak, bagaikan medan magnet digambarkan. Tapi saya juga tidak tahu, berapa tepatnya jumlah arus tsb.
Saya pernah baca tulisan di blog juga yang mirip dengan kutipan buku itu, dan menyatakan bahwa doa lebih cepat terkabulkan jika berdoa di Ka’bah dengan fenomena fisika ini. Tapi lupa dimana,,
Saya belum baca sih buku itu, buku lama ya kayaknya? jadi merasa aneh
Sangat percaya

yah secara saya belum baca jadi saya mau menyimak dulu
*ikutan menunggu seseorang*
@ ardianto
Makanya saya heran. ^^;;
Tambah lagi, dasar-dasarnya sudah disinggung di SMA. So… meh.
Tak mengapa, saya juga cuma dapet C dan B. x(:::::
@ K. geddoe
Ya, itulah kalau energi-energian™ disambung metafisika.
eH n4k aJa lW n9oMon9 5mBrn9n,,, gNi” w tU bLaj4R mDan eLktR0m9net d k4mPu5. lw m4n4 t4w y9 nMny hkM m4xwEll n’ vkT0r cUrl d1ver9ence,,,
*gila, ABG sekarang bisa ngomong gitu* XD
Jangan-jangan, saya dan Dawkins itu orang yang sama?
*dilempar batu bata*
:::::
@ om4gus
Seingat saya — mohon diluruskan kalau salah — Pak Bucaille ini penekanannya lebih ke perbandingan gejala sains dengan kitab suci. Di sini beliau sekadar menginterpretasikan ayat dan mencari kesesuaian dengan sains.
Saya pribadi nggak keberatan dengan ini, sebab ayat-ayat itu hakikatnya open interpretation. Bisa diterjemahkan macam-macam. Mau dijadikan pertanda sains juga bisa.
Pseudosains itu adalah jika sainsnya salah. Yakni sainsnya sudah dipelintir di sana-sini. Pak Bucaille rada beda: sains-nya benar (e.g. rotasi bumi, siklus air, dst), baru dicocokkan dengan ayat. Secara landasan dia masih OK.
Harun Yahya dan Pak Agus Mustofa di atas, sebaliknya. Sainsnya berantakan dari awal, tapi mereka jalan terus. (-_-)
* * *
Intinya sih, asalkan sains yang diusungnya benar, ia bukan pseudosains. Ini sebabnya saya lebih respek pada Bucaillisme dibandingkan Harun Yahya.
Kalau orang complain Bucaille, yang diserang tafsirnya. Kalau orang complain Harun Yahya, yang dihajar sainsnya. Ini perbedaan yang besar.
@ lambrtz
AFAIK hal ini pernah dikhawatirkan oleh Pak Abdus Salam. Menurut beliau, mencari kebenaran agama lewat sains itu bahaya.
Kenapa, sebab sains itu selalu berubah; tergantung penemuan baru. Sementara agama sifatnya kokoh + dogmatik.
Apa jadinya kalau “kebenaran sains” yang diadopsi ternyata jadi “tidak benar” di kemudian hari. Contohnya, ya, seperti yang mas tuliskan di atas itu.
Mungkin begini…
1. Sains itu *terkesan* keren
2. Sains itu *terkesan* modern
3. Sains itu obyektif
(sehingga agama yang cocok dengan sains adalah agama yang benar)
Jadi ada semacam kebanggaan/kemegahan di balik embel-embel “ilmiah”. Saya rasa ini semacam motif bawah sadar. (o_0)”\
Masalahnya, ya, kasihan orang yang terlanjur percaya. Kalo memang enggak believe sih peduli amat.
:::::
@ K. geddoe (lagi)
Ada bedanya, kok. Bucaillisme itu sainsnya masih rada bener. Beda dengan HY yang habis-habisan “memperkosa” sains dan mempublikasikannya secara luks.
(lebih lanjut di komen yang sebelum ini)
:::::
@ om4gus (lagi)
Google. Betulan.
Dan wikipedia juga. IMHO sih, paling gampang memang cross check lewat internet. Sekurangnya ada second opinion, lah. ^^
:::::
@ Nazieb
Lah, namanya juga “mencari kesamaan” agama dan sains. Mau gimana lagi?
*analogy rulez™*
:::::
@ ManusiaSuper
BTW, saya kok merasa buku yang itu lebih seru daripada Da Vinci Code.
*padahal yang best-seller bukan itu* ^^;;
@ syaorannatsume
Tidak, ingatan Anda benar. Kecuali kalau guru fisikanya salah ngajar.
Nah, bingung kan?
Masih lebih nyambung kalau Ka’bah dibilang konduktor, dan orang thawaf itu jadi medan magnet. Tapi tetep aja: WHAT’S THE POINT… ^^;;;
*minjem kalimatnya mas ryy_*
Ah, saya sempat ketemu blog ybs pas browsing tempo hari. Coba aja digugel, harusnya ketemu. ^^
:::::
@ secondprince
Itu buku tahun 2003. Ya, bisa dibilang buku lama juga sih. (o_0)”\
Bagus, saya senang Anda bersikap demikian.
[/gakJelasMode]
@sora9n
Nah, itu, sebenarnya saya juga suka membaca buku-buku sains populer yang bersifat naratif dan mengandalkan imajinasi. Bahkan Dawkins juga bilang kalau dia menghindari istilah-istilah teknis dan, tentunya, matematika dalam menjelaskan biologi, khususnya genetika. Dan berhasil! Dawkins adalah ilmuwan dan penulis yang paling digemari dan dihormati (dan juga dibenci
) Dia juga suka beranalogi, tapi gak bias, meskipun sering dibias-biasin ama kritikus dia.
Tapi tetap saja ada yang janggal, karena tanpa tahu persamaan matematis yang menjadi acuan berbagai penjelasan ilmiah tentang alam itu, rasanya gimana gituh, gak afdol, gak lengkap. Ah, nasib.
*btw, saya baca2 post QM Anda dan malah ngayal gak jelas
gak bakatlah, jadi ilmuwan.
Konon yang saya baca sih, Sora dan K.geddoe itu orang yang sama, cuma kepribadian ganda.
(Conspiracy theorist mode on
)
Dulu baca di mana ya…lupa ah
Just a little thing about Bucaille, dia seorang ilmuwan yang mendapat cukup respek dari koleganya. Beberapa bukunya masih digunakan sebagai text-book (saya juga sempat baca ,tapi agak lupa juga sih).
About a new-age thing…what do you think about James Redfield books (ie. Celestine Prophecy) ?
[...] Oktober 12, 08 Opini , Sains Tags: apologi, evolusi, memetika Seorang teman, yang sedang masygul, punya istilah sendiri untuk para apolog yang dalam karya-karyanya gemar mengumbar logika cacat dan [...]
Hehehehe beneran saya waswas membaca komentar ini, sekalipun ini joke.
wah, gitu ya?
dulu saya lama banget nimang-nimang tu buku di toko buku
(untung?) gak jadi
.
Lihat komen ini
dan komen Mas Gentole
*OOT mode on*
hus Bharma..
Makanya bro saya sangat tidak setuju agama dijelaskan dengan analogi. Sebab tidak akan sama, walau semirip apapun analogi itu. Apalagi pake analogi sains seperti ini.
Tapi yah, kalo terpaksa saya pake analogi juga sih.
Btw, hal seperti ini masuk analogi juga kan ya?
@ gentole
Hohoho, kalau buat sains populer, memang sebaiknya nggak pakai bahasa dosen™. Angkat topi buat beliau.
Soal matematika dalam fisika… sudahlah. Saya tidak berada di posisi ahlinya untuk menjelaskan. ^^;;;
*jujur*
:::::
@ lambrtz
Hus, jangan langsung percaya dengan yang Anda baca. Utamakan skeptisisme!
:::::
@ oddworld
Kalau reputasi akademis Bucaille, saya kurang tahu. Tapi saya lihat beliau nggak neko-neko dalam memadukan sains-agama. Promosi keyakinan, ya — tapi nggak menabrak etika akademis. (o_0)”\
Mungkin setipe dengan kolega Richard Dawkins yang disinggung di komentar no. #2? CMIIW.
Wah, belum pernah baca. Beberapa kali lihat di toko buku, sih. Tapi nggak pernah beli. ^^;
:::::
@ gentole (lagi)
Huh, dia mah jangan didengerin. Jelas-jelas kepribadian ganda saya di internet pakai nick gentole. Kok bisa jadi Geddoe, sih?
*tersenyum mengerikan*
*hoax*:::::
@ esensi
Sejauh yang saya baca sih, penulisnya agak terlalu bersemangat menganalogikan ritual dan ajaran Islam dengan ilmu fisika. Titik lemahnya di situ.
Ada juga bab yang mendingan, e.g. ketika beliau menjelaskan bahwa “beragama bukan keterpaksaan” atau membandingkan ayat dengan sains (c.f. Maurice Bucaille). Tapi, di luar itu… bisa dibilang mengecewakan lah.
:::::
@ secondprince | rifu
Kepribadian saya di internet memang banyak, kok. Cek aja di halaman about.
Terkadang malah sampai dipanggil “Bonta”. Ini kepribadian yang cuma bisa ngomong ‘fumo-fumo’.
(yes, seriously)
:::::
@ dana
Sebetulnya sih saya nggak keberatan dengan analogi. Cuma, baiknya, analogi itu dijadikan alat bantu saja. Sebab dia cuma proyeksi; ‘bayang-bayang’ dari hal sebenarnya. (o_0)”\
Tambah lagi, analogi harus memakai dua hal yang benar dipahami oleh pembicara. Kalau analogi pakai sains, tapi sainsnya amburadul… ya analoginya berantakan. Riskan juga kalau begini. ^^;
untung saja saya ilkomp ugm. cuma 0 dan 1; ya dan tidak. jadi ya memang sesuai tuntunan agama: tinggalkan yang meragukan, kekekeke!
sebenere ini masuknya ketegori resensi (yg menitikberatkan pada kritik konstruktif), ya, mas sora?
.
bisa dijadiin genre baru tuh, dalam dunia resensi (mungkin…?) o_0″;
@ Gentole
Saya sendiri waswas mendengar bahwa Anda itu Roy Soryo
@joe
Is it?
Fuzzy Logic, Bayesian Network, probability theory, semua pake angka antara 0 dan 1 bukan?
@Sora
Hmm harus check ulang fakta2 lagi nih biar nggak memalukan.
*dalam proses penulisan artikel di blog*
And the QM?
Kapan waktu rilisnya?
dan anda mungkin bakal lebih terpingkal kalau agus mustofa sebenarnya juga jadi bahan olokan di kubu salafi
*pembukaan*
Waktu lihat di blog stat saya rada heran kenapa di refrerer ada alamatnya blg sora,
Ternyata…..
Hmmm, baiklah
nggak gitu banget kali, kesalahan yang terdapat dalam buku itu. 
Tapi, sepertinya kamu lebai deh
Pertama, kamu nggak berfikir kalo buku karya Pak mustafa itu buku science khan? yang setiap kalimatnya harus jelas dan setiap pernyataan harus di uji keabsahannya, serta wajib untuk di seminarkan khan
Apa kamu memperhatikan kalo buku itu nggak punya referensi?
trus, jangan terlalu seriuslah menaggapi setiap penjabaran di buku tersebut dengan menggunakan pemaparan Ilmu fisika secara eklusif tanpa mencoba menganalisis pengembangan dari ilmu tersebut dalam praktek kehidupan nyata. seperti penerapan matematika mati yang menyatakan 1 + 1 harus = 2 sehingga selain itu SALAH.
Intinya, saya memandangnya kalo Pak mustafa itu BUKAN mengapologikan keyakinan agama dengan menggunakan dalil-dalil fisika, tapi beliau itu berusaha mendekatkan atau menganolog-kan dalil-dalil yang kebetulan merupakan Ilmu fisika dalam menjabarkan/ merasionalisasikan Ibadahnya umat muslim.
Pernyataan saya berdasarkan dua hal:
PertamaIlmu fisika merupakan Ilmu yang kajiannya memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhananya aja adalah Hukum Inersia tentang kelembaman. bagi yang tidak mengetahui Ilmu fisika, mereka cuma tau kalo saat mereka sedang berada dikendaraan yang sedang melaju dengan kelajuan tertentu, dan tiba-tiba berhenti, maka tubuh mereka akan terdorong kearah gerak tanpa tahu alasannya. Pokoknya gitu aja kejadiannya terus-menerus.
beda sama orang yang mengerti tentang sifat kelembaman itu. Mereka langsung tahu bahwa terdorongnya tubuh mereka karena adanya gaya-gaya yang bekerja pada dirinya.
Kedua sejauh yang saya Imani, Allah adalah Tuhan semesta alam yang menurunkan perintah bagi Umat muslimin untuk beribadah kepadaNya dengan cara-cara tertentu. Dan karena Dia adalah pencipta alam semesta, jadi tidak heran kalo nantinya diketahui bahwa ternyata Ritual ibadah itu cocok dengan hukum alam. Secara, berasal dari sumber yang sama
jadi artinya, saya kira Pak Mustafa bermaksud memberi gambaran apa hikmah dari kegiatan Haji tersebut. Tentang kenapa saat di dekat Ka’bah do’a lebih mustajab. yah, hal-hal seperti itulah kira-kira…
Mengenai yang kamu tulis,
kok halaman nya beda ya? 0_o”\
Di buku yang ada pada saya, kutipan yang kamu sebut ada di halaman 112-113 itu ada di halaman 144-145 lho.
tanggapan ke tanggapan
sebenarnyanya begini: udara bebas yang kamu sebut itulah sebagai medium penghantar dari rangkaian Manusia dan Ka’bah. ruang sekitar Ka’bah sebagai medium penghantar, manusia sbagai sesuatu yang bermuatan netron dan Ka’bah sebagai konduktor.
Sekali lagi saya ingatkan, Pak Mustofa hanya ingin menganologkan ilmu fisika dan mengembangkan dasar ilmu tersebut sebagai usaha mempermudah pemahaman tentang agama. jadi untuk bisa melihat relevansinya, kita harus sedikit berfikir terbuka.
Tapi bagaimana dengan percobaan “besi paku yang berubah jadi magnet setelah dikelilingi arus listrik”?
Dengan kata lain, medan magnet yang berada didalam cincin lebih kuat kan dari yang di luar cincin? jadi secara tidak langsung, paku tersebut menjelama sebagai magnet selama ada arus yang mengalir disekelilingnya.
kamu lupa mempertimbangkan hal yang kamu sendiri tidak paham seperti kutipan ini
nah, itu. Dari penjelasan di buku beliau, saya menangkap bahwa bio elektron itu bisa merupakan semacam emosi atau impuls tertentu pada sistem saraf akibat perbuatan manusia. So, kembali ke konteks tentang tawaf dan ritual ibadah haji, Hal tersebut dilakukan karena adanya harapan dari para jamaah haji itu untuk mensucikan diri dari dosa-dosa yang melekat pada diri mereka akibat dari perbuatan dosa mereka selama ini. Bisa jadi, “dosa” tersebut merupakan energi negatif manusia. So, dengan begitu manusia dengan bio – elektronnya jadi bermuatan negatif.
Tapi, konduktor kan bisa memperkuat pengaruh medan.
Saya tidak melihatnya begitu. Memang, dalam kaidah Penulisan paragraf, tulisan tersebut agak tidak koheren, tapi koherensinya bisa dilihat kalo ide disetiap paragraf di urut. dengan catatan kutipannya lengkap
Mulai dari >>>>> Badan kita memancarkan energi elektromagnetik…
selanjutnya >>>>>> kita memancarkan gelombang suara saat berbicara…
Sampai ke >>>>> kita juga memantulkan gelombang cahaya…
ditutup oleh >>>>> setiap aktivitas kita memancarkan energi
Walau agak membingungkan, tapi setidaknya beliau tidak menyatakan dengan tegas kalo gelombang-gelombang itu sama. Lagian, saya yakin, buat yang tidak memperhatikan fisika, mereka bakal membacanya sambil lalu. So, sulit dipercaya kalo hal tersebut bisa menyesatkan. Membingungkan sih mungkin iya, apa lagi kalo yang ilmu fisikanya cuma dikit kayak saya
Tapi, bukankah cahaya itu juga merupakan energi…
Bukan deh. Beliau hanya menjabarkan tentang macam-macam gelombang dalam paragraph yang berdekatan bukan berarti beliau menyama-nyamakan gelombang-gelombang itu.
tapi, sepertinya main Ideanya adalah manusia merambatkan energi dalam berbagai bentuk…
lagi-lagi lebay deh
Kamu khan cuma membahas satu poin dari buku itu yang nggak lebih dari 4 halaman dari total 240 halaman isi. BTW, kamu baca SEMUA isi buku itu atau cuma yang 4 halaman itu aja? *memandang curiga*
kalo pernyataannya seperti ini sih:
memang berbahaya.
Tapi, kalo kalimatnya menjadi “Ternyata gejala alam X telah ada disebutkan/ seperti ritual dalam Agama saya, dalilnya ini ini ini”
Gemana?
Dengan kata lain; Ilmu yang mendekatkan diri ke Agama, bukan sebaliknya.
no body’s perfect. Kesalahan itu wajar terjadi, kalo memang itu suatu kesalahan. Atau, jangan-jangan kita aja yang memandangnya terlalu sempit
kalo penasaran sama orangnya, coba aja ikutin bedah bukunya biar bisa diskusi langsung.
P.S saya nggak begitu dalam mengerti Fisika, so kalo ada penjabaran saya yang kurang pas, mohon koreksinya
P.P.s Sorry Sora kalo komen saya kepanjangan. Rencana sih mo dijadiin entry postingan di blog saya aja seperti yang dulu itu, tapi bingung ama formatnya. So, maklum aja yah
I thought he already concluded that this book is bad physics at best, pseudoscience at worst… tapi masalahnya pikiran awam (yang mungkin hanya ingat pernah belajar hal itu di SMA…bertahun-tahun yang lampau) kesulitan membedakan hal itu. Begitu mereka mendengar ‘fisika’ dan ‘gelombang elektromagnetik’ yang ada di pikiran mereka ya sesuatu yang ilmiah. Entah sengaja atau tidak, kesalahan teori yang dipaparkan buku itu (kalau analisis sora benar) tetap berpotensi misleading. Mungkin bisa jadi bahan revisi buat cetakan keduanya?
dnial:::
astaga…iya. celakanya saya tidak pernah mengambil kuliah fuzzy logic, kekeke! tapi di aplikasi pengkodeannya tetap 0 dan 1 kan?
Snowie:::
errr…mohon ampun sebelumnya. saya cuma mau mengkritisi pandangan ‘memaafkan’ yang saya quote di atas itu tadi.
sebenernya, ya piye yo, memang wajar sebuah kesalahan itu terjadi. cuma kalo kata holmes, “Boleh saja kita mencoba mengerti jalan pikiran kriminal, Watson, tapi janganlah berusaha mencari pembenaran perilaku kriminal, entah itu perilaku negarawan tingkat tinggi ataupun penipu kelas paling rendah.” pada akhirnya kesalahan ya tetap kesalahan.
memaklumi itu boleh. tapi kita bisa memaklumi kalo itu adalah sebuah kesalahan justru karena kita tau apa yang sebenarnya terjadi. kelanjutannya, bagaimana kalo sejak awal kita memang langsung percaya dan menerima kesalahan itu sebagai sebuah kebenaran? menurut saya malah tidak akan pernah terjadi sebuah ‘permakluman’ kalo kayak gitu.
dan benarlah kata2 Catshade, bahwa bagaimana pun juga hal itu tetap berpotensi misleading. inilah yang harus diluruskan. pun menurut saya, menunjukkan sebuah kesalahan bukanlah berarti tidak memaklumi sebuah kesalahan. hanya koreksi supaya lain kali lebih hati2 aja
Wuuuiihh! Fisika!
Ma pura pura ngerti aja deh,,
Tapi, anggeplah paparannya itu buku emang salah, itu bikin miris aja rasanya, masalahnya kok bisa bisanya ya,,
Kalo emang ga ngerti, kenapa ga pake pendekatan laen aja ya?
Tapi Sora, mungkin ga beliau itu maksudnya ada yang nyambung kalo di liat dari sudut pandang lain?
Abis Ma bener bener ga ngerti sih, SPMB Ma yang Fisika cuma bener 2 salah 1, sisanya kosong!
*gelar kacang*
*rebus tikar*
*nonton juga ah*
@ joesatch
Weleh…
:::::
@ isnese
Mungkin juga. Kalau saya sih, masukin di blog ini ke kategori “Books”.
:::::
@ dnial
Satu post lagi habis ini, kalau nggak ada perubahan rencana.
Terima kasih sudah menunggu.
:::::
@ spidolhitam
Iya, gitu? ^^;;
*baru tahu nih saya*
@ Snowie
…satu komen dihapus. Kalau memang mau menanggapi pemaparan saya, jangan OOT dan bawa-bawa masalah pribadi ke sini. ‘Nuff said.
Coba baca bagian pengantar dan halaman belakangnya. Semangatnya itu kentara, “menghubungkan antara Islam dengan ilmu fisika”.
Ditambah lagi penulisnya beberapa kali disebut “seorang insinyur nuklir”. Dia punya tanggung jawab untuk menyampaikan fisika yang BENAR, sebab bukunya sendiri mensugestikan ke arah itu.
Maksudnya apa?
Fisika dalam kehidupan sehari-hari, yang BENAR, banyak. Pompa air, bola lampu, radio tape. Beliau di atas juga menghubungkan fisika dengan keseharian, tapi fisikanya SALAH. Itu beda yang sangat besar.
Tetap saja landasannya salah. Boleh saja merasionalisasikan dengan analogi… tapi, analoginya harus benar.
Sementara fisika yang beliau sampaikan banyak salahnya. Analoginya salah. Apanya yang jadi rasional kalau begini?
BTW, “apologi” itu artinya “pembelaan”. Kalau membela agama dengan sains, tentunya bisa disebut sebagai apologi.
Begini, saya nggak keberatan kalau beliau mau menjelaskan hikmah dari ibadah haji, kemakbulan doa, dan lain sebagainya. Syaratnya cuma satu: landasannya harus benar.
Kalau landasannya salah, potensi misleading-nya besar. Terutama bagi kalangan awam yang ‘jauh’ dengan fisika. Orang mengira fisikanya oke, karena yang menulis ahli fisika nuklir… padahal kenyataannya tidak begitu.
Mungkin cetakannya beda, atau kutipan itu diulang lagi di halaman ybs. Yang jelas kutipan itu ada di halaman 112-113 buku yang saya dapat.
BTW, saya baca yang terbitan PADMA (“Padang Mahsyar”) tahun 2003.
Mbak, medium penghantar itu sama dengan konduktor. Menyatakan Ka’bah sebagai konduktor dan ruang sekitar Ka’bah sebagai konduktor, sama saja menyatakan bahwa dua-duanya konduktor.
OK, kita coba asumsi udara sekitar Ka’bah sebagai konduktor lapis kedua (lapis pertama: Ka’bah). Tetap saja, udara di sekitar Ka’bah itu bergerak dan mengalir. Konduktor lapis kedua ini bakal terurai seiring terjadinya angin.
Tambah lagi, “muatan netron” itu tidak ada. Yang ada “muatan netral”. Dan, benda yang bermuatan netral, mustahil menghasilkan gelombang elektromagnet…
Berfikir terbuka beda dengan mengamini kesalahan. That’s the point.
Iya, tapi… agak beda sedikit. ^^;
Medan magnet dalam kumparan lebih kuat dibandingkan di luarnya, karena medan magnet (hasil arus di sekelilingnya) saling menjumlahkan. Seandainya pun tidak ada paku di dalam cincin, medan magnet paling besar lokasinya juga di situ. Prinsipnya seperti gambar yang saya cantumkan di atas.
Medan magnetnya terbentuk di dalam dan luar cincin, tapi bukan di cincinnya itu sendiri!
Di sini, ada/tiadanya paku jadi tidak penting. Benar bahwa paku terinduksi jadi magnet jika dililit oleh kawat, tapi itu cerita lain.
Mengenai kenapa “medan magnet terbentuk di luar konduktor”… ceritanya panjang. Saya nggak yakin bisa menjelaskannya dalam istilah sehari-hari, so there you have it. (-_-)
Impuls pada sistem syaraf manusia itu, hakikatnya, sinyal listrik. Larinya ke elektron lagi. Bio-elektron itu cuma technobabble yang dijual sejak zaman Muhammad ‘Isa Dawud…
(Coba google istilah “bio-electron”, “bioelectron”, dst. Apa ada yang pakai buat paper ilmiah)
Tambahan: jika manusia berdosa jadi bermuatan negatif, harusnya daerah sekitar Nusakambangan jadi penuh medan magnet. Sebab semua napi di sana bergerak dari waktu ke waktu. (-_-)
Memang iya. Tapi kan Pak Mustofa menulisnya:
Salahnya adalah, beliau menyatakan Kaidah Tangan Kanan terjadi jika ada konduktor di tengah-tengah. Padahal kenyataannya tidak begitu.
Beliau menyatakan “jadi setiap aktivitas kita memancarkan energi”, setelah sebelumnya menyebutkan “kita memantul-mantulkan gelombang”. Di situ salahnya!
Di kata “jadi” itu! ‘Memantul-mantulkan’ bisa berdiri sendiri, ‘memancarkan’ juga bisa berdiri sendiri. Tapi, wrap-up-nya ini yang bermasalah. Semua contoh itu seolah menegaskan, “jadi setiap aktivitas kita memancarkan energi”. Ini yang saya bilang misleading.
Buat orang yang tidak memperhatikan fisika? Di situ masalahnya. Fisika — dan ilmu alam — dimutilasi. Dipelintir di sana-sini supaya pendapat orang “terkesan ilmiah”. Secara tidak langsung, ini mengelabui masyarakat.
Orang-orang yang nggak ngerti fisika bakal cuek. Tapi mereka percaya pada fisika palsu ini, dan mengamini begitu saja. Mereka nggak tahu fisika, tapi, karena “terkesan ilmiah”, karena yang menulis “insinyur nuklir”, mereka percaya. Walaupun tidak mengerti ada apa di baliknya.
MAU JADI APA UMAT YANG DIBODOHI KAYAK BEGINI!!??
Bukan. Cahaya itu gelombang elektromagnetik. Dia mengandung energi, tapi bukan energi dalam pengertian sebenarnya.
Satu poin…?
Saya membahas kesalahan beliau tentang (1) kaidah tangan kanan, (2) muatan yang bergerak, dan (3) perbedaan gelombang pancar dan pantul. Itu tiga hal yang sangat mendasar, lho.
Itu sudah dipilih. Kalau saya harus merangkum semuanya, bakal terlalu panjang.
Seperti yang sudah saya bilang di atas (komentar #39), ada bagian lain yang lebih mendingan di buku ini. Fokus saya bukan itu. Saya cuma menggarisbawahi kesalahan-kesalahan saintifik yang dibuat oleh so-called seorang insinyur nuklir beragama Islam.
Di samping itu, judulnya sendiri “Pusaran Energi Ka’bah”. Tentunya lebih efektif jika saya langsung menanggapi pokok masalahnya.
Makanya saya koreksi.
Tergantung… memangnya masih ada?
Setahu saya itu buku terbitan 5 tahun lalu, deh. (o_0)”\
@ Catshade
Exactly the point.
:::::
@ joesatch (lagi)
Well, kurang lebih intinya sama. Makasih sudah membantu menjelaskan. ^^
Ada juga tambahannya, yakni berupaya menyampaikan pada publik bahwa informasi yang disampaikan berpotensi misleading. Di satu sisi, OK, kita bisa maklum pada pengarangnya. Tapi, di sisi lain, memberi pemahaman pada khalayak juga tak kalah pentingnya.
Intinya sih di penanggulangan misinformasi itu sendiri. Makanya ditulis di blog.
:::::
@ Rizma
Sebenarnya mungkin, kalau analogi thawaf-Ka’bah dipandang sebagai arus kumparan dan batang logam. Seperti yang disampaikan mbak Snowie — di pelajaran SMP, yang paku/batang logam dililit kawat. Kalau begini penjelasan beliau jadi lebih nyambung.
Hanya saja, ini nggak mengubah kenyataan bahwa beliau salah menyampaikan tentang:
1. Kaidah tangan kanan,
2. Gelombang suara sebagai elektromagnet,
3. Penyamaan konsep “pemancaran” dan “pemantulan”
Ini konsep fisika yang relatif dasar. Makanya saya sorot secara khusus.
:::::
@ K. geddoe | gentole
Hus, hus…
*tabur garam*
Wah, sadis juga pembantaiannya.
*masak spaghetti*
Waduh telat nonton…
*makan kaca*
Akhirnya datang juga
Bagi saya kesalahan yang ada rasanya cukup jelas dan soal niat baik atau tujuan penulisnya maka itu tidak merubah kesalahan yang ia buat yang berkaitan dengan Ilmu Fisika. Boleh beranalogi, boleh berpikiran terbuka tapi kalau salah ya salah. Kan itu bisa jadi masukan yang berguna
*Ikutan nonton, berharap kebagian spaghetti*
Ah, technobabble… Baru liat kata ini. Catat…

Setelah membaca pemaparan & diskusi yang menarik di bagian atas, sbenarnya saya agak heran kenapa mbak Snowie yang jujur2 ngaku “nggak begitu dalam mengerti Fisika” kok spertinya membela pak Mustofa…
Sbenarnya nilai fisika SMU saya (dulu) gak pernah bagus sih, tapi apa2 yang ditulis sora pasti menarik dibaca.
Okay, bgini, di kutipan buku itu diatas ada bagian ini:
Maksudnya kata “misteri” itu merujuk kepada hal/kejadian apa di Ka’bah?
@ K. geddoe | lambrtz
*bikin roti isi*
*makan dengan santai*
*minum teh botolan*
:::::
@ secondprince
Yup, yup. =3
Coba minta ke Geddoe, mungkin dia ada sisa.
:::::
@ jensen99
Itu istilah lama, kok. Ada artikelnya di wikipedia:
[link wikipedia]
Walaupun saya menyarankan TVTropes, untuk versi yang lebih hebohnya.
[link TVTropes]
Ooh, itu merujuk pada berbagai pengalaman spiritual jamaah haji di sana. Terkadang beberapa orang mengalami hal yang — menurut mereka — rada ‘ajaib’. (o_0)”\
Kasarnya sih, semacam urban legend di kalangan umat Islam. Beberapa contoh di antaranya, misalnya:
Saya sendiri nggak tahu seberapa benarnya klaim-klaim di atas. Yang jelas cerita-cerita ini populer dan sering berulang. (o_0)”\
Ps:
Di sisi lain, seorang famili saya pernah pergi ke sana, tapi tidak merasakan hal-hal semacam di atas. Jadi mungkin ada faktor subyektivitas juga di sini. ^^
Saya kira inti persoalannya ada pada pernyataan diatas. Jadi teringat sebuah pepatah klasik
Bisa jadi pak Agus Mustopa awalnya mungkin bermaksud memberikan sebuah pencerahan kepada umat lewat sains yg ia geluti. Namun apa boleh di kata hasilnya seperti itu.
* mencoba berbaik sangka *
Saya kira sains dan spiritulitas bisa jalan bersama walaupun tetap melaju pada rel yang berbeda. Memaksakan keduanya berjalan dalam satu rel sungguh merupakan tindakan yang aneh dan nekat
*mulai ngantuk*
@Snowie
Remember *oy *uryo?
I, and a lot other computer geeks think that he is charlatan, a laughing stock. Detik dan Kompas yang suka menampilkan komentarnya pun jadi bahan tertawaan, guilty by association.
Bayangkan kalo atribut itu dialamatkan ke Pak Mustofa oleh para ilmuwan gara2 fisika yang salah, akhirnya kaum Muslim pun guilty by association karena percaya saja sama kata2nya dia. Apalagi bukunya best seller.
Just like Christian Fundamentalist looks silly because they believe on Creationism. Silly, stubborn, and pushy to be exact. The prefect idiot combo. Hufff…….
Jangan terjebak ke lubang yang sama. Dan Mr. Sora telah memberi pencerahan.
Voila, tu sai tout!
@ Snowie
Ah, izinkan saya sok mewakili orang-orang yang ada di sini.
Intinya yang mesti diingat adalah;
1. Kesimpulan yang didapat ialah klaim sains yang dibawa oleh Pak Agus Mustofa tidak terlihat sebagai sesuatu yang memiliki landasan yang solid.
2. Apakah ia dimaksudkan sebagai buku sains “yang setiap kalimatnya harus jelas dan setiap pernyataan harus di uji keabsahannya, serta wajib untuk di seminarkan” atau bukan, ia tetap berpotensi menyesatkan.
Tapi mesti diingat…
1. Kami tidak menafikan niat baik dari penulis.
2. Tentunya ini bukanlah serangan ke agama Islam.
3. Dan bukan pula serangan ke Anda.
* * *
Tapi amusing juga.
Beberapa bulan yang lalu:
X: Heathen! I recommend you to READ this magnificent book! A masterpiece of science and faith!
Y: I think I will.
Later…
Y: I’ve read this book! It teems with bad science and unsupported claims!
X: Hey, you’re not taking that book seriously, are you? It’s not a science book.
wah, saya kaget juga ternyata banyak juga fans nya bapak agus mustofa, maklum aja … bukunya tebal dan cetakannya bagus sih
@snowie
Sabar yah. Sora memang suka begitu.
Kapanpun Anda bisa memeriksa kembali bacaan buku fisika yang Anda miliki dan menguji klaim yang dibuat Sora9n. Karena ini ilmu pasti, mestinya tidak sulit. Jangan kuatir, saya juga pernah kok mengalami kejadian seperti ini dulu. Masih untung cuma bukunya pak Mustafa. Bagaimana coba kalo ada orang seperti Sora bikin post yang intinya bilang al-Qur’an salah? Intinya sih “humility”. Kebenaran, apalagi yang bersifat spiritual, bukanlah sesuatu yang perlu dibangga-banggakan.
Oooh, someone’s getting personal up there…
:: joesatch
Duch Holmes, dh berapa lama ya nggak lagi baca buku itu
Saya tidak berusaha mencari pembenaran dari kesalahan yang mungkin di lakukan Pak mustafa dalam bukunya. tapi saya hanya berusaha untuk “menerima” apa yang beliau sampaikan tanpa didahului sikap antipati walau tetap memiliki rasa skeptis terhadap apa yang beliau sampaikan.
Toh, benar atau tidaknya penjabaran beliau tentang gelombang elektromagnetik itu, Ritual Ibadah haji akan tetap sama.
Seseorang memberi tahu saya, untuk bisa mengerti tentang Tulisan pak mustafa, ada baiknya mengikuti tulisan beliau di seri berikutnya. Ini akan sulit terjadi kalo dari awal kita memang sudah memandang rendah tulisan beliau terkait dengan agama dan sains.
:: sora9n
Dua deh. Kalo gitu saya benar dong…
FYI, dugaan saya itu berdasarkan Intuisi lho.
menghubungkan khan tidak berarti mesti persis. Maksudnya, saya memandang bahwa Pak Mustafa menggunakan konsep dasar fisika untuk mencoba memahami fenomena di sekitar Ka’bah dan ibadah haji. Seolah-olah beliau ingin mengatakan
“Ide nya ini (fenomena seputar haji dan ka’bah)… kemudian, apa mungkin ada hubungannya degan hal ini (terkait dengaan fisika)
Dan lagi, entah mengapa saya melihatnya, walau beliau menggunakan istilah fisika tentang konduktor, gelombang elektromagnetik dan semuanya itu, tapi sebenarnya beliau tidak benar-benar membahas hal itu deh. Tapi entahlah…
Maksudnya cobalah untuk berimajinasi. Jangan gara-gara istilah fisika yang digunakan, lantas harus benar-benar Ilmiah. Nggak tau juga ya…
landasan yang mana lagi? Untuk penjabaran poin-poin yang kamu bahas, khan sudah sy tanggapi.
Nggak mesti harus benar-benar persis seperti penyataan fisika.
Saya pikir beliau tidak berapologi. Tapi cuma mendekatkan dua hal yang mungkin bisa didekatkan. Membela khan mesti ada yang dibela dari ancaman pihak tertentu. tapi kenyataannya tidak ada ancaman sama sekali. Dan beliau, untuk entah berapa kali saya katakan mencoba menjelaskan fenomena sekitar ka’bah and stuff.
Ok, saya sadar, kamu nggak bakal bisa menerima apa yang saya katakan. tapi, begitulah kenyataannya.
Sama. Buku yang ada pada saya jg terbitan itu tahun yang sama. tapi dihalamn yg kamu maksud, tidak ada tulisan seperti itu.
Maksud saya, Udara bebas itu merupakan konduktor/kawat pengahantar yang bermuatan arus listrik, dimana manusia yang berperan sebagai netronnya.
Ya ampyun sora
Begini, coba kamu bayangkan. Udara itu, tanah tempat berpijak di sekitar ka’bah itu, sebagai Kawat penghantar arus dalam rangkaian kaidah tangan kanan. lalu, manusia sebagai muatan listrik negatif, ka’bah sebagai pusat lingkran
Jadi, analoginya, kalo tidak ada tanah sbg t4 berpijak dan udara untuk bernafas manusia, apa mungkin manusia bisa tawaf keliling ka’bah?
itu, yang saya maksud jangan terlalu kaku dalam menfsirkan sesuatu. Jadi, kalo kamu masih berfikir dengan cara itu, mau bagaimanapun, saya nggak bakal bisa memberi another perspektif
siapa yang bilang kalo di cincin itu sendiri medan magnetnya terbentuk
Nah, ini dia masalahnya. Cerita lain itulah yang dibahas oleh Pak mustafa. Sementara kamu mengabaikan cerita lain itu
kamu nggak perlulah menjelaskan hal itu. saya bisa tanya sama ayah saya yang FYI guru fisika SMA
Sekalian menjawab tanda tanya Jensen99
Sora, tolong bedakan bergerak dengan tujuan dengan beda yang tanpa tujuan. Entah kamu bisa atau enggak
BTW, disana mereka khan dalam hukuman. Tidak sedang melakukan kejahatan itu sendiri.
Saya akui itu. Dan lagi, sebenarnya, uraian kamu dalam entry nggak salah. Secara Ilmiahnya memang begitu. cuma cara pandang saja yang berbeda sehingga penjabaran pak mustafa terkesan menyedihkan akibat kesalahan yang dibuatnya sendiri.
nggak tahu. tapi buku beliau masih terus terbit. Coba aja ke kontak personnya kalo kamu emang peduli dengan nasib Umat yang kami pikir di BODOHi.
Oooh, it IS getting personal!
Take cover! Take cover!
Oh boy, you’re still CONSIDERING that possibility?
Mbak, saya ‘kan udah menjelaskan di [sini], jangan menganggapnya sebagai serangan ke Pak Mustafanya lah…
:: K. geddoe
Siapa yang dibantai? *nggak ngerasa tuh
*
:: dnial
Pendapat saya, Dalam konsep islam yang saya tahu, “saat kita berusaha berijtihad untuk sebuah kebaikan, walaupun akhirnya salah, masih dapat pahala satu”.
akhirnya, bagi muslim yang perduli dan mengerti fisika, kenapa nggak coba berdialog langsung dengan beliau. nggak ada salahnya khan
:: K. geddoe lagi
Saya nggak ingat bilang apa tepatnya. Kok setelah membaca dialog di atas, saya jadi terlihat berlebihan *cemberut*
Yang penting, saya sudah tahu bagaimana sora memandang buku tersebut, dan telah berbaik hati mau membahasnya. thats all
Ngomong-ngomong bukankah ini keren. Sora masih memperdulikan apa yang saya katakan walau udah lewat beberapa waktu lamanya
:: gentole
Nggak masalah tuh. santai aja lagi…
Demo, Merci anyway
Klaim yang dinyatakan sora tentang ilmu fisika itu nggak salah. sekali lagi, ini hanya masalah perspektif
Tenang aja. saya nggak kuatif sama sekali kok.
Masalahnya, sora terlalu berpatokan pada kepastian ilmu itu. There you have it
*mulai terinfeksi gaya bahasa sora*
Kalo memang itu terjadi, dan orang itu berhasil. Berarti Tuhan yang menurunkan kitab itu perlu dipertanyakan ke arifannya. Dan siapakah orang itu, yang berani menjawab tatangan Tuhan semesta alam?
@ Snowie
Oke, saya berubah serius deh. Komentar yang ini dibalas dengan baik, ya?
Posisi Mbak di sini sebenarnya tidak jelas. Posisi Mas Sora, saya, dan kebanyakan yang hadir di sini jelas; sains yang ditawarkan Pak Mustafa adalah maksa. Kita tetap hargai usaha dan niat baiknya, tapi tetap mengkhawatirkan bahwa ini akan menyesatkan publik.
Cukup jelas? Kami menganggapnya sebagai honest mistake lah.
Mbak sendiri bagaimana? Kesan yang saya tangkap, tidak jelas.
+ Di satu kesempatan berusaha menjawab rebuttal yang dibuat Sora secara ilmiah (soal konduktor dsb.), menunjukkan bahwa Mbak masih setuju dengan sains yang ditawarkan.
+ Di kesempatan lain menekankan bahwa itu “bukan buku sains”, “perspektifnya beda”, ini lah, itu lah, dan justru terkesan NOMA. Menunjukkan bahwa Mbak indifferent terhadap tulisan Pak Mustafa maupun resensi Sora.
+ Dan di beberapa bagian juga mengakui bahwa secara fisika Sora sudah benar. Tentunya dengan berusaha melepaskan hubungan blunder tersebut dengan Islam, diri Mbak sendiri, dan kredibilitas Pak Mustafa.
Jadi, sebenarnya posisi Mbak di mana? Sebab kesannya hanya menjawab satu-satu poin yang diberikan Mas Sora tanpa direksi yang jelas; ambigu.
Membalas bagian-bagian komentar orang tanpa arah yang jelas itu memberi kesan bahwa Anda cuma tidak mau kalah, lho.
As if you’re not insulting. You’re one of the first to sound bitter and wry.
I thought Mr. Sora here got a tsundere childhood friend already?
@ all
Pendahuluan sebelum komen serius… (reply sebenarnya sekitar nanti sore)
Buat para pembaca yang ingin berkomentar, saya nggak melarang. Tapi pesannya satu: JANGAN nyampah…
Ini diskusi yang sensitif. Lihat kan, satu-dua komen yang niatnya joke saja bisa ditangkap sebagai insult. Ini sama saja dengan nggak produktif.
That said, komentar yang sebelumnya nomor #67, #70, #71, #73, #75, #76, #78, #80, #81 saya kirim ke akismet. Rasanya sudah saya tekankan di halaman license?
:::::
@ Snowie
FYI, berhubung komentar2 yang disebut sebelumnya bakal dihapus, jawaban mbak yang buat reply mereka juga akan saya hilangkan. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. (-_-)
@sora9n & Snowie
(merasa salah satu komennya dikirim ke akismet)
Saya mohon maaf atas junk saya kirim, dan mohon maaf kalau itu menyinggung.
Wah, habis ada kejadian nih. Yang punya rumah bersih-bersih soalnya. Kalo begitu, kembali serius. Sementara sora memberi ulasan fisika, saya mau tanya nih sama Mbak, sebenarnya apa sih implikasinya atau akibatnya apabila ternyata benar fenomena tawaf itu bisa diterjemahkan, dianalogikan atau bahkan dijelaskan dengan fisika? Kalau memang ada, apa? Kalau memang tidak ada, jadi tujuannya apa buku itu? Intellectual excercise?
OK deh, kembali serius.
Sebenarnya beberapa orang di atas sudah mencoba memberikan (menebak?) jawaban dari pertanyaan ini. Nah, saya ingin tahu pendapat Mbak Snowie seperti apa. Saya edit sedikit supaya lebih sesuai konteks.
@sora & snowie
iya, saya juga mohon maaf karena ngasih komen ga serius tadi.
silakan dilanjutkan diskusi yang menarik ini. saya ikut menonton di bangku paling depan
Saya ikutan ya? Maaf kalau argumennya asal, mohon koreksinya..
@Snowie
Kalo setahu saya sih, itu bukan menghubungkan, tapi menghubung-hubungkan.
Hanya karena manusia dan elektron sama-sama berputar, sang penulis berusaha menyamakan kedua hal tersebut.
Lah, kalau memang hal tersebut tidak benar-benar ilmiah, kenapa harus dihubungkan dengan ilmu fisika oleh sang penulis?
@lambrtz
Supaya agamanya terlihat up to date dengan perkembang ilmu saat ini?
Njrit komen gue dibantai juga.
Sebenarnya saya ada pertanyaan buat mbak snowie, cuman karena yang lain udah nanya bejibun gitu, maka pertanyaan saya tangguhkan dulu deh.
Lepas dari topik utama.
Karena sering bentrok makanya ketika ada usaha menjelaskan agama dengan bahasa sains langsung dianggap sebagai sebuah “keberhasilan luar biasa”. Menghubungkan Agama-Sains itu berat, karena mensyaratkan 2 hal yang cukup sulit : kompetensi keilmuan (sains) dan kompetensi keimanan (pemahaman agama).
Blundernya bisa timbul di tiga titik : (1) konsep sains (2) konsep agama, dan (3) hubungannya. Lalu apakah keimanan kita akan bertambah kalau sudah mendapat konfirmasi positif dari sains ? Saya kok menanggapinya tidak seperti itu.
@ C4ndra
Yup, itu dia. ^^
:::::
@ dnial
Masbro…
…
…Harun Yahya kok nggak disebut?
Orang yang bisa memblok WordPress di satu negara demi tuntutan defamatory, orang sakti, itu!
:::::
@ K. geddoe
Quoted for Truth.
:::::
@ spidolhitam
Entah, ya. Tapi saya rasa buku-buku Harun Yahya masih lebih tebal, luks, dan bervariasi.
::::
@ gentole
Bukannya sudah ada, ya?
*setahu saya site macam FFI atau infidels.org hobi berbuat gitu, deh*
:::::
@ Catshade
Hus, jangan dikomporin.
@ Snowie
Begini, sebelum diskusi ini melebar ke mana-mana, saya rasa kita harus menyamakan persepsi dulu. Berikut ini saya sampaikan poin-poin saya:
* * *
Sekarang waktunya menanggapi…
Nggak ada hubungannya dengan benar atau salah. Anda tahu saya nggak main-main soal komentar. Lihat nomor #74.
Jika Anda bilang saya saudaranya Hatta Radjasa, komen Anda saya hapus. Jika Anda bilang saya keponakannya Enda Nasution pun, komen Anda juga saya hapus. Anda nggak sopan dengan berupaya mengungkit identitas saya di dunia nyata… THAT’s the point.
Perhubungan beliau itu yang salah. Beliau bertanya: “apa mungkin?” Dijawab sendiri: “ya, ada hubungannya”.
Seperti apa hubungannya? Lihat fisikanya… ternyata seperti di atas. Itu dia masalahnya.
Wah, nggak bisa begitu. Kalau mau membahas ilmu alam, nggak boleh setengah-setengah. Harus benar, bisa dipertanggungjawabkan, dan sesuai konteks.
Ibaratnya seorang dokter menyatakan: “obat ini dosisnya tiga kali sehari, tidak untuk penderita diabetes”. Dia tidak boleh setengah-setengah menyampaikan resep. SEMUAnya harus lengkap: tiga kali sehari, dan tidak untuk penderita diabetes.
Tidak boleh diumumkan “tiga kali sehari” tanpa menyebut “tidak untuk penderita diabetes”. Itu namanya misleading.
Satu lagi: penulisnya seorang insinyur. Kalau Anda mau tahu, ada yang namanya Kode Etik Insinyur.
Yes, I’m an engineering student. Saya kutipkan sbb.:
Seorang insinyur tidak boleh menyampaikan informasi setengah-setengah. Dia harus berupaya mencerahkan publik. Kalau Pak Agus Mustofa di atas mau beranalogi dengan fisika, dia harus menjelaskan fisika yang dipakai selengkap dan sebenar-benarnya.
Tidak boleh dipotong-potong, apalagi cuma dipakai sekenanya.
Di satu sisi menganalogikan Kaidah Tangan Kanan, tapi ketika di-complain ternyata pakai dalih lain: “Oh, ada yang ketinggalan. Ini kurang lengkap. Seharusnya…”
ITU PUN beliau masih terbalik menjelaskan Kaidah Tangan Kanan!
Silakan mengacu ke kode etik di atas.
THAT’S WHERE YOU FAIL TO UNDERSTAND…!!!!
Kalau orang mau membawa ilmu alam, dia harus menjelaskan dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai misleading. Ilmu alam yang salah kaprah BERPOTENSI DIGUNAKAN untuk MENIPU.
Ingat dokter bedah palsu yang main suntik silikon. Ingat Scientology! Ingat “menentukan perilaku berdasarkan golongan darah”. Ingat DJOKO SUPRAPTO DAN BLUE ENERGY-NYAAAAAAA…!!!!
Itu jadinya kalau ilmu alam disalahgunakan. Dan yang di postingan di atas itu… itulah kalau ILMU PALSU DIBAWA-BAWA KE RANAH AGAMA. Are we clear here!?
Bagaimanapun, kutipan itu tetap ada di halaman 144-145 buku Anda. So get straight to the point with that.
Itu namanya analogi maksa. Orang thawaf dan Ka’bah bisa disamakan dengan apa saja. Arus melingkar cuma salah satu contoh.
Orang thawaf bisa disamakan dengan tata surya, dengan struktur atom, dengan aliran mobil di Bundaran HI, dengan orang lari keliling lapangan bola. Tidak ada alasan khusus bahwa ia harus diartikan sebagaimana Anda mengartikannya.
Satu lagi, netron (neutron) itu partikel bermuatan netral. Benda bermuatan netral tidak akan bisa menghasilkan gejala elektromagnet… (-_-)
Kayaknya bukan saya yang terlalu kaku, deh. Melainkan Anda yang terlalu luas dalam beranalogi. (-_-)
Kalo disama-samain, semua hal juga bakal ketemu miripnya. Saya juga bisa menafsirkan sepakbola sebagai bentuk ajaran Islam. Karena setiap kali latihan, para pemainnya berlari keliling lapangan, sama dengan gerakan thawaf.
TAPI ITU MEMANG CERITA LAIIIINNNNN….!!!!!
Pak Mustofa menulis soal kaidah tangan kanan (KTK). Menurut beliau, KTK membutuhkan konduktor di tengah agar bisa terjadi. Sebenarnya, tidak!
Jika maksud beliau sebenarnya KUMPARAN atau SOLENOIDA yang MELILIT KONDUKTOR logam, salah kaprah kalau diatributkan ke kaidah tangan kanan. Kaidah Tangan Kanan tidak butuh konduktor di tengah supaya ada medan magnet ke atas. Lebih baik jika beliau langsung bilang “orang thawaf itu seperti arus kumparan yang mengelilingi konduktor Ka’bah”. Habis perkara.
Kalau begitu, saya juga bakal maklum. Masalahnya beliau membawa-bawa Kaidah Tangan Kanan. Sudah begitu terbalik, pula.
*sigh*
Saya nggak tertarik menanggapi ini, karena dari kemarin sudah saya jelaskan. Tapi sudahlah… disingkat saja.
Sebuah benda bermuatan yang bergerak akan menimbulkan medan magnet. Tak peduli geraknya beraturan, zigzag, mondar-mandir, punya tujuan, ataupun muter-muter model thawaf.
Jika suatu benda yang memiliki muatan bergerak, maka dia akan menghasilkan medan magnet. Titik.
……
Yeah, right. So let’s all throw our hands to the sky, and scream “What the hell?”
What an amusement.
Bagaimana ya. Sebenarnya saya nggak punya kewajiban apa-apa juga sama mereka. De jure dan secara kultur, saya masih muslim. Tapi, de facto, saya ini agnostik…
Harusnya umat Islam berterimakasih karena masih ada ‘orang luar’ yang peduli pada mereka. Bukannya bersikap menantang model begini.
[/mock]
@ K. geddoe (lagi)
Heh, heh…
*somewhat smells like infotainment reporter activity*
Lebih cocok disebut genki, ah. Tsundere dari mana?
BTW, percayalah. Punya childhood friend itu nggak senikmat yang digambarkan di anime-anime…
*neraka dunia di masa SD, itu* x(:::::
@ lambrtz (#75)
Tak mengapa, asal dipahami saja maksudnya. ^^
Bagaimanapun, saya nggak enak juga kalau jadi banjir OOT. Ingat saja bahwa ini diskusi serius, dan mbak-nya sendiri terang-terangan menyatakan hal tersebut.
Jadi ya… begitu deh.
:::::
@ yang tadinya ketelen akismet (#78 agiek, #81 dana)
Sudah saya bebaskaan…
Makanya, jangan OOT. Dikenalin akismet, noh.
*ternyata cerdas juga dia*
:::::
@ komen #76, #77, #79, #80
Karena ditujukan buat mbak Snowie, nggak usah saya jawab ya.
:::::
@ goldfriend
Yup, itu dia. Seperti yang sudah saya singgung di komen #14 untuk ManSup.
Pertanyaannya, apakah para juru dakwah/apologi kita punya kualitas seperti itu. Tanpa maksud merendahkan, IMHO jawabnya lebih sering berupa “tidak”.
Kita tak setiap hari menemukan ilmuwan religius model de Chardin, Dobzhansky, atau Lemaitre. Paling lumayan mungkin Bucaille… itu pun dia sering dikritik karena metode tafsirnya cenderung ekstrapolatif.
IMHO sih, hype-nya ada di obyektivitas sains itu sendiri. Kalau agama bisa sejalan dengan sains, setidaknya dia dekat dengan kebenaran yang diakui secara obyektif. Ini yang diincar sebagai ‘bukti kebesaran’.
Katakanlah seseorang menemukan petunjuk tentang Big Bang dalam Al-Qur’an. Dia bisa mendatangi temannya yang beragama lain dan menyatakan:
Di sini, keyakinan pada kitab suci bertambah, karena kitab melakukan sesuatu yang out of ordinary. Dia mengamini kebenaran yang semua orang bisa sepakat dengannya, yakni gejala alam hasil penemuan sains. (o_0)”\
IMHO, CMIIW.
Ah, dilema seperti ini kadang terjadi! Gemas dan ingin rasanya menanggapi, tapi takut merusak ritme diskusi!
Saya tunggu Mbak Snowienya lagi sajalah.
Back to serious, sorry for the OOT.
Ilmu yang setengah-setengah memang berbahaya. Suatu ketika, seorang alumni kampusku melakukan kesalahan fatal saat merancang fasilitas pengolahan limbah.
It was honest but fundamental mistake. Kegagalan untuk memahami perbandingan dari US Metrics ke Metrik. Kegagalan untuk memahami bahwa 1 pound tidak sama dengan 0.5 kg.
Well, kita semua di SD sudah belajar bahwa 1 pound adalah 0.5 kg, ternyata itu hanya pendekatan. Begitu pula pi adalah 22/7 atau 3.14 hanyalah pendekatan, karena pada dasarnya penghitungan pi lebih rumit dari itu.
Pendekatan dalam buku itu bisa dipakai untuk hal2 yang nggak esensial. Tapi jika misal buku itu digunakan dalam debat atau diskusi yang lebih serius, apalagi kalau kita menganggap buku pak Agus sebagai ultimate truth…
Cukup susah menjelaskan ilmu yang kita miliki pada orang awam. Ilmu kita terangkai begitu kuat dalam otak dengan konsep-konsep yang saling berkaitan. Kita harus menyederhanakan konsep2 keilmuan agar mereka paham. Kadangkala beberapa konsep kunci dihilangkan karena susah dijelaskan. Tapi biasanya ada disclaimer (kalo aku seh) bahwa untuk memudahkan beberapa konsep disederhanakan, dan mungkin salah dan berbeda dengan konsep asli, tapi in sake of pembahasan masalah, konsep ini bisa digunakan.
Dilematis memang, If we get too serious, common people won’t understand, if we try to be simple, we have to ommit few key concepts and maybe mislead.
IMHO, Disclaimer is the key.
Biasanya buku Agus Mustofa diletakkan di tumpukan buku-buku Best Seller di toko-toko kayak Gramed, dulu sempat baca dikit bukunya yang judulnya “Akhirat Tidak Kekal”, itupun cuman nebeng baca di Gramed, nah dari buku itu saya sedikit tahu kalau si Agus Mustofa ini orang “sesat”, kepada siapapun anda bertanya, saya yang gak paham fisika saja tahu kalau ranah akhirat bakal jadi konyol kalau coba dibahas atau difisika-fisikakan, sementara di kubu wahabi, buku-buku Agus Mustofa, sudah di cap “sesat”, karena memang tafsiran Qur’an yang dipakai memang terkesan semau angan-angan dan fantasinya sendiri.
Dari judul-judul bukunya seperti Ternyata Adam Dilahirkan, Bersujud di Sidratul Muntaha, dll, semuanya sejenis, bahkan gak sungkan-sungkan Agus Mustofa memasukkan film-film science ficiton kayak Star Trek dalam bukunya.
Sedihnya kebanyakan orang yang saya ajak ngobrol, kebanyakan bilang, bahwa pembahasan Agus Mustofa ini ilmiah karena banyak argumen dan kutipan ilmuwan, dan dalam waktu bersamaan juga haq, karena disertai dalil-dalil dari Al-quran dan hadist, padahal … ah … apa namanya ini mas? Fanatisme? Atau ada istilahnya sendiri gak?
*jadi pengen beli buku paket fisika SMA, sama terjemahan kitab Riyadus Salihin*
Idem.
wah… tinggi!
tapi mas, tadi mas bilang
IMHO, fisika itu lebih asyik jika didekati tanpa matematika. Sebab mainnya di logika + imajinasi (bukannya rumus)
IMHO juga, matematika itu pake logika juga loh… malah enakan matik logikanya. soalnya kalo matik (IMO loh ya), asal dibikin persamaan, pasti bisa ketemu jawaban dari persoalan2 apa pun.
wah OOT yah?
maap yah, padahal diskusi di atas lagi seru2nya tuh
@ K. geddoe
Well, saya pun pernah mengalaminya. So cheers.
:::::
@ dnial
Ah, tidak mengapa. Jangan terlalu dipikirkan.
Kekhawatiran saya sama dengan masbro. Sejauh yang saya lihat, pembelaan agama dengan (pseudo)sains itu sendiri membawa dua masalah.
Di satu sisi kalangan awam percaya pada “ilmiah”-nya; di sisi lain mereka menggabungkannya dengan belief/keyakinan. Di sini pseudosains bisa ‘naik pangkat’ sebagai ultimate truth — i.e., dianggap bukti keimanan.
Ini mengingatkan saya pada para pendukung HY. Mereka jadi seolah “mendogmakan” karya beliau… bisa jadi begitu scornful dan bigoted kalau pendapat beliau dipertanyakan.
…dan saya mengalaminya waktu mbahas QM tempo hari.
Bagaimana caranya menjelaskan sebaik mungkin dalam bahasa populer, ini yang susah. Belum lagi kalau ternyata ada honest mistake. IMHO memang sebaiknya diberikan disclaimer, supaya pembaca juga berhati-hati.
Yup, yup. ^^
:::::
@ spidolhitam
Jadi ingat, kemarin google tentang beliau buat follow-up-nya tulisan ini. Ternyata beliau punya pandangan-pandangan yang rada bertabrakan dengan konsep Islam mainstream. ^^;;
(e.g. Nabi Adam sebenarnya dilahirkan, tidak ada siksa kubur, dst.)
Kaget juga. Saya kira, beliau sekadar insinyur konservatif beragama Islam.
Weleh…
Wah, kalau istilahnya saya nggak tahu. Tapi, kalau penjelasannya, kurang lebih seperti reply saya ke mas dnial di atas. (o_0)”\
Karena yang menyampaikan adalah insinyur nuklir, orang jadi lebih mudah percaya. Ditambah lagi dikaitkan dengan keyakinan agama. Ya… jadi seolah ada ikatan emosional dengan ‘kebenaran’ yang disampaikan, begitu. ^^;;
:::::
@ gentole
IMHO sih, kalau punya adik/keponakan, minta pinjem aja. Kalau sudah naik kelas kan bukunya nggak dipakai lagi.
:::::
@ reikira
Sebenarnya memang begitu. Hanya saja, matematika itu sendiri hakikatnya cenderung abstrak. Dia harus dipetakan dulu (misal: numerik, grafik, geometri), baru bisa dibayangkan.
Nah, Matematika Fisika, merupakan pemetaan matematika ke dalam gejala fisika (ini ada kuliahnya sendiri). Jadi yang penting di sini gejala fisiknya dulu, baru dihubungkan dengan matematika. ^^
Misalnya:
Jadi yang penting itu konsepnya dulu. Kalau konsep fisikanya sudah jelas, baru bisa dipetakan ke dalam bentuk matematika. ^^
Ah, nggak apa-apa. Masih lumayan nyambung kok.
Maafkan komen saya sebelumnya
*Yang OOT itu*
Setelah menyimak diskusi Mas Sora dan Mbak Snowie, dan pendapat saya
Mas Sora sejauh ini berada pada sudut pandang yang mengkritisi kaidah-kaidah Sains yang dipakai oleh Pak Mustofa. Ini bagi saya masukan yang baik, karena ternyata orang sekaliber Pak Mustafa itu, bisa juga membuat kekeliruan. Hanya itu yang mampu saya tangkap dari postingan Mas Sora
Mbak Snowie sepertinya berada pada sudut pandang lain yang belum saya mengerti sepenuhnya. Saya rasa masalahnya bukan harus memahami buku Pak Mustofa dengan cara yang bagaimana atau dengan analogi yang melompat-lompat. Maaf kesannya itu jadi kayak Mitos, memahami sebuah peristiwa dengan analogi-analogi yang tidak memiliki landasan yang shahih bagi saya itu tampak seperti Mitos. Bukan berarti jelek. Hanya saja kalau memang begitu maka buku tersebut hanya sekedar bacaan yang tergantung selera semata atau tergantung apriori kita.
Kalau dari awal kita tersugesti dengan ide umum sang Penulis maka kita akan tertarik dan suka dengan buku tersebut. Walaupun mungkin pada saat itu kita tidak menyadari kekeliruan yang dibuat penulis. Seandainya ada orang yang mengkritisi dan mengoreksi kekeliruan2 yang dibuat Sang Penulis maka sudah jelas hal itu adalah tambahan info yang menarik. Menarik untuk diteliti lebih lanjut siapa yang benar. Hanya saja ego kita bisa sedikit terganggu karena kritikan itu sudah menurunkan sugesti kita terhadap penulis. Jika kita terlalu sibuk dengan ego ini maka konsekeunsinya kita juga akan bias dalam memahami maksud dan sudut pandang si pengkritik.
Bagi saya Mbak Snowie tidak perlu menganjurkan siapapun untuk memahami dengan cara atau analogi yang bagaimana. Karena itu semua sudah di luar sudut pandang yang dibahas Mas Sora. Setidaknya itu yang saya tangkap dari menyimak diskusi anda berdua.
Opini saya ini hanyalah kata-kata pribadi dan saya harap tidak memberi kesan menydutkan bagi siapapun. Saya belajar sesuatu dari diskusi anda berdua.
Salam
kayaknya kudu dipertemukan dan di-debatin nih antara bung sora ama bpk Mustofa.semacam debat pilkada gitu
Aduh maaf saya kelamaan. Abis banyak hal yang harus di kerjakan di dunia nyata sih
BTW, karena ini diskusi serius, dan saat ini saya nggak punya banyak waktu untuk OL lama-lama, saya pending dulu ya jawabnya.
Semoga, saya sedikit ada luang….
Sehingga bisa submit reply untuk semua komen yang ada hubungannya dengan saya…
OK
biar dakwahnya terkesan smart kalee
[...] Pusaran Enerfi Ka’bah | Tulisan ini bertujuan membahas beberapa masalah inti yang menurut sora9n dan beberapa rekan lainnya merupakan misleading dari penjabaran Pak Mustafa dibukunya yang berjudul [...]
Link
:: K. geddoe
Baiklah. Akan coba saya usahakan.
Sepertinya begitu. saya baru menyadarinya ketika kembali membaca komentar saya dari awal. Apalagi soal kalimat “jangan terlalu serius” itu. Saya menyesal mengatakannya. Sebenarnya saya cuma berusaha untuk tidak terlalu bersitegang dengan bahasan ini, tapi akhirnya malah seperti ini.
Posisi saya? aduh bingung juga sih. Tapi, coba baca dulu tulisan saya yang memang diniatkan untuk memberikan penjelasan lebih detil tentang pendapat saya.
Setelah itu, bisa dilihat posisi saya dimana
Sebenarnya, komen saya yang tahap dua itu adalah komentar spontan. jadi memang sangat terkesan nggak punya acuan yang jelas. Tapi, di dalam tulisan tersebut, saya benar-benar berusaha untuk tidak lagi bias.
BTW, Bitter and wry, a tsundere childhood friend, itu artinya apa?
R.S.V.P [Répondez s’il vous plaît
:: sora9n @ all
sebenarnya yang bikin saya merasa nggak senang itu karena dijadiin bahan taruhan. walau niatnya mungkin cuma bercanda.
*Rada elergi sama taruhan saya*
:: gentole | lambrtz
kata pengarang buku tersebut begini:
“Saya harap buku ini bermanfaat buat kawan-kawan yang ingin menambah wawasan dan ingin selalu mendiskusikan ilmu Allah, untuk meningkatkan kualitas keagamaannya. Khususnya kepada mereka yang mau pergi Haji atau Umarah, barangkali buku ini bisa memberi sedikit “peningkatan emosi” dalam mengahayati kedekatannya dengan Ka’bah.”
That’s it.
:: Nazieb
Tolong baca Tulisan saya yang dimaksudkan sebagai bahan pembanding dalam tulisan sora ini. ada link nya kok
Saya mengkoreksi kalimat saya yang ini dan menyesalinya.
:: sora9n
Ada! buktinya kamu nggak menghapus komennya SP, lambrtz, gentole ddl yang juga nggak berhubungan dengan tulisan disini. Kamu senang-senang aja dan bahkan menanggapinya. Secara, komentar mereka itu nggak mengandung kebenaran yang nyata.
lagian saya nggak berupaya mengungkit identitas kamu di dunia nyata kok. Bagaimana mungkin saya yang berada ribuan kilometer jaraknya dan terpisah lautan bisa mengungkap siapa kamu di dunia nyata dan membawanya ke blogosphere (spelling?).
Saya berkomentar begitu karena membaca komentar mereka-mereka itu. Lalu, dengan sedikit Intuisi dan logika, saya mengemukakan ide baru yang rasanya lebih masuk akal daripada asumsi mereka-mereka itu. Dan berdasarkan pernyataan SP, kalimat itu tercipta. That’s It
BTW, saya beri tahu sesuatu. Tindakan kamu menghapus komen saya yang itu membuat saya makin yakin dengan pendapat saya. Karena kalo komen itu nggak di hapus, maka sangat besar kemungkinannya untuk kenyataan itu terungkap di blogospere ini. Setidaknya, mereka-mereka yang memang berasal dari dunia nyatamu akan mengkonfirmasi hal tersebut.
~ * ~
Sudah baca link yang saya kasih?
kalo belum, tolong baca dulu baik-baik. karena semua yang perlu dijelaskan saya bahas disana.
…
sudah? gemana menurutmu?
kalo beliau menjelaskan semuanya, ya nggak jadi ngomongin soal Tawaf dan ke musjaban doa di multazam dong, pembaca awam fisika malah jadi tambah pusing…
BTW, masih berfikir kalo Kaidah Tangan Kanan-nya terbalik?
heeeeee….. *kaget*
Ya nggak mesti menjerit-jerit begitu dong menjelaskannya. Siapa dulu coba yang bicara soal nettiquete? apa karena ini blog mu sendiri sehingga boleh bersikap sesukanya? Mana banyak penekanan kata lagi…
*bersyukur sudah menghabiskan sebatang Magnum classic, jadi bisa rada santai baca tulisan ini*
Alasannya adalah kerena pak mustafa membicarakan soal Multazam yang Mustajab karena faktor orang bertawaf mengelilingi Ka’bah yang menghasilkan gelombang elektromagnetik dan bagian-bagiannya cocok dengan kaidah tangan kanan.
lagian, Kalo bikin analogi dengan tata surya dan struktur atom,aliran mobil di bundaran HI, atau lari keliling lapangan bola, maka akan repot menjelaskan arah medan magnet yang dihasilkan. Paling ujung-ujungnya balik lagi ke Kaidah Tangan Kanan terkait arah putaran dan Pusat medan magnetnya
yang ada, Tata surya, orang keliling lapangan bola itu dan cs, kalo mau membahas soal energi magnetik yang dihasilkan juga musti menggunakan kaidah tangan kanan toh?
Maaf, maksud saya elektron. “Netron” tercipta karena saya memikirkan kata “negatif” dan “elektron” pada saat yang bersamaan.
Masa sih? 0_o”\
Lah, kok jadi gini?
memangnya kita sedang membicarakan tentang sesuatu yang mengelilingi sesuatu itu adalah ajaran Islam?
hanya karena sama-sama mengelilingi sesuatu?

kalo cara berfikirnya begitu, aliran Islam yang berkeyakin bahwa bila sudah mengelilingi kompleknya sebanyak 7 kali, berarti sudah melakukan ibadah haji, bisa dipandang benar dong? aya-aya wae
*tersenyum model anak SD di iklan Rinso anti noda*
Ah, apa iya
coba ingat lagi baik-baik… eh, salah, baca lagi baik-baik penjelasan saya ybs.
belum. kalo cuma gitu apa gunanya? memangnya kenapa dengan arus kumparan yang mengelilingi konduktor itu? Lalu bagimana dengan Energi Magnetik yang dihasilkan. bagaimana arah putarannya? dengan arah putaran yang sedemikian, kemana arah keluar energi magnetik yang dihasilkan?
mesti dijelaskan khan?
Sama aja dong seperti dokter yang bilang “minum nih obat!” tanpa menjelaskan kenapa. Bingung dong pasiennya. trus mikir, memangnya saya sakit apa?
masalahnya itu bukan pada gerakan per se. tapi, gerakan melingkar teratur yang berlawanan jarum jam. dan gerakan model itulah yang menghubungkannya ke Kaidah Tangan Kanan.
nggak begitu juga kali….
De jure dan secara kultur, saya masih muslim. Tapi, de facto, saya ini agnostik…
Maksudnya, masih di bilang muslim karena Ikut merayakan Idul Fitri? Masih Puasa di bulan ramadhan? gitu?
Tapi, menilik pengertian kamu itu keadaan “muslim” adalah kultur? dengan kata lain budaya?
kalo semua orang berfikir gitu, nggak heran orang yang solatnya sekali seabad masih berani ngaku Islam. walaupun nggak jarang ibadah yang dilakukannya nggak berdasarkan keyakinan pada Tuhan. Khan hanya Kultur… yang penting Udah terlihat melakukan sholat, trus nggak ikut-ikutan melaksanankan Ibadah agama lain…. udah deh islam….
Gitu ya?
Juga, puasa kalo lagi minat aja atau karena pengen berhemat. Tanpa adanya keyakinan bahwa Puasa yang dilakukannya itu semata-mata kerena Tuhannya menyuruhnya begitu. Dan Yang paling menentukan dari setiap perbuatan adalah Niat.
Saat niatnya nggak karena Allah, maka itu bukan ibadah yang bisa diterima di sisiNya.
*hayah, malah jadi ceramah*
trus, saya jadi meragukan istilah agnostik yang saya pahami.
berhubung kamu menyinggungnya,
bagi saya, agnostik adalah suatu paham dimana keberadaan Tuhan itu nggak bisa dibuktikan secara pasti atau empiris.
Bisa tolong jelaskan sekali lagi agnsotik versi kamu itu seperti apa?
Oh, baiklah sora….
Terima kasih telah dengan tulus perduli pada kami, para umat muslim yang gampang dibodohi ini…
Semoga Tuhan membalasmu dengan kebaikan yang banyak…
Apa genki itu?
loh, sebelum komen pemberitahun Pending Reply itu, yang saya maksud dengan kata serius khan pernyataan bahwa taruhan yang mereka lakukan itu benar-benar Insulting. Diskusinya serius juga, tapi saya nggak pernah menyatakannya terang-terangan sebelumnya.
:: K. geddoe
kalo emang mau menanggapi, nggak usah nungguin saya aja, nggak pa-pa…
Secara, saya kesempatan OLnya nggak bisa sesering dan selama orang-orang disini. Bisa-bisa idenya G jadi basi kelamaan nungguin saya
Lihat sendiri khan
*numpang OOT dikit sora*
ngomong-ngomong, G, kamu udah baca tanggapan saya buat kamu di Postingan nya Mas gentole yang di Ekaristi?
Nggak perlu di tanggapi sih, tapi saya ingin memastikan, kalo kamu sudah membacanya. Karena sia-sia rasanya saya memikirkan jawaban tersebut kalo kamu nggak baca. Khan kamu yang nanya?
:: spidolhitam
Hati-hati menilai orang. jangan karena sesuatu yang tidak pernah anda ketahui sebelummnya, dengan mudahnya anda menyebut orang lain sesat.
jangan salah, banyak Ide-ide dalam science fiction itu yang akhirnya menjadi pembahasan serius bidang keilmuan. saya nggak ingat pernah baca dimana, tapi kalo nggak salah ada hubungannya dengan “artificial Intelligence”
:: sora9n @ dnial
nggak adil!!!!! *protes*
kenapa komen OOT saya dihapus?
katanya serius soal pelanggaran hukum disclaimer blog ini. dan OOT termasuk disalah satunya.
*menyembunyikan kenyataan kalo diri sendiri masih mengirimkan beberapa komen OOT*:: SP
percaya atau tidak, saya nggak merasa Ego saya terganggu dengan kritikan yang diberikan sora. hanya saja, Kritikan yang diberikan sora ada yang sedikti tidak pada tempatnya, jadi dengan sedikit mencoba memberi pandangan lain, saya ingin melihat, apakah kesalahan itu benar-benar sefatal itu.
apalagi saya. Saya malah benar-benar belajat kembali. Terutama soal Fisika. udah Sekitar 5 tahun bow nggak belajar fisika secara Intensif. Terakhir, waktu kelas 3 SMA. –bimbel menjelang SPMB gak masuk itungan—
@ Snowie
Ada kesalahpahaman di sini. Sebelum menjawab, ada yang mau saya luruskan dulu:
Tadinya saya pikir bisa disudahi sampai situ. Ternyata enggak, justru berlanjut. Alhasil saya mengambil tindakan tegas mulai komen #74.
Yang terlanjur dibiarkan + dijawab, mau diapakan lagi?
Anda terang-terangan menunjuk nama. SP nggak. Itu sebabnya saya masih mendiamkan komennya dia, walaupun sebenarnya saya juga kurang suka.
Jadi, jika kamu menulis saya keponakannya Enda Nasution, dan saya hapus komen kamu. Kamu juga percaya saya keponakannya beliau?
Think again.
…Heh. Mas Dnial itu minta maaf atas komen OOT beliau yang sebelumnya. Yang sudah saya kirim ke akismet bersama dengan komen-komen lainnya.
Kalau orang minta maaf, tentunya saya bilang “Ah, tidak apa. Jangan terlalu dipikirkan”. Justru komentar mas dnial yang ini yang bagus. Dia nggak OOT.
Baca isinya dulu, dong?
* * *
Sekarang waktunya menjawab…
Sudah. Masih banyak kurangnya.
Masih.
Mnemonik SMA yang kamu acu itu cuma penyederhanaan. Kalau penjelasan itu dipakai secara universal, maka kawat melingkar akan menghasilkan medan magnet homogen, yakni ke atas.
Sedang kenyataan sebenarnya tidak demikian. Medan magnet yang dihasilkan oleh arus melingkar ada yang mengarah ke atas (di dalam cincin). Tetapi, di sisi lain, juga ada yang mengarah ke bawah (di luar cincin).
Sori, terbawa emosi.
Ya, kamu belum pernah melihat orang-orang keras kepala, yang menolak teori evolusi, setelah baca buku Harun Yahya. Atau yang mati-matian membela Blue Energy-nya Djoko Suprapto, biarpun sudah diberitahu tentang Hukum Kekekalan Energi. Jadi maafkan kalau saya jadi bersikap kayak begitu.
Enggak juga ah. Medan magnet yang dihasilkan arus dari dulu begitu-begitu aja. Asalkan mengacu ada kaidah tangan kanan, bentuk seaneh apapun bisa dideteksi arah medannya.
Lagipula, waktu saya belajar medan elektromagnet dulu, beberapa kali disuruh menghitung medan magnet kawat yang bentuknya aneh-aneh (kotak, setengah lingkaran, dst.) Jadi harusnya seorang insinyur nuklir nggak kesulitan dengan itu.
Saya cuma mencontohkan, bahwa pada skala ekstrim, keluasan analogi itu bisa disalahgunakan. Seperti apa? Ya seperti di atas itu.
Segala sesuatu, kalau dicari-cari, pasti bakal ketemu miripnya. Seperti saya bilang, kamu terlalu luas dalam beranalogi.
Masalahnya, Pak Agus menyatakan bahwa KTK terjadi jika konduktor dikelilingi arus melingkar. Padahal arus melingkar tanpa konduktor pun sudah cukup.
Ditambah lagi: beliau sebenarnya memakai penyederhanaan untuk anak SMA, yang sudah dimodifikasi di sana-sini. Secara praktis, betul — tapi, secara konsep, salah.
Itu yang saya bilang misleading. Kalimat beliau mensugestikan bahwa harus ada konduktor di tengah supaya medan magnet terbentuk.
Gunanya? Beliau bisa menjelaskan analoginya dengan lebih elegan. Semuanya sama dengan yang beliau sampaikan. Ada arus melingkar, ada medan magnet di tengah kelilingan arus, ada konduktor di tengah, dan seterusnya.
Orang bakal paham bahwa “konduktor” Ka’bah tidak sama dengan “konduktor” arus. Beliau bisa menyatakan bahwa medan magnet yang jadi fokus adalah di dalam kumparan (arahnya ke atas semua), mengabaikan yang di luar cincin (mengarah ke bawah).
Sisanya, tinggal menjelaskan bahwa arah medan magnet kumparan (dan konduktornya) dapat ditentukan menggunakan KTK yang sebenarnya.
Dengan itu saja beliau bisa meng-clear-kan banyak kesalahpahaman. Saya pun bakal maklum, kok, kalau penjelasannya seperti itu.
Saya bilang di Nusakambangan bakal banyak medan magnet. Terus kamu bilang, “nggak bisa, karena geraknya nggak teratur”.
Lalu saya bilang “benda bermuatan yang bergerak pasti menghasilkan medan magnet”. Terus kamu malah menghubungkan “bukan gerak per se”, harus gerak melingkar supaya bisa dihubungkan dengan KTK.
…
…
Ini mah ngalor-ngidul.
Saya bukan muslim. Enough said.
Keyakinan saya adalah urusan saya pribadi. Tapi, jika kamu tanya ke orang-orang sekitar saya, pasti jawabannya: “dia itu Islam kok”; “Islam ah”; “di KTP-nya juga Islam”. Ini nggak menunjukkan kenyataan sebenarnya.
Secara hukum dan pengenalan orang-orang di sekitar, saya ini muslim. Tapi, dalam hati saya, bukan.
Jelas ya?
Sudahkah kamu belajar untuk bersikap lebih rendah hati sekarang?
Lho, iya ya? (o_0)”\
Ah, saya lupa persisnya. Pokoknya intinya kamu nggak suka dengan taruhan tersebut. Ditambah lagi beberapa yang lain menambah-nambahi soal “happily ever after” antara kita berdua (saya nggak tahu kamu baca yang ini atau nggak).
Jadi, dengan pertimbangan menjaga ritme diskusi, saya memutuskan untuk menghapus komentar-komentar tersebut. Mudah-mudahan jelas yah.
Maaf kalau sudah buat gak enak, sekali lagi saya minta maaf
@Sora9n
~Snowie
Untuk bagian saya, waktu itu saya hanya bercanda. Guyonan itu bukan saya yang buat; saya dulu hanya baca di blog lain (saya lupa blog mana) dan mengangkatnya lagi di sini.
Saya minta maaf. Waktu itu saya belum sadar kalo Sora menjaga anonimitas, dan baru belakangan ini tahu. Lain kali saya akan lebih berhati-hati kalau bercanda.
@ Agiek
Komen dihapus sesuai permintaan.
:::::
@ J. Algar | lambrtz
Nggak apa-apa, yang penting dimengerti aja sih. ^^
Saya sendiri nggak keberatan kalau orang bisa menemukan identitas saya yang sebenarnya. Hanya saja, syaratnya satu: jangan disebar/dibicarakan di depan umum.
Lebih lengkap soal ini bisa dibaca di postingan lama.
http://sora9n.wordpress.com/2008/01/18/anonimitas-dan-saya/
wahh seru..
Pseudosains ? Relasi antara sains dan agama (kepercayaan) ?
Wahh jadi inget film X Files, dan liat argumentasi Mulder ama Scully.
“Dengan demikian, fisika yang saya pelajari di kampus bersifat perpanjangan (extensive) dari yang dipelajari oleh rata-rata orang, yakni fisika SMA.”
Hmmm.. Sama donk
(T_T) kok bisa penulis buku macam itu keterima di teknik nuklir UGM. Memalukan…waktu belajar fisika di dia lulus nggak ya?
[...] Oktober, 2008 · Tidak ada Komentar Dua orang ini tengah masygul… Dua orang ini tengah [...]
Ketika sains menjadi alat syaitan….
:: sora9n
gak penting.
Nggak! saya nggak pernah bilang gitu.
yang saya katakan adalah:
maksud dari prase “dengan tujuan” itu adalah memiliki pola tertentu. seluruh Orang yang tawaf, bergerak teratur dengan pola melingkar berbentuk spiral dan dengan arah yang sama.
Sementara, bagaimana pola orang-orang di nusakambangan itu?
tapi,sudah lah… gak penting
*memasukkan “nggak penting” ke dalam recent favorite phrase*
memang khan, keyakinan itu berakar dari hati. Dan masalah hati adalah urusan pribadi. Nggak ada urusannya dengan pendapat orang lain.
Sebenarnya, somehow, sebagai muslim, saya rada sedih dan menyayangkan mendapati kenyataan kalo kamu benar-benar bukan seorang muslim. awalnya saya menduga kalo kamu itu hanya kecewa terhadap prilaku sebagian ‘umat muslim’, sehingga jadi Agnostik. Makanya saat itu saya menyarankan tentang Al-Quran itu.
Tapi, sekarang jelas bagi saya apa yang sebenarnya terjadi. Saran saya soal Al-quran padamu sama seperti saya menyarankan Injil pada seorang muslim convensional.
yah, saya percaya kalo kamu bukan muslim. and nothing to do with that.
Dan mulai saat ini, saya nggak akan lagi menyinggung/memberi saran apapun yang berbau-bau keyakinan terhadap agama padamu.
Wah… Saya nggak sempat baca tuh. Saat saya datang lagi, sudah ada pemberitahuan bahwa komen yang OOT udah di hapus.
Begitulah…
@ pras
Seenggaknya X-Files itu bersifat hiburan. Beda dengan buku yang, pada dasarnya, meant to be taken seriously.
:::::
@ rider_isha
*angkat bahu* (-_-)
:::::
@ Ajaran
Syaitan menyesatkan manusia dari kebenaran, dan manusia yang menyebar kebohongan adalah syaitan kecil.
Kalau Anda lebih suka menerima ‘ajaran’ syaitan daripada hukum fisika, apa boleh buat.
:::::
@ Snowie
Good. Well said..
Halah, dah selesai.
@Snowie
Saya cuma mau bilang sesuatu yang salah adalah salah walau sebenar apapun tujuannya.
[...] Actually, I don’t want to talk about it. [...]
Sekarang saya mengerti mengapa seorang sora.kun begitu malasnya membahas postingan ini.
*Mencoba O.O.T. dan dilempar oleh mie instan*
^
Lha, ini belum seluruhnya. Masih ada satu postingan lagi di blog tetangga. XD
*keder*
:: dana
Baiklah…. saya mengerti.
_
_
:: sora9n
kalo dari saya, udah…
[...] dituduh menyama-nyamakan dua hal yang sebenarnya tidak berhubungan. Takutnya ada pihak-pihak yang masygul Categories: agama & tuhan Tags: atheis • bidadari • dosa • downline [...]
wew, saya termasuk yg suka dg buku2nya agus mustofa jeh
serius^^
emang, latar belakang yg awam membuat saya cukup terpesona dg berbagai hal yg disodorkan. lantas apa yg saya dapat ??
spiritualitas saya tambah kuat, hehe, jujur aja. dan harap dibedakan dg religiusitas ya, soale nyadar bgt, ga religius2 amat.
tp baca halaman ini -yg cukup bikin mumet dan ga mungkin dicerna dlm semalam- membuat saya lbh kritis lg.
thx to sora.
emg, kl dicermati, yg aneh dr buku2nya agus mustofa, dia tdk menyertakan indeks pustaka sumber2 yg dia pake.
tp hal tsb tdk menyurutkan kesenangan saya sama buku2 beliau. mengapa ??? krn ada kecocokan dlm hal spiritualitas.
yg aku tangkap dr sini, sora dan teman2 dg latar belakangnya, mencoba mengkritisi dalil2 keilmuan yg mnrt temen2 disini kurang akurat dan itu berpotensi menyesatkan orang awam.
-
well, saya bisa terima itu -walo ttp ga paham
sayang banget, snowie tll memasukkan ke hati.
tp saya bisa memahami hal tsb. seringkali jk ada sst yg kita suka dan tyt ada yg ‘menyerang’ maka sdkt banyak bagian dari kita ikutan terluka. *bisa ngomong soale juga pernah ngalami*
likes and dislikes.
krn itu, salut dg temen2 disini yg bisa berdiskusi dg mengambil jarak dr ego. obyektif, kata orang.
dan diskusi yg sehat, akan berjalan.
kembali ke buku2nya pak agus, saya punya dua, yg menyelam ke samudera ruh dan jiwa & bersatu dengan allah.
walo mungkin dalil2 ilmiah yg diutarakan kurang akurat, tp somehow membantu saya memahami sdkt mengenai spiritualitas. bahkan ketika berdiskusi ttg spiritualitas dg seseorang yg belajar ttg fisika kuantum, psikologi, dll, kok saya nemu benang merahnya.
antara lain ide ttg energ itu.
yah, kl saya mah, krn cenderung simplifikasi sih, jd suka ambil benang merahnya aja.
me (think) mungkin, agama pun sedang berevolusi.
^
Seperti yang sudah disampaikan oleh mbak di komen di atas. ^^
Sebenarnya, ada beberapa idenya Pak Agus Mustofa — di luar sains — yang saya cukup respek. Misalnya soal “beragama bukan dengan paksaan”, atau ketika beliau membandingkan ayat Qur’an dengan gejala alam (baca juga: komen saya yang no. #27). Sampai sini saya nggak ada masalah.
Cuma, masalahnya ya, ketika beliau menyebutkan ilmu fisika dengan penjelasan yang — mohon maaf — agak amburadul. Nah, ini yang mengkhawatirkan. Seperti yang sudah saya tulis di post:
Selain itu sih, saya OK saja. Mengenai spiritualitas dan agama yang beliau bahas, saya nggak ada complain.
Soalnya spiritualitas/keimanan/agama itu urusannya dengan “rasa”. Nah, ini yang belum tentu sama untuk setiap orang. Saya sih open saja.
Duh, saya jadi ingat jaman Bapa saya baca buku ini. Masa2 smp tuh…dan sempat diperbincangkan juga sama temen smp saya. (kalo ga salah sekarang ketemu lagi)
…bingung mau komentar apa.
betul sekali sora….
dan sora sbg kalangan akademisi, kritikannya bagus sekali, krn membuat pak agus menjadi lebih cermat di kemudian hari.
*toss sama sora*
Cuma sekedar mampir… ga sengaja nemu blog ini waktu nyari referensi code geass (lho-lho… ko malah nyambung ke topik ini ya? haha)
gatel pengen nulis komen, boleh ya..
Well, bukan orang yang terlalu ngerti fisika, even though I’m engineer too ^^;; Sampe sekarang saya sendiri masih bingung gimana caranya saya bisa lulus dengan selamat dari institut yang sama dengan sora9n. (ini pengakuan memalukan)
IMHO, pendapat sora9n malah sangat membangun (cat: even saya belum sempat googling kebenaran argumen/penjelasan sora9n lagi buat mastiin, secara saya “rada2″ soal fisika).
Someone said: if you made some mistakes, and nobody talk to you about it, it means they give up (sory, inggris saya ga bagus, grammar please..).
So, it’s a good feed back. Bisa diartikan sora9n masih “care” lho.. dan menurut saya sih, kita (muslim) justru dituntut untuk lebih objektif dan ilmiah. Karena inilah kekurangan muslim saat ini kan? jarang sekali ulama yang benar-benar menguasai sains, dan jarang sekali ilmuwan yang benar-benar menguasai agama. Ah.. jadi pengen ketemu sama ibnu sina, al-khawarizmi, dll…
di satu pihak, saya coba ngerti sudut pandang snowie (yang masih blom ketemu sampe saat ini.. hehe, sory). But, its ok lah.. snowie cuma berusaha memberikan sudut pandang untuk berusaha memaklumi, mungkin? And yes I agree with snowie, kalo emang ada sesuatu yang kurang tepat, akan lebih baik kalo bisa disampaikan kepada yang bersangkutan langsung. At least via penerbitnya?
Saya pikir ini sebagai bentuk tanggung jawab juga, kalo emang ternyata ga mau kejadian semakin banyak pembaca buku itu yang akan “dibodohi”.
oya, OOT boleh ya.. soal pengakuan bukan muslim nya sora9n. Jujur, itu bener-bener bikin saya shock. Duh, sedih banget, kayanya ko umat islam udah kehilangan satu lagi kritikus yang positif. Saya tadinya berharap sora9n bilang “saya muslim, tp saya bukan mukmin”. Karena itu yang saya tangkap dari pernyataan soal “kultur”.
Secara sora9n mengakui bahwa dia sendiri bukan muslim, dan ada yang berpendapat pernyataan “bukan” pun bisa dianggap sebagai pengakuan untuk keluar agama……….. so, plis, ati2.. mudah2an itu bukan pernyataan karena emosi ya… be wise.
agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku, namun sebagai sesama manusia masih tetap perlu mengingatkan kan…
@ Lemon S. Sile
Wah, saya kurang tahu soal penerimaan buku beliau di masyarakat. Ini juga bacanya sebelum menulis postingan di atas. ^^;
:::::
@ restlessangel
*ikutan toss*
:::::
@ Ami
Hmm, begini. Secara hukum dan lingkungan, saya memang masih (dianggap) muslim. Tapi sebenarnya saya ini agnostik.
[agnosticism @ wikipedia]
Ceritanya panjang kalau dijelaskan di sini, tapi begitulah adanya. Mohon maaf kalau mengecewakan. (-_-)
Bukan kok. Itu sudah lewat pertimbangan matang. Sejak tahun 2007, sih.
[...] saya bersyukur bahwa diskusi semacam di postingan ini dan ini berlangsung di blog dan bukannya Y!M. Saya selalu punya waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. [...]
Penulis buku-Agus Mustopa Teknik Nuklir UGM ,..
Apa ini juga org yang berpendapat bhw nabi Adam bukan nabi pertama ?