• Beranda
  • License
  • More About Me…
  • Sitemap

sora-kun.weblog()

//returns stories, pictures, or anything else he’s working at :)

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Kartu Lebaran 1429 H
Bagaimana ya… ^^;; »

Masygul

Oktober 10, 2008 oleh sora9n

Saya merasa hati saya disobek-sobek ketika membaca dalil-dalil fisika dipakai untuk mengapologikan keyakinan agama…

…dengan tidak semestinya.

Orang-orang awam mungkin akan senang dan merasa makin kukuh imannya. Tetapi, jika Anda paham dengan apa yang dibicarakan, melewati technobabble yang digunakan, maka pilihan Anda cuma dua: kecewa sekali atau marah sekali.

Dan saya mengalami yang pertama.

(ditulis setelah membaca “Pusaran Energi Ka’bah” karya Agus Mustofa)

 

Kutipan dan Tanggapan:

 

Disisi lain, ternyata jutaan orang yang berthawaf mengelilingi Ka’bah juga menghasilkan energi yang besar. Dari mana asalnya? Di dalam ilmu Fisika kita mengenal suatu kaidah yang disebut Kaidah Tangan Kanan.

Kaidah Tangan Kanan mengatakan: “Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan elektromagnetik yang mengarah ke atas.”

Hal ini, dalam Kaidah Tangan Kanan, digambarkan dengan sebuah tangan yang menggenggam empat jari, dengan ibu jari yang tegak ke arah atas. Empat jari yang menggenggam itu itu digambarkan sebagai arah putaran arus listrik, sedangkan ibu jari itu digambarkan sebagai arah medan elektromagnetik.

Kaidah tangan kanan ini telah memberi kemudahan kepada kita dalam memahami misteri Ka’bah. ‘Kebetulan’, orang berthawaf mengelilingi Ka’bah berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Atau dalam kaidah itu mengikuti putaran empat jari tergenggam.

 

~ hal. 112-113
(cetak tebal dari saya)

Ada tiga kesalahan yang ingin saya tunjuk di sini.

Pertama, penulis menyatakan “konduktor dikelilingi oleh arus listrik” (analogi orang berthawaf, Ka’bah sebagai konduktor — lihat kutipan selanjutnya 1, 2).

Ini salah besar. Arus tak bisa mengalir di luar konduktor. Ia hanya bisa mengalir lewat medium penghantar, e.g. kawat logam. Arus listrik tidak bergerak mengelilingi konduktor di udara bebas, sebagaimana ilustrasi orang berthawaf di atas.

Kedua, medan magnet tidak muncul di konduktor, melainkan di sekeliling konduktor berarus. Jika Anda menghantarkan listrik pada kawat, medan magnet akan muncul di sekeliling kawat… BUKAN pada kawat konduktor itu sendiri.

Ketiga, kaidah tangan kanan (right hand grip rule) yang sebenarnya tidak berbunyi seperti di atas. Melainkan:

    Ibu jari Anda melambangkan arah arus, dan empat jari yang menggenggam melambangkan arah medan magnet.

Jika arus mengalir lurus, maka medan magnet yang dihasilkan akan melingkar. Jika arus dibuat melingkar… maka kita harus melakukan perhitungan lebih lanjut. Kita harus menerapkan aturan tangan kanan dengan ibu jari kita mengikuti gerak arus.

Agak rumit bila dijabarkan, tapi bisa dijelaskan dengan ilustrasi sebagai berikut.

 

[medan magnet arus melingkar]

Untuk arus yang berputar berlawanan arah jarum jam, akan terbentuk medan magnet seperti ilustrasi sebelah kanan. Perhatikan bahwa:

1. Bagian tengah kosong (tidak ada konduktor)
2. Arus merambat pada kawat, bukan di udara kosong
3. Medan magnet terbentuk di sekeliling kawat
4. Arah medan magnet tidak hanya ke atas, melainkan melingkar.
Dengan demikian terdapat medan magnet ke arah bawah di sisi luar konduktor. (tidak digambarkan)

Kutipan di atas setengah benar ketika menjelaskan arah medan magnet ke atas, tetapi salah total ketika menjelaskan arus. Sorry, but — first.

 

Masih ada lagi yang lain:

Seperti telah saya katakan, bahwa tubuh manusia ini sebenarnya mengandung listrik dalam jumlah besar yang dibawa oleh miliaran bio-elektron dalam tubuh kita. [...] Sehingga ketika ada jutaan orang berthawaf mengelilingi Ka’bah, ini seperti ada sebuah arus listrik yang sangat besar berputar-putar berlawanan dengan arah jarum jam mengitari Ka’bah. Apa yang terjadi?

 
~hal. 113

Per definisi, arus listrik adalah elektron yang bergerak. Apabila terdapat arus, maka akan terbentuk medan magnet di sekitarnya. (perhatikan gambar di atas)

Saya tidak tahu apa itu bio-elektron, kecuali — mungkin — maksudnya adalah elektron yang terdapat dalam sistem fisiologi tubuh manusia. Ini tidak menjawab apa-apa. Elektron dalam tubuh manusia tidak ada bedanya dengan elektron dalam sebongkah bata.

Meskipun begitu, sekilas saya bisa menangkap ide yang beliau usung:

    Kelihatannya, penulis berupaya menjelaskan arus lewat ide “manusia sebagai muatan negatif yang bergerak”.
     
    Dengan demikian gerakan thawaf akan menghasilkan arus berlawanan arah jarum jam.

Sayangnya, ide ini sangat mentah. Tubuh manusia umumnya bermuatan netral. OK, terdapat satu-dua kondisi di mana tubuh manusia bisa bermuatan lebih positif/negatif (penjelasan yang bagus: di sini). Meskipun demikian hal ini sifatnya tidak alami… Anda harus menjalani proses ‘kehilangan’ muatan dulu sebelum jadi tidak netral.

Jika manusia bermuatan bergerak, maka akan timbul medan magnet (berperilaku seperti arus listrik). Tetapi, jika manusia netral bergerak, maka tak akan timbul medan magnet sama sekali. Tidak ada perilaku arus. Ini sama saja dengan memutar-mutar batu bata (muatan netral) menggunakan tali — takkan ada gejala elektromagnet, karena muatan bendanya sendiri nol!

 

Dan lagi:

Di tengahnya, di Ka’bah — khususnya lagi di Hajar Aswad — terjadi medan elektromagnetik yang mengarah ke atas. Kenapa begitu? Karena dalam hal ini Hajar Aswad telah berfungsi sebagai konduktor, seperti dijelaskan oleh Kaidah Tangan Kanan.

 
~ hal. 113
(cetak tebal dari saya)

Perhatikan kembali gambar yang saya cantumkan. Sebenarnya tidak perlu ada konduktor di tengah untuk memunculkan medan magnet.

Jika sebuah arus berputar berlawanan arah jarum jam, maka arah medan magnet — di dalam lingkaran — akan cenderung ke atas. Di titik pusat, terbentuk medan magnet yang benar-benar tegak. Semua terjadi tanpa perlu adanya konduktor di tengah cincin.

 

Dan TERAKHIR… (ini yang membuat saya benar-benar geleng kepala)

Sesungguhnya, setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik. Gelombang itu selalu memancar ketika kita melakukan apa pun. Ketika kita berkata-kata, kita sebenarnya sedang memancarkan gelombang suara yang berasal dari getaran pita suara kita.

Ketika kita berbuat, kita juga sedang memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita. Jika tertangkap mata seseorang, maka mereka dikatakan bisa melihat gerakan atau perbuatan kita. Demikian pula ketika kita sedang berpikir, maka otak kita juga memancarkan gelombang yang bisa dideteksi dengan menggunakan alat perekam aktivitas otak yang disebut EEG (Electric Encephalo Graph). Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi.

 
~ hal. 112
(cetak tebal dari saya)

Maaf, tapi tidak ada ampun di sini. :?

 
Pertama:

Gelombang suara BUKAN gelombang elektromagnetik, melainkan gelombang mekanik. Keduanya memiliki perbedaan properti yang signifikan.

Yang saya lihat, penulis cenderung mencampuradukkan fenomena gelombang dan mewadahkannya dalam satu nama “gelombang elektromagnetik”. Mungkin beliau tidak bermaksud demikian — tetapi, menyebut gelombang suara tepat setelah membicarakan gelombang elektromagnetik, itu berpotensi menyesatkan pembaca yang awam. :|

 
Kedua:

Penulis menyatakan “setiap perbuatan manusia selalu menghasilkan gelombang elektromagnetik”. Disambung dengan percontohan bahwa kita “memantul-mantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru lingkungan kita”, bahwa kita memancarkan gelombang otak… sebelum akhirnya memungkas penjelasan dengan kalimat: “Jadi setiap aktivitas kita itu selalu memancarkan energi”.

Seolah-olah, istilah “pemantulan” dan “pemancaran” itu sama dan dapat dipertukarkan! Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Mari kita perhatikan definisi berikut:

  1. Suatu benda yang memancarkan gelombang, menghasilkan gelombang tersebut dari dalam dirinya sendiri. Ia bersifat aktif dan membutuhkan energi internal.
  2. Contoh: Bintang memancarkan cahaya (lewat energi fusi), speaker memancarkan suara (lewat energi listrik), dst.
     

  3. Suatu benda yang memantulkan gelombang bersifat pasif. Ia hanya menunggu datangnya gelombang dari sumber lain, dan tidak membutuhkan energi internal*.
  4. Contoh: Bulan memantulkan cahaya dari matahari ke bumi; dinding memantulkan gelombang suara dari mulut kita, dst.

     

    *) Lebih jauh lagi, sebenarnya benda menyerap sebagian energi gelombang saat pemantulan terjadi. Tapi itu bisa kita abaikan untuk saat ini.

Dengan demikian, gelombang hasil pantulan berbeda dengan gelombang hasil pancaran. Pemantulan cahaya tidak dapat disamakan dengan pemancaran cahaya — apalagi dengan pemancaran energi!

Mempersamakan pemancaran dengan pemantulan, ibaratnya menyatakan bahwa bulan bersinar tanpa bantuan matahari. Ini ngaco.

Saya tidak menyangkal bahwa keduanya — pemancaran dan pemantulan — punya ciri umum yang sama. Mereka sama-sama merambatkan energi gelombang pada pengamat. Tetapi, prinsip dasar yang melandasinya berbeda. Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas.

Meskipun begitu, penulis tampak menganggap bahwa keduanya sama dan dapat dipertukarkan. Entah kenapa. :roll:

 

Sebuah Catatan Akhir

 
Sejauh ini, Anda mungkin bertanya: kenapa saya mau bercapek-capek menulis tentang buku tersebut dan menanggapi poin-poinnya. Sebenarnya sederhana saja: saya kecewa. Terutama sebagai orang yang, kebetulan, mempelajari fisika secara ekstensif di bangku kuliah.

Boleh-boleh saja kalau mau berdakwah dengan mengedepankan penemuan sains. Hanya saja: check your facts first. Dakwah model ini berpotensi terjerumus jadi pseudosains jika penggagasnya tidak berhati-hati.

Kalangan awam yang mencari peneguhan religius mungkin kagum dengan adanya pemaparan so-called “kecocokan ilmiah”. Tetapi, kekaguman itu berlandas pada kesalahkaprahan… sebuah landasan yang sangat rapuh.

Apa jadinya dengan kebanggaan yang dibangun di atas ilusi dan miskonsepsi. Ini hanya akan membuat pemercayanya tampak bodoh. Agama tidak — dan tidak seharusnya — diperkokoh lewat hoax dan pseudosains. Bayangkan seorang penganut yang dengan percaya diri berkata:

“Agama saya menemukan pembenaran lewat gejala alam X. Penjelasannya bla-bla-bla.”

Hanya untuk ditertawakan oleh pendengarnya yang menjawab:

“Hei, penjelasan kamu salah. Gejala alam X itu penyebabnya seperti ini…” :mrgreen:

***

Akhir kata, saya cuma ingin berpesan: jangan campurkan sains secara sembrono untuk kepentingan dakwah. Setidaknya, pastikan bahwa dalil-dalil yang Anda gunakan benar dan masuk akal. Jangan sampai iman/agama yang Anda bela — dan umatnya — justru terlihat bodoh karena berpatokan pada ilmu semu.

Ironis, bukan, jika upaya untuk meneguhkan keyakinan ternyata berlandaskan pada ketidakbenaran.

Sains dan Agama adalah dua sisi yang sering bentrok. Mencampurkan keduanya secara sembrono sangat beresiko… lebih bijak jika kita menimbang jarak antara keduanya sehati-hati mungkin. ;)

 

 

—–

Ps:

Buat mbak Snowie, yah, saya sudah menemukan buku ybs. Ternyata ada di lemari buku orangtua saya. There you have it. ;)

PPs:

BTW, yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir. Atau lebih tepatnya, lulusan Teknik Nuklir UGM.

Can you believe it? :?

Like this:

Suka
Be the first to like this post.

Ditulis dalam Books, Curhat, Deeper Thoughts | Bertanda debunking, fisika, Islam, pseudosains, religi, sains | 126 Komentar

126 Tanggapan

  1. pada Oktober 10, 2008 pada 6:05 pm sora9n

    “I maintain there is much more wonder in science than in pseudoscience. And in addition, to whatever measure this term has any meaning, science has the additional virtue, and it is not an inconsiderable one, of being true.”

    ~ Carl Sagan


  2. pada Oktober 10, 2008 pada 6:16 pm Catshade

    *speed reading dulu*

    BTW, yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir. Atau lebih tepatnya, lulusan Teknik Nuklir UGM.

    Can you believe it? :?

    Mungkin sekarang anda bisa berempati pada kebingungan Dawkins ketika melihat kolega-koleganya yang, meski cerdas dan jiwa ilmiahnya tak diragukan, tetap mengimani Tuhan dan agamanya. :D


  3. pada Oktober 10, 2008 pada 6:47 pm sora9n

    ^

    Sebetulnya bukan itu. Kebingungan saya yang sebenarnya adalah…

    Bagaimana bisa ahli fisika nuklir salah menjelaskan Kaidah Tangan Kanan? For God’s sake — itu pelajaran SMA! x(

    Bagaimana bisa sampai salah mengelompokkan gelombang suara sebagai elektromagnet?

    That. :roll:


  4. pada Oktober 10, 2008 pada 6:49 pm gentole

    Terutama sebagai orang yang, kebetulan, mempelajari fisika secara ekstensif di bangku kuliah.

    Ah, saya menyesal tidak menyukai fisika dan matematika waktu sekolah dulu. Merasa menjadi korban sistem pendidikan yang salah. Atau memang sudah nasib. Apa mau dikata. Lucu juga uraiannya, meski berkerut membacanya. Mbak Snowie mana nih? :D


  5. pada Oktober 10, 2008 pada 7:48 pm lambrtz

    Dulu di kaskus ada orang yang memposting sesuatu (lupa tentang apa, kalau bukan agama ya aliran kepercayaan, hal-hal semacam itu) dengan cara yang demikian juga, dan kemudian ada yang posting menjabarkan kesalahan-kesalahannya…ya mau ga mau agak mesem waktu mbaca :P

    BTW,

    Terutama sebagai orang yang, kebetulan, mempelajari fisika secara ekstensif di bangku kuliah.

    Maksudnya ekstensif?

    lulusan Teknik … UGM

    Waduh……


  6. pada Oktober 10, 2008 pada 8:15 pm sora9n

    @ gentole

    IMHO, fisika itu lebih asyik jika didekati tanpa matematika. Sebab mainnya di logika + imajinasi (bukannya rumus). :P

    Kalau disuruh ngitung, ya, mabok. Medan magnet di atas itu sebenarnya matematikanya rada… mengerikan. x(

    *beneran*

    Mbak Snowie mana nih? :D

    Tungguin aja lah. ^^;;

    :::::

    @ lambrtz

    dan kemudian ada yang posting menjabarkan kesalahan-kesalahannya…ya mau ga mau agak mesem waktu mbaca :P

    Mau gimana lagi? :lol:

    Maksudnya ekstensif?

    Ya… lebih jauh (dan mendalam) dibandingkan kebanyakan orang. Rata-rata kan cuma sampai fisika SMA. :P

    *saya ini mahasiswa teknik lho*

    Waduh……

    Tenang, masbro. Satu almamater bukan berarti harus sekualitas, bukan. ^^;;

    Ibaratnya membandingkan Pak Rovicky dengan Roy Suryo. Sama-sama alumni UGM pun, bedanya bagai langit dan bumi! :D

    [/jadiMerasaNggakEnakNih]


  7. pada Oktober 10, 2008 pada 8:39 pm lambrtz

    Ya… lebih jauh (dan mendalam) dibandingkan kebanyakan orang. Rata-rata kan cuma sampai fisika SMA. :P

    Mmm…maksud saya, bukannya intensif?
    Seingat saya ekstensif = meluas, melebar, misalnya bercocok tanam secara ekstensif berarti meluaskan lahan dengan membabat hutan.
    CMIIW

    (malah OOT)

    [/jadiMerasaNggakEnakNih]

    Heleh… :P
    Saya mah peduli amat sang penulis lulusan mana.
    Tadi cuma bercanda kok :mrgreen:


  8. pada Oktober 10, 2008 pada 9:17 pm ryy_

    Aaaargh, B.Eng di dalam saya tersiksa baca kutipan dari buku itu. Mungkin kalau saya punya hati untuk baca buku itu (penguin forbid!) perang berisik di vakum angkasa bakal terasa believable.

    Sebenernya mudah aja ngetes klaim right hand rule Ka’bah. Buat current transducer di sana, kumpulin data, lihat apa kata data.

    Kalau soal aktivitas manusia memancarkan energi, kuranglebih betul, tapi argumennya beda. Aktivitas menghasilkan panas (dengan satu atau lain cara), yg diradiasi ke luar, radiasi panas itu juga gelombang elektromagnet. Tetep aja: WHAT’S THE POINT.

    Mungkin sebagian besar ilmuwan gak akan senang (itu juga kalau mereka punya waktu untuk peduli) kalau hasil jerih payah mereka seumur hidup, atau bahkan hasil yang dibayar pakai hidup dipakai cuma untuk tepuk dada satu atau lain kelompok


  9. pada Oktober 10, 2008 pada 9:22 pm sora9n

    @ lambrtz

    Dari wiktionary sih,

    extensive (comparative more extensive, superlative most extensive)

    1. In the nature of an extent, wide, widespread.

    extent (plural extents)

    1. Range of values or locations.

    2. The space, area, volume etc. to which something extends.
    The extent of his knowledge of the language is a few scattered words.

    3. (computing): An individual database extension.

    Contoh kalimat:

    “His knowledge in literature is extensive.”

    “He has wide range of knowledge in literature.”

     

    Kurang lebih begitu. AFAIK, CMIIW. (o_0)”\


  10. pada Oktober 10, 2008 pada 9:38 pm sora9n

    @ ryy_

    Aaaargh, B.Eng di dalam saya tersiksa baca kutipan dari buku itu.

    Jangankan yang udah B. Eng. Saya — selaku mahasiswa yang masih aktif — juga merasakan hal yang sama. :lol:

    Kalau soal aktivitas manusia memancarkan energi, kuranglebih betul, tapi argumennya beda. Aktivitas menghasilkan panas (dengan satu atau lain cara), yg diradiasi ke luar, radiasi panas itu juga gelombang elektromagnet. Tetep aja: WHAT’S THE POINT.

    Di bab-bab lainnya beliau menghubungkan itu dengan energi positif, gelombang elektromagnetik, dan keterkabulan doa…

    …

    …no. Actually, you don’t want to know about it. :-?

    Mungkin sebagian besar ilmuwan gak akan senang (itu juga kalau mereka punya waktu untuk peduli) kalau hasil jerih payah mereka seumur hidup, atau bahkan hasil yang dibayar pakai hidup dipakai cuma untuk tepuk dada satu atau lain kelompok

    Agreed… :roll:


  11. pada Oktober 10, 2008 pada 10:20 pm lambrtz

    Hmmm…

    Jadi waktu tadi komentar, yang ada di benak saya tentang “secara ekstensif” adalah Sora mendapatkan ilmu misalnya dengan menaruh banyak buku di luar kampus, terus dibaca (terlihat kurang kerjaan, tapi ini yang saya pikirkan tadi, dan makanya tadi bingung :mrgreen: ). Sedangkan kalau “intensif” misalnya menambah waktu untuk membaca buku dan mengorbankan jadwal badminton (cuma misal).

    Sepertinya objek yang kita pandang berbeda: saya cenderung ke cara pencapaian ilmu, dan Sora cenderung ke karakteristik ilmu yang sudah dimiliki itu sendiri. Benarkah begitu?

    Duh maaf jadi OOT…
    Lagipula keputusan akhir tetap di tangan Sora sih :)


  12. pada Oktober 10, 2008 pada 10:30 pm ManusiaSuper

    Damn! Kemaren Geddoe meremukkan kekaguman saya pada Harun Yahya menjadi kepingan menyakitkan.. Sekarang Sora melemparkan sebuah dinamit logika ke hati saya yang mulai memuja…

    Tapi.. tapi… Tulisan ini juga belum tentu fakta kebenaran kan So? Jadi pada dasarnya saya berkesimpulan untuk tidak mudah menelan bulat apa kata orang lain…

    Lalu apa gunanya interaksi sosial saya selama ini?

    ARRGGGHHH….. Ga fokus, pegangan saya satu demi satu diluluh lantakkan kebenaran baru…

    *sholat taubat*


  13. pada Oktober 10, 2008 pada 11:22 pm Xaliber von Reginhild

    Hmm… saya jadi teringat Harun Yahya, entah kenapa. :P

    Kalau nggak salah saya sempat dapat materi soal “Tangan Kanan” itu pas SMP juga… tapi lupa apakah itu “tangan kanan” yang disini apa bukan. Ada hubungannya sama tangan-tangan juga kalo ndak salah. ^^;

    Saya lebih suka materi tata surya sih…

    Yang saya agak khawatir, kalau buku yang seperti ini dibaca oleh orang yang ahli dan kebetulan agama lain. Kan bukan ngga mungkin — seperti halnya disini — jadi mengait-ngaitkan pengetahuan sains dengan agama, seperti, “Islam ternyata sainsnya kayak gini nih?” :|


  14. pada Oktober 11, 2008 pada 12:46 am sora9n

    @ lambrtz

    Kok jadi gini… ^^;;

    Intinya sih,

    Sebagai mahasiswa, saya mempelajari fisika yang lebih jauh (extended) dibandingkan dengan fisika yang dipelajari orang-orang kebanyakan.

    Dengan demikian, fisika yang saya pelajari di kampus bersifat perpanjangan (extensive) dari yang dipelajari oleh rata-rata orang, yakni fisika SMA.

    Nah, begitu. :)

    Tapi sudahlah, tak usah dibahas lagi. OOT nih. ^^;

    :::::

    @ ManusiaSuper

    Damn! Kemaren Geddoe meremukkan kekaguman saya pada Harun Yahya menjadi kepingan menyakitkan.. Sekarang Sora melemparkan sebuah dinamit logika ke hati saya yang mulai memuja…

    Sebenarnya masbro, kalau berhadapan dengan sains dicampur keyakinan, kunci untuk menghadapinya cuma satu. JANGAN LANGSUNG PERCAYA.

    Kenapa, sebab dua ini bidang yang keahliannya berdiri sendiri. Teolog hebat belum tentu ilmuwan hebat. Ilmuwan hebat pun belum tentu ahli agama. Di sini, upaya menghubungkan keduanya rawan diwarnai kesalahpahaman.

    Ini sifatnya universal. Semua keyakinan berpotensi mengalami. Ilmuwan Kristen zaman Galileo; pseudosains Islam modern; Quantum Mysticism. Upaya menggabungkan sains dan agama butuh ilmuwan hebat sekaligus teolog hebat… orang-orang macam ini sangat langka.

    Kalau di dunia biologi, ada Teilhard de Chardin dan Theodosius Dobzhansky. Di dunia fisika ada Georges Lemaitre dan Abdus Salam. Mereka ini relatif berkualitas dalam menghubungkan sains dan Ketuhanan. Sebab mereka memang religius sekaligus ilmuwan.

    Masalahnya, apakah para penulis buku agama kita levelnya seperti mereka? Apakah juru dakwah kita sepandai itu di bidang ilmu alam. Ini yang jadi persoalan. :?

    Jadi, jika ada klaim “perpaduan agama dan sains”, sebaiknya ditanggapi dengan hati-hati. Lebih bagus kalau bisa di-confirm pada para ahlinya saat itu juga — e.g. ilmuwan/dosen/mahasiswa untuk sisi sains, dan teolog/pemuka agama untuk sisi agamanya. ;)

    Tapi.. tapi… Tulisan ini juga belum tentu fakta kebenaran kan So? Jadi pada dasarnya saya berkesimpulan untuk tidak mudah menelan bulat apa kata orang lain…

    Ya, itu intinya skeptisisme. Kan sudah saya tulis di atas. :P

    Lalu apa gunanya interaksi sosial saya selama ini?

    Kok jadi interaksi sosial…? ^^;;

    *kita kan lagi ngomongin sains*

    ARRGGGHHH….. Ga fokus, pegangan saya satu demi satu diluluh lantakkan kebenaran baru…

    ……

    ……that’s why I hate pseudoscience.

    Dia menghancurkan hati begitu banyak orang yang percaya padanya. Orang-orang yang tulus — dan berprasangka baik — berupaya mencari kebenaran, tapi apa yang didapat? Ilusi. Fakta palsu.

    Mereka ini orang-orang biasa yang, ketika menyadari keadaan sebenarnya, hanya bisa terguncang secara batin. Bayangkan bagaimana rasanya. :?

    I, with all my strength, detest pseudoscience for this one reason. I really do. :roll:


  15. pada Oktober 11, 2008 pada 1:11 am sora9n

    @ Xaliber von Reginhild

    Hmm… saya jadi teringat Harun Yahya, entah kenapa. :P

    Nggak heran juga sih. Beliau memang dedengkot pseudosains Islam modern. Udah kayak fenomena tersendiri gitu. ^^;;

    *inget aja publikasinya kayak apa*

    Kalau nggak salah saya sempat dapat materi soal “Tangan Kanan” itu pas SMP juga… tapi lupa apakah itu “tangan kanan” yang disini apa bukan. Ada hubungannya sama tangan-tangan juga kalo ndak salah. ^^;

    Kalau belajar listrik/elektronika, ada kemungkinan iya. Soalnya ini prinsip yang relatif dasar. (o_0)”\

    Bisa juga maksudnya aturan tangan kanan yang satu lagi, yang pakai tiga jari (F, B, I). Anak SMA saya dulu menyebutnya “aturan gaya Lorentz”.

    Yang saya agak khawatir, kalau buku yang seperti ini dibaca oleh orang yang ahli dan kebetulan agama lain. Kan bukan ngga mungkin — seperti halnya disini — jadi mengait-ngaitkan pengetahuan sains dengan agama, seperti, “Islam ternyata sainsnya kayak gini nih?” :|

    Apa boleh buat… yang namanya loncat kesimpulan/generalisasi pasti ada. Apalagi kalau contohnya marak. Ditambah lagi kalau orangnya nggak akrab dengan Islam? Habislah sudah. (-_-)

    Indonesia itu negara mayoritas muslim. Bagaimanapun, nggak akan susah menemukan publikasi pseudosains yang mengusung so-called “Sains Islam”.

    * * *

    Tapi, sebagaimana yang saya singgung di komen sebelum ini, pseudosaintisme BUKAN cuma milik satu agama. Semua keyakinan berpotensi terjangkit olehnya.

    Masalahnya, orang cenderung “senang” mencocok-cocokkan keyakinan dengan ilmu pengetahuan. Padahal pencocok-cocokan itu sendiri belum tentu benar. :|

    Argumen-argumen HY aslinya daur ulang dari kreasionisme Kristen. Quantum Mysticism berusaha menggabungkan sains dengan New Age. Pseudoscience Islam… ya seperti di atas itulah. :P Banyak contohnya.

    Bahkan kepercayaan Timur (Hindu, Buddha, Jainisme) juga pernah dicampuraduk dengan fisika kuantum. Tapi itu cerita lain untuk saat ini. ;)


  16. pada Oktober 11, 2008 pada 6:48 am Ardianto

    Jujur saja, saya agak-agak gimana gitu kalau sains dipakai buat dakwah dan dikatakan jadi “bukti kebesaran”. Kesan saya hal-hal tersebut terlalu dipaksakan.

    BTW, yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir. Atau lebih tepatnya, lulusan Teknik Nuklir UGM.

    Astaga… :shock:
    Seharusnya mahasiswa science atau engineering yang sudah makan kuliah Fisika Dasar sudah mengerti konsep dasar elektromagnetik itu…

    *bercermin*
    *Ah… saya dapat jelek pas Fisika Dasar x(*


  17. pada Oktober 11, 2008 pada 9:44 am K. geddoe

    Ah, saya sudah menduga akhirnya bakal seperti ini. Klaimnya memang terlalu bombastis. Dan malah sedikit berbau new age, ya? Aliran energi dan sebagainya; termasuk yang pusaran ke atas itu.

    BTW, apa soal Ka’bah dan kemiripannya dengan atom juga disinggung? Biasanya itu staple-nya. :D

    BTW, yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir. Atau lebih tepatnya, lulusan Teknik Nuklir UGM.

    Can you believe it? :?

    Hahaha, kata-katanya persis dengan waktu Richard Dawkins menanggapi hate mail seorang doktor. “Can you believe it?”

    Dan kayaknya ini bakal menyusahkan buat Masbro. Sebab potensinya adalah bakal muncul komentar seperti;


    aH,,,yAnG nUlis iNi aPaAn siCh……..cUMa mAhAsIsWa khAn,,
    aGus MusToFa iTu sArjaNa nuCleAr l0h, yaN9 dR UGM la9i……

    pl9 cM iRi aJ,,

    Semoga saya salah. :lol:

    Jadi, singkatnya perasaan saya mungkin mirip dengan Masbro lah. Gemas. :)

    *menunggu ybs*


  18. pada Oktober 11, 2008 pada 9:54 am om4gus

    gimana dengan ‘The Bible, The Qur’an and Science’, karya Dr. Maurice Bucaille, katanya dokter dari Perancis. Apa itu juga termasuk pseudoscience?
    Bacanya sih dulu waktu masih esde.


  19. pada Oktober 11, 2008 pada 10:15 am lambrtz

    @Sora
    Ya sudahlah, ga perlu dilanjutkan lagi yang itu :P
    Sekali lagi maaf jadi OOT.

    OK…BTT…

    Sebenarnya masbro, kalau berhadapan dengan sains dicampur keyakinan, kunci untuk menghadapinya cuma satu. JANGAN LANGSUNG PERCAYA.

    Sekedar sharing.
    Dari kecil saya sudah diwanti-wanti Bapak saya untuk tidak mencampur keduanya.
    Misalnya dalam agama diajarkan penciptaan yang cuma 7 hari itu, sedangkan dalam ilmu pengetahuan lewat Big Bang dan proses yang mengikutinya.
    Karena sudah tercetak seperti ini, melihat paham yang berpendapat bahwa bumi diciptakan 4004 SM pun saya cuma menganggap itu cerita fiksi saja ^^
    Kalau saya lahir sekitar 600 tahun lalu, ketika gereja masih kaku-kakunya, mungkin bisa dianggap sesat :mrgreen:

    Sebenarnya saya masih penasaran.
    Kenapa sih mereka-mereka ini (HY, pengarang buku itu, dll) harus/perlu/ingin menjelaskan agama dengan menghubungkannya dengan sains (walaupun jadinya pseudosains)?
    Apakah dengan cara ini akan lebih efektif?
    Apakah mereka berharap dengan cara ini umat akan lebih yakin pada agamanya
    Atau inovasi dakwah?
    Atau sok tahu? :mrgreen:
    Dan mengapa mereka tidak melakukan eksperimen (seperti yang dikatan ryy_) secara langsung untuk melakukannya?

    ……that’s why I hate pseudoscience.

    Saya ndak ikut-ikutan lo…hehehe..
    Maksudnya, kalau cuma sekedar tahu, ini buat saya menyenangkan, sama halnya dengan teori konspirasi. Tapi ini TIDAK untuk dipercayai.
    Jadi bisa dikatakan tidak hate, malah love, tapi tidak believe.
    Hehehe :mrgreen:

    @Xaliber von Reginhild

    “Islam ternyata sainsnya kayak gini nih?”

    Kalau sampai orang-orang berpendapat demikian, ironis juga ya. Pada jaman keemasannya (+/- 1000 AD), Islam terkenal akan ilmu pengetahuannya. Banyak ilmuwan Islam jaman itu yang sangat terkenal, dan berpengaruh sampai saat ini. Al Khwarizmi, Avicenna…

    @ardianto

    Seharusnya mahasiswa science atau engineering yang sudah makan kuliah Fisika Dasar sudah mengerti konsep dasar elektromagnetik itu…

    *jlebb…*
    Aaaa….Medan Elektromagnetik dapet C…tertusuk 2 kali di postingan ini…. :cry:

    *joke* –> *just in case…*

    Ehm…
    Jalan-jalan ah…


  20. pada Oktober 11, 2008 pada 10:20 am K. geddoe

    @ om4gus

    Setahu saya buku itu juga legendaris sebagai pseudosains, sebab sepertinya banyak menggunakan metode yang non sequitur dan pareidolia. CMIIW. Tidak ada bedanya dengan cerita “tiga lapis es” di Kekristenan fundamentalis.

    Tapi tentunya ini hanya pendapat saja. :)

    BTW, OurBeacon.com? Anda baca interpretasi alternatif? Saya menaruh respek dengan ajaran yang seperti itu. :P


  21. pada Oktober 11, 2008 pada 10:42 am om4gus

    Saya dulunya suka membaca artikel dan buku yang termasuk aneh dan menarik, termasuk menyangkut agama yang sering dicampur teori konspirasi dan pseudoscience seperti itu. Alien, Dajjal, Iluminati, dll. Sekarang sih udah bosen.

    Mungkin mas bisa memberikan panduan yang bisa berlaku umum untuk menguji kebenaran tulisan seperti itu?

    Yang bisa dipakai oleh orang awam tapi sering penasaran dengan hal aneh seperti saya. Biar ngga terlalu paranoid.

    Btw, yang banyak jadi Top Post di infogue.com malah hal tidak masuk akal seperti itu lho…


  22. pada Oktober 11, 2008 pada 10:45 am Nazieb

    Yah, itulah..
    Mungkin dengan niat agar orang Islam lebih yakin bahwa agamanya ternyata memang benar, bahwa alam memang berjalan dengan hukum Tuhan, sang penulis membikin karya tersebut.

    Tapi kok ya, bagi saya, yang ndak punya background fisika sama sekali, kelihatan sekali maksanya. Masak hanya karena sama-sama berputar, orang thawaf disamakan dengan atom?

    Kalo soal buku yang isinya tentang perpaduan sains dan agama, saya paling seneng Angels and Demons-nya Dan Brown..
    :mrgreen:


  23. pada Oktober 11, 2008 pada 11:16 am Ardianto

    [lambrtz]

    Kenapa sih mereka-mereka ini (HY, pengarang buku itu, dll) harus/perlu/ingin menjelaskan agama dengan menghubungkannya dengan sains (walaupun jadinya pseudosains)?

    Menurut saya sih, untuk mempropaganda sang umat, agar lebih yakin terhadap keyakinan agamanya. Atau narsisme. Menimbulkan paham bahwa agama yang dianutnya hebat, sudah membuktikan sebelum sains membuktikannya…

    Ya, itu pendapat saya sih…

    *jlebb…*
    Aaaa….Medan Elektromagnetik dapet C…tertusuk 2 kali di postingan ini

    Belum ambil Medan…
    *menakutkan* :lol:


  24. pada Oktober 11, 2008 pada 11:42 am ManusiaSuper

    @ Nazieb

    Angel and Demon? Toss!


  25. pada Oktober 11, 2008 pada 2:28 pm syaorannatsume

    Fisika tentang listrik dan elektromagnet? Salah satu materi yang paling saya sukai di pelajaran Fisika SMP. Dan memang iya, kaidah tangan kanan dan ‘tangan-tangan’ lainnya emang dipelajari di SMP kelas IX. Termasuk juga gaya Lorentz .:D

    Empat jari yang menggenggam itu itu digambarkan sebagai arah putaran arus listrik, sedangkan ibu jari itu digambarkan sebagai arah medan elektromagnetik.

    Err, ga kebalik? Apa ingatan saya yang kebalik? :lol:

    Yah, setidaknya sudah dijelaskan diatas. Tapi jika ka’bah disebut konduktor, maka bukankah arusnya yang keatas? CMIIW. Memang tidak ada hubungannya, tapi dengan adanya penggambaran Ka’bah, biasanya langsung berpendapat bahwa arah arusnya keatas, dan kalau membicarakan tentang arah arus melingkar, saya langsung membayangkan bahwa posisi kepala Ka’bah berubah. :roll:

    Penulis buku tsb hanya ingin menyamakan fenomena alam dengan agama, tapi karena keterusan, akhirnya salah kaprah. Atau memang teori ini memang tidak ada sangkut pautnya?

    Bagaimana kalau penulis menuliskan arus keatas dan medan magnet mengarah berlawanan dengan jarum jam? Apa mungkin bisa nyambung? Apa mungkin lebih cocok? Kalau memang arus adalah satu aliran listrik, lebih cocok dengan membuat suatu koneksi antara manusia dengan Allah, dan medan magnet adalah manusianya? Kan banyak, bagaikan medan magnet digambarkan. Tapi saya juga tidak tahu, berapa tepatnya jumlah arus tsb.

    Saya pernah baca tulisan di blog juga yang mirip dengan kutipan buku itu, dan menyatakan bahwa doa lebih cepat terkabulkan jika berdoa di Ka’bah dengan fenomena fisika ini. Tapi lupa dimana,, :|


  26. pada Oktober 11, 2008 pada 3:02 pm secondprince

    Saya belum baca sih buku itu, buku lama ya kayaknya? jadi merasa aneh :)

    Kalau disuruh ngitung, ya, mabok. Medan magnet di atas itu sebenarnya matematikanya rada… mengerikan.

    Sangat percaya :mrgreen:
    yah secara saya belum baca jadi saya mau menyimak dulu :)
    *ikutan menunggu seseorang*


  27. pada Oktober 11, 2008 pada 4:28 pm sora9n

    @ ardianto

    Seharusnya mahasiswa science atau engineering yang sudah makan kuliah Fisika Dasar sudah mengerti konsep dasar elektromagnetik itu…

    Makanya saya heran. ^^;;

    Tambah lagi, dasar-dasarnya sudah disinggung di SMA. So… meh. :P

    *bercermin*
    *Ah… saya dapat jelek pas Fisika Dasar x(*

    Tak mengapa, saya juga cuma dapet C dan B. x(

    :::::

    @ K. geddoe

    Dan malah sedikit berbau new age, ya?

    Ya, itulah kalau energi-energian™ disambung metafisika. :P

    aH,,,yAnG nUlis iNi aPaAn siCh……..cUMa mAhAsIsWa khAn,,
    aGus MusToFa iTu sArjaNa nuCleAr l0h, yaN9 dR UGM la9i……

    pl9 cM iRi aJ,,

    eH n4k aJa lW n9oMon9 5mBrn9n,,, gNi” w tU bLaj4R mDan eLktR0m9net d k4mPu5. lw m4n4 t4w y9 nMny hkM m4xwEll n’ vkT0r cUrl d1ver9ence,,,
    :mrgreen:

    *gila, ABG sekarang bisa ngomong gitu* XD

    Hahaha, kata-katanya persis dengan waktu Richard Dawkins menanggapi hate mail seorang doktor. “Can you believe it?”

    Jangan-jangan, saya dan Dawkins itu orang yang sama? :?

    *dilempar batu bata*

    :::::

    @ om4gus

    gimana dengan ‘The Bible, The Qur’an and Science’, karya Dr. Maurice Bucaille, katanya dokter dari Perancis. Apa itu juga termasuk pseudoscience?

    Seingat saya — mohon diluruskan kalau salah — Pak Bucaille ini penekanannya lebih ke perbandingan gejala sains dengan kitab suci. Di sini beliau sekadar menginterpretasikan ayat dan mencari kesesuaian dengan sains.

    Saya pribadi nggak keberatan dengan ini, sebab ayat-ayat itu hakikatnya open interpretation. Bisa diterjemahkan macam-macam. Mau dijadikan pertanda sains juga bisa. ;)

    Pseudosains itu adalah jika sainsnya salah. Yakni sainsnya sudah dipelintir di sana-sini. Pak Bucaille rada beda: sains-nya benar (e.g. rotasi bumi, siklus air, dst), baru dicocokkan dengan ayat. Secara landasan dia masih OK.

    Harun Yahya dan Pak Agus Mustofa di atas, sebaliknya. Sainsnya berantakan dari awal, tapi mereka jalan terus. (-_-)

    * * *

    Intinya sih, asalkan sains yang diusungnya benar, ia bukan pseudosains. Ini sebabnya saya lebih respek pada Bucaillisme dibandingkan Harun Yahya.

    Kalau orang complain Bucaille, yang diserang tafsirnya. Kalau orang complain Harun Yahya, yang dihajar sainsnya. Ini perbedaan yang besar. ;)


  28. pada Oktober 11, 2008 pada 4:28 pm sora9n

    @ lambrtz

    Karena sudah tercetak seperti ini, melihat paham yang berpendapat bahwa bumi diciptakan 4004 SM pun saya cuma menganggap itu cerita fiksi saja ^^
    Kalau saya lahir sekitar 600 tahun lalu, ketika gereja masih kaku-kakunya, mungkin bisa dianggap sesat :mrgreen:

    AFAIK hal ini pernah dikhawatirkan oleh Pak Abdus Salam. Menurut beliau, mencari kebenaran agama lewat sains itu bahaya.

    Kenapa, sebab sains itu selalu berubah; tergantung penemuan baru. Sementara agama sifatnya kokoh + dogmatik.

    Apa jadinya kalau “kebenaran sains” yang diadopsi ternyata jadi “tidak benar” di kemudian hari. Contohnya, ya, seperti yang mas tuliskan di atas itu. ;)

    Sebenarnya saya masih penasaran.
    Kenapa sih mereka-mereka ini (HY, pengarang buku itu, dll) harus/perlu/ingin menjelaskan agama dengan menghubungkannya dengan sains (walaupun jadinya pseudosains)?

    Mungkin begini…

     
    1. Sains itu *terkesan* keren
    2. Sains itu *terkesan* modern
    3. Sains itu obyektif
    (sehingga agama yang cocok dengan sains adalah agama yang benar)
     

    Jadi ada semacam kebanggaan/kemegahan di balik embel-embel “ilmiah”. Saya rasa ini semacam motif bawah sadar. (o_0)”\

    Jadi bisa dikatakan tidak hate, malah love, tapi tidak believe.
    Hehehe :mrgreen:

    Masalahnya, ya, kasihan orang yang terlanjur percaya. Kalo memang enggak believe sih peduli amat. :mrgreen:

    :::::

    @ K. geddoe (lagi)

    Ada bedanya, kok. Bucaillisme itu sainsnya masih rada bener. Beda dengan HY yang habis-habisan “memperkosa” sains dan mempublikasikannya secara luks. :P

    (lebih lanjut di komen yang sebelum ini)

    :::::

    @ om4gus (lagi)

    Mungkin mas bisa memberikan panduan yang bisa berlaku umum untuk menguji kebenaran tulisan seperti itu?

    Google. Betulan. :mrgreen:

    Dan wikipedia juga. IMHO sih, paling gampang memang cross check lewat internet. Sekurangnya ada second opinion, lah. ^^

    :::::

    @ Nazieb

    Lah, namanya juga “mencari kesamaan” agama dan sains. Mau gimana lagi? :mrgreen:

    *analogy rulez™*

    :::::

    @ ManusiaSuper

    BTW, saya kok merasa buku yang itu lebih seru daripada Da Vinci Code. :P

    *padahal yang best-seller bukan itu* ^^;;


  29. pada Oktober 11, 2008 pada 4:29 pm sora9n

    @ syaorannatsume

    Err, ga kebalik? Apa ingatan saya yang kebalik?

    Tidak, ingatan Anda benar. Kecuali kalau guru fisikanya salah ngajar. :P

    Yah, setidaknya sudah dijelaskan diatas. Tapi jika ka’bah disebut konduktor, maka bukankah arusnya yang keatas? CMIIW. Memang tidak ada hubungannya, tapi dengan adanya penggambaran Ka’bah, biasanya langsung berpendapat bahwa arah arusnya keatas, dan kalau membicarakan tentang arah arus melingkar, saya langsung membayangkan bahwa posisi kepala Ka’bah berubah. :roll:

    Nah, bingung kan? :lol:

    Masih lebih nyambung kalau Ka’bah dibilang konduktor, dan orang thawaf itu jadi medan magnet. Tapi tetep aja: WHAT’S THE POINT… ^^;;;

    *minjem kalimatnya mas ryy_*

    Saya pernah baca tulisan di blog juga yang mirip dengan kutipan buku itu, dan menyatakan bahwa doa lebih cepat terkabulkan jika berdoa di Ka’bah dengan fenomena fisika ini. Tapi lupa dimana,, :|

    Ah, saya sempat ketemu blog ybs pas browsing tempo hari. Coba aja digugel, harusnya ketemu. ^^

    :::::

    @ secondprince

    Itu buku tahun 2003. Ya, bisa dibilang buku lama juga sih. (o_0)”\

    Sangat percaya :mrgreen:

    Bagus, saya senang Anda bersikap demikian. :mrgreen:

    [/gakJelasMode]


  30. pada Oktober 11, 2008 pada 9:46 pm gentole

    @sora9n

    IMHO, fisika itu lebih asyik jika didekati tanpa matematika. Sebab mainnya di logika + imajinasi (bukannya rumus). :P

    Nah, itu, sebenarnya saya juga suka membaca buku-buku sains populer yang bersifat naratif dan mengandalkan imajinasi. Bahkan Dawkins juga bilang kalau dia menghindari istilah-istilah teknis dan, tentunya, matematika dalam menjelaskan biologi, khususnya genetika. Dan berhasil! Dawkins adalah ilmuwan dan penulis yang paling digemari dan dihormati (dan juga dibenci :mrgreen: ) Dia juga suka beranalogi, tapi gak bias, meskipun sering dibias-biasin ama kritikus dia.

    Tapi tetap saja ada yang janggal, karena tanpa tahu persamaan matematis yang menjadi acuan berbagai penjelasan ilmiah tentang alam itu, rasanya gimana gituh, gak afdol, gak lengkap. Ah, nasib.

    *btw, saya baca2 post QM Anda dan malah ngayal gak jelas :? gak bakatlah, jadi ilmuwan.


  31. pada Oktober 11, 2008 pada 11:09 pm lambrtz

    Jangan-jangan, saya dan Dawkins itu orang yang sama? :?

    Konon yang saya baca sih, Sora dan K.geddoe itu orang yang sama, cuma kepribadian ganda.

    (Conspiracy theorist mode on :mrgreen: )

    Dulu baca di mana ya…lupa ah :P


  32. pada Oktober 12, 2008 pada 9:22 am oddworld

    Just a little thing about Bucaille, dia seorang ilmuwan yang mendapat cukup respek dari koleganya. Beberapa bukunya masih digunakan sebagai text-book (saya juga sempat baca ,tapi agak lupa juga sih).
    About a new-age thing…what do you think about James Redfield books (ie. Celestine Prophecy) ?


  33. pada Oktober 12, 2008 pada 10:45 am Penjahat Apologi dan Kemurungan Eksistensial « RosenQueen, company.

    [...] Oktober 12, 08 Opini , Sains Tags: apologi, evolusi, memetika Seorang teman, yang sedang masygul, punya istilah sendiri untuk para apolog yang dalam karya-karyanya gemar mengumbar logika cacat dan [...]


  34. pada Oktober 12, 2008 pada 10:55 am gentole

    Konon yang saya baca sih, Sora dan K.geddoe itu orang yang sama, cuma kepribadian ganda.

    Hehehehe beneran saya waswas membaca komentar ini, sekalipun ini joke. :D


  35. pada Oktober 12, 2008 pada 1:38 pm esensi

    wah, gitu ya?
    dulu saya lama banget nimang-nimang tu buku di toko buku
    (untung?) gak jadi
    . :-?


  36. pada Oktober 12, 2008 pada 6:35 pm secondprince

    Lihat komen ini

    Konon yang saya baca sih, Sora dan K.geddoe itu orang yang sama, cuma kepribadian ganda.

    dan komen Mas Gentole

    Hehehehe beneran saya waswas membaca komentar ini, sekalipun ini joke

    :lol: kayaknya nggak deh, hmm bukannya Mas Sora itu orang yang sama dengan yang satunya, itu lho yang bener2 sama :mrgreen:
    *OOT mode on*


  37. pada Oktober 12, 2008 pada 7:16 pm rifu

    hus Bharma.. :P


  38. pada Oktober 12, 2008 pada 7:39 pm dana

    Makanya bro saya sangat tidak setuju agama dijelaskan dengan analogi. Sebab tidak akan sama, walau semirip apapun analogi itu. Apalagi pake analogi sains seperti ini.

    Tapi yah, kalo terpaksa saya pake analogi juga sih.

    Btw, hal seperti ini masuk analogi juga kan ya?


  39. pada Oktober 12, 2008 pada 11:04 pm sora9n

    @ gentole

    Hohoho, kalau buat sains populer, memang sebaiknya nggak pakai bahasa dosen™. Angkat topi buat beliau. :P

    Soal matematika dalam fisika… sudahlah. Saya tidak berada di posisi ahlinya untuk menjelaskan. ^^;;;

    *jujur*

    :::::

    @ lambrtz

    Hus, jangan langsung percaya dengan yang Anda baca. Utamakan skeptisisme! :| :mrgreen:

    :::::

    @ oddworld

    Kalau reputasi akademis Bucaille, saya kurang tahu. Tapi saya lihat beliau nggak neko-neko dalam memadukan sains-agama. Promosi keyakinan, ya — tapi nggak menabrak etika akademis. (o_0)”\

    Mungkin setipe dengan kolega Richard Dawkins yang disinggung di komentar no. #2? CMIIW.

    About a new-age thing…what do you think about James Redfield books (ie. Celestine Prophecy) ?

    Wah, belum pernah baca. Beberapa kali lihat di toko buku, sih. Tapi nggak pernah beli. ^^;

    :::::

    @ gentole (lagi)

    Hehehehe beneran saya waswas membaca komentar ini, sekalipun ini joke. :D

    Huh, dia mah jangan didengerin. Jelas-jelas kepribadian ganda saya di internet pakai nick gentole. Kok bisa jadi Geddoe, sih? :|

    *tersenyum mengerikan* :mrgreen:

    *hoax*

    :::::

    @ esensi

    Sejauh yang saya baca sih, penulisnya agak terlalu bersemangat menganalogikan ritual dan ajaran Islam dengan ilmu fisika. Titik lemahnya di situ.

    Ada juga bab yang mendingan, e.g. ketika beliau menjelaskan bahwa “beragama bukan keterpaksaan” atau membandingkan ayat dengan sains (c.f. Maurice Bucaille). Tapi, di luar itu… bisa dibilang mengecewakan lah. :(

    :::::

    @ secondprince | rifu

    Kepribadian saya di internet memang banyak, kok. Cek aja di halaman about. :P

    Terkadang malah sampai dipanggil “Bonta”. Ini kepribadian yang cuma bisa ngomong ‘fumo-fumo’. :lol:

    (yes, seriously)

    :::::

    @ dana

    Sebetulnya sih saya nggak keberatan dengan analogi. Cuma, baiknya, analogi itu dijadikan alat bantu saja. Sebab dia cuma proyeksi; ‘bayang-bayang’ dari hal sebenarnya. (o_0)”\

    Tambah lagi, analogi harus memakai dua hal yang benar dipahami oleh pembicara. Kalau analogi pakai sains, tapi sainsnya amburadul… ya analoginya berantakan. Riskan juga kalau begini. ^^;


  40. pada Oktober 13, 2008 pada 1:52 am joesatch yang legendaris

    untung saja saya ilkomp ugm. cuma 0 dan 1; ya dan tidak. jadi ya memang sesuai tuntunan agama: tinggalkan yang meragukan, kekekeke! :mrgreen:


  41. pada Oktober 13, 2008 pada 7:29 am isnese

    sebenere ini masuknya ketegori resensi (yg menitikberatkan pada kritik konstruktif), ya, mas sora? :-?
    .
    bisa dijadiin genre baru tuh, dalam dunia resensi (mungkin…?) o_0″;


  42. pada Oktober 13, 2008 pada 7:31 am isnese

    @ Gentole

    Hehehehe beneran saya waswas membaca komentar ini, sekalipun ini joke

    Saya sendiri waswas mendengar bahwa Anda itu Roy Soryo :shock:


  43. pada Oktober 13, 2008 pada 8:14 am dnial

    @joe

    cuma 0 dan 1; ya dan tidak. jadi ya memang sesuai tuntunan agama: tinggalkan yang meragukan, kekekeke! :mrgreen:

    Is it?
    Fuzzy Logic, Bayesian Network, probability theory, semua pake angka antara 0 dan 1 bukan? :P

    @Sora
    Hmm harus check ulang fakta2 lagi nih biar nggak memalukan.

    *dalam proses penulisan artikel di blog*

    And the QM?
    Kapan waktu rilisnya?


  44. pada Oktober 13, 2008 pada 9:31 am spidolhitam

    dan anda mungkin bakal lebih terpingkal kalau agus mustofa sebenarnya juga jadi bahan olokan di kubu salafi :D


  45. pada Oktober 13, 2008 pada 9:54 am Snowie

    *pembukaan*

    Waktu lihat di blog stat saya rada heran kenapa di refrerer ada alamatnya blg sora,
    Ternyata….. :lol:


  46. pada Oktober 13, 2008 pada 9:58 am Snowie

    Hmmm, baiklah :P
    Tapi, sepertinya kamu lebai deh :lol: nggak gitu banget kali, kesalahan yang terdapat dalam buku itu. :mrgreen:
    Pertama, kamu nggak berfikir kalo buku karya Pak mustafa itu buku science khan? yang setiap kalimatnya harus jelas dan setiap pernyataan harus di uji keabsahannya, serta wajib untuk di seminarkan khan :lol:

    Apa kamu memperhatikan kalo buku itu nggak punya referensi?

    trus, jangan terlalu seriuslah menaggapi setiap penjabaran di buku tersebut dengan menggunakan pemaparan Ilmu fisika secara eklusif tanpa mencoba menganalisis pengembangan dari ilmu tersebut dalam praktek kehidupan nyata. seperti penerapan matematika mati yang menyatakan 1 + 1 harus = 2 sehingga selain itu SALAH.

    Intinya, saya memandangnya kalo Pak mustafa itu BUKAN mengapologikan keyakinan agama dengan menggunakan dalil-dalil fisika, tapi beliau itu berusaha mendekatkan atau menganolog-kan dalil-dalil yang kebetulan merupakan Ilmu fisika dalam menjabarkan/ merasionalisasikan Ibadahnya umat muslim.

    Pernyataan saya berdasarkan dua hal:

    PertamaIlmu fisika merupakan Ilmu yang kajiannya memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhananya aja adalah Hukum Inersia tentang kelembaman. bagi yang tidak mengetahui Ilmu fisika, mereka cuma tau kalo saat mereka sedang berada dikendaraan yang sedang melaju dengan kelajuan tertentu, dan tiba-tiba berhenti, maka tubuh mereka akan terdorong kearah gerak tanpa tahu alasannya. Pokoknya gitu aja kejadiannya terus-menerus.

    beda sama orang yang mengerti tentang sifat kelembaman itu. Mereka langsung tahu bahwa terdorongnya tubuh mereka karena adanya gaya-gaya yang bekerja pada dirinya.

    Kedua sejauh yang saya Imani, Allah adalah Tuhan semesta alam yang menurunkan perintah bagi Umat muslimin untuk beribadah kepadaNya dengan cara-cara tertentu. Dan karena Dia adalah pencipta alam semesta, jadi tidak heran kalo nantinya diketahui bahwa ternyata Ritual ibadah itu cocok dengan hukum alam. Secara, berasal dari sumber yang sama :)

    jadi artinya, saya kira Pak Mustafa bermaksud memberi gambaran apa hikmah dari kegiatan Haji tersebut. Tentang kenapa saat di dekat Ka’bah do’a lebih mustajab. yah, hal-hal seperti itulah kira-kira…


  47. pada Oktober 13, 2008 pada 9:59 am Snowie

    Mengenai yang kamu tulis,

    kok halaman nya beda ya? 0_o”\
    Di buku yang ada pada saya, kutipan yang kamu sebut ada di halaman 112-113 itu ada di halaman 144-145 lho.

    tanggapan ke tanggapan

    Pertama,[...]
    Ini salah besar, Arus tidak mengalir di luar konduktor. Ia hanya bisa mengalir lewat medium penghantar, e.g. kawat logam. Arus listrik tidak bergerak mengelilingi konduktor di udara bebas, sebagaimana ilustrasi orang bertawaf diatas

    sebenarnyanya begini: udara bebas yang kamu sebut itulah sebagai medium penghantar dari rangkaian Manusia dan Ka’bah. ruang sekitar Ka’bah sebagai medium penghantar, manusia sbagai sesuatu yang bermuatan netron dan Ka’bah sebagai konduktor.

    Sekali lagi saya ingatkan, Pak Mustofa hanya ingin menganologkan ilmu fisika dan mengembangkan dasar ilmu tersebut sebagai usaha mempermudah pemahaman tentang agama. jadi untuk bisa melihat relevansinya, kita harus sedikit berfikir terbuka.

    Kedua, Medan magnet tidak muncul di konduktor, melainkan di sekeliling konduktor berarus. Jika Anda menghantarkan listrik pada kawat, medan magnet akan muncul disekeliling kawat… BUKAN pada kawat konduktor itu sendiri

    Tapi bagaimana dengan percobaan “besi paku yang berubah jadi magnet setelah dikelilingi arus listrik”?
    Dengan kata lain, medan magnet yang berada didalam cincin lebih kuat kan dari yang di luar cincin? jadi secara tidak langsung, paku tersebut menjelama sebagai magnet selama ada arus yang mengalir disekelilingnya.

    Elektron dalam tubuh manusia tidak ada bedanya dengan elektron dalam sebongkah batu bata [...] Anda harus menjalani proses ‘kehilangan’ muatan dulu sebelum menjadi tidak netral

    kamu lupa mempertimbangkan hal yang kamu sendiri tidak paham seperti kutipan ini

    Saya tidak tahu apa itu bio-elektron…

    nah, itu. Dari penjelasan di buku beliau, saya menangkap bahwa bio elektron itu bisa merupakan semacam emosi atau impuls tertentu pada sistem saraf akibat perbuatan manusia. So, kembali ke konteks tentang tawaf dan ritual ibadah haji, Hal tersebut dilakukan karena adanya harapan dari para jamaah haji itu untuk mensucikan diri dari dosa-dosa yang melekat pada diri mereka akibat dari perbuatan dosa mereka selama ini. Bisa jadi, “dosa” tersebut merupakan energi negatif manusia. So, dengan begitu manusia dengan bio – elektronnya jadi bermuatan negatif.

    Sebenarnya tidak perlu adanya konduktor di tengah cincin untuk memunculkan medan magnet

    Tapi, konduktor kan bisa memperkuat pengaruh medan.

    [...]Seolah-olah, istilah “pemantulan” dan “pemancaran” itu sama dan dapat dipertukarkan!

    Saya tidak melihatnya begitu. Memang, dalam kaidah Penulisan paragraf, tulisan tersebut agak tidak koheren, tapi koherensinya bisa dilihat kalo ide disetiap paragraf di urut. dengan catatan kutipannya lengkap ;)
    Mulai dari >>>>> Badan kita memancarkan energi elektromagnetik…
    selanjutnya >>>>>> kita memancarkan gelombang suara saat berbicara…
    Sampai ke >>>>> kita juga memantulkan gelombang cahaya…
    ditutup oleh >>>>> setiap aktivitas kita memancarkan energi
    Walau agak membingungkan, tapi setidaknya beliau tidak menyatakan dengan tegas kalo gelombang-gelombang itu sama. Lagian, saya yakin, buat yang tidak memperhatikan fisika, mereka bakal membacanya sambil lalu. So, sulit dipercaya kalo hal tersebut bisa menyesatkan. Membingungkan sih mungkin iya, apa lagi kalo yang ilmu fisikanya cuma dikit kayak saya :P


  48. pada Oktober 13, 2008 pada 10:02 am Snowie

    pemantulan cahaya tidak dapat disamakan dengan pemancaran cahaya — apalagi dengan pemancaran energi

    Tapi, bukankah cahaya itu juga merupakan energi…

    mempersamakan pemancaran dengan pemantulan…

    Bukan deh. Beliau hanya menjabarkan tentang macam-macam gelombang dalam paragraph yang berdekatan bukan berarti beliau menyama-nyamakan gelombang-gelombang itu.
    tapi, sepertinya main Ideanya adalah manusia merambatkan energi dalam berbagai bentuk…

    kenapa saya mau bercapek-capek menulis tentang buku tersebut dan menanggapi poin-poinnya…

    lagi-lagi lebay deh :P
    Kamu khan cuma membahas satu poin dari buku itu yang nggak lebih dari 4 halaman dari total 240 halaman isi. BTW, kamu baca SEMUA isi buku itu atau cuma yang 4 halaman itu aja? *memandang curiga* :mrgreen:

    kalo pernyataannya seperti ini sih:

    Agama saya menemukan pembenaran gejala alam X. Penjelasannya bla bla bla

    memang berbahaya.
    Tapi, kalo kalimatnya menjadi “Ternyata gejala alam X telah ada disebutkan/ seperti ritual dalam Agama saya, dalilnya ini ini ini”
    Gemana?
    Dengan kata lain; Ilmu yang mendekatkan diri ke Agama, bukan sebaliknya.

    PPs: yang menulis buku di atas itu adalah seorang insinyur nuklir… Can you believe it.

    no body’s perfect. Kesalahan itu wajar terjadi, kalo memang itu suatu kesalahan. Atau, jangan-jangan kita aja yang memandangnya terlalu sempit ;)

    kalo penasaran sama orangnya, coba aja ikutin bedah bukunya biar bisa diskusi langsung. :mrgreen:

    P.S saya nggak begitu dalam mengerti Fisika, so kalo ada penjabaran saya yang kurang pas, mohon koreksinya :)

    P.P.s Sorry Sora kalo komen saya kepanjangan. Rencana sih mo dijadiin entry postingan di blog saya aja seperti yang dulu itu, tapi bingung ama formatnya. So, maklum aja yah :)


  49. pada Oktober 13, 2008 pada 11:15 am Catshade

    Pertama, kamu nggak berfikir kalo buku karya Pak mustafa itu buku science khan? yang setiap kalimatnya harus jelas dan setiap pernyataan harus di uji keabsahannya, serta wajib untuk di seminarkan khan :lol:

    Apa kamu memperhatikan kalo buku itu nggak punya referensi?

    I thought he already concluded that this book is bad physics at best, pseudoscience at worst… tapi masalahnya pikiran awam (yang mungkin hanya ingat pernah belajar hal itu di SMA…bertahun-tahun yang lampau) kesulitan membedakan hal itu. Begitu mereka mendengar ‘fisika’ dan ‘gelombang elektromagnetik’ yang ada di pikiran mereka ya sesuatu yang ilmiah. Entah sengaja atau tidak, kesalahan teori yang dipaparkan buku itu (kalau analisis sora benar) tetap berpotensi misleading. Mungkin bisa jadi bahan revisi buat cetakan keduanya?


  50. pada Oktober 13, 2008 pada 11:34 am Joesatch

    dnial:::
    astaga…iya. celakanya saya tidak pernah mengambil kuliah fuzzy logic, kekeke! tapi di aplikasi pengkodeannya tetap 0 dan 1 kan?


  51. pada Oktober 13, 2008 pada 12:01 pm Joesatch

    Snowie:::

    no body’s perfect. Kesalahan itu wajar terjadi, kalo memang itu suatu kesalahan. Atau, jangan-jangan kita aja yang memandangnya terlalu sempit ;)

    errr…mohon ampun sebelumnya. saya cuma mau mengkritisi pandangan ‘memaafkan’ yang saya quote di atas itu tadi.

    sebenernya, ya piye yo, memang wajar sebuah kesalahan itu terjadi. cuma kalo kata holmes, “Boleh saja kita mencoba mengerti jalan pikiran kriminal, Watson, tapi janganlah berusaha mencari pembenaran perilaku kriminal, entah itu perilaku negarawan tingkat tinggi ataupun penipu kelas paling rendah.” pada akhirnya kesalahan ya tetap kesalahan.

    memaklumi itu boleh. tapi kita bisa memaklumi kalo itu adalah sebuah kesalahan justru karena kita tau apa yang sebenarnya terjadi. kelanjutannya, bagaimana kalo sejak awal kita memang langsung percaya dan menerima kesalahan itu sebagai sebuah kebenaran? menurut saya malah tidak akan pernah terjadi sebuah ‘permakluman’ kalo kayak gitu.

    dan benarlah kata2 Catshade, bahwa bagaimana pun juga hal itu tetap berpotensi misleading. inilah yang harus diluruskan. pun menurut saya, menunjukkan sebuah kesalahan bukanlah berarti tidak memaklumi sebuah kesalahan. hanya koreksi supaya lain kali lebih hati2 aja :)


  52. pada Oktober 13, 2008 pada 4:12 pm Rizma

    Wuuuiihh! Fisika!

    Ma pura pura ngerti aja deh,,
    Tapi, anggeplah paparannya itu buku emang salah, itu bikin miris aja rasanya, masalahnya kok bisa bisanya ya,,
    Kalo emang ga ngerti, kenapa ga pake pendekatan laen aja ya?

    Tapi Sora, mungkin ga beliau itu maksudnya ada yang nyambung kalo di liat dari sudut pandang lain?

    Abis Ma bener bener ga ngerti sih, SPMB Ma yang Fisika cuma bener 2 salah 1, sisanya kosong! :D


  53. pada Oktober 13, 2008 pada 4:31 pm K. geddoe

    *gelar kacang*

    *rebus tikar*


  54. pada Oktober 13, 2008 pada 5:15 pm gentole

    *nonton juga ah*


  55. pada Oktober 13, 2008 pada 7:08 pm sora9n

    @ joesatch

    Weleh… :mrgreen:

    :::::

    @ isnese

    Mungkin juga. Kalau saya sih, masukin di blog ini ke kategori “Books”. :P

    :::::

    @ dnial

    And the QM?
    Kapan waktu rilisnya?

    Satu post lagi habis ini, kalau nggak ada perubahan rencana. :P

    Terima kasih sudah menunggu. :mrgreen:

    :::::

    @ spidolhitam

    Iya, gitu? ^^;;

    *baru tahu nih saya* :P


  56. pada Oktober 13, 2008 pada 7:15 pm sora9n

    @ Snowie

    …satu komen dihapus. Kalau memang mau menanggapi pemaparan saya, jangan OOT dan bawa-bawa masalah pribadi ke sini. ‘Nuff said.

    Pertama, kamu nggak berfikir kalo buku karya Pak mustafa itu buku science khan? yang setiap kalimatnya harus jelas dan setiap pernyataan harus di uji keabsahannya, serta wajib untuk di seminarkan khan :lol:

    Coba baca bagian pengantar dan halaman belakangnya. Semangatnya itu kentara, “menghubungkan antara Islam dengan ilmu fisika”.

    Ditambah lagi penulisnya beberapa kali disebut “seorang insinyur nuklir”. Dia punya tanggung jawab untuk menyampaikan fisika yang BENAR, sebab bukunya sendiri mensugestikan ke arah itu. :roll:

    trus, jangan terlalu seriuslah menaggapi setiap penjabaran di buku tersebut dengan menggunakan pemaparan Ilmu fisika secara eklusif tanpa mencoba menganalisis pengembangan dari ilmu tersebut dalam praktek kehidupan nyata.

    Maksudnya apa?

    Fisika dalam kehidupan sehari-hari, yang BENAR, banyak. Pompa air, bola lampu, radio tape. Beliau di atas juga menghubungkan fisika dengan keseharian, tapi fisikanya SALAH. Itu beda yang sangat besar.

    Intinya, saya memandangnya kalo Pak mustafa itu BUKAN mengapologikan keyakinan agama dengan menggunakan dalil-dalil fisika, tapi beliau itu berusaha mendekatkan atau menganolog-kan dalil-dalil yang kebetulan merupakan Ilmu fisika dalam menjabarkan/ merasionalisasikan Ibadahnya umat muslim.

    Tetap saja landasannya salah. Boleh saja merasionalisasikan dengan analogi… tapi, analoginya harus benar. ;)

    Sementara fisika yang beliau sampaikan banyak salahnya. Analoginya salah. Apanya yang jadi rasional kalau begini? :o

    BTW, “apologi” itu artinya “pembelaan”. Kalau membela agama dengan sains, tentunya bisa disebut sebagai apologi.

    jadi artinya, saya kira Pak Mustafa bermaksud memberi gambaran apa hikmah dari kegiatan Haji tersebut. Tentang kenapa saat di dekat Ka’bah do’a lebih mustajab. yah, hal-hal seperti itulah kira-kira…

    Begini, saya nggak keberatan kalau beliau mau menjelaskan hikmah dari ibadah haji, kemakbulan doa, dan lain sebagainya. Syaratnya cuma satu: landasannya harus benar.

    Kalau landasannya salah, potensi misleading-nya besar. Terutama bagi kalangan awam yang ‘jauh’ dengan fisika. Orang mengira fisikanya oke, karena yang menulis ahli fisika nuklir… padahal kenyataannya tidak begitu. :?

    kok halaman nya beda ya? 0_o”\
    Di buku yang ada pada saya, kutipan yang kamu sebut ada di halaman 112-113 itu ada di halaman 144-145 lho.

    Mungkin cetakannya beda, atau kutipan itu diulang lagi di halaman ybs. Yang jelas kutipan itu ada di halaman 112-113 buku yang saya dapat.

    BTW, saya baca yang terbitan PADMA (“Padang Mahsyar”) tahun 2003.

    sebenarnyanya begini: udara bebas yang kamu sebut itulah sebagai medium penghantar dari rangkaian Manusia dan Ka’bah. ruang sekitar Ka’bah sebagai medium penghantar, manusia sbagai sesuatu yang bermuatan netron dan Ka’bah sebagai konduktor.

    Mbak, medium penghantar itu sama dengan konduktor. Menyatakan Ka’bah sebagai konduktor dan ruang sekitar Ka’bah sebagai konduktor, sama saja menyatakan bahwa dua-duanya konduktor. :|

    OK, kita coba asumsi udara sekitar Ka’bah sebagai konduktor lapis kedua (lapis pertama: Ka’bah). Tetap saja, udara di sekitar Ka’bah itu bergerak dan mengalir. Konduktor lapis kedua ini bakal terurai seiring terjadinya angin.

    Tambah lagi, “muatan netron” itu tidak ada. Yang ada “muatan netral”. Dan, benda yang bermuatan netral, mustahil menghasilkan gelombang elektromagnet…

    jadi untuk bisa melihat relevansinya, kita harus sedikit berfikir terbuka.

    Berfikir terbuka beda dengan mengamini kesalahan. That’s the point. ;)

    Tapi bagaimana dengan percobaan “besi paku yang berubah jadi magnet setelah dikelilingi arus listrik”?
    Dengan kata lain, medan magnet yang berada didalam cincin lebih kuat kan dari yang di luar cincin? jadi secara tidak langsung, paku tersebut menjelama sebagai magnet selama ada arus yang mengalir disekelilingnya.

    Iya, tapi… agak beda sedikit. ^^;

    Medan magnet dalam kumparan lebih kuat dibandingkan di luarnya, karena medan magnet (hasil arus di sekelilingnya) saling menjumlahkan. Seandainya pun tidak ada paku di dalam cincin, medan magnet paling besar lokasinya juga di situ. Prinsipnya seperti gambar yang saya cantumkan di atas.

    Medan magnetnya terbentuk di dalam dan luar cincin, tapi bukan di cincinnya itu sendiri! :D

    Di sini, ada/tiadanya paku jadi tidak penting. Benar bahwa paku terinduksi jadi magnet jika dililit oleh kawat, tapi itu cerita lain. ;)

     
    Mengenai kenapa “medan magnet terbentuk di luar konduktor”… ceritanya panjang. Saya nggak yakin bisa menjelaskannya dalam istilah sehari-hari, so there you have it. (-_-)

    nah, itu. Dari penjelasan di buku beliau, saya menangkap bahwa bio elektron itu bisa merupakan semacam emosi atau impuls tertentu pada sistem saraf akibat perbuatan manusia. [...] Bisa jadi, “dosa” tersebut merupakan energi negatif manusia. So, dengan begitu manusia dengan bio – elektronnya jadi bermuatan negatif.

    Impuls pada sistem syaraf manusia itu, hakikatnya, sinyal listrik. Larinya ke elektron lagi. Bio-elektron itu cuma technobabble yang dijual sejak zaman Muhammad ‘Isa Dawud…

    (Coba google istilah “bio-electron”, “bioelectron”, dst. Apa ada yang pakai buat paper ilmiah)

    Tambahan: jika manusia berdosa jadi bermuatan negatif, harusnya daerah sekitar Nusakambangan jadi penuh medan magnet. Sebab semua napi di sana bergerak dari waktu ke waktu. (-_-)

    Tapi, konduktor kan bisa memperkuat pengaruh medan.

    Memang iya. Tapi kan Pak Mustofa menulisnya:

    Kaidah Tangan Kanan mengatakan: “Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan elektromagnetik yang mengarah ke atas.”

    ~hal. 112

    Salahnya adalah, beliau menyatakan Kaidah Tangan Kanan terjadi jika ada konduktor di tengah-tengah. Padahal kenyataannya tidak begitu. :roll:

    Saya tidak melihatnya begitu. Memang, dalam kaidah Penulisan paragraf, tulisan tersebut agak tidak koheren, tapi koherensinya bisa dilihat kalo ide disetiap paragraf di urut. dengan catatan kutipannya lengkap ;)
    Mulai dari [...]

    [...]

    Walau agak membingungkan, tapi setidaknya beliau tidak menyatakan dengan tegas kalo gelombang-gelombang itu sama.

    Beliau menyatakan “jadi setiap aktivitas kita memancarkan energi”, setelah sebelumnya menyebutkan “kita memantul-mantulkan gelombang”. Di situ salahnya! :o

    Di kata “jadi” itu! ‘Memantul-mantulkan’ bisa berdiri sendiri, ‘memancarkan’ juga bisa berdiri sendiri. Tapi, wrap-up-nya ini yang bermasalah. Semua contoh itu seolah menegaskan, “jadi setiap aktivitas kita memancarkan energi”. Ini yang saya bilang misleading. :|

    Lagian, saya yakin, buat yang tidak memperhatikan fisika, mereka bakal membacanya sambil lalu. So, sulit dipercaya kalo hal tersebut bisa menyesatkan. Membingungkan sih mungkin iya, apa lagi kalo yang ilmu fisikanya cuma dikit kayak saya :P

    Buat orang yang tidak memperhatikan fisika? Di situ masalahnya. Fisika — dan ilmu alam — dimutilasi. Dipelintir di sana-sini supaya pendapat orang “terkesan ilmiah”. Secara tidak langsung, ini mengelabui masyarakat. :evil:

    Orang-orang yang nggak ngerti fisika bakal cuek. Tapi mereka percaya pada fisika palsu ini, dan mengamini begitu saja. Mereka nggak tahu fisika, tapi, karena “terkesan ilmiah”, karena yang menulis “insinyur nuklir”, mereka percaya. Walaupun tidak mengerti ada apa di baliknya.

    MAU JADI APA UMAT YANG DIBODOHI KAYAK BEGINI!!?? :twisted:

    Tapi, bukankah cahaya itu juga merupakan energi…

    Bukan. Cahaya itu gelombang elektromagnetik. Dia mengandung energi, tapi bukan energi dalam pengertian sebenarnya.

    Kamu khan cuma membahas satu poin dari buku itu yang nggak lebih dari 4 halaman dari total 240 halaman isi.

    Satu poin…? :roll:

    Saya membahas kesalahan beliau tentang (1) kaidah tangan kanan, (2) muatan yang bergerak, dan (3) perbedaan gelombang pancar dan pantul. Itu tiga hal yang sangat mendasar, lho.

    BTW, kamu baca SEMUA isi buku itu atau cuma yang 4 halaman itu aja? *memandang curiga*

    Itu sudah dipilih. Kalau saya harus merangkum semuanya, bakal terlalu panjang.

    Seperti yang sudah saya bilang di atas (komentar #39), ada bagian lain yang lebih mendingan di buku ini. Fokus saya bukan itu. Saya cuma menggarisbawahi kesalahan-kesalahan saintifik yang dibuat oleh so-called seorang insinyur nuklir beragama Islam. ;)

    Di samping itu, judulnya sendiri “Pusaran Energi Ka’bah”. Tentunya lebih efektif jika saya langsung menanggapi pokok masalahnya. :mrgreen:

    no body’s perfect. Kesalahan itu wajar terjadi, kalo memang itu suatu kesalahan.

    Makanya saya koreksi. :o

    kalo penasaran sama orangnya, coba aja ikutin bedah bukunya biar bisa diskusi langsung. :mrgreen:

    Tergantung… memangnya masih ada?

    Setahu saya itu buku terbitan 5 tahun lalu, deh. (o_0)”\


  57. pada Oktober 13, 2008 pada 7:35 pm sora9n

    @ Catshade

    tapi masalahnya pikiran awam (yang mungkin hanya ingat pernah belajar hal itu di SMA…bertahun-tahun yang lampau) kesulitan membedakan hal itu. Begitu mereka mendengar ‘fisika’ dan ‘gelombang elektromagnetik’ yang ada di pikiran mereka ya sesuatu yang ilmiah. Entah sengaja atau tidak, kesalahan teori yang dipaparkan buku itu (kalau analisis sora benar) tetap berpotensi misleading.

    Exactly the point. ;)

    :::::

    @ joesatch (lagi)

    Well, kurang lebih intinya sama. Makasih sudah membantu menjelaskan. ^^

    Ada juga tambahannya, yakni berupaya menyampaikan pada publik bahwa informasi yang disampaikan berpotensi misleading. Di satu sisi, OK, kita bisa maklum pada pengarangnya. Tapi, di sisi lain, memberi pemahaman pada khalayak juga tak kalah pentingnya.

    Intinya sih di penanggulangan misinformasi itu sendiri. Makanya ditulis di blog. :P

    :::::

    @ Rizma

    Tapi Sora, mungkin ga beliau itu maksudnya ada yang nyambung kalo di liat dari sudut pandang lain?

    Sebenarnya mungkin, kalau analogi thawaf-Ka’bah dipandang sebagai arus kumparan dan batang logam. Seperti yang disampaikan mbak Snowie — di pelajaran SMP, yang paku/batang logam dililit kawat. Kalau begini penjelasan beliau jadi lebih nyambung. :)

    Hanya saja, ini nggak mengubah kenyataan bahwa beliau salah menyampaikan tentang:

    1. Kaidah tangan kanan,
    2. Gelombang suara sebagai elektromagnet,
    3. Penyamaan konsep “pemancaran” dan “pemantulan”

    Ini konsep fisika yang relatif dasar. Makanya saya sorot secara khusus. :P

    :::::

    @ K. geddoe | gentole

    Hus, hus… :|

    *tabur garam*


  58. pada Oktober 13, 2008 pada 7:36 pm K. geddoe

    Wah, sadis juga pembantaiannya. :lol:

    *masak spaghetti*


  59. pada Oktober 13, 2008 pada 8:22 pm lambrtz

    Waduh telat nonton…

    *makan kaca*


  60. pada Oktober 13, 2008 pada 8:48 pm secondprince

    Akhirnya datang juga
    Bagi saya kesalahan yang ada rasanya cukup jelas dan soal niat baik atau tujuan penulisnya maka itu tidak merubah kesalahan yang ia buat yang berkaitan dengan Ilmu Fisika. Boleh beranalogi, boleh berpikiran terbuka tapi kalau salah ya salah. Kan itu bisa jadi masukan yang berguna
    *Ikutan nonton, berharap kebagian spaghetti*


  61. pada Oktober 13, 2008 pada 10:37 pm jensen99

    Ah, technobabble… Baru liat kata ini. Catat…
    Setelah membaca pemaparan & diskusi yang menarik di bagian atas, sbenarnya saya agak heran kenapa mbak Snowie yang jujur2 ngaku “nggak begitu dalam mengerti Fisika” kok spertinya membela pak Mustofa… :mrgreen:
    Sbenarnya nilai fisika SMU saya (dulu) gak pernah bagus sih, tapi apa2 yang ditulis sora pasti menarik dibaca. :P
    Okay, bgini, di kutipan buku itu diatas ada bagian ini:

    …kemudahan kepada kita dalam memahami misteri Ka’bah.

    Maksudnya kata “misteri” itu merujuk kepada hal/kejadian apa di Ka’bah? :?


  62. pada Oktober 13, 2008 pada 11:38 pm sora9n

    @ K. geddoe | lambrtz

    *bikin roti isi*

    *makan dengan santai*

    *minum teh botolan* :lol:

    :::::

    @ secondprince

    Boleh beranalogi, boleh berpikiran terbuka tapi kalau salah ya salah. Kan itu bisa jadi masukan yang berguna

    Yup, yup. =3

    *Ikutan nonton, berharap kebagian spaghetti*

    Coba minta ke Geddoe, mungkin dia ada sisa. :P

    :::::

    @ jensen99

    Ah, technobabble… Baru liat kata ini. Catat…

    Itu istilah lama, kok. Ada artikelnya di wikipedia:

    [link wikipedia]

    Walaupun saya menyarankan TVTropes, untuk versi yang lebih hebohnya. :lol:

    [link TVTropes]

    Maksudnya kata “misteri” itu merujuk kepada hal/kejadian apa di Ka’bah? :?

    Ooh, itu merujuk pada berbagai pengalaman spiritual jamaah haji di sana. Terkadang beberapa orang mengalami hal yang — menurut mereka — rada ‘ajaib’. (o_0)”\

    Kasarnya sih, semacam urban legend di kalangan umat Islam. Beberapa contoh di antaranya, misalnya:

    Perasaan sombong/tinggi hati langsung ‘ditegur’ oleh Tuhan (merasa dekat, nggak bakal kesasar, tahu2 nyasar; menolak bawa buku panduan karena sudah hapal, tapi mendadak blank, dst).

    Ada juga yang merasa mendapat ‘balasan’ karena tindakannya di tanah air. Orang yang sering menertawakan temannya yang pincang di Indonesia, sampai di sana mendadak sakit di bagian kaki; yang kleptomania berulangkali kehilangan barang, dsb.

    Mitos lain yang juga terkenal, berkaitan dengan keterkabulan doa. Konon jika berdoa sambil mencium Hajar Aswad (batu kecil yang jadi inti Ka’bah), maka doanya akan lebih mudah terkabul. Konon banyak yang sudah membuktikan.

    Saya sendiri nggak tahu seberapa benarnya klaim-klaim di atas. Yang jelas cerita-cerita ini populer dan sering berulang. (o_0)”\

     

    Ps:
    Di sisi lain, seorang famili saya pernah pergi ke sana, tapi tidak merasakan hal-hal semacam di atas. Jadi mungkin ada faktor subyektivitas juga di sini. ^^


  63. pada Oktober 14, 2008 pada 3:50 am C4ndra

    Sains dan Agama adalah dua sisi yang sering bentrok. Mencampurkan keduanya secara sembrono sangat beresiko… lebih bijak jika kita menimbang jarak antara keduanya sehati-hati mungkin. ;)

    Saya kira inti persoalannya ada pada pernyataan diatas. Jadi teringat sebuah pepatah klasik

    Agama tanpa sains cenderung buta ( blind faith ) sedangkan sains tanpa agama ( spirituality ) akan pincang.

    Bisa jadi pak Agus Mustopa awalnya mungkin bermaksud memberikan sebuah pencerahan kepada umat lewat sains yg ia geluti. Namun apa boleh di kata hasilnya seperti itu.
    * mencoba berbaik sangka *

    Saya kira sains dan spiritulitas bisa jalan bersama walaupun tetap melaju pada rel yang berbeda. Memaksakan keduanya berjalan dalam satu rel sungguh merupakan tindakan yang aneh dan nekat :roll:

    *mulai ngantuk*


  64. pada Oktober 14, 2008 pada 7:46 am dnial

    @Snowie

    Remember *oy *uryo?
    I, and a lot other computer geeks think that he is charlatan, a laughing stock. Detik dan Kompas yang suka menampilkan komentarnya pun jadi bahan tertawaan, guilty by association.

    Bayangkan kalo atribut itu dialamatkan ke Pak Mustofa oleh para ilmuwan gara2 fisika yang salah, akhirnya kaum Muslim pun guilty by association karena percaya saja sama kata2nya dia. Apalagi bukunya best seller.

    Just like Christian Fundamentalist looks silly because they believe on Creationism. Silly, stubborn, and pushy to be exact. The prefect idiot combo. Hufff…….

    Jangan terjebak ke lubang yang sama. Dan Mr. Sora telah memberi pencerahan.

    Voila, tu sai tout!


  65. pada Oktober 14, 2008 pada 8:22 am K. geddoe

    @ Snowie

    Ah, izinkan saya sok mewakili orang-orang yang ada di sini. :) Intinya yang mesti diingat adalah;

    1. Kesimpulan yang didapat ialah klaim sains yang dibawa oleh Pak Agus Mustofa tidak terlihat sebagai sesuatu yang memiliki landasan yang solid.

    2. Apakah ia dimaksudkan sebagai buku sains “yang setiap kalimatnya harus jelas dan setiap pernyataan harus di uji keabsahannya, serta wajib untuk di seminarkan” atau bukan, ia tetap berpotensi menyesatkan.

    Tapi mesti diingat…

    1. Kami tidak menafikan niat baik dari penulis.

    2. Tentunya ini bukanlah serangan ke agama Islam.

    3. Dan bukan pula serangan ke Anda. :mrgreen:

    * * *

    Tapi amusing juga.

    Beberapa bulan yang lalu:

    X: Heathen! I recommend you to READ this magnificent book! A masterpiece of science and faith!
    Y: I think I will.

    Later…

    Y: I’ve read this book! It teems with bad science and unsupported claims!
    X: Hey, you’re not taking that book seriously, are you? It’s not a science book. :mrgreen:


  66. pada Oktober 14, 2008 pada 8:30 am spidolhitam

    wah, saya kaget juga ternyata banyak juga fans nya bapak agus mustofa, maklum aja … bukunya tebal dan cetakannya bagus sih :D


  67. pada Oktober 14, 2008 pada 10:06 am gentole

    @snowie

    Sabar yah. Sora memang suka begitu. :mrgreen:

    Kapanpun Anda bisa memeriksa kembali bacaan buku fisika yang Anda miliki dan menguji klaim yang dibuat Sora9n. Karena ini ilmu pasti, mestinya tidak sulit. Jangan kuatir, saya juga pernah kok mengalami kejadian seperti ini dulu. Masih untung cuma bukunya pak Mustafa. Bagaimana coba kalo ada orang seperti Sora bikin post yang intinya bilang al-Qur’an salah? Intinya sih “humility”. Kebenaran, apalagi yang bersifat spiritual, bukanlah sesuatu yang perlu dibangga-banggakan.


  68. pada Oktober 14, 2008 pada 10:44 am Catshade

    Oooh, someone’s getting personal up there… :roll:


  69. pada Oktober 14, 2008 pada 10:55 am Snowie

    :: joesatch

    cuma kalo kata holmes, “Boleh saja kita mencoba mengerti jalan pikiran kriminal, Watson, tapi janganlah berusaha mencari pembenaran perilaku kriminal, entah itu perilaku negarawan tingkat tinggi ataupun penipu kelas paling rendah.” pada akhirnya kesalahan ya tetap kesalahan.

    Duch Holmes, dh berapa lama ya nggak lagi baca buku itu :P

    Saya tidak berusaha mencari pembenaran dari kesalahan yang mungkin di lakukan Pak mustafa dalam bukunya. tapi saya hanya berusaha untuk “menerima” apa yang beliau sampaikan tanpa didahului sikap antipati walau tetap memiliki rasa skeptis terhadap apa yang beliau sampaikan.

    Toh, benar atau tidaknya penjabaran beliau tentang gelombang elektromagnetik itu, Ritual Ibadah haji akan tetap sama.

    Seseorang memberi tahu saya, untuk bisa mengerti tentang Tulisan pak mustafa, ada baiknya mengikuti tulisan beliau di seri berikutnya. Ini akan sulit terjadi kalo dari awal kita memang sudah memandang rendah tulisan beliau terkait dengan agama dan sains.

    :: sora9n

    …satu komen dihapus. Kalau memang mau menanggapi pemaparan saya, jangan OOT dan bawa-bawa masalah pribadi ke sini. ‘Nuff said.

    Dua deh. Kalo gitu saya benar dong…
    FYI, dugaan saya itu berdasarkan Intuisi lho.

    Coba baca bagian pengantar dan halaman belakangnya. Semangatnya itu kentara, “menghubungkan antara Islam dengan ilmu fisika”.

    menghubungkan khan tidak berarti mesti persis. Maksudnya, saya memandang bahwa Pak Mustafa menggunakan konsep dasar fisika untuk mencoba memahami fenomena di sekitar Ka’bah dan ibadah haji. Seolah-olah beliau ingin mengatakan
    “Ide nya ini (fenomena seputar haji dan ka’bah)… kemudian, apa mungkin ada hubungannya degan hal ini (terkait dengaan fisika)

    Dan lagi, entah mengapa saya melihatnya, walau beliau menggunakan istilah fisika tentang konduktor, gelombang elektromagnetik dan semuanya itu, tapi sebenarnya beliau tidak benar-benar membahas hal itu deh. Tapi entahlah…

    Maksudnya apa?

    Maksudnya cobalah untuk berimajinasi. Jangan gara-gara istilah fisika yang digunakan, lantas harus benar-benar Ilmiah. Nggak tau juga ya…

    Tetap saja landasannya salah. Boleh saja merasionalisasikan dengan analogi… tapi, analoginya harus benar. ;)

    landasan yang mana lagi? Untuk penjabaran poin-poin yang kamu bahas, khan sudah sy tanggapi.
    Nggak mesti harus benar-benar persis seperti penyataan fisika.

    BTW, “apologi” itu artinya “pembelaan”. Kalau membela agama dengan sains, tentunya bisa disebut sebagai apologi.

    Saya pikir beliau tidak berapologi. Tapi cuma mendekatkan dua hal yang mungkin bisa didekatkan. Membela khan mesti ada yang dibela dari ancaman pihak tertentu. tapi kenyataannya tidak ada ancaman sama sekali. Dan beliau, untuk entah berapa kali saya katakan mencoba menjelaskan fenomena sekitar ka’bah and stuff.

    Ok, saya sadar, kamu nggak bakal bisa menerima apa yang saya katakan. tapi, begitulah kenyataannya.

    BTW, saya baca yang terbitan PADMA (”Padang Mahsyar”) tahun 2003.

    Sama. Buku yang ada pada saya jg terbitan itu tahun yang sama. tapi dihalamn yg kamu maksud, tidak ada tulisan seperti itu.

    Mbak, medium penghantar itu sama dengan konduktor. Menyatakan Ka’bah sebagai konduktor dan ruang sekitar Ka’bah sebagai konduktor, sama saja menyatakan bahwa dua-duanya konduktor. :|

    Maksud saya, Udara bebas itu merupakan konduktor/kawat pengahantar yang bermuatan arus listrik, dimana manusia yang berperan sebagai netronnya.

    OK, kita coba asumsi udara sekitar Ka’bah sebagai konduktor lapis kedua (lapis pertama: Ka’bah). Tetap saja, udara di sekitar Ka’bah itu bergerak dan mengalir. Konduktor lapis kedua ini bakal terurai seiring terjadinya angin.

    :lol: :lol:

    Ya ampyun sora :P

    Begini, coba kamu bayangkan. Udara itu, tanah tempat berpijak di sekitar ka’bah itu, sebagai Kawat penghantar arus dalam rangkaian kaidah tangan kanan. lalu, manusia sebagai muatan listrik negatif, ka’bah sebagai pusat lingkran

    Jadi, analoginya, kalo tidak ada tanah sbg t4 berpijak dan udara untuk bernafas manusia, apa mungkin manusia bisa tawaf keliling ka’bah?

    itu, yang saya maksud jangan terlalu kaku dalam menfsirkan sesuatu. Jadi, kalo kamu masih berfikir dengan cara itu, mau bagaimanapun, saya nggak bakal bisa memberi another perspektif ;)

    Medan magnetnya terbentuk di dalam dan luar cincin, tapi bukan di cincinnya itu sendiri! :D

    siapa yang bilang kalo di cincin itu sendiri medan magnetnya terbentuk :cool:

    Di sini, ada/tiadanya paku jadi tidak penting. Benar bahwa paku terinduksi jadi magnet jika dililit oleh kawat, tapi itu cerita lain. ;)

    Nah, ini dia masalahnya. Cerita lain itulah yang dibahas oleh Pak mustafa. Sementara kamu mengabaikan cerita lain itu :)

    Mengenai kenapa “medan magnet terbentuk di luar konduktor”… ceritanya panjang. Saya nggak yakin bisa menjelaskannya dalam istilah sehari-hari, so there you have it. (-_-)

    kamu nggak perlulah menjelaskan hal itu. saya bisa tanya sama ayah saya yang FYI guru fisika SMA :mrgreen:
    Sekalian menjawab tanda tanya Jensen99 :P

    Tambahan: jika manusia berdosa jadi bermuatan negatif, harusnya daerah sekitar Nusakambangan jadi penuh medan magnet. Sebab semua napi di sana bergerak dari waktu ke waktu. (-_-)

    Sora, tolong bedakan bergerak dengan tujuan dengan beda yang tanpa tujuan. Entah kamu bisa atau enggak :cool:

    BTW, disana mereka khan dalam hukuman. Tidak sedang melakukan kejahatan itu sendiri.

    Salahnya adalah, beliau menyatakan Kaidah Tangan Kanan terjadi jika ada konduktor di tengah-tengah. Padahal kenyataannya tidak begitu. :roll:

    Saya akui itu. Dan lagi, sebenarnya, uraian kamu dalam entry nggak salah. Secara Ilmiahnya memang begitu. cuma cara pandang saja yang berbeda sehingga penjabaran pak mustafa terkesan menyedihkan akibat kesalahan yang dibuatnya sendiri. ;)

    Tergantung… memangnya masih ada?

    Setahu saya itu buku terbitan 5 tahun lalu, deh. (o_0)”\

    nggak tahu. tapi buku beliau masih terus terbit. Coba aja ke kontak personnya kalo kamu emang peduli dengan nasib Umat yang kami pikir di BODOHi.


  70. pada Oktober 14, 2008 pada 11:08 am K. geddoe

    Coba aja ke kontak personnya kalo kamu emang peduli dengan nasib Umat yang kami pikir di BODOHi. [sic]

    Oooh, it IS getting personal! :o

    Take cover! Take cover!


  71. pada Oktober 14, 2008 pada 11:14 am K. geddoe

    Sora, tolong bedakan bergerak dengan tujuan dengan beda yang tanpa tujuan. Entah kamu bisa atau enggak 8)

    Oh boy, you’re still CONSIDERING that possibility?

    Mbak, saya ‘kan udah menjelaskan di [sini], jangan menganggapnya sebagai serangan ke Pak Mustafanya lah… :P


  72. pada Oktober 14, 2008 pada 11:19 am Snowie

    :: K. geddoe

    Wah, sadis juga pembantaiannya. :lol:

    Siapa yang dibantai? *nggak ngerasa tuh :P *

    :: dnial

    Bayangkan kalo atribut itu dialamatkan ke Pak Mustofa oleh para ilmuwan gara2 fisika yang salah, akhirnya kaum Muslim pun guilty by association karena percaya saja sama kata2nya dia. Apalagi bukunya best seller.

    Pendapat saya, Dalam konsep islam yang saya tahu, “saat kita berusaha berijtihad untuk sebuah kebaikan, walaupun akhirnya salah, masih dapat pahala satu”.

    akhirnya, bagi muslim yang perduli dan mengerti fisika, kenapa nggak coba berdialog langsung dengan beliau. nggak ada salahnya khan ;)

    :: K. geddoe lagi

    Beberapa bulan yang lalu:

    X: Heathen! I recommend you to READ this magnificent book! A masterpiece of science and faith!
    Y: I think I will.

    Later…

    Y: I’ve read this book! It teems with bad science and unsupported claims!
    X: Hey, you’re not taking that book seriously, are you? It’s not a science book. :mrgreen:

    Saya nggak ingat bilang apa tepatnya. Kok setelah membaca dialog di atas, saya jadi terlihat berlebihan *cemberut*

    Yang penting, saya sudah tahu bagaimana sora memandang buku tersebut, dan telah berbaik hati mau membahasnya. thats all :mrgreen:

    Ngomong-ngomong bukankah ini keren. Sora masih memperdulikan apa yang saya katakan walau udah lewat beberapa waktu lamanya :mrgreen:

    :: gentole

    Sabar yah. Sora memang suka begitu. :mrgreen:

    Nggak masalah tuh. santai aja lagi…
    Demo, Merci anyway :)

    Kapanpun Anda bisa memeriksa kembali bacaan buku fisika yang Anda miliki dan menguji klaim yang dibuat Sora9n.

    Klaim yang dinyatakan sora tentang ilmu fisika itu nggak salah. sekali lagi, ini hanya masalah perspektif ;)

    Karena ini ilmu pasti, mestinya tidak sulit. Jangan kuatir,

    Tenang aja. saya nggak kuatif sama sekali kok.
    Masalahnya, sora terlalu berpatokan pada kepastian ilmu itu. There you have it
    *mulai terinfeksi gaya bahasa sora*

    Bagaimana coba kalo ada orang seperti Sora bikin post yang intinya bilang al-Qur’an salah?

    Kalo memang itu terjadi, dan orang itu berhasil. Berarti Tuhan yang menurunkan kitab itu perlu dipertanyakan ke arifannya. Dan siapakah orang itu, yang berani menjawab tatangan Tuhan semesta alam?


  73. pada Oktober 14, 2008 pada 12:15 pm K. geddoe

    @ Snowie

    Oke, saya berubah serius deh. Komentar yang ini dibalas dengan baik, ya?

    Posisi Mbak di sini sebenarnya tidak jelas. Posisi Mas Sora, saya, dan kebanyakan yang hadir di sini jelas; sains yang ditawarkan Pak Mustafa adalah maksa. Kita tetap hargai usaha dan niat baiknya, tapi tetap mengkhawatirkan bahwa ini akan menyesatkan publik.

    Cukup jelas? Kami menganggapnya sebagai honest mistake lah.

    Mbak sendiri bagaimana? Kesan yang saya tangkap, tidak jelas.

    + Di satu kesempatan berusaha menjawab rebuttal yang dibuat Sora secara ilmiah (soal konduktor dsb.), menunjukkan bahwa Mbak masih setuju dengan sains yang ditawarkan.

    + Di kesempatan lain menekankan bahwa itu “bukan buku sains”, “perspektifnya beda”, ini lah, itu lah, dan justru terkesan NOMA. Menunjukkan bahwa Mbak indifferent terhadap tulisan Pak Mustafa maupun resensi Sora.

    + Dan di beberapa bagian juga mengakui bahwa secara fisika Sora sudah benar. Tentunya dengan berusaha melepaskan hubungan blunder tersebut dengan Islam, diri Mbak sendiri, dan kredibilitas Pak Mustafa.

    Jadi, sebenarnya posisi Mbak di mana? Sebab kesannya hanya menjawab satu-satu poin yang diberikan Mas Sora tanpa direksi yang jelas; ambigu.

    Membalas bagian-bagian komentar orang tanpa arah yang jelas itu memberi kesan bahwa Anda cuma tidak mau kalah, lho.

    Saya beri tahu. Menjadikan Diskusi ini sebagai lelucon dan ajang taruhan walaupun bercanda, itu INSULTING.

    Dan saya serius dengan pernyataan saya.

    As if you’re not insulting. You’re one of the first to sound bitter and wry. :|

    I think Sora and Snowie will make a nice couple. Apakah yang lain sepakat?

    *Buka biro jodoh*

    I thought Mr. Sora here got a tsundere childhood friend already? :mrgreen:


  74. pada Oktober 14, 2008 pada 1:19 pm sora9n

    @ all

    Pendahuluan sebelum komen serius… (reply sebenarnya sekitar nanti sore)

    Buat para pembaca yang ingin berkomentar, saya nggak melarang. Tapi pesannya satu: JANGAN nyampah… :o

    Ini diskusi yang sensitif. Lihat kan, satu-dua komen yang niatnya joke saja bisa ditangkap sebagai insult. Ini sama saja dengan nggak produktif. :|

    That said, komentar yang sebelumnya nomor #67, #70, #71, #73, #75, #76, #78, #80, #81 saya kirim ke akismet. Rasanya sudah saya tekankan di halaman license?

    III.2.

    Though, you are not allowed to:

    Create comment(s) which is insulting, uncourteous, contempting other party without proper evidence, and/or irrelevant to the topic. No spam, ad hominem, flames, etc. Please keep the discussion clean. :)

    :::::

    @ Snowie

    FYI, berhubung komentar2 yang disebut sebelumnya bakal dihapus, jawaban mbak yang buat reply mereka juga akan saya hilangkan. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. (-_-)


  75. pada Oktober 14, 2008 pada 1:40 pm lambrtz

    @sora9n & Snowie

    (merasa salah satu komennya dikirim ke akismet)
    Saya mohon maaf atas junk saya kirim, dan mohon maaf kalau itu menyinggung.


  76. pada Oktober 14, 2008 pada 2:21 pm gentole

    Wah, habis ada kejadian nih. Yang punya rumah bersih-bersih soalnya. Kalo begitu, kembali serius. Sementara sora memberi ulasan fisika, saya mau tanya nih sama Mbak, sebenarnya apa sih implikasinya atau akibatnya apabila ternyata benar fenomena tawaf itu bisa diterjemahkan, dianalogikan atau bahkan dijelaskan dengan fisika? Kalau memang ada, apa? Kalau memang tidak ada, jadi tujuannya apa buku itu? Intellectual excercise?


  77. pada Oktober 14, 2008 pada 2:29 pm lambrtz

    OK deh, kembali serius.

    Sebenarnya beberapa orang di atas sudah mencoba memberikan (menebak?) jawaban dari pertanyaan ini. Nah, saya ingin tahu pendapat Mbak Snowie seperti apa. Saya edit sedikit supaya lebih sesuai konteks.

    Kenapa pengarang buku ini harus/perlu/ingin menjelaskan agama dengan menghubungkannya dengan sains?


  78. pada Oktober 14, 2008 pada 2:35 pm agiek

    @sora & snowie
    iya, saya juga mohon maaf karena ngasih komen ga serius tadi.

    silakan dilanjutkan diskusi yang menarik ini. saya ikut menonton di bangku paling depan :)


  79. pada Oktober 14, 2008 pada 2:41 pm Nazieb

    Saya ikutan ya? Maaf kalau argumennya asal, mohon koreksinya..

    @Snowie

    menghubungkan khan tidak berarti mesti persis

    Kalo setahu saya sih, itu bukan menghubungkan, tapi menghubung-hubungkan. :mrgreen:

    Hanya karena manusia dan elektron sama-sama berputar, sang penulis berusaha menyamakan kedua hal tersebut.

    Jangan gara-gara istilah fisika yang digunakan, lantas harus benar-benar Ilmiah.

    Lah, kalau memang hal tersebut tidak benar-benar ilmiah, kenapa harus dihubungkan dengan ilmu fisika oleh sang penulis?
    :mrgreen:


  80. pada Oktober 14, 2008 pada 2:45 pm Nazieb

    @lambrtz

    Kenapa pengarang buku ini harus/perlu/ingin menjelaskan agama dengan menghubungkannya dengan sains?

    Supaya agamanya terlihat up to date dengan perkembang ilmu saat ini? :mrgreen:


  81. pada Oktober 14, 2008 pada 3:49 pm dana

    Njrit komen gue dibantai juga. :P

    Sebenarnya saya ada pertanyaan buat mbak snowie, cuman karena yang lain udah nanya bejibun gitu, maka pertanyaan saya tangguhkan dulu deh.


  82. pada Oktober 14, 2008 pada 5:59 pm goldfriend

    Sains dan Agama adalah dua sisi yang sering bentrok. Mencampurkan keduanya secara sembrono sangat beresiko… lebih bijak jika kita menimbang jarak antara keduanya sehati-hati mungkin. ;)

    Lepas dari topik utama.

    Karena sering bentrok makanya ketika ada usaha menjelaskan agama dengan bahasa sains langsung dianggap sebagai sebuah “keberhasilan luar biasa”. Menghubungkan Agama-Sains itu berat, karena mensyaratkan 2 hal yang cukup sulit : kompetensi keilmuan (sains) dan kompetensi keimanan (pemahaman agama).

    Blundernya bisa timbul di tiga titik : (1) konsep sains (2) konsep agama, dan (3) hubungannya. Lalu apakah keimanan kita akan bertambah kalau sudah mendapat konfirmasi positif dari sains ? Saya kok menanggapinya tidak seperti itu.


  83. pada Oktober 14, 2008 pada 6:00 pm sora9n

    @ C4ndra

    Saya kira sains dan spiritulitas bisa jalan bersama walaupun tetap melaju pada rel yang berbeda. Memaksakan keduanya berjalan dalam satu rel sungguh merupakan tindakan yang aneh dan nekat :roll:

    Yup, itu dia. ^^

    :::::

    @ dnial

    Masbro…

    …

    …Harun Yahya kok nggak disebut? :mrgreen:

    Orang yang bisa memblok WordPress di satu negara demi tuntutan defamatory, orang sakti, itu! :lol:

    :::::

    @ K. geddoe

    Tapi mesti diingat…

    1. Kami tidak menafikan niat baik dari penulis.

    2. Tentunya ini bukanlah serangan ke agama Islam.

    3. Dan bukan pula serangan ke Anda. :mrgreen:

    Quoted for Truth. :P

    :::::

    @ spidolhitam

    Entah, ya. Tapi saya rasa buku-buku Harun Yahya masih lebih tebal, luks, dan bervariasi. :lol:

    ::::

    @ gentole

    Bagaimana coba kalo ada orang seperti Sora bikin post yang intinya bilang al-Qur’an salah?

    Bukannya sudah ada, ya? :lol:

    *setahu saya site macam FFI atau infidels.org hobi berbuat gitu, deh*

    :::::

    @ Catshade

    Hus, jangan dikomporin. :P


  84. pada Oktober 14, 2008 pada 6:01 pm sora9n

    @ Snowie

    Begini, sebelum diskusi ini melebar ke mana-mana, saya rasa kita harus menyamakan persepsi dulu. Berikut ini saya sampaikan poin-poin saya:

    1) Ilmu alam, dalam penggunaan serius — baca: informasi, edukasi, nonfiksi — tidak selayaknya disampaikan secara setengah-setengah dan tidak benar. Kenapa, sebab ini terkait dengan pencerdasan masyarakat itu sendiri.

    Sebagai perbandingan, ilmu agama juga tidak seharusnya disampaikan dengan setengah-setengah dan tidak benar. Jika agama diambil setengah-setengah, orang menyebutnya “penodaan agama”. Jika ilmu alam diambil setengah-setengah, itu namanya “ilmu semu” (pseudosains).

    2) Saya menyalin contoh-contoh dari buku Pak Agus Mustofa di atas verbatim, apa adanya. Ketika membaca buku ybs, saya membayangkan diri saya sebagai orang awam yang hendak belajar.

    Meskipun demikian, ternyata ide-ide beliau berbeda jauh dengan dasar-dasar fisika yang pernah saya dapat… bahkan fisika SMA pun tidak cocok dengannya.

    3) Ini juga perlu dikonfirmasi: apakah penjelasan fisika saya di atas ada salahnya? Jika ya, maka mohon ditunjukkan. Jika tidak, berarti masalahnya ada pada bagaimana Anda menginterpretasikan karya Pak Agus Mustofa di atas. Kalau begitu ini jadi masalah subyektif, bukan lagi obyektif.

    * * *

    Sekarang waktunya menanggapi…

    Dua deh. Kalo gitu saya benar dong…

    Nggak ada hubungannya dengan benar atau salah. Anda tahu saya nggak main-main soal komentar. Lihat nomor #74.

    Jika Anda bilang saya saudaranya Hatta Radjasa, komen Anda saya hapus. Jika Anda bilang saya keponakannya Enda Nasution pun, komen Anda juga saya hapus. Anda nggak sopan dengan berupaya mengungkit identitas saya di dunia nyata… THAT’s the point.

    menghubungkan khan tidak berarti mesti persis. Maksudnya, saya memandang bahwa Pak Mustafa menggunakan konsep dasar fisika untuk mencoba memahami fenomena di sekitar Ka’bah dan ibadah haji. Seolah-olah beliau ingin mengatakan
    “Ide nya ini (fenomena seputar haji dan ka’bah)… kemudian, apa mungkin ada hubungannya degan hal ini (terkait dengaan fisika)

    Perhubungan beliau itu yang salah. Beliau bertanya: “apa mungkin?” Dijawab sendiri: “ya, ada hubungannya”.

    Seperti apa hubungannya? Lihat fisikanya… ternyata seperti di atas. Itu dia masalahnya. :roll:

    Dan lagi, entah mengapa saya melihatnya, walau beliau menggunakan istilah fisika tentang konduktor, gelombang elektromagnetik dan semuanya itu, tapi sebenarnya beliau tidak benar-benar membahas hal itu deh. Tapi entahlah…

    Wah, nggak bisa begitu. Kalau mau membahas ilmu alam, nggak boleh setengah-setengah. Harus benar, bisa dipertanggungjawabkan, dan sesuai konteks.

    Ibaratnya seorang dokter menyatakan: “obat ini dosisnya tiga kali sehari, tidak untuk penderita diabetes”. Dia tidak boleh setengah-setengah menyampaikan resep. SEMUAnya harus lengkap: tiga kali sehari, dan tidak untuk penderita diabetes.

    Tidak boleh diumumkan “tiga kali sehari” tanpa menyebut “tidak untuk penderita diabetes”. Itu namanya misleading.

     

    Satu lagi: penulisnya seorang insinyur. Kalau Anda mau tahu, ada yang namanya Kode Etik Insinyur.

    Yes, I’m an engineering student. Saya kutipkan sbb.:

    II. 3.

    Engineers shall issue public statements only in an objective and truthful manner.

    a. Engineers shall be objective and truthful in professional reports, statements, or testimony. They shall include all relevant and pertinent information in such reports, statements, or testimony, which should bear the date indicating when it was current.

     

    III. 2.

    Engineers shall at all times strive to serve the public interest.

    c. Engineers shall endeavor to extend public knowledge and appreciation of engineering and its achievements.

    Seorang insinyur tidak boleh menyampaikan informasi setengah-setengah. Dia harus berupaya mencerahkan publik. Kalau Pak Agus Mustofa di atas mau beranalogi dengan fisika, dia harus menjelaskan fisika yang dipakai selengkap dan sebenar-benarnya.

    Tidak boleh dipotong-potong, apalagi cuma dipakai sekenanya.

    Di satu sisi menganalogikan Kaidah Tangan Kanan, tapi ketika di-complain ternyata pakai dalih lain: “Oh, ada yang ketinggalan. Ini kurang lengkap. Seharusnya…”

    ITU PUN beliau masih terbalik menjelaskan Kaidah Tangan Kanan! :o

    Maksudnya cobalah untuk berimajinasi. Jangan gara-gara istilah fisika yang digunakan, lantas harus benar-benar Ilmiah. Nggak tau juga ya…

    Silakan mengacu ke kode etik di atas.

    landasan yang mana lagi? Untuk penjabaran poin-poin yang kamu bahas, khan sudah sy tanggapi.
    Nggak mesti harus benar-benar persis seperti penyataan fisika.

    THAT’S WHERE YOU FAIL TO UNDERSTAND…!!!! :twisted:

    Kalau orang mau membawa ilmu alam, dia harus menjelaskan dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai misleading. Ilmu alam yang salah kaprah BERPOTENSI DIGUNAKAN untuk MENIPU.

    Ingat dokter bedah palsu yang main suntik silikon. Ingat Scientology! Ingat “menentukan perilaku berdasarkan golongan darah”. Ingat DJOKO SUPRAPTO DAN BLUE ENERGY-NYAAAAAAA…!!!! :twisted:

    Itu jadinya kalau ilmu alam disalahgunakan. Dan yang di postingan di atas itu… itulah kalau ILMU PALSU DIBAWA-BAWA KE RANAH AGAMA. Are we clear here!?

    Sama. Buku yang ada pada saya jg terbitan itu tahun yang sama. tapi dihalamn yg kamu maksud, tidak ada tulisan seperti itu.

    Bagaimanapun, kutipan itu tetap ada di halaman 144-145 buku Anda. So get straight to the point with that.

    Maksud saya, Udara bebas itu merupakan konduktor/kawat pengahantar yang bermuatan arus listrik, dimana manusia yang berperan sebagai netronnya.

    [...]

    Begini, coba kamu bayangkan. Udara itu, tanah tempat berpijak di sekitar ka’bah itu, sebagai Kawat penghantar arus dalam rangkaian kaidah tangan kanan. lalu, manusia sebagai muatan listrik negatif, ka’bah sebagai pusat lingkran

    Itu namanya analogi maksa. Orang thawaf dan Ka’bah bisa disamakan dengan apa saja. Arus melingkar cuma salah satu contoh.

    Orang thawaf bisa disamakan dengan tata surya, dengan struktur atom, dengan aliran mobil di Bundaran HI, dengan orang lari keliling lapangan bola. Tidak ada alasan khusus bahwa ia harus diartikan sebagaimana Anda mengartikannya.

    Satu lagi, netron (neutron) itu partikel bermuatan netral. Benda bermuatan netral tidak akan bisa menghasilkan gejala elektromagnet… (-_-)

    itu, yang saya maksud jangan terlalu kaku dalam menfsirkan sesuatu. Jadi, kalo kamu masih berfikir dengan cara itu, mau bagaimanapun, saya nggak bakal bisa memberi another perspektif ;)

    Kayaknya bukan saya yang terlalu kaku, deh. Melainkan Anda yang terlalu luas dalam beranalogi. (-_-)

    Kalo disama-samain, semua hal juga bakal ketemu miripnya. Saya juga bisa menafsirkan sepakbola sebagai bentuk ajaran Islam. Karena setiap kali latihan, para pemainnya berlari keliling lapangan, sama dengan gerakan thawaf.

    Nah, ini dia masalahnya. Cerita lain itulah yang dibahas oleh Pak mustafa. Sementara kamu mengabaikan cerita lain itu :)

    TAPI ITU MEMANG CERITA LAIIIINNNNN….!!!!! :twisted:

    Pak Mustofa menulis soal kaidah tangan kanan (KTK). Menurut beliau, KTK membutuhkan konduktor di tengah agar bisa terjadi. Sebenarnya, tidak!

    Jika maksud beliau sebenarnya KUMPARAN atau SOLENOIDA yang MELILIT KONDUKTOR logam, salah kaprah kalau diatributkan ke kaidah tangan kanan. Kaidah Tangan Kanan tidak butuh konduktor di tengah supaya ada medan magnet ke atas. Lebih baik jika beliau langsung bilang “orang thawaf itu seperti arus kumparan yang mengelilingi konduktor Ka’bah”. Habis perkara.

    Kalau begitu, saya juga bakal maklum. Masalahnya beliau membawa-bawa Kaidah Tangan Kanan. Sudah begitu terbalik, pula. :|

    Sora, tolong bedakan bergerak dengan tujuan dengan beda yang tanpa tujuan. Entah kamu bisa atau enggak :cool:

    *sigh*

    Saya nggak tertarik menanggapi ini, karena dari kemarin sudah saya jelaskan. Tapi sudahlah… disingkat saja.

    Sebuah benda bermuatan yang bergerak akan menimbulkan medan magnet. Tak peduli geraknya beraturan, zigzag, mondar-mandir, punya tujuan, ataupun muter-muter model thawaf.

    Jika suatu benda yang memiliki muatan bergerak, maka dia akan menghasilkan medan magnet. Titik.

    Saya akui itu. Dan lagi, sebenarnya, uraian kamu dalam entry nggak salah. Secara Ilmiahnya memang begitu. cuma cara pandang saja yang berbeda sehingga penjabaran pak mustafa terkesan menyedihkan akibat kesalahan yang dibuatnya sendiri. ;)

    ……

    Yeah, right. So let’s all throw our hands to the sky, and scream “What the hell?”

    What an amusement.

    nggak tahu. tapi buku beliau masih terus terbit. Coba aja ke kontak personnya kalo kamu emang peduli dengan nasib Umat yang kami pikir di BODOHi.

    Bagaimana ya. Sebenarnya saya nggak punya kewajiban apa-apa juga sama mereka. De jure dan secara kultur, saya masih muslim. Tapi, de facto, saya ini agnostik… :roll:

    Harusnya umat Islam berterimakasih karena masih ada ‘orang luar’ yang peduli pada mereka. Bukannya bersikap menantang model begini. :lol:

    [/mock]


  85. pada Oktober 14, 2008 pada 6:56 pm sora9n

    @ K. geddoe (lagi)

    Oooh, it IS getting personal! :o

    Take cover! Take cover!

    Heh, heh… :mrgreen:

    *somewhat smells like infotainment reporter activity*

    I thought Mr. Sora here got a tsundere childhood friend already? :mrgreen:

    Lebih cocok disebut genki, ah. Tsundere dari mana? :o

    BTW, percayalah. Punya childhood friend itu nggak senikmat yang digambarkan di anime-anime…

    *neraka dunia di masa SD, itu* x(

    :::::

    @ lambrtz (#75)

    Tak mengapa, asal dipahami saja maksudnya. ^^

    Bagaimanapun, saya nggak enak juga kalau jadi banjir OOT. Ingat saja bahwa ini diskusi serius, dan mbak-nya sendiri terang-terangan menyatakan hal tersebut.

    Jadi ya… begitu deh. :mrgreen:

    :::::

    @ yang tadinya ketelen akismet (#78 agiek, #81 dana)

    Sudah saya bebaskaan… :o

    Makanya, jangan OOT. Dikenalin akismet, noh. :lol:

    *ternyata cerdas juga dia*

    :::::

    @ komen #76, #77, #79, #80

    Karena ditujukan buat mbak Snowie, nggak usah saya jawab ya.

    :::::

    @ goldfriend

    Menghubungkan Agama-Sains itu berat, karena mensyaratkan 2 hal yang cukup sulit : kompetensi keilmuan (sains) dan kompetensi keimanan (pemahaman agama).

    Yup, itu dia. Seperti yang sudah saya singgung di komen #14 untuk ManSup. ;)

    Pertanyaannya, apakah para juru dakwah/apologi kita punya kualitas seperti itu. Tanpa maksud merendahkan, IMHO jawabnya lebih sering berupa “tidak”. :(

    Kita tak setiap hari menemukan ilmuwan religius model de Chardin, Dobzhansky, atau Lemaitre. Paling lumayan mungkin Bucaille… itu pun dia sering dikritik karena metode tafsirnya cenderung ekstrapolatif.

    Lalu apakah keimanan kita akan bertambah kalau sudah mendapat konfirmasi positif dari sains ? Saya kok menanggapinya tidak seperti itu.

    IMHO sih, hype-nya ada di obyektivitas sains itu sendiri. Kalau agama bisa sejalan dengan sains, setidaknya dia dekat dengan kebenaran yang diakui secara obyektif. Ini yang diincar sebagai ‘bukti kebesaran’.

    Katakanlah seseorang menemukan petunjuk tentang Big Bang dalam Al-Qur’an. Dia bisa mendatangi temannya yang beragama lain dan menyatakan:

    “Lihat, kitab suci saya menjelaskan terjadinya Big Bang. Ini menunjukkan agama saya benar. Dia memvalidasi kebenaran yang baru diketahui berabad-abad setelahnya.”

    Di sini, keyakinan pada kitab suci bertambah, karena kitab melakukan sesuatu yang out of ordinary. Dia mengamini kebenaran yang semua orang bisa sepakat dengannya, yakni gejala alam hasil penemuan sains. (o_0)”\

    IMHO, CMIIW.


  86. pada Oktober 14, 2008 pada 7:12 pm K. geddoe

    Ah, dilema seperti ini kadang terjadi! Gemas dan ingin rasanya menanggapi, tapi takut merusak ritme diskusi! :(

    Saya tunggu Mbak Snowienya lagi sajalah. :)


  87. pada Oktober 15, 2008 pada 6:56 am dnial

    Back to serious, sorry for the OOT.

    Ilmu yang setengah-setengah memang berbahaya. Suatu ketika, seorang alumni kampusku melakukan kesalahan fatal saat merancang fasilitas pengolahan limbah.

    It was honest but fundamental mistake. Kegagalan untuk memahami perbandingan dari US Metrics ke Metrik. Kegagalan untuk memahami bahwa 1 pound tidak sama dengan 0.5 kg.

    Well, kita semua di SD sudah belajar bahwa 1 pound adalah 0.5 kg, ternyata itu hanya pendekatan. Begitu pula pi adalah 22/7 atau 3.14 hanyalah pendekatan, karena pada dasarnya penghitungan pi lebih rumit dari itu.

    Pendekatan dalam buku itu bisa dipakai untuk hal2 yang nggak esensial. Tapi jika misal buku itu digunakan dalam debat atau diskusi yang lebih serius, apalagi kalau kita menganggap buku pak Agus sebagai ultimate truth…

    Cukup susah menjelaskan ilmu yang kita miliki pada orang awam. Ilmu kita terangkai begitu kuat dalam otak dengan konsep-konsep yang saling berkaitan. Kita harus menyederhanakan konsep2 keilmuan agar mereka paham. Kadangkala beberapa konsep kunci dihilangkan karena susah dijelaskan. Tapi biasanya ada disclaimer (kalo aku seh) bahwa untuk memudahkan beberapa konsep disederhanakan, dan mungkin salah dan berbeda dengan konsep asli, tapi in sake of pembahasan masalah, konsep ini bisa digunakan.

    Dilematis memang, If we get too serious, common people won’t understand, if we try to be simple, we have to ommit few key concepts and maybe mislead.

    IMHO, Disclaimer is the key.


  88. pada Oktober 15, 2008 pada 9:31 am spidolhitam

    Biasanya buku Agus Mustofa diletakkan di tumpukan buku-buku Best Seller di toko-toko kayak Gramed, dulu sempat baca dikit bukunya yang judulnya “Akhirat Tidak Kekal”, itupun cuman nebeng baca di Gramed, nah dari buku itu saya sedikit tahu kalau si Agus Mustofa ini orang “sesat”, kepada siapapun anda bertanya, saya yang gak paham fisika saja tahu kalau ranah akhirat bakal jadi konyol kalau coba dibahas atau difisika-fisikakan, sementara di kubu wahabi, buku-buku Agus Mustofa, sudah di cap “sesat”, karena memang tafsiran Qur’an yang dipakai memang terkesan semau angan-angan dan fantasinya sendiri.

    Dari judul-judul bukunya seperti Ternyata Adam Dilahirkan, Bersujud di Sidratul Muntaha, dll, semuanya sejenis, bahkan gak sungkan-sungkan Agus Mustofa memasukkan film-film science ficiton kayak Star Trek dalam bukunya.

    Sedihnya kebanyakan orang yang saya ajak ngobrol, kebanyakan bilang, bahwa pembahasan Agus Mustofa ini ilmiah karena banyak argumen dan kutipan ilmuwan, dan dalam waktu bersamaan juga haq, karena disertai dalil-dalil dari Al-quran dan hadist, padahal … ah … apa namanya ini mas? Fanatisme? Atau ada istilahnya sendiri gak?

    *jadi pengen beli buku paket fisika SMA, sama terjemahan kitab Riyadus Salihin*


  89. pada Oktober 15, 2008 pada 11:26 am gentole

    *jadi pengen beli buku paket fisika SMA, sama terjemahan kitab Riyadus Salihin*

    Idem.


  90. pada Oktober 15, 2008 pada 3:55 pm reikira

    wah… tinggi!

    tapi mas, tadi mas bilang

    IMHO, fisika itu lebih asyik jika didekati tanpa matematika. Sebab mainnya di logika + imajinasi (bukannya rumus)

    IMHO juga, matematika itu pake logika juga loh… malah enakan matik logikanya. soalnya kalo matik (IMO loh ya), asal dibikin persamaan, pasti bisa ketemu jawaban dari persoalan2 apa pun.

    wah OOT yah?

    maap yah, padahal diskusi di atas lagi seru2nya tuh :)


  91. pada Oktober 15, 2008 pada 5:01 pm sora9n

    @ K. geddoe

    Well, saya pun pernah mengalaminya. So cheers. :lol:

    :::::

    @ dnial

    Back to serious, sorry for the OOT.

    Ah, tidak mengapa. Jangan terlalu dipikirkan. :P

    Well, kita semua di SD sudah belajar bahwa 1 pound adalah 0.5 kg, ternyata itu hanya pendekatan. Begitu pula pi adalah 22/7 atau 3.14 hanyalah pendekatan, karena pada dasarnya penghitungan pi lebih rumit dari itu.

    Pendekatan dalam buku itu bisa dipakai untuk hal2 yang nggak esensial. Tapi jika misal buku itu digunakan dalam debat atau diskusi yang lebih serius, apalagi kalau kita menganggap buku pak Agus sebagai ultimate truth…

    Kekhawatiran saya sama dengan masbro. Sejauh yang saya lihat, pembelaan agama dengan (pseudo)sains itu sendiri membawa dua masalah.

    Di satu sisi kalangan awam percaya pada “ilmiah”-nya; di sisi lain mereka menggabungkannya dengan belief/keyakinan. Di sini pseudosains bisa ‘naik pangkat’ sebagai ultimate truth — i.e., dianggap bukti keimanan.

    Ini mengingatkan saya pada para pendukung HY. Mereka jadi seolah “mendogmakan” karya beliau… bisa jadi begitu scornful dan bigoted kalau pendapat beliau dipertanyakan. :roll:

    Cukup susah menjelaskan ilmu yang kita miliki pada orang awam. Ilmu kita terangkai begitu kuat dalam otak dengan konsep-konsep yang saling berkaitan. Kita harus menyederhanakan konsep2 keilmuan agar mereka paham. [..]

    Dilematis memang, If we get too serious, common people won’t understand, if we try to be simple, we have to ommit few key concepts and maybe mislead.

    …dan saya mengalaminya waktu mbahas QM tempo hari. :lol:

    Bagaimana caranya menjelaskan sebaik mungkin dalam bahasa populer, ini yang susah. Belum lagi kalau ternyata ada honest mistake. IMHO memang sebaiknya diberikan disclaimer, supaya pembaca juga berhati-hati. :)

    IMHO, Disclaimer is the key.

    Yup, yup. ^^

    :::::

    @ spidolhitam

    Jadi ingat, kemarin google tentang beliau buat follow-up-nya tulisan ini. Ternyata beliau punya pandangan-pandangan yang rada bertabrakan dengan konsep Islam mainstream. ^^;;

    (e.g. Nabi Adam sebenarnya dilahirkan, tidak ada siksa kubur, dst.)

    Kaget juga. Saya kira, beliau sekadar insinyur konservatif beragama Islam. :P

    bahkan gak sungkan-sungkan Agus Mustofa memasukkan film-film science ficiton kayak Star Trek dalam bukunya.

    Weleh… :mrgreen:

    Sedihnya kebanyakan orang yang saya ajak ngobrol, kebanyakan bilang, bahwa pembahasan Agus Mustofa ini ilmiah karena banyak argumen dan kutipan ilmuwan, dan dalam waktu bersamaan juga haq, karena disertai dalil-dalil dari Al-quran dan hadist, padahal … ah … apa namanya ini mas?

    Wah, kalau istilahnya saya nggak tahu. Tapi, kalau penjelasannya, kurang lebih seperti reply saya ke mas dnial di atas. (o_0)”\

    Karena yang menyampaikan adalah insinyur nuklir, orang jadi lebih mudah percaya. Ditambah lagi dikaitkan dengan keyakinan agama. Ya… jadi seolah ada ikatan emosional dengan ‘kebenaran’ yang disampaikan, begitu. ^^;;

    :::::

    @ gentole

    IMHO sih, kalau punya adik/keponakan, minta pinjem aja. Kalau sudah naik kelas kan bukunya nggak dipakai lagi. :P

    :::::

    @ reikira

    IMHO juga, matematika itu pake logika juga loh… malah enakan matik logikanya. soalnya kalo matik (IMO loh ya), asal dibikin persamaan, pasti bisa ketemu jawaban dari persoalan2 apa pun.

    Sebenarnya memang begitu. Hanya saja, matematika itu sendiri hakikatnya cenderung abstrak. Dia harus dipetakan dulu (misal: numerik, grafik, geometri), baru bisa dibayangkan. :)

    Nah, Matematika Fisika, merupakan pemetaan matematika ke dalam gejala fisika (ini ada kuliahnya sendiri). Jadi yang penting di sini gejala fisiknya dulu, baru dihubungkan dengan matematika. ^^

    Misalnya:

    Gejala:

    Dua buah benda yang bermuatan sama akan saling tolak-menolak. Tetapi, semakin jauh benda dipisahkan, ternyata gaya tolaknya makin lemah.

     
    Matematika:

    Kemudian diteliti, ternyata tolakan ini berbanding terbalik dengan kuadrat jarak. Berarti F ~ 1/r^2

    Setelah ini, dilihat hubungannya dengan variabel lain. Ternyata gaya F sebanding dengan konstanta k dan muatan q1, q2. Berarti F ~ k.q1.q2

    Baru dari sini dapat bentuk persamaan selengkapnya:

    F = (k. q1. q2) / r^2

    Jadi yang penting itu konsepnya dulu. Kalau konsep fisikanya sudah jelas, baru bisa dipetakan ke dalam bentuk matematika. ^^

    wah OOT yah?

    maap yah, padahal diskusi di atas lagi seru2nya tuh :)

    Ah, nggak apa-apa. Masih lumayan nyambung kok. :P


  92. pada Oktober 15, 2008 pada 7:27 pm secondprince

    Maafkan komen saya sebelumnya :)
    *Yang OOT itu* :mrgreen:

    Setelah menyimak diskusi Mas Sora dan Mbak Snowie, dan pendapat saya
    Mas Sora sejauh ini berada pada sudut pandang yang mengkritisi kaidah-kaidah Sains yang dipakai oleh Pak Mustofa. Ini bagi saya masukan yang baik, karena ternyata orang sekaliber Pak Mustafa itu, bisa juga membuat kekeliruan. Hanya itu yang mampu saya tangkap dari postingan Mas Sora
    Mbak Snowie sepertinya berada pada sudut pandang lain yang belum saya mengerti sepenuhnya. Saya rasa masalahnya bukan harus memahami buku Pak Mustofa dengan cara yang bagaimana atau dengan analogi yang melompat-lompat. Maaf kesannya itu jadi kayak Mitos, memahami sebuah peristiwa dengan analogi-analogi yang tidak memiliki landasan yang shahih bagi saya itu tampak seperti Mitos. Bukan berarti jelek. Hanya saja kalau memang begitu maka buku tersebut hanya sekedar bacaan yang tergantung selera semata atau tergantung apriori kita.

    Kalau dari awal kita tersugesti dengan ide umum sang Penulis maka kita akan tertarik dan suka dengan buku tersebut. Walaupun mungkin pada saat itu kita tidak menyadari kekeliruan yang dibuat penulis. Seandainya ada orang yang mengkritisi dan mengoreksi kekeliruan2 yang dibuat Sang Penulis maka sudah jelas hal itu adalah tambahan info yang menarik. Menarik untuk diteliti lebih lanjut siapa yang benar. Hanya saja ego kita bisa sedikit terganggu karena kritikan itu sudah menurunkan sugesti kita terhadap penulis. Jika kita terlalu sibuk dengan ego ini maka konsekeunsinya kita juga akan bias dalam memahami maksud dan sudut pandang si pengkritik.

    Bagi saya Mbak Snowie tidak perlu menganjurkan siapapun untuk memahami dengan cara atau analogi yang bagaimana. Karena itu semua sudah di luar sudut pandang yang dibahas Mas Sora. Setidaknya itu yang saya tangkap dari menyimak diskusi anda berdua.

    Opini saya ini hanyalah kata-kata pribadi dan saya harap tidak memberi kesan menydutkan bagi siapapun. Saya belajar sesuatu dari diskusi anda berdua.
    Salam


  93. pada Oktober 16, 2008 pada 11:48 am toim

    kayaknya kudu dipertemukan dan di-debatin nih antara bung sora ama bpk Mustofa.semacam debat pilkada gitu :)


  94. pada Oktober 17, 2008 pada 9:56 am Snowie

    Aduh maaf saya kelamaan. Abis banyak hal yang harus di kerjakan di dunia nyata sih :P

    BTW, karena ini diskusi serius, dan saat ini saya nggak punya banyak waktu untuk OL lama-lama, saya pending dulu ya jawabnya.

    Semoga, saya sedikit ada luang….
    Sehingga bisa submit reply untuk semua komen yang ada hubungannya dengan saya…

    OK ;)


  95. pada Oktober 19, 2008 pada 12:00 am Putra

    biar dakwahnya terkesan smart kalee :lol:


  96. pada Oktober 20, 2008 pada 10:03 am Horocuxs

    [...] Pusaran Enerfi Ka’bah |   Tulisan ini bertujuan membahas beberapa masalah inti yang menurut sora9n dan beberapa rekan lainnya merupakan misleading dari penjabaran Pak Mustafa dibukunya yang berjudul [...]


  97. pada Oktober 20, 2008 pada 10:30 am Snowie

    Link


  98. pada Oktober 20, 2008 pada 10:33 am Snowie

    :: K. geddoe

    Komentar yang ini dibalas dengan baik, ya?

    Baiklah. Akan coba saya usahakan.

    Posisi Mbak di sini sebenarnya tidak jelas.

    Sepertinya begitu. saya baru menyadarinya ketika kembali membaca komentar saya dari awal. Apalagi soal kalimat “jangan terlalu serius” itu. Saya menyesal mengatakannya. Sebenarnya saya cuma berusaha untuk tidak terlalu bersitegang dengan bahasan ini, tapi akhirnya malah seperti ini.

    Posisi Mas Sora, saya, dan kebanyakan yang hadir di sini jelas; sains yang ditawarkan Pak Mustafa adalah maksa. Kita tetap hargai usaha dan niat baiknya, tapi tetap mengkhawatirkan bahwa ini akan menyesatkan publik…
    [...]
    Jadi, sebenarnya posisi Mbak di mana? Sebab kesannya hanya menjawab satu-satu poin yang diberikan Mas Sora tanpa direksi yang jelas; ambigu.

    Posisi saya? aduh bingung juga sih. Tapi, coba baca dulu tulisan saya yang memang diniatkan untuk memberikan penjelasan lebih detil tentang pendapat saya.

    Setelah itu, bisa dilihat posisi saya dimana ;)

    Membalas bagian-bagian komentar orang tanpa arah yang jelas itu memberi kesan bahwa Anda cuma tidak mau kalah, lho.

    Sebenarnya, komen saya yang tahap dua itu adalah komentar spontan. jadi memang sangat terkesan nggak punya acuan yang jelas. Tapi, di dalam tulisan tersebut, saya benar-benar berusaha untuk tidak lagi bias.

    BTW, Bitter and wry, a tsundere childhood friend, itu artinya apa?

    R.S.V.P [Répondez s’il vous plaît :mrgreen:

    :: sora9n @ all

    satu-dua komen yang niatnya joke saja bisa ditangkap sebagai insult. Ini sama saja dengan nggak produktif.

    sebenarnya yang bikin saya merasa nggak senang itu karena dijadiin bahan taruhan. walau niatnya mungkin cuma bercanda.

    *Rada elergi sama taruhan saya*

    :: gentole | lambrtz

    saya mau tanya nih sama Mbak, sebenarnya apa sih implikasinya atau akibatnya apabila ternyata benar fenomena tawaf itu bisa diterjemahkan, dianalogikan atau bahkan dijelaskan dengan fisika? Kalau memang ada, apa?

    kata pengarang buku tersebut begini:

    “Saya harap buku ini bermanfaat buat kawan-kawan yang ingin menambah wawasan dan ingin selalu mendiskusikan ilmu Allah, untuk meningkatkan kualitas keagamaannya. Khususnya kepada mereka yang mau pergi Haji atau Umarah, barangkali buku ini bisa memberi sedikit “peningkatan emosi” dalam mengahayati kedekatannya dengan Ka’bah.”

    That’s it.

    :: Nazieb

    Tolong baca Tulisan saya yang dimaksudkan sebagai bahan pembanding dalam tulisan sora ini. ada link nya kok ;)

    Jangan gara-gara istilah fisika yang digunakan, lantas harus benar-benar Ilmiah.

    Saya mengkoreksi kalimat saya yang ini dan menyesalinya.


  99. pada Oktober 20, 2008 pada 10:36 am Snowie

    :: sora9n

    Nggak ada hubungannya dengan benar atau salah. Anda tahu saya nggak main-main soal komentar. Lihat nomor #74.
    …. Anda nggak sopan dengan berupaya mengungkit identitas saya di dunia nyata… THAT’s the point.

    Ada! buktinya kamu nggak menghapus komennya SP, lambrtz, gentole ddl yang juga nggak berhubungan dengan tulisan disini. Kamu senang-senang aja dan bahkan menanggapinya. Secara, komentar mereka itu nggak mengandung kebenaran yang nyata.

    lagian saya nggak berupaya mengungkit identitas kamu di dunia nyata kok. Bagaimana mungkin saya yang berada ribuan kilometer jaraknya dan terpisah lautan bisa mengungkap siapa kamu di dunia nyata dan membawanya ke blogosphere (spelling?). :cool:

    Saya berkomentar begitu karena membaca komentar mereka-mereka itu. Lalu, dengan sedikit Intuisi dan logika, saya mengemukakan ide baru yang rasanya lebih masuk akal daripada asumsi mereka-mereka itu. Dan berdasarkan pernyataan SP, kalimat itu tercipta. That’s It

    BTW, saya beri tahu sesuatu. Tindakan kamu menghapus komen saya yang itu membuat saya makin yakin dengan pendapat saya. Karena kalo komen itu nggak di hapus, maka sangat besar kemungkinannya untuk kenyataan itu terungkap di blogospere ini. Setidaknya, mereka-mereka yang memang berasal dari dunia nyatamu akan mengkonfirmasi hal tersebut.

    ~ * ~

    Seperti apa hubungannya? Lihat fisikanya… ternyata seperti di atas. Itu dia masalahnya
    [...]
    Wah, nggak bisa begitu. Kalau mau membahas ilmu alam, nggak boleh setengah-setengah. Harus benar, bisa dipertanggungjawabkan, dan sesuai konteks.

    Sudah baca link yang saya kasih?
    kalo belum, tolong baca dulu baik-baik. karena semua yang perlu dijelaskan saya bahas disana.
    …

    sudah? gemana menurutmu?

    Di satu sisi menganalogikan Kaidah Tangan Kanan, tapi ketika di-complain ternyata pakai dalih lain: “Oh, ada yang ketinggalan. Ini kurang lengkap. Seharusnya…”

    ITU PUN beliau masih terbalik menjelaskan Kaidah Tangan Kanan!

    kalo beliau menjelaskan semuanya, ya nggak jadi ngomongin soal Tawaf dan ke musjaban doa di multazam dong, pembaca awam fisika malah jadi tambah pusing…

    BTW, masih berfikir kalo Kaidah Tangan Kanan-nya terbalik? :)


  100. pada Oktober 20, 2008 pada 10:37 am Snowie

    THAT’S WHERE YOU FAIL TO UNDERSTAND…!!!!

    Kalau orang mau membawa ilmu alam, dia harus menjelaskan dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai misleading. Ilmu alam yang salah kaprah BERPOTENSI DIGUNAKAN untuk MENIPU.

    Ingat dokter bedah palsu yang main suntik silikon. Ingat Scientology! Ingat “menentukan perilaku berdasarkan golongan darah”. Ingat DJOKO SUPRAPTO DAN BLUE ENERGY-NYAAAAAAA…!!!!

    Itu jadinya kalau ilmu alam disalahgunakan. Dan yang di postingan di atas itu… itulah kalau ILMU PALSU DIBAWA-BAWA KE RANAH AGAMA. Are we clear here!?

    heeeeee….. *kaget*

    Ya nggak mesti menjerit-jerit begitu dong menjelaskannya. Siapa dulu coba yang bicara soal nettiquete? apa karena ini blog mu sendiri sehingga boleh bersikap sesukanya? Mana banyak penekanan kata lagi…

    *bersyukur sudah menghabiskan sebatang Magnum classic, jadi bisa rada santai baca tulisan ini* :P

    Itu namanya analogi maksa. Orang thawaf dan Ka’bah bisa disamakan dengan apa saja. Arus melingkar cuma salah satu contoh.

    Orang thawaf bisa disamakan dengan tata surya, dengan struktur atom, dengan aliran mobil di Bundaran HI, dengan orang lari keliling lapangan bola. Tidak ada alasan khusus bahwa ia harus diartikan sebagaimana Anda mengartikannya.

    Alasannya adalah kerena pak mustafa membicarakan soal Multazam yang Mustajab karena faktor orang bertawaf mengelilingi Ka’bah yang menghasilkan gelombang elektromagnetik dan bagian-bagiannya cocok dengan kaidah tangan kanan.

    lagian, Kalo bikin analogi dengan tata surya dan struktur atom,aliran mobil di bundaran HI, atau lari keliling lapangan bola, maka akan repot menjelaskan arah medan magnet yang dihasilkan. Paling ujung-ujungnya balik lagi ke Kaidah Tangan Kanan terkait arah putaran dan Pusat medan magnetnya :mrgreen:

    yang ada, Tata surya, orang keliling lapangan bola itu dan cs, kalo mau membahas soal energi magnetik yang dihasilkan juga musti menggunakan kaidah tangan kanan toh?

    Satu lagi, netron (neutron) itu partikel bermuatan netral. Benda bermuatan netral tidak akan bisa menghasilkan gejala elektromagnet… (-_-)

    Maaf, maksud saya elektron. “Netron” tercipta karena saya memikirkan kata “negatif” dan “elektron” pada saat yang bersamaan. :P

    …Melainkan Anda yang terlalu luas dalam beranalogi. (-_-)

    Masa sih? 0_o”\

    Saya juga bisa menafsirkan sepakbola sebagai bentuk ajaran Islam. Karena setiap kali latihan, para pemainnya berlari keliling lapangan, sama dengan gerakan thawaf.

    Lah, kok jadi gini?

    memangnya kita sedang membicarakan tentang sesuatu yang mengelilingi sesuatu itu adalah ajaran Islam?

    hanya karena sama-sama mengelilingi sesuatu? :lol: :lol:
    kalo cara berfikirnya begitu, aliran Islam yang berkeyakin bahwa bila sudah mengelilingi kompleknya sebanyak 7 kali, berarti sudah melakukan ibadah haji, bisa dipandang benar dong? aya-aya wae

    *tersenyum model anak SD di iklan Rinso anti noda*

    Jika maksud beliau sebenarnya KUMPARAN atau SOLENOIDA yang MELILIT KONDUKTOR logam, salah kaprah kalau diatributkan ke kaidah tangan kanan. Kaidah Tangan Kanan tidak butuh konduktor di tengah supaya ada medan magnet ke atas.

    Ah, apa iya :cool:
    coba ingat lagi baik-baik… eh, salah, baca lagi baik-baik penjelasan saya ybs.

    Kaidah Tangan Kanan tidak butuh konduktor di tengah supaya ada medan magnet ke atas.

    Nggak butuh bukan berarti nggak boleh ada khan?

    Lebih baik jika beliau langsung bilang “orang thawaf itu seperti arus kumparan yang mengelilingi konduktor Ka’bah”. Habis perkara.

    belum. kalo cuma gitu apa gunanya? memangnya kenapa dengan arus kumparan yang mengelilingi konduktor itu? Lalu bagimana dengan Energi Magnetik yang dihasilkan. bagaimana arah putarannya? dengan arah putaran yang sedemikian, kemana arah keluar energi magnetik yang dihasilkan?

    mesti dijelaskan khan?

    Sama aja dong seperti dokter yang bilang “minum nih obat!” tanpa menjelaskan kenapa. Bingung dong pasiennya. trus mikir, memangnya saya sakit apa? :mrgreen:

    Saya nggak tertarik menanggapi ini, karena dari kemarin sudah saya jelaskan. Tapi sudahlah… disingkat saja.

    Sebuah benda bermuatan yang bergerak akan menimbulkan medan magnet. Tak peduli geraknya beraturan, zigzag, mondar-mandir, punya tujuan, ataupun muter-muter model thawaf.

    masalahnya itu bukan pada gerakan per se. tapi, gerakan melingkar teratur yang berlawanan jarum jam. dan gerakan model itulah yang menghubungkannya ke Kaidah Tangan Kanan.

    Yeah, right. So let’s all throw our hands to the sky, and scream “What the hell?”

    nggak begitu juga kali….

    De jure dan secara kultur, saya masih muslim. Tapi, de facto, saya ini agnostik… :roll:

    Maksudnya, masih di bilang muslim karena Ikut merayakan Idul Fitri? Masih Puasa di bulan ramadhan? gitu?

    Tapi, menilik pengertian kamu itu keadaan “muslim” adalah kultur? dengan kata lain budaya?

    kalo semua orang berfikir gitu, nggak heran orang yang solatnya sekali seabad masih berani ngaku Islam. walaupun nggak jarang ibadah yang dilakukannya nggak berdasarkan keyakinan pada Tuhan. Khan hanya Kultur… yang penting Udah terlihat melakukan sholat, trus nggak ikut-ikutan melaksanankan Ibadah agama lain…. udah deh islam….

    Gitu ya?

    Juga, puasa kalo lagi minat aja atau karena pengen berhemat. Tanpa adanya keyakinan bahwa Puasa yang dilakukannya itu semata-mata kerena Tuhannya menyuruhnya begitu. Dan Yang paling menentukan dari setiap perbuatan adalah Niat.

    Saat niatnya nggak karena Allah, maka itu bukan ibadah yang bisa diterima di sisiNya.

    *hayah, malah jadi ceramah* :P

    trus, saya jadi meragukan istilah agnostik yang saya pahami.

    berhubung kamu menyinggungnya,

    bagi saya, agnostik adalah suatu paham dimana keberadaan Tuhan itu nggak bisa dibuktikan secara pasti atau empiris.

    Bisa tolong jelaskan sekali lagi agnsotik versi kamu itu seperti apa?

    Harusnya umat Islam berterimakasih karena masih ada ‘orang luar’ yang peduli pada mereka. Bukannya bersikap menantang model begini. :lol:

    Oh, baiklah sora….
    Terima kasih telah dengan tulus perduli pada kami, para umat muslim yang gampang dibodohi ini…
    Semoga Tuhan membalasmu dengan kebaikan yang banyak…
    :mrgreen:

    Lebih cocok disebut genki, ah.

    Apa genki itu?

    Ingat saja bahwa ini diskusi serius, dan mbak-nya sendiri terang-terangan menyatakan hal tersebut.

    loh, sebelum komen pemberitahun Pending Reply itu, yang saya maksud dengan kata serius khan pernyataan bahwa taruhan yang mereka lakukan itu benar-benar Insulting. Diskusinya serius juga, tapi saya nggak pernah menyatakannya terang-terangan sebelumnya.


  101. pada Oktober 20, 2008 pada 10:39 am Snowie

    :: K. geddoe

    Ah, dilema seperti ini kadang terjadi! Gemas dan ingin rasanya menanggapi, tapi takut merusak ritme diskusi!

    Saya tunggu Mbak Snowienya lagi sajalah.

    kalo emang mau menanggapi, nggak usah nungguin saya aja, nggak pa-pa… :)
    Secara, saya kesempatan OLnya nggak bisa sesering dan selama orang-orang disini. Bisa-bisa idenya G jadi basi kelamaan nungguin saya :mrgreen:

    Lihat sendiri khan ;)

    *numpang OOT dikit sora*

    ngomong-ngomong, G, kamu udah baca tanggapan saya buat kamu di Postingan nya Mas gentole yang di Ekaristi?
    Nggak perlu di tanggapi sih, tapi saya ingin memastikan, kalo kamu sudah membacanya. Karena sia-sia rasanya saya memikirkan jawaban tersebut kalo kamu nggak baca. Khan kamu yang nanya? :P

    :: spidolhitam

    nah dari buku itu saya sedikit tahu kalau si Agus Mustofa ini orang “sesat”,

    Hati-hati menilai orang. jangan karena sesuatu yang tidak pernah anda ketahui sebelummnya, dengan mudahnya anda menyebut orang lain sesat.

    … bahkan gak sungkan-sungkan Agus Mustofa memasukkan film-film science ficiton kayak Star Trek dalam bukunya.

    jangan salah, banyak Ide-ide dalam science fiction itu yang akhirnya menjadi pembahasan serius bidang keilmuan. saya nggak ingat pernah baca dimana, tapi kalo nggak salah ada hubungannya dengan “artificial Intelligence”

    :: sora9n @ dnial

    Back to serious, sorry for the OOT.

    Ah, tidak mengapa. Jangan terlalu dipikirkan.

    nggak adil!!!!! *protes*

    kenapa komen OOT saya dihapus?

    katanya serius soal pelanggaran hukum disclaimer blog ini. dan OOT termasuk disalah satunya.

    *menyembunyikan kenyataan kalo diri sendiri masih mengirimkan beberapa komen OOT*


  102. pada Oktober 20, 2008 pada 10:41 am Snowie

    :: SP

    Hanya saja ego kita bisa sedikit terganggu karena kritikan itu sudah menurunkan sugesti kita terhadap penulis.

    percaya atau tidak, saya nggak merasa Ego saya terganggu dengan kritikan yang diberikan sora. hanya saja, Kritikan yang diberikan sora ada yang sedikti tidak pada tempatnya, jadi dengan sedikit mencoba memberi pandangan lain, saya ingin melihat, apakah kesalahan itu benar-benar sefatal itu.

    Saya belajar sesuatu dari diskusi anda berdua.

    apalagi saya. Saya malah benar-benar belajat kembali. Terutama soal Fisika. udah Sekitar 5 tahun bow nggak belajar fisika secara Intensif. Terakhir, waktu kelas 3 SMA. –bimbel menjelang SPMB gak masuk itungan— :mrgreen:


  103. pada Oktober 21, 2008 pada 8:14 pm sora9n

    @ Snowie

    Ada kesalahpahaman di sini. Sebelum menjawab, ada yang mau saya luruskan dulu:

    Ada! buktinya kamu nggak menghapus komennya SP, lambrtz, gentole ddl yang juga nggak berhubungan dengan tulisan disini. Kamu senang-senang aja dan bahkan menanggapinya. Secara, komentar mereka itu nggak mengandung kebenaran yang nyata.

    Tadinya saya pikir bisa disudahi sampai situ. Ternyata enggak, justru berlanjut. Alhasil saya mengambil tindakan tegas mulai komen #74.

    Yang terlanjur dibiarkan + dijawab, mau diapakan lagi? :roll:

    lagian saya nggak berupaya mengungkit identitas kamu di dunia nyata kok.

    [...]

    Dan berdasarkan pernyataan SP, kalimat itu tercipta. That’s It

    Anda terang-terangan menunjuk nama. SP nggak. Itu sebabnya saya masih mendiamkan komennya dia, walaupun sebenarnya saya juga kurang suka.

    BTW, saya beri tahu sesuatu. Tindakan kamu menghapus komen saya yang itu membuat saya makin yakin dengan pendapat saya. Karena kalo komen itu nggak di hapus, maka sangat besar kemungkinannya untuk kenyataan itu terungkap di blogospere ini.

    Jadi, jika kamu menulis saya keponakannya Enda Nasution, dan saya hapus komen kamu. Kamu juga percaya saya keponakannya beliau?

    Think again. :lol:

    nggak adil!!!!! *protes*

    kenapa komen OOT saya dihapus?

    katanya serius soal pelanggaran hukum disclaimer blog ini. dan OOT termasuk disalah satunya.

    …Heh. Mas Dnial itu minta maaf atas komen OOT beliau yang sebelumnya. Yang sudah saya kirim ke akismet bersama dengan komen-komen lainnya.

    Kalau orang minta maaf, tentunya saya bilang “Ah, tidak apa. Jangan terlalu dipikirkan”. Justru komentar mas dnial yang ini yang bagus. Dia nggak OOT.

    Baca isinya dulu, dong? :o

    * * *

    Sekarang waktunya menjawab…

    Sudah baca link yang saya kasih?
    kalo belum, tolong baca dulu baik-baik. karena semua yang perlu dijelaskan saya bahas disana.
    …

    sudah? gemana menurutmu?

    Sudah. Masih banyak kurangnya.

    BTW, masih berfikir kalo Kaidah Tangan Kanan-nya terbalik? :)

    Masih.

    Mnemonik SMA yang kamu acu itu cuma penyederhanaan. Kalau penjelasan itu dipakai secara universal, maka kawat melingkar akan menghasilkan medan magnet homogen, yakni ke atas.

    Sedang kenyataan sebenarnya tidak demikian. Medan magnet yang dihasilkan oleh arus melingkar ada yang mengarah ke atas (di dalam cincin). Tetapi, di sisi lain, juga ada yang mengarah ke bawah (di luar cincin).

    Ya nggak mesti menjerit-jerit begitu dong menjelaskannya. Siapa dulu coba yang bicara soal nettiquete? apa karena ini blog mu sendiri sehingga boleh bersikap sesukanya? Mana banyak penekanan kata lagi…

    Sori, terbawa emosi.

    Ya, kamu belum pernah melihat orang-orang keras kepala, yang menolak teori evolusi, setelah baca buku Harun Yahya. Atau yang mati-matian membela Blue Energy-nya Djoko Suprapto, biarpun sudah diberitahu tentang Hukum Kekekalan Energi. Jadi maafkan kalau saya jadi bersikap kayak begitu. ;)

    lagian, Kalo bikin analogi dengan tata surya dan struktur atom,aliran mobil di bundaran HI, atau lari keliling lapangan bola, maka akan repot menjelaskan arah medan magnet yang dihasilkan.

    Enggak juga ah. Medan magnet yang dihasilkan arus dari dulu begitu-begitu aja. Asalkan mengacu ada kaidah tangan kanan, bentuk seaneh apapun bisa dideteksi arah medannya.

    Lagipula, waktu saya belajar medan elektromagnet dulu, beberapa kali disuruh menghitung medan magnet kawat yang bentuknya aneh-aneh (kotak, setengah lingkaran, dst.) Jadi harusnya seorang insinyur nuklir nggak kesulitan dengan itu. :P

    Lah, kok jadi gini?

    memangnya kita sedang membicarakan tentang sesuatu yang mengelilingi sesuatu itu adalah ajaran Islam?

    Saya cuma mencontohkan, bahwa pada skala ekstrim, keluasan analogi itu bisa disalahgunakan. Seperti apa? Ya seperti di atas itu.

    Segala sesuatu, kalau dicari-cari, pasti bakal ketemu miripnya. Seperti saya bilang, kamu terlalu luas dalam beranalogi. :o

    Nggak butuh bukan berarti nggak boleh ada khan?

    Masalahnya, Pak Agus menyatakan bahwa KTK terjadi jika konduktor dikelilingi arus melingkar. Padahal arus melingkar tanpa konduktor pun sudah cukup.

    Ditambah lagi: beliau sebenarnya memakai penyederhanaan untuk anak SMA, yang sudah dimodifikasi di sana-sini. Secara praktis, betul — tapi, secara konsep, salah.

    Itu yang saya bilang misleading. Kalimat beliau mensugestikan bahwa harus ada konduktor di tengah supaya medan magnet terbentuk.

    belum. kalo cuma gitu apa gunanya? memangnya kenapa dengan arus kumparan yang mengelilingi konduktor itu? Lalu bagimana dengan Energi Magnetik yang dihasilkan. bagaimana arah putarannya? dengan arah putaran yang sedemikian, kemana arah keluar energi magnetik yang dihasilkan?

    Gunanya? Beliau bisa menjelaskan analoginya dengan lebih elegan. Semuanya sama dengan yang beliau sampaikan. Ada arus melingkar, ada medan magnet di tengah kelilingan arus, ada konduktor di tengah, dan seterusnya.

    Orang bakal paham bahwa “konduktor” Ka’bah tidak sama dengan “konduktor” arus. Beliau bisa menyatakan bahwa medan magnet yang jadi fokus adalah di dalam kumparan (arahnya ke atas semua), mengabaikan yang di luar cincin (mengarah ke bawah).

    Sisanya, tinggal menjelaskan bahwa arah medan magnet kumparan (dan konduktornya) dapat ditentukan menggunakan KTK yang sebenarnya.

    Dengan itu saja beliau bisa meng-clear-kan banyak kesalahpahaman. Saya pun bakal maklum, kok, kalau penjelasannya seperti itu.

    masalahnya itu bukan pada gerakan per se. tapi, gerakan melingkar teratur yang berlawanan jarum jam. dan gerakan model itulah yang menghubungkannya ke Kaidah Tangan Kanan.

    Saya bilang di Nusakambangan bakal banyak medan magnet. Terus kamu bilang, “nggak bisa, karena geraknya nggak teratur”.

    Lalu saya bilang “benda bermuatan yang bergerak pasti menghasilkan medan magnet”. Terus kamu malah menghubungkan “bukan gerak per se”, harus gerak melingkar supaya bisa dihubungkan dengan KTK.

    …

    …

    Ini mah ngalor-ngidul. :roll:

    Tapi, menilik pengertian kamu itu keadaan “muslim” adalah kultur? dengan kata lain budaya?

    Saya bukan muslim. Enough said.

    Keyakinan saya adalah urusan saya pribadi. Tapi, jika kamu tanya ke orang-orang sekitar saya, pasti jawabannya: “dia itu Islam kok”; “Islam ah”; “di KTP-nya juga Islam”. Ini nggak menunjukkan kenyataan sebenarnya.

    Secara hukum dan pengenalan orang-orang di sekitar, saya ini muslim. Tapi, dalam hati saya, bukan.

    Jelas ya? ;)

    Bisa tolong jelaskan sekali lagi agnsotik versi kamu itu seperti apa?

    Sudahkah kamu belajar untuk bersikap lebih rendah hati sekarang?

    loh, sebelum komen pemberitahun Pending Reply itu, yang saya maksud dengan kata serius khan pernyataan bahwa taruhan yang mereka lakukan itu benar-benar Insulting. Diskusinya serius juga, tapi saya nggak pernah menyatakannya terang-terangan sebelumnya.

    Lho, iya ya? (o_0)”\

    Ah, saya lupa persisnya. Pokoknya intinya kamu nggak suka dengan taruhan tersebut. Ditambah lagi beberapa yang lain menambah-nambahi soal “happily ever after” antara kita berdua (saya nggak tahu kamu baca yang ini atau nggak).

    Jadi, dengan pertimbangan menjaga ritme diskusi, saya memutuskan untuk menghapus komentar-komentar tersebut. Mudah-mudahan jelas yah.


  104. pada Oktober 22, 2008 pada 4:13 pm J Algar

    Anda terang-terangan menunjuk nama. SP nggak. Itu sebabnya saya masih mendiamkan komennya dia, walaupun sebenarnya saya juga kurang suka.

    Maaf kalau sudah buat gak enak, sekali lagi saya minta maaf


  105. pada Oktober 22, 2008 pada 4:38 pm lambrtz

    @Sora9n

    Ada! buktinya kamu nggak menghapus komennya SP, lambrtz, gentole ddl …

    ~Snowie

    Untuk bagian saya, waktu itu saya hanya bercanda. Guyonan itu bukan saya yang buat; saya dulu hanya baca di blog lain (saya lupa blog mana) dan mengangkatnya lagi di sini.

    Saya minta maaf. Waktu itu saya belum sadar kalo Sora menjaga anonimitas, dan baru belakangan ini tahu. Lain kali saya akan lebih berhati-hati kalau bercanda.


  106. pada Oktober 22, 2008 pada 9:47 pm sora9n

    @ Agiek

    Komen dihapus sesuai permintaan. :P

    :::::

    @ J. Algar | lambrtz

    Nggak apa-apa, yang penting dimengerti aja sih. ^^

    Saya sendiri nggak keberatan kalau orang bisa menemukan identitas saya yang sebenarnya. Hanya saja, syaratnya satu: jangan disebar/dibicarakan di depan umum.

    Lebih lengkap soal ini bisa dibaca di postingan lama. ;)

    http://sora9n.wordpress.com/2008/01/18/anonimitas-dan-saya/


  107. pada Oktober 23, 2008 pada 8:17 am pras

    wahh seru..

    Pseudosains ? Relasi antara sains dan agama (kepercayaan) ?
    Wahh jadi inget film X Files, dan liat argumentasi Mulder ama Scully. :-D

    “Dengan demikian, fisika yang saya pelajari di kampus bersifat perpanjangan (extensive) dari yang dipelajari oleh rata-rata orang, yakni fisika SMA.”

    Hmmm.. Sama donk :-D


  108. pada Oktober 25, 2008 pada 10:14 pm rider_isha

    (T_T) kok bisa penulis buku macam itu keterima di teknik nuklir UGM. Memalukan…waktu belajar fisika di dia lulus nggak ya?


  109. pada Oktober 26, 2008 pada 12:06 am Masygul? « All That I Can’t Leave Behind

    [...] Oktober, 2008 · Tidak ada Komentar Dua orang ini tengah masygul… Dua orang ini tengah [...]


  110. pada Oktober 26, 2008 pada 11:50 am Ajaran

    Ketika sains menjadi alat syaitan….


  111. pada Oktober 26, 2008 pada 5:35 pm Snowie

    :: sora9n

    Think again.

    gak penting.

    Saya bilang di Nusakambangan bakal banyak medan magnet. Terus kamu bilang, “nggak bisa, karena geraknya nggak teratur”.

    Nggak! saya nggak pernah bilang gitu.

    yang saya katakan adalah:

    Sora, tolong bedakan bergerak dengan tujuan dengan beda yang tanpa tujuan. Entah kamu bisa atau enggak

    maksud dari prase “dengan tujuan” itu adalah memiliki pola tertentu. seluruh Orang yang tawaf, bergerak teratur dengan pola melingkar berbentuk spiral dan dengan arah yang sama.

    Sementara, bagaimana pola orang-orang di nusakambangan itu?

    tapi,sudah lah… gak penting :P

    *memasukkan “nggak penting” ke dalam recent favorite phrase*

    Keyakinan saya adalah urusan saya pribadi. Tapi, jika kamu tanya ke orang-orang sekitar saya, pasti jawabannya: “dia itu Islam kok”; “Islam ah”; “di KTP-nya juga Islam”. Ini nggak menunjukkan kenyataan sebenarnya.

    Secara hukum dan pengenalan orang-orang di sekitar, saya ini muslim. Tapi, dalam hati saya, bukan.

    memang khan, keyakinan itu berakar dari hati. Dan masalah hati adalah urusan pribadi. Nggak ada urusannya dengan pendapat orang lain.

    Sebenarnya, somehow, sebagai muslim, saya rada sedih dan menyayangkan mendapati kenyataan kalo kamu benar-benar bukan seorang muslim. awalnya saya menduga kalo kamu itu hanya kecewa terhadap prilaku sebagian ‘umat muslim’, sehingga jadi Agnostik. Makanya saat itu saya menyarankan tentang Al-Quran itu.

    Tapi, sekarang jelas bagi saya apa yang sebenarnya terjadi. Saran saya soal Al-quran padamu sama seperti saya menyarankan Injil pada seorang muslim convensional.

    yah, saya percaya kalo kamu bukan muslim. and nothing to do with that.

    Dan mulai saat ini, saya nggak akan lagi menyinggung/memberi saran apapun yang berbau-bau keyakinan terhadap agama padamu.

    Ditambah lagi beberapa yang lain menambah-nambahi soal “happily ever after” antara kita berdua (saya nggak tahu kamu baca yang ini atau nggak)

    Wah… Saya nggak sempat baca tuh. Saat saya datang lagi, sudah ada pemberitahuan bahwa komen yang OOT udah di hapus.
    Begitulah…


  112. pada Oktober 27, 2008 pada 5:44 am sora9n

    @ pras

    Seenggaknya X-Files itu bersifat hiburan. Beda dengan buku yang, pada dasarnya, meant to be taken seriously. ;)

    :::::

    @ rider_isha

    *angkat bahu* (-_-)

    :::::

    @ Ajaran

    Syaitan menyesatkan manusia dari kebenaran, dan manusia yang menyebar kebohongan adalah syaitan kecil.

    Kalau Anda lebih suka menerima ‘ajaran’ syaitan daripada hukum fisika, apa boleh buat. :lol:

    :::::

    @ Snowie

    Dan mulai saat ini, saya nggak akan lagi menyinggung/memberi saran apapun yang berbau-bau keyakinan terhadap agama padamu.

    Good. Well said.. :roll:


  113. pada Oktober 27, 2008 pada 6:35 am dana

    Halah, dah selesai. :P

    @Snowie

    Saya cuma mau bilang sesuatu yang salah adalah salah walau sebenar apapun tujuannya. :D


  114. pada Oktober 27, 2008 pada 4:12 pm Doh… « sora-kun.weblog()

    [...] Actually, I don’t want to talk about it. [...]


  115. pada Oktober 27, 2008 pada 9:12 pm Mihael "D.B." Ellinsworth

    Sekarang saya mengerti mengapa seorang sora.kun begitu malasnya membahas postingan ini.

    *Mencoba O.O.T. dan dilempar oleh mie instan*


  116. pada Oktober 28, 2008 pada 12:39 am sora9n

    ^

    Lha, ini belum seluruhnya. Masih ada satu postingan lagi di blog tetangga. XD

    *keder*


  117. pada Oktober 29, 2008 pada 12:36 pm Snowie

    :: dana

    Saya cuma mau bilang sesuatu yang salah adalah salah walau sebenar apapun tujuannya. :D

    Baiklah…. saya mengerti. :mrgreen:

    _
    _

    :: sora9n

    kalo dari saya, udah…


  118. pada November 1, 2008 pada 2:54 am Agama MLM - Theater of Dreams

    [...] dituduh menyama-nyamakan dua hal yang sebenarnya tidak berhubungan. Takutnya ada pihak-pihak yang masygul Categories: agama & tuhan Tags: atheis • bidadari • dosa • downline [...]


  119. pada November 9, 2008 pada 11:58 pm restlessangel

    wew, saya termasuk yg suka dg buku2nya agus mustofa jeh :lol: serius^^

    emang, latar belakang yg awam membuat saya cukup terpesona dg berbagai hal yg disodorkan. lantas apa yg saya dapat ??
    spiritualitas saya tambah kuat, hehe, jujur aja. dan harap dibedakan dg religiusitas ya, soale nyadar bgt, ga religius2 amat.

    tp baca halaman ini -yg cukup bikin mumet dan ga mungkin dicerna dlm semalam- membuat saya lbh kritis lg.
    thx to sora.
    emg, kl dicermati, yg aneh dr buku2nya agus mustofa, dia tdk menyertakan indeks pustaka sumber2 yg dia pake.

    tp hal tsb tdk menyurutkan kesenangan saya sama buku2 beliau. mengapa ??? krn ada kecocokan dlm hal spiritualitas.

    yg aku tangkap dr sini, sora dan teman2 dg latar belakangnya, mencoba mengkritisi dalil2 keilmuan yg mnrt temen2 disini kurang akurat dan itu berpotensi menyesatkan orang awam.
    well, saya bisa terima itu -walo ttp ga paham :lol: -

    sayang banget, snowie tll memasukkan ke hati.
    tp saya bisa memahami hal tsb. seringkali jk ada sst yg kita suka dan tyt ada yg ‘menyerang’ maka sdkt banyak bagian dari kita ikutan terluka. *bisa ngomong soale juga pernah ngalami*
    likes and dislikes.

    krn itu, salut dg temen2 disini yg bisa berdiskusi dg mengambil jarak dr ego. obyektif, kata orang.
    dan diskusi yg sehat, akan berjalan.

    kembali ke buku2nya pak agus, saya punya dua, yg menyelam ke samudera ruh dan jiwa & bersatu dengan allah.
    walo mungkin dalil2 ilmiah yg diutarakan kurang akurat, tp somehow membantu saya memahami sdkt mengenai spiritualitas. bahkan ketika berdiskusi ttg spiritualitas dg seseorang yg belajar ttg fisika kuantum, psikologi, dll, kok saya nemu benang merahnya.
    antara lain ide ttg energ itu.
    yah, kl saya mah, krn cenderung simplifikasi sih, jd suka ambil benang merahnya aja.

    me (think) mungkin, agama pun sedang berevolusi.


  120. pada November 10, 2008 pada 9:44 pm sora9n

    ^

    Seperti yang sudah disampaikan oleh mbak di komen di atas. ^^

    Sebenarnya, ada beberapa idenya Pak Agus Mustofa — di luar sains — yang saya cukup respek. Misalnya soal “beragama bukan dengan paksaan”, atau ketika beliau membandingkan ayat Qur’an dengan gejala alam (baca juga: komen saya yang no. #27). Sampai sini saya nggak ada masalah.

    Cuma, masalahnya ya, ketika beliau menyebutkan ilmu fisika dengan penjelasan yang — mohon maaf — agak amburadul. Nah, ini yang mengkhawatirkan. Seperti yang sudah saya tulis di post:

    Boleh-boleh saja kalau mau berdakwah dengan mengedepankan penemuan sains. Hanya saja: check your facts first. Dakwah model ini berpotensi terjerumus jadi pseudosains jika penggagasnya tidak berhati-hati.

    Selain itu sih, saya OK saja. Mengenai spiritualitas dan agama yang beliau bahas, saya nggak ada complain.

    Soalnya spiritualitas/keimanan/agama itu urusannya dengan “rasa”. Nah, ini yang belum tentu sama untuk setiap orang. Saya sih open saja. :)


  121. pada November 11, 2008 pada 12:32 pm Lemon S. Sile

    Duh, saya jadi ingat jaman Bapa saya baca buku ini. Masa2 smp tuh…dan sempat diperbincangkan juga sama temen smp saya. (kalo ga salah sekarang ketemu lagi)

    …bingung mau komentar apa.


  122. pada November 11, 2008 pada 4:26 pm restlessangel

    betul sekali sora….
    dan sora sbg kalangan akademisi, kritikannya bagus sekali, krn membuat pak agus menjadi lebih cermat di kemudian hari.

    *toss sama sora*


  123. pada November 13, 2008 pada 5:05 pm Ami

    Cuma sekedar mampir… ga sengaja nemu blog ini waktu nyari referensi code geass (lho-lho… ko malah nyambung ke topik ini ya? haha)

    gatel pengen nulis komen, boleh ya..

    Well, bukan orang yang terlalu ngerti fisika, even though I’m engineer too ^^;; Sampe sekarang saya sendiri masih bingung gimana caranya saya bisa lulus dengan selamat dari institut yang sama dengan sora9n. (ini pengakuan memalukan)

    IMHO, pendapat sora9n malah sangat membangun (cat: even saya belum sempat googling kebenaran argumen/penjelasan sora9n lagi buat mastiin, secara saya “rada2″ soal fisika).

    Someone said: if you made some mistakes, and nobody talk to you about it, it means they give up (sory, inggris saya ga bagus, grammar please..).

    So, it’s a good feed back. Bisa diartikan sora9n masih “care” lho.. dan menurut saya sih, kita (muslim) justru dituntut untuk lebih objektif dan ilmiah. Karena inilah kekurangan muslim saat ini kan? jarang sekali ulama yang benar-benar menguasai sains, dan jarang sekali ilmuwan yang benar-benar menguasai agama. Ah.. jadi pengen ketemu sama ibnu sina, al-khawarizmi, dll…

    di satu pihak, saya coba ngerti sudut pandang snowie (yang masih blom ketemu sampe saat ini.. hehe, sory). But, its ok lah.. snowie cuma berusaha memberikan sudut pandang untuk berusaha memaklumi, mungkin? And yes I agree with snowie, kalo emang ada sesuatu yang kurang tepat, akan lebih baik kalo bisa disampaikan kepada yang bersangkutan langsung. At least via penerbitnya? :) Saya pikir ini sebagai bentuk tanggung jawab juga, kalo emang ternyata ga mau kejadian semakin banyak pembaca buku itu yang akan “dibodohi”.

    oya, OOT boleh ya.. soal pengakuan bukan muslim nya sora9n. Jujur, itu bener-bener bikin saya shock. Duh, sedih banget, kayanya ko umat islam udah kehilangan satu lagi kritikus yang positif. Saya tadinya berharap sora9n bilang “saya muslim, tp saya bukan mukmin”. Karena itu yang saya tangkap dari pernyataan soal “kultur”.

    Secara sora9n mengakui bahwa dia sendiri bukan muslim, dan ada yang berpendapat pernyataan “bukan” pun bisa dianggap sebagai pengakuan untuk keluar agama……….. so, plis, ati2.. mudah2an itu bukan pernyataan karena emosi ya… be wise.

    agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku, namun sebagai sesama manusia masih tetap perlu mengingatkan kan…


  124. pada November 13, 2008 pada 10:08 pm sora9n

    @ Lemon S. Sile

    Wah, saya kurang tahu soal penerimaan buku beliau di masyarakat. Ini juga bacanya sebelum menulis postingan di atas. ^^;

    :::::

    @ restlessangel

    *ikutan toss* :P

    :::::

    @ Ami

    oya, OOT boleh ya.. soal pengakuan bukan muslim nya sora9n. Jujur, itu bener-bener bikin saya shock. Duh, sedih banget, kayanya ko umat islam udah kehilangan satu lagi kritikus yang positif. Saya tadinya berharap sora9n bilang “saya muslim, tp saya bukan mukmin”. Karena itu yang saya tangkap dari pernyataan soal “kultur”.

    Hmm, begini. Secara hukum dan lingkungan, saya memang masih (dianggap) muslim. Tapi sebenarnya saya ini agnostik.

    [agnosticism @ wikipedia]

    Ceritanya panjang kalau dijelaskan di sini, tapi begitulah adanya. Mohon maaf kalau mengecewakan. (-_-)

    Secara sora9n mengakui bahwa dia sendiri bukan muslim, dan ada yang berpendapat pernyataan “bukan” pun bisa dianggap sebagai pengakuan untuk keluar agama……….. so, plis, ati2.. mudah2an itu bukan pernyataan karena emosi ya… be wise.

    Bukan kok. Itu sudah lewat pertimbangan matang. Sejak tahun 2007, sih. ;)


  125. pada Januari 12, 2009 pada 11:24 am Chatting itu… « sora-kun.weblog()

    [...] saya bersyukur bahwa diskusi semacam di postingan ini dan ini berlangsung di blog dan bukannya Y!M. Saya selalu punya waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. [...]


  126. pada Mei 12, 2009 pada 5:57 am Penghuni

    Penulis buku-Agus Mustopa Teknik Nuklir UGM ,..
    Apa ini juga org yang berpendapat bhw nabi Adam bukan nabi pertama ?



Komentar ditutup.

  • About Me

    sora9n

    NOTICE:
    This blog is now discontinued. The author has moved to new address: [here]

    [guestbook entries]
  • Disclaimer


    This blog is personal property which is publicized. Readers are free to copy, republish, and distribute the content as long as the source is mentioned.

    [more on license page]

  • People visited this blog:

    • 668,017 times
  • My Picture Gallery

    -=-=-=-=-=-=-=-
    .: Gallery's Main Page :.
    -=-=-=-=-=-=-=-

  • Categories

  • Top Posts

    • Beberapa Kalimat Sapaan dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-7] Pengelompokan Kata Kerja dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-1] Kalimat Aktif Sederhana dalam Bahasa Jepang
    • Direktori 'Nihongo' @ sora-kun.weblog()
    • [nihongo-2] Partikel 'no' dan 'de'
  • Recent Posts

    • Akhir Sebuah Perjalanan (alias: Balada Pindah Alamat)
    • Current Playlist 2010.10.01: World Music Edition
    • Kartu Lebaran 1431 H
    • Grandpa’s Old Typewriter
    • [nihongo] Berkenalan dengan Huruf Kanji
  • Archives

  • Metadata for This Site

    • Daftar
    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com

Blog pada WordPress.com.

Tema: MistyLook oleh Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.

Powered by WordPress.com