Ada hal menarik yang saya catat seiring berkembangnya teknologi informasi di abad ke-21, terutama berkaitan dengan makin lajunya penggunaan internet lewat handphone (HP) dan laptop. Bahwasanya, saat ini teknologi telah benar-benar menghadirkan informasi di sekeliling kita. Begitu banyak informasi yang bisa diambil… dan, untuk melakukannya, Anda cuma perlu “memetik” informasi tersebut dengan tangan Anda.
Kapanpun dan dimanapun, asalkan Anda mempunyai HP yang cukup canggih untuk mengakses internet. Sesungguhnya Anda sedang berada di tengah ladang informasi. ^^

“Information in your hands… literally.”
Meskipun begitu, tak banyak yang menyadari, bahwasanya ini adalah hasil akhir sementara dari suatu kemajuan yang revolusioner. Atau, kalau boleh dibilang: sangat revolusioner.
Mengapa revolusioner? Nah, ini ada ceritanya lagi. Silakan baca sampai habis…
First off: The IT Evolution
Jadi, sebelum membahas apanya yang luar biasa dari keberadaan Google di layar HP, mari kita bahas hal lain yang kurang menarik. Tentunya kalau Anda membaca judul di atas, Anda bisa menduga bahwa saya hendak membahas sejarah peristiwa yang dimaksud.
Seperti apa sebenarnya gejala ini?
1. TI dan Kebutuhan Mendasar
Sejak dulu, sebagai manusia, kita membutuhkan informasi yang berkaitan dengan kebutuhan hidup kita. Ini berlangsung sejak zaman non-elektronik: pada abad pertengahan para raja dan adipati berkirim surat untuk kepentingan administrasi; filsuf seperti Descartes dan Newton berkirim surat untuk bertukar ide dengan sejawatnya, dan lain sebagainya. Pada saat itu, tujuan utama komunikasi adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pekerjaan.
Tentunya ini juga termasuk kebutuhan akan romansa surat yang membuluh rindu™ tempo dulu, tapi bukan itu fokus kita untuk kali ini.
![]()
Nah, hal ini kemudian berlanjut seiring ditemukannya telegram dan radio. Kita, manusia, mencari informasi yang urgent dan diperlukan lewat media tersebut. Kabar dan komunikasi perang, perdagangan, dan sebagainya dikirim menggunakan telegram dan radio. Bahkan terwujudnya kemerdekaan Indonesia pun tak lepas dari hal ini: Anda mungkin ingat bahwa para pejuang kita sempat mencuri dengar berita kekalahan Jepang lewat radio internasional.
Dalam konteks di atas, TI berperan lebih sebagai pemenuhan akan kebutuhan berita terkait hajat hidup. Di titik ini, manusia cenderung memanfaatkan TI secara “sekadarnya” dan “sebutuhnya”.
2. Tingkat Selanjutnya dari Kebutuhan…
Tentunya, sebagaimana yang disebutkan dalam hukum ekonomi, manusia cenderung mencari pemenuhan kebutuhan tambahan setelah yang primer terpenuhi. Ini juga terjadi di bidang TI.
Setelah manusia merasa bisa memenuhi kehausan akan informasi yang mendasar (terkait hajat hidup, perang, perdagangan, dsb), TI pun mengalami evolusi. Dari yang tadinya berita sekadarnya, ia kemudian mulai menjangkau area lain: hiburan dan pengetahuan.
Tentunya tak perlu dijelaskan, bahwa kemudian muncul berbagai lagu dan drama radio, disertai juga opera sabun di stasiun televisi.
Ini adalah bentuk evolusi TI di bidang hiburan.
Sedangkan di bidang pengetahuan, kita melihat maraknya film-film dokumenter yang mencakup tema luas. Dari Perang Dunia I sampai II, sampai tentang peradaban Mesir kuno dan perjalanan Steve Irwin mendokumentasikan satwa liar, semuanya tersedia di layar kaca rumah Anda.
3. Comes The Internet
Nah, semangat untuk menyiarkan informasi/ilmu pengetahuan itu kemudian menemukan wadahnya di bidang internet. Di ranah yang diatur oleh pengguna, dari pengguna, dan untuk pengguna ini, semua orang boleh meng-upload informasi apapun yang dia inginkan. Walaupun tidak selalu bahwa informasi yang di-upload itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan; tapi itu cerita lain untuk saat ini.
Berbeda dengan televisi dan radio yang siarannya ditentukan sang pengelola stasiun, internet adalah hal yang sangat berbeda. Segala informasi tersedia di sini: ensiklopedia, opini, humor, berita, dan bahkan hiburan. Mana yang mau diambil, Andalah yang menentukan.
Jika Anda ingin belajar tentang berbagai hal, tinggal cari situs ensiklopedia semacam mbah Wikipe. Ingin mencari berita tentang film, Anda tinggal pergi ke IMDb. Atau jika Anda ingin mencari tempat di mana terjadi perbenturan dan tukar opini… Anda bisa juga melancong ke berbagai blogosphere.
Ingin literatur dan sastra klasik? Hei, di Wikisource dan Planet PDF pun ada! Tak masalah.
Singkatnya, internet membawa aspek pengetahuan/informasi elektronik ke level yang berbeda. Jika Anda dulu harus nongkrong di depan TV (atau radio) sambil menantikan berita dan film dokumenter, maka kini Anda bisa memuaskan keingintahuan Anda lewat internet… sesegeranya.
Mungkin tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Wikipedia, IMDb, blogosphere, serta berbagai situs web yang ada adalah perpustakaan paling besar yang pernah dibangun oleh manusia. Kita tidak lagi miskin informasi: hanya dengan bermodal akses internet secukupnya — GPRS pun tak masalah — kita bisa membaca berbagai koleksi yang ada di perpustakaan tersebut.
Informasi di Tangan Anda – Sebuah Revolusi
Di awal tadi, saya menyebut tentang “informasi di tangan Anda”. Sebetulnya, kalimat tersebut bermakna nyaris literal.
Seiring dengan lahirnya perkakas handheld yang dibekali koneksi internet, sesungguhnya kita sedang berada di ladang informasi. Kapanpun, di manapun, Anda selalu punya tempat bertanya jika sedang penasaran akan sesuatu. Anda tak perlu PDA kelas tinggi seperti O2 atau Blackberry untuk ini — sebuah Sony Ericsson k510i, sebagaimana saya tampilkan pada gambar di atas, pun cukup. Ia tak mesti fancy dan berharga mahal, yang penting adalah kemampuannya untuk mengakses internet secara portabel.
Internet sendiri adalah sebuah revolusi. Tetapi, penggabungannya dengan alat-alat handheld adalah revolusi yang lebih besar lagi.
…
…
Tunggu sebentar. Memangnya, apa sih yang begitu revolusioner dari akses internet lewat HP?
Sebetulnya, yang revolusioner adalah kesimpulan berikut ini:
Internet via HP, pada dasarnya, mewujudkan fase kehidupan di mana informasi yang berlimpah (“abundant”) dapat diakses hampir dari mana saja di muka bumi (“ubiquitous”) dalam tempo singkat.
Dengan kata lain, di mana pun saya berada, saya selalu terhubung dengan sumber informasi yang reliable. Keberjarakan kita dengan informasi adalah nyaris nol: semuanya bisa diakses sesegeranya.
Ketika saya sedang tak bisa tidur, dan penasaran tentang mitologi Yunani, maka saya bisa meraih HP saya — dan lantas menuju situs terkait seperti Wikipedia atau Encyclopedia Mythica. Jika saya sedang di WC dan ingin mengisi waktu membaca berita bola terbaru, saya bisa langsung mengetik URL mobile Goal.com dan tiba di sana. Di titik ini, informasi menjadi hal yang akrab hingga nyaris mengerikan: ia bisa dijangkau dari ruang-ruang yang paling pribadi sekalipun.
Demikian pula ketika pada suatu waktu saya penasaran siapa mbak yang memancarkan aura Shiki Ryougi[1] di film Underworld. Saya tinggal melakukan googling lewat HP, dan selanjutnya nyasar ke Wikipedia. Bahkan sekalian pergi ke halaman IMDb-nya untuk melihat reaksi orang-orang di seluruh dunia terhadap film yang dimaksud.
Atau ketika sedang naik mobil, saya melihat bahwa banyak taksi kini menempelkan label “tarif bawah” di jendela mereka. Apa sih maksudnya? Saya pun tinggal cetak-cetik keyword google lewat HP saya. Langsung ketemu di blog orang.
Dan lain sebagainya.
Pada akhirnya, luasnya wawasan manusia tidak harus terpaku pada hambatan jarak dan waktu. Jika dulu kita harus berdiam di perpustakaan untuk mempelajari hikayat Perang Salib — atau membaca karya Kafka dan Dostoyevski — maka kini semua itu bisa diraih lewat sebuah HP dalam genggaman. Walaupun informasi ini juga bukan tanpa kekurangan.[2]
Meskipun begitu, seperti yang saya tulis sebelumnya, semua ini masihlah hasil sementara. Revolusi masih terus berjalan…
…menuju entah-apa yang akan ditawarkan masa depan kelak.
Isn’t it exciting to imagine?
—–
Catatan:
[1] Shiki Ryougi, i.e. protagonis di serial Kara no Kyoukai. Entah kenapa penampilan Selene di film tersebut — dengan model rambut yang mirip — menghasilkan aura yang sama… xD
…dan ternyata mas ini juga setuju.
Well, mengingat dia itu — ngakunya — fans berat Ryougi, mungkin persangkaan itu ada benarnya.
[2] Umumnya, kualitas informasi yang didapat dari internet tidak semendalam dengan bisa yang diberikan oleh buku/teks akademik resmi. Terutama bila menyangkut tema-tema yang mempunyai disiplin ilmu sendiri, e.g. sains dan ilmu sosial — jika Anda ingin bahasan yang mendalam, sebaiknya Anda baca textbook.
*pengalaman pribadi waktu nyari bahan kuliah* ^^;
[3] Gambar HP sengaja dipilih Sony Ericsson K510i. Sebetulnya sih, karena itu HP yang sama dengan yang saya miliki — so there you have it.
Like now i’m commenting your post probably minutes after you hit the post button. Aiin’t technology wonderful.
Wonder what’s in store ahead.
@ Shinte Galeshka
Actually, it was released at 3:13 a.m. (45 minutes before). ^^; I updated it for some additional infos, though.
Indeed. Considering that nobody see Wikipedia and such coming 10 years ago… it’s possible that another surprise is on the way.
Eh, masbro, saya punya istilah baru: Internet adalah surga informasi.
Well, sebenarnya nggak perlu K 510i, cukuplah yang seri lawas K 320i, saya bisa mendapat informasi yang saya cari dan melongok fitur My Comments di dashboard.
Hoh? Ngenet di WC? Apa nggak terkontaminasi udaranya?
Aw, geez, quote-nya kurang kata URL. Gara-gara komen lewat hape, nggak bisa cp quote-nya.
Kalau punya akses ke database makalah-makalah luar, hal ini merupakan perkecualian. Biasanya sih kayak Springerlink/JSTOR itu berbayar, tapi ada yang gratis juga kayak SSRN.
Iya..
Rasanya setelah GPRS dan teman-temannya berkembang, informasi dengan mudah terbang ke kepala..
Ber-YM dengan kawan-kawan juga makin mudah..
Rasanya bumi makin sempit saja..
Setahu saya, mengutip atau terinspirasi oleh Marshall McLuhan, sebenarnya revolusi yang terus berjalan dalam bidang teknologi informasi merupakan jalan mundur ke belakang, yakni kembali ke masa ketika komunikasi bersifat oral, face-to-face, langsung. Kata McLuhan sih, bentuk komunikasi elektronik saat ini “seolah-olah” membawa kita kembali kembali ke masa oral, tetapi saya menduga suatu saat kita akan ngobrol di blogosphere seperti ngumpul di warung kopi beneran. Tidak ada komentar yang terekam dan mati sebagai teks, yang akan selalu bisa disalahtafsirkan oleh siapapun. Yang ada hanya tuturan, yang bersifat sangat temporal.
Ada yang menarik ketika saya berdialog dengan Eko Indrajit, lumayan tau soal IT. Katanya secanggih-canggihnya teknologi, definisi komunikasi itu gak berubah, yakni proses penyampaian pesan, atau perolehan informasi atau apalah itu definisinya yang enak, yang pasti melibatkan manusia sebagai konsumen informasi. Jadi, orang yang melek teknologi itu sebenarnya belum tentu melek informasi. Ini bisa jadi masalah, terutama buat orang tua yang tidak suka anaknya mengenal pornografi di usia sangat dini. Exciting memang, tapi sedikit menggelisahkan.
Tapi, tentu, keuntungannya memang banyak, impactnya luar biasa. Orang berwawasan luas menjadi sangat banyak, dan wawasannya benar-benar luas! Saya sempat baca di majalah Newsweek tentang bagaimana generasi sekarang bisa sangat sinis. Maksud saya, orang yang kuliah teknik informatika bisa aja mencerca studi teologi, toh dia biasa belajar tentang itu di Wikipedia. Begitu juga dengan persoalan-persoalan lainnya. Politik, misalnya. Atau musik, seni, dll. Tidak dapat dipungkiri, blog memberi ruang kepada generasi internet untuk mensinisi banyak hal, fundamentalismelah, agamalah, Ahmad Dhanilah, SBY, Amerikalah, Bushlah, mahasiswalah, dll.
Kata kuncinya memang bahasa. Kalo teknologi informasi sudah melampaui bahasa, seperti telepati atau apalah itu, maka saya benar-benar tidak tahu apakah masih ada revolusi lagi setelah itu.
Tantangan selanjutnya dari IT -mungkin- adalah menjawab kebutuhan akan artificial intelegence (AI), a semantic web, dan bagaimana hal itu “connected” dengan pengguna.
Tampaknya IT dan manusia bisa menjadi pihak yg berseberangan kalau bersentuhan dengan moral. Bagaimana kita menjawab pertanyaan tentang “ekstensi otak” yang ditawarkan Sergey Brin, dimana dengan inisiatif Google tentang biotek otak manusia, kita cukup “googling” dengan pikiran ?
Kemajuan besar buat umat manusia ? Atau justru kita di Googling oleh teknologi AI ?
Membaca komentarnya gentole, saya jadi ingat satu kutipan entah dari mana (maaf, malas mencari di Google
) : Yang menakutkan bukanlah ketika orang kekurangan informasi, tapi ketika orang kelebihan informasi dan tidak mampu memilahnya menjadi mana yang penting/tidak atau yang mendesak/tidak. Menurut saya ini ada benernya. Informasi terus bertambah, sementara, sayangnya, kemampuan otak kita untuk menyaring dan mengolah informasi ya begitu-begitu saja. Mungkin di masa depan banyak orang yang tiba-tiba ‘hang’ karena hal itu.
Sekarang saja, misalnya, saya lihat banyak blogger papan atas yang mengeluh karena ada ratusan e-mail masuk inboxnya tiap hari, ribuan RSS feed tak terbaca, dan repotnya mengikuti belasan situs 2.0 yang sebenarnya serupa satu sama lain (misalnya: twitter, jaiku, pownce, kronologger, tumblr, plurk, dan entah apa lagi). Lalu apa yang mereka lakukan? Memperkerjakan sekretaris atau asisten pribadi.. akhirnya ya balik lagi ke manual brain work
.
@ Prabu Pandu Asakura®
Yang penting konek…
Kan cuma seandainya…
:::::
@ Nenda Fadhilah
Ya, iya. Tapi tetap saja itu makalah, bukan textbook. ^^;
Tema dan pembahasan paper umumnya lebih khusus dan padat, sementara textbook lebih luas dan general.
Misalnya kalau nyari bahan kuliah elektro, kita bisa nemu banyak e-journal tentang dioda… tapi susah sekali mencari e-book yang membahas prinsip rangkaian listrik. Kurang lebih begitu.
:::::
@ Tria
Hohoho! Betul, informasi jadi makin mudah ‘terbang’ ke kepala. Rasanya akses ke mana saja jadi mudah.
Jarak pun terasa makin sempit, IMO.
:::::
@ gentole
Lha, iya. Tetapi, yang membedakannya adalah jarak geografis antara kita dengan lawan bicara. Hambatan jarak itu kini mulai diatasi… makanya disebut telekomunikasi. ^^
Jadi, biarpun pada akhirnya semakin mendekati oral dan face-to-face, tetap ada nilai plusnya. Dulu kita nggak bisa berkomunikasi dengan saudara di negeri seberang.
Wah, kalau saya malah lebih suka teks. Soalnya apa yang terekam itu bisa jadi pelajaran/masukan bagi orang yang membaca ucapan itu di kemudian hari.
Lagipula teks itu jadi semacam rambu-rambu juga, IMO. Sebab segala omongan kasar dan ad hominem yang dilontarkan akan tersimpan dan dipaparkan ke seluruh dunia…
*menunjukkan kebodohan sendiri, kalau kasarnya*
BTW, Geddoe itu mahasiswa ilmu komputer lhoYa, itu. Saya juga aslinya mahasiswa teknik, tapi suka juga komentar ‘beda jalur’ di blog orang.Mungkin akan berhenti kalau sudah sampai di tahap transfer gagasan dari kepala ke kepala, IMO. Jadi apa ide yang mau disampaikan, ya itu pula yang tergambar di benak penerima.
Tapi ini cuma spekulasi, sih. ^^;;
@ uniqueopini
Kalau soal AI, saya rasa itu konteksnya rada beda. Sebab “informasi” itu sendiri hakikatnya adalah penyampaian pesan antarindividu… sementara AI adalah sistem kecerdasan independen.
Lebih ke arah upaya manusia memetakan cara berpikir ke bahasa mesin, IMO.
Soal biotek Google yang Anda sebut… well, boleh jadi takkan jauh beda dengan telepati. Siapa yang tahu? ^^
:::::
@ Catshade
Itu… kalau nggak salah ada di bukunya Malcolm Gladwell. Yang judulnya “Blink” (CMIIW). Jadi yang terpenting adalah informasi yang sedikit dan cukup, tapi bisa diolah secara efisien. ^^
[filosofi mode]
Manusia bukan mesin, bisa capek bisa lelah. Tak bisa terus diforsir…
[/filosofi mode]
“Jangan menyuap lebih dari yang bisa kau kunyah!” ~ Molly Weasley
Something like that?
Lha iya. Yang penting kan efisiensi. Lagipula lebih natural dan manusiawi kalau kontak langsung, IMO. ^^
dan saya lebih suka ngobrol langsung dengan tetangga/saudara daripada chatting lewat YM, walaupun saya juga nggak tahu kenapa
Tapi saya pernah dengar juga bahwa “Pengetahuan itu penjara”, dengan contoh dokter yang tahu tentang ilmu medis dan gizi tidak boleh makan yang aneh-aneh. Lebih baik jadi orang tak berpengetahuan, bebas untuk apa saja..
Well, setidaknya lewat internet saya bisa berkenalan dengan orang hebat seperti Anda..
*menjura..
@ Nazieb
Dokternya sih ‘terpenjara’, tapi kan nggak mati-mati. Sementara orang yang nggak tahu memang bebas. Boleh makan ini, makan itu…
…tapi bisa aja besoknya meninggal mendadak karena keracunan.
*pilih mana…*
Euh… ^^;;
Yang menakjubkan sebenarnya adalah betapa semuanya terjadi dalam waktu yang relatif kilat; kurang dari seratus tahun. Mengingat sejarah panjang umat manusia, memang kesannya proporsi waktu prosesnya begitu singkat.
Mengingat sekarang kita sudah berada di posisi 0.7 pada skala Kardashev, maka rasanya tidak berlebihan kalau berharap banyak untuk ke depannya.
(Dengan berasumsi tidak terjadi perang nuklir sebelumnya.
)
* * *
*ngakak di karpet*
Anda berdua tidak sendiri…
@ K. geddoe
Makanya saya menyebutnya “revolusi”. Lompatannya di abad 20 jauh lebih besar dibandingkan semua kemajuan TI, dalam ribuan tahun sebelumnya, dijumlah bersama-sama. ^^a
*tersedak kopi*
TERNYATA MEMANG BENER…
*kyaaa, Kate-san~!!* xDsetuju!!
apalagi sjk ada axis,tarif gprsnya murah bgt.tp promo cm ampe 31 agustus.lol
btw,happy olympic day!
hayah, Koneksi selancar itu via GPRS (mrngingat koneksi HP sy juga br itu bs nya
), khan cuma berlaku di kota-kota besar.
Lha, saya, yang tinggal di daerah wilayah sumatra, waktu tiba-tiba kebangun tengah malam trus nggak bisa tidur lagi atau nggak bisa tidur sampe jam 3 pagi karena nekat nyobain kopi pada paginya, lalu pengen OL or searching something, malah nggak bisa konek. Yang ada pulsa habis nggak jelas buat konek yang nggak berhasil itu.
Btw, saya sih pake nya te*ko*sel yang katanya jaringan terluas dan terkuat.
tetep, evolusi TI masih berjalan sangat lambat di daerah….
*eh lupa*
BTW, saya malah kenal sama salah seorang sodara saya lewat FS. Trus, sekarang malah sering ngobrol Via YM
Nyatanya, kami bahkan dari lahir belom pernah ketemu muka
@ stash
Hooh, emang murah tuh. =3
Dengan tarif internet segitu sih, saya bisa nggak ngisi pulsa sampai 2 bulan…
*sekali isi pulsa = Rp. 50.000*
:::::
@ Snowie
Masa sih? Rasanya dulu saya sering lihat mbak ini online di YM, jam 2-an, statusnya “I’m mobile” ?
Lha? Itu bukannya mahal? (o_0)”\
Setahu saya sih yang paling murah sementara ini Axis, terus disusul IM3/Mentari. Tapi nggak tahu juga.
Saudara sendiri kenalnya baru lewat internet?
KEMANE AJE LU…™
:::::
@ aglc
Maaf, komennya dihapus. Kan udah saya tulis di [halaman license], nggak boleh nyepam atau OOT di blog ini.
there goes the saying.
amen to that.
Yes, let us all join The Church of Google
btw axis lg promo lho,isi pulsa dpt bonus 50%!! ampe tgl 17 agustus.tp nanti setelah promo 0.1/kb lewat msh ada yg pk axis gk ya? lol
IT adalah perubahan – Perubahan adalah IT
===============================
IT saat ini menjadi sarana “dominan” yang telah merubah banyak orang.
Makanya kalau ada target-target perubahan di era ini yang tidak mengandalkan IT, sama saja dengan NULL.
Anda ingin berubah (pasif) atau mengubah (aktif), IT is the best solution. Perubahan adalah milik IT.
Seperti IT yang berubah dengan cepat (revolution), maka ia juga dapat mengubah anda dengan cepat.
Manfaatkan IT !
sora9n
Iyah, saya tahu itu. Itu emang contohnya. Sinis ini gak harus negatif loh.
Saya kira pada beberapa dekade yang lalu, bagi seorang insinyur (anak IPA) untuk bisa berpikiran luas seperti Geddoe dan Anda dan blogger2 lainnya dibutuhkan waktu puluhan tahun. Sekarang, dengan internet dan sisa-sisa revolusi Gutenberg, orang mungkin cuma butuh beberapa bulan saja untuk mengomentari Thomas Aquinas atau al-Ghozali.
Ajaib, seingat saya, cuma sekali-sekali aja OL dini hari gitu. but, FYI, emang sih ponakan pernah bilang, dilihatnya saya sedang OL via mobile, padahal enggak (karena saat itu dia OL via HP juga dan berada di dekat saya). Kayaknya “I’m mobile” itu cuma vasilitas aja deh. Sepertinya keadaan “I’m mobile” itu cuma berlangsung beberapa jam setelah saya “sign out” saat OL via HP deh. Tau juga ya…
BTW, sejauh I OL, I nggak pernah tu lihat U juga lagi OL
sekarang udah murahan dikit. Rp 5,-/kb.
sayangnya, kartu-kartu yang you sebutkan itu sinyalnya nggak nyampe di tempat saya
Yeee….. itu karena sangking banyaknya sodara. dan yang satu itu emang jarang pulang ke “asal”, dan saat saya kunjungan kerumah paman saya (ayahnya) dia nggak dirumah. trus, waktu kemaren paman saya itu pulang, dia cerita tentang anaknya itu. ya udah, tanya alamat email ama FSnya. baru deh…
so, wajar aja nggak kenal muka secara langsung
@ yud1
No, Google isn’t the God. The Automattic Crew was.
@ sora9n
Exactly. Even it have to be done when you take a bath or take a breakfast.
*pengalaman pribadi*
@ yud1 | Catshade
Mind you, perhaps — but that doesn’t include torrent, P2P, IM services, and e-mails.
There are also ancient deities™ like Kazaa, Napster and mIRC who deserve respect.
:::::
@ stash
Wah, ndak tahu. Saya pake kartu indosat soalnya. ^^;;
:::::
@ Herianto
Sarana mengubah dunia?
Wah, kalau begitu bukan lagi informasi di tangan Anda, ini. Sekarang jargonnya berubah…
Hmmmm.
*muncul aura megalomaniak di dalam diri…*
:::::
@ gentole
Maksud saya, dia itu sangat menggambarkan deskripsinya mas soal “mahasiswa teknik informatika yang mencerca studi teologi”… makanya saya tulis.
BTW, ya… Sekarang untuk mendapat pengetahuan lintas bidang jauh lebih mudah. Ini juga sedikit menggeser paradigma kita pada istilah “cerdas” dan “pintar”, IMO. Apakah seseorang bisa menjadi berwawasan, kini dipengaruhi secara signifikan oleh semangat yang bersangkutan untuk mencari ilmu.
:::::
@ Snowie
Ya, iya. Saya memang sering invisible kalau OL. Makanya beberapa orang suka nanyain kalo saya balas komen tapi YM-nya off.
:::::
@ p4ndu_454kura®
Tapi, tanpa google, posting2 ente tentang lirik lagu Naruto dan kerangka nabi Adam gak bakal bisa nyumbang hits…
Hati-hati, jangan terlalu semangat sama internet. Ntar jadi antisosial lho.
@sora9n
bukannya justru internet tuh wadah buat bersosialisasi ~ ~; jd ya gk antisocial donk
@ stash
Ya, memang begitu. Tapii… ada tapinya. ^^;
Walaupun kita memang bisa aktif + bersosialisasi di internet, bukan berarti kita boleh terpaku di sana dan melupakan dunia ‘nyata’. Kehidupan sosial dengan warga sekitar tetap yang paling penting.
Keluarga, teman, dan tetangga adalah orang-orang terdekat yang akan menolong jika kita kesulitan. Apakah itu keuangan, kesehatan, pendidikan… dan lain sebagainya. Hal-hal yang nggak (atau belum) bisa diwujudkan oleh sosialisasi lewat internet.
Itu yang saya maksud dengan jangan jadi “antisosial”, yakni mengabaikan dunia nyata dan lebih memilih internet. ^^
o,.
good advise..
jd mksdnya sosialisasi secara nyata lbh ptg drpd secara maya.arigatou sensei:-o
Ada sisi lain yang perlu diperhatikan, yah seperti yang sudah Mas singgung sedikit
Bagi saya, ini adalah yang paling penting.
saya teringat obrolan belasan tahun silam
Informasi itu adalah energi, jika ia terlalu banyak maka sang penerima akan merasa terbebani dan jika tingkat energi itu melampaui kapasitas sang penerima maka energi itu akan melumat habis-habisan
Waduh saya jadi kepikiran juga
@SP
Sama, bagi saya itu juga hal yang sangat penting. Sekarang pastilah sulit memilah-milah informasi.
@ secondprince | gentole
Ya, itu masalah yang (kurang lebih) sama dengan yang disampaikan oleh mas Catshade di komen #9. Adanya terlalu banyak informasi itu sendiri bisa jadi bumerang. Sebab untuk mengolahnya sendiri jadi butuh resource dan energi yang juga besar. ^^;
Tapi IMHO, ada sisi positifnya juga. Dengan ‘banjir’-nya informasi di sekitar kita, jadi lebih mudah mencari second opinion atas sesuatu hal. Taruhlah hal yang sensitif semacam studi agama/teologi. Walaupun tak semua informasi yang diberikan di internet benar dan mewakili (baca: potensi biasnya besar), kita punya pandangan dari berbagai sisi. Pada akhirnya, ya, turut membantu bikin perbandingan yang obyektif.
Soal disinformasi/misinformasi, memang tak terhindarkan. Tapi kita kan selalu punya referensi yang — asumsinya — bisa jadi jangkar. Dari yang produk kampus (JSTOR, SSRN, MIT courseware), sampai yang kasual (Wikipedia, HowStuffWorks). Paling tidak standar mereka cukup terjamin. ^^