Ternyata, Memilih Sepatu itu mirip dengan Mencari Jodoh
Mei 19, 2008 oleh sora9n
Percayakah Anda, bahwa memilih sepatu itu sebenarnya tidak jauh beda dengan mencari jodoh?
Kesimpulan ini saya dapatkan setelah menghabiskan waktu di akhir minggu untuk berburu sepatu, tak lama setelah sepatu saya yang sebelumnya mengalami rusak parah. Kejadiannya sendiri berlangsung sekitar awal tahun ini, beberapa minggu sebelum berlangsungnya semester genap yang sekarang sedang saya jalani.
Seperti apa miripnya?
1. Anda tak selalu bisa meraih Tipe Ideal Anda
Hal ini terjadi beberapa kali ketika saya sedang mencari sepatu baru tersebut.
Ketika saya menemukan model yang bagus dan sesuai selera saya, harganya ternyata kelewat mahal. Ketika saya menemukan model lain yang juga bagus, dengan harga murah, bahannya relatif tidak durable. Begitu pula ketika saya menemukan sepatu yang kuat, tahan lama, dan harganya terjangkau — saya justru merasa desainnya kurang bagus.
Puncaknya, ketika saya menemukan sepatu yang relatif perfect: modelnya menarik, harganya lumayan murah, dan bahannya tampak awet. Hampir saja saya membeli sepatu tersebut…
…ketika, dengan sangat menyesal, mbak pramuniaga menyatakan bahwa nomor yang sesuai dengan kaki saya sedang out-of-stock.
Saya pun cuma bisa menerima dengan lapang dada.
Apa intinya? Anda bisa saja membayangkan tipe ideal sedemikian rupa. Tapi, kalau bukan jodoh… Anda bisa bilang apa?
2. Anda harus bisa berkompromi dalam memilih
Terkadang, sepatu yang bagus harganya kelewat mahal. Lain waktu, Anda bingung sendiri bahwa sepatu yang desainnya jelek bisa dihargai sedemikian mahalnya (baca: makan merek
). Bisa juga Anda menemukan sepatu yang murah-meriah dan tahan banting, tetapi desainnya kurang memuaskan.
Ketika dihadapkan dengan dunia (dan pilihan) yang tidak sempurna, Anda pun harus berkompromi. Turunkan standar, dan seimbangkan pilihan paling optimal dengan apa yang tersedia. Saya mungkin tak bisa mendapatkan yang cantik dan sempurna — meskipun begitu, yang penting adalah bahwa dia bisa menemani saya dalam menjalani hidup dan menempuh medan yang berat…
…sepatunya, maksud saya.
Tentunya sepatu yang terbaik adalah yang bisa dipakai menemani keseharian (kuliah, jalan-jalan) serta bisa diandalkan menembus medan (naik-turun bis, lewat jalanan yang berdebu, dsb). Saya yakin Anda paham apa yang saya maksud.
3. Jumlah Sepatu Anda == Kemampuan Anda dalam mengendalikan Diri == Stabilnya Keuangan Anda
Banyak orang, biasanya kaum hawa, curhat mengenai tidak stabilnya kondisi keuangan mereka. Dalam beberapa kasus hal ini diakibatkan oleh banyaknya pasang sepatu yang mereka beli — entah karena sepatu itu sekadar lucu™, ataupun karena sepatu itu lucu banget™. Perlahan-lahan, keuangan pun kolaps karenanya.[1]
Hal yang sama terjadi dalam hal mencari jodoh. Jumlah kekasih (ataupun istri) Anda mengindikasikan kemampuan Anda dalam mengendalikan diri sendiri. Bahkan jika Anda tidak hati-hati, keberadaan dari banyaknya simpanan ini berpotensi membuat diri Anda ambruk secara finansial — saking banyaknya pengeluaran yang harus Anda tanggung.
4. Pilihlah yang Cocok dengan Kepribadian Anda
Ini adalah hal yang penting, sebab model sepatu yang Anda pilih harus sejalan dengan kepribadian Anda.
Jangan beli sepatu warna kuning, misalnya, jika Anda orang yang lebih suka berpenampilan serius. Jangan beli sepatu warna pink jika Anda tak merasa punya kesan girly; jangan beli sepatu bola jika Anda tak suka main bola; dan lain sebagainya. Tentunya ini termasuk “jangan beli sepatu anak-anak” jika Anda adalah seorang remaja.
Keserasian adalah hal yang penting. Pilihlah yang kira-kira sesuai, walaupun mungkin tak sepenuhnya — daripada mengambil yang jelas-jelas akan bentrok dengan kepribadian Anda. ^^V
***
…
…
Tadinya, saya merasa mendapat cukup banyak pelajaran dari kunjungan ke toko sepatu di atas. Tapi, meskipun begitu…
…ternyata masih ada tambahannya, saudara-saudara.
Beberapa lama setelah membeli sepatu yang dimaksud, saya ngobrol dengan rekan yang satu ini. Waktu itu saya sempat menyampaikan beberapa dari empat poin di atas, sebelum akhirnya menanyakan pendapat beliau sendiri soal ini.
Tanggapannya?
“Bener juga. Gw jadi inget kemaren jalan-jalan, terus ngeliat ada sepatu yang bagus. Sayang gw udah punya yang lain… Nggak bisa ngambil deh.”
![]()
Now that’s what you call ‘commitment’.
—–
Catatan:
[1] Kisah nyata. Saya pernah melihat seorang kerabat saya (wanita) yang kesulitan keuangannya disumbang oleh kesukaan beli sepatu. Betulan lho. ^^;
kalau punya sepatu banyak apa itu pertanda banyak pacar?
*merinding*
btw komen diatas becanda doank.
teori diatas ada benarnya juga. saya gak bisa sembarangan beli sepatu gitu aja. biasanya harus ada sesuatu yang membuat saya layak membeli sepatu tersebut. entah itu modelnya yang bagus, harganya yang terjangkau atau bahannya yang enak dipakai.
tapi, saya punya kebiasaan. nyicil beli sepatu 3 bulan sekali.
itu udah termasuk perhitungan keuangan. kalau itu termasuk kategori apa? 
Mungkin artinya banyak FANBOY, kakak… =3
*dilempar batu bata* xD
*ngeliat judul*
*menyimpulkan*
Apa? Apa? Lo gonta-ganti pacar 3 bulan sekali?
Ah, yang bener!™
[/lospokus]
sepatu=pacar?
bnyk cowo yg pk sepatu ampe compang-camping tp pacaran gk pernah tahan lama,jd yg salah sepatunya yg gk tahan lama ato pacar yg terlalu tahan lama?lol
mending pacaran ama sepatu aja.heheh
….
*mikir*
Iya juga sih ya? Saya ingat2 malah sejak awal kuliah sampai saat ini, cuma pernah ganti sepatu dua kali. Itu yang kali kedua juga hadiah
SMU dulu juga… ganti
pacarsepatu tiga kalidan kebalikannya….
*mikir lagi*
hmmm… sepatu? kenapa fetishnya sora jadi aneh ini
*diusir pake sapu*
kok saya dejavu dengan gaya menulis ini ya?
btw kalau soal sepatu rusak terus ganti yang baru berarti penggunaan pada pacar sudah maksimal
hingga sampe rusakjadi lebih baik gantipacaryang baru?*ngakak*
*ikutan kabur sama alex*
seseorang yang gila sepatu high heel pernah bilang ke saya. itu sebenarnya simbol dari p*nis. makanya, kalo gak punya pacar pasti tambah banyak beli sepatunya
sepatu≠pacar,
sepatu rela kita injek2,rela gk kita cuci,rela dipake ampe ancur.
sepatu tau kita cuma manfaatin dia,dia tau suatu saat kita bakal dgn gampangnya ninggalin dia,
tapi,.apa pernah sepatu menolak untuk kita beli??
tapi pacar?selalu berharap kita ngelakuin sesuatu buat dia,selalu mau dimengerti,selalau mau didahulukan dan diprioritaskan.
emang sepatu punya kekurangan yg sgt besar,yaitu dia gk hidup.tapi wujud sepatu yg hidup tuh org tua kita.jadi mari kita hargai sepatu,eh org tua kita!
sepatu saya cuma 1,, berarti saya setia dunk

Entah kenapa post ini mengingatkan saya pada ibu saya yang demen beli sepatu baru
dan membelikan sepatu untuk sekeluarga yang notabene malas cari sepatu baru*baca baik-baik*
Benar juga ya…
Betewe, sandal juga masuk nggak?
Sepatu sekolah sih nggak ada masalah (karena sudah ada aturannya), tapi kalau sepatu buat jalan-jalan dan lainnya?
__
*mengambil adik (dan mungkin kakak) sebagai contoh kasus*

Adik (dan kakak) saya malas kalau disuruh cari sepatu.
Adik saya malas kalau sudah ditanya soal mencari pacar.
*dilempar ke sawah karena ngaco*
@ cynan
berarti khan sepatunya dicariin sama ibu. itu artinya nanti kalau cari pacar juga dicariin sama ibu..

Jadi inget ama sepatu yang dah rusak. *mikir mikir mo beli dimana*
Sepatu saya dua…
*Nanti pacar saya juga dua dong…
Saya setiap beli sepatu selalu bilang, “Kandidat rusak berikutnya”. Sepatu di saya tidak pernah bertahan lama.
..
..
*translasi*
..
..
*Bermuka masam*
Hahahaha… adakah komitmen dalam “memiliki” sepatu ? Sepatu saya ada sekitar 7 buah, 3 buat ke kantor, 2 buat jalan-jalan, 1 buat olahraga/lari, 1 buat futsal. Dan saya selalu “menggilir” mereka secara adil sesuai dengan kebutuhannya.
Apakah ini yang namanya adil dalam poligami sepatu ?
Betul, milih sepatu itu seperti milih jodoh. Sangat mirip.
@ Itikkecil :
Heh..??? AFAIK, dari berbagai literatur psikoanalisis punya saya yang segunung, ttg simbol dan sign dalam ketidaksadaran manusia, nggak pernah ketemu kalau sepatu itu lambang dari alat kelamin atau p*nis.
Yang menjadi simbol alat kelamin itu biasanya ikat pinggang, kancing baju, dllll [jangan ditulis disini, nanti banyak yang tahu]. Ikat pinggang dan kancing yang paling jelas. Penjelasannya menyusul….
@ fertob
Hmm, statemen ini akan saya skrinsut sepertinya utk menaikkan nilai jual, secara update terakhir sepatu saya cuma sebiji
Benarkah?
Saya ndak pernah mikir segitunya.
Apa… itu menunjukkan *lirik sora* kecenderungan berubahnya fetish
*OOT*
@ Stash
FYI, sepatu saya yang rusak itu bertahan selama tiga setengah tahun lho.
*no comment soal jatuh cintanya*
:::::
@ alex
Banyak aja… ^^;
Itu namanya analogi maaass… bukannya fetish… =_=!
*merasa dizalimi*
:::::
@ cK (lagi)
Mana saya tahu?
Hei, jangan jadikan itu justifikasi™ atas hobimu™ untuk gonta-ganti pacar…
*dirajam habis2an karena nyebar fitnah* xD
*maafkanSaya*
:::::
@ itikkecil
Eh, bener juga. Beberapa kenalan saya yang hobi belanja itu pada belum menikah, soalnya.
BTW, salam kenal mbak. ^^
:::::
@ stash11th
Beberapa patah kata:
“Yang sabar ya Mas…” (-_-)
Dalam kasus saya, sepatu itu memang wujud pengorbanan orang tua. Sebab biaya buat belinya masih ditanggung sama mereka. ^^;
:::::
@ FaNZ
Lho, saya juga. Cuma satu kali dalam satu waktu lho. ^^
[/gakJelas]
:::::
@ Cynanthia
Well, saya mungkin nggak membutuhkan sandal yang cantik dan sempurna. Tapi saya akan sangat bahagia jika dia bisa menemani saya dalam menempuh medan yang berat…
*ditimpuk batu bata*
Kok mirip saya ya?
Hmm…
:::::
@ cK (lagi-lagi)
Ngomongin siapa kakak…?
:::::
@ danalingga
Hohoho! Makanya saya sertakan guideline-nya di atas sana.
:::::
@ ardianto
Sepatu saya satu pasang…
:::::
@ Mihael Ellinsworth
*ngakak terguling-guling*
:::::
@ goldfriend
IMO, itu namanya berkomitmen secara adil pada tujuh-tujuhnya dalam satu waktu. ^^V
Tepat sekali.
Eh, itu yang nulis buku kebanyakan bapak-bapak atau ibu-ibu?
Jangan-jangan ada bias gender di sono. (o_0)”\
:::::
@ alex (lagi)
Menaikkan nilai jual? Lha, saya selama ini sepatu cuma sepasang terus. Berarti nilai jual saya selalu tinggi, donk?
[/shamelessPlug]
Itu analogi!!
Posting kamu lucu.
*siap-siap beli sepatu lagi*
kalau sepatu ada macem2 bagaimana yah, kayak vantofel, sepatu sport..hehehe….
@ ranti
Ah, terima kasih. ^^
:::::
@ cempluk
Itu artinya,
ceweksepatu itu kepribadiannya macam-macam. Ada yang formal, sporty, anggun… dan lain sebagainya.jadi inget..kalo beli sepatu ber merek dan biasa aja desainnya, tapi comfy dan mahal banget itu termasuk worthy ga ya?
jadi kalo di dunia nyata analogi nya gimana tuh?
*mbayangin cowok kaya tampang pas2an tapi baik banget*
emmm….definitely bukan byakuya kuchiki..
Analogi:
Seandainya Asou Haruto itu tampangnya biasa. Masihkah Aya Ikeuchi memandang dia sebagai tipe cowok ideal?
punya sepatu banyak = bahagia
silakan artikan sendiri.
*hari ini pake sepatu apa ya~*
huaaaaa…..jadi kangen sama sora dan yud1….!!!!!!
dah lama yah saya nggak ke sini…..
milih sepatu iya susah susah gampang
btw walau cewek, saya jarang beli sepatu loh…yah saya emang beda gitu sama teman-teman cewek yang gampang beli sepatu…
prinsip saya kalau beli itu yang awet, bagus, mahal dikit ga papa..makanya saya jarang beli…kan buat nabung beli yang agak awet dikit…
eh iya….sekarang saya jadi nggak nge-blog yah???
tapi mungkin kita bisa ketemu di KNPM…hehe3x
*sekali lagi hanya yang satu jurusan sama saya yang tau soal ini*
hehe…sora dah lulus kuliah belum?
kalau belum..ati2 saya balap yah… HA HA HA!!!!!200X
eh..komen lagi.btw ni yang di jakarta pada demo 21 mei_soeharto yah???
ck..ck..saya doakan dari jauh yah supaya bisa ketemu SBY syukur-syukur bisa dialog..
ayo, maju pantang mundur..
TOLAK KENAIKAN HARGA BBM!!!
@ cK
Owyeah?
:::::
@ lily
Yaah, beda cewek, beda cara berpikir kayaknya.
There’s something about it, but I’m not gonna spoil any related stuffs. Not here, not now — not yet.
Saya lagi di Bandung, tuh. Jadinya nggak tau deh. ^^;
masihhhh banget!
*cium2in asou-kun*
*gyaaa….!*
@ grace
Apa? Apa? Mbak ngefans berat sama Sou-kun?
Aduh, terima kasih. Jadi enak…
*dilempar pisau*
*bacabaca*
Haha… mirip juga, sih,,
Eh, kalo kasusnya gini gimana?
Punya banyak sepatu, tapi cuman satu yang dipake, laennya cuman jadi pajangan doang or dipake sekali-sekali (bahkan nyaris tak pernah dipake.)
Berlaku untuk anak sekolahan, punya sepatu sekolah yang dipake terus selama 6 hari. Sepatu lainnya dipake pas ada event-event khusus,
Apa itu berarti… massaka!?
Tergantung pada harga sepatu dan seberapa karatan sudah itu sepatu….
*siul2*
@ otakushoujo
Jadi kayak playboy?
Udah nggaet banyak, tapi jarang ditemuin. Tersia-sia, lagi!!
(sepatunya, maksud saya)
:::::
@ alex®
Sepatu saya nggak pernah karatan, kok.
wong bahannya bukan dari logam xD@ Sora9n :
Kebanyakan yang nulis memang bapak-bapak.
Yang ibu-ibu sangat sedikit. Psikoanalisis memang “ilmunya laki-laki”, apalagi kalau pakai kata “oedipus complex”
Oiya, kalau p**is cowok memang yang paling umum itu simbolnya ikat pinggang dan kancing. Coba saja kamu gambar manusia lengkap (maksudnya bukan setengah badan), tapi yang penting lengkap seluruh tubuhnya. Terus di scan dan dikirim samaku, ntar bisa kuanalisis.
Kalau simbol v***na cewek itu biasanya ***SENSOR*** (dirahasiakan)
@ Alex :
Hohohoho…. kalau fetish lain lagi ceritanya. Btw, apakah Sora fetish ?
Nggak apa-apa, asal jangan voyeur atau eksibisionis, apalagi transvestite. 
Hmm, gambar seluruh badan yaa…
… _O_ …
…… | ……
……/ \……
Tuh, itu.
Bisa juga pose lain yang melibatkan gerak,
……_O_/
… / ./
…_/\
…… /
*nggak perlu di-scan dan kirim* xDASCII rulez!
Saudara™ jangan bicara dan menyebarkan fitnah yang keji™ di blog saya™ ini. Saya bisa menuntut saudara™ atas dasar perkataan asusila dan pencemaran nama baik berdasarkan UU ITE!!
[/gagPenting]
*baca isi postingan ama komen-komen*
Gemana yaaa… kalo gitu bisa repot neh.
masalahnya sampai sekarang saya nggak tahu sepatu seperti apa yang cocok buat saya.
karena akhir-akhir ini hampir semua sepatu yang saya beli nggak ada yang tahan lama (paling cuma sampe itungan bulan). Mulai dari yang bermerek sampai yang ‘ecengan’. Kalo keadaan ini dibandingkan dengan jodoh…
*cemas*
*started praying*
God, Plis, Don’t…
Tapi gemana dengan ide ‘mendapatkan jodoh itu seperti Harry Potter mendapatkan tongkat sihirnya’?
Btw, saya lebih cenderung milih sepatu warna putih atau crem
:: cK
berarti khan sepatunya dicariin sama ibu. itu artinya nanti kalau cari pacar juga dicariin sama ibu..
*kesepet dengan telak* *lukaku berdarah lagi (-_-) *
Saya SELALU nyari sepatu sendiri kok…
*started to cry*
:CRY: Hiks…
Ps. to cK
Sorry chik, saya tahu kok kalo kamu ngga’ lagi ngomongin saya. Cuma saya memang sensi banget aja dengan yang begituan.
Ps. 2
[nyenyes mode: ON]
apakah sudah ada malaikat baik hati yang datang tanpa diundang pulang minta antar, dengan senyum malaikatnya memberikan padamu buku Agus Mustafa yang kemaren itu?
[/OFF]
BTW, what does fangirl mean? I never heard about it 0_o”\
lah, tinggal nyari ke toko lain aja khan? Toh, kamu udah punya gambaran pasti tentang jenis, merek, ukuran dan bahan dari sepatu yang mo dibeli. tinggal sebutin itu semua aja ke pemilik toko sepatu lain, trus tinggal tunggu apa mereka punya apa enggak, iya khan?
[sok bijak mode : oFF]
@ Snowie
Beda, dong. Tongkat sihir HarPot kan nggak bisa nolak, nggak punya emosi, dan nggak punya orangtua yang (boleh jadi) nggak setuju sama pacar anaknya.
My advice: learn more physics.
Saya belum baca sih, tapi udah dapet cuplikan isinya. Hasil google, so there you have it. ^^
Udah saya tanya. Kata mereka, produk itu ukuran paling gedenya nomor 41… dan di atas itu nggak ada ukuran lebih besar.
Sayangnya nomor sepatu saya 42.
@ goldfriend
Oedipus complex…
ctrl-w site milf
Tapi saya ndak ngerti hubungannya itu dimana, Bang
hm…tentunya sepatu yang bagus adalah yang terpajang rapi di toko dan tidak diobral semaunya, bukan?
mengenai yang “pilih sepatu sesuai dengan kepribadian anda”, wah…kadang saya selalu tertarik dengan sepatu yang ‘cewek banget’ dan bentuk yang unik. jadi bagaimana itu? Justru menurut saya, kalau tidak sesuai kepribadian akan jadi lebih menarik.
tapi kadang saya berpikir terlalu ekonomis mungkin, cape pilih pilih, jadinya suka beli yang murah aja di pasar baru. Tapi akhir akhir ini agak berubah. Ingiinya beli sepatu yang awet, biarlah mahal, asal awet. Tentunya lebih hemat.
adoh..lagi butuh sepatu niiiih, sepatu saya udah jebol
trus apa bedanya sama sepatu? 0_o”\
…
Kenapa saya nanyain bandingannya ke HP, karena Harry khan udah di ‘takdirkan’ sama tongkatnya itu. So, walaupun udah disuguhkan beberapa tongkat lainnya sebelumnya, namun pada akhirnya ‘tongkat bulu phoenik’ juga yang dimiliki olehnya. gituuu…
Hei, jangan bawa-bawa ortu. Khan nggak ada di postingan
akhir kata, … yang tabah ya…
Siapa? Saya? Bagian yang mana? Physics kan jangkauannya luas banget.
*membayangkan mempelajari teknik nuklir, atom, geofisika, metafisika, …*
eh. emang deh. google man!
Mana bisa begitu. Karena ada kalimat-kalimat pak mustafa dalam bukunya itu yang menurut saya OK BGT tentang penjelasan kaitan sains dan agama. Nggak boleh kalimat orang lain.
Lagian, baca yang bagian mananya, tentang apa?
Deuh, terpaksa nih bikinin ‘resume’nya
mana lagi males mikir serius lagi… *jadi ingat janji ama SP*@ eMina
Itu namanya, saling melengkapi kalau dalam jodoh.
:::::
@ Snowie
Sepatu kan kesamaan2nya udah saya jelasin di atas. Tongkat HarPot belum tentu cocok digituin… :-”
Now we know what a girl wants…
*mulai bisa memahami*
Yang dibahas di bukunya beliau kan (AFAIK, CMIIW) menyinggung elektromagnet. Tentunya yang saya maksud adalah bidang yang bersangkutan. ^^
BTW, di cuplikan (dan review) yang saya baca, terkesan beliau mencampurkan konsep metafisika (doa) dengan fisika (medan magnet, gaya lorentz). Kalau yang saya dapat itu benar — saya sendiri belum nangkep, di mana relevansinya dua hal itu sampai bisa dibanding2kan…? ^^;;
Uum, bagaimana kalau mbak bikin review-nya? Disertai kutipan dari buku aslinya. Nanti saya baca deh.
ni postingan masih rame aja..
Numpang OOT
eh, mambah satu orang lagi nih yang request
Tapi untung aja saya udah memutuskan untuk nyelesaiin bahannya untuk di publish hari ini. Ya udah sekalian aja… ^^;;
JFYI, semua pembahasan tentang buku itu, hampir 100% adalah apa yang tertulis dibukunya. Walaupun ada yang di parafrase, tapi TIDAK SEDIKIT PUN ide saya pribadi tercampur kedalamnya. Kalo pun ada kalimat-kalimat atau pernyataan yang mirip dengan diskusi kita yang lalu, itu memang suatu kebetulan.
(saya sendiri aja sempat kaget juga waktu pertama kali membacanya, keren aja, mengetahui apa yang pernah kita bahas bareng mas Gentole and Geddoe juga menjadi bahasan dalam buku best sellernya agus Mustafa
)
hmmm, wakatta. I’ll try to learn it in the future if I have time
electromagnet stuff, I mean
Benar, tapi itu terkait dengan ‘ritual’ ibadah hajidan ibadah sholat ^^
Sayangnya ‘postingan’ yang saya buat nggak me ‘review’ itu..
eh, kok nggak ada trackback nya ya… 0_o”\
coba klik disini