IT, Surat Kertas, dan Dongeng Masa Depan (?)
April 22, 2008 oleh sora9n
Dulu, waktu saya masih SD, orangtua saya sering sekali memutar lagu-lagu lama ketika berkendaraan. Salah satu dari sekian lagu tersebut adalah lagu berjudul “Teluk Bayur” — yang waktu itu cover version-nya dinyanyikan oleh Rani.
Selamat tinggal Teluk Bayur permai,
Daku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang,
Bekal hidup kelak dihari tuaSelamat tinggal kasihku yang tercinta,
Do’akan agarku cepat kembali
Kuharapkan suratmu setiap minggu,
‘kan ku jadikan pembuluh rindu…
–Teluk Bayur
(cipt. Zaenal Arifin)
Jadi, berpuluh tahun sebelum saya duduk di depan laptop dan menuliskan postingan yang satu ini, lagu tersebut sudah beroleh ketenaran di kalangan remaja yang satu generasi dengan ayah dan ibu saya. Dan, yang namanya beda generasi antara saya yang waktu itu masih kecil dan imut dengan mereka yang sudah dewasa dan bisa menyetir mobil…
…sudah tentu terjadi gap dalam memandang dunia.
Saya ingat waktu itu TELKOM belum lama menyelesaikan sambungan telepon di kompleks rumah saya. Mungkin baru beberapa bulan sejak telepon di rumah saya berdering untuk pertama kalinya, dan saya bisa mengobrol dengan tetangga tanpa perlu bertatap muka. ^^V
Maka saya pun bertanya — dengan kepolosan khas anak SD — kepada ibu saya mengenai lirik lagu yang disebut sebelumnya.
“Lho, kok kirim-kiriman surat sih? Sekarang kan kita udah bisa nelpon?”
![]()
Tentunya ibu saya kemudian menjelaskan dengan detail bahwa “ini lagu lama”, “dulu belum ada telepon”, and there goes all the yadda-yadda… intinya, segala hal yang bisa dijelaskan oleh seorang ibu pada anaknya yang bingung soal kemajuan teknologi. Saya yakin Anda paham apa yang saya maksud.
***
Nah, sejak saat itu, saya jadi sadar bahwa teknologi informasi itu berkembang. Cara berkomunikasi pun tidak lagi sangat terbatas pada media lisan dan surat-menyurat saja. Dunia jadi semakin sempit: perpisahan pun tidak lagi menjadi momok yang menakutkan seperti halnya berdekade-dekade yang lalu.
Ibaratnya, dulu Anda harus menunggu surat setiap minggu untuk membuluh rindu™. Kini, Anda bisa mengirim e-mail setiap jam dan langsung sampai. Anda bahkan bisa ngobrol langsung via webcam jika Anda mau dan punya sarananya… tentunya dengan asumsi Anda bukan fakir benwit™. ^^
Lalu?
Tentunya, sebagai salah satu akibatnya, sekarang saya melihat bahwa kisah cinta masa lalu tidak selamanya cocok dengan keadaan sekarang. Misalnya bagian berpisah dan berkomunikasi lewat surat. Dengan berkembangnya teknologi informasi, maka tidak mustahil bahwa surat kertas (dengan amplop dan perangko yang dijilat) akan menjadi relik purbakala sahaja™ dalam waktu dekat.
E-mail, Y!M, dan blog pun menjadi pembuluh rindu™ zaman baru.
Lantas, surat kertas akan semakin terpinggirkan. Kuno. Tidak lagi praktis dan relevan dalam menghadapi tuntutan zaman yang serba efisien… atau, setidaknya, zaman yang mengharapkan segala sesuatunya dilakukan seefisien mungkin.
***
Tapi kemudian saya tersadar akan suatu hal.
Di masa kini, kita memandang bahwa “surat kertas” itu sangat kuno dan jadul. Obsolete. Tidak praktis, dan juga tidak relevan. Sekarang sih saya tertawa saja memandang bahwa seseorang bisa “menantikan surat setiap minggu” hanya untuk mendapat kabar dari sang kekasih… sebab kesannya memang seperti kisah yang jauh dari kenyataan.
Sebagaimana saya sekarang melihat bahwa “pangeran berkuda” hanya ada di dongeng-dongeng (karena pangeran sekarang pada tajir dan punya Ferrari serta jet pribadi =_=!), saya pun melihat bahwa surat kertas akan bernasib sama dalam beberapa puluh tahun ke depan.
…tetapi, bagaimana dengan berabad-abad lagi? Atau ribuan tahun lagi, kalau dunia masih belum kiamat dan teknologi informasi terus berkembang. Hampir pasti bahwa sistem komunikasi seperti e-mail dan Y!M pun akan turut menjadi obsolete dan tak digunakan lagi. Sebagaimana surat kertas yang disinggung sebelumnya.
……
……
Mungkin, kalau begitu, kisah cinta dan dongeng anak cucu kita tak lagi mengetengahkan surat (dan pengumuman tertulis) sebagai sarana komunikasi!
Boleh jadi, dalam dongeng-dongeng mereka, yang akan muncul adalah epik-epik yang mengetengahkan moda komunikasi elektronik yang kita kenal sekarang!
Contohnya? Mungkin saja seperti berikut ini.
Pasangan seperti Romeo dan Juliet mungkin dipertemukan untuk pertama kali di blogosphere.
Tokoh utama bertipe-pangeran sedang mencari seorang puteri untuk dijadikan pendamping hidup. Sebuah sayembara pun diumumkan lewat mailing-list.
Sosok ksatria a la Wilfred of Ivanhoe tidak lagi bertarung di lapangan istana di hadapan Prince John — melainkan beradu di lapangan DotA yang di-host oleh server kerajaan (atau milik negara republik, you name it).
Monolog legendaris seperti “To be or not to be” bukan lagi diucapkan secara lisan oleh karakter model Hamlet — melainkan di-post di blog oleh sang karakter dan diberi tag “solilokui”.
…dan lain sebagainya. ^^V
Orang bilang, “mimpi hari ini adalah kenyataan di masa depan”. Tapi, entah kenapa — dalam kasus ini — saya lebih suka beranggapan bahwa “kenyataan hari ini (mungkin) adalah dongeng di masa depan”.
Oh well. ![]()
EPIC!!!! Dari ‘Teluk Bayur’ ke Mailing List *_*
Implikasi buruk dari majunya teknologi komunikasi :
- banyak wartel tutup
- tukang pos nganggur (di masa depan orang pada ga ngerti lagu “Please Mr Postman” nya Beatles)
- gak ada alesan ‘lupa’ ato ‘ga punya duit beli perangko’ buat bales surat *halah*
- tulisan orang makin jelek karna kebiasaan ngetik
Halah posting Epic dikasi komen sampah, udah ah X(
~Hore pertama!
Lalu kalau collective inteligence global telah dapat tercapai dan semua makhluk tergabung di dalamnya, bagaimana jadinya?
@ Apret
……
Ya, seperti itu lah. ^^;
*sambil ngebayangin, siapa yang masih mau dengerin lagu Beatles di tahun 3000 M* xD
Yay! Selamat!
*toast* ^^_cU
:::::
@ Kopral Geddoe
Lah, collective intelligence bukannya lebih ke arah mind-group dan perwujudan tujuan bersama? Post ini kan temanya tentang perkembangan moda komunikasi? (o_0)”\
*bingung*
Sayangnya, dongeng di masa depan akan di-hollywood-isasi habis-habisan
*njlebbb*
Maksutnya kalau terjadi digitalisasi eksistensi kayak di soft science fiction.
hahahahahaha
ROFL..
keren tuh kalo puisi model hamlet di lakukan di blogosphere…
[...]kenyataan hari ini (mungkin) adalah dongeng di masa depan[...]
sepertinya, tidak akan lama lagi hiks…
dan mungkin kita akan berbuih menerangkan perangko, pos dan cerita cinta melalui surat ~>> eh yg ini saya belum pernah
wuahhh…menarik!
tapi mungkin pas di jaman itu, Y!M bakalan jadi sesuatu yang langka dan romantis buat mengungkapkan sesuatu ya? seperti halnya surat kertas jaman ini, kayanya ga biasa aja kalo di kirimin surat kertas, lebih apa ya, seru? *jadi inget dulu jaman2 nya SD masih punya shbt pena…*
wew, gak kebayang ntar di masa depan kayak gimana ya?
bisa jadi lagu-lagu cinta ga akan berbau pertemuan di jalan, surat cinta, ataupun kencan di restoran. melainkan lirik-liriknya akan didominasi dengan kisah cinta dengan surat elektronik, kencan dengan webcam ataupun pertemuan di chatroom..
yang lebih parah, bisa aja setelah teknologi kian maju, pernikahanpun tak perlu tatap muka..
tapi…
tetep gak kebayang, kalau teknologi semakin maju, apa yang akan terjadi ya? apalagi kalau Y!M dan sejenisnya menjadi hal yang antik seperti kertas surat pada jaman sekarang. doh!
wah…komennya saya panjang ya(TM)..
dan mimpi serta khayalan hari ini adalah kenyataan di masa depan.
*mari kita bermimpi*
dan bisa saja kemungkinan komunikasi masa depan bukan seperti apa yang kita bayangkan saat ini. bukan dengan Y!M, SMS, email, skype, dll. Tapi bisa saja dengan menggunakan sebuah mesin telepati yang bisa membaca pikiran dan pesan seseorang dan mengantarkannya pada siapa yang kita tuju. Langsung tanpa ada sarana lain…..
Juga membayangkan bagaimana sebuah hubungan seks
dilakukan di masa depan. ternyata tidak lagi melalui pencampuran cairan, tetapi melalui sensasi lewat otak, dimana kenikmatan seksual itu langsung dirasakan di otak lewat sebuah kabel atau gelombang elektromagnetik yang menghubungkan 2 orang yang berhubungan seksual dan bukan lewat alat vital.
*ngomong apa sih gw*
*bangun…bangun…fer !!*
@ Catshade
Jadi inget pelem Pearl Harbor…
*film sejarah bumbu hollywood tuh*:::::
@ Goenawan Lee
*ngakak keras-keras*
:::::
@ Kopral Geddoe
Tergantung… Kalau informasi yang didapat tiap individu tetap tidak merata satu sama lainnya, tentunya teknologi informasi akan tetap berkembang. To any effective means of communication.
Kalau semuanya jadi makhluk digital? Sudah tentu ngobrol (dan kopdarnya) langsung dalam kabel serat optik!
:::::
@ Kiki Ahmadi
Dan Hamlet jadi seleb blog?
:::::
@ goop
Wah, iya. Betul juga. Bakal ada generasi yang tumbuh tanpa mengenal surat kertas, tuh.
Dan harga koleksi perangko bakal meroket… tambang emas, tambang emas… xD
*sambil bongkar2 koleksi perangko jaman SD*
:::::
@ grace
Kayaknya, iya. Pacaran via YM bakal dianggap lebih romantis saat itu…
…sebagaimana, tempo dulu, ibu saya ngetawain saya habis-habisan gara-gara saya bilang “bikin surat cinta itu lebih rapi kalo pake komputer”. Katanya saya nggak romantis.
:::::
@ cK
“I knew I loved you before I chat with you;
I think I wished you into Skype…”
–Cyber Garden
*ngakak*
Ya! Selamat! Kita beri hadiah Nobel™.
:::::
@ Pyrrho
Lha, iya. Kan udah saya tulis di atas.
Entah kenapa, omongan Mas Fertob mengingatkan saya sama Kangmas Cyrano dan Jules Verne. xD
BTW, saya bangun pagi lho hari ini.
Mungkin juga saat itu pasangan kencan yang lebih eksotis semacam kapten Spock dan bangsa Klingon mulai beredar di bumi.
@ oddworld
…dan artis blasteran Romulan-Manusia pun mulai masuk TV.
*imaginations running wild*
@sora9n
Hahaha…kalo begitu anda mesti siap-siap mendengar cucu anda bertanya tentang lagu Savage Garden dan film You’ve Got Mail. Jawaban anda harus lebih kreatif dari orang tua anda . Hehehe…
Saya khawatir saya tidak mampu menjelaskan apa-apa kepada anak cucu saya, kalo mereka nanya soal YM dll.
@geddoe
Itu udah lewat kiamat belum? Udah lewat men versus machines pastinya yah.
Mungkin beribu tahun kedepan makin banyak “jomblo abadi” mengingat komen fertob ttg hubungan seksual melalui sensasi otak.
@ gentole
Ah, begini. Cara menjelaskan yang baik, tentunya harus menggunakan contoh.
Mungkin saya akan bilang seperti berikut:
P.s. No, I’m not currently doing that. Tapi nggak nolak juga sih kalo ada.
[/gakPenting]
:::::
@ CY
Hush.
what an inspirational posting !!!
masa depan ya…baru saja terlintas dalam otak untuk membuat sebuah esai berjudul “masa depan”….dan tiba -tiba menemukan tulisan ini menjadikan inspirasi itu makin kuat saja XD
terutama untuk contoh dongeng-dongengnya.
mungkin bisa saja, seperti dikatakan mas fertob -dan ini pernah saya tonton di sebuah film sci-fi bahwa manusia bisa menjangkau kemajuan teknologi dimana hbungan seksual dilakukan melalui imaji dunia maya.
mengerikan bgt…
atau misalnya permainan2 3D yang bisa dimasuki manusia secara nyata -manusia masuk dalam dunia maya secara utuh…?
dan akhirnya kehidupan sekarang ini-yang kita anggap sangat canggih, pun menjadi sejarah kuno di masa depan.
saya pernah membuat sebuah cerpen (ngaco sih) tentang kemajuan tekno -terlalu banyak nonton film hollywood sih -_-, sehingga sebuah taman yang penuh rumput hijau pun menjadi sebuah dunia utopia yang penuh imajinasi.
well…komen saya kepanjangan.
pokoknya kita, kehidupan kita pada masa apapun itu, kelak akan menjadi sejarah.
*langsung nulis*
o iya, ada yang terlewat XD
kemajuan tekno saat ini dimana jarak dan waktu tak lagi menjadi hambatan untk berkomunikasi, bahkan dalam hitungan detik kita bisa bercakap2 dan melihat orang di ujung dunia -pun, bagi saya sih tak pernah bisa memuaskan kebahagiaan ‘bertemu secara langsung’. Karena secara emosional, pertemuan lagnsung bisa lebih mengikat hati, melalui tatapan mata atau sentuhan secara fisik.
fitrahnya kan begitu. kayaknya pertemuan melalui produk teknologi terlalu gersang… -_-
wah, jaman emang semakin maju ya, tapi menurut saia dalam surat menyurat itu ada seni tersendiri lho rasanya
jaman dulu nembak (baca : menyatakan cinta) pake surat itu merupakan hal yang lumrah, tapi sekarang pasti dianggap kuno banget! soalnya pake sms juga bisa.
hmm, bukankah anak sekarang ga begitu doyan lagi sama dongeng dan lebih suka ama setantron(TM) ?
Salam kenal kawan
@ eMina
Mungkin karena belum terbiasa aja, mbak.
Tapi dosen saya juga ngomong gitu, sih. ^^;;
:::::
@ OraJere
Salam kenal juga.
Hohoho! Kalau menurut saya, salah satu ’seni’ dalam menulis surat cinta , harus hati-hati mengontrol perasaan. Salah-salah justru keliatan groginya
karena tulisannya gemetaran, gitu.Lah, setantron itu pun kebanyakan adaptasi modern dari Cinderella. Dongeng juga tuh. ^^
hmm.. jadi ingat kata temen saya: “dunia ini hanya selebar layar monitor…”
kakak cewek saya, nemu pacar lewat dunia maya, pas serius bingung nyari duit tuk ktemu, karena cowoknya di….. Brazil!
ah, masa depan tahun 3000 yg kubayangkan kok malah sperti film the matrix ya?
tahun 2000 hanya data yg bisa kita kirim
di masa depan, jin bukan lagi sekedar dongeng dan khayalan karena mungkin tubuh pun bisa dikirim ke mana saja dalam sepersekian detik
teleport…. ?
oh ya, dulu yang ngetrend teluk bayur ya?
keknya sekarang yang ngetrend tu teluk bayut deh,hehehehe
@ jensen99 | adit
Efek bius Wachowski bersaudara merajalela….
:::::
@ OraJere
Hush.
Entri menarik..
Kalau serenade model Romeo dan Juliet ngga bakal ditemui di masa depan, mungkin pelariannya juga bisa jadi ke game online ya…
Romeo yang merayu (?) Juliet yang sedang hunting boss monster.
Ah, saya jadi ingat juga tentang dunia virtual yang di PS3.
Rasanya sudah satu abad aku nggak ke sini dan perubahannya luar biasa. Begitu masuk disapa dengan posting Bahasa Inggris. Karena aku memakai hp aku belum bisa melihat posting di bawahnya sehingga aku berpikir akan lama baca tulisan-tulisan Sora yang sangat bagus. Untunglah ketemu juga tulisan dengan bahasa sendiri.
Teknologi komunikasi berkembang. Surat tetap ada tetapi bentuk dan cara pengirimannya berubah. Di negara yang budaya bertulis suratnya tinggi, surat-surat dan kartu-kartu yang memerlukan kertas masih memiliki lalu lintas tinggi. Namun, di Indonesia yang budaya tulisnya (maupun bacanya) rendah, sebelum ada email pun lalu lintas surat pos juga rendah.
Saya sangat gembira ketika teknologi web berkembang dan sampai ke web2.0 ternyata bangsa kita menyambut dengan gempita melalui blog. Tumbuhnya blog meningkatkan budaya tulis kita secara luar biasa. Ah… Saya jadi terinspirasi untuk menuliskannya sebagai postingan sendiri di blog saya.
Makasih Sora!
@ Xaliber von Reginhild
Gyakakakakak…
terus kirim message-all deh pas lagi battle: kanojo ore ga mamoru!!
*cuma bisa ngakak*
:::::
@ kombor
Euh, Kang Kombor. Lama nggak keliatan Kang? ^^
Soal postingan yang paling baru, emang sengaja pake bahasa Inggris. Soalnya lagi ngomongin album musik Jepang yang peminatnya nggak terlalu banyak di sini… kalo biasanya sih saya pake Bahasa Indonesia aja, kok. (o_0)”\
Betul juga.
Dibandingin dulu yang harus mengirim ke koran/majalah; itu pun belum tentu dimuat. Sekarang tinggal di-post di blog dan (kalo beruntung) bakal ditemuin orang lewat google.
Ah, sama-sama. ^^ Ditunggu tulisannya.
wah mungkin saya bisa kasih komentar di blog nya kartini..
ato berdebat di milis sama soekarno..
ato ikut merumuskan isi konferensi meja bundar..
ato lihat bung tomo pidato live di komputer ..
indahnya ..
@ nindityo
Dan sejarah pun dipengaruhi bukan lagi oleh surat2 Kartini atau pidato Bung Karno… melainkan juga lewat berbagai blog pemikiran dan forum2 diskusi internet. ^^
*membayangkan*
15 tahun lalu:
- Wah, ada game Digger
- Game Mario-ku udah sampe world 9-3, lho.
10 tahun lalu:
- Wah, ada Play Station™
- Game Suikoden-ku udah level 34, lho.
5 tahun lalu:
*mental down*)
- Wah, ada blog
- Pengunjung blog-ku udah sejuta, lho. (Teman: Gila, dalam setahun udah sejuta?
Sekarang:
- Wah, ada Twitter, lho.
- Blog-ku bisa dipasangi Twitter, keren kan?
5 tahun mendatang:
Ada yang bisa kasih gambaran?
@ Xaliber von Reginhild
wah asyik nih…
* b0okmark aah *
Hm, istilahnya kalau ngga salah: aliran futurisme, mohon diwikipedia.
Di masa depan juga bisa jadi akan ada anti-futurisme. Biasa kan peradaban manusia begitu, pasti selalu nyari lawan sampai absolut utopia. Amiiiin.
Sama dengan yang lain, saya juga kagum dengan cara berpikir Sora. Teknis, praktis, tapi ngabstrak semrawut juga.
@ Marisa
Mari berharap agar yang lebih mendekati utopia yang akan terjadi, kalau begitu. ^^
Pijakan saya sih membandingkan derajat kemajuan antara dulu dan sekarang. Makanya kesannya jadi optimis seperti yang ditulis di atas.
Well… mungkin karena saya ini seniman(-wannabe) yang kuliahnya nyasar di jurusan teknik. Makanya cara berpikirnya jadi begitu.