anime-culture dan… jilbab
April 11, 2008 oleh sora9n
Ceritanya, tempo hari, saya dan Kopral Geddoe sedang terlibat obrolan santai via Yahoo! Messenger. Dan mendadak, entah bagaimana, tahu-tahu kami membicarakan amalgam dari dua hal yang (aslinya) sama sekali lepas dan tak berhubungan.
Kalau Anda memperhatikan judul di atas, tentunya Anda bisa menangkap bahwa dua hal yang tak berhubungan itu adalah anime-culture dan jilbab.
Apa? Anime-culture dan jilbab?

Well, something like that… ^^;;
Jadi, sejak zaman kuda gigit besi anak SMA naik motor ke sekolah saya bertahun-tahun lalu, ada sebuah kecenderungan menarik yang saya amati. Dan, berhubung saya ini dulunya lumayan aktif di kegiatan ROHIS sekolah, maka kecenderungan ini jadi tampak semakin jelas dalam pengamatan saya. Bahwasanya, barang-barang Jepang (dan budaya manga-anime pada khususnya) tampak sangat berhasil memasuki selera anak-anak yang rajin nongkrong di masjid sekolah.
Bahkan, kalau mau jujur, justru anak-anak yang pola pikirnya cenderung ‘kanan’ ini lebih bisa menerima budaya Jepang, dibandingkan dengan counterpart-nya dari Eropa dan Amerika!
Bukanlah hal yang aneh, misalnya, jika Anda menemukan serombongan cewek berjilbab yang ngefans pada Himura Kenshin dan bahkan menetapkan kriteria cowok favorit mereka dari situ. Majalah dinding di masjid sekolah saya dihiasi ilustrasi bergaya manga. Beberapa rekan saya yang ikhwan bahkan rajin menonton Kapten Tsubasa dan InuYasha setiap minggunya — animo yang sangat besar bila dibandingkan dengan penerimaan terhadap barang-barang yang berasal dari Barat™. Anda bisa saja mengadakan kontes popularitas antara Sanosuke Sagara melawan Spider-Man, dan orang-orang lebih memilih Sanosuke… betapapun Spider-Man aslinya merupakan salah satu tokoh komik Amerika paling populer saat ini.
Seperti yang saya singgung sekilas di atas tadi, budaya Jepang tampaknya sedang tumbuh subur di kalangan muda Islam. Atau, setidaknya, di kalangan yang tumbuh di lingkungan bernuansa Islam cukup kental.
Seperti apa sebenarnya gejala ini?
Waktu itu, Geddoe menyampaikan bahwa ada kecenderungan yang menarik di sebuah forum ‘hijau’ yang ia temukan di internet. Bahwasanya, di forum tersebut terdapat generasi pengguna yang merupakan amalgam antara identitas “Islam” dan “anime-culture”.
Singkatnya,
Anak-anak yang bangga dengan identitas keislaman mereka — ketika, di saat yang sama, menggemari anime dan manga sebagai hiburan tersendiri.
Intinya sendiri cukup jelas. Di satu sisi, anak-anak dari generasi ini merasa bangga sebagai seorang muslim per se. Meskipun demikian, mereka tidak lantas terpaku pada budaya Islam (terutama Islam-Arab) saja — di sisi lain, mereka juga mengakomodasi masukan dari budaya di luar itu. Kebetulan, budaya Jepang-lah yang dirasa cocok untuk mengisi porsi masukan tersebut.
Bahkan, dalam banyak kasus, penetrasi budaya ini menghasilkan amalgam anime-islami sebagaimana yang saya contohkan dengan gambar di atas. Hal inilah yang terjadi ketika sarana dan buletin dakwah ditaburi oleh ilustrasi bergaya manga — atau ketika avatar cewek berjilbab dan cowok berkopiah menjadi pilihan di forum-forum internet. Dengan satu dan lain cara, “anime-culture” dan “Islam” seolah-olah bisa dipersatukan dan mempunyai embodimen tersendiri di lingkungan kita.
Akibat lainnya? Tentu saja jadi tidak sulit untuk menemukan, bahwasanya seorang cewek berjilbab pun bisa membuat list karakter cowok anime kesukaannya.
*ditimpuk Grace* x(
Tentunya gejala semacam ini tidak muncul tiba-tiba. Pasti ada penyebabnya.
Hal itulah yang kemudian melintas jadi topik pembicaraan tempo hari. Mengapa barang-barang Jepang, seperti anime dan manga, bisa diterima dan berbaur dengan budaya “Islam” yang ada di Indonesia, sampai-sampai mengalahkan counterpart mereka dari Amerika dan Eropa?
Maka, kami (baca: saya dan Geddoe) pun bertukar hipotesis soal ini.
Menurut saya,
Mungkin, karena di bawah sadar sudah terbentuk image bahwa Amerika™, Barat™, dan antek-anteknya™ sudah terstigma negatif, maka generasi ini cenderung menolak hal-hal yang berasosiasi dengan cap tersebut. Dalam kasus ini, Jepang tidak terkesan se-clash-confronting itunya amat terhadap Islam bila dibandingkan dengan Barat. Ini menjadi faktor penarik yang potensial untuk generasi muda Islam yang gerah terhadap budaya Barat™ yang terlalu permisif™ (
) ; lantas menjadi alternatif hiburan yang bisa diterima.
Geddoe sendiri mempunyai pendapat yang rada berbeda:
Setidaknya, ada satu hal yang membuat Islam [sekurangnya di bawah sadar] merasa perlu untuk mem-blend diri mereka dengan budaya pop. Hal yang sama berhasil dilakukan dengan baik oleh sang (supposedly) arch-enemy, Kristen. Ingat Christ Rock, serta penampilan organisasi Gereja di dunia hiburan: Van Helsing, Chrno Crusade, dan lain-lain sebagainya.
Kartu as ini tidak dimiliki Islam. Oleh karena itu, tampaknya terbentuk keinginan agar, entah bagaimana, Islam pun bisa berbaur dan memiliki perwakilan di bidang pop-culture.
Tapi, mengapa Jepang diterima? Bukankah negara ini sendiri cenderung sekuler, sama seperti Eropa dan Amerika? Bahkan dunia hiburan mereka pun juga cenderung permisif — sebagaimana yang bisa kita temukan pada berbagai barang-barang ecchi dan H.
Untuk ini, saya kemudian berpendapat bahwa
Memang benar budaya Jepang mempunyai sisi permisifnya sendiri. Dan mereka memang cenderung menganut liberalisme — tak jauh beda dengan Amerika maupun Eropa pada umumnya.
Tapi, meskipun begitu, ada pengecualian: budaya Jepang, yang diwakili oleh hiburan mereka, memiliki nilai-nilai Timur yang dihargai oleh kita di Indonesia… yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Keutamaan akan sikap sopan; keadaan keluarga yang guyub; hormat pada guru/senior; dan semangat individualisme yang lebih rendah dibandingkan dengan counterpart mereka dari Barat. Inilah yang tercermin di berbagai media, baik itu manga, anime, ataupun dorama.
Di Party of Five dan Friends, Anda menemukan anak-anak yang berusaha mandiri dan jauh dari orangtua — tetapi, di Ichi Rittoru no Namida dan Dragon Zakura, misalnya, Anda menemukan bahwa orangtua dan keluarga adalah hal yang sama pentingnya dengan usaha menjalani hidup dan menjadi dewasa.
Dan, dengan demikian, kita melihat bahwa terdapat faktor pendorong dan penarik yang, dengan satu dan lain cara, membuat budaya Jepang terkesan lebih favorable di mata generasi muda Islam yang dibahas sebelumnya. Tentunya perlu dicatat bahwa semua penjelasan di atas hanyalah hipotesis murni — yang secara brutal dilempar-lempar melintas lautan lewat HTTP port 8080 oleh IM client kami masing-masing (
). Dugaan-dugaan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. ^^
As The Dust Settles
Tentunya dialog di atas tidaklah bermaksud menyatakan bahwa “budaya Jepang lebih baik daripada budaya Barat”, atau malah meninggi-ninggikan bahwa “anime-culture itu cocok diamalgamkan dengan budaya Islam”. No, that’s not it. Kenyataannya, menurut saya, kecenderungan bahwa sebuah generasi kini memadukan keduanya adalah hal yang cukup menarik untuk dibahas — walaupun secara iseng-iseng — dan saya yakin bahwa rekan chat saya waktu itu pun berpendapat demikian. Bukan begitu, Kopral?
Hence the chat summary.
Ada pendapat lain?
—–
Ps:
…dan sekarang saya jadi teringat seorang cewek berjilbab sekelas saya waktu SMA. Waktu itu guru sejarah meminta setiap anak membuat 20 soal pilihan ganda tentang Restorasi Meiji — dan dia mengerjakannya bermodal manga Rurouni Kenshin. Doh. x(
PPs:
No, I didn’t develop any serious crush for her. Just in case you’re wondering. ![]()
Akhirnya posting juga™.
Jadi, buat Geddoe yang udah menunggu berhari-hari, dan buat mas Gentole yang penasaran sama isi post yang saya omongin dari kemaren — here goes that particular post.
Enjoy.
Saya sendiri lumayan takjub dengan fenomena ini.
Dan ya, rasanya memang berakar dari lemahnya posisi Islam di budaya pop yang ada.
Kristen punya Christian rock (bahkan versi ekstrimnya, white metal), superhero dengan afiliasi gereja seperti Van Helsing, sampai anime berlatar Kristiani seperti Chrno Crusade. Buddhisme dijadikan elemen penting di banyak karya seperti Buddha-nya Tezuka, The Matrix, sampai Bleach. Kabbalisme Yudaisme berhasil mempenetrasi Final Fantasy VII, dan freethinking pun sudah sejak lama mempengaruhi budaya pop. Yang menarik adalah kesemuanya dikemas begitu pop (mereka bahkan punya biarawati tsundere di Chrno Crusade
)— kesannya budaya pop bisa di-embrace dengan identitas metafisis penganutnya. Tribalisme, memang.
Saya rasa umat Islam tidak sekaya itu dalam budaya pop. Dari segi musik, Islam tidak punya corong semegah U2, paling banter hanyalah album Ramadhan dari Ungu dan band menye-menye™ lainnya. Komik Islami jarang punya kaliber di atas level mading mushalla. Game dengan referensi Islam bisa dibilang tidak ada (Assassin’s Creed menyinggung Islam, namun versi heretiknya). Film hanya level lokal. Rasa ingin merepresentasikan Islam di budaya pop pun mendidih dan bergelora™
.
Dari sinilah muncul upaya animeisasi Islam, dimulai dengan adanya gambar ikhwan-ikhwan dan akhwat-akhwat versi 2 dimensi.
Hipotesis saya, seperti yang disebutkan di atas, ya seperti itu.
Fenomena yang cukup menarik.
(BTW, editan ente menarik juga. Kalau saya nemu itu setahun yang lalu, pasti sudah tak jadikan avatar.
)
Hahaha ini menarik! Islam kayaknya emang terlalu sempit untuk budaya pop. Selalu ada yang dikorbankan untuk bisa “ngepop”. Animeisasi Islam pun bukan tanpa pengorbanan beberapa nilai-nilai, kalo bukan sejumlah doktrin, Islam. Misalnya menggambar makhluk hidup, itukan masih kontroversial dalam tradisi Islam. Pergumulan Islam dan seni (seperti juga Islam dan Sains) pun selalu ada ups and downs. Hanya di Iran dan Islam-Spanyol (dahulu kala ketika bla bla bla), seni bisa sedikit bergerak. Seni pada dasarnya selalu meminta kebebasan, sementara Islam terlalu cerewet dan banyak aturan. Terlepas dari fakta bahwa negara-negara Islam sebagian besar adalah negara pos-kolonial, natur agama itupun cenderung menghambat berkembangnya budaya pop (seni yang diartifisialkan dan dikonsumsi secara masal).
Wajar bila remaja Muslim merasa butuh pelampiasan untuk bisa ngepop. They’re heavily exposed to it. Saya tidak tahu mengapa anime jadi alternatif, mungkin karena memang appealing, atau lebih sedikit mengorbankan nilai-nilai yang mereka pegang, karena, misalnya, anime tidak perlu “artis cantik” yang bisa “menimbulkan fitnah”.
Tapi kayaknya animeisasi Islam hanya marak di Indonesia deh dan terbatas pada kalangan tarbiyah, CMIIW. Di Maroko belum tentu begitu. To many Muslims, any kind of Islamicate pop culture is inimical to the “correct teachings” of Islam. Nasyid pun dibilang bid’ah.
Wah, sebuah analisa yang menarik. Saya baru ngeh juga bahwa memang ternyata perwakilan Islam hampir tidak ada dalam belantara dunia pop. Mungkin itu yang menimbulkan sebuah kerinduan di bawah alam sadar. Dan mungkin ini juga yang menyebabkan novel ayat ayat cinta booming. Sebuah novel yang menurut saya berusaha memadukan nuansa pop dengan Islam.
Oh, iya satu yang ingin saya pertanyakan:
he he he tema yang keren nih
Hmm soal budaya
Kalau hipotesis budaya Jepang itu lebih Timur dibanding budaya barat
*ya iya lah kan*
Nah Islam Indonesia adalah Islam dengan penganut yang kadang-kadang memiliki stigma negatif terhadap Barat so ada sedikit aliansi tidak sadar bahwa lebih baik mengadopsi budaya yang lebih bersaudara Timurdengan indonesia
(dibanding barat tentu)
hal ini juga dipicu bahwa budaya yang dibahas itu memang agak ngetop n kental dengan dunia remaja
*aku juga suka InuYasha, tapi udah lama nggak ngikutin, kabar anaknya Naraku itu gimana ya?
*
Ada OOTnya tuh, maafkan, maafkan
Salam
Waduh maaf komennya kacau
saya berterimakasih kalau Mas mau mengeditkan
Nggak juga Gapapa sih
he he he
salam,
permisi,…..numpang komen…
menurut saya kayaknya imbas dari sentimen “anti amerika” yang lalu ke “anti hollywood” lalu bisa jadi ke “anti disney”…
& itu tidak dilakukan secara sadar oleh orang2 kita (karena anti lalu otomatis tidak mau nonton sama sekali sebagai sebuah gerakan terorganisir, seperti itu misalnya) …..
tapi lebih merupakan naluri, perasaan “tercerahkan”, tidak tertipu lagi dengan romantisisme ala disney (bagi yg mengikuti film2 disney layar lebar tentu bisa merasakan gimana standar “alur” cerita & emosinya, belum lagi gaya amerika yg suka mencaplok karakter2 luar amerika lalu mereka “mainkan” dengan persepsi mereka sendiri)….
atau karena orang kita udah mulai sadar gimana metode propaganda hollywood (& film amerika pada umumnya)…
sehingga untuk mencari safe-nya kita mulai melirik atau bahkan beralih total ke produk2 hiburan non-amerika….
gejala yg identik atau kalo boleh dibilang sama bisa dilihat pada teman2 indie movie maker yang banyak ngambil acuan dari film2 non-amerika, dari prancis misalnya atau bahkan dari tokusatsu ala jepang.
sementara dengan wujudnya yang “animasi”/”kartun”, cute image, cerita2 yg lucu/konyol baik sebagai main menu atau sebagai artificial ingredients (terutama dalam anime2 mainstream yang ditayangkan TV), bisa jadi anime jepang dianggap “cukup aman” untuk dikonsumsi sehingga menjadi “santapan” bagi remaja2 muslim kita…
(meskipun sebetulnya bagi hardcore anime fans kandungan isi anime tidak sesederhana apa yang ditunjukkan gambarnya)
sementara dalam produk budaya islam (kontemporer) sendiri belum sampai tahap ke sana, yang menurut saya (subjektif) karena kita masih sangat disibukkan dengan “tata aturan konservatif” dari “yang punya kekuasaan) (”islam dengan dasar motivasi rasa takut - negativisme”
yang bisa jadi menghalangi pembuatannya, dan belum sampai ke mindset bahwa produk2 budaya seperti itu sebetulnya hanyalah “alat” atau “medium” yg bisa dimanfaatkan oleh orang, negara, isme, atau agama apapun untuk mencapai tujuannya. (”islam dengan dasar positivisme).
terakhir, OOT,
soal musik islami, komik islami, film islami dsb,
menurut saya (subjektif) kenapa kualitasnya “masih level mading sekolah” terutama karena penyakit : lemahnya konsep cerita/tema/ide/maksud yang hendak disampaikan, lalu lemahnya konsistensi memasukkan nyawa/nafas tema itu dalam tiap jengkal cerita/lirik, dan dalam taraf teknis kurangnya penggarapan detail untuk mendukung ide itu (termasuk dalam hal percakapan/dialognya).
…..islami selalu identik dengan gambaran dialognya selalu pake assalamualaikum, gambaran tokoh pakai jilbab, yang cowok pake baju muslim.
…..sementara di sinetron TV, kyai selalu hanya jadi benteng terakhir andalan buat berperang ama setan.
…..atau yang ambigu, ada satu band yang di satu sisi mengaku sebagai pencari Tuhan lengkap dengan busana muslim & pada saat yang sama ia sibuk selingkuh dengan kekasih gelapnya (gak nyebut nama pasti udah pada tau)
sebuah niat tulus menghasilkan karya islami? atau sekedar perilaku kelas menengah yang ingin mendapatkan best of both worlds?
….masih “sibuk” dengan SIMBOLnya, bukan KONSEP pesan & aksekusi karya-nya.
….mungkin perlu penyebar luasan “Islamisasi Pengetahuan”-nya ulama Ismail Raji Faruqi (nb : mohon maaf bila ada salah penulisan) biar orang lebih melek….
bagi saya (subjektif), anime Yakitate Japan!! justru lebih islami dari produk2 budaya islami kita yang mengaku2 “islami”…..hehehe
- ndoo
otaku sejak kecil
*timpuk sora*

weleh, saya kayanya kena information flow nih?
btw, hal itu saya udah sadarin lumayan lama lho, saya perhatiin banyak aktivis rohis dan ikhwan2 yang saya kenal dengan bangga mengaku sebagai dorama otaku dan ngefans berat sama masami ato maki.
saya setuju dengan hipotesa sora, mungkin karena mind set umat islam
ditambah dgn exploitasi value islam dari negara islam yang cenderung authoritarian, membuat apapun yang dari barat di pandang lebih miring dan lebih tidak di terima.mungkin juga karena dorama dan anime lebih sopan dan ga terlalu mengumbar kebebasan
walopun ternyata banyak juga yang tidak, seperti H ato ecchiuntuk hipotesa geddoe,,,hm, saya malah ga pernah kepikiran smpe situ :mrgreen:. tp itu analisa yang bagus
eh, tapi banyak juga lho yang berpikir (khhususnya umat islam, aktivis ROHIS dan yang berada dalam naungan islam yang kental) kalo lebih baik nnton anime simply karena mereka itu karakter yang ga nyata. jadi dosanya sedikit daripada nonton cowok2 bule
kalo dorama, saya kurang paham ya. lagian karakter2 cowok anime tu lebih keren2 dan menarik ketimbang aktor bule. setidaknya itu sih menurut sayahmm. jadi kepikiran.
…gimana kalau kita buat cerita (sejenis) wali songo pakai gaya Gensoumaden Saiyuki?
tapi entahlah, Islam sendiri kayaknya cenderung tertutup dan mensakralkan beberapa bagian dari atribut agamanya… tapi mungkin ini cuma persepsi, sih.
…tapi salah-salah, nanti dibilang blasphemy!
so it would be like…
~gak perlu pake tasbih/kopiah/sajadah
~still, islamic pop culture
@ Kopral Geddoe
Ciel-senpaaaaaiii……..!!! xD
*histeris*
…
…ah, sayang Kristen. Padahal cakep. Baik lagi.
*digorok fundamentalis Islam*
…dan novel harem menye-menye™ sebangsanya Ayat-ayat Cinta.
AFAIK, IMHO, yang membedakan Fahri bin Abdullah Shiddiq dari Shiki Tohno adalah bahwa Fahri itu pemuda muslim nan hafizh — sementara Shiki Tohno lebih ‘berandal’ dan sekuler. Paling nggak, mereka sama-sama pernah ditaksir cewek asing super cantik dan seorang gadis Mesir dalam hidup mereka.
Lha, bukannya ada tuh, game FPS intifadha yang dikembangin orang2 Iran?
*lupa judulnya apa* Tapi emang popularitasnya nggak sampai mengglobal, sih.
Ahuhuhu… perhaps you have fetish over JIRUBAKO imouto loli after all?
:::::
@ gentole
Betul, Mas. Memang kenyataanya dalam mem-pop-kan keagamaan, selalu ada trade-off yang dilakukan. Dalam kasus Islam, tentunya ada pendapat-pendapat konservatif (kalau bukan ultrakonservatif) yang dilanggar. Inget aja di novel2 Islami: jilbab gaul tapi syar’i pun terkadang dikritik, bukan?
Bahkan awak Gereja di dunia anime pun, terkadang image-nya terdistorsi. Ah, seandainya Mas tahu apa yang terjadi pada biarawati Ciel di good-ending visual novel Tsukihime… (-_-)
Mungkin karena agama memang pada hakikatnya ditujukan untuk “mengatur” hidup manusia… lebih-lebih, disertai ancaman neraka bagi yang melanggar?
Alhasil, ruang untuk berkreasi jadi lebih terbatas dan butuh trade-off kalo mau membawa label “agama”. IMHO, CMIIW.
Hohoho! Saya juga mikirnya begitu.
IMO, Islam Timteng lebih rigid dalam menerapkan nilai-nilai agama… sedangkan di Indonesia kita terbiasa menyerap budaya dari satu dan lain tempat. Saya pribadi selalu teringat “Wayang Islam”-nya Sunan Kalijaga kalau membahas tema yang satu ini. ^^
:::::
@ danalingga
Yup, yup. Dan boleh jadi ada inferiority complex juga dari situ. Sebab, entah kenapa para neokonservatif Islam seolah punya sentimen tersendiri pada Barat™ — dan mereka selalu menggembar-gemborkan bahwa “perang budaya sedang berlangsung” dan “Barat™ sedang membajak pikiran generasi muda Islam”.
Oh well.
Lebih ke arah psikologi massa sih AFAIK. Seenggaknya, kalo ada budaya pop yang bernafaskan agama, orang-orang yang rada konservatif dapet dua keuntungan:
Yang pertama, tentunya mereka bisa bersenang-senang dengan nyaman. Yang kedua: itu bisa jadi sarana berbangga atas identitas keagamaan yang dimiliki. Seenggaknya, bisa meninggikan derajat™ dalam perang budaya™ terhadap dominasi Barat™.
:::::
@ secondprince
*sambil ngebetulin komen*
Yup, yup. ^^
Ndak tau, saya juga nggak ngikutin.
BTW, tanya rifu aja. Dia kayaknya baru selesai baca chapter 549.
:::::
@ ndoo
Salam juga.
Mungkin saja sebenarnya memang itu yang terjadi, IMO. Begitupun, saya cenderung percaya bahwa semua itu sifatnya masih di bawah sadar — alias, bukan hal yang benar-benar disadari dan diniatkan oleh umat. ^^
Soalnya, kalo ditanya, biasanya mereka juga jawabannya nggak aneh-aneh: seragam lah. “Bagus aja”, “ide-idenya fresh”, ataupun karena “ceritanya bagus”. Bener-bener bukan jawaban yang terpolitisasi, IMHO.
Kesan “Islam” yang ada sekarang di masyarakat — maupun agama pada umumnya — IMHO memang masih pada taraf itu. Kasarnya sih, mendidik konservatisme dengan ancaman neraka. Tapi saya kurang setuju kalau produk budaya dianggap hanya sebagai alat yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga/institusi saja.
Budaya dan produk budaya, pada esensinya, adalah cerminan masyarakat dan ekspresinya. Juga indikator dari cara berpikir dan nilai2 sosial yang berlaku. Memang sih, budaya dan seni bisa dimanfaatkan sebagai alat/medium pencapaian tujuan oleh lembaga… tapi itu efek samping, bukan esensinya.
Intinya ya, budaya itu cermin sosial. Kalau mau dimuati oleh tujuan-tujuan dibaliknya ya, bisa… tapi itu cerita lain lagi. IMHO, CMIIW. ^^
TEPAT SEKALI.
Karena kita terbiasa berpikir mengutamakan simbol, bukan esensinya. Oh well.
…dan saya berpendapat bahwa Kotaro Minami itu tipe pemuda Islami yang layak dicontoh.
Baik, ganteng, ramah sama adek2 sepupunya dan akrab sama om dan tante… superhero lagi. Kurang apa coba?
:::::
@ grace
Dan bayangkan: betapa jungkirbaliknya perasaan mereka, kalau suatu hari nanti mereka ngeliat mbak Maki pake jilbab.
*ngakak*
Gubraakkkkssss… xD
Oiyatentusaja™. Ada gitu, artis yang bisa tampil se-charming Ciel-senpai atau Hikaru Shidou?
*ditimpuk karena ngoceh aneh-aneh* x(
:::::
@ yud1
Tergantung pendekatan dan penerimaan masyarakatnya juga IMO. Kalo bisa sebanyak mungkin nyerempet elemen religius, tapi tetep funky dengan gaya itu, kayaknya nggak bakal se-blasphemous itunya amat. (o_0)”\
Kayak AAC ato The 99 aja. ^^
In 1999, their fate was foreordained™.
*ngakak gila*
@ Sora9, 2nprince, Dana
Haram! Haram! Haram!
Pokoknya, tm. Yang namanya meniru budaya lain itu hukumnya syirik murtad!
Wong gambar mahluk hidup aja udah haram terus mau niru anime jepang yang notabene antek yahudi itu !
Animasi itu Haram!
Budaya pop itu Haram!
Menggambar itu Haram!
Jepang itu antek Zionis Haram!
JAdi jangan mengakui budaya lain yang buatan antek Zionis itu!
Cukup memakai baju gamis, cadar dan diam kerumah!
untuk sesekali keluar dan menyerang warung remang2!
baca Saiyuki /Reload… nanti ngerti deh kenapa kemungkinan blasphemy itu bisa jadi nongol kalau pop-culture reference ala Islam mau dibikin kayak begitu.
..oh.
Sangat mengena.
Ikhwan Rohis saya setahun lalu hampir semuanya pelahap anime.
Cukup kontras dengan OSISnya *
nggak ada hubungannya*Saya terpikirnya karena anime-culture (dari Jepang) itu masih se’nilai’ sama nilai di Indonesia, dengan model yang umumnya lebih bisa diterima. Yah.. kurang lebih mirip sama mas sora.
Err.. atau ini ada hubungannya dengan publikasi anime di berbagai media di Indonesia sejak tahun 1990-an? Waktu saya masih bocah dulu
sekarang juga masihanime-anime kayaknya lebih mengambil cerita yang public-consumption-nya lebih banyak, dibanding karya Amerika (fabel dan superheroes?).*mulai ngawur*
Btw, gambar cewek jilbab gaya anime itu lumayan banyak lho di lingkungan sekolah saya.
Isramu, Isramu…
Hmmmm… menarik, karena cross-culture itu memang cukup kompleks kalau ditarik dalam sebuah perbandingan.
Saya sendiri melihat Jepang berusaha mengadaptasi konsep pop-culture dan post-structuralism dalam sebuah bentuk bernama anime dan manga (juga JAV) *ngelirik Gun*
yang lumayan mendunia. Padahal kalau diperbandingkan kehidupan dan budaya Jepang pra dan pasca Meiji, itu seperti membandingkan langit dan bumi. Dan hebatnya lagi, muatan budaya lokal mereka dalam anime dan manga yang diproduksi justru tidak hilang, karena mereka bisa menggabungkan kreativitas dan budaya lokal serta cara penyajian yang baik dalam produk pop-culture itu.
Nah, Islam sendiri saya yakin punya tradisi dan budaya tersendiri. Tapi Islam itu jauh lebih universal ketimbang Jepang yang punya budaya lokal yang lebih sempit. Kalau suatu budaya Islam tertentu digunakan untuk “dipromosikan” sebagai icon pop-culture (dengan tujuan supaya Islam lebih mudah “bergaul”
maka budaya yang mana yang harus digunakan ? Apakah budaya Arab yang oleh beberapa kalangan langsung ditolak ?
Makanya mungkin dalam soal pop culture, Islam tidak bisa (atau tidak mungkin) mengajukan dirinya. Universalitasnya mempunyai banyak kungkungan dalam bentuk kelokalan daerah dimana Islam itu berada. Kredonya adalah : supaya agama itu diterima, maka agama harus menyatu dengan budaya. Sementara untuk budaya, tidak perlu pake kesamaan nilai budayanya karena bisa juga lewat program promosi dan periklanan yang tiap detik memapar setiap calon konsumen.
Saya menganggap anime Jepang hampir sama dengan promosi produk iklan yang tiap hari menerjang kesadaran manusia, sementara Islam sebagai agama tidak seperti itu, tetapi menyesuaikan dirinya dengan budaya dimana dia berada.
Belum lagi dengan pertentangan teologis didalam agama itu sendiri menyangkut pop culture dan pernak-perniknya.
Quite inspiring…di komik Amerika mainstream (Marvel dan DC) sendiri saat ini ada kecenderungan untuk mengenal Islam lebih dekat. Mungkin sebagian ada yang berpendapat ini sekadar marketing gimmick. Saya sendiri berbaik sangka saja bahwa ini merupakan cara pandang baru yang lebih multi kultur.
Salah satu karakter utama di New X-Men-nya Marvel Comics (tim X-Men baru yang dibentuk Cyclops) adalah Dust aka Sooraya Qadir, cewek Timteng dengan kemampuan mirip Gaara di cerita Naruto. Setelah ditemukan oleh Wolverine, Dust semula dianggap karakter tempelan yang paling hanya bertahan beberapa nomer. Ternyata mutan ini lolos melewati event kiamat mutan dalam event House of M, sehingga menjadi bagian dari 198 mutan yang tersisa di dunia. Satu hal yang digambarkan dengan memperhatikan kultur asal Dust, Dust tidak menggunakan standar seragam X-Men yang full-pressed body, melainkan tetap menggunakan jilbab lebar plus cadar. Dia juga menjaga jarak dengan rekannya yang pria. Let see, mungkin ada karakter anime Jepang yang pakai jilbab juga ?
Sementara DC menampilkan karakter jagoan Iran sebagai counter-part Superman. Komik satir Army@Love terbitan lini dewasa DC, Vertigo, juga amat berhati-hati ketika menampilkan satirisasi dari keadaan di Irak dan Afghanistan.
Keadaan yang berbalik 180 derajat dibandingkan saat mereka menampilkan kritik pada Kristen dan pelbagai varian sektenya. Kebanyakan ditampilkan dengan terang-terangan, dua komik dari Image Comics, Battle Pope dan Loaded Bible, berisi kritik satir yang terang-terangan menyebut nama Yesus dan Paus. Salah satu musuh X-Men adalah sekte Kristen bernama Purifiers yang percaya bahwa Mutan adalah perwujudan setan. Sementara Superman pernah bertarung dengan jagoan Gereja (kekuatannya berasal dari doa anggota gereja yang disalurkan lewat pastornya) bernama Redemption. Karena Supes berpendapat tidak semestinya Redemption melakukan pembalasan brutal pada sebuah negara yang melakukan pembunuhan pada missionaris di wilayahnya. Supes juga mengingatkan Redemption bahwa kadang missionaris juga melakukan ‘kesalahan’ dengan mengajarkan hal-hal yang seolah tidak mengindahkan kearifan lokal yang sudah ada di wilayah tersebut.
@ RETORIKA
Lho, Kopral Geddoe nggak dimasukin? Jelas-jelas dia itu pembid’ah™ kelas tinggi! Lebih tinggi daripada sayaaaa!!
………… ^^;;
*cuma bisa mengelap keringat*
:::::
@ yud1
*belum baca Saiyuki dan turunan-turunannya*
:::::
@ Xaliber von Reginhild
Lho, sama. Pas SMA saya dulu juga begitu, lho?
Harusnya sih… mengingat era 90′an itu merupakan masa awal (dan berkembangnya) penerimaan barang-barang Jepang di sini. Bahkan dorama pertama di Indonesia masuknya tahun 90′an lho. Belum lagi tokusatsunya.
*kesambet*
Diriwayatkan oleh Sora9n dari Kopral Geddoe, Baginda Bebek berkata: ‘Generasi yang besar tanpa melihat Ksatria Baja Hitam itu patut dikasihani!’” :-j
*kesambet off*
:::::
@ Pyrrho
Wogh! Postingan itu udah jadi cult-classic tuh…
*bakar hio untuk menghormati Geddoe*
Kalau saya melihatnya malah lebih dekat lagi, yaitu pra-1945 sama sesudahnya. Budaya anime/manga Jepang, AFAIK, nggak begitu terasa gaungnya sebelum PD II berakhir… beda dengan komik Amerika. Batman dan Superman sudah jadi cult sejak 1930′an, sementara manga baru mencapai boom-nya pada tahun 50-60′an.
Cult-classic manga sendiri, seperti Astro Boy dan Ashita no Joe (di sini Boy Action II), lahirnya pada waktu segitu. Sebelum itu, bisa dibilang nggak ada sama sekali, malah. ^^
Betul banget.
IMO, ini memang salah satu karakteristik mangaverse yang lumayan terasa. Mereka nggak ragu-ragu melandaskan cerita pada event2 historis Jepang (e.g. Sanzoku Ou), atau mengutilisasi elemen2 Shinto dalam cerita untuk kisah perang akhir dunia (X). Beberapa event budaya juga sering recurring secara universal di manga/aniverse, i.e. hatsumode atau hanabi-takai.
Semangat preservasi budaya Jepang di pop-culture mereka, memang layak diacungi jempol, IMHO.
Hohoho, saya jadi teringat sama tulisannya Mbak Hiruta [yang ini].
“Islam” itu sendiri merupakan kesatuan multibudaya — Islam Mesir beda dengan Islam Saudi, dan Islam Asia Tenggara beda dengan Islam Asia Timur, misalnya. Cuma, pandangan masyarakat, karena Islam turun di Arab, maka (dianggap) lebih baik jika umat mengacu sebanyak mungkin ke Arabia — lebih lagi, ada juga pendapat bahwa sebaik2nya kehidupan adalah budaya Hijaz abad 7 M (salafi).
Walaupun secara budaya Islam itu berbeda-beda di tiap region, mereka selalu punya afiliasi yang kuat ke budaya Arab. Maka terkesanlah “Islam” sebagai “Arab” yang (boleh jadi) mengabaikan kearifan lokal… padahal kenyataannya tak mesti demikian.
Bagaimana dengan pop culture? Alhasil, terbentuklah kesan “simbolisme” yang diutarakan mas ndoo di komen #8. Islam harus dilambangkan dengan sorban dan gamis, istilah2 berbahasa Arab, dan lain-lain. Se-pop apapun Islam ditampilkan, ia pasti berafiliasi dengan gaya kearaban. Hanya saja, derajat percampurannya berbeda-beda… entah mau se-strict Wahabi di Arab, atau mau luwes seperti Wayang Islam-nya Sunan Kalijaga, yang jelas elemen tersebut adalah hal tak terpisahkan kalau kita bicara budaya Islam.
*sambil membayangkan relic pedang suci di anime bernama “Pusaka Kalimasada”* XD
Begitupun, tetap menarik untuk dicatat bahwa “iklan” produk anime Jepang lebih bisa diterima oleh kalangan muda muslim dibandingkan “iklan” produk Barat. Dua-duanya sama-sama beraksi sebagai “iklan” yang menerjang kesadaran di daerah yang sama… tetapi, kenapa yang satu lebih bisa diterima daripada yang lain? Itu dia yang saya pertanyakan tempo hari. ^^
:::::
@ oddworld
Wah, masukan yang menarik.
Terus terang saya cuma baca komik DC/Marvel kadang-kadang aja; itu pun kalo ada yang punya. Komennya mas ini menambah sudut pandang saya juga lho. ^^
Benar juga.
Sejauh ini belum muncul sih; tapi bukan tak mungkin bakal muncul di masa depan. Sebab di mangaverse sendiri udah cukup banyak biarawati dan organisasi gereja yang di-feature… beberapa bahkan dengan seragam lengkap seperti aslinya.
Mungkin kehati-hatian itu berakar dari kecenderungan fundamentalis/radikalis Islam yang lebih gampang tersulut, terutama di mata Barat. IMO. Kalau dilihat secara global sih… umat Islam dunia bisa marah-marah sampai rusuh hanya karena kartun nabi, sementara umat Kristiani relatif lebih “beradab” ketika The Da Vinci Code beredar.
Oh well. Saya pernah dengar soal pendapat seorang ateis yang berkata, bahwa ia berani menyentor Injil ke dalam toilet di acara TV — tapi berpikir seribu kali jika hendak melakukan hal yang sama pada Al-Qur’an.
Kearifan lokal, ya, itu dia.
Hal yang (IMO) merupakan faktor paling krusial dalam akulturasi budaya-agama di masyarakat. Terus terang saya teringat pada kritiknya V.S. Naipaul tentang ini. Beliau penulis India yang mengkritik Islam karena, di matanya, Islam memaksakan convert dan mengabaikan nilai-nilai tradisional India sama sekali, di antaranya tradisi Hindu yang sudah mapan sebelumnya.
sudah liat the 99, mas dab?
itu bikinan barat, lho, bukan timur…gyehehehehehehe!
@ joesatch
Lha, iya. Tapi kan komiknya membawa nilai Islam, toh?
BTW, komik itu pernah dibahas di majalah TEMPO tuh, sekitar akhir tahun 2007. Katanya yang bikin idenya orang Timur Tengah… Yaman atau Iran, gitu…
*gak inget*
*CMIIW*
Tidak, kok. Memang kalau saya yang dulu pasti saya pajang; tapi itu murni dari semangat tribalis saja, bukan estetika.
Saya sendiri lebih tertarik membahas upaya akulturasi Islam dengan pop culture animasi itu sendiri ketimbang mengambil jangkauan yang lebih luas.
Apa latar belakangnya, tujuannya, dan sebagainya. Soalnya saya sendiri selalu melihat ada sesuatu yang lucu, dipaksakan, namun unik ketika melihat sosok anime berpeci mengucap assalamualaikum.
Mungkin saya secara bawah sadar menganggap simbolisme blak-blakan itu norak, namun menganggap animeisasi budaya yang dekat dengan saya sebagai sesuatu yang menarik.
Soalnya, kalau melihat animeisasi seorang siswi SMU yang menikmati semangkuk bakso, saya bisa merasakan keunikan dan kemenarikannya tanpa rasa aneh dan rasa “OMG norak >_< ™” itu tadi.
p.s. Siswi SMU dan bakso itu hanya contoh. Saya tidak pernah lihat.
Hoo, menarik skali. Ada ya, masalah semacam ini? (Protestan sih, jadi gak pernah mikir beginian).


Sy sndiri tidak perduli sih, dengan Kekristenan dalam pop culture. Gospel rock & White metal? Puih, dont give a damn with the lyrics! (walopun gak suka black/death metal yang satanic juga).
Yaa, IMO keberadaan pop culture berbau kristen sendiri kan bukan disengaja, tapi karena memang Amrik (& Yurep) kan memang “wilayah tradisional” Kristen. Begitu juga Jepang, yang punya sejarah dengan Kekristenan setelah didatangi orang2 Jesuit dulu…
Nah, IMHO, keberadaan elemen2 Kristen dalam pop culture (terutama komik, anime & manga) ini sendiri bukan sesuatu yang terlalu membanggakan, bahkan tidak terlalu menguntungkan Kekristenan juga sih. Sperti kata Sora:
Yah, banyak heretik dan blasphemy-nya kurang lebih :|(bisa beda2 interpretasi sih, misal relic, salah satu recurring element christian-reference-pop-culture yg memang diakui di katolik tapi gak ada di protestan).
Hanya saja, orang Kristen AFAIK juga gak terlalu peduli dogma-nya mo diancurin kayak gimana juga dalam cerita. Fiksi ya fiksi
Wah, OOT ya? Back to topic, kalo memang ani-culture-dan-jilbab ini terlihat sebagai gejala yang mengherankan, menurut Sou harusnya ani-culture ini pasarnya siapa aja? Kaum sekuler saja? (kalo menurut hipotesa Sora), maka saya tidak termasuk “anti-barat” lo, tapi tetep aja lebih milih ‘barang2 jepang” ketimbang DC/Marvel. Ah, tapi sy suka komik yurep sih, sbangsa Lucky Luke, Asterix, iznogoud atau Tintin. Jadul banget!
Oh ya, OOT lagi. (terinspirasi paragraf pertama) andai tidak melanggar personal policy, apa sodara Sora berkenan tuk sekali2 ‘ngobrol santai’ dengan saya via Y!M?
@ Kopral Geddoe
Believe it or not, saya sendiri juga kadang2 merasa begitu lho.
Rasanya seperti campuran unik antara sesuatu yang rada out of place, tapi akrab, tapi rada menarik… somehow irks my own consciousness about it. ^^
…well, IMO, rasanya mirip seperti kalau ada yang nggambar Shiki Ryougi pakai celana jeans gelap dan jaket almamater kampus saya, misalnya. Atau yang lain yang mirip itu lah.
Yup, something like that. ^^
:::::
@ jensen99
Hmm, sebenernya bukan masalah gimana-gimana juga, mas. ^^ Saya sendiri melihatnya sebagai fenomena unik aja — bahwasanya, pop-culture Jepang, entah bagaimana bisa lebih diterima di kalangan muda Islam. Dibandingkan dengan sejenisnya dari Amerika/Eropa (misalnya MTV atau komik DC/Marvel).
Dan menariknya lagi, ternyata mereka juga tertarik mencampursarikan budaya asal mereka (”Indonesia/Islam”
dengan budaya Jepang tersebut. Dalam kasus ini? Yaa, muncullah buletin, mading, dan — dalam kasus yang lebih langka — novel Islami yang ilustrasinya rada bergaya manga-ish.
Jadi sebetulnya bukan agama vs. pop-culture, melainkan kecenderungan masyarakatnya yang saya anggap menarik. ^^
Ya… betul. ^^ Budaya kontemporer pasti berkaitan dengan sejarah di daerah tersebut. Seperti yang mas bilang, Eropa punya pop-culture Kristen. Tiga-empat ratus tahun yang lalu pun, budaya “pop” Islam (terutama di Jawa) bercampur dengan kebudayaan Hindu dan tradisional. Tembang2 Sunan Boneng, Wayang Sunan Kalijaga, dan lain sebagainya.
Cuma, IMHO, karena peradaban Barat diakui sebagai peradaban paling maju saat ini, maka pop-culture Kristen yang dikandungnya jadi ikutan populer, jauh melebihi yang lain. Diantaranya Hindu-India, atau tradisi/kepercayaan Timur Jauh seperti Buddha dan Shinto. Islam-Timteng dan Islam-Asia Tenggara juga termasuk yang tertinggal di sini.
Mungkin (ini cuma mungkin lho!) seandainya yang berkembang pesat di Eropa dulu bukan agama Kristen, melainkan agama tertentu bernama “XYZ”. Boleh jadi agama XYZ-lah yang akan banyak di-refer oleh pop-culture kita — bukannya Kristen seperti yang kita lihat sekarang.
AFAIK, sebetulnya pembawaan nama agama dalam pop-culture itu memang lebih sering jadi bumerang… terutama buat nama baik agama itu sendiri. Sebab, yang namanya pop-culture, rawan sekali terjadi distorsi di dalamnya. Baik yang tak disengaja maupun yang betul-betul diniatkan untuk kritik.
Hal ini sendiri sifatnya universal. Lha, FFVII telak-telak menempatkan “Sephiroth” dan “Jenova” jadi penjahat (menyerang elemen Yahudi). Teroris timur-tengah di-feature berulang-ulang di game FPS dan RTS (tak langsung terhadap Islam). Yang sekadar miskonsepsi pun ada — seperti ulama Iran di Gundam 00 disebut “rasul”, dsb. ^^
Di sisi lain, Kristen dan Gereja (sebagai agama/lembaga agama yang paling populer) jelas kena getah yang paling banyak. Tentunya contohnya nggak perlu disebutkan di sini… tapi jelas membawa label agama ke pop-culture itu beresiko. Dan sering nggak menguntungkan juga… walaupun, kalo diolah dengan baik, bisa jadi media promosi yang efektif untuk agama tersebut.
Contohnya buat yang terakhir itu… mungkin “Ayat-ayat Cinta” yang baru booming tempo hari.
walaupun saya pribadi nggak memandangnya tinggi banget sih — tapi,seenggaknya, banyak yang beranggapan film tsb. menyiarkan citra positif atas “Islam”. Oh well. ^^;;Lebih seperti pisau bermata dua sih, sebenarnya. IMHO, CMIIW. (o_0)”\
Lha, saya nggak memberikan penilaian di sini. Saya kan cuma mengamati dan menganalisis aja. Kenapa ani-culture bisa lebih akrab dengan so-called “generasi muda Islam” — sementara komik US dan animasinya justru kalah bersaing?
Seperti yang saya tulis di akhir post di atas,
There you have it. Lagipula, emangnya ada ya, orang yang berhak menghakimi “ani-culture itu buat golongan X saja, dan haram buat yang lain” ?
Nggak ada toh. Maka, biarkanlah anime jadi milik bersama™ sahaja™.
Lho? Sama. Saya juga suka baca Tintin, lho.
Tapi Asterix jarang sih. Gak punya buku/e-book-nya soalnya. ^^;;
Ah, dengan senang hati. ^^ Nanti saya kontak kalau begitu.
Ah, saya suka anime sebelum berjilbab. Bahkan dulu fans yaoi terutama pairing-pairing Gundam Wing. Sekarang enggak terlalu ngefans lagi sih (lebih ke alasan cerita, lagi doyan film-film Hollywood).
Btw, gambar avatar Difo yang zaman dulu yang pernah gw bilang (pake peci dengan mata kurang tidur) bisa menjadi contoh. Sayangnya enggak saya safe tuh gambarnya.
wadoh, mungkin komen aq ini rada nggak nyambung.Tp yang pasti menonton anime en mbaca manga itu diambil hal-hal positipnya aja dlm kehidupan.Dan yg pasti memberikan kepuasan mbaca
@ Nenda Fadhilah
……… xD
…serius?
*finding it hard to believe*
Well, tapi lo udah tobat, kan?
atau belum?Ah, avatar legendaris™ sang Geddoe.
Sayangnya gw cuma sering denger tanpa pernah melihatnya. Oh well.
:::::
@ toim
Yup, yup. ^^
ah.. kalo gw sih emang lebih suka anime. kartun amrik cupu gambarnya..
kalo dibandingkan dari musik, jelas musik jepang lebih berskill dibanding musik barat jaman sekarang..
Yang bagus dari barat cuma film holywoodnya…
Oooh, tentu saja tidak.
.
..
…
….
Sense Yaoi masih ada tapi enggak doyan gimana juga. Udah biasa aja.
@ dimasu
…dan tebakan saya: Anda ini fans berat Laruku dan suka nonton Naruto.
Jangan nge-flame ah.
:::::
@ Nenda Fadhilah
“Tidak serius” atau “tidak tobat”?
Ah, bagus. Saya™ bangga pada Anda™. Jangan pikirkan para cowok cantik itu lebih lanjut.
*kok jadi OOT gini* ^^;;
Sedikit tentang “The 99″, saya sudah baca scan-nya, little bit mirip X-Men, menggunakan codename dari Asmaul Husna sebagai pengganti codename X-Men yang rata-rata dari mitologi Yunani/Romawi/Pop-culture barat lainnya. Salah-satu penulis serial ini adalah Fabian Nicieza. Tampaknya setelah menulis serial ini Fabian memakai pengalamannya kala bersinggungan dengan budaya Islam, untuk menulis beberapa seri Superman dalam alur Redemption yang saya tulis di comment sebelumnya. Beberapa argumen Supes kala bertarung dengan Redemption saya rasa menyuarakan apa yang dirasakan masyarakat di berbagai wilayah di muka bumi ketika berhadapan dengan para misonaris.
Satu lagi yang menarik, Teshkeel Comics yang mempunyai ide utama dalam komik ini menggandeng Image Comics (terkenal dengan karakter Spawn) yang juga mengeluarkan judul Battle Pope dan Loaded Bible….mungkin kalau mereka pernah punya judul Battle Imam kerjasama ini nggak bakal terjadi
@dimasu
Komik amerika memang dipenuhi guys and gals-in-tight or wearing spandex, tapi gak semuanya cupu lho
@ dimasu
Wah, berani-beraninya ente membandingkan band maskara seperti Laruku dengan legenda-legenda™ macam the Clash, Bad Religion, Sex Pistols, Metallica, Social Distortion…?
Ah, “jaman sekarang”? Yah, memang saya suka yang zaman dahulu, sih.
[/musical nazi
]
j/k
@ oddworld
……
*cuma bisa ketawa*
:::::
@ Kopral Geddoe
Sudha, sudha… selera orang itu berbedha-bedha™…
*liat playlist*
*ternyata ada Aerosmith, Scorpions, Savage Garden, Maaya Sakamoto, Mikuni Shimokawa, The Back Horn, Make-Up, dan Ellegarden* XD
*musik itu universal, Kopral!*
menurut saya jika seorang cewek berjilbab membuat anime kartun itu adalah hal yang biasa karena itu hal yang mungkin untuk di lakukan semua orang yg suka gambar komik. artikel ini mengingatkan saya pada sahabat saya. Dia juga seperti itu. Tapi, saya sebagai temannya sah2 saja pounya teman seperti itu. Well, kenepa tidak?
whalah, saya juga suka yang jepang2 tuh, terutama mbak2 JAV idol..
@ ichinaru
Ya, iya. Memangnya yang bilang “tidak sah-sah saja” itu siapa?
*duh*
:::::
@ antobilang
Apa, JAV? Maksudnya Japanese Anime Video?
[/idiotMode]
*memutarkan X Character Files*
Wah, maaf. Kamui Shiro sulit untuk dilupakan.
…setuju. =_=!
Kamui itu begitu mirip sama Hikaru Shidou. Begitu miripnya, sampai-sampai gw pun nggak bisa ngelupain dia.
*sadis*
P.s. Aoki-san FTW, because he wears glasses and wasn’t gay.
[OOT ends here]
*merasa korban yang diomongin*
………
*balik ke rumah, bikin draft*
@ saRe’
Waduh…? ^^;;
Ah, ditunggu post-nya kalau begitu.
salam. cukup menarik mengikuti tulisan ini. saya sendiri agak bingung untuk mengomentari. tapi yang saya tangkap adalah sebuah hipotesis bahwa generasi remaja islam lebih memilih anime dari jepang daripada film produk barat, amerika misalnya. dan dikatakan pula bahwa ini terjadi dikalangan rohis saja. saya pikir hal ini bisa saja terjadi, apalagi itu melalui pengalaman anda (blogger) ketika anda di SMA dulu.
saya sendiri masih bingung dengan hubungan antara budaya pop dan budaya anime. apalagi dikaitkannya dengan islam.
anime sendiri nampaknya butuh definisi yang jelas, sehingga ia bisa menjadi elemen yang masuk dalam kategori budaya pop. nah, budaya pop sendiri itu apa.
dalam pikiran saya, setelah baca-baca, ada gambaran bahwa budaya pop itu sesuatu yang widespread di masyarakat. sekarang hp, sudah menjadi bagian dari budaya pop. sehingga rasa-rasanya gak mantap, kalau hidup tanpa hp. meskipun sebenarnya gak butuh-butuh banget. jadi ada sebuah tuntutan ke arah sana.
sebagai muslim, saya pikir anime itu hanya alat dan media saja. ia bisa dijadikan media dakwah untuk kalangan muslim. tapi pada saat yang sama, ia juga bisa dijadikan alat untuk mengajarkan nilai-nilai hedonisme. ini hanya pikiran sederhana saya.
dan saya pikir, orang-orang islam semestinya bersikap terbuka terhadap budaya orang lain. jika itu memang baik, kenapa tidak diambil. meski demikian, tetap melestarikan budaya lama yang sudah baik.
maka, saya selalu ingat bahwa “almuhafadzatu alalqadimishaleh wal akhdu biljadidil ashlah” aritnya melestaraikan yang lama dan baik dan mengambil sesuatu yang baru dan lebih baik. saya pikir islam itu cukup fleksibel dalam hal ini. tapi memang, ada kelompok islam yang cara berfikirnya dogmatis dan konservatif banget. itu kan hanya pemahaman saja terhadap kebenaran. maka saya jadi ingat tentang akidah postmodernism dimana tak ada kebenaran yang absolut.
saya pikir itu saja…anyway, good posting from you.
ahmad. tki saudi arabia
saya cuma punya dugaan, jika memang benar terjadi di indonesia, bahwa generasi remaja muslim lebih menyukai anime jepang ketimbang film (termasuk didalamnya jgua anime) dari barat.
ini bisa jadi akibat persespsi mereka yang dibentuk oleh kalangan mainstream dalam islam bahwa amerika itu kafir, sehingga apapun yang datang darinya perlu diwaspadai. barangkali ini pula yang berkontribusi pada menguatnya minat mereka pada anime jepang.
berbicara anime sih, saya membagi kedalam dua hal, content dan form. bagi saya anime adalah form saja, content nya adalah apa pesan yang ingin disampaikan lewat anime tersebut.
dari pijakan ini, maka anime jepang kek, anime amerika kek, anime german kek, anime prancis kek, sama saja, lawong itu kan sebatas form saja, yang penting kan contentnya apa.
betul gak?
bagusnya sih, kalangan islam juga harus kreatif menciptakan produk sendiri, entah itu anime, drama, theater, yang bisa menjadi wahana dalam mendakwahkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan bukan pemikiran yang konservatif.
gimana menurut anda?
@ itsme231019
Salam juga.
Yup, setuju.
Sejauh yang saya tahu, hambatan utama untuk bersikap terbuka memang datangnya dari konservatisme. Terkadang bahkan sampai menolak pembaruan sama sekali, dan memilih mengacu ke masa2 hidup Rasul. ^^
Saya sendiri tertarik melihat bahwa Islam Indonesia sejak zaman dulu sangat terbuka pada budaya2 asli (misal: Hindu, Jawa, Tionghoa). Mungkin ini ada hubungannya juga dengan kultur Islam Indonesia yang lebih moderat? Terutama bila dibandingkan dengan Islam Arab/TimTeng, yang notabene lebih konservatif dalam beragama. (o_0)”\
Hohoho! Saya pun berpikiran begitu, lho.
Yup, tepat. ^^
Memang intinya itu adalah satu bentuk komunikasi/penyampaian ide. Mau berbentuk anime, atau komik, atau drama sekalipun, yang paling penting adalah ide di baliknya.
Dalam hal ini, tentunya media yang digunakan bebas saja, yang penting tepat sasaran.
Idealnya memang begitu, IMHO. Cuma dalam kenyataannya budaya Islam/keislaman kan belum sematang itu… mereka masih harus mengadaptasi banyak elemen dan mencampurnya. Itu pun, terkadang masih terperangkap pada simbol, bukannya menampilkan nilai2 universal seperti yang mas bilang.
Kalau (misalnya) masyarakat muslim sudah punya perangkat budaya yang solid dan lengkap, ya, bukan tak mungkin itu terjadi. ^^
Haa, maap, baru onlen lg, sedang krisis koneksi nih… ^^;;
Asterix? Ah, sy ada bbrp seri…
Nanti kubakarin trus kukirim deh, seingatku masih ada DVD blank di rumah… Sou kasi alamat jelas via Y!M ya. 
@ jensen99
Lha, saya kan nggak tau ID YM-nya situ. ID saya udah di-add belum? ^^;;
BTW, alamat saya itu confidential™ lho. Top-secret™ itu…
*dilempar sandal*
Bah, kirain kalo saya kirim komen alamat akun Yahoo saya jg ngikut…? (o_0)”\
Kos-mu Top Secret? Yg bakal dateng kurir paket kok, bukan Jack Bauer…
@ jensen99
Alamat mail-nya memang masuk. Cuma saya kan gak tau, itu ID yahoo-nya aktif dipake buat YM ato cuma buat terima mail doang… ^^;;
*pake akun ganda, gitu*
Jangan. sebut-sebut. nama. itu.
Sebab dia yang namanya tak boleh disebut™, akan tahu di mana pembicaranya berada, dan menghajar orang yang berani menyebut namanya terang-terangan itu!!
[/OOT]
bahasannya bagus
salut buat yg ngelempar ide diskusi ini 
@ sora
ah, sou, itu satu2nya akun imel yg kumiliki. jd YM ato terima mail ato apapun jg yg butuh imel pake akun yg sama.
[/OOT]
salam kenal…sambil ikutan comment…
saya masih seneng nonton film barat kok..ketimbang..yg dibahas di atas..
@ maseko
Ah, terima kasih. ^^
:::::
@ jensen99
Ooh, OK, OK… (o_0)”\
Hwm, hwm. =3
:::::
@ Andri
Salam kenal juga.
Hoo, tentunya itu kembali ke soal selera. Saya juga suka nonton film2 Hollywood sama dengerin lagunya Aerosmith, kok. Walaupun disambi sama barang2 Jepang juga sih. ^^
Kalo menurut saya sih, itu cuma masalah selera. Kebetulan aja sebagian dari mereka yg suka anime-culture adalah jilbaber atau anak2 ROHIS (salah satunya saya ^_^). Tapi believe it or not, kebiasaan yg baik2 dari budaya Jepang memang banyak yg sesuai dgn ajaran Islam, jadi gak ada salahnya kan klo dijadiin contoh?
@ Nadia
Bicara soal selera. Kenapa justru banyak jilbaber dan anak2 ROHIS yang seleranya ke situ, bukannya ke Hollywood atau MTV?
Itu dia yang jadi pertanyaan.
Ya, itu. ^^ Karena akar dan nilai budayanya relatif berdekatan. Mungkin ada faktor geografis juga; tapi itu cerita lain lagi.
Kalau dibandingin sama budaya US/Eropa, budaya Jepang memang lebih mampu mengakomodasi nilai2 Timur/Asia dan Islam… sebagaimana yang sudah saya jabarkan di bagian akhir post di atas. Tapi ini pendapat saya pribadi sih. (o_0)”\
[...] yang secara gamblang sepertinya memang ditujukan untuk remaja-remaja rohis kelas gawul yang gemar meleburkan identitas keagamaan mereka dengan kultur pop, ada yang tone-nya lebih dewasa, sampai yang diperuntukkan pada [...]