Perhatian: post-nya sangat panjang dan rada serius.
![]()
Tulisan ini terakhir di-update pada: 4/12/2008
Akhir-akhir ini, saya jadi teringat akan post lama saya tentang teori evolusi dan sekuelnya. Sebenarnya sih penyebabnya sederhana saja — bahwasanya, post tersebut belakangan ini sering nangkring di widget top-posts saya. Tampaknya sedang ada diskusi evolusi yang marak di suatu tempat di internet akhir-akhir ini… tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini.
Untuk kali ini, yang hendak saya bahas adalah tentang hal yang -rada- terkait dengan debat evolusi vs. kreasi, yaitu metodologi ilmiah. Saya sebut terkait, karena prinsip yang satu ini sering sekali disalahpahami dalam mendebat teori evolusi. Mentang-mentang fondasinya adalah dugaan/perkiraan, lantas dianggap saja “tidak ilmiah” dan “tidak layak dipercaya”. Padahal belum tentu pandangan si pendebat tentang “keilmiahan” sama dengan yang dipandang lawan bicaranya!
Kesalahan macam ini, sejauh pengamatan saya, sering membuat diskusi evolusi-kreasi cenderung ‘panas’ dan tidak santun — apalagi kalau sudah membawa-bawa nama agama dan Tuhan. Bukannya saling membuktikan secara gejala alam, justru yang saling dijatuhkan adalah kepercayaan masing-masing. Sungguh disayangkan. (-_-)
Oleh karena itu, di post kali ini saya mencoba menuliskan (semampu saya) mengenai metode ilmiah yang digunakan dalam ilmu alam. Silakan dianggap sebagai sekuel kedua, setelah post sejenis yang pernah saya tulis sebelumnya.
Here goes…
Menyelidiki Alam: Sebuah Guideline
Dalam menyelidiki gejala alam, kebanyakan orang pada umumnya memiliki pendekatan seperti berikut ini. Ya, ini termasuk Anda — saya yakin Anda sudah akrab dengan metode yang hendak saya jabarkan di bawah ini, walaupun mungkin di bawah sadar.
Adapun metode yang digunakan terdiri atas empat langkah sebagai berikut:
1. Amati gejala alam yang terjadi
2. Buat sebuah hipotesis, h0. Mengapa gejala tersebut muncul? Apa yang melatarbelakanginya?
3. Prediksikan perilaku alam berdasarkan hipotesis ‘baru’ tersebut
4. Lakukan eksperimen/percobaan untuk memastikan kebenaran hipotesis h0 yang dirancang sebelumnya
Apabila hasil eksperimen membuktikan kebenaran dari hipotesis, maka hipotesis kita naik tingkat menjadi teori. Sebaliknya, jika hipotesis kita terbukti salah, maka kita harus mengulangi kembali proses dari poin (2).
Adapun bisa digambarkan flowchart-nya sebagai berikut:

***
Contoh Kasus…
Well, tentunya penjelasan hanya dengan guideline saja akan terasa kosong. Jadi, mari kita bayangkan contoh kasus berikut ini.
Suatu hari, Pak Albert Einstein sedang bersantai. Mendadak, ia teringat akan pergeseran orbit planet Merkurius yang menjadi permasalahan utama para astronom saat itu. Bahkan Hukum Gravitasi Newton pun tak mampu menjelaskan permasalahan ini dengan memuaskan.
Ini adalah gejala alam yang menarik. Di sini, Pak Einstein menyadari bahwa orbit planet Merkurius memiliki sebuah anomali, yaitu bentuk putaran orbitnya tidak konstan. (step 1 — mengamati gejala alam)
Pak Einstein kemudian mulai bekerja. Mengapa orbit Merkurius mengalami pergeseran? Ia pun mulai berhipotesis. Setelah melalui berbagai persamaan matematika, Pak Einstein tiba pada kesimpulan bahwa massa yang besar mengakibatkan terjadinya ruang lengkung. (step 2 — merumuskan hipotesis)
Lalu Pak Einstein berpikir lagi. Karena ia sudah mempunyai hipotesis yang andal, maka ia bisa memprediksi gejala alam berdasarkan gagasan miliknya itu. Ternyata hasil perhitungan memprediksikan bahwa cahaya bintang yang lewat dekat matahari akan mengalami pembelokan. Peristiwa ini bisa diamati pada saat berlangsungnya gerhana matahari total. (step 3 — memprediksikan perilaku alam)
Selang beberapa tahun kemudian, astronom Inggris Sir Arthur Eddington tertarik untuk meneliti teori Einstein. Pada saat gerhana matahari tahun 1919, ia dan timnya melakukan pemotretan khusus. Ternyata foto menunjukkan bahwasanya berkas cahaya bintang mengalami pembelokan ketika melintas di dekat matahari. (step 4 — membuktikan hipotesis dengan eksperimen)
Dan dengan demikian, hipotesis Einstein pun diakui sebagai teori yang menjelaskan cara kerja alam. End of story.
![]()
***
Lho, lalu apa hubungannya dengan Teori Evolusi?
Hmm, glad you asked. ^^ Sebenarnya, saya baru akan menuju ke situ.
Nah, sekarang kita kembali ke topik awal, yaitu soal metodologi ilmiah terkait Teori Evolusi. Dengan sekali lihat ke guideline yang saya berikan, harusnya Anda bisa melihat bagaimana keadaan teori evolusi jika dibandingkan dengan langkah-langkah yang telah disebutkan. Sesungguhnya, masih ada beberapa hal yang belum mampu dipenuhi oleh Teori Evolusi dalam mengikuti guideline tersebut.
Lho kok bisa?
Penjelasannya kira-kira begini:
-
Studi Kasus: Teori Evolusi
1. Amati gejala alam yang terjadi
—> terdapat homologi, spesiasi, dan lain-lain sebagainya yang sempat saya tulis di post yang sebelum ini.
2. Buat sebuah hipotesis. Mengapa gejala tersebut muncul? Apa yang melatarbelakanginya?
—> buat hipotesis utama h0: mungkin telah terjadi sebentuk evolusi
—> dipecah dalam beberapa aspek fundamental
h1 =
makhluk hidup berevolusi menuju keragaman dari satu nenek moyang sejak zaman dahulu
h2 =
makhluk hidup menyesuaikan diri menuju bentuk yang lebih sempurna
h3 =
makhluk hidup mewariskan perubahan sifat kepada keturunannya
h4 =
proses terjadinya evolusi diatur oleh mekanisme seleksi alam
…
hx =
hipotesis nomor sekian, yang mewakili aspek dari evolusi
3. Prediksikan perilaku alam berdasarkan hipotesis ‘baru’ tersebut
Berdasarkan rangkaian hipotesis dari h0 hingga hx, ternyata didapat prediksi sebagai berikut:
(a) harusnya terdapat sisa-sisa fosil makhluk peralihan; semisal makhluk antara hewan purba ke archaeopteryx, lalu menuju burung modern.
(b) spesies makhluk hidup hasil adaptasi harusnya terlihat mewariskan ciri-cirinya ke anak mereka
(c) terdapat kemiripan fundamental di antara spesies, karena mereka berasal dari nenek moyang yang sama
…
(x) prediksi ke-x berdasarkan hipotesis evolusi
4. Lakukan eksperimen/percobaan untuk memastikan kebenaran hipotesis yang dirancang sebelumnya
Eksperimen dilakukan dengan mengamati gejala alam dan melakukan perbandingan dengan hipotesis. Dari sini, dilakukan pengujian untuk semua hipotesis dan prediksi yang disiapkan.
Ternyata didapat data sebagai berikut:
h1 =
taksonomi filogenetik dan homologi tampak menunjukkan kesamaan yang mengarah pada nenek moyang tunggal. Meskipun begitu,
terdapat bukti yang memberatkan bahwa mungkin terjadi revolusi (bukan evolusi) pada saat berlangsungnya cambrian explosion.
h2 =
asumsi sementara: ya, jika mengacu pada perkembangan fosil kuda dan volume otak manusia. Di samping itu, pada skala mikro, ternyata patogen mampu beradaptasi jika diberi dosis antibiotik tanggung dan mewariskan hasil ini pada keturunannya.
h3 =
sudah terpantau pada skala mikro, e.g. pada resistensi antibiotik yang dibahas pada h2. Asumsi untuk makroevolusi: umumnya membutuhkan rentang waktu yang sangat panjang sehingga lebih sulit untuk dideteksi.
(meskipun demikian terdapat contoh kasus yang menguatkan, e.g. mutasi lalat buah Drosophila melanogaster dan resistensi hama wereng terhadap pestisida).
h4 =
sudah terbukti. Contoh yang terkenal adalah perubahan perubahan warna kupu-kupu Biston betularia sebagai efek paparan limbah industri.
—–
Prediksi (a) =
Tidak/belum ditemukan sejauh ini. Penemuan fosil sejauh ini masih mengesankan perubahan yang meloncat-loncat.
Prediksi (b) =
Sama dengan h3
Prediksi (c) =
Ditemukan kemiripan fundamental pada formasi pembentukan kepala pada vertebrata (i.e. kesamaan posisi mata, hidung, dan mulut); kesamaan struktur tulang alat gerak[1]; dan lain sebagainya.
***
Nah. Setelah melewati perjalanan sejauh ini, maka kita melihat bahwa Teori Evolusi sebenarnya belum memenuhi semua hipotesis yang disediakan. Di satu sisi, kita melihat beberapa bukti yang menguatkan Teori Evolusi. Meskipun demikian, terlihat juga bahwa beberapa kaidahnya tampaknya tidak bersesuaian dengan keadaan alam yang kita temui.
Di satu sisi, hipotesis dari evolusi bisa menjelaskan penyebab di balik terjadinya homologi, resistensi antibiotik, juga mutasi virus (ada yang ingat H5N1 menyeberang ke manusia? ^^ ). Meskipun begitu, di sisi lain evolusi juga masih kesulitan dalam menjelaskan cambrian explosion. Bahkan penemuan fosil hingga saat ini masih mengesankan adanya gap antar spesies.
Jadi, sebenarnya, Teori Evolusi itu Ilmiah atau Tidak?
Ya, ya, saya tahu ini merupakan pertanyaan yang ditunggu-tunggu jawabannya. Sebenarnya, Teori Evolusi itu ilmiah atau tidak?
Jawabannya: Teori Evolusi itu konsensus ilmiah. Statusnya bukan hukum, melainkan cuma teori.
Sebuah konsensus ilmiah adalah kesepakatan diantara para scientist akan suatu kaidah. Mengapa para ahli memilih Teori Evolusi? Karena inilah penjelasan yang dianggap paling memuaskan yang bisa menjelaskan keragaman spesies sejauh ini[2]. Ia belum final, dan masih bisa ditumbangkan seandainya ada bukti-bukti dan teori baru yang siap mengabrogasinya.
That said, evolusi itu sifatnya masih tentatif. Tetapi ia dipilih karena mampu menjelaskan gejala alam dengan baik dan runtut, walaupun lubangnya juga (IMHO) bukannya tidak ada.
[tambahan] Sedikit FAQ
Ada hal menarik yang saya temui di berbagai forum diskusi evolusi vs. kreasionisme. Bahwasanya, ada beberapa ‘tuduhan’ miring yang sering diajukan pada Teori Evolusi. Diantaranya,
FAQ #1:“Teori Evolusi itu tidak mengakui Tuhan!”
Ha, prasangka dari mana ini? OK, memang ada beberapa hipotesis di kalangan biolog, yang menyatakan bahwa makhluk hidup terbentuk berdasarkan by chance. Kemudian hal ini dikait-kaitkan dengan evolusi. Meskipun begitu, ini BUKAN prinsip utama evolusi — melainkan abiogenesis.
Abiogenesis adalah cabang ilmu yang mempelajari bagaimana makhluk hidup muncul di muka bumi. Sedangkan evolusi menyatakan bagaimana keragaman berkembang dari makhluk hidup pertama. Bagaimana makhluk pertama muncul bukan bahasan yang diurus evolusi — ini kesalahkaprahan yang sering muncul.
Jika Anda percaya pada Tuhan, let it be so. Toh masih ada penafsiran esoterik semacam theistic evolution, di mana Tuhan tak mesti berseberangan dengan evolusi.
Adapun poin yang ingin saya sampaikan adalah, mustahil menentukan apa yang sebenarnya terjadi di awal penciptaan, terutama dari keadaan di mana kita hidup sekarang. Bisa saja makhluk hidup pertama diciptakan oleh Tuhan. Tetapi bukan tak mungkin kejadiannya berbeda — boleh jadi kita ini sebenarnya berasal dari benih bawaan alien, atau malah benar-benar tercipta by chance!
Lalu, yang salah yang mana? Yang salah ya yang memaksakan pendapat! Jika ada perkara yang mustahil diverifikasi kebenarannya (misal: teologi), tentunya yang salah adalah yang merasa benar sendiri. Gitu aja kok repot.
FAQ #2“Kalau begitu, boleh dong saya meruntuhkan evolusi dengan mengatakan bahwa ‘semua makhluk hidup diciptakan tiba-tiba oleh Tuhan! Ini teori saya’.
Pernyataan ini menjelaskan semua hal dengan baik; juga menjawab semua paradoks teori evolusi.”
Ya, bisa sih. Tapi, itu sama saja seperti kalau kita bilang bahwa “Tuhan menciptakan pelangi tiba-tiba!”. Padahal ada hukum fisika optik maha indah yang berperan di baliknya.
Janganlah merendahkan Tuhan dengan menyederhanakan cara kerja-Nya (walaupun Dia memang mampu melakukannya). Sebab, kalau kita mau menggali lebih dalam lagi, masih ada hukum alam yang lebih indah daripada “mak-gedubrak!” dan langsung jadi.
Evolusi, di satu sisi, cuma berusaha menjelaskan alam dengan caranya sendiri. Bagaimanapun, sains tak pernah benar-benar bisa ‘mematikan’ peran Tuhan (IMHO).
“This doesn’t prove that there is no God, only that God is not necessary.”
–Stephen Hawking
FAQ #3“Dengan banyaknya lubang di Teori Evolusi, harusnya teori ini sudah runtuh. Mengapa para ilmuwan masih mengakuinya sampai sekarang?”
Jawaban untuk ini sudah saya uraikan di atas tadi, dan kelanjutannya bisa dibaca di post saya tentang cara menjatuhkan teori evolusi.
Penutup
Akhir kata, saya ingin menyampaikan sebuah quote dari Pak Ahli Geologi yang juga getol membahas tentang evolusi di blog beliau.
evolusi JANGAN DIPERCAYA. Tetapi dipelajari , diteliti, dan dimengerti apakah benar-benar terjadi, dan bagaimana terjadinya. Kemudian ambil manfaatnya kalau masih ada yg bisa dimanfaatkan.
Evolusi juga bukan aliran kepercayaan, kok. Jangan dihantem pakai keyakinan … mesti mleset !!
There you have it.
Evolusi memang belum pasti, dan masih ada beberapa pertanyaan di dalamnya. Meskipun begitu, posisinya sebagai sebuah teori ilmiah bukanlah sesuatu yang bisa digugat runtuh begitu saja. Ini yang harus selalu kita ingat.
Sayangnya, kemampuan untuk menghormati hal tersebut justru sering terlupakan. Sehingga timbul kesan diskusi/debat yang ramai-rusuh dan tak berujung pangkal.
Ayolah, Anda (pembaca), baik yang sangat religius maupun yang mendukung evolusi sebagai sarana debunking agama dan Tuhan. Jangan jadi bigot!
—–
Catatan:
[1] Kesamaan struktur alat gerak; lebih baik dijelaskan dengan menggunakan gambar sbb:

gambar diambil dari [sini]
Dalam gambar di atas terlihat kemiripan antara struktur tulang sayap kelelawar, sirip paus, dan lengan manusia.
[2] Tergantung persepsi soal “memuaskan” juga, sih, sebenarnya. Saya sering melihat debat soal masalah ini berujung pada pertanyaan di FAQ #2, yang sudah saya jelaskan di atas. ^^
—–
Terkait:
- Scientific Method
- Begini lho caranya, Kalau Anda mau menjatuhkan Teori Evolusi…
- Komentar nomor #56 s.d. #64
— metode ilmiah @ Wikipedia Inggris
— tulisan saya yang terdahulu
— di “Teori Evolusi, Sains atau Ilmu Semu?”
Akhirnya sukses deh jadi trilogi.
[pertama], [kedua], [ketiga]
Hah baca postingan ini gw jadi inget applied research projek gw taun lalu O_o (skripsi), Anda lagi skripsi ya mas?
Maap ya ga bisa komen tentang teori evolusi nya. Gw selalu sleeping beauty pas pelajaran biologi dulu.
@ Apret
Nggak tuh; skripsi (a.k.a. TA) gw mulainya semester atau taun depan. Masih banyak ngulang, soalnya. -_-’
*tukang gambar yang kesasar ke jurusan teknik*
Yup setuju!
Jadi jangan sampai muncul quote:
Eh, kalo quote dari pihak pro evolusi, kira-kira apaan ya?
*insting mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu di blogosphere, dan sampe ke sini*
Akhirnya…..
AKHirnya…..
AKHIRNYAAAAAAAA……!!!!!!!!!
Omedeto sora-kun. Finally you can give something obvious
Cool!!!!!
(eits, dilarang Ge-Er. Saya tidak bermaksud memuji, cuma sedikit kagum pada bagian yang saya sebut “real thinker”. )
komen saya, terkait dengan agama dan Ke Tuhanan: adanya keragaman species tapi memiliki kemiripan fisiologi di bagian tertentu dan sebagainya itu, merupakan bukti bahwa penciptanya itu Satu.
IMHO, merupakan ciri khas seniman sejati, bukti Kebesaran Rabb. Sense of beauty.
berdasarkan teori, Saya setuju bagian, makhluk hidup itu hanya beradaptasi dan bukan berevolusi.
Yaiks….
Nggak berubah juga ‘kebiasaan buruk’ lama!
Arghhhhh ….
*tiba-tiba merasakan sesuatu yang runcing muncul di bagian taring*
Sumpah., sebelllllll….!!!!!!!
lagi lagi ulasan ilmiah lengkap dari seorang sora9n … wajib dipahami … bukan dibenturkan dengan “berarti agamamu masih dangkal”
cara menyusun artikel nya masih tetep pengen aku “contek”.
oh ya .. langkah-langkah yang disebut metode ilmiah itu bisa diliat disini http://alphaomega86.tripod.com/metode_ilmiah.htm#menu
dari sini moga bisa dipahami juga kenapa cara Harun Yahya tidak pernah dibilang ilmiah
@ danalingga
Biasanya sih sebangsanya “agama menolak bukti sains”, “self-decepting”, atau ad hominem bahwa “agama hanya membuat orang jadi bodoh”. Ada juga yang bilang, “ada atau tiadanya Tuhan tak banyak bedanya; toh alam tetap bisa terbentuk dengan cara sains sekian dan sekian”.
Oh well. Tanya ke mas Geddoe aja. Soalnya beliau kan banyak menyerap ilmunya Pak Richard Dawkins (yang notabene evolusionis-ateis garis keras).
:::::
@ Snowie
Saya cuma mau ngutip dari salah satu komentar yang pernah saya tulis,
There you have it.
:::::
@ emmy21
Terima kasih; saya jadi rada tersanjung nih bacanya. ^^:;
Sebetulnya, saya sendiri nggak terlalu bermasalah dengan ide kreasionisme. Bahkan kreasionisme a la HY pun sebenarnya saya respek saja. Tapiii, yang saya tak suka dari beliau adalah bahwa beliau mengaku-aku bahwa Teori Evolusi itu tidak ilmiah. Bahkan dibilang sudah tumbang! Padahal kenyataannya kan tidak.
IMO, silakan saja kalau mau menyampaikan kreasionisme. Asalkan dilakukannya dalam kerangka dan cara yang terhormat. Bukannya dengan hoax bahwa evolusi sudah tak diakui lagi oleh scientists; itu mah kampungan.
Aaaah! Pokoknya™ teori evolusi itu kafir™! Temuan barat™! Coba baca Harun Yahya™! Teori evolusi itu sudah runtuh™, ya mau bagaimana lagi, toh cuma konspirasi Freemason™!
Anda ini kok sok tahu sekali, sih? Hah? Hah? Wong ilmuwan saja banyak yang tidak mengakui teori evolusi!
Naah! Level segini saja kok berani-beraninya menantang bukti-bukti saintifik™ yang jelas-jelas berseberangan dengan teori evolusi?
Bertobatlah!
*batuk-batuk*
*serius mode*
1. Bagus banget. Kayaknya perlu dijelaskan juga kerancuan istilah ‘teori’ dalam teori evolusi. Soalnya seringkali dianggap sama dengan ‘hipotesis’, dan segi tentatifnya sering dieksploitasi sebagai alibi untuk menolaknya tanpa argumen.
2. FAQ-nya bagus!
3.
Saya juga banyak ngulang.
@ Kopral Geddoe
Ssst, jangan keras-keras! Anda sedang membuka borok Anda sendiri!!
Tu quoque, Geddoe, amici mi?
Sedikit-sedikit sepertinya udah kena di post di atas, IMHO. Soalnya saya menunjukkan bahwa “teori” dalam konteks evolusi bulkan sekadar “dugaan” kosong; melainkan juga diperkuat bukti. Di awal juga udah saya tulis soal kesalahpahaman soal metode ilmiah ini. ^^
Terima kasih…
Tak mengapa, akhi. Mari kita jalani hidup yang berat ini bersama-sama™…
mungkin sy terlambt mengetahuinya, tapi dari pada ga th sama sekali, gpp kali ya.
Mengenai Teori Evolusi, mbah Flew aja dengan jujur mengakui
http://www.tothesource.org/10_30_2007/10_30_2007.htm
bukan hanya si Mbah bahkan banyak ilmuan di belahan eropa dan negara yang mulai mempertanyakan keabsahan dari teori mbah darwin. Kaya na eropa dan barat dah mulai cemas deh sora. kan pepatah mrk “jgn biarkan T**** ada didepan pintu”
http://www.Ciencia-Alternativa.org
http://www.swissinfo.ch
http://www.thedesignoflife.net
http://www.privilegedplanet.com
http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/wales/1059825.stm
http://www.eurekalert.org/pub_releases/2007-03/nyu-med032307.php
@ dualapan
Maaf, komentar Anda tadi terjaring moderasi. Soalnya terlalu banyak masang link, jadi disangka spam. Baru sempat saya loloskan. ^^;
Sebetulnya, berhasil atau tidaknya Darwin, atau ada atau tidaknya Tuhan, bukan itu yang mau saya ketengahkan di post ini. Yang ingin saya sampaikan adalah seperti apa sebenarnya kedudukan teori evolusi di belantara ilmiah.
Kita sudah sering melihat debat evolusi vs. kreasi yang tak tentu arah, hanya gara-gara yang satu tak bisa menghormati kedudukan yang lain. Itu yang ingin saya tekankan.
Sekarang ke topik utamanya. Apakah evolusi itu benar, atau salah? Sekali lagi, saya kutipkan dari ucapannya Pak De Rovicky:
Kalau salah ya salah; kalau benar ya benar. Yang penting klaim benar atau salah itu bisa dipertanggungjawabkan dengan baik. Bukan sekadar klaim palsu, apalagi karena terbawa kebencian.
Pertama-tama, makasih banyak dah upload poster parodi versi gede…
Soal post ini, no comment deh. Dah puas tuker pikiran dgn situ di post #2 kmaren.
Last, kuliahmu banyak ngulang?? Berarti kalimat “supposedly final year student” di sidebarnya musti direvisi tuh…
ini orang2 bukannya pada komen tentang artikel nya, malah pada komen tentang ‘ngulang’nya -_-”
*dunia memang kejam
** jadi mahasiswa emang enak, nikmatilah selagi belum lulus XD
*** hore saya ngga pernah ngulang *ditabok*
@ jensen99
Yeh, kalo belom puas mah keterlaluan… dari dulu kan dah ditanggepin panjang lebar.
Lho, justru kata “supposedly” itu udah ditambahin sebagai bentuk editan. Saya diasumsikan sebagai mahasiswa tahun terakhir sekarang ini, makanya ditulisnya kayak begitu.
*ngeles mode = on*
:::::
@ Apret
Ngomongin evolusinya dah banyak di post yang pertama dan kedua… kalo dijumlahin mah semuanya dah +100 komen AFAIK. -_-
……….
kok ndak ada keributan? saya lagi nunggu keributan ini…
*mondir-mandir sambil nyeret2 pentung*
@ joesatch
Santai akhi… mungkin ini pertanda baik. Bahwasanya, umat sudah makin tenang dan bisa bersikap dewasa dalam menanggapi masalah pelik™ sebangsanya debat evolusi vs. kreasi ini. ^^ Dibandingkan dengan dulu, bukankah ini suatu perbaikan?
*teringat 140+ komentar di post2 sebelumnya*
*ditimpuk batu bata*
@Sora9n
“Teori Evolusi itu konsensus ilmiah. Statusnya bukan hukum, melainkan cuma teori.”
Loh, bukannya dari dulu sudah disebut TEORI Evolusi bukan Hukum Evolusi? Jauh2 amat penjelasannya.
Hehehehe…maap, maap, komentar gak penting. Saya tertarik untuk mengomentari secara serius dan lengkap, kalo sempat dan kalo otak saya sampe (maklum, nilai IPA di bawah 5).
Saya sepakat dengan penjelasan anda tentang status kelimiahan teori evolusi. Tapi saya ragu kalo berpikir dan bersikap secara “ilmiah” itu tidak ada kaitannya dengan atau kedap keyakinan.
Secara historis, kultural dan filosofis, metode ilmiah, yang dimatangkan oleh jiwa zaman Pencerahan, itu memang sejak awal sudah bersifat ateistik (atau katakanlah agnostik): bagaimanapun, keyakinan memang dlilibatkan.
Apa falsafah yang mendasari teori evolusi? Apa implikasi teori evolusi terhadap pandangan dunia seseorang? Nah, pertanyaan itu yang harus dijawab dan dibahas karena pasti menyerempet, kalo bukan menghantam iman.
Lha, itu namanya penekanan dalam berbahasa™, Mas.
Pengaruhnya sih ada. Cuma sebenarnya, itu nggak ada gunanya. Karena, hal-hal yang terkait keyakinan (baca: iman dan yang tak terpersepsi) nggak mungkin bisa dicapai dengan pendekatan ilmiah.
Sebetulnya bukan berlandasan ateistik atau agnostik, IMHO. Kalau benar-benar dipandang dari sudut pandang keilmuan, penjelasannya agak lebih “membumi” daripada langsung menyerang/mempertanyakan keimanan… ^^
1. Ada suatu peristiwa X
2. Gejala apa ini?
3. Cari tahu terus sampai dapat.
Posisi Tuhan dalam keyakinan manusia kan biasanya “God of The Gaps”. Karena yang “tak terjelaskan” bukan lagi dianggap keajaiban (melainkan cuma belum diketahui), maka posisi Tuhan dalam hal ini jadi tergeser.
Ditambah lagi dengan kemustahilan membuktikan teologi secara empiris, maka tak ada lagi tempat di mana “sains” bisa benar-benar menemukan “Tuhan”. Solusinya? Ya, kebertuhanan itu kembali pada masing-masing orang. Mau percaya monggo, mau nggak pun nggak bisa dipaksa.
Dan pilihan mana yang diambil, itu kembali pada pengalaman, pembelajaran, serta ‘rasa’ yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan.
Kalau falsafahnya, ya intinya berusaha menjelaskan ‘bagaimana alam ini sebenarnya bekerja’.
Implikasinya: ada kemungkinan bahwa makhluk hidup sebenarnya bisa tercipta tanpa bantuan Tuhan. Seperti kata Pak Hawking yang saya kutip di bagian FAQ post di atas.
@Sora9n
Sains itu agama. Itu sebabnya, saintis dan rohaniwan sama-sama bisa menjadi bigot. Memang lucu kalo ada yang ingin mensainskan Tuhan dengan teori ID atau apalah. Tapi yang terburuk adalah keinginan saintis untuk menalar Kitab Suci dengan perangkat2 sains yang reduktif. Further comments menyusul.
@Sora9n
Dimanakah Posisi Anda Dalam Perdebatan Evolusi-Kreasionisme?
Ah akhirnya mau nulis juga. Entah kamu masih mau nanggepin apa enggak. Anyway:
Teori Evolusi adalah anak emas Sains. Status resminya memang masih — seperti yang anda tekankan – berupa teori, tetapi penerapannya dalam berbagai penelitian ilmiah tampak seperti sudah mencapai level hukum dan disajikan sebagai teori-lulus-uji.
Teori ini memang dahsyat, karena hipotesis turunannya bisa melenyapkan Tuhan dengan penjelasan yang sangat anggun (atau mungkin absurd): semua tercipta (lihat bagaimana Sang Subyek dilenyapkan!) secara acak. Teori ini dianggap paling efektif untuk menggeser hirarki otoritas dalam kehidupan umat manusia, yang tampaknya masih memberi tempat pada Sang Khaliq. Dus, tak dapat dipungkiri, ada muatan politis dalam pengembangan teori evolusi.
Saya sependapat dengan uraian anda mengenai metode ilmiah dan kaitannya dengan status teori evolusi. Saya juga sependapat bahwa teori ini tidak mampu memfalsifikasi gagasan penciptaan karena absennya bukti-bukti. Fokus saya bukan pada masalah status teori evolusi, tapi SAINS itu sendiri.
IMHO, sains adalah juga sebentuk “agama”, dengan materialisme sebagai Tuhan (the ultimate reality), empirisisme/observasi sebagai jalan pewahyuan/revelation, hukum-hukum ilmiah sebagai Kitab Suci yang dikanonisasikan dan para ilmuwan sebagai pewarta/nabi. Sains, seperti juga agama, menyediakan bukan hanya metode (mengamati dan mengambil kesimpulan) tetapi juga perangkat kesadaran (yakni materialisme, empirisisme, rasionalisme, positivisme, obyektifisme) yang digunakan oleh manusia untuk mendefinisikan realitas. Keduanya secara fungsional/ontologis terkait dengan upaya manusia mememahami alam semesta/Tuhan.
Saya melihatnya begini:
Teologi:
Manusia (Subyek) – Agama+Kitab Suci (Paradigma) – Alam (Objek) – Tuhan (Subjek/Objek)
Ilmu Pengetahuan (Sains):
Manusia (Subjek) – Sains (Paradigma) – Alam (Objek)
Sains dan agama sama-sama berfungsi sebagai paradigma. Menurut saya, agama (yang subyektif, khusus, argumentative, etc.) itu betolak belakang dengan sains (yang obyektif, umum, eksplanatif, etc.). Jadi, keduanya bukan sekedar berada di ranah yang berbeda: mereka bertubrukan! IMHO (ketularan kamu nih, IMHO2an), Realitas itu Tunggal. Yang beragam adalah cara pandang atas realitas.
Nah, agama dan sains adalah dua cara pandang atas realitas. Keduanya berpandangan bahwa yang lain adalah realitas tipuan: ilmuwan adalah orang tolol yang ditipu ilusi optik sementara agamawan adalah orang gila yang hidup dalam delusi. Keduanya irreconcilable!
Mengapa? Karena Tuhan akan selamanya menjadi HIPOTESIS dalam pandangan ilmuwan yang percaya hanya pada Yang Maha Nyata dan Yang Maha Objektif. Seandainya Tuhan ditemukan dalam sains pun Tuhan itu tidak akan kompatibel dengan Tuhan yang mengungkapkan dirinya dalam Kitab Suci. Karena itu, yang ditemukan itu, yang katanya Tuhan, pastilah bukan Tuhan. Bila tidak ada Kitab Suci, maka kasusnya akan berbeda. Deisme mungkin lebih masuk akal ketimbang teologi Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Saya sepakat dengan Anda, Hipotesis Tuhan mustahil untuk diuji validitasnya secara ilmiah. Masalahnya, mengatakan Tuhan sebagai Hipotesis cukup untuk menempatkan seseorang dalam kategori “tidak beriman”, apalagi menyimpulkan bahwa untuk sementara hipotesis Tuhan tidak bisa dikoroborasikan karena absennya bukti yang bisa diverifikasi.
——————————————————–
“Teori Evolusi itu tidak mengakui Tuhan!”
Ha, prasangka dari mana ini?
——————————————————–
Bukan prasangka, emang kenyataanya begitu. Sains, bukan teori evolusi saja, memang tidak memberi tempat pada Tuhan. Ini ad hominem, tapi saya selalu melihat anda sebagai orang yang tidak konsisten (lihat FAQ anda). Kembali pada perdebatan lama kita, anda itu selangkah dari ateisme, seandainya anda konsisten dengan posisi metafisika anda.
Salam
*numpang komen*
1. Soal ‘teori’ evolusi;
Setahu saya ini salah paham kebahasaan. ‘Teori’ dalam terminologi sains lebih kurang ekuivalen dengan ‘hukum’ dan ‘fakta’ dalam bahasa sehari-hari. ‘Teori’ dalam konteks konjektural (“hanya teori”, dst) dinamakan ‘hipotesis’. AFAIK, gravitasi dan revolusi bumi juga termasuk ‘teori’, dan juga tidak bisa disanggah.
2. Soal ‘acak’.
Acak? Kenapa para kritik teori evolusi selalu menggunakan kata ‘acak’?
Seleksi alam bukanlah proses acak. Yang acak hanya permutasinya. Adanya manusia di bumi bukanlah proses acak, CMIIW, semuanya berjalan sesuai prosedur. Hanya, komponennya; saya, mas, GWB, Paris Hilton, Zack de la Rocha, Minori Chihara, Sandra Dewi, Cesc Fabregas, semuanya acak.
3. Soal sains sebagai ‘agama’, mungkin yang mas maksudkan adalah worldview.
Benar, walau menurut saya terlalu tendensius meletakkan definisi agama dengan terlalu sembarang dan putis seperti itu. Hal ini mirip dengan konsep Tuhan yang sering disematkan ke benda abstrak seperti alam semesta atau hukum-hukum fisika. Menarik, tapi terlalu dipaksakan. Agama menurut saya mesti memiliki set dogma dan agen supranatural.
4. Nah, soal agama dan sains bertubrukan, rasanya saya setuju. Saya bukan penganut NOMA-nya Jay Gould soale.
Tapi menurut saya pemahaman esoterik agama bisa jadi penengah yang efektif di sini (walau bisa jadi berakhir dengan ‘bermain-main dengan definisi’).
5. Nah, soal Tuhan sebagai hipotesis yang tidak bisa dibuktikan, saya rasa masih ada argumen dari probabilitas. Pertanyaan saya, apakah Napoleon ada, atau cuma karakter fiksi? Ini juga tidak bisa dibuktikan; ‘bukti’ secara definitif adalah konsep matematika, bukan sains. Namun, dengan memeriksa bukti-bukti (ada makamnya, catatan sejarahnya, etc etc), bisa secara induktif disimpulkan bahwa Napoleon itu ada. Begitu pula dengan Tuhan. Hanya pendapat saya.
@ gentole
Saya? Saya sih netral aja. Karena saya memandang sains murni sebagai usaha untuk memahami alam… bukannya dipakai buat sarana meninggikan keyakinan sendiri atau menjatuhkan keyakinan yang lain.
Seperti yang sudah saya bilang. Evolusi punya banyak lubang. Adapun kreasionisme lebih ke arah wishful thinking yang kemungkinan benarnya juga kecil. Dua-duanya punya kelemahan… dan saya lebih suka bersikap netral saja.
Sebab, DUA-DUANYA sama mungkinnya untuk terjadi!!
(maaf kalau terdengar membingungkan)
Rasanya sih saya selalu menanggapi semua komentar yang Mas tulis deh. Kalau komen yang nomor #21 sih emang sengaja belum saya jawab… kan katanya “further comments menyusul”. Makanya saya tungguin.
Kesan itu, menurut saya, terbentuk karena adanya preseden bahwa banyak peristiwa alam bisa dijelaskan kalau bersandar pada kaidah evolusi. Misalnya mutasi virus (flu burung pas menyebrang dari unggas ke manusia, misalnya). Atau resistensi antibiotik, dan lain sebagainya.
Dengan banyaknya keberhasilan di suatu bidang, wajar saja kalau evolusi kemudian dijadikan premis awal dalam berbagai diskusi biologi; dan terkesan seolah-olah sudah paripurna (walaupun kenyataannya tidak demikian juga IMHO).
Yakin cuma evolusi doang, Mas? Big-Bang juga ‘melenyapkan’ Tuhan, lho.
Soal penciptaan “acak”, sekali lagi saya tekankan: itu baru hipotesis yang (mungkin) memuaskan mereka yang atheis. Kalau Anda seorang theis, maka saya bisa berikan beberapa kemungkinan berikut:
(1) Tuhan menciptakan beberapa jenis makhluk hidup primitif, dengan kecenderungan genetika yang beradaptabilitas tinggi. Seiring waktu, adaptabilitas ini mengakibatkan terjadinya diversifikasi bentuk dan sifat makhluk hidup (–> tidak acak)
(2) Ganti kasus, mungkin Tuhan menciptakan satu jenis makhluk saja, yang disebar di seluruh bumi. Tapi di awal penciptaan, Dia menyertakan semacam zat kabut entah-apa di berbagai daerah, yang mempercepat reaksi genetis untuk beradaptasi. Misalnya zat X di daerah gurun membantu adaptasi ke arah fauna gurun; zat Y di dekat laut membantu adaptasi ke arah laut, dsb, dsb.
(3) dan lain-lain yang bisa dipikirkan sendiri, kalau kita cukup kreatif.
Sebaliknya, kalau saya ateis, saya juga bisa berhipotesis sebagai berikut:
(1) Penciptaan memang betul terjadi secara acak. Kemungkinan, di awal penciptaan, ada reaksi fisika-kimia entah apa — sehingga terbentuklah asam amino yang kemudian menjadi cikal-bakal makhluk hidup.
(2) Bisa juga, bukan. Mungkin dulu ada benih kehidupan yang dibawa alien ke bumi, dan berkembang jadi makhluk hidup seperti yang sekarang.
(3) Atau jangan-jangan manusia dari masa depan kembali ke masa silam, dan meletakkan benih kehidupan di bumi. Ini jadi time paradox, tapi tak masalah: karena sejarah manusia melingkar seperti itu, kita memang tidak butuh penciptaan sama sekali!
…
There you have it. Kalau saya theis, saya punya hipotesis. Kalau saya ateis, saya pun bisa membuat hipotesis. “Keacakan” itu cuma salah satunya saja.
Seperti yang saya bilang sebelumnya, ada-tiadanya Tuhan, DUA-DUANYA sama mungkinnya untuk terjadi!!
Masa sih? Rasanya big-bang lebih sadis, soalnya teori itu bukan hanya ‘meniadakan’ penciptaan makhluk — tapi juga penciptaan alam sama sekali lho.
Ada muatan politis? Ha, dan orang-orang yang paling gampang dipengaruhi politik adalah mereka yang nggak bisa bersikap netral. Kenapa sih kita nggak bisa memandang sains sebagai upaya memahami alam?
Mungkin memang ada muatan politis di balik evolusi — yaitu mempromosikan ateisme. Tapi, kenyataannya, apakah evolusi itu harus dijauhi karena dia (diisukan) terkait tendensi politis macam itu? Teori big-bang juga, apa iya dia juga harus dijauhi karena berpotensi meniadakan Tuhan? Ini sains, bung. Kita mempelajari alam untuk kemajuan dan pengetahuan manusia.
Kalau dalam prosesnya terjadi ‘pembunuhan’ atas Tuhan, itu adalah efek samping seperti yang saya jelaskan di komentar #20. But deep down, the point is more like this:
“This doesn’t prove that there is no God, only that God is not necessary.”
–Stephen Hawking
Ah, siapa bilang? Itu kan katanya Harun Yahya.
Kenyataannya nggak selalu begitu kok.
Begini, begini. Semangat utama sains adalah “mempelajari”. Belajar. Melihat dan memahami bagaimana alam ini bekerja, lalu mencatatnya untuk generasi di masa depan. Sementara, “teknik” (atau “teknologi”) adalah bagaimana memanfaatkan sains untuk kepentingan manusia.
Dari situ saja terlihat bahwa tujuan sains adalah “pembelajaran”. Holy Grail sains, kalaupun ada, adalah “bagaimana menyimpulkan cara kerja alam dengan sesederhana dan seindah mungkin”.
Materialisme terkesan menjadi Tuhan, itu karena adanya ide mengenai phsyicalism; di mana dunia dipandang murni sebagai efek dari adanya berbagai properti fisis. Tapi ia bukan “Tuhan”. Di sini, materialisme hanya menjadi landasan berpikir dalam memahami alam.
Yang ini lumayan cocok.
Sebenarnya saya setuju, kecuali di kalimat terakhirnya. Sains tak berusaha memahami Tuhan, maaf. Sains berupaya memahami alam.
Tuhan yang jauh, transenden, dan terpisah dari alam mustahil didefinisikan oleh sains… dan itu sebabnya, banyak ilmuwan yang mengadopsi cara berpikir materialis/fisikal dalam memahami alam. Sebab memang bahasan mereka cuma di dunia fisis — yang notabene beda domain dengan ranah Ketuhanan. ^^
Bukannya bertubrukan, Mas. Mereka mutually exclusive.
Sains digunakan untuk memahami yang terpersepsi (e.g. alam, gejala sosial, dsb). Pendekatannya obyektif, empiris, eksplanatif.
Teologi digunakan untuk memahami yang tak terpersepsi (e.g. ketuhanan, akhirat). Pendekatannya subyektif, personal, dan terkadang tak eksplanatif.
Kalau digambar diagram venn (= himpunan), akan terlihat bahwa sains dan teologi itu bersisian. Di luar sains ada teologi, dan di luar teologi ada sains. Yang satu mempelajari yang terpersepsi, yang lain mempelajari yang tak terpersepsi.
IMHO = In My Humble Opinion. Kalau sedang menyampaikan pendapat pribadi yang mungkin salah, tentunya saya harus menyertakan tulisan itu buat pengumuman.
Betul; setuju. Tapi masalahnya, sains dan teologi memandang wilayah kenyataan yang berbeda. Sains memandang wilayah keduniaan, sementara teologi memandang wilayah yang berada di luar keduniaan.
Makanya, walaupun sering dipaksain nyambung, keduanya bakal terus nggak nyambung.
Skenario Anda agak terlalu ekstrim… sebenarnya, kepercayaan seseorang pada Tuhan (atau agama) tak mesti bertabrakan dengan semangat sains.
Seperti yang saya bilang, sains dan teologi bukannya tubrukan. Mereka mutually exclusive. Sains memandang dunia secara alam dan kebendaan. Agama memandang dunia secara konsep dan metafisika.
Kalau mau mendamaikan antara agama dan sains, maka seseorang harus berpikir parsial. Ketika memandang alam, ia menerapkan prinsip saintifik. Ketika menyangkut hal-hal yang tak terpersepsi dan terkait metafisika, ia harus menggunakan pendekatan non-sains… yaitu teologi dan metafisika.
Bisa juga ambil jalan tengah. Memangnya kenapa kalau Tuhan menciptakan pelangi dengan hukum fisika optik; atau kalau Tuhan menjalankan proses theistic evolution di masa lalu? Heck, it doesn’t make any difference. Kecuali kalau manusia memang hobi/lebih suka berantem atas nama keyakinan masing-masing…
Ya, iya. Kan udah saya bilangin bahwa dua hal itu domainnya beda.
Lho, yakin? Apa iya, seandainya bukti keberadaan Tuhan ditemukan, maka itu pasti bukan Tuhan yang diakui oleh kitab suci?
Memangnya Tuhan yang menguasai alam sama yang mewahyukan diri lewat kitab itu beda, gitu?
Deisme bukannya soal Tuhan yang pasif? Jadi Tuhan menciptakan di awal saja, terus nggak peduli lagi, begitu. Setahu saya deisme nggak mesti bertentangan dengan konsep Tuhan yang maha mengetahui?
Wah, itu sih urusan orangnya sendiri. Hipotesis itu kan bisa benar atau salah. Kalau dia mau meloncat langsung pada kesimpulan ya, silakan…
Tapi ada dua kemungkinan, sih…
(1) Ternyata Tuhan itu ada. Orang itu sudah memilih untuk mengabaikan Tuhan, padahal dia tahu bahwa Tuhan itu, tadinya hypotetically exist. Aduh, sial; dia pun terpaksa digoreng di neraka.
(2) Ternyata Tuhan itu tidak ada. Orang itu pun bersyukur: untung pilihanya tidak salah. Kalau Tuhan itu ada, pasti dia sudah digoreng di neraka seperti di nomor (1).
…
Pesan moral: jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Bahaya lho.
Memang iya, kan udah saya tulis di komen #20, dan di atas-atas itu. Karena sains MEMANG NGGAK BAKAL MAMPU menggapai TUHAN!!
Saya tekankan sekali lagi deh kalau begitu. Sains adalah upaya memahami alam. Sedangkan agama dan teologi berupaya memahami wilayah yang adialami.
Wilayah adialami mustahil dicapai oleh sains. Maka, kalau kita terpaku pada sains, maka kita harus menjelaskan cara-cara fisis tentang bagaimana alam dan makhluk tercipta (misal: penciptaan acak, big bang, dllsb). Sebaliknya, jika kita terpaku pada agama/teologi, maka kita akan mengartikan penciptaan merupakan proses mak-gedubrak langsung jadi.
Yang satu nggak mungkin bisa memahami yang lain. Maka saya selalu tekankan: berpikirlah parsial! Ketika mempelajari alam, berpikirlah seperti saintis. Ketika mempelajari yang tak terpersepsi, berpikirlah seperti filsuf dan teolog. Karena hanya dengan begitu kita bisa mendapatkan pemahaman tentang dua dunia tersebut…. dengan asumsi, kita (sebagai pemikir) percaya akan keberadaan Tuhan dan akhirat.
Kalau nggak ya, nggak perlu repot-repot melakukanhal yang saya bilang di atas itu. Oh well.
Hoo… saya tidak konsisten? Betulkah?
Lucu, mengingat saya SELALU dan SELALU menulis kutipan dari Pak Stephen Hawking — yang entah sudah berapa kali saya tulis sepanjang hidup saya ini.
Lihat, itu pendirian saya. Apakah Tuhan ADA? Mungkin. Apakah Tuhan TIDAK ADA? Ya, mungkin! Toh tak banyak bedanya. Karena sains berupaya menjelaskan alam — bahwa alam mungkin bekerja tanpa bantuan Tuhan. TAPI, alam pun mungkin bekerja dengan bantuan TUHAN!!
That’s why I’m an agnostic, you know.
Look, I’m tring to bridge between science and theism, at least to an adequate degree where people won’t merely bash each others by name. Agar orang-orang bisa paham bahwa sains dan agama tak mesti jadi sumber perpecahan; bahwa ada jalan, setidaknya sampai titik tertentu, bahwa manusia tak perlu memilih antara sains dan agama lantas membuang yang lain begitu saja.
Apakah dengan begitu saya menjadi tidak konsisten? Saya rasa tidak. Karena selalu konsisten akan satu hal: saya tidak pernah tahu seperti apa Tuhan sebenarnya (saya bahkan meragukan Dia terus menerus). Tapi saya tak memandang teologi dan metafisika dengan cara saintifik — untuk ini saya harus mengandalkan rasa dan pembelajaran spiritual tersendiri. Oleh karena itu, di samping agnostisisme dan skeptisme saya, saya masih punya sedikit kecenderungan ke arah teisme.
Lalu Anda tahu, alasan utama saya membuat FAQ di atas? Karena saya tak bisa membiarkan orang-orang mengabaikan sains demi cinta
butapada Tuhan. Itu adalah hal yang bodoh dan menyebalkan… manusia tak akan bisa maju jika mereka menolak menerima sains demi sentimen agama. Makanya saya selalu menekankan bahwa sains dan agama/teologi, hingga titik tertentu, masih bisa berjalan bersama.Oh ya, saya bisa jadi orang jahat yang membawa semua pembaca blog saya ke arah agnostisisme atau malah ateisme — dan mungkin membuat mereka meragukan agama yang tadinya mereka miliki. Tapi bukan itu tujuan saya. Makanya saya selalu menjelaskan bahwa sains selalu mempunyai dua sisi… seperti yang saya tulis di komentar #8 buat mbak Snowie. Terlalu sayang jika sains dan kemajuan manusia direndahkan demi sentimen keberagamaan belaka.
Tentu saja. Dibandingkan orang yang religius, orang yang agnostik terkesan selangkah menuju ateis. Di mata orang yang ateis, orang yang agnostik terkesan selangkah menuju religius. So there you have it.
Salam juga.
Well said. To both, the ones that try to bridge both lots are fence-sitting bastards. Isn’t life great?
@ Kopral Geddoe
Yep, very great indeed I can’t ask more.
BTW, sori, komen sebelumnya gak sempet dibales tadi. Kepotong kuliah jam 1, jadi sekarang aja lah. ^^
1.
Well, now we know in what instance people goes by saying “for the sake of simplicity”.
2.
Ah, itu… kalau saya rasa, sebetulnya definisi “acak” yang dimaksud mas Gentole lebih ke arah penciptaan awal. YAng sup primordial, terus pembentukan asam amino itu… kalau seleksi alam sendiri memang relatif nggak acak kalau dibandingkan penciptaan awalnya (=sangat ditentukan oleh adaptabilitas dan lingkungan). AFAIK, IMHO.
Maaya Sakamoto, Mikuni Shimokawa, Takuya Kimura, Takeshi Hosomi, Brad Pitt, Angelina Jolie, Jennifer ANiston, dan saya juga lho. xD
3.
Sains sebagai agama itu… entahlah. Kita cuma punya holy grail, tapi
Celestial Beingultimate being-nya sendiri saya rasa nggak begitu jelas. Rasanya yang paling ditinggikan adalah semangat mempelajari hal baru di alam — but that’s hardly anything worshippable.4.
Kalau menurut saya sih, sebenarnya dua hal itu berpotensi saling melengkapi satu sama lain. Sebab cakupannya memang sangat berbeda IMHO. Pembahasan selanjutnya bisa dibaca di reply buat mas Gentole yang menyinggung diagram venn. (o_0)”\
5.
Intinya? Jangan melompat terlalu cepat pada kesimpulan!
Somehow reminds me of lottery.
1. (setuju)
2. (setuju)
3.
Soal definisi agama sendiri, apologis sekaliber Keith Ward (no less) sekalipun mengakui bahwa definisi agama sangat ambigu. Kalau sains yang tanpa agen supranatural bisa dikategorikan sebagai agama, lifestyle couch potato juga bisa dikategorikan demikian.
Bisa saja sains dikatakan sebagai agama. Silakan. Saya juga mau kalau di KTP tertulis “Sains” di kolom agama. Lumayan keren.
Tapi implikasinya apa? Terlalu tendensius dan abstrak. Cuma lempar label supaya punya hak untuk mencemooh ilmuwan yang bekerja berdasarkan fakta? Kok, terkesan kekanak-kanakan, ya, IMO.
4.
IMO NOMA itu hanya berlaku dalam pemahaman esoterik yang bersifat alegori. Memang, sains ada dalam jalur ‘memahami alam’ dan agama ‘memahami metafisika’. Namun premis “agama memahami metafisika” itu bisa diprotes; sebab ada kalanya agama keluar jalur dan menyinggung alam (ini kalau disikapi secara literal, tentu). Misalnya, jelas, kreasionisme. Tentunya dalam hal ini, mereka bisa bertubrukan.
Jadi menurut saya NOMA itu bersyarat.
5.
Amen to that.
@ Kopral Geddoe
Lha, bukannya anak-anak dianggap anak-anak karena belum bisa berpikir logis + kritis seperti orang dewasa?
*gak heran kalau beberapa bigot terkesan kekanak-kanakan*
Dan apa yang terjadi ketika agama (dengan penafsiran literal) mencoba masuk ke sains?
Gagal. Matahari mengelilingi bumi, kreasionisme 4000 tahun, dan lain sebagainya.
Sebaliknya, ketika sains berusaha masuk ke daerah adialami? Gagal juga — karena nggak ada petunjuk yang cukup untuk menginduksi apa yang sebenarnya ada di ‘alam’ sana.
‘Tubrukan’ ini, kalau menurut saya, lebih karena kita belum mampu menentukan takaran sedalam apa agama boleh digunakan untuk menginduksi perilaku alam. Apakah dengan literal, atau esoterik? Berapa banyak dosis esoterisme yang boleh dipakai? Dan pertanyaannya, apakah batas ini pernah jelas?
Kalau sepenglihatan saya, NOMA lebih sering dilanggar karena adanya ekspektasi berlebih pada kemampuan kitab suci/agama dalam menjelaskan alam… makanya sering terjadi bigotry terhadap sains. Dan berlaku atau tidaknya NOMA, IMHO itu kembali pada cara pikir orangnya. Kalau orangnya memang zealot, ya, sudah pasti dia bakal mengacu terus-terusan ke holy scripture.
Setuju, transgresi wilayah ini yang bermasalah. Makanya saya bilang NOMA itu bersyarat; literalisme tidak kompatibel dengan konsep ini. Sebab, apabila dikaji secara literal memang konten kitab suci pasti akan merambah ke alam dan kosmologi (Genesis, misalnya).
Sains pun demikian, karena bagaimanapun sesuatu yang supranatural, by definition, memang di luar jangkauan.
Pemicu transgresi itu ya yang tadi itu. Adanya ekspektasi bagi kitab suci untuk menjelaskan alam. Batas dosis esoterisisme ini yang tidak pernah jelas.
Saya juga bingung.
Aha…@Mas Geddoe
————–
“Setahu saya ini salah paham kebahasaan.”
————–
Saya merujuk pada penjelasan Sora9n di atas. Segala sesuatu pada dasarnya “salah paham kebahasaan”, mas. Saya bilang perlakuan terhadap teori evolusi itu berlebihan karena apa yang diajarkan di sekolah dan bagaimana ilmuwan menjelaskan proses terjadinya alam lewat evolusi itu sudah pada level bahwa teori itu tak terbantahkan. Saya pernah berdiskusi dengan Ngurah Mahardika, pakar flu burung di Bali. Tanpa teori evolusi? He’s virtually clueless about the virus mutation and all that genetic stuff. He also won’t spook me with his prediction of a chilling pandemic.
—————-
“Agama menurut saya mesti memiliki set dogma dan agen supranatural.”
—————–
Gak juga ah. Buat aku agama itu set of beliefs. Kalo kita ihat surat-surat Makkiyah (mostly di Juz 30 al-Qur’an), fokusnya bukan syariat atau sesuatu yang worshippable as Sora9n said, tetapi upaya mengingatkan manusia bahwa kenyataan di dunia itu fana: akhirat adalah kenyataan sejati. Sebagian besar surat-surat pendek itu bebricara soal kiamat, after which the true reality will be unfolded. Gue suka Coleman yang nerjemahin puisi Rumi: “There is no reality but God.” To many, God is Nature and Nature is God.
—————–
“Nah, soal Tuhan sebagai hipotesis yang tidak bisa dibuktikan, saya rasa masih ada argumen dari probabilitas.”
—————–
God does exist. I won’t say he probably exists.
Sora9n
—————–
“Yakin cuma evolusi doang, Mas? Big-Bang juga ‘melenyapkan’ Tuhan, lho.”
—————–
Kan saya bilang bukan cuma teori evolusi.
—————-
“Ha, dan orang-orang yang paling gampang dipengaruhi politik adalah mereka yang nggak bisa bersikap netral. Kenapa sih kita nggak bisa memandang sains sebagai upaya memahami alam?”
—————-
Bisa saja. Tetapi seperti saya bilang sains itu juga set of beliefs. Buktinya, anda berpikir bahwa Tuhan mungkin saja ada dan mungkin saja tiada. Sikap ilmiah yang anda anut mempengaruhi persepsi anda tentang Tuhan.
——————
“Kita mempelajari alam untuk kemajuan dan pengetahuan manusia.”
——————
Oh ya? Apakah Perang Dunia ke II, Perang Iraq serta ancaman Perang Nuklir, Senjata Biologi dan lain-lain untuk kemajuan dan pengetahuan? Sains sayangnya tidak bebas nilai, bung. Saat ini kita hidup sebagai “masyarakat resiko”. Anyway, FYI, saya tidak menentang sains. Saya hanya ingin mendudukkan masalah. Siapapun yang mau mempelejari sains, yah silahkan. Yang JELAS mengatakan bahwa teori EVOLUSI TIDAK PERLU dikaitkan dengan AGAMA itu terlalu naif, kalo bukan misleading.
——————-
“Bukannya bertubrukan, Mas. Mereka mutually exclusive.”
——————–
Ketika sains berbicara tentang asal mula alam semesta dan kehidupan, keduanya bertubrukan dan berebut tempat di masyarakat.
————————
“Skenario Anda agak terlalu ekstrim…”
————————
Yah mungkin.
———————–
“Kalau mau mendamaikan antara agama dan sains, maka seseorang harus berpikir parsial.”
———————–
Kenapa gak holistik, salah ya? Pilih mana parsial atau holistik? Kalo kata aktifis Muslim yang baru ketemu murobbinya, masuk Islam harus scara kaffah mas. Hehe…
NAH INI INKONSISTENSI ANDA:
———————–
“Memang iya, kan udah saya tulis di komen #20, dan di atas-atas itu. Karena sains MEMANG NGGAK BAKAL MAMPU menggapai TUHAN!! ”
———————–
Keputusan anda untuk menjadi agnostik adalah karena anda berharap/berpikir bahwa suatu hari AKAN ADA BUKTI tentang KEBERADAAN TUHAN, bukan? Anda berpikir bahwa anda abstain dalam dua kemungkinan ADA dan TIDAK ADA-nya Tuhan. Padahal tidak begitu. Anda, dengan pandangan sains anda — meminjam istilah al-Qur’an — berada di golongan kiri.
(Maaf huruf kapital, gak bermaksud teriak-teriak).
You suspend belief in a hope that one day God will reveal himself through science while you know for sure that science will never reach him. Ini yang disebut “argumentum ad temperantiam, also known as middle ground, false compromise, gray fallacy and the golden mean fallacy). It is a logical fallacy which asserts that a compromise between two positions is correct.”
There’s no middle ground bung. There’s no GROUND for your agnosticism. Your inconsistency is crystal clear.
—————
“Memangnya Tuhan yang menguasai alam sama yang mewahyukan diri lewat kitab itu beda, gitu?”
—————
God reveals himself through nature? What do you mean?
—————-
“Look, I’m tring to bridge between science and theism, at least to an adequate degree where people won’t merely bash each others by name.”
—————-
It’s a noble but futile effort. Dulu saya tidak simpatik sama al-Gozali, but he makes some good points on religions and the Greek thoughts.
——————-
“Tentu saja. Dibandingkan orang yang religius, orang yang agnostik terkesan selangkah menuju ateis. Di mata orang yang ateis, orang yang agnostik terkesan selangkah menuju religius. So there you have it.”
——————–
Haha…siapaun hanya butuh satu langkah menuju Tuhan. Percaya.
@Geddoe Lagi
———————–
“Soal definisi agama sendiri, apologis sekaliber Keith Ward (no less) sekalipun mengakui bahwa definisi agama sangat ambigu. Kalau sains yang tanpa agen supranatural bisa dikategorikan sebagai agama, lifestyle couch potato juga bisa dikategorikan demikian.”
———————–
Guru ngaji saya waktu saya kecil suka bilang kalo bermain gundu dan sepak bola bisa jadi agama.
Apalagi sains.
——————-
“Sains pun demikian, karena bagaimanapun sesuatu yang supranatural, by definition, memang di luar jangkauan.”
——————-
Di luar jangkauan mengisyaratkan adanya sesuatu yang adialami. Sains tidak berpandangan begitu. There’s nothing beyond matter.
——————–
“Batas dosis esoterisisme ini yang tidak pernah jelas. Saya juga bingung.”
———————-
Saya juga bingung.
@sora9n
Buat saya ilmuwan yang masih mempercayai Tuhan dan malah jadi orang yang sangat alim dan taat kepada Tuhan adalah orang-orang yang mengkhianati prinsip-prinsip sains. He’s an unfaithful scientist. Anyway, I believe that there are many, many scientists who just flirt with the idea God. Like I do, I just flirt with science when my sister, who studies biology, tells me about the life of insects or when I open Encarta Enc.. Yes, flirting, to a certain degree, is an act of betrayal.
Lalu, menyisipkan teori kreasionisme? Bukankah hal itu juga diajarkan di kelas-kelas agama hingga pada ‘level bahwa teori itu tak terbantahkan’?
Tentunya saya tidak akan memaksakan pendapat saya. Seperti yang saya katakan, apologis sekaliber Keith Ward pun bingung mendefinisikan agama. Kalau mas menganggap agama sebagai set of beliefs, berarti padangan mas tentang agama sangat melebar. Dan itu sah-sah saja. Sains pun bisa jadi agama. Begitu pula astrologi dan paham sepatu kuda. Kebetulan guru agama saya juga pernah bilang begitu.
Tentunya bebas memiliki keyakinan seperti itu, tapi ya implikasinya hanya sampai di situ.
Mungkin itu memberikan mas privilege untuk mereduksi pencapaian sains sebagai matter of faith, tapi ya, seperti yang saya bilang, hanya sampai di situ, tidak membawa diskusi ke mana-mana. Wong premisnya tidak disepakati semua pihak.
Different mindset, then. Mindset saya menyatakan semua hal diukur lewat probabilitas, dari nol sampai seratus persen.
Mas mengingatkan saya pada Jung…
Setahu saya tidak demikian. Sains tidak pernah mengklaim “there’s nothing beyond matter”. Melainkan, “things beyond matter would not be its business, be they exist or otherwise”.
Yang berpandangan demikian adalah materialisme. Keduanya sangat berkaitan, tapi tidak sama.
Salam.
Hoo… Seru…!
Intermezzo dikit…
Waktu kuliah IAD dulu, suasana kelas rame lancar (mhs sibuk dengan urusannya masing2), seorg dosen muda mulai mengajar sambil menggambar taksonomi ‘makhluk hidup’; dua cabang ke bawah: ‘hewan’ & ‘tumbuhan’. Dibawah ‘hewan’; ada ‘vertebrata’, dibawahnya lagi ada ‘burung’, ‘mamalia’ dll…
Lalu…
Sejajar bermacam2 hewan dibawah ‘mamalia’, sang dosen menarik satu garis lagi & menulis, ‘manusia’…
DOOOONG!!!
Suasana kelas tiba2 berubah, semua menatap tajam ke arah dosen, masing2 mengomelkan ketidaksetujuannya, & hawa membunuh yang kuat (dari para mhs) memenuhi ruangan…!
Dengan sdikit pucat, sang dosen pelan2 menghapus kata ‘manusia’ dibawah mamalia, dan memindahkannya ke atas, dibawah ‘makhluk hidup’, sejajar ‘hewan’ & ‘tumbuhan’. Dalam sekejap, suasana kelas kembali normal… 8)
Well, evolution is theory, but creation is dogma…!
@ gentole
Sebelumnya maaf dulu, mas gentole. Tapi komentar Anda kali ini justru menunjukkan bahwa Anda sebetulnya belum memahami posisi teologis saya dengan baik.
Saya ambil kutipan yang ini dulu,
Oh, tidak. Anda salah tangkap.
Saya heran, mengingat saya sudah berkali-kali menulis masalah ini di post yang lama itu dan juga di atas tadi. Tapi, baiklah. Biar saya kutipkan lagi dua tanggapan saya itu di bawah ini.
Tuh, lihat. Mana, apakah saya jadi agnostik dan semata mengharap bukti sains keberadaan Tuhan?
Begini, saya jelaskan lagi. Saya memandang Tuhan (dan alam-Nya)sebagai entitas yang mustahil diamati dan dibuktikan kebenarannya. Karena saya tahu itu, maka saya tidak mengharapkan adanya bukti sains akan keberadaan Tuhan.
Tapi. Bagaimana kalau ternyata saya salah? Mungkin saja di masa depan ditemukan bukti telak bahwa penciptaan memang benar terjadi. Mungkinkah? Ya, mungkin… tapi kemungkinannya kecil. Yang kemungkinannya lebih besar adalah jika saya “mencari” Tuhan lewat jalur yang satu lagi… yaitu filsafat/agama/teologi yang memang khusus membahas hal adialami.
Jadi intinya apa? Saya tak berharap menemukan Tuhan lewat sains. Begitupun, selalu ada probabilitas, betapapun kecilnya, yang tak boleh saya abaikan. Boleh jadi nanti Tuhan akan menyibakkan diri lewat “penampakan” empiris… walaupun saya nggak yakin juga itu bakal terjadi sih.
Ckckckckck…. memangnya yang bilang saya abstain siapa? Saya ini agnostic theist. Kalau disuruh voting, saya bakal vote bahwa Tuhan itu ada!
Saya sarankan, Anda pelajari lagi seluruh diskusi kita soal agnostisisme, terutama yang komen no. #109. Ditambah dengan sumber-sumber lain. Sebab kenyataannya, Anda masih sering kebingungan antara ateisme, apateisme, dan agnostic atheism… yang sebenarnya kurang mencerminkan posisi religius saya.
Satu kutipan lagi dari komen saya di postingan lama:
==========
Sekarang waktunya menanggapi bagian lain di komen Anda.
Kalau. Misalnya. Saya percaya bahwa hobbit itu ada, penyihir itu ada, lalu ada naga besar tinggal di sebuah gua, dan Aragorn putra Arathorn itu Pangeran Gondor. Jadi, saya bisa menganut agama Lord of The Rings ?
Itu kan cuma salah satu pandangan. Ada juga pandangan lain seperti deisme yang beranggapan bahwa Tuhan sama sekali terpisah dari alam dan cuma “bermain” di saat penciptaan saja. Ada juga yang menafsirkan bahwa Tuhan adalah alam/materi saja (panenteisme), dan lain-lain.
Terus pandangan yang benar-benar benar yang mana?
Mas, tahu nggak. Di ujung dunia, ada sebuah kulkas. Di dalamnya ada seekor invisible pink unicorn.
It does exist. I won’t say it probably exists.
Masalahnya bukan itu. Masalah utamanya: betapapun terkesan ofensifnya sains pada Tuhan, bukan berarti sains itu pure evil. Sains adalah alat untuk mempelajari alam, tidak lebih.
Kalau orang yang beragama, mungkin ia memandang sains sebagai bukti kebesaran Tuhan. Adapun orang yang ateis mungkin memandang sains sebagai bukti ketiadaan Tuhan. The biggest issue here is not about the science itself, but how we perceive it.
Logika Anda terbalik, bung.
Urut-urutan yang betul seperti ini:
Lihat. Perang bukan diakibatkan oleh kemajuan ilmu. Kemajuan pengetahuan bisa menyebabkan bom atom, tentu — tapi kemajuan pengetahuan juga bisa menyelamatkan manusia dari penyakit berbahaya, misalnya.
Sains itu bermata dua. Kalau pemakainya berniat baik ya baik, kalau pemakainya mau destruktif ya jadi destruktif.
Bukan hanya sains, Mas. Agama juga tidak bebas nilai. Lha, buktinya agama juga sering dibawa-bawa jadi alat buat politik dan perang.
Kapan pula saya bilang evolusi nggak terkait agama? Yang saya tekankan kan bahwa sains itu tergantung persepsi, dan itu bisa digunakan untuk menjustifikasi kebesaran Tuhan atau malah menghilangkannya!
Mau pilih yang mana, ya terserah.
Ya, ya. Dan silakan merujuk ke omongannya Pak Hawking. Orang-orang cuma ketakutan bahwa Tuhan mungkin tidak ada karena ‘dibunuh’ oleh sains… padahal kenyataannya tidaklah semengerikan itu.
Anda ini lucu. Kalau misalnya Anda jadi dosen di dua kampus, kampus A sama kampus B. Di kampus A Anda mengajar Bahasa Inggris, sementara di kampus B Anda mengajar Bahasa Prancis.
Nggak mungkin Anda menerapkan cara pandang yang sama-dan-menyeluruh untuk kedua kampus tersebut. Lha MK-nya aja beda kok. Belum lagi mahasiswanya sama sistem kampusnya.
Sama dengan teologi vs. sains, IMHO. Mindset-nya beda, dan mereka memandang dua kenyataan yang berbeda. Sama halnya dengan Anda nggak boleh mengajar Bahasa Prancis di kampus A.
Wah, iya. Saking kaffah-nya, sampai-sampai percaya pada perkataan ulama Bin Baz bahwa matahari mengelilingi bumi.
Sudah dijawab…
Mas, itu kesalahan fatal lho. Kalau Anda membaca semua penjelasan saya soal agnostisisme saya dari post yang lama, Anda nggak akan sampai ke kesimpulan itu.
Lho, yang mulai kan Anda. Anda sendiri yang bilang bahwa Tuhan yang ditemukan lewat sains nggak bakal kompatibel dengan yang dijelaskan di kitab. Saya sih ikut flow-nya aja.
…karena ada orang-orang yang cuma bisa memandang hitam-putih dan nggak bisa mengkompromikan beberapa aspek dalam hidup.
Dan sayangnya, lebih mudah berpikir hitam-putih macam itu daripada melihat simpul-simpul yang mungkin menghubungkan berbagai elemen. Oh well.
Siapapun juga cuma butuh satu langkah menuju Dewa Zeus, yaitu percaya.
Itu mah materialisme, bukannya sains. Dan itu cara pandang yang diadopsi karena memang scope pembahasan sains adalah alam semata… walaupun ini nggak mutlak harus. Ada juga kok hipotesis-hipotesis zaman baru yang mencoba memperhitungkan sesuatu di luar materi semata. Misalnya buat menjelaskan dark matter, atau hipotesis tentang multiverse.
Kesalahan terbesar Anda, mas Gentole, adalah mendogmakan bahwa sains murni dan agama mutlak dan harus bertentangan. Dan sejujurnya, saya bingung dengan apa yang Anda maksud dengan “mengkhianati prinsip sains”.
Sebab, sains tak beranggapan bahwa “sesuatu yang tak terpantau itu tidak ada” !
Saya curiga, apakah Anda memang benar-benar memahami sains, atau sebenarnya diliputi oleh pandangan yang Anda persepsi soal “sains”.
Adapun sekadar info, saintis-agamawan itu bukannya nggak umum kok. Coba aja cari referensi soal Abdus Salam dan George Lemaitre. Darwin sendiri aslinya agnostik, lho.
@ Kopral Geddoe
Sama itu, kayak “pacaran” vs. “ta’aruf”-nya mas Joe.
Nah, itu dia. Well said. (u_u)
:::::
@ jensen99
“Ideas stay as ideas. Whether they sort to dogma or gruesome quarrel, that lies upon the heart of men.”
–Me
Sains memang tidak membicarakan soal Tuhan, dalam hal ini saya sependapat dengan Mas Sora bahwa sains hanya menjelaskan tentang alam, ia gak ada urusan dengan aspek metafisis yang tidak mungkin diamati secara empiris
Tapi sains tidak bisa dipisahkan dari manusia, mereka yang bergumul di bidang sains(bisa siapa saja) adalah manusia-manusia yang tidak bebas nilai, manusia yang dipengaruhi banyak kecenderungan. Sangat mungkin sekali dalam pencapaian sains mereka memasukkan nilai -nilai yang mereka anut, Mereka bisa memberi muatan pada sains
Dalam hal ini saya melihat Sains yang dipahami Mas Gentole itu adalah sains yang diberi muatan.
Walaupun sains tidak membicarakan tentang Tuhan tetapi manusia bisa menemukan Tuhan dalam sains. Caranya bisa macam-macam
Diskusi yang menarik nih, semoga mash berlanjut
@Sora9n
Sains dan materialisme memang berbeda, tetapi mereka selalu berbagi tempat tidur. Seperti yang sudah saya bilang; sains, bagi saya, bukan sekedar metode memahami alam: ada perangkat kesadaran yang mendasari sains, yakni materialisme. Persepsi saya tentang sains memang belum tentu sama dengan anda berdua. Saya akui itu. Saya hanya berpikir, apakah mungkin sains bisa bekerja tanpa materialisme? Bagaimana mengukur sesuatu yang tidak bisa diukur dengan indra kita? Sains adalah epistemologi, begitu juga dengan Kitab Suci. Pada akhirnya saya tidak membedakan antara sains dan “methodological materialism” atau saintisme. Terkesan pukul rata? Yah, bisa dibilang begitu.
Saya tahu bahwa ada Abdus Salam banyak saintis agamawan lainnya, yang kalo istilah Pak Dawkins “deserve respect”. You know what, menurut gue joke-joke tentang Teko Terbang, Kulkas di Ujung Semesta or whatever udah gak lucu lagi kalo dikaitin ke Tuhan. Yes I got your points on the joke. Ini mungkin different mind set, or whatever. Masalahnya dengan agnostisisme, dalam berbagai varian dan persentasenya yang menurut saya tidak signifikan itu, adalah posisi teologis itu mengagaikan adanya pengaruh dari cara pandang saintifik seseorang atas persepsi dia tentang Tuhan. Bila tidak, maka dia akan menjadi seorang teis atau ateis secara “normal”, maksudnya ” I believe or disbelieve because I want to”. You know God through theology, but you’re agnostic because you think science is somehow indifferent to that matter. If science, as you said, doesn’t affect your belief, your agnosticism would bear no meaning at all, except that people may think that you’re a “highly sophisticated thinker.”
Analogi anda tentang Bahasa Perancis dan bangku kuliah itu tidak relevan. Yang lucu itu anda. Logical fallacy dan inkonsistensi anda ada pada cara berpikir parsial itu [yang anda kira anda abaikan implikasinya, tetapi pada kenyataannya tidak dan mungkin sulit], dan kaitannya dengan posisi teologis anda.
You know, I think you also fail to get my points.
Salam
@ gentole
Sains memang terkait erat dengan materialisme dan fisikalisme. Dan ya, sains adalah sebentuk epistemologi juga… seperti halnya penafsiran akan kitab suci.
Tapi itu nggak berarti sains menganggap bahwa “tidak ada sesuatu di luar materi”. Seperti kata mas Geddoe, it’s just not their business, be it exists or otherwise. ^^
I wasn’t joking with that. Saya menulis argumen itu bukan karena saya ingin berolok-olok… maksud saya adalah, keyakinan Anda tentang “God does exist” sebetulnya hampir nggak ada bedanya dengan keyakinan saya bahwa “invisible pink unicorn does exist”.
Sebab dua-duanya sama-sama tidak/belum bisa dibuktikan keberadaannya secara telak.
Kalau menurut saya, sebenarnya “I believe because I want to” itu sendiri kembali pada cara berpikir orangnya. Kalau orangnya terbiasa berpikir runtut + saintifik, maka dia nggak akan mau meletakkan kepercayaan begitu saja pada sesuatu. Sebaliknya, jika orangnya terbiasa berpikir insingtif + mengikuti kata hati, boleh jadi dia akan lebih mudah mendekati hal-hal yang adialami dengan “rasa”…
…seperti Anda bilang, ini kembali pada mindset.
Well, how do I put it… tentu saja sains mempengaruhi cara berpikir saya. Sebab, dengan demikian saya jadi peragu dan agnostik (karena saya tak yakin apakah Tuhan itu ada atau tidak).
Dari situ, saya kemudian mencari jalan lain, yaitu filsafat dan teologi. Tapi ada masalah: betapapun yakinnya saya pada “kebenaran” yang saya temukan, kebenaran itu sifatnya personal. Subyektif. Dan mustahil dibuktikan sampai “tiba saatnya”, yaitu ketika kita dipertemukan dengan Tuhan (jika Dia memang ada).
Mungkin lebih baik jika digambarkan diagram sbb:
Yah, cara berpikir sains membantu membuat saya jadi agnostik. Tapi itu bukan berarti saya tidak bisa menjadi teis — karena saya (merasa) masih menemukan Tuhan lewat “jalur” lain.
Tidak relevannya di bagian mana?
Anda menggunakan kacamata sains untuk memandang wilayah alami. Dan Anda menggunakan kacamata filsafat/teologi untuk memandang wilayah adialami.
Anda menggunakan kacamata dosen Bahasa Inggris dalam memandang (dan mengajar) kampus A. Dan Anda menggunakan kacamata dosen Bahasa Prancis dalam memandang (dan mengajar) kampus B.
Bagaimana mungkin Anda bisa menerapkan satu jenis pandangan yang total dan menyeluruh untuk dua kondisi yang berbeda itu?
Umm… memangnya bagian mana dari penuturan saya yang mengandung logical fallacy? Mohon dijelaskan, soalnya saya sendiri juga kurang bisa menangkap maksud Anda.
Memangnya poin yang Anda maksud sebenarnya seperti apa? Coba dijelaskan lagi dengan lebih rinci; mungkin saja memang saya yang rada silap. ^^
Salam juga.
wah, sudah lama tidak melihat diskusi yang seperti ini di dunia blog.
*duduk menikmati*
@Gantole
Saya ingin memahami sudut pandang anda. Berarti anda itu telah kadung menganggap bahwa sains harus tidak mempercayai Tuhan ya? CMIIW
@ danalingga
Komennya baru dibebasin dari akismet; yang terakhir saya hapus ya.
Dialog di tulisan mas Sora ini cukup bernas.
Saya teringat argumen dari pemikir agnostis/atheis yang menyebut bila Tuhan itu ada niscaya Dia akan menghargai juga upaya makhluk-Nya yang berjuang keras untuk mengenal-Nya. Meski mungkin karena kekurangan ilmunya sang hamba belum bisa mempercayai keberadaan-Nya.
Tentang Teko Terbang dan teman-temannya menurut saya masih merupakan ‘killing joke’
Mungkin semua itu terkait juga dengan imajinasi yang menjadi ingatan kolektif yang diwariskan dalam masyarakat. Setiap suku bangsa membangun imajinasi akan sosok yang tanpa tanding sebagai pelindung mereka. Sosok imajiner yang mungkin merupakan inspirasi langsung dari Nya. Mungkin juga sebatas rangkaian impuls pemberi rasa nyaman.
Konsekuensi logisnya meski mungkin tak etis, bila suku bangsa tersebut mampu mengembangkan ilmu pengetahuan maka sosok tersebut dapat terlupakan. Kejatuhan bangsa-bangsa yang melupakan Nya seperti yang dituliskan di kitab-kitab mungkin karena dengan menghilangnya sosok tersebut maka ikatan antar masyarakat melemah. Komunalitas digantikan oleh individualitas.
Sains dan agama selalu mencoba mendominasi kehidupan manusia. Mengambil jarak untuk selalu menimbang keduanya mungkin langkah yang terbaik.
@gentole
Saya tidak setuju tentang ini, Sains yang didasari materialisme adalah sains yang diberi muatan. Masalahnya adalah pada subjek atau pelaku. Jika anda memandang sains sebagai sesuatu yang dipahami manusia maka sains dan materialisme bisa berbagi tempat tidur. Maksud saya sains yang anda katakan itu adalah sains dalam persepsi manusia yang menganut paham materialisme
Sains sendiri tidak pernah melegalkan materialisme karena berdasarkan metode saintifik sesuatu yang diluar materialisme tidak bisa diamati secara empiris. Jadi sains tidak bisa menidakkan sesuatu yang tidak bisa ia amati
Menarik, ini seperti orang yang agnostik dalam wilayah tertentu tapi di wilayah yang lain bisa saja tidak
@Mas Sora
Benar sekali, nah saya ingin membahas bagian Sains adalah sebentuk epistemologi, berarti sains memiliki prinsip-prinsip dasar dimana ia berdiri. Prinsip-prinsip dasar yang ada bahkan sebelum sains itu muncul dan tentu sains sendiri tidak bisa membuktikan prinsip-prinsip ini karena prinsip-prinsip ini justru menjadi dasar sains sendiri
saya rasa maksudnya sama-sama tidak/belum dibuktikan secara telak dengan metode saintifik, sains bukan segalanya dalam arti bukan satu-satunya cara mencapai kebenaran.
sayangnya Mas, orang yang terbiasa berpikir saintifik sudah meletakkan kepercayaan begitu saja pada keabsahan pola pikir saintifik. jadi pada wilayah saintifik juga berlaku I believe because I want to, benarkah?kalau tidak, bagaimana mereka bisa percaya dengan keabsahan pola pikir saintifik?
tapi anda tidak sepenuhnya agnostik, dan saya rasa harus begitu karena cara berpikir saintifik bukan satu-satunya cara berpikir yang ada di dunia ini
Wah ini sama halnya dengan anda mustahil memahami alam dengan benar karena satu hal, Sains tidak pernah menjelaskan alam dengan sebenar-benarnya, ia hanya bisa menjelaskan sebatas kemampuannya yang mungkin akan selalu berkembang.
Hmm nah kalau begini Mas, cobalah berpikir dengan saintifik dan anda akan menemukan berpikir saintifik mustahil dibuktikan kebenarannya
@ oddworld
Ah, betapa indahnya kalau benar demikian.
Wah, teori yang menarik. Memang masuk akal jika, mungkin, sebenarnya kehancuran suku bangsa seperti kaum ‘Ad dan Tsamud tidak hanya karena azab (kalau mengasumsikan memang benar terjadi azab) — melainkan juga dipicu oleh faktor sosial seperti yang mas bilang. Walaupun ini juga kesan hipotesisnya sangat kuat, sih.
*merasa tercerahkan*
Yup, yup. ^^
:::::
@ J Algar
Ah, iya, itu maksud saya. Makasih udah ditambahkan.
Lha, iya. Kan saya bilang, bahwa sebenarnya semua orang itu “believe because he/she wants to”. Masalahnya ada pada mindset dan pembelajaran/pengalaman yang telah diserap orang itu sepanjang hidupnya.
Kalau ia terbiasa dididik dengan mindset sains, maka dia akan “menginginkan” — baik secara sadar maupun di bawah sadar — untuk percaya pada pembuktian empiris. Kalau ia terbiasa dididik untuk berpikir instingtif/mengikuti kata hati, boleh jadi dia akan lebih “menginginkan” jalan ‘hati’ dan bukannya empiris.
Tapi kita bebas memilih mau mengambil yang mana. Saya pun bisa saja memilih mengabaikan pembuktian empiris sama sekali… tapi mindset saya mengatakan bahwa pembuktian empiris itu penting. That’s why I wanted to believe what I believe right now.
Kalau saya mau memaksa diri berpikir lebih “dengan hati”, ya bisa saja, sih. Tapi berat.
Memang iya. Saya memang cuma partially agnostic, kok. Coba aja ditelusuri di diskusi di [post lama saya].
Euh, saya memang berpendapat begitu… tapi sepertinya ada yang selip di sini. Begini duduk masalahnya, Mas. ^^
Memang betul, bahwa sains selalu berkembang. Apa yang kita anggap sebagai pengetahuan hari ini belum tentu masih dianggap pengetahuan di masa depan. Contohnya gampang: lagi-lagi Newton dan relativitas. Dengan kata lain, kebenaran yang diperoleh sains sendiri tak pernah benar-benar mutlak.
Nah, tapi kenapa saya cenderung favor pada pendekatan saintifik/empiris, dibandingkan dengan teologi/filsafat/agama? Karena sains bekerja dengan pijakan gejala yang teramati dan disetujui semua orang.
Sains memang selalu “menduga-duga” dan berkembang terus. Demikian juga filsafat/teologi juga bekerja dengan cara “menduga-duga”. Tapi ada bedanya: sains melandaskan dugaan pada bukti/gejala yang teramati dan bersifat obyektif. Sebaliknya, filsafat dan teologi lebih banyak berkutat dengan brainwork. Dalil-dalil sains memiliki bukti empiris sebagai pendukung, sementara filsafat dan teologi tidak.
Alhasil, menurut saya, sains memiliki ground yang lebih solid dibandingkan filsafat dan teologi. Ya, dua-duanya memang sama-sama menduga-duga — tapi yang satu berlandasan pada gejala yang teramati, dan yang lain bekerja murni dengan praduga saja.
Betul. Memang iya. Manusia memang ditakdirkan menjadi makhluk yang selalu tidak tahu.
Betapapun kita mempelajari alam, kita selalu mengulang proses yang sama:
Sains pun cuma ladang asumsi, yang kebenarannya terus berubah. Dan mana tahu, misalnya, bahwa teori ilmiah kita itu aslinya sudah tepat atau belum. Kita toh melandaskan semuanya pada asumsi.
Tapi, kenapa saya selalu mem-prefer pendekatan sains? Karena, dugaan-dugaan dalam metode saintifik dilandaskan pada bukti yang teramati. Bukan sekadar wishful thinking, atau menduga-duga tanpa petunjuk sama sekali.
Kira-kira begitu, IMHO. ^^
@Danalingga, J Algar
Oke, mungkin perlu dijelaskan di sini bahwa saya tidak hendak membela teori kreasionisme atau teisme. Yang saya persoalkan adalah sains dan perannya dalam kemunculan agnostisisme, yang diklaim Sora9n sebagai suatu “posisi teologis” — yang menurut saya “no, it isn’t”, karena lacking a solid ground. Now, he says he’s partially agnostic. Meragukan Tuhan secara saintifik, tetapi meyakini Tuhan secara teologis? Hmm…this is actually what I mean with Sora9n’s inconsistency. Tapi anyway:
TUHAN YANG SAYA MAKSUD
Saya berpandangan bahwa sains tidak bisa menemukan Tuhan. Karena, Tuhan yang saya maksud di sini adalah Tuhannya Ibrahim yang mewartakan diri-Nya dalam Taurat, Injil, al-Qur’an dan diskusi para rishi dalam tradisi Weda. Tuhan sudah mengungkapkan esensinya dalam Kitab Suci. Esensi Tuhan adalah Infinitum (Awal dan Akhir), sesuatu yang tidak bisa atau, katakanlah, “tidak ingin” dijangkau oleh sains. Tuhan itu kebalikan dari paham eksistensialisme ala Sartre yang menyebutkan, eksistensi mendahului esensi. Saya tidak ingin menggunakan kata “substansi” untuk Tuhan.
Dalam tradisi Yahudi, kredo Katolik dan akidah Islam, Kenyataan Sejati itu Tuhan dalam Ketidakberhinggaan diri-Nya. Ini adalah Esensi Tuhan. Kita mengenal dulu esensinya baru kemudian menghayati eksistensinya. Bagi orang-orang yang percaya, Tuhan adalah Kenyataan; alam dengan demikian hanyalah pantulan atau tanda-tanda dari-NYA. Alam, dalam pandangan seorang teis, bukanlah Kenyataan Terakhir. Namun demikian, ia melihat/merasakan Tuhan pada alam, bukan dalam bentuk pewahyuan atau pengetahuan, tetapi sebagai Kehadiran.
Sains adalah metode memahami alam. Ia punya beberapa prinsip, yakni logis dan objektif-empiris; membatasi diri pada yang fisik/material. Saya berpandangan bahwa tidak ada metode tanpa teori dan tidak ada teori tanpa pandangan metafisika (falsafah tentang tentang apa yang nyata-ada/benar-ada). Tidak ada sains tanpa materialisme. Nah, Tuhan yang pada esensinya di luar fisik itu tidak mungkin dicerap oleh epitesmologi sains. Itu sebabnya, dalam sejarah sains, Tuhan itu seperti cat genteng, hanya digunakan untuk menutup lubang. Paham ini, Tuhan Arostotelian (the Prime Mover) dalam sains, sebenarnya sudah ditolak oleh teolog abad pertengahan.
Sains modern itu ateistik: secara pasif paling tidak; yakni tidak mau mengurusi Tuhan.
@Sora9n
DUALISME REALITAS?
Memahami cara kerja alam secara EKSKLUSIF dengan ilmu-ilmu alam dan memahami Tuhan, juga secara EKSKLUSIF, dengan teologi adalah dualisme yang dianut Sora9n, CMIIW. Ini bermasalah karena bagaimana mungkin seseorang bisa hidup dalam atau percaya dengan DUA REALITAS yang secara epistemologis-ontologis diyakini secara berbeda/bertolak-belakang. Coba bedakan dengan konsistensi teisme yang secara holistik melihat Tuhan dan Alam sebagai kesatuan ontologis atau konsistensi ateisme yang menolak yang adialami sekalian.
Dalam pandangan sains, Tuhan “tidak diakui ada” atau “tidak bisa dibuktikan secara telak”. Dalam “probabilitas” ada dan tidak adanya Tuhan, sains sebenarnya lebih berat ke posisi yang terakhir, karena, sekali lagi, sains meminta bukti-bukti; kemungkinannya, karena itu, sangat kecil, “given the nature of Bible/Qur’anic God I have mentioned above”. Seorang teis menolak sains [yakni metode mengamati/memahami alam dengan materialisme sebagai landasan] sebagai jalan menuju Kebenaran. Ia tidak membiarkan sains mempengaruhi persepsinya tentang Tuhan. Ateis, kebalikannya.
Nah, kalo berpikir parsial bagaimana? Ini yang menurutku “erroneous”. Orang mesti punya kepribadian ganda atau bersikap inkonsisten untuk bisa melakukan itu. Ketika perangkat kesadaran saintifik seorang agnostik dijadikan landasan untuk agnostisisme yang dia anut, atau dibiarkan mempengaruhi kesadaran teologis/metafisika-nya, maka ia tidak bisa menjadi seorang teis; karena “worldview” dan ruang wacana sains itu bersifat ateistik. Kecuali dia memang percaya bahwa mungkin sains bisa menemukan Tuhan, tetapi sebagian besar mereka yang mengaku agnostik, termasuk Sora9n, kan tidak berpikir begitu. Jadi yah, sorry to say, to me an agnostic is either an atheist without b*ls or an unconfident theist who is reasonably afraid of being ridiculed for believing a god for what he thinks to be an unreasonable reason. Is it just a disguise?
Saya tidak meminta orang berhenti mempelajari sains. Menurut saya, pada akhirnya, seseorang harus “menolak sains sebagai pintu menuju kebenaran” untuk bisa beriman kepada Tuhan; Seseorang tidak bisa mempercayai kesahihan kesimpulan-kesimpulan saintifik dan pada saat yang bersamaan memercayai Tuhan dan yang gaib. He can only flirt with science, you see.
Iman adalah suatu pilihan subjektif, dan tentu saja tidak bisa dipaksakan. Tetapi, bukankah klaim kebenaran saintifik yang objektif [pun dikonstruksi secara sosial, budaya, politik dan ekonomi] juga tidak bisa dipaksakan juga?
.
HATI-HATI DENGAN ANALOGI
“Sains dan Agama Bukan Bahasa Yang Berbeda.”
God, Allah, Deus, Thoes, Dios, Tuhan adalah lima bahasa yang berbeda untuk realitas yang disepakati sama oleh umat manusia; Yang Maha Pencipta. Bahasa itu fleksibel karena ia berfungsi sebagai medium penyampaian gagasan atau pesan; agama dan sains bukan bahasa, keduanya adalah paradigma. Ketika Sains dan Agama membahasakan Tuhan, mereka secara kaku merujuk pada konsep yang sama sekali berbeda; ada dan tiada, diyakini atau diragukan.
TENTANG TEKO TERBANG
Analogi ini tidak cocok, karena Tuhan, seperti yang dikatakan banyak apologis teisme yang sedikit “sophiscated”, bukanlah pria berjanggut yang bersemayam di langit ketujuh sambil marah-marah; “He’s Omnipresent.” Lagipula, Teko Terbang dan juga Ayahnya Hercules, Zeus, tidak didukung oleh kitab suci dan para nabi dan agamawan yang secara konsisten selama berabad-abad mengingatkan manusia bahwa dunia ini fana. God exists in a way that is infinitely, ineffably different than material things, be it a Chinese tea pot or your shoes. Analogi ini terlalu reduktif, oversimplifying!
I’m a theist [without additional attributes] and trying to be religious [well…you know…al-imanu [dalam arti kesalihan] yazid wa yanqus]. But I don’t hate atheists or agnostics or anybody because of their beliefs. Saya hanya ingin mengungkapkan pendapat saya saja. That’s all
Salam
@j algar
“Saya tidak setuju tentang ini, Sains yang didasari materialisme adalah sains yang diberi muatan.”
Masalahnya adakah sains yang tidak diberi muatan? Apakah metode dan teori mungkin tanpa metafisika/kenyataan?
“sains memiliki prinsip-prinsip dasar dimana ia berdiri. Prinsip-prinsip dasar yang ada bahkan sebelum sains itu muncul dan tentu sains sendiri tidak bisa membuktikan prinsip-prinsip ini karena prinsip-prinsip ini justru menjadi dasar sains sendiri.”
Saya jadi ingat, kritik terhadap logika positivisme adalah prinsip-prinsip verifikasi yang mendasarinya juga tidak bisa diverifikasi. Iniloh maksud saya, prinsip2 sains ini yang problematis. Gak bisa dong, kita main eklektik begitu aja; di sini A, di sana B.
@ Mas Gentole
Beberapa tanggapan…
1.
Saya sedikit mengkritik metodologi yang anda pakai. Anda berasumsi bahwa there exists a being that is omnipotent, omnipresent, omniscient, omnibenevolent, etc., lalu mengembangkan argumen anda dari sana tanpa membuktikan premis itu terlebih dahulu.
Memang, kalau kita berasumsi bahwa suatu entitas yang tidak mampu dijangkau akal itu ada, upaya apapun tidak akan bisa menyanggahnya. Tapi dengan metodologi yang sama, analogi kulkas/teko itu pun tidak bisa disanggah.
Yang perlu anda pahami adalah bahwa analogi teko Russell atau IPU itu bukan berarti menyamakan teko dan sang unicorn dengan Tuhan; tentu saja derajat probabilitasnya sangat berbeda (science is all about probability and inductive generalization). Yang ingin disampaikan oleh analogi tersebut adalah, burden of proof selalu ada di sisi para teis.
Kesalahan anda adalah menganggap teko tersebut sebagai reductio ad absurdum dari Tuhan. Tidak, teko tersebut adalah representasi burden of proof.
Intinya adalah; kalau saya katakan bahwa di ujung alam semesta ada kulkas yang berisikan raja kodok yang sakti mandraguna, anda berhak tidak percaya. Kenapa? Karena saya tidak punya bukti. Begitu pula Tuhan, kalau para teis hanya bisa cuap-cuap “Tuhan tidak bisa dijangkau oleh sains!” tanpa memberikan bukti, ya para skeptis punya hak untuk tidak percaya.
Jadi, yang ingin disampaikan oleh Russell dalam teko China-nya adalah, tidak mempercayai Tuhan adalah posisi yang natural.
Dia bukan ingin membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada, ia hanya menjelaskan posisi para skeptis.
2.
Kedua, saya rasa kurang bijak untuk cuci tangan dengan berpura-pura mengabstraksi konsep Tuhan anda. Para penganut deisme dan panteisme mungkin bisa saja berkelit dengan konsep prime mover, sains-tidak-bisa-menjangkau-tuhan-isme, dan berbagai macam argumen filosofis lainnya.
Namun untuk konsep ketuhanan yang didasari oleh tradisi religius, seperti konsep ketuhanan Abrahamik, kritisisme bisa dimulai dari (dan diakhiri pada) kitab suci. Konsep Tuhan Abrahamik jauh lebih antropomorfik, dan tidak elusif seperti Tuhan-Tuhan puitis lainnya.
Saya kira tidak diperlukan konsep prime mover, ex nihilo, atau atribut-atribut njelimet dalam mengkritik (dan men-dismiss) pantheon-nya Jupiter, Ra, Pangu, ataupun Wotan?
3.
Yep, terdapat paradoks dalam prinsip dasar positivisme. Menurut saya ini adalah masalah generalisasi induktif; prinsip positivisme telah berhasil membangun peradaban manusia (if not single-handedly…
), dan saya kira adalah sesuatu yang beralasan untuk mempercayainya.
Kenapa? Karena ini juga adalah perkara probabilitas.
Saya kira anda mesti mencoba memahami worldview yang penuh dengan rasio kemungkinan ini, dan mencoba bergeser dari prinsip hitam-putih.
Perhatikan prinsip sederhana ini; “Saya kira kemungkinan bahwa apabila saya menembakkan peluru menuju kepala saya, besar kemungkinan saya akan terluka sangat parah. Kepercayaan ini saya kira cukup logis dan beralasan.”
Segalanya berangkat dari cara berpikir seperti itu.
Salam.
BTW, inti yang dipermasalahkan sekarang apa, ya?
Prinsip mencari Tuhan lewat sains dan perangkat-perangkatnya (positivisme, probabilitas, generalisasi induktif) kah?
Kalau yang saya tangkap, mas Sora menggunakan sains sebagai alat, dan mengukur probabilitas keberadaan Tuhan lewat prinsip-prinsip sains. Hasilnya adalah kecenderungan menganggap Tuhan “most probably exists“.
Mas Gentole tidak menyukai cara ini, dan menolak penggunaan sains untuk diaplikasikan dalam pencarian Tuhan. Mas Gentole menganggap sains tidak cukup kredibel dan mendasarkan teisme melalui iman murni— di mata mas Gentole, iman mestilah secara kaffah dan tidak boleh dicemari wagering element semacam probabilitas. Agnostisisme, misalnya, dipandang secara setali tiga uang dengan ateisme (“rapor akhirat kiri”).
Apakah demikian?
@geddoe
Saya kira anda salah dalam memahami maksud saya. Saya tidak hendak mengkritik ateisme atau skeptisisme saintis pada Tuhan. Premis-premis itu adalah wahyu dalam Kitab Suci, tentu saja tidak untuk dibahas di sini. Sejak awal yang saya tekankan bahwa sains inkompatible dengan agama. Anda tidak bisa membuktikan Tuhan dengan sains karena dasar-dasar sains tidak memadai untuk mencapai Tuhan.
“Kalau yang saya tangkap, mas Sora menggunakan sains sebagai alat, dan mengukur probabilitas keberadaan Tuhan lewat prinsip-prinsip sains. Hasilnya adalah kecenderungan menganggap Tuhan “most probably exists“.”
Awalnya saya menganggap Sora9n sepert
@geddoe
sori kepencet.
Yah, tadinya saya anggap sora9n berpikir begitu, tapi katanya tidak begitu karena untuk iman ia menggunakan teologi. Kesalahan saintis-agnostik adalah membiarkan keyakinannya kepada kesahihan sains [burden of proof] mempengaruhi “imannya’ kepada Tuhan. “Perzinahan” sains dan teologi ini loh yang saya persoalkan.
Entahlah, mungkin saya terpengaruh mazhab Kiri Baru dan Habermas, sains dan teknologi itu ideologi. Tulisan sora9n di atas menggambarkan seolah-olah sains itu Kudus dan lepas dari nilai, asumsi dan “the will to believe” in something; reality or idea. Dengan demikian ia mengabaikan paradoks agama dan sains.
Soal hitam-putih. Well, bukankah dunia ini biner, hanya ada yin dan yang? Hahaha…bercanda. Saya tidak menafikan begitu saja keberagaman yang ada di dunia ini. Saya pastikan layar monitor saya berwarna lebihd ari dua. Tapi, you know, saya tidak mau mengatakan bahwa yang abu-abu itu bukan hitam kalo memang kenyataannya hitam.
Saya percaya apa yang ada di kepala manusia tidak mutlak. Bisa saja kita semua salah.
Salam
@geddoe
“Kedua, saya rasa kurang bijak untuk cuci tangan dengan berpura-pura mengabstraksi konsep Tuhan anda.”
Bukan cuci tangan. Ini agar diskusinya jelas. Tentu saja aneh kalo saya bilang Tuhan itu ateistik, terus ada yag nanya: “Tuhan yang mana?” Zoroastrianisme, Islam, Hindu, Yahudi, Kristen mempunyai konsep Tuhan yang kurang lebih sama, dengan beberapa perbedaan yang bisa didiskusikan di tempat lain.
Sori maksudnya sains, bukan Tuhan di kalimat ke-4
Ah, izinkan saya membela paham teisme agnostik di sini.
Saya kira teisme agnostik pada dasarnya “tidak tahu, namun cenderung mempercayai”, di mana kepercayaan ini adalah sedikit banyak berdasarkan probabilitas. Seorang teis agnostik melihat realitas dari dua kacamata; sains-empirisisme dan iman-intuisi.
Seperti yang anda katakan;
Sains akan mendorong sang teis agnostik untuk bersikap skeptis, namun masih menyisakan lubang untuk Tuhan. Sehingga kepercayaan pun mengalir dari sisi iman-nya.
Menurut pandangan saya yang dilakukan seorang teis agnostik bukanlah mencampurkan sains dengan teologi, melainkan mempergunakan keduanya sekaligus. Di saat sains belum bisa dibawa untuk percaya, iman bisa dipergunakan. Setidaknya itulah menurut pandangan saya yang bisa dikatakan pandangan dari luar; sebab saya sendiri cenderung imparsial, kalau tidak mau dikatakan bolak-balik antara teistik dan ateistik.
Salam.
@ gentole
“Now he says”, kata Anda? Jelas sekali saya udah berkali-kali menulis soal itu sejak di post yang lama. Seperti yang saya bilang, dulu, sebenarnya agnostisisme itu adalah salah satu komponen saja dari stance saya, bukannya seluruhnya.
Ah, tapi mengingat Anda juga tak ambil pusing mempelajari apateisme, ateisme, agnostic atheism, dllsb seperti yang saya minta. Sepertinya nggak ada gunanya juga menjelaskan pada Anda lebih lanjut soal ini.
Mmm, dan kitab suci itu butuh penafsiran. Penafsiran itu sendiri relatif dan subyektif pada setiap orang. Terus bagaimana caranya kita bisa sepakat soal konsep “Tuhan”?
Ya, iya. Tuhan kan memang jauh dan transenden. Rasanya ini sudah jadi pendapat umum, IMHO.
Biarpun mau juga, dia nggak akan mampu. Bidang non-materi kok didekati dengan pendekatan materialistik…
Saran saya:
Gambar sebuah diagram venn. Terus buat satu lingkaran di dalamnya, beri nama “sains”. Di luarnya himpunan “sains”, beri tanda “filsafat adialami”.
Dengan begini, himpunan semesta “S” pasti melingkupi baik sains dan adialami, bukan. Nah, semesta “S” itulah realita yang saya pandang.
Kalau Anda mau tahu, saya melihat Tuhan dan Alam sebagai satu kesatuan juga. Sama seperti Anda. Tapiii, pendekatan untuk memahami keduanya pasti berbeda!
Memang secara realita saya berpendapat bahwa mereka satu dan terkait. Meskipun begitu, cara mempelajarinya berbeda, seperti yang sudah saya tulis di atas. Anda tak mempelajari gejala alam dengan teologi dan agama; dan vice-versa.
Adapun saya tak menolak yang adialami, karena mereka tak bisa difalsifikasi maupun diverifikasi. Oleh karena itu, terlalu gegabah jika saya langsung menyatakan: “adialami tidak ada!” Atau “adialami itu ada!”.
Seperti yang ditulis oleh Kopral Geddoe, bebannya ada di burden of proof. Saya rasa Anda paham soal itu.
Dan walaupun sains meminta bukti, dia tak bisa menganggap sesuatu di luarnya tidak ada — selama hal itu belum difalsifikasi. Absennya bukti keberadaan Tuhan di dunia ini tidak otomatis membuktikan bahwa Dia tidak ada.
Dan agnostik, diantaranya. Kan udah berkali-kali saya bilang supaya Anda mempelajari lebih lanjut tentang agnostisisme — tapi Anda malah bilang bahwa “berbagai varian dan persentasenya tidak signifikan” (lihat komentar #37).
Ragam kepercayaan di dunia ini tak cuma teis vs. ateis, lho. IMHO, Anda sebenarnya memaksakan definisi pada dua kutub itu, walaupun kenyataannya tak semua jenis kepercayaan bisa masuk ke sana.
Saya sarankan, Anda gambar diagram venn yang saya suruh tadi. Pandangan saya pada dunia/realita adalah semesta “S”-nya. Jadi bukan kepribadian ganda/inkonsistensi; mudah-mudahan Anda paham dengan itu.
Oh, iya, diagram venn itu bukan analogi lho. Dia itu perangkat penjelasan matematis.
Ke mana perginya komposit antar belief saya singgung di atas-atas tadi?
Hahaha… dan saya melihat konsep Anda soal “confident atheist” sebenarnya susah dibayangkan. Nobody can be confident atheist — sebab tak mungkin seseorang bisa benar-benar memfalsifikasi keberadaan “Tuhan” dan alam-Nya.
Saya hanya akan bilang begini: an agnostic is someone who feels that no matter how hard he/she tries to search, there will be no way he/she can prove or disprove God. Dan itulah saya. Mustahil menemukan Tuhan… bahkan filsafat dan teologi pun belum tentu membantu. Ya, karena filsafat kebanyakan adalah murni brainwork — sedangkan teologi bergantung pada penafsiran kitab yang tak pernah sama untuk setiap orang. Sehingga mustahil setiap orang bisa menemukan konsepsi Tuhan yang “benar-benar benar” dan diakui setiap orang. Sekalipun esensi “Maha”-nya diakui di setiap jenis teisme, selalu ada perbedaan… bisa sedikit, tapi bisa juga banyak.
Seorang agnostic theist adalah orang yang percaya dan ingin mencapai Tuhan, tapi dia tahu bahwa tak ada jalan pasti untuk menemukan-Nya. That’s all — and this has nothing to do with confidence nor fear.
And no, this is no disguise at all.
Kalau Anda mau tahu, kesimpulan sains paling sahih soal Tuhan adalah bahwa Dia tak bisa difalsifikasi ataupun diverifikasi. Tidak bisa diamati bukan berarti tidak ada dan tidak bisa dipercaya, lho.
Intinya adalah burden of proof atau disproof.
Seperti yang saya bilang, kesalahan terbesar Anda adalah mendogmakan bahwa pendekatan sains mesti dilawankan dengan filsafat/teologi/agama. Bahwa sains identik dengan ateisme yang dilawankan dengan teisme. Anda berprasangka bahwa sains mesti menolak Tuhan, bahwa lebih baik menjadi ateis sama sekali kalau berpegang pada sains. Tapi, Anda salah…
Seandainya pun Anda bertanya pada Pak Richard Dawkins atau Pat Condell (yang notabene ateis kelas tinggi), mereka juga nggak akan bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada.
Klaim saintifik memang tak bisa dipaksa. Tapiii… misalnya begini. Ada orang yang menolak untuk percaya pada teori heliosentris, padahal jelas data sains menunjukkan bahwa teori itu benar. Ya, nggak bisa dipaksa sih… tapi semua orang juga tahu bahwa bumi itu mengelilingi matahari, bukannya sebaliknya.
Itu kebenaran saintifik lho.
IMHO, paradoks agama dan sains terjadi hanya karena yang satu mencoba masuk ke daerah yang lain tanpa persiapan matang. Seperti yang saya bilang ke Kopral Geddoe: agama masuk ke sains tanpa esoterisme itu hancur-hancuran, sementara sains masuk ke agama itu nggak dapet apa-apa…
Mas, saya sarankan, coba pelajari sedikit soal teori himpunan. Ditambah juga sedikit fuzzy logic. Nanti Mas bisa melihat, bahwa tidak mesti di luar “putih” itu mesti “hitam” — melainkan juga terdapat warna-warna lain diantaranya. Termasuk abu-abu muda dan abu-abu tua.
Yup, yup. ^^
Salam juga.
@ Kopral Geddoe
Makanya, saya sarankan untuk mempelajari (sedikit) tentang teori himpunan dan fuzzy logic.
Sebetulnya, memang begitu. Tapi ada yang perlu diluruskan.
Kalau mengacu pada sains saja, saya beranggapan bahwa Tuhan itu bukannya “most probably exists” — melainkan “just possibly exists”. Di sini, saya belum punya kecenderungan teistik sama sekali.
Baru setelah mengkompositkan pandangan sains dengan pendekatan teologi/filsafat, saya mencapai kesan bahwa Tuhan itu “most probably exist”. Begitupun ini sangat subyektif dan (boleh jadi) tidak serta-merta logis untuk setiap orang… so there you have it. ^^
Bull’s eye.
Yup, seperti halnya yang saya bilang soal nggambar diagram venn itu. IMHO, agnostic theism itu sendiri lebih merupakan komposit antara pendekatan empiris dan “iman”… di sini yang satu berupaya menutupi kekurangan yang lain. Hanya saja untuk setiap orang dosisnya mungkin berbeda.
You know what, sometimes I feel that we share quite too many similar things in life.
*teringat soal kuliah dan lain sebagainya*
*ditimpuk* x(
@sora9n
Wah susah nih diskusinya. Ya udah deh saya mending belajar matematika lagi. hehehe…btw, emangnya perlu yah pake istilah “kesalahan terbesar Anda”? Still, I think you don’t get my points. But, enough said lah…
Other comments? Gue juga mau nonton.
Salam
@ gentole
Percayalah, kalau Anda bisa menggambar diagram venn itu, Anda akan mendapatkan maksud saya dengan lebih baik. Dan itu pelajaran SMP, lho.
Ah, kata “kesalahan terbesar” itu saya sebut bukan untuk gimana-gimana… sebab, sepenglihatan saya, akar masalah kita memang di situ. Karena Anda (kesannya) memandang kepercayaan hanya dua kutub: sains/ateisme vs. iman/teologi. Padahal ada banyak jenis kepercayaan yang nggak bisa diwakili oleh dua itu saja.
Maaf banget kalo justru terdengar exaggerating… ^^;;
Salam juga.
Halooo semua… *kePeDean
*
kalo dari yang saya tangkap diskusinya melenceng dari topik menjadi Sains VS teologi ya?
Saya ikutan yaaa? *harap-harap cemas*
janji deh nggak bakal bikin rusuh…
Terlepas dari nyambung apa eggaknya komen saya dari pembahasan, sebelumnya saya mau bilang:
Saya Percaya Kalo Tuhan itu ADA, kemudian Tuhan saya itu memberikan sebuah petunjuk tentang ‘Nya’dan bagaimana seharusnya bersikap selama berada di tempat yang disediakanNya, agar nanti pada hari pertemuan dengan Nya kita bisa mempertanggung jawabkan semua tindakan kita selama didunia.
Analogi (maaf): saat kita diberi kepercayaan untuk mengatur sebuah perusahaan, maka di akhir tahun kita akan dimintai pertanggung jawaban atas setiap keputusan yang kita ambil. apakah rugi atau laba. dan bila ternyata hasil ‘perhitungan tidak memuaskan maka kita harus bersedia menerima ganjarannya.
Nah, sepertinya masalahnya disini adalah pernyataan dari pihak teologi yang menganggap ‘sains’ cenderung monolak tentang keberadaan-Nya, begitu?
Dimulai dari kata-kata yang bikin saya tertarik buat membahasnya:
Hei Sora9n, sebelum kamu mencari lebih jauh tentang “konsep Tuhan”, pernahkan kamu memikirkan bagaimana dengan “konsep diri” mu? Tahukah kamu apa yang membuatmu bernafas? apa yang membuat jantungmu berdetak?
Kenapa saat kamu berhenti bernafas dan jantungmu berhenti berdetak, maka kamu dinyatakan mati?
Saya rasa tidak mustahil menemukan Tuhan, asalkan tahu cara yang tepat?
BTW,tahukah kamu arti dari kata “menemukan” dan “Tuhan”?
Yang saya tahu, setiap makhluk mengetahui ada sebuah kekuatan diluar dirinya. Dan menurut saya “kekuatan” itulah yang mengindikasikan adanya Tuhan.
Ya ampyun, sora….. kenapa setiap saya komen di blog mu ini, saya SELALU melakukan kesalahan… 0_o”\
Apakah saya sudah ‘dikutuk’ oleh mu karena dosa saya dimasa lalu?
BEBASkan saya!!!!!!!!!!!!
Ha. Yang saya sayangkan atas para religionis adalah sikap kebanyakan yang memakai standar ganda untuk sains.
Kalau sains mengkonfirmasikan apa yang diklaim sebagai keajaiban kitab suci, maka sains dipuji-puji… Kalau sains mengkonfirmasikan sebaliknya, sains dikatai tidak valid… Sombong, dan seterusnya.
Hippokrates (460-370 SM).
@ BdSnowie
Ah, saya lagi males betulin komen, mungkin nanti.
Tapi saya ingetin, post ini temanya tentang sains dan metodologi ilmiah (dan sedikit menyinggung agama/penciptaan). Jadi soal konsep diri dan “Tuhan”, tempatnya bukan di sini. Mendingan di post yang lama.
Kedua, saya ini masih skeptis. Kalau Anda berangkat dengan landasan bahwa “Tuhan itu memang benar ada” dan saya harus “mengacu ke kitab”, diskusi kita bakal nggak nyambung lagi seperti dulu. Jadi tolong hal itu diperhatiin juga.
Terus yang ini,
Ada udara, kontraksi-relaksasi paru-paru, perbedaan tekanan, udara masuk, oksigen diikat Hb, CO2 keluar.
Jaringan syaraf involunter.
Karena jantung berhenti berdetak, darah yang mengalirkan oksigen ke otak jadi berhenti. Otak kekurangan oksigen, terus mulai rusak. Fungsi mental berkurang, akhirnya mati deh.
Hal yang sama terjadi kalau kita berhenti bernafas.
Pasti jawabannya disuruh mempelajari kitab. Betul?
IMHO, diskusi yang temanya kayak begitu mending di post yang lama. Soalnya di sini temanya khusus terkait sains dan metodologi ilmiah; gitu aja sih. (o_0)”\
Sebenarnya sih saya nggak pernah ngutuk… tapi mungkin Tuhan mendengar (dan mengabulkan) keinginan bawah sadar saya. Orang yang tersiksa (baik lahir maupun batin) itu katanya doanya makbul loh…
…dan saya memang rada tersiksa selama diskusi sama mbak tempo dulu itu.
@ Kopral Geddoe
Natural, kayaknya.
Sebetulnya masih ada lagi sih. Sempet kepikiran mau masukin itu pas nyusun post “The Creationists’ Deceit™”… tapi akhirnya malah gak jadi dirilis. ^^
*mood “perang”-nya udah lewat, soale*
(“kreasionis” di sini maksudnya kreasionis zealot lho!)
E.g.
…gitu-gitu lah.
Iya ya nih post kan bahas soal sains dan metode ilmiah, he he he maaf nih
Soal poin terakhir pembuktian, kadangkala masalah yang ingin dipecahkan itu terlalu besar atau hipotesis nya terlalu rumit sehingga pembuktian langsung akan sangat sulit dan membutuhkan sarana dan biaya yang terlalu besar pula
Oleh karena itu dilakukan pembuktian tidak langsung terhadap hipotesis tersebut
Saya kepikiran bagaimana hubungan pembuktian tidak langsung ini dengan kebenaran hipotesis yang dikemukakan
Bagaimana memastikan kalau pembuktian tidak langsung itu benar-benar membuktikan kebenaran hipotesis
Contohnya mungkin seperti ini
Teori Big Bang itu kalau tidak salah, salah satu pembuktiannya adalah dengan mendeteksi adanya radiasi sisa, menurut saya ini bukti tidak langsung akan kebenaran teori bigbang
coba lihat ini
Jika Teori big bang benar maka ada radiasi sisa
Jika ada radiasi sisa maka teori big bang benar
Kedua pernyataan itu berbeda(ah Mas pasti tahu)
Pernyataan pertama jika benar, maka pembuktian adanya radiasi sisa justru tidak membuktikan teori big bang benar
tetapi jika radiasi sisa tidak ada maka sudah pasti teori big bang salah
Maksud saya itu, pembuktian radiasi sisa akan membuktikan kebenaran teori bigbang kalau pernyataannya seperti ini
Jika dan hanya jika teori big bang benar maka ada radiasi sisa
Ide saya adalah pembuktian tidak langsung harus memenuhi syarat Biimplikasi bukan Implikasi
bagaimana menurut Mas
(Maafkan saya kalau masalah ini terlalu sederhana)
Salam
@ secondprince
Euh, sebentar, komennya belum bisa saya jawab dulu. Harus pake mikir soalnya, sementara saya jam 1 ada ujian.
Mungkin nanti sore atau malam saya tanggapi lebih lengkap. Thx. ^^;;
:: Kopral Geddoe
Halooo. Apa kabar mas Geddoe…
Wah,saya nggak merasa gitu kok. tapi iya sih, saya sebenarnya belum pernah berhadapan dalam diskusi yang mana sains menolak agama sebelum ini. jadi saya nggak pengalaman dalam itu.
yang saya bilang sombong itu bukan sainsnya, tapi scientist yang membuat sains seolah-olah meniadakan Tuhan.
BTW, saya kok menangkap kesan mas Geddoe masih kesal sama saya. khan saya udah minta maaf sebelum ini…
:: Sora9n
iya, saya tahu. khan sudah saya nyatakan sebelumnya seperti yang ini
Kalo masalah pembahasan post ini mah saya udah paham seperti yang ditunjukkan oleh komen saya yang pertama di post ini. dan pembahasan mengenai teologi dan sains itu dimulai dari komennya mas Gentole khan?
Lho, “Tuhan itu memang benar ada” itu saya nyatakan hanya untuk mengidentifikasi bahwa saya dalam hal ini memihak sains itu tidak bertentangan dengan teologi.
dansaya tidak akan lagi meminta kamu untuk mengacu ke kitab manapun saat ini.OK!
Baiklah, sebelumnya bantu saya mengingat pelajaran IPA saya waktu SMA dulu (secara karena saya adalah salah seorang anak IPA yang melenceng ke jur. bahasa
)
kalo begitu apa yang menyebabkan udara itu ada?
kenapa bernafas itu harus berupa kontraksi-relaksasi paru-paru?
kenapa harus Oksigen?
kenapa CO2 itu harus menjadi racun bagi tubuh kita?
Bisakah scientis itu atau siapapun membuat gas CO2 tidak lagi membahayakan tubuh bila dikonsumsi tubuh dalam kadar banyak?
sehingga tidak ada lagi kasus kekurangan O2 bila kita terkurung didalam ruangan sempit tertutup?
KEnapa syaraf involunter? kenapa kita tidak bisa hidup kalo nggak ada jantung?
seperti pohon…
kenapa harus detak jantung yang bisa mengalirkan oksigen?
Kenapa Otak mesti membutuhkan oksigen? Tidak bisakah dia mandiri? nggak usah tergantung sama zat lain?
engggg, nggak tau ya… *siyul-siyul*
Maksudnya????!!!
kok saya bacanya gini ya…
“hei! kamu itu anak bahasa, jadi nggak usahlah ikut campur dalam bidang IPA… nggak bakal ngerti kamu”
Lho,saya khan udah minta maaf kemaren sebelum saya meninggalkan diskusi… Piye toh
BTW,
Ya Allah… kenapa Engkau mengabulkan keinginan sora9n yang notabenenya masih skeptis dengan keberadaanMu ya Allah.
Cemburu saya.
oh, saya tahu! atau apa kerena Engkau cinta padaku sehingga Engkau mengingatkan kesalahanku biar bisa tobat dan minta maaf sama sora?
agar di akhirat nanti Sora nggak bisa lagi minta pahala saya
yang cuma sedikit itubuat dia?Ah, ya! saya yakin begitu
Really…

senang saya. Kapan lagi bisa bikin sora tersiksa
ah, maaf ken saya untuk kali ini lagi…
*tersenyum misterius DAN tertawa dalam hati*
@ BdSnowie
Heh, jangan nyampah!
Jawabin komennya nanti dulu, sekarang saya hapus. Isi komen yang betulan sih nggak apa-apa. Tapi, TUJUH komen junk? What do you think you’re doing hah!?
Sekadar info, saya masih harus nge-reply buat komentar yang udah menunggu dari siang tadi. Dan pesan: terserah kalau Anda mau ngelanjutin diskusi, yang penting isinya bermutu.
Attitude-nya jangan urakan begitu, please.
@ #63 secondprince
*Akhirnya reply juga. Sori, baru bisa nulis lagi sekarang* ^^;;
Sebenarnya, idealnya memang begitu. Dengan adanya kondisi if and only if, maka hanya ada satu pasang kondisi sebab-akibat yang mungkin. Tentunya, seperti yang mas bilang,
Nah, tapi ada masalah.
Memastikan terjadinya biimplikasi, dalam konteks memahami alam, itu susah. Sebab cara pandang saintifik kita memang cuma satu arah, yaitu menduga berdasarkan bukti. (lihat komen #44)
Dari sini, otomatis perjalanan kita jadi cuma bisa satu arah: yaitu, mencari hal apa yang diimplikasikan oleh bukti. Dalam kasus big-bang kita mendapat bukti berupa (misalnya) radiasi sisa dan alam semesta mengembang.
Lalu ada pertanyaan: apakah benar dua bukti itu hanya bisa diakibatkan oleh big-bang? Atau ada sebab lain yang mungkin meninggalkan bukti serupa?
Nah, ini yang mustahil diverifikasi. Seandainya pun kita bisa mengeksperimenkan big-bang dan mendapat hasil yang sesuai teori, itu tidak membuktikan bahwa teori big-bang memenuhi biimplikasi.
Boleh jadi, sebenarnya ada hal lain yang bisa meninggalkan bukti serupa — yaitu radiasi sisa dan alam yang mengembang. Dan kemungkinan-kemungkinan inilah yang mustahil untuk diketahui pasti… sebagaimana mustahil bagi manusia untuk memetakan seluruh probabilitas terjadinya peristiwa di alam semesta.
There are more things in heaven and earth, Horatio,
Than are dreamt of in your philosophy.
—Hamlet
@ BdSnowie
Yang komen mas Gentole itu masih belum OOT, sebab isinya masih membahas mengenai metode sains yang nyambung ke masalah Tuhan di FAQ. Kalau Anda kan maunya membahas soal Tuhan tapi gak pakai sains…
Silakan baca: [God of The Gaps]
Kalau Anda hidup ratusan tahun lalu, Anda akan bilang “Tuhanlah yang menjadikan petir dengan kehendak”… padahal sekarang kita tahu bahwa petir terjadi akibat adanya muatan listrik di awan, dst, dst.
Pohon punya sistem fotosintesis… dan mereka sistem transportasi mereka berbeda. Mereka nggak pakai jantung, tapi pakai xilem dan floem buat mengalirkan nutrisi ke seluruh tubuh mereka.
Kita (manusia) menggunakan jantung untuk memompa darah dan mengalirkan nutrisi ke seluruh tubuh; dan inti masalahnya ada di bagaimana menyebar nutrisi itu secara merata. (CMIIW)
Udah, baca aja dulu link wikipedia yang saya kasih di atas.
Saya cuma nggak ingin post yang isinya diskusi serius ‘dikotori’ sama bahasan yang OOT. Kalau mau membahas stance religius, mending di post saya yang soal agnostisisme itu…
Anggap saja karena saya begitu mencintai Tuhan, sehingga saya nggak rela nama-Nya dibawa-bawa maniak agama demi sauvinisme religius. Hence the agnosticism.
Silakan saja beryakin ria; kebenarannya toh nggak ada yang tahu selain Tuhan itu sendiri.
Saya sampaikan kalau begitu: don’t ever mess with me at the wrong time. You’ve been warned.
and this is about the wrong time if you want to knowHmmmm jadi Biimplikasi dalam sains itu terlalu sulit ya
Sebenarnya sih saya juga berpandangan seperti itu, tapi kadang kepikiran kalau seandainya ada teori baru lain yang juga bisa menjelaskan adanya radiasi sisa(ini misalnya lho) maka teori inipun layak diterima juga kan
Entah mengapa saya punya kesan teori evolusi itu juga rada begitu, kadang saya membaca karya ilmuwan kontraevolusi mereka menawarkan penjelasan lain tentang hal-hal yang diduga sebagai bukti pendukung tidak langsung teori evolusi
walaupun penjelasan mereka juga layak dikritisi
Ini menjadikan saya bertawaqquf soal teori evolusi
@second
kalo ditarik pada keyakinan keagamaan Anda, terutama metode jarh wa ta’dil yang anda geluti itu, bukankah anda semestinya bertawaqquf juga dengan riwayat-riwayat perawi hadist? metode verifikasi hadist kan jauh dari ilmiah.
hahahaha…saya suka istilah itu, bertawaqquf. itu kayaknya bagus buat istilah Arabnya agnostik.
beginiloh, maksudku, bukankah semuanya adalah lompatan iman? keyakinan kita pada bukti [dalam sains] atau wahyu [dalam teologi] adalah pilihan yang pada mulanya bersifat personal kemudian diobjektifikasi, diuji oleh ulama atau ilmuwan lain; ulama dan ilmuwan sama-sama berijmak apakah suatu gagasan “mendekati kebenaran” atau tidak. metode tidak lahir begitu saja dari kekosongan.
sebagaimana logika tidak bisa berkerja tanpa premis yang diakui kebenarannya tanpa logika, tetapi asumsi yang divalidasikan oleh “indra” (sains) atau “kesadaran” (agama/filsafat) [kita sebut saja keduanya "nalar"], maka pada akhirnya pengetahuan kita tidak pernah bisa-bisa bersih dari metafisika — ide tentang kenyataan sejati yang bersifat personal dan arbitrer/irasional. setiap orang hidup berdasarkan “metafisika” yang dia pilih. yang penting, kita jujur dan konsisten dalam mencari pengetahuan: di mana pijakan metafisika kita…
gak maksud ceramah…
salam
@snowie
jangan begitulah…Anda kan bertamu di blog mas Sora9n. you know, kalo ada yang mau membuktikan bahwa Tuhan itu karena sains says so dan kemudian dibantah lagi oleh sains sendiri kayaknya gimana gitu. aku kayak denger saintis bilang; “ih, ngaku2 aja!” respon Geddoe dan Sora9n terhadap komentar anda membuat saya berharap lebih banyak lagi agnostik di dunia ini, ketimbang saintis-teist/kreasionis yang keras kepala. bikin ribet.
@gantole
Terus terang jawaban anda untuk pertanyaan saya sebelumnya tidak saya mengerti. Setidaknya belum menjawab pertanyaan saya. *mungkin karena saya oon*
Sebenarnya ya atau tidak bahwa anda menganggap sainstis itu seharusnya tidak percaya Tuhan?
Saya menanyakan ini karena kesan yang terlihat dari komen-komen anda menyatakan bahwa anda mensyaratkan memang seorang sainstis itu harus tidak percaya Tuhan. Jika percaya maka telah menghianati sains itu sendiri. Mohon jawaban tegasnya, dan maaf kalo ternyata saya yang salah menangkap kesan.
@danalingga
Aduh maaf mas, saya memang gak bisa menjelaskan sesuatu secara runut tampaknya. Tapi bisa dibilang begitu: bila saintis mempercayai Tuhan, maka ia mengkhianati sains.
Saya coba lagi deh:
- Menurut saya sains tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Alasannya karena pondasi epistemologi sains bersifat ateistik: yakni empirisisme, materialisme, fisikalisme.
- Bagi saya cara berpikir induktif itu tidak mungkin ada tanpa materialisme dan fisikalisme. Sains mungkin, seperti diakui Sora9n dan Geddoe, tidak menegasikan yang immaterial, tetapi ia hanya bisa berfungsi bila diterapkan pada yang material. Jadi, yang namanya metode ilmiah sejak awal sudah menolak yang ghaib.
- Karena itu, untuk beriman pada Tuhan, yang Imaterial dan Ghaib itu, seseorang harus mengabaikan kesimpulan sains dan mengkhianati prinsip dasarnya: empirisisme, positivisme logis, materialisme. Saya pikir kalo orang mengambil kesimpulan tidak berdasarkan metode ilmiah, maka dia bukan saintis. Kalo dia setia pada sains, karena itu dia layak disebut saintis, maka dia akan menjadi agnostik atau ateis seperti Pak Dawkins.
- Saya tidak menolak perkembangan sains. Sains tentu bisa digunakan untuk memahami alam semesta, bikin obat, bikin jembatan atau pesawat terbang, tetapi bukan untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada apa enggak, let alone dijadikan landasan bagi keyakinan teologis, baik teisme, ateisme atau agnostikisme.
- Nah, aku dan juga Sora9n sebenarnya sepakat bahwa sains tidak bisa mencapai Tuhan. Hanya saja, Mas Sora9n, mengadopsi kesimpulan sains yang tidak mampu memfalsifikasi atau mengafirmasi hispotesis Tuhan itu sebagai “posisi teologisnya”, yakni agnostik. Dengan “rasa” dan teologi, dia jadi agnostik-teis.
- Aku gak begitu. Iman yah iman. Metode Ilmiah dan Sains tidak mempengaruhi posisi teologisku, karena aku pikir sains tidak bisa membuktikan Tuhan itu ada. Menurut saya itu wujud konsistensi.
Bisa liat juga komentar Mas Geddoe #48 kalo aku masih kurang jelas. Kira-kira begitu perbedaan saya dengan mas Sora9n.
Jadinya metode yang digunakan mesti preskriptif *kuliah Metode Penelitian Hukum terbayang kembali*?. Ilmu sains dan ilmu sosial itu sama-sama bebas nilai, makanya metode empiris bisa dipakai. Tidak bisa dibandingkan dengan ilmu filsafat (termasuk urusan mencari Tuhan) dan hukum yang bersifat normatif.
Diralat dong, jadi:
Tidak bisa dibandingkan dengan ilmu filsafat (termasuk urusan mencari Tuhan?) dan hukum yang bersifat normatif.
@ secondprince
Yup, betul sekali. Seandainya ada teori baru yang bisa menjelaskan mengenai terjadinya radiasi sisa, alam semesta mengembang, dan bukti-bukti lain yang diakomodasi oleh big-bang, maka teori tersebut layak diterima dan dipertimbangkan. ^^
BTW, tawaqquf artinya apa ya?
*nanya ke google*
:::::
@ gentole
*catatan: cetak tebal dari saya*
Nah, itu dia. ^^V
Sains memang dasarnya tak menegasikan yang immaterial, melainkan hanya tidak ambil pusing dengan yang tak teramati.
Meskipun begitu, untuk kalimat terakhirnya saya rasa bisa sedikit disempurnakan. Bukannya “dari awal sudah menolak yang gaib” — melainkan, lebih pada “dari awal cenderung menolak yang gaib”. Kecenderungan ini memang ada, tapi tidak mutlak IMHO.
Memang betul, seseorang yang langsung memastikan ada/tidak adanya suatu hal di luar yang teramati, maka ia melanggar positivisme logis. Secara sains, keyakinan yang dianutnya ini sama sekali tidak ilmiah dan mustahil dipertanggungjawabkan.
Bahkan, kalau boleh jujur, memang tidak ada hal yang betul-betul “ilmiah” kalau kita berbicara metafisika.
Saya setuju, kalau kita benar-benar stick ke sains, maka kita tak punya pilihan selain jadi agnostik atau ateis. Ini salah satu kutub utama dalam konteks keyakinan. Tapi, ingat juga kutub yang lain… Kalau kita benar-benar stick ke agama (baca: penafsiran literal), maka kita juga tak punya pilihan selain gagal total memahami alam. Contohnya udah banyak, e.g. matahari mengelilingi bumi dan penciptaan 4000 tahun.
Adapun saya pribadi, lebih suka menyeimbangkan antara keduanya. Yang teologi menutup kegagalan sains dalam memahami yang metafisik — dan yang sains membantu melengkapi kekurangtepatan filsafat metafisik/teologi dalam memahami alam. Seperti yang dibilang mas oddworld di komen #42,
Kira-kira begitu. Jadi bukannya mencla-mencle antara memilih sains atau teologi — melainkan berupaya melengkapi sudut pandang saya terhadap dunia. ^^
Yup, tepat. ^^
Sebenarnya pemikiran kita hampir sama, mas Gentole. Setidaknya, sama di bagian teistiknya. Yang membedakan kita kelihatannya satu hal… yaitu, saya tidak bisa mengabaikan status Tuhan yang mustahil diverifikasi/difalsifikasi. Mas Gentole sebaliknya, cenderung bisa mengabaikan hal tersebut — karena beranggapan bahwa sains benar-benar tak boleh mempengaruhi ide-ide metafisik. That makes the two of us. ^^
Seandainya saya bisa tak ambil pusing dengan ketidakmampuan kita (manusia) untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan alam-Nya, mungkin juga cara pandang saya akan Tuhan dan agama bakal identik sama pandangan Mas… mungkin, IMHO.
:::::
@ Nenda Fadhilah
Well, saya sendiri sebenarnya cenderung memandang sains sebagai konsep memahami-alam yang bebas nilai… setidaknya, pada esensinya. Seperti yang saya bilang jauh di atas tadi: mau dijadikan bukti kebesaran Tuhan, atau malah menunjukkan ketiadaan-Nya? Tergantung yang memandang. ^^
Saya setuju bahwa penggunaan metode empiris hanya dibatasi pada sains dan ilmu sosial… atau setidaknya untuk gejala-gejala yang teramati dan obyektif. Untuk lingkup yang lebih subyektif dan berkutat dengan interpretasi, ya, jelas, empirisisme tak bisa jadi pegangan.
Ps: ralat diterima.
@sora9n
hahaha…selalu ada ruang bagi metafora dan puisi dalam kitab suci mas Sora. oh lebih jauh, alam semesta ini juga mungkin sebenarnya hanyalah metafora. Apapun penjelasan sains tentang bagaimana proses terjadinya hujan dan kedua mata kita, seorang teis akan tetap bersyukur pada Tuhan terhadap apa yang telah diberikan.
Oh ya, anda menyarankan saya mengakui keragaman agnostik dan membuat diagram venn, saya juga sarankan Anda untuk membaca filsafat metafisika, yang sebenarnya bukan tentang yang meta-fisika/immaterial atau teologi. Bisa coba wikipedia dulu: http://en.wikipedia.org/wiki/Metaphysics
Yang menggugat sains bukan hanya agamawan saja. Filsuf2 Eropa anti-Pencerahan dan juga filsuf imu-ilmu sosial kontemporer juga mengkritik sains dari sudut pandang filsafat ilmu.
@danaligga
kemana mas? sudahkah aku menjawab dengan tegas?
@gantole
Nah, akhirnya saya paham juga. Makasih.
Maaf Mas saya bukannya ingin membantah tapi cuma ingin memahami lebih jauh, kata diterima dan dipertimbangkan apa Mas mengartikannya berbeda atau maksudnya sama
Karena saya menangkapnya berbeda, begini jika ada dua teori atau lebih yang sama-sama bisa menjelaskan suatu fenomena yang diamati dan teori-teori itu sama-sama bisa dibuktikan secara tidak langsung, maka ketiganya diterima walaupun penjelasannya benar-benar berbeda
Atau mungkinkah ada suatu metode tertentu yang dipilih untuk menentukan yang mana yang lebih diterima dan menjadikan yang lain layak dipertimbangkan ?, sudikah anda memberi saya pencerahan
Untuk yang ribuan kalinya maaf
Maaf lagi. I don’t meant it. Hanya berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Saya hanya berusaha untuk memperbaiki komen saya yang ‘buruk rupa’.
Maaf…
saya berjanji akan berusaha lebih keras lagi untuk menjaga sikap.
Untuk komen ‘nyambung’, belakangan deh. Saya ingin benar-benar berfikir dulu mengenai itu, dan bila rasanya sudah mulai bisa mengerti masalahnya baru saya coba untuk komen lagi.
Thanks b4.
Sora Said:
don’t ever mess with me at the wrong time. You’ve been warned, and this is about the wrong time if you want to know.
Me said:
I got it. I’ll wait for a few moment ’til you get better.
Hopefully You get better soon
Mas Gentole
Kenapa begitu?
Can you explain more, Please?
@ all
Sori baru bales, baru sempet online lagi sekarang (-_-)
:::::
@ gentole
Lha, iya. Bukankah udah saya tulis juga, bahwa sains, ketika menjelaskan alam, bisa dijadikan bukti kebesaran Tuhan bagi yang mengimani-Nya? Tentunya dari sini dapat memberikan jalan untuk mensyukuri pemberian dan cara kerja-Nya. ^^
Kalau menurut istilahnya Al-Qur’an sih, (euh, soalnya saya muslim; jadi saya contohkan dari sana ^^;; )
Bukankah begitu juga yang akan dipikirkan teis pada umumnya? ^^
Hmm, OK. Akan saya baca kalau ada waktu. ^^
:::::
@ secondprince
Weh, bukan begitu. ^^
Maksud saya dengan “diterima” dan “dipertimbangkan” itu begini:
Jadi yang saya maksud adalah diterima dalam taraf hipotesis, dan bisa dipertimbangkan sebagai calon teori baru.
Keberadaan lebih dari satu teori untk gejala yang sama, AFAIK belum pernah terjadi. Sebab biasanya hipotesis dipertandingkan dengan teori yang mapan di forum akademik, di situ diuji mana yang mengakomodasi lebih banyak bukti. Sampai ditemukan salah satu yang bisa menjelaskan lebih banyak bukti daripada yang lain.
Dalam kasus keduanya sama kuat dalam hal evidence, kalo nggak salah ada beberapa klasifikasi nonteknis yang membuat suatu hipotesis lebih favorable. Saya sendiri cuma ingat satu, yaitu Law of Parsimony/Occam’s Razor. Kalau yang terakhir ini, dasar pemilihannya adalah kemampuan menjelaskan gejala alam dengan jalan yang lebih sederhana. ^^
Kalo yang lainnya mungkin ada, tapi saya nggak inget. Ntar cari lagi lah. ^^;;
:::::
@ BdSnowie
Thanks, there you have it. Sorry for any possible conceded offense back then.
Kalau di kedokteran lumayan banyak lho, satu gejala dijelaskan banyak teori dan sama-sama punya evidence base nya. Hanya saja yang dianut kadang berbeda penentuannya, ada yang karena lebih dahulu dicetuskan, ada yang karena yang lebih sederhana penjelasannya, ada yang karena kecenderungan para ahli lebih banyak tertarik ke teori itu, agak susah memang. Setidaknya jadi sedikit lebih rumit
Yah terimakasih tanggapannya
Sou, sori ya, sy kesini lagi. Sbenarnya saya dah jadi pembaca saja sejak komen sy yg terakhir, tapi kemudian ada yg mengganjal pikiran saya. Sebenarnya cuek saja, tapi karena diulang dua kali sama Sora, sy pikir gpp tuk tukar pikiran dikit..
Gini, apa sy bisa minta klarifikasi tuk bagian ini:
Bagian ini ada diulang lagi di komen #76
Agama yang gagal? Walopun yang disalahkan agama, tapi kesanku yang gagal adalah Kekristenan
padahal AFAIK, ini human error, bukan religion error (Bible error). 


#1 soal geosentrisme itu. Sejarah juga mencatat kalo itu kesalahan institusi gereja. Pemimpin2 gereja yang memutuskan kalo itu benar, dan heliosentrisme yang salah. Bahkan penafsiran literal yang dianut aliran modern geocentrism jg ngaco banget. Human error menurutku.
#2 kreasionisme 4000 tahun. Sy tidak pernah tau yang ini. Ini kata para agamawan Kristiani jugakah? (CMIIW, Sou) Pernah kubaca yang mirip seperti ini dalam dunia Kristen, bahwa ‘ada rentang waktu 4000 tahun sejak penciptaan sampai kelahiran Yesus.’ (BC 4004 – BC 4) Ini ada di centre column Alkitab terjemahan King James Version (KJV) terbitan The World Publishing Company, USA. Spertinya ini didapat dari penjumlahan umur Adam dan keturunannya sampai ke Yesus (memang tertulis). However, Alkitab KJV tafsiran F. J. Dake (terbitan Dake Bible Sales, USA. 1961) menghitung ada 1656 tahun dari Adam sampai air bah Nuh, dan 4505 tahun dari air bah Nuh sampai ke tahun AD 1960 (jadi kurang lebih 4100an tahun dari Adam ke Yesus), dan ditafsirkan ada waktu tak terhitung (numberless age) sebelum Penciptaan yang 6 hari itu. Masih ada lagi hasil2 penjumlahan lain dari angka2 umur yang sama. Beda2. Jadi sekali lagi, bisa saja ada human error jg.
Benar2 maaf kalo sy salah tangkap maksud kalimat ‘kreasionisme 4000 tahun’ itu. ^^;;
Nah, kalimat ‘agama mencoba masuk ke sains mungkin & gagal’ itu mungkin hanya soal bahasa saja ya? Dengan asumsi dogmatis bahwa Kitab Suci itu tak bercacat (mengeluarkan kemungkinan bahwa penulis2nya melakukan kesalahan), maka kasus2 yang dicontohkan diatas IMO adalah masalah kesalahan pembaca/penafsirnya, atau orangnya, dan bukan agama-nya.
Mungkin agak rumit juga ya, tarik garis antara agama sbg set of belief dgn institusi agama yang menetapkan dogma tsb 
Itu dulu deh. Selebihnya soal ‘transgresi wilayah’ ini, sy respect aja ama sudut pandang Sora (& Geddoe)
@ jensen99
Ah, begini. Sebetulnya saya bukannya memandang bahwa agama pasti dan harus gagal kalau udah membicarakan alam. Yang saya tekankan, menggunakan doktrin agama tanpa persiapan matang untuk menjelaskan alam itu pasti gagal total. ^^
Bagaimana definisinya “tanpa persiapan matang”? Yaitu, yang mengambil mentah-mentah dari kitab suci dan dianggap sebagai bukti sains. Penafsiran yang cenderung literal dan tidak esoteris. Adapun hal macam ini nggak cuma terjadi di Kristen saja… FYI, di agama Islam juga ada penafsiran bahwa matahari mengelilingi bumi! [link]
Saya pribadi berasumsi bahwa kitab suci (dan agama) adalah benar, asalkan memang betul sumbernya dari Tuhan (jadi bukan orang bikin ajaran terus diaku-aku, begitu ^^). Dengan begini, masalahnya memang di penafsiran. Seperti yang Mas bilang.
Kalau kita berangkat secara literal, strict-to-text, maka kita memandang bahwa geosentrisme itu benar (Islam dan Kristen sama-sama pernah mengalami ini). Tapi kalau kita menyertakan pendekatan alegoris dan metafor, boleh jadi kita akan menemukan tafsiran yang lebih mendekati perilaku alam yang sebenarnya. Cuma pertanyaannya, seberapa jauh kita boleh memakai pendekatan non-tekstual dalam memahami gejala alam yang dijelaskan kitab… di situ masalahnya.
Masalah di sini lebih ke arah pendekatan/interpretasi yang dipakai, IMHO.
Itu teori yang disampaikan sama [Bishop Ussher] pas abad ke-16; isinya kurang lebih sama dengan yang disampaikan mas Jensen (penciptaan pada 4004 BC). Saya sendiri cuma kebetulan tahu, soalnya pernah disinggung sekilas di buku sejarah kosmologi. ^^
Tentunya, itu hanyalah satu (dari banyak) interpretasi atas kreasionisme. Daftar lengkapnya ada di wikipedia, AFAIK. ^^
Ya, iya. Kan memang saya bilang begitu. ^^
Mungkin yang dimaksud mas Sora adalah teori Young Earth, di mana bumi berusia 6000 tahun (bukan 4000, walau benar yang dimaksudkan adalah 4000 tahun sebelum Kristus).
@ Kopral Geddoe
*ngecek wikipe*
Ah, iya, itu dia. ^^ Sori salah sebut; dengan ini saya nyatakan ralat.
NB @ all:
Komen #78 danalingga gak sengaja ketelen akismet, baru saya lepasin. ^^
[...] adalah landasan semua pengetahuan manusia. Apa pun yang diketahui manusia dari gosip ibu-ibu sampai Teori Evolusi yang Kontroversial (katanya sih) jelas dilandasi oleh perasaan Universal bahwa Kebenaran itu ada. Hal ini tidak dapat [...]
Ingin membuktikan ada/tidaknya Tuhan dengan science, mungkin terbilang mudah, yang sulit adalah
Saat mengetahui hasil dari science yang membuktikan Tuhan itu ada, kekuatan diri untuk mempercayainya yang sulit.
Contoh : di salah satu kitab agama, yaitu agama islam
dengan inti : Tuhan memberi tahukan mengenai pembentukan manusia, pada saat teknologi kedokteran pun belum mengetahuinya
- Tuhan yang mempunyai kuasa menghidupkan dan mematikan, jika ada seorang ibu mengandung, pemberian nyawa anak tsb ada kekuasaan Tuhan.
Detail penjelasan tercantum dibawah :
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
(Al Hajj 22 : 5)
Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq[977] dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Al Hajj : 6)
[...] apalagi membeli buku tsb. Sekalian memenuhi janji dan menyelesaikan diskusi yang terlantar dengan pihak-pihak tertentu. Dan TIDAK sedikitpun secara langsung memberikan keuntungan finansial buat saya. [...]
[...] ini bersifat melengkapi dengan post tentang metodologi ilmiah yang saya tulis beberapa bulan [...]
[...] however: I am not against God and religion, as you may find out in my posts and comments here and here. How I see God is like seeing Schrodinger’s Cat: it is both possible that He exists or not [...]
dengan web ini,saya bisa mengerti tentang beberapa teori dan beberapa penjelasan yang lainnya.
Tugas Metil yang ada, terselesaikan dengan teori-teori tersebut….hebat!!!!
[...] metodologi ilmiah yang kita kenal sekarang. Pilar ini merupakan hasil pemikiran filsuf Karl [...]
“..dan bila seluruh pohon dan air laut dijadikan kertas dan tinta, tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan ayat-ayat dan kekuasaan Allah SWT..”
Semoga kalian menemukan kebenaran yang ingin dicari dan tidak tergolong ke dalam mereka yang mendustakan nikmat Allah SWT. amin.
Pertanyaan buat para pendukung Teori Evolusi
Bila ada 2 kerangka makhluk hidup yang agak mirip padahal berbeda jenis, kerangka A dan B. Misalkan setelah diteliti, kerangka A diperkirakan berusia 2 juta tahun, kerangka B berusia 1 juta tahun.
Dengan percobaan ilmiah lewat labolatorium seperti apakah, Ilmuwan Evolusionis dengan sangat yakinnya bisa memastikan bahwa kerangka makhluk hidup A adalah nenek moyang makhluk B ?
Bila kerangka A dan B hanyalah 2 kerangka makhluk hidup yang agak mirip padahal berbeda jenis dan berbeda zaman,
apa yang bisa dijadikan bukti bahwa kerangka makhluk hidup A adalah….. kakeknya kakeknya kakeknya dst…… dari kerangka makhluk hidup B ?
@ nita
Sama-sama — semoga kita tidak tergolong kaum yang terpedaya ilmuwan gadungan berkedok agama. Sebab, seperti yang sudah saya kutip di atas,
:::::
@ ivan
Pertanyaan Anda sudah saya tanggapi [di sini].
Masih tetap belum bisa membuktikan Mas.
Apakah fosil itu dites DNAnya juga ?
Seperti kita sekarang kalau anak tiba” ngaku ayah kepada seseorang, biasanya dengan Tes DNA bakal ketahuan benar tidaknya.
^
Euh… supaya diskusinya tidak di dua tempat, sebaiknya mulai sekarang dilanjutkan di [post yang satu lagi]. Seperti sebelumnya, pertanyaan mas/bapak sudah saya tanggapi di sana.
Terima kasih sebelumnya.