Catatan:
Ini postingan tidak penting. Anda sudah diperingatkan.
Syahdan, di sebuah kantin yang berlokasi di dekat kampus saya, terdapat sebuah hidangan yang istimewa. Hidangan ini begitu ajaib, terutama karena nilai kelangkaannya yang lumayan tinggi… terutama bagi mahasiswa pemalas macam saya. Dan, sebagai akibatnya, saya bisa dibilang sangat jarang menikmati hidangan tersebut.
…sebetulnya sih, saya sedang membicarakan sepiring nasi goreng.
Bukan, ini bukan tentang rasa; sebab saya sudah pernah merasakan banyak nasi goreng yang lebih enak daripada itu. Demikian juga, ini bukan soal porsinya yang ukuran besar ataupun lain sebangsanya — ketika saya menyebut kata “langka” di atas, sebenarnya saya tak merujuk pada kualitas nasi goreng itu sendiri.
Sebab, faktanya, nasi goreng ini menonjol karena ia memang langka!
Tapi, kenapa bisa langka? Nah, ini ada ceritanya lagi.
***
Ceritanya, kantin yang saya sebutkan di atas memiliki jam buka cukup awal, yaitu sejak pukul setengah tujuh pagi, sebelum akhirnya tutup selepas maghrib. Nah, kantin ini memakai sistem prasmanan — kurang lebih mirip lah dengan sistem di Warung Padang. Jadi pengunjung tinggal datang, ambil nasi, ambil lauk, dan ambil minum (kalau mau) — lantas, kalau sudah selesai, tinggal bawa semuanya ke kasir dan bayar di tempat. Tentunya dengan sistem ini kita boleh mengambil nasi dan lauk sebanyak-banyaknya, asalkan memang sanggup membayar tagihan yang diberikan. ^^
Nah, tapi ada yang ajaib.
Biasanya, kalau Anda makan di tempat prasmanan, makanan yang tersedia akan cepat habis. Wajar, karena ada banyak orang yang mengambil makanan dengan volume relatif besar. Meskipun begitu, makanan yang habis biasanya terus diisi ulang — sehingga jarang terjadi satu jenis hidangan mengalami shortage dan lenyap dari daftar ambil pengunjung.
Sialnya, hal ini tidak terjadi pada sang nasi goreng. Anda bisa mengambil nasi putih, daging empal, paru, sop, atau ayam sampai saat warungnya menjelang tutup. Tapi, nasi goreng?
Jangan harap!
Pada hari berlangsungnya kuliah, kantin buka pukul 6.30 pagi. Meskipun begitu, menurut sumber yang dapat dipercaya, nasi goreng biasanya sudah habis diambili massa pada pukul setengah delapan.
Pada hari libur, keadaannya sedikit membaik. Setidaknya, saya pernah datang ke sana pukul 9.30, dan masih mendapatkan nasi goreng tersebut… walaupun ini kasus langka sih. Saya ingat saya mengamati jam di kantin sambil berpikir,
“Wah, ini rekor.”
ketika saya masih mendapati jumlah nasi goreng cukup banyak untuk, sekurangnya, mengisi tiga piring lagi. Meskipun begitu, ini tetaplah sebuah pengecualian. Umumnya, Anda tak akan mendapatkan nasi goreng tersebut jika Anda baru datang pada pukul sembilan.
Saya sendiri termasuk golongan yang sering gagal mendapatkan nasi goreng. Ini terjadi karena saya kuliah pagi terus sepanjang semester kemarin (empat hari berturut-turut masuk jam 7
). Ditambah lagi dengan kebiasaan bangun siang di hari libur, maka lengkaplah ketidakmampuan saya untuk mendapatkan sepiring nasi goreng khas kantin yang dimaksud.
…
Tapiii…. ada sebuah tapi, saudara-saudara.
Tapi.
Tapi.
Dua hari terakhir ini, ternyata saya bisa mendapatkan dua porsi nasi goreng. Setiap pagi, terhitung sejak Jumat kemarin, saya selalu berhasil mendapatkan sepiring nasi goreng langka yang sebenarnya tak hebat-hebat amat itu.
…
…
Ya, saya akhirnya BISA BANGUN PAGI DI HARI LIBUR!!!!

SAYA BISA BANGUN PUKUL ENAM PAGI DI HARI LIBUR!!!!

SAYA BISA BANGUN PAGI DI HARI LIBUUUURRRRR…..!!!!

…
…
*ahem*
Ya, saya tahu ini berlebihan (u_u). Tapi, mengingat saya biasanya tidur pagi di hari libur, ini jadi terasa luar biasa. Biasanya saya menggambar dengan Photoshop, bikin komikstrip (misalnya yang ini, ini, atau ini), atau melanjutkan pengerjaan doujinshi sampai pukul enam pagi. Beberapa kali, saya bahkan melihat sinar matahari masuk kamar saya ketika saya belum tidur. Meskipun begitu, dua hari terakhir ini tampaknya kehidupan saya jadi rada membaik… sebab saya bisa tidur sebelum tengah malam, di hari libur, dan bangun tepat waktu di pagi hari. ^^
Maka, sebagai imbalannya, saya pun mentraktir diri saya sendiri porsi nasi goreng yang sering gagal saya dapatkan tersebut. Here goes the screenshot:

Nasi goreng, dengan dua buah rollade dan telur mata sapi sebagai tambahan. Rasanya?
Biasa. Ternyata cuma menang langkanya doang.
Ah, tapi setidaknya saya bisa mendapatkan nasi goreng yang jarang saya nikmati itu. Sebab, bukankah kata Nasruddin Hoja,
“Nilai dari segala sesuatu ditentukan dari kelangkaannya itu sendiri”
Setidaknya, saya masih berhasil mendapatkan sepiring nasi goreng yang berharga. Setidaknya, sesuatu tidak sia-sia.
Assalaamu ‘alaikum. Kaya-na nasi gorengnya lezat. Sayang, di kampus ane kagak ada kantin yang njualan nasi goreng. Ane demen ama kata-kata Nasrudin Hoja, kalau nilai dari segala sesuatu ditentukan dari kelangkaannya itu sendiri. Apa bedanya dengan nilai differensiasi sebuah produk ya?
Salam kenal dari ane yang baru brojolan 2 hari…
Untung nasi goreng di kantin sekolah saya nggak selangka itu.
…
…
…
Udah ngadain selamatan buat merayakan bangun pagi, belum?
@sora9n
itu kayaknya enak nasi gorengnya. prasmanan kok bia lengkap gituh?
APAAAAAAA!!!??? B-BAGAIMANA CARA MELAKUKANNYA!!!??
AJARI SAYAAAAAA!!!!
@ Cabe Rawit
Wa’alaikumsalam, salam kenal juga.
Wah, nggak tahu. Bukan orang ekonomi, soalnya.
Kalau menurut saya sih, hubungannya sama keunikan: karena unik, maka jadi langka. Dan kalau keunikan itu berguna buat orang lain, maka akan jadi nilai tambah tersendiri… ^^
:::::
@ p4ndu_454kura
Yaa, bersyukurlah nasi goreng di sekolah mas Pandu nggak selangka itu. Di SMA saya dulu malah gak ada yang jual nasi goreng.
BTW, nggak usah selamatan. Cukup dengan sepiring nasi goreng itu saja sudah cukup bagi saya.
:::::
@ gentole
Lha, iya, justru karena prasmanan makanya jadi lengkap. Ada baki yang isinya nasi goreng doang, terus yang isinya rollade, sama yang isinya telor ceplok. Saya sih tinggal ngambil2 aja.
:::::
@ Kopral Geddoe
**disclaimer: I’m saying nonsense here**
Caranya:
1. Buatlah sebuah gambar yang membuat Anda susah tidur, karena rasanya tanggung untuk berhenti sebelum selesai.
2. Jangan lupa siapkan kopi beberapa sachet dan air panas yang cukup untuk menemani bekerja.
3. Ketika hari sudah pagi, Anda akan mengantuk. Tidurlah yang cepat, soalnya Anda butuh istirahat. Peristiwa ini terjadi pada pukul 6 atau 6.30 hari pertama.
4. Anda mungkin akan terbangun di sore hari. Lakukan kegiatan normal, tapi kalau bisa temukan masalah yang rada berat buat dipikirin. Misalnya daftar ulang bermasalah, atau perwalian dengan dosen tertunda berkali-kali… pokoknya yang bikin setres.
5. Setelah itu, Anda akan lebih nyaman untuk melarikan diri dengan tidur. Berhubung tadinya Anda sudah tidur sampai siang, Anda tak akan tidur terlalu lama kali ini.
6. Dan ketika Anda bangun, jam akan menunjukkan pukul 6. Bisa juga meleset ke 5.30 atau 7.00, tapi setidaknya Anda masih bisa bangun pagi.
…
Rencana ini membutuhkan waktu dua hari untuk berhasil. Jika semuanya lancar, maka Anda akan bisa melakukan kegiatan bangun pagi di hari libur setelah melewati hari pertama.
**saying nonsense mode = off**
~yeah
~(sebagian) pengalaman pribadi lho.
Meh, saya sudah coba cara itu. Dan gagal.
nasi goreng kantin ******!!!!! udah lama ngga makan disitu
padahal dulu setiap pagi juga makan disitu, sampe sebelum nasi gorengnya keluar orang2 udah pada antri… umm, kenapa nasi goreng ini langka, aku punya hipotesa. jadi sebenernya nasi yang dipergunakan untuk membuat nasi goreng ini adalah nasi sisa kemaren sore. penggunaan nasi sisa kemaren sore ini menghasilkan tekstur yang pas sesuai dengan karakteristik nasi goreng yang enak. kalo pake nasi baru, bakal terlalu lengket dan bumbu nasi gorengnya tidak merata ketika digoreng. kalo soal kemaren sore nya sih ga masalah, toh digoreng lagi
eh eh eh, beneran lo bisa bangun pagi? congrats
@ Kopral Geddoe
Well, then let’s hope that it’s not because you’re plain blockhead.
::::::
@ rifu
Halah…
Kalau mereka niat mah, bikin aja nasi goreng pake nasi baru. Terus rajin2
di-uploaddiisi ulang. Kalo gitu kan gak perlu ketergantungan sama sisa kemaren.Ya, gw bangun pagi, untuk ketiga (atau empat) kalinya dalam seminggu terakhir ini. Rekor sih.
inponya kurang komplit. sepiringnya berapa?
@ Dekisugi
Ah, jangan bicarakan soal harga. Saya udah sering kena batunya kalau ditanya harga . =_=!
Kadang-kadang orang ngomong “murah banget”; tapi lain kali pada bilang “kok mahal sih?”
Kalau mahal saya dibilang tajir, dan kalau murah saya dibilang sok miskin gara2 nyari makanan murah. Jadi? Apa boleh buat, tampaknya hal ini disimpan saja rapat-rapat.
*tapi kalo survei harga nasi goreng sekitar sini sih, harganya gak jauh beda AFAIK*
I call for political correctness!
jelas2 udah gw jelasin kalo pake nasi baru rasanya bakal beda. yang awalnya berasa biasa ntar berasa di bawah biasa lho.
hm, kalo ngliat skrinsyut itu, dengan harga pas aku masih suka makan di kantin tersebut, aku perkirakan sekitar..
ah, ntar ketauan sok tajir/sok miskin nya yah?
Ini nasi goreng atau narses najes…
Saya jadi lapar.
Yang langka justru lauknya; udang goreng.
Untung nasi goreng di kantin sekolah ngga selangka itu, soalnya makannya itu melulu.
dari postingan ini saya jadi tahu ternyata sora itu kebo…
ehhh….
kayaknya familiar dengan penggunaan onionhead ituh
~numpangLewatt xD
rolade nya tampak enak.
Waaaah, saya jadi laperr…
@ Kopral Geddoe
Kan saya pake kata “let’s hope”. Itu konotasinya positif lhooo….
*kena sindir, om?*
:::::
@ Rifu
Itu bukannya ilmu sotoy? Emangnya lo bisa masak, gitu?
*nyepet mode on*
Ya, ya. Saya menghargai orang yang segitu kurang kerjaannya; sehingga, walaupun dia nggak kerja sambilan di kantin tersebut, dia masih punya cukup waktu untuk menghapal dan mencacah semua harga lauk yang pernah dia ambil.
*nyepet mode off*
:::::
@ Goenawan Lee
Kenapa pula jadi narses? Saya kan membicaraken™ kekurangan daripada™ diri saya sendiri…
:::::
@ Xaliber von Reginhild
Hohoho! Saya justru baru -selesai- makan nasi goreng tersebut untuk ketiga kalinya dalam tiga hari.
Ah, kalau di kantin sono sebaliknya. Lauk sebangsanya ayam goreng, udang, paru, perkedel dll selalu diperbarui, tapi nasi gorengnya gak pernah. Hari ini aja udah hampir abis jam 8.
:::::
@ cK
Kebo? Nggak lah. Gw tidur jam 6 pagi dan bangun jam 2 siang; itu kan normal. Jam tidur orang dewasa itu sekitar 6 s.d. 8 jam lhoo.
:::::
@ yud1
Ya, ya, ya…
:::::
@ ladyperona
Waduh…? ^^;;
*ah, tapi memang roladenya enak sih*
jam tidur yang tidak sehat…
kata orang tua, bangun siang itu jauh rezeki lho..
@ cK
Yaa, itu dulu. Sekarang sebaliknya, kadang2 gw bangun jam 1 malam dan nggak tidur lagi sampai sore.
Lha, kalo gitu kasian dong yang jadi satpam ato petugas gerbang tol. Kan pada bangun-malem-tidur-pagi, tuh.
Saya juga suka nasi goreng, tapi lebih puas makan nasgor bikinan sendiri
aih…~
sama…
saya juga ga pernah dapet nasi goreng langka di kampus saya…~
karena kurang lebih punya kasus yg sama ma sora..
bgn pagi emg susah!
dan kadang, kalo udah bangun pagi, malah sengaja maksa2in untuk tidur lagi..soalnya saking kebiasaanya, justru kalo bgn pagi rasanya ga enak…
ohoho
*bat women di mlm hari*
:mrgreen;
Tapi makannya ga sampe tiga piring kan?
kaya seseorang, which is not me,,Huuuh, Ma bangunnya kesiangan mulu selama liburan, moga moga kalo udah kuliah ga keterusan,,
Kalau Nenek saya bilang “Jangan Makan Nasi Goreng Ntar Sulit dicernanya”
He he he tapi tetap aja kalau laper, ya hantam aja
Intinya Nilai rasa di atas terletak pada langkanya, Kalau saya sih Nilai rasa selalu sesuai Selera
@ maxbreaker
Lha, saya nggak bisa bikin nasi goreng. Kalaupun bisa, itu harus numpang di dapur kosan yang pake kompor minyak…
*gak bisa nyalain kompor minyak tanah*
*ndeso* >.<
:::::
@ grace
Ah, ternyata saya dan mbak ini punya kesamaan tertentu.
[/gagPenting]
:::::
@ Rizma
Cuma satu piring satu kali makan kok.
BTW, saya mulai kuliah hari ini. Bangunnya tadi jam setengah lima lho.
Hehe, saya jadi teringat post tentang nasgor yang pernah saya buat di blog saya.
…Kalau saya sekarang mesti hati-hati makan nasi goreng. Untung-untungan. Kadang nggak apa-apa, kadang perut saya langsung mulas
dan jadi tidak bisa masuk sekolah karena terserang sakit perut berkepanjangan@sora9n:
Hoho, kalau begitu dua hari ini saya serupa dengan mas sora; saya berhasil mendapat lauk udang goreng yang langka itu dua hari berturut-turut.
Nasi goreng di sana dan udang goreng di sini benar-benar bernasib mirip.
@ Cynanthia
Syukurlah, saya masih bisa menikmati nasi goreng apa-adanya dan adanya-apa, tanpa harus pilih-pilih.
*bersyukur*
Gakpapa, anggep aja libur. Toh nggak bakal dimarahin kalo ada suratnya.
:::::
@ Xaliber von Reginhild
…dan saya sampai sekarang sudah berhasil makan nasi goreng tersebut 6 hari berturut-turut. Ajaib, bukan?
*bisa bangun pagi, bahkan di hari raya Imlek sekalipun*
Waduh…? ^^;;
Pengen rolade..
Nasi gorengnya kok sdikit amat ya? Brapaan?
Eh, rolade tuh apa sih?
*damn, disepet dua orang berbeda dalam satu post!!*
@Sora
mahasiswa Bung, kondisi finansial itu penting!!
@Ma
tiga piring nasi, dua mendoan, satu dadar, dan semangkok soto betawi, semuanya kurang dari cemban, murah
bisa juga disebut paket “kemaren lupa makan”..
@Sora lagi
iya, emang enak ga dimarahin kalo ada suratnya, tp ngga semua orang punya ibu dokter woi.. *sambil lirik yud1*
hhaduohhh..
kirain uenakk kinyis kinyis gituh lohhhhhh!!!!
wah, bangun pagi inih yang sayah blom bisa..
lha tidur pagi kok bangun pagi, kapan sayah mo tidur..
Ya, saya akhirnya BISA BANGUN PAGI DI HARI LIBUR!!!!
SAYA BISA BANGUN PUKUL ENAM PAGI DI HARI LIBUR!!!!
SAYA BISA BANGUN PAGI DI HARI LIBUUUURRRRR…..!!!!
Maaf, saya baru saja mengalami fenomena yang sama. Jadi kepikiran nyekar ke sini.
@ Kopral Geddoe
Hohoho! Selamat, selamat…
[/gakPenting]