Catatan:
Post-nya rada panjang. Silakan dianggap sebagai rapel post, karena saya jarang bisa online — dan jarang nge-post — selama seminggu terakhir.![]()
Dalam perjalanan saya selama (sekitar) 20 bulan nge-blog, terhitung dari blog lama saya, pertanyaan yang satu ini sering mengemuka. Umumnya, pertanyaan tersebut ditanyakan oleh orang-orang yang kenal dekat dengan saya; baik secara pribadi maupun di ranah internet.
Kalau Anda memperhatikan judul post di atas, tentunya Anda bisa menebak isi pertanyaan tersebut. ^^
“Kenapa sih kamu itu mau jadi blogger anonim?”
Well, sebetulnya topik ini sendiri sudah rada basi — mengingat tema serupa sudah pernah dibahas oleh Death Berry di salah satu post-nya sekitar seminggu yang lalu (!). Pun begitu, ada alasan lain yang juga membuat saya kepikiran untuk merilis post ini… tak lain karena saya baru saja membicarakan tema yang mirip dengan seorang teman di kampus.
Waktu itu dia menyampaikan pendapat sebagai berikut.
“Komunikasi dan sosialisasi lewat internet itu mungkin efektif. Tapi, tatap muka itu tetap priceless. Tak tergantikan maknanya.”
Benarkah? (o_0)”\
***
Ada jarak hampir seminggu antara dua kejadian tersebut. Waktu saya pertama kali membaca post-nya DB, entah kenapa saya sangat merasa isinya sangat cocok dan mengena pada orang-orang seperti saya — bahwasanya, saya ini (a) anonim, (b) sering menulis kritik sosial dan satir, serta (c) selalu tak tertarik untuk ikut kopdar.
(tidakkah saya merasa kesepet dengan sempurna?
)
Sebaliknya, ketika saya ngobrol dengan teman saya yang disebut sebelumnya, saya mendapat impresi lain: bahwasanya, menurut dia, komunikasi internet sehebat apapun tak benar-benar bisa menggantikan pertemuan tatap muka per se. Tentunya yang dia maksud adalah dari segi kualitas.
Benang merahnya, keduanya menilai tatap muka sebagai hal yang penting. Dan kalau tatap muka saja dianggap penting, bagaimana pula kalau seseorang hendak menjadi anonim? Jangankan tatap muka, lha nama asli aja nggak pernah diumumin, je.
Lebih Jauh tentang Anonimitas
Apa itu “anonim”? Konon, dari segi bahasa, Bahasa Indonesia sebenarnya menyerap kata ini dari sebuah kata Inggris, anonymous, yang memiliki varian kata benda berupa anonym. Menurut Wiktionary,
Adjective:
anonymous1. Wanting a name; not named and determined, as an animal not assigned to any species.
2. Without any name acknowledged, as that of author, contributor, or the like: as, an anonymous pamphlet; an anonymous benefactor; an anonymous subscription.
3. Of unknown name; whose name is withheld: as, an anonymous author.Noun:
anonym (plural anonyms)1. An anonymous person.
2. An assumed or false name; a pseudonym.
3. (zoology) A mere name; a name resting upon no diagnosis or other recognized basis.
Kalau ditarik kesimpulan secara sekilas, maka dapat diterjemahkan bahwa anonymous berarti menyatakan/melakukan suatu hal sebagai “tanpa-nama”. Dengan kata lain, si pelaku/penulis/pembuat karya tidak mencantumkan tanda apapun mengenai dirinya; ia hanya menekankan bahwa “ini adalah sesuatu. Silakan lihat dan pelajari.”
Sebaliknya di sisi lain, kata anonym ternyata tidak hanya mencakup ketanpanamaan, melainkan juga bisa merujuk pada nama pena dan pseudonym. Tentunya ini berlaku untuk banyak bidang yang melibatkan penisbatan karya pada seseorang — misalnya karya seni berupa sastra, lukisan, atau bahkan tulisan biasa seperti kontribusi di koran.
Dengan penjelasan tersebut, maka dapat kita asumsikan bahwa term “blogger anonim” adalah blogger yang tidak menggunakan nama aslinya untuk menyampaikan tulisan/isi postnya. Paling tidak, blogger yang termasuk kategori “anonim” biasanya menggunakan nama pena/nom de plume, sedemikian hingga jatidiri si blogger relatif tersembunyi dari pengetahuan publik.
Adapun secara umum, anonimitas ini biasanya dilakukan berdasarkan keinginan si penulis/pengarang (atau, dalam kasus kita, blogger) — yaitu keengganan untuk mengungkapkan jatidiri kepada publik.
Apa Manfaatnya?
Dalam banyak kasus, tidak menyebutkan jatidiri ini biasanya dilakukan atas dasar pertimbangan sebab-akibat. Umumnya terdapat berbagai skenario seperti di bawah ini.
Pertama, si penulis (dalam hal ini, blogger) ingin berlindung di balik identitas baru. Dengan adanya identitas baru, tanggung jawab dari identitas dunia nyata bisa diabaikan. Tentunya Anda bisa memaki-maki orang/pihak yang Anda benci di internet, dengan lebih sedikit resiko ketahuan dan digangbang didatangi dan dipukuli ramai-ramai oleh orang yang Anda hina tersebut. Much to cowardice, tindakan macam ini bisa dikategorikan tak terhormat dan tak bertanggungjawab.
Kedua, si penulis tidak memandang penting keberadaan dirinya. Yang terpenting adalah bagaimana karya/ide-idenya bisa tersampaikan kepada masyarakat/pembaca pada umumnya. Contoh untuk ini misalnya pada William Shakespeare. Walaupun sampai sekarang tak jelas benar siapa tokoh asli dramawan jenius ini, semua orang paham bahwa karya-karyanya memang jaminan mutu. Dus, apa yang disampaikan dalam karyanya menjadi sesuatu yang lebih besar daripada orang di balik namanya sendiri.
Ketiga, si penulis tak ingin orang memandang tulisannya tergantung siapa yang menulisnya. Yang ini tentunya cukup jelas. Kalau misalnya Anda seorang pejabat yang pernah diberitakan terkait korupsi, kemungkinan besar Anda akan dicemooh kalau Anda menyuarakan adanya korupsi di departemen tetangga. Kesannya seperti cari teman, begitu.
Dalam kondisi seperti ini, tentunya lebih efektif kalau Anda menyampaikan laporan tersebut tanpa embel-embel apapun.
Keempat, si penulis menyadari bahwa ia sedang membuat sesuatu yang “berbahaya” dan kontroversial — utamanya jika menentang pihak yang mungkin membahayakan jiwa. Maka akan lebih aman jika hal ini disampaikan dengan tanpa-nama atau dengan nama pena. Misalnya pada kasus Deep Throat di Amerika dulu, di mana nama asli sang sumber terus dirahasiakan hingga kemudian diungkap ke publik pada tahun 2005. Sebetulnya kasus ini agak berbeda, karena di sini nama narasumberlah yang dirahasiakan (bukan penulisnya) — tetapi saya rasa ilustrasi ini bisa cukup menjelaskan.
…
…dan masih banyak lagi. Silakan ditambahkan sendiri kalau mau.
Saya dan Anonimitas
Mungkin sampai di sini Anda lalu bertanya, apa alasan saya untuk menjadi seorang blogger yang -rada- anonim dan menggunakan nama pena atau nama keyboard, whatever that means . Sebenarnya alasannya sederhana saja, dan bisa diwakilkan lewat pertanyaan berikut.
Memangnya jatidiri saya itu penting, ya? (o_0)”\
Tanpa mengesampingkan berbagai alasan yang saya kemukakan di bagian sebelumnya, pertanyaan di atas itu sebenarnya tidak terjawab. Apapun alasan saya, itu toh tidak membuat jatidiri saya menjadi lebih penting (atau lebih tidak penting) dibandingkan apa yang aslinya ingin saya sampaikan.
Anda boleh saja mengatakan bahwa kualitas argumen seseorang itu ditentukan dari orangnya. Tapi itu lebih sebagai pelarian, karena Anda (mungkin) tak ingin mengakui pendapat orang tersebut, dan serta-merta ogah mendengarkan isinya lebih dulu. Padahal bukan tak mungkin orang tak-terkenal dan tak-hebat menumbangkan pendapat yang telah mapan.
Albert Einstein adalah pekerja jawatan paten, dan ia kemudian menyempurnakan Teori Gravitasi Newton dengan Relativitas Umumnya. Stephen Hawking pun demikian, ia cuma mahasiswa pasca tak-terkenal ketika mendebat Fred Hoyle soal alam semesta mengembang. Pierre Fermat juga sarjana hukum, tapi ia jadi matematikawan terkenal.
Kalau Anda tanya saya, jatidiri mereka (sesungguhnya) tak begitu penting. It’s not on the person; it’s on the brain. Seandainya Einstein adalah pekerja toko roti, dan Fermat menjadi tukang kebun, mereka akan tetap sama besarnya jika bisa menghasilkan ide yang sama.
Ini bukan berarti saya menyetarakan diri dengan para tokoh besar tersebut (I’m not more than a stone compared to them as boulders, if you ask me). Begitupun, itu tak mengubah kenyataan bahwa apa yang ingin saya sampaikan itu (harusnya) lebih penting daripada siapa saya sebenarnya.
Meminjam istilahnya DB, tak ada bedanya seandainya saya ini superkomputer jenius — atau malah seekor anjing yang kebetulan bisa mengetik. Semua yang saya tulis harusnya tak berkurang makna kebenarannya (atau kesalahannya) tergantung pada identitas saya.
***
Konon, beberapa orang mengatakan bahwa saya ini blogger anonim… atau, setidaknya, seseorang pernah bilang bahwa saya ini cowok sok misterius™.
Tentu saja alasan utamanya karena saya tak pernah menulis nama asli ataupun tampil di depan publik (baca: kopdar) sejauh ini. Meskipun begitu, percayalah: bahwasanya, saya ini tak semisterius itu kok. ^^
Dulu, saya sudah pernah memberitahu caranya. Kalau Anda menggunakannya dengan tepat, harusnya Anda bisa menemukan banyak data tentang saya.
Ya, Anda bisa tahu saya kuliah di mana sekarang, karena saya sering menyinggungnya di blog ini (walaupun jarang secara eksplisit, sih
). Anda bahkan bisa tahu saya kuliah di jurusan apa, karena itu juga pernah saya singgung di blog ini. Di kota mana saya tinggal. Bahkan nama asli saya selalu saya sebutkan sepanjang waktu… walaupun mungkin tak banyak diantara Anda yang menyadarinya.
Apapun metode Anda, silakan gunakan. Lewat jalur admin kampus pun tak masalah. (
) Sebenarnya saya ini terbuka saja. Just one thing: if you find me, please don’t tell it to everyone else so freely. It’ll be kinda uncomfortable for me.
[OOT]
OK, Mungkin Memang Ada Alasan Tersendiri. Tapi tetap saja jadi Anonim itu Beresiko
Betul sekali. Ada resiko besar yang menghantui semua orang, apalagi yang hobi bersikap kritis, apabila mereka memilih untuk menjadi anonim… yaitu disalahpahami oleh pembaca/pemirsa/penikmat karya mereka. Semua poin di bawah ini sendiri sudah dibahas secara khusus oleh DB di postnya sebelumnya.
Yang pertama, tentu saja Anda akan dianggap pengecut dan bersembunyi di balik keanoniman Anda. Kekritisan Anda akan dianggap tak bermakna hanya karena Anda tak berani membuka identitas diri Anda. Dengan kata lain, Anda dituduh sedang memanfaatkan keadaan deindividuasi sosial (meminjam istilahnya Om Pyrrho
).
Yang kedua, ada kemungkinan bahwa Anda disalahkenali — atau, dalam beberapa kasus, gender Andalah yang salah disebut. Saya sendiri tak pernah mengalaminya secara pribadi; tapi konon Kopral Geddoe, Mbak Hana, dan Mbak Mas Dek Rozen (
) pernah jadi korban. Adapun perlu saya tambahkan bahwa saya sendiri pernah melakukan kesalahan serupa di masa lalu; so there you have it. ^^;;
Adapun yang ketiga, Anda boleh jadi akan difitnah. Misalnya: “Sudah anonim, kontroversial pula. Ini pasti buat naikin traffic dan adsense!”
Padahal boleh jadi alasan Anda untuk anonim jauh lebih mulia daripada semua tuduhan laknat tersebut, sungguh disayangkan.
Jadi, solusinya?
Tentu saja poin kedua (misinformasi) bukanlah masalah yang besar-besar amat. Toh Anda tinggal menyampaikan bahwa lawan bicara Anda salah sebut. Kalau dia memang beritikad baik, tentunya Anda bisa memulihkan nama baik Anda secepatnya.
Tapi, bagaimana dengan yang pertama (tuduhan) dan yang ketiga (fitnah)? Dua hal tersebut jelas bukan perkara enteng.
…hmm, solusi? Anda pikir ada cara untuk menghindar dari ketidaksukaan orang?
There’s no escaping it, d00d. Accept it. Banyak yang tak senang pada mereka yang kritis. Jika Anda jadi tukang kritik anonim, Anda mungkin dituduh dan difitnah. Tapi menjadi tukang kritik yang tidak anonim pun tidak lebih baik… tetap saja Anda dihina dan dianggap cari gara-gara. Bahkan seorang antobilang — yang jelas tidak anonim — pernah dibilang sebagai “udah kecil, jelek, tukang kritik pula!”
Anonim atau tidak, saya rasa tak banyak bedanya. Kalau seseorang itu memang punya kebiasaan untuk bersikap kritis, sudah pasti banyak orang yang tidak suka padanya. Dan kalau orang-orang yang membenci kritikus itu tidak cukup pintar, mereka masih akan punya banyak ide untuk melempar banyak tuduhan lain yang tidak pada tempatnya.
Kembali ke Topik:
Kalau Memang Begitu, harusnya tak Masalah, dong, jika Saya melakukan Tatap Muka/Kopdar?
Euh… bagaimana ya? Walaupun pada kenyataannya saya tak keberatan untuk “ditemukan” oleh orang lain, saya biasanya merasa tak tertarik untuk kegiatan yang satu ini. Saya sendiri juga rada bingung kenapa bisa begitu, tapi begitulah yang sebenarnya terjadi. ^^;;
*ditimpuk sandal* x(
Memang betul bahwasanya, seperti halnya yang disampaikan teman saya di atas tadi, bertemu secara langsung merupakan cara berkomunikasi yang tak tergantikan. Setidaknya, dengan begitu, Anda bisa mengetahui siapa saya sebenarnya — dan mungkin, dengan begitu, Anda dan saya jadi bisa mengenal satu-sama-lain dengan lebih jauh…
…but that’s not sufficient reason for me.
I’m just not really fond of the idea; bahwa saya perlu dan harus datang hanya untuk ngobrol dengan orang-orang yang, aslinya, selalu saya ajak ngobrol juga lewat internet. Nilai tambahnya kurang terasa dibandingkan biasanya… tapi tentunya ini subyektif.
Mungkin, kalau suatu hari nanti ada kejadian luar biasa, di mana para blogger harus berkonsolidasi di dunia nyata (misal: pemerintah membredel akses ke wordpress.com seperti di Turki tempo hari dan akan ada aksi massa) — maka saya akan tertarik untuk bergabung. Itu baru kopdar yang benar-benar menantang dan tepat-kebutuhan. (
). Atau sebaliknya, ada orang/sekelompok orang yang harus saya temui secara pribadi terkait aktivitas di blogosphere; ini mungkin juga akan termasuk kopdar yang -saya anggap- perlu.
Atau bisa juga sesuatu yang terkait pekerjaan, atau apapun yang lain lagi — yang, intinya, benar-benar membutuhkan kehadiran saya agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai. Kira-kira begitu sih, IMHO. (o_0)”\
Tapi kalau sekadar duduk-duduk, ngobrol ngalor-ngidul, dan kemudian bubar, rasanya kok nilai kebutuhannya jadi agak terlalu plain, ya? Mungkin itu sebabnya saya jadi agak malas untuk melakukan kopdar, alias ketemuan langsung dengan sesama blogger pada umumnya. ^^;;
…
…
Begitupun, ini tidak berarti saya tidak menghargai aktivitas ketemuan-langsung pada umumnya. Tentunya itu adalah sarana yang bagus untuk merekatkan komunitas, dan juga bisa menjadi sarana untuk menggalang tindakan blogger di dunia nyata; di samping juga memperkuat silaturahmi antar blogger tersebut. Semua yang di atas itu hanyalah opini saya sebagai seorang manusia yang sangat banyak kurangnya, dan saya yakin akan banyak diantara Anda yang kurang sependapat. So, I’ll keep that as my personal preference.
Akhir Kata…
Jadi? Ah, silakan disimpulkan sendiri. Bahwasanya, saya ini cuma setengah anonim, kok. Saya pun tak berniat mati-matian menyembunyikan jatidiri saya di blogosphere maupun internet pada umumnya. Kalau Anda bisa menemukan saya, ya silakan. Bahkan teman2 sekelas saya yang nyasar ke blog ini umumnya langsung tahu siapa yang ada di balik “sora-kun”; jadi sebenarnya saya ini orangnya cukup gampang ditebak juga.
…
…
…
Ah, ya, soal kopdar, kelihatannya saya belum tertarik untuk melakukannya dalam waktu dekat ini. Jadi buat yang penasaran sama saya kalau ada, you know what to expect.
ah, saia jadi curiga, jangan-jangan Sora9n adalah sebuah karakter yang dibentuk oleh tim intelejen Jepang untuk menyusup dan memata-matai bloger Endonesa ya!?
__________________
saia sendiri menghargai sangadh sebuah ke-anonimitas-an. karena ini memang adalah sebuah dunia maya, masing-masing berhak untuk tidak membeberkan identitasnya. walopun sekarang ini, dengan adanya friendster dan berbagai ajang narsis yang lain (termasuk blog) menjadikan pengguna internet sedikit lebih rileks memajang wajahnya didunia maya. Berbeda dengan zaman kegelapan dulu, dimana foto yang dipajang di internet bisa berakibat pada hancurnya harga diri foto tersebut. *halah*
ah ya, saia juga menghargai karena saia fun adalah sebuah karakter anonim, eh? *baru nyadar*
jadi, kalo gitu, saia ini siafa ya….
jahh…maafken komeng saia fanjang sangadh. soale saia tertarik sangadh dengan anonim. seferti sebuah menciftakan suatu kehidufan yang baru. jadi ndak hanya identitas sahaja.
ralat!
“seferti sebuah menciftakan suatu kehidufan yang baru”
seharusnya
“seferti menciftakan suatu kehidufan yang baru”
maaf mas sora, komeng yang ini dihafus saja. terima kasih sangadh.
Bleh, udah setengah jam searcging pakai berbakai keyword ndak nemu juga…
Baidewei, itu URL-nya ganti aja ke blog saya yang baru.
Dan satu lagi, nama ‘asli’ yang selalu saya pajang di halaman about dan lain sebagainya itu cuma pseudonim, lho.
…yah, mirip kasus anak ini.
Kok, saya juga nggak tertarik dengan kopdar-kopdaran begitu.
Secara estetika, tatap muka itu membunuh seni web-based relationship itu sendiri, lho.
Jadi, kapan kita kopdar, bro?
Ah, iya, dimengerti kok Sora…
Anonim atau tidak?
Itu pilihan masing2…
Manfaat yang Ketiga itu benar-benar menarik dan mungkin menjadi alasan saya untuk anonim
*seandainya saya masih anonim*
Btw, Mas kayaknya berlebihan deh
sejelek-jeleknya anda, gak mungkinlah anda seekor anjing yang kebetulan bisa mengetik
*gak serius mode on*
Anonimitas itu sebenarnya juga daya tarik tersendiri, untuk ide-ide besar dan luar biasa dalam tulisan publik, siapanya itu akan menjadi kepikiran juga
Gimana ya orangnya yang bisa menulis sekeren ini?
Ah itu pendapat saya, anonimitas sebagai daya tarik
Entah kenapa, saya mirip dengan mas sora dalam hal ini.
Anonimitas adalah hidup di bawah bayangan. “…for the rest of time, it will be like no-one even knew we was ever here.”
*ngambil kutipan dari Gangs of New York*
@ komentator di atas: Saya mendapatkan nama lengkap, foto, nomor ponsel, hingga alamat sodara.
Secara umum, apa yang ditulis disini sekaligus jawaban saya atas keanoniman dan keengganan untuk berkopdar-ria.
Betul, itu pertama kali alasan saya untuk anonim. Saya tidak ingin argumen saya dikaitkan dengan siapa saya. Saya tidak ingin orang lain mengamini tulisan saya karena saya adalah SESEORANG alias SIAPA SAYA dan bukan inti argumentasi itu sendiri (APA-nya).
Alasannya jelas, ad Verecundiam masih banyak di jagad blogsphere ini, lengkap dan disertai dengan ad Hominem.
Alasan kedua, saya tidak ingin dikultuskan
seperti Soekarno dan Soeharto dikultuskan karena SIAPA mereka dan bukan apa yang mereka perbuat.
[narsisisme mode OFF]
Tapi saya pernah membaca perdebatan mulut dengan budayawan muda [disini], dimana ada kata-kata yang keluar dan akhirnya terkenal “Anda Bukan Siapa-Siapa”
Kadang anonimitas disamakan dengan tidak bertanggung jawab.
Dan itu dia, anonim seringkali langsung dikatakan berhubungan sebab akibat dengan deindividuasi yang menurunkan kontrol kesadaran diri. Padahal bukan sebab akibat, tapi mempunyai kemungkinan lebih besar untuk terjadi. Signifikansinya tidak dikemukakan, atau memang jangan-jangan nggak signifikan perbedaannya.
Gimana kalau blogger-blogger yang anonim bikin Kopdar Anonim ?
kayak blind date gituh…
*ah, kayak pernah aja nih gw…*
@komentator no. 10:
Saking ngefans-nya kah?
*kabur*
—
Blogger anonim adalah pilihan… *halah* Paling saya cuma kopdar sama blogger yang memang sudah kenal sebelum ngeblog. Hampir tiap hari malah.
@ Komentator di atas:
Nah, indikasi narses najes tuh.
Baidewei, ente pernah kopdar sebagai forumer! Hayo ngaku!
kalo kata syeik spear, apalah arti sebuah nama.
yayaya..teruskan anonim mu itu sora. bagi saya anonim ga gitu penting. tapi saya ingin kopdar! *ratu kopdar*
gimana kalau kita kopdar
beduabetiga sama blogger yang anonim juga? *kedip kedip jijay**lirik hiruta*
Duile segitu irritated nya sampe dibikin post sendiri =S
Kalo menurut psikologi HR Bisnis, Anda itu pasti tipe tulisannya tinggi2 (kentara kalo nulis Y,g,T,J), dan sangat distinct antara hurup kapital sama hurup non-kapital nya, dan rapet-rapet nulisnya. Menunjukkan gejala power distance yang akut, yang sangat peduli dengan imej diri di mata orang lain, dan pribadi tertutup.
apakah saya benar?
*iya sy sotoy, memang.hore.tapi sotoy nya berdasarkan textbook loh (tambah sotoy)* XD
@ Hoek Soegirang
Fufufufu… >:3
*tangan di depan mulut, ketawa misterius*
Jamannya eyang kakung…
Saya juga kadang-kadang merasa begitu sih… walaupun kadang-kadang kehidupan yang “lama” juga turut mempengaruhi kehidupan yang “baru”.
misalnya kuliah xP:::::
@ Goenawan Lee
Lagian pindah hosting, sih…
BTW, space upload wordpress sekarang free 3 giga lho. xD
Segera dilaksanakan…
:::::
@ Kopral Geddoe
*celingak-celinguk*
I think it’s about time someone coming up; then saying “tuh kan, udah dibilangin, Sora sama Difo itu emang mirip!!!”
*siul-siul*
Ya, sebenarnya sih dua-duanya punya kelebihannya sendiri. Web-based bisa menjangkau daerah lebih luas, tapi kualitasnya kurang. Sementara tatap muka masih belum bisa tergantikan — terutama buat hal2 penting seperti pekerjaan, event-organizing, dllsb. ^^;;
BTW, saya kemaren ditegur sama temen soal ini. Gara-garanya dosen negur kelompok tugas saya, tapi saya lagi libur… terus saya minta rangkuman keluhannya dikirim lewat YM aja. ^^;;
*rada gak manusiawi juga sih, itu*
:::::
@ antobilang
Kalau blogger mau demo di Jakarta. Kan udah saya tulis di atas.
:::::
@ jejakpena
Selamat, ternyata Andalah blogger yang mengerti saya™.
:::::
@ maxbreaker
Yup, yup. ^^
:::::
@ secondprince
Hohoho!
Saya kan meminjam istilahnya DB, “nobody knows you’re a dog”.
*mikir*
Ada nggak ya, orang yang berpikir begitu tentang saya…?
:::::
@ Xaliber von Reginhild
Hidup di bawah bayangan nggak baik Mas. Menghambat pertumbuhan tuh, soalnya nggak dapet vitamin D dari sinar matahari.
:::::
@ Goenawan Lee (lagi)
Pake teknik intelnet™ ?
:::::
@ Pyrrho
Hohoho! Kita sepemikiran, Mas.
Benar, saya juga. Saya juga. Saya juga.
*disambit*
Wah, saya kebayang hal yang aneh nih…
:::::
@ Xaliber von Reginhild (lagi)
Saya juga kok.
*cheers*
:::::
@ Goenawan Lee
Iya, betul juga. Kalo nggak salah pernah gitu ditulis di blognya…
:::::
@ cK
Syeikh Spear? Siapa? Ulama padang pasir?
Bedanya apa? ^^;;
No, thanks.
:::::
@ Apret
Enggak juga, kok. Sebetulnya ini gara2 ada dua orang yang ngomongin anonimitas selama seminggu itu, jadi deh di-post. Lagian udah lama nggak ngepost sebelumnya, jadi deh.
*liat tulisan tangan*
Tulisan saya kecil, kok. ^^;;
Nah, yang ini bener.
Nggak rapet banget, IMHO. Biasa aja, dan jaraknya ke bawah 1.5 spasi (kira-kira lho!)
Power distance itu apa?
*bingung*
Nah, yang dua terakhir ini cocok.
…
…
Ilmu sotoy-nya lumayan juga.
Tapi bentuk tulisan tangannya beda, sih. ^^;;
Ente jangan pura-pura ga tau, boss.

Hayo file apa aja yang bisa di-upload di WP.com hayoooo…
Sanggup ndak sampai 3GB? 100 MB aja sulit dengan file ekstensi cuma segitu.
Iya dong.
Btw saya tersinggung dengan “L” ini.
Maka dari itu…
Eureka!
@ Goenawan Lee
Iya sih, memang tipe2 filenya sendiri nggak butuh space gede2 amat.
Tapi bisa aja kalau mau photoblog, jadi yang diupload itu foto2 hi-res semua. Lumayan tuh, 1 file 3 MB lho.
Hei, saya udah menulis post itu jauh sebelum kenal sama Anda™.
::::::
@ namain
Ya…? ^^;;
*bingung*
Jika saya anonim, maka keberadaan saya yang di dunia nyata seperti hantu bisa tambah misterius lagi.
*halah, afaan seh…*
silahkan……..
[...] tahu”. Sebetulnya sih saya tertarik memakai kata ini gara-gara disebutin sama mbak ini waktu nulis komen di post yang lalu. [...]
Gejala power distance yg tinggimenunjukkan kesadaran tinggi akan strata sosial atau hierarki. Biasanya orang2 ini bersifat paternalistik atau autokratik, menyukai sesuatu yang formal dan teratur. Stoic. Otoriter. Diktator. Koruptor (yg terakhir ngaco)
Melihat gejala power distance anda, ternyata anda tipe cowo tsundere ya -_-”
@ Apret
Kenapa pula saya jadi tsundere!!??
Saya kan nggak membenci seorang cewek habis2an sebelum jatuh cinta sama dia…?
*merasa kena pitnah™*
[...] Cermin itu ada disini … [...]
q juga neh ketularan sora pake anonim
tapi sora terkadang anonim tuch dianggap takut menghadapi kehidupan nyatanya, sehingga mencari pribadi lain yg bukan dirinya.
Tapi kamu ga gitu kan???
*mulai ngluarin air mata*:(
^
Nggak segitunya, kali… ^^;;
Yang jelas, saya punya beberapa alasan untuk bersikap anonim. Bisa disarikan dari tulisan saya di atas.
Boleh-boleh saja ketika membuat tulisan di blog identitas asli tidak dimunculkan. Tapi ketika register ke penyedia layanan blog harusnya menggunakan identitas asli. Jika waktu register dan saat menulis pake anonim, maka menurut saya anonim itu tak lebih dari seorang pengecut.