Dulu, waktu saya masih SMA, saya beberapa kali pulang bareng beberapa orang teman. Nggak sering-sering amat sih; sebetulnya lebih tepat kalau dibilang bahwa kejadian itu cuma berlangsung dua-tiga kali seminggu… dengan hari-hari yang tak pasti juga kapan tepatnya. Kalau ada yang ngajak bareng ya, saya pulang bareng.
(Malah, kalau lagi beruntung, ada teman yang bawa motor dan bisa saya tumpangi sampai separuh jalan. Tapi bukan itu yang hendak saya bahas untuk kali ini.
)
Nah, layaknya anak-anak SMA yang jalan berkelompok, sudah pasti porsi terbesar waktu yang ada dimanfaatkan buat ngobrol. Temanya bisa tentang apa saja — entah itu soal bola, Ujian Akhir, kampus tujuan, ataupun lain sebagainya. Ada juga yang nggosip sih; tapi biasanya orang-orang yang pulang bareng saya nggak tertarik membahas tema yang satu itu.
Menariknya, walaupun biasanya saya bisa ngobrol apa-adanya dan adanya-apa dengan rekan-rekan tersebut, ada satu jenis obrolan yang sering keluar. Biasanya pembicaraannya dimulai oleh rekan pemilik motor yang sering saya tumpangi ketika pulang… walaupun beberapa lainnya juga sering menanyakan hal tersebut.
Dia:
“Lo kebanyakan sendirian, tuh.”
Saya:
“Hmm, terus?”
Dia:
“Cari pacar sana. Kayaknya gw seumur-umur nggak pernah liat lo bareng cewek.”
![]()
Saya:
“Gimana yaa…”
*sambil ketawa-ketawa nggak jelas*
![]()
Sesungguhnya, rekan saya yang satu itu memang belum lama jadian (baca: berhubungan dengan komitmen
). Jadi, mungkin dalam hati dia ingin agar saya juga merasakan kebahagiaan yang sama. *cueh, bahh… xP*
Saya:
“Sebaiknya jangan. Syaratnya berat.”
Dia:
“Apa?”
Saya:
“Well… satu dan lain hal.”
![]()
Dia:
$#@%$^…
![]()
Saya:
![]()
Tapi, sejujurnya, masalah yang satu itu memang bukan tema yang saya ingin fokuskan dalam hidup. Kalau ada yang naksir, ya silakan; tapi saya nggak janji bakal naksir balik. Ibaratnya, kejarlah daku dan kau kupertimbangkan. Kalau nggak cocok? Ya, apa boleh buat? ^^
*ditimpuk sandal*
***
Ada juga teman saya yang lain, yang sering belajar bareng dengan saya menjelang akhir kelas 3. Waktu itu, kami ngobrol mengenai berbagai topik: soal ujian, soal (calon) kampus, soal idealisme, pelajaran sekolah, dan lain-lain. Biasanya kami pulang bareng naik metromini di sore hari.
*sambil menunggu bis oranye tiba*
Dia:
“Orang Indonesia itu mentalnya masih suka berbuat curang. Kalo gw sih, mending nggak lulus tapi dengan usaha sendiri — daripada lulus kayak begitu.”
Saya:
“Udah budaya, itu. Kalau nggak ada perubahan radikal ya, susah.”
![]()
Saya:
“Dulu kan ada Mahapatih Gadjah Mada. Waktu itu beliau Sumpah Palapa… mungkin Indonesia butuh orang yang mau bersikap kayak begitu.”
Dia:
“Misalnya?”
Saya:
“Misalnya…” *mikir*
“Ah, misalnya begini: ‘Saya bertekad tidak akan punya pacar sebelum membawa Indonesia ke arah yang lebih baik!!’”
![]()
Dia:
“…serius lo?” ^^;;
Saya:
“…enggak juga, sih.” ^^;;
Jangan tanya bagaimana hal itu bisa terlintas di benak saya. Yang jelas, dialog di atas itu benar-benar pernah terjadi.
***
Ajaibnya, walaupun saya berkali-kali tidak menunjukkan ketertarikan dalam menjalani hubungan dengan komitmen™ tersebut (
), teman-teman saya masih sering menyarankan agar saya memulai hubungan yang satu itu. Saya sendiri biasanya cuma senyum-senyum kalau dialog macam itu terjadi.
Teman:
“Lo itu orangnya keras. Sana, cari cewek buat pelembut hati.”
![]()
Saya:
… ^^;;
Teman yang disebut pertama tadi, yang sering saya tumpangi motornya di kala pulang, bahkan bersikap lebih tegas.
Dia:
“Oke. Gw doain lo bisa kuliah di Bandung.”
Saya:
“Wah? Tumben.”
![]()
Dia:
“Terus, kalo udah di sana, lo harus jadian sama seorang cewek. Terus kirimin fotonya ke gw lewat e-mail… biar bisa gw nilai standar lo kayak gimana.”
![]()
Saya:
“……”
Permintaan yang sulit saya kabulkan. Bahkan sampai tiga tahun lewat setelahnya. ^^;;
…
…
…
Terkadang, teman-teman saya keheranan sendiri soal ini. Beberapa bahkan — secara bercanda — mengatakan bahwa saya mungkin gay, karena lebih sering ngobrol sama cowok dan nggak pernah terlihat punya ‘gandengan’. Wah, prasangka dari mana pula itu? dari hongkong!?
Meskipun begitu, bukan berarti saya nggak pernah menyukai seorang cewek pun, sih. Ada satu orang yang sangat khusus di hati saya pada periode tersebut… yang, sayangnya, tak bisa saya ‘tembak’ karena satu dan lain hal (ceritanya panjang; bisa jadi post tersendiri). Yang jelas, orang itu adalah satu dari sedikit orang yang bisa melampaui berbagai syarat yang saya tetapkan…
…waktu SMA. Kalau dikasih standar yang saya tetapkan sekarang, kayaknya dia juga nggak bakal lolos. No one made it yet, however; so she still leads on the race.
Jadi? Sebenarnya saya ini bukan tipe orang yang anti-komitmen (a.k.a anti-pacaran) banget kok jangan samakan saya dengan rombongan pencinta ta’aruf yang terpaku pada nama itu! . Saya sih terbuka aja. Sayangnya nggak banyak cewek yang bisa benar-benar memenuhi tipe saya; alhasil saya pun terus sendirian sampai saat ini. ^^
*ditimpuk sandal lagi*
…
…
Ah, hari ini hujan. Saya jadi teringat waktu saya pulang naik angkot di hari Sabtu yang berhujan pas SMA dulu…
*larut dalam kenangan*
*walaupun jauh lebih senang kuliah daripada SMA, sih*
—–
Ps:
Sebagian besar kisah di atas adalah fakta, dengan sedikit bumbu fiksi.
PPs:
Semua tanda trademark (™) di post ini adalah disengaja.
Oh, we are so similar.
Oh, and don’t think of anything funny.
@ Kopral Geddoe
Again? ^^;;
What is? (o_0)”\
Well, aside of that, whatever things can be fun if you look at it by some different angles… mostly. That’s why we have satires.
*well, that wasn’t meant for satire up there, though*
…eh?
Rupanya saya juga serupa dengan mas sora dalam hal ini.
Well, yes. Pitying oneself makes an excellent joke.
Sayangnya saya ga serupa.
Partner saya, oom Joe pasti bakal ngetawain kalian kali ini.
..dasar para homok™!
wakakakakk…
kok tampaknya saya kenal dengan si dia ya?
gapapa kok sora. mematok standar tinggi bukan berarti terlalu picky, tapi ini semua untuk yang terbaik buat kamu dan calon pasanganmu khan?
*been there, done that~*
are you a gay? oh my god!
*menangisi poster
sorasousuke sagara*Pasti pengunjung setia effendi[dot]com
Homok™ ITB…
Kamu perfectionist





——————————————
Ha iya beneran… ini mirip saya juga …
Bedanya sih saya dah memutuskan untuk mengakhirinya …
Dah nikah maksudnya … Dan menemukan yg sesuai dengan kriteria… malah lebih lagi. Semoga istriku membacanya …
—————————————–
Berbahagilah sora dan teman2 semisalnya, karena DIA telah menyelamatkan kita melalui “Tangan” Kesayangan-NYA.
Lha dengan begitu pikiran kan bisa lebih fokus ke permasalahan ummat …
Maksudnya fokus ke perkuliahan dan aktivitas pengembangan diri lain. Kan untuk ummat juga
Apa iya ya ?——————————————
Asal jangan keterusan, terus jadi lupa kebutuhan batin eh kebutuhan lain itu…
Lha kalo gak butuh gmana ? Ya benar, gay kali …
——————————————
#Lirik2 dong sora ke pak Shodiq yang istiqamah mnjajakan dagangan pacaran ala-nya .. Mana tau ada pncerahan
Kakakku masuk ke dalamnya nggak, ya?
*ditimpukin sama kakak kandung*
Awas Kak Sora, matok standar ketinggian malah jadi mudah kecewa, lho…
(halah, nak kecil tau apa, sih? *dilempar sepatu bot*)
*timpuk Sora…*
#1, km bukan satu2nya orang yang bertipe sperti itu, baik saat SMU dulu, maupun saat km baca komen ini. Yg ngaku senasib diatas ada kan?
Sy jg jomblo mulu kok, smasa SMU duluuuu…
#2, sooner or later, love will find you… (dan gak ada salahnya jadi pihak yg pasif -dgn standar tinggi-)
#3, skali2 ceritalah jg tentang “standar tinggi-mu” itu. Siapa tau diantara pembaca ada yg merasa memenuhi syarat, trus kirim lamaran…
memang cewek seperti apa yg hrus mmnuhi standart.. mngkin bg seorang cewek km jg kurang mmnuhi syarat….. kl ya. toh dlm dunia ini g ada seorang pun yg smpurna..yg pnting bagaimana kt mnyikapi ktidak smpurnaan itu..
asal jngan saling mjelekkan aja
Kadang kita memang punya pilihan.. tapi suatu saat, kita mau gak mau harus patuh pada kehendak alam semesta, yaitu…. bereproduksi
btw, untuk masalah yg satu ini.. bahkan orang jenius-pun bisa bertidak idiot
, melakukan hal-hal yang tidak masuk akal…
good luck.. seperti kaya chika.. “been there done that
“
aha!
teman sepernasiban.
salam kenal y
*menjabat tangan erat*
sora sora bergembira belum punya pacar,
orang jadi gila, gila karna sora
Deja vu, sedikit.
Ya, kalau mau punya pacar, jangan pakai untuk main – main. Soalnya yang begitu bakal dicap Buaya Darat.
he…..jomblo ya????gak ada yang salah kok
ah, jadi selama ini dia yang disana itu beleum memenuhi kriteriamu?
Sora…Sora… kurang apalagi sih, dia?
*ditimpuk kulkas*
*baca komen komen Geddoe & Sora*
aih, mesranya…
Weeee pacaran nih…
Skrg dh punya pacar bLm?
Ahaha, sebagai sesama anak ITB saya mengerti, tapi begitu ironis
(
dinikmatin aja perjalanan cinta itu indah,hehehe!
tapi sekarang dah punya pacar kan? Amiiiiinnnnn….(^-^!)v
Temen saya juga ada tu yang kayak gitu, tapi cewe sie. Klo ditanya pengen cowo yang kayak gimana, malah bilang yang kayak Kenshin(samurai X), nemu dimana ya cowo gondrong bercodet? (lha ko jadi curhat?)
cK:::
lha kamu chik? lesbian?
#Dekisugi
chika…maafin chiw…@ Xaliber von Reginhild
Entah kenapa, saya nggak begitu heran mendengarnya.
:::::
@ Kopral Geddoe
Sounds that you’re pretty sure. Are you usually doing that on yourself?
:::::
@ rozenesia
Ah, saya kan tipe orang yang sekali jadi. Jangan samain saya sama mas Gun dong, yang harus nembak dan putus sekian kali sebelum menikah.
*berlagak tinggi*Hee? Bukannya ente lebih sering kopdar sama bayut daripada saya, ya?
:::::
@ cK
Mana mungkin. Emangnya lo kenal siapa di SMA gw?
Wah, pengalaman pribadi ya? Pantesan nasihatnya mantep.
Kalau kecewa, bilang aja mbakHus, harusnya gw udah ganti avatar dari tengah tahun lalu. Cuma aja banyak yang protes; makanya gw bertahan denganpenampakanSousuke yang sekarang.:::::
@ rozenesia (lagi)
Hey, what’re ya laughin’ at?
Apa pula itu? (o_0)”\
:::::
@ Herianto
Sangat tepat sasaran.
Yah, bapak… bapak kan lebih tua daripada saya. Wajar saja kalau udah menemukan…
Tapi, kalau udah ketemu ya, saya juga bakal serius kok. Cuma kayaknya itu masih lamaaa sekali.
Hohoho!
Ah, benar juga. Selama ini main ke sana kadang-kadang aja, soalnya.
Nanti2 ke sana lah.
:::::
@ Cynanthia
Apaan tuh emoticon ngakak? Hah? HAh? HAH???
Lho? Kakaknya mbak ini kuliah di sana? (o_0)”\
*baru tahu saya*
Pengalaman pribadi kah?
*siuuuungg*
*bletaaakkk*
:::::
@ jensen99
#1 Wah, mas jensen juga? ^^;;
#2 Aha! Asal later-nya jangan telat banget aja…
baru ketemu bidadari kalau masuk surga, maksudnya#3 Sebenarnya syaratnya gampang kok. Nggak usah cakep yang penting lumayan manis; nggak usah IP 3-koma, yang penting bisa berpikir logis; bertanggung jawab; nggak kuatiran dan nggak minta diperhatiin; enak diajak ngobrol; punya idealisme sendiri…
…
…wah, udah panjang. Padahal masih belum selesai lho.
*ditimpuk batu bata*
:::::
@ yuniretno
Ah, itu bisa dibaca pas tanggapan saya buat mas jensen99 di atas. ^^
Yaah, mungkin juga sih. Kalau memang orang yang saya suka berpikir begitu, ya apa boleh buat. Tapi yang saya suka sendiri belum ditemukan sampai saat ini… jadi kayaknya masalah itu bisa dipinggirkan dulu sementara waktu.
Yup, yup. ^^
:::::
@ warnetubuntu
Waduh…
*bersiap-siap menjalani hidup ala pertapa, supaya bisa mengatasi dorongan tersebut ketika tiba waktunya* (=_=)!
Wah, kayaknya saya cenderung idiot dalam masalah ini. Berarti saya ini jenius, dong.
*ditembak pakai bedil*
Ah, terima kasih. Senang rasanya menerima nasihat yang bersumber dari pengalaman pribadi.
:::::
@ fikripisan
Waduh…? ^^;;
Ah, salam kenal juga.
:::::
@ Abeeayang™
Maksudnya?
::::::
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Entah kenapa, saya nggak begitu heran mendengarnya.
*copy-paste dari reply buat Xaliber*
Tentu saja. Saya kan pria yang bertanggung jawab.
*dibakar massa*
:::::
@ fikriana
Lha, iya. Makanya saya masih begini-begini aja sampai sekarang.
:::::
@ Mrs.Neo Fortynine
Siapa? Siapa? Lagi ngomongin siapa nih??
Hus, dilarang nggosip!
Ah, kebetulan MK lingkungan termal saya dapet jeblok.
*lempar kulkas gede yang ada di lab*
Ya ukhti, itu namanya ikhwan fillah. Sebagai sesama muslim
seenggaknya waktu lahir, tentu saja saya dan Geddoe itu bersaudara. Makanya harus akrab dan saling mencintai karena Allah.*dilempar molotov*
:::::
@ Hanster
Wah, harusnya jangan tanya saya. Tanyalah sama mereka yang naksir saya… kalau mereka memang cukup layak, sudah tentu akan saya tanggapi dengan serius.
*dibantai*
*penyakit narsis gila-gilaan sedang kambuh* x(
:::::
@ mistervandy
Hue? Apanya yang ironis? ^^;;
:::::
@ citra
Wah, lebih susah saya kayaknya. Soalnya saya
mimpinyapengennya sama cewek yang gabungan Shiori Misaka (Kanon) dan Hikaru Shidou (Magic Knight Rayearth). Bingung-bingung dah tuh. T_T*ah, jarang ada cewek tomboy yang sopan-tapi-tangguh dan bertanggung jawab, sih*
:::::
@ Dekisugi
Ya akhi, janganlah membicarakan hal-hal yang syubhat™ semacam itu.
Jangan berbicara kalau tak ada ilmunya™, sesungguhnya diam adalah hikmah™.
:::::
@ chiw (lagi)
Nah, sekarang siapa yang seleranya lebih pantas dipertanyakan? Bisa Anda™ lihat bahwasanya™ pemfitnah sayalah yang kredibilitasnya™ meragukan.
*sambil memandang cK dengan tatapan menghina*@sora9n:
Ndak, kok, tapi itulah realita-nya, Tuan.
*kerap melihat teman-teman yang kuciwa dalam pacaran setelah mematok standar ketinggian*
@ sora
kirain teman yang bersangkutan itu yang sedang berhubungan dengan komitmen..
waduh…gue banget!
berarti saya nggak bisa. karena ip saya tiga koma…
ini gue banget…
jadi inget pernah ngebahas beginian ama sora..
duh…panjang. udah ah segini aja komennya..
btw, kalau posting beginian, kok sora terkesan lebih ‘hidup’ ya?
*nyiapin barbekyu untuk taun baru*
@ dekisugi
tanpa skringsut semua itu hoax!
yaah, semoga nanti ketemu yang ‘pas’
[emangnya cewek itu kopi???
]
Ahihihi…
Jadi ingat teman saya yang nyari ‘temennya’ pas masih sekolah dulu lewat internet. Coba aja Sora mana tau manjur
*ditimpuk*
been there indeed,
tapi sora, kadang2 wlopun udah nemu yg nyesuain standar, ga sebagus bayangan dan realita nya lho.
kadang justru, bersama org yang jauh dr bayangan, itu jauh lebih menyenangkan, unpredictable!
oyea, ini pengelamana pribadi, FYI@ Cynanthia
Yah, doakanlah agar saya nggak mengalami nasib serupa itu.
:::::
@ cK
Bukan itu yang gw maksud.
BTW, memangnya ada, ya? Siapa orangnya? Jadi penasaran, sapa tau gw kenal juga.
Sampe segitunya ngebanding-bandingin. Tertarik?
Jadi selama ini gw terkesan lebih “nggak hidup”, gitu?
:::::
@ saRe’
Kok kopi, sih? Sepatu, lagi.
Kemaren pas saya nyari sepatu baru, nggak ketemu-ketemu lho. Kadang-kadang ada yang modelnya bagus, tapi ukurannya kecil… lain kali ada yang pas tapi harganya kemahalan. Bahkan saya sampai disuruh nurunin standar lho…
…mungkin bisa dibilang bahwa milih sepatu itu seperti nyari cewek.
:::::
@ jejakpena
Temen atau temen…??
Ah, liat aja nanti. Nggak perlu buru-buru; saya ini orangnya cukup sabar kok.
*ditimpuk balik*
:::::
@ grace
Wah, iya ya?
Kalau begitu, saya harus ngubah standar dong. Siapa tahu dengan mengharapkan cewek yang bodoh dan pecicilan, saya bisa dapet pasangan yang unpredictable — yaitu yang cerdas dan kalem.
*dilempar batako*
Kalau begitu, terima kasih atas kesediaannya untuk berbagi di sini.
Gahaha.
Apakah ini adalah jalan para INTJ?
*menggeneralisir seenak jidat*
*di-headshot*
Btw, saya suka paragraf keenam (tanpa termasuk dialog) pada tulisan di atas, mas…
….
*
*nendang sora, kan disamain sepatu sepatu
>>Saya sih terbuka aja. Sayangnya nggak banyak cewek yang bisa benar-benar memenuhi tipe saya; alhasil saya pun terus sendirian sampai saat ini. ^^
duh, sombong banget sih loe.. tapi km cari paca buat jadi istri kan?? *halah* kalo gotu syaratnya…blablabla.. panjang lah
>>Ah, hari ini hujan. Saya jadi teringat waktu saya pulang naik angkot di hari Sabtu yang berhujan pas SMA dulu…
jangan-jangan km punya kenangan sama ‘y’ alias yud1 yah wkt SMA?? ih…
abisnya mirip sama postinganya y bulan kapan lupa tapi kata-katanya mirip hehe *ditimpuk yud1*
btw lily “yg kejam”numpang komen mudah2an sora ga lupa sama saya
eh eh komen lagi pacar itu benda apa sih??
*tidak sedang erpura-pura culun*
*saya memang culun*
*ditimpuk sora*
@ Xaliber von Reginhild
Mungkin memang para INTJ jalannya kayak begitu. Geddoe sama DB juga katanya sama tuh di atas. ^^;;
Ah, yang ini?
Nak, yang itu bukan sekadar kalimat. Itu adalah weltanschauung! Cara memandang dunia™bagi pria!. Way of life itu!
*dibunuhin para cewek yang denger*
:::::
@ saRe’
*kena tendang*
:::::
@ lily
Bukannya sombong, mbak. Itu kenyataan… kalo mau gampang mah saya udah berkali-kali jadian dari dulu.
*dibunuh*
Ya, makanya itu…
Enggak. Saya sama yud1 SMA-nya beda kok. (o_0)”\
Ah, nggak perlu dijelasin kayaknya. Orang culun mah nggak bakal ngerti.
*ditembak pake meriam*
Wah, selamat atas keculunan Anda kalau begitu.
*kena peluru meriam*
*mati* x(
Apa gara-gara terkait dengan perfeksionismenya kah?
Kalo buat saya sih yang pertama
xmemang harus yang berkesan.*memahami perkataan sesepuh dengan baik
*
Baik, Guru, saya berada di jalurmu.
*sembah-sembah*
ntar kalau punya cewek, diposting ya sora…
*menunggu
sampai kiamat*@ Xaliber von Reginhild | Kopral Geddoe
*ketawa megalomaniak*
:::::
@ cK
Ah, mari kita tunggu dan lihat datangnya saat itu.
*sok resmi*
sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar besarnya kalau kalau komentar ini menjadi serangan terhadap perasaan anda.
Begini: Jikalau sampai sekarang anda belum pernah pacaran atau jadian dengan cewe, anda memang tidak akan dibilang pria Homosexual, beda dengan wanita yang kalau kelamaan menyendiri bisa dibilang, minimal dituduh dan disangka lesbian atau frigid. *nyari nyari si Chika*
Namun, selain seperti anggapan yang anda paparkan diatas, masih ada kemungkinan lain yaitu: Anda dicap sebagai laki laki payah yang ga pernah pacaran. Dicap engga berani nembak cewe lah, dibilang takut menyatalkan cinta lah, sampai sampai di gosipkan takut kepada/berdekatan dengan wanita. Tapi ini sebenarnya cuma anggapan yang beredar luas di masyarakat saja sich.
Sebelum hal yang lebih buruk terjadi, lebih baik carilah wanita yang mencintai anda, sehingga anda kaan belajar untuk mencintainya. daripada mencari wanita yang akan anda cintai dan mimpikan sebagai istri dan ibu dari anak anak kelak, karena wanita yang itu belum tentu mencintai anda dengan sepenuh jiwa, belum tentu memimpikan anda sebagai laki laki yang bakalan menidurinya setelah akad nikah atau laki laki yang dimimpikannya hingga basah.
Emm, sudah mulai sok tau dan ngaco. Sekian dulu. Mohon maaf kalau ada salah ketik, salah kata, apalagi kalau sampai menyinggung perasaan. Terima kasih.
*baca komen atas*
farid edan!!
Yaelah giliran topiknya gini komennya banjir, ahahah
Kalo prinsip gw mah dari dulu cuman 2 :
1) Good guys are either taken or gay
2) Gays are women’s best friend
Duh tapi gw juga jomblo :S, jomblo itu pilihan dan jalan hidup (dan bukannya nasib XD), hidup anak muda tanpa komitmen!
bodoh dan pecicilan?
cuma mau konfirm, apakah maksud sora itu dua tipe personaliti yang berbeda ato dua personaliti yang saling berhubungan?
*yes offended karna saya pecicilan*
@ Neo Fortynine
Euh, menyakiti hati? Nggak, nggak segitunya amat kok Mas.
Hehehe, yang buruk-buruk itu kan anggapan orang. Saya ini kan tipe orang yang jalan terus; tentunya berbagai gunjingan massa itu bukan hambatan bagi saya.
*ditimpuk batu bata*
:::::
@ cK
Kesepet, mbak?
:::::
@ Apret
*ngakak*
Hey, that’s not true!
since I’m good, single, and not gay xDSilakan baca komen no. #37, #38, dan #39 kalau begitu.
:::::
@ grace
Maksud saya, mungkin aja nanti saya bisa dapet cewek yang cakep sekaligus pinter kalau saya ngejar cewek yang bodoh sekaligus pecicilan…
*daydreaming*
*bijak mode on*
Anakku, aku telah melihat banyak hal selama hidupku. Orang-orang hebat selalu merendah, dan harimau selalu menyembunyikan kuku.
*bijak mode off*
Jadi, kalau mbak ini bilang bahwa dia itu pecicilan, bisa jadi kenyataannya itu sebaliknya. Betul, betul?
*ngakak*
Eh, ada juga yang nampakin ‘kukunya’ kok, walaupun aslinya dia memang hebat sih.
Tapi orang hebat yang rendah hati tetap lebih baik…
*bersiap nyari*
@ jejakpena
Saya?
*dilempar pisau*
mungkin kamu terlalu banyak mikir untuk milih cewek.
apa keuntungan atau kerugiannya.
dan terlalu terpaku pada patokan ideal kamu.
percaya deh,, nda ada cewek yang sempurna, haha…
Halah, masalah orang gede,, Ma ga ngerti,,
*sok masih muda*
tapi,, kok kayanya kalimat ini rada familiar ya,,
dasar cowo-cowo super pede dengan waham yang bener bener aneh,,
eh, satu lagi,, pecicilan itu apa sih? sifat orang?
*yang ini ga ngerti beneran*
@ atmo4th
Ya, iya. Saya tahu nggak ada cewek yang sempurna. Cuma, susahnya, saya ini orangnya perfeksionis dan keras kepala…
:::::
@ Rizma
“Jangan salahkan…”
Iya, itu sifat orang. Biasanya cewek sih; kira-kira yang rada ribut, sok-imut, dan hobi bertingkah atraktif.
*ini aslinya vocab gaul Jakarta bukan ya?*
kalo kamu emang cinta dia, dia pasti sempurna di mata mu. masalahnya, kamu cinta siapa?
@ yeah, whatever..
Begini, begini. Ada orang yang jatuh cinta dulu, baru menetapkan untuk menyukai segalanya dalam diri sang cewek. “Aku mencintai kekuranganmu…” (kayak lagunya Once, gitu
).
Tapi ada juga yang sebaliknya — yaitu melihat keadaan dulu, dan terpesona serta jatuh cinta setelahnya. Nah, tipe yang terakhir inilah yang mirip gw…
…dan diantara kedua tipe itu, ada perbedaan yang sangat besoarrrr.
*ditimpuk*
sial, tersepet balik… postnya yud1 yang satu itu memang edan
eh, mau melihat keadaan sampai kapan? *baca: kapan aku dapat undangan pernikahan mu? *
@ rifu
Wah, susah… soalnya tipe cewek yang bisa menarik perhatian gw itu memang langka.
Silakan baca (sedikit) bocorannya di post yang paling baru.
[...] Sayangnya, bisa jadi tafsiran itu kurang tepat karena saya tak menaruh banyak perhatian pada hal-hal semacam itu di masa SMA. Kedua, soal penderitaan penyakit. Ketiga, berkaitan dengan utang tugas karya tulis yang masih [...]
*kesummon*
*lirik-lirik*
hm, hm, =3
*angguk-angguk pake gaya Konata*
…oh.
*ketawa jumawa*
*pergi lagi*
[...] eh, ini bukannya sotoy[1] lho. Walaupun kenyataannya saya sendiri belum pernah punya anak (pacaran aja males! =_=!) — saya sering melihat contoh kasus bahwa nama-nama anak bisa jadi sangat… apa ya? [...]