Konon katanya, saya itu orang yang beruntung. Karena saya bisa kuliah, ketika banyak orang terpaksa kerja serabutan dan tak bisa belajar di kampus.
Ibu saya bilang, saya harus bersyukur. Karena saya bisa masuk dan diterima di jurusan yang (dulunya) saya tandai sebagai “pilihan pertama” di form pendaftaran SPMB.
Orang-orang berkata bahwa kampus saya adalah harapan dan mimpi yang ingin dicapai oleh banyak orang… dan, oleh karena itu, saya harusnya sadar bahwa saya ada di sini untuk mimpi-mimpi mereka yang gagal itu. Mereka mungkin berhak kecewa karena orang yang menggantikan mereka di kampus ini bukanlah mahasiswa yang hebat-hebat amat.
…
…
Tapi, saya muak.
Dipaksa tiba di kampus pukul tujuh empat hari seminggu, dengan dosen yang menutup pintu jika saya terlambat. Tak peduli jika saya kesiangan karena sebelumnya mengerjakan PR ataupun hal lain yang lebih tak berguna daripada itu.
Jumlah kehadiran minimal 80%, dengan menghitung kasus ‘tutup pintu’ di atas. Tidak terpenuhi? Maka saya harus mempersiapkan diri untuk sebuah nilai E di transkrip saya nantinya.
Saya bahkan tak mengerti dosen siapa membicarakan materi apa. Mungkin karena saya bodoh, bahlul, dan bukan manusia pembelajar™.
Asisten memberi saya selembar ujian yang tak bisa saya kerjakan. Mungkin nilai saya tak akan lebih dari 30.
Terjebak di lab demi tugas besar satu semester, untuk pekerjaan yang hingga sekarang belum beres juga. Mungkin saya akan jadi salah satu hantu penunggu lab kalau begini.
Memaksa diri datang kuliah di pagi hari, dengan mata merah akibat kurang tidur. Tebak apa? Dosen tidak datang, dan asisten memberikan selembar quiz yang tak saya mengerti maksudnya. Keparat.
…
Sejujurnya, saya muak.
Being pushed around like idiot. Mengerjakan hal-hal yang rutin dan tiada habisnya, dan menelan kejengkelan yang ada seorang diri. Menghadapi soal yang tak bisa saya kerjakan. Dipaksa memenuhi kehadiran minimum hanya supaya nilai saya tidak langsung di-ground. Buat apa?
Demi ijazah? Buat lapangan kerja? Supaya status saya jadi lebih ‘berharga’ karena berhasil lulus S1?
Cuih. Bah.
…
Demi Tuhan, seandainya saya sudah punya pekerjaan tetap dan terjamin, saya pasti sudah menulis surat pengunduran diri sebagai mahasiswa kampus ini. Sayangnya kenyataan dunia tak seindah itu. ![]()
Sy jd ingat curhatnya yud1 bbrp minggu y.l. yg lumayan mirip, cuma reaksi dia wkt itu mo bikin revolusi di kampus. Sora ternyata cm pengen kerja ya…
Sy rasa tiap fase hidup ada tekanannya sndiri. Saat kul ya spt itu. Saat kerja nanti bisa sj rutinitasnya malah lebih memuakkan lg.
Tp Sou pny bnyk skill kan? (stidaknya dgn komputer) IMO dah bisa tuh tuk cari kerja…
Kalau saya malah mempertimbangkan untuk melayangkan surat pengunduran diri itu, lho.
hehehe. curhatan khas mahasiswa.
dan saya sudah melewati masa-masa itu a long-long-long time ago.
…
menyedihkan sekali, sebenarnya tujuan belajar itu apa sih?
kayaknya ujung-ujungnya duit deh…
atau cari jodohWeks, dunia mahasiswa emang sekejam itu?
*membayangkan tahun depan*
[...] Saya pernah mengalami kebosanan, luar biasa hingga sampai mempertimbangkan untuk berhenti kuliah. [...]
wajar sih kalau muak. tentu capek menghadapi rutinitas yang ribet seperti itu…
untung dulu kuliah saya sehari cuma 4 jam
.saya punya teman lulusan S2. tapi pas mendapat pekerjaan, gajinya malah setara dengan lulusan D3. agak miris kalau melihat hal itu. terbukti gelar sarjana tidak menjamin dapat pekerjaan yang memuaskan. capek-capek kuliah ternyata hasil dari kuliah tersebut tidak sebanding dengan penderitaan selama masa kuliah.
tapi bagaimanapun, jangan berhenti kuliah ya, sora…
yg sabar.. selalu ada hari esok yg lebih baik
*amien*
Walah, kok saya serasa membaca diri saya dulu sewaktu kuliah.
Tapi percayalah, sedikit apapun itu, masa masa kuliah tetap memberi kontribusi buat masa depan. Kalo dalam kasus saya sih, masa depan itu ternyata lumayan enak.
orientasi ijazah memang masih besar di negeri ini. bahkan hampir di semua bidang pekerjaan, yang ditanya pertama kali itu : ijazah anda apa ?
saya juga pernah bertanya seperti itu dulu waktu masih kuliah. tapi bagi saya, kuliah itu optional, pendidikan itu mutlak. tapi kenyataannya memang lain.
walah.. ko’ kampusnya masih kolot gitu ya?? kalo saya sih waktu kuliah dulu ga wajib dateng, yang wajib itu kuliah lapangan. jadi kalo kekampus cuma buat maen bola aja hehe.. dan hasilnya lumayan, sidang dengan nilai A dan IPK 3,25.. *alah sombong*
hahahhaha
nasib kuliah di ptn Bro
dengan dosen yang kebanyakan proyek
ya itulah resikonya…. sebelum kita melangkah harus tahu dulu arus terjal yang akan dihadapi.. inilah realita kehidupan di dunia…
gyaaa… masa mau berhenti siiy?
udah nanggung lagi… dari pada berhenti mendingan cuti
(^^)
@ Luthfi
Ho! Ternyata bukan cuma di sini saja pada sibuk garap proyek ya?
@ sora9n
Satu lagi bro: buat selembar poto wisuda dengan baju toga, untuk nambah jumlah hiasan dinding
saya sekarang punya ijazah yang katanya S1…..
tapi gaji saya kalah sama tukang pangsit di kantin kampus saya……….
kalau saya sih jujur aja kuliah karena menyenangkan hati ortu, kalau ortu nggak mbayari ya saya udah berenti kuliah.
lha wong justru gara-gara kuliah saya berhenti dari “pekerjaan” yang sudah lama saya idam-idamkan
*kok jadi curhat ya*
btw….. salam kenal ya bro…. dan sabar aja deh……
haha, kamu enggak sendirian..
Sudah komplain ?
Percuma ngamuk - ngamuk sendiri kalau tidak diberitahukan.
Cari mati ente?
kalau saya jadi dosen, kamu justru mahasiswa “cerdas!”, kritis dan selebritis… heheh
salam kenal (aku belum pernah kemari yaa) padahal sering melihat tampang gantengmu…
sabar… sabaaarrr,,,,,
senengnya merasa ada yg senasib bgini. skarang juga saya bakal ngelembur di kampus… mungkin baru pulang besok pagi
untuuuuung saya sudah tamat kuliyahnya 3 tahun yll !
dan prasaan pas kluwar dari ruang pendadaran bener2 PLONG! kayak abis meluncurkan yellow misil pamungkas di toilet pagi2.. Mak Plung! Legender! fffyyuuhh..
selamat berjuwang ya nak, jangan menyerah, teteubh semangat ! Jia You !
…sudah tanggung, masalahnya.
gw juga pernah muak-dan-bosen kuliah, tapi masalahnya cuma satu: sudah tanggung, dan nggak bisa balik lagi. dan nggak ada untungnya ambil jalan lain yang memutar.
yang penting, sekarang, selesaikan aja dulu yang sudah dimulai. mau gimana jadinya, urusan nanti… yah, kalau gw, sih.
dan, ya, betul sekali. sayangnya dunia memang tidak sempurna.
~cheers
jangan berhenti kuliah ^_^
sebagai orang yang pernah mengalami, memang kondisi kul itu kadang amat boring, kesal, marah, ingin kabur, muak, pusing.
tapi percayalah, jangan berhenti.
mending cuti saja. atau lanjut terus. bertahanlah.
@ jensen99
Ya, bisa saja sih. Tapiii… betapapun ‘memuakkan’-nya situasi di tempat kerja, itu nggak mengubah kenyataan lho. Bahwa saya merasa bahwa kehidupan kuliah itu sangat nggak sesuai dengan cara berpikir saya.
Ibaratnya, ada orang yang keluarganya broken home, terus cerita ke temennya. Dan temennya bilang, “keluarga lain juga banyak yang lebih parah!”
Padahal, namanya nggak enak ya tetep aja nggak enak (IMO).
:::::
@ Kopral Geddoe
Lah, emangnya ente mau kerja apa? Udah ada bekal, gitu? (o_0)”\
Atau mau pindah kuliah?
:::::
@ antobilang
Ya iyalah, mas Anto kan 2 tahun di atas saya. Wajar saja kalau yang sedang saya alami saat ini udah dialami oleh mas Anto dua tahun lalu.
:::::
@ yarza
Buat mengembangkan ilmu dan kemajuan manusia IMO…
…sayangnya kenyataannya nggak seindah itu.
:::::
@ cK
GW pun kuliah rata2 4 jam sehari, kok. Tapi nongkrong di lab-nya memang makan banyak waktu.
Yaah, pekerjaan itu yang penting puas batin sih. Lebih bagus lagi kalau puas lahir juga.
……….
:::::
@ warnetubuntu
Betul, betul. Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar™.
:::::
@ danalingga
Memang betul, IMHO.
Selama kuliah ini, saya (rasanya) mengalami banyak kemajuan. Diantaranya udah tambah jago nggambar pake Photoshop, lebih terlatih ngoprek komputer, linux-ing, baca buku2 yang nggak bisa dibeli pas SMA, dan belajar banyak dari blogosphere…
…sayangnya, nggak satupun dari semua itu yang saya dapat di dalam kelas.
:::::
@ Pyrrho
Apa kita sedang menuju dunia yang diseragamkan, ya?
*all hail S1 grads*
Yup, saya juga berpikir begitu. Efek terpenting dari kuliah, yang saya rasakan, adalah edukasinya, bukan ‘ajaran’-nya. I.e. cara berpikir, metode ilmiah, dan pemodelan masalah. Hal-hal yang sifatnya nonteknis tapi invaluable semacam itu lah.
Tapi kemudian saya menemukan bahwa cakupan teknisnya (i.e. belajar mengajar, tugas, dsb) justru menjadi rutinitas dan tekanan yang menyebalkan. Mungkin karena saya tipe orang yang rada-rada ’seniman’ juga sih.
*sambil teringat hobi nggambar dan sebagainya*
:::::
@ brainstorm
Dan kampus ‘kolot’ itulah yang (katanya) banyak diminati oleh para lulusan SMA, terutama yang lewat jalur SPMB. Tanya kenapa…
:::::
@ Luthfi
Wah, kalau soal proyek dosen saya nggak tahu, Mas. Tapiii… memang ada satu-dua dosen yang hobi banget ngasih kuliah pengganti. Pas jadwal sebenarnya malah ‘menghilang’.
Entah pergi ke mana dan buat apa.
:::::
@ shanyanaiya
Semua hal pun begitu, mas/mbak. But it’s always easier said than done..
:::::
@ binchoutan
Wah, entah ya. Saya juga masih dalam taraf ‘mempertimbangkan’, kok.
:::::
@ alex
Di jurusan saya juga ada kok. Tapi konon katanya, di jurusan elektro lebih parah lagi. Temen saya pernah tuh ngalamin satu hari lima jam kuliah, tapi yang terisi cuma satu jam doang.
Waduh, saya nggak hobi memajang foto di dinding mas. Konon katanya, gambar makhluk bernyawa™ itu diharamkan.
[/sarcasm
]
:::::
@ mardun
Salam kenal juga,
Ah, iya. Saya pun sebagian juga seperti itu. Karena orang-orang yang saya sayangi
dan menyayangi sayamengharapkan saya untuk bisa kuliah dan lulus, maka ini jadi beban mental tersendiri juga.BTW, saya akan coba bersabar.
:::::
@ atmo4th
Ah, ternyata ada juga yang merasakan hal yang sama dengan saya.
*terhibur sedikit, bertemu rekan senasib*:::::
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Komplain ke mana? Lha wong sebagian besar kampus kayak begitu kok.
Entah itu UI, atau ITB, UGM (seperti yang dibilang mas anto), atau malah kampusnya mas Geddoe di Malay sana. Sistemnya ya mirip-mirip itu.
Lagipula, ini kayakya lebih ke arah sayanya. Mungkin karena saya bukan tipe orang yang cocok dengan sistemnya… buktinya temen2 saya pada merasa nyaman, tuh. Bisa dapet nilai bagus, lagi.
:::::
@ Kopral Geddoe (lagi)
Tergantung dosennya, brother… kalau dosennya masih muda, biasanya lebih gampang paham. Lain soal kalau yang diajak ngomong angkatan 80′an ke atas…
Semacam itulah. Post seperti di atas mungkin akan dianggap suatu bentuk kemanjaan oleh mereka.
:::::
@ kurtubi
Weh… selebritis blog maksudnya Pak?
*kalo yang ‘cerdas’ dan ‘kritis’-nya mah saya nggak tahu deh. saya ini cuma hobi nyablak, soalnya*
Heh? Udah pernah kok Pak. Bapak kan udah pernah komentar di post yang persis sebelum yang ini. Buku tamu saya juga pernah ngisi, kok.
*coba dicek lagi aja*
:::::
@ koecing
Lagi-lagi rekan senasib…
*jabat tangan pada rekan sependeritaan, terharu*
:::::
@ ndoloBH
Ya, saya akan berusaha. Mudah-mudahan saya juga bisa mengalami perasaan ‘plong’ yang sama pada akhirnya.
*amin*
:::::
@ yud1
Ada juga sih untungnya… seenggaknya gw bisa lebih cepet lepas dari hal-hal
laknatyang udah dijabarkan di atas.Unfortunately, it, like many better things in the world, is often easier said than done.
Tentu saja.
:::::
@ eMina
Yaah… kita lihat dulu lah.
[...] (kelanjutannya post yang kemarin) [...]
uhmmm…..jadi inget jaman2 SMP-SMU -walah, jauh banget yaaaa- ketika itu betapa aku berontak habis2an -dalam hati- kenapa musti belajar PPKN or PMP, PSPB, ngapalin pancasila dan butir2nya, belajar kimia, fisika -secara rada bloon soal sains- belajar integral, dan matematik ‘kelas tinggi’. argumen gw, kenapa musti belajar hal2 yg sangat mungkin ga dibutuhkan kelak pas udah kuliah -toh ga pengen masuk MIPA ato sains- trus pancasila da PMP kan ga bisa buat cari duit, dll.
hahaha…..konyol deh…
eh ga taunya terulang kembali pas kuliah tp dg intensitas yg berbeda. maksudnya adalah, ketika merasakan hal2 yg sora keluhkan itu, gw cenderung menghalalkan segala cara yg penting hasilnya bagus. entah iu nyontek, sistem kebut semalam, plagiat sana-sini, dll -hoho, jujur- dan bukan cuma gw yg seperti ini. berani taruhan deh. untung aja utk mata kuliah ttt yg bener2 suka & skripsi / tesis, idealisme jalan.
yg bikin gw merenung, jangan2 sistem seperti ini akan menghasilkan output yg cenderung result-oriented dg menghalalkan segala cara dan cenderung tidak menghargai proses. jangan2 sistem seperti ini membuat orang2 diluar sistem cenderung lebih menghargai hasil yang tampak daripada prosesnya (jangan2 juga, sistem ini terbentuk oleh orang2 yg berpandangan seperti itu???)
saya ga menyangka, masak sih di luar negeri juga sistem pendidikan seperti itu ???
udah baca buku toto-chan???
kadang / seringkal membayangkan, andai sistem / kurikulum pendidikan seperti itu. belajar formal akan terasa sangat menyenangkan dan benar2 akan berusaha untuk memahami, tidak sekedar asal lulus dan dapat ijazah.
kabarnya sistem seperti ini mulai diterapkan di sekolah2 alternatif ato homeschooling. sayangnya, sebagian besar yg bisa menikmati adl mereka yg ‘kaya’, krn memang mahal. setahu gw yg cukup terjangkau bahkan kayaknya gratis yaitu yg di Salatiga.
ah, ah, sora…..^^
IMHO, kalau ngga suka sistem kuliah, ada 2 pilihan: 1) mencoba merubah, dan 2) jangan kuliah di situ…
Mencoba merubah ada pilihan lagi: 1) bicara ke pembuat keputusan, 2) bersabar, setelah lulus jadi dosen (yang ngga peduli mahasiswanya mau hadir atau nggak)
beres kan?
ps. kalau dosen ga peduli soal kehadiran, kira2 bagaimana ya dia mengetahui mahasiswanya sudah belajar sesuai dengan target atau ngga? apakah mahasiswa (Indonesia) itu sudah “dewasa” dan being responsible? apakah tugas dosen itu sekedar mendeliver materi, atau menjadi “guru”?
tutup pintu didepan hidung hanyalah masalah style dosen. memang banyak orang Indonesia yang hobi telat kok. hehehe….
intinya: be positive.. dan banyak hikmah yang bisa diambil.
kalau teman2mu bisa mengapa kamu tidak? terlalu berbedakah kamu dan mereka?
dan… dosen juga manusia…
In the future, who knows you will miss these days…
just my two-yen.
dari seorang yang sudah jadi mahasiswa lebih dari satu dekade
Hmmm….memang berat sora….saya jg mengalaminya, tp cobalah memandangnya dari sudut yg berbeda. Bukankah anda sendiri yg bilang, bahwa keberadaan anda di kampus itu adalah pilihan anda sendiri??(anda menyampaikannya secara implisit). Apalagi di kampus impian tiap orang dan pada jurusan yang anda tulis pertama kali di form pendaftaran….
Tiap keputusan pasti ada resiko yang harus ditanggung, semua yang anda jalani saat ini (entah yang enak2 atau yang susah2) adalah pilihan anda. So anda harus menjalaninya. Mungkin niat yang masih perlu diluruskan…
@ restlessangel
Gejalanya sih rada2 keliatan di kampus saya. Master PR dari 4 orang aja bisa berubah jadi yang dikumpulin orang sekelas, lho. ^^;;
Wah, saya belum pernah baca, tuh.
Mungkin kapan2 cari bukunya/minjem kalau ada yang punya. ^^
:::::
@ konsultan
………
Entah yaa. ^^;;
:::::
@ Daichii rui
Betul… tapi, sayangnya, seperti halnya semua hal yang baik-baik di dunia ini, it is much easier said than done.
machiavellis itu halal ahh…
untunglah fakultas saya pake kuota 75%
[...] mencapai akhir semester, sehingga derajat kesibukannya bisa dibilang menurun jauh bila dibandingkan dengan sebelumnya. Alhasil, saya pun mendapat sedikit kesempatan untuk menggambar lagi… tapi, meskipun begitu, [...]
ummm….um….. mungkin anda termasuk org bsar kyk Bill gates menginginkan suatu hal lbh inovatif (^^), menurut sy bosan(muak) pertanda “baik” menuntut adanya prubahan dlam hidup qt
@ celo
Machiavellisme itu rada terlalu berorientasi hasil IMO… lagipula itu kan sering dijadikan pembenaran buat bersikap diktator.
:::::
@ nait”sir”hc
Waduh, seperti Bill Gates? ^^;;
Umm, rada beda sih mas/mbak. Soalnya Bill Gates kan terbukti jenius. Sementara saya ini yang baru terbukti cuma tukang nyablak-nya doang.
BTW, salam kenal ya.
[...] demikianlah adanya. Pada akhirnya, saya masih akan menapak beberapa langkah lagi di kampus yang tak begitu saya cintai [...]
sayangnya, dunia tidak bertambah indah, bahkan dengan sebuah pekerjaan tetap
@ isnan chodri
Sebenarnya, masalah utamanya adalah saya nggak sreg dengan keadaan di kampus saya. Itu saja. Masalah apakah dunia kerja itu lebih indah atau lebih buruk, itu urusan lain lagi. Tapi coba saya jelaskan sedikit…
Soal mengapa saya mempertimbangkan pekerjaan tetap, itu karena dunia kerja punya kelebihan dibandingkan kuliah: ia memberi kita kemampuan untuk mandiri secara finansial. OK, dunia kerja mungkin tak nyaman. Tetapi, ia memberi kita kemampuan untuk bertahan hidup, dan mengatur nasib sendiri, tanpa membebani orang lain. Itu yang penting.
Kuliah hanya memberikan “modal” untuk mandiri, tetapi bukan kemandirian itu sendiri. Seorang waiter di kafe, IMHO, masih lebih makmur dibandingkan mahasiswa yang menanti kiriman uang orangtua — karena ia bisa mempertahankan dan mengatur hidupnya sendiri tanpa bantuan/pemberian orang lain.
Kurang lebih begitu penjelasannya.
Been there, done that.. in the same situation and place
Kalau mau merasakan ‘enaknya’ sebagai pekerja, daripada berpikir untuk meninggalkan kuliah coba saja ambil cuti satu semester satu tahun sekalian untuk full kerja.
Di tempat kerja pun, kemungkinan pasti akan ketemu dengan kondisi-2 tidak ideal yang tidak kita inginkan.. dan mau tidak mau harus di-telan dan dilakukan.
Jadi anggap saja semua hal yang bikin ‘muak’ di kampus sebagai latihan untuk menghadapi banyak hal di tempat lain yang mungkin bisa membikin kita lebih muak
BTW. I like your blog..
ooh anak ITB
kampus bukan sebatas belajar aja
terlalu banyak yang bisa dilakukan
@ septian
Silakan baca post saya yang [ini].
Kampus memang — idealnya — bukan sekadar belajar di kelas. Nyatanya, saya memang belajar jauh lebih banyak dari luar kelas… dan juga luar kampus.
Tapi ada catatannya.
Anda mungkin bilang bahwa kampus itu tempat berlatih organisasi, soft skill, dan sebagainya. Itu semua kandungan non-akademik. Bisa didapat dari mana saja — saya tak harus jadi mahasiswa untuk mempelajarinya.
Kampus adalah institusi akademik. Kalau saya membela keberadaan saya di kampus dengan keuntungan non-akademik, itu non sequitur. Nggak nyambung.