• Beranda
  • License
  • More About Me…
  • Sitemap

sora-kun.weblog()

//returns stories, pictures, or anything else he’s working at :)

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Seandainya Alien itu Ada…
Proud of Being Agnostic (?) »

Berpatokan Pada Orangnya

November 12, 2007 oleh sora9n

Catatan:

Post-nya baru di-update (Selasa 13/3, jam 8 pagi); soalnya kemaren ada salah definisi mengenai ad hominem. Mohon maaf buat yang udah baca dan menulis komentar, sebab isinya jadi jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. ^^

Naskah sebelumnya bisa dilihat di [sini]. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
m_(_ _)_m

 

 

Kalau Anda sering terlibat dalam diskusi, terutama di blog, Anda harusnya sudah kenal dengan yang namanya argumentum ad hominem. Sering disingkat ad hominem, ‘makhluk’ ini merupakan salah satu cara berdiskusi yang norak dan kampungan tidak elegan. Intinya, lawan diskusi bukannya mencoba mematahkan pendapat Anda — melainkan, justru pribadi Andalah yang dibawa-bawa. Kalau dalam bahasa Inggris, “argumentum ad hominem” ini umum diterjemahkan sebagai “argument to the person”.

Contohnya kira-kira begini.

A:
Menurut saya, harusnya kita tidak bersikap diskriminatif pada kaum waria.

B:
Wah, jangan-jangan kamu ini punya kecenderungan jadi waria, ya?

Apa masalahnya?

Dalam contoh di atas, B menuduh A memiliki “kecenderungan jadi waria”. Ini disampaikan sehubungan dengan pendapat A, bahwa waria harusnya tidak diperlakukan berbeda daripada orang normal.

Padahal, kenyataannya belum tentu begitu! Boleh jadi A merasa bahwa waria termasuk manusia yang harus diakui derajatnya; bisa juga A merasa bahwa HAM di negerinya harus ditegakkan untuk kepentingan mereka. Meskipun begitu, B ternyata bukannya mematahkan argumen A — alih-alih menjawab dengan logis, B justru menyerang A sebagai seorang pribadi (dengan cara menuduh dia sebagai waria).

Nah, itulah sebabnya ad hominem digolongkan sebagai salah satu bentukkesalahan berlogika. Bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan dengan runtut dan logis, justru orangnyalah yang diserang. Saya rasa Anda bisa paham apa yang saya maksud dari ilustrasi di atas. ;)

***

Tapi, meskipun betgitu, post ini tak hendak membahas ad hominem. Sebaliknya, saya hendak membahas tentang satu ciri yang melekat dalam penerapan ad hominem, yaitu berargumen dengan mengacu pada kualitas orang lain.

Lho, maksudnya?

Jadi begini.

Setiap orang, disadari atau tidak, pasti pernah mengandalkan penilaiannya pada orang lain dalam mengambil kesimpulan. Misalnya, Anda mungkin semasa sekolah pernah mengalami diskusi seperti berikut:

C:

“Teori Evolusi itu sangat tidak masuk akal. Lihat saja, kelemahannya adalah begini, begini, dan begitu.”

D:

“Ya, saya percaya. Bukankah nilai kamu yang terbaik di kelas; jadi sudah pasti yang kamu bilang itu benar.”

Lihat, dalam contoh di atas D percaya saja dengan pertimbangan si C. Hanya karena C mendapat nilai bagus di kelas, lantas D percaya saja padanya. Inilah salah satu contoh yang saya maksud. Bukannya membuktikan oleh diri sendiri apakah Teori Evolusi itu benar, justru kita menilainya dari kualitas orang yang mengucapkannya. ;)

(ini umum disebut sebagai argumentum ad verecundiam)

 

 
Jadi, intinya adalah, penilaian Anda murni didasarkan pada apa yang Anda pikirkan mengenai seseorang — bukannya terjun langsung ke inti masalah. Entah itu dengan mengacu pada si pembicara, atau malah pada orang lain yang dibicarakan (pihak ketiga).

Ada juga contoh lain, di mana argumen ditentukan berdasarkan penilaian kita pada orang lain.

Contoh:

Teman I:

“Eh, sumpah lho. Kemaren gw liat pacar lo jalan bareng cowok lain.”

Teman II:

“Ah, nggak mungkin. Dia itu selalu baik sama gw; nggak mungkin dia mengkhianati gw kayak begitu.”

Dalam contoh di atas, si Teman II membela pacarnya. Apa dasarnya? Tak lain karena “pacarnya itu selalu baik” padanya. Lihat, lagi-lagi argumen yang berdasarkan perseorangan! Padahal, belum tentu sang pacar memang ‘sebaik itu’.

Bagaimana kalau sang pacar memang seorang playboy alias Crocodilus Genitrus Daratensis seperti di iklan rokok itu ? Kebaikannya di masa lalu tak berguna. Justru perbuatannya di masa kinilah yang membuktikan keadaan dirinya yang sebenarnya!! :evil:

 

Tunggu… Dialog Seperti itu kan Sering Muncul di TV-TV, ya?
 

Hmm, pertanyaan macam apa itu. Jelas saja iya. Cara berpikir model ini sangat populer, terutama dalam film-film SETANTRON™. Apalagi kalau temanya sudah menyangkut percintaan remaja — sudah pasti dialog semacam di bawah ini akan bermunculan. :cool:

Cewek I:

“Lo harus ngerti ya, dia itu sekarang cowok gue!! Lo memang mantannya dia, tapi sekarang dia itu punya gue. Ngerti lo!?”

Cewek II:

“Nggak mungkin dia ninggalin gue buat lo. Gw tau perasaan dia. Gw kenal dia, dia itu selalu baik sama gue!”

Wah, lihat. Cinta membutakan akal. Bagaimana kalau sebenarnya si cowok itu memang sudah meninggalkan si cewek malang kesayangan pemirsa tersebut? Kasihan kan… :roll:

Suami:

“Mi… katanya anak kita ditangkap Polisi. Kabarnya, dia membawa narkoba di mobilnya…”

Istri:

“Pi, nggak mungkin… anak kita itu baik. Papi tau dia itu sejak kecil nggak aneh-aneh…”

Bukannya langsung memastikan atau bertanya pada sang anak, mereka malah menghabiskan waktu membela dengan alasan macam di atas. Iya, anak itu memang dulu baik. Tapi sekarang kan bisa saja kenyataannya lain!! Setidaknya, ceklah kebenarannya langsung, daripada melakukan diskusi gak mutu macem gitu… :o

Cowok I:

“Men, lo mesti ambil tindakan. Cewek lo selingkuh sama si X. Masa lo diem aja?”

Cowok II:

“Nggak mungkin dia selingkuh. Nggak mungkin. Dia itu setia banget sama gw. Lo berani memfitnah dia, hah!?”

Huah, sekarang bahkan penilaian atas pribadi seseorang bisa meretakkan persahabatan dua orang cowok :shock: . Padahal, bukannya tak mungkin, si Cowok II baru saja jadi korban seorang cewek brengsek. :P

Jadi, hati-hatilah pada penilaian Anda. Mungkin saja orang yang Anda percayai itu tak sehebat yang Anda kira. ;)

***

Jadi, seperti Anda lihat, ada banyak contoh di mana kita terpaku pada bagaimana menilai sesuatu berdasarkan orangnya, bukannya menilai orang berdasarkan sesuatu yang terjadi. Dengan kata lain, jika dalam diri kita sudah terbentuk persangkaan bahwa “si A itu baik”, maka akan sulit bagi kita untuk mempercayai yang sebaliknya.

Belum lagi jika orangyang kita percaya itu sungguh ahli menampakkan sisi baik dan menyembunyikan sisi buruknya. :mrgreen:

Oleh karena itu, waspadalah! :)

Like this:

Suka
Be the first to like this post.

Ditulis dalam Opinion, Personal Scraps | 41 Komentar

41 Tanggapan

  1. pada November 12, 2007 pada 8:26 pm Emanuel Setio Dewo

    Berarti hampir semua jawaban yang ada di sinetron/setantron itu “ad hominem” semua ya?

    Eh, komen saya ini ad hominem.


  2. pada November 12, 2007 pada 8:34 pm Emanuel Setio Dewo

    Hidup Ad hominem!!!


  3. pada November 12, 2007 pada 8:37 pm sora9n

    @ Emanuel Setio Dewo

    Berarti hampir semua jawaban yang ada di sinetron/setantron itu “ad hominem” semua ya?

    Kayaknya, ya. :mrgreen:

    Saya juga nggak terlalu ngerti, kenapa bisa begitu. Tapi kebanyakan adegan berantemnya, biasanya ya kayak di atas itu. ;)


  4. pada November 12, 2007 pada 8:38 pm sora9n

    Hidup Ad hominem!!!

    Heh, heh. Hus, hus… :mrgreen:


  5. pada November 13, 2007 pada 2:55 am rozenesia

    Aku: “Wah, nggak ada uang kecil, de…”

    Dia: “Nggak apa, mas. Uang gede juga ga apa, buat biaya sekolah mas… Saya kan pengen pinter juga kayak mas…”

    Lha? Saya diserang…? :roll:

    Ah, sudahlah.

    Ah, dia kan ahli agama. Kita ini awam ya tau apa. Yang ia omongin mah pasti ada dalilnya yang akurat!! Percaya aja deh!!

    :roll:


  6. pada November 13, 2007 pada 6:05 am saya

    *sudah bosan dicap makar dan kafir hanya karena ingin bersuara*

    he berarti bertindak subjektif itu bisa dibilang ad hominem ya..??


  7. pada November 13, 2007 pada 8:11 am sora9n

    @ semua yang udah baca/nulis komen

    Euh, sori… ada kesalahan pas definisi ad hominem yang kemarin. Jadi post-nya baru di-update sekarang (Selasa 13/3, 8:09 am).

    Mohon maaf buat yang udah membaca dan nulis komen, soalnya setelah di-update isi post-nya jadi sangat berbeda.
    m_(_ _)_m

    Sekian, terima kasih. :)


  8. pada November 13, 2007 pada 8:37 am Kopral Geddoe

    Tadinya mau saya protes sedikit, rupanya sudah diperbaiki… :(

    *sulks dramatically*


  9. pada November 13, 2007 pada 8:43 am sora9n

    @ Kopral Geddoe

    *tertawa terpingkal-pingkal* :lol: :lol:

    Ahem, gini. Seandainya saya nggak keburu pulang dari kampus tadi malam, saya bakal udah memperbaikinya dari awal. Sayangnya, karena saya keburu pulang…

    …dan di kosan nggak ada akses…

    …dan saya belum ngonfig HP buat jadi modem GPRS…

    …maka terpaksa baru saya update sekarang. ^^

    Yah, syukurlah dosennya nggak dateng. Harusnya saya baru kosong jam 9 nanti lho. ;)


  10. pada November 13, 2007 pada 8:54 am Kopral Geddoe

    Hehehe, ketidakhadiran dosen memang selalu patut disyukuri… :mrgreen:


  11. pada November 13, 2007 pada 12:07 pm rifu

    eh, kalo argumen seperti ini gimana:

    yah, kita maklumi saja lah kalau kaum tersebut suka ber ad hominem ria, mereka memang belajar dan memahami informasi dalam kondisi seperti itu.

    ad hominem juga?

    *OOT* hape lu bisa dipake modem gprs? mahal ga? gprs pake hape gw mahal mampus, btw, KateOS live cd gagal, Kate ga punya driver keyboard laptop gw. :P


  12. pada November 13, 2007 pada 1:20 pm sora9n

    @ Kopral Geddoe

    Yet another wisdom in a student’s life. You, kid, are very wise. :mrgreen:

    [/sarcasm :P ]

    :::::

    @ rifu

    yah, kita maklumi saja lah kalau kaum tersebut suka ber ad hominem ria, mereka memang belajar dan memahami informasi dalam kondisi seperti itu.

    ad hominem juga?

    Kayaknya itu bukan fallacy, IMO. Soalnya elemen dasarnya fallacy kan menyatakan sesuatu pasti benar/salah dengan landasan yang nggak logis. ^^

    Kalo yang di atas itu kayaknya konsekuensi sebab-akibat, IMO. :?

    *OOT* hape lu bisa dipake modem gprs? mahal ga? gprs pake hape gw mahal mampus

    Blom gw set; kagak ngerti caranya. Padahal udah gw masukin APN sama IP address-nya ke sono. Ntar lagi kali gw cobain. (o_0)”\


  13. pada November 13, 2007 pada 2:07 pm Rizma

    Eh jadi intinya ini tentang ad Hominem-nya apa tentang jangan terlalu percaya sama orang? apa bukan dua duanya?? :?

    btw, yang contohnya Rifu itu excuse kah? :mrgreen:


  14. pada November 13, 2007 pada 2:32 pm sora9n

    @ Rizma

    Nggak dua-duanya… :mrgreen:


  15. pada November 13, 2007 pada 3:57 pm jejakpena

    Betul, makanya bisa jadi kadang kita kaget berat, orang yang udah kita sangkain ‘gak tahu apa-apa’, atau sering ditindas-tindas, bisa balik nindas juga, misalnya? :lol:

    Gak bisa disangkal kadang kita mengandalkan penilaian kita pada apa yang kita ketahui tentang seseorang yang tentunya itu juga karena pengaruh standar ekspektasi kita sendiri… :mrgreen:


  16. pada November 13, 2007 pada 4:19 pm cK

    saya ndak suka ad hominem…sukanya adsense… :roll:

    *OOT*

    *dilempar misil*


  17. pada November 13, 2007 pada 4:23 pm Amed ndak login

    Berarti taklid itu bersifat ad hominem juga dong ya?

    *kesimpulan sembarangan*


  18. pada November 13, 2007 pada 4:46 pm yud1

    percaya nggak percaya, manusia itu menilai dengan mata, lho. atau secara umum sih, ‘kesan’ yang ditampilkan… katanya sih. nggak objektif? hohoho! mana ada hal yang objektif di dunia ini? :mrgreen:

    jadi pesan moralnya adalah, banyak-banyaklah berbuat baik sama orang. kalau salah-salah sedikit, masih bakal dipercaya, kan? :mrgreen:

    :: jejakpena

    Betul, makanya bisa jadi kadang kita kaget berat, orang yang udah kita sangkain ‘gak tahu apa-apa’, atau sering ditindas-tindas, bisa balik nindas juga, misalnya? :lol:

    :? :) :mrgreen: :lol:

    ~nyampahDikit :mrgreen:


  19. pada November 14, 2007 pada 8:08 am CY

    Sora… HP mu merk apa tipe apa? Klo nokia bisa OTA lewat web kok, dan simple. *OOT ya?* :D


  20. pada November 14, 2007 pada 9:38 am sora9n

    @ jejakpena

    Betul, makanya bisa jadi kadang kita kaget berat, orang yang udah kita sangkain ‘gak tahu apa-apa’, atau sering ditindas-tindas, bisa balik nindas juga, misalnya? :lol:

    Memang pernah, gitu? :lol:

    *teringat YM-an tempo hari*

    Eh, eh, maybe I know your feeling better than you do… :roll:

    *nyari ribut mode = on*

    Gak bisa disangkal kadang kita mengandalkan penilaian kita pada apa yang kita ketahui tentang seseorang yang tentunya itu juga karena pengaruh standar ekspektasi kita sendiri… :mrgreen:

    Betul, betul. Tentu saja. Benar sekali. :mrgreen:

    :::::

    @ cK

    Sesuai keinginan lo, lah. :P

    *lempar misil*

    *blaaarrr*

    :::::

    @ Amed

    Yee… kan udah saya bilang di atas… ^^;;

    Tapi, meskipun betgitu, post ini tak hendak membahas ad hominem. Sebaliknya, saya hendak membahas tentang satu ciri yang melekat dalam penerapan ad hominem, yaitu berargumen dengan mengacu pada kualitas orang lain.

    Bukan berarti semua contoh di atas itu ad hominem, lho. ;)

    :::::

    @ yud1

    jadi pesan moralnya adalah, banyak-banyaklah berbuat baik sama orang. kalau salah-salah sedikit, masih bakal dipercaya, kan? :mrgreen:

    Asal jangan buat ngelaba tebar pesona aja… :mrgreen:

    ~nyampahDikit :mrgreen:

    Hus, jangan nyampah. :cool:

    :::::

    @ CY

    Punya saya Sony-Ericsson tuh. (o_0)”\

    *iya, OOT* ^^;;


  21. pada November 14, 2007 pada 11:13 am CY

    coba ke websitenya SonyEricsson, ada setingan OTA-nya, kalo ga bisa juga ke Gerai Halo (kalo pake telkomsel ya), minta CS-nya settingkan :D


  22. pada November 14, 2007 pada 3:55 pm jejakpena

    Memang pernah, gitu? :lol:

    hooh, gak sadar tuh kali… :P

    Eh, eh, maybe I know your feeling better than you do… :roll:

    *nyari ribut mode = on*

    sugoi!! :shock: *pura-pura terpana*
    Pede amat sih, Nak…
    Eh, eh, just be carefull with what you’re thinking of… :cool:
    *lagi males ribut*


  23. pada November 14, 2007 pada 5:26 pm Lempar Masalah Sembunyi Solusi « r o z e n e s i a

    [...] Oke, kadang dalam menyikapi sebuah masalah, ada kalanya muncul suara-suara yang terkesan membela, dengan mengalihkan masalah itu ke masalah lain yang dianggap lebih parah. Seringkali cara seperti itu kerapkali dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari sebuah masalah, karena beberapa alasan subjektif. [...]


  24. pada November 14, 2007 pada 11:58 pm Pyrrho

    dan saya berani meng-adhominem-kan Sora sebagai seorang pengamat setantron indonesia… :)

    *ehm, ini adhominem atau yang lain ? :mrgreen:

    Verecundiam itu mekanisme yang paling umum terjadi, scara psikologis. Sebuah penilaian, apapun itu, selalu berusaha menghubungkan sesuatu yang menjadi latar belakang suatu masalah dgn masalah utamanya. Dan seringkali latar belakan itu adalah person behind the problem.

    Dan itu juga yang sering saya lihat dari penilaian atas kualitas suatu tulisan di blog. Siapa (dan apa latar belakang) yang memberikan tulisan/pendapat membuat pendapatnya lebih sering dihargai pendapatnya dibandingkan orang lain. Sebenarnya nggak terlalu salah, kalau konteks SIAPA itu jangan dibawa kearah pengkultusan, pemujaan, prasangka atau yang lain.

    Itu juga yg membuat saya dulu waktu mulai ngeblog dulu menyembunyikan identitas latar belakang saya. Eh, akhirnya ketahuan juga. Hanya dgn alasan verecundiam, adhominem, ataupun adanya prasangka lain menyangkut siapa saya sehingga mempengaruhi pendapat/opini saya.


  25. pada November 15, 2007 pada 8:34 am CY

    kira2 ya spt ini…

    “jgn lihat merk kopi-nya dulu, tapi nikmati dulu rasanya utk mengetahui pembuatnya”

    *jadi ngiler pengen ngopi*


  26. pada November 15, 2007 pada 1:04 pm sora9n

    @ jejakpena

    hooh, gak sadar tuh kali… :P

    Emang nggak pernah, kok. :roll:

    sugoi!! :shock:

    Tuh kan. Mbak ini aja mengakui, kok. ^^

    Pede amat sih, Nak…

    Katanya sih, nggak yang lebih seksi dari seorang pria selain rasa percaya dirinya yang tinggi, lho. :P

    *ditimpuk misil*

    Eh, eh, just be carefull with what you’re thinking of… :cool:

    Hai, sou ni narimasu… ^^

    …tabun. :lol:

    :::::

    @ Pyrrho

    dan saya berani meng-adhominem-kan Sora sebagai seorang pengamat setantron indonesia… :)

    Sebetulnya sih enggak juga. Cuma, masalahnya, pas saya lagi pulang ibu saya selalu nyetel TV jam 21:30. Isinya tentang cewek kasihan yang cintanya belum direstui calon mertua, and so on…

    …

    …dan dari sinetron itu juga saya tahu dialog “anak kita ditangkap polisi” yang di atas itu. :lol:

    Dan itu juga yang sering saya lihat dari penilaian atas kualitas suatu tulisan di blog. Siapa (dan apa latar belakang) yang memberikan tulisan/pendapat membuat pendapatnya lebih sering dihargai pendapatnya dibandingkan orang lain. Sebenarnya nggak terlalu salah, kalau konteks SIAPA itu jangan dibawa kearah pengkultusan, pemujaan, prasangka atau yang lain.

    IMO, memang ada kecenderungan seperti itu. :?

    Misalnya dulu (sebelum kasus 3 stanza) — kalo orang awam melihat Roy Suryo di TV. Mungkin mereka langsung beranggapan bahwa beliau itu cerdas dan omongannya bermutu. Tapi, kalau blogger veteran yang nonton, kemungkinan besar bakal lagsung apriori: “ah, dia lagi. Paling-paling…” :roll:

    Itu juga yg membuat saya dulu waktu mulai ngeblog dulu menyembunyikan identitas latar belakang saya.

    Ah, saya juga begitu. Lebih enak kalau orang menilai dari isi tulisannya aja, IMO… (o_0)”\

    BTW, baru tadi pagi ada temen saya yang nanya: “eh, kamu itu sora-kun ya?”
    :lol:

    :::::

    @ CY

    Ah, setuju. Kopi yang enak membawa merek, bukannya merek yang membuatnya jadi enak. :D

    *walaupun sendirinya nggak bisa ngebedain antara cappuccino bikinan ToraBika sama Indocafe*


  27. pada November 15, 2007 pada 1:37 pm Kopral Geddoe

    *walaupun sendirinya nggak bisa ngebedain antara cappuccino bikinan ToraBika sama Indocafe*

    Tora Bika ada choco granulenya bukan? :mrgreen:

    //oot


  28. pada November 15, 2007 pada 1:47 pm sora9n

    @ Kopral Geddoe

    Lha, bukannya semua cappuccino ngasih choco granule? Indocafe juga, kalo gak salah. (o_0)”\

    *nggak inget, soalnya belakangan ini minum Tora Bika melulu*

    *ikutan OOT*


  29. pada November 15, 2007 pada 2:19 pm Kopral Geddoe

    Wah, mosok? Nggak terlalu ingat juga, sih. 8O
    Saya minum Neskape kopi susu reguler… Itu pun jarang. :(


  30. pada November 16, 2007 pada 9:03 pm jejakpena

    Emang nggak pernah, kok. :roll:

    Iya, iya, mana mau coba tukang tindas dibilang ditindas. Padahal kan penindasan itu banyak versinya. >_>
    *misuh-misuh*

    Katanya sih, nggak yang lebih seksi dari seorang pria selain rasa percaya dirinya yang tinggi, lho. :P

    Hiyaa!! cowok seksi??
    *gedubrak*
    *langsung pulang*


  31. pada November 17, 2007 pada 2:08 pm sora9n

    @ Kopral Geddoe

    Saya pun udah jarang minum Nescafe kok. :P

    :::::

    @ jejakpena

    Iya, iya, mana mau coba tukang tindas dibilang ditindas.

    Saya bukan tukang tindas, kok… :roll:

    *tebal muka*

    *misuh-misuh*

    Mbak, jangan misuh-misuh gitu mbak. Ntar cepet tua, lho. ^^

    *gedubrak*
    *langsung pulang*

    Lho, kok buru-buru? (o_0)”\

    Ah, sudahlah. Hati-hati di jalan, ya. :D


  32. pada November 19, 2007 pada 6:29 am restlessangel

    kadang2, kita menolak kebenaran. yg terjadi, spt dialog2 a la sinetron2 itu. ya ga?^^

    kebenaran terasa menyakitkan, krn -teringat postingannya om fertob jaman baehula- berhubungan dg perasaan nyaman kita. mungkin kebenaran itu merusak zona nyaman kita dan mengobrakabrik apa yg sudah tertata enak didalam sana^^

    eh nyambung ga ya……


  33. pada November 19, 2007 pada 4:43 pm sora9n

    @ restlessangel

    Komennya nyambung kok. ^^

    Iya, dengan mempercayai orang sedemikian rupa, kita jadi menempatkan diri dalam perasaan nyaman. Alhasil, ketika ada berita miring mengenai orang yang kita percaya itu, sangat wajar kalau reaksi pertama justru berupa penolakan.

    BTW, saya pernah nemuin orang yang kayak gitu di dunia nyata. Orang-orang sih udah tau kalo cowoknya tukang tipu, cuma si cewek keukeuh aja berpendapat bahwa si cowok itu pria baik-baik. :lol:


  34. pada November 21, 2007 pada 8:34 am restlessangel

    lebih jauh lg, gimana dg tingkah para pejabat dan pembesar dan pengusaha ‘nakal’ yg keukeuh kl perbuatan mereka ga bener, walo uda banyak yg protes dan bilang bhw perbuatannya itu menyengsarakan bayak orang ???

    kalo itu mah, ndableg ya ???^^


  35. pada November 21, 2007 pada 9:02 am sora9n

    @ restlessangel

    Lha, iya. Tapi mereka kan menilai perbuatannya dari kacamata mereka sendiri, bukan dengan mengacu pada kualitas orang lain. ^^


  36. pada Desember 24, 2007 pada 3:35 pm Pesan-Nya « all hail rozenesia™

    [...] bukan orang bijak, bukan pula pakar atau ahli. Tapi apakah kita menilai pesan seseorang dari siapa dirinya, bukan apa yang dikatakannya? Entah. Manusia memang berbeda satu sama lainnya. Dan saya yakin [...]


  37. pada Januari 19, 2008 pada 1:42 am Anonimitas dan Saya « sora-kun.weblog()

    [...] si penulis tak ingin orang memandang tulisannya tergantung siapa yang menulisnya. Yang ini tentunya cukup jelas. Kalau misalnya Anda seorang pejabat yang pernah diberitakan terkait [...]


  38. pada Januari 19, 2008 pada 11:46 pm GunawanRudy[dot]Com» Blog Archive » Lempar Masalah Sembunyi Solusi

    [...] Oke, kadang dalam menyikapi sebuah masalah, ada kalanya muncul suara-suara yang terkesan membela, dengan mengalihkan masalah itu ke masalah lain yang dianggap lebih parah. Seringkali cara seperti itu kerapkali dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari sebuah masalah, karena beberapa alasan subjektif. [...]


  39. pada Agustus 27, 2008 pada 3:39 pm Gunawan Rudy dot Com » Mereka yang mulai duluan!

    [...] mempertahankan sudut pandang sepihak dan menekankan arogansi, generalisasi yang negatif, serta berpatokan pada orangnya, damai di kerajaan surga hanyalah angan-angan [...]


  40. pada Oktober 16, 2008 pada 3:38 am Quote of the Day « Deathlock

    [...] tapi saya rasa kutipan ini bisa berlaku secara universal. Entah itu pada solidaritas, relasi, pacar, pemahaman tertentu, atau bahkan agama dan [...]


  41. pada Desember 15, 2008 pada 11:16 am Pesan-Nya | Gunawan Rudy dot Com

    [...] bukan orang bijak, bukan pula pakar atau ahli. Tapi apakah kita menilai pesan seseorang dari siapa dirinya, bukan apa yang dikatakannya? Entah. Manusia memang berbeda satu sama lainnya. Dan saya yakin [...]



Komentar ditutup.

  • About Me

    sora9n

    NOTICE:
    This blog is now discontinued. The author has moved to new address: [here]

    [guestbook entries]
  • Disclaimer


    This blog is personal property which is publicized. Readers are free to copy, republish, and distribute the content as long as the source is mentioned.

    [more on license page]

  • People visited this blog:

    • 668,017 times
  • My Picture Gallery

    -=-=-=-=-=-=-=-
    .: Gallery's Main Page :.
    -=-=-=-=-=-=-=-

  • Categories

  • Top Posts

    • Beberapa Kalimat Sapaan dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-7] Pengelompokan Kata Kerja dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-1] Kalimat Aktif Sederhana dalam Bahasa Jepang
    • Direktori 'Nihongo' @ sora-kun.weblog()
    • [nihongo-2] Partikel 'no' dan 'de'
  • Recent Posts

    • Akhir Sebuah Perjalanan (alias: Balada Pindah Alamat)
    • Current Playlist 2010.10.01: World Music Edition
    • Kartu Lebaran 1431 H
    • Grandpa’s Old Typewriter
    • [nihongo] Berkenalan dengan Huruf Kanji
  • Archives

  • Metadata for This Site

    • Daftar
    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com

Blog pada WordPress.com.

Tema: MistyLook oleh Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.

Powered by WordPress.com