Catatan:
Post-nya baru di-update (Selasa 13/3, jam 8 pagi); soalnya kemaren ada salah definisi mengenai ad hominem. Mohon maaf buat yang udah baca dan menulis komentar, sebab isinya jadi jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. ^^
Naskah sebelumnya bisa dilihat di [sini]. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
m_(_ _)_m
Kalau Anda sering terlibat dalam diskusi, terutama di blog, Anda harusnya sudah kenal dengan yang namanya argumentum ad hominem. Sering disingkat ad hominem, ‘makhluk’ ini merupakan salah satu cara berdiskusi yang norak dan kampungan tidak elegan. Intinya, lawan diskusi bukannya mencoba mematahkan pendapat Anda — melainkan, justru pribadi Andalah yang dibawa-bawa. Kalau dalam bahasa Inggris, “argumentum ad hominem” ini umum diterjemahkan sebagai “argument to the person”.
Contohnya kira-kira begini.
A:
Menurut saya, harusnya kita tidak bersikap diskriminatif pada kaum waria.B:
Wah, jangan-jangan kamu ini punya kecenderungan jadi waria, ya?
Apa masalahnya?
Dalam contoh di atas, B menuduh A memiliki “kecenderungan jadi waria”. Ini disampaikan sehubungan dengan pendapat A, bahwa waria harusnya tidak diperlakukan berbeda daripada orang normal.
Padahal, kenyataannya belum tentu begitu! Boleh jadi A merasa bahwa waria termasuk manusia yang harus diakui derajatnya; bisa juga A merasa bahwa HAM di negerinya harus ditegakkan untuk kepentingan mereka. Meskipun begitu, B ternyata bukannya mematahkan argumen A — alih-alih menjawab dengan logis, B justru menyerang A sebagai seorang pribadi (dengan cara menuduh dia sebagai waria).
Nah, itulah sebabnya ad hominem digolongkan sebagai salah satu bentukkesalahan berlogika. Bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan dengan runtut dan logis, justru orangnyalah yang diserang. Saya rasa Anda bisa paham apa yang saya maksud dari ilustrasi di atas.
***
Tapi, meskipun betgitu, post ini tak hendak membahas ad hominem. Sebaliknya, saya hendak membahas tentang satu ciri yang melekat dalam penerapan ad hominem, yaitu berargumen dengan mengacu pada kualitas orang lain.
Lho, maksudnya?
Jadi begini.
Setiap orang, disadari atau tidak, pasti pernah mengandalkan penilaiannya pada orang lain dalam mengambil kesimpulan. Misalnya, Anda mungkin semasa sekolah pernah mengalami diskusi seperti berikut:
C:
“Teori Evolusi itu sangat tidak masuk akal. Lihat saja, kelemahannya adalah begini, begini, dan begitu.”
D:
“Ya, saya percaya. Bukankah nilai kamu yang terbaik di kelas; jadi sudah pasti yang kamu bilang itu benar.”
Lihat, dalam contoh di atas D percaya saja dengan pertimbangan si C. Hanya karena C mendapat nilai bagus di kelas, lantas D percaya saja padanya. Inilah salah satu contoh yang saya maksud. Bukannya membuktikan oleh diri sendiri apakah Teori Evolusi itu benar, justru kita menilainya dari kualitas orang yang mengucapkannya.
(ini umum disebut sebagai argumentum ad verecundiam)
Jadi, intinya adalah, penilaian Anda murni didasarkan pada apa yang Anda pikirkan mengenai seseorang — bukannya terjun langsung ke inti masalah. Entah itu dengan mengacu pada si pembicara, atau malah pada orang lain yang dibicarakan (pihak ketiga).
Ada juga contoh lain, di mana argumen ditentukan berdasarkan penilaian kita pada orang lain.
Contoh:
Teman I:
“Eh, sumpah lho. Kemaren gw liat pacar lo jalan bareng cowok lain.”
Teman II:
“Ah, nggak mungkin. Dia itu selalu baik sama gw; nggak mungkin dia mengkhianati gw kayak begitu.”
Dalam contoh di atas, si Teman II membela pacarnya. Apa dasarnya? Tak lain karena “pacarnya itu selalu baik” padanya. Lihat, lagi-lagi argumen yang berdasarkan perseorangan! Padahal, belum tentu sang pacar memang ‘sebaik itu’.
Bagaimana kalau sang pacar memang seorang playboy alias Crocodilus Genitrus Daratensis seperti di iklan rokok itu ? Kebaikannya di masa lalu tak berguna. Justru perbuatannya di masa kinilah yang membuktikan keadaan dirinya yang sebenarnya!!
Tunggu… Dialog Seperti itu kan Sering Muncul di TV-TV, ya?
Hmm, pertanyaan macam apa itu. Jelas saja iya. Cara berpikir model ini sangat populer, terutama dalam film-film SETANTRON™. Apalagi kalau temanya sudah menyangkut percintaan remaja — sudah pasti dialog semacam di bawah ini akan bermunculan.
Cewek I:
“Lo harus ngerti ya, dia itu sekarang cowok gue!! Lo memang mantannya dia, tapi sekarang dia itu punya gue. Ngerti lo!?”
Cewek II:
“Nggak mungkin dia ninggalin gue buat lo. Gw tau perasaan dia. Gw kenal dia, dia itu selalu baik sama gue!”
Wah, lihat. Cinta membutakan akal. Bagaimana kalau sebenarnya si cowok itu memang sudah meninggalkan si cewek malang kesayangan pemirsa tersebut? Kasihan kan…
Suami:
“Mi… katanya anak kita ditangkap Polisi. Kabarnya, dia membawa narkoba di mobilnya…”
Istri:
“Pi, nggak mungkin… anak kita itu baik. Papi tau dia itu sejak kecil nggak aneh-aneh…”
Bukannya langsung memastikan atau bertanya pada sang anak, mereka malah menghabiskan waktu membela dengan alasan macam di atas. Iya, anak itu memang dulu baik. Tapi sekarang kan bisa saja kenyataannya lain!! Setidaknya, ceklah kebenarannya langsung, daripada melakukan diskusi gak mutu macem gitu…
Cowok I:
“Men, lo mesti ambil tindakan. Cewek lo selingkuh sama si X. Masa lo diem aja?”
Cowok II:
“Nggak mungkin dia selingkuh. Nggak mungkin. Dia itu setia banget sama gw. Lo berani memfitnah dia, hah!?”
Huah, sekarang bahkan penilaian atas pribadi seseorang bisa meretakkan persahabatan dua orang cowok
. Padahal, bukannya tak mungkin, si Cowok II baru saja jadi korban seorang cewek brengsek.
Jadi, hati-hatilah pada penilaian Anda. Mungkin saja orang yang Anda percayai itu tak sehebat yang Anda kira.
***
Jadi, seperti Anda lihat, ada banyak contoh di mana kita terpaku pada bagaimana menilai sesuatu berdasarkan orangnya, bukannya menilai orang berdasarkan sesuatu yang terjadi. Dengan kata lain, jika dalam diri kita sudah terbentuk persangkaan bahwa “si A itu baik”, maka akan sulit bagi kita untuk mempercayai yang sebaliknya.
Belum lagi jika orangyang kita percaya itu sungguh ahli menampakkan sisi baik dan menyembunyikan sisi buruknya.
Oleh karena itu, waspadalah!
Berarti hampir semua jawaban yang ada di sinetron/setantron itu “ad hominem” semua ya?
Eh, komen saya ini ad hominem.
Hidup Ad hominem!!!
@ Emanuel Setio Dewo
Kayaknya, ya.
Saya juga nggak terlalu ngerti, kenapa bisa begitu. Tapi kebanyakan adegan berantemnya, biasanya ya kayak di atas itu.
Heh, heh. Hus, hus…
Lha? Saya diserang…?
Ah, sudahlah.
*sudah bosan dicap makar dan kafir hanya karena ingin bersuara*
he berarti bertindak subjektif itu bisa dibilang ad hominem ya..??
@ semua yang udah baca/nulis komen
Euh, sori… ada kesalahan pas definisi ad hominem yang kemarin. Jadi post-nya baru di-update sekarang (Selasa 13/3, 8:09 am).
Mohon maaf buat yang udah membaca dan nulis komen, soalnya setelah di-update isi post-nya jadi sangat berbeda.
m_(_ _)_m
Sekian, terima kasih.
Tadinya mau saya protes sedikit, rupanya sudah diperbaiki…
*sulks dramatically*
@ Kopral Geddoe
*tertawa terpingkal-pingkal*
Ahem, gini. Seandainya saya nggak keburu pulang dari kampus tadi malam, saya bakal udah memperbaikinya dari awal. Sayangnya, karena saya keburu pulang…
…dan di kosan nggak ada akses…
…dan saya belum ngonfig HP buat jadi modem GPRS…
…maka terpaksa baru saya update sekarang. ^^
Yah, syukurlah dosennya nggak dateng. Harusnya saya baru kosong jam 9 nanti lho.
Hehehe, ketidakhadiran dosen memang selalu patut disyukuri…
eh, kalo argumen seperti ini gimana:
yah, kita maklumi saja lah kalau kaum tersebut suka ber ad hominem ria, mereka memang belajar dan memahami informasi dalam kondisi seperti itu.
ad hominem juga?
*OOT* hape lu bisa dipake modem gprs? mahal ga? gprs pake hape gw mahal mampus, btw, KateOS live cd gagal, Kate ga punya driver keyboard laptop gw.
@ Kopral Geddoe
Yet another wisdom in a student’s life. You, kid, are very wise.
[/sarcasm
]
:::::
@ rifu
Kayaknya itu bukan fallacy, IMO. Soalnya elemen dasarnya fallacy kan menyatakan sesuatu pasti benar/salah dengan landasan yang nggak logis. ^^
Kalo yang di atas itu kayaknya konsekuensi sebab-akibat, IMO.
Blom gw set; kagak ngerti caranya. Padahal udah gw masukin APN sama IP address-nya ke sono. Ntar lagi kali gw cobain. (o_0)”\
Eh jadi intinya ini tentang ad Hominem-nya apa tentang jangan terlalu percaya sama orang? apa bukan dua duanya??
btw, yang contohnya Rifu itu excuse kah?
@ Rizma
Nggak dua-duanya…
Betul, makanya bisa jadi kadang kita kaget berat, orang yang udah kita sangkain ‘gak tahu apa-apa’, atau sering ditindas-tindas, bisa balik nindas juga, misalnya?
Gak bisa disangkal kadang kita mengandalkan penilaian kita pada apa yang kita ketahui tentang seseorang yang tentunya itu juga karena pengaruh standar ekspektasi kita sendiri…
saya ndak suka ad hominem…sukanya adsense…
*OOT*
*dilempar misil*
Berarti taklid itu bersifat ad hominem juga dong ya?
*kesimpulan sembarangan*
percaya nggak percaya, manusia itu menilai dengan mata, lho. atau secara umum sih, ‘kesan’ yang ditampilkan… katanya sih. nggak objektif? hohoho! mana ada hal yang objektif di dunia ini?
jadi pesan moralnya adalah, banyak-banyaklah berbuat baik sama orang. kalau salah-salah sedikit, masih bakal dipercaya, kan?
:: jejakpena
~nyampahDikit
Sora… HP mu merk apa tipe apa? Klo nokia bisa OTA lewat web kok, dan simple. *OOT ya?*
@ jejakpena
Memang pernah, gitu?
*teringat YM-an tempo hari*
Eh, eh, maybe I know your feeling better than you do…
*nyari ribut mode = on*
Betul, betul. Tentu saja. Benar sekali.
:::::
@ cK
Sesuai keinginan lo, lah.
*lempar misil*
*blaaarrr*
:::::
@ Amed
Yee… kan udah saya bilang di atas… ^^;;
Bukan berarti semua contoh di atas itu ad hominem, lho.
:::::
@ yud1
Asal jangan buat
ngelabatebar pesona aja…Hus, jangan nyampah.
:::::
@ CY
Punya saya Sony-Ericsson tuh. (o_0)”\
*iya, OOT* ^^;;
coba ke websitenya SonyEricsson, ada setingan OTA-nya, kalo ga bisa juga ke Gerai Halo (kalo pake telkomsel ya), minta CS-nya settingkan
hooh, gak sadar tuh kali…
sugoi!!
*pura-pura terpana*
Pede amat sih, Nak…
Eh, eh, just be carefull with what you’re thinking of…
*lagi males ribut*
[...] Oke, kadang dalam menyikapi sebuah masalah, ada kalanya muncul suara-suara yang terkesan membela, dengan mengalihkan masalah itu ke masalah lain yang dianggap lebih parah. Seringkali cara seperti itu kerapkali dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari sebuah masalah, karena beberapa alasan subjektif. [...]
dan saya berani meng-adhominem-kan Sora sebagai seorang pengamat setantron indonesia…
*ehm, ini adhominem atau yang lain ?
Verecundiam itu mekanisme yang paling umum terjadi, scara psikologis. Sebuah penilaian, apapun itu, selalu berusaha menghubungkan sesuatu yang menjadi latar belakang suatu masalah dgn masalah utamanya. Dan seringkali latar belakan itu adalah person behind the problem.
Dan itu juga yang sering saya lihat dari penilaian atas kualitas suatu tulisan di blog. Siapa (dan apa latar belakang) yang memberikan tulisan/pendapat membuat pendapatnya lebih sering dihargai pendapatnya dibandingkan orang lain. Sebenarnya nggak terlalu salah, kalau konteks SIAPA itu jangan dibawa kearah pengkultusan, pemujaan, prasangka atau yang lain.
Itu juga yg membuat saya dulu waktu mulai ngeblog dulu menyembunyikan identitas latar belakang saya.
Eh, akhirnya ketahuan juga. Hanya dgn alasan verecundiam, adhominem, ataupun adanya prasangka lain menyangkut siapa saya sehingga mempengaruhi pendapat/opini saya.kira2 ya spt ini…
“jgn lihat merk kopi-nya dulu, tapi nikmati dulu rasanya utk mengetahui pembuatnya”
*jadi ngiler pengen ngopi*
@ jejakpena
Emang nggak pernah, kok.
Tuh kan. Mbak ini aja mengakui, kok. ^^
Katanya sih, nggak yang lebih seksi dari seorang pria selain rasa percaya dirinya yang tinggi, lho.
*ditimpuk misil*
Hai, sou ni narimasu… ^^
…tabun.
:::::
@ Pyrrho
Sebetulnya sih enggak juga. Cuma, masalahnya, pas saya lagi pulang ibu saya selalu nyetel TV jam 21:30. Isinya tentang cewek kasihan yang cintanya belum direstui calon mertua, and so on…
…
…dan dari sinetron itu juga saya tahu dialog “anak kita ditangkap polisi” yang di atas itu.
IMO, memang ada kecenderungan seperti itu.
Misalnya dulu (sebelum kasus 3 stanza) — kalo orang awam melihat Roy Suryo di TV. Mungkin mereka langsung beranggapan bahwa beliau itu cerdas dan omongannya bermutu. Tapi, kalau blogger veteran yang nonton, kemungkinan besar bakal lagsung apriori: “ah, dia lagi. Paling-paling…”
Ah, saya juga begitu. Lebih enak kalau orang menilai dari isi tulisannya aja, IMO… (o_0)”\
BTW, baru tadi pagi ada temen saya yang nanya: “eh, kamu itu sora-kun ya?”:::::
@ CY
Ah, setuju. Kopi yang enak membawa merek, bukannya merek yang membuatnya jadi enak.
*walaupun sendirinya nggak bisa ngebedain antara cappuccino bikinan ToraBika sama Indocafe*
Tora Bika ada choco granulenya bukan?
//oot
@ Kopral Geddoe
Lha, bukannya semua cappuccino ngasih choco granule? Indocafe juga, kalo gak salah. (o_0)”\
*nggak inget, soalnya belakangan ini minum Tora Bika melulu*
*ikutan OOT*
Wah, mosok? Nggak terlalu ingat juga, sih.
Saya minum Neskape kopi susu reguler… Itu pun jarang.
Iya, iya, mana mau coba tukang tindas dibilang ditindas. Padahal kan penindasan itu banyak versinya. >_>
*misuh-misuh*
Hiyaa!! cowok seksi??
*gedubrak*
*langsung pulang*
@ Kopral Geddoe
Saya pun udah jarang minum Nescafe kok.
:::::
@ jejakpena
Saya bukan tukang tindas, kok…
*tebal muka*
Mbak, jangan misuh-misuh gitu mbak. Ntar cepet tua, lho. ^^
Lho, kok buru-buru? (o_0)”\
Ah, sudahlah. Hati-hati di jalan, ya.
kadang2, kita menolak kebenaran. yg terjadi, spt dialog2 a la sinetron2 itu. ya ga?^^
kebenaran terasa menyakitkan, krn -teringat postingannya om fertob jaman baehula- berhubungan dg perasaan nyaman kita. mungkin kebenaran itu merusak zona nyaman kita dan mengobrakabrik apa yg sudah tertata enak didalam sana^^
eh nyambung ga ya……
@ restlessangel
Komennya nyambung kok. ^^
Iya, dengan mempercayai orang sedemikian rupa, kita jadi menempatkan diri dalam perasaan nyaman. Alhasil, ketika ada berita miring mengenai orang yang kita percaya itu, sangat wajar kalau reaksi pertama justru berupa penolakan.
BTW, saya pernah nemuin orang yang kayak gitu di dunia nyata. Orang-orang sih udah tau kalo cowoknya tukang tipu, cuma si cewek keukeuh aja berpendapat bahwa si cowok itu pria baik-baik.
lebih jauh lg, gimana dg tingkah para pejabat dan pembesar dan pengusaha ‘nakal’ yg keukeuh kl perbuatan mereka ga bener, walo uda banyak yg protes dan bilang bhw perbuatannya itu menyengsarakan bayak orang ???
kalo itu mah, ndableg ya ???^^
@ restlessangel
Lha, iya. Tapi mereka kan menilai perbuatannya dari kacamata mereka sendiri, bukan dengan mengacu pada kualitas orang lain. ^^
[...] bukan orang bijak, bukan pula pakar atau ahli. Tapi apakah kita menilai pesan seseorang dari siapa dirinya, bukan apa yang dikatakannya? Entah. Manusia memang berbeda satu sama lainnya. Dan saya yakin [...]
[...] si penulis tak ingin orang memandang tulisannya tergantung siapa yang menulisnya. Yang ini tentunya cukup jelas. Kalau misalnya Anda seorang pejabat yang pernah diberitakan terkait [...]
[...] Oke, kadang dalam menyikapi sebuah masalah, ada kalanya muncul suara-suara yang terkesan membela, dengan mengalihkan masalah itu ke masalah lain yang dianggap lebih parah. Seringkali cara seperti itu kerapkali dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari sebuah masalah, karena beberapa alasan subjektif. [...]
[...] mempertahankan sudut pandang sepihak dan menekankan arogansi, generalisasi yang negatif, serta berpatokan pada orangnya, damai di kerajaan surga hanyalah angan-angan [...]
[...] tapi saya rasa kutipan ini bisa berlaku secara universal. Entah itu pada solidaritas, relasi, pacar, pemahaman tertentu, atau bahkan agama dan [...]
[...] bukan orang bijak, bukan pula pakar atau ahli. Tapi apakah kita menilai pesan seseorang dari siapa dirinya, bukan apa yang dikatakannya? Entah. Manusia memang berbeda satu sama lainnya. Dan saya yakin [...]