Kalau boleh jujur, saya sering punya masalah dalam hal ‘memikirkan’ perasaan orang lain. Bukan, ini bukan karena saya nggak pedulian atau sebangsanya. Masalahnya, problem ini muncul karena saya terlalu memikirkan bagaimana perasaan orang lain terhadap saya — yang, pada akhirnya, justru membuat masalah baru tersendiri bagi saya.
(bingung? coba tarik napas, lepaskan, lalu baca lagi paragrafnya pelan-pelan.
)
…
Ahem, jadi begini.
Anda pasti pernah merasakan punya seseorang yang Anda tahu mencintai Anda. Entah itu keluarga, saudara, pacar, atau malah teman biasa. Yang jelas, Anda tahu bahwa mereka peduli pada Anda.
Setidaknya, orang-orang ini akan berempati ketika Anda tertimpa musibah, atau malah turut membantu Anda di kala susah. Hal-hal semacam itulah; saya yakin Anda paham maksud saya.
Nah, berhubung saya ini manusia normal, maka saya juga bukan pengecualian dalam hal ini. Saya punya orang-orang yang saya peduli pada mereka. Meskipun begitu, sebaliknya, saya juga percaya bahwa mereka (hingga titik tertentu) juga memiliki kepedulian terhadap saya. Intinya, terdapat semacam mutual careness antara saya dan orang-orang ini.
Lalu, Masalahnya Apa?
Masalahnya, begini.
Setiap manusia, sepanjang hidupnya, pasti pernah punya masalah. Entah itu anak SMA yang sedang menjelang UN, mahasiswa yang sedang terlibat skripsi, ataupun orangtua yang harus membanting tulang untuk menghidupi keluarga. Tak ada orang yang sepanjang hidupnya bahagia terus — kalaupun ada, pastilah mereka cuma eksis sebagai para tante galak di serial SETANTRON™ saja.
Ahem, kembali ke topik.
Masalah yang kita hadapi dalam hidup itu pasti pernah bertumpuk di suatu waktu. Begitu menumpuknya, hingga malah membuat kita (yang punya masalah) sampai terlihat murung dan depresi. Kalau buat saya pribadi, apa boleh buat. Biarpun berat dan bikin stres (atau sedih), tetap saja harus saya jalani. Lha, memang tanggung jawab saya kok?
Tapiii… keadaan mulai rumit ketika orang yang mencintai memperhatikan saya mulai mengamati “ketidakberesan” yang sedang terjadi.
“Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kok murung terus?”
Nah, ini pertanyaan yang menyusahkan.
Misalnya saya sedang dikejar-kejar oleh geng motor, gara-gara berselisih dengan mereka tempo hari. Sementara yang bertanya pada saya ini seorang cewek gadis baik-baik yang tak pernah tahu dunia yang kejam macam itu[1]. Apa yang harus saya lakukan?
Menjawab “gw lagi dikejar-kejar geng motor”? Nggak bagus. Kesannya, saya malah menghadirkan cerita horor buat dia.
Bilang “nggak ada apa-apa”? Lah, ini juga nggak bagus. Biasanya justru orang-orang yang dibilangin “nggak apa-apa” inilah yang bertambah khawatir. Kenapa? Karena, kalau ada masalah tapi tak bisa dibicarakan dengannya, boleh jadi dia akan merasa tidak cukup layak untuk mendengarnya. Kemungkinan lain, dia justru akan tambah khawatir, karena saya cenderung menyimpan masalah saya sendiri.
Diam saja? Bleh, yang ini mah out-of-question! Mana bisa ada orang yang bertanya baik-baik terus saya diemin aja? Itu mah tindakan sok cool gak mutu!
hai kalian para cowok yang memuja karakter semacamnya Kaoru Okita dan Squall Leonhart, sadarlah segera dan bersikaplah ramah pada sesama!
***
Biasanya sih, saya menjawab dengan opsi kedua (”nggak apa-apa”). Tapi, itu baru setengah dari masalahnya.
Masalah keduanya adalah, apapun jawaban saya, semua itu hanya akan membuat dia khawatir!!
Jadi, saya tak ingin orang lain mengkhawatirkan saya. Susahnya, keinginan saya itu biasanya membuat orang lain tambah khawatir pada saya, yang pada akhirnya justru membuat saya khawatir lagi pada mereka!! T_T
Intinya? Seperti judul di atas. Saya khawatir karena mereka khawatir pada saya. Sialnya, boleh jadi mereka juga ikut khawatir pada masalah saya itu — walaupun mereka memang cuma bisa menebak-nebak saja, apa gerangan yang membuat saya kepikiran sampai segitunya.
(bingung lagi? coba berhenti dulu, minum air satu gelas, dan baca ulang paragrafnya habis itu
)
…
…
Mbak Hiruta pernah bilang, bahwa itu artinya saya care pada perasaan orang. Sebetulnya bukan begitu. Masalahnya, saya tak ingin membuat orang lain ikut terbebani oleh masalah yang (harusnya) saya tangani sendiri.
Trouble is, begitu banyak orang yang ingin ikut terbebani dan merasakan masalah sesama. Mungkin itulah yang dimaksud dengan empati; tapi itu cerita lain untuk saat ini.
Hmm, mungkin saya harus menyampaikan bahwa saya ini sebenarnya care pada perasaan orang tidak merasa nyaman kalau terlalu dikhawatirkan oleh orang lain. Tapi, kalau begitu nanti saya justru terkesan menjaga jarak, dong… (~_@)”\
Jadi?
Entahlah. Saya juga bingung.
Ada saran?
—–
Catatan:
[1] Saya tak sedang menyindir seseorang lho di sini. Maaf kalau ada yang tersinggung.
hiiii… spt cowok pada umumnya ya… (gile.. sok teu banget niyh….)
klo brada pada dilema spt itu, diriku biasanya bialng gini. “emang sih lagi ada masalah. tp gpp koq. ak masih bisa mengatasi” ato sambil cengangas cengenges g’jelas bilang gini “emang sih ak lagi ada masalah. tp tenang aja.. aku kan hebat….”
trus klo dia mendesak pengen tau, biasanya diriku lanjut bgini “nti d.. klo udh slese aku ceritain” tp kalo mang g’bisa diceritain, bilang gini “maaf ya, sptnya ak g’bisa cerita”
bohong ding, itu bukan perkataan diriku. tp dirinya. sapa dirinya itu ya? ah sudahlah.. tidak penting…
kamu kenapa???
aha!! sora lagi jatuh cinta!!! *ngomporin gossip*
kamu akhir2 ini suka nulis paradox, tho? huehehehehe
saran saya nih ya… simpan tulisan ini baik-baik, baca lagi 4-5 tahun kemudian *lama amat?*
dan kamu akan tahu apa yang sedang kamu alami saat ini
anyway, hal ini sangat manusiawi, dan hanya sang waktu yang bisa menyelesaikannya…..
dengan bantuan usaha dan doa, tentunya.
Good luck !
ini kan normal. Namanya juga cowok.
Orang bertanya tanda peduli, kamu™ ga enak sm mereka pun tanda peduli. Kalo ga bs cerita, ya blg aja gpp. Ato blg aja kamu ga bs cerita. Pasti
pacar kamubisa mengerti.dan saya berani ngambil kesimpulan : Sora seorang introvert atau minimal tertutup sama orang lain…
saya juga sering mengalami hal spt itu (dan ini karena saya memang tertutup dan introvert). tapi kalau mengalami hal itu saya akhirnya tersadar : coba kalau saya pada posisi mereka.
gimana kalau saya care sama seseorang dan bertanya seperti itu, dan apa reaksi dia.
setidaknya itu mengingatkan bahwa careness itu timbal-balik alias tidak searah. saya tidak bisa terus care sama seseorang, suatu waktu saya juga butuh di beri perhatian sama orang lain. itulah namanya manusia.
*jadi mellllllooooowwwww* hehehehe…
@ koecing
Lah, memangnya mbak ini ngeliat cowok pada umumnya kayak gimana…? ^^;;
Aha! Benar juga!
Ide baru, ide baru. Makasih masukannya, mbak.
…
…ternyata omongannya cowok yang pernah disukai, ya. Pantesan aja kok gayanya natural banget…
*kabur secepatnya* xD
:::::
@ cK
Nggak apa-apa™…
Wah, kasihan bener cewek itu kalo begitu. Ketiban cinta cowok egosentris-gak pengertian-cuek macem gw.
:::::
@ Shelling Ford
Euh, iya… bener juga. (o_0)”\
*baru sadar*
Di OMG juga tulisannya rada berbau paradoks gitu sih.
:::::
@ pratanti
Salam kenal,
Lho, iya ya? (o_0)”\
Apa ini masalah khas anak muda ya?
Ah, terima kasih. ^^
:::::
@ calonorangtenarsedunia
Nah, susahnya, semua pilihan itu (biasanya) membuat si penanya makin kepikiran sama saya. Jelas saja ini merepotkan, soalnya saya kan
orang yang care pada perasaan orangtak ingin orang lain ikut terbebani sama masalah saya.Sekadar info, saya lagi nggak punya pacar lho.:::::
@ fertobhades
Lha, iya. Memangnya selama ini nggak keliatan dari tulisan2 saya, ya? (o_0)”\
Yaa, saya juga pernah mengandaikan begitu, sih. Tapi saya memandang jawaban mereka sebagai “jawaban saya” juga. Kalau mereka bilang “nggak apa-apa”, berarti mereka memang nggak ingin masalahnya diketahui.
Makanya saya jadi rada terbiasa sama orang-orang yang menanggapi “nggak apa-apa” itu. Tapi masalahnya, kan nggak semua orang berpikir dengan cara yang sama dengan saya.
Masalahnya, saya ini suka banget mempertimbangkan yang namanya mood dan timing. Kalau mood dan timing-nya tepat sih, saya juga nggak keberatan menerima perhatian berlebih.
(timing yang tepat: jangan ketika menjelang ujian, ketika masalahnya belum selesai, ketika yang nanya juga lagi punya masalah, dan lain sebagainya)
*siapin kamera*
*jepret*
Dapet pemandangan langka, yaitu ketika mas Fertob lagi mellow. Jarang-jarang lho.
*kabur*
yah perasaan seperti itu wajar saja sih ^_^
ada orang yang mengkhawatirkan kita, dan begitu care pada kita. dan karena itu kita malah merasa bersalah/khawatir karena telah diperhatikan seperti itu.
sora ini beruntung sekali, dicintai dan diperhatikan. bukankah kebanyakan manusia memang seperti itu.
yah, bersyukurlah sora. berarti kita tak perlu merasa takut lagi akan kesendirian, karna akan ada orang yang selalu mencintai kita. iya kan? ^_^
klo merasa khawatir karena diperhatikan seperti itu, ya berarti sora harus lebih berusaha untuk berbuat baik pada orang -orang yang menyayangi sora itu. dengan tulus tentunya,meskipun mereka tentu tak pernah mengharap balasan.
Itulah yang menadakan bahwa anda juga se-introvert saya.
Terkadang malah sulit sendiri ketika ditanya tentang kekhawatiran. Saya cenderung menjawab “Tidak ada apa – apa.” Karena saya tidak tahu apa yang harus dijawab.
Brother Geddoe would say, “Use a Zen kind of way.”
…but…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Oh so sweeeeet…you care a lot about others and their empathy to youu… sora-kun…
*killed*
*flying to heaven*
saya khawatir karena kamu ini selalu khawatiran…
Ini sih tipikal squall leonhart banget.. *kabur*
@ eMina
Yah, kurang lebih.
*ngakak terguling-guling sambil mukulin lantai*
Nggak segitunya amat kok mbak…
*masih ngakak*
Salah satunya ya, dengan membuat mereka nggak kuatir pada saya.
:::::
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Yah, mungkin kita memang mirip dalam beberapa hal…
*teringat waktu masih SMA; apa iya ya waktu itu saya mirip DB*
:::::
@ rozenesia
Avada Kedavra!!!
*menatap jasad Li yang tergeletak tak bernyawa*
:::::
@ cK
Wah, ternyata ada yang kuatir sama gw. Senangnya… (=^o^=)
*dibakar massa*
:::::
@ warnetubuntu
Enggak ah, Squall masih lebih
gak mutujutek lagi. Lha, ditanya orang aja dia jarang ngomong, kok?(BTW, Squall itu kalo sikapnya baik keren lho. Sayang jutek… padahal desainnya udah lumayan ganteng.
)
kalo ditanya orang…..
bilang aja “ah, bukan apa apa..”
eh,
itu sama aja dengan “ga masalah” ya??
ah, begini, begini.
kalau nggak pengen ditanya, yang paling gampang adalah dengan tidak punya masalah. benar kan?
*ditimpuk*
kalau saya sih, selesaikan dulu masalahnya secepat-cepatnya sebelum ada yang kuatir soal itu. kalau dikuatirin juga, ya sudahlah. mau diapain lagi?
btw, barangkali ada baiknya ngomong sedikit soal itu supaya orang lain gak kuatir amat. gak usah kebanyakan, sih.
tapi apa iya, ada masalah yang nggak bisa diselesaikan?
~justMy2Cents
Sekarang apa bedanya, klo keliatan jutek, trus saat ditanya hanya bilang ”nggak apa-apa”
sedikit OOT, hati2 loh klo ga suka dengan sesuatu, bisa2 kita jadi ikutan kebawa secara ga sadar
, kyk dulu, saya pernah benci lagu dangdut “bang, sms siapa?” gw muak denger lagu jahanam ini, tapi ga tau kenapa.. berhari2 lagu itu nyangkut dikepala *jedotin pala ke tembok*
jadi inget humor garing yg sering di posting diforum2 :
Kalo COWOK GANTENG pendiem, cewek2 bilang : woooow, cool banget…
Kalo COWOK JELEK pendiem, cewek2 bilang : ih, kuperrrrr…
Kalo COWOK GANTENG berbuat jahat, cewek2 bilang : hey, nobody’s perfect
Kalo COWOK JELEK berbuat jahat, cewek2 bilang : pantes…tampangnya aja kriminal
kopipes dari sini
sorry tambah OOT
Ngggg… maksudnya gaya natural tuh gmn ya? g ngerti…..
@ saRe’
Beda pengucapannya doang, IMO. Esensinya ya sama toh mbak.
:::::
@ yud1
Yaiyalahaaay…. kalau sumber masalahnya ilang, masalahnya ilang juga dong?
Yaah, lebih mudah direncanakan daripada dilakukan, sih. Dicobain deh kapan-kapan.
:::::
@ warnetubuntu
Masalahnya, Squall itu seringan nggak ngomong. Kalo saya, masih menjawab kalo diajak ngomong. That’s the point.
Pas ngobrol sama Quistis juga omongannya banyakan diem, kan. Yang ada dialognya (kalo gak salah):
Walah, udah terjadi tuh. Sejujurnya, memang ada beberapa kemiripan antara saya dan dia. Dan kenyataannya, saya memang kurang menyukai bagian diri saya yang itu… ^^;;
*jujur lho*
*dan miripnya termasuk gantengnya, cueknya, jagonya, dan lain sebagainya*:::::
@ koecing
Maksud saya, kata-kata itu memang gayanya ‘cowok banget’. Makanya saya yakin bahwa itu memang bukan kata-kata temuannya si mbak ini.
jawab jujur aja kalo lo ngerasa care juga sama dia. tapi ngga berhenti sampai disitu, kalo memungkinkan, omongin juga kemungkinan solusinya. kan, orang tersebut setidaknya bakal ngerasa mempunyai kontribusi buat solusi dari masalah lo.
yaaa, hanya usul sih.
weeee…. jangan salah… gaya cengangas cengenges g’jelas itu penmuanku.. ‘n banyak dikopi peis temen2 cowok
trutama dirinya ituwh… hehehehehe…..
sok keren ah,,
Ga suka dikhawatirin ya? jangan bikin khawatir ajah,,
Latian memanipulasi ekspresi itu biasanya lumayan berhasil lho, Ma malah suka dengan ga sadar manipulai ekspresi,,
nda papa mas begitu juga, tapi hati-hati niat baik nda selamanya bisa menghasilkan sesuatu yang bagus.. kadang-kadang orang lain nda ngerti hal semacem ini.
:: Rizma
gak mempan tuh di depan saya
~numpangKomenYaa =)
nah, sekarang serius dikit ah, gak OOT lagi.
jangan lupa ‘masalah’ sebenarnya, lho. bisa diselesaikan nggak? soalnya hal kayak begini memang susah kalau tanggung-tanggung. tahu sedikit, dikuatirin… tahu kebanyakan, malah gak enak.
btw, katanya sih, kalau sesuatu yang ’susah’ itu bisa diselesaikan, namanya ‘masalah’. kalau tidak bisa, namanya ‘musibah’…
…well, I wonder, though.
Hoo, sora takut ketahuan lagi perang dgn deng motor ya…?
sepertinya smua opsi dah dibahas diatas, dan kaya’nya blum ada yg ketrima ama sora. kasian cewe-nya…
kalo saya sih, 1) menekankan ulang/mengingatkan betapa introvertnya sy (alasan #1 tuk tidak bisa cerita). orang yang betul2
mencintaimemperhatikan kita harusnya dah hafal sifat kita, dan mengerti.2) dgn asumsi tidak cerita (karena introvert, bukan karena seram), biarkan saja dia/mereka terus khawatir. ini tidak bisa diapa-apakan lagi, selama tampang kita masih blum normal. lagian itu bs jadi motivasi tuk cepat menyelesaikan
musibahmasalah supaya gak dikhawatirkan lg.3) walopun tampang masih suram (kalo masalah blum kelar), sebisanya jangan cuekin si cewe. tunjukkan terimakasih atas perhatian dia dengan memberi belaian lembut… *halah*
Kalau mereka sampai bertanya, jangan-jangan itu karena kondisi kita memang tampak mengkhawatirkan. ^^
Kalau kita tampak tidak apa-apa tapi tetap dikhawatirkan, terima aja, mungkin orang tersebut memang tipe yang sensitif dan punya empati yang cukup lumayan sama orang lain. Kalau perhatian seperti ini jadinya sering ‘menganggu’ kita, sampaikan saja ke orang tersebut. Biar sama-sama gak terbeban…
Saya malah surprise jika ada yang bisa nanya begitu saat ada masalah, karena biasanya gak pernah cerita. Jadi, jika ada yang bisa ‘baca’, itu artinya mereka benar orang-orang ‘tertentu’ (bagi saya, tentu saja) …
@ all
Eh, kok jadi pada beranggapan bahwa saya lagi dikuatirin sama seorang cewek, sih…? ^^;;
Tolong diperhatikan dong, kalau pada contoh diatas itu ada kata misalnya. Jadi itu cuma salah satu contoh kasus aja.
Kurang lebih begitu sih. Jelas yah.
:::::
@ Rizma
Nggak sok keren, kok.
Saya kan memang keren
:::::
@ yud1
Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang™.
klo aku pasti bilang, “tugasku banyak” (padahal masalah sebenernya bukan itu).
abis itu dy pasti bilang, “ya dikerjain satu2 to, pasti selesai”
truz aku bilang, “iya, ni lagi tak kerjain”
lalu aku akan mengalihkan topik pembicaraan.
abis itu selesailah masalah.
mereka tidak akan khawatir lagi.
dan aku bisa berbincang2 dengan tenang.
ehehheee…
Gampang kan Sora… kalo yg nanya itu org terdekat ya share aja…, kalo yg nanya seleb kyk cK ya ga usah… ntar gossipnya beredar luas di blogosphere wahahahah…
*lari sblm cK dateng*